Anda di halaman 1dari 3

Cairan Ionik; Revolusi Baru dalam Proses Kimia

Air adalah pelarut yang sangat populer di masyarakat. Namun, bila ditanyakan kepada ahli kimia tentang pelarut maka mereka bisa mengoceh banyak tentang benzena, toluen, diklorometan, kloroform dan banyak lagi. Pelarut memang menjadi sangat esensial dalam proses kimia. Banyak pelarut digunakan dengan penyesuaian zat terlarutnya. Itulah yang membuat banyak sekali jenis pelarut yang digunakan dalam proses kimia, baik itu dalam reaksi maupun pemisahan satu zat dari kumpulan zat. Namun, selain air, pelarut-pelarut yang disebutkan di atas menimbulkan banyak sekali masalah. Menurut Allen dan Shonnard, 2000, diperkirakan 20 juta ton pelarut-pelarut terbuang ke lingkungan dari hasil industri. Bukan hanya air dan tanah yang menjadi tempat pembuangan akhirnya, atmosfer kita juga terkena imbasnya karena pelarut tersebut mudah menguap. Dampaknya bisa sangat banyak, perubahan iklim global, pencemaran udara dan penyakit, atau sebut saja, 20 juta ton itu sedikit-banyak berperan di dalamnya. Tantangan para ahli kimia abad 21 adalah menyediakan pelarut yang sesuai standar namun juga bisa mengurangi dampak lingkungannya. Dari sini para ahli tersebut mulai melirik garam cair. Garam dapur atau NaCl adalah garam yang sangat populer digunakan, rasanya yang asin bisa memperkaya cita rasa masakan. Namun siapa sangka garam seperti garam dapur bisa menjadi salah satu alternatif solusi, atau setidaknya memberikan inspirasi untuk memecahkan masalah di atas. Pada suhu tinggi garam dapur berubah wujudnya dari padat menjadi cair karena meleleh. Sebenarnya semua garam bisa meleleh pada suhu tinggi, tidak terbatas hanya garam dapur. Lelehan garam inilah yang disebut garam cair. Garam cair memang berguna tapi aplikasinya terbatas pada suhu tinggi, hal ini berhubungan dengan titik lelehnya yang tinggi. Inilah yang membuat para ahli bekerja untuk membuat garam yang berwujud cair pada suhu rendah sehingga aplikasinya lebih luas. Sampai akhirnya ahli kimia menemukan cairan ionik. Cairan ionik adalah garam yang berwujud cair di bawah suhu 100C. Disebut cairan ionik karena didalamnya spesi ioniknya sangat dominan dibandingkan spesi molekulernya. Cairan ini merupakan garam organik yang memiliki derajat asimetri yang berbeda, itulah yang mencegahnya menjadi kristal. Pilihan kation dan anion yang berbeda akan menghasilkan cairan ionik yang bervariasi. Contohnya, ada lima jenis yang berbeda seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Yang paling populer adalah garam alkilimidazolium, mungkin karena kemudahan sintesis dan sifat fisiknya yang menarik. Garam amonium kuarterner didapatkan secara komersil dan digunakan pada proses katalisis. Ada tiga komponen penting dari cairan ionik ini. Pertama, yang bermuatan positif (+) disebut kation. Kedua, yang bermuatan negatif (-) adalah anion. Dan terakhir yang diberi simbol R adalah subtituen alkil yang juga merupakan bagian dari kation. Ketiga komponen itu bisa divariasikan untuk mendapatkan sifat fisika dan kimia yang berbeda pula. Sifat fisika dan kimia Sifat fisik dari cairan ionik dapat diatur dengan memvariasikan kation, anion dan subtituen gugus

alkilnya. Contohnya, kelarutan dalam air bisa diatur dengan gugus R-nya. Memperpanjang gugus alkil (R) akan menurunkan kelarutan dalam air dengan meningkatkan hidrofobisitas dari kationnya. Sifat kimia dan fisikanya bisa diubah dengan mengatur anionnya, seperti halida, nitrat, asetat, trifluoroasetat, tetrafluoroborat, triflat, heksafluorofosfat dan bis(trifluorometilsulfonil)imida. Contohnya, garam imidazolium dengan anion halida, nitrat dan trifluorofosfat bercampur sempurna dengan air, tapi dengan anion [PF6-] dan [(CF3SO2)2N-] tidak bercampur dengan air, dan [BF4-] dan [CF3SO3-] bisa bercampur atau tidak tergantung pada subtituen kationnya. Titik leleh dari garam yang memiliki anion halida cenderung lebih tinggi bila anion yang digunakan lebih banyak, dan titik leleh umumnya meningkat seiring meningkatnya panjang rantai subtituen. Cairan ionik pertama yang banyak digunakan adalah campuran dari dialkilimidazolium atau alkilpiridinum halida dengan AlCl3 atau AlBr3 (Welton, 1999). Campuran ini memiliki titik eutetik dan memiliki kapasistas kimia yang menarik, seperti super asam (Welton, 1999). Campuran ini juga merupakan katalis yang tidak mudah menguap untuk reaksi alkilasi Friedel-Crafts dan reaksi asilasi. Campuran ini dikaji lebih lanjut untuk digunakan sebagai elektrolit dalam baterai yang memiliki konduktivitas tinggi. Hanya saja, campuran ini bereaksi dengan air membentuk HCl membuatnya tidak stabil di udara terbuka sehingga kegunaan praktisnya terbatas. Cairan ionik pertama yang stabil terhadap udara dan air yang memiliki titik leleh rendah adalah 1-etil-3metilimidazolium BF4 dan 1-etil-3-metilimidazolium MeCO2 (Wilkes dan Zaworotko, 1992). Cairan ionik lebih kental dari pelarut organik biasa. Contohnya, viskositas dari kebanyakan imidazolium berada pada rentang 35 sampai 500 cP dalam suhu ruang (Seddon et al, 2000). Garam dengan anion bis(trifluorometilsulfonil)imida [(CF3SO2)2N-] memiliki viskositas terendah dalam rentang tadi (Bonhote et al., 1996), sama juga seperti garam dengan kation pirolidinium (MacFarlane et al., 1999). Data yang dimiliki bahwa cairan ionik merupakan fluida Newtonian (Brennecke et al., 2001). Salah satu keuntungan dari cairan ionik ini adalah tidak mudah menguap karena memiliki tekanan uap yang mendekati nol. Selain itu, cairan ini juga stabil pada suhu tinggi sampai 400C sehingga bisa siaplikasikan pada reaksi pada kondisi ekstrim. Pada suhu kamar, cairan ini sangat murni sehingga bisa melarutkan dengan lebih baik. Pemanfaatan dan tantangan Meskipun pada awalnya diproyeksikan untuk menggantikan pelarut-pelarut organik yang konvensional namun ternyata potensi pemanfaatannya jauh lebih banyak. Karena spesi ionik yang sangat dominan maka cairan ini bisa dijadikan elektrolit. Kemudian pada pemisahan gas, cairan ionik bisa digunakan lebih efektif. Begitu pula untuk pemisahan cair. Belum lagi potensinya sebagai katalis homogen untuk berbagai reaksi. Saat ini para peneliti di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sedang mengembangkan penelitian mengenai aplikasi subjek ini. Ada cairan ionik jenis baru yang merupakan turunan dari benzotriazole adalah hasil pengembangan dari Dr. Ahmad Muzakir M.Si. Kini para mahasiswanya sedang mengkaji pemanfaatannya sebagai elektrolit pada sel surya. Selain itu, diteliti juga fungsinya sebagai surfaktan pada polimer untuk menghasilkan nanokomposit. Hanya saja, cairan ionik memang tergolong baru. Oleh karena itu masih banyak tantangan yang perlu dihadapi. Dalam dunia industri penggunaan dalam skala besar memungkinkan masalah yang

besar pula. Makanya sebelum bisa digunakan dalam skala industri perlu diketahui tentang sifat fisik, toksisitas maupun data korosifitasnya. Ada dua cara yang harus dilakukan untuk mengetahui semua hal tersebut. Pertama, bisa dilakukan dengan pemodelan secara termodinamika. Artinya dilakukan pendekatan teori untuk mengetahui data fisika seperti kelarutan, kapasitas kalor, viskositas, konduktivitas termal, dan konduktivitas elektriknya. Dengan pemodelan ini maka bisa didapatkan data kasar mengenai sifat fisika dari cairan ionik. Salah satu pemodelan yang populer adalah Quantitative Structure-Property Relationship (QSPR). Pemodelan ini menghubungkan secara statistik antar sifat fisikokimia dan deskripsi molekular. Dari deskripsi ini bisa didapatkan data konstitual, topologi, geometri dan elektroniknya. Kedua, tentu saja melalui penelitian langsung. Dengan data hasil pemodelan sebagai pedoman, diharapkan bisa menghasilkan cairan ionik yang bermanfaat. Komersialisasi yang tinggi memberi kesempatan pada para peneliti untuk bekerja dengan material yang dikenal sangat murni ini. Seiring dengan pengembangannya, makin banyak garam bertitik leleh rendah yang belum pernah digali dari bentuk cairnya memberikan kesempatan untuk eksplorasi lebih jauh. Namun komersialisasi yang tinggi harus didukung dengan investasi besarbesaran dalam bidang ini karena teknologi ini membutuhkan peralatan canggih dan metode-metode yang tidak murah. Jelas teknologi ini berprospek cerah. Publikasi mengenai cairan ionik meningkat 25-30 judul per tahun sejak tahun 1991. Dalam 3-4 tahun ke depan pertumbuhan cairan ionik bisa saja menggantikan pelarut organik konvensional. Tidak diragukan lagi bahwa teknologi cairan ionik sebagai pelarut, pereaksi, katalis dan material akan terus berlanjut. Dan pada akhirnya, garam cair akan merevolusi proses kimia menuju green chemistry.