Anda di halaman 1dari 3

PROSEDUR DAN TATA CARA PENGAWASAN KAPAL PERIKANAN BAGIAN PERTAMA Kedatangan Kapal Pasal 7 (1) Setiap kapal

perikanan yang memasuki pelabuhan pangkalan wajib melaporkan kedatangannya kepada Pengawas Perikanan setempat dengan menyerahkan SLO kapal perikanan dari pelabuhan asal, buku lapor pangkalan dan menunjukan dokumen perijinan perikanan. (2) Kapal perikanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum melakukan bongkar muat ikan wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari Pengawas Perikanan setempat. Pasal 8 (1) Setiap kapal yang memasuki pelabuhan pangkalan, dilakukan pengawasan oleh Pengawas Perikanan degan cara pemeriksaan : a. kesesuaian dokumen perijinan; b. kesesuaian alat penangkap ikan; c. kesesuaian alat Bantu penangkapan ikan; d. kesesuaian fisik kapal; e. kesesuaian ikan hasil tangkapan; f. keberadaan dan keaktifan alat pemantauan kapal perikanan. (2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dituangkan kedalam form Hasil Pemeriksaan Kapal (HPK) kedatangan kapal sebagaimana dasar untuk menetapkan: a. Surat persetujuan tidak di daratkan atau dapat dipindahkan ke kapal lain di pelabuhan pangkalan apabila sesuai denagn daftar jenis ikan sebagaimana dimaksud Keputusan Direktur Jendreral Pengolahan dan Pemasaran Hasil perikanan Nomor: 033/DJ-P2HP/2008. 1. Surat perintah untuk mendaratkan seluruh ikan hasil tangkapan di pelabuhan pangkalan, apabila tidak termasuk dalam daftar lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Nomor: 033/DJ-P2HP/2008. (3) Pemeriksaan Kesesuaian ikan hasil tangkapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf e, dilakukan untuk mengetahui jenis ikan yang menurut sifatnya tidak memerlukan pengolahan sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Nomor: 033/DJ-P2HP/2008., daftar jenis ikan sebagaimana pada Lampiran 1.

(4) Jenis ikan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib didaratkan di pelabuhan pangkalan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Unit Pengolahan Ikan di dalam negeri dan/atau konsumsi dalam negeri; (5) Form hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, dan huruf b, tercantum dalam lampiran 2,3,dan 4. (6) Pengawas Perikanan dalam mengisi form HPK kapal perikanan, wajib mengisi nomor seri penerbitan HPK. (7) Tata cara pengisian nomor seri HPK sebagaimana tercantum pada Lampiran 5. Bagian Kedua Keberangkatan Kapal Perikanan Pasal 9 (1) Setiap kapal perikanan yang akan meninggalkan pelabuhan pangkalan untuk melakukan operasi penangkapan atau pengangkutan ikan wajib terlebih dahulu melaporkan rencana keberangkatannya kepada Pengawas Perikanan setempat ,dengan menyerahkan dokumen perizinan kapal perikanan. (2) Terhadap kapal perikanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib dilakukan pemeriksaan persyaratan administrasi dan kelayakan teknis, meliputi; a. Pemeriksaan kesesuaian dokumen perizinan; b. Pemeriksaan kesesuaian alat penangkapan ikan; c. Pemeriksaan kesesuaian alat bantu penangkapan; d. Pemeriksaan kesesuaian fisik kapal e. Pemeriksaan kesesuaian awak kapal (crew list) f. Pemeriksaan keberadaan dan keaktifan alat pemantauan kapal perikanan. (3) Terhadap hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan ke dalam form sebagai dasar untuk: a. Menerbitkan SLO Kapal Perikanan b. Mengisi dan mengesahkan Buku Lapor Pangkalan (4) Form HPK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. (5) Pengawas Perikanan dalam mengisi form SLO kapal perikanan, wajib mengisi nomor seri penerbitan HPK dan SLO pada kolom yang telah disediakan.

Pasal 10 (1) SLO diterbitkan setelah memenuhi persyaratan administrasi dan kelayakan teknis pada saat kapal berangkat; (2) Setelah SLO diterbitkan kapal perikanan yang menerima SLO dimaksud dilarang melakukan kegiatan perikanan di pelabuhan; (3) SLO yang telah diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku selama 2 x 24 jam sejak tanggal dikeluarkan; (4) Dalam hal kapal tidak berangkat beroperasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), SLO dimaksud dinyatakan tidak berlaku; (5) SLO yang digunakan oleh kapal perikanan dalam kegiatan perikanan, berlaku untuk 1 (satu) trip operasional kapal perikanan. Sumber : SK Dirjen P2SDKP No. KEP.19/DJ.P2SDKP/2008 Tgl. 10 Maret 2008 Tentang Petunjuk Teknis Operasional Kapal Perikanan.