Anda di halaman 1dari 5

Anak Kuper Menjadi Supel

Nama : Sagitania NIM : 1000883

A. Pengantar Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai karunia, salah satunya adalah naluri untuk hidup bersama. Setiap manusia pasti akan membutuhkan dan bergantung kepada manusia lainnya. Karena kondisi saling membutuhkan inilah mengapa manusia disebut sebagai mahkluk sosial. Manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain, bahkan sejak manusia masih berada dalam kandungan seorang ibu pun manusia membutuhkan bantuan orang lain. Ketika bayi dan beranjak menjadi anakanak, ia pun membutuhkan teman. Hal ini menunujukkan bahwa manusia selalu ingin hidup berkelompok. B. Esensi Anak adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa. Setiap anak dilahirkan berbeda-beda dan unik dalam segala hal, termasuk juga dalam hal beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam hal beradaptasi ini, terdapat 2 tipe anak yang perlu diketahui yaitu anak yang sulit bergaul dan anak yang mudah bergaul. 1

Anak yang sulit bergaul disebut anak kuper. Anak yang kuper alias kurang pergaulan biasanya pendiam, pemalu, dan lugu. Sebaliknya, anak yang mudah bergaul disebut dengan anak supel. Anak yang supel itu mudah bergaul sekalipun dengan orang-orang yang baru ditemuinya dan tidak canggung walau berada di lingkungan yang baru baginya. Anak-anak tipe ini juga tergolong sangat aktif, periang, cerdas, dan juga percaya diri. C. Karakteristik Anak Kuper Anak yang kuper kadang-kadang dapat membuat orang tua gemas sekaligus kesal. Mereka biasanya selalu mengikuti kemanapun orang tuanya pergi. Karakteristik anak kuper ialah sebagai berikut: 1. Malu. Sifat yang dominan dari anak kuper itu adalah malu, yaitu bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dari hubungan denga orang lain yang tidak dikenal atau yang tidak sering berjumpa. 2. Minder. Anak menjadi minder apabila ketinggalan zaman. Misalnya ada permainan yang belum dikuasai oleh anak sementara teman-teman yang lain sudah menguasainya, seperti beramain Game Online terbaru. Jikalau anak belum menguasai, mungkin dia akan malu bergabung dengan teman-temannya. 3. Rendah diri. Apabila anak tidak diberi kebebasan dan terlalu banyak aturan yang mengikat seperti "jangan ini, jangan itu", maka akan membuat kepercayaan diri anak menurun. Dia menjadi ragu-ragu dengan apa yang dilakukannya dan ia menjadi rendah diri, sehingga ia menarik diri dari lingkungannya. D. Faktor-Faktor Yang Mempengruhi Anak Menjadi Kuper Sikap anak-anak terhadap orang lain dalam bergaul sebagian besar akan

sangat tergantung pada pengalaman belajarnya selama tahun-tahun awal kehidupan, yang merupakan masa pembentukan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Maka ada empat faktor yang mempengaruhinya : 1. kesempatan yang penuh untuk bersosialisasi adalah penting bagi anak-anak, karena ia tidak dapat belajar hidup bersosialisasi jika kesempatan tidak dioptimalkan. Tahun demi tahun mereka semakin membutuhkan ksempatan untuk bergaul dengan banyak 2

orang, jadi tidak hanya dengan anak yang umur dan tingkat perkembangannya sama, tetapi juga dengan orang dewasa yang umur dan lingkungannya yang berbeda. Anak menjadi kuper apabila ia kurang mendapatkan kesempatan untuk bersosialisasi. 2. Dalam keadaan bersama, anak tidak hanya harus mampu berkomunikasi dalam katakata yang dapat dimengerti orang lain, tetapi juga harus mampu berbicara tentang topik yang dapat dipahami dan dapat menceritakannya secara menarik kepada orang lain. Perkembangan bicara merupakan hal yang terpenting bagi perkembangan sosialisasi anak. Selain itu, perkembangan bahsa pun sangat berperan penting, anak yang kuper kemampuan bahasanya kurang sehingga komunikasinya terhambat dan ia sulit bersosialisasi dengan teman-temannya. 3. Anak akan belajar bersosialisasi jika mereka mempunyai motivasi untuk

melakukannya. Motivasi ini sangat bergantung pada tingkat kepuasaan yang diberikan kelompok sosialnya kepada anak. Jika mereka memperoleh kesenangan melalui hubungan dengan orang lain, mereka akan mengulangi hubungan tersebut. 4. Metode belajar yang efektif dengan bimbingan yang tepat adalah penting. Dengan metode coba ralat, anak akan mempelajari beberapa perilaku yang penting bagi perilaku sosialnya.

E. Kasus Di kampung, saya memiliki dua tetangga yang anaknya sangat berbeda. Anak yang satu beranama Sarah, saya sangat kagum dengannya. Umurnya 4 tahun. Sarah kecil adalah seorang anak yang penuh percaya diri, riang dan lincah, tidak pernah takut bertanya ini itu dan dengan mantap menyapa orang yang baru dikenalnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan Meisya (4 tahun), tetangga saya yang satu lagi. Setiap kali bertemu orang baru, Meisya selalu ingin terus-menerus berada dekat ibunya, tidak mau diajak bicara dan tidak mau melakukan kontak mata. Situasi ini kadang membuat ibunya menjadi tidak nyaman, merepotkan dan tak jarang ibunya menjadi malu dan sedikit jengkel dengan perilakunya.

F. Analisis Masalah sosialisasi pada anak digambarkan dengan anak yang kuper, pendiam, berpikiran sempit dan kaku dalam pergaulan sehingga dikhawatirkan kemampuan sosial anak tidak berkembang dan mengalami kesulitan dalam kehidupan selanjutnya. Ada anak yang merasa minder dibandingkan temannya, ada yang tetap kesulitan dalam berkomunikasi, ada yang terpengaruh akibat buruk dari temannya dan sebagainya. Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bersosialisasi (sozialed), memerlukan tiga proses. Dimana masing-masing proses tersebut terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasi individu. Menurut Hurlock (1996) tiga proses dalam perkembabangan sosial adalah sbb: 1. Berprilaku yang dapat diterima secara sosial Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang prilaku yang dapat diterima. Untuk dapat bersosialisasi, seseorang tidak hanya harus mengetahui prilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan prilakunya sehingga ia bisa diterima sebagain dari masyarakat atau lingkungan sosial tersebut. 2. Memainkan peran di lingkungan sosialnya. Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan setiap anggota dituntut untuk dapat memenuhi tuntutan yang diberikan kelompoknya. 3. Memiliki Sikap yang positif terhadap kelompok Sosialnya Untuk dapat bersosialisasi dengan baik, seseorang harus menyukai orang yang menjadi kelompok dan aktifitas sosialnya. Jika seseorang disenangi berarti, ia berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka menggabungkan diri.

Anak yang kuper biasanya cenderung untuk menarik diri dari lingkungan sekitar. Kecenderungan menarik diri ini sudah bisa dilihat sejak masa kanak-kanak, bahkan sejak bayi. Kita terkadang melihat ada bayi-bayi yang menangis jika didekati atau dipegang orang lain selain ibunya. Sebaliknya ada juga bayi-bayi yang tidak pemalu, mereka membiarkan dirinya berada dekat orang lain, dan tidak menolak digendong oleh orang yang tidak dikenal. Anak pemalu ketika bertemu dengan orang lain biasanya akan menghindari kontak mata, tidak banyak bicara. Jika anak sudah sekolah biasanya tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas dan sebagainya. Orang tua adalah pemegang peran utama yang menentukan perkembangan rasa percaya diri anak. Sebenarnya hal ini sama sekali tidak sulit, bahkan banyak orang tua melakukannya tanpa mereka sadari sendiri. Orang tua kadang kurang menyadari betapa segala perkataan dan perbuatannya dapat memberi dampak yang besar bagi anak dalam perkembangannya. Orang tua harus selalu menekankan kepada anak untuk mau bergaul dengan siapa saja, tidak menutup diri dari pergaulan. Dengan begitu, kemungkinan anak akan berkembang dengan lebih baik dan meraih kesukesan serta kehahagiaan dalam kehidupan. G. Penutup Nikmatilah hidup bersama anak. Habiskanlah waktu sebanyak mungkin dengan mereka. Lakukanlah kegiatan bersama sebagai sebuah keluarga, tetapi tetap sediakan waktu khusus bagi masing-masing anak. Bagaimanapun keadaannya, anak belajar tentang segalanya dari contoh yang orang tuanya berikan. Dengan menghabiskan waktu bersama dengan anak, memungkinkan orang tua berkomunikasi akrab dengan anak. Anak dapat berbagi perasaan dan pikirannya dengan bebas, dan sebaliknya orang tua bisa memberi bantuan dan bimbingan baginya.

H. Referensi Hurlock, Elizabeth, B., 1991. Perkembangan Anak. Jakarta:Erlangga. 5