Anda di halaman 1dari 12

ANALGETIK

Pendahuluan
Sakit merupakan suatu mekanisme protektif bagi tubuh. Timbul jika ada jaringan tubuh yang rusak. Hal pertama yang terjadi adalah adanya rangsangan yang diterima oleh reseptor sensoris lalu dikirim ke sistem syaraf. Pada dasarnya ada 5 macam syaraf sensori, yaitu : 1. Mekanoreseptor 2. Termoreseptor 3. Nosiseptor 4. Kemoreseptor 5. Elektromagnetik reseptor Nosiseptor adalah syaraf sensoris yg mendeteksi nyeri, berupa ujung syaraf bebas. Berdasarkan jenis stimulusnya reseptor nyeri dibagi menjadi : 1. Reseptor nyeri mekanosensitif 2. Reseptor nyeri kemosensitif 3. Reseptor nyeri termosensitif Semua informasi sensoris, melalui serabut syaraf jenis A delta dan C, memasuki medula spinalis dimana serat-serat syarafnya terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu : 1. Sistem Lemnikus Dorsalis 2. Sistem Spinotalamikus Anterolateralis Nyeri, bersama-sama dengan sensasi suhu, gatal, geli dan seksual, termasuk kedalam sistem Spinotalamikus Anterolateralis.

. Gbr.1 : Perjalanan sensasi sakit

Mekanisme Kerja
Ketika seseorang mengalami luka (kerusakan jaringan) maka pada tempat tersebut akan dilepaskan mediator2 kimia seperti histamin, brandikinin, leukotrien dan Prostaglandin ( PG ). Penelitian menunjukan bahwa Prostaglandin menyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi. Sehingga Prostaglandin menimbulkan keadaan hiperalgesia, lalu mediator kimiawi seperti brandikinin dan histamin merangsangnya dan menyebabkan rasa sakit yang nyata. Oleh karena itu mencegah kehadiran Prostaglandin dengan cara menghambat sitesisnya akan menghilangkan rasa nyeri yang timbul. Ini merupakan mekanisme kerja dari obat analgetik antipiretik antiinflamasi non steroids ( AINS ) Prostaglandin disintesis dari asam arakidonat dengan dikatalis oleh enzim siklooksigenasi-2 ( COX-2 ).

Gbr.2 : Prostaglandin

Gbr. 3 : Siklooksigenase-2 ( COX-2 )

Gbr.4 : Pembentukan Prostaglandin dari Asam Arakidonat dengan dikatalis COX-2

Obat-obat analgetik antipiretik antiinflamasi non steroid berikatan dengan COX2 sehingga Prostaglandin gagal terbentuk. Obat-obat ini banyak ragamnya dengan prototipenya adalah Aspirin.

Gbr. 5 : Mekanisme Penghambatan COX-2 oleh Analgetik ( aspirin )

Farmakodinamika
Efek Analgetik

Efektif untuk intensitas nyeri rendah sampai sedang. Hanya mengubah persepsi sensori nyeri, tidak mengubah sensori lainnya

Efek

Antipiretik

Menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam. Selama demam,

pirogen endogen (interleukin-1) dilepas dari leukosit dan dengan adanya Prostaglandin bekerja langsung pada pusat termolegulator dalam hipotalamus untuk menaikan suhu tubuh.

Efek

Antiinflamasi

Digunakan pada pengobatan kelainan muskuloskeletal ( artritis rematoid, spondilitis ankilosa, osteoartritis ). Obat ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi tetapi tidak menghentikan, memperbaiki atau mencegah kerusakan jaringan.

Efek
Tukak Lambung, Tukak

Samping
Peptik

Hal ini dikarenakan iritasi langsung ( karena obat2nya bersifat asam ) dan karena terhambatnya pembentukan prostaglandin E2 dan I2 ( PGE2 dan PGI2 ) yang berfungsi dalam merangsang sekresi mukus usus halus dan menghambat sekresi asam lambung.

Gangguan

Fungsi

Trombosit

Tromboxan A2 ( TXA2 ) disintesis dari asam arakidonat dengan dikatalis oleh enzim siklooksigenasi-1 ( COX-1 ). Karena COX-1 juga ikut dihambat oleh obat AINS maka tromboxan juga tidak terbentuk sehingga terjadi perpanjangan waktu pendarahan.

Nefrotoksisitas

PGE2 dan PGI2 yang disintesis di ginjal berfungsi untuk mengatur aliran darah ke ginjal dan mengatur eksresi garam dan air. Pada penderita gangguan hati, ginjal dan jantung, penghambatan Prostaglandin jenis ini dapat mengakibatkan gagal ginjal karena aliran darah ke ginjal menjadi kurang dan menyebabkan retensi natrium.

Jenis
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Gol. Gol. Gol. Gol. Salisilat Para Pirazolon Asam Gol. Gol. Gol. Asam Indol Asam : asetoal, : diflusinal, asam

Obat
salisilat Fenasetin

Aminofenol : Dipiron, :

Asetamonifen, Fenilbutazon, Mefenamat, : : :

Oksifenbutazon Meklofenamat Piroksikam Diklofenak Indometasin

Fenamat

Asam

Oksikam fenilasetat Asetat

Perhatian

Untuk

Ibu

Hamil

- Dosis aspirin tinggi dapat menyebabkan plasenta lepas dari rahim sebelum waktunya. - Indometasin dan Ibuprofen dapat menyebabkan konstriksi arteriosus duktus

fetalis

selama

kehamilan sehingga tidak direkomendasikan setelah usia kehamilan memasuki minggu ke-32.

- Asetaminofen dapat melalui plasenta tapi cenderung aman jika digunakan pada dosis lazim,

sehingga dapat digunakan pada semua triwulan untuk meredakan nyeri, sakit kepala demam - Obat-obat analgesik lain yang harus diwaspadai penggunaannya pada ibu hamil Ibuprofen, Asam Mefenamat, Asam Asetilsalisilat, Dipiron. : dan

Analgetik adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan reaksi-reaksi psikis yang diakibatkan oleh rangsangan sakit.

Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh, seperti peradangan (rematik, encok), infeksi-infeksi kuman atau kejangkejang otot. Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator-mediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, atau jaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian ke pusat nyeri di dalam otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan

prostaglandin-prostagladin, serta ion-ion kalium.

Berdasarkan proses terjadinya nyeri, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yaitu :

1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal. 2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika lokal 3. Blokade dari pusat nyeri dalam Sistem Saraf Pusat dengan analgetika sentral (narkotika) atau anestetika umum. 4. Pada pengobatan rasa nyeri dengan analgetika, faktor-faktor psikis turut berperan, misalnya kesabaran individu dan daya menerima nyeri dari si pasien. Secara umum analgetika dibagi dalam dua golongan, yaitu analgeti nonnarkotinik atau analgesik non-opioid atau integumental analgesic (misalnya asetosal dan parasetamol) dan analgetika narkotik atau analgesik opioid atau visceral analgesic (misalnya morfin).

Obat analgetik ini terbagi pada dua kategori besar yakni Obat Analgetik Narkotik dan Obat Analgetik Non-Narkotik. a. Obat Analgetik Narkotik Merupakan kelompok obat yang memiliki sifat opium atau morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Obat Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada kasus patah tulang dan penyakit kanker kronis.

Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.

Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :

a. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin, hidromorfon, hidrokodon, dan dionin. b. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari : Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan dptopoksifen Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.

b. Obat Analgesik Non-Nakotik Dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan istilah Analgetik/ Analgetika/ Analgesik Perifer. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek

ketagihan pada pengguna. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.

Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut: a. salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat b. Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol c. Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon danturunanturunannya d. Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.

Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit. Efekefek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar, maka sebaiknya jangan menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.

Analgetik dan antipiretik Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang berperan dalam mengatur nyeri dan temperatur. AINS seleklif dalapat mempengaruji hipotalamus yang dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh keti demam. Mekanisme kemugkinan memghambat sintesis prostaglandin yang menstimulasi SSP.PG dapat meningkatkan aliran darah ke perifer berkeringat sehingga panas banyak keluatr dari tubuh.

Efek analgetik timbil karena mempengaruhi baik dihipotalamus atau ditempat cedera. Respon terhadap cidera umumnya berupa inflamasi di pada persendian, udem, serta

pelepasan zat aktif seprti brakidin, PG. Dan histamine. PG dan brakidin menstimulasi ujung syaraf perifer denagn membawa infuls nyeri ke SSP. Obat-obat yang banyak digunakan untuk analgetik dan ntipiretik adalah golongan salisilat dan asetaminofen. Asam salisilat penghambat sintesi PG paling epektif dibandingkan dengan salisilat.

Contoh obatnya: Asetaminofen ( Parasetamol ) Obat ini bermanfaat untuk analgetik dan antipiretik. Efek antipiretik terjadi karena langsung mempengaruhi pusat penagturan panas di hipotalamus. Parasetamol efek untuk kepala karena kemampuanya menghambat sintesa PG di SSP, tetapi tidak menghambat sintesa PG di perifer sehinng tidak efektif untuk radang, nyeri otot dan atritis. Dalam pemakain parasetamol tidak menyebabkan iritasi pada lambung. Jadi parasetamol lebih banyak digunakan untuk antipiretik di banding analgetik karena hanya mempengaruhi di SSP saja.

Aspiririn Aspirin memiliki efek analgetik, antipiretik dan antiinflamasi. Aspirin lebih banyak digunakan untuk analgetik di banding dengan antipiretik karena aspirin selain mempengaruji di SSP tatapi juga mempengaruhi di perifer sehingga banyak di gunakan untuk analgetik perifer. Aspirin dapat mengiritasi lapisan mukosa lambung

DAFTAR PUSTAKA

1. Priyanto, 2008./Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa keperawatan dan Farmasi/. Lenskofi. Jakarta

2. Katzung,B.G.1997. /Farmakologi Dasar dan Klinik/, ed IV.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.