Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HEPATITIS VIRUS

OLEH: A A ARI NOVIA SULISTIAWATI 1102105008

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2012

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN HEPATITIS DI RUANG CEMPAKA RSU BANGLI 1. DEFINISI Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001). Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat sembuh sendiri dan tersebar diseluruh dunia, biasanya ditularkan melalui penelanan bahan-bahan yang terinfeksi secara oral tetapi terkadang-kadang dapat juga secara parenteral (Brunner & Suddart, 2001). Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, bersifat akut, terutama ditularkan secara parenteral tetapi juga dapat secara oral, melalui hubungan yang erat antara penderita dengan orang lain, dan dari ibu ke bayi nya (Dorland, 1998). Hepatitis adalah penyakit infeksi virus hepatotropik yang bersifat sistemik dan akut (Arif Mansjoer, 2001). 2. EPIDEMIOLOGI Hepatitis virus akut merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang penting tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di seluruh dunia. The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 300.000 infeksi virus Hepatitis B di Amerika Serikat. Walaupun mortalitas penyakit hepatitis rendah, factor morbiditas yang luas dan ekonomi yang kurang memiliki kaitan dengan penyakit ini. Hepatitis virus akut adalah penyakit infeksi yang penyebarannya luas, walaupun efek utamanya pada hati (Price, Wilson, 2005). HAV merupakan jenis infeksi hepatitis virus yang paling sering di Amerika Serikat. Namun, kasus HAV di Negara ini telah menurun sejak tahun 1970-an. HAV lazim terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Terdapat peningkatan insidensi pada musim tertentu, yaitu pada musim gugur dan musim dingin. Kasus yang timbul dapat bersifat sporadis, sedangkan epidemic dapat timbul pada daerah yang sangat padat seperti pada pusat perawatan dan rumah sakit jiwa. Wisatawan ke daerah endemis seperti Asia Tenggara, Afrika Utara, dan Timur Tengah juga sangat

beresiko tertular jika mereka melanggar aturan turis yang umum (Price, Wilson, 2005). Virus hepatitis B (HBV) endemis di daerah timur, sebagian besar kepulauan Pasifik, Negara-negara di Afrika, sebagian Timur Tengah, dan di Lembah Amazon. Infeksi HBV tidak terlalu endemis di Amerika Serikat dan infeksi terutama terjadi pada usia dewasa. CDC memperkirakan bahwa sejumlah 200.000 hingga 300.000 orang (terutama dewasa muda) terinfeksi oleh HBV setiap tahunnya. Hanya sekitar 25% dari mereka yang mengalami ikterus, 10.000 kasus memerlukan perawatan di rumah sakit, dan sekitar 1-2% meninggal karena penyakit yang fulminant. Perkiraan jumlah karier di Amerika Serikat adalah sekitar 800.000 hingga 1 juta orang. Sekitar 25% dari karier ini berkembang menjadi hepatitis kronik aktif, yang seringkali berlanjut menjadi sirosis. Selain itu, resiko berkembangnya kanker primer di hati juga meningkat secara bermakna pada karier. Diperkirakan 25 hingga 40% penderita HBV akut sangat beresiko mengalami sirosis dan karsinoma hepatoselular (Price, Wilson, 2005). 3. PENYEBAB Hepatitis A (HAV) Virus hepatitis A ,erupakan virus RNA kecil berdiameter 27 nm yang dapat dideteksi di dalam feses pada akhir masa inkubasi dan fase preikterik. Sewaktu timbul ikterik, antibodi terhadap HAV (anti-HAV) telah dapat diukur di dalam serum. Awalnya kadar antibodi IgM anti-HAV meningkat tajam, sehingga memudahkan untuk mendiagnosis secara tepat adanya suatu infeksi HAV. Setelah masa akut, antibody IgG anti-HAV menjadi dominan dan bertahan seterusnya sehingga keadaan ini menunjukkan penderita pernah mengalami infeksi HAV di masa lampau dan memiliki imunitas. Keadaan karier tidak pernah ditemukan. HAV terutama ditularkan per oral dengan menelan makanan yang telah terkontaminasi feses. Penularan melalui transfusi darah pernah dilaporkan namun jarang terjadi (CDC, 2000). Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak atau terjadi akibat kontak dengan orang terinfeksi melalui kontaminasi feses pada makanan atau minuman atau dengan menelan kerang mengandung virus

yang tidak dimasak dengan baik. Penularan ditunjang oleh sanitasi yang buruk, kontak yang intim (tinggal serumah atau seksual). Masa inkubasi rata-rata 30 hari. Masa penularan tertinggi adalah pada minggu kedua setelah timbulnya icterus (Price, Wilson, 2005). Hepatitis B (HBV) Virus hepatitis B (HBV) merupakan virus DNA berselubung ganda berukuran 42 nm yang memiliki lapisan permukaan dan bagian inti. Infeksi HBV merupakan penyebab utama hepatitis akut, hepatitis kronis, sirosis dan kanker hati di seluruh dunia. Cara utama penularan HBV adalah melalui parenteral dan menembus membran mukosa, terutama melalui hubungan seksual. Masa inkubasi rata-rata adalah sekitar 60 hingga 90 hari. HBsAg telah ditemukan pada hampir semua cairan tubuh orang yang terinfeksi (darah, semen, saliva, air mata, asites, air susu ibu, urine dan bahkan feses). Setidaknya sebagian cairan tubuh ini (terutama darah, semen, dan saliva) telah terbukti bersifat infeksius (Price, Wilson, 2005). Hepatitis C (HCV) HCV merupakan virus RNA untai tunggal, linear berdiameter 50-60 nm. Telah digunakan suatu pemeriksaan imun enzim untuk mendeteksi antibodi terhadap HCV (anti-HCV), namun pemeriksaan ini banyak menghasilkan negatif palsu, sehingga digunakan juga pemeriksaan rekombinan suplemental (recombinant assay, RIBA). HCV ditularkan melalui jalur parenteral dan kemungkinan melalui pemakaian obat IV dan transfusi darah. Risiko penularan melalui hubungan seksual masih menjadi perdebatan namun jumlahnya rendah. Masa inkubasi berkisar dari 15 sampai 160 hari, dengan rata-rata sekitar 50 hari. Infeksi yang berkaitan dengan HCV dan HBV melalui transfusi darah tidak lagi menjadi masalah utaman karena semua darah menjalani pemeriksaan sebelum transfusi (Price, Wilson, 2005).

Hepatitis D Virus hepatitis D (HDV, virus delta) merupakan virus RNA berukuran

35 sampai 37 nm yang tidak biasa karena membutuhkan HBsAg untuk berperan sebagai lapisan luar partikel yang infeksius. Sehingga hanya penderita positif HBsAg yang dapat terinfeksi HDV. Penanda serologis untuk antigen (HDAg) (yang menandakan infeksi akut dini) dan antibodi (anti HDV) (yang menunjukkan adanya infeksi pada saat ini atau infeksi di masa lalu) kini telah dapat dibeli. Penularan terjadi terutama melalui serum. Masa inkubasinya diperkirakan menyerupai HBV yaitu sekitar 1 hingga 2 bulan. HDV dapat timbul sendiri sebagai infeksi akut, infeksi kronis, koinfeksi atau superinfeksi dengan HBV (Price, Wilson, 2005). Hepatitis E HEV adalah suatu virus RNA untai tunggal yang kecil berdiameter kurang lebih 32 sampai 34 nm dan tidak berkapsul. HEV adalah jenis hepatitis non-A, non-B yang ditularkan secara enterik melalui jalur fekal-oral. Sejauh ini dapat dilakukan pemeriksaan serologis untuk HEV menggunakan pemeriksaan imun enzim yang dikodekan secara khusus. Metode ini telah berhasil membedakan aktivitas antibodi terhadap HEV dalam serum. Masa inkubasi sekitar 6 minggu (Price, Wilson, 2005). Kemungkinan Hepatitis F dan G Fagan (1994) yang melaporkan ditemukannya beberapa partikel virus (non-A, non-B, non-C, dan non-E) yang dia suntikkan ke dalam kera rhesus Indian. Kera-kera ini kemudian mengalami infeksi virus yang dikenal sebagai hepatitis F (HFV). Sayangnya tidak terdapat kasus lain yang menunjukkan temuan ini. Oleh karena itu meskipun telah terdapat sistem klasifikasi nama HFV, masih belum dipastikan bahwa virus hepatitis F benar-benar ada. Virus hepatitis G (HGV) adalah suatu flavivirus RNA yang mungkin menyebabkan hepatitis fulminant. HGV ditularkan terutama melalui air, namun juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kelompok yang beresiko adalah individu yang menjalani transfusi darah, tertusuk jarum suntik yang telah

terinfeksi, pengguna obat melalui intravena atau pasien hemodialisis. Saat ini pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) merupakan satu-satunya metode pendeteksi HGV yang tersedia. Beberapa peneliti meyakini bahwa HGV tidak menyebabkan hepatitis yang bermakna secara klinis sehingga mereka tidak lagi mempertimbangkan virus ini sebagai virus hepatitis (Yeo, 2000; Lefrere, 1999 dalam Patofisiologi Volume 1 Edisi 6, 2005). 4. KLASIFIKASI HEPATITIS a. Virus hepatitis A (HAV) b. Virus hepatitis B (HBV) c. Virus hepatitis C (HCV) d. Virus hepatitis D (HDV) e. Virus hepatitis E (HEV) f. Virus hepatitis F (HFV) g. Virus hepatitis G (HGV) 5. MANIFESTASI KLINIS Masa tunas HAV HBV Virus RNA HCV Virus RNA HDV Virus RNA HEV Fase Pre Ikterik Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, cepat lelah terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar (hipertermi) berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B. : 15-45 hari, rata-rata 30 hari : 50-180 hari, rata-rata 60-90 hari : 15-160 hari, rata-rata 50 hari : 30-60 hari, 21-140 hari, rata-rata: 35 hari : 15-60 hari, rata-rata: 40 hari

Fase Ikterik Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.

Fase penyembuhan Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan cepat lelah.

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. Laboratorium Pemeriksaan Pigmen - Urobilirubin direk - Bilirubun serum total - Bilirubin urine - Urobilinogen urine - Urobilinogen feses Pemeriksaan Protein - Protein totel seru - Albumin serum - Globulin serum - HbsAg Waktu Protombin - Respon waktu protombin terhadap vitamin K

Pemeriksaan serum transferase dan transaminase - AST atau SGOT - ALT atau SGPT - LDH - Amonia Serum b. Radiologi - Foto rontgen abdomen - Pemindahan hati denagn preparat technetium, emas, atau rose bengal yang berlabel radioaktif - Kolestogram dan kalangiogram - Arteriografi pembuluh darah seliaka c. Pemeriksaan tambahan - Laparoskopi - Biopsi hati 7. PENGOBATAN Tidak terdapat terapi spesifik untuk hepatitis virus akut. Tirah baring selama fase akut penting dilakukan, dan diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat umumnya merupakan makanan yang paling dapat dimakan oleh penderita. Pemberian makanan secara intravena mungkin perlu diberikan selama fase akut bila pasien terus-menerus muntah. Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi hingga gejala mereda dan tes fungsi hati kembali normal. Pengobatan terpilih untuk hepatitis B kronis atau hepatitis C kronis simtomatik adalah terapi antivirus dengan interferon-. Terapi antivirus untuk hepatitis D kronis membutuhkan pasien uji eksperimental. Jenis hepatitis kronis ini beresiko tinggi berkembang menjadi sirosis. Kecepatan respons yang terjadi bervariasi dan lebih besar kemungkinan berhasil dengan durasi infeksi yang lebih pendek. Penderita imunosupresi dengan hepatitis B kronis serta anak-anak yang terinfeksi saat lahir tampaknya tidak berespons terhadap terapi interferon. Transplantasi hati merupakan

terapi pilihan bagi penyakit stadium akhir, meskipun terdapat kemungkinan yang tinggi untuk terjadinya reinfeksi hati yang baru (Price, Wilson, 2005). 8. PENCEGAHAN Pengobatan lebih ditekankan pada pencegahan melalui imunisasi karena keterbatasan pengobatan hepatitis virus. Kini tersedia imunisasi pasif dan aktif untuk HAV maupun HBV. CDC (2000) telah menerbitkan rekomendasi untuk praktik pemberian imunisasi sebelum dan sesudah pajanan virus. Vaksin HAV diberikan dengan rekomendasi jadwal pemberian dua dosis bagi orang dewasa berumur 18 tahun keatas dan dosis kedua diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis pertama. Anak berusia lebih dari 2 tahun dan remaja diberi tiga dosis, dosis kedua diberikan satu bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan berikutnya. Anak berusia kurang dari 2 tahun tidak divaksinasi. Cara pemberiannya adalah melalui injeksi intramuscular (IM) dalam otot deltoideus. Imunoglobulin (IG) yang dulu disebut globulin serum imun diberikan sebagai perlindungan sebelum atau sesudah terpajan HAV. Semua sediaan IG mengandung anti-HAV. Profilaksis sebelum pajanan dianjurkan untuk wisatawan manca Negara yang akan berkunjung ke negara-negara endemis HAV. Bila kunjungan kurang dari 6 bulan, maka diberikan dosis tunggal IG (0,2 ml/kgBB) secara IM; bila kunjungan diperkirakan lebih lama, diberikan 0,06 ml/kgBB setiap 4 hingga 6 bulan. Pemberian IG pascapajanan bersifat efektif dalam mencegah atau mengurangi keparahan infeksi HAV. Dosis 0,02 ml/kgBB diberikan sesegera mungkin atau dalam waktu 2 minggu setelah pajanan. Inokulasi dengan IG diindikasikan bagi anggota keluarga yang tinggal serumah, staff pusat penitipan anak, pekerja di panti asuhan, dan wisatawan yang berkunjung ke Negara berkembang atau tropis. Imunoglobulin HBV titer tertinggi (HBIG) dan vaksin untuk mencegah dan mengobati HBV. Pemberian profilaksis sebelum pajanan dianjurkan bagi individu yang beresiko menderita HBV, yang meliputi: Pekerja layanan kesehatan Klien dan staff lembaga cacat mental Pasien hemodialysis Pasangan homoseksual yang aktif secara seksual

HBsAg -

Pemakai obat intravena Penerima produk darah secara kronis Kontak serumah atau berhubungan seksual dengan penderita karier Heteroseksual yang aktif secara seksual dengan banyak pasangan Wisatawan mancanegara ke daerah endemis HBV Pengungsi dari daerah endemis HBV

Vaksin HBV mengandung partikel-partikel HBsAg yang tidak menular yang berasal dari rekayasa genetika dari DNA rekombinan. Tiga suntikan secara serial (bulan ke-0, bulan ke-1, bulan ke-6) akan menghasilkan antibodi terhadap HBsAg pada 95% kasus yang telah divaksinasi, namun tidak berefek pada individu karier. HBIG merupakan obat terpilih untuk profilaksis pascapajanan jangka pendek. Pemberian vaksin HBV dapat dilakukan bersamaan untuk memperoleh imunitas jangka panjang, bergantung pada situasi pajanan. CDC merekomendasikan pemberian HBIG dan HBV dalam 12 jam setelah lahir pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif. Uji rutin HBsAg prenatal pada semua wanita hamil sangat disarankan karena kehamilan akan menyebabkan penyakit berat pada ibu dan infeksi kronis pada neonatus. Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif dan HBeAg positif beresiko 70-90% untuk terinfeksi HBV. 80-90% bayi yang terinfeksi akan menjadi karier HBV kronis, dan lebih dari 25% penderita karier ini akan meninggal akibat karsinoma hepatoselular primer atau sirosis hati. HBIG (0,06 ml/kgBB) adalah pengobatan terpilih untuk mencegah infeksi HBV setelah suntikan perkutan (jarum suntik) atau mukosa terpajan darah HBsAg positif. Vaksin HBV harus segera diberikan dalam waktu 7 hingga 14 hari bila individu yang terpajan belum divaksinasi. Individu terpajan yang telah divaksinasi harus menjalani pengukuran antibodi anti-HBs, kemudian tidak membutuhkan pengobatan. Bila kadar antibodi HBs tidak mencukupi, maka perlu diberikan dosis booster vaksin. Petugas yang terlibat dalam kontak resiko tinggi (misal: pada hemodialisis, transfusi tukar, dan terapi parenteral) perlu sangat berhati-hati dalam menangani peralatan dan menghindari tusukan jarum.

Tindakan dalam masyarakat yang penting untuk mencegah hepatitis mencakup penyediaan makanan dan air bersih yang aman, serta sistem pembuangan sampah yang efektif. Penting untuk memerhatikan hygiene umum seperti mencuci tangan, serta membuang urine dan feses pasien terinfeksi dengan aman. Pemakaian kateter, jarum suntik, dan spuit sekali pakai, dapat mengurangi sumber infeksi, dan yang terpenting, semua donor darah harus diseleksi terlebih dahulu terhadap virus HAV, HBV, dan HCV sebelum diterima menjadi panel donor (Price, Wilson, 2005). 9. KOMPLIKASI Tidak setiap penderita hepatitis virus akan mengalami perjalanan penyakit yang lengkap. Hepatitis fulminant ditandai dengan gejala dan tanda gagal hati akut (penciutan hati), kadar bilirubin serum meningkat cepat, pemanjangan waktu protrombin yang sangat nyata, dan koma hepatikum. Prognosis adalah kematian pada 60 hingga 80% pasien ini. Kematian dapat terjadi dalam beberapa hari pada sebagian kasus dan yang lain dapat bertahan selama beberapa minggu bila kerusakan tidak begitu parah. HBV merupakan penyebab 50% kasus hepatitis fulminant, dan sering disertai oleh infeksi HDV. Agen delta (HDV) dapat menyebabkan hepatitis bila terdapat dalam tubuh dengan HBsAg. Hepatitis fulminant jarang menjadi komplikasi HCV dan kadang disetai HAV. Komplikasi tersering hepatitis virus adalah perjalanan klinis yang lebih lama hingga berkisar dari 2 hungga 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis kronis persisten, dan terjadi pada 5 hingga 10% pasien. Walaupun pemulihan terlambat, penderita hepatitis kronis persisten hamper selalu sembuh. Sekitar 5 hingga 10% pasien hepatitis virus mengalami kekambuhan setelah sembuh dari serangan awal. Hal ini biasanya berkaitan dengan individu yang berada dalam risiko tinggi (misalnya penyalahgunaan zat, dan penderita karier). Kekambuhan icterus biasanya tidak terlalu nyata, dan uji fungsi hati tidak memperlihatkan kelainan dalam derajat yang sama seperti pada serangan awal. Tirah baring biasanya akan mempercepat kesembuhan. Setelah hepatitis virus akut, sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif atau kronis aktif bila terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (piece meal) dan terjadi sirosis.

Yang terakhir, komplikasi lanjut hepatitis yang cukup bermakna adalah berkembangnya karsinoma hepatoselular primer. Dua factor penyebab utama yang terkait dalam pathogenesis adalah: infeksi HBV kronis dan sirosis terkait. Ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik toksik merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik (Price, Wilson, 2005).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN (1) Identitas Pasien Nama Umur Alamat Pekerjaan No. Reg. Tgl. MRS Tgl. Pengkajian Dx Medis : : : : : : : :

(2) Identitas Penanggung Jawab Nama Umur Pendidikan Pekerjaan : Hub. dgn pasien : (3) Riwayat Kesehatan Keluhan utama Riwayat penyakit sekarang Riwayat kehamilan dan kelahiran Riwayat kesehatan keluarga (4) Pola Kesehatan Fungsional Pola Gordon a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan b. Pola nutrisi dan metabolic c. Pola cairan dan metabolic d. Pola istirahat dan tidur : : :

e. Pola aktivitas dan latihan f. Pola eliminasi g. Pola persepsi dan kognitif h. Pola reproduksi dan seksual i. Pola persepsi dan konsep diri j. Pola mekanisme koping k. Pola nilai dan kepercayaan (5) Pengkajian Fisik Keadaan umum pasien Kesadaran Pemeriksaan TTV

(6) Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan radiologic

(7) Analisa (pengelompokan data) Data subjektif Data objektif 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik Berhubungan dengan: Faktor biologis Faktor ekonomi

Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrient Ketidakmampuan untuk mencerna makanan Ditandai dengan: Kram abdomen Nyeri abdomen Menghindari makan Berat badan 20% atau lebih di bawah berat badan ideal Kerapuhan kapiler Diare Kehilangan rambut berlebihan Bising usus hiperaktif Kurang makanan Kurang informasi Kurang minat pada makanan Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat

Ketidakmampuan menelan makanan Faktor psikologis

Kesalahan konsepsi Kesalahan informasi Membrane mukosa pucat Ketidakmampuan memakan makanan Tonus otot menurun Mengeluh gangguan sensasi rasa Mengeluh asupan makanan kurang dari RDA (recommended daily allowance) Cepat kenyang setelah makan Sariawan rongga mulut Steatorea Kelemahan otot pengunyah Kelemahan otot menelan

2. Nyeri akut Definisi: pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual dan potensial yang digambaran dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intesitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung < 6 bulan. Berhubungan dengan: Agens cedera (mis: biologis, zat kimia, fisik, psikologis)

Ditandai dengan: Perubahan selera makan Perubahan tekanan darah Perubahan frekuensi jantung Perubahan frekuensi pernapasan Laporan isyarat
Diaforesis

Sikap melindungi area nyeri Fokus menyempit Indikasi nyeri yang dapat diamati Perubahan posisi untuk menghindari nyeri Sikap tubuh melindungi Dilatasi pupil Melaporkan nyeri secara verbal Fokus pada diri sendiri Gangguan tidur

Perilaku distraksi Mengekspresikan perilaku Masker wajah

3. Ganggguan rasa nyaman Definisi: Merasa kurang senang, lega dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospiritual, lingkungan, dan social. Berhubungan dengan: Gejala terkait penyakit Sumber yang tidak adekuat (mis. Dukungan finansial dan social) Kurang pengendalian lingkungan Kurang privasi Kurang control situasional Stimuli lingkungan yang mengganggu Efek samping terkait terapi (mis. Medikasi, radiasi) Ditandai dengan: Ansietas Menangis Gangguan pola tidur Takut Ketidakmampuan untuk relaks Iritabilitas Merintih, melaporkan merasa dingin Melaporkan merasa panas Melaporkan perasaan tidak nyaman Melaporkan gejala distress

Melaporkan rasa lapar Melaporkan rasa gatal Melaporkan kurang puas dengan keadaan 4. Hypertermia

Melaporkan kurang senang dengan situasi tersebut Gelisah Berkeluh kesah

Definisi: peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal Berhubungan dengan: Anesthesia Penurunan perspirasi Dehidrasi Pemajanan lingkungan yang panas Penyakit Ditandai dengan: Konvulsi Kulit kemerahan Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal Kejang Takikardia Takipnea Kulit terasa hangat Pemakaian pakaian yang tidak sesuai dengan suhu lingkungan Peningkatan laju metabolism Medikasi Trauma Aktivitas berlebihan

5. Keletihan Definisi: Rasa letih luar biasa dan penurunan kapasitas kerja fisik dan jiwa pada tingkat yang biasanya secara terus-menerus. Berhubungan dengan: Psikologis: Ansietas Depresi Mengatakan gaya hidup membosankan Stress Fisiologis: Anemia Status penyakit

Peningkatan kelelahan fisik Malnutrisi Kondisi fisik buruk

Kehamilan Deprivasi tidur

6.

Risiko Gangguan Fungsi Hati Definisi: Beresiko pada penurunan fungsi hati yang mungkin mengganggu kesehatan. Faktor Resiko: Medikasi hepatotoksik (missal: asetaminofen, statin) Ko-infeksi HIV Penyalahgunaan zat (misal: alkohol, kokain) Infeksi virus (misal: hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, Epstein-Barr)

DAFTAR PUSTAKA

Dochterman, Joanne Mccloskey. 2004. Nursing Intervention Classification. America: Mosby Heater Herdman, T. 2012. NANDA Internasional Diagnosis Keperawatan 20122014.Jakarta: EGC Mansjoer, Arif, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid I, FKUI ; Media Aesculapius. Suzanne, C, Smeltzer, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Alih Bahasa, Kuncana Y Hartono Andry, Ester, Yasin, Jakarta: EGC. Swanson, Elizabeth. 2008. Nursing Outcome Classification. America: Mosby Price, Wilson. 2000. Patofisiologi Volume 1 Edisi 6, Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai