Anda di halaman 1dari 25

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

I.

Pendahuluan Salah satu kompetensi yang perlu dimiliki seorang guru adalah

mengembangkan bahan ajar. Pengembangan bahan ajar sangat penting dilakukan oleh guru agar pembelajaran lebih efektif, efisien, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan di capai. Kompetensi mengembangkan bahan ajar idealnya telah dikuasai guru secara baik, namun pada kenyataannya masih banyak guru yang belum menguasainya, sehingga dalam melakukan proses pembelajaran masih banyak yang bersifat konvensional dan menggunakan buku teks yang jual di pasaran. Dampak dari pembelajaran seperti ini antara lain pembelajaran berpusat pada guru yang menyebabkan siswa kurang aktif dan bahan ajar yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan lingkungan sekolah, Terdapat sejumlah alasan mengapa guru perlu untuk mengembangkan bahan ajar, antara lain; ketersediaan bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik siswa, dan kondisi lingkungan belajar. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum yang digunakan. Dengan pertimbangan kurikulum ini, maka sebelum bahan ajar dikembangkan hal yang harus dilakukan oleh pengembang adalah mendesain bahan ajar dengan langkahlangkah yang benar sehingga akan dihasilkan bahan ajar yang tepat sehingga lebih bermanfaat bagi penggunanya. Untuk mendukung kurikulum, sebuah bahan ajar bisa saja menempati posisi sebagai bahan ajar pokok ataupun suplementer. Bahan ajar pokok adalah bahan ajar yang memenuhi tuntutan kurikulum. Sedangkan bahan ajar suplementer adalah bahan ajar yang dimaksudkan untuk memperkaya, menambah ataupun memperdalam isi kurikulum. Adalah hal yang bijak jika guru sendiri yang mengembangkan bahan ajar. Untuk mengembangkan bahan ajar, referensi dapat diperoleh dari berbagai sumber baik itu berupa pengalaman ataupun pengetahuan sendiri, ataupun penggalian informasi dari narasumber baik orang ahli ataupun

teman sejawat. Demikian pula referensi dapat kita peroleh dari buku-buku, media massa, internet, dan lain lain. Merujuk pada alasan pentingnya seorang guru mengembangkan bahan ajar maka dalam makalah ini akan dibahas bagaimana mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.

II. Pembahasan Pengertian Bahan Ajar Menurut Gafur (2004) bahan ajar adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus diajarkan oleh guru dan dipelajari oleh siswa. Bahan ajar tersebut berisi materi pelajaran yang harus dikuasai oleh guru dan disampaikan kepada siswa. Sedangkan menurut Mulyasa (2006), bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. Mulyasa (2006), juga menjelaskan bahwa bahan ajar merupakan salah satu bagian dari sumber belajar yang dapat diartikan sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang diniatkan secara khusus maupun bersifat umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran. Dengan kata lain bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar mempunyai struktur dan urutan yang sistematis, menjelaskan tujuan instruksional yang akan dicapai, memotivasi peserta didik untuk belajar, mengantisipasi kesukaran belajar peserta didik sehingga menyediakan bimbingan bagi peserta didik untuk mempelajari bahan tersebut, memberikan latihan yang banyak, menyediakan rangkuman, dan secara umum berorientasi pada peserta didik secara individual (learner oriented).Biasanya, bahan ajar bersifat mandiri,

artinya dapat dipelajari oleh peserta didik secara mandiri karena sistematis dan lengkap (Panen, Purwanto, 1997).

Sistematika Penulisan Bahan Ajar. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan (Anonim, 2006). 1. Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Misalnya, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan. 2. Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan,

pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. 3. Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar Bahan ajar disusun dengan tujuan: 1. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik.

2. 3.

Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Manfaat bagi guru 1. Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. 2. Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh. 3. 4. 5. Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar. Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada gurunya. Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.

6.

Manfaat bagi peserta didik 1. 2. 3. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru. Mendapatkan fasilitas dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya

Macam-macam Pengembangan Bahan Ajar Menurut Suparman (2012), ada tiga macam pengembangan bahan instruksional, yaitu pengembangan bahan belajar mandiri, pengembangan bahan pengajaran konvensional dan pengembangan bahan model pengajar, bahan dan siswa (PBS). 1. Pengembangan Bahan Belajar Mandiri Bahan belajar mandiri dikembangkan bila dalam pelaksanaan kegiatan instruksional mahasiswa belajar secara mandiri tanpa tergantung kepada

kehadiran pengajar. Bahan instruksional tersebut adalah gurunya. Bahan belajar mandiri mempunyai empat ciri pokok, yaitu: a. Mempunyai kalimat yang mampu menjelaskan sendiri. Uraian dalam bahan itu jelas sehingga tidak perlu penjelasan tambahan dari pengajar atau sumber lain; b. Dapat dipelajari oleh mahasiswa sesuai dengan kecepatan belajar masingmasing. Dalam bahan tersebut telah terdapat petunjuk kapan mahasiswa boleh terus maju ke bagian berikutnya dan kapan harus mengulang mempelajari bahan belajar yang sama atau bahan yang lain. Mahasiswa yang mampu belajar dengan cepat dapat maju terus tanpa perlu menunggu mahasiswa lain yang lebih lambat. Sebaliknya mahasiswa yang lambat tidak perlu merasa tertinggal dan memburu kecepatan mahasiswa yang lebih cepat; c. Dapat dipelajari oleh mahasiswa menurut wktu dan tempat yang dipilihnya;

d. Mampu membuat mahasiswa aktif melakukan sesuatu pada saat belajar, seperti mengerjakan latihan, tes atau kegiatan praktik. Mahasiswa belajar tidak sekedar membaca buku, mendengarkan kaset audio/radio, melihat program video atau televisi.

Untuk memproduksi bahan belajar mandiri, pendesain instruksional dengan bantuan strategi instruksional melakukan langkah-langkah berikut ini: a. Memilih dan mengumpulkan bahan instruksional yang kebetulan tersedia di lapangan dan relevan dengan isi pelajaran yang tercantum dalam strategi instruksional. Bahan-bahan tersebut berbentuk buku, bab tertentu dalam buku, dan program media udiovisual; b. Mengadaptasikan bahan instruksional tersebut ke dalam bentuk bahan belajar mandiri dengan mengikuti startegi instruksional yang telah disusun sebelumnya. Bila ternyata tidak ada yang sesuai, pengembang instruksional harus mulai menulis bahan belajar sendiri; c. Meneliti kembali konsistensi isi bahan belajar tersebut dengan strategi instruksional;

d.

Meneliti kualitas teknis dari bahan tersebut, yang meliputi tiga hal sebagai berikut: 1) Bahasa yang sederhana dan relevan Sedapat mungkin modul yang dikembangkan menggunakan bahasa yang mudah dan konsisten dengan terminologi yang biasa digunakan dalam bidang pengetahuan yang bersangkutan. 2) Bahasa yang komunikatif Bahasa yang digunakan dalam modul disusun dengan bahasa yang mencerminkan pembicaraan langsung dari seorang pengajar atau pelatih kepada seorang mahasiswa yang membacanya atau mendengarnya. 3) Desain fisik Desain fisik dari suatu modul, khususnya yang berbentuk media cetak, harus artistik, rapi, menarik dan diketik dengan jelas serta tidak terlalu rapat. Sedangkan desain fisik yang noncetak harus jelas bila didengar atau dilihat gambarnya, baik kualitas bahan bakunya, pengemasannya maupun

kemudahan dalam menyimpannya.

2. Pengembangan Bahan Pengajaran Konvensional Bahan pengajaran konvensional sangat terbatas jumlahnya karena yang menjadi poin pokok kegiatan instruksional ini adalah pengajar dan bahan-bahan pengajaran. Pengajar menyajikan isi pelajaran dengan urutan, metode dan waktu yang telah ditentukan dalam strategi instruksional. Berikut ini adalah langkahlangkah dalam mengembangkan bahan pengajaran konvensional: a. Menulis deskripsi singkat isi pelajaran tersebut yang disimpulkan dari seluruh subkomponen D(Deskripsi Singkat) pada strategi instruksional untuk seluruh TIK; b. Menulis topik dan jadwal pelajaran yang diangkat dari setiap subkomponen D dan waktu yang dibutuhkan pengajar pada strategi instruksional; c. Menyusun tugas dan jadwal penyelesaiannya yang diharpakan dilakukan mahasiswa. Daftar tersebut meliputi seluruh Latihan (L) yang terdapat dalam strategi instruksional;

d.

Menyusun cara pemberian nilai hasil pelaksanaan tugas dan tes.

C. Pengembangan Bahan PBS Berikut ini adalah langkah-langkah dalam pengembangan bahan PBS, yaitu: 1. Memilih dan mengumpulkan bahan instruksional yang kebetulan tersedia di lapangan dan relevan dengan isi pelajaran yang tercantum dalam strategi instruksional. Bahan tersebut berbentuk media cetak dan audiovisual; 2. Menyusun bahan tersebut sesuai dengan urutan pada U (Uraian) yang terdapat dalam strategi instruksional; 3. Mengidentifikasi bahan-bahan yang tidak diperoleh dari lapangan untuk ditutup dengan penyajian pengajar; 4. Menyusun program pengajaran; 5. Menyusun petunjuk cara menggunakan bahan instruksional yang dibagikan kepada mahasiswa.

D. Penyusunan Bahan Ajar Prosedur Pengembangan Bahan Ajar. Ada beberapa langkah dalam mengembangkan bahan ajar yaitu: 1. Menganalisis kebutuhan instruksional yang menghasilkan perilaku-perilaku umum yang dibuat dalam bentuk Tujuan Instruksional Umum (TIU); 2. Menganalisis tujuan instruksional dengan menjabarkan perilaku-perilaku umum dari TIU menjadi perilaku-perilaku khusus yang menghasilkan perilakuperilaku yang diharapkan dimiliki oleh siswa; 3. Menganalisis karakteristik siswa dan lingkungan menghasilkan perilakuperilaku khusus yang sudah dimiliki oleh siswa; 4. Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang diperoleh dari perilakuperilaku khusus yang diharapkan dan perilaku-perilaku khusus yang sudah dimiliki siswa.

E. Penyusunan Pengembangan Bahan Ajar

1. Mengidentifikasi

Kebutuhan

Instruksional

dan

Menulis

Tujuan

Instruksional Umum Mengidentifikasi kebutuhan instruksional adalah suatu proses untuk: a) menentukan kesenjangan penampilan siswa yang disebabkan kekurangan kesempatan mendapatkan pendidikan dan pelatihan pada masa lalu; b) mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional yang paling tepat; c) menentukan populasi sasaran yang dapat mengikuti kegiatan instrusional tersebut. Langkah ini merupakan titik tolak dan sumber bagi langkah-langkah berikutnya. Desain produk instruksional yang akan di analisis adalah pelajaran kimia yaitu: - Kebutuhan Instruksional /Standar Kompetensi (SK) 4 Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya. - Tujuan Instruksional Umum (TIU)/Kompetensi Dasar (KD) 4,4 Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam tersebut. 2. Melakukan Analisis Instruksional Analisis instruksional adalah proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat

menggambarkan perilaku umum secara terperinci. Perilaku-perilaku khusus disusun sesuai dengan kedudukannya, misalnya kedudukannya sebagai perilaku prasyarat, perilaku yang menurut urutan gerakan fisik berlangsung lebih dulu, perilaku yang menurut proses psikologi muncul lebih dulu atau secara kronologis terjadi lebih awal. Dalam tahap ini perilaku yang akan dijabarkan adalah perilaku yang menjadi Tujuan Instruksional Umum ( TIU/KD), yaitu: 4.4 Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam tersebut. Perilaku-perilaku yang dijabarkan antara lain: 1. Mengetahui spesi asam dan basa. 2. Mengetahui asam/basa kuat dan lemah 3. Menjelaskan definisi garam

4. Menyebutkan contoh garam 5. Menjelaskan pengertian hidrolisis garam 6. Menjelaskan jenis-jenis hidrolisis garam 7. Menghitung harga pH garam berdasarkan jenis hidrolisisnya 8. Membuktikan jenis hidrolisis garam melalui percobaan

3. Mengidentifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa. Mengidentifikasi perilaku awal siswa dimaksudkan untuk mengetahui siapa kelompok sasaran, populasi sasaran, serta sasaran didik dari kegiatan instruksional. Istilah tersebut digunakan untuk menanyakan siswa yang mana atau siswa sekolah apa, serta sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka miliki sehingga dapat mengikuti pelajaran tersebut. No. Perilaku Khusus Dimiliki Belum Dimiliki 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mengetahui spesi asam dan basa. Mengetahui asam/basa kuat dan lemah Menjelaskan definisi garam Menyebutkan contoh garam Menjelaskan pengertian hidrolisis garam Menjelaskan jenis-jenis hidrolisis garam Menghitung harga pH garam berdasarkan jenis hidrolisisnya 8 Membuktikan jenis hidrolisis garam melalui percobaan

4. Menulis Tujuan Instruksional Khusus Tujuan Instruksional Khusus (TIK) terjemahan dari specific instructional objective. Literature asing menyebutkan pula sebagai objective atau enabling objective untuk membedakannya dari general instructional objective,

goal, atau terminal objective, yang berarti tujuan instructional umum (TIU) atau tujuan instruktional akhir. TIK dirumuskan dalam bentuk kata kerja yang dapat dilihat oleh mata (observable). TIK merupakan satu-satunya dasar untuk menyusun kisi-kisi tes, karena itu TIK harus mengandung unsur-unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar dapat mengembangkan tes yang benar-benar dapat mengukur perilaku yang terdapat di dalamnya. Unsur-unsur dalam TIK dikenal dengan ABCD yang berasal dari kata sebagai berikut: A = Audience, B = Behaviour, C = Condition, dan D = Degree. Audience adalah siswa yang akan belajar, behavior adalah perilaku spesifik yang akan dimunculkan oleh siswa setelah selesai proses belajarnya dalam pelajaran tersebut, condition adalah kondisi atau batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang digunakan siswa pada saat di tes (bukan pada saat belajar), dan degree adalah tingkat keberhasilah siswa dalam mencapai perilaku tersebut. Berdasarkan perilaku khusus yang sudah di analisa pada tahap sebelumnya didapatkan empat perilaku khusus yang belum dimiliki oleh siswa yang menjadi tujuan instruksional khusus (TIK). Berikut empat TIK yang di dapatkan: Perilaku khusus yang belum di kuasai Menjelaskan garam pengertian Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dapat menjelaskan

hidrolisis A. Siswa

pengertian hidrolisis garam dengan benar

Menjelaskan garam

jenis-jenis

hidrolisis B. Setelah diberikan contoh jenis reaksi hidrolisis garam, siswa dapat menjelaskan jenis-jenis hidrolisis garam.

Menghitung

harga

pH

garam C.

Setelah dijelaskan perhitungan pH garam, siswa dapat menghitung pH garam yang dengan tepat. terhidrolisis

berdasarkan jenis hidrolisisnya

Membuktikan jenis hidrolisis garam

D. Setelah

dilakukan

percobaan

10

melalui percobaan

hidrolisis

garam,

siswa

dapat

membuktikan

jenis

hidrolisis

garam yang diuji dengan benar.

5. Menulis Tes Acuan Patokan Tes acuan patokan dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan setiap siswa terhadap perilaku yang tercantum dalam TIK. Adapun langkahlangkah dalam menyusun tes acuan patokan adalah sebagai berikut: a. Menentukan tujuan tes Tes yang dibuat ini digunakan untuk mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan instruksional khusus (TIK), Memberikan umpan balik bagi siswa tentang hasil belajar siswa dalam setiap tahap proses belajarnya, dan menilai efektifitas sistem instruksional secara keseluruhan (Suparman, 2012). b. Membuat tabel spesifikasi TIK Bobot Kompetensi 1 A B C D 2 10% 20% 30% 40% 100% 3 Tes Esai Tes Esai Tes Esai Tes kinerja Alat Penilaian Jumlah Butir Tes 4 1 2 2 1 6

Penilaian Psikomotor/unjuk kerja Aspek yang di nilai Indikator Skor Nilai

11

Tahap persiapan

Mengecek kelengkapan dan kesesuaian 5-10 alat dan bahan sesuai dengan yang tercantum di LKS

Tahap Pelaksanaan praktikum

Menaruh potongan kertas lakmus biru 5-10 dan lakmus merah pada pelat tetes. Meneteskan masing-masing larutan 5-10

pada kertas lakmus.

Mengamati

perubahan

warna

yang 5-10

terjadi dan mencatat hasil pengamatan. Membersihkan alat-alat yang digunakan 5-10 selama praktikum Membersihkan tempat kerja setelah 5-10 praktikum selesai. Tahap Akhir Mengorganisasikan pengamatan Menganalisis hasil pengamatan untuk 5-10 menentukan sifat garam Menjawab semua pertanyaan di LKS Menarik praktikum Jumlah nilai 50-100 kesimpulan dari 5-10 data hasil 5-10

hasil 5-10

c. Menulis butir tes No TIK A B Apa pengertian dari hidrolisis garam Dari reaksi hidrolisis garam dibawah ini: a. CH3COONa CH3COO- + Na+ CH3COO- + H2O CH3COOH + OH10 20 Pertanyaan Skor

12

b. NH4Cl NH4+ + ClNH4+ + H2O NH4OH + H+ Jelaskan jenis reaksi hidrolisis garam dan sifat garam tersebut! C Berapa harga pH dari larutan berikut: a. Garam NH4Cl 0,05M ( Kb NH4Cl = 2.10 ) b. Garam CH3COONa sebanyak 8,2 gram dilarutkan dalam 10 ml air, Ka CH3COONa = 10-5 D Isilah tabel hasil pengamatan dari percobaan, dan 40 jawablah pertanyaan untuk mendapatkan kesimpulan dari percobaan hidrolisis! (soal terlampir di dalam LKS) Total 100
-5

30

d. Merakit tes Butir tes yang telah selesai ditulis dan dikelompokkan atas dasar jenis kemudian diberi nomor urut. Pada saat tes siswa diberi petunjuk untuk menuliskan jawabannya, diberikan petunjuk tentang waktu yang diperlukan untuk menjawab tes, dan skor tiap soal tes. Petunjuk harus sederhana, singkat dan jelas: Berikut petunjuk soal tes yang di desain: Petunjuk: 1. 2. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan tepat. Waktu pengerjaan soal selama 45 menit.

e. Membuat kunci jawaban Pertanyaan: 1. Apa pengertian dari hidrolisis garam 2. Dari reaksi hidrolisis garam dibawah ini: a. CH3COONa CH3COO- + Na+ CH3COO- + H2O CH3COOH + OH-

13

b. NH4Cl NH4+ + ClNH4+ + H2O NH4OH + H+ Jelaskan jenis reaksi hidrolisis garam dan sifat garam tersebut! 3. Berapa harga pH dari larutan berikut: a. Garam NH4Cl 0,05M (Kb NH4Cl = 2.10-5) b. Garam CH3COONa sebanyak 8,2 gram dilarutkan dalam 10 ml air, Ka CH3COOH = 10-5 4. Berikut ini adalah garam-garam yang diuji: Ammonium sulfat, Kalsium sulfat, Kalsium klorida, Aluminium sulfat, Ammonium klorida, Natrium klorida, Barium klorida, Natrium sulfat, Natrium karbonat, Kalsium karbonat. Pertanyaan: a. Bagaimana perubahan warna pada kertas lakmus jika diujikan pada larutan yang bersifat asam? Bagaimana pula jika dilakukan pada

larutan yang bersifat basa dan larutan yang bersifat netral? b. Kelompokkan larutan garam yang bersifat asam, basa, dan netral! c. Mengapa beberapa larutan yang termasuk larutan garam mempunyai sifat asam atau basa atau netral? Jelaskan dengan teori hidrolisis! d. Jelaskan a. b. garam garam pengertian terhidrolisis terhidrolisis dari : sebagian seluruhnya

c. garam tidak terhidrolisis Jawaban: 1. Hidrolisis garam adalah reaksi penguraian garam oleh air menjadi ion-ion penyusun garam tersebut. 2. a. Jenis hidrolisis parsial bersifat basa b. Jenis hidrolisis parsial bersifat asam 3. a. pH = - log = -log

14

= -log = -log pH = 6 log 5

b.

M = = 0,1

pH = 14 log = 14 log = 14 log pH = 14 5 = 9

4. a. Sifat garam Kertas lakmus Merah Merah Biru Merah Biru Merah Biru Biru Sifat garam Asam Basa Netral

b. Asam : Ammonium sulfat, alumunium sulfat, amonium klorida. Basa : Natrium karbonat, kalsium karbonat. Netral : Kalsium klorida, kalsium sulfat, natrium klorida, natrium sulfat.

c. Asam : asam kuat + basa lemah Basa : Basa kuat + asam lemah Netral : Asam kuat + basa kuat

d. Pengertian dari - Garam terhidrolisis sebagian adalah garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah, asam lemah dan basa kuat.
15

- Garam terhidrolisis total adalah garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah. - Garam yang tak terhidrolisis garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat.

6. Menyusun Strategi Instruksional Strategi instruksional dalam menyampaikan materi atau isi pelajaran harus secara sistematis, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Dalam strategi instruksional terkandung empat pengertian sebagai berikut: a) urutan kegiatan instruksional, yaitu urutan kegiatan guru dalam menyampaikan isi pelajaran kepada siswa; b) metode instruksional, yaitu cara guru mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa agar terjadi proses belajar secara efektif dan efisien; c) media instruksional, yaitu peralatan dan bahan instruksional yang digunakan guru dan siswa dalam kegiatan instruksional; dan d) waktu yang digunakan dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan instruksional. Berikut startegi instruksional yang dibuat untuk mencapai empat tujuan instruksional khusus. TIK A : Siswa dapat menjelaskan pengertian hidrolisis garam dengan benar Uraian kegiatan instruksional 1 2 Metode 3 Media 4 Waktu (menit) Guru 5 Siswa 6 Jml 7

PENDAHULUAN Deskripsi singkat Relevansi dan manfaat Materi tentang ini membahas pengertian Slide ppt, LCD Slide ppt, LCD 2 2 2 2

hidrolisis garam Siswa dapat mengetahui bahwa garam dapat Ceramah

terurai oleh air

16

Siswa dapat menjelaskan TIK pengertian hidrolisis Ceramah

Slide ppt, L LCD 1 1

garam dengan benar

KEGIATAN INTI Ceramah Uraian Penjelasan pengertian garam PENUTUP tentang dan hidrolisis tanya jawab Slide ppt, LCD 5 5

Tes formatif

Siswa pengertian

menyebutkan hidrolisis Tanya jawab

Slide ppt, LCD 2 2 4

dan umpan garam balik Tindak lanjut Mengulangi kembali

Slide ppt, LCD 13 2 15 1 1

pengertian dari hidrolisi Ceramah garam Jumlah

TIK B : Setelah diberikan contoh jenis reaksi hidrolisis garam, siswa dapat menjelaskan jenis-jenis hidrolisis garam. Uraian kegiatan instruksional 1 2 Metode 3 Media 4 Waktu (menit) Guru 5 Siswa 6 Jml 7

PENDAHULUAN Deskripsi singkat Materi tentang ini membahas jenis-jenis Slide ppt, LCD 2 2

hidrolisis garam

17

Relevansi dan manfaat

Dari

reaksi

hidrolisis Ceramah

garam dapat diketahui jenis hidrolisis garam dan sifat garamnya. Siswa dapat menjelaskan

Slide ppt, LCD 2 2

TIK

jenis-jenis garam.

hidrolisis

Slide Ceramah ppt, LCD 1 1

KEGIATAN INTI - Membagi kelompok - Penjelasan Uraian hidrolisis garam - Diskusi tentang hidrolisis garam Diberikan Contoh reaksi garam. Siswa Latihan diminta untuk jenis tanya jawab jenis contoh 3 Slide ppt, LCD 10 10 reaksi ceramah, diskusi, Slide ppt, LCD 30 30

kelompok tanya jenis jawab

hidrolisis ceramah

menjelaskan hidrolisis garam

10

10

PENUTUP Siswa diminta untuk : - menjelaskan Tes formatif dan umpan balik penentuan hidrolisis garam. - menyimpulkan tentang hidrolisis garam jenis jenis Tanya jawab 5 10 15

18

Menyimpulkan kembali Tindak lanjut materi yang dipelajari Slide ppt, LCD 5 5

dan menugaskan siswa Ceramah mempelajari berikutnya. Jumlah materi

55

20

75

TIK C : Setelah dijelaskan perhitungan pH garam, siswa dapat menghitung pH garam yang terhidrolisis dengan tepat. Uraian kegiatan instruksional 1 2 Metode 3 Media 4 Waktu (menit) Guru 5 Siswa 6 Jml 7

PENDAHULUAN Deskripsi singkat Relevansi dan manfaat Materi ini membahas Slide ppt, LCD Slide ppt, LCD Slide Ceramah ppt, LCD KEGIATAN INTI Guru menjelaskan rumus pH dari masing-masing ceramah, Uraian jenis garam. reaksi hidrolisis tanya jawab Slide ppt, LCD 30 30 1 1 2 2 2 2

tentang perhitungan pH garam. Dari jenis hidrolisis dan sifat garam dapat Ceramah

diprediksi pH garam. siswa dapat menghitung

TIK

pH garam dengan tepat.

19

Diberikan Contoh

contoh

Slide ppt, LCD 15 15

perhitungan pH garam ceramah yang terhidrolisis. Siswa diminta untuk tanya jawab

Latihan

menghitung pH garam yang terhidolisis.

15

15

PENUTUP Tes formatif Siswa diminta untuk Tanya jawab 5 15 20

menghitung pH garam

dan umpan yang terhidrolisis. balik Menyimpulkan kembali materi Tindak lanjut yang dipelajari

dan menugaskan siswa mempersiapkan praktikum di pertemuan berikutnya. Jumlah

Slide Ceramah ppt, LCD 5 5

55

20

90

TIK D : Setelah dilakukan percobaan hidrolisis garam, siswa dapat membuktikan jenis hidrolisis garam yang diuji dengan benar. Uraian kegiatan instruksional 1 2 Metode 3 Media 4 Waktu (menit) Guru 5 Siswa 6 Jml 7

PENDAHULUAN Deskripsi singkat Pertemuan ini Ceramah Slide ppt, 2 2

dilaksanakan praktikum

20

di laboratorium Dengan Relevansi dan manfaat praktikum

LCD

hidrolisis garam maka siswa membuktikan dapat jenis Ceramah

Slide ppt, LCD 2 2

hidrolisis dan kisaran pH nya. Setelah percobaan dilakukan hidrolisis siswa dapat jenis yang Ceramah

TIK

garam,

Slide ppt, LCD 1 1

membuktikan hidrolisis diuji garam

KEGIATAN INTI

Uraian

Dilakukan

praktikum

Alat Praktikum dan bahan 10 5 20

sesuai dengan petunjuk di LKS. Awalnya guru

mendemonstrasikan cara Contoh menguji garam dan

Demonstrasi.

Alat dan bahan 15 5 20

menentukan kisaran pH garam. Siswa Latihan diminta untuk

mencoba menguji sendiri dengan bimbingan guru.

Alat Praktikum dan bahan 2 10 12

PENUTUP

21

Siswa menentukan jenis Tes formatif hidrolisis garam dan LKS 3 30 16

kisaran pH dari garam Diskusi diuji. Dan kelompok

dan umpan yang balik menjawab

pertanyaan

yang ada di LKS Penjelasan bagian-bagian Tindak lanjut belum siswa. Guru menugaskan siswa untuk membuat laporan praktikum Jumlah 30 30 90 di-pahami kembali yang oleh Ceramah 2 2

7. Mengembangkan Bahan Instruksional Pemilihan format media dalam pembelajaran virtual kadang-kadang tidak sesuai dalam pratek, walaupun secara teori telah dilakukan dengan benar. Untuk itu diperlukan kompromi untuk mendapatkan produk pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan belajar. Tahapan yang akan dicapai dalam mengembangkan bahan instruksional adalah sebagai berikut: a) menjelaskan faktor yang mungkin menyebabkan perbaikan dalam pemilihan media dan sistem penyampaian agar sesuai dengan kegiatan instruksional; b) menjelaskan dan menyebutkan paket dalam komponen instruksional; c) menjelaskan peran desainer dalam pengembangan materi dan penyampaian kegiatan instruksional; d) menjelaskan prosedur untuk

mengembangkan bahan instruksional yang sesuai dengan strategi instruksional; e) membuat bahan instruksional berdasarkan strategi instruksional. Berikut bahan ajar yang dibuat untuk pemenuhan stategi instruksional: - Slide Presentasi (media powerpoint) terlampir. - LKS praktikum

22

PRAKTIKUM KIMIA HIDROLISIS GARAM

Standar Kompetensi 4

Memahami sifat-sifat larutan asam-basa, metode pengukuran, dan terapannya.

Kompetensi Dasar 4.4 : Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan pH larutan garam tersebut.

Indikator : 1. Siswa dapat membuktikan jenis hidrolisis garam yang diuji.

Tujuan : Setelah dilakukan percobaan hidrolisis garam siswa dapat: 1. Setelah dilakukan percobaan hidrolisis garam, siswa dapat membuktikan jenis hidrolisis garam yang diuji dengan benar.

Alat - Pelat tetes

dan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan amonium natrium barium natrium natrium kalsium

Bahan klorida klorida klorida sulfat karbonat karbonat

- Kertas lakmus merah dan lakmus biru - Larutan amonium sulfat - Larutan kalsium sulfat - Larutan kalsium klorida - Larutan aluminium sulfat

Prosedur Kerja: 1. 2. Taruhlah potongan kertas lakmus biru dan lakmus merah pada pelat tetes. Kemudian teteskan masing-masing larutan pada kedua kertas lakmus.

23

3.

Amati apakah terjadi perubahan warna pada kertas lakmus? Catat pengamatan anda!

4.

Nyatakan sifat larutan garam (bersifat asam, basa atau netral) dan lakukan pengelompokkan larutan.

Hasil Pengamatan Perubahan Warna No. Larutan Lakmus Merah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ammonium sulfat Kalsium sulfat Kalsium klorida Aluminium sulfat Ammonium klorida Natrium klorida Barium klorida Natrium sulfat Natrium karbonat Kalsium karbonat Biru Sifat Larutan Asam Basa Netral

Pertanyaan 1. Bagaimana perubahan warna pada kertas lakmus jika diujikan pada larutan yang bersifat asam? Bagaimana pula jika dilakukan pada larutan yang

bersifat basa dan larutan yang bersifat netral? 2. 3. Kelompokkan larutan garam yang bersifat asam, basa, dan netral! Mengapa beberapa larutan yang termasuk larutan garam mempunyai sifat asam atau basa atau netral? Jelaskan dengan teori hidrolisis! 4. Jelaskan a. garam pengertian terhidrolisis dari : sebagian

24

b.

garam

terhidrolisis

seluruhnya

c. garam tidak terhidrolisis

Daftar Pustaka Anonim. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan. Gafur, A. (2004). Pedoman Penyusunan Materi Pembelajaran (Instructional Material). Jakarta: Depdiknas. Mulyasa, E. (2006). Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Panen, Purwanto. (1997). Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Suparman, A. (2012). Desain Instruksional Modern. Jakarta: Penerbit Erlangga.

25