Anda di halaman 1dari 8

Pengertian syariah pada buku Dasar-dasar Agama Islam Penerbit Bulan Bintang 1984 Prof Drs.H.A.

Sadali dkk

Syariah adalah ketentuan-ketentuan Allah SWT yang mengartur dilaksanakannya atau tidak dilaksanakannya suatu perbuatan seseorang baik yang menyangkut ibadah dalam arti kata khusus atau ibadah dalam arti luas.

Sebagai kita kenal sehari-hari bahawa ketentuan Allah SWT itu ada yang mewajibkan, melarang suatu perbuatan dan sebagainya, maka syariah dapat diklarifikasikan ke dalam wajib, haram, sunah dan mubah

Beberapa ulama mengemukakan klasifikasi lain yang mengelompokkan klarifikasi tersebut, yaitu

1. Taklifi, yang berarti tuntutan (suruhuan atau larangan) 2. Wadhi, yaitu suatu pengelompokkan hukium yang menetapkan wajib, haram, sunah, makruh, ibadah/rukhsah dan azimah sesuatu perbuatan dihubungkan dengan sebab, syarat, penghalang (mani). Seperti wajibnya sembahyang denagn syarat islam, baligh, berakal, mempunyai wudhu dan menutup aurat. Shalat dilarang karena adnay haid.

Sumber-sumber syariah

1. Al-Quran 2. As-Sunnah

Pengertian Syariah dan Fiqh


September 10, 2008 at 6:15 pm (FiQih) Tags: syariah Salah satu argumentasi yang kerap dilontarkan kelompok liberal-sekuler untuk menolak syariah Islam adalah dekonstruksi makna syariah dan fikih. Syariah disebut memang berasal dari Allah SWT sementara fiqh adalah hasil pikiran manusia yang lepas dari syariah. Pada gilirannya dikatakan penerapan hukum Islam oleh negara adalah sekedar persoalan fiqh, karenanya tidak berhubungan dengan Allah SWT. Berikut ini kami memaparkan makna syariah dan fiqh berdasarkan pandangan ulama. Intinya fiqh tidak bisa dilepaskan dari syariah Islam . Fiqh adalah adalah syariah Islam yang berdasarkan dalil yang rinci yang tetap bersumber pada Al Quran dan as Sunnah. Fiqh bukanlah semata-mata hasil pikiran manusia yang tidak berpijak pada hukum syara yang bersumber dari al Quran dan as Sunnah. Jadi yang menolak fiqh adalah juga berarti menolak syariah Islam. Menelusuri Kembali Makna Fikih dan Syariat Al-Ghazali berpendapat bahwa secara literal, fikih (fiqh) bermakna al-ilm wa al-fahm (ilmu dan pemahaman). (Imam al-Ghazali, Al-Mustashf f Ilm al-Ushl, hlm. 5. Lihat juga: Imam alRazi, Mukhtr ash-Shihh, hlm. 509; Imam asy-Syaukani, Irsyd al-Fuhl, hlm. 3; Imam alAmidi, Al-Ihkm f Ushl al-Ahkm, I/9). Sedangkan menurut Taqiyyuddin al-Nabhani, secara literal, fikih bermakna pemahaman (al-fahm). (Taqiyyuddin an-Nahbani, Asy-Syakhshiyyah alIslmiyyah, III/5). Sementara itu, secara istilah, para ulama mendefinisikan fikih sebagai berikut: Fikih adalah pengetahuan tentang hukum syariat yang bersifat praktis (amaliyyah) yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci (tafshl). (An-Nabhani, ibid., III/5). Fikih adalah pengetahuan yang dihasilkan dari sejumlah hukum syariat yang bersifat cabang yang digunakan sebagai landasan untuk masalah amal perbuatan dan bukan digunakan landasan dalam masalah akidah. (Al-Amidi, op.cit., I/9). Fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci. (Asy-Syaukani, op.cit., hlm.3). Sedangkan syariat/syariah (syarah) didefinisikan oleh para ulama ushul sebagai berikut: Syariat adalah perintah Asy-Syri (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatanperbuatan hamba dan berkaitan dengan iqtidh (ketetapan), takhyr (pilihan), atau wadhi (kondisi) (khithb asy-Syri al-mutaallaq bi afl al-ibd bi al-iqtidh aw al-takhyr, aw alwadli (An-Nabhani, op.cit., III/31). Syariat adalah perintah Asy-Syri (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf (khithb asy-Syri al-mutaallaq bi afl al-mukallafn. (Al-Amidi, op.cit.)Syariat adalah perintah Asy-Syri (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan hamba (khithb asy-Syri al-mutaallaq bi afl al-ibd (Al-Amidi, ibid., I/70-71). Syariat adalah perintah Asy-Syri (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatanperbuatan mukallaf dan berkaitan dengan iqtidh (ketetapan), takhyr (pilihan), atau wadhi (kondisi) (khithb asy-Syri al-mutaallaq bi afl al-ibd bi al-iqtidh aw al-takhyr, aw alwadli. (Asy-Syaukani, op.cit., hlm. 7).

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa fikih dan syariat adalah dua sisi yang tidak bisa dipisah-pisahkan meskipun keduanya bisa dibedakan. Keduanya saling berkaitan dan berbicara pada aspek yang sama, yakni hukum syariat. Fikih adalah pengetahuan terhadap sejumlah hukum syariat yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci. Sedangkan syariat adalah hukum Allah yang berlaku pada benda dan perbuatan manusia. Menurut Imam al-Ghazali, fikih mencakup kajian terhadap dalil-dalil dan arah yang ditunjukkan oleh dalil (makna), dari tinjauan yang bersifat rinci. Contohnya, penunjukkan sebuah hadis pada makna tertentu, misalnya nikah tanpa wali secara khusus. (Al-Ghazali, op.cit., hlm. 5). Sedangkan hukum syariat adalah perintah Asy-Syri yang berhubungan dengan perbuatan hamba, baik dengan iqtidh, takhyr, maupun wadhi. Baik fikih maupun syariat harus digali dari dalil-dalil syariat: al-Quran, Sunnah, Ijma Shahabat, dan Qiyas. Keduanya tidak boleh digali dari fakta maupun kondisi yang ada. Keduanya juga tidak bisa diubah-ubah maupun disesuaikan dengan realitas yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, realitas masyarakat justru harus disesuaikan dengan keduanya.

Syariah

Pengertian Syariah bila dilihat dari : Segi etimologinya adalah Jalan ke tempat pengairan jalan yang harus diikuti, atau tempat lalu air sungai. Menurut makna Quraninya adalah Jalan yang jelas yang membawa kepada kemenangan (QS. Al-Maidah ayat 48, QS. Asy-Syuura ayat 13, QS. Al-Jaatsiyah ayat 18.) Segi terminologinya adalah Segala titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku manusia di luar yang mengenai akhlaq.

Pengertian Fiqh bila dilihat dari : Segi etimologinya adalah Faham yang mendalam. Segi terminologinya adalah Ilmu tentang hukum-hukum syariah yang bersifat amaliayah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang terperinci (tafshili). Materi Fiqh : Ilmu tentang hukum-hukum Allah. Pembahasannya pada hal-hal yang bersifat amaliyah furuiyyah. Sumber referensinya berasal dari dalil-dalil yang terperinci. Digali melalui penalaran istidlal mujtahid atau faqih. Pengertian Hukum adalah Seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang ditetapkan dan diakui oleh satu negara atau kelompok masyarakat, berlaku dan mengikat untuk seluruh anggotanya. Kharakteristik Syariah yaitu : Tauhidiyyah. Rabbaniyyah. Istiqomah. Syumuliyyah. Tawazuniyyah. Taamuliyyah. Waqiiyyah. 1. Tauhidiyyah adalah konsep yang menjelaskan tentang adanya sesuatu penguasa alam raya yang tunggal dan mengatur sesuatu yang berada diluar dan didalamnya. Allah lah yang menciptakan segala yang ada di jagat ini, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Melalui kekuasaanNya, semua mahluk harus tunduk dan beribadah kepadaNya. Seperti dalam Surah Ali-Imran ayat 26. 2. Rabbaniyyah adalah konsep yang berasal dari wahyu Allah, tanpa mengambil sumber lain. Wahyu-wahyu yang diberikan kepada rasul-rasulNya tetap terjaga dari kesucian. Seperti dalam Surah ayat 9. 3. Istiqomah adalah dimana konsep yang karena Islam bukan produk pemikiran manusia, bukan produk lingkungan atau masa tertentu, juga bukan produk faktor-faktor dunia, maka karakteristik Islam yang datang dari Allah adalah Gerak di dalam kerangka yang tetap dan seputar poros yang tetap pula. Seperti dalam Surah Ar-Ruum ayat 30. 4. Syumuliyyah adalah konsep yang membicarakan tentang seluruh yang ada di dunia dan di luar dunia ini secara rinci. Tentang hakekat alam, hakekat kehidupan, hakekat manusia (tabiat, kejadian, sifat, dan ikhwal) serta hubungan dengan hakekat ilahi yang akbar. Seperti dalam Surah Ali-Imran ayat 4-5, dan ayat 27. Penerapan ataupun implikasi dari syumuliyyah ini bisa dilihat dalam Islam sebagai jalan hidup/ tatanan hidup yang lengkap. 5. Tawazuniyyah adalah konsep keseimbangan dalam segala sendi dan dalam pengungkapanpengungkapannya. Keseimbangan konsep Islam juga tidak terombang-ambing kesana-sini, dari berlebihan disana-sini, dan dari berbagai benturan. Konsep Islam juga selamat dari kerusakankerusakan dan kekurangan. Seperti dalam Surah Al-Mulk ayat 3. 6. Taamuliyyah yaitu keaktivan dalam hubungan Allah SWT dengan alam dan manusia serta keaktivan manusia itu sendiri dalam berbagai bidang kegiatannya. Sifat-sifat Allah dalam konsep Islam bukanlah sifat-sifat yang pasif. Konsep manusia tentang Tuhannya dan keterkaitan sifat-

sifatNya dengan kehidupan manusia itulah yang menentukan nilai Tuhan di dalam dirinya, disamping menentukan juga sikap kepadaNya. 7. Waqiiyyah adalah konsep Islam yang berhubungan dengan realitas objektif yang memiliki wujud nyata dan meyakinkan serta jejak bekas yang realitas pula. Ia tidak berupa konsep rasional ataupun idealisme tanpa wujud nyata dalam realita. Seperti dalam Surah Al-Anaam ayat 95-103.

FIQIH

Pengertian Fiqih dan Ushul Fiqih

Pengertian Fiqih
Oleh: M Hasbi Fiqih atau fiqh (bahasa Arab:???) adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya.[1] Beberapa ulama fiqih seperti Imam Abu Hanifah mendefinisikan fiqih sebagai pengetahuan seorang muslim tentang kewajiban dan haknya sebagai hamba Allah. Fiqih membahas tentang cara bagaimana cara tentang beribadah, tentang prinsip Rukun Islam dan hubungan antar manusia sesuai dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Dalam Islam, terdapat 4 mazhab dari Sunni, 1 mazhab dari Syiah, dan Khawarij yang mempelajari tentang fiqih. Seseorang yang sudah menguasai ilmu fiqih disebut Faqih. Etimologi Dalam bahasa Arab, secara harfiah fiqih berarti pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal. Beberapa ulama memberikan penguraian bahwa arti fiqih secara terminologi yaitu fiqih

merupakan suatu ilmu yang mendalami hukum Islam yang diperoleh melalui dalil di Al-Qur'an dan Sunnah. Selain itu fiqih merupakan ilmu yang juga membahas hukum syar'iyyah dan hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari, baik itu dalam ibadah maupun dalam muamalah.
Dikutip dari : http://www.mediamuslim.net/

Pengertian Ushul Fiqih Tinjauan Bahasa


Dilihat dari tata bahasa (Arab), rangkaian kata Ushul dan kata Fiqh tersebut dinamakan dengan tarkib idlafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata itu memberi pengertian ushul bagi fiqh. Kata Ushul adalah bentuk jamak dari kata ashl yang menurut bahasa, berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain. Berdasarkan pengertian Ushul menurut bahasa tersebut, maka Ushul Fiqh berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh. Tinjauan istilah fiqhSedangkan menurut istilah, ashl dapat berarti dalil, seperti dalam ungkapan yang dicontohkan oleh Abu Hamid Hakim : Ashl bagi diwajibkan zakat, yaitu Al-Kitab; Allah Taala berfirman: dan tunaikanlah zakat!. Dan dapat pula berarti kaidah kulliyah yaitu aturan/ketentuan umum, seperti dalam ungkapan sebagai berikut : Kebolehan makan bangkai karena terpaksa adalah penyimpangan dari ashl, yakni dari ketentuan/aturan umum, yaitu setiap bangkai adalah haram; Allah Taala berfirman : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai . Dengan melihat pengertian ashl menurut istilah di atas, dapat diketahui bahwa Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua kata, berarti dalil-dalil bagi fiqh dan aturanaturan/ketentuan-ketentuan umum bagi fiqh. Dikutip dari : http://muvid.wordpress.com/

Tanggal : 31 Januari 2008 Jam : 19:57 Oleh : Dimyauddin, alumni STEI Tazkia Definisi dan Pengertian Fiqh Secara bahasa, fiqh bermakna faham. Menurut istilah, Imam Syafii memberikan definisi yang komprehensif, Al ilmu bi al ahkaam al syariyyah al amaliyyah al muktasabah min adillatiha al tafshiliyyah Yakni mengetahui hukum-hukum syara yang bersifat amaliyah yang didapatkan dari dalil-dalil yang terperinci. al ilm pada definisi ini bermakna pengetahuan secara mutlak yang didapatkan secara yakin atau dzanni. Karena hukum yang terkait dengan amaliyah ditetapkan dengan dalil yang bersifat qathI atau pun dzanni. Al ahkam bermakna tuntutan Allah sebagai pembuat hukum, atau khitab Allah yang terkait dengan perbuatan orang mukallaf, baik berupa kewajiban, sunnah, larangan, makruh atau mubah. Menurut ahli fiqh, yang dimaksud dengan khitab Allah adalah seperti kewajiban shalat, haramnya membunuh, mubah-nya makan dan lainnya. Al syariyyah adalah hukum yang diambil dari syara. Dengan demikian, terdapat pengecualian terhadap hukum-hukum yang bersifat hissiyah, seperti matahari bersinar, atau hukum-hukum eksakta, seperti dua ditambah 2 ada empat, atau hukum-hukum bahasa, seperti fail hukumnya marfu dan sebagainya. Al amaliyyah maksudnya yang berhubungan dengan amaliyah (aktifitas), baik aktifitas hati seperti niat, atau aktifitas lainnya, seperti membaca al Quran, shalat, jual beli dan lainnya. Batasan ini menafikan hukum-hukum yang bersifah Itiqadi (aqidah), seperti mengetahui bahwa Tuhan itu esa, dan sejenisnya. Al muktasab artinya yang dihasilkan dari prosesi ijtihad ulama, dengan demikian, dikecualikan ilmu Allah, malaikat Allah, ilmu Rasul yang didapatkan dari wahyu. Al adillah al tafshiliyyah adalah dalil-dalil yang terdapat dalam al Quran, hadits, ijma atau pun qiyas.

Obyek pembahasan fiqh adalah tindakan orang-orang mukallaf, atau segala sesuatu yang terkait dengan aktifitas orang mukallaf. Adakalanya berupa tindakan, seperti melakukan shalat, atau meninggalkan sesuatu, seperti mencuri, atau juga memilih, seperti makan atau minum. Yang dimaksud dengan mukallaf adalah orang-orang baligh yang berakal, dimana segala aktifitas mereka terkait dengan hukum-hukum syara (Zuhaili, 1989, I, hal. 15-17). Ruang Lingkup Fiqh Ruang lingkup pembahasan fiqh sangat luas sekali, ia mencakup pembahasan tentang hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan diri pribadinya, atau manusia dengan masyarakat sekitar. Ilmu fiqh mencakup pembahasan tentang kehidupan dunia hingga akhirat, urusan agama atau pun negara serta sebagai peta kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Untuk tujuan tersebut, hukum-hukum fiqh sangat terkait dengan segala aktifitas yang dilakukan oleh seorang mukallaf, baik berupa ucapan, tindakan, akad, atau transaksi lainnya. Secara garis besar dapat dikategorikan menjadi; Hukum Ibadah (fiqh ibadah) yang meliputi; tata cara bersuci, shalat, puasa, haji, zakat, nadzar, sumpah, dan aktifitas sejenis terkait dengan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Hukum Muamalah (fiqh muamalah) yang meliputi, tata cara melakukan akad, transaksi, hukum pidana atau perdata dan lainnya yang terkait dengan hubungan antar manusia atau dengan masyarakat luas Untuk fiqh muamalah, pembahasan yang ada sangat luas, mulai dari hukum pernikahan, transaksi jual beli, hukum pidana, hukum perdata, hukum perundang-undangan, hukum kenegaraan, ekonomi dan keuangan, akhlak dan etika (Zuhaili, 1989, I, hal. 19-21). diambil dari Pengantar fiqh maumalah Dimyauddin Dibaca : 3451 kali

Referensi : 1.