Anda di halaman 1dari 3

Intervensi kegawadaruratan Syok Hipovolemik: Airway 1. Posisi tubuh penderita diletakkan berdasarkan letak luka. 2.

Pastikan jalan napas pasien dan pola napas dan sirkulasi dipertahankan. Lakukan penghisapan, bila ada sekresi atau muntah.

Rasional : Secara umum posisi penderita dibaringkan telentang dengan tujuan


meningkatkan aliran darah ke organ-organ vital. Breathing

3. Beri bantuan ventilator tambahan sesuai kebutuhan. Berikan oksigen 6 liter/menit, bila pernapasan/ventilasi tidak adekuat dengan valve mask atau ETT. Rasional: Mempertahankan kadar oksigen dalam darah pasien. Circulation 4. Perbaiki volume darah sirkulasi dengan penggantian cairan dan darah cepat sesuai ketentuan untuk mengoptimalkan preload jantung, memperbaiki hipotensi dan mempertahankan perfusi jaringan. a. Kateter tekanan vena sentral dimasukkan di dalam atau di daerah

atrium kanan untuk bertindak sebagai penunjuk penggantian cairan. Pembacaan tekanan sentral lanjutan (CVP) (normal 812 cmH2O) memberi petunjuk dan derajat perubahan dari pembacaan data dasar, kateter juga sebagai alat untuk penggantian volume cairan darurat. b. Jarum atau kateter IV diameter besar dimasukkan ke dalam vena

perifer. Dua atau lebih kateter mungkin perlu untuk penggantian cairan cepat dan pengembalian ketidakstabilan hemodinamik, penekanan pada penggantian volume.

5.

Mulai infus IV dengan cepat sampai CVP meningkat di atas pengukuran dasar atau sampai terdapat perbaikan pada kondisi klinis pasien. a. Infus larutan Ringger Laktat digunakan pada awal penanganan karena cairan ini mendekati komposisi elektrolit plasma, begitu juga dengan osmolalitasnya, sediakan waktu pemeriksaan golongan darah dan pencocokan silang, perbaiki dan bertindak sebagai tambahan terapi komponen darah. Pemberian infus diberikan lewat intravena berupa kristaloid intervena (normal saline, ringer lactate) yang diberikan sebanyak 30% lewat infuse isotonic kristaloid dengan rasio 3:1 (300 mL untuk 100 mL darah yang keluar atau 2-3L bolus) b. Mulai tranfusi terapi komponen darah sesuai program, khususnya saat kehilangan darah lebih parah atau ketika pasien terus mengalami hemoraghi. c. Kontrol hemoraghi yang menyertai status syok. Lakukan pemeriksaan hematokrit bila dicurigai berlanjutnya perdarahan (normal pada pria 4045%, normal pada wanita 37-47%). d. Pertahankan tekanan darah sistolik dengan memberi cairan dan darah sesuai ketentuan.

4.

Pasang kateter urine tidak menetap, catat haluaran urin setiap 15-30 menit. Volume urin menunjukkan keadekuatan perfusi ginjal. (Normal haluaran urine 30 mL/jam)

5. 6.

Lakukan pemeriksaan fisik cepat untuk menentukan penyebab syok. Pertahankan tindakan keperawatan secara terus menerus terhadap pasien, mulai dari tekanan darah, denyut jantung, pernapasan, suhu kulit, warna, CVP, EKG, hematokrit (normal pada pria 40-45%, normal pada wanita 37-47), Hb (normal pada pria 13-18 gr/100mL, pada wanita 12-16 gr/mL), gambaran koagulasi, elektrolit, haluaran urine (Normal

haluaran urine 30 mL/jam), untuk mengkaji respon pasien terhadap tindakan. Rasional : Analisis kecenderungan menyatakan perbaikan atau

penyimpangan pasien. 7. Tinggikan kaki sedikit untuk memperbaiki sirkulasi serebral lebih baik dan mendorong aliran darah urine kembali ke jantung (posisi kontraindikasi pada pasien dengan cedera kepala). Hindarkan tindakan yang tidak perlu. Rasional: Meningkatkan aliran balik vena. Posisi ini mengembalikan kirakira 500 mL darah yang terkumpul di vena kaki ke sirkulasi central. Drug 8. Berikan obat khusus yang telah diresepkan (misal obat inatropik seperti dopamine) untuk meningkatkan kerja kardiovaskuler. Indikasi pemberian dopamine pada pasien syok adalah apabila setelah pasien diberikan terapi cairan (cairan infus dan transfusi darah) kemudian menghasilkan haluaran urin normal, RR normal, denyut nadi normal tapi tekanan darah masih rendah. Dopamin 25 g/kg/menit bisa juga digunakan pengukuran tekanan vena sentral (normal 812 cmH2O), dan bila masih terdapat gejala umum pasien seperti gelisah, rasa haus, sesak, pucat, dan ekstremitas dingin, menunjukkan masih perlu transfusi cairan. Penghentian pengobatan dopamine harus dilakukan secara bertahap, penghentian pengobatan yang mendadak dapat menimbulkan hipotensi berat.