Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

Intususepsi, merupakan proses invaginasi dari usus halus ke dalam lumen intestinal. Hal tersebut sering menyebabkan nyeri abdomen akut pada anak-anak kurang dari 5 tahun. Penyakit ini terutama terjadi pada bayi dan anak-anak, walaupun intususepsi dapat terjadi ketika masih di dalam kandungan, neonatus dan dewasa. 80 sampai 0 persen kasus intususepsi terjadi pada usia ! bulan sampai usia ! tahun." Intususepsi pada anak biasanya bersi#at idiopatik. $erangan rinitis atau in#eksi saluran na#as sering kali mendahului terjadinya invaginasi. Invaginasi umumnya berupa intususepsi ileosekal yang masuk dan naik ke kolon asendens serta mungkin terus sampai keluar dari re%tum. Invaginasi dapat mengakibatkan nekrosis iskemik pada bagian usus yang masuk dengan komplikasi per#orasi dan peritonitis. " Perkiraan insiden di &merika $erikat adalah sekitar ",5-' kasus per setiap ".000 kelahiran hidup. Pria lebih sering terkena daripada perempuan dengan perbandingan !(), dan lebih besar pada kelompok usia *- bulan. )

BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI 2.1 Embriologi dan Anatomi


+alam permulaan perkembangannya, saluran %erna hanya berupa suatu tabung sederhana dengan beberapa benjolan. ,akal lambung, pada saat ini berupa suatu pelebaran berbentuk keru%ut, sedangkan bakal sekum ditandai oleh suatu pelebaran yang asimetris. +uktus vitelinus masih berhubungan dengan saluran kolon usus ini. Pada usia janin bulan kedua dan ketiga terjadi suatu proses yang dapat menerangkan timbulnya %a%at bawaan pada bayi dikemudian hari. -sus tumbuh dengan %epat dan berada di dalam tali pusat. $ewaktu usus menarik diri masuk kembali ke dalam rongga perut, duodenum, dan sekum berputar dengan arah berlawanan jarum jam. +uodenum memutar di dorsal arteri dan vena mesenteria superior, sedangkan sekum terletak di #ossa iliaka kanan. !

.ambar ". Perkembangan embrio minggu keempat /&0 dan kelima /,0 dari lapisan lapisan endodermal. '

.ambar ). &. 1ingkaran usus sebelum rotasi /lateral0. $uperior arteri mesenterika membentuk sumbu loop. ,. $etelah terjadi rotasi "80 2 berlawanan dengan arah jarum jam. '

.ambar !. &. 1ingkaran usus setelah )30 2 melakukan rotasi berlawanan. ,. Posisi akhir lingkaran usus, terjadi perpindahan sekum dan usus buntu kearah kaudal pada kuadran kanan bawah.' .angguan perkembangan selama minggu kesepuluh atau kesebelas akan mengakibatkan kelainan ditandai dengan misalnya, tidak terbentangnya mesenterium pada dinding belakang, atau sekum tidak berada di kanan bawah perut, melainkan lebih jauh ke %ranial, atau sekum berada di tempat normal, tetapi tidak stabil dan tidak terpa%ang /disebut sekum mobile0. !

$isa duktus om#alomesenterikus dapat merupakan divertikulum 4e%kel. .angguan terbentuknya kembali saluran atau disebut gangguan rekanalisasi, memungkinkan terjadinya atresia usus atau obstruksi usus oleh sekat. ! Panjang usus halus kurang lebih enam meter. Perbatasan antara yeyunum dan ileum tidak jelas dari luar. +inding yeyunum lebih tebal dan ileum lebih sempit. 4esenterium mengandung pembuluh darah, kelenjar lim#e dan sara# autonom. &liran darah kolateral melalui ar%ade mesenterium di pinggir usus halus %ukup banyak, ini yang antara lain menjamin penyembuhan luka anastomosis usus. !

.ambar '. +uodenum. 5

.ambar 5. 5ejunum, ileum, ileo%ae%al jun%tion. 5 $elain itu, terdapat perdarahan kolateral antara a. kolika media sebagai %abang a. mesenterika superior, dan a. kolka sinistra sebagai %abang a. mesenterika in#erior. Hubungan

kolateral ini terletak dipingir kolon transverses dan kolon des%endens. $elain itu, terdapat hubungan kolateral antara pangkal a.mesenterika superior dan pangkal a. mesenterika in#erior melalui suatu lengkung pembuluh disebut arkus 6iolan. 1engkung pembuluh kolateral ini menjadi vital bila timbul gangguan perdarahan melalui salah satu dari kedua arteri tersebut. ! 7ena mesenterika superior bergabung dengan v. lienalis dan v. mesenterika in#erior membentuk v. porta. 7ena ini merupakan vena besar sehingga pada hipertensi portal dapat dipakai untuk dekompresi melalui anastomosis mesenterikokaval dengan v. kava in#erior. !

2.2 Fi iologi
8ungsi usus halus terdiri atas transportasi dan pen%ernaan makanan, serta absorpsi %airan, elektrolit, dan unsur makanan. $etiap hari beberapa liter %airan dan puluhan gram makanan yang terdiri atas karbohidrat, lemak, dan protein akan berlalu di usus halus, dan setelah di%erna akan masuk ke dalam aliran darah. Proses ini sangat e#isien karena hampir seluruh makanan terserap, ke%uali bila terlindung oleh selulosa yang tidak dapat di%erna. Hal ini menjadi dasar diet berserat tinggi yang memberi volume ke #eses sehingga pasase di saluran %erna berlangsung lebih %epat. Hampir semua bahan makanan diabsorpsi dalam yeyunum, ke%uali vitamin ,") dan asam empedu yang diserap dalam ileum terminale. ! Isi usus digerakan oleh peristaltis yang terdiri atas dua jenis gerakan, yaitu segmental dan longitudinal. .erakan intestinal ini diatur oleh system sara# autonom dan hormon. !

BAB III INTUSUSEPSI

.ambar *. Intususepsi ileo%oloni% /tersering dari intususepsi0 pada laparotomy setelah kegagalan reduksi barium. "

!.1 D"#ini i
Intususepsi, merupakan proses invaginasi dari usus halus ke dalam lumen intestinal. Hal tersebut sering menyebabkan nyeri akut abdomen pada anak-anak kurang dari 5 tahun."

!.2 Etiologi
Penyebab tersering intususepsi adalah idiopatik dan kelainan anatomi dapat ditemukan pada penyakit ini. ,eberapa virus patogen pada gastrointestinal /rotavirus, reovirus, e%hovirus0 dapat menyebabkan hipertro#i plak Peyer9s pada ileum terminal dan berpotensial terjadinya intususepsi. Intususepsi ileo%oloni% adalah jenis intususepsi teersering pada anak." +alam beberapa kasus, kelainan anatomi sebagai penyebab penyakit ini hanya ditemukan )-"): pada seluruh kasus anak. ;elainan anatomi tersering yang menyebabkan penyakit ini adalah divertikulum 4e%kel. ;elainan anatomi lain termasuk polip, pankreas ektopik atau gastri% rests, limpoma, limposarkoma, kista enterogenik, hamartoma /Peut<-5eghers syndrome0, submukosa hamatoma /Heno%h-$%honlein purpura0, inverted appendi%ular stumps, anastomoti% suture lines. &nak-anak dengan #ibrosis kistik memliki peningkatan resiko terjadinya intususepsi mungkin karena peningkatan konsistensi #eses." ;ejadian intususepsi post-operati# sangat jarang hanya ".5-*: dalam seluruh kasus intususpsi pediatri%. $ebagian besar kasus ini disebabkan oleh intususpsi usus ke%il setelah

dilakukan diseksi retoperitoneal. Post-operati# intususepsi sering disebabkan oleh obstruksi intestinal dalam minggu pertama post-operati#."

!.! Pato#i iologi


Pato#isiologi intususepsi berasal dari suatu inhomogenitas gerakan peristalsis longitundinal di sepanjang dinding usus halus. +alam keadaan istirahat, gerakan peristalsis usus yang normal memenuhi resistensi tertentu pada semua bagian. .angguan keseimbangan dapat terjadi pada sebagian usus yang tidak dapat meneruskan gelombang peristaltik. .angguan yang disebabkan oleh otot sirkular prependikular terhadap gerakan peristaltik longitudinal sehingga menyebabkan gangguan pada bagian abnormal dari usus dan menimbulkan gerakan rotasi /tor=ue0. +istorsi dapat diteruskan, daerah yang inhomogenitas akan melipat dan pada akhirnya melingkari usus ke%il tersebut. Invaginasi usus tersebut akhirnya menjadi pun%ak dari intususepsi.) Intussuseptum menjadi invaginasi ke dalam intussus%ipien, dinding usus dan mesenterium intussuseptum terkompresi yang disebabkan oleh oklusi vena dan lim#atik, stasis vena, dan edema. +engan meningkatnya edema dan aliran vena akan tersumbat, aliran arteri terganggu. Per#usi yang tidak adekuat pada akhirnya mengarah nekrosis iskemik usus."

.ambar 3. 5enis Intususepsi. 5

!.! G"$ala %lini&


Intususepsi terutama terjadi pada bayi dan paling sering terjadi pada usia antara 5-"0 bulan. +alam penelitian dua pertiga dari anak-anak dengan intususepsi terjadi kurang dari " tahun. >anda-tanda dan gejala intususepsi, antara lain muntah /85:0, nyeri perut /8!:0, men%ret ber%ampur darah atau lendir ber%ampur berdarah /5!:0, teraba massa perut, lethargy. >rias klasik intususepsi antara nyeri perut, muntah, dan lendir ber%ampur berdarah /?red %urrent jelly?0 per anum terjadi hanya sepertiga dari bayi dengan intususepsi. +iare dapat hadir pada "0)0: pasien." @yeri perut pada intususepsi memiliki onset akut, berat, dan intermiten. $elama serangan bayi sering menarik lututnya hingga perut, menangis, dan menjadi pu%at dan mengeluarkan keringat. +iantara episode nyeri yang dapat berlangsung hanya sebentar anak mungkin menjadi tenang dan tampil dengan baik. $eiring waktu, anak mungkin tampak lebih sakit dan lesu dengan peningkatan distensi perut, muntah, dan berpotensi terjadinya syok dengan kolaps kardiovaskular."

!.' Diagno a

+iagnosa ditegakkan berdasarkan dengan anamnesa, pemeriksaan #isik, dan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan #isik abdomen terkadang didapatkan masa seperti sosis /sausageshaped0 pada kuadran kanan atas abdomen. Pada kuadran kanan bawah mungkin dirasakan kosong dan %ae%um mungkin tidak dapat diraba pada #ossa ilia%a kanan /sign o# +an%e0. Pemeriksaan rektal mungkin didapatkan masa jika intususepsi telah jauh ke arah distal. Prolapse intususeptum dari anus sangat jarang terjadi /"-!:0. +emam dan leukositosis juga sering ditemukan. >akikardi menjadi lebih terlihat ketika terjadi hipovolemia." Invaginatum yang masuk jauh dapat ditemukan pada pemeriksaan %olok dubur. -jung invaginatum teraba seperti porsio uterus pada pemeriksaan vaginal sehingga dinamakan Apseudoporsio9 atau porsio semu. ;eadaan tersebut harus dibedakan dengan prolapse mukosa re%tumB pada invaginasi, didapatkan invaginatum bebas dari dinding anus, sedangkan prolapses berhubungan dengan dinding anus.! Pemeriksaan ultrasonography /-$.0 abdomen sangat membantu untuk mengidenti#ikasi intususepsi. +ua tanda dalam pemeriksaan -$., yaitu Adoughnut9 atau Atarget9 pada pemeriksaan melintangB Apseudokidney9 pada pemeriksaan longitudinal. " ,arium enema kontras atau udara adalah ?gold-standard? dalam mediagnostik bayi dengan dugaan intususepsi. Hal berguna dalam mendiagnostik dan terapeutik dalam mengidenti#ikasi dan mengurangi intususepsi. "

.ambar. Intususepsi Ileo%oloni% dalam %olon tranversum pada pemeriksaan dengan barium enema."

.ambar. Pemeriksaan -$. melintang menunjukkan %in%in konsentris intususeptum dalam intussus%ipiens /Adoughnut9 atau Atarget9 sign0.)

.ambar. Pemeriksaan -$. longitudinal menunjukkan Apseudokidney9 intususepsi.)

!.( P"natala& anaan


$etelah diagnosis dugaan intususepsi langkah pertama yang dilakukan antara lain ( rehidrasi dengan I7 line B pemasangan selang nasogastri% /@.>0 B pemberian antibiotik I7, setelah didapatkan hasil pemeriksaan darah lengkap dan hasil -$. didapatkan."

Hidrostatik barium enema atau pneumatik enema digunakan untuk mengkon#irmasi diagnosis dan untuk mengurangi intususepsi. 6eduksi hidrostatik merupakan kontraindikasi jika anak memiliki tanda-tanda peritonitis atau gangren usus. +alam melakukan barium enema untuk mengurangi intususepsi, kolom barium C ! kaki di atas pasien. -saha ini terus dilakukan selama !-5 menit sampai pengurangan intususepsi menunjukkan hasil kegagalan. 4aksimal tiga upaya harus dilakukan. Pengurangan intususepsi se%ara menyeluruh dapat diamati ketika intususeptum melewati katup ileo%e%al menghasilkan #ree #low kontras ke ileum distal. -ntuk pengurangan pneumatik, udara ke dalam usus besar dilakukan melalui #oley kateter transanally. >ekanan awal 80 mmHg dinaikkan hingga ke tekanan maksimum ")0 mmHg. 6e#luks udara ke ileum terminal pada pemeriksaan #louroskopi menandakan pengurangan intususepsi." 5ika intususepsi tersebut berhasil berkurang, dan telah dilakukan observasi dalam satu malam. +iet oral dilanjutkan pada keesokan harinya. 5ika intususepsi tidak dapat sepenuhnya berkurang, mengindikasikan untuk dilakukan intervensi pembedahan." Indikasi untuk melakukan intervensi pembedahan pada anak dengan( bukti klinis usus mati, peritonitis, septikemia, bukti tejadinya kelainan anatomi atau patologis, kegagalan reduksi enema." Dksplorasi bedah untuk intususepsi dilakukan melalui sayatan melintang kuadran kanan bawah. >ekanan 6etrograde digunakan dengan menekan intususeptum dalam intussu%ipiens dalam arah proksimal. $etelah pengurangan sukses, kemudian dilakuakn penilaian usus dan men%ari titik anatomi yang terjadi kerusakan. 1okal atau segmental reseksi dilakukan jika B intususepsi tidak dapat dikurangi B segmen usus mengalami in#ark atau nonviable, atau kelainan anatomi sebagai penyebab telah didapatkan. &nastomosis primer biasanya dapat dilakukan dengan morbiditas minimal. "

!.) %om*li&a i
!.).1 P"r#ora i d"ngan P"ng+rangan T"&anan. +alam sebuah survei internasional kejadian kumulati# per#orasi akibat reduksi hidrostatik sebesar 0,"8:. Ini masih kontroversi apakah pengurangan pneumatik lebih aman daripada reduksi hidrostatik. Insiden per#orasi lebih tinggi dengan metode pengurangan pneumatik dan menunjukkan hasil bervariasi antara ": dan ),8:. +engan meningkatnya pengalaman dalam pengurangan pneumatik, kejadian per#orasi menurun. "

$ebuah reaksi in#lamasi lebih sering terjadi pada peritonitis karena per#orasi dengan barium kontras larut air atau kontras udara enema. Eampuran barium dan kotoran dapat menyebabkan gejala septis yang berkepanjangan. ,ayi dengan usia kurang dari * bulan dan anak dengan gejala selama lebih dari !* jam, atau dengan bukti adanya obstruksi usus, memiliki risiko lebih besar untuk memiliki gangren usus. +an memiliki risiko lebih besar untuk terjadi per#orasi.
"

!.).2 Int+ + "* i ,"&+r"n. Intususepsi berulang setelah reduksi hidrostatik bervariasi antara 5: dan "":. >ingkat kekambuhan lebih rendah pada anak-anak karena sedikitnya penyebab anatomi sebagai penyebabnya dalam banyak kasus. $elain itu, hiperplasia pat%h Peyer sebagai penyebab terjadinya biasanya akan hilang dalam ) minggu. !0: sampai *': dari kekambuhan terjadi dalam 3) jam reduksi, meskipun dapat terjadi sampai dengan !* bulan setelah keberhasilan reduksi. " Eeliotomy diindikasikan untuk intususepsi berulang hanya jika ada ekspektasi untuk dilakukan tindakan bedah. &nak-anak yang memiliki penyebab anatomi memiliki resiko lebih besar termasuk mereka yang mengalami lebih dari satu kali kekambuhan tanpa operasi sebelumnya, anak-anak usia lebih dari ! tahun dengan rekurensi setelah keberhasilan reduksi hidrostatik, dan anak-anak dengan poliposis usus. " !.).2 %"matian. >erjadi akibat kesalahan dalam mendiagnosis, resusitasi %airan yang tidak adekuat, terjadinya sepsis dan kasus ini terjadi sekitar ":. "

,ESUME

Intususepsi, merupakan proses invaginasi dari usus halus ke dalam lumen intestinal. Hal tersebut sering menyebabkan nyeri abdomen akut pada anak-anak kurang dari 5 tahun.." Penyebab tersering intususepsi adalah idiopatik, beberapa virus patogen pada gastrointestinal /rotavirus, reovirus, e%hovirus0 dapat menyebabkan hipertro#i plak Peyer9s pada ileum terminal dan berpotensial terjadinya intususepsi. Intususepsi ileo%oloni% adalah jenis intususepsi teersering pada anak, dan kelaianan anatomis." Pato#isiologi intususepsi berasal dari suatu inhomogenitas gerakan peristalsis longitundinal di sepanjang dinding usus halus. >anda-tanda dan gejala intususepsi, antara lain muntah /85:0, nyeri perut /8!:0,

men%ret ber%ampur darah atau lendir ber%ampur berdarah /5!:0, teraba massa perut, lethargy. >rias klasik intususepsi antara nyeri perut, muntah, dan lendir ber%ampur berdarah /?red %urrent jelly?0 per anum terjadi hanya sepertiga dari bayi dengan intususepsi. +iare dapat hadir pada "0)0: pasien." Pada pemeriksaan #isik abdomen ( sosis /sausage-shaped0 pada kuadran kanan atas abdomen, sign o# +an%e, %olok dubur Apseudoporsio9 atau porsio semu. Pemeriksaan ultrasonography /-$.0 abdomen Adoughnut9 atau Atarget9 pada pemeriksaan melintangB Apseudokidney9 pada pemeriksaan longitudinal. Penatalaksanaan ( rehidrasi dengan I7 line B pemasangan selang nasogastri% /@.>0 B pemberian antibiotik I7, Hidrostatik barium enema atau pneumatik enemaB Dksplorasi bedah " ;omplikasi ( per#orasi, intususepsi rekuren, kematian."

DAFTA, PUSTA%A
". 7inh >. 1am. Intussu%eption. +alam ( &rensman 64, ,ambini +&, &lmond P$. ,uku 7adame%um Pediatri% $urgery. .eorgetown, >eFas ( 1andes ,ios%ienes, )000 ( 8 - !. ). +oody +P, 8oglia 6P. Intussu%eption. +alam ( Gldham ;>, Eolombani P4, 8oglia 6P, $kinner 4&. Prin%iples and Pra%ti%e o# Pediatri% $urgery ' th ed, 7ol ). 1ippin%ott Hilliams I Hilkins, )005 ( Ehap. )8.

!. 6iwanto I, Hamami &H, Pieter 5, >jambolang >, &hmadsyah I. -sus Halus, &pendiks, ;olon dan &norektum. +alam ( $jamsuhidajat 6, ;arnadihardja H, Prasetyono >GH, 6udiman 6. ,uku &jar Ilmu ,edah !th ed. 5akarta ( D.E, )003 ( 3!"-', 3')-'. '. $adler >H. +igestive $ystem. +alam ( ,uku 1angmanJs 4edi%al Dmbriology ") th ed. ,altimore ( 1ippin%ott Hilliams I Hilkins, )0") ( )))-!. 5. Hansen 5>. Head and @e%k. +alam ,uku @etterJs Elini%al &natomy ) nd ed. Philadelphia ( Dlsevier $aunders, )0"0 ( "!8-').