Anda di halaman 1dari 296

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

1.1 Latar Belakang


Kebun adalah tempat sampah kami. Kami mengolah sampah dengan cara membuang dan membakarnya di kebun atau pekarangan rumah. Dari dulu seperti itu, sampah tidak menjadi masalah. Sekarang menjadi masalah setelah ada plastik pernyataan senada itu kerap muncul Bandung khususnya di perdesaan. Pernyataan itu melukiskan sedang terjadi perubahan penting dalam kehidupan keseharian masyarakat di Kabupaten Bandung, utamanya dalam soal persampahan. Sepintas, Kabupaten Bandung dengan luas lahan yang membentang seluas 176.239 Ha di 30 Kecamatan, nampak seperti belum menghadapi masalah. Namun demikian, dibalik semua ini, di Kabupaten Bandung saat ini sesungguhnya tersimpan problem sampah yang cukup besar. Berdasarkan hasil sampling, timbulan sampah perkapita yang mencapai 2,81 liter/orang/hari, dan dengan penduduk tahun 2007 sebanyak 3.027.233 jiwa, ternyata berpotensi menimbulkan sampah sebanyak 2.803 m3/hari di wilayah perkotaan. Belum lagi sampah dari aktifitas masyarakat di perdesaan, yang masih merupakan karakteristik sebagian besar wilayah di Kabupaten Bandung. Total timbulan sampah Kabupaten Bandung baik di perkotaan dan perdesaan diperkirakan saat ini mencapai 4.880 m3/hari. dari masyarakat di Kabupaten

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Rendahnya kemampuan Pemerintah dalam menjalankan fungsi pengelolaan kebersihan kotanya yang diantaranya disebabkan oleh rendahnya anggaran biaya mengingat APBD saat ini di Kabupaten Bandung masih merupakan sumber pembiayaan pengelolaan sampah andalan. Penyebab lain adalah belum tumbuhnya peran aktif masyarakat dalam hal kebersihan. Hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pola sosialisasi yang selama ini dijalankan. Budaya bebersih yang dahulu menjadi ciri khas masyarakat priangan, nampaknya telah hilang, tidak hanya diperkotaan tetapi juga di perdesaan. Saat ini di beberapa wilayah Kabupaten Bandung yang masih tergolong wilayah perdesaan, sudah tidak lagi mencerminkan adanya budaya bersih. Permasalahan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, tidak saja dalam hal pembiayaan dan peran serta masyarakat, dalam hal sistem operasional pun dihadapi masalah yang cukup rumit. Paradigma kumpul angkut buang yang masih dijalankan, menjadikan beban pengelolaan sampah di TPA Babakan, satusatunya TPA milik Pemerintah Kabupaten Bandung terukur sangat tinggi. Antisipasi untuk mengurangi beban di TPA telah dilakukan, yaitu dengan pengembangan unit-unit pengomposan, namun umumnya kini terhenti. Satusatunya unit pengomposan yang baru diujikan untuk dioperasikan kembali adalah pengomposan di TPA Babakan, belum bisa menunjukkan optimalisasi kerja. Usaha lainnya adalah dengan mengembangkan kerjasama pembangunan PLTSa dengan pihak swasta, hal ini pun baru akan terwujud pada skala ujicoba. Rendahnya kualitas kinerja pengelolaan dan dan sampah sanitasi sampah di

kabupaten ini berdampak secara langsung terhadap lingkungan masyarakat. Penumpukan pembuangan

ilegal kerap ditemukan di saluran, sungai, tanah kosong, serta tempat lainnya sehingga menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, kenyaman, dan estetika.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-2

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Letak Kabupaten Bandung yang strategis sebagai kota penyangga dalam menopang dengan laju perkembangan wilayah berbagai

aspeknya serta dinamika perubahan yang begitu pesat memberikan konstribusi yang cukup besar dalam masalah menjaga kebersihan lingkungan. Munculnya berbagai permasalahan lingkungan khususnya yang dikaitkan dengan kecenderungan akan meningkatnya eksploitasi sumber daya dan lingkungan di berbagai daerah sebagai implikasi diterapkannya desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan memerlukan adanya suatu kebijakan yang rasional, terpadu, dan holistik. Tidak seimbangnya beban pengelolaan sampah dengan kemampuan

pengelolaannya selayaknya segera dicarikan solusinya. Paradigma pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan yaitu kumpul-angkut-buang, harus segera digeser pada paradigma minimasi di sumbernya. Demikian halnya Paradigma state goverment dengan pendekatan Pemerintah sebagai satu-satunya Pelayan Publik, tanpa disadari menyebabkan masyarakat senantiasa menyerahkan bahkan menimpakan permasalahan pengelolaan sampah kepada Pemerintah. Tidak ada lagi peran yang lebih dari sekedar membayar retribusi. Pemikiran ini harus segera digeser, bahwanya pengelolaan sampah bukan semata-mata tugas Pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab masyarakat sebagai penimbul dan harus melibatkan seluruh kelompok yang memberikan kontribusi terhadap timbulnya sampah seperti dunia industri. Pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung harus diarahkan menuju terciptanya reduksi beban pengelolaan dengan meningkatkan pemanfaatan dan pengolahan sampah melalui pendekatan pola partisipasi masyarakat.

1.2 Maksud dan Tujuan 1.2.1 Maksud


Maksud dari Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan adalah menyusun perencanaan jangka pendek, menengah, dan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-3

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

panjang mengenai aspek teknik, finansial, kelembagaan, aturan atau hukum serta aspek peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan. Perencanaan didasarkan pada kaidah pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu (Integrated Solid Waste Management System) dengan pendekatan paradigma baru yaitu minimasi sampah tertimbun di TPA. Rencana Induk juga akan berintegrasi dengan program GBWMC dan program kerjasama regional lainnya.

1.2.2 Tujuan
Tujuan dari pekerjaan ini adalah tersedianya rencana tindak dan rencana strategi pengelolaan persampahan Kabupaten Bandung untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang yang bisa dipertanggung jawabkan, sehingga terbentuk program peningkatan kinerja sistem yang dapat diandalkan.

1.2.3 Sasaran Pekerjaan


Target yang ingin dicapai dengan mengembangkan proyek ini adalah : Bertambahnya tingkat pelayanan pengelolaan sampah oleh Pemerintah, Sampah dari berbagai aktifitas kota dapat dikelola dengan tepat, Tempat-tempat penampungan sampah yang ada dapat diperbaharui dengan tepat, sehingga tidak terlihat timbulan sampah menggunung, Terciptanya sistem pengelolaan sampah yang menerapkan konsep minimasi sampah tertimbun di TPA dengan mengembangkan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Manfaat yang diharapkan diperoleh dengan dilaksanakannya kegiatan ini adalah terciptanya sebuah sistem pengelolaan sampah terpadu (Integrated Solid Waste Management) yang mampu menjadi pedoman bagi semua pemangku kepentingan dalam melakukan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Adapun dampak dari kegiatan ini adalah meningkatkan kualitas lingkungan sebagai akibat dari pengelolaan persampahan dengan paradigma baru yang sistematis dan terintegrasi.

1.3 Ruang Lingkup Pelaporan


Laporan Final merupakan laporan tahap akhir dari keseluruhan pelaksanaan pekerjaan. Laporan ini berisikan kajian-kajian terhadap kondisi wilayah perencanaan dan kondisi eksisting pengelolaan sampah Kabupaten Bandung. Evaluasi terhadap kondisi eksisting dilakukan sebagai langkah indentifikasi masalah yang menjadi landasan dalam pengembangan perencanaan. Kebijakan dan Strategi dikembangkan untuk diturunkan ke dalam rencana aksi pengelolaan sampah 20 tahun mendatang. Buku Laporan Final ini disertai dengan buku pelengkap yang disajikan dalam bentuk Buku Laporan tersendiri , yaitu : 1. Buku Kondisi Eksisting, menampilkan data-data pengelolaan sampah Kabupaten Bandung Tahun 2007. 2. Buku Laporan Studi Timbulan dan Karakteristik Sampah Kabupaten Bandung 3. Buku Laporan Studi KAP Masyarakat Kab. Bandung 4. Buku Kumpulan Peraturan terkait Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung 5. Album Peta Sistem Pengolaan Sampah Kabupaten Bandung 6. Ringkasan Eksekutif

1.4 Pengertian
Dalam Laporan Akhir ini dipergunakan beberapa istilah yang banyak dipergunakan. Penting dipaparkan untuk diketahui, mengingat perbedaan penafsiran akan menimbulkan arti yang berlainan. Adapun istilah yang yang banyak dipergunakan tersebut adalah sebagai berikut :

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-5

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

1. Sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. 2. Sampah perkotaaan adalah sampah yang ditimbulkan dari aktifitas kota termasuk didalamnya sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) tangga. 3. Sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk terdiri dari bekas makanan, bekas sayuran , kulit buah lunak, daun-daunan dan rumput. 4. Sampah anorganik adalah sampah kering yang sukar atau tidak membusuk seperti kertas, kardus, kaca/gelas, plastik, besi dan logam lainnya. 5. Timbulan sampah adalah banyaknya sampah yang dihasilkan per orang dan per hari dalam satuan volume maupun berat. 6. Sampah B3 Rumah Tangga adalah sampah yang berasal dari aktifitas RT, mengandung bahan dan/atau bekas kemasan suatu jenis bahan berbahaya/ atau beracun karena sifat kandungannya tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup dan atau membahayakan kesehatan manusia. 7. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. 8. Pewadahan sampah adalah cara penampungan sampah sementara di sumbernya, baik individual maupun komunal. 9. Pewadahan individual adalah cara penampungan sampah sementara di masing-masing sumbernya. 10. Pewadahan komunal adalah cara penampungan sampah sementara secara bersama-sama pada satu tempat. 11. Pengumpulan sampah adalah proses penanganan dengan cara pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke tempat pembuangan sementara atau langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan. 12. Pola pengumpulan individual langsung adalah cara pengumpulan sampah dari rumah-rumah/sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan. rumah

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-6

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

13. Pola pengumpulan individual tidak langsung adalah cara mengumpulkan sampah dari masing-masing sumber sampah dibawa ke lokasi pemindahan (menggunakan gerobak) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. 14. Pola pengumpulan komunal langsung adalah cara pengumpulan sampah dari masing-masing titik wadah komunal dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir. 15. Pola pengumpulan komunal tidak langsung adalah adalah cara pengumpulan sampah dari masing-masing titik wadah komunal dibawa ke lokasi pemindahan (menggunakan gerobak) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. 16. Pola penyapuan jalan adalah proses pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan dengan menggunakan gerobak. 17. Pemindahan sampah adalah tahap memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. 18. Pengangkutan sampah adalah tahap membawa sampah dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber sampah pembuangan akhir. 19. Pengolahan sampah adalah suatu upaya untuk mengurangi volume sampah atau merubah bentuk menjadi yang bermanfaat, antara lain dengan cara pembakaran, pengomposan, pemadatan, penghancuran, pengeringan, dan pendaurulangan. 20. Pengomposan (composting) adalah sistem pengolahan sampah organik dengan bantuan mikroorganisme sehingga terbentuk pupuk organik (pupuk kompos). 21. Potensi Pengomposan adalah jumlah atau volume sampah yang berpotensi untuk dikomposkan. 22. Tingkat Pengomposan adalah jumlah atau volume sampah organik yang berhasil dikomposkan di bandingkan terhadap timbulan sampah organik potensi pengomposan. menuju ke tempat

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-7

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

23. Pembakaran sampah adalah salah satu teknik pengolahan sampah dengan membakar sampah secara terkendali, sehingga terjadi perubahan bentuk. Reduksi dari sampah padat menjadi abu, gas dan cairan. 24. Pemadatan adalah uapaya mengurangi volume sampah dengan cara dipadatkan baik secara manual maupun mekanis sehingga pembuangan ke tempat pembuangan akhir lebih efisien. 25. Daur ulang adalah proses pengolahan sampah yang dapat menghasilkan produk yang bermanfaat lagi. 26. Potensi Daur Ulang adalah sampah yang masih bisa dimanfaatkan kembali atau di daur ulang. 27. Tingkat Daur Ulang adalah jumlah atau volume timbulan sampah anorganik yang berhasil di daur ulang dari timbulan sampah anorganik potensi daur ulang. 28. Tingkat pelayanan adalah jumlah sampah yang berhasil dikelola baik dengan cara konvensional (kumpul-angkut-buang) dan juga dengan pendekatan pengolahan dan atau daur ulang. 29. Tempat penampungan sementara pemrosesan akhir. 30. Tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) adalah tempat dilaksanakannya kegiatan mengguna ulang, mendaur ulang, pemilahan, pengumpulan, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah. Khusus di Kabupaten Bandung, TPST dibedakan atas skala Kelurahan untuk proses pengomposan, Skala Kecamatan untuk proses pengolahan sampah anorganik dan Skala Kota untuk penanganan residu. 31. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) adalah tempat untuk pemrosesan akhir sampah kota setelah direduksi melalui proses-proses di hulu. (TPS) adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran-ulang, pengolahan, dan/atau

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-8

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

1.5 Sistematika Pelaporan


Sistematika Laporan Akhir terdiri dari 7 (tujuh) Bab, yang terdiri dari :

Bab I Pendahuluan
Bab ini merupakan pengantar dalam Laporan Akhir ini, serta didalamnya tertuang mengenai ruang lingkup dan sistematika Laporan Akhir.

Bab II Evaluasi Sistem Pengelolaan Kebersihan Kota


Bab ini akan menguraikan evaluasi sistem pengelolaan sampah kota eksisting mulai dari sistem teknik operasional, sistem pengelolaan/pelayanan, daerah dan tingkat pelayanan yang diterapkan di Wilayah Perencanaan. Dalam bab ini juga dibahas berbagai aspek mencakup data data kelembagaan, aspek pembiayaan, aspek peraturan, dan aspek peran serta masyarakat.

Bab III Strategi Pengelolaan Sampah Kabupaten Bandung Tahun 2008-2028


Pada bab ini akan dibahas strategi-strategi untuk mendukung kinerja dalam hal pengembangan pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandung, yang meliputi strategi-strategi teknik operasional, aspek kelembagaan, aspek pembiayaan, aspek peraturan, dan aspek peran serta masyarakat.

Bab IV Rencana Operasi Pengelolaan


Perencanaan pelayanan pengelolaan sampah Kabupaten Bandung di dasarkan pada beban permasalahan sampah yang dihadapi pada kondisi saat ini sampai pada masa 10 dan 20 tahun mendatang.

Bab V Rencana Pengembangan Aspek Kelembagaan dan Peraturan


Pada Bab ini akan diuraikan rencana tinjauan dan strategi khusus dalam pengembangan aspek peraturan dan kelembagaan yang ada di Kabupaten Bandung.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-9

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Bab VI Rencana Peningkatan Peran Serta Masyarakat


Pada bab ini dikembangkan strategi-strategi partisipatif dalam hal pelibatan masyarakat untuk mendukung sistem pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandung.

Bab VII Rencana Pembiayaan Pengelolaan Sampah


Pada bab ini akan diuraikan mengenai rencana-rencana dalam pengembangan aspek pembiayaan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung.

Bab VIII Penutup


Merupakan bagian akhir dari Laporan Akhir. Dalam bab ini akan dituangkan kesimpulan dan point penting dari strategi dan perencanaan yang telah dikembangkan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal I-10

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M2006, tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Sistem Pengelolaan Persampahan bahwa kondisi yang ingin dicapai dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah adalah : a. Seluruh masyarakat, baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan memiliki akses untuk penanganan sampah yang dihasilkan dari aktifitas sehari-hari, baik di lingkungan perumahan, perdagangan, perkantoran, maupun tempat-tempat umum lainnya, b. Masyarakat memiliki lingkungan permukiman yang bersih karena sampah yang dihasilkan dapat ditangani secara benar, c. Masyarakat mampu memelihara kesehatan karena tidak terdapat sampah yang berpotensi menjadi bahan penularan penyakit d. Masyarakat dan dunia usaha/swasta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengelolaan persampahan sehingga memperoleh manfaat bagi kesejahteraannya. Untuk itulah evaluasi dimaksudkan guna menilai kinerja sistem yang berlaku pada saat ini. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan antara kondisi kebersihan kota saat ini dan target yang semestinya dicapai dalam pengelolaan kebersihan kota. Evaluasi melingkupi seluruh aspek pengelolaan kebersihan kota yaitu: pembiayaan, teknik operasional, kelembagaan, peraturan dan peran serta masyarakat. Melalui evaluasi diharapkan akan terdeteksi permasalahan secara

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

komprehensif demikian pula terhadap upaya penyelesaian dan pengembangannya dimasa yang akan datang. Berdasarkan kajian terhadap data-data sekunder dan data primer sistem persampahan di Kabupaten Bandung (Lihat Buku 1), diperoleh data-data sebagaimana di rangkum dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Matrik Evaluasi Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung
No Parameter Evaluasi Kondisi Eksisting Tahun 2007 Satuan Standar / Target Sumber

ASPEK TEKNIS A. Beban Pelayanan 1. Jumlah Penduduk Pelayanan a. Penduduk Total b. Penduduk di Perkotaan c. Penduduk di Perdesaan d. Penduduk Terlayani 2. Kuantitas Timbulan Sampah a. Timbulan perkapita di perkotaan 2.8 0.4 b. Timbulan perkapita di perdesaan c. Timbulan sampah perkotaan d. Timbulan sampah perdesaan e. Total Timbulan sampah 1.0 0.2 2,722 544 2,017 403 4,739 liter/orang/hari kg/orang/hari liter/orang/hari kg/orang/hari m3/hari ton/hari m3/hari ton/hari m3/hari 2.75 - 3.25 0.70 - 0.80 2.5 - 2.75 0.625 - 0.70 SNI Tata Cara Peng. Sampah Permukiman SNI Tata Cara Peng. Sampah Permukiman SNI Tata Cara Peng. Sampah Permukiman SNI Tata Cara Peng. Sampah Permukiman 3,027,233 968,715 2,058,518 201,411.0 Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Rasio Penduduk Kota dan Desa, ditetap Kan oleh Bappeda sebesar 32: 68

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-2

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


Kondisi Eksisting Tahun 2007 948 Standar / Target

No

Parameter Evaluasi

Satuan ton/hari

Sumber

B. Kualitas Pelayanan 1. Tingkat Pelayanan a. Terhadap Penduduk Total b. Terhadap Penduduk Perkotaan 2. Tingkat Pelayanan Sistem Berbasis Masyarakat 2. Kinerja Operasi Pengelolaan a. Pewadahan di sumber Bervariasi/Swadaya tercampur b. Pengumpulan * Jenis Alat Pengumpul (1) Permukiman Teratur (2) Permukiman Tidak Teratur (3) Non Permukiman Dump Truck(Door to Door) Gerobak (1) Dump Truck (2) Container Arm Roll * Frekuensi Pengumpulan * Rasio Alat Pengumpulan vs beban pengumpulan * Pengadaan Sarana c. Pengolahan 2-3 1 gerobak / RW hari/minggu 121 - 135 lokasi TPS 1 grbk/800 jiwa Peraturan Bupati No. 8 Th 2006 SNI 03-3242-1994 15.4 20.8 0.0 % % % 100 60 - 70 NAP Persampahan 2010 - 2015

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-3

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


Kondisi Eksisting Tahun 2007 Standar / Target

No

Parameter Evaluasi (1) Tingkat Pengolahan Pengomposan * Beban Pengomposan Sampah Organik * Volume Sampah di komposkan * Tingkat Pengomposan Daur Ulang Sampah Anorganik * Potensi Daur Ulang Sampah Anorganik * Perolehan Kembali Sampah Potensi Daur Ulang * Tingkat Perolehan Kembali Sampah Potensi Daur Ulang Pembangkit Listrik Tenaga Sampah * Volume Sampah Bahan Baku Pembakaran (Residu) * Volume Sampah Terolah di PLTSa * Tingkat Pengolahan dg PLSTa Total Volume Sampah terolah (2) Tingkat Reduksi Sampah Karena Pengolahan (3) Sarana dan Prasarana A. Pengolahan TPS / UPS skala Kelurahan atau Desa

Satuan

Sumber

1,505.3 -

m3/hari m3/hari %

881.4 -

m3/hari m3/hari %

410.6 % 20 Per Men PU No. 21/PRT/M/2006 m3/hari / ton/hari % 25 - 40 NAP Persampahan 2010 - 2015

* Rasio Lokasi TPS/ UPS * Jumlah TPS yang ada

1 TPS/2000 Pndk

Kriteria dlm Master Plan Persampahan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


Kondisi Eksisting Tahun 2007 Standar / Target

No

Parameter Evaluasi * Kebutuhan pembangunan TPS / UPS B. TPST Kecamatan * Rasio Lokasi TPST * Kebutuhan pembangunan TPST Kecamatan d. Pengangkutan * Frekuensi * Ritasi Arm Roll * Ritasi Dump Truck * Beban Pengangkutan Sampah ke TPA * Sampah Terangkut ke TPA * Tingkat Keterangkut sampah ke TPA d. Penanganan Akhir * Lokasi TPA * Luas TPA Efektif * Metoda Operasi

Satuan

Sumber

1 setiap kecamatan

Kriteria dlm Master Plan Persampahan

1-3 2-3

hari / minggu trip / hari / unit 3 Peraturan Bupati No. 8 Th 2006

2,722 567 20.8 m3/hari % 75 RPJMN 2004 - 2009

Babakan, Kec. Arjasari 4.0 Open Dumping Ha Controlled Landfill, Tahun 2010 Per Men PU No. 21/PRT/M/2006 Ket : TPA Baru, Sanitary Landfill Peraturan Bupati No. 8 Th 2006 100% infrastruktur TPA terpenuhi th 2010

* Beban Penimbunan di TPA * Sampah tertimbun di TPA

2,722 567

m3/hari m3/hari

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-5

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


Kondisi Eksisting Tahun 2007 % 20.8 Ha Standar / Target

No

Parameter Evaluasi * Tingkat Penimbunan di TPA * Kebutuhan lahan untuk Penimbunan

Satuan

Sumber

II

ASPEK KELEMBAGAAN 1. Bentuk Lembaga 2. Struktur Organisasi a. Perencanaan b. Pengendalian c. Pelaksanaan d. Pengawasan 3. Penyediaan SDM a. Jumlah total personil b. Rasio Personil per 1000 penduduk c. Kualitas Personil 410.0 Pegawai Penduduk/1 SDM 1.5 - 2 penduduk/1SDM NAP Persampahan 2010 - 2015 Dinas -->UPTD Kebersihan Per Men PU No. 21/PRT/M/2006 Per Men PU No. 21/PRT/M/2006 Per Men PU No. 21/PRT/M/2006 Per Men PU No. 21/PRT/M/2006 Dinas --> PD Per Men PU No. 21/PRT/M/2006

III

ASPEK FINANSIAL 1. Rasio Anggaran terhadap APBD a. Anggaran Sampah Tahun Terakhir b. Total APBD Kota 13,585,324,579 1,700,000,000,000 2. Efektifitas Retribusi 100.0 % target retribusi 0.80 % 8 - 10 NAP Persampahan 2010 - 2015

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-6

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


Kondisi Eksisting Tahun 2007 827,610,000 Standar / Target 50 - 60

No

Parameter Evaluasi a. Penerimaan Retribusi dari masyarakat 3. Mekanisme Penarikan Retribusi

Satuan

Sumber

NAP Persampahan 2010 - 2015

IV.

ASPEK HUKUM 1. Ketersediaan Perda a. Organisasi Kelembagaan Pengelola Sampah Kota b. Ketertiban Umum c. Retribusi Sampah d. Dasar Hukum Peraturan Bupati No. 8 Th 2006 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kebersihan 100% Ketersediaan Perangkat Hukum dan Peraturan

V.

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT 1. Masyarakat a. Keberadaan Program Pembinaan - Jumlah kegiatan per tahun - Jumlah penduduk target Pembinaan b. Keberadaan Sistem Pengelolaan Berbasis Masyarakat kegiatan/tahun jiwa/tahun kurang dari 3 intensifikasi 70 - 92 3500 - 4600 intensifikasi dan replikasi contoh % timbulan kota rit/hari 10 - 30 1-3 NAP Persampahan 2010 - 2015 Peraturan Bupati No. 8 Th 2006 Per Men PU No. 21/PRT/M/2006 Peraturan Bupati No. 8 Th 2006 Peraturan Bupati No. 8 Th 2006 Per Men PU No. 21/PRT/M/2006

2. Swasta / BUMD

Sumber : Hasil Analisa Konsultan, Tahun 2007

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-7

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

2 .1

Analisis Beban Kerja


Penyelenggaraan pengelolaan sampah pelayanan merupakan

2.1.1 Wilayah Pelayanan

kegiatan yang memiliki rutinitas yang sangat tinggi dan memerlukan alokasi sumberdaya yang cukup tinggi pula. Pelayanan merupakan pengelolaan pelayanan sampah yang publik

diperlukan setiap hari. Kondisi bersih merupakan dambaan setiap individu di mana pun mereka berada. Beban pengelolaan sampah dapat dilihat berdasarkan beban kuantitatif dan beban kualitatif. Secara kuantitatif, beban terukur dari besarnya timbulan sampah yang harus dikelola sistem. Timbulan sampah ini diukur dari jumlah penduduk yang menimbulkan sampah setiap hari. Secara kualitatif beban diukur berdasarkan tingkat kesulitan pengelolaan sampah. Kesulitan pengelolaan sampah tergantung pada karakteristik sampah yang ada. Sedangkan karakteristik oleh Semakin sampah pola tinggi sangat konsumsi kehadiran dipengaruhi masyarakat.

sampah anorganik, semakin tinggi tingkat kesulitan pengolahannya. Saat ini, dimana tingkat konsumerisme masyarakat mulai berubah kearah pengemasan segala jenis barang, kehadiran sampah plastik dan kertas semakin tinggi. Terlihat dari hasil sampling komposisi sampah di Kabupaten Bandung, di daerah permukiman maupun non permukiman, kehadiran sampah kertas mencapai 19%, sedangkan plastik mencapai 17%, mendominasi kehadiran sampah anorganik lainnya. Hal ini pun telah terjadi di

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-8

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

lingkungan perdesaan, kecenderungan tinggi dalam pemanfaatan plastik telah berdampak pada kondisi lingkungan. Hal ini terlihat dari observasi di Desa Mekar Jaya, masyarakat menilai bahwa permasalahan sampah di desanya mulai dirasakan bermasalah ketika pemakaian plastik mulai meningkat. Faktor lain yang mempengaruhi beban pelayanan adalah kepadatan penduduk. Semakin padat penduduk di suatu wilayah, kompleksitas permasalahan semakin tinggi, sehingga beban pengelolaan semakin berat. Berdasarkan data kependudukan Tahun 2007, rata-rata kepadatan penduduk di Kab. Bandung mencapai 25.75 Jiwa/Ha, dengan rentang antara 3-106 Jiwa/Ha. Angka tersebut, masih tergolong kepadatan rendah. Dari 30 kecamatan, hanya ada 2 kecamatan yang lebih dari 100 Ha, yaitu Margahayu dan Dayeuhkolot. Kedua Kecamatan ini dapat dikategorikan daerah urban. Sementara itu, daerah urban lain seperti Margaasih, Majalaya dan Katapang, kepadatan penduduk berkisar pada angka 50 jiwa/Ha. Dengan rentang kepadatan penduduk tersebut, maka dapat di kembangkan 3 Kategori wilayah berdasarkan kepadatannya dan masing-masing menandakan karakteristik pelayanan persampahan, yaitu : (1) Kepadatan lebih tinggi dari 30 Jiwa/ha merupakan beban pelayanan tinggi. (2) Kepadatan diantara 10 30 jiwa/Ha merupakan beban pelayanan menengah.
(3)

Kepadatan kurang dari 10 jiwa/Ha , beban pelayanan rendah

Berdasarkan pada data kepadatan penduduk tahun 2007, maka Tabel 2.2 menunjukkan Klasifikasi Wilayah Pelayanan Dinas Kebersihan berdasarkan Beban Pelayanan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-9

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.2 Klasifikasi Wilayah Pelayanan Dinas Kebersihan Berdasarkan Kepadatan Penduduk
No KECAMATAN Jml penddk 2007 Luas Km2 Ha Kepadatan (Jiwa/ha) 113 105 70 60 59 45 44 42 37 32 31 31 28 26 24 22 22 19 17 16 14 14 13 13 11 9 7 4 3 3 823 27 Kepadatan (Jiwa/Km2) 11.343 10.544 7.111 6.136 5.897 4.468 4.406 4.212 3.696 3.158 3.150 3.156 2.874 2.580 2.420 2.224 1.933 1.878 1.710 1.509 1.361 1.424 1.335 1.310 1.070 951 678 433 332 326 82.281 2.743

Beban Pelayanan Tinggi 1 Margahayu * 119.589 10,5434 1.054 2 Dayeuhkolot * 116.271 11,0269 1.103 3 Margaasih * 127.752 17,9653 1.834 4 Katapang * 129.854 21,1624 2.154 5 Majalaya * 149.548 25,3599 2.536 6 Baleendah * 186.868 41,8212 4.156 7 Pameungpeuk * 64.426 14,6229 1.462 8 Cileunyi * 132.996 31,5750 3.158 9 Rancaekek * 167.403 45,2991 4.525 10 Ciparay * 145.829 46,1762 4.618 11 Solokanjeruk * 75.626 24,0100 2.401 12 Bojongsoang * 86.267 27,3359 2.781 Beban Pelayanan Sedang 13 Cicalengka * 102.480 35,6635 3.599 14 Banjaran * 110.743 42,9231 4.292 15 Cangkuang 59.553 24,6082 2.461 16 Soreang * 149.839 67,3717 6.700 17 Paseh * 112.610 58,2490 5.103 18 Cikancung 76.126 40,5337 4.014 19 Cimenyan * 90.434 52,8712 5.308 20 Ciwidey * 75.193 49,8400 4.847 21 Cilengkrang * 40.709 29,9066 3.012 22 Arjasari * 92.519 64,9779 6.498 23 Ibun * 72.867 54,5653 5.457 24 Cimaung 72.034 54,9979 5.500 25 Pacet 98.349 91,9401 9.194 Beban Pelayanan Ringan 26 Nagreg 46.185 48,5900 4.930 27 Pangalengan * 132.401 195,4236 19.541 28 Kertasari 65.859 152,0738 15.207 29 Rancabali 48.766 147,0000 14.837 30 Pasirjambu 78.140 239,4936 23.958 JUMLAH 3.027.233 176.239 Rata-rata Sumber : Analisis Konsultan berdasarkan data dasar dari RTRW Tahun 2007

Keterangan : *) Daerah Pelayanan Eksisting Dinas Kebersihan Tahun 2007

Berdasarkan Tabel di atas, dari 30 Kecamatan di Kabupaten Bandung, terdapat 18% wilayah (12 Kecamatan) yang selayaknya mendapat pelayanan intensif, 37%

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-10

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(13 Kecamatan) dengan Tingkat Pelayanan Menengah dan 45% (5 Kecamatan) dengan Pelayanan Minimum. Gambar 2.1 menunjukkan Klasifikasi Wilayah Pelayanan Dinas Kebersihan berdasarkan kepadatan penduduk.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-11

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


74000 0 760000 780000 800000 820000

Gambar 2.1 PETA BEBAN PELAYANAN KABUPATEN BANDUNG


N

CIKALONG W ETAN
9260000

CIPEUNDEUY

9260000

W S

PARO NG PO NG CISARUA LEMBANG

SKALA 1 : 200.000 2 0 2 4 6 8

CIPATAT PADALARANG NGAMPRAH CIMEU NYAN BATU JAJAR


9240000

Kilometers

CILENG KRANG

KABUPATEN BANDUNG BARAT


CIPONGKOR MARGAASIH RONGGA CILILIN DAYEUH KOLO T MARGAHAYU BO JON G SO AN G SO REANG KATAPANG PAMEUNGPEU K BALEENDAH CIPARAY MAJALAYA BANJARAN ARJASARI CIW IDEY PASEH SO LO KAN JERU K CIKACUNG NAGREG RANCAEKEK CICALENGKA CILEUNYI

Pelayanan Tinggi (> 30 jiwa/Ha) PELAYANAN TINGGI Pelayanan Sedang (10-30 jiwa/Ha) PELAYANAN SEDANG Pelayanan Rendah (< 10 jiwa/Ha) PELAYANAN RINGAN Kabupaten Barat TIDAK ADA Bsandung PELAYANAN

9240000

SINDANG KERTA
9220000

BATAS KABUPATEN
9220000

GUNUN G HALU

BATAS KECAMATAN BATAS KOTA JALAN KERETA API JALAN LOKAL

IBUN CIMAUNG PACET

JALAN NASION AL JALAN UTAMA SU NGAI

RANC A BALI
9200000

9200000

PASIRJAMBU PANG ALENG AN

KERTASARI

KEG IATAN PENYU SUNAN KE BIJAKAN MANAJEMEN PENGELOLA AN PERSA MPAHAN DI K ABUPA TEN BAN DUNG

BAPEDA BAPPEDA KABUPATEN BANDUNG BANDUNG KABUPATEN


9180000

9180000

74000 0

760000

780000

800000

820000

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-12

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Dibandingkan

terhadap

wilayah

pelayanan

Dinas

Kebersihan saat ini, yaitu melingkupi 22 Kecamatan (baca tanda *), terlihat bahwa Dinas Kebersihan telah memberikan prioritas pelayanan kepada daerahdaerah kritis, yaitu dengan kepadatan tinggi yang menunjukkan tingginya tingkat permasalahan sampah. Adapun Kecamatan yang tergolong kepadatan rendah yang sudah mendapat pelayanan yaitu Pangalengan, pelayanan yang diberikan tercatat hanya pengangkutan dari PT. Magma sebuah industri migas dengan pelayanan 1 rit/minggu. Demikian pula di beberapa Kecamatan lainnya, pelayanan baru melingkup satu wilayah kecil umumnya yaitu wilayah pasar atau rumah sakit dan daerah industri. Beban pelayanan tinggi umumnya menyebar di daerah pemukiman, ditambah lokasi pelayanan umum seperti terminal/sub terminal, perkantoran, pusat perbelanjaan, daerah komersial, daerah industri, rumah sakit dll. Penyelenggaraan pelayanan terhadap obyek-obyek tersebut di atas,

memerlukan perencanaan dengan baik, penyediaan prasarana dan sarana yang memadai, teknik operasional yang efektif, pembiayaan yang efisien, personil yang produktif dan pengawasan dan pengendalian yang konsisten. Melihat lingkup luas daerah administrasi Kabupaten Bandung setelah berdirinya Kabupaten Bandung Barat, Wilayah Pelayanan II kini hanya tinggal Kecamatan Margaasih. Untuk meningkatkan efisiensi kerja, Kecamatan Margaasih selayaknya bergabung ke dalam Wilayah Pelayanan I. Dengan demikian di Kabupaten Bandung wilayah pelayanan saat ini terbagi ke dalam 3(tiga) wilayah, seperti terlihat pada Tabel 2.3. Adapun peta wilayah pelayanan, dapat dilihat pada Gambar 2.2.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-13

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.3 Wilayah Pelayanan Dinas Kebersihan Tahun 2007 *)


Wilayah Kecamatan 1. Soreang 2. Pasir Jambu 3. Ciwidey 4. Rancabali 5. Margahayu 6. Katapang 7. Margaasih 8. Pameungpeuk 9. Bojongsoang 10. Dayeuhkolot 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. Banjaran Cimaung Baleendah Arjasari Ciparay Pangalengan Kertasari Pacet Cangkuang Cileunyi Cimenyan Cilengkrang Cicalengka Rancaekek nagreg Cikancung Solokanjeruk Paseh Majalaya Ibun Total Jml Penddk 2007**) 149.839 78.140 75.193 48.766 119.589 129.854 127.752 64.426 86.267 116.271 996.096 110.743 72.034 186.868 92.519 145.829 132.401 65.859 98.349 59.553 964.154 132.996 90.434 40.709 102.480 167.403 46.185 76.126 75.626 112.610 149.548 72.867 1.066.982 3.027.233 Luas Km2 67,3717 239,4936 49,8400 147,0000 10,5434 21,1624 17,9653 14,6229 27,3359 11,0269 606,3621 42,9231 54,9979 41,8212 64,9779 46,1762 195,4236 152,0738 91,9401 24,6082 1.321,3041 31,5750 52,8712 29,9066 35,6635 45,2991 48,5900 40,5337 24,0100 58,2490 25,3599 54,5653 415,0483 2.343 Ha 6.700 23.958 4.847 14.837 1.054 2.154 1.834 1.462 2.781 1.103 60.730 4.292 5.500 4.156 6.498 4.618 19.541 15.207 9.194 2.461 71.467 3.158 5.308 3.012 3.599 4.525 4.930 4.014 2.401 5.103 2.536 5.457 44.042 176.239 Kepadatan (Jiwa/ha) 22 3 16 3 113 60 70 44 31 105 26 13 45 14 32 7 4 11 24 42 17 14 28 37 9 19 31 22 59 13 Kepadatan (Jiwa/km2) 2.224 326 1.509 332 11.343 6.136 7.111 4.406 3.156 10.544 2.580 1.310 4.468 1.424 3.158 678 433 1.070 2.420 4.212 1.710 1.361 2.874 3.696 951 1.878 3.150 1.933 5.897 1.335

II

III

Sumber : Analisis Konsultan Keterangan : *) Setelah Pembentukan Kabupaten Bandung Barat **) Jumlah penduduk diambil dari RTRW Tahun 2007

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-14

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


Gambar 2.2 WP. KAB. BANDUNG SETELAH PEMBENTUKAN KAB. BANDUNG BARAT

KABUPATEN

BARAT

BANDUNG

KABUPATEN BANDUNG BARAT

BAPEDA KABUPATEN BANDUNG

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-15

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Mengacu pada sasaran utama yang ingin dicapai secara Nasional dalam bidang persampahan yaitu, pencapaian cakupan pelayanan 60% penduduk pada Tahun 2010, maka di Kabupaten Bandung direkomendasikan hal-hal berikut : Pelayanan Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung melingkupi 100% penduduk, dengan perbandingan antara perkotaan dan perdesaan sebesar 32 : 68. Seluruh wilayah Kabupaten yaitu 30 Kecamatan dalam 10 tahun periode perencanaan pertama dibagi kedalam 3 wilayah pelayanan inti. Sedangkan untuk peningkatan efektifitas kerja, dalam periode 10 tahun kedua, direncanakan masing-masing wilayah akan dikembangkan ke dalam wilayah yang lebih kecil, berdasarkan tingkat intensitas pelayanan. Dalam 20 tahun mendatang, beban pelayanan teknis Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung adalah sebesar 32% penduduk total Kabupaten Bandung. Diprioritaskan untuk wilayah Pelayanan Kritis dan Pelayanan Sedang. Adapun 68% penduduk di perdesaaan akan disentuh dengan pola pembinaan dengan pengembangan Sistem Pengelolaan Berbasis Masyarakat. Wilayah prioritas adalah wilayah yang termasuk dalam kategori pelayanan rendah dan sedang.

2.1.2 Kuantitas Timbulan Sampah


Berdasarkan hasil studi timbulan sampah, diperoleh nilai rerata sampah terkumpul dari setiap aktifitas di Kabupaten Bandung adalah seperti terlihat pada Tabel 2.4 dan Gambar 2.3.
Tabel 2.4 Rerata Harian Sampah Terkumpul di Kabupaten Bandung
Komponen Sumber Sampah Rumah Permanen Pemukiman Rumah Semi Permanen Rumah Non Permanen Perdesaan Kantor Non Permukiman Komersil Sekolah Rerata Harian (m3/hr) 0,154 0,247 0,253 0,058 0,166 0,368 0,135

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-16

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Komponen Sumber Sampah Pasar Industri Rumah Sakit Sumber : Report Studi Timbulan Tahun 2007

Rerata Harian (m3/hr) 0,287 0,025 0,642

Gambar 2.3 Rerata Harian Timbulan Sampah di Kabupaten Bandung

Dari Grafik 2.3 dan Tabel 2.4 terlihat bahwa sampah terkumpul di Permukiman masih mendominasi mencapai proporsi terbesar. Adapun dari sumber non permukiman, terukur kegiatan pasar, komersil, dan rumah sakit mencapai volume yang tinggi. Adapun berdasarkan identifikasi terhadap data aktifitas di Kabupaten Bandung, tergambar sebuah pola timbulan sampah berdasarkan sumber aktifitas seperti pada Tabel 2.5. Data ini sangat diperlukan guna menentukan timbulan sampah di setiap sumbernya.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-17

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.5 Timbulan Sampah di Kabupaten Bandung Berdasarkan Sumbernya


Sumber Rumah Tangga Pasar Komersial Kantor Sekolah Rumah Sakit Industri Lain-Lain Timbulan Sampah (m3/hr) 1.851,0 544,4 95,3 8,2 40,8 46,3 122,5 13,6 % 68,0% 20,0% 3,5% 0,3% 1,5% 1,7% 4,5% 0,5% 100,0%

Total 2.722,1 Sumber : Report Studi Timbulan Tahun 2007

Gambar 2.4 Timbulan Sampah Berdasarkan Sumbernya Sumber : Tabel 2.5

Rekapitulasi angka timbulan sampah masing-masing sumber aktifitas sampling dapat dilihat pada Tabel 2.6.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-18

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.6 Rekapitulasi Timbulan Sampah di Kab. Bandung


Komponen Sumber Sampah Rumah Permanen Permukiman Rumah Semi Permanen Rumah Non Permanen Perdesaan Kantor Sapuan Jalan Komersil Non Permukiman Sekolah Pasar Industri Rumah Sakit Sumber : Report Studi Timbulan Tahun 2007 Satuan Per orang/hr Per orang/hr Per orang/hr Per orang/hr Per pegawai/hr Per meter/hr Per meter/hr Per siswa/hr Per meter/hr Per karyawan/hr Per tempat tidur/hr 4,72 0,76 Hasil Sampling Volume (Liter) 1,32 2,58 2,00 0,67 0,58 1,16 0,12 0,19 1,31 1,14 Berat (kg) 0,21 0,58 0,17 0,11 0,04 0,09 0,01 0,02 0,30 0,06 2,50 - 3,00 0,10 - 0,15 0,20 - 0,60 0,150 - 0,350 0,010 - 0,020 0,1 - 0,3 0,50 - 0,75 0,025 - 0,100 Volume (liter) 2,25 - 2,50 2,00 - 2,25 1,75 - 2,00 SNI Berat (kg) 0,350 - 0,400 0,300 - 0,350 0,250 - 0,300

Studi timbulan sampah di Kab. Bandung, menunjukkan bahwa timbulan permukiman untuk masyarakat tingkat ekonomi menengah ke atas, memiliki angka timbulan lebih kecil dibandingkan timbulan sampah masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah, yaitu dengan timbulan berkisar antara 1,5 liter/orang/hari sampai 2,5 liter/orang/hari. Adapun aktifitas permukiman

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-19

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

non permanen sebagai kelompok masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah, timbulan mencapai angka lebih kecil, yaitu 0,6 liter/orang/hari sampai 2 liter/orang/hari. Sampah dari aktifitas non permukiman, di dominasi oleh sampah rumah sakit, dengan timbulan harian mencapai 0,642 m3/hari, menyusul pasar dan daerah komersil. Dalam penentuan timbulan sampah suatu kota lebih sering diperlukan angka timbulan sampah dalam satuan liter/orang/hari atau kg/orang/hari. Selanjutnya angka ini diekuivalensikan terhadap penduduk untuk mencapai angka timbulan sampah kota. Berdasarkan analisis terhadap data-data keberadaan permukiman dan aktifitas non permukiman di Kabupaten Bandung (lihat Tabel 2.5), diperoleh perkiraan bahwa timbulan sampah permukiman mencapai 70% sedangkan non permukiman mencapai 30%. Karena itu dari hasil kompilasi data sampling, diperoleh kesimpulan : Timbulan sampah perkotaan ditetapkan sebesar 2,81 liter/orang/hari atau 0,45 kg/orang/hari. Timbulan di perdesaan, mencapai 0,96 liter/orang/hari atau 0,15 kg/orang/hari. Dengan nilai-nilai tersebut di atas, selanjutnya dilakukan perhitungan proyeksi timbulan sampah Kabupaten Bandung baik di perkotaan dan perdesaan. Dalam proyeksi diperhitungkan adanya berbagai faktor yang mempengaruhi besaran timbulan sampah, terutama adalah pola konsumerisme masyarakat yang cenderung meningkatkan angka timbulan. Sementara paradigma reduksi sampah ke TPA yang akan di anut dalam sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung diharapkan akan menurunkan angka timbulan. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, proyeksi sampah perkotaan dan perdesaan di Kab. Bandung untuk periode 2008 2028, diperlihatkan pada Gambar 2.5, Tabel 2.7 dan Tabel 2.8.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-20

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.7 Proyeksi Timbulan Sampah Perkotaan di Kabupaten Bandung


Wil Kecamatan 1. Soreang 2. Pasir jambu 3. Ciwidey 4. Rancabali I 5. Margahayu 6. Katapang 7.Margaasih 10. Pameungpeuk 11. Bojongsoang 13. Dayeuhkolot 2008 Pnddk 49.001 25.477 24.323 15.754 39.677 43.448 42.914 21.207 29.254 38.286 329.340 8. Banjaran 9. Cimaung 12. Baleendah 14. Arjasari II 15. Ciparay 16. Pangalengan 17. Kertasari 18. Pacet 19. Cangkuang 36.892 23.656 62.156 30.943 47.986 42.443 21.353 32.239 19.839 317.507 20. Cileunyi 21. Cimenyan III 22. Cilengkrang 23. Cicalengka 24. Rancaekek 25. Nagreg 44.440 29.328 13.257 33.351 56.467 15.013 (m3/hr) 137,7 71,6 68,3 44,3 111,5 122,1 120,6 59,6 82,2 107,6 925 103,7 66,5 174,7 86,9 134,8 119,3 60,0 90,6 55,7 892 124,9 82,4 37,3 93,7 158,7 42,2 Ton/hr 27,5 14,3 13,7 8,9 22,3 24,4 24,1 11,9 16,4 21,5 185 20,7 13,3 34,9 17,4 27,0 23,9 12,0 18,1 11,1 178 25,0 16,5 7,5 18,7 31,7 8,4 Pnddk 51.175 26.450 24.855 16.055 42.651 47.501 47.289 22.439 32.851 40.539 351.805 39.980 24.915 67.156 33.800 50.742 42.592 21.920 33.832 21.500 336.437 48.455 30.121 13.731 34.493 62.742 15.491 2010 (m3/hr) 143,8 74,3 69,8 45,1 119,8 133,5 132,9 63,1 92,3 113,9 989 112,3 70,0 188,7 95,0 142,6 119,7 61,6 95,1 60,4 945 136,2 84,6 38,6 96,9 176,3 43,5 Ton/hr 28,8 14,9 14,0 9,0 24,0 26,7 26,6 12,6 18,5 22,8 198 22,5 14,0 37,7 19,0 28,5 23,9 12,3 19,0 12,1 189 27,2 16,9 7,7 19,4 35,3 8,7 Pnddk 57.043 29.045 26.236 16.835 51.098 59.365 60.280 25.843 43.901 46.768 416.413 48.881 28.363 81.485 42.151 58.343 42.968 23.406 38.166 26.286 390.049 60.153 32.198 14.990 37.524 81.652 16.756 2015 (m3/hr) 160,3 81,6 73,7 47,3 143,6 166,8 169,4 72,6 123,4 131,4 1.170 137,4 79,7 229,0 118,4 163,9 120,7 65,8 107,2 73,9 1.096 169,0 90,5 42,1 105,4 229,4 47,1 Ton/hr 32,1 16,3 14,7 9,5 28,7 33,4 33,9 14,5 24,7 26,3 234 27,5 15,9 45,8 23,7 32,8 24,1 13,2 21,4 14,8 219 33,8 18,1 8,4 21,1 45,9 9,4 Pnddk 63.583 31.896 27.694 17.652 61.217 74.192 76.839 29.764 58.667 53.954 495.458 59.763 32.288 98.873 52.566 67.082 43.348 24.992 43.055 32.138 454.105 74.675 34.419 16.364 40.821 106.262 18.123 2020 (m3/hr) 178,7 89,6 77,8 49,6 172,0 208,5 215,9 83,6 164,9 151,6 1.392 167,9 90,7 277,8 147,7 188,5 121,8 70,2 121,0 90,3 1.276 209,8 96,7 46,0 114,7 298,6 50,9 Ton/hr 35,7 17,9 15,6 9,9 34,4 41,7 43,2 16,7 33,0 30,3 278 33,6 18,1 55,6 29,5 37,7 24,4 14,0 24,2 18,1 255 42,0 19,3 9,2 22,9 59,7 10,2 Pnddk 70.874 35.026 29.233 18.509 73.341 92.723 97.946 34.279 78.400 62.244 592.575 73.069 36.756 119.970 65.553 77.131 43.731 26.686 48.570 39.293 530.758 92.703 36.793 17.865 44.407 138.289 19.602 2025 (m3/hr) 199,2 98,4 82,1 52,0 206,1 260,6 275,2 96,3 220,3 174,9 1.665 205,3 103,3 337,1 184,2 216,7 122,9 75,0 136,5 110,4 1.491 260,5 103,4 50,2 124,8 388,6 55,1 Ton/hr 39,8 19,7 16,4 10,4 41,2 52,1 55,0 19,3 44,1 35,0 333 41,1 20,7 67,4 36,8 43,3 24,6 15,0 27,3 22,1 298 52,1 20,7 10,0 25,0 77,7 11,0 Pnddk 75.643 37.050 30.197 19.043 81.740 105.994 113.301 37.310 93.297 67.818 661.394 82.434 39.728 134.733 74.840 83.869 43.962 27.756 52.213 44.329 583.864 105.547 38.296 18.830 46.709 161.969 20.547 2028 (m3/hr) 212,6 104,1 84,9 53,5 229,7 297,8 318,4 104,8 262,2 190,6 1.859 231,6 111,6 378,6 210,3 235,7 123,5 78,0 146,7 124,6 1.641 296,6 107,6 52,9 131,3 455,1 57,7 Ton/hr 42,5 20,8 17,0 10,7 45,9 59,6 63,7 21,0 52,4 38,1 372 46,3 22,3 75,7 42,1 47,1 24,7 15,6 29,3 24,9 328 59,3 21,5 10,6 26,3 91,0 11,5

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-21

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Wil

Kecamatan 26. Cikancung 27. Solokanjeruk 28. Paseh 29. Majalaya 30. Ibun

2008 Pnddk 25.006 24.510 36.817 48.525 23.787 350.500 (m3/hr) 70,3 68,9 103,5 136,4 66,8 985 2.803 Ton/hr 14,1 13,8 20,7 27,3 13,4 197 561 Pnddk 26.349 25.141 38.433 49.894 24.754 369.603 1.057.846

2010 (m3/hr) 74,0 70,6 108,0 140,2 69,6 1.039 2.973 Ton/hr 14,8 14,1 21,6 28,0 13,9 208 595 Pnddk 30.030 26.792 42.789 53.486 27.346 423.716 1.230.179

2015 (m3/hr) 84,4 75,3 120,2 150,3 76,8 1.191 3.457 Ton/hr 16,9 15,1 24,0 30,1 15,4 238 691 Pnddk 34.225 28.551 47.638 57.337 30.211 488.627 1.438.190

2020 (m3/hr) 96,2 80,2 133,9 161,1 84,9 1.373 4.041 Ton/hr 19,2 16,0 26,8 32,2 17,0 275 808 Pnddk 39.007 30.425 53.038 61.466 33.376 566.971 1.690.304

2025 (m3/hr) 109,6 85,5 149,0 172,7 93,8 1.593 4.750 Ton/hr 21,9 17,1 29,8 34,5 18,8 319 950 Pnddk 42.191 31.608 56.567 64.084 35.432 621.779 1.867.037

2028 (m3/hr) 118,6 88,8 159,0 180,1 99,6 1.747 5.246 Ton/hr 23,7 17,8 31,8 36,0 19,9 349 1.049

Jumlah

997.348

Sumber : Report Studi Timbulan Tahun 2007 Keterangan : Beban Penduduk Pelayanan, 32% Penduduk Kabupaten Bandung Data Penduduk berdasarkan RTRW tahun 2007

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-22

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.8 Proyeksi Timbulan Sampah Perdesaan di Kabupaten Bandung


Wil Kecamatan 1. Soreang 2. Pasir jambu 3. Ciwidey 4. Rancabali I 5. Margahayu 6. Katapang 7.Margaasih 10. Pameungpeuk 11. Bojongsoang 13. Dayeuhkolot 2008 Pnddk 104.126 54.139 51.687 33.477 84.313 92.327 91.192 45.065 62.164 81.357 699.848 8. Banjaran 9. Cimaung 12. Baleendah 14. Arjasari II 15. Ciparay 16. Pangalengan 17. Kertasari 18. Pacet 19. Cangkuang 78.395 50.270 132.082 65.753 101.971 90.191 45.375 68.509 42.157 674.702 20. Cileunyi 21. Cimenyan III 22. Cilengkrang 23. Cicalengka 24. Rancaekek 25. Nagreg 94.435 62.321 28.172 70.870 119.993 31.902 (m3/hr) 102,0 53,1 50,7 32,8 82,6 90,5 89,4 44,2 60,9 79,7 686 76,8 49,3 129,4 64,4 99,9 88,4 44,5 67,1 41,3 661 92,5 61,1 27,6 69,5 117,6 31,3 Ton/hr 20,4 10,6 10,1 6,6 16,5 18,1 17,9 8,8 12,2 15,9 137 15,4 9,9 25,9 12,9 20,0 17,7 8,9 13,4 8,3 132 18,5 12,2 5,5 13,9 23,5 6,3 Pnddk 108.747 56.205 52.817 34.118 90.632 100.940 100.490 47.684 69.808 86.145 747.586 84.958 52.944 142.706 71.825 107.826 90.509 46.581 71.893 45.686 714.929 102.967 64.006 29.178 73.298 133.327 32.919 2010 (m3/hr) 106,6 55,1 51,8 33,4 88,8 98,9 98,5 46,7 68,4 84,4 733 83,3 51,9 139,9 70,4 105,7 88,7 45,6 70,5 44,8 701 100,9 62,7 28,6 71,8 130,7 32,3 Ton/hr 21,3 11,0 10,4 6,7 17,8 19,8 19,7 9,3 13,7 16,9 147 16,7 10,4 28,0 14,1 21,1 17,7 9,1 14,1 9,0 140 20,2 12,5 5,7 14,4 26,1 6,5 Pnddk 121.216 61.721 55.752 35.774 108.582 126.151 128.094 54.917 93.289 99.381 884.878 103.872 60.271 173.157 89.571 123.978 91.308 49.738 81.102 55.858 828.855 127.825 68.421 31.853 79.738 173.511 35.606 2015 (m3/hr) 118,8 60,5 54,6 35,1 106,4 123,6 125,5 53,8 91,4 97,4 867 101,8 59,1 169,7 87,8 121,5 89,5 48,7 79,5 54,7 812 125,3 67,1 31,2 78,1 170,0 34,9 Ton/hr 23,8 12,1 10,9 7,0 21,3 24,7 25,1 10,8 18,3 19,5 173 20,4 11,8 33,9 17,6 24,3 17,9 9,7 15,9 10,9 162 25,1 13,4 6,2 15,6 34,0 7,0 Pnddk 135.114 67.779 58.850 37.511 130.087 157.659 163.282 63.248 124.667 114.652 1.052.848 126.997 68.611 210.105 111.702 142.549 92.114 53.108 91.492 68.293 964.972 158.685 73.141 34.774 86.744 225.807 38.512 2020 (m3/hr) 132,4 66,4 57,7 36,8 127,5 154,5 160,0 62,0 122,2 112,4 1.032 124,5 67,2 205,9 109,5 139,7 90,3 52,0 89,7 66,9 946 155,5 71,7 34,1 85,0 221,3 37,7 Ton/hr 26,5 13,3 11,5 7,4 25,5 30,9 32,0 12,4 24,4 22,5 206 24,9 13,4 41,2 21,9 27,9 18,1 10,4 17,9 13,4 189 31,1 14,3 6,8 17,0 44,3 7,5 Pnddk 150.606 74.430 62.120 39.332 155.851 197.036 208.136 72.843 166.600 132.269 1.259.223 155.271 78.105 254.937 139.301 163.903 92.928 56.707 103.212 83.498 1.127.861 196.994 78.186 37.962 94.366 293.864 41.655 2025 (m3/hr) 147,6 72,9 60,9 38,5 152,7 193,1 204,0 71,4 163,3 129,6 1.234 152,2 76,5 249,8 136,5 160,6 91,1 55,6 101,1 81,8 1.105 193,1 76,6 37,2 92,5 288,0 40,8 Ton/hr 29,5 14,6 12,2 7,7 30,5 38,6 40,8 14,3 32,7 25,9 247 30,4 15,3 50,0 27,3 32,1 18,2 11,1 20,2 16,4 221 38,6 15,3 7,4 18,5 57,6 8,2 Pnddk 160.742 78.731 64.168 40.467 173.698 225.238 240.764 79.285 198.257 144.113 1.405.463 175.173 84.422 286.307 159.034 178.221 93.419 58.982 110.953 94.200 1.240.711 224.287 81.378 40.014 99.257 344.185 43.662 2028 (m3/hr) 157,5 77,2 62,9 39,7 170,2 220,7 235,9 77,7 194,3 141,2 1.377 171,7 82,7 280,6 155,9 174,7 91,6 57,8 108,7 92,3 1.216 219,8 79,8 39,2 97,3 337,3 42,8 Ton/hr 31,5 15,4 12,6 7,9 34,0 44,1 47,2 15,5 38,9 28,2 275 34,3 16,5 56,1 31,2 34,9 18,3 11,6 21,7 18,5 243 44,0 16,0 7,8 19,5 67,5 8,6

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-23

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Wil

Kecamatan 26. Cikancung 27. Solokanjeruk 28. Paseh 29. Majalaya 30. Ibun

2008 Pnddk 53.137 52.084 78.237 103.116 50.546 744.813 (m3/hr) 52,1 51,0 76,7 101,1 49,5 730 2.077 Ton/hr 10,4 10,2 15,3 20,2 9,9 146 415 Pnddk 55.991 53.425 81.670 106.024 52.601 785.407 2.247.922

2010 (m3/hr) 54,9 52,4 80,0 103,9 51,5 770 2.203 Ton/hr 11,0 10,5 16,0 20,8 10,3 154 441 Pnddk 63.813 56.933 90.926 113.658 58.111 900.397 2.614.129

2015 (m3/hr) 62,5 55,8 89,1 111,4 56,9 882 2.562 Ton/hr 12,5 11,2 17,8 22,3 11,4 176 512 Pnddk 72.729 60.670 101.232 121.842 64.199 1.038.333 3.056.154

2020 (m3/hr) 71,3 59,5 99,2 119,4 62,9 1.018 2.995 Ton/hr 14,3 11,9 19,8 23,9 12,6 204 599 Pnddk 82.890 64.653 112.705 130.615 70.924 1.204.813 3.591.897

2025 (m3/hr) 81,2 63,4 110,5 128,0 69,5 1.181 3.520 Ton/hr 16,2 12,7 22,1 25,6 13,9 236 704 Pnddk 89.656 67.167 120.204 136.179 75.292 1.321.281 3.967.455

2028 (m3/hr) 87,9 65,8 117,8 133,5 73,8 1.295 3.888 Ton/hr 17,6 13,2 23,6 26,7 14,8 259 778

Jumlah

2.119.363

Sumber : Report Studi Timbulan Tahun 2007 Keterangan : Beban Penduduk Pelayanan, 68% Penduduk Kabupaten Bandung Data Penduduk berdasarkan RTRW tahun 2007

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-24

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 2.5 Grafik Proyeksi Timbulan Sampah Perkotaan dan Perdesaan

Sampling

terhadap

timbulan

non

permukiman,

diperoleh hasil bahwa timbulan sampah pasar relatif lebih tinggi dibandingkan dengan timbulan sampah dari aktifitas lainnya. Sementara itu, Pasar Soreang timbulannya lebih tinggi dibandingkan dengan Pasar Majalaya. Hal ini disebabkan aktifitas perdagangan Pasar Soreang lebih tinggi dibandingkan dengan Pasar Majalaya. Banyak faktor yang menjadi penentu besar kecilnya timbulan sampah pasar diantaranya yaitu sumber komoditas perdagangan dan jumlah itu sendiri. Komoditas perdagangan di Pasar Soreang terutama sayuran, sebagian besar berasal langsung dari produsen sayuran yaitu para petani. Sedangkan di Pasar Majalaya sumber komiditas sebagian besar berasal dari pasar lain yang lebih besar. Komoditas yang berasal dari produsen menimbulkan sampah lebih banyak dibandingkan dengan komoditas yang berasal dari pasar lainnya. Mengingat Pasar Soreang merupakan satu-satunya pasar di Kecamatan tersebut sementara di Majalaya, terdapat dua pasar, dimungkinkan kepadatan pengunjung di Pasar Soreang menjadi lebih tinggi sehingga menghasilkan sampah yang tinggi. Dari sumber timbulan sampah lainnya, terukur aktifitas

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-25

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

industri, sapuan jalan dan rumah sakit menimbulkan sampah cukup besar. Sementara aktifitas penimbul sampah yang paling minim, adalah kantor dan sekolah. Timbulan sampah di Kabupaten Bandung berdasarkan sumber aktifitas perkotaan, dapat dilihat pada Tabel 2.9 dan Gambar 2.6.
Tabel 2.9 Timbulan Sampah Berdasarkan Sumber Aktifitas
Timbulan Sampah (m3/hr) 2008 2009 2015 2020 Rumah Tangga 1.905,7 1.962,5 2.350,6 2.748,1 Pasar 560,5 577,2 691,4 808,3 Komersial 98,1 101,0 121,0 141,4 Kantor 8,4 8,7 10,4 12,1 Sekolah 42,0 43,3 51,9 60,6 Rumah Sakit 47,6 49,1 58,8 68,7 Industri 126,1 129,9 155,6 181,9 Lain-Lain 14,0 14,4 17,3 20,2 Total 2.803 2.886 3.457 4.041 Sumber : Report Studi Timbulan Tahun 2007 Sumber 2025 3.229,8 950,0 166,2 14,2 71,2 80,7 213,7 23,7 4.750 2028 3.567,5 1.049,3 183,6 15,7 78,7 89,2 236,1 26,2 5.246

2.1.3. Karakteristik Sampah


Sebagaimana misi Nasional dalam Pengelolaan sampah yaitu mengurangi timbulan sampah sehingga mampu mengurangi beban pengelolaan, maka selain besarnya timbulan sampah juga harus diketahui karakteristik sampah, sehingga dapat diketahui potensi-potensi yang ada dalam upaya pengurangan timbulan tersebut. Target antara yang semesti dapat dicapai oleh Kabupaten Bandung dalam upaya reduksi sampah adalah penurunan timbulan sampah yang harus dikelola. Saat ini di Kabupaten Bandung selain ada pengelolaan sampah secara formal oleh Dinas Kebersihan, juga berkembang pengelolaan sampah oleh para pelaku informal seperti para Laskar Mandiri (Pemulung), Lapak, bahkan Bandar dan Lapak. Mereka adalah para pelaku informal yang sesungguhnya memberikan kontribusi besar terhadap reduksi beban pengelolaan sampah kota. Disamping

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-26

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

itu, upaya pengomposan yang telah banyak dilakukan di Kabupaten Bandung, juga diperhitungkan sebagai kerangka minimasi timbulan tersebut. Rekapitulasi hasil sampling timbulan sampah di beberapa wilayah di Kabupaten Bandung, baik terhadap permukiman maupun non permukiman, diperlihatkan pada Tabel 2.10 dan Gambar 2.7.
Tabel 2.10 Komposisi Sampah di Kabupaten Bandung
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sumber Organik Plastik Permukiman Kota 57,06 12,24 Perdesaan 85,14 12,57 Kantor 50,89 13,23 Sapuan Jalan 66,29 17,35 Komersil 51,23 23,16 Sekolah 35,80 30,78 Pasar 87,10 7,24 Industri 29,73 24,32 Rumah Sakit 64,31 11,83 Rata-rata Kota 55,30 17,52 Sumber : Report Studi Timbulan Tahun 2007 Komposisi Sampah (%-Berat) Gelas Kertas Logam Kain Kaca B3 11,34 1,31 1,63 3,75 1,18 2,29 0,00 0,00 0,00 0,00 28,19 1,32 0,00 1,98 1,12 16,36 0,00 0,00 0,00 0,00 11,58 0,00 6,67 2,46 0,35 26,39 5,28 0,00 0,53 0,53 5,39 0,05 0,17 0,03 0,01 45,95 0,00 0,00 0,00 0,00 10,00 0,80 0,94 2,40 0,42 19,40 1,10 1,18 1,39 0,45 Lainnya 11,48 0,00 3,26 0,00 4,56 0,70 0,01 0,00 7,87 3,49 Medis 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,41 0,18

Gambar 2.6 Komposisi Sampah di Kabupaten Bandung

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-27

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 2.7 Rata-rata Komposisi Sampah Kota di Kabupaten Bandung

Terlihat bahwa timbulan sampah di Kabupaten Bandung masih didominasi oleh sampah organik, dengan rata-rata kehadiran lebih dari 50%. Hal ini sesuai dengan karakteristik umum sampah di Indonesia. Adapun sampah anorganik yang kehadirannya cukup tinggi adalah sampah plastik dan kertas. Hasil uji komposisi menunjukkan adanya potensi untuk menekan beban pengelolaan bila sampah organik compostable dapat dikomposkan di sumber. Dari observasi di lapangan, diperkirakan 95% sampah organik merupakan sampah organik yang dapat dikomposkan. Potensi bahan baku kompos dan peluang perolehan kompos bila seluruh bahan baku tersebut di komposkan diperlihatkan pada Tabel 2.11.
Tabel 2.11 Potensi Pengomposan Sampah Kab. Bandung
Tahun Timbulan Sampah Organik Potensi Bahan Baku Kompos Potensi Kompos Jadi m3/hr ton/hr m3/hr ton/hr m3/hr ton/hr 2008 1549,8 310,0 1472,3 294,5 441,7 88,3 2010 1643,8 328,8 1561,6 312,3 468,5 93,7 2015 1911,6 382,3 1816,0 363,2 544,8 109,0 2020 2234,8 147,2 2123,1 424,6 636,9 127,4 2025 2626,6 172,7 2495,3 499,1 748,6 149,7 2028 2901,2 580,2 2756,2 551,2 826,9 165,4 Sumber : Buku-2, Report Studi Timbulan dan Karakteristik Sampah, Tahun 2007

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-28

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Upaya pengurangan (reduksi) yang sudah berlangsung sampai saat ini baru merupakan pengurangan akibat pengambilan barang lapak oleh pemulung. Para pemulung melakukan kegiatan pemulungan atas dasar pemenuhan kebutuhan hidup, bukan atas pertimbangan pengurangan beban bagi pengelola sampah. Dari observasi terhadap proses pemulungan barang potensi daur ulang, diperkirakan besarnya pemulungan mencapai 5,6% terhadap timbulan sampah total. Demikian halnya dengan hasil sampling sampah pasar menunjukkan kehadiran sampah organik compostable sebesar lebih dari 85%. Disamping itu karaktersitik kimia sampah organik dari pasar umumnya sangat potensial untuk dikomposkan karena tingginya kehadiran unsur kimia yang diperlukan kehadirannya dalam kompos yaitu C (Carbon), N (Nitrogen), O (Oksigen), P (Phospor). Dengan demikian, sampah pasar seharusnya menjadi prioritas untuk ditangani melalui pengomposan. Potensi sampah organik lainnya yang cukup bersar adalah dari aktifitas sapuan jalan, mencapai 67%. ranting pohon. Kehadirannya banyak didominasi oleh dedaunan dan Sampah rumah sakit pun memiliki kandungan organik cukup

tinggi yaitu mencapai 64%. Adapun potensi daur ulang sampah anorganik, diperkirakan mencapai 32,4% dari timbulan sampah total. Pada tahun 2008, di Kab. Bandung terdapat 181,49 ton/hari bahan potensi daur ulang. Potensi tersebut terdiri atas jenis kertas, mencapai 59,9%, plastik 32,5%, logam 4% dan gelas 3%. Tabel 2.12 berikut menunjukkan potensi daur ulang sampah anorganik di Kab. Bandung.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-29

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Komposisi
Plastik a. Recycable b. Unrecycable Kertas (Recycable) Logam (Recycable) Gelas (Recycable) Total Potensi Daur Ulang Total Timbulan Sampah

Tabel 2.12 Potensi Daur Ulang Sampah di Kabupaten Bandung Berat Sampah (Ton/hr) 2008 2010 2015 2020
58.92 39.28 108.74 6.04 7.79 181.49 561 62.49 41.66 115.33 6.41 8.26 192.50 595 72.68 48.45 134.12 7.45 9.61 223.86 691 84.96 56.64 156.80 8.71 11.23 261.72 808

2025
99.86 66.57 184.29 10.24 13.20 307.59 950

2028
110.30 73.53 203.56 11.31 14.58 339.76 1049

Sumber : Buku-2, Report Studi Timbulan dan Karakteristik Tahun 2007.

Proporsi masing-masing bahan potensi daur ulang diperlihatkan pada Gambar 2.8 berikut ini.

Gambar 2.8 Potensi Daur Ulang Sampah Anorganik

Sampah dari aktifitas komersial, industri dan institusi, diperkirakan memiliki potensi barang layak daur lebih tinggi. Dengan demikian potensi reduksi beban pengelolaan dapat dilakukan dengan mendorong para pemilik untuk mendaur ulang sampah anorganik tersebut.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-30

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Sementara itu sampah yang bersumber dari aktifitas rumah sakit, dibedakan antara sampah domestik dari aktifitas rumah tangga atau dari dapur dan kantin di dalam rumah sakit dan dari aktifitas medis. Pada saat ini Dinas Kebersihan melayani pengangkutan sampah dari rumah sakit. Seharusnya sampah yang boleh diangkut ke TPA adalah sampah domestik non B3 (bahan beracun berbahaya) atau non infectious. Dari pemantauan lapangan ditemukan bahwa sampah rumah sakit yang diangkut ke TPA ternyata masih bercampur antara sampah domestik dengan sampah klinis seperti jarum suntik, dan bekas perban operasi. Dengan demikian sampah dari rumah sakit tersebut sudah bercampur dengan B3. Kondisi sampah yang masih bercampur tersebut sangat dikhawatirkan bila sampah medis tersebut akan menyebabkan pemaparan penyakit pada petugas dan pemulung yang berada di TPA. Hal ini perlu diperbaiki dengan cara melarang pihak rumah sakit untuk menyatukan sampah medis pada sampah domestik yang akan diangkut ke TPA. Dalam hal ini sampah medis seharusnya dibakar terlebih dahulu dalam insinerator, selanjutnya sisa abu dibuang ke TPA. Upaya reduksi sampah dari rumah sakit dilakukan oleh para pemulung setempat. Sampah-sampah yang didaur ulang tersebut antara lain bekas botol infus, botol bekas obat suntikan, suntikan dan jarum suntik. Berdasarkan studi timbulan dan karakteristik yang telah dilakukan,

direkomendasikan beberapa hal berikut dalam upaya pengolahan sampah sesuai dengan hasil yang diperoleh : Besarnya kuantitas timbulan sampah di Kabupaten Bandung (2,81 liter/orang/hari atau 0,45 kg/orang/hari), hampir setara dengan karakter Kota Besar, diperlukan kebijakan yang mengarah pada upaya minimasi sampah di sumbernya. Pola pemilahan sejak dari sumbernya perlu segera dilaksanakan, dan dioperasikan secara konsisten dari hulu ke hilir.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-31

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pelaksanaan pemilahan dapat menerapkan pola 2 kompartemen yaitu Organik Anorganik. Pemilahan Sampah khusus seperti B3 RT selayaknya diperkenalkan sejak awal namun bertahap penerapannya, mengingat timbulan sampah ini terukur sangat kecil. Khusus untuk Rumah Sakit, pemilahan sampah harus dilakukan dengan pola 4 kompartemen yaitu : organik anorganik B3 RT Infectious. Masih adanya sampah medis yang tercampur ke dalam sampah domestik selayaknya menjadi perhatian dalam kebijakan pengelolaan sampah umum dan limbah B3. Upaya minimasi sampah tertimbun di TPA perlu segera dilaksanakan dengan melaksanakan pengomposan di perdesaan dan juga di perkotaan terutama untuk sampah yang bersumber dari permukiman, pasar, dan rumah sakit. Masih tingginya Kadar Air sampah di Kabupaten Bandung, yaitu lebih dari 60%, maka sistem operasi yang mengandalkan sistem kompaksi, tidak dianjurkan. Sampah anorganik yang berpotensi adalah kertas dan plastik. Dari keduanya plastik memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dari lainnya. Kehadiran sampah plastik yang tinggi sebaiknya diantisipasi melalui daur ulang. Demikian halnya dengan kertas, logam dan gelas. Peluang masuknya investor dengan teknologi pilihan PLTSa selayaknya diintegrasikan dengan upaya pengomposan, mengingat PLSTa menghasilkan panas yang bermanfaat untuk membantu proses pengomposan, sedangkan pengomposan memproduksi residu kompos yang memiliki kalor bakar yang lebih baik dari sampah itu sendiri.

2. 2

Tingkat Pelayanan

Banyak pendekatan yang dapat dikembangkan untuk mengukur efektifitas pengelolaan sampah perkotaan. Paramater yang paling umum dipergunakan adalah Tingkat Pelayanan sistem terhadap penduduk. Mengingat selama ini orientasi pelayanan Dinas Kebersihan adalah terhadap aktifitas penduduk di perkotaan, maka Tingkat Pelayanan di peroleh dengan membandingkan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-32

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

besarnya penduduk terlayani terhadap jumlah penduduk di wilayah perkotaan (hanya 32% penduduk total).

Tingkat pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung saat ini mencapai 20,8%. Angka ini diperoleh dari operasi pengangkutan terhadap 22 Kecamatan yaitu mencapai 567m3 / hari dengan penduduk terlayani mencapai 201.411 jiwa. untuk lebih jelasnya, tingkat pelayanan Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung dapat dilihat pada Tabel 2.13.
Tabel 2.13 Tingkat Pelayanan Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung
Wilayah I II III Penduduk Jiwa 233.322 393.958 341.434 Penduduk Terlayani Jiwa 65.082 57.299 79.030 Sampah Terangkut (m3/hr) 182,9 162,5 222,1 27,8% 10,9% 23,1% 20,8% Tingk. Pelayanan Tingk. Pelayanan Kota

567 Jumlah Sumber : Kompilasi Tabel 12 Tabel 15, Buku-1.

968.715

201.411

Observasi di lapangan menginformasikan bahwa sampai saat ini masih banyak warga yang memiliki kebiasaan membuang sampah ke sungai atau selokan, dan membuang sampah di lahan kosong terlantar. Hal ini mencerminkan bahwa tingkat pelayanan pengelolaan sampah pada warga Kabupaten Bandung belum optimal.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-33

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Kebiasaan membuang sampah ke sungai ini dapat disebabkan oleh beberapa hal : Rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap akibatnya tidak dirasakan oleh mereka sendiri. Jalan terlalu sempit sehingga tidak masuk gerobak pengumpul, akibatnya masyarakat harus berjalan jauh ke TPS pengumpul. Daripada harus berjalan jauh ke TPS pengumpul, mereka memilih membuang sampah ke selokan atau sungai terdekat dari mereka Rendahnya kesadaran dan perhatian aparat kelurahan/RW terhadap pengelolaan sampah. Bila pihak kelurahan atau RW tidak peduli untuk menyediakan TPS atau gerobak bagi para warganya, maka warga akan mencari cara paling mudah untuk membuang sampahnya yaitu ke sungai atau selokan Kurangnya penerangan mengenai pengelolaan sampah yang benar kepada masyarakat. Lemahnya pemantauan dan penerapan sanksi bagi masyarakat yang memiliki kebiasaan buruk. akibat pembuangan sampah ke sungai. Hal ini dapat disebabkan karena

Sementara itu di daerah perdesaan, ternyata masalah sampah kini sesungguhnya sudah mulai mendesak. Belum mendukungnya sikap warga, walau mereka sudah tahu caracara mengelola sampah dengan benar, menyebabkan kebiasaan membuang sampah ke pekarangan masih sangat membudaya. Sepuluh tahun ke belakang sangat dimungkinkan komposisi sampah yang sulit terdekomposisi masih rendah, sehingga tumpukan sampah cepat hilang. Permasalahannya, saat ini di pedesaan pun komposisi seperti sampah yang sulit terdekomposisi plastik, mulai banyak

sehingga tumpukan samah di sembarang tempat memerlukan waktu lama

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-34

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

untuk bisa tidak terlihat oleh pandangan mata. terlihat suasana kotor terkesan jorok dan kumuh.

Akhirnya, obervasi ke

beberapa desa membuktikan bahwa di wilayah perdesaan pun sudah sering

2 .3

Analisis Efisiensi Operasional Pengelolaan Sampah

Analisis efisiensi dilakukan secara kuantitatif yaitu dengan menghitung rasio perbandingan antara beban pelayanan dengan sarana dan prasarana yang dipergunakan dalam pelayanan. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat efisiensi yang dicapai, dilakukan perbandingan terhadap standar yang berlaku. Dalam hal ini dipergunakan standar SNI-03-3242-1994 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman dan SNI SNI 19-2454-2002 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah Perkotaan. Adapun penilaian secara kualitatif dilakukan dengan menilai hasil kerja yang diukur berdasarkan tingkat kebersihan di wilayah pelayanan dan di titik-titik sarana prasarana. Kajian terhadap kondisi eksisting menunjukkan sistem operasi pengelolaan sampah untuk setiap aktifitas perkotaan di Kabupaten Bandung, diperlihatkan pada Gambar 2.9.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-35

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 2.9 Sistem Operasi Pengelolaan Sampah Untuk Setiap Aktifitas Perkotaan di Kabupaten Bandung
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-36

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

2.3.1. Operasi Pengumpulan


Dari Gambar 2.9 di atas, operasi pengumpulan sampah yang dijalankan di Kab. Bandung dibedakan atas 4 pola operasi pengumpulan yaitu : Individual Langsung (Door to Door), Individual Tidak Langsung, Komunal Langsung dan Komunal Tidak langsung. Pola individual langsung (door to door) dimana sampah dari sumber sampah dikumpulkan, dan langsung diangkut oleh kendaraan pengangkut sampah ke TPA. Lokasi yang menggunakan sistem ini diantaranya adalah kawasan industri, kawasan perkantoran, komersil dan permukiman terutama permukiman teratur/real estate. Pola ini terhitung sangat banyak di terapkan, saat ini ada 71 titik yang dilayani dengan sistem ini. Menurut Dinas Kebersihan pola ini dijalankan di wilayah yang tidak bisa menyediakan sarana TPS. Namun demikian, berdasarkan observasi, waktu operasi pola ini memakan waktu cukup lama untuk setiap wilayah pelayanan. Sebagai contoh observasi di sebuah area perumahan yang dilayani secara Door to door, terukur waktu operasional selama 5 jam 31 menit 1 detik. pastikan pola door to door hanya bisa dijalankan 1 rit dalam sehari. (Lihat Tabel berikut). Apabila jam kerja TPA dibatasi hanya 8 jam perhari, di

Gambar 2.10 Pola Operasional Individual Langsung

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-37

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.14 Waktu Operasi Pola Pengumpulan Door to Door Ritasi Pengumpulan Waktu Pengumpulan Sampah (Dari Ke) (Menit) Pool Area pelayanan 42 menit 29 detik Rata-rata Pengumpulan 3 menit 5 detik / titik pelayanan Pengangkutan ke TPA 56 menit 47 detik Total Per Rit 4 Jam 8 menit 30 detik, untuk 50 titik pelayanan Operasi di TPA 36 menit 50 detik Perjalanan Pulang 45 menit 41 detik Total Waktu Operasi 5 Jam 31 menit 1 detik
Sumber : Observasi lapangan, lihat Lampiran

Di dalam SNI 19-2454-2002, mengenai Tata Cara Teknik Operasional bagi Pengelolaan permukiman di Sampah jalan Perkotaan, di sebutkan pola individual langsung diperuntukan memadai. protokol dan kondisi serta kesediaan alat sudah Pola ini juga di khususnya bagi daerah yang memiliki kondisi jalan yang tidak layak untuk alat/kendaraan kecil. Inefisiensi dimungkinkan akan terjadi bila pola ini diterapkan pada permukiman umum yang tidak memenuhi kriteria di atas. Pelaksanaan door to door yang terjadi di Kab. Bandung berjalan tidaklah optimal, karena pada proses operasionalnya selain memerlukan minimal 3(tiga) orang petugas dan juga menggunakan 1(satu) unit kendaraan besar (jenis dump truk) juga membutuhkan waktu yang panjang. Selain itu, dari segi pelayanan jenis operasional ini hanya mampu melayani 1 rit/hari. Padahal dengan kapasitas tersebut seharusnya bisa melayani 2-3 rit/harinya. Berikut ini Evaluasi Kinerja dengan pola Door to door diperlihatkan pada Tabel 2.15.
Tabel 2.15 Evaluasi Kinerja Pola Operasi Door to Door / Individual Langsung SNI 19-2454-2002 Pelaksanaan di Kab. Bandung Karakteristik Wilayah : Jalan bergelombang (>15-40%) Permukiman teratur / Kompleks Real Sulit dijangkau kendaraan non mesin estate Perumahan di Jalan Protokol Timbulan Sampah > 0,3 m3/hari 0,2 0,25 m3/hari Kondisi dan jumlah alat memadai Jumlah kendaraan angkut 69 Unit, Untuk pengangkutan 567 m3/hari. Beban Kerja : 8,2 m3/unit/hari

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-38

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pola operasional individual tidak langsung, yaitu pengumpulan dari sumber oleh gerobak, dibawa ke TPS dan diangkut ke TPA oleh kendaraan untuk pengangkutan. daerah Pola dengan operasi tingkat individual tidak langsung dalam SNI ditetapkan melayani partisipasi masyarakat yang rendah namun tersedia lahan untuk TPS. Pada pola ini terdapat dua jenis kendaraan pengumpulan yang umum dipergunakan yaitu : 1. Gerobak besar volume (1-1,5) m3 , kapasitas kerja 3 RW/gerobak atau 800 KK/ gerobak, dengan frekuensi 3 rit/minggu (2-3 hari sekali). 2. Gerobak kecil volume (0,2 0,3) m3, kapasitas kerja 8 KK/gerobak, dengan frekuensi 6 rit/minggu. Standar yang harus terpenuhi terhadap sarana

pengumpul berupa gerobak menurut SNI adalah setiap satu gerobak volume 1 m3 disiapkan untuk melayani 800 jiwa atau 200 KK. Dengan demikian, kendaraan pengumpul di Kab. Bandung umumnya berada pada kapasitas kerja yang melampaui kapasitas optimal (Beban Tinggi).

Gambar 2.11 Pola Pengangkutan Sistem Individual Tidak Langsung

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-39

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Keberadaan lahan untuk TPS merupakan faktor penentu efektifitas kerja pola ini. Tipe TPS pada pola ini adalah TPS yang dilengkapi dengan container, baik berlandasan atau pun tidak. masyarakat sementara lahan untuk TPS masih belum Pada kondisi dimana partisipasi pasif, tersedia,

dilakukan pola operasi TPS Bayangan, atau TPS non permanen, dimana tidak terdapat bangunan khusus untuk TPS melainkan hanya berupa area tempat pertemuan gerobak dengan truk pengangkut. Berikut ini adalah lokasi operasi pola individual tidak langsung, tanpa adanya TPS, yaitu di Protokol Banjaran dan Protokol Soreang. Dari sisi kemudahan operasi terukur pola ini sangat memudahkan pihak pengelola, karena tidak diperlukan adanya lokasi TPS permanen. Terlebih kendala pengadaan lahan sering menjadi alasan utama. Hal ini tentunya akan mengurangi kebutuhan biaya tidak pengadaan lagi tepat sarana. untuk Namun demikian, dari aspek efektifitas pola diterapkan terlebih bila proses pemindahan dilakukan di daerah komersil atau di jalan protokol. Seperti layaknya di Kopo Sayati dan Protokol Banjaran, dinilai sudah sangat tidak layak. Pada kasus di kedua lokasi ini selayaknya pihak pengelola terus mengupayakan pencarian lahan untuk TPS permanen, resiko adanya kebutuhan biaya pengadaan sarana yang tinggi selayaknya sudah menjadi konsekuensi yang harus diterima. Kendala utama pola ini selain estetika dan kenyamanan penduduk, adalah masalah waktu operasi. Mengingat biasanya lokasi pengumpulan berada di daerah komersil dan protokol, selayaknya pola ini dijalankan di malam hari.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-40

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Namun, pada umumnya para petugas pengumpul gerobak, tidak bersedia bekerja malam hari, disamping itu TPA pun tidak dioperasikan di waktu malam. Waktu operasi pagi atau siang ini sering menimbulkan gangguan lalu lintas. Mengacu pada Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 31 Tahun 2000 tentang Kebersihan, Keindahan, Ketertiban dan Kesehatan Lingkungan, diatur bahwa : a. Pengumpulan sampah dari rumah tinggal ke TPS dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk oleh RT/RW b. Jika tidak ada petugas RT/RW maka pengumpulan dapat dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan atas permintaan RT/RW yang bersangkutan Ketetapan dalam Perda ini menunjukkan adanya pola Bagi Peran dalam pengelolaan sampah antara Pemerintah dan Masyarakat di tingkat Kecamatan. Pola operasi individual tidak langsung merupakan metoda yang cukup tepat untuk terapkan di beberapa wilayah di Kab. Bandung, terutama pada Kecamatan yang termasuk pada kategori pelayanan kritis atau kepadatan tinggi. Penerapan pola ini di daerah padat penduduk, perlu pembinaan bagi masyarakat untuk bisa tertib buang sampah di TPS secara individual. Pola operasi Komunal langsung, yaitu penimbul sampah mengumpulkan

sampahnya sendiri ke suatu tempat (bak atau lahan terbuka), sampah yang terkumpul akan diangkut oleh Dinas Kebersihan pada waktu tertentu. Pola ini dilaksanakan di wilayah dengan ketersediaan lahan TPS, dengan partisipasi masyarakat yang cukup tinggi. Efisiensi kerja dari pola ini sangat tergantung dari operasi pengangkutannya (Pembahasan lihat sub bab 2.3.4). Semakin tinggi frekuensi pengangkutan sampah di lokasi komunal tersebut akan menjamin kondisi kebersihan di lingkungan TPS tersebut. Yang sering terjadi adalah frekuensi pengangkutan sangat jarang terkesan, sehingga sampah tersimpan terlalu lama.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-41

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 2.12 Pola Pengangkutan Komunal Langsung (Bring System)

2.3.2. Penyapuan Jalan


Merupakan hal penting memperhatikan praktek operasi penyapuan jalan di suatu kota, mengingat penyapuan jalan sangat menentukan pemandangan kota tersebut secara umum. Penyapuan jalan sangat diperlukan terutama di jalur utama dan di pusat kota serta di daerah komersil. Saat ini operasi penyapuan jalan di Kabupaten Bandung secara intensif baru melayani dua ruas jalan utama yaitu Jalan Alfatu dan Jalan Soreang. Kedua jalur utama ini merupakan prioritas disebabkan adalah jalan utama dan protokol. Operasi penyapuan dilakukan secara manual dengan jumlah total petugas penyapu jalan 5 orang. Sampah hasil sapuan dibawa gerobak ke lokasi TPS terdekat, selanjutnya diangkut ke TPA. Melihat dari jam kerja (2 jam per hari) dan jumlah tenaga kerja (5 orang) yang dikerahkan untuk menyapu kedua jalur tersebut, terukur sudah cukup baik walau belum bisa di katakan optimal. Selayaknya untuk operasi manual, dengan 2 jam kerja, tenaga berjumlah 3 orang, dengan proporsi seorang menarik gerobak, 2 orang menyapu jalan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-42

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.16
Evaluasi Kinerja Pola Operasi Penyapuan Jalan

Pola Operasi Kendaraan Pengumpul

Kondisi Eksisting Manual Gerobak

Tenaga Kerja

Jalan protokol 5 orang, 2 jalur jalan

Waktu kerja

2 jam, 2 jalur jalan

Standard Manual di permukiman dan daerah komersil. Mekanik di jalan protokol Manual, kendaraan bermotor, kapasitas kecil (Motor sampah / Bajaj Sampah) Mekanik, kendaraan penyapuan Manual : 3 orang per jalur penyapuan Mekanik : 1 orang per kendaraan Manual : 2 jam, 1 jalur Mekanik : 1 kendaraan per 2 km Mesin, 6 jam/hari

Di beberapa wilayah seperti Kopo Sayati Margahayu, Banjaran, Majalaya dan Katapang, penyapuan dilakukan oleh petugas gerobak sampah. Operasi penyapuan dilakukan ketika petugas menarik sampah ke lokasi TPS. Selain memperhatikan operasi penyapuan yang benar, keselamatan kerja dan kesehatan petugas juga perlu diperhatikan. Sebaiknya petugas diberi perlengkapan yang memadai untuk kemudahan pekerjaannya seperti alat bantu untuk memudahkan pekerjaannya. Petugas penyapu sebaiknya menggunakan masker pada saat bekerja untuk menyaring debu agar tidak mengganggu kesehatannya. Pada musim hujan sebaiknya petugas diberi jas hujan, demi kesehatan dan kelancaran tugasnya. Dari hasil sampling, diketahui bahwa komposisi sampah organik dari sampah sapuan jalan adalah 66 %. Hal ini menjadi sebuah potensi dalam pengolahan. Sampah sapuan jalan yang umumnya organik ini harus dipilah antara sampah kering dengan sampah basah. Sampah basahnya dapat langsung dikumpulkan untuk diangkut ke tempat pengomposan, sedangkan sampah keringnya diangkut ke TPA.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-43

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pola operasi pengumpulan yang dilakukan saat ini sudah tepat, yaitu sampah di kumpulkan dengan gerobak ke TPS terdekat. Namun untuk mempercepat operasi, sehingga dapat meningkatkan kapasitas, penggantian kendaraan pengumpul yang semula gerobak, menjadi kendaraan kecil seperti motor sampah atau bajaj sampah. Pola operasi seperti ini baik untuk terus dilaksanakan, namun tujuan lokasinya adalah lokasi pengomposan terdekat.

Gambar 2.13 Pola Pelayanan Penyapuan Jalan di Kabupaten Bandung

2.3.3. Operasi Pemindahan


Yang dimaksud dengan operasi pemindahan adalah proses pengalihan sampah dari alat dan atau sarana pengumpulan ke alat dan atau sarana pemindahan. Dengan demikian, proses pemindahan terjadi pada pola operasi tidak langsung, di sebuah lokasi TPS (Tempat Penampungan Sementara). Saat ini di Kabupaten Bandung, dari seluruh TPS yang ada, dapat dikategorikan sebagai berikut : (1) TPS dengan container yang diberi landasan (TPS-LC), 15 titik. (2) TPS dengan container tanpa landasan (TPS C), 8 titik. (3) TPS bak pasangan bata (TPS Bak), 20 titik. (4) TPS darurat, di atas lahan tanpa prasarana (TPS Darurat), 14 titik.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-44

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Dari keempat bentuk fisik TPS tersebut, TPA jenis Landasan Container yang masih layak dipertahankan, sedangkan ketiga bentuk lainnya, selayaknya segera diperbaiki. Kesulitan utama dalam pengadaaan TPS umumnya ada pada pengadaan lahan, akan tetapi kendala ini bisa diatas dengan koordinasi dengan berbagai pihak dan antar Dinas di dalam lingkungan Pemerintah Daerah. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, operasi pemindahan sampah, belum baik diukur dari hal-hal berikut ini : o Proses pemindahan dari Gerobak ke TPS, umumnya dituang begitu saja, dengan bantuan seorang atau dua orang petugas yang hanya dilengkapi dengan sebuah singkup. Pada operasi ini kendala utama yang dihadapi adalah adanya kontak antara petugas dengan sampah yang relatif lama. o Untuk pemindahan dari TPS dengan kontainer dilakukan langsung dengan menukar kontainer isi dengan yang kosong. Permasalahan yang sering dihadapi adalah Sampah meluap dari kontainer sehingga banyak sampah yang tercecer di pelataran Untuk membersihkan TPS sering petugas harus menumpuk sampah ke dalam kontainer sehingga sering terjadi pemadatan yang berlebih. o Untuk pemindahan dari TPS berbentuk bak atau pelataran, dilakukan secara manual oleh satu atau dua orang petugas dengan sebuah singkup. Waktu operasi pemuatan relatif lama, Waktu kontak antara sampah dengan petugas panjang. Pembongkaran hanya dilakukan seorang atau dua orang petugas dengan sebuah singkup. Banyak sampah yang berceceran dan berserakan di pelataran TPS . o Permasalahan krusial lain dalam operasi pemindahan adalah operasi pemindahan sistem tidak langsung tanpa TPS yang dilakukan di Kopo Sayati dan Protokol Banjaran. Pada operasi ini kendala teknis pada

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-45

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

dasarnya sama dengan kedua pola operasi di atas, bahkan lebih kritis yaitu : Walaupun waktu datangnya kendaraan angkut sudah ditetapkan, akan tetapi sering gerobak yang telah berisi sampah menunggu lama, dan mengganggu jalan serta estetika Proses pemindahan sangat manual, sehingga waktu yang diperlukan untuk memuat sampah ke dalam kendaraan angkut, relatif sangat lama (lebih dari 2 jam). Sebersih apa pun petugas setempat membersihkan lokasi, namun kondisi tempat tetap saja nampak kotor sehingga terlihat adanya tapak yang kotor. Dari pengamatan di atas, dapat disimpulkan operasi pemindahan yang dijalankan di wilayah kerja Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung sangat tidak efisien dalam penggunaan tenaga dan waktu serta pembenahan model operasi pemindahan. Salah satu alternatif untuk mengatasi

permasalahan dalam operasi pemindahan ini adalah pengembangan TPS menjadi sebuah transfer depo model Ram, dimana para penarik gerobak datang di transfer depo sebelum dump truk. Pada saat dump truk datang, mereka secara bergilir memasukan sampah dengan cara menuangkan isi gerobak ke dalam bak truk. Cara seperti ini akan menghemat penggunaan waktu dan tenaga untuk pemindahan sehingga ritasi pengumpulan dan pengangkutan dapat ditingkatkan. Bila transfer depo model Ram belum dapat dibuat, maka penarik gerobak tetap datang di transfer depo sebelum dump truk datang, dan mereka memasukkan sampahnya ke dalam karung untuk memudahkan pemindahan sampah ke dalam dump truk. Dengan cara demikian, maka dump truk tidak perlu parkir telalu lama di transfer depo, sehingga diperoleh efisiensi waktu pengangkutan. Dengan demikian ritasinya dapat ditingkatkan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-46

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Dalam upaya pengembangan sistem dengan paradigma 3R, yaitu minimasi sampah ke TPA dengan pengomposan dan daur ulang, TPS selayaknya dikembangkan menjadi pusat pengelolaan sampah skala kelurahan, dengan inti proses adalah pengomposan. Dengan demikian, TPS merupakan tempat pemindahan sampah anorganik saja, sampah organik tidak lagi dipindahkan melainkan langsung dikomposkan di lokasi TPS tersebut. Ada kalanya di TPS tidak memungkinkan dikembangkan operasi

pengomposan, maka TPS berfungsi sebagai lokasi pemindahan kedua jenis sampah ini dengan pola sampah terpilah, sehingga sarana prasarananya pun harus disediakan sedemikian rupa. Container terpilah antara organik dan anorganik harus sudah dipertimbangkan keberadaannya.

2.3.4. Operasi Pengangkutan


Faktor yang mempegaruhi kinerja operasi pengangkutan adalah : (1) Jarak titik akhir pengumpulan terhadap TPA, (2) Model kendaraan angkut dan kondisi fisiknya, (3) Kondisi jalan baik kepadatan arus lalu lintas maupun kualitas jalan yang dilaluinya. Melihat luasnya area administrasi di setiap Kecamatan yang ada dalam wilayah pelayanan dan dengan hanya ada satu lokasi TPA, yaitu di Desa Babakan, Kecamatan Argasari, dapat dipastikan jarak antara lokasi pengumpulan ke TPA sangat jauh. Lokasi TPA Babakan itu sendiri berjarak kurang lebih 12 km dari jalan raya. Sebagai contoh, jarak dari Soreang dimana jaraknya relatif masih dekat, jarak ke TPA terukur 30 km. Bila melihat cara operasional pengangkutan yang ada, maka kinerja pengangkutan sampah Kabupaten Bandung masih perlu ditingkatkan lagi, terutama untuk menghemat waktu pengangkutan agar ritasi dapat dioptimumkan. Optimasi ritasi

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-47

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

armada pengangkut ini perlu dilakukan dengan meninjau ulang praktek pemindahan dan rute pengangkutan. Cara pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan sampah yang dijalankan di Kabupaten Bandung, terukur jumlah waktu yang sangat panjang mencapai 8 Jam 59 menit, untuk sistem tidak langsung tanpa keberadaan TPSS, serti di Kopo Sayati. Untuk sistem langsung (door to door), observasi di wilayah Gading Tutuka menunjukkan waktu operasional selama 6 jam 56 menit. (Lihat Tabel 2.17)
Tabel 2.17 Perbadingan Waktu Operasi Pengumpulan dan Pengangkutan Sistem Tidak Langsung Sistem Langsung Tahap Operasi Waktu Tahap Waktu (menit) Operasi (menit) Persiapan Administrasi 14,42 6,42 Bergerak dari Pool ke TPS 46,4 42,8 Pemindahan Dari Gerobak ke 246,37 197,33 Kontainer Persiapan keberangkatan ke 8,16 9,77 TPA Waktu Pemindahan 315,35 Pengumpulan 256,32 Pengangkutan ke TPA 110,48 56,78 Waktu masuk ke TPA 11,48 4,58 Pembongkaran di TPA 0,21 0,53 Waktu Proses di TPA 122,17 61,89 Dari TPA ke Pool 101,05 45,68 TOTAL 538,57 TOTAL 363,89 atau Atau 6 jam 8 jam 59 56 menit menit Sumber : Hasil Pengukuran di Lapangan, 2007 *) Keterangan Titik Sampling: 1. Lokasi Sistem Langsung : Wilayah protokol Banjaran dan sekitarnya (Wilayah II) 2. Lokasi Sisitem tidak Langsung TPS Jl. Alfathu-soreang, dan TPS Kopo Sayati. (Wilayah I)

Berdasarkan data di atas dapat diperkirakan bahwa dalam satu hari, untuk sistem langsung maupun tidak langsung hanya bisa menjalankan operasi satu kali jalan (1 rit/hari/kendaraan). Hal ini menyebabkan kebutuhan jumlah

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-48

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

kendaraan yang lebih besar untuk mencapai tingkat pengangkutan yang lebih tinggi. Alasan lain kurang efisiennya operasi pengangkutan sampah yang dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan, adalah : Terpusatnya Pool Kendaraan di satu titik yaitu di Kantor Dinas Kebersihan, yang terletak di Jl. Raya Banjaran-Soreang Km 3, sementara wilayah pelayanan sangat luas sebarannya. Berdasarkan pengukuran di peta, centroid wilayah saat ini berpusat di Soreang, jarak dari Pool ke titik centroid 10 km, sedangkan dari centroid ke TPA Babakan adalah 33 km. Gambaran jarak pool kendaraan pengangkut, titik centroid pelayanan dan TPA di Kabupaten Bandung, dapat dilihat pada Gambar 2.14.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-49

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


7400 00 7600 00 780 000 80 0000 82 0000

Gambar 2.14
PETA SEBARA N S AR ANA PERSAMPAH AN KA BU PATEN BAND UNG

N
9260000

CIKAL ONG W ETAN CIPEU NDEUY

9260000

W S

SKALA 1 : 2 00.00 0

# W ' Y

CIS AR UA

PARONGP ONG

a %

# Y% a
CIP ATAT PA DALA RANG

# Y a %

LEMBAN G

W '

Kilo meters

9240000

TPA Sarimukti

BA TUJA JAR

# a% % Y a %# a Y Y a # % a % a % AM P RAH aNG % a % % a % a % a % a a # % Ya a % % a %

# Y a # Y% TPA Pasir Buluh a % a %


CIM EU NYA N CILENGKRANG

a % a %

a %
#

DTD PEN GOMPOSAN PO OL KENDARAAN TPA TPSS BATAS KABUPATEN

9240000

CIP ONGK OR

TPA Wilayah Barat TPA Leuwigajah


CILILIN

a % % a a %
MARGAASIH

CILEUN YI

a %

RONGG A

% a a % a % # Y a# % a % a a % % # KOL OT a DAYEUH # a Y% % a % Y a % % # a Y MARGAHAYU # a % Y # Y a % a % # Y a % # Y


PAME UN G PE UK

W '
CICA LENG KA # Y # Y

a% % a a %
RAN CA EK EK BOJONG SOANG

#
SIN DA NG KERTA
9220000

KA TA PA NG

# Y % a a % # a Y Y #% # Y # Y a %

# Y

Centroid WP III a %
SOL OKA N JE RU K CIPAR AY

Y #
9220000

SO RE ANG

GU NUN G HALU

a # Y# # Y Y % # Y Y # a % % a

BALEE NDA H

# Y # # Y Y a %
BA NJARAN

a % a %
ARJAS AR I

a % % # a Y #
MA JAL AY A

CIKAC UNG

NAGR EG

BATAS KECAMATAN BATAS KOTA

a %

CIW IDE Y

# Y
CIM AU NG

Centroid WP II

W '

# Y TPA Legok Nangka


IBU N

PA SEH

JALAN KERETA API JALAN LOKAL

Centroid WP I TPA Babakan


RAN CA BALI
9200000

PACET

TPA Wilayah Timur


9200000

JALAN NASION AL JALAN UTAMA SU NGAI

# Y
PA SIRJAMBU PANGA LE NGA N

# Y

KEG IAT AN PENYU SUNAN KE BIJAK AN MA NAJEMEN PENGE LOLA AN PERSA MPAHAN DI K ABUPA TEN BAN DUNG
KERTA SAR I

BAPEDA BAPPED A KABUPATEN KABU PATEN BANDU NG BANDUNG


9180000
9180000

7400 00

7600 00

780 000

80 0000

82 0000

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-50

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Berdasarkan observasi dan data operasi pengangkutan di Dinas Kebersihan, diperoleh data pengangkutan seperti pada Tabel 2.18. Dari data tersebut, dan dibandingkan terhadap beban timbulan sampah di seluruh kota, maka Tingkat Pengangkutan sampah di Kabupaten Bandung saat ini baru mencapai 20,8%, sejalan dengan tingkat pelayanan, dimana volume timbulan terangkut mencapai 567 m3/hari, dari total timbulan 2.722 m3/hari.
Tabel 2.18 Tingkat Pengangkutan Sampah di Kabupaten Bandung
Wilayah Sampah Terangkut (m3/hr) I II III 205 140 222 Tot. Timbulan Kota (m3/hr) 896 867 959 22,9% 16,2% 23,1% 20,8% Tingk. Pengangkutan Total Tingk. Pengangkutan Kota

Jumlah 567 2722 Sumber : Hasil Observasi dan Perhitungan Tahun 2007

Kapasitas angkut Kendaraan angkut yang dioperasikan di Kab. Bandung saat ini dapat dilihat pada Tabel 2.19.
Tabel 2.19 Kapasitas Angkut Sampah Eksisting No. 1 2 3 Jenis Sarana Dump Truck Arm Roll Arm Roll Volume (m3) 6 10 6 Jumlah (unit) 31 5 16 Kapasitas Angkut/unit (m3) 9.6 16 9.6 Total (m3) 298 80 154 532 Keterangan : Faktor Pemadatan 1,6 Catatan : Prasarana eksisting tidak termasuk Aset Bandung Barat

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-51

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Data

dari

Dinas

Kebersihan,

rata-rata

frekuensi

pengangkutan

mencapai 2 rit/unit/hari, dengan tingkat pemadatan 1,6 di dalam alat angkut, maka akan diperoleh kapasitas maksimum 532 m3/hari. Saat ini sampah terangkut mencapai 567 m3/hari, dengan kata lain kapasitas angkut kendaraan telah melampaui kapasitas maksimumnya.

Dengan demikian jumlah armada pengangkutan harus ditambah sehingga pengangkutan sampah dapat ditingkatkan.

2.3.5. Operasi Pengolahan


Sampai akhir Tahun 2007, Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung belum menjalankan pengolahan. Akhir tahun 2007, pengomposan di TPA Babakan baru dijalankan dan masih atas tersendat-sendat. dengan Sementara PLN pun itu PLTSa akan yang dikembangkan kerjasama baru dimulai

pembangunannya pada Tahun 2008. Namun demikian, bila sektor informal dengan aktifitas pengumpulan sampah potensi daur ulang dapat diperhitungkan sebagai kegiatan pengolahan oleh sektor informal, maka diperkirakan saat ini baru mencapai 8% terhadap timbulan desa, atau 3,4% terhadap Potensi Daur Ulang dari timbulan total. Dengan demikian, kegiatan perolehan kembali bahan potensi daur ulang oleh sistem informal memberikan kontribusi reduksi beban penimbunan sampah di TPA sebesar 1,48%. Dari hasil studi timbulan, terukur potensi bahan daur ulang sampah anorganik di Kabupaten Bandung yang tinggi adalah kertas (19,4%) dan plastik (17,52%). Namun demikian, observasi di lapangan memperlihatkan nilai ekonomis plastik jauh lebih tinggi dari kertas, sehingga daur ulang plastik lebih berkembang dibandingkan kertas. Hal ini menunjukkan bahwa untuk pengembangan daur ulang sampah anorganik di Kabupaten Bandung, selayaknya plastik menjadi prioritas penanganan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-52

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Bila dilakukan pendataan dengan seksama sesungguhnya saat ini di seluruh wilayah Kabupaten Bandung telah banyak inisiatif warga dalam upaya menangani sampah. Umumnya mereka mengembangkan pengelolaan secara komunal, namun sering sekali tidak berlandaskan pada perencanaan yang komprehensif dan akhirnya terhenti. Belum adanya pencatatan yang baik oleh Dinas terhadap lokasi-lokasi swadaya masyarakat ini menyebabkan kinerjanya belum bisa terukur. Terhentinya Unit Pengolahan Sampah (UPS) baik yang dibantu oleh Pemerintah maupun dana dari luar umumnya disebabkan karena masalah pengelolaan bukan masalah teknis. Belum terbangunnya kemampuan masyarakat lokal dalam mengelola sebuah unit produksi baik yang berorientasi bisnis maupun tidak, perlu diperhatikan ketika akan mengembangkan pengolah. Melihat berbagai praktek pengolahan sampah di beberapa kota di Indonesia, Dinas Kebersihan sesungguhnya dapat mengembangkan kemitraan dengan masyarakat dalam hal pengolahan sampah ini. Terbukti, kelompok informal dapat menjalankan berbagai usaha daur ulang dan pengomposan pun lebih baik ketika dikelola oleh masyarakat, dengan catatan dilakukan pemberdayaan secara total. Kemitraan pengelolaan sampah dengan masyarakat dapat berupa pemberian tugas pengelolaan dalam suatu wilayah, dimana kelompok masyarakat diberi insentif. Adapun insentif tersebut dapat berasal dari biaya operasi pengelolaan yang biasanya dikeluarkan oleh Pemerintah, tentunya dengan besaran yang telah direduksi untuk efisiensi. Pada studi timbulan, terukur timbulan sampah di Kab. Bandung masih di dominasi oleh sampah organik. Pengomposan adalah alternatif pengolahan sampah jenis ini.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-53

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 2.20 Potensi Pengomposan Sampah Kab. Bandung


Tahun Timbulan Sampah Organik Potensi Bahan Baku Kompos m3/hr ton/hr m3/hr ton/hr 2008 1549,8 310,0 1472,3 294,5 2010 1643,8 328,8 1561,6 312,3 2015 1911,6 382,3 1816,0 363,2 2020 2234,8 147,2 2123,1 424,6 2025 2626,6 172,7 2495,3 499,1 2028 2901,2 580,2 2756,2 551,2 Sumber : Buku-3, Studi Timbulan dan Karakteristik Sampah Potensi Kompos Jadi m3/hr ton/hr 441,7 88,3 468,5 93,7 544,8 109,0 636,9 127,4 748,6 149,7 826,9 165,4

Terdapat 3 faktor yang perlu diperhatikan dalam pengomposan yaitu : (1) Pelaku pengomposan atau pelaksananya (2) Teknologi pengomposan dan (3) Skala pengomposan Pengomposan dapat dilakukan oleh masyarakat maupun oleh Dinas Kebersihan sendiri. Tinjauan terhadap praktek-praktek pengomposan yang dilakukan di berbagai kota di Indonesia, pengomposan akan lebih efektif dan efisien jika dilakukan dengan pola kemitraan bersama masyarakat atau swasta, tentunya yang perlu diperhatikan adalah mekanisme kemitraannya itu sendiri. Sering terjadi, masyarakat diajak mengomposkan sampah, akan tetapi tidak dikembangkan mekanisme insentifnya, sehingga sering terjadi masyarakat merasa berat dengan biaya operasi pengomposan tersebut. Dalam aspek teknologi pengomposan, banyak alternative yang sudah

dikembangkan dan bahkan teruji di Indonesia. Teknologi pengomposan sudah tersedia mulai dari teknologi sederhana hingga teknologi canggih. Pemilihan teknologi akan ditentukan oleh pelaku pengomposan itu sendiri. Pengomposan yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah kiranya cukup menggunakan metoda sederhana, sedangkan untuk pelaku swasta untuk meningkatkan efisiensi, selayaknya perlu dipilih teknologi tinggi, seperti biodegester. Skala pengomposan seharusnya menjadi perhatian, mengingat hal ini akan menentukan besar kecilnya sarana dan prasarana yang harus dipersiapkan untuk

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-54

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

itu. Melihat besarnya potensi bahan baku kompos, selayaknya di Kabupaten Bandung dikembangkan pengomposan dalam beberapa skala, yaitu : (1) Skala lingkungan, di tingkat RT/RW dengan melibatkan masyarakat (2) Skala kawasan, di tingkat Kelurahan dengan pendekatan kemitraan antara Pemerintah, Masyarakat dan atau Swasta. Pola ini dapat dilakukan di TPS-TPS yang ada. (3) Skala kota, yaitu pengomposan yang dilakukan di TPA, untuk melayani wilayah yang tidak memungkinkan dikembangkannya skala kawasan dan skala lingkungan Cara penanganan sampah lain yang banyak di pakai dalam mengatasi sampah kota adalah pemusnahan dengan pembakaran (incinerasi). Namun demikian, karakteristik sampah Kabupaten Bandung dengan kelembaban dan kandungan organik tinggi menyebabkan Nilai Kalor yang diperoleh masih lebih kecil dari Nilai Kalor yang dibutuhkan yaitu 2000 kkal/kg-BK. Teknologi incinerasi ini dalam implementasinya selain memerlukan biaya tinggi juga memerlukan ketelitian yang tinggi dari pihak pengelola, mengingat dampak dari pembakaran tersebut terhadap lingkungan. Disamping itu, saat ini dengan kehadiran sampah plastik di dalam sampah, merupakan potensi emisi dioksin dari pembakaran dibawah 800oC, dapat diperkirakan bahaya yang mengancam. Karena itu, di dalam perkembangan pengolahan sampah di Indonesia, teknologi pembakaran kurang berkembang. Namun demikian, saat ini banyak ditawarkan teknologi pembakaran sampah yang digabungkan dengan pemanfaatan panas yang dihasilkannya menjadi listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah/PLTSa). Teknologi ini kini menjadi alternatif disebabkan karena peluang perolehan keuntungan dari penghasilan listrik. Teknologi insinerasi merupakan teknologi yang mengkonversi materi padat (dalam hal ini sampah) menjadi materi gas (gas buang), serta materi padatan yang sulit terbakar, yaitu abu ( bottom ash) dan debu (fly ash). Panas yang dihasilkan dari proses insinerasi juga dapat dimanfaatkan untuk mengkonversi suatu materi lain dan energi, misalnya untuk pembangkitan listrik dan air

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-55

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

panas. Insinerasi adalah metode pengolahan sampah dengan cara membakar sampah pada suatu tungku pembakaran. Di beberapa negara maju, teknologi insinerasi sudah diterapkan dengan kapasitas besar (skala kota). Teknologi insinerator skala besar terus berkembang, khususnya dengan banyaknya penolakan akan teknologi ini yang dianggap bermasalah dalam sudut pencemaran udara. Salah satu kelebihan yang dikembangkan terus dalam teknologi terbaru dari insinerator ini adalah pemanfaatan enersi, sehingga nama insinerator cenderung berubah seperti waste-to-energy, thermal, converter. Meskipun teknologi ini mampu melakukan reduksi volume sampah hingga 70%, namun teknologi insinerasi membutuhkan biaya investasi, operasi dan pemeliharaan yang cukup tinggi. Fasilitas pembakaran sampah dianjurkan hanya digunakan untuk memusnahkan/membakar sampah yang tidak bisa dikomposkan, di daur ulang, ataupun tidak layak untuk diurug. Pada implementasi teknologi incinerasi ini, harus dipastikan instalasi ini harus dilengkapi dengan sistem pengendalian dan control untuk memenuhi batasbatas emisi partikel dan gas buang, sehingga dipastikan asap yang keluar dari tempat pembakaran sampah merupakan asap/gas yang sudah netral. Abu yang dihasilkan dari proses pembakaran bisa digunakan untuk bahan bangunan, atau dibuang ke landfill. Energi panas yang dapat dikonversi menjadi listrik dan recovery panas merupakan salah satu keunggulan yang ditawarkan dari incinerator jenis baru. Enersi tersebut berasal dari panas dalam tungku, yang biasanya didinginkan dengan air dan uap air yang terjadi dapat digunakan sebagai penggerak turbin pembangkit listrik. Namun untuk penerapan PLTSa di Kabupaten Bandung perlu pemahaman bahwa: (1) Produk panas yang nanti dikonversi menjadi listrik, akan tergantung dari nilai kalor sampah itu sendiri. Nilai kalor sampah di Kabupaten Bandung

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-56

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

tidak mencapai angka 2000 Kcal/Kg-kering. Komponen sampah yang dikenal mempunyai nilai kalor tinggi adalah kertas dan plastik. Dilema yang muncul adalah, bila yang dikejar adalah nilai kalor tinggi, maka upaya daur ulang tidak mendukung teknologi ini. (2) Dari hasil studi komposisi sampah di Kabupaten Bandung, mengandung sampah organik 55% dengan kadar air tinggi (60-70%). Pada musim hujan, serta sistem pewadahan sampah yang tidak tertutup, akan menambah tingginya kadar air. Secara logika, tambah tinggi kadar air, maka akan tambah banyak energi yang dibutuhkan untuk memulai sampah itu terbakar. (3) Proses termal menawarkan destruksi massa limbah secara cepat. Namun semua proses termal tetap akan menghasilkan residu (bagian noncombustible) yang tidak bisa terbakar pada temperature operasi. Tambah tinggi panas, maka residu-nya akan tambah sedikit. Residu ini berada dalam bentuk abu, debu dan residu lain. Abu biasanya dikenal mempunyai potensi sebagai bahan bangunan, karena mengandung silikat tinggi. Sampah Indonesia mengandung abu sampai mencapai 30% berat. Debu atau partikulat akan merupakan salah satu permasalahan pencemaran udara yang perlu diperhatikan dan akan menjadi bahan yang perlu difikirkan penanganannya. Biasanya jalan terakhir yang dilakukan adalah diurug. (4) Dalam proses termal, beberapa logam berat yang berada dalam sampah, akan teruapkan seperti Zn dan Hg, yang tergantung dari titik uapnya. Merkuri (Hg) pada temperatur kamarpun akan menguap. Tambah tinggi temperatur, akan tambah banyak jenis logam berat yang akan menguap. Agak sulit menangani jenis pencemaran ini. (5) Dioxin akan muncul sebagai proses antara dalam pembakaran material, bukan hanya pada incinerator. Tambah tinggi temperature, maka biasanya tambah sedikit bahan antara ini. Bila terjadi kegagalan dalam mempertahankan panas atau pada awal operasi atau di akhir operasi,

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-57

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

dimana temperature berada pada level yang rendah, maka masalah ini dapat muncul. (6) Apapun material berbasis khlor terbakar, maka akan dihasilkan produk gas khlor, yang sangat berbahaya karena korosif maupun karena toksik. Namun dengan adanya uap air, gas yang sangat reaktif ini dengan mudah akan menangkap uap air menjadi HCL. Ini juga perlu diklasifikasikan dalam teknologi yang ditawarkan dalam air pollution control, guna mengurangi terjadinya hujan asam. (7) Bila pemanasan dilakukan tanpa oksigen, maka proses ini dikenal sebagai pirolisis. Modifikasi dari pirolisis adalah gasifikasi yang memasukan sedikit udara dalam proses. Akan dihasilkan 3 jenis produk yaitu: (a) gas hasil oksidasi seperti: CH4 dan H2 (b) (C2H4 (ethyelene) dan tar dan (c) arang atau karbon. Seperti halnya insinerasi, maka karena yang digunakan sebagai bahan adalah sampah yang sangat heterogen, maka akan dihasilkan by-product lain seperti gas pencemar, dioxin, residu yang belum dapat terurai. Proporsi produk yang dihasilkan (gas, cair atau padat) tergantung dari temperatur dan waktu pembakaran. (8) Terdapat serangkaian upaya konversi energi dalam sistem incinerator penghasil panas, mulai dari combustor boiler steam generator sampai ke elektrik generator, yang tidak akan mampu mengkonversi enersi secara mulus 100%. Bila sampah yang digunakan adalah jenis sampah di Negara industri, maka enersi listrik sebesar 20MW/1000 ton-kering sampah dapat dicapai. Dengan kondisi sampah di Kabupaten Bandung yang mempunyai nilai kalor belum mencapai 2000 Kkal/Kg-kering, apalagi bila kertas dan plastiknya dikeluarkan untuk di daur ulang, serta kadar air yang cukup tinggi, maka sebetulnya berdasarkan perhitungan yang konvensional akan diperoleh paling sekitar 2,5 MW per Kg Sampah-basah. Nilai ini terukur masih belum relevan dengan nilai investasi yang harus dikeluarkan untuk pengembangan instalasi ini.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-58

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Memahami segala konsekuensi dari penerapan tekonologi pembakaran sampah, dan merujuk pada kemampuan lokal, maka penerapan pembakaran di Kabupaten Bandung selayaknya menjadi alternatif ketiga setelah pengomposan dan daur ulang sampah anorganik. Namun demikian pengembangannya pun selayaknya bermitra dengan pihak ke-3, bukan semata modal dari Pemerintah.

2.3.6. Sistem Pembuangan Akhir 2.3.6.1 Operasi Pembuangan


Observasi terhadap TPA Babakan, mengarah pada satu kesimpulan bahwa TPA tersebut masih belum ditata dengan baik. Penimbunan open dumping hanya sebagian kecil saja area penimbunan yang dioperasikan secara controlled landfill, tidak ada pengolahan lindi, dan operasi yang ada hanyalah buang tanpa pengolahan. Untuk menghindari dampak negatif, perlu ditargetkan pengoperasi penimbunan segera dirubah menjadi sistem Controlled Landfill secara total, walaupun bentuk operasi yang ideal adalah sistem Sanitary Landfill. Melihat kondisi eksisting TPA Babakan Open yang sudah lama sistem dioperasikan secara Dumping,

Sanitary Landfill tidak akan memberi pengaruh yang cukup berarti karena lahan dan air tanahnya sudah terlanjur tercemar. Dengan menerapkan sistem Controlled Landfill, maka akan diperoleh dua macam perbaikan yaitu dengan aplikasi tanah penutup dan pemasangan saluran pengumpul biogas. Aplikasi tanah penutup pada sistem Controlled Landfill akan membantu menutup sampah sehingga efek Lup dapat dikurangi, sehingga dapat menekan efek kepulan asap dari kebakaran sampah di permukaan TPA.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-59

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Melalui pemasangan saluran biogas, maka gas metan dan biogas lain dari timbunan sampah akan tersalur dengan baik sehingga tidak menyebar di permukaan TPA. Gas metan yang dikumpulkan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk mendukung kegiatan di TPA. Bila belum dapat dimanfaatkan, maka gas Metan ini dibakar supaya tidak menyebar ke udara bebas. Dengan demikian akan mengurangi efek terhadap pencemaran udara dan kesehatan. Untuk penanganan leachate/lindi dalam rangka me-minimasi dampak

pencemaran air tanah, maka sebaiknya leachate di-resirkulasikan ke dalam timbunan sampah. Overflow dari resrikulasi sebaiknya disaring dengan land treatment (lahan sanitasi). Pada saat ini areal timbunan sampah di TPA Babakan belum dilengkapi dengan saluran drainase. Saluran drainase ini sangat penting dibangun supaya mengurangi jumlah limpasan air hujan yang meresap ke dalam timbunan sampah. Bila resapan air hujan ke dalam timbunan sampah dapat dikurangi, maka jumlah produksi leachate dapat ditekan, sehingga efek pencemaran air tanah dan air permukaan di lingkungan sekitar TPA dapat dikurangi. Pada saat ini TPA belum dilengkapi dengan pagar. Pemagaran sangat diperlukan untuk menghindari pembuangan liar ke TPA. Hal lain yang perlu diperhatikan berkaitan dengan operasional TPA adalah pengawasan terhadap sampah yang boleh masuk ke TPA. Pada saat ini sampah rumah sakit telah merupakan campuran antara sampah domestik dan B3 (seperti limbah klinis dan jarum suntik). Untuk ke depan, perlu diberlakukan larangan terhadap limbah B3 baik dari rumah sakit, industri atau sumber lain kecuali sampah B3 yang berasal dari kegiatan rumah tangga seperti kemasan cairan pembersih, kemasan pembasmi serangga dan lainnya, yang masih tergolong sampah rumah tangga). Untuk memantaunya setiap truk yang datang perlu diperiksa muatannya oleh petugas Pos di TPA. Petugas wajib melarang masuk truk yang membawa limbah B3 Non Rumah Tangga.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-60

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

2.3.6.2 Analisa Kebutuhan Lahan TPA Pemetaan topografi TPA Babakan dilakukan guna mengetahui kontur terakhir, sehingga dapat diperkirakan volume ruang tersisa, yang identik dengan sisa umur TPA. TPA Babakan sebagai satu-satunya TPA yang dimiliki Pemerintah Kota Kabupaten Bandung, dengan luas total area TPA 10,2 Ha. Akan tetapi luas area efektif untuk seluruh sarana prasarana TPA terukur untuk penimbunan terukur 1,8 Ha. Gambar berikut memperlihatan Site Plan TPA Babakan hasil pengukuran Bulan Desember 2007. 4,005 Ha. Dengan adanya pembangunan sarana prasarana pengomposan, maka luas area efektif

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-61

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 2.15 Site Plan TPA

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-62

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Di atas area penimbunan 1,8 Ha, yang sebagian besar sudah terisi sampah, diperoleh volume ruang tersisa sekitar 220.000m3. Tabel 2.21 menunjukkan bahwa semakin tinggi beban penimbunan, semakin singkat umur TPA. Dari 3 simulasi yang dikembangkan terlihat bahwa pada skenario dimana beban penimbunan terus meningkat, umur TPS Babakan hanya mencapai tahun 2009. Jika ada upaya penurunan beban penimbunan dengan melakukan reduksi di sumber, seperti pada skenario 1 dan 2, umur TPS lebih lama yaitu sampai tahun 2010. Sisa Umur TPA Babakan, diperlihatkan pada Tabel 2.21 dan Gambar 2.16.
Tabel 2.21 Kapasitas dan Sisa Umur TPA Babakan Tanpa Perluasan
Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2023 2028 Beban Timb. Per hari scenario 1 (m3/hr) 567.0 567.0 480.4 475.7 472.8 467.5 462.0 455.8 452.4 442.0 440.0 410.5 312.3 15.8 Beban Timb. Per Hari seknario 2 (m3/hr) 567.0 567.0 388.7 392.3 397.5 404.6 403.6 404.6 412.7 407.1 400.3 397.7 343.9 240.7 Beban Timb. Per Hari scenario 3 (m3/hr) 567.0 567.0 692.6 695.8 709.3 722.3 735.4 754.9 773.0 792.1 815.2 841.6 967.5 1,092.0 Akumulasi Timb. Skenario 1 (m3/th) 68,985.0 137,970.0 196,415.2 254,287.8 311,810.3 368,694.6 424,909.6 480,364.6 535,405.5 589,177.1 642,709.3 692,658.5 730,659.6 732,578.6 Akumulasi Timb. Skenario 2 (m3/th) 68,985.0 137,970.0 185,263.5 232,989.2 281,356.1 330,584.2 379,688.3 428,912.1 479,120.5 528,648.8 577,357.7 625,742.2 667,587.9 696,875.8 Akumulasi Timb. Skenario 3 (m3/th) 68,985.0 137,970.0 222,240.9 306,896.0 393,188.3 481,063.2 570,540.6 662,384.1 756,427.9 852,797.2 951,982.3 1,054,373.1 1,172,080.2 1,304,936.2 Kapasitas TPA (m3) 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000 220,000

Sumber : Hasil Perhitungan Konsultan


Kapasitas dan Sisa Umur TPA Babakan Kapasitas dan Sisa Umur TPA Babakan Tanpa Perluasan Tanpa Perluasan

1,400,000.0 1,400,000.0 1,200,000.0 1,200,000.0 1,000,000.0 1,000,000.0 800,000.0 800,000.0 600,000.0 600,000.0 400,000.0 400,000.0 200,000.0 200,000.0 -

Akumulasi Timbulan Sampah Skenario 1 Akumulasi Timbulan Sampah Skenario 1 2 Akumulasi Timbulan Sampah Skenario Akumulasi Timbulan Sampah Skenario 2 3 Akumulasi Timbulan Sampah Skenario Akumulasi Timbulan Sampah Skenario 3 Kap. TPA Babakan Kap. TPA Babakan

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2023 2028 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2023 2028 Tahun

Tahun

Gambar 2.16 Kapasitas dan Sisa Umur TPA Babakan Tanpa Perluasan
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-63

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Walau konsep pengelolaan yang akan dikembangkan di Kabupaten Bandung pada periode 2008-2028 akan menganut paradigma minimasi sampah tertimbun di TPA, namun keberadaan TPA tetap diperlukan yaitu untuk menimbun residu dari pengolahan yang dilakukan di sumber. Berdasarkan simulasi di atas terlihat pada tahun 2010, diperlukan adanya area baru untuk penimbunan sampah. Berdasarkan kajian PT. Uta Engineering Consultant dalam Penyusunan DED TPA Babakan pada tahun 2000, direkomendasikan perluasan lahan TPA ke arah barat area penimbunan saat ini atau ke arah palung, dengan luas area 3,1 Ha. (Lihat Gambar).
3

Diperkirakan area ini

mampu memiliki volume ruang 969.393 m , sehingga apabila dilakukan upaya reduksi di sumber, umur pakai TPA mencapai 2028. Sedangkan bila reduksi di sumber tidak dioptimalkan akan tercapai umum pakai hingga tahun 2018. Umur pakai TPA Babakan setelah Perluasan, diperlihatkan pada Tabel dan Gambar berikut ini.
Tabel 2.22 Kapasitas dan Sisa Umur TPA Babakan dengan Perluasan
Beban Timb. Per Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2023 2028 hari Skenario 1 (m3/hr) 567.0 567.0 480.4 475.7 472.8 467.5 462.0 455.8 452.4 442.0 440.0 410.5 312.3 15.8 Beban Timb. Per hari Skenario 2 (m3/hr) 567.0 567.0 388.7 392.3 397.5 404.6 403.6 404.6 412.7 407.1 400.3 397.7 343.9 240.7 Beban Timb. Per hari Skenario 3 (m3/hr) 567.0 567.0 692.6 695.8 709.3 722.3 735.4 754.9 773.0 792.1 815.2 841.6 967.5 1,092.0 Akumulasi Timb. Skenario 1 (m3/th) 68,985.0 137,970.0 196,415.2 254,287.8 311,810.3 368,694.6 424,909.6 480,364.6 535,405.5 589,177.1 642,709.3 692,658.5 730,659.6 732,578.6 Akumulasi Timb. Skenario 2 (m3/th) 68,985.0 68,985.0 47,293.5 95,019.2 143,386.1 192,614.2 241,718.3 290,942.1 341,150.5 390,678.8 439,387.7 487,772.2 529,617.9 558,905.8 Akumulasi Timb. Skenario 3 (m3/th) 68,985.0 137,970.0 222,240.9 306,896.0 393,188.3 481,063.2 570,540.6 662,384.1 756,427.9 852,797.2 951,982.3 1,054,373.1 1,172,080.2 1,304,936.2 Kapasitas TPA (m3) 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393 969,393

Sumber : Hasil Perhitungan Konsultan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-64

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Kapasitas dan Sisa Umur TPA Babakan Dengan Perluasan


1,400,000.0 1,200,000.0 1,000,000.0 800,000.0 600,000.0 400,000.0 200,000.0 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2023 2028

Tahun
Akumulasi Timbulan Sampah Skenario 1 Akumulasi Timbulan Sampah Skenario 2 Akumulasi Timbulan Sampah Skenario 3 Kap. TPA

Gambar 2.17 Kapasitas dan Umur TPA Babakan Dengan Perluasan

Untuk menjamin agar umur pakai TPA Babakan dapat diperpanjang , diperlukan kajian yang menyeluruh, mulai dari analisis mekanika tanah di lokasi perluasan sampai pada metoda penimbunan yang selayaknya diatur sedemikian hingga memungkinkan adanya alternatif penimbunan ketika zona utama mengalami gangguan. Juga direkomendasikan agar metoda penimbunan dipersiapkan agar dapat diterapkan konsep reuse landfill.

2.3.6.3 Kebutuhan Peningkatan Sarana dan Prasarana TPA Babakan Melihat kondisi TPA Babakan saat ini, selayaknya penataan segera dilakukan sehingga kondisi lingkungan di sekitarnya tidak semakin buruk dan untuk menjaga persepsi masyarakat jangan sampai tumbuh ketidak percayaan terhadap kehadiran TPA. Berdasarkan pada perkiraan kapasitas TPA Babakan yang masih berpotensi untuk dikembangkan hingga tahun 2017, maka diperlukan peningkatan sarana prasarana sebagai berikut:

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-65

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pemeliharaan sistem drainase makro, untuk mengurangi run-off ke dalam zona penimbunan. Drainase yang ada sudah cukup baik dari segi kontruksi, akan tetapi disebabkan tidak adanya pemeliharaan, maka saat ini berada pada kondisi kurang berfungsi.

Perbaikan

sistem

pengolahan

lindi,

dengan Pembangunan Jembatan Timbang, selain sebagai pengukur kinerja operasi pengelolaan sampah secara menyeluruh di TPA, unit ini sangat diperlukan sebagai kontrol ketika konsep reduksi di sumber sudah dilaksanakan.

meningkatkan kinerja instalasi eksisting melalui upaya resirkulasi lindi ke lahan urug.

Jembatan Timbang IPAL LINDI

Pembangunan Green Belt, di sekeliling lahan TPA Penataan lahan penimbunan dengan terlebih dahulu terutama yang terdekat dengan penduduk dilakukan analisa kebutuhan tanggul penahan tanah, untuk mencegah pergeseran zona penimbunan atau kelongsoran.

Perbaikan operasi penimbunan dari sebagian kecil saja operasi controlled landfill, menjadi sepenuhnya. Hal ini menuntut keberadaan alat berat. Saat ini yang ada adalah 2 unit buldozer, 1 unit excavator dan 1 wheel loader, seharusnya sudah mampu mendukung pelaksanaan penimbunan secara baik.

Gambar 2.18 Usulan Peningkatan Sarana & Prasana TPA Babakan

Saat ini di TPA Babakan telah tersedia instalasi pengomposan yang sangat lengkap, selayaknya pengelolaannya dilakukan dengan cermat sehingga

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-66

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

pengomposan dapat menjadi alternatif proses reduksi sampah tertimbun di TPA. Berdasarkan pendataan sarana pengomposan yang ada, yaitu : (1) Luas Bangunan 1500 m2. (2) Ruang pemilahan dengan conveyor belt. (3) Mesin pencacah 2 unit, kapasitas @ 2 ton/ unit (4) Mesin penyaring kompos Dengan keberadaan sarana di atas, selayaknya instalasi tersebut dapat memiliki kapasitas minimal 40 untuk ton/hari. Pengoperasian pada tahap atau awal, area direkomendasikan mengomposkan sampah dari pasar

pengangkutan door to door, mengingat kondisi sampah relatif lebih segar. Adapun kapasitas operasi diupayakan minimal satu rit pengangkutan, yaitu sekitar 10 m3/hari.

2 .4

Aspek Kelembagaan
Evaluasi bentuk kelembagaan yang melaksanakan tugas pengelolaan kebersihan atau pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, ditujukan untuk mengetahui : 1. Kapasitas sampah. kelembagaan dalam pengelolaan

2.4.1 Bentuk Lembaga

2. Kewenangan yang dimiliki. Bentuk lembaga pengelola sampah di Kabupaten Bandung adalah Dinas Kebersihan. Lembaga berbentuk Dinas Kebersihan, merupakan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang memiliki kedudukan sama dengan SKPD Dinas lainnya dalam Pemerintahan Kabupaten Bandung. Dalam kapasitasnya, Dinas Kebersihan ditempatkan sejajar dengan SKPD Dinas lainnya karena penyelenggaraan pengelolaan sampah atau kebersihan memiliki tingkat urgenitas yang sama dengan pelayanan bidang lainnya, serta memiliki bobot pelayanan yang sama bagi kepentingan pelayanan masyarakat.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-67

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Lembaga pengelola persampahan berbentuk Dinas Kebersihan, berarti memiliki kapasitas penuh sebagai Dinas Tersendiri dalam menjalankan pelayanan pengelolaan sampah.

Pelayanan pengelolaan sampah merupakan kegiatan rutin harian dengan beban kerja yang tinggi serta diperlukan alokasi sumber daya finansial, sumberdaya manusia dan sumber daya material yang cukup besar, sehingga diperlukan kapasitas lembaga yang selalu fokus dengan satu bidang pelayanan.

Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung sebagai Dinas Teknis Daerah, berfungsi menjalankan urusan pemerintahan dalam bidang teknis pengelolaan sampah. Sebagai Dinas Teknis, maka kapasitasnya sebagai penyelenggara teknis atau sebagai operator dalam pengelolaan sampah. Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Bandung memiliki Dinas Lingkungan Hidup yang memiliki kaitan erat dengan penyelenggaraan pengelolaan sampah yaitu dalan hal pengaturan kebijakan lingkungan hidup. Dalam kaitan antara penyelenggaraan dan pengawasan, maka Dinas Lingkungan Hidup dapat berperan sebagai Regulator sedangkan Dinas Kebersihan bertindak sebagai Operator dalam pelayanan pengelolaan sampah. Penyelenggaraan pengelolaan sampah dalam bentuk lembaga Dinas Kebersihan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam bentuk Lembaga Dinas Lingkungan Hidup merupakan kebijakan kelembagaan yang sudah dinilai tepat dari aspek pemisahan fungsi antara fungsi Operator dan fungsi Regulator. Melalui kebijakan ini maka diharapkan tidak terjadi adanya fungsi dan peran rangkap dari satu lembaga yang melaksanakan fungsi operator dan juga fungsi regulator karena hal yang demikian ini tidak terjadi mekanisme control yang baik dari kegiatan pelayanan pengelolaan sampah. Berdasarkan evaluasi beban kerja pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, bahwa jumlah penduduk yang yang tinggal dalam wilayah urban diprediksi 32 % dari jumlah penduduk wilayah Kabupaten Bandung tahun 2007

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-68

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

adalah 968.715 jiwa dengan prediksi beban sampah yang harus dikelola adalah 2.722 m3/hari atau 544 ton/hari. Walaupun wilayah Kabupaten Bandung tidak dikelola melalui bentuk Pemerintahan Kota, tetapi apabila ditinjau dari jumlah penduduk urban yaitu sebanyak 968.715 jiwa, maka hal ini sudah setara dengan kriteria Kota Besar dan bahkan Kota Metropolitan. Beban tugas pelayanan pengelolaan sampah tersebut sudah sangat layak dikelola oleh lembaga berbentuk Dinas Kebersihan dan bahkan potensial untuk ditingkatkan kapasitas kelembagaannya menjadi lembaga yang lebih otonom. Berdasarkan kriteria jumlah penduduk urban yang diarahkan oleh Departemen Pekerjaan Umum, maka bentuk lembaga pengelola sampah adalah sebagai berikut:
Tabel 2.23 Bentuk Lembaga Pengelola Kebersihan Berdasarkan Klasifikasi Kota Jumlah Penduduk Klasifikasi Kota Bentuk Lembaga Pengelola Urban s/d 200.000 Kota Kecil Suklu Dinas/Seksi dari Dinas PU 200.000 500.000 Kota Sedang Sub Dinas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan 500.000 1.000.000 Kota Besar Dinas Tersendiri, Dinas Kebersihan Diatas 1.000.000 Kota Metropolitan Dinas Tersendiri, BLUD, BUMD, PT

No 1 2 3 4

Wilayah urban di Kabupaten Bandung tersebar di beberapa titik yaitu di ibukota kecamatan. Dikaitkan antara jumlah penduduk urban dari wilayah Kabupaten Bandung dengan arahan bentuk lembaga sebagaimana tabel di atas, maka bentuk lembaga pengelola persampahan saat ini yaitu DINAS KEBERSIHAN sudah memadai, dan bahkan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi lembaga yang lebih otonom pada masa yang akan datang sejalan dengan perkembangan beban pelayanan yang harus diselenggarakan. Permasalahan dan pengelolaan sampah tidak hanya merupakan persoalan yang bersifat teknis, tetapi juga menyangkut persoalan yang bersifat sosial kemasyarakatan sehingga tidak mungkin persoalan pengelolaan persampahan dapat diselesaikan oleh Dinas Teknis Daerah yaitu Dinas Kebersihan secara sendirian. Oleh karena itu keterkaitan antar lembaga pemerintah dan lembaga

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-69

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

kemasyarakatan sangat penting agar terjadi sinergi kelembagaan dalam pengelolaan sampah. Perlu adanya lembaga kemasyarakatan sebagai mitra dari lembaga pemerintah yang mengelola sampah pada tingkatan lingkungan masyarakat, sehingga dapat memaksimalkan fungsi dan peran dari partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Mengikuti perkembangan yang ada, struktur organisasi Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung sejak Tanggal 27 Desember 2007 telah dirubah menjadi bagian dari struktur organisasi DINAS PERUMAHAN, TATA RUANG DAN KEBERSIHAN (PERTASIH). Perubahan struktur organisasi perangkat daerah yang terjadi dan dialami oleh dinas-dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung merupakan kebijakan Pemerintah Kabupaten Bandung dari adanya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota serta Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Berdasarkan Konsep Akhir Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah

Kabupaten Bandung bahwa

organisasi yang akan membidangi pengelolaan

sampah di Kabupaten Bandung, yang semula dikelola dalam kapasitas kelembagaan berbentuk DINAS KEBERSIHAN akan turun kapasitasnya menjadi Bidang Pengelolaan Kebersihan dengan UPTD Pengangkutan Sampah. Berdasarkan kepada Eselonering jabatan menurut PP 41 : Eselon Jabatan Perangkat Daerah Kabupaten/Kota Pasal 35

(1) Sekretaris Daerah merupakan jabatan struktural eselon II.a. (2) Asisten, sekretaris DPRD, kepala dinas, kepala badan, Inspektur,
direktur rumah sakit umum daerah kelas A dan kelas B, dan Direktur rumah sakit khusus daerah kelas A merupakan jabatan struktural eselon II.b.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-70

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(3) Kepala kantor, camat, kepala bagian, sekretaris pada dinas, badan
dan inspektorat, inspektur pembantu, direktur rumah sakit umum daerah kelas C, direktur rumah sakit khusus daerah kelas B, wakil direktur rumah sakit umum daerah kelas A dan kelas B, dan wakil direktur rumah sakit khusus daerah kelas A merupakan jabatan struktural eselon III.a.

(4) Kepala bidang pada dinas, dan badan, kepala bagian dan kepala
bidang pada rumah sakit umum daerah, direktur rumah sakit umum daerah kelas D, dan sekretaris camat merupakan jabatan struktural eselon III.b.

(5) Lurah, kepala seksi, kepala subbagian, kepala subbidang, dan


kepala unit pelaksana teknis kepala dinas seksi dan badan pada merupakan kepala jabatan struktural eselon IV.a.

(6) Sekretaris kelurahan,

kelurahan,

subbagian pada unit pelaksana teknis, kepala tata usaha sekolah kejuruan dan kepala sub bagian pada sekretariat kecamatan merupakan jabatan struktural eselon IV.b. Eselon jabatan menggambarkan kapasitas jabatan atau kapasitas lembaga. Semakin tinggi eselon jabatan yang memimpin dalam suatu lembaga, maka semakin tinggi pula kapasitas kelembagaan dan kapasitas jabatan yang diemban dan sebaliknya. Semakin tinggi eselon jabatan yang melaksanakan tugas urusan dan kewenangan pemerintahan, semakin tinggi prioritas urusan pemerintahan tersebut, dan sebaliknya. Perubahan bentuk kelembagaan yang bertugas dan berwenang menjalankan urusan dalam bidang Persampahan di Kabupaten Bandung, dari yang semula berbentuk Dinas Kebersihan menjadi Bidang Kebersihan dan UPTD Pengangkutan sampah menggambarkan: 1. Penurunan kapasitas kelembagaan, Lembaga pengelola persampahan dalam bentuk Dinas Kebersihan, maka lembaga tersebut 100 % kapasitasnya untuk mengelola masalah sampah.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-71

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Lembaga

pengelola

persampahan

dalam

bentuk

Dinas

Perumahan, Tata Ruang dan Kebersihan yang memiliki rentang kendali 6 Bidang termasuk Bidang Kebersihan, maka kapasitas Dinas dalam pengelolaan sampah hanya 1/6 (16,6 %). 2. Penurunan kewenangan jabatan, Pengelolaan sampah dalam lembaga Dinas Kebersihan, kewenangannya dimiliki oleh seorang pejabat struktural Kepala Dinas dengan eselon jabatan adalah IIa. Pengelolaan sampah dalam bentuk Bidang Kebersihan dalam Dinas Perumahan, Tata Ruang dan Kebersihan, kewenangannya dipegang oleh seorang pejabat struktural Kepala Bidang dengan eselon jabatan IIb dan bahkan oleh pejabat structural Kepala UPTD dengan eselon jabatab IVa. 3. Penurunan prioritas, Terjadinya penurunan kapasitas lembaga dan penurunan eselon jabatan struktural yang menangani langsung urusan persampahan, maka hal ini juga menggambarkan adanya penurunan prioritas dalam pengelolaan sampah dari sebelum adanya perubahan kelembagaan. Penurunan kapasitas lembaga pengelola persampahan dari Dinas Kebersihan menjadi Bidang Kebersihan dan UPTD Pengangkutan Sampah, mungkin disebabkan adanya batasan jumlah Dinas Daerah yang boleh dibentuk berdasarkan PP 41 Tahun 2007, sehingga urusan persampahan yang semula diurus melalui lembaga Dinas harus disatukan dengan urusan bidang lainnya dalam Dinas bersama. Berdasarkan Perumusan akhir dari Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung tentang Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah, jumlah Organisasi Dinas Daerah sebanyak 13 Dinas dengan jumlah Organisasi Lembaga Teknis Daerah sebanyak 8 Badan dan Kantor.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-72

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Berdasarkan kepada variabel yang menentukan besaran organisasi perangkat daerah khususnya jumlah Dinas Daerah menurut PP 41 Tahun 2007, yaitu berdasarkan: a. b. c. Jumlah penduduk Luas wilayah dan Jumlah anggaran,

Maka nilai (skore) untuk kabupaten Bandung adalah seperti pada Tabel berikut.

Tabel 2.24 Penetapan Variabel Besaran Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten


NO 1 VARIABEL 2 JUMLAH PENDUDUK (jiwa) Untuk Kabupaten di Pulau Jawa dan Madura. KELAS INTERVAL 3 < 250.000 250.001 - 500.000 500.001 750.000 750.001 1.000.000 > 1.000.001 < 150.000 150.001 - 300.000 300.001 450.000 450.001 600.000. > 600.001 < 500 501 - 1.000 1.001 1.500 1.501 2.000 > 2.001 < 1.000 1.000 2.000 2.001 3.000 3.001 4.000 > 4.001 < 200 M 200,1 400 M 400,1 600 M 600,1 800 M > 800,1 M NILAI 4 8 16 24 32 40 8 16 24 32 40 7 14 21 28 35 7 14 21 28 35 5 10 15 20 25

2.

JUMLAH PENDUDUK (jiwa) Untuk Kabupaten di luar Pulau Jawa dan Madura.

3. LUAS WILAYAH (KM2) Untuk Kabupaten di Pulau Jawa dan Madura.

LUAS WILAYAH (KM2) Untuk Kabupaten di luar Pulau Jawa dan Madura.

JUMLAH APBD

Jumlah Nilai = 100

Besaran Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dalam Pasal 21 PP 41 Tahun 2007 yang berbunyi: (3) Besaran organisasi perangkat daerah dengan nilai lebih dari 70 (tujuh puluh) terdiri dari: a. b. sekretariat daerah, terdiri dari paling banyak sekretariat DPRD;
Hal II-73

4 (empat) asisten;

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

c. d.

dinas paling banyak 18 (delapan belas); lembaga teknis daerah paling banyak 12 (dua belas);

Dengan Nilai sebesar 100, maka besaran organisasi perangkat daerah di Kabupaten Bandung yang boleh dibentuk menurut PP 41 Tahun 2007 di atas adalah 18 Dinas Daerah dan 12 Lembaga Teknis Daerah. Dengan demikian maka secara ketentuan yuridis memungkinkan bahwa apabila urusan bidang persampahan dibentuk dalam lembaga Dinas, karena jumlah rancangan Dinas Daerah saat ini baru sebanyak 13 Dinas.

2.4.2. Stuktur Organisasi


Organisasi merupakan suatu alat dalam suatu manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjalankan organisasi secara baik dan terarah, maka diperlukan sebuah struktur yang dapat melingkupi seluruh fungsi organisasi agar tujuan dapat tercapai. Organisasi sebagai bagian dari fungsi manajemen, maka struktur organisasi juga harus memiliki dan meliputi fungsi untuk menjalankan peran: a. Perencanaan (Planning) b. Pengorganisasian (Organizing) c. Pelaksanaan (Actuating) d. Pengawasan (Controling) Struktur organisasi Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung yang ada saat ini apabila dievaluasi berdasarkan fungsi-fungsi tersebut menunjukkan sebagai berikut: a. Perencanaan Struktur organisasi yang ada belum terdapat unit kerja yang secara khusus melaksanakan kegiatan perencanaan dalam skala Dinas Kebersihan. Belum terdapatnya unit kerja perencanaan ini diprediksikan bahwa fungsi perencanaan dibidang kebersihan atau pengelolaan persampahan menjadi bagian tugas yang berada dalam SKPD Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Peran perencanaan pada skala Pemerintah

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-74

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Kabupaten sudah tepat bahwa perencanaan persampahan ada dalam SKPD Bappeda, namun tetap diperlukan unit kerja yang berperan dalam menyusun dan merancang perencanaan pada skala Dinas Kebersihan yang akan akan mencadi acuan dalam operasional pengelolaan kebersihan. b. Pengorganisasian (Organizing) Fungsi pengorganisasian dalam struktur organisasi Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung, sudah tercermin dalam unit kerja Bagian Tata Usaha. Pada bagian ini mengorganisasikan dukungan sarana dan prasarana serta keuangan untuk berjalannya pengelolaan kebersihan. c. Pelaksanaan (Actuating) Fungsi dan peran pelaksanaan (actuating) dalam pengelolaan sampah atau kebersihan sudah tercermin dalam struktur organisasi Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung, karena unit kerja ini yang menjadi pelaksana utamanya. Semua unit kerja dalam struktur organisasi yang dihubungkan dengan garis lini dari Kepala Dinas, yaitu Sub Dinas Operasional, Sub Dinas Pemeliharaan dan Sub Dinas Kemitraan, merupakan unit kerja yang berfungsi dalam pelaksanaan langsung pengelolaan sampah. d. Pengawasan (Controling) Unit kerja dalam struktur organisasi Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung yang berperan secara khusus melaksanakan fungsi pengawasan (controlling) belum ada. Lingkup pengawasan yang dimaksud adalah melaksanakan evaluasi dan pemantauan terhadap program kerja atau perencanaan, terhadap hasil kerja yang telah dilakukan secara internal pada skala Dinas Kebersihan. Fungsi dan peran ini sangat penting sebagai media umpan balik dalam melakukan perbaikan dan penyempurnaan pelaksanaan program kerja atau perencanaan.

2.4.3. Tugas Pokok


Tugas pokok dari Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung belum secara jelas menyebutkan bahwa tugas pokoknya adalah menyelenggarakan pelayanan
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-75

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

pengelolaan sampah, dan tugas pelayanan lainnya secara jelas. Tugas pokok yang tertera dalam Perda Nomor 9 tahun 2002 pasal 369 merumuskan kebijaksanaan teknis pelaksanaan kewenangan sub bidang pekerjaan umum. Perumusan tugas pokok Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung sebagaimana tersebut dalam Perda, mengikuti sepenuhnya sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah yang saat ini telah diganti dengan PP Nomor 41 Tahun 2007, tetapi materinya masih sama. Tugas pokok dari Dinas Kebersihan seperti tersebut perlu dirumuskan ulang dengan tujuan agar jelas kearah sasaran yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Dapat dimaklumi bahwa tugas pokok dari Dinas Daerah seperti Dinas Kebersihan sebagaimana diamantkan dalam PP No. 41 tahun 2007 adalah melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Namun demikian, sudah secara jelas urusan pemerintah daerah yang harus dilaksanakan sebagaimana dalam PP 38 Tahun 2007 yang harus dijalankan dalam urusan persampahan. Oleh karena itu tugas pokok dari Dinas Kebersihan perlu dirumuskan secara jelas dan akan dibahas lebih lanjut dalam pengembangan kelembagaan.

2.4.4. Sumberdaya Manusia


Sumberdaya manusia atau personil dalam organisasi pengelola sampah memiliki peran yang sangat penting untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi dalam pengelolaan sampah. Dua aspek utama dalam sumber manusia yang akan berpengaruh terhadap kinerja adalah aspek kualitas dan kuantitas SDM. a. Kualitas SDM Status kepegawaian dalam pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandung dalam wadah kelembagaan berbentuk Dinas Kebersihan, terdapat dua status pegawai yaitu: Pegawai negeri sipil (PNS) Pegawai Kontrak

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-76

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pegawai dengan status pegawai negeri sipil sangat sulit untuk bersifat permanen menjadi pegawai dengan tugas selamanya di Dinas Kebersihan, tetapi dalam kerangka peningkatan karir sebagai pegawai pemerintah sering terjadi mutasi antar dinas atau lembaga. Pada sisi lain pengelolaan sampah memerlukan pegawai dengan profesi sebagai ahli bidang persampahan yang memerlukan pembinaan, pendidikan dan pelatihan sehingga menjadi pegawai professional dibidangnya. Berkaitan dengan hal tersebut pengelolaan persampahan yang dikelola oleh personil PNS, akan sulit membangun kompetensi manakala pegawai yang telah dibina, dididik dan dilatih dalam bidang persampahan tetapi oleh karena kebutuhan peningkatan karir akhirnya harus mengikuti program mutasi ke unit kerja lain. Terlebih lagi pegawai yang menduduki jabatan dalam eselon II, III dan IV, sering terjadi mutasi antar unit kerja keluar unit kerja Dinas Kebersihan. Jadi kondisi yang demikian ini yang menjadi kendala untuk membangun kompetensi atau kualitas tenaga persampahan dalam lembaga atau organisasi pengelola persampahan berbentuk Dinas Kebersihan atau lembaga lain yang merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Pengelolaan sampah merupakan bagian dari urusan dibidang pekerjaan umum dan juga merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan lingkungan sehingga memerlukan sumberdaya manusia atau personil dengan kualifikasi keahlian bidang sipil dan lingkungan. Berdasarkan kualifikasi personil yang ada bahkan pada level pimpinan di Dinas Kebersihan tidak terdapat pegawai dengan kualifikasi tersebut. Personil dalam pengelolaan sampah terdiri dari beberapa tingkatan structural yaitu personil dengan kualifikasi sebagai pemegang jabatan pimpinan, pelaksana perencana dan administrasi serta personil pekerja lapangan. Pengadaan Pegawai sangat tergantung kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Cq. Badan Kepegawaian Daerah) dan selama ini tidak memperhitungkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan unit kerja.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-77

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Optimalisasi pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung sangat tergantung antara lain pada kebijakan rekruitmen personil yang dianut. Sebagai contoh Dinas Kebersihan kurang memerlukan tenaga tambahan untuk pegawai lapangan dengan status tenaga kontrak kerja yang berkualifikasi pendidikan Sarjana (S1) dan D3, tetapi yang sangat diperlukan adalah tenaga kontrak kerja dari tingkat pendidikan SMA ke bawah. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung memerlukan dukungan personil dengan keahlian khusus, sehingga pada umumnya personil yang dibutuhkan harus memiliki latar belakang pendidikan Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, Teknik Mesin dan Teknik Penunjang lainnya. b. Kuantitas SDM Pelaksanaan pengelolaan sampah merupakan jenis pekerjaan rutin harian dan bersifat padat karya. Jumlah SDM Dinas Kebersihan yang ada saat ini belum seimbang: a. Antara jumlah kebutuhan dengan jumlah yang ada b. Antara satu unit kerja dengan unit kerja lainnya c. Antara tingkat penambahan peralatan dengan penambahan personil d. Antara tenaga administrasi dan tenaga lapangan Sejak dikeluarkannya Keputusan Bupati Bandung Nomor 05 Tahun 2003 tentang tata cara pengadaan pegawai tidak tetap/ Kontrak Kerja dilingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung yang telah diperbaharui dengan Keputusan Bupati Bandung Nomor 29 Tahun 2004 tentang Pengadaan dan Pembinaan Pegawai Tidak Tetap di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bandung, mulai dirasakan adanya banyak tugas-tugas yang tidak dapat dikerjakan disebabkan oleh kekurangan personil. Pada umumnya para tenaga lapangan terdiri dari pegawai Non PNS/Tenaga Kontrak Kerja/Pegawai Harian Lepas yang memiliki masa kerja sudah lama, tetapi karena semakin bertambahnya waktu usia mereka sehingga tidak memenuhi ketentuan undang-undang untuk pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-78

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Dalam recruitment Pegawai untuk Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung tidak memiliki keleluasaan untuk melaksanakan, sehingga perlu mekanisme agar ada kesesuaian antara rencana kebutuhan dan kenyataan. Mekanisme ini ditempuh melalui Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung mengusulkan personil yang memiliki kompetensi sesuai dan telah lama melaksanakan tugas lapangan untuk dapat ditingkatkan statusnya.

Sementara itu untuk pemenuhan kebutuhan personil (PNS) dapat melalui penyusunan formasi. Hal itu pun harus sesuai dengan latar belakang pendidikan/kompetensi yang diperlukan.

Pegawai yang secara strategis diperlukan adalah beberapa tenaga teknis dalam penyusunan suatu program persampahan yang lebih dimasa yang akan datang dan memerlukan pengisian segera.

Usulan recruitment Tenaga Kontrak Kerja yang dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan akan lebih efektif sebab sangat mendasar pada kebutuhan lapangan dengan tetap mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas penggunaan tenaga lapangan.

2.5. Aspek Pembiayaan


Evaluasi aspek pembiayaan dilakukan dengan mengukur tingkat efektifitas penarikan retribusi saat ini. Efektifitas diukur dengan membandingkan Tinjauan terhadap anggaran terhadap tugas pengelolaan pendapatan retribusi yang tercatat di bagian keuangan Dinas Kebersihan terhadap potensi retribusi yang sesungguhnya. alokasi anggaran Pemerintah Kabupaten belanja yang diusulkan dan yang terealisasi dilakukan untuk melihat besarnya kebersihan. Kriteria yang disyaratkan mengenai keuangan untuk pengelolaan kebersihan adalah bersifat cost recovery (mampu membiayai sendiri). Berdasarkan Pengolahan Data dan Penganalisaan Dinas Kebersihan pada tahun 2007, anggaran yang dikeluarkan Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung adalah 14,3 milyar (untuk biaya umum dan pengelolaan kebersihan dengan tingkat

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-79

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

pelayanan 20,8%), dan untuk pengelolaan sampah itu sendiri (biaya O&M) adalah sebesar Rp. 13.000.722.629 per tahun. Berdasarkan Pengolahan Data dan Penganalisaan Dinas Kebersihan pada tahun 2006, hasil pemungutan retribusi untuk tahun 2006 diperkirakan hanya 827.610.000 atau sekitar 6,36% dari kebutuhan biaya pengelolaan sampah. Untuk mencapai target cost recovery tersebut maka perlu adanya peningkatan perolehan retribusi.

2.6 Aspek Peraturan Peraturan hukum yang mengatur tentang pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, terdiri dari peraturan hukum berbentuk Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati, dengan materi pengaturan meliputi: 1. Perda Kabupaten Bandung No. 31 Tahun 2000 Tentang Kebersihan, Keindahan, Ketertiban dan Kesehatan Lingkungan 2. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 9 Tahun 2002 Tentang Pembentukan Organisasi Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung 3. Surat Keputusan Bupati No. 21 tahun 2001 Tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Bupati Kepada Camat jo Surat Keputusan Bupati No 8 Tahun 2004 4. Keputusan Bupati No. 13 Tahun 2002 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 31 Tahun 2000 Tentang Kebersihan, Keindahan, Ketertiban dan Kesehatan Lingkungan 5. Keputusan Bupati Bandung No. 660.2/Kep. 134 A-DPUK/2002 Tentang Penentapan Klasifikasi Retribusi Kebersihan 6. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 10 Tahun 2002 Tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Bandung

7. Peraturan Bupati Bandung No. 8 Tahun 2006 Tentang Standar


Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kebersihan Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-80

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Berdasarkan kepada jenis dan materi peraturan hukum sebagaimana tersebut di atas, berikut adalah hal-hal yang perlu di kritisi untuk kebutuhan pengembangan di masa mendatang : 1. Belum terdapat peraturan hukum dalam bentuk Peraturan Daerah yang mengatur secara khusus tentang pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah meliputi berbagai aspek yang memerlukan pengaturan secara komprehensif dan dalam kapasitas Perda agar memiliki kekuatan hukum yang memadai untuk dijalankan dan dipatuhi bagi seluruh komponen masyarakat dan pemerintah. Peraturan Daerah yang mengatur tentang pengelolaan sampah saat ini diatur dalam satu kesatuan peraturan daerah berupa Kebersihan, Keindahan, Ketertiban dan Kesehatan Lingkungan, sehingga ruang yang tersedia terbatas dan belum secara komprehensif mengatur ketentuanketentuan secara umum pengelolaan sampah dalam seluruh aspeknya. Oleh karena itu perlu disusun ketentuan-ketentuan pengelolaan sampah di wilayah Kabupaten Bandung berdasarkan kebutuhan dan perkembangan paradigma yang ada dalam bentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung. 2. Peraturan tentang tarip retribusi kebersihan saat ini diatur dalam satu kesatuan dalam Perda Kebersihan, Keindahan, Keteriban dan Kesehatan Lingkungan, sehingga materinya terbatas kepada besaran tarip retibusi kebersihan yang dikenakan kepada masyarakat dan ketentuan umum dalam membiayai pengelolaan sampah belum tercakup dalam pasal-pasal pada bab kebersihan dalam perda tersebut. Oleh karena itu diperlukan pengaturan dengan materi aspek pembiayaan (keuangan) yang meliputi sumber pembiayaan, proporsi jumlah biaya dan tarip retribusi pengelolaan sampah yang akan dikenakan kepada masyarakat yang merupakan muatan ketentuan pembiayaan dalam Perda Pengelolaan Persampahan. 3. Keberadaan Peraturan Bupati Bandung Nomor 8 Tahun 2004 tentang Pelimpahan sebagian kewenangan Bupati kepada Camat dan Standar pelayanan minimal (SPM) bidang kebersihan, melalui Keputusan Bupati Bandung Nomor 8 Tahun 2006 sudah cukup baik sebagai kelengkapan peraturan dan pedoman dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-81

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Keputusan Bupati diperlukan dalam pedoman teknis penyelenggaraan pengelolaan sampah dari mulai pedoman penyapuan, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan sampah dari setiap jenis sumber sampah, demikian pula pedoman teknis untuk tata cara pemungutan retribusi pengelolaan sampah. Berdasarkan kepada analisis kondisi peraturan hukum tentang pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandung sebagaimana tersebut di atas, maka dalam kerangka pengembangan produk peraturan hukum memperhatikan referensireferensi yang berkaitan dengan pengelolaan persampahan (Rancangan UU Persampahan, Standar Nasional Indonesia-SNI tentang Persampahan, Peraturan dan Keputusan dan Menteri PU tentang Konsep Kebijakan rancangan dan Strategi Nasional system Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP), Norma, Pedoman, Standard Manual-NPSM). pengembangan persampahan di wilayah Kabupaten Bandung yang menjadi konsep rancangan terpilih harus terakomodir dalam rancangan peraturan hukum untuk ditetapkan menjadi peraturan yang bersifat mengikat untuk dilaksanakan/direalisasikan. Garis-garis besar kebutuhan jenis peraturan hukum yang diperlukan dan materi yang perlu diakomodir dalam peraturan adalah sebagai berikut: 1. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung tentang Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung merupakan perda tersendiri dan tidak menjadi satu kesatuan dengan pengaturan bidang lain (saat ini menjadi satu dengan pengaturan bidang Keindahan, Ketertiban dan Kesehatan Lingkungan). Materi pokok pengaturan dalam Perda Pengelolaan sampah ini meliputi: Aspek Kelembagaan, mengatur bentuk dan jenis kelembagaan yang bertanggungjawab dalam pengelolaan sampah dari mulai lembaga perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan/pengendalian. Pembagian peran ini harus secara jelas (walaupun tidak secara rinci, karena dapat diatur lebih lanjut dalam bentuk Keputusan Bupati) diatur dan ditetapkan dalam Perda. Lembaga pemerintah, lembaga/organisasi masyarakat, lembaga swasta dari mulai skala

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-82

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

lingkungan, local Kabupaten dan regional yang diberikan peran dalam pengelolaan sampah. Aspek tehnik dan operasional, mengatur dan menetapkan pola/sistem tehnik dan operasional pengelolaan sampah yang dibangun dari paradigma baru seperti pola 3 R dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya, 3 R skala kawasan, pengangkutan dan pemrosesan akhir berorientasi ramah lingkungan. Lingkup daerah pelayanan wilayah urban dan non urban, pengelolaan sampah B3, pengelolaan tingkat Kecamatan. Aspek pembiayaan, mengatur tentang proporsi biaya (anggaran) pengelolaan sampah terhadap APBD Kabupaten, proporsi biaya yang bersumber dari hasil pungutan retribusi terhadap sumber APBD Kabupaten, sumber-sumber biaya lainnya dan besarnya tarip retribusi pengelolan sampah. Aspek peranserta masyarakat, mengatur keikutsertaan setiap lapisan masyarakat dan setiap penimbul sampah dalam pengelolaan sampah baik dalam kaitannya aspek teknik operasional, aspek kelembagaan dan aspek pembiayaan. Disamping mengatur tentang kewajiban, hak dan larangan secara umum dalam pengelolaan sampah yang baik dan benar serta berwawasan lingkungan berkelanjutan. 2. Penjabaran dari Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Persampahan kedalam Peraturan Bupati dan/atau Keputusan Bupati sebagai pedoman dan/atau petunjuk teknis untuk setiap aspek dalam pengelolaan persampahan seperti: 1) Peraturan Bupati Bandung tentang Pedoman Tehnik dan Operasional Penanganan Sampah di Kabupaten Bandung, mengatur tentang tata cara penanganan sampah di pemukiman, pasar, perkantoran, daerah komersial dan lainnya dari mulai penyapuan, pengumpulan, 3 R, pengangkutan dan pemrosesan baik antara maupun akhir. 2) Peraturan Bupati Bandung tentang Pedoman Tarip dan Tatacara pemungutan retribusi pengelolaan sampah, mengatur tentang

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-83

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Struktur

tarip,

besaran

tarip

dan

tatacara

penetapan

dan

pemungutan retribusi pengelolaan sampah. 3) Peraturan Bupati Bandung tentang partisipasi dan peranserta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan sampah. 4) Peraturan sampah. Bupati Bandung tentang pedoman pembentukan organisasi/lembaga masyarakat dan swasta dalam pengelolaan

Struktur materi Perda dan penjabarannya dalam bentuk Peraturan dan atau Keputusan Bupati dapat digambarkan sebagai berikut:

Perda Pengelolaan Sampah

Ketentuan Kelembagaan
Ketentuan Tehnik dan Operasional

Ketentuan Pembiayaan
Ketentuan Peranserta Masy.

Peraturan/Keputusan Bupati tentang Pengelolaan Sampah

Pdoman Kelembagaan

Pedoman Pembiayaan Pedoman Tehnik dan Operasional Pdoman Peranserta Masy.

Gambar 2.19 Struktur Materi Perda dan Penjabarannya

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-84

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

2 .7

Aspek Peran Serta Masyarakat


Berdasarkan pada hasil studi pengetahuan, sikap dan perilalu masyarakat terhadap sampah yang dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan yang menunjukkan gambaran umum persepsi masyarakat Kabupaten Bandung :

Dari studi KAP di kedua kasus yaitu di Desa Mekar Jaya dan Desa Sukasari, dapat akan dikatakan pengelolaan pengetahuan masyarakat

sampah yang lebih baik yaitu konsep memilah, mengomposkan dan mendaur ulang umumnya berada pada tahap sudah mengetahui namun belum mau melakukan. Hal ini disebabkan karena terpaan media yang cukup tinggi (TV, radio, pertemuan-pertemuan informal berbagai kelompok masyarakat-terutama di Mekar Jaya, buku, kecuali koran di Mekar Jaya), maka pengetahuan masyarakat tentang. Masyarakat di Desa Mekar Jaya juga mengalami terpaan komunikasi informal (dari mulut ke mulut) yang tinggi, karena sifat guyub mereka masih sangat tinggi. Ada berbagai pengajian maupun pertemuan kelompok yang berjalan baik disini, sehingga informasi bisa cepat menyebar. Ibu-ibu di kedua lokasi tersebut juga sudah tahu tentang pemilahan, terutama karena lihat di TV. Tapi belum ada niat untuk melakukannya dengan konsisten, merasakan karena mereka pun belum terlalu manfaat pemilahan tersebut.

Pengomposan memang menjadi salah satu yang paling dikenal oleh masyarakat. Tetapi, karena dalam mengomposkan, yang diharapkan adalah bisa dijual, maka mereka berpikir, harus serius. Dan untuk serius melakukan hal itu, mereka merasa tidak ada waktu. Kebanyakan masyarakat di kedua lokasi, memiliki sikap: sampah bukan urusan saya. kalau ada yang mau memanfaatkan sampah saya, ya silakan. Tapi saya mah tidak ada waktu dll.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-85

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Jadi secara sikap, masalah sampah memang belum menjadi perhatian serius mereka. Bagi masyarakat, kebersihan lingkungan adalah urusan masing-masing. Mereka tidak mau saling mengingatkan jika ada tetangga atau masyarakat lain di sekitar mereka yang melakukan tindakan yang merusak kebersihan lingkungannya. Apalagi di Sukasari, mereka justru berpersepsi, bahwa mengingatkan pihak lain adalah urusan orang luar (misal jika ada proyek khusus itu, ya itu urusan para pelaksana proyek ybs. Atau bisa juga dimaksudkan bahwa pihak pemerintahlah yang harus turun tangan mengingatkan). Kesadaran akan kebersihan nampa lebih mendahului kesadaran akan pengelolaan sampah itu sendiri. Belajar dari dua kasus di Mekar Jaya dan Sukasari, beberapa strategi sempat meluncur dari mulut masyarakat. Dan jika memang kita menginginkan suatu program pengelolaan sampah yang berbasis masyarakat, maka, saran-saran ini perlu diperhatikan.

Jangan bentuk lembaga baru, libatkan saja kelompok-kelompok yang sudah ada di masyarakat.

Warga desa Mekar Jaya memandang ibu-ibu dan anak-anak perempuan adalah paling penting dalam siklus pengelolaan sampah. Kalau mau ada program pengelolaan sampah, lebih baik lewat ibu-ibu. Merekalah orang pertama yang menyentuh sampah di dapur, membuang dan menyapunya di halaman. Di desa ini, ada beberapa kelompok ibu-ibu yang aktif, antara lain Kelompok Pengajian, Dasawisma, GSI (Gerakan Sayang Ibu), PKK, dan Remaja Masjid. Warga desa juga menyarankan agar program pengelolaan sampah jangan membentuk lembaga baru. Tetapi memanfaatkan atau mengaktifkan kelompokkelompok yang sudah ada. Jika ada suatu bantuan atau insentif tertentu, hendaknya jangan diberikan kepada orang per orang.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-86

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pemerintah desa bisa berperan dalam hal menyediakan lahan desa untuk tempat pembuangan sampah. Warung-warung sembako juga diharapkan terlibat, dalam bentuk membuat tempat sampah sendiri di sekitar warung. Melibatkan Perusahaan Swasta lokal untuk membangun masyarakat

Banjaran adalah salah satu pusat industri tekstil dan garment di Kabupaten Bandung. Terdapat setidaknya 12 perusahaan yang beroperasi di wilayah Desa Sukasari. Perusahaan-perusahaan tersebut terikat dengan apa yang disebut sebagai corporate social responsibility (tanggungjawab sosial perusahaan). Perusahaan harus ikut bertanggungjawab dan terlibat dalam penyelesaian masalah-masalah sosial dan lingkungan di mana mereka beroperasi. Sangat mungkin untuk melibatkan mereka dalam program pengelolaan sampah. Ketika pengkaji melontarkan pernyataan itu, sebagian besar warga

membenarkan. Desa berpenduduk selitar 8.700 jiwa ini punya sejarah panjang dalam urusan dengan perusahaan. Mereka pernah melakukan demonstrasi kepada salah satu perusahaan garmen yang nyata-nyata membuang limbah ke sungai-sungai kecil yang melintasi desa. Setahu warga, sejak peristiwa demonstrasi itu perusahaan secara rutin memberikan dana pengelolaan lingkungan kepada pemerintah desa. Hanya saja sejauh ini mereka tidak tahu jumlah dan peruntukkannya. Tetapi gagasan itu baik. Kalau saja dulu perusahaan itu berperan, dengan misalnya memberikan sedikit uang untuk mengupah tenaga keamanan dan tenaga pemilah sampah di lokasi proyek, tentu pencurian mesin itu tidak perlu terjadi. Fokus pada apa yang dibutuhkan Masyarakat, karena sampah belum menjadi perhatian utama masyarakat Berbicara soal manajemen sampah dengan masyarakat di kedua lokasi tersebut, berbeda dengan berbicara tentang bagaimana cara mencari makan. Sampah memang bukan isu yang sepenting ekonomi, maupun bertani bagi masyarakat. Hal ini mirip juga dengan situasi yang dihadapi program-program seperti

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-87

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

kampanye AIDS, dimana masyarakat merasa, bahwa itu bukan kebutuhan pokok mereka. Masyarakat lebih memikirkan bagaimana makan besok daripada memikirkan mengelola sampah, atau bagaimana dapat uang untuk menyekolahkan anak daripada memikirkan memilah sampah. Sehingga, ketika suatu program masuk, dan hanya tunggal membahas sampah, maka masyarakat tidak akan terlalu tertarik (dalam POD, karakteristik belajar orang dewasa memang demikian: mereka hanya tertarik pada ilmu-ilmu yang bisa segera mereka manfaatkan dan nyata hasilnya). Dewasa ini memang terdapat kecenderungan di dunia community Development maupun Community Organizing, agar menggunakan pendekatan program yang holistik. Artinya, meskipun spesialisasi kita di bidang pertanian misalnya, tetapi harus siap juga untuk membahas politik atau ekonomi bersama masyarakat. Mengapa? Karena memang masyarakat menghadapi masalah yang kompleks, multifaktor, saling terkait antar faktor/masalah. Masalah sampah, bukanlah hanya soal membuat lingkungan kita bersih, tetapi harus dijelaskan juga oleh program ini bahwa melalui entry point sampah, akan ada banyak masalah di masyarakat yang teratasi. Perlu public figure dalam Campagne Kebersihan

Oleh karena itu, penggiat program harus lebih kreatif dalam mengemas programnya. Misalnya, meskipun ini hanya program yang titik beratnya kampanye pemilahan sampah, tetapi perancang program harus mempersiapkan suatu metodologi yang bisa membuat paham masyarakat bahwa gerakan ini merupakan bagian dari sebuah upaya untuk memperbaiki aspek-aspek lain dari kehidupan masyarakat, seperti meningkatkan ekonomi masyarakat, mempengaruhi kebijakan, bahkan mungkin menyelamatkan bumi dari isu pemanasan global. Pendampingan masyarakat, harus bisa membuka cakrawala berpikir

masyarakat, dan meningkatkan minat mereka untuk menjaga sustainabilitas program secara mandiri (setelah program/proyek selesai). Oleh karena itu,

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-88

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

kecanggihan metode pembelajaran harus diterapkan. Pendekatan program yang konvensional, misalnya dengan penyuluhan/ceramah oleh petugas, tidak akan ada manfaatnya untuk menimbulkan minat masyarakat. Tetapi, jika yang memberi penyuluhan adalah para pelaku yang pernah nampang di TV sebagai pengusaha sukses, mungkin hal ini akan lebih membekas di hati masyarakat. Disamping penelitian kualitatif, dilakukan pula penelitian kuantitatif dengan mengembangkan metoda Quesioner yang diarahkan untuk mengukur : Pengetahuan masyarakat akan keberadaan sistem pengelolaan sampah oleh Pemerintah Persepsi masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan pemerintah Persepsi masyarakat untuk peran aktifnya dalam pengelolaan sampah Tingkat kesanggupan membayar retribusi Pengetahuan masyarakat akan adanya pelayanan pengelolaan sampah oleh Pemerintah sudah sangat melekat, demikian halnya dengan keberadaan pengelola di lingkungan tempat tinggalnya yaitu petugas RT/RW. Pada kenyataannya nampak ada kecenderungan bahwa persepsi masyarakat yang paling kuat adalah bahwa masalah kebersihan dan pengelolaan sampah adalah urusan Pemerintah semata. Kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pengelolaan sampah terukur masih sangat rendah. Terlihat dari persepsi masyarakat akan keberadaan sarana dan prasarana yang dinilainya masih belum memadai. Secara umum dapat dikatakan bahwa masyarakat belum merasa puas dengan pengelolaan sampah yang dijalankan oleh Pemerintah, namun demikian peran aktif yang seharusnya muncul dari masyarakat nampak belum tumbuh. Bahkan pengetahuan akan peran aktif seperti apa yang seharusnya tumbuh di masyarakat nampaknya masih rendah. Masyarakat mengetahui bahwa mereka harus berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, tetapi baru pada tahap partisipasi aktif individual berupa : Menjaga kebersihan di rumah sendiri, belum di lingkungannya

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-89

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Membayar retribusi, Pengukuran terhadap persepsi masyarakat ini diarahkan pada pengetahuan akan adanya bagi peran sehingga ada biaya pengumpulan yang menjadi wewenang kelompok warga dan biaya pengangkutan yang menjadi wewenang Pemerintah. Dalam hal ini, umumnya masyarakat tidak banyak tahu, alasannya karena memang mereka tidak pernah mendapatkan informasinya. Adapun persepsi akan kecukupan besaran retribusi nampaknya masih

menganggap bahwa retribusi saat ini sudah cukup besar. Karenanya tidak sanggup bila adanya peningkatan dari besaran yang ada saat ini, yang umumnya membayar Rp. 5.000,- per bulan. Bahkan sebagian besar mengharapkan penurunan pada nilai Rp. 3.000,- per bulan. Melihat praktek penarikan retribusi saat ini yang hanya berkisar antara Rp. 1.500,- sampai Rp.5.000,- diperkirakan nilai yang dimaksud oleh responden adalah iuran yang dipungut atas kesepakatan RT/RW setempat. Selanjuntya dalam pengukuran willingness to pays terbukti bahwa sebagian besar masyarakat berada pada nilai Rp. 5.000,- , walau ada sebagian kecil saja yang mampu dan mau membayar di atas itu (Rp, 8.000 9.000), lebih dari itu nampaknya belum ada kesanggupan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal II-90

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

3.1 Visi dan Misi


Kebijakan dan Strategi Sistem Pengelolaan Sampah dimaksudkan sebagai pedoman dalam penyusunan kebijakan teknis, perencanaan, pemprograman dan kegiatan lain yang terkait dengan pengelolaan persampahan baik di lingkungan Dinas dan Lembaga terkait lainnya, juga bagi masyarakat maupun kelompok lainnya yang memiliki perhatian terhadap pengelolaan sampah. Semua yang tertuang di dalam kebijakan yang dikembangkan ditujukan untuk mendukung pencapaian sasaran pembangunan persampahan melalui rencana, program dan pelaksanaan kegiatan terpadu, efektif dan efisien. Perumusan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah pada dasarnya adalah untuk mewujudkan visi pengelolaan sampah perkotaan yang diharapkan akan dapat terjadi pada masa yang akan datang. Perumusan visi tersebut didasarkan pada isu-isu utama yang dihadapi dalam pengelolaan persampahan pada saat ini.

3.1.1 Visi
Dinas Kebersihan Kabupaten telah mencanangkan Visinya yaitu : Terwujudnya Kebersihan Lingkungan di Kabupaten Bandung

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Namun demikian, mempelajari seluruh permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, terdapat dua hal yang semestinya dimunculkan dan ditetapkan sebagai Visi Kota dalam membangun Sistem Pengelolaan Sampah yaitu : a. Perwujudkan Lingkungan bersih bebas dari sampah b. Pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan, dan menjalankan sistem pengelolaan kebersihan di lingkungannya sendiri. Diselaraskan dengan Visi Nasional Pengelolaan Sampah maka Visi Kabupaten Bandung dalam Pengelolaan Sampah adalah :

Visi di atas merupakan suatu keadaan yang ingin dicapai di masa depan bahwa kebersihan lingkungan terwujud bukan saja atas kekuatan Pemerintah semata, tetapi juga diperlukan adanya partisipasi warga di seluruh Kabupaten. Visi ini secara bertahap diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sinergis antar pemangku kepentingan yang secara langsung maupun tidak dalam pengelolaan persampahan. Visi tersebut di atas selanjutnya dirumuskan dalam beberapa misi sebagai terjemahan lebih lanjut arti visi yang telah ditetapkan, untuk dapat mengidentifikasi arah kebijakan yang akan ditempuh.

3.1.2 Misi
Misi yang dikembangkan oleh Dinas Kebersihan dalam tugasnya mengelola kebersihan Kota Kabupaten Bandung adalah : 1. 2. 3. 4. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia / SDM di bidang pengelolaan kebersihan Meningkatkan sistem pelayanan persampahan Mengembangkan infrastruktur TPSA yang memadai Mengembangkan sistem pengelolaan dan pemanfaatan sampah

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-2

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Sementara

itu,

untuk

dapat

mewujudkan

visi

pengembangan

sistem

pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandung, maka dirumuskan beberapa misi sebagai berikut : 1. Membangun kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sampah Masyarakat merupakan penghasil sampah, karena itu masyarakat merupakan aktor utama dalam pengelolaan sampah, yang perlu diberdayakan agar mampu melakukan berbagai upaya penanganan sampah untuk lingkungannya sendiri. Membangun kemandirian masyarakat ini dilakukan melalui untuk wilayah perdesaan. Sementara itu, adanya pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat yang diorientasikan keterbatasan Pemerintah dalam pembiayaan, maka perlu dibuka seluasluasnya kesempatan masyarakat kelompok usaha (swasta) untuk bermitra dalam pengelolaan sampah dalam suatu wilayah tertentu yang memiliki kriteria khusus. 2. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan sistem pengelolaan sampah ke seluruh Wilayah Kabupaten Bandung. Pelayanan sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung harus mampu menjangkau 30 Kecamatan yang terbagi dalam 3 wilayah pelayanan. Dalam mengembangkan pelayanan Dinas Kebersihan akan menetapkan dua pola pelayanan, yaitu Pelayanan Teknis langsung oleh Dinas, dan Pelayanan Pembinaan bagi wilayah yang menjadi target pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. 3. Menjalankan Paradigma Minimasi Timbulan Sampah dengan

Mengembangkan Pengolahan dan atau Daur Ulang Sampah Timbulan sampah yang selalu indentik dengan perkembangan jumlah penduduk, sedangkan kapasitas pengelolaan tidak mungkin ditingkatkan sampai kondisi maksimum, maka Kabupaten Bandung dalam 10 tahun bahkan 20 tahun mendatang menetapkan minimasi sampah sebagai sasaran utama pelaksanaan pengelolaan sampah.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-3

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

4. Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan dalam sistem pengelolaan sampah tata sesuai dengan prinsip yang yang good baik and dalam coorperate governance, yang berupa : a. Penyelenggaraan b. Penyelenggaraan pemerintahan sampah pengelolaan sampah pengelolaan transparan, partisipatif serta akuntabel dalam pengelolaannya, c. Pelibatan semua stakeholder dalam pengelolaan persampahan d. Pengelolaan persampahan secara efektif, efisien dan profesional e. Penguatan kelembagaan dengan penyesuaian struktur dan kewenangan kelembagaan pengelola persampahan 5. Memobilisasi dana dari berbagai sumber untuk pengembangan sistem pengelolaan persampahan a. Peningkatan b. Pengembangan prioritas potensi dan alokasi pendanaan untuk bagi penyelenggaraan pelayanan persampahan pendanaan pengelolaan persampahan baik melalui anggaran kota/kabupaten, propinsi, pusat, bahkan dana luar negeri, termasuk kerjasama dengan dunia usaha/swasta. c. Pengembangan dan perkuatan pendanaan sistem pengelolaan berbasis masyarakat melalui penyertaan modal atau bentuk lainnya 6. Menegakkan hukum dan melengkapi peraturan perundangan untuk meningkatkan sistem pengelolaan persampahan a. Memperbaharui produk hukum yang ada untuk disesuai dengan visi misi saat ini b. Melengkapi produk hukum yang diperlukan bagi landasan penyelenggaraan pengelolaan persampahan. c. Penegakan dan Penaatan Hukum, dengan mengembangkan mekanisme yang sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat dengan melibatkan seluruh stakeholder.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

3.2 Isu Strategis Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung


Analisis terhadap kondisi eksisting pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, menunjukkan adanya beberapa pokok permasalahan penting , yaitu : (1) Kapasitas Pengelolaan Sampah Yang menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung adalah tingginya beban pengelolaan yang tidak diimbangi dengan kemampuan dalam aspek operasional dari Dinas Kebersihan yang menjadi pelaksana teknis pengelolaan. a. Tingginya Beban Pelayanan Beban pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten dikategorikan tinggi disebabkan karena 2 faktor utama yaitu : besarnya jumlah penduduk dan luasnya wilayah administrasi, sehingga pelayanan saat ini terkesan tidak terfokus. b. Rendahnya Kualitas dan Tingkat Pelayanan Tingkat pelayanan Dinas Kebersihan dilihat dari jumlah penduduk yang mampu dilayani oleh sistem eksisting, baru mencapai 20,8 %. Demikian halnya dari Tingkat Keterangkutan sampah ke TPSA, baru mencapai 20,8 %. Kualitas operasional yang masih rendah terlihat dari tingkat kebersihan di seluruh TPS yang ada, masih jauh dari kondisi bersih. Disamping itu, tingkat kebersihan di permukiman, sarana kota, badan air dan fasilitas lainnya, menujukkan rendahnya kualitas pelayanan yang ada. (2) Kemampuan Kelembagaan Lembaga atau instansi pengelola persampahan merupakan motor penggerak seluruh kegiatan pengelolaan sampah dari sumber sampai ke TPA. Kondisi kebersihan suatu kota atau wilayah merupakan output dari rangkaian pekerjaan manajemen pengelolaan persampahan yang keberhasilannya dipengaruhi oleh banyak faktor. Kapasitas dan kewenangan instansi pengelola persampahan menjadi sangat penting karena besarnya tanggung jawab yang harus dipikul dalam menjalankan roda pengelolaan yang biasanya tidak sederhana bahkan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-5

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

cenderung cukup rumit sejalan dengan makin tingginya dan kompleknya aktifitas kota. Saat ini Dinas Kebersihan di Kabupaten Bandung sesungguhnya mengemban dua fungsi yaitu sebagai regulator dan operator. Penggabungan kedua fungsi ini mengakibatkan tidak berjalannya fungsi pengawasan. Kehadiran Badan Perencana Daerah dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung ini akan menjadi sebuah peluang untuk peningkatan kinerja Dinas Kebersihan. Fungsi yang tepat untuk diemban oleh Bapeda adalah fungsi regulator, sehingga Dinas Kebersihan dapat menjalankan fungsi operator dengan lebih efektif. Ketimpangan fungsi tersebut juga tidak didukung dengan SDM yang memadai baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Kemampuan SDM intern Dinas Kebersihan dalam 2 tahun mendatang selayaknya harus mendapat perhatian besar. (3) Kemampuan Pembiayaan Saat ini alokasi APBD untuk pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandung baru 0,8%. Hal ini menunjukkan perhatian Eksekutif kota dan Legislatif perlu di tingkatkan. Pemikiran bahwa pengelolaan sampah ala kadarnya sudah harus segera ditinggalkan. Dan segera disadari bahwa untuk menjadikan kota bersih memerlukan biaya tinggi. Demikian halnya, dengan efektifitas retribusi yang masih sangat rendah baik dari segi kuantitas maupun kualitas mekanisme penarikannya, menyebabkan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung semata hanya menjadi beban APBD. (4) Peran Serta Masyarakat a. Potensi masyarakat belum dikembangkan. Sudah sejak lama sesungguhnya masyarakat telah mampu melakukan sebagian sistem pengelolaan sampah baik secara individual maupun skala lingkungan terutama di lingkungan permukiman. Hal ini diperkuat dengan ketentuan yang digariskan dalam Peraturan Daerah, sehingga

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-6

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

sudah selayaknya kemampuan masyarakat ini akan menjadi potensi yang dapat dikembangkan b. Rendahnya investasi Dunia Usaha Di Kabupaten Bandung saat ini minat sektor swasta bisa dikatakan mulai ada, walau masih dalam tahap studi kelayakan. Namun implementasinya masih belum ada. Hal ini perlu diantisipasi dengan adanya pengaturan dan penetapan wilayah garapan yang akan diserahkan pada swasta. (5) Lemahnya Penegakan dan Penaatan Hukum Secara umum, peraturan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung sudah cukup lengkap dari kehadiran perangkatnya, akan tetapi kesempurnaan materi peraturan memerlukan penyempurnaan.

3.3 Tantangan Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung


Berdasarkan observasi terhadap sistem secara menyeluruh dari berbagai aspeknya, tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, adalah sebagai berikut : Kebutuhan peningkatan cakupan pelayanan dari 20,8% saat ini, menjadi 60% di tahun 2010 dan 70% di tahun 2015, untuk mencapai total pelayanan secara nasional yang selaras dengan Milenium Development Goals, selain memerlukan investasi sarana dan prasarana persampahan yang cukup besar juga harus di dukung oleh kesiapan manajemen dan dukungan peraturan perundangan yang memadai Kebutuhan peningkatan kemampuan lembaga yang memungkinkan dilaksanakannya pengelolaan sampah secara lebih profesional dengan dukungan SDM ahli yang memadai serta dimungkinkan kerjasama dengan Kota Bandung dan Kota Cimahi, dalam pengadaan TPA secara regional. Demikian juga pengembangan kemampuan memfasilitasi pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Disamping itu, penataan kelembagaan dalam konteks pemisahan peran regulator dan operator pun menjadi tantangan dalam tahun-tahun mendatang.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-7

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pengembangan komitmen pihak eksekutif dan legislatif dalam pengalokasian dana dalam penataan sistem pengelolaan sampah secara terintegrasi dan berkelanjutan Penggalian sumber dana untuk investasi dan biaya O/M baik dari APBD maupun modal swasta, yang harus sinergis dengan penerapan pola pemulihan biaya (cost recovery) secara bertahap yang merupakan tantangan yang harus di carikan solusinya. Pengintegrasian 3R di dalam sistem operasi pengelolaan dari hulu ke hilir yang selama ini masih belum dan sulit untuk dilakukan merupakan tantangan yang memerlukan kesungguhan terutama dalam masalah pengembangan komunitas (Community Development). Pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat terutama di daerah-derah perdesaan, menjadi tantangan yang membutuhkan pemikiran sungguh-sungguh sehingga dapat diimplementasikan. Kondisi TPSA yang ada yang masih dioperasikan secara open dumping, memerlukan diminimalkan. Penegakan dan Penaatan Hukum, atas pelanggaran pembuangan sampah merupakan tantangan aparat hukum bagaimana penerapan Perda dapat dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Adopsi teknologi pengolahan sampah yang kini banyak ditawarkan pihak investor yaitu Pembangkit Tenaga Listrik sampah, merupakan peluang, disebabkan hal ini akan mampu mengurangi beban pelayanan Pemerintah, akan tetapi merupakan tantangan terutama dari faktor masalah pembiayaan dan dampaknya terhadap lingkungan. Karena itu, apabila PLTSa akan menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi masalah pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, selayaknya menjadi komplemen atau pendukung bukan menjadi strategi utama. Dalam Jangka pendek diperlukan upaya pembinaan wilayah pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Disamping penyadaran masyarakat umum diseluruh kota agar mau berpartisipasi aktif dalam membiayai pengelolaan sampah kota. Dalam jangka panjang diharapkan muncul peran aktif masyarakat dalam bentuk tindakan nyata dalam mengelola sampah yang upaya rehabilitasi agar pencemaran lingkungan dapat

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-8

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

ditimbulkannya. Dalam jangka panjang kehadiran masyarakat bermodal (swasta) untuk mengelola sampah di wilayah strategis perlu dikembangkan.

3.4 Kebijakan Sampah

dan

Strategi

Pengembangan

Sistem

Pengelolaan

3.4.1 Skenario Pengelolaan Sampah Nasional dan Regional


Secara nasional, pengelolaan sampah ditujukan untuk mendukung tercapainya visi pembangunan perkotaan dan perdesaan yaitu meningkatnya kemandirian daerah dalam pengelolaan dan pengembangan perkotaan yang layak huni, berkeadilan, berbudaya, produktif, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan bidang persampahan yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Secara lebih spesifik pengelolaan sampah dilaksanakan untuk : 1. Mencegah pencemaran terhadap sumber daya air akibat penanganan sampah yang tidak sesuai ketentuan teknis, 2. Melindungi investasi sektor lainnya dari kerusakan akibat sampah, 3. Menunjang kawasan strategis, 4. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari sumber retribusi kebersihan. Adapun pendekatan pelaksanaan pengelolaan sampah yang harus dianut dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah di Indonesia adalah bahwa timbulan sampah harus dikurangi, dengan penggunaan kembali dan atau di daur ulang. Konsep 3R (Reduce-Reuse-Recycle) selayaknya menjadi jiwa di dalam setiap tahapan operasi pengelolaan sampah. Secara global, kebijakan dan Strategi Nasional Sistem Pengelolaan Persampahan mengacu pada sasaran terukur yang tertuang dalam RPJMN 2004 2009 dan sasaran dalam pencapaian MDG 2015 serta beberapa sasaran terukur lainnya. Sasaran yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 adalah meningkatkan jumlah sampah terangkut hingga 75% hingga

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-9

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

akhir tahun 2009 serta meningkatkan kinerja pengelolaan TPA yang berwawasan lingkungan pada semua kota-kota metropolitan, kota besar dan kota sedang. Sasaran yang tertuang dalam Rencana Strategis Departemen Pekerjaan Umum 2005-2009 adalah sebagai berikut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pengelolaan sanitasi di 276 kota/kabupaten serta pengembangan drainase dan sistem pengelolaan persampahan serta meningkatnya kualitas lingkungan permukiman kawasan kumuh dan nelayan .

Disamping kedua sasaran perencanaan tersebut, sasaran pembangunan bidang persampahan juga mengakomodir sasaran Millenium Development Goals tahun 2015 untuk menyediakan akses pelayanan persampahan kepada masyarakat mampu melayani masyarakat dengan kapasitas 80% atau 1004,6 juta di perkotaan dan 50% atau 57,5 juta jiwa di perdesaan, dan total seluruh Indonesia mencapai 66% atau 162,1 jita jiwa. Dengan memperhatikan berbagai sasaran yang telah disebutkan sebelumnya dan dengan memperhatikan berbagai kendala, tantangan dan peluang yang ada, maka ditetapkan beberapa sasaran utama yang hendak dicapai pada tahun 2006-2010 yang meliputi : Tercapainya kondisi kota dan lingkungan yang bersih termasuk saluran drainase perkotaan Pencapaian pengurangan kuantitas sampah sebesar 20% Pencapaian sasaran cakupan pelayanan 60% penduduk Pencapaian kualitas pelayanan yang sesuai atau mampu melayani standar pelayanan minimal persampahan Tercapainya peningkatan kualitas pengelolaan TPSA menjadi Sanitary Landfill untuk Kota Metropolitan dan Kota Besar, serta controlled landfill untuk Kota Sedang dan Kota Kecil, serta tidak dioperasikannya TPSA secara open dumping. Tercapainya peningkatan kinerja institusi pengelola persampahan yang mantap dan berkembangnya pola kerjasama regional.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-10

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Adapun di tingkat regional, sampai saat skenario pengelolaan sampah diarahkan terhadap terselenggaranya pengelolaan sampah bersama antara Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Sumedang dan sebagian Kabupaten Garut. Sasaran utamanya adalah terbangunnya TPA Regional di wilayah Metropolitan Bandung bagian barat dengan alternatif lokasi TPA Leuwigajah dan wilayah timur dengan alternatif lokasi TPA di Citiis, Legok Nangka. Untuk mengelola kegiatan pengelolaan sampah bersama Metropolitan Bandung ini, saat ini tengah dipersiapkan sebuah manajemen pengelola persampahan regional oleh Dinas Tata Ruang Permukiman Propinsi.

3.4.2 Strategi Umum Pengelolaan Sampah Kabupaten Bandung


Berdasarkan pada isu-isu strategis di atas, dikembangkan strategi pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung untuk 20 tahun mendatang. Rendahnya tingkat pelayanan Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung yaitu baru mencapai 20,8%, bukan disebabkan karena masalah teknik semata, melainkan lebih disebabkan karena lemahnya sistem manajemen intern Dinas Kebersihan itu sendiri. Belum optimalnya manajemen di setiap fungsi Dinas menjadi penyebab kelemahan ini. Penyebab lemahnya sistem kelembagaan antara lain disebabkan karena minimnya anggaran yang dialokasikan untuk pengelolaan kebersihan kota. Harus segera disadari Kabupaten Bandung adalah Kota Besar yang memerlukan biaya pembangunan yang cukup tinggi. Retribusi kebersihan dari masyarakat yang diharapkan menjadi sebagian besar sumber pembiayaan pengelolaan ternyata masih sangat rendah dalam efektifitas. Kehadiran lembaga pengelola kebersihan dalam bentuk Dinas Kebersihan dalam 10 (sepuluh) tahun mendatang diperkirakan masih layak untuk menanggung beban kerja pengelolaan. Dalam jangka pendek, dukungan besar dari seluruh stakeholder, baik Pemerintah maupun yang lainnya, sangat dibutuhkan guna memperkuat kinerja Dinas Kebersihan. Dalam jangka menengah peningkatan kemampuan SDM harus menjadi prioritas, mengingat adanya beban yang tinggi dalam aspek operasional. Selama ini dengan beban pengelolaan masih termasuk Kab. Bandung barat, permasalahan di dalam aspek operasional merupakan akibat dari lemahnya

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-11

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

lembaga pada jenjang struktural dan operasional, sehingga efisiensi kerja rendah. Jumlah armada yang masih gabungan antara kedua kota terukur masih bekerja pada beban dibawah rata-rata. Namun ketika aset Kab. Bandung Barat sudah diserahkan, terukur kapasitas angkut berada pada kondisi optimal. Namun demikian belum meratanya pelayanan ke seluruh wilayah perkotaan, menuntut adanya peningkatan beban pelayanan sehingga dibutuhkan pengembangan sarana dan prasarana dalam jangka menengah dan panjang. Kinerja sistem operasional pengelolaan sampah Kabupaten Bandung tidak akan mencapai tingkat optimum tanpa adanya peran aktif masyarakat. Masyarakat bukan lagi hanya sebagai obyek pelayanan, tetapi harus dipandang sebagai salah satu stakeholders yang dituntut peran aktifnya dalam pengelolaan sampah. Analisis terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dari faktor yang mempengaruhi dan menentukan dalam penentuan arah pengembangan sistem diuraikaikan dalam analisis SWOT (terlampir). Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa kelemahan faktor internal sistem sangat tinggi, akan tetapi terdapat kekuatan bahwa Dinas Kebersihan sebagai satu-satunya lembaga formal pengelola sampah di Kab. Bandung, dan dengan memanfaatkan peluang adanya inisiatif lokal dari masyarakat dalam pengelolaan sampah secara mandiri dan juga peluang pelimpahan sebagian kewenangan pengelolaan kebersihan kepada Camat, maka dalam Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung dikembangkan strategi sebagai berikut : perlu

A. Perkuatan Lembaga Formal Pengelola Sampah, agar menjadi lembaga yang handal dalam menjalankan kewenangannya dan mampu bermitra dengan kelompok informal dan atau masyarakat lainnya yang ingin berperan aktif dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung B. Perluasan jangkauan pelayanan di wilayah perkotaan dan perdesaan dengan desentrasilasi pengelolaan di tingkat Kecamatan melalui implementasi 3R dan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-12

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

penerapan Sistem Pengelolaan Berbasis Masyarakat

C. Kemitraan antara Pemerintah, Masyarakat dan Swasta untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah D. Pengembangan Pendidikan Masyarakat dengan penguatan strategi komunikasi, guna pemaparan pengetahuan untuk mencapai perubahan sikap, persepsi dan keterampilan masyarakat di seluruh Kabupaten Bandung.

3.4.3 Strategi Peningkatan Teknis Pengelolaan


Strategi di dalam aspek teknik operasional pengelolaan sampah berpijak pada beban pengelolaan terhadap sistem yang akan dikembangkan selama periode perencanaan. Beban pengelolaan sampah Kabupaten Bandung saat ini telah mencapai 2,803 m3/hari dan akan menjadi 4,041 m3/hari di Tahun 2020 serta 5,246 m3/hari di tahun 2008 mendatang. Kendala utama dalam operasional pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung ini adalah penyebaran area pelayanan yang sangat luas. Oleh karena itu dalam pengoperasian diarahkan terhadap upaya efiensi kerja, yaitu dengan menerapkan konsep minimasi sampah terangkut ke TPA dengan meningkatkan upaya pengolahan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya. Untuk itu reduksi sampah yang harus ditimbun di TPA merupakan target sub sistem operasional. Namun demikian, pergeseran suatu pola pengelolaan sampah dalam sistem

yang sudah eksist terlebih dahulu merupakan suatu pekerjaan besar dan tentunya diperlukan peran aktif dari seluruh stakeholders dalam sistem tersebut. Perubahan tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, melainkan diperlukan adanya waktu peralihan. Panjang atau singkatnya waktu peralihan tersebut akan sangat ditentukan oleh faktor konsistensi dari setiap stakeholders terutama Pemerintah Kota sebagai fasilitator. Untuk mencapai efektifitas kerja yang tinggi, operasi pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, ditetapkan hal-hal berikut :
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-13

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tanggung jawab pengelolaan kebersihan oleh Dinas Kebersihan dalam 20 tahun mendatang adalah seluruh wilayah Kabupaten Bandung, melingkupi 30 Kecamatan. Adapun beban operasional dengan konsep pelayanan teknis adalah wilayah perkotaan yang mencapai 32% penduduk, selebihnya 68% adalah di wilayah perdesaan, yang merupakan beban pengelolaan dengan konsep pengembangan sistem berbasis masyarakat.

Wilayah pelayanan terbagi menjadi 3 wilayah operasional. Penguatan manajemen operasional masing-masing wilayah dalam hal ini menjadi prioritas pengembangan program kelembagaan

Penerapan konsep 3R di setiap tahapan operasi pengelolaan akan menjadi pertimbangan utama dalam rencana pengembangan sarana dan prasarana

Pemilahan sebagai konsep awal pola 3R, akan dilakukan sejak di sumbernya, dengan prioritas dalam pelaksanaannya.

Operasi pengumpulan sampah dari sumber ke TPS , sesuai dengan Perda yang ada tetap menjadi tanggung jawab masyarakat dibawah koordinasi RT/RW setempat.

TPS akan dikembangkan untuk melayani maksimal 1 Kelurahan atau 5000 penduduk. TPS tingkat kelurahan ini difungsikan sebagai tempat pengomposan dan pengumpulan sementara sampah anorganik serta B3 Rumah Tangga, dengan operasi pengelolaan Komunal Tidak Langsung. Sampah anorganik di bawa ke TPS tingkat Kecamatan.

Sampah anorganik dari TPS Kelurahan akan dibawa ke TPS Kecamatan, untuk ditangani lebih lanjut, yaitu dengan pengembangan kegiatan pengepulan dan daur ulang plastik di tahun-tahun mendatang. Di TPST Kecamatan ini pula sampah residu dikumpulkan untuk diangkut ke TPA Kota.

Di TPA residu sampah, dalam jangka pendek yaitu hingga tahun 2015, akan ditimbun. Selanjutnya dalam jangka panjang akan dikembangkan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-14

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

pengolahan residu sampah menjadi pelet bahan bakar, sebagai penerapan konsep Waste to Energy.

3.4.4 Strategi Peningkatan Kelembagaan Berdasarkan analisis kendala dan peluang yang ada di dalam subsistem organisasi kelembagaan maka diperlukan strategi berikut : 1. Meningkatkan status dan kapasitas lembaga pengelola kebersihan, dimana saat ini ada di bawah Bidang Kebersihan dan UPTD Pengangkutan sampah pada Dinas Perumahan, Tata Ruang dan Permukiman, perlu pengkajian ulang untuk kembali menjadi Dinas tersendiri, mengingat semakin tingginya beban pengelolaan sampah di Kab. Bandung. 2. Menginisiasi terbentuknya sub sistem kelembagaan yang dapat menjalankan fungsi sesuai perannya masing-masing. Hal ini menyangkut peningkatan peran lembaga formal maupun non formal yang telah ada, dan juga pengembangan lembaga lain yang dibutuhkan kehadirannya. pendekatan Kehadiran bottom-up, lembaga dimana lain dilakukan dengan pola kehadiran lembaga tersebut

merupakan kebutuhan dan merupakan inisiatif warga bukan bentukan pemerintah. Kehadiran lembaga eksternal ini tidak saja menyangkut aspek teknik operasional tetapi diharapkan juga untuk mendukung penegakan hukum di dalam sistem. 3. Meningkatkan kinerja lembaga pengelola persampahan, salah satunya dengan meingkatkan kualitas SDM Lembaga Pengelola Kebersihan. 4. Melakukan pemisahan fungsi /unit regulator dan operator 5. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi antar stakeholder lokal maupun regional, dan juga membangun kemitraan yang harmonis dengan masyarakat dalam upaya membangun sistem pengelolaan berbasis masyarakat.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-15

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

3.4.5 Strategi Peningkatan Hukum Strategi bidang hukum dan peraturan difokuskan untuk menunjang terlaksananya strategi pada keempat aspek lainnya. Strategi ini menyangkut : 1. Penataan kembali perangkat hukum dan peraturan disesuaikan dengan rencana jangka pendek, menengah dan panjang 2. Penegakan dan penaatan hukum/peraturan, dengan terbentuknya masyarakat yang peka terhadap aturan/hukum. 3. Membangun tatanan hukum di masyarakat bersamaan dengan pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat

3.4.6 Strategi Peningkatan Pembiayaan Pembiayaan penyelenggaraan pengelolaan sampah merupakan unsur pokok berlangsungnya sistem pelayanan. Permasalahan sampah kota adalah persoalan permanen dan rutin terus bertambah besar sehingga menuntut pada konsep pembiayaannya. Selama pengelolaan sampah masih menjadi tanggung jawab pemerintah, maka strategi pembiayaan pengelolaan sampah kota harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pembiayaan pengelolaan infrastruktur kota. Penyelenggaraan pelayanan pengelolaan sampah merupakan kegiatan yang harus dan pasti dilaksanakan oleh pemerintah. Oleh karena itu model atau konsep pembiayaannya baik sumber atau pun alokasinya harus memiliki kejelasan dan kepastian. Mengingat bahwasanya Pengelolaan sampah merupakan bagian pelayanan umum yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bandung, dengan demikian pengaturan pembiayaan menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah. Target yang ingin dicapai dalam aspek pembiayaan selama 10

tahun mendatang adalah : Terpenuhinya anggaran pengelolaan kebersihan sesuai dengan

perhitungan kebutuhan pelayanan standar, Terciptanya keseimbangan antara realisasi retribusi dengan anggaran operasional sehingga subsidi dapat dikurangi secara bertahap,

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-16

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Untuk itu dikembangkan suatu strategi pembiayaan sebagai berikut : 1. Penguatan unit penagihan dalam struktur organisasi lembaga Dinas Kebersihan, dengan mengembangkan mekanisme penagihan retribusi yang disepakati oleh seluruh pihak berkaitan, 2. Pengalokasian anggaran secara proporsional per unit kegiatan

3.4.7 Strategi Peningkatan Peran Serta Masyarakat Faktor utama yang menjamin pencapaian sistem pengelolaan sampah adalah faktor manusia, baik petugas pelaksana pengelola dan masyarakat umum sebagai penimbul sampah. Untuk dapat merealisasikan strategi operasional yang telah dikembangkan, perlu adanya sebuah upaya besar, menyentuh manusia sebagai faktor utama keberhasilan. Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang sasaran yang paling realistis adalah menjadikan masyarakat Kabupaten Bandung sebagai masyarakat yang bersikap dan berperilaku positif terhadap sampah, dengan indikator tumbuhnya sikap dan tingkah laku yang didasari oleh kesadaran akan lingkungan bersih, sehingga sikap dan perilaku terhadap sampah tidak didasari pada kewajiban tetapi sebagai nilai kebutuhan. Untuk melaksanakan pengurangan sampah di sumber dan meningkatkan polapola penanganan sampah berbasis masyarakat, diperlukan pemahaman bahwa masyarakat bukan lagi hanya sebagai obyek tetapi lebih sebagai mitra yang mengandung makna keselarasan. Tanpa ada peran aktif masyarakat akan sangat sulit mewujudkan kondisi kebersihan yang memadai. Disamping itu, pihak swasta/dunia usaha juga memiliki potensi yang besar untuk dapat berperan serta menyediakan pelayanan publik ini. Untuk operasionalisasi kebijakan tersebut maka beberapa strategi ditetapkan yaitu : (1) Menyebar luaskan pemahaman tentang pengelolaan persampahan kepada masyarakat umum

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-17

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(2) Mengembangkan pendidikan masyarakat tentang pengelolaan sampah sejak usia dini (3) Mengembangkan pola pembelajaran kepada masyarakat yang terintegrasi dalam pengembangan sistem pengelolaan berbasis masyarakat. (4) Mengembangkan pola-pola insentif dan iklim kondusif bagi dunia usaha / swasta

3.5 Program Kerja Peningkatan Pengelolaan Sampah Kab. Bandung Berdasarkan pada strategi dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Bandung dalam peningkatan pelayanan pengelolaan sampah, dikembangkan program kerja yang menjadi kerangka garis besar pengembangan kegiatan selama 20 tahun mendatang.

Program kerja pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2028 secara tabularis diprlihatkan pada Tabel 3.1.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-18

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel 3.1 Kabupaten Bandung SMWI Action Plan Program
1.1 Pengembangan Pilot Project Pengelolaan Sampah Tingkat Kecamatan 1.2 Penyiapan lembaga Mitra Pengelolaan Sampah di Tingkat Kecamatan 1.1.1 1.1.2 1.2.1 1.2.2

No
1

Strategi
Desentralisasi Pengelolaan Sampah di Tingkat Kecamatan

Kegiatan
Penyusunan Rencana Detail Pengelolaan Smp di Kecamatan Contoh Implementasi Desentralisasi Pengelolaan Sampah Tingkat Kecamatan Penyusunan SOTK Lembaga Kemitraan Tingkat Kecamatan Training Peningkatan Kemampuan Lembaga Kemitraan

Implementasi 3R dari hulu ke hilir

2.1

Peningkatan Pengomposan Sampah

2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4

Evaluasi Potensi Kompos dari Sampah di Kabupaten Bandung Analisa Pasar Kompos Penyusunan Rencana Pengomposan Terpadu Se Kab Bdg Monitoring Pengomposan dan Pemasaran kompos dari Instalasi Pengomposan di Babakan

2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8

Integrasi Pengomposan dan WTE Pengembangan Instalasi Pengomposan di Kecamatan Contoh Mengaktifkan Kembali Unit Pengomposan yang ada (5 Kel) Pengembangan Jaringan Pelaku Pengomposan

2.2

Implementasi Daur Ulang Sampah Anorganik

2.2.1 2.2.2 2.2.3 2.2.4 2.2.5

Evaluasi Timbulan Sampah Potensi Daur Ulang Identifikasi Pelaku Daur Ulang di seluruh wil Kabupaten Penyusunan Rencana Detail Program Daur Ulang Sampah Anorganik Analisa Kelayakan Usaha Daur Ulang Skala Kecamatan & Kota Implementasi Daur Ulang Plastik di Kecamatan Contoh

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-19

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung No Strategi


2.3

Program
Peningkatan Reduksi Sampah Terbuang ke TPA 2.3.1 2.3.2 2.3.3

Kegiatan
Kajian Kelayakan Teknis dan Ekonomis Pengolahan Residu Sampah Implementasi Pengolahan Residu Sampah Analisis Pasar Produk Daur Ulang Residu Sampah

2.4

Pengelolaan Sampah B3 RT

2.4.1 2.4.2

Penyusunan Rencana Detail Pengelolaan Sampah B3 RT Implementasi Pengelolaan Sampah B3 RT

Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

3.1

Adopsi Inisiatif Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan yang terkait pengelolaan sampah

3.1.1 3.1.2

Survey Inisiatif Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Menyusun konsep Pembangunan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

3.1.3

Implementasi Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat terutama dalam mekanisme insentif dan desinsentif bagi masy

3.1.4

Pengembangan Forum Masyarakat Pelaku Pengelolaan Sampah

Pengembangan Sarana Prasarana Pengelolaan Sampah Terpadu

4.1

Pengadaan Sarana Prasarana Pengelolaan Sampah berbasis 3R

4.1.1

Penyusunan Detail Enggineering Desain Sarana Prasarana Pengelolaan Sampah Berbasis 3R dari hulu ke hilir

4.1.2 4.1.3 4.1.4 4.1.5 4.1.6 4.1.7 4.1.8 4.1.9

Pengadaan Sarana dan implementasi pemilahan di sumber Pembangunan TPS (Tempat Penampungan Sementara) Pembangunan TPST Kecamatan Pembangunan TPST Kota di Babakan Pengadaan Kendaraan Pengumpul Pengadaan Kendaraan Pengangkut Sampah dan Residu Pengadaan Peralatan Pengomposan Pengadaan Peralatan Daur Ulang Plastik

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-20

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung No Strategi


4.2

Program
Pembangunan TPST Kota Berbasis Pembangunan Wilayah dengan konsep Partisipatif 4.2.1 4.2.2 4.2.3 Studi Kelayakan Lahan TPST

Kegiatan
Penyusunan Detail Enggeering Design TPST Kota secara partisipatif Implementasi TPST Baru Penyiapan kerangka aturan peran swasta dalam pengelolaan sampah Ujicoba pengelolaan oleh swasta

Peningkatan Peran Swasta dalam Dunia Usaha

4.3

Kerjasama Regional dalam Pengelolaan Residu

4.3.1 4.3.2

Penyiapan Konsep Kerjasama Pengelolaan Sampah Regional Implementasi Pengelolaan Residu di tingkat Regional

Penguatan Pembiayaan Pengelolaan Sampah

5.1

Peningkatan Alokasi APBD untuk Pengelolaan Sampah

5.1.1

Evaluasi Tingkat Kecukupan Pembiayaan Pengelolaan Sampah dari APBD dan Retribusi

5.1.2

Penyampaian hasil kajian pada pihak Eksekutif dan Legislatif

5.2

Penataan Sistem Retribusi Sampah

5.2.1 5.2.2 5.2.3

Identifikasi Potensi Retribusi Penyiapan aparat pelaksana sistem retribusi Penyusunan Sistem Retribusi dikaitkan dengan mekanisme implementasi 3R

5.3

Pengembangan Kemitraan Pemerintah vs Swasta

5.3.1 5.3.2

Implementasi Kemitraan Pemerintah Swasta di Kecamatan Contoh Menyiapkan konsep kemitraan Pemerintah-Swasta-Masyarakat

Re-fungsionalisasi Lembaga

6.1

Peninjauan kembali UPTD menjadi Dinas

6.1.1

Pembahasan Ulang Lembaga Pengelola Sampah

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-21

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung No Strategi


Dinas Kebersihan, dengan fungsi utama sebagai operator 6.1.2

Program

Kegiatan
mengarah pada refungsionalisasi lembaga Dinas Penyusunan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Dinas Kebersihan

6.2

Peningkatan Kapasitas Lembaga Formal Pengelola Sampah

6.2.1 6.2.2

Motivation Training untuk Seluruh Staf Training peningkatan Kemampuan Teknis, dan Pembiayaan

6.3

Evaluasi Betuk Lembaga Dinas

6.3.1

Evaluasi Lembaga Dinas Menjadi Lembaga yang Lebih memadai dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah, misal Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)

Penataan Hukum dan Peraturan Pengelolaan Sampah

7.1

Evaluasi Hukum dan Peraturan tentang Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung

7.1.1

Evaluasi Perda Nomor 8 Tahun 2008, untuk penyiapan Perda tentang Pengelolaan Sampah tersendiri, tidak menjadi satu dengan pengaturan bidang lainnya (saat ini bersamaan dengan pengaturan K3)

7.1.2

Pemantapan Peraturan Daerah tentang Perubahan UPTD kembali menjadi Dinas Kebersihan

7.1.3

Penyiapan penjabaran Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Persampahan ke dalam Peraturan Bupati dan/atau Kebuptusan Bupati sebagai pedoman dan/atau petunjuk teknis untuk setiap aspek dalam pengelolaan sampah

Kampanye Mengenai Peningkatan Hidup dan Lingkungan Sehat, yang terkait

8.1

Kampanye Tingkat Kota

8.1.1 8.1.2

Penyusunan Strategi Komunikasi tingkat kota Implementasi Kampanye Tingkat Kota

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-22

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung No Strategi


pada pengelolaan persampahan 8.2

Program
Kampanye Tingkat Kecamatan 8.1.3 8.1.4

Kegiatan
Penyusunan Strategi Komunikasi di Kecamatan Contoh Implementasi Kampanye di Kecamatan Contoh dengan Kerangka Community Development

3.6 Pengembangan Skenario Sasaran pelayanan pengelolaan sampah Kabupaten Bandung di tetapkan berdasarkan pada beban permasalahan sampah yang dihadapi pada kondisi saat ini sampai pada masa 10 dan 20 tahun mendatang. Sebagaimana ditetapkan dalam strategi aspek operasional, bahwa beban pengelolaan sampah selama 20 tahun mendatang terdiri atas dua cakupan yaitu :

1. Sebesar 32% penduduk, merupakan penduduk perkotaan yang akan dilayani dengan pendekatan pelayanan teknis 2. Sebesar 68% penduduk perdesaan, yang akan dilayani dengan pendekatan pembangunan Community Base Solid Waste Management (CBSWM) atau Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-23

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Beban pelayanan Dinas Kebersihan dan beban perdesaan dalam periode 5 tahunan selama 20 tahun mendatang diperlihatkan dalam satuan volume dan berat adalah seperti pada Tabel 3.2
Tabel 3.2 Beban Pelayanan Pengelolaan Sampah di Kab.Bandung
Tahun 2008 2009 2015 2020 2025 2028 Jumlah Penduduk Kota (Jiwa) 997,348 1,027,043 1,230,179 1,438,190 1,690,304 1,867,037 Timbulan Sampah (m3/hr) 2,803 2,886 3,457 4,041 4,750 5,246 Timbulan Sampah (Ton/hr) 561 577 691 808 950 1,049 Jumlah Penduduk Desa (Jiwa) 2,119,363 2,182,466 2,614,129 3,056,154 3,591,897 3,967,455 Timbulan Sampah (m3/hr) 2,077 2,139 2,562 2,995 3,520 3,888 Timbulan Sampah (Ton/hr) 415 428 512 599 704 778

Sumber : Analisis Konsultan, Buku Report-Studi Timbulan, 2008

Dalam upaya mendekati target Nasional dalam pelayanan persampahan, perlu dipertimbangkan berbagai faktor internal maupun eksternal, terutama mengingat pengelolaan sampah sangat bergantung pada kebijakan Pemerintah, maka dikembangkan skenario peningkatan pelayanan yang mewakili skenario optimis, moderat dan pesimis.

Skenario optimis diarahkan sesuai dengan target dan sasaran Nasional. Skenario moderat adalah skenario pencapaian sasaran Nasional pada akhir periode perencanaan. Adapun skenario pesimis, adalah skenario yang dikembangkan atas dasar pesimistis bahwa Kab. Bandung akan mampu mencapai tingkat pelayanan sesuai dengan target yang ada di tingkat Nasional, karena itu Tingkat Pelayanan dalam skenario ini ditetapkan dengan pendekatan kemampuan Pemerintah lokal dalam membiayai pengelolaan sampah.Kemampuan Pemerintah Lokal diukur dari pemahaman terhadap pola pembiayaan 5 tahun terakhir.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-24

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Sementara Masyarakat bertahap daerah yang sekarang

itu,

pelayanan

Dinas Based

dalam Solid

bentuk Waste

pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis (Community dimulai dari Management), dilaksanakan secara daerahsarana sudah memiliki

pengelolaannya, walau terhenti. Ditargetkan ke 6 lokasi daur ulang yang kini terhenti yaitu Parung Serab, Margahayu, Sukamanah Pangalengan, Gunung Leutik Ciparay, Katapang, Sukasari, akan dioperasikan kembali, secara bertahap. Selain itu, ditargetkan mengembangkan Desa-Desa yang sudah mendapat bantuan sarana pengolahan pada tahun 2007 yaitu Desa Ciherang Nagreg, Desa Cikoneng Ciparay, Desa Sangkan Hurip Katapang, Desa Bojong Majalaya, Desa Sekarwangi Katapang.

Dalam upaya implementasi 3R, selain pengembangan lokasi CBSWM yang harus mengedepankan pengomposan dan daur ulang sampah, kehadiran para pemulung, penampung barang rongsokan di Kabupaten Bandung (SIDUS) tidak boleh diabaikan. Kehadiran mereka harus diangkat dan diintegrasikan ke dalam sistem yang dikembangkan. Namun berdasarkan pengalaman, perlakukan terhadap kelompok ini bukanlah untuk menjadikan mereka sebagai sistem formal atau formalisasi kelompok informal, tetapi sebatas memfasilitasi keberadaaannya. Pemerintah memberikan Usaha peluang agar kinerja mereka bisa meningkat, dengan cara menyiapkan fasilitas di lokasi kerja mereka. penataan TPS yang ada di Kabupaten Bandung, dikondisikan untuk juga menyiapkan fasilitas mereka. Kinerja SIDUS pada dasarnya sangat tergantung dari si pelaku dan mereka adalah manusia pekerja, disamping itu, mereka pun bekerja karena kebutuhan, sehingga kinerja akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. terhadap aspek lainnya.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Dengan demikian,

besarnya kontribusi mereka

terhadap peningkatan sampah tertangani dianggap sama untuk setiap kebijakan

Hal III-25

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Dengan demikian, selain Dinas Kebersihan, dalam jangka pendek, akan telah hadir pengelola sampah lainnya yaitu Lembaga Masyarakat Pengelola Sampah sebagai bentukan dari Community Based Solis Waste Management, dan para pelaku daur ulang (sektor informal). Berikut adalah tiga alternatif skenario tingkat pelayanan dengan mengedepankan kehadiran seluruh pelaku-pelaku pengelolaan sampah.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-26

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Skenario-1,

merupakan skenario optimasi target Nasional dalam sistem

pengelolaan sampah, dengan konsep : Pencapaian 60% tingkat pelayanan di tahun 2010 dan 70% pada tahun 2015. Selanjutnya dengan optimasi tingkat pelayanan ini akan mencapai 85% pada tahun 2028. Strategi reduksi sampah di sumber diimplementasikan dengan intensif dalam 10 tahun pertama melalui program kampanye dan pendidikan masyarakat, sehingga tercapai penurunan angka timbulan sampah perkapita pada tahun 2019, yang berdampak pada penurunan beban penimbunan di TPA yang cukup signifikan. Optimasi minimasi sampah di TPA sebagai implementasi konsep 3R, dilakukan dengan peningkatan pengomposan hingga 22% tahun 2015, 33% di tahun 2028, hal ini dilakukan dalam 10 tahun pertama sehingga, Implementasi 3R dengan upaya daur ulang anorganik dilakukan dengan intensif dengan mencapai 22% pada tahun 2015 dan 27% tahun 2028, Pengolahan lain pada skenario difokuskan pada upaya pemanfaatan sampah menjadi energi (WTE) yang terintegrasi dengan konsep 3R. Ditargetkan mencapai 13% tahun 2010 dan 31% tahun 2028. Pembangunan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di perdesaan, dilakukan dengan intensif, hingga mencapai 20% tahun 2010, dan 38% tahun 2028. Orientasi pengolahan sampah anorganik dilakukan dengan pemberdayaan sektor informal, hingga mencapai 40% pada tahun 2010, meningkat 42% di tahun 2015, dan pada tahun 2028 mencapai 48%. Proporsi beban pengelolaan oleh setiap stakeholders untuk skenario ini dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan Gambar 3.1.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-27

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 3.3 Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 1


No 1 2 Pelaku Pengelolaan Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. 3 Pelayanan Perkotaan Penimbunan m3/hr % Pengomposan m3/hr % Daur Ulang Anorganik m3/hr % Pengolahan Lain m3/hr % Tingk. Pelayanan Perkotaan m3/hr % 4 Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat m3/hr % Informal m3/hr % Tingk. Partisipasi Masy. m3/hr % 5 Sampah Terkelola Sampah Tak Terkelola m3/hr % m3/hr % 105.4 5.1% 343.3 16.5% 449 21.6% 1014.9 20.8% 3,864.6 79.2% 442.6 20.1% 879.2 39.9% 1,322 60.0% 3105.3 60.0% 2,070.2 40.0% 751.7 29.3% 1,074.9 42.0% 1,827 71.3% 4213.1 70.0% 1,805.6 30.0% 1,032.7 34.5% 1,309.4 43.7% 2,342 78.2% 5152.2 77.0% 1,539.0 23.0% 1,313.7 37.3% 1,611.5 45.8% 2,925 83.1% 6005.1 82.0% 1,318.2 18.0% 1,482.3 38.1% 1,861.5 47.9% 3,344 86.0% 6621.7 85.0% 1,168.5 15.0% 567.0 20.2% 0.0 0.0% 0.0 0.0% 0.0 0.0% 567 20.2% 475.7 16.0% 452.4 13.1% 540.0 15.6% 772.8 22.4% 620.0 17.9% 2,385 69.0% 378.9 10.3% 670.0 18.1% 910.1 24.6% 850.0 23.0% 2,809 76.0% 232.5 6.1% 850.0 22.3% 998.1 26.2% 1,000.0 26.3% 3,081 81.0% 15.8 0.4% 1,000.0 25.6% 1062.0 27.2% 1,200.0 30.8% 3,278 84.0% Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Tahun 2008 4,880 2,803 2,077 2010 5,176 2,973 2,203 2015 6,019 3,457 2,562 2020 6,691 3,696 2,995 2025 7,323 3,803 3,520 2028 7,790 3,902 3,888

355.0
11.9% 577.9 19.4% 375.0 12.6% 1,784 60.0%

Sumber : Lampiran A,Tabel A.1.1.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-28

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Proporsi Beban Pengelolaan Setiap Pelaku Proporsi Beban Pengelolaan Setiap Pelaku Untuk Skenario I Untuk Skenario I
100% 100% 80% 80% 60% 60%
% %

40% 40% 20% 20% 0% 0%

Sampah Tak Terkelola Sampah Tak Terkelola Informal Informal CBSWM CBSWM Pengolahan Lain Pengolahan Lain Daur Ulang anorganik Daur Ulang anorganik Pengomposan Pengomposan Penimbunan Penimbunan

2008 2010 2015 2020 2025 2028 2008 2010 2015 2020 2025 2028 Tahun Tahun

Gambar 3.1 Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 1

Skenario-2, merupakan skenario pelayanan yang ditetapkan dengan pendekatan pencapaian sasaran Nasional pada periode akhir perencanaan : Pelayanan 60% baru tercapai pada Tahun 2025, dengan tahapan pencapaian 31% di tahun 2015, dan pada tahun 2010 sebesar 26%. Pengomposan sebagai implementasi 3R, dengan target 1,3% di tahun 2010, meningkat menjadi 4% pada tahun 2015 dan 18,3% di tahun 2025. Daur Ulang Anorganik sebagai implementasi 3R, ditargetkan 8% di tahun 2010, meningkat menjadi 9% ditahun 2015 dan 21% pada tahun 2028. Pengolahan sampah anorganik hanya mengandalkan kemandirian sektor informal, sehingga peningkatan dalam 10 tahun pertama hanya mencapai 12% dan pada akhir tahun 2028, mencapai 27%. Adapun pengolahan lain seperti pengembangan teknologi WTE, dilakukan sebatas adanya kerjasama dari pihak ketiga dalam bentuk hibah, tanpa ada beban untuk Pemerintah Kabupaten Bandung. Pengembangan sistem pengelolaan berbasis masyarakat di perdesaan, dilakukan secara konsisten, sehingga mencapai 22% pada tahun 2015, dan 48% pada tahun 2028. Proporsi beban pengelolaan oleh setiap stakeholders untuk skenario ini dapat dilihat pada Tabel 3.4 dan Gambar 3.2.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-29

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 3.4 Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 2


No 1 2 Pelaku Pengelolaan Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. 3 Pelayanan Perkotaan Penimbunan Pengomposan Daur Ulang Anorganik Pengolahan Lain Tingk. Pelayanan Perkotaan 4 Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat Informal Tingk. Partisipasi Masy. 5 6 Sampah Terkelola Sampah Tak Terkelola m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % 105 5.1% 161.4 8.0% 161.4 8.0% 1,015 20.8% 3,865 79.2% 260 11.8% 372.3 16.9% 632.3 28.7% 1,346 26.0% 3,830 74.0% 400 15.6% 462.9 18.1% 863.3 33.7% 1,866 31.0% 4,153 69.0% 836 27.9% 571.7 19.1% 1407.7 47.0% 3,026 43.0% 4,011 57.0% 1,496 42.5% 805.8 22.9% 2302.1 65.4% 4,962 60.0% 3,308 40.0% 1,637 42.1% 1,294.8 33.3% 2,931.6 75.4% 6,394 70.0% 2,740 30.0% m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % 567.0 20.2% 0.0% 0.0 0.0% 0.0% 567.0 20.2% 392.3 13.2% 40.0 1.3% 231.1 7.8% 50.0 1.7% 713.4 24.0% 412.7 11.9% 140.0 4.0% 324.8 9.4% 125.0 3.6% 1,002.5 29.0% 382.8 9.5% 430.0 10.6% 523.8 13.0% 280.0 6.9% 1,616.5 40.0% 308.1 6.5% 870.0 18.3% 861.8 18.1% 620.0 13.1% 2,659.9 56.0% 240.7 4.6% 1,200.0 22.9% 1121.9 21.4% 900.0 17.2% 3,462.6 66.0% Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Tahun 2008 4,880 2,803 2,077 2010 5,176 2,973 2,203 2015 6,019 3,457 2,562 2020 7,036 4,041 2,995 2025 8,270 4,750 3,520 2028 9,134 5,246 3,888

Sumber : Lampiran A,Tabel A.1.2.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-30

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Proporsi Beban Pengelolaan Setiap Pelaku Proporsi Beban Pengelolaan Setiap Pelaku Untuk Skenario II Untuk Skenario II
100% 100% 80% 80% 60% 60%
% %

40% 40% 20% 20% 0% 0%

Sampah Tak Terkelola Sampah Tak Terkelola Informal Informal CBSWM CBSWM Pengolahan Lain Pengolahan Lain Daur Ulang Anorganik Daur Ulang Anorganik Pengomposan Pengomposan Penimbunan Penimbunan

2008 2008

2010 2010

2015 2015

2020 2020

2025 2025

2028 2028

Tahun Tahun

Gambar 3.2 Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 2

Skenario-3, merupakan skenario yang di dasarkan pada kemampuan pembiayaan Pemerintah dalam mengelola sampah selama beberapa tahun terakhir, yaitu : Dalam 2 tahun pertama, atau jangka pendek, dilakukan optimalisasi sarana eksisting, dengan meningkatkan performansi sarana dan prasarana, sehingga Tingkat Pelayanan mencapai 25% pada tahun 2010, dan meningkat hingga 32% di pada Tahun 2015, 40% pada tahun 2028. Peningkatan sarana mulai dilakukan dalam jangka panjang hingga jangka panjang sebanyak 40%. Konsep 3R dilakukan secara bertahap mulai jangka menengah dengan meningkatkan pengomposan di TPA dan ditingkatkan Kelurahan, hingga tingkat pengomposan mencapai 8% pada 2028. Pengolahan sampah anorganik dilakukan di TPS Kecamatan , hingga tingkat pengolahan mencapai 15,2% di tahun 2028. Tingkat Pelayanan Total pada Tahun 2010 diperkirakan mencapai 25%, meningkat ditahun 2015 hingga 41%, dan pada tahun 2025 mencapai 40%. Proporsi beban pengelolaan oleh setiap stakeholders untuk skenario ini dapat dilihat pada Tabel 3.5 dan Gambar 3.3.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-31

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 3.5 Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 3


No
1 2

Pelaku Pengelolaan
Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. Pelayanan Perkotaan Penimbunan

Satuan
m3/hr m3/hr m3/hr

Tahun 2009
5,025 2,886 2,139

2010
5,176 2,973 2,203

2015
6,019 3,457 2,562

2020
7,036 4,041 2,995

2025
8,270 4,750 3,520

2028
9,134 5,246 3,888

m3/hr %

692.6 24.0% 0.0% 0.0% 0.0% 692.6 24.0%

695.8 23.4% 4.0 0.1% 335.4 11.3% 0.0% 1,035.2 34.8%

773.0 22.4% 148.0 4.3% 454.5 13.1% 27.4 0.8% 1,402.9 40.6%

888.4 22.0% 184.0 4.6% 549.9 13.6% 75.0 1.9% 1,697.4 42.0%

1,028.7 21.7% 232.0 4.9% 661.7 13.9% 120.0 2.5% 2,042.4 43.0%

1,092.0 20.8% 420.0 8.0% 798.2 15.2% 153.4 2.9% 2,463.6 47.0%

Pengomposan 3 Daur Ulang Anorganik

m3/hr % m3/hr %

Pengolahan Lain

m3/hr %

Tingk. Pelayanan Perkotaan

m3/hr %

Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat 4 Informal m3/hr % m3/hr % Tingk. Partisipasi Masy. m3/hr % 5 Sampah Terkelola m3/hr % Sampah Tak Terkelola m3/hr % 84 3.9% 171 8.0% 255 11.9% 948 18.9% 4,077 81.1% 105 4.8% 176 8.0% 282 12.8% 1,317 25.4% 3,859 74.6% 246 10.0% 256 10.0% 502 19.6% 1,905 31.7% 4,114 68.3% 329 11.0% 359 12.0% 689 23.0% 2,386 33.9% 4,650 66.1% 422 12.0% 493 14.0% 915 26.0% 2,958 35.8% 5,312 64.2% 611 15.7% 583 15.0% 1,194 30.7% 3,658 40.0% 5,476 60.0%

Sumber : Lampiran A,Tabel A.1.3.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-32

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Proporsi Beban Pengelolaan Setiap Pelaku Untuk Proporsi Beban Pengelolaan Setiap Pelaku Untuk Skenario 3 Skenario 3
100% 100% 80% 80% 60% 60% 40% 40% 20% 20% 0% 0%
Sampah Tak Terkelola Sampah Tak Terkelola Informal Informal CBSWM CBSWM Pengolahan Lain Pengolahan Lain Daur Ulang Anorganik Daur Ulang Anorganik Pengomposan Pengomposan Penimbunan Penimbunan

2009 2010 2015 2020 2025 2028 2009 2010 2015 2020 2025 2028 Tahun Tahun

Gambar 3.3 Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 3

Dari ketiga skenario dapat dilihat bahwa sebesar apapun proporsi beban pengelolaan yang ditetapkan bagi Dinas, tetap memerlukan adanya peran dari dua kelompok pengelola lainnya untuk mencapai tingkat sampah tertangani yang paling optimal. Penentuan skenario mana yang akan dipilih, sangat ditentukan oleh kebijakan Pemerintah. Banyaknya aspek pembangunan yang masih harus menjadi prioritas di Kabupaten Bandung, ketiga skenario di atas perlu dianalisis dengan pendekatan tidak saja dari aspek pembiayaan tetapi juga dari aspek stratgies pembangunan kota.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal III-33

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

4 .1

Sistem Operasi Pengelolaan


Telah dipaparkan dalam strategi dan kebijakan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, dalam kurun waktu 20 tahun mendatang akan dikembangkan dua model pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, yaitu sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat (Community Based Solis Waste

Management-CBSWM) dan sistem pengelolaan sampah yang berbasis pelayanan teknis oleh Dinas Kebersihan. Model pelayanan teknis dari Dinas Kebersihan diberikan dalam bentuk pelayanan penanganan dan pengolahan sampah, yang diprioritaskan untuk daerah perkotaan. berbasis jawab Adapun masyarakat Dinas dalam sistem pengelolaan untuk dan diprioritaskan pengembangan

wilayah perdesaan dan menjadi tanggung pembinaannya. Namun demikian, kedua sistem ini akan menerapkan konsep penanganan dan pengelolaan sampah dimana upaya pengurangan sampah (Reduce), pemanfaatan kembali (Reuse) dan daur ulang (Recyle) diterapkan dalam setiap tahapan penanganan sampah dari hulu ke hilir. Konsep penanganan dan pengolahan yang direncanakan selama 20 tahun mendatang adalah sebagai berikut : 1. Lingkup pelayanan pengelolaan sampah adalah seluruh wilayah administrasi Kabupaten Bandung, baik perkotaan maupun perdesaan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

2. Wilayah perkotaan dilayani secara intensif oleh Dinas Kebersihan , adapun wilayah perdesaan dileyani dengan pola pembinaan untuk dikembangkannya Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat. 3. Jenis sampah yang dikelola oleh Dinas Kebersihan adalah sampah domestik, yaitu sampah yang bersumber dari aktifitas rumah tangga/domestik, tidak termasuk limbah industri dan medis. 4. Limbah industri, atau sampah hasil proses produksi, adalah tanggung jawab setiap lembaga atau individu dan atau badan yang menghasilkannya dan tidak menjadi tanggung jawab Dinas Kebersihan. Hal tersebut telah diatur oleh undang-undang tentang pengelolaan limbah B3 dari industri untuk dikelola oleh pihak yang telah ditunjuk pemerintah. 5. Pengelolaan sampah B3 rumah tangga, misalnya kaleng bekas kemasan insektisida, batu baterai bekas, neon bekas dan lain sebagainya secara bertahap harus menjadi tanggung jawab Pemerintah. Dinas Kebersihan tidak bertanggung jawab atas pengolahan sampah jenis ini. Akan tetapi disebabkan sampah jenis ini terkandung di dalam sampah domestik, maka Dinas Kebersihan harus menanganinya dengan memisahkannya dari sampah lainnya. 6. Pewadahan, pengumpulan dan pengangkutan di sumber diarahkan menuju sistem terpilah. Sampah dipilah menjadi 3 jenis, yaitu : sampah organik, anorganik dan B3 Rumah Tangga. menengah akan diimplementasikan Dalam secara jangka pendek, bertahap, dengan pemilahan prioritas diperkenalkan diseluruh aktifitas penimbul sampah, dan pada jangka pengadaan sarana prasarana di wilayah non permukiman. Di permukiman, pemilahan di sumber akan dilakukan secara bertahap sejalan dengan pengembangan sarana pengolahan lainnya. 7. Operasi pengumpulan sampah dari rumah-rumah ke Tempat Pengolahan Sampah Skala Kelurahan (TPS-Kelurahan), dilakukan oleh masyarakat secara mandiri dengan membentuk organisasi pada tingkat RT/RW atau menunjuk pihak pengelola swasta. 8. Di wilayah yang memungkinkan untuk dikembangkan Sistem Pengelolaan Berbasis Masyarakat, ditetapkan bahwa operasi pengelolaan harus menerapkan prinsip-prinsip 3R. 9. Di lingkungan RT/RW, diberikan peluang untuk dikembangkannya pengolahan sampah skala komunal, dan kawasan, juga dengan menerapkan prinsip-prinsip 3R. 10. Dalam duatu wilayah Kelurahan wajib memiliki area satu TPS Kelurahan dan di dalam suatu lingkungan Kecamatan, wajib memiliki TPS Kecamatan. Keduanya

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-2

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

dikelola oleh Dinas Kebersihan, bekerja sama dengan aparat Kelurahan, Kecamatan, Masyarakat dan bahkan pihak swasta. 11. TPS Kelurahan adalah lokasi penampungan sampah, dan pengomposan sampah organik. Ditempatkan di setiap Kelurahan untuk melayani 5000 penduduk. Dikelola oleh Dinas Kebersihan dengan mengembangkan kemitraan dengan masyarakat atau pihak swasta. 12. Pengomposan dilakukan sebagai usaha minimasi sampah tertimbun di TPA, bukan untuk mencari keuntungan ekonomis. Kerja sama dengan pihak atau instansi atau dinas lainnya yang terkait dengan penggunaan produk kompos akan dijalin dalam kerangka pengembangan tanaman organik. 13. TPS Kecamatan adalah pusat pengolahan sampah anorganik, yaitu plastik, kertas, logam dan gelas, 14. TPA sebagai lokasi pemrosesan akhir sampah, sampah Tahun 2015 direncanakan akan tetap menggunakan TPA Babakan di Desa Arjasari. 15. TPA Babakan dalam jangka panjang dipersiapkan hanya untuk penanganan residu olahan sampah dan sampah B3 RT, pengomposan di TPA dioperasikan untuk mengantisipasi ketika pengomposan dalam jangka pendek ketika belum ada operasi pengomposan di TPS Kelurahan. 16. Penanganan akhir sampah di TPA, selama mekanisme daur ulang di hulu belum berjalan 100%, dilakukan penimbunan secara controlled landfill. Bahkan metoda ini akan tetap dipakai untuk menangani residu. 17. Pelayanan berbasis masyarakat di kembangkan di Desa-Desa yang telah mendapat bantuan teknis peralatan pengelolaan sampah. Adapun pengembangannya dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah perdesaan. 18. Pengolahan sampah dengan teknologi lainnya seperti diorientasikan untuk mengembangkan model pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar. 19. Pengolahan sampah menjadi energi dilakukan ujicoba dalam jangka pendek, dan pada jangka menengah, akan dilakukan kelayakan untuk dikembangkan menjadi skala besar. Sistem operasi pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, digambarkan pada Gambar 4.1.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-3

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.1 Sistem operasi pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung

Menuju terbentuknya sistem pengelolaan di atas telah dikembangkan skenario operasional seperti diuraikan dalam sub bab 3.6. Skenario-1, skenario optimis diarahkan sesuai dengan target dan sasaran Nasional. Skenario-2, skenario moderat adalah skenario pencapaian sasaran Nasional pada akhir periode perencanaan. Adapun skenario-3, skenario pesimis, adalah skenario yang dikembangkan atas dasar pesimistis bahwa Kab. Bandung akan mampu mencapai tingkat pelayanan sesuai dengan target yang ada di tingkat Nasional, karena itu Tingkat Pelayanan dalam skenario ini ditetapkan dengan pendekatan kemampuan Pemerintah lokal dalam membiayai pengelolaan sampah.

4.2 Pewadahan Sampah Pewadahan sampah adalah aktifitas penanganan sampah di sumber sampah. Wadah sampah adalah tempat untuk menyimpan sampah di sumber, sebelum sampah itu dikelola. Konsep pewadahan yang akan diterapkan adalah dengan sistem terpilah dalam 3 jenis, yaitu : sampah organik, anorganik dan B3 Rumah Tangga. Akan tetapi pemilahan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : Pewadahan terpilah mencapai 50 % wilayah pelayanan, dalam 20 mendatang. Jangka Pendek (2009-2010), diorientasikan sebagai pengenalan pemilahan kepada masyarakat umum, dengan memasang wadah sampah terpilah 3 (lihat foto), dijalan protokol, taman kota, atau fasilitas umum lainnya, kantorkantor Pemerintah dan institusi pendidikan. Jangka menengah (2011-2015), merupakan masa pengenalan yang lebih intensif dengan melakukan pembinaan di lingkungan permukiman yang
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

menjadi sasaran pengembangan sampah berbasis masyarakat. Dalam periode ini pula di cari bentuk dan mekanisme pemilahan yang dapat diterima sesuai dengan tatanan sosial budaya masyarakat di Kabupaten Bandung. Jangka Panjang (2016-2028), merupakan masa kampanye di seluruh wilayah yang termasuk katagori pelayanan intensif, yaitu di 12 Kecamatan berikut ini: o o o o o o Margahayu Dayeuhkolot Margaasih Katapang Majalaya Baleendah o o o o o o Pameungpeuk Cileunyi Rancaekek Ciparay Solokanjeruk Bojongsoang

Ketentuan Umum Wadah sampah terpilah di sumber adalah sebagai berikut : Wadah terbuat dari plastik atau bahan anti karat lainnya Kapasitas minimal 20 liter per jenis sampah. Wadah Organik,berwarna hijau Wadah Anorganik, berwarna kuning Wadah B3 RT, berwarna merah.

4.3 Operasi Pengumpulan


Pengumpulan sampah merupakan kegiatan operasional pelayanan yang berhubungan langsung dengan hasil tingkat kebersihan di sumber atau tempat asal sampah yaitu berupa lingkungan bersih dan sehat yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Kelancaran dan keberhasilan sistem pengumpulan sampah merupakan syarat pertama tercapainya sanitasi lingkungan dari gangguan sampah. Dengan demikian lingkungan menjadi bersih tidak terdapat sampah yang tercecer, dibuang ke saluran, ke sungai ke tempat-tempat ilegal lainnya. Target dari sistem pengumpulan dalam adalah tercapainya tingkat sanitasi lingkungan dari gangguan sampah melalui pembentukan sistem pengumpulan yang menjamin rutinitas dan stabilitas pelayanan. Sistem pengumpulan yang dibangun disesuaikan dengan kondisi fisik geografi, ekonomi, fasilitas jalan dan kondisi lainnya supaya dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-5

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

4.3.1 Ketentuan Umum Ketentuan pengumpulan di Kab. Bandung, ditetapkan sebagai berikut :
Pengumpulan dari setiap sumber aktifitas ditujukan ke TPS Kelurahan, tidak ada sistem langsung pengumpulan ke TPA mengingat adanya tujuan pengomposan di tingkat Kelurahan Pengumpulan adalah tanggung jawab masyarakat dan atau penimbul sampah. Secara berkelompok, masyarakat dan atau penimbul sampah membentuk organisasi RT/RW atau penunjukkan pihak swasta, dalam pengumpulan sampah, Untuk wilayah pelayanan terpilah disumber, disyaratkan ada pengaturan jadwal pengangkutan berdasarkan jenis sampah, Frekuensi pengumpulan sampah organik, disyaratkan harus setiap hari Frekuensi pengumpulan sampah anorganik disyarakatkan minimal 3 kali dalam seminggu, Sistem pengumpulan disesuaikan dengan mempertimbangkan jenis alat pengumpul, fasilitas jalan dan kemampuan membayarnya.

4.3.2 Pengumpulan Sampah Permukiman/ Rumah Tangga Saat ini terdapat 3 (tiga) pola operasi yang dilaksanakan yaitu : (1) Individual langsung, (2) Individual Tidak Langsung, dan (3) Komunal Tidak Langsung. Data eksisting menunjukkan pola individual langsung paling banyak dioperasikan. Namun pola ini terukur kurang efisien, terutama pada waktu angkut dari titik pengumpulan ke TPA. Demikian terdapat kekurangan dari pola operasi individual tidak langsung dan komunal langsung saat ini. Karena itu dengan adanya rencana pengomposan di TPS Kelurahan dan pengolahan sampah anorganik di TPS Anorganik, diharapkan dapat mengatasi inefisiensi ketiga pola ini dari sisi waktu operasi. Tujuan pengumpulan yang semula menuju TPA Babakan kini menuju TPS Kelurahan yang terletak relatif jauh lebih dekat. Dengan demikian, ketiga pola operasi pengumpulan yang ada saat ini akan ditransformasi menuju peningkatan kinerja sebagai berikut. 1) Sistem Individual Langsung Yaitu pola operasi dimana sampah dari sumber langsung dibawa ke TPS Kelurahan atau TPS Kecamatan Dioperasikan di daerah permukiman teratur seperti Real Estate atau kompleks, di daerah jalan utama dan protokol, Sampah dari sumber dikumpulkan, dan langsung diangkut oleh kendaraan pengumpul sampah ke TPS Kelurahan,berdasarkan jenisnya.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-6

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Sampah organik di TPS Kelurahan di komposkan Sampah anorganik dan residu di pindahkan ke TPS Kecamatan dengan menggunakan dump truck 6m3. Batas minimum frekuensi pengumpulan adalah :

Dua hari sekali ketika pemilahan belum dilakukan, Setiap hari sekali untuk sampah organik, Dua kali seminggu untuk sampah anorganik.

Perubahan pola operasi pengumpulan sistem individual langsung, dijelaskan pada gambar berikut.

Gambar 4.2 Pola Operasi Sistem Door to Door Eksisting

Gambar 4.3 Pola Baru Operasi Door to Door

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-7

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(2) Sistem Individual Tidak Langsung Yaitu pola operasi pengumpulan dimana sampah dari sumber dikumpulkan di TPS terlebih dahulu sebelum di bawa ke TPS Kelurahan atau Kecamatan. Dioperasikan di daerah permukiman tidak teratur, dimana kendaraan/alat pengumpul besar sulit masuk, Sampah dari sumber sampah diangkut dengan menggunakan motor sampah, kemudian sampah dibawa ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) atau langsung ke TPS Kelurahan, Sampah organik di TPS Kelurahan di komposkan Sampah anorganik dan residu di pindahkan ke TPS Kecamatan dengan menggunakan dump truck 6m3. Apabila pemilahan telah berlangsung seutuhnya, sampah anorganik langsung dikumpulkan ke TPS Kecamatan, Residu yang tersisa diangkut ke TPA menggunakan Dump Truck 6 m3. Frekuensi pengumpulan oleh motor sampah direncanakan sendiri oleh pihak pengelola lingkungan setempat, Batas minimum frekuensi pengumpulan adalah :

Dua hari sekali untuk sampah tercampur, Setiap hari sekali untuk sampah organik, Seminggu sekali untuk sampah anorganik.

Pola operasi pengumpulan sistem individual tidak langsung dapat dilihat pada Gambar 4.4. Adapun perubahan Pola operasi pengumpulan sistem individual tidak langsung diperlihatkan pada Gambar 4.5.

Gambar 4.4 Pola Operasi Pengumpulan Sistem Individual Tidak Langsung


BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-8

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.5 Perubahan Pola Operasi Pengumpulan Sistem Individual Tidak Langsung

(2) Komunal Langsung Yaitu pola operasi pengumpulan oleh masing-masing penimbul sampah ke suatu tempat penampungan skala kecil dan langsung dibawa ke TPS Kelurahan atau TPS Kecamatan. Dalam prakteknya pola ini menggunakan lahan terbuka untuk mengumpulkan sampah tanpa sarana. Hal ini yang perlu diperbaiki, dengan ketentuan berikut : Pola ini dioperasikan di permukiman padat, pasar dan daerah komersil, Penimbul sampah mengumpulkan sampahnya masing-masing ke Container 6m3, atau container lebih kecil dari itu, bila lokasi tidak memugkinkan, sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPS), Sampah di dalam Container diangkut dengan kendaraan pengumpul ke TPS Kelurahan Di TPS sampah dipilah, organik langsung di komposkan, sampah anorganik diangkut ke TPS Kecamatan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-9

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Perubahan Pola operasi pengumpulan sistem komunal langsung diperlihatkan pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6 Pola Operasi Sistem Komunal Langsung Eksisting

Gambar 4.7 Perubahan Operasi Pengumpulan Sistem Komunal Langsung

4.3.3 Pengumpulan Sampah Pasar


Timbulan Sampah pasar di Kabupaten Bandung saat ini merupakan peringkat kedua terbesar setelah sampah rumah tangga, yaitu 20% dari timbulan sampah rata-rata harian. Dalam hal komposisi, sampah pasar didominasi oleh sampah organik yaitu mencapai 87%, hal ini merupakan potensi kompos yang tinggi. Terdapat 2 (dua) alternatif lokasi pengomposan sampah pasar yaitu :
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-10

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(1) Di lokasi dekitar pasar itu sendiri, bila ada lahan yang cukup memadai, maka di lokasi tersebut dapat menjadi lokasi TPS Kelurahan sebagai lokasi pengomposan (2) Di TPA, yaitu pada instalasi pengomposan yang tengah berjalan saat ini, diprioritaskan adalah sampah pasar. Dengan demikian, di sumber yaitu sejak dari kios-kios pasar, sampah dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sedangkan sampah anorganik dibawa ke TPS Kecamatan terdekat. Namun tentu saja hal ini memerlukan waktu untuk proses pembinaan. Direncanakan proses ini dijalankan dalam jangka menengah. Ketentuan Pengelolaan Sampah Pasar : Pengelolaan sampah pasar diserahkan pada pihak pengelola pasar setempat kerjasama dengan masyarakat di lingkungan kelurahan dimana pasar berada. Sistem pengumpulan sampah pasar diarahkan terpisah menurut dua jenis sampah yaitu sampah organk dan anorganik. Sampah organik langsung dikomposkan di TPS Pasar/kelurahan, sedangkan untuk sampah anorganik dibawa ke TPS Kecamatan terdekat untuk dilakukan pengolahan. Ketika TPS Pasar/ Kelurahan masih belum di bangun, sampah pasar akan dikomposkan di TPA. Adanya orientasi pemilahan sampah organik dan anorganik, yang dimulai pada setiap kios pasar, maka sarana pewadahan yang disediakan oleh setiap kios adalah terpisah antara sampah organik dan anorganik. Wadah yang disediakan bisa berupa karung, kantong plastik atau lainnya sesuai kemampuan pemilik kios tersebut. Perubahan operasi pengumpulan sampah pasar diperlihatkan pada Gambar 4.9. maka pengomposan

Gambar 4.8 Operasi Pengumpulan Sampah Pasar

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-11

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.9 Perubahan Operasi Pengumpulan Sampah Pasar

4.3.4 Fasilitas Umum dan Komersial


Dalam hal ini yang dimaksud dengan fasilitas umum meliputi institusi pemerintahan dan swasta, sekolah, rumah sakit, bangunan ibadah, alun-alun kota dan tempat umum lainnya yang berada di sepanjang jalan utama. Sedangkan komersial merupakan pertokoan dan niaga.

Ketentuan Umum : Pewadahan untuk fasilitas umum dan komersial akan menggunakan wadah yang lebih tahan lama dan ditempatkan/digunakan secara komunal yaitu berupa bin terpilah-3. Volume Wadah 80-120 L. Pengangkutan minimal sekali dalam sehari. Kendaraan pengangkut berupa pick up terpilah 2(organik-anorganik) dengan kapasitas 4 m3 Sampah dalam wadah-wadah bin dituang sampahnya ke dalam kendaraan pengangkut untuk dibawa ke TPS Kelurahan. pada Gambar 4.10 berikut. Pola operasional ini digambarkan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-12

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.10 Perubahan Pola Operasi Pelayanan Kebersihan daerah Komersial dan Fasilitas Umum

Adapun ketentuan bagi setiap kelompok pelayanan adalah sebagai berikut : Daerah Komersial (Pertokoan dan Niaga) Sistem individual langsung, pewadahan dibiayai secara individu, Pengumpulan dilakukan oleh Dinas Kebersihan atau swasta yang ditunjuk, atas perjanjian dibayarkan, Frekuensi pengangkutan minimal 2 shift dalam sehari, yaitu pagi dan siang atau malam. Institusi (perkantoran, sekolah) dan Hotel Institusi / Hotel diwajibkan mengembangkan program minimisasi sampah di dalam lingkungannya sendiri, sehingga mampu mereduksi timbulan sampah, Pewadahan dilakukan dengan pemilahan antara 3 (tiga) jenis sampah yaitu organik, anorganik dan B3, Pengomposan dilakukan di lingkungan setempat dengan metoda sederhana. Dinas Kebersihan memberikan jasa pengumpulan sampah anorganik dengan menyediakan sarana pengumpul berupa Kontainer, dengan ketentuan :

frekuensi

pengangkutan

dan

besarnya

retribusi

yang

harus

Institusi/Hotel tunggal, tidak lebih dari satu gedung berlantai 3. Dilayani dengan metoda individual langsung. Wadah sampah di sumber disediakan secara mandiri oleh institusi bersangkutan. Institusi/ Hotel gabungan, berupa kawasan perkantoran/hotel atau

sejenisnya dilayani dengan menempatkan kontainer secara permanen di lokasi tersebut, untuk selanjutnya diangkut pada jadwal tertentu, Setiap institusi yang dilayani wajib memberikan imbalan jasa pelayanan kepada Dinas Kebersihan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-13

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Taman Penanggung jawab pengelolaan di dalam taman adalah Bidang Pertamanan Sampah dikumpulkan dengan proses penyapuan oleh Bidang Pertamanan, Mengingat sampah taman didominasi oleh sampah organik compostable, maka pewadahan dilakukan terpisah antara organik dan anorganik, Sampah organik dikumpulkan ke TPS Kelurahan untuk dikomposkan, Sampah anorganik diangkut ke TPS Kecamatan.

Saluran Drainase Jalan dan Pengairan Drainase dan atau Badan Air harus bebas dari sampah, Keberadaan sampah di dalam saluran dan badan air adalah kewenangan lembaga atau dinas yang menangani masalah pemeliharaan drainase jalan dan pengairan. Pembersihan saluran dan atau badan air dari sampah adalah tanggung jawab Dinas bersangkutan. Dinas Kebersihan melayani pengumpulan dan pengangkutan sampah dari drainase dan badan air atas permintaan Dinas Pengelola, Biaya pelayanan ditentukan berdasarkan aturan yang berlaku.

4.3.5 Penyapuan Jalan


Sampah yang berada di jalan, baik yang ditimbulkan oleh aktifitas manusia maupun tumbuhan (tanaman penghijau) apabila tidak dikelola akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti akan terlihat merusak keindahan dan kebersihan jalan. Sistem pelayanan kebersihan jalan sudah harus disesuaikan dengan perkembangan sosial dan teknologi agar dapat terselenggara secara efektif dan efisien. Opersional penyapuan jalan dengan alat pengumpul gerobak sudah tidak sesuai dengan perkembangan sosial dan teknologi disamping kurang efektif karena lambat. Oleh karena itu perlu dipilih alternatif sistem pengumpulan sampah dari hasil kerja penyapuan jalan yang paling sesuai dengan mempertimbangkan volume beban sampah hasil sapuan jalan yang memiliki karakteristik tertentu pada masing-masing lokasi jalan. Rangkaian kegiatan pengelolaan kebersihan sampah di jalan meliputi penyapuan, pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan. Berikut mekanisme penyapuan sampah jalan pada saat ini dan rencana pengembangannya yang digambarkan pada Gambar 4.11 berikut.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-14

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.11 Perubahan Operasi Penyapuan Sampah Jalan

4.4 Transfer (Pemindahan)


Tahap selanjutnya ketika sampah telah dikumpulkan, maka untuk sistem operasi pengumpulan tidak langsung, diperlukan adanya proses pimindahan. Walau dengan konsep pengolahan di TPS Kelurahan, dan kecamatan, pola operasi pengumpulan tidak langsung akan menjadi sangat sedikit dilaksanakan. Namun demikian, akan ketika masih belum bisa dibangun TPS Kelurahan dan menuju TPS Kecamatan masih terlalu jauh, maka akan TPS atau tempat penampungan sementara masih diperlukan. Target dari sistem pemindahan adalah terciptanya mekanisme pemindahan yang praktis, memudahkan bagi para petugas pengumpul dalam memindahkan sampah dari kendaraan pengumpul ke kontainer. Pembinaan kedisiplinan para petugas dalam proses pemindahan juga menjadi target sistem. Saat ini di Kabupaten Bandung, dari seluruh TPS yang ada, dapat dikategorikan sebagai berikut : (1) TPS dengan container yang diberi landasan (TPS-LC), 15 titik. (2) TPS dengan container tanpa landasan (TPS C), 8 titik.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-15

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(3) TPS bak pasangan bata (TPS Bak), 20 titik. (4) TPS darurat, di atas lahan tanpa prasarana (TPS Darurat), 14 titik. Dari keempat bentuk fisik TPS tersebut, TPA jenis Landasan Container yang masih layak dipertahankan, sedangkan ketiga bentuk lainnya, selayaknya segera diperbaiki. Kesulitan utama dalam pengadaaan TPS umumnya ada pada pengadaan lahan, akan tetapi kendala ini bisa diatas dengan koordinasi dengan berbagai pihak dan antar Dinas di dalam lingkungan Pemerintah Daerah. Berdasarkan evaluasi terhadap jenis TPS yang ada dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama adalah menyangkut faktor kemudahan dalam proses pemindahan. Oleh karena itu perlu dilakukan penataan TPS agar para petugas pengumpul dapat dengan mudah memindahkan sampah dari gerobak atau kendaraan pengumpul lainnya ke dalam kontainer. TPS dengan kriteria seperti ini dikenal dengan TPS Model RAM. Berdasarkan evaluasi terhadap jenis TPS yang ada dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama adalah menyangkut faktor kemudahan dalam proses pemindahan. Oleh karena itu perlu dilakukan penataan TPS agar para petugas pengumpul dapat dengan mudah memindahkan sampah dari gerobak ke dalam kontainer. TPS dengan kriteria seperti ini dikenal dengan TPS Model RAM. Karena itu TPS model RAM akan menjadi opsi bagi TPS yang berfungsi hanya sebagai penampungan sementara. Gambaran TPS Model RAM, dapat dilihat pada Album Gambar. Perubahan jenis TPS dan pola operasi pemindahan sampah, dijelaskan pada Gambar berikut.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-16

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.12 Rencana Perubahan Jenis TPS di Kabupaten Bandung

4.5 Pengolahan 4.5.1 Pengomposan Ketentuan Umum Pengomposan sampah di Kabupaten Bandung bertujuan mengurangi laju aliran timbulan sampah ke TPA, disamping untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan. Karena itu pengomposan harus dilakukan sedekat mungkin dengan sumber. Mengacu pada strategi yang telah dikembangkan, dan berdasarkan alasan utama pengembangan pengomposan di Kabupaten Bandung, maka Prinsip dasar dalam Rencana Pengomposan untuk 20 tahun adalah sebagai berikut : (1) Terintegrasi di dalam Sistem Pengelolaan Sampah Kota

Bahwa pengomposan sampah dimana pun dalam skala bagaimana pun harus menjadi bagian dalam sistem pengelolaan sampah kota. Hal ini dilakukan agar kinerja pengomposan akan menjadi bagian dari kinerja sistem kota, sehingga kontribusi pengomposan terhadap beban pengelolaan sistem kota menjadi lebih terukur dan signifikan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-17

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(2)

Minimasi di sumber.

Pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, saat ini masih manganut pola konvensional atau paradigma lama yaitu kumpul-angkut-buang. Pelaksanaan pengomposan itu sendiri dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya, dengan sasaran pengurangan beban pengelolaan sampah kota yang terkait dengan pengurangan kebutuhan area pembuangan akhir. Pelaksanaan teknis dengan pendekatan ini yaitu seluruh sampah yaitu rumah tangga, pasar dan daerah komersil, perkantoran dan sekolah, industri dan penyapuan jalan serta taman, harus dikomposkan di lingkungannya sendiri. Namun demikian adakalanya kendala keberadaan lahan muncul, maka direncanakan TPS yang berfungsi untuk mengomposkan dalam lingkup wilayah Kelurahan. (3) Kewilayahan

Pengomposan sampah dilakukan untuk suatu wilayah Kelurahan. Dimana lokasi unit kerja kompos berada maka dari wilayah Kelurahan tersebut sampah sebagai bahan baku kompos diambil. Hal ini dilakukan dengan maksud agar kehadiran unit kerja kompos benar-benar dirasakan sebagai solusi masalah pengelolaan sampah di wilayah tersebut. Dengan demikian diharapkan penolakan akan kehadiran lokasi pengomposan dapat dihindari dan menumbuhkan kesertaan masyarakat. Dalam aplikasinya, akan kehadiran unit pengomposan di setiap lingkungan RT, RW, unit pasar, unit toko, unit gedung atau isntasi tertentu, unit sekolah atau kegiatan lainnya di Kabupaten Bandung. (4) Kemitraan dengan Masyarakat dan Swasta

Berdasarkan pengamatan terhadap kapasitas sumber daya manusia di lingkungan intern Dinas Kebersihan , dalam menangani sampah dinilai belummenunjukkan kinerja yang tinggi, maka untuk menjamin kapasitas kerja yang tinggi, pelaksanaan pengomposan dilakukan untuk menjalin kemitraan antara pemerintah-masyarakat dan swasta. Sebagai salah satu kelompok stakeholder dalam pengelolaan sampah kota, masyarakat sudah seharusnya ditempatkan dengan tepat. Disamping itu, kehadiran swasta yang secara profesional memberikan jasa pengomposan dan atau pengelolaan sampah pun menjadi peluang untuk kemitraan dalam pelaksaaan pengomposan. Ketentuan teknis

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-18

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Sistem pengomposan yang akan dikembangkan di Kabupaten Bandung dalam periode perencanaan ditetapkan sebagai berikut : Pengomposan dilakukan di TPS Kelurahan dan di TPA dan juga di sumber sampah lainnya dengan keberadaan lahan untuk proses pengomposan. Dengan demikian, metode yang dipilih adalah metode Pengomposan Komunal. Pengomposan di TPS Kelurahan diutamakan untuk sampah yang bersumber dari permukiman, sedangkan sampah dari Pasar akan diproses di TPA. Namun demikian, bila TPS Kelurahan sudah cukup banyak, dan dapat dijangkau maka pengomposan sampah pasar dilakukan di sini. Satu unit TPS Kelurahan untuk pengomposan dipersiapkan untuk melayani 5000 penduduk. Pengomposan sampah di TPS Kelurahan difasilitasi oleh Dinas Kebersihan namun dalam manajemen operasional, dilakukan olah Dinas Kebersihan. Metode pengomposan dipilih sistem box methode yang dimodifikasi dengan sistem open windrow. Standar sarana dalam sebuah unit kerja pengomposan adalah sebagai berikut : 1. Area penampungan sampah 2. Area pemilahan dan pencacahan 3. Area residu 4. Area pengomposan 5. Area pematangan, pengayakan dan pengemasan 6. Gudang alat dan tempat penyimpan kompos Dengan ketentuan teknis seperti di atas, maka kebutuhan sarana prasarana pengomposan di TPS Kelurahan adalah sebagai berikut : (1) Lahan, seluas 200 m2, (perhitungan lihat lampiran) (2) Standar bangunan TPS dengan pengomposan, (Gambar lihat Lampiran-3) (3) Mesin pencacah organik, kapasitas minimal 23 HP, 2-3 m3/jam. (4) Mesin Pengayak kompos (5) Peralatan pendukung proses Adapun konsep pengomposan sampah di TPS Kelurahan dijelaskan pada gambar berikut.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-19

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.13 Konsep Pengomposan Sampah di TPS Kelurahan

Pada tahap awal, pengembangan TPS Kelurahan direncanakan dibangun di 5 Kecamatan prioritas, yang termasuk wilayah kritis pelayanan yaitu : 1. Margahayu 2. Dayeuhkolot 3. Margaasih 4. Katapang 5. Majalaya

4.5.2 Pengolahan Sampah Anorganik Ketentuan Umum Berdasarkan studi timbulan sampah anorganik yang paling tinggi kehadirannya adalah kertas, plastik dan gelas, namun demikian, sampah plastik lebih bernilai jual tinggi, sehingga peluang untuk dikembangkannya usaha daur ulang plastik lebih besar dari jenis sampah lainnya. Oleh karena itu, dalam pengolahan sampah anorganik direncanakan dipusatkan di TPS Kecamatan dengan dasar pemikiran, pengumpulan sampah anorganik akan semakin besar dalam lingkup pelayanan yang lebih luas.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-20

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Ketentuan Teknis Rencana pengolahan sampah anorganik di TPS Kecamatan mengikuti ketentuan sebagai berikut : Pengolahan sampah anorganik di pusatkan di TPS Kecamatan Sampah anorganik yang masuk ke TPS Kelurahan dipindahkan ke TPS Kecamatan dengan menggunakan dump truk 6m3 Sampah anorganik yang masuk ke TPS Kecamatan di pilah berdasarkan jenis anorganik potensi daur ulang yaitu : plastik, kertas, gelas dan logam, Sampah anorganik bukan plastik, seperti kertas, gelas dan logam, akan dikelola dengan mengembangkan kegiatan pengepulan atau usaha penjualan ke para pelaku pengumpulan yang lebih besar. Khusus plastik keras di cacah dengan mesin pencacahan, dikemas siap di jual ke pabrik daur ulang, Khusus plastik halus, dipress, siap dijual ke pabrik daur ulang plastik

Skema penanganan sampah anorganik di perlihatkan pada gambar berikut.

Gambar 4.13 Skema Penanganan Sampah Anorganik di TPS Kecamatan

Kebutuhan sarana pengolahan sampah anorganik di TPS Kecamatan adalah sebagai berikut : Bangunan 150 m2 Standar bangunan TPS Kecamatan, lihat Lampiran-3 Mesin pencacah plastik kapasitas minimal 24 HP Mesin pressing plastik, kapasitas 10 HP.
Hal IV-21

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pada tahap awal Kecamatan yang menjadi prioritas pembangunan TPS Kecamatan adalah : (1) Margahayu, (2) Dayeuhkolot, (3) Margaasih, (4) Katapang, (5) Majalaya.

4.5.3 Pengolahan Sampah B3 RT Mengingat timbulan sampah B3 RT di sumber sangat kecil, maka tidak diperlukan wadah khusus. Masyarakat perlu diajak untuk memahami cara-cara penangan sampah B3 RT ini dengan aman dan cara yang lebih sederhana, tanpa memerlukan peralatan khusus., melainkan dengan menggunakan alat atau bahan yang bisa diperoleh dengan murah dan mudah. Rencana penanganan sampah B3 RT, dijelaskan pada Gambar 4.14.

Gambar 4.14 Rencana Penanganan Sampah B3 RT

Ketentuan teknis sarana penanganan B3 RT : Wadah di sumber : (1) Wadah harus kering, dan tidak lembab seperti kardus bekas (2) Wadah di simpan khusus, jauh dari jangkauan anak-anak (3) Wadah jauh dari api. Pengumpulan: Sampah B3 RT disimpan oleh setiap penimbul, dan dikumpulkan pada petugas Dinas Kebersihan untuk kemudian disimpan di Bak Penampung Khusus Sampah B3 RT yang ada di TPS Kecamatan. Dari TPS Kecamatan secara periodik, diangkut ke TPA. Di TPA, sampah B3 RT akan dikumpulkan di dalam bangunan khusus, sebelum ditangani secara khusus. Alternatif penanganan, yaitu diangkut ke Pusat Pengelolaan Limbah
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-22

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Industri khusus B3, yaitu di Cileungsi. Alternatif lain yaitu ditimbun dengan cara-cara sesuai peraturan pengelolaan B3. Apabila TPS Kecamatan belum ada, maka sampah B3 RT dikumpulkan oleh petugas pengumpul dan dibawa ke TPA. Bak Pengumpul di TPS : Bak terbuat dari bahan anti karat, dan tidak mudah terbakar, minimal dinding dari beton, Bak tertutup, dan kedap air. Terdapat lubang / pintu pengumpul untuk memasukkan sampah tanpa harus membuka pinti bak, Di dalam Bak terdapat kontainer penampungan yang bisa langsung di bawa ketika proses pengumpulan di lakukan Bak berpintu untuk memudahkan pengambilan kontainer, Pintu terbuat dari baja,di cat warna merah pertanda Bahan Beracun Berbahaya. Typical bak pengumpul B3 RT, di TPS dan Bangunan Pengumpul di TPA, diperlihatkan dalam Lampiran-3.

4.5.4 Pengolahan Lain Di dalam pengembangan strategi, ditetapkan porsi timbulan sampah yang akan dikelola dengan pengolahan lain. Yang dimaksud dengan pengolahan lain adalah teknologi lain di luar pengomposan dan pengolahan anorganik dengan konsep daur ulang. Porsi ini pun ditetapkan untuk mengantisipasi adanya tawaran dari Investor yang selalu menawaran teknologi tinggi. Sebagai contoh yaitu PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah), atau bahkan incinerator biasa. Namun demikian, konsep pengembangan pengolahan sampah dengan alternatif pengolahan lain ini diketahui memerlukan biaya investasi bahkan biaya operasional dan pemeliharaannya pun tinggi. Karena itu, di Kabupaten Bandung, ditetapkan konsep sebagai berikut : Pengembangan teknologi lain selain pengomposan metode konvensional dan daur ulang anorganik, dalam 20 tahun mendatang merupakan porsi pengelola swasta , investor, atau adanya Hibah dari Perusahaan Negara tertentu.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-23

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pemerintah Kab. Bandung akan memusatkan pendanaan pengelolaan sampah pada penataan sistem dari hulu ke hilir , tidak menanamkan investasi yang tinggi pada pengolahan sampah di hilir.

Untuk pengembangan PLTSa direncanakan diintegrasikan dengan upaya pengomposan, mengingat PLSTa menghasilkan panas yang bermanfaat untuk membantu proses pengomposan, sedangkan pengomposan memproduksi residu kompos yang memiliki kalor bakar yang lebih baik dari sampah itu sendiri. Konsep PLTSa yang terintegrasi dengan sistem pengomposan dijelaskan pada Gambar 4.15.

Gambar 4.15 Konsep PLTSa dan Pengomposan

Dengan segala kendala pembiayaan dalam pengembangan sebuah PLTSa, selayaknya PLTSa dikembangkan dalam jangka waktu panjang, lebih dari 20 tahun mendatang. Adapun ujicoba pembangunan yang tengah dijalankan dengan adanya hibah dari PLN akan menjadi ajang studi kelayakan dari segala aspek, sehingga kelayakan pengembangannya untuk masa mendatang dapat diperoleh dalam periode uji coba ini.

4.5.5 Penanganan Residu Yang dimaksud dengan residu adalah sampah sisa proses pengolahan, artinya akan terkandung jenis sampah organik dan anorganik yang tidak lagi dapat diolah. Sampah ini umumnya memiliki kadar air yang sangat rendah dan memiliki nilai kalor bakar yang lebih baik dari sampah murni. Oleh karena penanganan residu direncanakan di integrasikan dengan ujicoba pengembangan PLTSa. Disamping itu, dalam priode akhir tahun perencanaan, akan dilakukan kajian kelayakan pemanfaatan residu sampah menjadi bahan bakar, yaitu melalui proses

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-24

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

pembuatan biomassa. Konsep pemanfaatan sampah menjadi briket biomassa dijelaskan dalam

Gambar 4.16 Konsep Penangan Residu

4.6 Pengembangan TPA Program utama pengembangan tempat pemrosesan akhir sampah di Kabupaten Bandung adalah optimasi TPA Babakan di Desa Arjasari. Hal ini didasarkan pada analisis umur pakai, yang menyatakan bahwa dengan beban penimbunan tertinggi yang direncanakan, TPA Babakan mampu melayani hingga tahun 2010. Namun demikian, sesuai dengan analisis kelayakan umur TPA, direkomendasikan untuk meningkatkan kapasitas dilakukan perluasan lahan penimbunan. Adapun rencana pengembangan area penimbunan direkomendasikan yaitu ke arah barat area penimbunan saat ini atau ke arah palung, dengan luas area 3,1 Ha. Diperkirakan area ini mampu memiliki volume ruang 969.393 m3. Rencana pengembangan TPA Babakan adalah sebagai berikut : 1. Optimasi proses pengomposan pada sarana eksisting hingga mencapai kapasitas proses 40 ton/hari. 2. Pembangunan sarana pendukung berupa jembatan timbang, dan pintu masuk 3. Perluasan area penimbunan, ke arah palung, tentunya dengan melakukan kajian teknis terlebih dahulu. 4. Kajian pengintegrasian pengomposan dan pengolahan residu dengan PLTSa yang rencananya akan dibangun tahun 2008 ini. Site Plan rencana pengembangan TPA Babakan diperlihatkan pada Gambar 4.17.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-25

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.17 site plan tpa

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-26

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Adanya rencana regional Metropolitan dalam pengembangan TPA, yaitu dengan ditetapkannya TPA Legok Nangka yang masih masuk ke wilayah Kabupaten Bandung, sebagai TPA bersama wilayah timur Metropolitan, dapat menjadi opsi lain kebutuhan TPA bagi Kabupaten Bandung, setalah optimasi TPA Babakan dilakukan. Dalam rencana ini, perlu dilakukan analisas kelayakan finansial terhadap rencana pemrosesan di TPA Regional atau dengan terus melakukan optimasi terhadap TPA Babakan. Sementara itu, di wilayah Barat, TPA Leuwigajah pun terus diupaya

pengoperasiannya oleh Pemerintah Propinsi untuk menjadi TPA Regional Metropolitan Wilayah Barat. Dengan adanya 2 pilihan TPA di Barat dandi Timur, dengan jarak relatif dekat dengan wilayah pelayanan di Kabupaten Bandung, maka semakin kuat bahwa Kabupaten Bandung cukup mengembangkan TPA Babakan tanpa harus mencari TPA baru. Tata letak lahan TPA yang menjadi potensi bagi Kabupaten Bandung,

diperlihatkan pada Gambar 4.18.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-27

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


740 000 760 000 780 000 800 000 820 000

KE G IAT AN PEN YUS UNA N KE BIJA KA N MA NAJ EM EN P ENG E LO LAA N PE RSA MP AH AN D I KA BUP AT EN B AN DUNG
SE B A R AN TP A , US U LA N TP S P K EC A M A TA N DA N P O OL K E ND A RA A N T IA P W ILA Y A H D I K A B UP A TE N B A N DU NG

KABUP ATEN PU RW AKAR TA


9260000

KABUP ATEN SU BANG

9260000

LEG EN DA :

W '

TP A
2 . T PA B ABA KAN C IPKabupaten AR AY Lokasi TPA di 3 . T PA P ASI R BU LU H Bandung 1 . T PA L EGO K N AN GKA

CI KA L ON G W ET AN CI PE U N DE U Y

4 . T PA S AR IM UK T I

W '
(4 )

CI SA R U A

PA RO NG PON G

TPA Pasir Buluh W '


LE MB AN G

] ' T $

LOK AS I P O OL K EN DA R AA N LOK AS I U S U LA N PO OL KEN D AR A AN

KABUP ATEN C IANJ UR

9240000

TPA Sarimukti
CI PA TA T BA TU JA J AR

(3 )

Lokasi TPA di Kabupaten 2 . US UL AN L OKAS I W I LAYA H II Bandung Barat 3 . US UL AN L OKAS I W I LAYA H III
1 . US UL AN L OKAS I W I LAYA H I

V &
PA DA LAR A N G NG A MP R AH CI ME U NY AN
KE L . C IME U NYAN

LOK AS I U S U LA N T PS P KE C AM A T AN BATA S W ILA YAH I BATA S W ILA YAH II BATA S W ILA YAH III KAB U P AT EN B AN D UN G BA R AT

KABUP ATEN SU MED AN G

9240000

&

CI LEN G K R AN G
KEL . C IP ANJAL U

&

KOT A C IMA H I

KABUP ATEN BAN DU N G BAR AT


CI PO NG KOR
KE L . M ARG AA SI H

KOTA B AND U NG

KEL . C IMEK AR

CI LEU N YI

&

BAT A S K AB U PA T EN BAT A S K EC A M AT A N
KE L . J ALE GO NG

MAR GA AS I H
KEL . PA SAW AHAN KEL . SA YAT I

&

RON GG A CI LIL I N
KE L . P ANG AUBAN

MAR GA H AY U

&

DA YE U H K O LO T
KEL . BU AH BAT U

&

BOJ O N G SO A N G

&

RA N C AE KE K

&

KEL . BA BA KAN PET EUY

&
KE L . P ADA SU KA

&

&
PA ME UN G P EU K BA LEE ND A H

KEL . L A NGE N S ARI

KA TAP AN G

SI ND A N G K ER TA

&

KEL . BA L EE NDAH

SO LO K AN JE R U K

&

$
(3 )
KE L . C IHA NYIR

&

BAT A S K OT A JA LA N KE R ET A A PI

CI C ALE N G KA

9220000

SOR E AN G

] '

KE L . R ANCA M ULY A

& CI KA C U NG

W '
(1 )

NA GR EG

&

JA LA N LO KA L 9220000 JA LA N N AS IO N A L JA LA N U T AM A SU N G AI - PE TA R UPA BU M I SK ALA 25.0 00 - H AS IL S U RV EY G PS ( M AP 7 6 ) T AH U N 2 007 - H AS IL A N AL ISIS SO REA N G

GUN U N G HA L U

CI PA R AY

KE L . N AGREG

&
KE L . K AM A SA N KE L . A R JA SA RI KE L . L EBA K M UNCANG

&

KE L . PA DA M UL YA

KEL . PA KU TAN DANG

&

CI W I D EY

&

$
(1 )

BA NJ A R AN

&

MAJ A LAY A

KEL . C IP AKU

& PA SE H

AR J AS AR I

W '
(2 )
KE L . I B UN

KEL . C IMAU NG

&

CI MA U NG

& PA CE T
(2 )

KE L . M ARUYUN G

& IB UN

TPA Legok Nangka Citiis


SU M B ER

: : : :

&
KEL . M ARG A MUL YA KEL . PA T ENG A N

& RA N C A BA LI

KABUP ATEN BAN DU N G

$ TPA Babakan Ciparay

D ITE T AP KA N D I

PAD A T ANG GA L N O. GA M BA R 9200000

Gambar 4.18
08
N W S E

PA SI RJ A MB U

KEL . M ARG AME KA R

PA NG ALE NG AN

&

9200000

KEL . T A RUM AJA YA

&

KE RT AS AR I

SKA L A 1 : 35 0. 000

3.5

10.5 Kilo m eter s

14

17.5

21

KABUP ATEN GAR U T

LE M BAG A P ENE LIT IAN DA N P ENG A BDIA N K E PA D A MAS Y A RA K AT ( L PP M - ITB )

B APED A KAB UP ATE N B AN D U NG


JL . R A Y A S OR EA NG KM . 17 K A B. B A N D UN G

740 000

760 000

780 000

800 000

820 000

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-28

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

4.7

Rencana Penempatan Pool Kendaraan Operasional

Dengan adanya rencana pengembangan seperti diuraikan di atas, dan adanya wilayah pelayanan yang terbagi dalam 3 wilayah, direncanakan lokasi pool kendaraan adalah sebagai berikut : Pool kendaraan adalah garasi kendaraan pengumpul dan pengangkut sampah, berupa Arm Roll, 10 m3 dan pengangkut residu, berupa Dump Truck 10m3. Lokasi pool adalah centroid masing-masing wilayah, yaitu : o o o Wilayah I, di Kecamatan Pasir Jambu Wilayah II, di Kecamatan Pangalengan Wilayah III, di Kecamatan Rancaekek

Kendaraan operasional lain, yaitu : pick up 4m3, pool ditempatkan di TPS Kecamatan.

Lokasi TPS Kecamatan, dan Pool Wilayah Pelayanan, digambarkan pada Gambar 4.19.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-29

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


740 000 760 000 780 000 800 000 820 000

KE G IAT AN PEN YUS UNA N KE BIJA KA N MA NAJ EM EN P ENG E LO LAA N PE RSA MP AH AN D I KA BUP AT EN B AN DUNG
SE B A R AN TP A , US U LA N TP S P K EC A M A TA N DA N P O OL K E ND A RA A N T IA P W ILA Y A H D I K A B UP A TE N B A N DU NG

KABUP ATEN PU RW AKAR TA


9260000

KABUP ATEN SU BANG

9260000

LEG EN DA :

W '

TP A
1 . T PA L EGO K N AN GKA 2 . T PA B ABA KAN C IP AR AY 3 . T PA P ASI R BU LU H

CI KA L ON G W ET AN CI PE U N DE U Y

4 . T PA S AR IM UK T I

] ' T $
CI SA R U A PA RO NG PON G LE MB AN G

LOK AS I P O OL K EN DA R AA N LOK AS I U S U LA N PO OL KEN D AR A AN


1 . US UL AN L OKAS I W I LAYA H I 2 . US UL AN L OKAS I W I LAYA H II 3 . US UL AN L OKAS I W I LAYA H III

W '
(4 )

W ' V &

(3 )

KABUP ATEN C IANJ UR


CI PA TA T PA DA LAR A N G

LOK AS I U S U LA N T PS P KE C AM A T AN BATA S W ILA YAH I BATA S W ILA YAH II BATA S W ILA YAH III KAB U P AT EN B AN D UN G BA R AT

9240000

NG A MP R AH CI ME U NY AN
KE L . C IME U NYAN

KABUP ATEN SU MED AN G

9240000

&

CI LEN G K R AN G
KEL . C IP ANJAL U

&

BA TU JA J AR

KOT A C IMA H I

KABUP ATEN BAN DU N G BAR AT


CI PO NG KOR
KE L . M ARG AA SI H

KOTA B AND U NG

KEL . C IMEK AR

CI LEU N YI

&

BAT A S K AB U PA T EN BAT A S K EC A M AT A N
KE L . J ALE GO NG

MAR GA AS I H
KEL . PA SAW AHAN KEL . SA YAT I

&

RON GG A CI LIL I N
KE L . P ANG AUBAN

MAR GA H AY U

&

DA YE U H K O LO T
KEL . BU AH BAT U

&

BOJ O N G SO A N G

&

RA N C AE KE K

&

KEL . BA BA KAN PET EUY

&
KE L . P ADA SU KA

&

&
PA ME UN G P EU K BA LEE ND A H

KEL . L A NGE N S ARI

KA TAP AN G

SI ND A N G K ER TA

&

KEL . BA L EE NDAH

SO LO K AN JE R U K

&

$
(3 )
KE L . C IHA NYIR

&

BAT A S K OT A JA LA N KE R ET A A PI

CI C ALE N G KA

9220000

SOR E AN G

] '

KE L . R ANCA M ULY A

& CI KA C U NG

W '
(1 )

NA GR EG

&

JA LA N LO KA L 9220000 JA LA N N AS IO N A L JA LA N U T AM A SU N G AI

GUN U N G HA L U

CI PA R AY

KE L . N AGREG

&
KE L . K AM A SA N KE L . A R JA SA RI KE L . L EBA K M UNCANG

&

KE L . PA DA M UL YA

KEL . PA KU TAN DANG

&

CI W I D EY

&

$
(1 )

BA NJ A R AN

&

MAJ A LAY A

KEL . C IP AKU

& PA SE H

AR J AS AR I

W '
(2 )
KE L . I B UN

KEL . C IMAU NG

&

CI MA U NG

& PA CE T
(2 )

KE L . M ARUYUN G

& IB UN

SU M B ER D ITE T AP KA N D I

: : : :

&
KEL . M ARG A MUL YA KEL . PA T ENG A N

- PE TA R UPA BU M I SK ALA 25.0 00 - H AS IL S U RV EY G PS ( M AP 7 6 ) T AH U N 2 007 - H AS IL A N AL ISIS SO REA N G

& RA N C A BA LI

KABUP ATEN BAN DU N G


PAD A T ANG GA L
PA SI RJ A MB U
KEL . M ARG AME KA R

PA NG ALE NG AN

&

N O. GA M BA R 9200000
KEL . T A RUM AJA YA

08

Gambar 4.19
N W S E

9200000

&

KE RT AS AR I

SKA L A 1 : 35 0. 000

3.5

10.5 Kilo m eter s

14

17.5

21

KABUP ATEN GAR U T

LE M BAG A P ENE LIT IAN DA N P ENG A BDIA N K E PA D A MAS Y A RA K AT ( L PP M - ITB )

B APED A KAB UP ATE N B AN D U NG


JL . R A Y A S OR EA NG KM . 17 K A B. B A N D UN G

740 000

760 000

780 000

800 000

820 000

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-30

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

4.8 Rencana Pengembangan Sistem Pengelolaan Berbasis Masyarakat 4.8.1 Konsep Dasar Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (CBSWM), merupakan strategi Kabupaten Bandung dalam menangani sampah di wilayah perdesaan. Alasan dipilihnya CBSWM sebagai pola penanganan sampah di perdesaan adalah karena karakteristik CBSWM itu sendiri yang sangat sepadan dengan budaya masyarakat perdesaan. CBSWM dapat diartikan sebagai suatu sistem persampahan yang : 1. Direncanakan, dikembangkan, dioperasikan, dikelola, dan dimiliki oleh warga setempat. 2. Kehadirannya dapat merupakan inisiatif lokal atau difasilitasi oleh insiator ektern. Inisiator ektern dapat merupakan : Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Pemerintah yang berkompeten di dalam

pengelolaan sampah, dalam hal ini Dinas Kebersihan dan atau Dinas Lingkungan Hidup, Lembaga Pengabdian Masyarakat dari suatu Perguruan Tinggi yang memberikan perhatian terhadap masalah lingkungan pada umumnya, khususnya pada masalah pengelolaan sampah Terdapat 5 (lima) prinsip utama yang menjadi dasar pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat, yaitu : 1. Prinsip Keterlibatan Warga; dimana suatu CBSWM harus

direncanakan, dikembangkan, dioperasikan,

dan diawasi dengan

melibatkan setiap warga yang memiliki hak dan kewajiban setara. 2. Prinsip Kemandirian; dimana suatu CBSWM harus dikelola secara mandiri sesuai dengan kemampuan sumber daya menerus yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok warga. 3. Prinsip Efisiensi; dimana suatu CBSWM harus dikelola se-efisien mungkin dengan biaya yang minimal dan penggunaan sumber daya yang optimal untuk memperoleh manfaat yang maksimal.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-31

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

4. Prinsip Pelestarian Lingkungan; dimana suatu CBSWM harus mampu a) menciptakan lingkungan pemukiman yang bersih dari sampah, b) melakukan upaya pemanfaatan sampah (waste recovery) se-optimal mungkin, dan c) mencegah dampak buruk lain yang dapat terjadi dari kegiatan pengelolaan sampahnya. 5. Prinsip Keterpaduan; dimana suatu CBSWM harus memiliki elemen sistem yang terpadu dengan sistem pengelolaan luar-wilayah yang dikelola oleh instansi kebersihan milik pemerintah setempat. Mengacu kepada ke-5 prinsip di atas, suatu wilayah yang menerapkan pola CBSWM harus memenuhi beberapa persyaratan aspek teknis, sosial-budaya, lingkungan, ekonomi, kelembagaan, dan peraturan, sebagai berikut : 1. Kejelasan batasan wilayah Wilayah CBSWM harus memiliki batas-batas yang jelas sesuai dengan kesepakatan warga. Wilayah layanan sebaiknya ditentukan dengan batasan wilayah yang umum dikenal misalnya RT, RW, maupun desa atau lebih luas dari itu. 2. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat di dalam pengelolaan sampah dapat didefinisikan sebagai suatu proses pelibatan seluruh stakeholder dalam menentukan arah, menjalankan proses dan mencapai tujuan bersama. Seluruh kelompok stakeholder harus selalu dilibatkan dalam proses perencanaan, pengoperasian, penentuan anggaran, perolehan dana operasional, penilaian kinerja, penentuan struktur organisasi pengelola, dan lainnya. Mekanisme keterlibatan stakeholder harus diatur dengan jelas dan dipahami semua pihak.

3. Strategi pengelolaan sampah yang terpadu Strategi yang dimiliki oleh suatu CBSWM harus menguraikan secara rinci dan kuantitatif tentang pola tindakan terhadap berbagai jenis sampah yang timbul, mulai dari upaya pewadahannya sampai ke
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-32

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

upaya penampungan atau pemusnahannya. Termasuk ke dalam strategi pengelolaan sampah ini adalah keterkaitan antara sistem CBSWM dengan sistem kebersihan yang dijalankan oleh instansi kebersihan pemerintah. Sesuai prinsip sebelumnya, penentuan strategi ini harus dilakukan melalui proses pelibatan warga (participatory process) dan konsultasi dengan pemerintah. 4. Upaya pemanfaatan sampah yang optimal; CBSWM harus mengoptimalkan upaya pemanfaatan sampah untuk mendukung ; a) upaya pelestarian lingkungan, b) pemanfaatan produk sampah, c) perolehan dana operasional, dan d) pengurangan beban kerja instansi pengelola kebersihan pemerintah. Tanpa adanya upaya tersebut, makna keberadaan CBSWM akan tidak berarti. Minimal CBSWM harus mempertimbangkan adanya tindakan pengkomposan terhadap sampah layak-kompos (compostable) dan tindakan penjualan sampah layak-daur (recyclable). Optimasi pemanfaatan sampah akan didukung oleh rencana pemilahan, penyiapan, proses produksi, penyaluran produknya, dan mekanisma jual-belinya. 5. Sarana persampahan yang memadai Sarana yang dimiliki CBSWM harus mampu mendukung keberlangsungan strategi pengelolaan sampah terpadu. Sarana yang dibutuhkan antara lain adalah a) wadah sampah (yang mendukung upaya pemilahan sampah pada sumbernya), b) gerobak pengumpul sampah, c) depo penampungan sementara, d) fasilitas pengkomposan, e) fasilitas penyiapan bahan layak daur ulang. dan f) fasilitas penampungan sementara. 6. Minimalisasi dampak lingkungan Sarana dan pola kerja yang digunakan dalam suatu CBSWM tidak boleh menimbulkan dampak lingkungan lain yang ternyata lebih berbahaya dari dampak sampah itu sendiri.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-33

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

7. Kejelasan organisasi pengelola sampah Kehadiran organisasi baik formal maupun non formal yang memegang kendali kegiatan CBSWM, harus difasilitasi oleh pihak insiator. Hal ini menjadi penting untuk keberlajutan CBSWM ketika inisiator tidak lagi mendampingi masyarakat. Sedapat mungkin, organisasi dibetuk atas kebutuhan warga, dan berangotakan warga setempat.

8. Optimasi sumber pendanaan sendiri; CBSWM harus memiliki sumber pendanaan yang jelas untuk memenuhi biaya operasi dan biaya pengembangannya. CBSWM harus dapat mengandalkan sumber dananya sendiri, seperti iuran warga, penjualan produk pemanfaatan sampah, kontribusi pihak lain yang diupayakan sendiri. Bantuan pendanaan dari pemerintah sebaiknya diberikan sesuai dengan manfaat keberadaan CBSWM terhadap sistem persampahan yang dikelola pemerintah. 9. Mekanisma pertanggungjawaban dan peningkatan kinerja; CBSWM harus memiliki mekanisma pertanggungjawaban yang jelas, baik terhadap kinerja administrasi, kinerja teknis, maupun kinerja keuangan. Mekanisma pertanggungjawaban harus didukung dengan sistem penilaian yang konsisten agar mempermudah proses pembandingan kinerjanya secara periodik. 10. Integrasi CBSWM dalam Sistem Pengelolaan Sampah Kota; Kehadiran CBSWM harus terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah kota. Pengakuan CBSWM sebagai bagian dari Sistem Pengelolaan yang dijalankan oleh Pemerintah adalah penting. Tanpa itu, eksistensi CBSWM akan selalu menjadi pertanyaan berbagai pihak yang meragukan kemampuan masyarakat.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-34

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Persyaratan di atas dalam pelaksanaan pengembangan suatu CBSWM, akan sangat bervariasi tergantung dari karakteristik tiap wilayah CBSWM itu sendiri.

4.8.2 4.8.2.1

Rencana Pengembangan Wilayah Pengembangan ini di Kabupaten Bandung, telah banyak sampah bersama masyarakat. pengembangan pengelolaan

Sejak beberapa tahun terakhir diupayakan

Masyarakat mengajukan permohonan bantuan peralatan, dan Pemerintah mengadakannya. Namun demikian, konsep yang diterapkan tidak satu pun memenuhi kriteria sebuah CBSWM. Dan umumnya bantuan Pemerintah berupa peralatan pengolahan sampah tidak dimanfaatkan. Permasalahan utama adalah belum terbangunnya sistem itu sendiri sehingga tidak dapat dipastikan keberlanjutannya. Kunci utama pengembangan sistem pengelolaan berbasis masyarakat adalah pelibatan masyarakat itu sendiri. Pelibatan masyarakat di dalam suatu program pembangunan CBSWM, merupakan suatu proses berkesinambungan dengan tahapan sebagai berikut : i. pengumpulan informasi dan ii. penyebaran informasi, sebelum meningkat ke iii. pertukaran informasi dan iv. konsultasi. Masyarakat tidak mungkin terlibat tanpa adanya penyampain informasi dan konsultasi antara pembawa pesan dengan masyarakat. Kegiatan pengembangan CBSWM memerlukan persiapan strategi komunikasi dengan prinsip partisipatif dan community development. Diperlukan bauran media yang luas dan bervariasi sehingga komunikasi yang dijalankan lebih efektif. Sarana dan prasarana pengelolaan sampah senantiasa menjadi kebutuhan bersamaan dengan proses pembelajaran yang tengah dilakukan. Oleh karena itu, sebagai sebuah langkah besar, Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat akan dikembangkan di Kabupaten Bandung dengan ketentuan umum sebagai berikut :

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-35

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(1) Sistem di bangun dengan prioritas di perdesaan, terutama perdesaan yang termasuk dalam katagori Kecamatan dengan kebutuhan pelayanan rendah dan sedang. a. Kecamatan Prioritas Utama, yaitu : Nagreg, Pangalengan, Kertasari, Rancabali dan Pasir Jambu. b. Kecamatan Prioritas Kedua, yaitu : Cikancung, Cimaung, Pacet, Cicalengka, Banjaran, Cangkuang, Soreang, Paseh, Cimenyan, Ciwidey, Cilengkrang, Arjasari dan Ibun (2) Di wilayah yang menjadi perioritas pelayanan Dinas Kebersihan seperti : Margahayu, Dayeuhkolot, Margaasih, Katapang, Majalaya, Baleendah, Pemeungpeuk, Cileunyi, Rancaekek, Ciparay, Solokan Jeruk dan Bojongsoang, dapat dikembangkan CBSWM sepanjang sistem itu adalah pilhan masyarakat atau keinginan muncul dari masyarakat. (3) Sistem dikembangkan oleh kelompok masyarakat bersama Pemerintah, dalah hal ini Dinas Kebersihan dengan bantuan aparat di Kecamatan. (4) Kapasitas Sistem ditentukan atas dasar kesepakatan kelompok inisiator bersama Dinas Kebersihan. (5) Kapasitas minimal, satu sistem melayani 5000 jiwa. Atau dalam lingkup satu Desa atau Kelurahan. 4.8.2.2 Tahap pengembangan CBSWM Mengembangkan sebuah CBSWM, diperlukan berbagai persiapan baik dari pihak insiator itu sendiri maupun dari pihak masyarakat yang menjadi target. Pada dasarnya inisiator adalah seorang atau sekelompok masyarakat yang telah memahami masalah pengelolaan sampah. Salah satu tujuan pembangunan CBSWM ini adalah pelibatan peran serta masyarakat seluas-luasnya, maka inisiator kegiatan juga memerlukan bekal yang cukup akan strategi peningkatan peran serta secara partisipatif. Di keempat wilayah studi CBSWM dikembangkan dengan tahapan sebagai berikut : 1. Perencanaan di pihak Inisiator, yaitu proses penentuan tujuan dan penyiapan tenaga pelaksana lapangan.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-36

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

2. Sosialisasi dan Pengumpulan Informasi, yaitu proses penyampaian tujuan insiator kepada seluruh masyarakat, beserta pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pengelolaan sampah. 3. Analisa Masalah dan Penjajagan Kebutuhan dalam Pengelolaan Sampah. Pada tahap ini masyarakat sudah mulai dilibatkan. Proses ini bertujuan untuk mengajak masyarakat menyadari segala permasalahan yang ada terkait pengelolaan sampah dan mengajak masyarakat untuk mencari solusi berdasarkan harapan dan keinginannya. Biasanya dari tahap ini dihasilkan susunan prioritas masalah . 4. Perencanaan Aktifitas di Masyarakat. Proses ini pada dasarnya mencari solusi atas permasalahan yang ditemukan. Karena itu, pada tahapan ini direncanakan berbagai aktifitas dalam kerangka pemecahan masalah, bersama dengan kebutuhan sumber daya. 5. Pelaksanaan Kegiatan atau selayaknya dikatakan sebagai proses pengorganisasian kegiatan masyarakat dalam kerangka membangun CBSWM. 6. Pemantauan atau Monitoring . Tahap ini bertujuan untuk menilai apakah program memang berjalan pada arah yang benar, mengidentifikasi permasalahan memperkirakan dalam antisipasi pelaksanaan yang program untuk dan kegiatan, alur dibutuhkan menjaga

pelaksanaan program. 7. Evaluasi. Dilakukan setelah melihat adanya perkembangan dan atau perubahan yang terjadi pada masyarakat dengan adanya CBSWM. Evaluasi dilakukan setelah melalui jangka waktu tertentu misalnya bulanan, atau tahunan. Di dalam CBSWM, evaluasi harus dikemas secara partisipatif, yaitu dilakukan oleh masyarakat sendiri yang merasakan manfaat kegiatan yang dikembangkan bersama. 4.8.2.3 Keterlibatan Stakeholder Dalam membangun CBSWM keterlibatan stakeholder berikut akan memberikan dampak positif terhadap pencapaian sasaran : 1. Masyarakat penimbul sampah baik sebagai individu yaitu perannya sebagai tokoh masyarakat, atau sebagai kelompok seperti kelompok ibu-

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-37

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

ibu, bapak-bapak atau kelompok pemuda yang memberikan perhatian terhadap masalah sampah. 2. Kelompok masyarakat penyokong dana (kelompok industri, pengusaha, dsb). 3. LSM lokal atau Lembaga Pengabdian Masyarakat Perguruan Tinggi, yang telah memahami permasalahan persampahan lokal. 4. Petugas atau pelaksana pengelolaan sampah yang telah ada. Terkadang, sebuah wilayah tujuan CBSWM sudah memiliki swakelola sampah yang dijalankan oleh datu atau dua orang petugas. Petugas inilah harus dilibatkan dalam berbagai kegiatan CBSWM. 5. Petugas pengelola sampah di TPS, baik petugas formal dari Dinas Kebersihan, atau para pemulung yang bekerja di TPS, juga merupakan kelompok strategis yang kehadirannya tidak bisa diabaikan dalam membangun CBSWM. 6. Aparat pemerintah lokal yaitu Ketua RT/RW. Kelurahan atau bahkan sampai Kecamatan. 7. Lembaga Pemerintah terkait dengan pengelolaan sampah, yaitu : Dinas Kebersihan, Dinas Pengembangan Sarana dan Prasarana Permukiman, atau Dinas Tata Ruang dan Permukiman. 8. Lembaga Pemerintah terkait Pembangunan Kota, yaitu Badan Perencanaan Daerah. 4.8.2.4 Sumber Daya Yang Dibutuhkan Kebutuhan mengenai sumber daya (baik material maupun sumberdaya manusia) dapat bervariasi atau berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Hal ini sangat tergantung dari besarnya kegiatan yang dikembangkan. Dalam pemenuhan sumber daya hendaknya selalu melibatkan masyarakat setempat, agar tumbuh rasa memiliki. Kebutuhan material pada dasarnya merupakan kebutuhan yang berasal dari kegiatan-kegiatan : Pengadaan alat bantu kegiatan diskusi dan penyuluhan, berupa belajar mengajar. Seringkali proses komunikasi yang harus dilakukan di tengah

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-38

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

masyarakat, berkaitan dengan adanya informasi yang relatif baru, konsep-konsep baru, gagasan-gagasan baru, keterampilan-keterampilan baru, ataupun cara-cara baru. Komunikasi ini akan mudah dilakukan dengan dikembangkannya alat bantu komunikasi. Pengadaan sarana prasarana pengelolaan sampah. pengembangan design sampai pada pengadaannya. Sedapat mungkin Meskipun pihak sarana dan prasarana dipilih dan ditentukan oleh masyarakat dari mulai inisiator dapat memberikan sarana dan prasarana dengan gratis, namun sebaiknya hal ini jangan dilakukan. Apabila masyarakat menyadari bahwa masalah yang dihadapi adalah masalah mereka bersama, maka sedapat mungkin sejak awal masyarakat tidak dibiasakan untuk hanya mengharapkan bantuan dari luar melainkan juga mengupayakan sebagian dari kebutuhan dana. Biaya pengembangan program. Ketika masyarakat telah mulai berpartisipasi, sedapat mungkin kendali pelaksanaan kegiatan berada pada masyarakat, pihak inisiator tinggal memfasilitasinya. Salah satu yang harus difasilitasi adalah pengadaan biaya pelaksanaan kegiatan. Adapun di dalam proses pengembangan CBSWM, dimana usaha peningkatan peran serta masyarakat menjadi sasarannya, dibutuhkan : Proses pendampingan. Proses ini menjadi tanggung jawab pihak inisiator. Biasanya terdiri dari beberapa orang yang memiliki kemampuan dalam penggunaan Metodologi Partisipatif. Kelompok ini

bertugas mendampingi masyarakat, mulai dari tahap awal ketika memasuki suatu wilayah, melakukan pendekatan kepada masyarakat, memotivasi masyarakat, bekerjasama dengan masyarakat hingga menyiapkan masyarakat untuk dapat mengembangkan dirinya sendiri. Kelompok pendamping dan juga kelompok masyarakat masih perlu didampingi oleh sedikitnya seorang coacher yang akan memberikan konsultasi mengenai permasalahan yang dihadapi di tingkat pelaksanaan program. Kualifikasi Coacher ini sedikitnya adalah orang yang menguasai Metodologi Pendekatan Partisipatif, memiliki pengalaman dalam hal pengembangan masyarakat (community development), terampil dalam

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-39

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

hal manajemen proyek, menguasai keterampilan dalam hal pendidikan masyarakat dan dia seorang fasilitator yang baik. Pelatih-pelatih atau narasumber-narasumber yang berkaitan dengan isu program. Ketika program telah berjalan dan kegiatan semakin berkembang, maka akan muncul kebutuhan pelatihan singkat yang berkaitan dengan isu program. Misalnya, pelatihan pengkomposan, daur ulang kertas, pelatihan pemanfaatan kain perca dan lain sebagainya. Keberlanjutan atau kesinambungan program yang telah berkembang oleh masyarakat harus menjadi kriteria keberhasilan CBSWM. Sedangkan untuk keberlanjutan masyarakat membutuhkan keterampilanketerampilan yang memungkinkan mereka melanjutkan upaya-upaya perbaikan, tanpa harus tergantung kepada pihak lain. Karenanya diperlukan ini suatu proses masyarakat pelatihan akan untuk mampu masyarakat menjalankan agar dan berkemampuan menjadi fasilitator. Diharapkan dari pelatihan fasilitator diharapkan mengembangkan program. Pada tahap yang lebih jauh, fasilitator lokal ini akan mampu mengambil inisiatif sendiri untuk memfasilitasi masyarakat. 4.8.3 Aspek Pembiayaan CBSWM Salah satu aspek yang sangat penting untuk diperhatikan dalam hal pengembangan CBSWM adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap pihak luar, terutama dari sisi pembiayaan sistem. Walau pada dasarnya CBSWM menempatkan upaya-paya peningkatan peran serta mesyarakat terhadap pengelolaan sampah, sebagai tujuan utama. Namun masalah pembiayaan kegiatan di dalam CBSWM merupakan salah satu faktor penentu dalam perkembangannya. Adalah penting untuk segera membangun mekanisme pembiayaan pengelolaan sampah dengan pola CBSWM di Kabupaten Bandung sebelum pola ini diimplementasikan. Selayaknya konsep pembiayaan pun dikembangkan bersama dengan masyarakat, sehingga pola partisipatif sudah terbangun sejak awal.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-40

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Namun demikian, berikut diusulkan hal-hal penting dari aspek pembiayaan dalam pengembangan CBSWM, yang masih harus didiskusikan secara partisipatif bersama seluruh stakeholder. Dalam kerangka sumber pendanaan penyelenggaraan CBSWM di Kabupaten Bandung harus difahami konsep-konsep sebagai berikut : 1. CBSWM adalah bagian terintegrasi dari Sistem Pengelolaan sampah kota yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Bandung. Walau di dalam CBSWM operasi pengelolaan sampah dilaksanakan dengan pola pemberdayaan masyarakat, namun demikian pengaturan pembiayaan minimal untuk biaya investasi masih menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah Kota Kabupaten Bandung. 2. Dengan pengembangan CBSWM maka sesungguhnya Pemerintah dalam hal ini Dinas Kebersihan mendelegasikan penyelenggaraan pelayanan pengelolaan sampah di wilayah tertentu kepada Kelompok Masyarakat. 3. Agar pelaksanaan pengelolaan sampah di wilayah tujuan pengembangan CBSWM, menjadi bagian upaya reduksi sampah di sumber, dan upaya pengolahan sampah di dalamnya memberikan peluang pemberdayaan masyarakat, maka suatu CBCWM perlu bekerjasama dengan pihak ketiga terutama dalam kerangka pengembangan pasar produk olahan. 4. Sumber pembiayaan penyelenggaraan pelayanan pengelolaan sampah oleh CBSWM pada dasarnya berasal dari penerimaan atau pendapatan CBSWM yang bersumber dari masyarakat. 5. Pengolahan sampah yang dikelola oleh CBSWM , merupakan upaya pengolahan sampah dari rumah tangga, karenanya biaya operasional bersumber dari masyarakat yang mendapat jasa pelayanan CBSWM. 6. Alternatif sumber biaya bagi CBSWM adalah iuran warga, penjualan kompos, produksi kegiatan pemanfaatan kompos dan atau barang lapak, serta kontribusi pihak lain yang diupayakan secara mandiri. Model pembiayaan ditentukan dan disepakati secara musyawarah antara masyarakat dan pihak pengelola CBSWM.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-41

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

7. Dengan adanya kebutuhan sarana dan prasarana dasar CBSWM, Pemerintah menanamkan investasinya di awal pengembangan, dan reinvestasi dimungkinkan untuk diulangi dalam periode tertentu. 8. CBSWM memiliki kewenangan penuh terhadap produksi olahan sampah, namun demikian pasar utama kompos yang di produksi oleh CBSWM adalah CBSWM itu sendiri dan Pemerintah Kabupaten Bandung melalui mekanisme kerjasama dengan seluruh Dinas Terkait. 9. Atas jasa reduksi sampah terhadap beban pengelolaan sampah di tingkat kota, CBSWM berhak mendapatkan penghargaan (reward) dari Pemerintah dalam bentuk yang ditetapkan Pemerintah. Sebagaimana ditetapkan bahwa CBSWM merupakan bagian terintegrasi dengan sistem kota, karena itu dalam hal ketetapan retribusi persampahan direkomendasikan hal-hal sebagai berikut : Masyarakat yang dilayani CBSWM, terkena wajib iuran yang ditetapkan oleh pengelola CBSWM setempat, namun bebas retribusi atau biaya pengelolaan dari TPS ke TPA selama CBSWM sudah mampu menghabiskan seluruh sampah di dalam wilayah pelayanan. Masyarakat pelayanan CBSWM terkena biaya pengelolaan dari TPS ke TPA dan akan di tarik oleh Pemerintah apabila wilayah pelayanan CBSWM masih menimbulkan residu sampah yang harus diangkut ke TPA. Biaya tersebut di perhitungkan berdasarkan biaya satuan pengelolaan sampah yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam Peraturan Daerah

4.9 Tahapan Pelaksanaan Pengembangan Operasi Pengelolaan Seluruh rencana pengembangan operasi pengelolaan sampah sebagaimana diuraikan di atas, tentunya memerlukan pentahapan dalam pelaksanaannya. Pentahapan selayaknya disesuaikan dengan pencapaian target pelayanan yang ditetapkan dalam setiap skenario yang dikembangkan. Perubahan besar dibutuhkan dalam pelaksanaan Skenario-1 dan Skenario-2, mengingat target yang ingin dicapai dalam Tingkat Pelayanan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-42

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Skenario-1, sebagai skenario optimis melakukan transformasi pola operasi model konvensional menjadi pola pengelolaan berbasis 3R sejak awal tahun 2009, dan melakukan pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana setiap tahunnya. Sasaran yang ingin di capai adalah seperti pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Tahapan Pengembangan Siste Operasional Skenario-1 JANGKA PENDEK JANGKA MENENGAH JANGKA PANJANG 2009 - 2010 2011 2015 2016 2028 Perubahan sistem operasi Mempertahankan kinerja Mempertahankan kinerja model konvensional, menjadi operasi sistem yang telah di operasi sistem yang telah di model 3R bangun dalam jangka pendek bangun dalam jangka pendek dan menengah, terutama dalam melalui peningkatan disiplin upaya pemanfaatan dan dan etos kerja, pemasaran produk olahan sampah Sasaran : Sasaran : Sasaran : (1) Tingkat Pelayanan 60%, (1) Tingkat Pelayanan 75 %, (1) Tingkat Pelayanan 85 % dengan kapasitas 1.035 dengan kapasitas 1.403 dengan kapasitas 1.515 m3/hr m3/hr m3/hr (2) Tingkat Pengomposan (2) Tingkat Pengomposan (2) Tingkat Pengomposan 0,1% 8% 4,3% (3) Tingkat pengolahan (3) Tingkat Pengolahan (3) Tingkat pengolahan anorganik 11,3% Anorganik 15,2% anorganik 13,1% (4) Tingkat pengolahan lain (4) Tingkat pengolahan lain (4) Tingkat pengolahan lain dengan PLTSa 0% dengan PLTSa 2,9% dengan PLTSa 0,8% (5) Tingkat Penimbunan (5) Tingkat Penimbunan (5) Tingkat Penimbunan 23,4% 20,8% 22,4%

Skenario-2, sebagai skenario dimana target Nasional akan dicapai dalam 20 tahun ini dilakukan dengan pentahapan yang hampir sama dengan Skenario-1, namun dengan kapasitas yang lebih kecil. Tabel 4.2, menunjukkan sasaran yang ingin dicapai dalam skenario-2.
Tabel 4.2 Tahapan Pengembangan Sistem Operasional Skenario-2 JANGKA PENDEK JANGKA MENENGAH JANGKA PANJANG 2009 - 2010 2011 2015 2016 2028 Perubahan sistem operasi Mempertahankan kinerja Mempertahankan kinerja model konvensional, menjadi operasi sistem yang telah di operasi sistem yang telah di bangun dalam jangka pendek model 3R bangun dalam jangka pendek melalui peningkatan disiplin dan menengah, terutama dalam dan etos kerja, upaya pemanfaatan dan pemasaran produk olahan sampah
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-43

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

JANGKA PENDEK 2009 - 2010 Sasaran : (6) Tingkat Pelayanan 60%, dengan kapasitas 1.035 m3/hr (7) Tingkat Pengomposan 0,1% (8) Tingkat pengolahan anorganik 11,3% (9) Tingkat pengolahan lain dengan PLTSa 0% (10)Tingkat Penimbunan 23,4%

JANGKA MENENGAH 2011 2015 Sasaran : (6) Tingkat Pelayanan 75 %, dengan kapasitas 1.403 m3/hr (7) Tingkat Pengomposan 4,3% (8) Tingkat pengolahan anorganik 13,1% (9) Tingkat pengolahan lain dengan PLTSa 0,8% (10)Tingkat Penimbunan 22,4%

JANGKA PANJANG 2016 2028 Sasaran : (6) Tingkat Pelayanan 85 % dengan kapasitas 1.515 m3/hr (7) Tingkat Pengomposan 8% (8) Tingkat Pengolahan Anorganik 15,2% (9) Tingkat pengolahan lain dengan PLTSa 2,9% (10)Tingkat Penimbunan 20,8%

Berbeda dengan Skenario-3, pentahapan kegiatan dilakukan untuk selanjutnya dihitung Tingkat Pelayanan yang dapat dicapai dengan tahapan yang dikembangkan. Tabel 4.3 memperlihatkan tahapan pengembangan operasi pelayanan pengelolaan sampah skenario-3.

Tabel 4.3 Tahapan Pengembangan Sistem Operasional JANGKA PENDEK JANGKA MENENGAH 2009 - 2010 2011 2015 Optimasi pelayanan TPS LC, Mempertahankan kinerja dengan frekuensi setiap hari, 1 operasi sistem eksisting, rit/arm roll/hari melalui peningkatan disiplin dan etos kerja, dan pengenalan terhadap sistem baru Optimasi kapasitas Peningkatan cakupan penampungan TPS C, dengan pelayanan dengan : menjadi 10 m3/hari (1) Membangun 5 lokasi TPS Kecamatan, di 5 wilayah beban pelayanan tinggi

Skenario-3 JANGKA PANJANG 2016 2028 Pengintegrasian sistem lama terhadap sistem baru

Rehabiliasi TPS Bak dan TPS Darurat menjadi TPS Container 6 m3

(2) Membangun TPS , dengan kapasitas pelayanan 5000 penduduk, 2 unit per tahun (10 unit dalam periode 5 tahun), di wilayah beban pelayanan tinggi Optimasi DTD, dengan hanya mengangkut ke TPS Kecamatan

Optimasi kinerja TPS Kecamatan terbangun Membangun TPS Kecamatan di seluruh wilayah beban pelayanan tinggi (7 Kecamatan dari 12 yang membutuhkan) Mengoperasikan daur ulang plastik di seluruh lokasi TPS Kecamatan (12 Unit) Membangun 1 TPS Kelurahan di wilayah pelayanan sedang dan ringan (46 unit)

Optimasi Dump Truk yang ada untuk pelayanan DTD, dengan

Seluruh wilayah DTD mengangkut sampah hanya Hal IV-44

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

JANGKA PENDEK 2009 - 2010 frekuensi peng akutan 3 kali/minggu Optimasi pengomposan sampah terangkut ke TPA, hingga 1 ton/hari

JANGKA MENENGAH 2011 2015 terdekat, untuk wilayah dimana sudah terbangun TPS Kecamatan atau TPS Kelurahan Peningkatan kapasitas pengomposan di TPA menjadi 3,5 ton/hari. Menjalankan pengomposan di TPS Kelurahan. Membangun 10 lokasi sistem pengelolaan sampah berbasis warga, melayani 50.000 penduduk

JANGKA PANJANG 2016 2028 sampai ke TPS Kelurahan atau TPS Kecamatan Optimasi pengomposan di TPA menjadi 5 ton/hari Menjalankan pengomposan di seluruh TPS Kelurahan Membangun 42 lokasi sistem pengelolaan sampah berbasis warga, melayani 210.000 penduduk.

Mengaktifkan kembali 6 lokasi sistem pengelolaan berbasis warga yang telah ada dengan melayani 30.000 penduduk. Dan membantu 5 lokasi baru dalam sarananya dengan melayani 7.500 penduduk. Sasaran : (11)Tingkat Pelayanan 35%, dengan kapasitas 1.035 m3/hr (12)Tingkat Pengomposan 0,1% (13)Tingkat pengolahan anorganik 11,3% (14)Tingkat pengolahan lain dengan PLTSa 0% (15)Tingkat Penimbunan 23,4%

Sasaran : (11)Tingkat Pelayanan 41 %, dengan kapasitas 1.403 m3/hr (12)Tingkat Pengomposan 4,3% (13)Tingkat pengolahan anorganik 13,1% (14)Tingkat pengolahan lain dengan PLTSa 0,8% (15)Tingkat Penimbunan 22,4%

Sasaran : (11)Tingkat Pelayanan 47 % dengan kapasitas 1.515 m3/hr (12)Tingkat Pengomposan 8% (13)Tingkat Pengolahan Anorganik 15,2% (14)Tingkat pengolahan lain dengan PLTSa 2,9% (15)Tingkat Penimbunan 20,8%

Keterangan : TPS LC = TPS dengan Landasan Container

4.10 Kebutuhan Sarana dan Prasarana Dari ketiga skenario di atas, analisis kebutuhan sarana prasarana dikembangkan. Untuk ketiganya jumlah kebutuhan akan berlainan satu dengan yang lain, namun jenis dari sarana yang dikembangkan pada dasarnya sama. 4.10.1 Jenis Sarana Prasarana Pola operasi pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung untuk 20 tahun mendatang, pada dasarnya mengikuti pola seperti tergambar pada Gambar 4.20 di bawah ini.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-45

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Gambar 4.20 Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan dari Hulu ke Hilir

Dari gambar di atas, sarana prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan sistem operasi pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung adalah : 1. 2. Wadah sampah terpilah di sumber Motor Sampah

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-46

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Kontainer penampung sampah di TPS, kapasitas 6m3 Arm Roll 6 m3 untuk container di atas Pick Up kapasitas 4 m3, untuk sistem pengumpulan Door to Door dan pemindahan sampah anorganik dari TPS Kelurahan ke TPS Kecamatan Bangunan TPS Kelurahan beserta perlengkapan pengomposan kapasitas 5000 penduduk. Dump Truck 10 m3, untuk pemindahan residu dari TPS Kelurahan keTPS Kecamatan dan ke TPA. Bangunan TPS Kecamatan beserta sarana pengolahan plastik Bangunan Pengumpul B3 RT di TPS Kecamatan dan di TPA.

4.10.2 Prediksi Kebutuhan Sarana Prasarana Kebutuhan sarana dan prasarana ditentukan oleh kapasitas pelayanan yang direncanakan. Sebagaimana dijelaskan dalam Bab Pengembangan Strategi, dalam perencanaan ini telah dikembangkan 3 skenario pelayanan. Karenanya prediksi kebutuhan sarana prasarana di jelaskan dalam tabel-tabel berikut.

Tabel 4.4 Prediksi Kebutuhan Sarana dan Prasarana Skenario 1


No I 1 2 3 4 5 II 1 Komponen Data Pelayanan Penduduk Kota Total Timbulan Tingkat Pelayanan Perkotaan Penduduk Terlayani Sampah Tertangani Pemerintah Penanganan Sampah Motor Sampah Kebutuhan Pengadaan Pick Up 4 m3 Kebutuhan Pengadaan Dump Truck 6 m3 Kebutuhan Pengadaan Kontainer 6 m3 unit unit 7 0 7 0 0 0 unit unit 107 107 143 36 196 53 unit unit 641 641 857 216 1178 321 orang m3/hr % Orang m3/hr 1,057,846 5,176 60% 634,707 3105.3 1,230,179 6,019 69% 848,823 4213.1 1,867,037 7,790 84% 1,568,311 6621.7 Satuan Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang

Data Kebutuhan Sarana dan Prasarana

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-47

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

No

Komponen Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 6 m3 Kebutuhan Pengadaan Kontainer 10 m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 10 m3 Kebutuhan Pengadaan

Satuan unit unit unit unit unit unit unit unit

Jangka Pendek 32 27 16 0 5 0 2 0

Jangka Menengah 31 0 15 0 5 0 2 0

Jangka Panjang 0 0 0 0 0 0 0 0

Implementasi 3R TPS Kelurahan Kebutuhan Pengadaan TPS Kecamatan Kebutuhan Pengadaan Pengembangan CBSWM Kebutuhan Pengadaan unit unit 32 32 54 22 106 52 unit unit 10 10 18 8 30 12 unit unit 25 25 38 13 71 33

Tabel 4.5 Perkiraan Kebutuhan Sarana dan Prasarana Skenario 2


No I 1 2 3 4 5 II 1 Komponen Data Pelayanan Penduduk Kota Total Timbulan Tingkat Pelayanan Perkotaan Penduduk Terlayani Sampah Tertangani Pemerintah Penanganan Sampah Motor Sampah Kebutuhan Pengadaan Pick Up 4 m3 Kebutuhan Pengadaan Dump Truck 6 m3 Kebutuhan Pengadaan Kontainer 6 m3 unit unit 6 0 6 0 4 0 unit unit 43 43 60 17 207 147 unit unit 256 256 360 104 1244 884 orang m3/hr % Orang m3/hr 1,057,846 5,176 24% 253,883 1345.6 1,230,179 6,019 29% 356,752 1865.8 1,867,037 9,134 66% 1,232,245 6394.1 Satuan Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang

Data Kebutuhan Sarana dan Prasarana

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-48

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

No Kebutuhan Pengadaan

Komponen

Satuan unit unit unit unit unit unit unit unit

Jangka Pendek 27 21 13 0 4 0 2 0

Jangka Menengah 28 1 14 0 4 0 2 0

Jangka Panjang 16 0 8 0 2 0 1 0

Arm Roll 6 m3 Kebutuhan Pengadaan Kontainer 10 m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 10 m3 Kebutuhan Pengadaan 2 Implementasi 3R TPS Kelurahan Kebutuhan Pengadaan TPS Kecamatan Kebutuhan Pengadaan Pengembangan CBSWM Kebutuhan Pengadaan unit unit 19 19 29 10 117 88 unit unit 3 3 8 5 30 22 unit unit 3 3 10 7 85 75

Tabel 4.6 Kebutuhan Sarana dan Prasarana Skenario 3


No I 1 2 3 4 5 II 1 Komponen Data Pelayanan Penduduk Kota Total Timbulan Tingkat Pelayanan Perkotaan Penduduk Terlayani Sampah Tertangani Pemerintah Data Kebutuhan Sarana dan Prasarana Penanganan Sampah Kontainer 10 m3 Kebutuhan Pengadaan Kontainer 6 m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 10m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 6m3 unit unit 8 3 8 0 10 2 unit unit 34 28 34 0 48 14 unit unit 23 3 23 0 33 10 orang m3/hr % Orang m3/hr 1,057,846 5,176 35% 368,399 1035.2 1,230,179 6,019 41% 499,253 1402.9 1,867,037 9,134 47% 876,726 1655.8 Satuan Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-49

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

No Kebutuhan Pengadaan

Komponen

Satuan unit unit unit unit

Jangka Pendek 11 0 36 0

Jangka Menengah 11 0 36 5

Jangka Panjang 16 0 43 7

Dump Truck 6 m3 Kebutuhan Pengadaan 2 Pelaksanaan 3R Pembiayaan Pengembangan CBSWM Pengadaan TPS Kelurahan Pengadaan TPS Kecamatan Pengadaan unit 0 5 7 unit 0 10 56 unit 5 10 42

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal IV-50

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

5 .1

Rencana Pengembangan Aspek Kelembagaan

5.1.1 Acuan Kebijakan


A. Kebijakan Pemerintah Pusat

Kebijakan

Pemerintah

Pusat

berkaitan

dengan pengaturan kelembagaan di daerah yaitu terkait dengan Peraturan Pemerintah


Republik Nomor : Urusan Pemerintahan Antara Indonesia 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Pemerintah,

Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Berdasarkan peraturan ini:

(1)

Urusan pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah dan urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan.

(2)

Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(3)

Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.

(4)

Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan pemerintahan meliputi: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. q. r. s. t. u. v. w. x. y. pendidikan; kesehatan; pekerjaan umum; perumahan; penataan ruang; perencanaan pembangunan; perhubungan; lingkungan hidup; pertanahan; kependudukan dan catatan sipil; pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; keluarga berencana dan keluarga sejahtera; sosial; ketenagakerjaan dan ketransmigrasian; koperasi dan usaha kecil dan menengah; penanaman modal; kebudayaan dan pariwisata; kepemudaan dan olah raga; kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian; pemberdayaan masyarakat dan desa; statistik; kearsipan; perpustakaan; komunikasi dan informatika;
Hal V-2

terdiri atas 31 (tiga puluh satu) bidang urusan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

z. aa. bb. cc. dd. ee.

pertanian dan ketahanan pangan; kehutanan; energi dan sumber daya mineral; kelautan dan perikanan; perdagangan; dan perindustrian.

Pengelolaan persampahan merupakan urusan yang dibagi menjadi kewenangan Pemerintah, Persampahan. Sub Bidang Persampahan terdiri dari Sub Sub Bidang: 1. Pengaturan 2. Pembinaan 3. Pembangunan 4. Pengawasan. Kewenangan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah dalam urusan bidang PU, Sub Bidang Persampahan adalah sebagai berikut:
Tabel 5.1 Kewenangan Pemerintah Pusat

Pemerintah

Daerah

Provinsi

dan

Pemerintah

Daerah

Kota/Kabupaten sebagai urusan di bidang Pekerjaan Umum dengan Sub Bidang

No.
1

Sub Sub Bidang


Pengaturan

Kewenangan
1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional pengembangan PS persampahan. 2. Penetapan lembaga tingkat nasional penyelenggara pengelolaan persampahan (bila diperlukan). 3. Penetapan NSPK pengelolaan persampahan secara nasional termasuk SPM. 4. Memberikan izin penyelenggara pengelolaan persampahan lintas provinsi. 1. Fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan antar provinsi. 2. Peningkatan kapasitas manajemen dan fasilitasi kerjasama pemda/dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan Sistem persampahan. Hal V-3

Pembinaan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

No.

Sub Sub Bidang

Kewenangan
3. Fasilitasi bantuan teknis penyelenggaraan pengembangan PS persampahan.

Pembangunan

Pengawasan

1. Fasilitasi penyelenggaraan dan pembiayaan pembangunan PS persampahan secara nasional (lintas provinsi). 2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS persampahan lintas provinsi. 1. Pengawasan dan pengendalian pengembangan persampahan secara nasional. 2. Evaluasi kinerja penyelenggaraan PS persampahan secara nasional. 3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

Tabel 5.2 Kewenangan Pemerintah Provinsi

No.
1

Sub Sub Bidang


Pengaturan

Kewenangan
1. Penetapan peraturan daerah kebijakan pengembangan PS persampahan lintas kabupaten/kota di wilayah provinsi mengacu pada kebijakan nasional. 2. Penetapan lembaga tingkat provinsi penyelenggara pengelolaan persampahan lintas kabupaten/kota di wilayah provinsi. 3. Penetapan peraturan daerah NSPK pengelolaan persampahan mengacu kepada SPM yang ditetapkan oleh pemerintah. 4. Memberikan izin penyelenggara pengelolaan persampahan lintas kabupaten/kota. 1. Fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan antar kabupaten/kota. 2. Peningkatan kapasitas manajemen dan fasilitasi kerjasama pemda/dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan PS persampahan lintas kabupaten/kota. 3. Memberikan bantuan teknis dan pembinaan lintas kabupaten/kota. 1. Fasilitasi penyelenggaraan dan pembiayaan pembangunan PS persampahan secara nasional di wilayah provinsi. 2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS persampahan lintas kabupaten/kota. 1. Pengawasan dan pengendalian pengembangan persampahan di wilayah provinsi. 2. Evaluasi kinerja penyelenggaraan yang bersifat lintas kabupaten/kota. 3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

Pembinaan

Pembangunan

Pengawasan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 5.3 Kewenangan Pemerintah Kota / Kabupaten

No.
1

Sub Sub Bidang


Pengaturan

Kewenangan
1. Penetapan peraturan daerah kebijakan pengembangan Sistem persampahan di kabupaten/kota mengacu pada kebijakan nasional dan provinsi. 2. Penetapan lembaga tingkat kabupaten/kota penyelenggara pengelolaan persampahan di wilayah kabupaten/kota. 3. Penetapan peraturan daerah berdasarkan NSPK yang ditetapkan oleh pemerintah dan provinsi. 4. Pelayanan perizinan dan pengelolaan persampahan skala kabupaten/kota. 1. Peningkatan kapasitas manajemen dan fasilitasi kerjasama dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan Sistem persampahan kabupaten/kota. 2. Memberikan bantuan teknis kepada kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat di kabupaten/kota. 1. Penyelengaraan dan pembiayaan pembangunan PS persampahan di kabupaten/kota. 2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS persampahan kabupaten/kota. 1. Pengawasan terhadap seluruh tahapan pengembangan persampahan di wilayah kabupaten/kota. 2. Evaluasi kinerja penyelenggaraan di wilayah kabupaten/kota. 3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

Pembinaan

Pembangunan

Pengawasan

Urusan Sub Bidang Persampahan sudah jelas menjadi bagian dari kewenangan Pemerintah Kota/Kabupaten, untuk menjalankan sehingga urusan Pemerintah kewenangan Kabupaten perlu membentuk kelembagaan persampahan. Atas dasar pembagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah

Kota/Kabupaten tersebut di atas, maka Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang dijadikan acuan dan landasan dalam membentuk kelembagaan baik di lingkunganPemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kota/Kabupaten.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-5

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 sebagai pendahulu dari Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah belum cukup memberikan pedoman yang menyeluruh bagi penyusunan dan pengendalian organisasi perangkat daerah yang dapat menangani seluruh urusan pemerintahan, sehingga perlu dicabut dan dibentuk Peraturan Pemerintah yang baru yaitu Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU), adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan negara pada umumnya. Pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandung memiliki potensi untuk dapat dikelola dengan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Penyelenggaraan pelayanan persampahan merupakan jenis pelayanan jasa pemerintah yang dapat dijual kepada masyarakat yang dilayani walaupun tidak dengan tujuan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk meningkatkan pelayanan. Kebijakan ini masih terbatas dalam pola pengelolaan keuangan dan masih diperlukan pedoman teknis untuk membentuk lembaga Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-6

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

B.

Kebijakan Pemerintah Daerah

Sejalan dengan adanya kebijakan Pemerintah sebagaimana PP 38 Tahun 2007 dan PP 41 Tahun 2007, maka didaerah dibentuk dinas-dinas daerah yang tugas dan tanggung jawabnya dapat melingkupi penyelenggaraan pengelolaan sampah atau kebersihan sebagaimana urusan yang diserahkan dari Pemerintah kepada pemerintah daerah. Lembaga yang dibentuk oleh pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pelayanan kebersihan di daerah sangat bervariasi. Ada lembaga berbentuk Dinas Kebersihan yaitu dinas yang secara khusus memiliki tugas tanggungjawab dan wewenang dalam penyelenggaraan pelayanan kebersihan, tetapi ada pula yang berbentuk Dinas bersama yang tidak hanya mengelola kebersihan tetapi juga mengelola bidang tugas lainnya seperti pertamanan, pemakaman dan kebakaran dan bahkan masih terdapat tugas lainnya dalam dinas tersebut. Penetapan bentuk lembaga pengelola kebersihan merupakan bagian dari kebijakan dari Kepala Daerah dan dapat memberikan gambaran tingkat perhatian terhadap permasalahan kebersihan. Suatu kota yang memberikan perhatian bentuk secara proporsional yang terhadap masalah kebersihan yang kota dan menempatkannya sejajar dengan pengelolaan infrastruktur lainnya maka lembaga ditetapkan merupakan lembaga memiliki belum kewenangan secara memadai. Walaupun demikian, kesejajaran bentuk lembaga pengelola kebersihan terhadap lembaga pengelola infrastruktur lainnya cukup untuk mampu menyelenggarakan pelayanan dengan baik bila ternyata perlakuan dalam penganggaran, penempatan SDM tidak secara proporsional. Penempatan sumberdaya manusia di lembaga pengelola kebersihan yang

berperan sebagai Dinas Fungsional Teknis penyelenggara pengelola sampah, sangat jarang ditemukan yang memiliki kompetensi di bidangnya. Kalaupun kemudian dilakukan program pendidikan dan latihan bidang pengelolaan sampah, tidak ada jaminan bahwa yang bersangkutan akan tetap mengembangkan karir pada bidangnya tetapi masih sangat rentan terhadap proses mutasi ke bidang lain.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-7

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Sebagaimana kebijakan yang termuat dalam PP. RI No 38 Tahun 2007, bahwa Pemerintah Propinsi memiliki wewenang dalam pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan dalam hal penyelenggaraan dan pembiayaan pembangunan prasarana dan sarana persampahan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mulai menjalankan peran ini. Orientasi struktur organisasi di Daerah adalah perampingan organisasi dengan prinsip miskin struktur tetapi kaya fungsi. Akibatnya akhir-akhir ini terjadi penyatuan lembaga-lembaga dan Dinas daerah termasuk lembaga penyelenggara kebersihan. Lembaga pengelola kebersihan yang semula berbentuk Dinas Tersendiri (Dinas Kebersihan) digabung atau disatukan menjadi Dinas Kebersihan dan Pertamanan, atau Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman, atau UPTD Kebersihan dari Dinas Pemukiman dan Tata Wilayah atau Dinas Cipta Karya, atau Seksi Kebersihan dalam Dinas Lingkungan Hidup atau lainnya.

5.1.2 Acuan Kebutuhan


(1) Secara lebih Kapasitas Kelembagaan yang Memadai umum tinggi terjadi masalah dari bahwa kecepatan masih untuk persampahan kemampuan

pertumbuhan

mengelolanya. Hal ini terlihat secara fisik bahwa saat ini timbulan sampah Kabupaten Bandung baru mampu terkelola 20,8 %. Timbulan sampah akan terus bertambah banyak dan diperlukan upaya yang berlipat ganda untuk mampu mengelola sampah secara tuntas. Penetapan tanggung jawab lingkup tugas yang harus dilakukan oleh lembaga pengelola sampah Dinas Kebersihan harus secara jelas. Ruang lingkup pengelolaan kebersihan kota sangat luas, dan bila dihubungkan dengan sumbersumber timbulan diantaranya sampah permukiman, pasar, perkantoran, industri dan perdagangan, komerial, rumah sakit, jalan, saluran, sungai dan masih
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-8

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

banyak lagi. Apabila tanggungjawab pengelola sampah kota tidak secara jelas ditetapkan, maka akan terjadi saling lempar tanggungjawab diantara pengelola infrastruktur yang akibatnya dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab tidak berjalan efektif dan efisien. Luasnya ruang lingkup pengelolaan sampah tidak saja disebabkan oleh luasnya sumber-sumber asal sampah, tetapi juga jenis dan karakteristiknya. Sampah dengan karakteristik tertentu tidak dapat dikelola secara bersama-sama dengan sampah dengan karakteristik lainnya. Sebagai contoh, sampah medis atau yang berasal dari rumah sakit atau tempat-tempat pengobatan lainnya harus dikelola secara terpisah dari sampah rumah tangga. Demikian juga sampah yang berasal dari industri terutama yang mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3). Dengan demikian maka harus ada kejelasan jenis sampah yang mana yang menjadi tanggungjawab dalam pengelolaannya. Penetapan kejelasan tanggungjawab biasanya lebih terarah pada lingkup tugas secara operasional. Pengelolaan sampah tidak hanya terbatas pada pembagian tugas dan tanggungjawab lembaga dalam secara operasional, tetapi juga dalam hal kewenangan dalam pengaturan. Pengaturan kewenangan perlu dilakukan diantara Pemerintah Kabupaten, mengingat seperti kewenangan dalam investasi peralatan, kewenangan dalam penagihan, kewenangan dalam penerapan sanksi dan lainnya. Pengelolaan sampah Kabupaten Bandung yang semula diserahkan kepada Dinas Daerah namun kini digabung dengan Dinas Permukiman dan Tata Ruang dengan dengan UPTD , dinilai mengalami kemunduran fungsi dan kewenangan. Bentuk Dinas Kebersihan, dipandang sudah tepat untuk pelayanan saat ini bahkan untuk 5 tahun mendatang. Bahkan bentuk Dinas Kebersihan selanjutnya dapat dikembangkan kapasitas otonominya sebagai lembaga yang mandiri dalam pengelola persampahan secara berjenjang, dalam hal: a. Kemampuan menjalankan kewenangan dalam perencanaan pengembangan sistem pelayanan dan pengelolaan sampah b. Kemampuan penagihan retribusi kebersihan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-9

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

c. Memperoleh perhatian dalam pengalokasian anggaran dan penempatan personil secara proporsional dengan tuntutan profesionalisme. (2) Struktur organisasi Struktur organisasi untuk sampah struktur merupakan mencapai Kabupaten organisasi alat bagi kelembagaan Pengelolaan memerlukan tujuan. Bandung yang

memadai agar seluruh rangkaian kegiatan terkait dengan penyelenggaraan pelayanan dapat berjalan sesuai dengan tujuan. Tujuan yang akan dicapai adalah terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sehingga kondisi kebersihan kota dapat terjamin. Organisasi pengelola kebersihan harus memiliki kedudukan yang jelas di dalam struktur organisasi Pemerintah Kabupaten. Dengan kedudukan yang jelas, akan diketahui bagaimana hubungan kerja (komando, delegasi wewenang dan koordinasi) antara organisasi pengelola kebersihan terhadap komponen organisasi lain dalam organisasi Pemerintah Kabupaten baik secara vertikal maupun horizontal. Struktur organisasi lembaga pengelola kebersihan itu sendiri, meliputi pengaturan unit-unit kerja yang harus ada dalam struktur untuk menjalankan fungsi organisasi sehingga seluruh tugas dan tanggungjawab dari pengelola kebersihan dapat terselenggara dan dapat mencapai tujuan organisasi. Apabila mengacu kepada referensi tentang fungsi-fungsi organisasi yang diperlukan dalam organisasi pengelola sampah kota (David Wilson dkk., 2001) dapat digambarkan sebagai berikut: (i) Perencanaan / Planning Dalam struktur organisasi pengelola sampah Kabupaten Bandung harus ada unit kerja yang menangani perencanaan, baik perencanaan strategis
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-10

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

maupun

perencanaan

operasional.

Termasuk

didalamnya

adalah

perencanaan terhadap program dan rencana pengendaliannya. (ii) Operasional Unit kerja yang memiliki fungsi operasional merupakan unit kerja yang bertanggungjawab pelaksanaan pelayanan pengelolaan sampah dari hari ke hari. Unit kerja dengan fungsi ini sangat menentukan keberhasilan organisasi karena merupakan unsure utama dalam menjalankan tugas berbagai aspek dalam pelayanan pengelolaan sampah mulai dari penyapuan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan akhir sampah. Unit kerja ini berperan sebagai operator dari organisasi dalam menjalankan pelayanan. (iii) Pembiayaan/Keuangan Unit organisasi dengan fungsi pembiayaan (financial) memiliki tugas yang difocuskan terutama dalam sistem akunting. (iv) Pendapatan/Income Unit kerja ini memiliki fungsi difocuskan untuk meningkatkan pengumpulan jasa pelayanan (retribusi kebersihan) dari pengguna jasa (generating and collecting revenues) (v) Administrasi Unit kerja administrasi merupakan unit kerja penunjang berjalannya organisasi secara keseluruhan. Dalam unit kerja ini termasuk menjalankan fungsi manajemen SDM, perlengkapan dan asset, pelayanan hukum, public relations dan lain-lain. (vi) Pengawasan dan Pengendalian Unit kerja ini mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan fungsi organisasi mengoreksi adanya penyimpangan dan memberrikan umpan balik untuk perbaikan kinerja organisasi.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-11

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(3)

Koordinasi

Objek sampah yang harus dikelola oleh lembaga pengelola sampah Kabupaten Bandung berada diberbagai lokasi sumber sampah. Diantaranya lokasi sumber sampah misalnya jalan, saluran, pasar, kawasan komersial, perkantoran dan lainnya. Lokasi sumber sampah sebagai bagian prasarana kota, memiliki organisasi pengelola. Agar pengelolaan sampah yang dilakukan oleh lembaga pengelola sampah Kabupaten Bandung dapat berjalan lancar, maka koordinasi antara keduanya harus berjalan lancar pula. Sebagai contoh koordinasi antar organisasi yang harus dibangun dengan baik antara pengelola sampah kota dengan Dinas Bina Marga, Dinas Pasar, Dinas Pertamanan dan Pertambangan, Dinas Pengairan, dan lain-lain.

Kebutuhan koordinasi tidak saja dalam hal pelaksanaan pelayanan pengelolaan sampah secara operasional, tetapi juga dalam hal perencanaan dan pengawasan. Dalam hal perencanaan diantaranya dalam penempatan fasilitas persampahan yang perlu didukung oleh perencanaan penggunaan ruang (tata ruang). Koordinasi dalam pengawasan terutama penerapan peraturan tentang kebersihan, terkait dengan unit kerja penegak hukum seperti Satuan Polisi Pamong Praja, Kejaksaan dan Pengadilan.

(4)

Kerjasama antar Stakeholder

Keberhasilan penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah ditentukan oleh peranserta atau kerjasama dari seluruh aktor yang terkait dengan sistem pengelolaan sampah kota. Lembaga pengelola sampah kota pada satu sisi berperan sebagai penyedia layanan kepada para pengguna jasa, tetapi diantara pengguna jasa itu sendiri adalah lembaga-lembaga yang ada dalam organisasi Pemerintah Kabupaten. Kerjasama antara lembaga penyedia jasa dengan pengguna jasa sangat penting untuk mencapai sukses baik pada tataran perencanaan maupun pelaksanaan. Satu hal penting adalah efektifitas dan kelangsungan sistem pengelolaan sampah tergantung komitmen dari seluruh pihak sebagai stakeholder untuk berperanserta/bekerjasama.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-12

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Stakeholder utama dalam pengelolaan sampah dan aktivitas yang harus diperankan oleh masing-masing diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Lembaga pengelola sampah, yaitu yang paling bertanggung jawab dalam penyediaan pelayanan pembuangan operasional. 2. Bapeda, Dinas Pertanahan yang terlibat dalam konsultasi terutama dalam rencana pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah. Hal ini sangat diperlukan terutama untuk kegiatan proses pemilihan lokasi untuk pembuangan akhir dan fasilitas lainnya yang memerlukan penyediaan ruang. 3. Pemerintah Propinsi, yang harus berperanserta dalam kewajiban penyediaan prasarana dan sarana pembuangan akhir, pengolahan, transfer station, composting, dimana dalam wilayah Kabupaten itu sendiri tidak tersedia lahan dalam wilayah kotanya. 4. Masyarakat penimbul sampah didaerah perkotaan berperanserta dalam penyelenggaraan pelayanan seperti pemilahan sampah disumbernya, pengumpulan sampah ke lokasi pengumpulan komunal, membayar jasa pelayanan dan lainnya yang berperan penting terhadap keseluruhan sistem. 5. Kalangan pebisnis. Mereka juga menimbulkan sampah dan punya peran penting dalam pengelolaan sampah terutama membayar secara langsung jasa pelayanan sesuai dengan jasa yang diterimanya. 6. Perusahaan sektor swasta punya peran dalam pengumpulan sampah, penyapuan jalan, pengolahan/daur ulang sampah, pengomposan dan kegiatan lainnya sebagai mitra dari Pemerintah. 7. Pekerja sektor informal, para pemulung dan para pengusaha pengumpul barang pulungan skala kecil punya peran yang penting dalam pengurangan sampah. 8. Lembaga Swadaya Masyarakat memiliki peran untuk ikut meningkatkan kualitas lingkungan terutama lingkungan masyarakat yang marginal serta berperan dalam meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Mereka berperan sebagai mitra pemerintah. akhir pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan dan sampah, pembiayaan penyediaan peralatan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-13

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

9. Organisasi masyarakat yang dinamakan Rukun Tetangga dan Rukun Warga (RT/RW) berperan aktif dalam penyelenggaraan pelayanan pengumpulan sampah terutama pada daerah yang tidak terjangkau oleh pelayanan dari pemerintah. 10. Masyarakat miskin kota yang tinggal di hunian liar yang kebanyakan menggunakan ruang-ruang publik dan sering kena gusur bahkan sama sekali tidak terjangkau oleh pelayanan jasa kebersihan perlu mendapat perhatian. 11. Kelompok perempuan memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah secara praktis terutama dari mulai rumah tangga.

(5)

Kapasitas Sumber Daya Manusia Kualitas pengelola keefektifan pengelolaan sampah sumberdaya sampah dan sampah. Kabupaten manusia menjadi Agar dalam kriteria lembaga kunci pelayanan pengelola mampu

keberlanjutan lembaga Bandung

menyelenggarakan pelayanan pengelolaan sampah secara berkelanjutan, dibutuhkan SDM yang berkualitas, diantaranya: Kepala Dinas Kebersihan yang memiliki kemampuan secara menyeluruh tentang sistem pengelolaan sampah dan memiliki komitment terhadap maksud dan tujuan penyelenggaraan pelayanan pengelolaan sampah. Seorang Pimpinan yang memiliki pengalaman cukup dan senioritas untuk menjalankan pekerjaannya. Memiliki staf yang sudah dilatih secara cukup dibidang pengelolaan sampah dan manajemen secara umum.

(6)

Kerjasama Antar Daerah Pengelolaan sampah sebagai salah satu unsur dalam pengelolaan lingkungan hidup perkotaan di Kabupaten Bandung, dalam aktifitasnya membutuhkan keterlibatan Pemerintah Kota/Kabupaten lainnya sebagai hubungan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-14

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

timbal balik. Penduduk perkotaan di di luar wilayah Kabupaten Bandung dan perkembangan aktifitasnya mengakibatkan permasalahan sampah yang timbul tidak dapat diselesaikan di dalam wilayah administrasi kota tersebut. Kabupaten Bandung memiliki potensi lahan yang memungkinkan menjadi potensi untuk membangun sarana pengolahan sampah bersama yang dapat memberikan manfaat lebih apabila dibandingkan hanya untuk kepentingan sendiri. Kerjasama antar lembaga pemerintah dalam hal penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh kedua atau antar pemerintah kota menjadi sangat penting. Keberadaan lembaga tertentu yang bertugas untuk mengatur kerjasama antar pemerintah diperlukan, dan harus pula ditindak lanjuti kerjasa antar lembaga pelaksana pengelolaan sampah dari masing-masing kota/daerah.

5.1.3 Rencana Pengembangan


Berdasarkan pada analisis kebutuhan sebagaimana diuraikan di atas, disampaikan rekomendasi yang merupakan arah rencana pengembangan aspek kelembagaan dalam periode 20 tahun mendatang. (1) Bentuk Lembaga

Bentuk lembaga pengelola kebersihan di Kabupaten Bandung saat ini yaitu Dinas Kebersihan pada dasarnya sudah cukup memadai untuk mengelola kebersihan di wilayah Kabupaten Bandung pada periode 5 tahun dengan pertimbangan: a. Jumlah penduduk urban yang harus dilayani, b. Jumlah beban timbulan sampah yang harus dikelola, c. Jumlah prasarana dan sarana yang digunakan, d. Jumlah pegawai yang cukup besar, e. Kebutuhan alokasi anggaran, f. Kebutuhan kapasitas kelembagaan yang memadai, g. Urusan kewenangan yang harus dijalankan sudah jelas,

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-15

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Berdasarkan kebutuhan dalam jangka panjang, maka bentuk lembaga yang saat ini dan 5 tahun ke depan berupa Dinas Kebersihan dapat berkembang dan menuju menjadi lembaga yang secara financial dan ekonomi dapat mandiri melalui proses dan tahapan: a. Peningkatan kinerja pembiayaan untuk menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). b. Pengelolaan BLUD yang mengarah kepada kinerja keuangan secara impas (cost recovery). c. Peningkatan kinerja BLUD mengarah kepada lembaga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). d. Pengembangan BUMD menjadi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) dan mengarah kepada PT Persero. (2) Penguatan Kelembagaan Non Pemerintah dan Swasta Formal

Penyelenggaraan pelayanan pengelolaan sampah Kabupaten Bandung tidak akan mampu hanya diselenggarakan oleh lembaga formal Pemerintah. Pelayanan pengumpulan sampah dari rumah ke rumah, kegiatan pengurangan, pemanfaatan dan pengolahan sampah, pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat dibidang kebersihan kegiatan kemasyarakatan dan permasalahan lingkungan, merupakan bentuk kegiatan yang sangat membutuhkan peran lembaga non formal dan swasta formal atau lembaga non pemerintah. Pemerintah Kabupaten Bandung harus membuka ruang bagi keterlibatan lembaga non pemerintah dan menjadikan mereka sebagai bagian dalam menjalankan roda sistem pengelolaan sampah kota. Pengelolaan sampah merupakan pekerjaan yang harus terus menerus berjalan, sehingga lembaga yang terlibat dalam pengelolaan sampah harus merupakan lembaga yang bersifat permanen dan harus berkelanjutan. Penguatan kelembagaan Non Pemerintah dan Swasta sebagai pelaku pengelola sampah dibangun melalui mekanisme insentif dan atau subsidi pada fase awal dan perkembangan lembaga dan membangun kemandirian untuk mampu hidup berkelanjutan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-16

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

(3)

Sumber Daya Manusia kebutuhan sumberdaya manusia untuk menyelenggarakan

Pemenuhan

pelayanan pengelolaan sampah, didasarkan kepada struktur organisasi yang digunakan dan perkembangan beban kerja. Perhitungan kebutuhan pegawai ini dengan asumsi bahwa kebutuhan prasarana dan sarana sesuai dengan skenario operasional.
Tabel 5.4 Perhitungan Kebutuhan Pegawai
Perkiraan Kebutuhan Pegawai Unit Kerja Penyapuan & Pengumpulan Pengangkutan dan Pembuangan Prasarana dan Sarana Administrasi Perencanaan & Pengawasan Jumlah 2008 - 2010 40 60 10 6 4 120 2010 - 2018 70 135 20 20 5 250 2028 120 150 30 20 10 330

(4)

Mekanisme Koordinasi Tujuan penyelenggaraan pelayanan pengelolaan sampah akan dapat tercapai dengan baik apabila seluruh kegiatan baik dilaksanakan dari mulai secara terkoordinasi pengendalian. perencanaan,

pelaksanaan maupun dalam pengawasan dan

Berikut ini adalah pihak-pihak atau lembaga yang harus terlibat dalam koordinasi sebagaimana dimaksud.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-17

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 5.5 Mekanisme Koordinasi

Bidang Koordinasi Koordinasi Perencanaan


Konsep Kebijakan Pengelolaan Sampah Penggunaan ruang fasilitas kebersihan Konsep Teknik Operasional Konsep Kelembagaan Konsep Pembiayaan Konsep Peraturan Konsep Peranserta Masyarakat

Kelembagaan
Walikota, DPRD, Ormas,LSM Bappeda, Dinas Kimtawil Pakar Persampahan, Akademisi dan Praktisi Bagian Organisasi Bagian Keuangan Bagian Hukum Bagian Humas, Tokoh Masyarakat, Ormas, LSM

Koordinasi dalam pelaksanaan pelayanan


Pengelolaan Kebersihan Pemukiman Pengelolaan Kebersihan Jalan, saluran Pengelolaan Kebersihan Pasar Pengelolaan Kebersihan Rumah Sakit Pengelolaan Kebersihan Terminal dan Stasiun Pengelolaan TPA RT, RW, Lurah dan Camat, Ormas, LSM Dinas Bina Marga/Permukiman danTata Wil. Dinas Pengelola Pasar/Industri dan perdagangan Dinas Kesehatan Dinas Perhubungan Pengelola sampah Kota/Kabupaten Bandung

Koordinasi dalam pengawasan pelayanan


Pengelolaan Kebersihan Pemukiman Pengelolaan Kebersihan Jalan, saluran Pengelolaan Kebersihan Pasar Pengelolaan Kebersihan Rumah Sakit Pengelolaan Kebersihan Terminal dan Stasiun Pengelolaan TPA Penerapan Peraturan Daerah RT, RW, Lurah dan Camat, Ormas, LSM Dinas Bina Marga/Permukiman dan Tata Wil. Dinas Pengelola Pasar/Industri dan perdagangan Dinas Kesehatan Dinas Perhubungan Pengelola sampah Kota/Kabupaten Bandung Sat.Polisi Pamong Praja, PPNS

Mekanisme koordinasi tidak hanya dilakukan secara internal dalam lingkup Pemerintahan Kabupaten Bandung, tetapi juga secara horizontal antar Pemerintahan (Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang) dan koordinasi secara vertical kepada Pemerintah Provinsi.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-18

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

5.2 Rencana Pengembangan Aspek Peraturan 5.2.1 Jenis Peraturan


Jenis peraturan yang saat ini digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung meliputi : Perda No. 31 Tahun 2000 tentang Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, dan Kesehatan Lingkungan Perda No. 27 tahun 2001 tentang Izin Restribusi Pengelolaan Limbah Padat Perda No. 9 tahun 2002 tentang Pembentukan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Bandung Berdasarkan kebutuhan jenis peraturan yang diperlukan dalam penyelenggaraan pengelolaan persampahan, maka jenis peraturan yang ada saat ini perlu ditambah jenisnya sehingga meliputi: 1. Peraturan hukum yang mengatur tentang ketertiban umum, kewajiban melaksanakan memperlakukan pemenuhan sampah sistem yang pengelolaan sampah dan larangan mengakibatkan gangguan kesehatan,

pencemaran lingkungan dan keselamatan umum. Perturan ini ditujukan kepada setiap pemeran baik perorangan atau badan. 2. Peraturan hukum yang menetapkan status perencanaan strategis/master plan/rencana induk pengelolaan sampah kota untuk menjamin konsistensi kebijakan dan program pengelolaan sampah secara terintegrasi dengan pengelolaan prasarana lainnya. 3. Peraturan hukum yang menetapkan bentuk lembaga dan organisasi pengelola sampah. 4. Peraturan hukum yang mengatur tentang tatacara penyelenggaraan pengelolaan sampah yang mencakup seluruh lokasi sumber timbulan sampah. 5. Peraturan hukum yang mengatur tentang tarif jasa pelayanan kebersihan dengan besaran yang memadai dan fleksibel terhadap perubahan kondisi finansial. 6. Peraturan hukum yang mengatur tentang kerjasama antar daerah dalam penyelenggaraan pengolahan dan pembuangan akhir. 7. Peraturan hukum yang mengatur tentang kerjasama dan peranserta swasta dalam pengelolaan sampah.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-19

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

5.2.2. Materi Pengaturan Materi pengaturan yang tertuang dalam setiap jenis peraturan dirancang secara komprehensif, sehingga mengandung materi pengaturan secara memadai untuk mampu membangun sistem pengelolaan sampah secara berkelanjutan. 1. Materi pengaturan Kewajiban dan larangan bagi penimbul sampah a. Kewajiban umum dalam pengelolaan sampah Menyediakan dan menggunakan wadah sampah yang sesuai kapasitas, estetis, higienis, mudah dikosongkan, (layak teknis) Gunakan wadah terpisah untuk sampah organik dan non organik pada daerah yang sudah diberlakukan Tidak membuang sampah ke jalan, sarana transportasi, taman dan tempat umum lainnya Waktu dan tempat menaruh sampah Tidak membakar sampah di halaman rumah, di kontainer dan tempat-tempat umum lainnya Tidak membuang sampah ke saluran drainase dan sungai, atau lahan-lahan kosong/lahan tidur perkotaan Membayar penuh tagihan ongkos jasa yang ditetapkan (retribusi) Bertanggung jawab atas kebersihan jalan di muka persilnya, termasuk saluran air, pejalan kaki Sampah B3, makanan kadaluwarsa, pecahan gelas

b. Kewajiban pedagang Menjalankan kewajiban secara umum Membayar tagihan jasa pelayanan atau retribusi kebersihan Bila menggunakan jasa cleaning service, gunakan cleaning service yang terdaftar Menggunakan wadah sampah yang higienis dan mudah dioperasikan/dikosongkan Membersihkan halaman depan dan trotoar didepan usahanya

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-20

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tidak menyembunyikan makanan kedaluwarsa atau sampah lainnya Membersihkan saluran drainase dan roil Minimasi bungkus yang diberikan pada pembeli

c. Kewajiban institusi, komersial dan industri Menjalankan kewajiban umum Menyediakan wadah sampah untuk menampung sampah yang ditimbulkannya : higienis, estetis, mudah dikosongkan, Membayar jasa pelayanan yang ditetapkan/retribusi kebersihan Menggunakan jasa cleaning service yang terdaftar Menggunakan fasilitas TPA yang ditetapkan Dilarang membakar sampah di tempat tanpa menggunakan instalasi pembakaran yang aman (tidak polutif) Membersihkan area dan tempat disekelilingnya Menjaga catatan tentang sampahnya

d. Kewajiban pengelola sampah swasta Menjalankan kewajiban umum Boleh beroperasi bila ada lisensi Memenuhi administrasi untuk memperoleh dan pencabutan lisensi Membayar penuh sesuai dengan ketetapan Mengoperasikan kendaraan dan container yang memadai Menggunakan TPA resmi Mendaftarkan pelanggan yang dilayani Menjaga catatan tentang sampah yang dikelola

e. Kewajiban pengelola daur ulang Menjalankan kewajiban umum Mendaur ulang dan mengolah hanya pada lokasi yang disetujui Tidak membakar dan memotong kabel PVC dan material lainnya Menyimpan material daur ulang

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-21

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Membuang residu di TPA resmi

f. Sanksi terhadap orang atau badan yang tidak memenuhi kewajiban dan melanggar dari larangan. 2. Materi pengaturan pengumpulan, penyapuan, pengangkutan,

pengolahan dan pembuangan sampah dengan mengakomodasi prinsip pengelolaan sampah terkini dan ketentuan perlindungan lingkungan a. Metode dan teknik, tingkat kualitas, sampah periodisasi, dari sumber pelayanan sampah dan pengumpulan b. Jenis,teknologi, pengangkutan c. Penjadwalan pengumpulan dan pengangkutan d. Pelayanan penyapuan jalan, jenis jalan dan frekuensi penyapuan e. Penetapan lokasi tempat penampungan sampah sementara dan persyaratan kesehatan lingkungannya f. Penetapan lokasi pengolahan dan jenis pengolahan g. Pemilihan dan penetapan lokasi tempat pembuangan h. Ketentuan pembuangan yang aman bagi lingkungan 3. Materi pengaturan tentang tarif pelayanan a. Jenis pelayanan yang diselenggarakan (termasuk pelayanan minimal) b. Kelompok wajib bayar atau objek wajib bayar c. Penetapan kelompok disubsidi dan mensubsidi dengan prinsip, yang kaya mensubsidi yang miskin, yang komersial, mensubsidi yang sosial. d. Mulai diupayakan retribusi sebagai alat pengendalian tingkat timbulan sampah dan pemilahan sampah. e. Ketentuan penetapan besaran (besaran yang memadai untuk mampu membiayai pelayanan minimal), yang sebaiknya juga merefleksikan jumlah sampah yang diserahkan f. Besaran tarif yang harus dibayar dan pengangkutan Sarana

pemukiman, pasar, tempat umum, daerah komersial bahan dan prasarana pengumpulan

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-22

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

g. Ketentuan

pembayaran/penagihan

(tahunan,

bulanan,

mingguan,

harian, setiap membuang) h. Sanksi keterlambatan atau penunggakan 4. Materi pengaturan pembentukan lembaga pengelola sampah kota a. b. c. d. e. f. g. 5. Bentuk, Kedudukan, tugas pokok dan fungsi lembaga Kepemilikan aset/permodalan Struktur organisasi Sistem manajemen perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian Kepengurusan pemberhentian) Uraian tugas Pertanggungjawaban pengelolaan lembaga (persyaratan pengangkatan dan

Materi pengaturan tata letak, perancangan, konstruksi dan operasional saarana persampahan a. b. Penetapan lokasi TPS, tempat pengolahan dan TPA dalam peraturan tata ruang kota Penyediaan ruang tempat penampungan sampah dan atau pengolahan bagi setiap pembangunan yang potensial menimbulkan sampah seperti pemukiman baru, apartemen, pasar, dan lainnya c. d. e. f. g. h. Memperhatikan kaidah teknik sarana dan prasarana kebersihan yang telah ditetapkan Perijinan pengolahan sampah Perijinan pembuangan sampah Perancangan, pembangunan dan pengoperasian TPA Konsultasi masyarakat tentang pembangunan TPS, pengolahan dan pembuangan sampah Kelengkapan sarana perlindungan lingkungan.

6.

Materi pengaturan kerjasama antar kota/daerah a. Kerjasama antar daerah dan kota dalam hal pengendalian aliran material potensi sampah.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-23

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

b. c. d. e. f. g. 7.

Kerjasama antar daerah dalam pengelolaan TPA Kerjasama antar daerah dalam pengelolaan kebersihan sungai Ketentuan penetapan kelembagaan pengelola fasilitas kerjasama Fungsi dan status lembaga Ketentuan pengambilan keputusan Ketentuan pengawasan kerjasama

Peraturan tentang kerjasama dengan swasta/peranserta swasta dan investasi di bidang pengelolaan sampah kota a. b. c. d. e. f. Jenis-jenis /lingkup kegiatan pengelolaan sampah yang dapat dikerjasamakan dengan swasta Jenis-jenis investasi dalam pengelolaan sampah Kemudahan yang diberikan oleh Pemerintah untuk menarik investor Persyaratan yang harus dipenuhi oleh swasta/investor dengan penekanan kepada pemenuhan kompetensi Bentuk kerjasama atau jenis investasi yang akan dilakukan Insentif dan disinsentif

5.2.3. Penerapan Peraturan Rancangan pengembangan jenis peraturan dan materi pengaturan tidak akan memberikan manfaat dalam perbaikan sistem pengelolaan persampahan, apabila tidak secara konsisten dilaksanakan. Oleh karena itu rancangan langkah-langkah penerapan peraturan adalah sebagai berikut: 1. Seluruh peraturan yang ada dan telah diterbitkan, disosialisasikan kepada masyarakat luas, termasuk kewajiban dalam melaksanakan pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah. 2. Dokumen peraturan yang telah diterbitkan mudah diperoleh oleh masyarakat dan harus tersedia di kantor pelayanan masyarakat terdekat yaitu di kantor Kelurahan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-24

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

3.

Setiap lembaga yang tugas dan tanggungjawabnya terkait dengan materi pengaturan dalam peraturan yang telah diterbitkan, bertanggungjawab dalam pelaksanaannya.

4.

Polisi Pamong Praja memberikan porsi yang sama dalam penegakan aturan pengelolaan sampah/kebersihan seperti halnya peraturan daerah lainnya yang terkait dengan masalah ketertiban umum.

5. 6.

Penerapan hukum dengan mengedepankan pendekatan persuasif, dan tindakan represif dilakukan sebagai tindakan akhir. Frekuensi sidang tindak pidana ringan terhadap pelanggaran peraturan ditingkatkan terutama di tempat-tempat umum.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal V-25

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Permasalahan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung seperti diuraikan pada bab sebelumnya bahwa, dalam setiap aspek menghadapi permasalahan yang bermuara pada satu pertanyaan, bagaimana menciptakan Kabupaten Bandung bersih, bebas sampah di setiap aktifitas kota. Jawabannya jelas memerlukan partisipasi, atau peran aktif setiap komponen masyarakat Kabupaten Bandung. Tidak saja Pemerintah, masyarakat umumnya, atau kelompok masyarakat khusus seperti masyarakat industri sangat menentukan pencapaian sasaran tersebut. Munculnya partisipasi aktif dari setiap komponen masyarakat merupakan target yang dituju.

6.1 Analsisis Kebutuhan Pengembangan Program Peningkatan Peran Serta masyarakat Sangat disadari bahwa dalam upaya peningkatan peran serta masyarakat perlu adanya upaya besar, menyentuh manusia sebagai faktor utama keberhasilan. Untuk itu perlu adanya suatu program menyeluruh yang dilaksanakan secara

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

intensif.

Kunci efektifitas program ini adalah tumbuhnya partisipasi aktif

masyarakat dalam pengelolaan sampah. Hal ini dimaksudkan agar masalah pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Agar partisipasi masyarakat terwujud secara nyata perlu adanya usaha yang membangkitkan motivasi, kemampuan, kesempatan, dan menggali serta mengembangkan potensi yang ada pada masyarakat, sehingga masyarakat bersedia berpartisipasi dalam pengelolaan sampah secara berkesinambungan dan konsisten. Secara mendasar sentuhan aspek manusia harus mencapai perubahan persepsi, sikap dan perilaku. Dengan demikian, upaya peningkatan partisipasi aktif masyarakat merupakan proses pendidikan, dimana masyarakat ditempatkan tidak hanya sebagai obyek melainkan sedapat mungkin sebagai pelaku proses.

Pola pendidikan yang efektif akan sangat tergantung dari tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku yang telah ada saat ini di masyarakat. Tingkat pengetahuan masyarakat Kab. Bandung akan pengelolaan sampah yang baik dan benar, terukur sudah cukup, terutama didapat dari terpaan media. Karakter masyarakat yang masih cukup guyub memungkinkan penyebaran informasi yang cepat. Namun demikian, pengetahuan yang cukup belum menandakan sikap dan perilaku yang baik. Masyarakat yang sudah tahu, belum tentu melakukannya. Kebanyakan masyarakat di Kab. Bandung, memiliki sikap: sampah bukan urusan saya. kalau ada yang mau memanfaatkan sampah saya, ya silakan. Tapi saya mah tidak ada waktu dll. Jadi secara sikap, masalah sampah memang belum menjadi perhatian serius masyarakat Kab.Bandung.

Persepsi masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, adalah urusan masingmasing. Mereka tidak mau saling mengingatkan jika ada tetangga atau masyarakat lain di sekitar mereka yang melakukan tindakan yang merusak
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-2

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

kebersihan lingkungannya. Ada persepsi bahwa mengingatkan pihak lain adalah urusan orang luar (misal jika ada proyek khusus itu, yaitu urusan pengelola sampah. Atau bisa juga dimaksudkan bahwa pihak pemerintahlah yang harus turun tangan mengingatkan).

Adapun persepsi masyarakat tentang hidup sehat, masih dianggap hal ini penting. Di Mekar jaya misalnya, mereka biasa membersihkan halaman dan lingkungan rumahnya sendiri dua hari sekali. Hal ini agak berbeda dengan masyarakat Sukasari, yang lebih kota. Karena ada pembantu, misalnya, ya pembantu itu yang harus membersihkan setiap hari. Secara fisik, bisa dilihat juga bahwa lingkungan di Mekar Jaya relatif bersih dan rapi. Sedangkan di lokasi Sukasari, pengkaji menemukan bahwa walaupun ada lokasi pembuangan sampah yang tidak terlalu jauh, tetapi terdapat beberapa titik tumpukkan sampah di tepi sungai/parit. Fenomena di masyarakat Kab.Bandungmemperlihatkan suatu kondisi di mana persepsi masyarakat terhadap masalah kebersihan ada pada tatanan pengetahuan belum masuk pada tatanan sikap. Ketika suatu program masuk, dan hanya tunggal membahas sampah, maka masyarakat tidak akan terlalu tertarik. Masyarakat hanya tertarik pada ilmu-ilmu yang bisa segera mereka manfaatkan dan nyata hasilnya. Karena itu, Dewasa ini memang terdapat kecenderungan di dunia community Development maupun Community Organizing, agar menggunakan pendekatan program yang holistik. Artinya, meskipun maksud kita adalah membangun bidang pertanian misalnya, tetapi harus siap juga untuk membahas politik atau ekonomi bersama masyarakat. Hal ini disebabkan arena memang masyarakat menghadapi masalah yang kompleks, multifaktor, saling terkait antar faktor/masalah. Masalah sampah, bukanlah hanya soal membuat lingkungan kita bersih, tetapi harus dijelaskan juga oleh program ini bahwa melalui entry point sampah, akan ada banyak masalah di masyarakat yang teratasi .

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-3

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Berdasarkan pada fenomena ini,

usaha peningkatan pelayanan kepada

masyarakat yang dilakukan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat, harus dikemas dengan lebih kreatif. Misalnya, meskipun ini hanya program yang titik beratnya kampanye pemilahan sampah, tetapi perancang program harus mempersiapkan suatu metodologi yang bisa membuat paham masyarakat bahwa gerakan ini merupakan bagian dari sebuah upaya untuk memperbaiki aspekaspek lain dari kehidupan masyarakat, seperti meningkatkan ekonomi masyarakat, mempengaruhi kebijakan, bahkan mungkin menyelamatkan bumi dari isu pemanasan global.

Pendampingan

masyarakat,

harus

bisa

membuka

cakrawala

berpikir

masyarakat, dan meningkatkan minat mereka untuk menjaga sustainabilitas program secara mandiri (setelah program/proyek selesai). Oleh karena itu, kecanggihan metode pembelajaran harus diterapkan. Pendekatan program yang konvensional, misalnya dengan penyuluhan/ceramah oleh petugas, tidak akan ada manfaatnya untuk menimbulkan minat masyarakat. Tetapi, jika yang memberi penyuluhan adalah para pelaku yang pernah nampang di TV sebagai pengusaha sukses, mungkin hal ini akan lebih membekas di hati masyarakat. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah di Kab. Bandung, yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang mampu berpatisipasi secara aktif dalam pengelolaan sampah di lingkungannya pada dasaranya bertujuan agar masyarakat turut serta aktif baik secara individu atau berkelompok dalam mewujudkan kebersihan lingkungan, tindakan nyata yang diharapkan adalah : Partisipasi aktif individual, berupa keikutsertaan setiap individu untuk membantu terciptanya mekanisme pengelolaan sampah yang kondusif. Sebagai individu di sumber, masyarakat dituntut untuk mampu mengelola sampah secara mandiri. Tindakan nyata yang dapat dilakukan adalah memilah sampah atas organik dan anorganik sedemikian hingga memudahkan dilakukannya perolehan kembali oleh pihak atau lembaga lain yang akan melakukan proses pendayagunaan sampah.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Partsipasi komunal, berupa kesertaan masyarakat secara komunal dalam upaya mengatasi permasalahan sampah di lingkungannya. Tindak nyata yang dapat dilakukan misalnya melakukan usaha pengomposan komunal, dan usaha pendayagunaan sampah lainnya yang sesuai dengan potensi yang ada di lingkungan setempat.

Diharapkan dengan program ini masyarakat dapat memahami dan melaksanakan tata cara pengelolaan sampah sesuai dengan yang ditetapkan di Kabupaten Bandung untuk lingkungannya. Atau masyarakat diberi keleluasaan untuk menentukan cara pengelolaan sampah yang sesuai dengan wilayahnya, tetapi tidak menyalahi aturan yang ditetapkan. Dan juga, tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kewajibannya membayar retribusi menjadi sasaran dari program ini.

Program terpadu dalam upaya peningkatan partsipasi aktif masyarakat, perlu dilakukan secara terus menerus, terarah dan terencana, berkesinambungan serta melibatkan berbagai unsur baik pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu perlu dikembangkan strategi dengan pendekatan edukatif-persuasif dengan penerapan prinsip bottom-up. Edukatif berkaitan dengan pendidikan atau pemaparan pengetahuan tentang sampah dan segala permasalahannya pada seluruh lapisan masyarakat. program-program pembangunan kota akan Namun demikian, kendala adanya perilaku masyarakat dewasa yang apatis terhadap menjadi penghambat dalam pelaksanaannya. Untuk itu perlu dicari kelompok-kelompok sasaran dengan kriteria masih memiliki idealisme dan atau belum terkotori/ terpengaruhi oleh pemikiran negatif. Persuasif berkaitan dengan upaya menghadirkan contoh nyata bagi masyarakat. masyarakat sehingga akan menggugah perilaku dan sikap

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-5

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Selanjutnya

penyebaran

informasi

merupakan

langkah penting yang perlu dilakukan dalam kerangka peningkatan partisipasi aktif masyarakat. Pendidikan masyarakat akan menjadi efektif bila pemaparan setempat. lainnya. menggunakan media masyarakat Para inisiator yang telah hadir dari

masyarakat harus diangkat untuk tampil menjadi contoh bagi masyarakat Dengan demikian, penyebaran informasi dengan menggunakan berbagai media masyarakat perlu dilakukan secara terprogram yang menjamin kontinuitas pemaparan.

Ketika persepsi, sikap dan perilaku menunjukkan arah pergeseran positif, maka sistem insentif bagi para partisipan harus telah siap. Pengembangan pola insentif bagi masyarakat dan transparansi manajemen lembaga pengelola kebersihan, terutama yang berkaitan dengan imbalan dan jasa yang telah dibayarkan masyarakat kepada lembaga pengelola harus segera digulirkan. Hal ini dimaksudkan sebagai pola dasar pengembangan partsipasi masyarakat sebagai penentu kebijakan. Dengan adanya transparansi, masyarakat diajak untuk berfikir, dan turut serta memberikan solusi dalam segala permasalahan yang dihadapi sistem. Wujud keberhasilan keterbukaan antara masyarakat dan manajemen pengelola adalah terciptanya saling kepercayaan, dan menjadikan masyarakat sebagai penentu kebijakan bagi pihak pengelola sampah kota.

6.2

Tahapan Pengembangan Program

Jika kita merencanakan untuk menggunakan pendekatan yang holistik, maka untuk kampanye pengelolaan sampah akan lebih pas jika kita menekankan kepada perilaku bersih. Karena tema ini jauh lebih sistemik daripada hanya membicarakan sampah atau daur ulang sampah. Dalam tema ini, akan termasuk
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-6

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

manajemen sampah, kebersihan lingkungan, kebersihan diri, pemanfaatan sampah, pengurangan sampah, dll. Oleh karena itu, program peningkatan peran serta aktif masyarakat di Kab. Bandung perlu dilakukan dalam dua arah yaitu membangun suatu kelompok contoh di wilayah tertentu dan mengembangkan kampanye tingkat kota sehingga masalah sampah dapat terisu kan dengan spektrum yang luas. Pelaksanaan Kampanye pengelolaan sampah di tingkat kota, harus didasarakan pada suatu kerangka strategi komunikasi massa. Pengembangan strategi komunikasi itu mencakup pemilihan media-media dan kombinasi media, pengembangan pesan-pesan, dan pemilihan pendekatan yang tepat serta menumbuhkan partisipasi khalayak, dalam upaya pencapaian tujuan program Pengembangan strategi komunikasi ini pada umumnya lakukan melalui tahapan sebagai berikut: Mempelajari dan mengkaji tujuan komunikasi yang telah ditetapkan Mengkaji perubahan tingkat PSP/K dan kepercayaan yang diinginkan Mengkaji kembali indikator keberhasilan yang telah ditetapkan Mengembangkan pesan-pesan pokok yang cocok dengan tingkat PSP/K khalayak strategis kita Memilih metode-metode komunikasi yang cocok untuk menjangkau khalayak strategis kita sesuai dengan prubahan yang diinginkan Memilih alternatif jenis-jenis media yang cocok dan kombinasinya Mengkaji jenis-jenis media yang teridentifikasi dilihat dari dana, fungsi media, saluran media dan karakteristik khalayak kita Menentukan jenis media dan kombinasinya

6.3

Kerangka Program Pengembangan Peran Serta Masyarakat (dalam kampanye pengelolaan sampah)

Berkaca dari realita terpaan media (berdasarkan survei KAP) kecenderungan masyarakat kota dan kabupaten Bandung adalah masyarakat yang telah memiliki pengetahuan yang tinggi tentang pengelolaan sampah yang seharusnya
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-7

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

dilakukan. Hanya saja, karena belum didukung oleh adanya motivasi/sikap, maka pengetahuan tersebut belum digunakan untuk mengatasi masalah kebersihan sehari-hari. Ketiadaan motivasi ini juga yang menyebabkan upaya untuk memperoleh keterampilan yang mendukung, kurang diminati. Oleh karena itu, kelihatannya ada kebutuhan akan suatu program yang integratif, memanfaatkan tingkat terpaan media yang cukup tinggi, untuk mensuply masyarakat dengan contoh-contoh baik dan nyata (terjadi di lingkungan yang sama dengan mereka) agar timbul motivasi untuk meningkatkan keterampilan dan menggunakan pengetahuan serta keterampilan mereka untuk tindakan nyata. Program ini harus menyentuh beberapa aspek kebutuhan masyarakat, misalnya: menyajikan keuntungan ekonomis yang masuk akal, teknik/metode yang tidak terlalu sulit atau sederhana untuk dilakukan, dampak yang cukup relevan terhadap kebersihan lingkungan. Program secara bertahap berkembang, mulai dari mendukung inisiatif-inisiatif lokal yang sudah ada, menyebarluaskan virus inisiatif ke wilayah yang lebih luas, dan pada gilirannya, didukung oleh kebijakan penguasa. Dua manfaat yang menjadi target program adalah bagi masyarakat dan bagi aparat pemerintah. Bagi masyarakat, bisa diharapkan dalam beberapa tahun tercipta lingkungan yang lebih sehat dan indah, sehingga bisa terjadi penurunan tingkat penyakit yang disebabkan sanitasi yang buruk. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat lebih menyebarluaskan semangat kewiraswastaan untuk mengurangi tingkat pengangguran. Bagi pemerintah, program ini bisa menjadi bahan share learning bagi daerah-daerah lain, tentang bagaimana sebuah pemerintahan membangun kebijakan yang berbasis masyarakat. Semangat kewiraswastaan yang meningkat dari masyarakat, berarti berkurangnya beban pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja. Inisiatif lokal yang didukung oleh pemerintah, bisa membantu terciptanya sistem pengelolaan sampah/kebersihan yang jauh lebih hemat dan efektif. Sehingga beban pemerintah untuk membuat/mencari TPA diharapkan bisa berkurang.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-8

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Secara garis besar, program kampanye ini akan terdiri dari tiga tahapan besar, yakni: 1. Best Practises Campaign 2. Share Learning 3. Advokasi kebijakan publik Pada tahap pertama, personil program akan mengadakan identifikasi inisiatifinisiatif lokal di kalangan masyarakat maupun kantor/instansi. Identifikasi bisa berdasarkan beberapa hal: Berdasarkan jenis sampahnya: best practises dalam daur ulang sampah kaleng, plastik, kompos, bokasi, dll Berdasarkan komunitasnya: best practises komunitas pasar yang berhasil mengelola sampahnya dengan baik, atau dari komunitas suatu instansi, terminal, lingkungan warga: RT, RW,dll. Hasil identifikasi best practises tersebut kemudian dipublikasikan melalui beberapa cara misalnya: Penerbitan buletin sampah yang terbit berkala Press tour ke lokasi-lokasi best practises tersebut Program membeli kolom di koran lokal untuk memberitakan/memblow up best practises tersebut Pembuatan modul bagi bahan pembelajaran pengelolaan sampah berdasarkan pengalaman masyarakat Lokakarya untuk mengangkat suara para praktisi best practises tersebut tentang alternatif gerakan menuju Kab. Bandung bersih, sehat, dan sejahtera 2013 (misalnya). Bisa saja beberapa gagasan diangkat disitu, seperti misalnya kebutuhan para praktisi akan adanya pasar sampah, dll. Proses ini harus didukung dengan dokumentasi yang baik. Terutama untuk mengabadikan konsep-konsep pengelolaan sampah, yang akan menjadi media pembelajaran di fase berikutnya (share learning).

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-9

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pada tahap kedua, fase share-learning, program akan memfasilitasi para praktisi tersebut untuk berbagi dengan menggunakan media pembelajaran yang telah dihasilkan sebelumnya (modul, buletin, dll). Sehingga, justru para praktisi tersebut yang akan menjadi garis depan program untuk menimbulkan motivasi masyarakat untuk bergerak. Program bisa menentukan beberapa lokasi percobaan (pilot project) bagi para praktisi tersebut untuk berbagi ilmu dengan masyarakat/komunitas lain. Tahapan ini pun sebaiknya tetap di back-up oleh media-media publikasi seperti buletin maupun press release. Sehingga masyarakat akan termotivasi, dan memunculkan best practises tahap kedua (generasi praktisi berikutnya). Pada tahap ketiga, setidaknya dengan adanya pengalaman-pengalaman tersebut, program mulai mengajak masyarakat dan pemerintah duduk bersama untuk menjadikan gerakan program ini menjadi gerakan bersama yang didukung oleh kebijakan. Adapun keluaran yang bisa diharapkan per tahapan adalah sebagai berikut: 1. Tahun pertama : akan teridentifikasi best-practises dalam pengelolaan sampah dan produksi media-media tentangn best practises tersebut. Media yang dimaksud bisa berupa: rangkaian roadshow itu sendiri, dan atau media-media program seperti buletin, artikel di koran, dll. 2. Tahun kedua : tersosialisasikannya best practises kepada komunitas lain 3. Tahun ketiga : tumbuh dan berkembangnya praktek-praktek pengelolaan sampah 4. Tahun keempat : terdokumentasikannya praktek-praktek baru tersebut (identifikasi best practises tahap berikut) 5. Tahun keempat : gerakan bersama komunitas untuk mengadvokasi kebijakan publik tentang kebersihan 6. Tahun kelima : keluarnya kebijakan publik yang berbasis partisipasi masyarakat, dan pengawalan implementasinya.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-10

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

7. Tahun keenam dan seterusnya : ter-lembaga-kannya gerakan ini menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah/kebersihan berbasis masyarakat.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VI-11

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tiga skenario peningkatan pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung telah dikembangkan (Lihat Bab 3). Skenario optimis diarahkan sesuai dengan target dan sasaran Nasional. Skenario moderat Nasional adalah dalam skenario periode pencapaian perencanaan. sasaran Adapun

skenario pesimis, adalah skenario dengan mempertimbangkan kemampuan Pemerintah lokal dalam membiayai pengelolaan sampah yang diukur dari pemahaman terhadap pola pembiayaan 2 tahun terakhir. Ketiga skenario dikembangkan dengan pendekatan bagi peran antara pelakupelaku pengelolaan sampah yaitu Pemerintah, Masyarakat, Swasta dan juga sektor informal. Pemerintah dengan Dinas Kebersihannya, merupakan pelaku utama pengelolaan sampah di Perkotaan, sedangkan masyarakat merupakan pelaku pengelolaan berbasis masyarakat yang menjadi strategi pelayanan untuk perdesaan. Swasta pada dasarnya untuk 20 tahun mendatang, masih menjadi suatu opsi lain yang belum prioritas. Adapun target obyek pengelolaan yang diberikan kepada swasta adalah dalam upaya pengolahan sampah sehingga beban penimbunan TPA dapat berkurang. Sektor informal, kehadirannya diharapkan akan tetap memberikan kontribusi pada penanganan sampah anorganik.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 7.1 berikut memperlihatkan perbandingan ketiga skenario.


Tabel 7.1 Perbandingan Ketiga Skenario Peningkatan Pelayanan Pengelolaan Sampah
Komponen Skenario-1 1) Timbulan Sampah Total 2) Beban Pelayanan Perkotaan 3) Beban Pelayanan Perdesaan 4) Tingkat Penimbunan 5) Tingkat Pengomposan 6) Tingkat Daur Ulang Anorganik 7) Tingkat Pengolahan Lain 8) Pelayanan Sistem Berbasis Masyarakat 9) Tingkat Kontribusi Sektor Informal 10) Tingkat Sampah Terkelola 11) Tingkat Sampah Tak Terkelola Skenario-2 1) Timbulan Sampah Total 2) Beban Pelayanan Perkotaan 3) Beban Pelayanan Perdesaan 4) Tingkat Penimbunan 5) Tingkat Pengomposan 6) Tingkat Daur Ulang Anorganik 7) Tingkat Pengolahan Lain 8) Tingkat Pelayanan Sistem Berbasis Masyarakat 10) Tingkat Kontribusi Sektor Informal 11) Tingkat Sampah Terkelola 12) Tingkat Sampah Tak Terkelola Skenario-3 1) Timbulan Sampah Total 2) Beban Pelayanan Perkotaan 3) Beban Pelayanan Perdesaan 4) Tingkat Penimbunan 5) Tingkat Pengomposan 6) Tingkat Daur Ulang Anorganik 7) Tingkat Pengolahan Lain 8) Tingkat Pelayanan Sistem Berbasis Masyarakat 9) Tingkat Iinformal 10) Tingkat Sampah Terkelola 11) Tingkat Sampah Tak Terkelola m3/hr m3/hr m3/hr % % % % % % % % 5.176 2.973 2.203 25,12% 0,1% 11,3% 0,0% 5% 8% 25% 75% 6.019 3.457 2.562 25,00% 4,4% 13,1% 0,8% 10% 10% 32% 68% 9.134 5.246 3.888 24,74% 8,0% 15,2% 2,9% 16% 15% 40% 60% m3/hr m3/hr m3/hr % % % % % % % % 5.176 2.973 2.203 13,2% 1,3% 7,8% 1,7% 11,8% 16,9% 26,0% 74,0% 6.019 3.457 2.562 11,9% 4,0% 9,4% 3,6% 15,6% 18,1% 31,0% 69,0% 9.134 5.246 3.888 4,6% 22,9% 21,4% 17,2% 42,1% 33,3% 70,0% 30,0% m3/hr m3/hr m3/hr % % % % % % % % Satuan Jangka Pendek 2009 2010 5.176 2.973 2.203 16,0% 11,9% 19,4% 12,6% 20,1% 39,9% 60,0% 40,0% Jangka Menengah 2011 - 2015 6.019 3.457 2.562 13,1% 15,6% 22,4% 17,9% 29,3% 42,0% 70,0% 30,0% Jangka Panjang 2016 - 2028 7.790 3.902 3.888 0,4% 25,6% 27,2% 30,8% 38,1 47,9% 85,0% 15,0%

Sumber : Tabel 3.3 - Tabel 3.5, Sub Bab 3.6

Dari ketiga skenario dapat dilihat bahwa sebesar apapun proporsi beban pengelolaan yang ditetapkan bagi Dinas, tetap memerlukan adanya peran dari

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-2

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

kelompok pelaku pengelolaan lainnya yaitu masyarakat, swasta dan sektor informal, untuk mencapai target tingkat pelayanan yang diinginkan. Penentuan skenario mana yang akan dipilih, sangat ditentukan oleh kebijakan Pemerintah. Ketiga skenario dimunculkan sebagai opsi bagi penentu kebijakan dalam menentukan arah. Dalam Bab ini akan diuraikan aspek terkait pembiayaan berbasiskan pada ketiga skenario di atas. Pemaparan dimulai dengan menghitung besarnya pembiayaan dari ketiga skenario, sebagai investasi yang harus ditanamkan oleh Pemerintah dalam pembiayaan pengelolaan sampah. Selanjutnya sebagai dasar perhitungan dalam penentuan biaya rutin yang harus dikeluarkan setiap tahun anggaran, dihitung biaya satuan pengelolaan per m3 sampah. Biaya satuan dihitung dengan dua pendekatan yaitu pendekatan kebutuhan optimum berdasarkan kebutuhan minimal pengelolaan dan pendekatan kemampuan pemerintah berdasarkan APBD.

7.1 Kebutuhan Investasi Kebutuhan investasi dalam pengelolaan sampah merupakan informasi yang sangat penting bagi para pengambil keputusan dalam rangka menyusun APBD setiap tahunnya. Perhitungan proyeksi investasi didasarkan pada kebutuhan sarana dan prasarana untuk masing-masing skenario, diperlihatkan dalam Tabel 7.2, Tabel 7.3, dan Tabel 7.4. Adapun sarana yang diperhitungkan adalah seluruh item yang menjadi tanggung jawab Pemerintah dalam pengadaannya, yaitu : 1. 2. 3. 4. Motor Sampah Kontainer penampung sampah di TPS dengan landasan, kapasitas 6m3 Arm Roll 6 m3 untuk container 6m3 Pick Up kapasitas 4 m3, untuk sistem pengumpulan Door to Door dan pemindahan sampah anorganik dari TPS Kelurahan ke TPS Kecamatan
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-3

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

5. 6. 7. 8.

Bangunan TPS Kelurahan beserta perlengkapan pengomposan kapasitas 5000 penduduk. Dump Truck 10 m3, untuk menangani sampah yang tidak terolah dan pemindahan residu dari TPS Kelurahan keTPS Kecamatan dan ke TPA. Bangunan TPS Kecamatan beserta sarana pengolahan plastik Bangunan Pengumpul B3 RT di TPS Kecamatan dan di TPA.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 7.2 Proyeksi Kebutuhan Investasi Skenario-1


Jangka Pendek (Tahun 2010) No Komponen Satuan Kuantitas 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 2 Implementasi 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM Jumlah Unit Unit Unit 12 7 14 240 172,5 200 3,236 1,357 3,146 19,239 3 1 6 240 172,5 200 1,083 259 1,804 7,913 4 1 4 240 172,5 200 3,079 553 2,566 11,265 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 227 38 0 0 0 0 0 25 120 17 210 20 280 150 6,376 5,124 62 11 0 0 0 0 2 30 120 17 210 20 280 150 2,331 1,985 451 20 4 0 0 0 0 4 30 120 17 210 20 280 150 1,604 1,539 1,924 Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas Jangka Menengah (Tahun 2015) Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas Jangka Panjang (Tahun 2028) Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan)

Sumber : Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario 1, Lampiran A-21

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-5

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 7.3 Proyeksi Kebutuhan Investasi Skenario-2


Jangka Pendek (Tahun 2010) No Komponen Satuan Kuantitas 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 2 Implementasi 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM Jumlah Unit Unit Unit 1 1 2 240 172,5 200 270 194 449 2,078 2 1 2 722 259 601 3.241 1.158 2.686 15.052 10 3 5 290 210 200 7,697 1,660 3,207 31,903 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 18 3 1 1 0 0 0 25 120 17 210 20 280 150 506 404 19 236 23 4 1 1 0 0 0 865 722 26 316 3.544 3.223 71 1.129 114 19 0 0 0 0 6 25 120 17 210 20 280 150 9,140 7,312 2,886 Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas Jangka Menengah (Tahun 2015) Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas Jangka Panjang (Tahun 2028) Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan)

Sumber : Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario 2, Lampiran A-25

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-6

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 7.4 Proyeksi Kebutuhan Investasi Skenario-3


Jangka Pendek (Tahun 2010) No Komponen Satuan Kuantitas 1 Pola Konvensional Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Dump Truck 10 m3 2 Implementasi 3R TPST Skala Kelurahan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM Peralatan Pendampingan TOTAL BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit Unit Unit 0 0 5 0 0 240 172,5 200 97 103 1,124 2,146 2 1 2 0 0 290 210 200 97 103 722 259 601 1,883 0 1 4 0 0 290 210 200 97 103 552 2,566 4,047 Unit Unit Unit Unit Unit 18 0 2 2 0 20 280 17 210 150 404 56 562 0 0 0 0 1 20 280 17 210 150 301 2 0 2 0 1 20 280 17 210 150 128 160 641 Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas Jangka Menengah (Tahun 2015) Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas Jangka Panjang (Tahun 2028) Harga Satuan (Rp- Jutaan) Jumlah (Rp- Jutaan)

Sumber : Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario 2, Lampiran A-29

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-7

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Dari proyeksi perhitungan investasi tersebut terlihat bahwa kebutuhan investasi untuk pola pengelolaan konvensional (wadah kumpul angkut buang) tahun 2009 dan tahun 2010 pada skenario 1 menunjukkan kebutuhan investasi yang cukup besar dibanding dengan tahun-tahun berikutnya. Begitu pula biaya investasi untuk pengelolaan sampah pola 3R. Hal ini disebabkan karena skenario-1 merupakan skenario optimasi pencapaian target Nasional. Pada tahun 2010, tingkat pelayanan harus mencapai 60% total penduduk kota. Saat ini, tahun 2007, Tingkat Pelayanan Kabupaten Bandung baru mencapai 20,8%. Selanjutnya pada tahun 2015, Tingkat Pelayanan harus mencapai 70%. Hal ini menuntut ketersediaan sarana yang cukup tinggi pada awal tahun perencanaan dengan peningkatan yang cukup merata dalam setiap tahun perencanaan. Pada skenario 2 lonjakan investasi baik untuk pola pengelolaan konvensional maupun untuk pola 3R terjadi hanya pada tahun pertama implementasi (2009). Hal ini disebabkan karena target pencapaian tingkat pelayanan dalam skenario ini dikembangkan merata hingga mencapai 60% pada lima tahun terakhir periode perencanaan. Dengan pencapai tingkat pelayanan 26% pada tahun 2010, kebutuhan peningkatan sarana prasarana tidak terlampau tinggi di tahun-tahun selanjutnya. Sementara itu pada skenario 3 investasi baik untuk pola pengelolaan sampah secara konvensional maupun dengan pola 3R jauh lebih rendah dibanding dua scenario sebelumnya. Lonjakan investasi terjadi hanya pada tahun kedua (2010) sedangkan tahun-tahun berikutnya relatif mengalami peningkatan yang proporsional. Kondisi ini dipastikan terjadi mengingat dari sisi pencapaian Tingkat Pelayananan, skenario-3 menetapkan angka yang paling rendah, yaitu 40% di tahun akhir perencanaan, 2028.

7.2 Analisis Biaya Satuan Analisis biaya satuan ini dimaksudkan untuk mengetahui biaya operasional dan pemeliharaan yang dibutuhkan per satuan sampah yang dikelola (dalam hal ini per m3). Hal ini diperlukan untuk mengestimasi kebutuhan biaya operasional dan pemeliharaan (O&M) seiring dengan peningkatan kapasitas pengelolaan. Oleh karena itu khusus untuk perhitungan biaya satuan pengelolaan sampah secara konvensional maka biaya yang dihitung hanya biaya yang langsung berhubungan dengan biaya
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-8

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

pengelolaan sampah Kabupaten Bandung. Analisis biaya satuan dilakukan untuk pola pengelolaan sampah secara konvensional (wadah kumpul angkut buang) dan pola 3R. Untuk analisis biaya pengelolaan sampah secara konvensional menggunakan 2 pendekatan yaitu : (a) Pendekatan data historical kemampuan Pemerintah dalam 2 tahun terakhir. Dalam hal ini digunakan data APBD 2007 untuk bidang Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung sebagai dasar, (b) Pendekatan Nilai Optimum. Yaitu perhitungan didasarkan atas kebutuhan ideal dalam pelayanan oleh Dinas Kebersihan. Adapun analisis biaya satuan pola pengelolaan sampah 3R dilakukan berdasarkan rancangan 3R yang diusulkan. Untuk perhitungan biaya satuan Pengelolaan sampah pola konvensional yang

didasarkan pada APBD 2007, maka terlebih dahulu dipisahkan biaya-biaya yang langsung berhubungan dengan kegiatan pengangkutan dan pembuangan sampah. Berdasarkan hasil perhitungan sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 7.5 bahwa total biaya pengangkutan dan pembuangan sampah Kabupaten Bandung dalam satu tahun berdasarkan APBD 2007 adalah sebesar Rp 7.878.439.150,- . Kemudian sampah yang terkelola pada tahun yang sama adalah sebanyak 305,760 m3 selama tahun 2007 (asumsi : sampah terlayani tahun 2007 adalah 980 m3). Berdasarkan kedua data tersebut maka biaya satuan pengumpulan dan pembuangan sampah di TPA adalah sebesar Rp 25,767 per m3. Pendekatan kedua yaitu perhitungan biaya satuan pengelolaan sampah pola konvensional berdasarkan kebutuhan ideal dibedakan untuk biaya satuan pengangkutan dan biaya satuan untuk pengelolaan di TPA. Untuk pengangkutan diasumsikan dilakukan dengan menggunakan arm roll truck berkapasitas 6 m3 dengan jumlah ritasi 2 rit per hari. Kemudian untuk biaya pengelolaan sampah di TPA diasumsikan tekonologi yang digunakan adalah Controlled Landfill. Biaya satuan pengangkutan berdasarkan kebutuhan ideal adalah Rp 39.128,- per m3, dan untuk

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-9

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

pengelolaan di TPA

Rp 20.085,- per m3. Biaya tersebut sudah termasuk biaya

manajemen dan depresiasi. (Rincian perhitungan, Lihat Tabel 7.5)


Tabel 7.5 Biaya Satuan Pengelolaan Sampah di TPA
Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2023 Biaya O & P 5,003,455,950 5,303,663,307 6,805,192,950 7,213,504,527 7,646,314,799 8,105,093,687 8,591,399,308 9,106,883,266 9,653,296,262 10,232,494,038 10,846,443,680 Sampah Masuk Volume (m3) 249,120 250,200 255,240 259,920 264,600 271,440 278,280 285,120 293,400 302,760 348,120 393,120 Berat (ton) 99,648 100,080 102,096 103,968 105,840 108,576 111,312 114,048 117,360 121,104 139,248 157,248 Biaya Satuan O & P (Rp/m3) 20,085 21,198 26,662 27,753 28,898 29,860 30,873 31,941 32,901 33,797 31,157 29,246 (Rp/ton) 50,211 52,994 66,655 69,382 72,244 74,649 77,183 79,851 82,254 84,493 77,893 73,115

2028 11,497,230,301 Sumber : Analisis Konsultan, 2008

Kemudian untuk menghitung biaya satuan pola pengelolaan sampah dengan 3R dilakukan dengan pendekatan modul pengolahan dalam skala Kelurahan. Kebutuhan biaya O&M pengelolaan sampah dengan pola 3R untuk satu modul skala Kelurahan dalam satu tahun adalah sebesar Rp 114.152.031,-. Sampah yang terkelola dengan pola tersebut dalam skala Kelurahan adalah sebanyak 4.046,4 m3 per tahun. Dengan demikian maka biaya satuan pengelolaan sampah dengan pola 3R tersebut adalah sebesar Rp 28.211,- per m3 dimana biaya tersebut sudah termasuk depresiasi, artinya setelah habis umur teknisnya, secara akutansi pengelola memiliki dana untuk melakukan reinvestasi. Selengkapnya hasil perhitungan biaya satuan baik untuk pola pengelolaan sampah secara konvensional maupun dengan pola 3R disajikan dalam Tabel 7.6 dan Tabel 7.7 berikut.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-10

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 7.6 Analisis Biaya Satuan Pengelolaan Sampah Pola Konvensional


Analisa Biaya Satuan Pengangkutan Sampah (Berdasarkan APBD 2007) Sampah Terlayani (M3 Per Tahun) : Biaya O&M Per Tahun (Berdasarkan Realisasi APBD 2007) : A. Kegiatan Pengangkutan dan Pengelolaan di TPA 1 Upah langsung Tenaga kerja kontrak Pekerja harian lepas 2 3 BBM/Gas/Pelumas Perawatan kendaraan Belanja jasa service Belanja penggantian suku cadang Belanja BBM/Gas dan Pelumas Total Biaya Pengangkutan dan TPA Biaya Satuan Pengangkutan dan TPA B Biaya Tak Langsung/Manajemen/Pendukung Operasional 1 2 3 4 5 Belanja Pegawai Prog. Pelayanan Adm. Perkantoran Prog. Peningkatan Sarana & Prasarana Aparatur Prog. Peningkatan Disiplin Aparatur Prog. Pengemb. Kinerja Pengelolaan Persampahan Rp 5.122.283.479 Rp 1.787.696.439 Rp 1.112.271.500 Rp Rp 301.117.000 84.000.000 Rp Rp Rp 5.122.283.479 16.753 42.519,37 Per tahun Per M3 Per tahun* Per M3*** 173 orang 136 orang x x Rp Rp 9.000.000 9.000.000 Rp 2.781.000.000 Rp 1.557.000.000 Rp 1.224.000.000 Rp 3.997.202.600 Rp 1.100.236.550 Rp Rp Rp 46.000.000 817.410.100 236.826.450 Rp Rp 7.878.439.150 25.767 Per tahun Per M3 ** 305.760 *

Rp 1.837.198.540

Total Biaya Tidak langsung Biaya Satuan dari Biaya Tak Langsung/Manajemen/Pendukung Operasional TOTAL BIAYA (A + B) BIAYA SATUAN DARI TOTAL BIAYA (Per M3)

Rp 13.000.722.629

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-11

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Analisa Biaya Satuan Pengelolaan Persampahan (Berdasarkan Kebutuhan Ideal)

BIAYA PENGANGKUTAN 1 UNIT ARM ROLL PER TAHUN

A.

BIAYA OPERASIONAL 1. Gaji (Sopir + kernet) 2. Tunjangan (beras, DPLK, Kesehatan, THR) 3. Insentif 4. Bahan bakar minyak 5. Oli mesin 6. Oli hidrolik 7. Oli gardan 8. Ban Jumlah Biaya Operasional BIAYA PERB. & PEMELIHARAAN 1. Sparepart/bahan 2. Perbaikan/jasa service Biaya Perb. & Pemel. DEPRESIASI BIAYA MANAJEMEN

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

18,000,000 3,300,000 80,496,000 2,400,000 600,000 400,000 12,000,000 117,196,000

B.

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

5,859,800 5,859,800 11,719,600 25,875,000 25,783,120 180,573,720 2,995 39,128

C. D.

TOTAL BIAYA PENGANGKUTAN (PER TRUCK PER TAHUN) SAMPAH YANG TERANGKUT (M3 PER TAHUN) BIAYA SATUAN PENGANGKUTAN (PER M3)

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-12

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel 7.7 Analisis Biaya Satuan Pengelolaan Sampah Pola 3R (Skala Kelurahan)
Analisa Biaya Satuan Pengelolaan Persampahan Dengan Pola 3R Skala Kelurahan Biaya O&M Pengelolaan Sampah Pola 3R Skala Kelurahan/Tahun : Sampah Terolah A Biaya Langsung 1 Upah Langsung - Petugas gerobak - Operator - Petugas pemilah 2 Bahan langsung - Bensin motor gerobak - Solar mesin cacah - Karung 25 kg - Kantong plastik 5 kg - Peralatan pendukung - Biaya pembuangan residu TOTAL BIAYA LANGSUNG B Biaya Tidak langsung 1 2 3 4 5 Gaji Manajer Gaji Petugas Administrasi Listrik Pemeliharaan Depresiasi gedung dan mesin* 1 orang 1 orang 12 x x x Rp Rp Rp 1.000.000 500.000 100.000 Rp Rp Rp Rp Rp 1.000.000 500.000 1.200.000 250.000 24.166.667 Rp Rp Rp 27.116.667 113.022.233 27.932 ** 809,3 m3 x Rp 16.753 100 liter 100 liter 120 buah 120 buah x x x x Rp Rp Rp Rp 54.000 51.600 1.800 600 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 5.400.000 5.160.000 216.000 72.000 7.500.000 13.557.567 31.905.567 Rp 85.905.567 4 orang 1 orang 1 orang x x x Rp Rp Rp 9.000.000 9.000.000 9.000.000 Rp Rp Rp Rp 36.000.000 9.000.000 9.000.000 54.000.000 4046,4 m3/Tahun 10 m3/hari

TOTAL BIAYA TIDAK LANGSUNG HARGA POKOK PRODUKSI HARGA POKOK PRODUKSI PER M3 SAMPAH

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-13

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

7.3 Proyeksi Kebutuhan Biaya O&M Perhitungan biaya O&M pengelolaan sampah baik secara konvensional maupun dengan pola 3R dilakukan dengan menggunakan biaya satuan yang telah dihitung sebelumnya. Berdasarkan proyeksi jumlah sampah yang dikelola baik dengan pola konvensional maupun dengan pola 3R untuk masing-masing skenario maka dapat diestimasi kebutuhan biaya O&M per tahun. Khusus biaya O&M untuk pola pengelolaan sampah dengan pola konvensional diasumsikan biaya yang tidak langsung berhubungan dengan kegiatan pengangkutan dan pembuangan di TPA dianggap tetap. Peningkatan yang terjadi hanya disebabkan karena faktor inflasi yang diasumsikan 6% per tahun. Perhitungan biaya Operasi dan Perawatan (O&M), untuk ketiga skenario,

diperlihatkan pada Tabel 7.8 sampai Tabel 7.10.


Tabel 7.8 Biaya Operasi dan Perawatan (O&M) Skenario 1
No 1 Komponen Pola Konvensional
BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Persen Peningkatan Anggaran BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Persen peningkatan Anggaran Rp Rp 556,461 46,602 21,198 Rp Rp Rp 25,932,176,465 Rp 11,795,681,867 Rp 37,727,858,332 293% 110,760 Rp 37,379 88% Rp 28,071,835,308 116% Rp 41,867,925,108 255% Rp Rp 4,140,066,776 744,180 62,364 30,873 Rp Rp Rp46,410,051,421 Rp22,975,240,979 Rp69,385,292,401 13% 168,480 50,021 14% Rp48,162,993,213 13% Rp77,812,856,785 13% Rp Rp 8,427,564,385 1,022,665 133,018 29,246 Rp 136,032,700,882 Rp 29,908,957,800 Rp 165,941,658,683 5% 312,000 106,692 12% Rp 142,434,593,691 8% Rp 199,229,418,387 6% Rp 33,287,759,705 Rp 556,461 30,689 Rp Rp 17,076,997,764 Rp 6,854,770,767 Rp 23,931,768,531 121% 744,180 41,068 Rp Rp30,562,199,259 Rp 9,173,229,569 Rp39,735,428,828 12% 1,022,665 87,596 Rp 89,580,993,401 Rp 19,565,840,585 Rp 109,146,833,987 7%

Jangka Pendek (Tahun 2010)

Tahun Perencanaan Jangka Menengah (Tahun 2015)

Jangka Panjang (Tahun 2028)

Pola 3R (Skala Kelurahan)


- Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Persen peningkatan Anggaran TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Persen peningkatan Anggaran - Berdasarkan kebutuhan ideal Persen Peningkatan Anggaran

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-14

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 7.9 Biaya Operasi dan Perawatan (O&M) Skenario 2


No 1 Komponen Pola Konvensional
BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Persen peningkatan Anggaran BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Persen peningkatan Anggaran Rp Rp 122,387 46,602 21,198 Rp Rp Rp 5,703,476,349 Rp 2,594,321,099 Rp 8,297,797,449 7% 11,520 Rp Rp 37,379 430,602,828 41% Rp 11,041,257,834 7% Rp 8,728,400,277 8% Rp 128,753 62,364 30,873 Rp Rp Rp Rp Rp 8,029,580,894 Rp 3,975,034,510 Rp12,004,615,403 7% 40,320 50,021 24% Rp16,477,765,828 9% Rp14,021,468,419 9% Rp Rp 2,016,853,015 75,105 133,018 9,990,376,075 29,246 2,196,543,438 -7% 345,600 106,692 20% Rp 63,017,352,692 12% Rp 49,059,514,878 12% Rp 36,872,595,365 Rp 122,387 30,689 Rp Rp 3,755,884,239 Rp 6,854,770,767 Rp 10,610,655,006 6% 128,753 41,068 Rp Rp Rp 5,287,683,244 Rp 9,173,229,569 Rp14,460,912,813 7% 75,105 87,596 6,578,916,742

Jangka Pendek (Tahun 2010)

Tahun Perencanaan Jangka Menengah (Tahun 2015)

Jangka Panjang (Tahun 2028)

Rp 19,565,840,585 Rp 26,144,757,327 3%

Rp 12,186,919,513

Pola 3R (Skala Kelurahan)


- Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Persen peningkatan Anggaran TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Persen peningkatan Anggaran - Berdasarkan kebutuhan ideal Persen peningkatan Anggaran

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-15

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 7.10 Biaya Operasi dan Perawatan (O&M) Skenario 3


No 1 Komponen Pola Konvensional
BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Persen peningkatan Anggaran BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Persen peningkatan Anggaran Rp Rp Rp 232,972 46,602 21,198 Rp Rp Rp 269,585 62,364 30,873 Rp Rp Rp Rp 340,694 133,018 29,246 9,963,970,618 4% 72,000 Rp Rp 106,692 7,681,790,701 10% Rp 57,090,944,187 7% Rp 62,964,152,007 5% Rp 232,972 30,689 Rp Rp 7,149,592,669 Rp 6,854,770,767 Rp 14,004,363,437 10% 269,585 41,068 Rp Rp11,071,377,206 Rp 9,173,229,569 Rp20,244,606,775 14% 340,694 87,596 Rp 29,843,312,901 Rp 19,565,840,585 Rp 49,409,153,486 6%

Jangka Pendek (Tahun 2010)

Tahun Perencanaan Jangka Menengah (Tahun 2015)

Jangka Panjang (Tahun 2028)

Rp 10,856,972,714 Rp 4,938,474,653 Rp 15,795,447,367 14% 17,280 Rp Rp 37,379 645,904,242 27% Rp 14,650,267,679 11% Rp 16,441,351,609 15%

Rp16,812,376,004 Rp 8,322,946,825 Rp25,135,322,828 20% 34,560 Rp 50,021 16% Rp21,973,337,931 14% Rp26,864,053,984 20% Rp 1,728,731,156

Rp 45,318,390,688

Rp 55,282,361,306

Pola 3R (Skala Kelurahan)


- Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Persen peningkatan Anggaran TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Persen peningkatan Anggaran - Berdasarkan kebutuhan ideal Persen peningkatan Anggaran

Perbandingan biaya O&M hasil perhitungan terhadap APBD Tahun 2007 menunjukkan (Lihat Lampiran Tabel Biaya O&M, A-35 sampai A-43) terlihat bahwa perkiraan biaya O&M pengelolaan sampah secara konvensional untuk skenario 1,2 dan 3 umumnya mengalami penurunan bila dibanding dengan anggaran 2007 dimana anggaran Dinas Kebersihan diluar Air Limbah adalah sebesar Rp 13.000.722.629,-. Ini disebabkan karena beban pengelolaan sampah oleh Dinas Kebersihan kini dikurangi beban dari wilayah Bandung Barat, sehingga beban pengelolaan Kab. Bandung inti sebesar 567 m3/hari. Kebutuhan biaya O&M pada setiap skenario, akan mengalami peningkatan sesuai

dengan proporsi peningkatan kuantitas sampah yang dikelola. Skenario-1, dengan konsep pencapaian target pelayanan 60% di Tahun 2010, terlihat mengalami lonjakan biaya OM yang sangat tinggi dari tahun 2009 ke tahun 2010, hingga lebih dari 200%
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-16

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

untuk biaya satuan ideal. Demikian halnya dengan biaya satuan berdasarkan kemampuan APBD pun mengalami lonjakan hingga lebih dari 100%. Namun di lihat dari kenaikan biaya OM tahunan, pada skenario ini mencapai angka paling rendah di bandingkan dengan kedua skenario lainnya. Mengingat ketiga skenario selalu menunjukkan kebutuhan investasi tinggi dan biaya OM yang terus meningkat, maka dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, dalam jangka pendek yaitu hingga tahun 2010, selayaknya Pemerintah memilih untuk menambah investasi dan menetapkan biaya satuan sesuai dengan biaya ideal.

7.4 Alternatif Sumber Pembiayaan Sebagai sebuah sektor yang termasuk dalam pelayanan publik maka sumber pembiayaan pengelolaan sampah, baik untuk investasi maupun untuk biaya operasional dan perawatan, seharusnya adalah dari APBD Kabupaten Bandung. Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sampah Bab VII Pasal 24. Namun demikian tidak menutup kemungkinan Pemerintah Kabupaten bandung dapat bekerja sama dengan pihak lain (swasta) dalam pengelolaan sampah. Hal ini juga merujuk pada Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sampah Bab VIII terutama Pasal 27. Berdasarkan uraian tersebut maka sumber biaya khususnya investasi bisa saja bekerja sama dengan Swasta yang dianggap memenuhi syarat untuk dilibatkan dalam sebuah kemitraan. Tabel di bawah ini memperlihatkan alternatif sumber biaya baik untuk investasi maupun biaya O&M untuk pola pengelolaan konvensional maupun 3R :

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-17

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Tabel 7.11 Alternatif Sumber Biaya Pengelolaan Sampah


Komponen Biaya Pola konvensional : - Investasi Alternatif Sumber Biaya APBD APBD Propinsi (program bantuan insidentil) APBN (program bantuan insidentil) Swasta (melalui bentuk kerja sama) APBD APBD APBD Propinsi (program bantuan insidentil) APBN (program bantuan insidentil) Swasta (melalui bentuk kerja sama) APBD (dalam bentuk kompensasi dari penghematan biaya pengangkutan dan pengelolaan di TPA) Masyarakat (swakelola dan swadana)

- Biaya O&M Pola 3R - Investasi

- Biaya O&M

7.5 Struktur Tarif dan Mekanisme Penarikan Retribusi Untuk menunjang keberhasilan program persampahan ini sebagian besar akan ditentukan oleh manajemen pengelolaannya karena investasi ini menjadi tidak berhasil apabila pengelolaan dilapangannya tidak mendukung. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan program persampahan ini diantaranya adalah : 1. Peraturan, yaitu peraturan mengenai tarif persampahan dalam bentuk Perda. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Kabupaten Bandung telah memiliki peraturan mengenai retribusi sampah tetapi sampai saat ini nampaknya peraturan tersebut belum jalan sesuai yang diharapkan. Berdasarkan Keputusan Bupati Bandung No. 660.2/Kep. 134 A-DPUK/2002, tarif retribusi sampah yang diberlakukan kepada lingkungan rumah tinggal dibagi kedalam 4 (empat) kelas tarif per bulannya, yaitu : Kelas Utama Rp. 5.000,Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Rp. 3.500,Rp. 2.500,Rp 1.500,-

2. Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung sampai saat ini masih belum memiliki data base klasifikasi jumlah rumah tinggal berdasarkan (4 kelas) seperti yang dimaksudkan dalam Keputusan Bupati tersebut. Untuk itu Dinas Kebersihan
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-18

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

diharapkan segera melakukan pendataan klasifikasi rumah tinggal berdasarkan 4 kelas di atas dengan melakukan survey, yang dikemas dalamkerangka studi Potensi Retribusi. 3. Sampai saat ini cara penangihan retribusi persampahan di Kabupaten Bandung masih belum memiliki standar operasional prosedur yang baku, untuk itu sebaiknya prosedur itu harus diperbaiki agar pencapaian efisiensi penagihan retribusi dapat direalisasikan. Di dalam Keputusan Bupati 660.2/Kep. 134 A-DPUK/2002, ditetapkan bahwa : Biaya pengelolaan sampah yang berasal dari bukan rumah tinggal, retribusi penagihan dilaksanakan melalui langsung oleh petugas penagih yang ditunjuk oleh Dinas Kebersihan Kabupaten Bandung. Pemungutan biaya pengelolaan persampahan yang berasal dari retribusi rumah tinggal dilaksanakan melalui loket-loket tempat pembayaran rekening listrik atau KUD yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bandung bekerjasama dengan PLN. Berdasarkan pengamatan di lapangan, Keputusan Bupati tersebut tidak dilaksanakan, akan tetapi mekanisme yang dilakukan yaitu penagihan retribusi dilakukan oleh petugas Dinas Kebersihan melalui RT/RW yang kemudian diserahkan ke Kas Daerah. Dalam prosedur atau mekanisme penarikan retribusi rumah tinggal, Bandung No.

direkomendasikan agar dipergunakan pola-pola yang menghindari ada kesan bahwa masyarakat membayar dua kali yaitu melalui iuran RT/RW dan melalui KUD. Walaupun pada dasarnya biaya pengelolaan sampah memang dibedakan atas dua tahap yaitu pengelolaan di lingkungan RT/RW dan dari TPS ke TPA, namun persepsi masyarakat bahwa hal ini membayar dua kali nampaknya merupakan salah satu fenomena yang harus dirubah. Oleh karena itu, direkomendasikan mekanisme pembayaran untuk rumah tinggal adalah sebagai berikut : Setiap kepala keluarga yang mendelegasikan pengelolaan sampah kepada petugas swakelola RT/RW atau petugas swasta, dikenakan wajib retribusi.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-19

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Besarnya retribusi yang harus dibayarkan meliputi : biaya pengumpulan dari rumah ke TPS dan sekaligus biaya dari TPS ke TPA. Biaya dari rumah ke TPS ditetapkan secara musyawarah, sedangkan biaya dari TPS ke TPA mengikuti Perda yang berlaku. Selanjutnya petugas RT/RW atau pengelola swasta menyerahkan retribusi yang hanya meliputi biaya pengelolaan dari TPS ke TPA (sesuai Perda) kepada Dinas Kebersihan dan seterusnya diserahkan kepada Kas Daerah. Untuk penerapan mekanisme seperti ini diperlukan basis data pengelola RT/RW dan atau pengelola swasta sesuai dengan lingkup pelayanannya. Adapun tatacara penetapan wajib bayar non rumag tinggal masuk ke dalam kategori dalam wajib retribusi kebersihan, maka perlu dibuat suatu Surat Penetapan Wajib Bayar Retribusi. Selanjutnya agar dapat dilakukan pengawasan dan pengendalian, perlu adanya Tanda Bukti Pembayaran untuk jenis wajib bayar non rumah tinggal. Tanda bukti dapat berupa karcis atau menggunkan kuitansi. Untuk pengelolaan sampah pasar, mekanisme penarikan retribusi disarankan sebagai berikut : Sampah di dalam pasar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengelola pasar dalam hal ini Dinas Pasar. Pembuangan sampah pasar ke TPS dikenakan retribusi pengelolaan sebesar yang ditetapkan dalam Perda. Retribusi yang dimaksud point kedua, dibayarkan oleh pengelola pasar (Dinas Pasar) kepada Dinas Kebersihan untuk diserahkan ke Kas Daerah. Retribusi sampah yang dipungut dari masyarakat adalah merupakan sumber pendapatan utama Pemerintah Daerah untuk mengelola sampah khususnya untuk biaya O&M. Namun demikian perolehan retribusi selalu jauh di bawah dari biaya yang dibutuhkan untuk mengelola sampah. disebabkan oleh 2 hal : Tarif retribusi tidak dihitung berdasarkan analisis biaya satuan sehingga tarif retribusi terlalu rendah. Metode penarikan retribusi yang kurang efektif
Hal VII-20

Rendahnya perolehan retribusi dapat

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Perhitungan tarif retribusi didasarkan pada analisis biaya satuan yang dihitung pada tahun ketika akan dilakukan evaluasi 5 tahunan. Untuk tahun 2009 tarif dasar retribusi yang dihitung berdasarkan analisis biaya satuan untuk kebutuhan pengelolaan sampah ideal adalah sebesar Rp pengangkutan dan Rp 20.085,- per m
3

39.128,- per m3

untuk biaya

untuk biaya pengelolaan di TPA. Dengan

demikian maka tarif dasar berdasarkan kebutuhan ideal adalah Rp 59.213,- per m3. Bila tingkat timbulan sampah di Kabupaten Bandung 2,81 liter/orang/hari, dengan asumsi jumlah anggota keluarga dalam 1 KK adalah 5 orang maka jumlah sampah yang dihasilkan per KK adalah sebanyak 0,4 m3 per bulan. Hal ini berarti tarif dasar retribusi per KK adalah sebesar Rp 24.958 per bulan. Untuk menentukan tarif retribusi dilakukan dengan cara subsidi silang antara kelompok wajib retribusi. Perhitungan tarif retribusi dengan cara subsidi silang antar kelompok wajib retribusi (KWR), selayaknya dilakukan dalam periode tertentu.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VII-21

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Kegiatan

Penyusunan

Kebijakan

Manajemen

Pengelolaan

Persampahan

Kabupaten Bandung telah menghasilkan kajian komprehensif dari berbagai aspek pengelolaan sampah dan siap untuk dilaksanakan. Upaya peningkatan pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, akan sangat berarti bila berbagai alternatif pengembangan yang telah dilakukan segera dipilih dan diimplemantasikan. Diperlukan adanya perhatian besar dari seluruh stakeholder dalam mencapai berbagai target yang harus diraih. Pola distribusi wilayah yang sangat luas, menuntut adanya desentralisasi pengelolaan sampah di tingkat Kecamatan dan dengan menjalankan strategi pengembangan sistem berbasis masyarakat di wilayah perdesaan. Dalam pelaksanaannya, konsep bola bergulir dapat dilakukan. Penanganan sampah di satu kecamatan ditata dengan baik, kemudian di gulirkan ke kecamatan lain, dari tahun ke tahun sehingga dalam 20 tahun mendatang minimal seluruh kecamatan yang termasuk dalam wilayak kritis penanganan sampah sudah teratasi. Untuk wilayah perkotaan yang kritis, seperti Margahayu, Katapang, Majalaya, strategi pengolahan di TPS Kelurahan dan TPS Kecamatan harus segera dilaksanakan, disamping meningkatkan keberadaan sarana pengangkut sampah langsung ke TPA. Sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang menjadi strategi penanganan sampah di perdesaan, diprioritaskan akan dikembangkan di wilayah perdesaan yang kini telah mendapat bantuan peralatan pengolahan sampah.
BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VIII-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Pada sistem ini, penanganan sampah dilakukan oleh masyarakat. Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan tetap bertanggung jawab dalam investasi awal dan dalam membangun mekanisme pembiayaan, untuk menjaga keberlanjutan sistem. Pengomposan sampah yang direncanakan dipusatkan di TPS-TPS Kelurahan selayaknya dikembangkan dengan seksama, mengingat tingginnya potensi bahan baku kompos yang terkandung dalam timbulan sampah di Kabupaten Bandung. Pemanfaatan kompos di dalam pertanian, juga akan menjadi perhatian besar dalam pengembangan pengomposan, terlebih dengan alasan bahwa aktifitas pertanian di Kabupaten Bandung, terukur sangat tinggi. Pengolahan sampah anorganik direncanakan dipusatkan di TPS Kecamatan. Adapun orientasi pengolahan dalam 10 tahun pertama adalah terhadap sampah plastik, yaitu dengan dikembangkannya usaha daur ulang, baik pada tingkat yang paling sederhana yaitu usaha pengepulan, pencacahan, pelelehan dan pemanfaatannya dalam penyediaan bahan bakar bagi pabrik yang memiliki daya bakar tinggi lebih dari 1000oC. Pengolahan sampah B3 Rumah Tangga di Kabupaten Bandung, akan dilakukan sejak awal dengan tahapan pengenalan melalui penempatan wadah sampah terpilah 3, di daerah komersil, perkantoran dan fasilitas umum. Tahapan selanjutnya, yang menjadi prirotas penanganan B3 Rumah Tangga ini tentunya di permukiman. Sistem pengelolaan dimulai dari pemilahan atas tiga jenis sampah yaitu organik, anorganik dan B3 RT. Selanjutnya sampah B3 RT dikumpulkan di dalam bak khusus di TPS-TPS, dan bermuara di TPA dalam suatu bangunan khusus penampung B3 RT,sebelum di bawa ke lokasi pengolahan khsusus atau ditimbun di TPA sesuai dengan kaidah penimbunan sampah B3 RT. Keberadaan TPA atau Tempat Pemrosesan Akhir dalam 20 tahun mendatang ditetapkan akan mengoptimalkan TPA Babakan yang masih menyimpan potensi cukup besar. Pembukaan lahan TPA baru, tidak direncanakan dalam 20 tahun mendatang. Kebutuhan perluasan, selain dengan optimasi lahan TPA Babakan,

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VIII-2

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

juga akan dilakukan kerjasama pemanfaatan TPA regional di wilayah Metropolitan yang rencananya terdapat dua yaitu Legok Nangka untuk wilayah timur dan TPA Leuwigajah untuk wilayah barat. Keberadaan kedua rencana TPA regional Metropolitan ini merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh Kabupaten Bandung. Sebagai lokasi pemrosesan akhir, TPA sampah di Kabupaten Bandung, akan menjadi lokasi pengolahan sampah terpadu dengan proses pengomposan, pengolahan anorganik dan pengolahan residu sampah. Kehadiran investor untuk mengembangkan ujicoba pengolahan sampah menjadi listrik (PLTSa) akan dipadukan terhadap upaya peningkatan efisiensi pengomposan dan pengolahan residu. Operasi pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung harus di dukung dengan ketersediaan dana yang cukup. Hal ini dituntut adanya political will dari para penentu kebijakan. Kebutuhan biaya minimal dalam penanganan sampah di Kabupaten Bandung terukur tinggi, diperlukan pentahapan kearah peningkatan biaya yang signifikan dari tahun ke tahun. Dari aspek pertaruan dan hukum, banyak hal yang perlu di tata,terutama dalam konteks isi peraturan itu sendiri. Namun tidak kalah pentingnya adalah dalam penegakannya, perlu usaha besar agar bisa mendukung tercapainya sasaran. Membangun hukum yang berbasiskan pada budaya lokal pun harus menjadi bagian dalam proses pembangunan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Usaha peningkatan pelayanan pengelolaan persampahan di Kabupaten Bandung, memerlukan usaha kuat dalam membangun peran serta masyarakatnya. Budaya guyub yang masih kental dari masyarakat di Kabupaten Bandung, selayaknya di bangun dan menjadi sarana menuju terciptanya tatanan masyarakat yang guyub dalam memelihara kebersihan. Target utama dalam 20 tahun mendatang yaitu terselenggarnya program peningkatan peran serta terhadap pengelolaan sampah, hanya akan terwujud bila tumbuh pemahaman mendasar dari seluruh penentu kebijakan bahwa proses tersebut merupakan investasi jangka panjang yang akan sangat menguntungkan.

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VIII-3

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Untuk mengemban tugas dalam penataan pelayanan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung, diperlukan lembaga dengan kompetensi tinggi. Tidak hanya mengoperasikan tetapi juga menjalankan pembinaan pada masyarakat, dan membangun kemandirian lembaga tersebut. Lembaga dalam bentuk Dinas Kebersihan, terukur merupakan bentuk yang dibutuhkan saat ini. Dalam jangka panjang lembaga ini harus terus di bina dan di tingkatkan kemampuannya sehingga menjadi lembaga yang lebih profesional. Buku ini sebagai Laporan Akhir, dapat dikatakan sebagai kerangka acuan seluruh stakeholder di Kabupaten Bandung dalam menangani sampah, karena itu buku ini dapat dikatakan sebagai Master Plan. Selayaknya sebuah Master Plan, perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan kegiatan kecil dan lebih rinci, adapun kegiatan prioritas dapat diplihat pada Matrik Action Plan (lihat Tabel 3.1).

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal VIII-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Timbulan Sampah Berdasarkan Sumber Aktifitas
Sumber Rumah Tangga Pasar Komersial Kantor Sekolah Rumah Sakit Industri Lain-Lain Total Timbulan Sampah (m3/hr) 2008 1,905.7 560.5 98.1 8.4 42.0 47.6 126.1 14.0 2,803 2009 1,962.5 577.2 101.0 8.7 43.3 49.1 129.9 14.4 2,886 2010 2,021.3 594.5 104.0 8.9 44.6 50.5 133.8 14.9 2,973 2011 2,082.4 612.5 107.2 9.2 45.9 52.1 137.8 15.3 3,062 2012 2,145.8 631.1 110.4 9.5 47.3 53.6 142.0 15.8 3,156 2013 2,211.5 650.4 113.8 9.8 48.8 55.3 146.3 16.3 3,252 2014 2,279.8 670.5 117.3 10.1 50.3 57.0 150.9 16.8 3,353 2015 2,350.6 691.4 121.0 10.4 51.9 58.8 155.6 17.3 3,457 2016 2,424.2 713.0 124.8 10.7 53.5 60.6 160.4 17.8 3,565 2017 2,500.6 735.5 128.7 11.0 55.2 62.5 165.5 18.4 3,677 2018 2,580.0 758.8 132.8 11.4 56.9 64.5 170.7 19.0 3,794

Lanjutan Tabel Timbulan Sampah Berdasarkan Sumber Aktifitas


Sumber Rumah Tangga Pasar Komersial Kantor Sekolah Rumah Sakit Industri Lain-Lain Total Timbulan Sampah (m3/hr)

2019
2,662.4 783.1 137.0 11.7 58.7 66.6 176.2 19.6 3,915

2020
2,748.1 808.3 141.4 12.1 60.6 68.7 181.9 20.2 4,041

2021
2,837.1 834.4 146.0 12.5 62.6 70.9 187.8 20.9 4,172

2022
2,929.6 861.7 150.8 12.9 64.6 73.2 193.9 21.5 4,308

2023
3,025.8 890.0 155.7 13.3 66.7 75.6 200.2 22.2 4,450

2024
3,125.8 919.4 160.9 13.8 69.0 78.1 206.9 23.0 4,597

2025
3,229.8 950.0 166.2 14.2 71.2 80.7 213.7 23.7 4,750

2026
3,338.0 981.8 171.8 14.7 73.6 83.4 220.9 24.5 4,909

2027
3,450.5 1,014.9 177.6 15.2 76.1 86.3 228.3 25.4 5,074

2028
3,567.5 1,049.3 183.6 15.7 78.7 89.2 236.1 26.2 5,246

BAPEDA | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-1

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Tingkat Pelayanan Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bandung
Wilayah Kecamatan Soreang Ciwidey Margahayu Katapang I Pasir Jambu Rancabali Margaasih Pamengpeuk Bojongsoang Dayeuhkolot Banjaran Baleendah Arjasari Ciparay II Pangalengan Cangkuang Cimaung Kertasari Pacet Cileunyi Cicalengka Rancaekek Solokanjeruk Paseh III Majalaya Cimenyan Cilengkrang Nagreg Cikancung Ibun jumlah Penduduk Perkotaan Jiwa 47,948 24,062 38,268 41,553 25,005 15,605 40,881 20,616 27,605 37,207 35,438 59,798 29,606 46,665 42,368 19,057 23,051 21,075 31,472 42,559 32,793 53,569 24,200 36,035 47,855 28,939 13,027 14,779 24,360 23,317 968,715 Penduduk Terlayani Jiwa 14,968 6,662 28,762 7,548 7,142 2,669 5,317 15,544 13,324 13,495 1,612 2,658 534 2,146 23,931 10,665 19,270 534 1,078 16,057 3,203 4,292 201,411 Sampah Terangkut (m3/hr) 42.06 18.72 80.82 21.21 20.07 7.50 14.94 43.68 37.44 37.92 4.53 9.00 1.50 6.03 67.25 29.97 54.15 1.50 3.03 45.12 9.00 12.06 567 Tingk. Pelayanan Kecamatan 31.2% 27.7% 75.2% 18.2% 0.0% 0.0% 17.5% 12.9% 19.3% 41.8% 37.6% 22.6% 5.4% 5.7% 1.3% 11.3% 0.0% 0.0% 0.0% 56.2% 32.5% 36.0% 2.2% 3.0% 33.6% 11.1% 32.9% 0.0% 0.0% 0.0% 23.1% 10.9% 20.8% 27.8% Tingk. Pelayanan Wilayah Tingk. Pelayanan Total Kab.

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-2

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Tingkat Pengangkutan Sampah di Kabupaten Bandung
Wilayah Nama Kecamatan Soreang Ciwidey Margahayu Katapang I Pasir Jambu Rancabali Margaasih Pamengpeuk Bojongsoang Dayeuhkolot Banjaran Baleendah Arjasari Ciparay II Pangalengan Cangkuang Cimaung Kertasari Pacet Cileunyi Cicalengka Rancaekek Solokanjeruk Paseh III Majalaya Cimenyan Cilengkrang Nagreg Cikancung Ibun jumlah Sampah Terangkut (m3/hr) 42.1 18.7 80.8 21.2 0.0 0.0 0.0 20.1 7.5 14.9 43.7 37.4 37.9 4.5 9.0 1.5 6.0 0.0 0.0 0.0 67.2 30.0 54.2 1.5 3.0 45.1 9.0 12.1 0.0 0.0 567 Total Timbulan Kota (m3/hr) 134.73 67.61 107.53 116.76 70.26 43.85 114.87 57.93 77.57 104.55 99.58 168.03 83.19 131.13 119.05 53.55 64.8 59.2 88.4 119.59 92.15 150.53 68.00 101.26 134.47 81.32 36.61 41.5 68.5 65.5 2722 Tingk. Pengangkutan 31.2% 27.7% 75.2% 18.2% 0.0% 0.0% 0.0% 34.6% 9.7% 14.3% 43.9% 22.3% 45.6% 3.5% 7.6% 2.8% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 73.0% 19.9% 79.6% 1.5% 2.3% 55.5% 24.6% 0.0% 0.0% 0.0% 23.1% 16.2% 20.8% 22.9% Tingk. Pengangkutan Wil Total Tingk. Pengangkutan

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-3

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 1
Pelaku Pengelolaan Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. Pelayanan Perkotaan Penimbunan Pengomposan Daur Ulang Anorganik Pengolahan Lain Tingk. Pelayanan Perkotaan Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat Informal Tingk. Partisipasi Masy. m3/hr % m3/hr % m3/hr % Sampah Terkelola Sampah Tak Terkelola m3/hr % m3/hr % 105.4 5.1% 343.3 16.5% 449 21.6% 1014.9 20.8% 3,864.6 79.2% 245.9 11.5% 359.4 16.8% 605 28.3% 1,758.7 35.0% 3,266.1 65.0% 442.6 20.1% 879.2 39.9% 1322 60.0% 3,105.3 60.0% 2,070.2 40.0% 470.7 20.7% 913.7 40.3% 1384 61.0% 3,252.4 61.0% 2,079.4 39.0% 555.0 23.7% 951.1 40.7% 1506 64.4% 3,461.3 63.0% 2,032.8 37.0% 611.2 25.4% 989.2 41.0% 1600 66.4% 3,680.6 65.0% 1,981.9 35.0% 667.4 26.9% 1,032.1 41.5% 1699 68.4% 3,910.9 67.0% 1,926.3 33.0% 751.7 29.3% 1,074.9 42.0% 1827 71.3% 4,213.1 70.0% 1,805.6 30.0% 779.8 29.5% 1,130.4 42.8% 1910 72.3% 4,407.0 71.0% 1,800.0 29.0% 821.9 30.2% 1,175.7 43.1% 1998 73.3% 4,609.9 72.0% 1,792.8 28.0% 920.3 32.7% 1,225.1 43.6% 2145 76.3% 4,868.3 75.0% 1,622.8 25.0% m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % 567 20.2% 0.0 0.0% 0 0.0% 0 0.0% 567 20.2% 480 16.6% 200.0 6.9% 374.0 13.0% 100 3.5% 1,154 40.0% 476 16.0% 355.0 11.9% 577.9 19.4% 375 12.6% 1,784 60.0% 473 15.4% 390.0 12.7% 605.2 19.8% 400 13.1% 1,868 61.0% 468 14.8% 430.0 13.6% 633.9 20.1% 425 13.5% 1,956 62.0% 462 14.2% 470.0 14.5% 674.4 20.7% 475 14.6% 2,081 64.0% 456 13.6% 500.0 14.9% 716.9 21.4% 540 16.1% 2,213 66.0% 452 13.1% 540.0 15.6% 772.8 22.4% 620 17.9% 2,385 69.0% 442 12.4% 570.0 16.0% 808.5 22.7% 675 18.9% 2,496 70.0% 440 12.0% 625.0 17.0% 845.9 23.0% 700 19.0% 2,611 71.0% 411 11.2% 630.0 17.1% 882.2 24.0% 800 21.7% 2,723 74.0% Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Tahun 2008 4,880 2,803 2,077 2009 5,025 2,886 2,139 2010 5,176 2,973 2,203 2011 5,332 3,062 2,270 2012 5,494 3,156 2,339 2013 5,662 3,252 2,410 2014 5,837 3,353 2,485 2015 6,019 3,457 2,562 2016 6,207 3,565 2,642 2017 6,403 3,677 2,725 2018 6,491 3,679 2,812

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-4

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 1
Pelaku Pengelolaan Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. Pelayanan Perkotaan Penimbunan Pengomposan Daur Ulang Anorganik Pengolahan Lain Tingk. Pelayanan Perkotaan Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat Informal Tingk. Partisipasi Masy. m3/hr % m3/hr % m3/hr % Sampah Terkelola Sampah Tak Terkelola m3/hr % m3/hr % 976.5 33.7% 1,266.5 43.6% 2243 77.3% 5,006.2 76.0% 1,580.9 24.0% 1,032.7 34.5% 1,309.4 43.7% 2342 78.2% 5,152.2 77.0% 1,539.0 23.0% 1,088.9 35.2% 1,360.0 44.0% 2449 79.2% 5,295.5 78.0% 1,493.6 22.0% 1,145.1 35.9% 1,415.6 44.3% 2561 80.2% 5,453.6 79.0% 1,449.7 21.0% 1,201.3 36.4% 1,473.2 44.7% 2674 81.1% 5,615.2 80.0% 1,403.8 20.0% 1,257.5 36.9% 1,539.4 45.2% 2797 82.1% 5,780.6 81.0% 1,355.9 19.0% 1,313.7 37.3% 1,611.5 45.8% 2925 83.1% 6,005.1 82.0% 1,318.2 18.0% 1,369.9 37.7% 1,689.6 46.4% 3060 84.1% 6,209.3 83.0% 1,271.8 17.0% 1,426.1 37.9% 1,774.1 47.2% 3200 85.1% 6,420.1 84.0% 1,222.9 16.0% 1,482.3 38.1% 1,861.5 47.9% 3344 86.0% 6,621.7 85.0% 1,168.5 15.0% Satuan m3/hr m3/hr m3/hr m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % Tahun 2019 6,587 3,685 2,902 394 10.7% 650.0 17.6% 895.6 24.3% 825 22.4% 2,764 75.0% 2020 6,691 3,696 2,995 379 10.3% 670.0 18.1% 910.1 24.6% 850 23.0% 2,809 76.0% 2021 6,789 3,697 3,092 359 9.7% 690.0 18.7% 922.4 24.9% 875 23.7% 2,847 77.0% 2022 6,903 3,710 3,193 346 9.3% 710.0 19.1% 937.7 25.3% 900 24.3% 2,894 78.0% 2023 7,019 3,721 3,298 312 8.4% 750.0 20.2% 952.5 25.6% 925 24.9% 2,940 79.0% 2024 7,137 3,730 3,407 267 7.2% 800.0 21.4% 966.8 25.9% 950 25.5% 2,984 80.0% 2025 7,323 3,803 3,520 232 6.1% 850.0 22.3% 998.1 26.2% 1000 26.3% 3,081 81.0% 2026 7,481 3,843 3,638 205 5.3% 900.0 23.4% 1021.1 26.6% 1025 26.7% 3,151 82.0% 2027 7,643 3,882 3,761 153 4.0% 950.0 24.5% 1044.1 26.9% 1075 27.7% 3,222 83.0% 2028 7,790 3,902 3,888 16 0.4% 1000.0 25.6% 1062.0 27.2% 1200 30.8% 3,278 84.0%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-5

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 2
Pelaku Pengelolaan Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. Pelayanan Perkotaan Penimbunan Pengomposan Daur Ulang Anorganik Pengolahan Lain Tingk. Pelayanan Perkotaan Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat Informal Tingk. Partisipasi Masy. m3/hr % m3/hr % m3/hr % Sampah Terkelola Sampah Tak Terkelola m3/hr % m3/hr % 105.4 5.1% 343.3 16.5% 449 21.6% 1,014.9 20.8% 3,864.6 79.2% 231.8 10.8% 360.6 16.9% 592 27.7% 1,256.2 25.0% 3,768.6 75.0% 259.9 11.8% 372.3 16.9% 632 28.7% 1,345.6 26.0% 3,829.9 74.0% 288.0 12.7% 386.0 17.0% 674 29.7% 1,439.6 27.0% 3,892.3 73.0% 316.1 13.5% 401.8 17.2% 718 30.7% 1,538.3 28.0% 3,955.7 72.0% 344.2 14.3% 419.8 17.4% 764 31.7% 1,642.1 29.0% 4,020.3 71.0% 372.3 15.0% 440.1 17.7% 812 32.7% 1,751.2 30.0% 4,086.1 70.0% 400.4 15.6% 462.9 18.1% 863 33.7% 1,865.8 31.0% 4,152.9 69.0% 456.6 17.3% 486.6 18.4% 943 35.7% 2,048.3 33.0% 4,158.7 67.0% 526.9 19.3% 500.6 18.4% 1027 37.7% 2,240.9 35.0% 4,161.7 65.0% 597.1 21.2% 519.2 18.5% 1116 39.7% 2,444.2 37.0% 4,161.7 63.0% m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % 567 20.2% 0.0% 0.0 0.0% 0.0% 567 20.2% 389 13.5% 30 1.0% 215.1 7.5% 30 1.0% 664 23.0% 392 13.2% 40 1.3% 231.1 7.8% 50 1.7% 713 24.0% 398 13.0% 60 2.0% 248.0 8.1% 60 2.0% 766 25.0% 405 12.8% 70 2.2% 265.8 8.4% 80 2.5% 820 26.0% 404 12.4% 100 3.1% 284.5 8.7% 90 2.8% 878 27.0% 405 12.1% 120 3.6% 304.1 9.1% 110 3.3% 939 28.0% 413 11.9% 140 4.0% 324.8 9.4% 125 3.6% 1,002 29.0% 407 11.4% 190 5.3% 358.1 10.0% 150 4.2% 1,105 31.0% 400 10.9% 240 6.5% 393.2 10.7% 180 4.9% 1,214 33.0% 398 10.5% 300 7.9% 430.2 11.3% 200 5.3% 1,328 35.0% Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Tahun 2008 4,880 2,803 2,077 2009 5,025 2,886 2,139 2010 5,176 2,973 2,203 2011 5,332 3,062 2,270 2012 5,494 3,156 2,339 2013 5,662 3,252 2,410 2014 5,837 3,353 2,485 2015 6,019 3,457 2,562 2016 6,207 3,565 2,642 2017 6,403 3,677 2,725 2018 6,606 3,794 2,812

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-6

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 2
Pelaku Pengelolaan Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. Pelayanan Perkotaan Penimbunan Pengomposan Daur Ulang Anorganik Pengolahan Lain Tingk. Pelayanan Perkotaan Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat Informal Tingk. Partisipasi Masy. m3/hr % m3/hr % m3/hr % Sampah Terkelola Sampah Tak Terkelola m3/hr % m3/hr % 667.4 23.0% 542.6 18.7% 1210 41.7% 2,658.6 39.0% 4,158.4 61.0% 836.0 27.9% 571.7 19.1% 1408 47.0% 3,025.6 43.0% 4,010.7 57.0% 1,018.6 32.9% 601.6 19.5% 1620 52.4% 3,414.2 47.0% 3,850.1 53.0% 1,145.1 35.9% 623.8 19.5% 1769 55.4% 3,750.6 50.0% 3,750.6 50.0% 1,271.5 38.6% 654.3 19.8% 1926 58.4% 4,106.2 53.0% 3,641.3 47.0% 1,412.0 41.4% 679.7 20.0% 2092 61.4% 4,482.0 56.0% 3,521.6 44.0% 1,496.3 42.5% 805.8 22.9% 2302 65.4% 4,961.9 60.0% 3,307.9 40.0% 1,524.4 41.9% 963.9 26.5% 2488 68.4% 5,384.4 63.0% 3,162.3 37.0% 1,566.6 41.7% 1,118.5 29.7% 2685 71.4% 5,831.0 66.0% 3,003.8 34.0% 1,636.8 42.1% 1,294.8 33.3% 2932 75.4% 6,394.1 70.0% 2,740.3 30.0% m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % 399 10.2% 350 8.9% 469.4 12.0% 230 5.9% 1,449 37.0% 383 9.5% 430 10.6% 523.8 13.0% 280 6.9% 1,617 40.0% 373 8.9% 500 12.0% 581.3 13.9% 340 8.1% 1,794 43.0% 360 8.3% 580 13.5% 642.1 14.9% 400 9.3% 1,982 46.0% 344 7.7% 650 14.6% 706.4 15.9% 480 10.8% 2,180 49.0% 331 7.2% 750 16.3% 774.5 16.8% 535 11.6% 2,390 52.0% 308 6.5% 870 18.3% 861.8 18.1% 620 13.1% 2,660 56.0% 288 5.9% 970 19.8% 938.4 19.1% 700 14.3% 2,896 59.0% 267 5.3% 1,060 20.9% 1019.3 20.1% 800 15.8% 3,146 62.0% 241 4.6% 1,200 22.9% 1121.9 21.4% 900 17.2% 3,463 66.0% Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Tahun 2019 6,817 3,915 2,902 2020 7,036 4,041 2,995 2021 7,264 4,172 3,092 2022 7,501 4,308 3,193 2023 7,747 4,450 3,298 2024 8,004 4,597 3,407 2025 8,270 4,750 3,520 2026 8,547 4,909 3,638 2027 8,835 5,074 3,761 2028 9,134 5,246 3,888

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-7

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 3
Pelaku Pengelolaan Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. Pelayanan Perkotaan Penimbunan Pengomposan Daur Ulang Anorganik Pengolahan Lain Tingk. Pelayanan Perkotaan Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat Informal Tingk. Partisipasi Masy. m3/hr % m3/hr % m3/hr % Sampah Terkelola Sampah Tak Terkelola m3/hr % m3/hr % 105.4 5.1% 343.3 16.5% 449 21.6% 1,014.9 20.8% 3,864.6 79.2% 84 4% 171.1 8% 255 12% 948 19% 4,077 81% 105 5% 176 8% 282 13% 1,317 25% 3,859 75% 136 6% 204.3 9% 340 15% 1,443 27% 3,889 73% 140 6% 210.5 9% 351 15% 1,518 28% 3,976 72% 169 7% 216.9 9% 386 16% 1,621 29% 4,041 71% 199 8% 248.5 10% 447 18% 1,755 30% 4,082 70% 246 10% 256 10% 502 20% 1,905 32% 4,114 68% 264 10% 264.2 10% 528 20% 1,990 32% 4,217 68% 273 10% 299.8 11% 572 21% 2,080 32% 4,323 68% 281 10% 309.3 11% 590 21% 2,146 32% 4,460 68% m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % 567 20.2% 0.0% 0.0 0.0% 0.0% 567 20.2% 693 24.0% 0% 0 0% 0% 693 24% 696 23.4% 4 0.1% 335 11.3% 0% 1,035 35% 709 23.2% 24 0.8% 357.2 11.7% 12 0.4% 1,102 36% 722 22.9% 52 1.6% 378.3 12.0% 15 0.5% 1,168 37% 735 22.6% 80 2.5% 400.4 12.3% 20 0.6% 1,236 38% 755 22.5% 104 3.1% 423.6 12.6% 25 0.7% 1,308 39% 773 22.4% 148 4.3% 455 13.1% 27 1% 1,403 41% 792 22.2% 156 4.4% 473.6 13.3% 40 1.1% 1,462 41% 815 22.2% 164 4.5% 488.5 13.3% 40 1.1% 1,508 41% 842 22.2% 170 4.5% 504.0 13.3% 40 1.1% 1,556 41% Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Tahun 2008 4,880 2,803 2,077 2009 5,025 2,886 2,139 2010 5,176 2,973 2,203 2011 5,332 3,062 2,270 2012 5,494 3,156 2,339 2013 5,662 3,252 2,410 2014 5,837 3,353 2,485 2015 6,019 3,457 2,562 2016 6,207 3,565 2,642 2017 6,403 3,677 2,725 2018 6,606 3,794 2,812

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-8

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Sasaran Peningkatan Pelayanan Skenario 3
Pelaku Pengelolaan Timbulan Sampah Total Beban Pelayanan Perkotaan Beban Peningkatan Partisipasi Masy. Pelayanan Perkotaan Penimbunan Pengomposan Daur Ulang Anorganik Pengolahan Lain Tingk. Pelayanan Perkotaan Pelayanan Peningkatan Part. Masy. Sistem Berbasis Masyarakat Informal Tingk. Partisipasi Masy. m3/hr % m3/hr % m3/hr % Sampah Terkelola Sampah Tak Terkelola m3/hr % m3/hr % 319 11% 319.2 11% 638 22% 2,283 33% 4,534 67% 329 11% 359.4 12% 689 23% 2,386 34% 4,650 66% 340 11% 371.0 12% 711 23% 2,464 34% 4,801 66% 351 11% 383.1 12% 734 23% 2,544 34% 4,957 66% 396 12% 428.7 13% 824 25% 2,738 35% 5,010 65% 409 12% 442.9 13% 852 25% 2,828 35% 5,175 65% 422 12% 492.8 14% 915 26% 2,958 36% 5,312 64% 473 13% 509.3 14% 982 27% 3,093 36% 5,454 64% 564 15% 564.1 15% 1,128 30% 3,361 38% 5,474 62% 611 16% 583 15% 1,194 31% 3,658 40% 5,476 60% m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % m3/hr % 864 22.1% 178 4.5% 532.8 13.6% 70 1.8% 1,644 42% 888 22.0% 184 4.6% 549.9 13.6% 75 1.9% 1,697 42% 917 22.0% 190 4.6% 567.8 13.6% 78 1.9% 1,752 42% 945 21.9% 198 4.6% 586.3 13.6% 80 1.9% 1,809 42% 967 21.7% 216 4.9% 619.9 13.9% 110 2.5% 1,913 43% 997 21.7% 224 4.9% 640.4 13.9% 115 2.5% 1,977 43% 1,029 21.7% 232 4.9% 661.7 13.9% 120 2.5% 2,042 43% 1,062 21.6% 240 4.9% 683.9 13.9% 125 2.5% 2,111 43% 1,086 21.4% 288 5.7% 723.4 14.3% 135 2.7% 2,233 44% 1,092 20.8% 420 8% 798.2 15.2% 153 2.9% 2,464 47% Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Tahun 2019 6,817 3,915 2,902 2020 7,036 4,041 2,995 2021 7,264 4,172 3,092 2022 7,501 4,308 3,193 2023 7,747 4,450 3,298 2024 8,004 4,597 3,407 2025 8,270 4,750 3,520 2026 8,547 4,909 3,638 2027 8,835 5,074 3,761 2028 9,134 5,246 3,888

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-9

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Kebutuhan Sarana Pengumpulan untuk Skenario 1
Komponen Beban Pengumpulan Kebutuhan Motor sampah Pengadaan Motor Sampah Kebutuhan Pick Up 4m3 Pengadaan Pick Up 4m3 Satuan m3/hr Unit Unit Unit Unit Tahun 2009 1154.4 415 415 69 69 2010 1783.5 641 226 107 38 2011 1868.0 671 30 112 5 2012 1956.4 703 32 117 5 2013 2081.4 748 45 125 7 2014 2212.7 795 47 132 8 2015 2385.2 857 62 143 10 2016 2495.5 897 40 149 7 2017 2610.9 938 41 156 7 2018 2722.7 978 40 163 7

Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana Pengumpulan untuk Skenario 1


Komponen Beban Pengumpulan Kebutuhan Motor sampah Pengadaan Motor Sampah Kebutuhan Pick Up 4m3 Pengadaan Pick Up 4m3 Satuan m3/hr Unit Unit Unit Unit Tahun 2019 2764.1 993 15 166 2 2020 2809.1 1009 16 168 3 2021 2846.8 1023 14 170 2 2022 2894.1 1040 17 173 3 2023 2939.8 1056 16 176 3 2024 2983.8 1072 16 179 3 2025 3080.6 1107 35 184 6 2026 3151.4 1132 25 189 4 2027 3222.4 1158 26 193 4 2028 3277.8 1178 20 196 3

Tabel Kebutuhan Sarana TPS untuk Skenario 1


Komponen Beban Pengomposan Kebutuhan TPS Kel Pengadaan TPS Kel. Kebutuhan TPS Kec Pengadaan TPS Kec. Satuan m3/hr Unit Unit Unit Unit Tahun 2009 200 14 14 3 3 2010 355 25 11 10 7 2011 390 28 2 12 2 2012 430 31 3 13 1 2013 470 33 3 15 2 2014 500 36 2 17 2 2015 540 38 3 18 1 2016 570 41 2 19 1 2017 625 44 4 21 2 2018 630 45 0 22 1

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-10

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana TPS untuk Skenario 1
Komponen Beban Pengomposan Kebutuhan TPS Kel Pengadaan TPS Kel. Kebutuhan TPS Kec Pengadaan TPS Kec. Satuan m3/hr Unit Unit Unit Unit Tahun 2019 650 46 1 22 0 2020 670 48 1 23 1 2021 690 49 1 23 0 2022 710 51 1 24 1 2023 750 53 3 24 0 2024 800 57 4 25 1 2025 850 60 4 26 1 2026 900 64 4 27 1 2027 950 68 4 29 2 2028 1000 71 4 30 1

Tabel Kebutuhan Sarana Pengangkutan untuk Skenario 1


Komponen Beban Penimbunan Sampah tercampur Residu Pengolahan DT 6m3 Pengadaan DT 6m3 Container 6m3 Pengadaan Container 6m3 Arm Roll 6 m3 Pengadaan Arm Roll 6 m3 Container 10m3 Pengadaan Container 10m3 Arm Roll 10 m3 Pengadaan Arm Roll 10 m3 Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Tahun 2009 480.4 408.3 72.1 7 0 33 27 16 0 5 0 2 0 2010 475.7 404.3 71.3 7 0 32 0 16 0 5 0 2 0 2011 472.8 401.9 70.9 7 0 32 0 16 0 5 0 2 0 2012 467.5 397.4 70.1 7 0 32 0 16 0 5 0 2 0 2013 462.0 392.7 69.3 7 0 31 0 16 0 5 0 2 0 2014 455.8 387.4 68.4 7 0 31 0 15 0 5 0 2 0 2015 452.4 384.5 67.9 7 0 31 0 15 0 5 0 2 0 2016 442.0 375.7 66.3 7 0 30 0 15 0 4 0 2 0 2017 440.0 374.0 66.0 7 0 30 0 15 0 4 0 2 0 2018 410.5 349.0 61.6 6 0 28 0 14 0 4 0 2 0

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-11

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana Pengangkutan untuk Skenario 1
Komponen Beban Penimbunan Sampah tercampur Residu Pengolahan DT 6m3 Pengadaan DT 6m3 Container 6m3 Pengadaan Container 6m3 Arm Roll 6 m3 Pengadaan Arm Roll 6 m3 Container 10m3 Pengadaan Container 10m3 Arm Roll 10 m3 Pengadaan Arm Roll 10 m3 Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Tahun 2019 393.5 334.5 59.0 6 0 27 0 13 0 4 0 2 0 2020 378.9 322.1 56.8 6 0 26 0 13 0 4 0 2 0 2021 359.4 305.5 53.9 5 0 24 0 12 0 4 0 2 0 2022 346.4 294.4 52.0 5 0 24 0 12 0 4 0 2 0 2023 312.3 265.5 46.9 5 0 21 0 11 0 3 0 2 0 2024 267.1 227.0 40.1 4 0 18 0 9 0 3 0 1 0 2025 232.5 0.0 34.9 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2026 205.4 0.0 30.8 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2027 153.4 0.0 23.0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2028 15.8 0.0 2.4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Tabel Kebutuhan Sarana Pengembangan Sistem Berbasis Masyarakat untuk Skenario 1


Komponen Beban Sistem Berbasis Masy. Keb. Pengembangan Pelaksanaan Pengembangan Satuan m3/hr Unit Unit Tahun 2009 245.9 18 18 2010 442.6 32 14 2011 470.7 34 2 2012 555.0 40 6 2013 611.2 44 4 2014 667.4 48 4 2015 751.7 54 6 2016 779.8 56 2 2017 821.9 59 3 2018 920.3 66 7 2019 976.5 70 4

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-12

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana Pengembangan Sistem Berbasis Masyarakat untuk Skenario 1
Komponen Beban Sistem Berbasis Masy. Keb. Pengembangan Pelaksanaan Pengembangan Satuan m3/hr Unit Unit Tahun 2020 1032.7 74 4 2021 1088.9 78 4 2022 1145.1 82 4 2023 1201.3 86 4 2024 1257.5 90 4 2025 1313.7 94 4 2026 1369.9 98 4 2027 1426.1 102 4 2028 1482.3 106 4

Tabel Kebutuhan Sarana Pengumpulan untuk Skenario 2


Komponen Beban Pengumpulan Kebutuhan Motor sampah Pengadaan Motor Sampah Kebutuhan Pick Up 4m3 Pengadaan Pick Up 4m3 Satuan m3/hr Unit Unit Unit Unit Tahun 2009 664 238 238 40 40 2010 713 256 18 43 3 2011 766 275 19 46 3 2012 820 295 20 49 3 2013 878 315 21 53 3 2014 939 337 22 56 4 2015 1,002 360 23 60 4 2016 1,105 397 37 66 6 2017 1,214 436 39 73 6 2018 1,328 477 41 80 7

Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana Pengumpulan untuk Skenario 2


Komponen Beban Pengumpulan Kebutuhan Motor sampah Pengadaan Motor Sampah Kebutuhan Pick Up 4m3 Pengadaan Pick Up 4m3 Satuan m3/hr Unit Unit Unit Unit Tahun 2019 1,449 520 43 87 7 2020 1,617 581 60 97 10 2021 1,794 645 64 107 11 2022 1,982 712 67 119 11 2023 2,180 783 71 131 12 2024 2,390 859 75 143 13 2025 2,660 956 97 159 16 2026 2,896 1,041 85 173 14 2027 3,146 1,130 90 188 15 2028 3,463 1,244 114 207 19

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-13

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Kebutuhan Sarana TPS untuk Skenario 2
Komponen Beban Pengomposan Kebutuhan TPS Kel Pengadaan TPS Kel. Kebutuhan TPS Kec Pengadaan TPS Kec. Satuan m3/hr Unit Unit Unit Unit Tahun 2009 30 2 2 2 2 2010 40 3 1 3 1 2011 60 4 1 4 1 2012 70 5 1 5 1 2013 100 7 2 6 1 2014 120 9 1 7 1 2015 140 10 1 8 1 2016 190 14 4 9 1 2017 240 17 4 10 1 2018 300 21 4 11 1

Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana TPS untuk Skenario 2


Komponen Beban Pengomposan Kebutuhan TPS Kel Pengadaan TPS Kel. Kebutuhan TPS Kec Pengadaan TPS Kec. Satuan m3/hr Unit Unit Unit Unit Tahun 2019 350 25 4 12 1 2020 430 31 6 13 1 2021 500 36 5 14 1 2022 580 41 6 16 2 2023 650 46 5 18 2 2024 750 53 7 20 2 2025 870 62 9 22 2 2026 970 69 7 25 3 2027 1,060 75 6 27 2 2028 1,200 85 10 30 3

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-14

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Kebutuhan Sarana Pengangkutan untuk Skenario 2
Komponen Beban Penimbunan Sampah tercampur Residu Pengolahan DT 6m3 Pengadaan DT 6m3 Container 6m3 Pengadaan Container 6m3 Arm Roll 6 m3 Pengadaan Arm Roll 6 m3 Container 10m3 Pengadaan Container 10m3 Arm Roll 10 m3 Pengadaan Arm Roll 10 m3 Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Tahun 2009 389 330 58.3 6 0 26 20 13 0 4 0 2 0 2010 392 333 58.8 6 0 27 1 13 0 4 0 2 0 2011 398 338 59.6 6 0 27 0 13 0 4 0 2 0 2012 405 344 60.7 6 0 27 0 14 0 4 0 2 0 2013 404 343 60.5 6 0 27 0 14 0 4 0 2 0 2014 405 344 60.7 6 0 27 0 14 0 4 0 2 0 2015 413 351 61.9 6 0 28 1 14 0 4 0 2 0 2016 407 346 61.1 6 0 28 0 14 0 4 0 2 0 2017 400 340 60.1 6 0 27 0 14 0 4 0 2 0 2018 398 338 59.7 6 0 27 0 13 0 4 0 2 0

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-15

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana Pengangkutan untuk Skenario 2
Komponen Beban Penimbunan Sampah tercampur Residu Pengolahan DT 6m3 Pengadaan DT 6m3 Container 6m3 Pengadaan Container 6m3 Arm Roll 6 m3 Pengadaan Arm Roll 6 m3 Container 10m3 Pengadaan Container 10m3 Arm Roll 10 m3 Pengadaan Arm Roll 10 m3 Satuan m3/hr m3/hr m3/hr Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Tahun 2019 399 339 59.9 6 0 27 0 14 0 4 0 2 0 2020 383 325 57.4 6 0 26 0 13 0 4 0 2 0 2021 373 317 55.9 6 0 25 0 13 0 4 0 2 0 2022 360 306 54.0 5 0 24 0 12 0 4 0 2 0 2023 344 292 51.6 5 0 23 0 12 0 4 0 2 0 2024 331 281 49.6 5 0 22 0 11 0 3 0 2 0 2025 308 262 46.2 5 0 21 0 10 0 3 0 2 0 2026 288 245 43.2 4 0 20 0 10 0 3 0 1 0 2027 267 227 40.0 4 0 18 0 9 0 3 0 1 0 2028 241 205 36.1 4 0 16 0 8 0 2 0 1 0

Tabel Kebutuhan Sarana Pengembangan Sistem Berbasis Masyarakat untuk Skenario 2


Komponen Beban Sistem Berbasis Masy. Keb. Pengembangan Pelaksanaan Pengembangan Satuan m3/hr Unit Unit Tahun 2009 231.8 17 17 2010 259.9 19 2 2011 288.0 21 2 2012 316.1 23 2 2013 344.2 25 2 2014 372.3 27 2 2015 400.4 29 2 2016 456.6 33 4 2017 526.9 38 5 2018 597.1 43 5 2019 667.4 48 5

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-16

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana Pengembangan Sistem Berbasis Masyarakat untuk Skenario 2
Komponen Beban Sistem Berbasis Masy. Keb. Pengembangan Pelaksanaan Pengembangan Satuan m3/hr Unit Unit Tahun 2020 836.0 60 12 2021 1018.6 73 13 2022 1145.1 82 9 2023 1271.5 91 9 2024 1412.0 101 10 2025 1496.3 107 6 2026 1524.4 109 2 2027 1566.6 112 3 2028 1636.8 117 5

Tabel Kebutuhan Sarana dan Prasarana untuk Skenario 3


No Komponen Data Kebutuhan Sarana dan Prasarana 1 Penanganan Sampah Kontainer 10 m3 Kebutuhan Pengadaan Kontainer 6 m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 10m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 6m3 Kebutuhan Pengadaan Dump Truck 10 m3 Kebutuhan unit 36 36 36 36 36 36 36 unit unit 11 0 11 0 11 0 11 0 11 0 11 0 11 0 unit unit 8 1 8 2 8 0 8 0 8 0 8 0 8 0 unit unit 34 10 34 18 34 0 34 0 34 0 34 0 34 0 unit unit 23 1 23 2 23 0 23 0 23 0 23 0 23 0 Satuan Jangka Pendek 2009 2010 2011 2012 Jangka Menengah 2013 2014 2015

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-17

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


No Pengadaan 2 Pelaksanaan 3R Pembiayaan Pengembangan CBSWM Pengadaan Unit Pengolahan Kompos Pengadaan Unit Pengolahan Plastik Pengadaan unit 0 0 1 1 1 1 1 unit 0 0 2 2 2 2 2 unit 0 5 2 2 2 2 2 Komponen Satuan unit Jangka Pendek 2009 0 2010 0 2011 1 2012 1 Jangka Menengah 2013 1 2014 1 2015 1

Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Prasarana untuk Skenario 3


No Komponen Data Kebutuhan Sarana dan Prasarana 1 Penanganan Sampah Kontainer 10 m3 Kebutuhan Pengadaan Kontainer 6 m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 10m3 Kebutuhan Pengadaan unit unit 8 0 8 0 8 0 8 0 8 0 9 1 9 0 unit unit 35 1 36 1 37 1 38 1 39 1 40 1 41 1 unit unit 23 0 23 0 24 1 24 0 25 1 25 0 26 1 Satuan Jangka Panjang 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-18

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung


No Arm Roll 6m3 Kebutuhan Pengadaan Dump Truck 10 m3 Kebutuhan Pengadaan 2 Pelaksanaan 3R Pembiayaan Pengembangan CBSWM Pengadaan Unit Pengolahan Kompos Pengadaan Unit Pengolahan Plastik Pengadaan unit 0 1 0 1 0 1 0 unit 4 4 4 5 5 4 4 unit 3 3 3 3 4 3 3 unit unit 37 1 37 0 38 1 38 0 39 1 39 0 40 1 unit unit 11 0 11 0 11 0 12 0 12 0 12 0 12 0 Komponen Satuan Jangka Panjang 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-19

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Kebutuhan Sarana dan Prasarana untuk Skenario 3
No Komponen Data Kebutuhan Sarana dan Prasarana 1 Penanganan Sampah Kontainer 10 m3 Kebutuhan Pengadaan Kontainer 6 m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 10m3 Kebutuhan Pengadaan Arm Roll 6m3 Kebutuhan Pengadaan Dump Truck 10 m3 Kebutuhan Pengadaan 2 Pelaksanaan 3R Pembiayaan Pengembangan CBSWM Pengadaan Unit Pengolahan Kompos Pengadaan Unit Pengolahan Plastik Pengadaan Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung unit 1 0 1 0 1 1 unit 4 3 4 3 2 0 unit 3 3 4 3 3 4 unit unit 40 0 41 1 41 0 42 1 42 0 43 1 unit unit 13 0 13 0 13 0 14 0 14 0 16 0 unit unit 9 0 9 0 9 0 9 0 10 1 10 0 unit unit 42 1 43 1 44 1 45 1 46 1 48 2 unit unit 26 0 28 2 28 0 30 2 31 1 33 2 Satuan Jangka Panjang 2023 2024 2025 2026 2027 2028

Hal A-20

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-1
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 Kuantitas 2009 Jumlah (Rp- Jutaan) 10,998 8,904 487 223 20,611 Unit Unit Unit 240 172.5 200 15 3 18 3,816 549 3,710 8,075 28,685 12 7 14 Kuantitas 2010 Jumlah (Rp- Jutaan) 6,376 5,124 11,500 3,236 1,357 3,146 7,739 19,239 3 2 2 Kuantitas 2011 Jumlah (Rp- Jutaan) 923 858 1,781 858 411 476 1,745 3,525 3 1 6 Kuantitas 2012 Jumlah (Rp- Jutaan) 1,010 909 1,919 909 218 1,515 2,642 4,561 3 2 4 Kuantitas 2013 Jumlah (Rp- Jutaan) 1,506 1,285 2,790 964 462 1,071 2,496 5,286

Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 25 120 17 210 20 280 150 415 70 27.0 1 0 0 0 227 38 0 0 0 0 0 31 6 0 0 0 0 0 32 6 0 0 0 0 0 45 8 0 0 0 0 0

Pola 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM JUMLAH BIAYA POLA 3R TOTAL BIAYA INVESTASI

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-21

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-1
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM JUMLAH BIAYA POLA 3R TOTAL BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit 240 172.5 200 3 2 4 1,021 489 1,135 2,646 5,710 3 1 6 1,083 259 1,804 3,146 7,913 3 1 2 1,148 275 638 2,060 5,710 4 2 3 1,622 583 1,014 3,218 7,172 1 1 7 430 309 2,507 3,246 7,392 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 25 120 17 210 20 280 150 48 8 0 0 0 0 0 1,702 1,362 3,064 62 11 0 0 0 0 2 2,331 1,985 451 4,767 40 7 0 0 0 0 3 1,594 1,339 717 3,650 42 7 0 0 0 0 3 1,774 1,419 760 3,953 41 7 0 0 0 0 3 1,836 1,504 806 4,146 Kuantitas 2014 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2015 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2016 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2017 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2018 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-22

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-1
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM JUMLAH BIAYA POLA 3R TOTAL BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit 240 172.5 200 2 0 4 911 1,519 2,430 4,110 2 1 4 966 347 1,610 2,923 4,804 2 0 4 1,024 1,706 2,730 4,564 2 1 4 1,085 390 1,809 3,284 5,398 3 0 4 1,726 1,917 3,643 5,884 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 25 120 17 210 20 280 150 15 3 0 0 0 0 1 712 683 285 1,680 17 3 0 0 0 0 1 855 724 302 1,881 14 3 0 0 0 0 1 747 768 320 1,834 17 3 0 0 0 0 1 961 814 339 2,114 17 3 0 0 0 0 1 1,019 863 359 2,241 Kuantitas 2019 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2020 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2021 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2022 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2023 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-23

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-1
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM JUMLAH BIAYA POLA 3R TOTAL BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit 240 172.5 200 4 1 4 2,439 438 2,032 4,909 7,221 4 1 4 2,585 465 2,154 5,204 10,307 4 1 4 2,740 492 2,283 5,516 9,940 4 2 4 2,905 1,044 2,420 6,369 11,059 4 1 4 3,079 553 2,566 6,198 11,265 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 25 120 17 210 20 280 150 16 3 0 0 0 0 1 1,016 915 381 2,312 35 6 0 0 0 0 2 2,356 1,939 808 5,103 26 5 0 0 0 0 2 1,855 1,713 856 4,424 26 5 0 0 0 0 2 1,967 1,815 908 4,690 20 4 0 0 0 0 4 1,604 1,539 1,924 5,067 Kuantitas 2024 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2025 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2026 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2027 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2028 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-24

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-2
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM JUMLAH BIAYA POLA 3R JUMLAH BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit 240 172.5 200 2 2 17 509 366 3,498 4,373 16,172 1 1 2 270 194 449 913 2,078 2 1 2 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 25 120 17 210 20 280 150 239 40 21 0 0 0 0 6,334 5,088 378 11,800 18 3 1 1 0 0 0 506 404 19 236 1,165 19 4 0 1 0 0 0 566 572 250 1,388 572 205 476 1,254 2,641 1 1 2 20 4 1 1 0 0 0 631 606 21 265 1,524 303 218 505 1,026 2,550 3 1 2 21 4 0 0 0 0 0 703 642 1,345 964 231 535 1,730 3,075 Kuantitas 2009 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2010 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2011 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2012 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2013 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-25

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-2
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM JUMLAH BIAYA POLA 3R JUMLAH BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit 240 172.5 200 2 1 2 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 25 120 17 210 20 280 150 22 4 1 1 0 0 0 780 681 24 298 1,783 681 245 567 1,493 3,276 2 1 2 23 4 1 1 0 0 0 865 722 26 316 1,928 722 259 601 1,583 3,510 4 1 4 37 7 0 0 0 0 0 1,474 1,339 2,813 1,530 275 1,275 3,080 5,893 4 1 5 39 7 0 0 0 0 0 1,647 1,419 3,066 1,622 291 1,689 3,603 6,669 5 1 5 42 7 0 0 0 0 0 1,880 1,504 3,385 2,149 309 1,791 4,249 7,633 Kuantitas 2014 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2015 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2016 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2017 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2018 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-26

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-2
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM JUMLAH BIAYA POLA 3R JUMLAH BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit 240 172.5 200 4 1 5 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 25 120 17 210 20 280 150 44 8 0 1 0 0 0 2,088 1,822 399 4,309 1,822 327 1,898 4,048 8,357 6 1 12 61 11 0 0 0 0 0 3,069 2,656 5,725 2,898 347 4,829 8,074 13,799 5 1 13 64 11 0 0 0 0 0 3,413 2,815 6,228 2,560 368 5,546 8,473 14,701 6 2 9 68 12 0 0 0 0 0 3,844 3,256 7,099 3,256 780 4,070 8,105 15,205 5 2 9 72 12 0 0 0 0 0 4,314 3,451 7,765 2,876 827 4,314 8,016 15,781 Kuantitas 2019 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2020 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2021 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2022 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2023 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-27

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-2
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Motor Sampah Pick Up 4m3 Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 6 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahanan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM JUMLAH BIAYA POLA 3R JUMLAH BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit 240 172.5 200 8 2 10 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 25 120 17 210 20 280 150 76 13 0 0 0 0 0 4,827 3,963 8,790 4,877 876 5,081 10,835 19,624 9 2 6 97 17 0 0 0 0 5 6,530 5,493 2,020 14,043 5,816 929 3,231 9,977 24,020 8 3 2 85 15 0 0 0 0 4 6,065 5,138 1,713 12,916 5,480 1,477 1,142 8,099 21,015 7 2 3 90 15 0 0 0 0 5 6,808 5,446 2,269 14,523 5,083 1,044 1,815 7,942 22,465 10 3 5 114 19 0 0 0 0 6 9,140 7,312 2,886 19,339 7,697 1,660 3,207 12,564 31,903 Kuantitas 2024 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2025 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2026 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2027 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2028 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-28

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-3
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 10 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM Peralatan Pendampingan JUMLAH BIAYA POLA 3R TOTAL BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit Unit Unit 240 172 200 97 103 0 0 0 5 6 514 655 1,169 1,726 0 0 5 0 0 1,124 1,124 2,146 2 1 2 0 572 205 476 1,253 1,491 2 1 2 0 606 217 505 1,328 1,581 2 1 2 0 642 230 535 1,408 1,675 Unit Unit Unit Unit Unit 20 220 25 300 200 10 0 1 1 0 212 27 318 557 18 0 2 2 0 404 56 562 1,022 0 0 0 0 1 238 238 0 0 0 0 1 252 252 0 0 0 0 1 268 268 Kuantitas 2009 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2010 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2011 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2012 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2013 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-29

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-3
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 10 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM Peralatan Pendampingan JUMLAH BIAYA POLA 3R TOTAL BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit Unit Unit 240 172 200 97 103 2 1 2 0 681 244 567 1,492 1,776 2 1 2 0 722 259 601 1,582 1,883 2,486 2,837 4 0 3 0 1,530 956 4 1 3 0 1,622 291 1,014 2,926 2,960 4 0 3 0 1,719 1,075 2,794 3,232 Unit Unit Unit Unit Unit 20 220 25 300 200 0 0 0 0 1 284 284 0 0 0 0 1 301 301 1 0 0 0 1 32 319 351 1 0 0 0 0 34 34 1 0 1 0 1 36 45 358 439 Kuantitas 2014 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2015 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2016 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2017 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2018 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-30

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-3
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 10 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM Peralatan Pendampingan JUMLAH BIAYA POLA 3R TOTAL BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit Unit Unit 240 172 200 97 103 5 1 3 0 2,278 327 1,139 3,743 3,781 5 0 4 0 2,415 1,610 4,024 4,517 4 1 3 0 2,048 367 1,280 3,694 4,377 4 0 3 0 2,170 1,357 3,527 4,081 4 1 3 0 2,301 412 1,438 4,151 4,199 Unit Unit Unit Unit Unit 20 220 25 300 200 1 0 0 0 0 38 38 1 0 1 0 1 40 50 402 493 1 0 0 1 0 43 640 683 1 0 1 0 1 45 57 452 554 1 0 0 0 0 48 48 Kuantitas 2019 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2020 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2021 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2022 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2023 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-31

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Kebutuhan Sarana dan Biaya Investasi untuk Skenario-3
Harga Satuan No Komponen Satuan (Rp- Jutaan) Base : 2008 1 Pola Konvensional Kontainer 6 m3 Arm Roll 6 m3 Kontainer 10 m3 Arm Roll 10 m3 Dump Truck 10 m3 JUMLAH BIAYA POLA KONVENSIONAL 2 Pola 3R TPST Skala Kelurahan TPST Skala Kecamatan Sarana Prasarana Pengembangan CBSWM Peralatan Pendampingan JUMLAH BIAYA POLA 3R TOTAL BIAYA INVESTASI Unit Unit Unit Unit Unit 240 172 200 97 103 3 0 3 0 1,829 1,524 3,353 4,039 4 1 4 0 2,585 463 2,154 5,202 5,256 3 0 3 0 2,055 1,713 3,768 4,538 2 1 3 0 1,452 520 1,815 3,788 4,832 0 1 4 0 552 2,566 3,117 4,047 Unit Unit Unit Unit Unit 20 220 25 300 200 1 0 2 0 1 51 127 508 686 1 0 0 0 0 54 54 1 0 2 0 1 57 143 571 771 1 0 1 1 0 61 76 908 1,044 2 0 2 0 1 128 160 641 930 Kuantitas 2024 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2025 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2026 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2027 Jumlah (Rp- Jutaan) Kuantitas 2028 Jumlah (Rp- Jutaan)

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-32

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Perkiraan Biaya TPA Saat Ini
SATUAN BIAYA OPERASI DAN PEMELIHARAAN , TPA BABAKAN DENGAN OPERASI CONTROLD Biaya Personil Diskripsi Pencatatan Operator Penimbunan Operator Kolam Operator Alat Berat Operator Truk Mekanik Alat Berat Penjaga/Satpam Kepala TPA Kepala Seksi Total Biaya Personil Biaya O & P Mesin BBM Olie Accu suku cadang Stempet Total Biaya O & P Mesin Tanah Penutup Zona I (Zona Penimbunan Lama) Zona II (Zona Penimbunan Baru) Vol (m3/hari) 231 364 Harga 15,000 15,000 Biaya/1 penutupan 3,467,500 5,460,000 Buldozer 108,360,000 4,800,000 2,200,000 60,000,000 520,000 Excavator 54,180,000 2,400,000 1,650,000 35,000,000 390,000 Truk 22,275,000 600,000 1,200,000 6,250,000 150,000 Biaya / bl 184,815,000 7,800,000 5,050,000 101,250,000 1,060,000 299,975,000 Biaya / bl 20,805,000 163,800,000 Jumlah 3 2 2 5 3 2 2 1 3 Gaji 900,000 900,000 900,000 1,500,000 1,300,000 1,300,000 800,000 1,900,000 1,300,000 Tunjangan 135,000 135,000 135,000 225,000 195,000 195,000 120,000 285,000 195,000 Biaya / bln 3,105,000 2,070,000 2,070,000 8,625,000 4,485,000 2,990,000 1,840,000 2,185,000 4,485,000 31,855,000 Biaya/thn 2,217,780,000 93,600,000 60,600,000 1,215,000,000 12,720,000 3,599,700,000 Biaya/thn 249,660,000 1,965,600,000 Biaya/ thn 37,260,000 24,840,000 24,840,000 103,500,000 53,820,000 35,880,000 22,080,000 26,220,000 53,820,000 382,260,000

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-33

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung

Biaya Pemeliharaan Prasarana Jalan Saluran Drainase Kolam Manuver Total Biaya Pemeliharaan Prasarana Pemeliharaan & Pemantauan Lingkungan Total Biaya O & P Tahun 2009 - 2010 Total Biaya O & P Tahun 2011 - 2028 Biaya Administrasi dan Overhead

Vol 791 664 2,500 1,600

satuan m m m2 m2

Harga 65,000 26,000 65,000 91,000

Biaya/thn 51,415,000 17,264,000 162,500,000 145,600,000 376,779,000 175,000,000 4,401,139,000 6,117,079,000

(5% x O & P)

220,056,950 305,853,950

Total Biaya Tahun 2009 - 2010 Total Biaya Tahun 2011 - 2028

5,003,455,950 6,805,192,950

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-34

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Biaya O&M untuk Skenario-1
No 1 Komponen 2009 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp 149,876 28,952 Rp 556,461 30,689 Rp 582,825 32,530 Rp 610,404 34,482 Rp 649,404 36,551 Rp 690,367 38,744 Rp 744,180 41,068 Jangka Pendek 2010 2011 2012 Jangka Menengah 2013 2014 2015

Rp 4,339,137,500 Rp 6,466,764,875 Rp 10,805,902,375 -17%

Rp 17,076,997,764 Rp 6,854,770,767 Rp 23,931,768,531 121%

Rp 18,959,257,074 Rp 7,266,057,013

Rp21,047,775,510 Rp 7,702,020,434 Rp28,749,795,944 10%

Rp23,736,104,755 Rp 8,164,141,660 Rp31,900,246,416 11%

Rp26,747,327,113 Rp 8,653,990,160 Rp35,401,317,273 11%

Rp30,562,199,259 Rp 9,173,229,569 Rp39,735,428,828 12%

Rp 26,225,314,088 10%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp 149,876 43,964 Rp 556,461 46,602 Rp 582,825 49,398 Rp 610,404 52,362 Rp 649,404 55,504 Rp 690,367 58,834 Rp 744,180 62,364

Rp 6,589,172,225 Rp 20,085

Rp 25,932,176,465 Rp 21,198

Rp 28,790,470,485 Rp 26,662

Rp31,961,978,111 Rp 27,753

Rp36,044,324,981 Rp 28,898

Rp40,616,999,326 Rp 29,860

Rp46,410,051,421 Rp 30,873

Rp 3,010,188,221 Rp 9,599,360,446 -26%

Rp 11,795,681,867 Rp 37,727,858,332 293%

Rp 15,539,249,736 Rp 44,329,720,221 17%

Rp16,940,412,130 Rp48,902,390,241 10%

Rp18,766,231,833 Rp54,810,556,814 12%

Rp20,614,082,482 Rp61,231,081,808 12%

Rp22,975,240,979 Rp69,385,292,401 13%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp 62,400 35,263 Rp 110,760 37,379 Rp Rp 121,680 39,621 4,821,136,916 16% Rp 134,160 41,999 Rp 146,640 44,519 Rp 156,000 47,190 Rp 168,480 50,021

Rp 2,200,407,535

Rp 4,140,066,776 88%

Rp 5,634,549,247 17%

Rp 6,528,214,965 16%

Rp 7,361,604,110 13%

Rp 8,427,564,385 14%

TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp 13,006,309,909 0% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp 11,799,767,980 -9% Rp 28,071,835,308 116% Rp 41,867,925,108 255% Rp 31,046,451,004 11% Rp 49,150,857,137 17% Rp34,384,345,192 11% Rp54,536,939,488 11% Rp38,428,461,381 12% Rp61,338,771,779 12% Rp42,762,921,383 11% Rp68,592,685,918 12% Rp48,162,993,213 13% Rp77,812,856,785 13%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-35

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Biaya O&M untuk Skenario-1
No 1 Komponen 2016 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp 778,596 43,532 Rp 814,611 46,144 Rp 849,480 48,913 Rp 862,390 51,848 Rp 876,431 54,959 Rp 888,192 58,256 Rp 902,952 61,751 2017 2018 Jangka Panjang 2019 2020 2021 2022

Rp33,894,149,324 Rp 9,723,623,344 Rp43,617,772,668 10%

Rp 37,589,659,147 Rp 10,307,040,744 Rp 47,896,699,891 10%

Rp 41,550,614,099 Rp 10,925,463,189 Rp 52,476,077,288 10%

Rp 44,712,999,977 Rp 11,580,990,980 Rp 56,293,990,957 7%

Rp 48,167,416,032 Rp 12,275,850,439 Rp 60,443,266,471 7%

Rp 51,742,633,710 Rp 13,012,401,465 Rp 64,755,035,175 7%

Rp 55,758,648,697 Rp 13,793,145,553 Rp 69,551,794,250 7%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp 778,596 66,106 Rp 814,611 70,072 Rp 849,480 74,277 Rp 862,390 78,733 Rp 876,431 83,457 Rp 888,192 88,465 Rp 902,952 93,772

Rp51,469,764,976 Rp 31,941

Rp 57,081,560,104 Rp 32,901

Rp 63,096,445,402 Rp 33,797

Rp 67,898,668,239 Rp 33,797

Rp 73,144,351,815 Rp 33,797

Rp 78,573,478,001 Rp 33,797

Rp 84,671,974,398 Rp 33,797

Rp24,868,782,447 Rp76,338,547,423 10%

Rp 26,801,910,041 Rp 83,883,470,145 10%

Rp 28,710,213,183 Rp 91,806,658,585 9%

Rp 29,146,533,811 Rp 97,045,202,050 6%

Rp 29,621,059,526 Rp 102,765,411,342 6%

Rp 30,018,563,465 Rp 108,592,041,466 6%

Rp 30,517,415,418 Rp 115,189,389,816 6%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp 177,840 53,022 Rp 195,000 56,204 Rp 196,560 59,576 Rp 202,800 63,151 Rp 209,040 66,940 Rp 215,280 70,956 Rp 221,520 75,213

Rp 9,429,508,151 12%

Rp 10,959,735,350 16%

Rp 11,710,258,027 7%

Rp 12,806,932,985 9%

Rp 13,993,052,009 9%

Rp 15,275,400,358 9%

Rp 16,661,255,521 9%

TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp53,047,280,818 10% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp85,768,055,574 10% Rp 58,856,435,241 11% Rp 94,843,205,496 11% Rp 64,186,335,315 9% Rp 103,516,916,612 9% Rp 69,100,923,943 8% Rp 109,852,135,035 6% Rp 74,436,318,480 8% Rp 116,758,463,351 6% Rp 80,030,435,533 8% Rp 123,867,441,824 6% Rp 86,213,049,771 8% Rp 131,850,645,336 6%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-36

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Biaya O&M untuk Skenario-1
No 1 Komponen 2023 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp 917,233 65,457 Rp 930,960 69,384 Rp 961,141 73,547 Rp 983,243 77,960 Rp 1,005,396 82,637 Rp 1,022,665 87,596 2024 2025 Jangka Panjang 2026 2027 2028

Rp 60,038,928,544 Rp 14,620,734,286 Rp 74,659,662,830 7%

Rp 64,593,721,080 Rp 15,497,978,344 Rp 80,091,699,424 7%

Rp 70,689,050,201 Rp 16,427,857,044 Rp 87,116,907,246 9%

Rp 76,653,462,844 Rp 17,413,528,467 Rp 94,066,991,311 8%

Rp 83,083,304,096 Rp 18,458,340,175 Rp101,541,644,271 8%

Rp 89,580,993,401 Rp 19,565,840,585 Rp 109,146,833,987 7%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp 917,233 99,399 Rp 930,960 105,363 Rp 961,141 111,684 Rp 983,243 118,385 Rp 1,005,396 125,489 Rp 1,022,665 133,018

Rp 91,171,768,673 Rp 31,157

Rp 98,088,422,610 Rp 31,157

Rp107,344,449,493 Rp 31,157

Rp116,401,673,912 Rp 31,157

Rp126,165,672,262 Rp 31,157

Rp 136,032,700,882 Rp 29,246

Rp 28,578,403,537 Rp 119,750,172,210 4%

Rp 29,006,108,671 Rp127,094,531,281 6%

Rp 29,946,456,938 Rp137,290,906,431 8%

Rp 30,635,093,795 Rp147,036,767,708 7%

Rp 31,325,306,535 Rp157,490,978,797 7%

Rp 29,908,957,800 Rp 165,941,658,683 5%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp 234,000 79,726 Rp 249,600 84,510 Rp 265,200 89,580 Rp 280,800 94,955 Rp 296,400 100,652 Rp 312,000 106,692

Rp 18,655,912,872 12%

Rp 21,093,618,820 13%

Rp 23,756,688,196 13%

Rp 26,663,388,870 12%

Rp 29,833,369,547 12%

Rp 33,287,759,705 12%

TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp 93,315,575,702 8% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp 138,406,085,081 5% Rp101,185,318,244 8% Rp148,188,150,101 7% Rp110,873,595,442 10% Rp161,047,594,627 9% Rp120,730,380,181 9% Rp173,700,156,577 8% Rp131,375,013,817 9% Rp187,324,348,344 8% Rp 142,434,593,691 8% Rp 199,229,418,387 6%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-37

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Biaya O&M untuk Skenario-2
No 1 Komponen 2009 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp 121,279 28,952 Rp 122,387 30,689 Rp Rp Rp 124,031 32,530 4,034,726,480 7,266,057,013 Rp 126,240 34,482 Rp 125,922 36,551 Rp 126,229 38,744 Rp 128,753 41,068 Jangka Pendek 2010 2011 2012 Jangka Menengah 2013 2014 2015

Rp 3,511,202,124 Rp 6,466,764,875 Rp 9,977,966,999 -23%

Rp 3,755,884,239 Rp 6,854,770,767 Rp 10,610,655,006 6%

Rp 4,352,960,676 Rp 7,702,020,434 Rp12,054,981,110 7%

Rp 4,602,519,827 Rp 8,164,141,660 Rp12,766,661,487 6%

Rp 4,890,564,630 Rp 8,653,990,160 Rp13,544,554,789 6%

Rp 5,287,683,244 Rp 9,173,229,569 Rp14,460,912,813 7%

Rp 11,300,783,493 7%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp 121,279 43,964 Rp 122,387 46,602 Rp Rp Rp Rp Rp 124,031 49,398 6,126,910,627 26,662 3,306,913,459 9,433,824,085 14% Rp 126,240 52,362 Rp 125,922 55,504 Rp 126,229 58,834 Rp 128,753 62,364

Rp 5,331,915,736 Rp 20,085

Rp 5,703,476,349 Rp 21,198

Rp 6,610,163,329 Rp 27,753

Rp 6,989,129,939 Rp 28,898

Rp 7,426,538,713 Rp 29,860

Rp 8,029,580,894 Rp 30,873

Rp 2,435,824,925 Rp 7,767,740,661 -40%

Rp 2,594,321,099 Rp 8,297,797,449 7%

Rp 3,503,503,151 Rp10,113,666,480 7%

Rp 3,638,842,809 Rp10,627,972,748 5%

Rp 3,769,143,071 Rp11,195,681,784 5%

Rp 3,975,034,510 Rp12,004,615,403 7%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp Rp 8,640 35,263 304,671,812 Rp Rp 11,520 37,379 430,602,828 41% TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp 10,282,638,812 -21% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp 8,072,412,473 -38% Rp 11,041,257,834 7% Rp 8,728,400,277 8% Rp 11,985,441,990 9% Rp 10,118,482,582 16% Rp12,901,675,451 8% Rp10,960,360,821 8% Rp14,048,798,633 9% Rp11,910,109,893 9% Rp15,175,433,238 8% Rp12,826,560,233 8% Rp16,477,765,828 9% Rp14,021,468,419 9% Rp Rp 17,280 39,621 684,658,497 59% Rp Rp 20,160 41,999 846,694,341 24% Rp 28,800 44,519 Rp 34,560 47,190 Rp 40,320 50,021

Rp 1,282,137,145 51%

Rp 1,630,878,449 27%

Rp 2,016,853,015 24%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-38

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Biaya O&M untuk Skenario-2
No 1 Komponen 2016 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp 127,010 43,532 Rp Rp 124,908 46,144 5,763,814,473 Rp Rp 124,076 48,913 6,068,936,764 Rp Rp 124,583 51,848 6,459,325,117 Rp Rp 119,425 54,959 6,563,412,981 Rp Rp 116,309 58,256 6,775,701,946 Rp Rp 112,230 61,751 6,930,354,695 2017 2018 Jangka Panjang 2019 2020 2021 2022

Rp 5,529,026,190 Rp 9,723,623,344 Rp15,252,649,534 5%

Rp 10,307,040,744 Rp 16,070,855,217 5%

Rp 10,925,463,189 Rp 16,994,399,952 6%

Rp 11,580,990,980 Rp 18,040,316,097 6%

Rp 12,275,850,439 Rp 18,839,263,419 4%

Rp 13,012,401,465 Rp 19,788,103,412 5%

Rp 13,793,145,553 Rp 20,723,500,248 5%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp 127,010 66,106 Rp Rp Rp Rp 124,908 70,072 8,752,607,226 32,901 4,109,673,791 Rp Rp Rp Rp 124,076 74,277 9,215,948,921 33,797 4,193,451,097 Rp Rp Rp Rp 124,583 78,733 9,808,770,903 33,797 4,210,563,774 Rp Rp Rp Rp 119,425 83,457 9,966,832,928 33,797 4,036,239,903 Rp 116,309 88,465 Rp 112,230 93,772

Rp 8,396,070,833 Rp 31,941

Rp 10,289,203,113 Rp Rp 33,797 3,930,933,242

Rp 10,524,050,152 Rp Rp 33,797 3,793,070,997

Rp 4,056,751,746 Rp12,452,822,579 4%

Rp 12,862,281,017 3%

Rp 13,409,400,018 4%

Rp 14,019,334,677 5%

Rp 14,003,072,830 0%

Rp 14,220,136,355 2%

Rp 14,317,121,150 1%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp 54,720 53,022 Rp Rp 69,120 56,204 3,884,804,653 34% Rp Rp 86,400 59,576 5,147,366,166 33% Rp Rp 100,800 63,151 6,365,576,158 24% Rp Rp 123,840 66,940 8,289,798,894 30% Rp 144,000 70,956 Rp 167,040 75,213

Rp 2,901,387,123 44%

Rp 10,217,659,102 23%

Rp 12,563,633,632 23%

TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp18,154,036,657 10% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp15,354,209,703 10% Rp 19,955,659,871 10% Rp 16,747,085,670 9% Rp 22,141,766,118 11% Rp 18,556,766,184 11% Rp 24,405,892,256 10% Rp 20,384,910,835 10% Rp 27,129,062,314 11% Rp 22,292,871,725 9% Rp 30,005,762,514 11% Rp 24,437,795,457 10% Rp 33,287,133,880 11% Rp 26,880,754,782 10%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-39

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Biaya O&M untuk Skenario-2
No 1 Komponen 2023 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp Rp 107,309 65,457 7,024,051,925 Rp Rp 103,233 69,384 7,162,736,712 Rp 96,117 73,547 Rp Rp 89,803 77,960 7,000,996,690 Rp 83,217 82,637 Rp Rp 75,105 87,596 6,578,916,742 2024 2025 Jangka Panjang 2026 2027 2028

Rp 7,069,121,294 Rp 16,427,857,044 Rp 23,496,978,338 4%

Rp 6,876,832,605 Rp 18,458,340,175 Rp 25,335,172,780 4%

Rp 14,620,734,286 Rp 21,644,786,212 4%

Rp 15,497,978,344 Rp 22,660,715,056 5%

Rp 17,413,528,467 Rp 24,414,525,157 4%

Rp 19,565,840,585 Rp 26,144,757,327 3%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp 107,309 99,399 Rp 103,233 105,363 Rp 96,117 111,684 Rp 89,803 118,385 Rp 83,217 125,489 Rp Rp Rp Rp 75,105 133,018 9,990,376,075 29,246 2,196,543,438

Rp 10,666,333,541 Rp Rp 31,157 3,343,433,923

Rp 10,876,932,524 Rp Rp 31,157 3,216,459,990

Rp 10,734,773,371 Rp 31,157

Rp 10,631,323,147 Rp Rp 31,157 2,797,997,407

Rp 10,442,774,491 Rp 31,157

Rp 2,994,737,315 Rp 13,729,510,686 -3%

Rp 2,592,806,000 Rp 13,035,580,491 -3%

Rp 14,009,767,464 -2%

Rp 14,093,392,514 1%

Rp 13,429,320,553 -2%

Rp 12,186,919,513 -7%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp 187,200 79,726 Rp 216,000 84,510 Rp 250,560 89,580 Rp 279,360 94,955 Rp 305,280 100,652 Rp 345,600 106,692

Rp 14,924,730,297 19%

Rp 18,254,093,210 22%

Rp 22,445,233,011 23%

Rp 26,526,653,542 18%

Rp 30,727,162,804 16%

Rp 36,872,595,365 20%

TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp 36,569,516,509 10% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp 28,934,497,761 8% Rp 40,914,808,266 12% Rp 32,347,485,724 12% Rp 45,942,211,349 12% Rp 36,174,743,697 12% Rp 50,941,178,699 11% Rp 39,955,974,096 10% Rp 56,062,335,584 10% Rp 43,762,743,296 10% Rp 63,017,352,692 12% Rp 49,059,514,878 12%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-40

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Biaya O&M untuk Skenario-3
No 1 Komponen 2009 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp Rp 216,103 28,952 Rp Rp 232,972 30,689 Rp Rp Rp Rp 221,287 32,530 7,198,435,105 7,266,057,013 Rp Rp 225,345 34,482 Rp Rp 230,702 36,551 Rp Rp 235,522 38,744 Rp Rp 269,585 41,068 Jangka Pendek 2010 2011 2012 Jangka Menengah 2013 2014 2015

Rp 6,256,507,987 Rp 6,466,764,875 Rp 12,723,272,862 -2%

Rp 7,149,592,669 Rp 6,854,770,767 Rp 14,004,363,437 10%

Rp 7,770,274,274 Rp 7,702,020,434 Rp15,472,294,708 7%

Rp 8,432,314,980 Rp 8,164,141,660 Rp16,596,456,640 7%

Rp 9,124,986,827 Rp 8,653,990,160 Rp17,778,976,987 7%

Rp11,071,377,206 Rp 9,173,229,569 Rp20,244,606,775 14%

Rp 14,464,492,118 3%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp Rp 216,103 43,964 Rp Rp 232,972 46,602 Rp Rp 221,287 49,398 Rp Rp 225,345 52,362 Rp Rp 230,702 55,504 Rp Rp 235,522 58,834 Rp Rp 269,585 62,364

Rp 9,500,784,120 Rp 20,085

Rp 10,856,972,714 Rp 21,198

Rp 10,931,142,112 Rp Rp 26,662 5,899,929,536

Rp11,799,505,185 Rp 27,753

Rp12,804,843,281 Rp 28,898

Rp13,856,696,119 Rp 29,860

Rp16,812,376,004 Rp 30,873

Rp 4,340,324,925 Rp 13,841,109,045 6%

Rp 4,938,474,653 Rp 15,795,447,367 14%

Rp 6,253,945,862 Rp18,053,451,047 7%

Rp 6,666,754,273 Rp19,471,597,553 8%

Rp 7,032,599,194 Rp20,889,295,314 7%

Rp 8,322,946,825 Rp25,135,322,828 20%

Rp 16,831,071,648 7%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp Rp 14,400 35,263 507,786,354 Rp Rp 17,280 37,379 645,904,242 27% TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp 13,231,059,216 2% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp 14,348,895,399 10% Rp 14,650,267,679 11% Rp 16,441,351,609 15% Rp 15,377,370,114 5% Rp 17,743,949,644 8% Rp16,560,901,718 8% Rp19,142,058,057 8% Rp17,878,593,786 8% Rp20,753,734,699 8% Rp19,273,948,899 8% Rp22,384,267,225 8% Rp21,973,337,931 14% Rp26,864,053,984 20% Rp Rp 23,040 39,621 912,877,996 41% Rp 25,920 41,999 Rp 28,800 44,519 Rp 31,680 47,190 Rp 34,560 50,021

Rp 1,088,607,010 19%

Rp 1,282,137,145 18%

Rp 1,494,971,912 17%

Rp 1,728,731,156 16%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-41

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Biaya O&M untuk Skenario-3
No 1 Komponen 2016 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp Rp 247,128 43,532 Rp Rp 254,349 46,144 Rp Rp 262,569 48,913 Rp Rp 269,456 51,848 Rp Rp 277,184 54,959 Rp Rp 285,973 58,256 Rp Rp 294,907 61,751 2017 2018 Jangka Panjang 2019 2020 2021 2022

Rp10,758,054,889 Rp 9,723,623,344 Rp20,481,678,233 1%

Rp 11,736,739,173 Rp 10,307,040,744 Rp 22,043,779,917 8%

Rp 12,843,044,008 Rp 10,925,463,189 Rp 23,768,507,196 8%

Rp 13,970,691,664 Rp 11,580,990,980 Rp 25,551,682,644 8%

Rp 15,233,641,579 Rp 12,275,850,439 Rp 27,509,492,018 8%

Rp 16,659,685,089 Rp 13,012,401,465 Rp 29,672,086,555 8%

Rp 18,210,937,080 Rp 13,793,145,553 Rp 32,004,082,633 8%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp Rp 247,128 66,106 Rp Rp 254,349 70,072 Rp Rp 262,569 74,277 Rp Rp 269,456 78,733 Rp Rp 277,184 83,457 Rp Rp 285,973 88,465 Rp Rp 294,907 93,772

Rp16,336,582,206 Rp 31,941

Rp 17,822,757,581 Rp Rp 32,901 8,368,445,861

Rp 19,502,730,407 Rp Rp 33,797 8,874,153,593

Rp 21,215,113,253 Rp Rp 33,797 9,106,909,337

Rp 23,132,958,561 Rp Rp 33,797 9,368,088,247

Rp 25,298,468,710 Rp Rp 33,797 9,665,140,297

Rp 27,654,113,474 Rp Rp 33,797 9,967,076,768

Rp 7,893,389,624 Rp24,229,971,830 -4%

Rp 26,191,203,442 8%

Rp 28,376,884,000 8%

Rp 30,322,022,589 7%

Rp 32,501,046,808 7%

Rp 34,963,609,007 8%

Rp 37,621,190,241 8%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp 37,440 53,022 Rp Rp 40,320 56,204 2,266,136,048 14% Rp Rp 43,200 59,576 2,573,683,083 14% Rp Rp 46,080 63,151 2,909,977,672 13% Rp Rp 48,960 66,940 3,277,362,354 13% Rp Rp 51,840 70,956 3,678,357,277 12% Rp Rp 54,720 75,213 4,115,673,086 12%

Rp 1,985,159,611 15%

TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp22,466,837,843 2% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp26,215,131,441 -2% Rp 24,309,915,965 8% Rp 28,457,339,489 9% Rp 26,342,190,279 8% Rp 30,950,567,083 9% Rp 28,461,660,317 8% Rp 33,232,000,262 7% Rp 30,786,854,371 8% Rp 35,778,409,161 8% Rp 33,350,443,831 8% Rp 38,641,966,284 8% Rp 36,119,755,720 8% Rp 41,736,863,328 8%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-42

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Biaya O&M untuk Skenario-3
No 1 Komponen 2023 Pola Konvensional BERDASARKAN APBD 2007 - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan & TPA (per m3) - Biaya O&M pengangkutan dan TPA - Biaya manajemen kedinasan/tidak langsung** - Total biaya Rp Rp 301,846 65,457 Rp Rp 311,128 69,384 Rp Rp 320,942 73,547 Rp Rp 331,310 77,960 Rp Rp 338,921 82,637 Rp Rp 340,694 87,596 2024 2025 Jangka Panjang 2026 2027 2028

Rp 19,757,817,020 Rp 14,620,734,286 Rp 34,378,551,306 7%

Rp 21,587,298,974 Rp 15,497,978,344 Rp 37,085,277,318 8%

Rp 23,604,297,081 Rp 16,427,857,044 Rp 40,032,154,125 8%

Rp 25,828,904,435 Rp 17,413,528,467 Rp 43,242,432,902 8%

Rp 28,007,575,503 Rp 18,458,340,175 Rp 46,465,915,678 7%

Rp 29,843,312,901 Rp 19,565,840,585 Rp 49,409,153,486 6%

BERDASARKAN KEBUTUHAN IDEAL - Jumlah sampah terlayani (m3/tahun)** - Biaya satuan pengangkutan (per m3) - Total biaya O&M Pengangkutan - Biaya satuan TPA (Controled) - Total biaya pengelolaan di TPA (Controled) - Total biaya Rp Rp 301,846 99,399 Rp Rp 311,128 105,363 Rp Rp 320,942 111,684 Rp Rp 331,310 118,385 Rp Rp 338,921 125,489 Rp Rp 340,694 133,018

Rp 30,003,119,085 Rp Rp 31,157 9,404,679,289

Rp 32,781,268,355 Rp Rp 31,157 9,693,876,270

Rp 35,844,169,198 Rp 31,157

Rp 39,222,333,865 Rp 31,157

Rp 42,530,742,249 Rp 31,157

Rp 45,318,390,688 Rp Rp 29,246 9,963,970,618

Rp 9,999,640,172 Rp 45,843,809,369 8%

Rp 10,322,702,728 Rp 49,545,036,593 8%

Rp 10,559,833,862 Rp 53,090,576,111 7%

Rp 39,407,798,373 5%

Rp 42,475,144,625 8%

Rp 55,282,361,306 4%

Pola 3R (Skala Kelurahan) - Jumlah sampah terlayani (m3 per tahun) - Biaya satuan pengelolaan - Biaya O&M Rp Rp 57,600 79,726 4,592,224,707 12% TOTAL BIAYA POLA KONVENSIONAL + 3R - Berdasarkan APBD 2007 Rp 38,970,776,013 8% - Berdasarkan kebutuhan ideal Rp 44,000,023,080 5% Rp 42,196,423,416 8% Rp 47,586,290,723 8% Rp 45,707,960,174 8% Rp 51,519,615,418 8% Rp 55,834,861,659 8% Rp 49,532,257,969 8% Rp 53,423,009,143 8% Rp 60,047,669,576 8% Rp 57,090,944,187 7% Rp 62,964,152,007 5% Rp Rp 60,480 84,510 5,111,146,099 11% Rp 63,360 89,580 Rp Rp 66,240 94,955 6,289,825,067 11% Rp 69,120 100,652 Rp Rp 72,000 106,692 7,681,790,701 10%

Rp 5,675,806,049 11%

Rp 6,957,093,465 11%

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-43

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-1
Komponen Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp 8,075 100% Rp 8,075 0% 0% Rp Rp Rp 7,739 100% Rp 7,739 0% 0% Rp Rp Rp 1,745 100% Rp 1,745 0% 0% Rp Rp Rp 2,642 100% Rp 2,642 0% 0% Rp Rp Rp 2,496 100% Rp 2,496 0% 0% Rp Rp Rp 2,646 100% Rp 2,646 0% 0% Rp Rp Rp 3,146 100% Rp 3,146 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp 20,611 100% Rp 20,611 0% 0% Rp Rp Rp 11,500 100% Rp 11,500 0% 0% Rp Rp Rp 1,781 100% Rp 1,781 0% 0% Rp Rp Rp 1,919 100% Rp 1,919 0% 0% Rp Rp Rp 2,790 100% Rp 2,790 0% 0% Rp Rp Rp 3,064 100% Rp 3,064 0% 0% Rp Rp Rp 4,767 100% Rp 4,767 0% 0% Satuan Jangka Pendek 2009 2010 2011 2012 Jangka Menengah 2013 2014 2015

Rp 10,806 100% Rp 10,806 0% 0% -

Rp 23,932 100% Rp 23,932 0% Rp Rp 0% -

Rp 26,225 100% Rp 26,225 0% Rp Rp 0% -

Rp 28,750 100% Rp 28,750 0% Rp Rp 0% -

Rp 31,900 100% Rp 31,900 0% Rp Rp 0% -

Rp 35,401 100% Rp 35,401 0% Rp Rp 0% -

Rp 39,735 100% Rp 39,735 0% Rp Rp 0% -

Rp 2,200 100% Rp 2,200 0% 0% -

Rp 4,140 100% Rp 4,140 0% Rp Rp 0% -

Rp 4,821 100% Rp 4,821 0% Rp Rp 0% -

Rp 5,635 100% Rp 5,635 0% Rp Rp 0% -

Rp 6,528 100% Rp 6,528 0% Rp Rp 0% -

Rp 7,362 100% Rp 7,362 0% Rp Rp 0% -

Rp 8,428 100% Rp 8,428 0% Rp Rp 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-44

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-1
Komponen Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp 2,060 100% Rp 2,060 0% 0% Rp Rp Rp 3,218 100% Rp 3,218 0% 0% Rp Rp Rp 3,246 100% Rp 3,246 0% 0% Rp Rp Rp 2,430 100% Rp 2,430 0% 0% Rp Rp Rp 2,923 100% Rp 2,923 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2,730 100% 2,730 0% 0% 15,275 100% 15,275 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3,284 100% 3,284 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp 3,650 100% Rp 3,650 0% 0% Rp Rp Rp 3,953 100% Rp 3,953 0% 0% Rp Rp Rp 4,146 100% Rp 4,146 0% 0% Rp Rp Rp 1,680 100% Rp 1,680 0% 0% Rp Rp Rp 1,881 100% Rp 1,881 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1,834 100% 1,834 0% 0% 64,755 100% 64,755 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2,114 100% 2,114 0% 0% Satuan 2016 2017 2018 Jangka Panjang 2019 2020 2021 2022

Rp 43,618 100% Rp 43,618 0% 0% -

Rp 47,897 100% Rp 47,897 0% Rp Rp 0% -

Rp 52,476 100% Rp 52,476 0% Rp Rp 0% -

Rp 56,294 100% Rp 56,294 0% Rp Rp 0% -

Rp 60,443 100% Rp 60,443 0% Rp Rp 0% -

Rp 69,552 100% Rp 69,552 0% 0% -

Rp 9,430 100% Rp 9,430 0% 0% -

Rp 10,960 100% Rp 10,960 0% Rp Rp 0% -

Rp 11,710 100% Rp 11,710 0% Rp Rp 0% -

Rp 12,807 100% Rp 12,807 0% Rp Rp 0% -

Rp 13,993 100% Rp 13,993 0% Rp Rp 0% -

Rp 16,661 100% Rp 16,661 0% 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-45

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-1
Komponen Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3,643 100% 3,643 0% 0% Rp Rp Rp Rp 4,909 100% 4,909 0% 0% Rp Rp Rp Rp 5,204 100% 5,204 0% 0% Rp Rp Rp Rp 5,516 100% 5,516 0% 0% Rp Rp Rp Rp 6,369 100% 6,369 0% 0% Rp Rp Rp Rp 6,198 100% 6,198 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2,241 100% 2,241 0% 0% Rp Rp Rp Rp 2,312 100% 2,312 0% 0% Rp Rp Rp Rp 5,103 100% 5,103 0% 0% Rp Rp Rp Rp 4,424 100% 4,424 0% 0% Rp Rp Rp Rp 4,690 100% 4,690 0% 0% Rp Rp Rp Rp 5,067 100% 5,067 0% 0% Satuan 2023 2024 Jangka Panjang 2025 2026 2027 2028

Rp 74,660 100% Rp 74,660 0% 0% -

Rp 80,092 100% Rp 80,092 0% Rp Rp 0% -

Rp 87,117 100% Rp 87,117 0% Rp Rp 0% -

Rp 94,067 100% Rp 94,067 0% Rp Rp 0% -

Rp101,542 100% Rp 101,542 0% Rp Rp 0% -

Rp 109,147 100% Rp 109,147 0% Rp Rp 0% -

Rp 18,656 100% Rp 18,656 0% 0% -

Rp 21,094 100% Rp 21,094 0% Rp Rp 0% -

Rp 23,757 100% Rp 23,757 0% Rp Rp 0% -

Rp 26,663 100% Rp 26,663 0% Rp Rp 0% -

Rp 29,833 100% Rp 29,833 0% Rp Rp 0% -

Rp 33,288 100% Rp 33,288 0% Rp Rp 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-46

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-2
Komponen Satuan Jangka Pendek 2009 Rp 11,800 100% Rp 11,800 0% Rp Rp 0% Rp Rp 2010 Rp 1,165 100% Rp 1,165 0% 0% Rp Rp 2011 Rp 1,388 100% Rp 1,388 0% 0% Rp Rp 2012 Rp 1,524 100% Rp 1,524 0% 0% Rp Rp Jangka Menengah 2013 Rp 1,345 100% Rp 1,345 0% 0% Rp Rp 2014 Rp 1,783 100% Rp 1,783 0% 0% Rp Rp 2015 Rp 1,928 100% Rp 1,928 0% 0% -

Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 4,373 100% Rp 4,373 0% 0% 305 100% 305 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 913 100% 913 0% 0% 431 100% 431 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1,254 100% Rp 1,254 0% 0% 685 100% 685 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1,026 100% Rp 1,026 0% 0% 847 100% 847 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp 1,730 100% Rp 1,730 0% 0% Rp Rp Rp 1,493 100% Rp 1,493 0% 0% Rp Rp Rp 1,583 100% Rp 1,583 0% 0% Rp Rp

Rp 9,978 100% Rp 9,978 0% 0% -

Rp 10,611 100% Rp 10,611 0% Rp Rp 0% -

Rp 11,301 100% Rp 11,301 0% Rp Rp 0% -

Rp 12,055 100% Rp 12,055 0% Rp Rp 0% -

Rp 12,767 100% Rp 12,767 0% Rp Rp 0% -

Rp 13,545 100% Rp 13,545 0% Rp Rp 0% -

Rp 14,461 100% Rp 14,461 0% Rp Rp 0% -

Rp 1,282 100% Rp 1,282 0% 0% -

Rp 1,631 100% Rp 1,631 0% Rp Rp 0% -

Rp 2,017 100% Rp 2,017 0% Rp Rp 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-47

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-2
Komponen Satuan Jangka Panjang 2016 Rp 2,813 100% Rp 2,813 0% Rp Rp 0% Rp Rp 2017 Rp 3,066 100% Rp 3,066 0% 0% Rp Rp 2018 Rp 3,385 100% Rp 3,385 0% 0% Rp Rp 2019 Rp 4,309 100% Rp 4,309 0% 0% Rp Rp 2020 Rp 5,725 100% Rp 5,725 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2021 Rp 6,228 100% 6,228 0% 0% 19,788 100% 19,788 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp 2022 Rp 7,099 100% 7,099 0% 0% -

Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp 3,080 100% Rp 3,080 0% 0% Rp Rp Rp 3,603 100% Rp 3,603 0% 0% Rp Rp Rp 4,249 100% Rp 4,249 0% 0% Rp Rp Rp 4,048 100% Rp 4,048 0% 0% Rp Rp Rp 8,074 100% Rp 8,074 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 8,473 100% 8,473 0% 0% 10,218 100% 10,218 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 8,105 100% 8,105 0% 0% Rp Rp

Rp 15,253 100% Rp 15,253 0% 0% -

Rp 16,071 100% Rp 16,071 0% Rp Rp 0% -

Rp 16,994 100% Rp 16,994 0% Rp Rp 0% -

Rp 18,040 100% Rp 18,040 0% Rp Rp 0% -

Rp 18,839 100% Rp 18,839 0% Rp Rp 0% -

Rp 20,724 100% Rp 20,724 0% 0% -

Rp 2,901 100% Rp 2,901 0% 0% -

Rp 3,885 100% Rp 3,885 0% Rp Rp 0% -

Rp 5,147 100% Rp 5,147 0% Rp Rp 0% -

Rp 6,366 100% Rp 6,366 0% Rp Rp 0% -

Rp 8,290 100% Rp 8,290 0% Rp Rp 0% -

Rp 12,564 100% Rp 12,564 0% 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-48

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-2
Komponen Satuan Jangka Panjang 2023 Rp Rp Rp Rp 7,765 100% 7,765 0% 0% Rp Rp Rp 2024 Rp 8,790 100% 8,790 0% 0% Rp Rp 2025 Rp 14,043 100% Rp 14,043 0% 0% Rp Rp 2026 Rp 12,916 100% Rp 12,916 0% 0% Rp Rp 2027 Rp 14,523 100% Rp 14,523 0% 0% Rp Rp 2028 Rp 19,339 100% Rp 19,339 0% 0% -

Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp 8,016 100% 8,016 0% 0% Rp Rp Rp 10,835 100% Rp 10,835 0% 0% Rp Rp Rp Rp 9,977 100% 9,977 0% 0% Rp Rp Rp Rp 8,099 100% 8,099 0% 0% Rp Rp Rp Rp 7,942 100% 7,942 0% 0% Rp Rp Rp 12,564 100% Rp 12,564 0% 0% Rp Rp

Rp 21,645 100% Rp 21,645 0% 0% -

Rp 22,661 100% Rp 22,661 0% Rp Rp 0% -

Rp 23,497 100% Rp 23,497 0% Rp Rp 0% -

Rp 24,415 100% Rp 24,415 0% Rp Rp 0% -

Rp 25,335 100% Rp 25,335 0% Rp Rp 0% -

Rp 26,145 100% Rp 26,145 0% Rp Rp 0% -

Rp 14,925 100% Rp 14,925 0% 0% -

Rp 18,254 100% Rp 18,254 0% Rp Rp 0% -

Rp 22,445 100% Rp 22,445 0% Rp Rp 0% -

Rp 26,527 100% Rp 26,527 0% Rp Rp 0% -

Rp 30,727 100% Rp 30,727 0% Rp Rp 0% -

Rp 36,873 100% Rp 36,873 0% Rp Rp 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-49

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-3
Komponen Satuan Jangka Pendek 2009 Rp Rp Rp Rp 557 100% 557 0% 0% Rp Rp 2010 Rp 1,022 100% Rp 1,022 0% 0% Rp Rp Rp 2011 Rp 238 100% 238 0% 0% Rp Rp Rp 2012 Rp 252 100% 252 0% 0% Rp Rp Rp Jangka Menengah 2013 Rp 268 100% 268 0% 0% Rp Rp Rp 2014 Rp 284 100% 284 0% 0% Rp Rp Rp 2015 Rp 301 100% 301 0% 0% -

Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1,169 100% Rp 1,169 0% 0% 508 100% 508 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1,124 100% Rp 1,124 0% 0% 646 100% 646 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1,253 100% Rp 1,253 0% 0% 913 100% 913 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp 1,328 100% Rp 1,328 0% 0% Rp Rp Rp 1,408 100% Rp 1,408 0% 0% Rp Rp Rp 1,492 100% Rp 1,492 0% 0% Rp Rp Rp 1,582 100% Rp 1,582 0% 0% Rp Rp

Rp 12,723 100% Rp 12,723 0% 0% -

Rp 14,004 100% Rp 14,004 0% Rp Rp 0% -

Rp 14,464 100% Rp 14,464 0% Rp Rp 0% -

Rp 15,472 100% Rp 15,472 0% Rp Rp 0% -

Rp 16,596 100% Rp 16,596 0% Rp Rp 0% -

Rp 17,779 100% Rp 17,779 0% Rp Rp 0% -

Rp 20,245 100% Rp 20,245 0% Rp Rp 0% -

Rp 1,089 100% Rp 1,089 0% 0% -

Rp 1,282 100% Rp 1,282 0% Rp Rp 0% -

Rp 1,495 100% Rp 1,495 0% Rp Rp 0% -

Rp 1,729 100% Rp 1,729 0% Rp Rp 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-50

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-3
Komponen Satuan Jangka Panjang 2016 Rp Rp Rp Rp 351 100% 351 0% 0% Rp Rp Rp 2017 Rp 34 100% 34 0% 0% Rp Rp Rp 2018 Rp 439 100% 439 0% 0% Rp Rp Rp 2019 Rp 38 100% 38 0% 0% Rp Rp Rp 2020 Rp 493 100% 493 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2021 Rp 683 100% 683 0% 0% 29,672 100% 29,672 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp 2022 Rp 554 100% 554 0% 0% -

Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp 2,486 100% Rp 2,486 0% 0% Rp Rp Rp 2,926 100% Rp 2,926 0% 0% Rp Rp Rp 2,794 100% Rp 2,794 0% 0% Rp Rp Rp 3,743 100% Rp 3,743 0% 0% Rp Rp Rp 4,024 100% Rp 4,024 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3,694 100% 3,694 0% 0% 3,678 100% 3,678 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3,527 100% 3,527 0% 0% 4,116 100% 4,116 0% 0% Rp Rp

Rp 20,482 100% Rp 20,482 0% 0% -

Rp 22,044 100% Rp 22,044 0% Rp Rp 0% -

Rp 23,769 100% Rp 23,769 0% Rp Rp 0% -

Rp 25,552 100% Rp 25,552 0% Rp Rp 0% -

Rp 27,509 100% Rp 27,509 0% Rp Rp 0% -

Rp 32,004 100% Rp 32,004 0% 0% -

Rp 1,985 100% Rp 1,985 0% 0% -

Rp 2,266 100% Rp 2,266 0% Rp Rp 0% -

Rp 2,574 100% Rp 2,574 0% Rp Rp 0% -

Rp 2,910 100% Rp 2,910 0% Rp Rp 0% -

Rp 3,277 100% Rp 3,277 0% Rp Rp 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-51

Kegiatan Penyusunan Kebijakan Manajemen Pengelolaan Persampahan Di Kabupaten Bandung Lanjutan Tabel Alternatif Pembiayaan untuk Skenario-3
Komponen Satuan Jangka Panjang 2023 Rp Rp Rp Rp 48 100% 48 0% 0% Rp Rp Rp 2024 Rp 686 100% 686 0% 0% Rp Rp Rp 2025 Rp 54 100% 54 0% 0% Rp Rp Rp 2026 Rp 771 100% 771 0% 0% Rp Rp Rp 2027 Rp 1,044 100% 1,044 0% 0% Rp Rp Rp 2028 Rp 930 100% 930 0% 0% -

Pola Konvensional Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Pola 3R Biaya Investasi (Juta) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Biaya O&M (RP) - APBD - Swasta - Masyarakat % Jumlah % Jumlah % Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 4,151 100% 4,151 0% 0% 4,592 100% 4,592 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3,353 100% 3,353 0% 0% 5,111 100% 5,111 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 5,202 100% 5,202 0% 0% 5,676 100% 5,676 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3,768 100% 3,768 0% 0% 6,290 100% 6,290 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3,788 100% 3,788 0% 0% 6,957 100% 6,957 0% 0% Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3,117 100% 3,117 0% 0% 7,682 100% 7,682 0% 0% Rp Rp

Rp 34,379 100% Rp 34,379 0% 0% -

Rp 37,085 100% Rp 37,085 0% Rp Rp 0% -

Rp 40,032 100% Rp 40,032 0% Rp Rp 0% -

Rp 43,242 100% Rp 43,242 0% Rp Rp 0% -

Rp 46,466 100% Rp 46,466 0% Rp Rp 0% -

Rp 49,409 100% Rp 49,409 0% Rp Rp 0% -

Bapeda | Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bandung

Hal A-52