Anda di halaman 1dari 48

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Tanah merupakan faktor terpenting dalam tumbuhnya tanaman dalam suatu

sistem pertanaman, pertumbuhan suatu jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah tersedianya unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman berfungsi sebagai pemasok unsur hara, dan tanah secara alami memiliki tingkat ketahanan yang sangat beragam sebagai medium tumbuh tanaman. Pupuk adalah bahan yang diberikan kedalam tanah atau tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman dan dapat berfungsi untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah. Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK, kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lain meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara. Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah. Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK, kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lain meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara. Evaluasi kesuburan tanah dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu melalui pengamatan gejala defisiensi pada tanaman secara visual, analisa tanaman dan analisa tanah. Analisa tanaman meliputi analisa serapan hara makro primer (N, P dan K) dan uji vegetatif tanaman dengan melihat pertumbuhan tanaman. Sedangkan analisa tanah meliputi analisa ketersediaan hara

makro primer (N, P dan K) dalam tanah. Makalah ini dimaksudkan untuk membahas terkait dengan kesuburan tanah, sehingga pemakalah mampu memahami dan menjelaskan dasar-dasar kesuburan tanah, indikator kesuburan tanah, evaluasi kebutuhan pupuk dan perbaikan kesuburan tanah.

1.2

Rumusan masalah o o o o Apakah sampel tanah termasuk tanah yang sehat? Bagaimana kondisi tanah sempel apabila dilihat dari tinggi tanaman jagung dan jumlah daun? Apakah perlakuan pengapuran memberikan dampak yang nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun? Apakah setelah diberi perlakuan pengapuran keadaan tanah sempel menjadi lebih baik untuk sifat tanah?

1.3

Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh pengapuran terhadap

tanah karatan (mottling) dengan pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) 1.4 Tujuan o o o o Untuk mengetahui kadar kesuburan sampel tanah Untuk mengetahui kondisi tanah sempel yang dilihat dari tinggi tanaman jagung dan jumlah daun Untuk mengetahui dampak perlakuan pengapuran terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun Untuk mengetahui dampak perlakuan pengapuran terhadap perbaikan keadaan tanah sempel untuk sifat tanah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesuburan Tanah Definisi Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Tanah yang dapat menyediakan faktor-faktor tumbuh dalam kondisi yang optimum dinyatakan tanah yang subur. Kemampuan tersebut disebut dengan Kesuburan Tanah. Ada 2 pengetian kesuburan tanah yaitu : 1. Kesuburan tanah aktual yaitu kesuburan tanah asli/alamiah. 2. Kesuburan tanah potensial yaitu kesuburan tanah maksimum yang dapat dicapai dengan intervensi teknologi yang mengoptimalkan semua faktor tumbuh. Faktor Kesuburan Tanah 1. Faktor genetik 2. Faktor pembentuk tanah 3. Pengelolaan Macam kesuburan Tanah Kesuburan tanah teridiri dari 3 meliputi : Kesuburan fisik Kesuburan kimia dan Kesuburan biologi Kesuburan fisik Tanah dapat dikatakan memiliki kesuburan fisik yang bagus, yaitu jika : 1. Tanah cukup lunak dan cukup memungkinkan untuk terjadinya perkecambahan dan perkembangan akar yang baik.

2. Tanah memiliki distribusi ukuran pori yang merata sehingga memudahkan terjadinya gerakan udara maupun air yang menunjang perkembangan akar 3. Suhu di daerah perakaran harus tetap pada batas-batas tertentu yang tidak berbahaya.

Kesuburan fisik terdiri dari : a. Tekstur dan struktur tanah b. Aerasi tanah c. Neraca air dalam tanah d. Tekstur dan Struktur Tanah Kesuburan kimia Tanah yang mengandung unsur-unsur hara yang optimum untuk nutrisi tanaman dan tidak terlalu masam ataupun alkalin serta bebas dari unsur-unsur toksik disebut mempunyai kesuburan kimia yang baik. Kesuburan biologi (hayati) Tanah yang memiliki kesuburan biologi yang baik jika : 1. Tanah memiliki bahan organik tinggi yang menunjang keaneka ragaman hayati di dalam tanah. 2. Tanah mengandung mikrobia penambat N tinggi. 3. Tanah mengandung mikrobia penambat P tinggi (Indranada, H.K., 2005) 2.2 Prinsip Pengembangan Tanah yang Baik Kesuburan tanah dapat berkurang dan hilang akibat pengolahan tanah yang kurang hati-hati. Oleh karena tanah sangat penting untuk dijaga, berikut adalah prinsip pengembangan tanah yang baik dapat dilakukan dengan langka-langkah:

a. Melakukan pengolahan tanah sesuai jenis tanah daan harus cocok untuk kondisi biofisik setempat. b. Mengurangi penggunaan bahan-bahan yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). c. Mengurangi penggunaan pupuk buatan yang berlebihan dan membudidayakan pupuk kandang/pupuk organik untuk mengambilkan kesuburan tanah. d. Pengendalian lahan kritis dengan melakukan reboisasi dan penghijauan e. Mengurangi laju erosi tanah, misalnya: pembuatan terasering pada lahan miring f. Penanaman tanaman secara berjalur sejajar garis kontur (contour strip cropping). Cara penanaman ini bertujuan untuk mengurangi atau menahan kecepatan aliran air dan menahan partikel-partikel tanah yang terangkut aliran air. g. Mengurangi kejenuhan tanah dengan melakukan pergiliran tanaman pertanian agar kesuburan tanah tetap terpelihara h. Membuat sengkedan untuk mencegah erosi tanah. i. Menjaga tanah dari penggunaan zat / bahan-bahan kimua yang merugikan. j. Melakukan pergiliran tanaman (croprotation), yaitu penanaman tanaman secara bergantian (bergilir) dalam satu lahan. Jenis tanamannya disesuaikan dengan musim. Fungsinya untuk menjaga agar kesuburan tanah tidak berkurang. k. Meningkatkan kelestarian organisme tanah yang menguntungkan, salah satunya yakni memelihara cacing tanah dalam tanah untuk membantu menggemburkan tanah. l. Melindungi tanah dari curahan langsung air hujan, dengan cara meningkatkan penutupan permukaan tanah, misalnya melalui penggunaan mulsa / seresah dan peningkatan kanopi (tajuk) tanaman untuk mengurangi pukulan butiran hujan pada permukaan tanah.

m. Mencegah terkonsentrasinya air aliran permukaan, khususnya di daerah dengan tanah yang peka erosi alur (riil erosion) dan erosi jurang (gully erosion). n. Untuk daerah beriklim kering, kegiatan terutama ditujukan untuk

meningkatkan simpanan air tanah melalui peningkatan kapasitas infiltrasi dan simpanan air di permukaan tanah melalui pembuatan sumur resapan, rorak atau embung penampung air. o. Sisa tanaman perlu dikembalikan ke permukaan tanah baik secara langsung misalnya dalam bentuk mulsa atau secara tidak langsung misalnya dalam bentuk pupuk kandang dan kompos. p. Perlu dilakukan usaha meningkatkan dan mempertahankan kandungan bahan organik di dalam tanah. Bahan organik penting untuk pengaturan peredaran air dan udara dalam tanah serta untuk memperbaiki struktur tanah. q. Melakukan pengistirahatan tanah. r. Mengurangi pencemaran tanah, missal pembuangan limbah industry dan sampah dalam tanah. s. Metode pengeolahan tanah harus cocok untuk keadaan sosial ekonomi setempat. (Anonymousa, 2013) 2.3 Tinjauan Tentang Topik 2.3.1 Tanah Karatan Karatan merupakan hasil pelapukan batuan tanah yang dipengaruhi oleh adhesi dan kohesi. Karatan berwarna hitam mengandung banyak mangan (Mg) sedangkan berwarna merah mengandung besi (Fe). Karatan merupakan hasil reaksi oksidasi dan reduksi dalam tanah. Karatan menunjukkan bahwa udara masih dapat kedalam tanah setempat sehingga terjadi oksidasi ditempat tersebut dan terbentuk senyawa-senyawa Fe3+ yang berwarna merah. Bila air tidak pernah menggenang tata udara dalam tanah selalu baik, maka seluruh profil tanah dalam keadaan oksidasi (Fe3+) oleh karena itu umumnya berwarna merah atau coklat. (Foth, 1988)

2.3.2 Pengapuran a. Fungsi dan Tujuan Pengapuran Fungsi Pengapuran Pengapuran dapat meningkatkan pH tanah serta dapat menekan kelarutan unsur-unsur yang meracuni tanaman. Dengan pengapuran berarti menambahkan unsur yang mengandung Ca kedalam tanah sehingga dapat meningkatkan ketersediaannya dapat meningkatkan pH tanah yang menyebabkan ketersedian hara menjadi lebih baik. Pengapuran dapat meningkatkan ketersediaan hara P dan K dalam tanah. (Salwati, 2003) Tujuan Pengapuran Menetralkan kemasaman tanah dan meningkatkan ketersediaan unsur hara makro seperti N. P. K. Ca. Mg bagi pemunbuhan tanaman. Pada tanah masam di wilayah tropik pengapuran tujuannya untuk meniadakan pengaruh racun aluminium dan menyediakan' unsur hara Ca bagi tanaman (Hakim er. 2004). Pemberian kapur dalam tanah dapat meningkatkan pH tanah, sehingga unsur hara tanah tersedia optimum. Selain itu pengapuran dapat meningkatkan aktivitas biologi tanah. Pada tanah masam Pemberian kapur untuk menurunkan atau meniadakan pengaruh Al terhadap pertumbuhan tanaman, serta meniadakan selaput Al pada akar tanaman, sehingga tanaman dapat mengambil hara dengan optimum. (Syarifuddin, 2007) b. Jenis - Jenis Pengapuran Jenis jenis pengapuran ditentukan oleh berbagai jenis kapur yang dapat digunakan untuk pengapuran lahan pertanian. Jenis kapur tersebut antara lain: 1. Kapur giling = kapur Super, kalsit kelas 1 (CaCO3) Kapur giling menduduki kelas utama dalam pengapuran lahan pertanian. Bahan aslinya terutama mengandung CaCO3 atau MgCO3 yang dapat mengubah keasaman tanah.
8

2.

Kapur tohor = kapur hidup, kalsit kelas 2 (Quicklime) Kapur giling atau bahan lain yang kaya CaCO3 dipanasi dengan suhu tinggi, terbentuk CO2 dan kapur hidup. Kapur hidup ini terutama terdiri dari CaO jika yang digunakan bahan berkadar Ca tinggi. Kadang-kadang kapur hidup juga masih mengandung MgO bentuk kapur ini biasanya tepung halus, tapi dapat juga mengandung beberapa gumpalan empuk (soft lumps). Bila dicampur air, membentuk kapur mati. Bila tersentuh udara, kapur hidup lambat menyerap air dan CO2 untuk membentuk campuran kapur mati dan CaCO3 yang disebut kapur mati udara.

3.

Kapur dolomit CaMg(CO3)2 Kapur yang mengandung MgCO3 kira-kira sama dengan kandungan CaCO3disebut dolomit. Tektur dan kekerasan kapur dolomit bervariasi, tetapi setela digiling sempurna dapat bekerja (bereaksi) baik dengan tanah bila tidak terlalu banyak

mengandung unsur lain. Dolomit sudah umum diperdagangkan sebagai pupuk, karena kandungan Mg disamping

Ca. Fungsinya sebagai penambah unsur seperti halnya pada pupuk gypsum. Selayaknya koreksi terhadap keasaman pada tanah kurus dimulai dengan pemberian kalsit, lalu diikuti dengan dolomit untuk menambah daya guna lahan. 4. Kapur mati = slaked lime, Hydrated lime Ca(OH)2 Bahan ini diperoleh dengan menyiramkan air pada kapur mentah (kapur hidup) yang kemudian biasa diperdagangkan sebagai kapur untuk mengapur tembok. Kapur mati lambat mengambil dari CO2 udara. Penyerapan CO2 dan air oleh kapur hidup dan CO2 oleh kapur mati tidak mengurangi nilai bahan untuk pengapuran, hanya saja untuk mendapatkan berat tertentu CaO diperlukan kapur mati dalam jumlah besar. 5. Kapur liat = Napal, Marl

Marl adalah butiran atau butir lepas, seringkali tak murni, CaCO3 yang berasal dari cangkang binatang laut atau terbentuk dari presipitasi CaCO3 dari perairan danau kecil atau kolam. Secara umum marl diartikan sebagai CaCO3yang lunak dan tidak tahan lapuk dan biasanya tercampur dengan lempung dan kotoran lain. Istilah ini juga dipakai untuk hamper semua bahan yang tinggi kadar kapurnya seperti beberapa tanah liat berkapur. Marl biasanya hamper semuanya CaCO3 murni, tapi kadang-kadang mengandung tanah liat, debu atau bahan organic yang tinggi. Marl sering digali dalam keadaan basah dan sukar dihampar diatas tanah, kecuali sebelumnya dibiarkan kering. Penyebaran marl tidak seluas kapur giling, dan penimbunannya jauh kurang ekstensif tapi terdapat di banyak pantai. Penggalian marl sederhana. Marl sering terdapat di bawah tanah berat yang harus disingkirkan dahulu menggunakan alat berat seperti bulldozer. Kemudin permukaan bedeng dipecah dengan bajak cakram atau traktor, lalu dikeringkan atau langsung dumuat ke dalam truk. Pembajakan kadang-kadang dilakukan untuk mengaerasi lapisan permukaan sehingga cepat kering. Biasanya marl tidak digiling atau ditapis. 6. Kapur tulis = kapur halus, Talk, Chalk, Ca(HCO3)2 Batuan ini merupakan bahan CaCO3 yang lunak dan baik untuk pengapuran. D Inggris, bahan ini banyak digunakan namun di Indonesia, belum lazim. Kapur tulis harus digiling sebelum digunakan, tapi karena mudah pecah, hanya dibutuhkan sedikit tenaga. 7. Kapur bara = slag Hasil samping industry besi ini digunakan sebagai bahan pengapuran di daerah dekat udara panas setempat. Kapur bara ini berbeda dengan kebanyakan jenis kapur lain dalam hal kandungan

10

Cad dan Mg, dan juga mengandung silikat misalnya berbeda pula dengan CO3 atau oksida seperti kapur giling atau kapur tohor. Pemakaiannya sama efektifnya dengan kapur giling yang seukuran. Kapur bara dihasilkan dalam dua bentuk yaitu yang diudaradinginkan, sehingga harus digiling sebelum dipakai dan berbutir yang hampir semua penghalusan partikel penting disempurnakan pada proses granulasi (pembutiran). Bentuk kedua ini biasanya lebih cepat beraksi dengan tanah. Seperti alnya kapur dolomit, kapur bara mengandung Mg dan menjadikan Mg tersedia bagi tanaman. Kapur bara dasar (basic slag) yang juga hasil samping industry besi dan logam terutama digunakan untuk menambah unsur P pada tanaman, tetapi juga berguna sebagai bahan pengapuran. Kapur bara yang mengandung CaSi2O5, dapat juga dijadikan bahan pengapuran. Kandungan Mg-nya amat sedikit dan P-nya juga rendah. 8. Kulit binatang dan lain-lain Kulit kerang giling dan cangkang hasil laut lainyya kaya akan CaCO3. Bila digiling halus, kulit binatang itu akan berubah menjadi bahan agen pengapuran yang efektif. (Kuswandi, 2005) c. Aplikasi Pengapuran Penggunaan pengapuran diberikan karena pH tanah rendah (pH < 5,5). Pada tanah yang mempunyai pH rendah ketersediaan hara bagi tanaman menurun, aktivitas biologi tanah berkurang, dan keracunan Al meningkat. Pada tanaman pangan (jagung dan kedelai) kapur diberikan seminggu sebelum tanam. Pada dosis tinggi, kapur diberikan dengan cara disebar merata di atas seluruh permukaan tanah. Kemudian dicampur tanah dengan cara diaduk menggunakan cangkul atau rotary.

11

Pada saat pengapuran kondisi (kelembaban) tanah pada kapasitas lapang atau sehari setelah hujan. Pada dosis rendah, kapur diberikan dengan cara disebar di calon barisan tanaman atau lubang tanam. Kemudian dicampur dengan tanah. Kelebihan cara ini lebih efesien, namun pada musim selanjutnya pengapuran perlu dilakukan lagi, karena barisan dan lubang tanam dapat berpindah tempat. (BPT, 2010) 2.3.3 Jenis Tanaman A. Klasifikasi Tanaman Kingdom Divisio Sub Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Monocotyledone (berkeping satu) : Graminae (rumput-rumputan) : Graminaceae : Zea : Zea mays L.

B. Morfologi Tanaman Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu. Batang jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain. Bunga jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari pendek, jumlah daunnya ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan dikendalikan oleh genotipe, lama penyinaran, dan suhu. Tanaman jagung termasuk famili rumput-rumputan (graminae) dari subfamily myadeae. Dua famili yang berdekatan dengan jagung adalah teosinte dan tripsacum yang diduga merupakan asal dari tanaman jagung. Teosinte berasal dari Meksico dan Guatemala sebagai tumbuhan liar di daerah pertanaman jagung.

12

Sistem Perakaran Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu (a) akar seminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah dan pertumbuhan akar seminal akan berhenti pada fase V3. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar seminal hanya sedikit berperan dalam siklus hidup jagung. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Bobot total akar jagung terdiri atas 52% akar adventif seminal dan 48% akar nodal. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air. Perkembangan akar jagung (kedalaman dan penyebarannya)

bergantung pada varietas, pengolahan tanah, fisik dan kimia tanah, keadaan air tanah, dan pemupukan. Akar jagung dapat dijadikan indikator toleransi tanaman terhadap cekaman aluminium. Tanaman yang toleran aluminium, tudung akarnya terpotong dan tidak mempunyai bulu-bulu akar (Syafruddin 2002). Pemupukan nitrogen dengan takaran berbeda menyebabkan perbedaan perkembangan (plasticity) sistem perakaran jagung (Smith et al. 1995). Batang dan Daun Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas

13

terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan

pembuluh(bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Bundles vaskuler tertata dalam 18 Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan lingkaran konsentris dengan kepadatan bundles yang tinggi, dan lingkaran-lingkaran menuju perikarp dekat epidermis. Kepadatan bundles berkurang begitu mendekati pusat batang. Konsentrasi bundles vaskuler yang tinggi di bawah epidermis menyebabkan batang tahan rebah. Genotipe jagung yang mepunyai batang kuat memiliki lebih banyak lapisan jaringan sklerenkim berdinding tebal di bawah epidermis batang dan sekeliling bundles vaskuler (Paliwal, 2000). Terdapat variasi ketebalan kulit antargenotipe yang dapat digunakan untuk seleksi toleransi tanaman terhadap rebah batang. Sesudah koleoptil muncul di atas permukaan tanah, daun jagung mulai terbuka. Setiap daun terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daun yang erat melekat pada batang. Jumlah daun sama dengan jumlah buku batang. Jumlah daun umumya berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Tanaman jagung di daerah tropis mempunyai jumlah daun relatif lebih banyak dibanding di daerah beriklim sedang (temperate) (Paliwal 2000). Genotipe jagung mempunyai keragaman dalam hal panjang, lebar, tebal, sudut, dan warna pigmentasi daun. Lebar helai daun dikategorikan mulai dari sangat sempit (< 5 cm), sempit (5,1-7 cm), sedang (7,1-9 cm), lebar (9,1-11 cm), hingga sangat lebar (>11 cm). Besar sudut daun mempengaruhi tipe daun. Sudut daun jagung juga beragam, mulai dari sangat kecil hingga sangat besar. Beberapa genotipe jagung memiliki antocyanin pada helai daunnya, yang bisa terdapat pada pinggir daun atau tulang daun. Intensitas warna antocyanin pada pelepah daun bervariasi, dari sangat lemah hingga sangat kuat.

14

Bentuk ujung daun jagung berbeda, yaitu runcing, runcing agak bulat, bulat, bulat agak tumpul, dan tumpul (Gambar 2). Berdasarkan letak posisi daun (sudut daun) terdapat dua tipe daun jagung, yaitu tegak (erect) dan menggantung (pendant). Daun erect biasanya memiliki sudut antara kecil sampai sedang, pola helai daun bisa lurus atau bengkok. Daun pendant umumnya memiliki sudut yang lebar dan pola daun bervariasi dari lurus sampai sangat bengkok. Jagung dengan tipe daun erect memiliki kanopi kecil sehingga dapat ditanam dengan populasi yang tinggi. Kepadatan tanaman yang tinggi diharapkan dapat memberikan hasil yang tinggi pula. Bunga Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordia stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina. Demikian pula halnya primordia ginaecium pada apikal bunga, tidak berkembang dan menjadi bunga jantan (Palliwal 2000). Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel vegetatif, dua gamet jantan dan mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras. Karena adanya perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di atas dan bawah dan ketidaksinkronan matangnya spike, maka pollen pecah secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih. Rambut jagung (silk) adalah pemanjangan dari saluran stylar ovary yang matang pada tongkol. Rambut jagung tumbuh dengan panjang hingga 30,5 cm atau lebih sehingga keluar dari ujung kelobot. Panjang rambut jagung bergantung pada panjang tongkol dan kelobot. Tanaman jagung

15

adalah protandry, di mana pada sebagian besar varietas, bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking). Serbuk sari (pollen) terlepas mulai dari spikelet yang terletak pada spike yang di tengah, 2-3 cm dari ujung malai (tassel), kemudian turun ke bawah. Satu bulir anther melepas 15-30 juta serbuk sari. Serbuk sari sangat ringan dan jatuh karena gravitasi atau tertiup angin sehingga terjadi penyerbukan silang. Dalam keadaan tercekam (stress) karena kekurangan air, keluarnya rambut tongkol kemungkinan tertunda, sedangkan keluarnya malai tidak terpengaruh. Interval antara keluarnya bunga betina dan bunga jantan (anthesis silking interval, ASI) adalah hal yang sangat penting. ASI yang kecil menunjukkan terdapat sinkronisasi pembungaan, yang berarti peluang terjadinya penyerbukan sempurna sangat besar. Semakin besar nilai ASI semakin kecil sinkronisasi pembungaan dan penyerbukan terhambat sehingga menurunkan hasil. Cekaman abiotis umumnya mempengaruhi nilai ASI, seperti pada cekaman kekeringan dan temperatur tinggi. Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan menempel pada rambut tongkol. Hampir 95% dari persarian tersebut berasal dari serbuk sari tanaman lain, dan hanya 5% yang berasal dari serbuk sari tanaman sendiri. Oleh karena itu, tanaman jagung disebut tanaman bersari silang (cross pollinated crop), di mana sebagian besar dari serbuk sari berasal dari tanaman lain. Terlepasnya serbuk sari berlangsung 3-6 hari, bergantung pada varietas, suhu, dan kelembaban. Rambut tongkol tetap reseptif dalam 3-8 hari. Serbuk sari masih tetap hidup (viable) dalam 4-16 jam sesudah terlepas (shedding). Penyerbukan selesai dalam 24-36 jam dan biji mulai terbentuk sesudah 10-15 hari. Setelah penyerbukan, warna rambut tongkol berubah menjadi coklat dan kemudian kering. Tongkol dan Biji Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung

16

yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap. Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovary atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air; b) endosperm, sebagai cadangan makanan, mencapai 75% dari bobot biji yang mengandung 90% pati dan 10% protein, mineral, minyak, dan lainnya; dan c) embrio (lembaga), sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal, scutelum, dan koleoptil (Hardman and Gunsolus, 1998). Pati endosperm tersusun dari senyawa anhidroglukosa yang sebagian besar terdiri atas dua molekul, yaitu amilosa dan amilopektin, dan sebagian kecil bahan antara (White 1994). Namun pada beberapa jenis jagung terdapat variasi proporsi kandungan amilosa dan amilopektin. Protein endosperm biji jagung terdiri atas beberapa fraksi, yang berdasarkan kelarutannya diklasifikasikan menjadi albumin (larut dalam air), globumin (larut dalam larutan salin), zein atau prolamin (larut dalam alkohol konsentrasi tinggi), dan glutein (larut dalam alkali). Pada sebagian besar jagung, proporsi masing-masing fraksi protein adalah albumin 3%, globulin 3%, prolamin 60%, dan glutein 34% (Vasal 1994).

C. SYARAT PERTUMBUHAN Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai

17

macam tanah bahkan pada kondisi tanah yang agak kering. Tetapi untuk pertumbuhan optimalnya, jagung menghendaki beberapa persyaratan. Iklim a) Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim subtropis/tropis yang basah. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS. b) Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau. c) Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar

matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah. d) Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34O C, akan tetapi bagi pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27O C. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30O C. e) Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil. Media Tanam a) Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus. Agar supaya dapat tumbuh optimal tanah harus gembur, subur dan kaya humus.

18

b) Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung berapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat (latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya. c) Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsurunsur hara tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5. d) Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik. d) Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 % dapat ditanami jagung, karena disana kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat kecil. Sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian Tempat Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 10001800 m dpl. Daerah dengan ketinggian optimum antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung.

19

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Pengambilan Sampel Tempat dilakukannya pengambilan sampel tanah yang akan digunakan sebagai media tanam percobaan yakni proses pengambilan dilakukan pada tanggal 12 oktober 2013 yang diambil di Desa Buring, Kecamatan Kedung Kandang, Malang, Jawa Timur. Pelaksanaan Percobaan Pelaksanaan percobaan ini yang pertama adalah penanaman yang dilakukan pada tanggal 26 oktober 2013. Waktu dilaksanakannya percobaan ini dilakukan selama 4 minggu yang dimulai dari bulan November sampai dengan Desember 2013 tepatnya pada tanggal 4,11,18,25 November dan 2 desember 2013. Sedangkan untuk tempat dilaksanakannya percobaan adalah di Lahan Percobaan Praktikum Fakultas Pertanian berada didalam lingkup kawasan Universitas Brawijaya yang terletak di tengah kota Malang, beralamatkan di Jalan veteran, Malang, Jawa Timur. Kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel pada tanggal 10 Desember 2013 dan uji analisis kandungan C-Organik, Potensial Redoks, kandungan N P K, dan pH dilakukan pada tanggal 12 Desember2013 sampai 13 Desember 2013 di laboratorium Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. 3.2 Kondisi Umum Wilayah Kondisi umum wilayah Desa Buring yakni desa ini berjenis tanah Aluvial, hal ini dikarenakan Malang merupakan daerah yang dipengaruhi oleh beberapa gunung yang berada disekitarnya. Untuk tempat pengambilan sampel tanah terletak diantara lahan padi dan tebu. Rata-rata suhu udara berkisar antara 22,7C - 25,1C. Sedangkan suhu maksimum mencapai 32,7C dan suhu

20

minimum 18,4C . Rata kelembaban udara berkisar 79% - 86%. Dengan kelembaban maksimum 99% dan minimum mencapai 40%. Sedangkan Untuk percobaan penanaman terletak di Lahan percobaan praktikum Fakultas Pertanian UNIBRAW yang jika ditinjau dari sudut ketinggian tanah, berada pada ketinggian 610 m diatas permukaan air laut. Suhu maksimum dan minimum di lahan praktikum ini berkisar 280 C. Lahan Percobaan ini memiliki luas sebesar +/- 600 m2 , dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah utara : berbatasan dengan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Sebelah selatan : berbatasan dengan Jalan Veteran Kota Malang Sebelah timur : berbatasan dengan Gedung Green House Fakultas Pertanian Unibraw Sebelah barat : berbatasan dengan Kos-kosan yang ada di Jalan Raya Sumbersari 3.2.1 Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk merupakan suatu jumplah penduduk pada suatu lokasi tertentu , Kepadatan dan persebaran penduduk, disamping di pengaruhi oleh jumlah dan mutu sumber daya alam, juga di pengaruhi oleh mobilitas penduduk. Penduduk yang bergeser dari jawa ke luar jawa sebagian besar terdiri dari petani yang miskin dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah. Sebaliknya penduduk yang geser dari luar jawa ke jawa sebagian besar berumur muda, belum menikah dan mempunyai tingkat pendidikan yang relatif tinggi. Ini bermakna ketimpangan tersebut bukan hanya saja dari segi jumlah saja, namun juga dari segi mutu sumber daya manusianya. Untuk Kecamatan Kedungkandang dengan Luas 36,89 km2 dan jumlah penduduk sebesar 149.853 dan kepadatan sebesar 3.767. Sedangkan untuk kelurahan Buring dengan kode wilayah 35.73.03.1005 Luas Lahan 553 Ha, dengan jumlah RW 9 RT 38 KK 2.735 dan jumlah penduduknya 8.614. Sedangkan

21

untuk penduduk yang bermata pencaharian sebagai Petani sebanyak 1.200 orang. 3.3 Metode Penelitian Metode yang digunakan untuk pengambilan sampel tanah yaitu diambil pada lahan seluas 50 m x 50 m yang diambil sebanyak 20 kg setiap titiknya yang terdiri dari lima titik pengambilan sampel dan dimasukkan kedalam karung. Sampel ini kemudian dikering anginkan selama satu minggu. Kemudian sampel dikomposit dan digrinding sampai halus. Sampel yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam polybag dan diberi perlakuan yaitu ditambahkan Kapur berbagai dosis kedalam polibag tersebut dengan tanah yang digunakan adalah sebanyak 4,6 kg/polibag. Pada penelitian ini rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acal Lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan kapur dan 3 ulangan. Perlakuan pupuk yang digunakan yaitu 1 atau kontrol dimana pada perlakuan ini media tanam yang digunakan hanya tanah saja tanpa tambahan kapur, lalu P2 yaitu perlakuan dengan penambahan Kapur sebanyak 100 gram, dan P3 yaitu perlakuan dengan penambahan kapur sebanyak 50 gram. Peletakan perlakuan dan ulangan pada plot pengamatan dilakukan secara acak dengan menggunakan lotre. Parameter yang diuji pada saat di lahan berupa tinggi tanaman dan jumlah daun. Pengamatan tinggi dan jumlah daun dilakukan setiap seminggu sekali dan dilakukan hingga 35 hst atau selama 5 minggu pengamatan. Pengamatannya yakni dengan mengukur menggunakan penggaris dan penghitungan jumlah daun. Sedangkan analisis data C-Organik, potensial redoks, N, P, K, dan pH dilakukan analisis di laboratorium kimia jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Analisis C-Organik, potensial redoks, N, P, K, dan pH ini dilakukan 2 kali yakni pada awal sebelum penanaman sebagai data awal kandungan kimia tanah media. Dan yang kedua dilakukan pada 41 hst untuk melihat ada atau tidaknya perubahan kandungan C-Organik, potensial redoks, N, P, K, dan pH pada media tanah yang digunakan.

22

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4..1.1 Tabel Tinggi Tanaman Ulangan I T a Pengamatan (cm) b 04/11/2013 11/11/2013 18/11/2013 25/11/2013 02/12/2013 e I II III IV V l P1U1 12 24,5 35 54 75 P2U1 1 13,5 23 39 41 58 . P3U1 19 27 37 43 52 Ulangan II Pengamatan (cm) 11/11/2013 18/11/2013 25/11/2013 02/12/2013 II III IV V 33 59 64 72 32 35 40 48 37 52 65 70

P1U2 P2U2 P3U2

04/11/2013 I 15 13 19

Ulangan III Pengamatan (cm) 04/11/2013 11/11/2013 18/11/2013 25/11/2013 02/12/2013 I II III IV V 12 23 51 58 65 18 35 40 54 62 16 40 45 65 68

P1U3 P2U3 P3U3

23

4..1.2 Grafik Tinggi Tanaman Grafik 1. Tinggi Tanaman Ulangan I

Tinggi Tanaman U1
80 70 60 50 40 30 20 10 0 I II P1U1 III P2U1 IV P3U1 V

Grafik 2. Tinggi Tanaman Ulangan II

Tinggi Tanaman U2
80 60 40 20 0 I II P1U2 III P2U2 IV P3U2 V

24

Grafik 3. Tinggi Tanaman Ulangan III

Tinggi Tanaman U3
80 60 40 20 0 I II P1U3 III P2U3 IV P3U3 V

4..1.3 Tabel Jumlah Daun Ulangan I Tabel 4. Pengamatan Jumlah Daun Ulangan 1 Pengamatan (helai) 04/11/2013 11/11/2013 18/11/2013 25/11/2013 02/12/2013 I II III IV V 2 4 5 7 7 2 3 4 6 6 3 4 5 6 6

P1U1 P2U1 P3U1

Ulangan II

Tabel 5. Pengamatan Jumlah Daun Ulangan II Pengamatan (helai) 11/11/2013 18/11/2013 25/11/2013 02/12/2013 II III IV V 4 5 7 7 4 5 6 5 4 6 7 8

P1U2 P2U2 P3U2

04/11/2013 I 3 2 3

25

Ulangan III

Tabel 6. Pengamatan Jumlah Daun Ulangan III Pengamatan (helai) 11/11/2013 18/11/2013 25/11/2013 II III IV 4 5 6 4 4 6 5 7 8

P1U3 P2U3 P3U3

04/11/2013 I 2 2 3

02/12/2013 V 6 8 6

4..1.4 Grafik Jumlah Daun Grafik 4. Jumlah Daun Ulangan I

Jumlah Daun U1
8 6 4 2 0 I II P1U1 III P2U1 IV P3U1 V

Grafik 5. Jumlah Daun Ulangan II

Jumlah Daun U2
10 8 6 4 2 0 I II P1U2 III P2U2 IV P3U2 V

26

Grafik 6. Jumlah Daun Ulangan III

Jumlah Daun U3
10 8 6 4 2 0 I II P1U3 III P2U3 IV P3U3 V

4..1.5 Perbedaan tinggi dan jumlah daun tanaman jagung pada 35 hst Perlakuan P1 (kontrol) P2 (tanah + 100 gr kapur) P3 (tanah + 50 gr kapur) 104,6667 a 7,666667 a 78 a 6,333333 a Tinggi tanaman (cm) 74,66667 a Jumlah daun (helai) 6,333333 a

4..1.6 Tabel C-organik Perlakuan Hasil perhitungan awal P1 P2 P3 3,63 3,63 3,63 1,39 1,05 1,77 Hasil perhitungan 41 HST

27

4..1.7 Grafik peningkatan C-organik

4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Awal 41 HST P1 P2 P3

4..1.8 Tabel N Pengamatan awal 7,2 ml 7,2 ml 7,2 ml Pengamatan 41 hst 7,9 ml 8,35 ml 7,91 ml Hasil perhitungan awal (%) 0,27 0,27 0,27 Hasil perhitungan 41 hst (%) 0,31 0,33 0,31

Perlakuan

P1 P2 P3

4..1.9 Grafik peningkatan N

28

4..1.10 Tabel P Perlakuan P1 P2 P3 Pengamatan awal 21,76 21,76 21,76 Pengamatan 41 hst 11,7 41,84 41,84

4..1.11 Grafik peningkatan P


Perlakuan P1 21,7 11,7 P2 21,7 41,8 P3 21,7 41,8

Sebelum perlakuan Setelah perlakuan

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 P1 P2 Perlakuan P3

Sebelum perlakuan Setelah perlakuan

4..1.12 Tabel K Perlakuan P1 P2 P3 Pengamatan awal 0,6 me/100 gram 0,6 me/100 gram 0,6 me/100 gram Pengamatan 41 hst 0,19 me/100 gram 0,05 me/100 gram 0,74 me/gram

29

4..1.13 Grafik peningkatan K

4..1.14 Tabel ph dan redoks Perlakuan Pengamatan pH awal Pengamatan redoks awal P1 P2 P3 5,84 5,84 5,84 92,8 92,8 92,8

Perlakuan

Pengamatan pH 41 hst

Pengamatan redoks 41 hst 54,7 -69,1 13,0

P1 P2 P3

6,3 8,2 7,7

30

4..1.15 Grafik perubahan pH dan redoks Grafik pH


9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 pH awal pH 41 HST

P1 P2 P3

Grafik Redoks
120 100 80 60 40 20 0 -20 -40 -60 -80

P1 P2 Awal 41 HST P3

4.2 Pembahasan a. Hubungan antara Kesuburan Tanah dengan Pengapuran Kebutuhan unsur hara di dalam tanah menjadi salah satu faktor yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Kebutuhan hara makro/mikro yang cukup akan membantu peningkatan hasil produksi tanaman, baik dari bentuk tanaman maupun hasil panen tanaman jagung yang dibudidayakan. Pada lokasi pengambilan media yang digunakan sebagai objek penelitian dan observasi terletak di Desa Buring, Kecamatan Kedungkandang,

31

Malang. Jenis tanah pada lokasi tersebut termasuk dalam jenis tanah Inceptisol dan memiliki drainase buruk. Dapat dilihat bahwa pada tanah tersebut mengalami akumulasi Fe (besi) yang tampak berwarna merah atau bintik-bintik merah (gambar 1) serta pada tanah tersebut pada musim hujan selalu tergenang air sehingga ion ferro dijumpai dan memberi warna kehijauan dan kebiruan (gambar 2).

Gambar 1. Penimbunan Fe (warna merah atau berbintik merah)

Gambar 2. Ion Fe (berwarna kehijauan dan kebiruan)

Dari kondisi tanah seperti yang ditemukan di lokasi, dilihat dari segi pertumbuhan tanaman juga memiliki perbedaan diantaranya adalah kondisi tanaman yang kerdil yang menyebabkan hasil produksi dari pertanian di daerah tersebut mengalami kerugian karena biaya produksi tidak seimbang dengan hasil panen. Selain itu, warga setempat juga tidak menyadari bahwa lahan mereka sudah tidak sehat, mereka beranggapan bahwa dengan diaplikasikan pupuk maka semua permasalahan tersebut akan selesai dan akan mendapatkan produksi yang sangat tinggi. Namun pada kenyataannya, pupuk yang masyarakat aplikasikan tidak memberikan hasil yang optimal karena banyak pupuk yang hanya terakumulasi dan tidak bisa diserap baik oleh tanaman akibat kondisi lahan yang mengalami karatan (mottling). Dilihat dari sejarah lahan di lokasi tersebut menggenangi penggenangan selama padi dan pengolahan tanah kering yang disawahkan dapat

32

menyebabkan berbagai perubahan sifat tanah, baik sifat morfologi, fisika, kimia, mikrobiologi maupun sifat-sifat lain, sehingga sifat-sifat taah dapat sangat berbeda dengan sifat-sifat tanah asalnya. Menurut Koning (1999), perubahan sementara pada tanah Inceptisol yang mengalami karatan atau biasa disebut mottling sebagai akibat penggenangan tanah musiman, baik pada waktu pengolahan maupun selama pertumbuhan padi di sawah. Perubahan-perubahan sementara sifat-sifat kimia tanah tersebut secara kumulatif dapat menyebabkan perubahan yang permanen terhadap sifat morfologi tanah. Bila tanah yang pada awalnya digenangkan kemudian dikeringkan akan terjadi oksidasi kembali besi (Fero) menjadi besi (Feri) sehingga terbentuklah karatan coklat pada rekahan-rekahan (Gambar 1) bekas-bekas saluran akar atau tempat-tempat lain dimana udara dapat masuk. Diduga penyebab kondisi karatan (mottling) pada tanah di daerah tersebut muncul dari beberapa faktor, diantaranya adalah akibat pencemaran air sungai (gambar 3), penggunaan pupuk yang berlebihan (gambar 4) maupun karena lahan di lokasi tersebut adalah termasuk lahan yang memiliki drainase yang buruk sehingga terdapat akumulasi ion ferro.

Gambar 3. Kondisi Sungai

Gambar 4 (a). Pupuk Berlebihan

33

Gambar 4 (b). Akumulasi Pupuk Berlebih

Gambar 4 (c). Kondisi Tanaman

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan,

penulis menggunakan

pengapuran di masing-masing tanah sampel dengan tiga kali ulangan. a. pH Kondisi pH tanah merupakan faktor penting yang menentukan kelarutan unsur yang cenderung berkesetimbangan dengan fase padatan. Kelarutan oksida-oksida hidrous dari Fe dan Al secara langsung tergantung pada konsentrasi hidroksil (OH-) dan menurun kalah pH meningkat. Kation hidrogen (H+) bersaing secara langsung dengan kation-kation asam Lewis lainnya membentuk tapak kompleksi, dan oleh karenanya kelarutan kation kompleks seperti Cu dan Zn akan meningkat dengan menurunnya pH. Konsentrasi kation

hidrogen menentukan besarnya KTK tergantung-muatan (dependent charge) dan dengan demikian akan mempengaruhi aktivitas semua kation tukar. Kelarutan Fe-fosfat, Al-fosfat dan Ca-fosfat sangat tergantung pada pH, demikian juga kelarutan anion molibdat (MoO4) dan sulfat yang terjerap. Anion molibdat dan sulfat yang terjerap, dan fosfat yang terikat Ca kelarutannya akan menurun kalau pH meningkat. Selain itu, pH juga mengendalikan kelarutan karbonat dan silikat, mempengaruhi reaksi-reaksi redoks, aktivitas jasad renik, dan

menentukan bentuk-bentuk kimia dari fosfat dan karbonat dalam larutan tanah. Pengasaman mineral silikat dapat menggeser "muatan patahan" dari

negatif menjadi positif. Beberapa reaksi penting yang terpengaruh oleh pH.

34

Gambar 5. Pengaruh pH tanah terhadap ketersediaan hara dalam tanah bagi tanaman. Pita lebar menyatakan bentuk hara elebih tersedia (lebih mudah diserap) oleh akar tanaman , pada berbagai nilai pH (Sumber: http://extension.missouri.edu/p/G9102_

Gambar 6. Penyerapan dan ketersediaan hara juga dipengaruhi oleh pH tanah. (Sumber: http://www2.mcdaniel.edu/Biology/botf99/nutrition/soils.htm)

35

pH sebelum dilakukan pengapuran adalah 5,84. Kemudian setelah dilakukan pengapuran dan diamati selama 5 minggu ternyata pH mengalami kenaikan pada setiap perlakuannya. Pada perlakuan 1 pH menjadi 6,3; perlakuan 2 pH menjadi 8,2; dan perlakuan 3 pH menjadi 7,7. pH meningkat seiring dengan lamanya waktu penggenangan dan Eh semakin menurun (Kasno et al., 1999). Penambahan bahan organik pada pengairan yang dilakukan secara kontinu dapat menurunkan Eh tanah. Terdapat hubungan yang negatif anatara pH dan Eh tanah (Sulaeman et al., 1997; Kasno et al., 1999). Meningkatnya pH tanah masam menyebabkan ketersediaan P mengalami peningkatan karena meningkatnya kelarutan mineral strengit (FePO4.2H2O) dan variscit (AlPO4.2H20). Pada tanah sawah bukaan baru tanaman yang keracunan besi umumnya juga menunjukkan kahat unsur hara yang lain. Menurut Ottow et al. 1982) keracunan besi pada tanaman padi di Asia Tenggara dan Afrika terjadi karena kahat beberapa hara, dimana pH berkisar antara 3-7,2; kadar besi 290-1000 ppm, kadar Mn tinggi dan kadar P, K, Ca, Mg, dan Zn rendah. Kahat beberapa hara ini pada tanaman disebabkan rendahnya kemampuan akar menyerap hara, sehingga besi fero secara langsung diserap lebih banyak pH tanah sangat berpengaruh terhadap ketersediaan hara dalam larutan tanah. Jumlah terbesar unsur hara esensial tersedia pada kisaran kondisi pH antara 5.2 dan 6.5. Di atas dan di bawah kisaran ini, sebagian hara terikat kuat oleh partikel tanah dan tidak tersedia bagi tanaman, misalnya Fe dan Mn. Unsur hara ini tampaknya akan defisiensi kalau pH tanah meningkat di atas 6.5. Pada kondisi pH lebih dari 8.0, sebagian besar unsure mikro menjadi defisien sedangkan Al mencapai tingkat toksik. Hubungan secara umum antara pH tanah dengan ketersediaan P dalam tanah , dibuat berdasarkan spesies senyawa fosfat pada berbagai nilai pH. Pada tanah dengan pH tinggi, kebanyakan P dalam bentuk senyawa kalsium. Pada tanah dengan pH rendah, P bersenyawa dengan Fe dan Al menjadi senyawa Fe dan senyawa Al. Keterseediaan P yang maksimum terjadi pada

36

kondisi pH 6.5 - 7.0. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa ada korelasi antara pertumbuhan tanaman dengan peningkatan pH akibat pengapuran.

b. Potensial Redoks (Eh) Faktor lain yang sangat penting dalam menentukan konsentrasi hara dalam larutan tanah adalah potensial redoks (Eh). Faktor ini berhubungan dengan keadaan aerasi tanah yang selanjutnya sangat tergantung pada laju respirasi jasad renik dan laju difusi oksigen. Ia mempengaruhi kelarutan unsur hara mineral yang mempunyai lebih dari satu bilangan oksidasi (valensi). Unsur-unsur ini adalah C, H, O, N, S, Fe, Mn, dan Cu. Kandungan air yang mendekati atau melebihi kondisi ke-jenuhan merupakan sebab utama dari buruknya aerasi karena kecepatan difusi oksigen melalui pori yang terisi air jauh lebih lambat daripada pori yang berisi udara. Perubahan sifat tanah yang bersifat sementara dipengaruhi oleh pelumpuran dan reduksi oksidasi (redoks). Dari hasil observasi di lapangan diketahui bahwa kondisi tanah mengalami mottling dikarenakan akibat penggenangan. Penggenangan tanah memberikan kondisi reduksi dan menurunkan nilai potensial redoks tanah hingga stabil dengan nilai Eh +0,2 sampai +0,3 V tergantung pada tanah, tetapi nilai Eh di permukaan air dan beberapa mm dari top soil tetap berkisar antara +0,3 sampai +0,5 V (Ponnamperuma 1972 dalam De Datta 1981). Berdasarkan hasil observasi kami terhadap tanah yang digunakan sebagai media dalam penanaman jagung mengalami penurunan. Dari potensial redoks awal sebesar 92,8 mV menjadi 54,7 mV (P1); -69,1 (P2); 13,0 (P3). Penurunan nilai potensial redoks (Eh) berbanding terbalik pada peningkatan nilai pH tanah tanaman. Penggenangan berpengaruh nyata terhadap nilai potensial redoks (Eh), pH dan Etilen. Terjadi penurunan nilai potensial redoks semakin dalam penggenangan nilai potensial redoks semakin rendah. Sedangkan nilai pH menunjukkan nilai semakin meningkat. Peningkatan pH

37

tanah disebabkan oleh reaksi reduksi di dalam tanah yang mengambil ion H+ sehingga mengurangi kemasaman tanah. Peningkatan pH juga disebabkan oleh dilepaskan ion OH akibat reduksi besi ferri menjadi besi ferro, kestabilan tercapai apabila telah terjadi keseimbangan antara Fe2- dan Mn2+ diendapkan dan terjadi keseimbangan di dalam tanah. Terdapat hubungan yang negatif antara perubahan Eh dan pH tanah. Semakin naik pH semakin rendah nilai Eh. Begitu pula semakin turun nulai redoks, nilai pH semakin naik, dengan nilai R2=0,989. Penurunan nilai potensil redoks (Eh) dan kenaikan pH mempunyai pengaruh yang baik terhadap penyerapan unsur hara. Keadaan seperti ini sangat berpengaruh baik terhadap penyerapan unsur hara seperti penerapan P dan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan jagung. Penelitian Widiowati et.al. (1997) yang dilakukan di rumah kaca terhadap tanah menemukan bahwa kelarutan P dipengaruhi oleh Eh dan pH tanah. Penurunan Eh akan meningkatkan kelarutan P, karena Al3PO4 berubah menjadi Al(OH)3, sehingga P dibebaskan. Potensial redoks merupakan sifat elektrokimia yang dapat dipakai sebagai indikasi dalam mengukur derajat anaerobiosis tanah dan tingkat transformasi biogeokimia yang terjadi (Patrick dan Mahapatra, 1968; Ponnamperuma, 1972). c. C Organik Analisis C Organik pada tanah dilakukan pada ke 3 perlakuan yaitu perlakuan pertama sebagai kontrol, perlakuan kedua diberikan pengapuran sebanyak 100 gram, perlakuan ketiga diberikan perlakuan sebanyak 50 gram. Sebelum di berikan perlakuan tanah yang menjadi media tanam dilakukan analisis C Organik juga. Pada tanah yang belum diberikan perlakuan hasil dari analisis C Organik yang telah dilakukan adalah sebesar 3,63%. Lalu analisis C Organik yang kami lakukan selanjutnya adalah 41 hst dengan 3 perlakuan

38

yang berbeda, masing masing didapatkan hasil yaitu sebesar 1,39%; 1,05%; dan 1,77%. Bahan Organik berkaitan dengan nilai C Organik. Untuk mendapatkan bahan organik dapat mengkonversi nilai C Organik. Menurut Young (1997) bahan organik biasanya ditunjukkan dalam jumlah karbon dan siklus dari bahan organik memang menyerupai siklus karbon. Analisis tanah yang biasa digunakan untuk menentukan bahan organik total dilakukan dengan cara mengalikan nilai faktor 1,724 dengan karbon organiknya. Bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Menurut Petchawee dan Chaitep (1995) bahan organik berpengaruh pada kesuburan tanah dan sering digunakan untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah. C Organik sendiri memiliki standar yang di anggap baik pada tanah. Menurut Fauzi (2008) kadar C Organik normal yang sesuai dengan kriteria hara adalah 2,1 3,0%. Namun, berdasarkan hasil yang telah kami peroleh dari analisis C Organik baik sebelum dilakukan pengapuran maupun sesudah dilakukan nilai C Organik <2,1%. Rendahnya C Organik pada tanah dapat disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah pengolahan tanah. Pengolahan tanah dapat menyebabkan penurunan kandungan bahan organik tanah sehingga mengarah pada degradasi struktur. Menurut Lal (2006) melaporkan bahwa konsentrasi C organik tanah di lapisan olah 0 10 cm berkurang dari 28 g kg 10 g kg setelah 90 tahun kultivasi dengan dampak yang merugikan pada kualitas dan kemampuan pada ketahanan pada kekeringan.

39

d. Nitrogen Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan nitrogen yang telah kami lakukan. Didapatakan nilai Nitrogen yang berbeda beda dari setiap perlakuan maupun sebelum di lakukannya perlakuan. Pada pengamatan awal nilai nitrogen didapatkan sebesar 0,27%. Sedangkan pada saat pengamatan dilakukan yaitu pada saat 41 hst didapatkan berbagai macam nilai nitrogen yaitu pada perlakuan pertama yaitu sebagai kontrol yaitu sebesar 0,31%, lalu pada perlakuan kedua yaitu dengan perlakuan pengapuran sebanyak 100 gram didapatkan hasil 0,33% dan pada perlakuan terakhir yang diberikan pengapuran sebanyak 50 gram didapatkan hasil 0,31%. Menurut Hardjowigeno (2003) hilangnya N dari tanah disebabkan karena digunakan oleh antara 0,51 s/d 0,75 dan tanaman atau mikroorganisme. Kandungan N total umumnya berkisar antara 2000 4000 kg/ha pada lapisan 0 20 cm tetapi tersedia bagi tanaman hanya kurang 3 % dari jumlah tersebut. Kriteia %N yang ada pada tanah yang dibedakan menjadi 5 kriteria yaitu: sangat rendah untuk N(%) <0,10, rendah untuk N(%) berkisar antara 0,10 s/d 0,20, sedang untuk N(%) berkisar antara 0,21 s/d 0,50, tinggi untuk N(%) berkisar antara 0,51 s/d 0,75 dan sangat tinggi untuk N(%) lebih dari 0,75 (Safriansyah, 2010). Tanah sebelum pengamatan termasuk kedalam kriteria sedang, tanah perlakuan pertama termasuk kedalam kriteria sedang begitu juga dengan perlakuan kedua dan ketiga termasuk kedalam kriteria sedang. Kandungan nitrogen dalam tanah berkaitan dengan jumlah bahan organik sebagai sumber utamanya, baik dari sisa sisa tumbuhan atau binatang. Menurut Leiwakabessy (1998) kadar nitrogen total untuk tiap jenis tanah berbanding lurus dengan kadar bahan organiknya. Oleh karena itu,

40

setiap faktor yang mempengaruhi kadar bahan organik tanah juga mempengaruhi kadar nitrogen di dalam tanah itu sendiri e. Fosfor Dari tabel pengamatan fosfat dapat diketahui bahwa pada P1 (kontrol/tidak diberi kapur) fosfat dalam tanah menurun dimana kandungan fosfat awalnya adalah 21,7 dan kandungan fosfat akhirnya adalah 11,7. Pada P2(diberi kapur 100 gram) fosfat dalam tanah meningkat dimana kandungan fosfat awalnya adalah 21,7 dan kandungan fosfat akhirnya adalah 41,8. Pada P3 (diberi kapur 50 gram) fosfat dalam tanah meningkat dimana kandungan fosfat awalnya adalah 21,7 dan kandungan fosfat akhirnya adalah 41,8. Menurut (Bambang, 2003), pengapuran tanah, selain dapat meningkatkan pH tanah, pengapuran juga bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, menurunkan kadar Al tanah yang bersifat racun bagi tanaman, meningkatkan unsur hara fosfat (P), molibdenum (Mo), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Pengapuran tanah harus tepat dosis karena pengapuran yang berlebihan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman sebagai berikut: tanaman dapat keracunan Zn, Cu dan Mn, pertumbuhan tanaman kurang baik karena pengapuran yang berlebihan menurunkan kandungan fosfat dan molibdenum serta dapat mengganggu penyerapan fosfat oleh tanaman. f. Kalium Kalium merupakan salah satu unsur hara makro yang banyak diperlukan tanaman. Namun biasanya K tidak diberikan dalam jumlah yang cukup sehingga cangan K dalam tanah semakin lama semakin merosot. Hara K memiliki tingkat kemudahan pencucian hampir sama dengan unsur N, tetapi pergerakannya dalam larutan tanah hampir sama dengan unsur P. Pada hasil pengamatan dan perhitungan kalium didapatkan hasil sebelum diberikan perlakuan pengapuran yaitu sebesar 0,6 me/100 gram. Lalu

41

setelah dilakukan perlakuan. Pada perlakuan pertama yaitu sebagai kontrol didapatkan nilai sebesar 0,19 me/100 gram, pada perlakuan kedua yaitu diberikan pengapuran sebanyak 100 gram didapatkan nilai sebesar 0,05 me/100 gram, dan pada perlakuan ketiga diberikan perlakuan sebanyak 50 gram didapatkan nilai sebanyak 0,74 me/100 gram. Nilai K pada perlakuan ketiga naik dari 0,6 me/100 gram menjadi 0,74 me/100 gram sedangkan pada perlakuan pertama dan kedua nilai K turun menjadi 0,19 me/100 gram dan 0,05 me/100 gram. Menurut Puslitanak (2000) tanah yang mengandung liat yang relatif tinggi berkaitan dengan fiksasi K sangat kuat yang mengakibatkan konsentrasi K pada larutan tanah berkurang. Reaksi tanah masam sampai agak masam (pH 4,6 5,5) serta kandungan liat yang cukup tingi dan kandungan ion Kalium relatif rendah berkisar 0,1 0,2 me/100 gram tanah. Penurunan kalium dapat disebabkan menurut Sutedjo (2003) dapat disebabkan oleh air hujan ataupun runoff. Dimungkinkan pada saat penanaman berlangsung tanah tersebut terkena air hujan yang mengakibatkan kalium pada tanah tersebut tercuci. Dilihat juga ini merupakan bulan basah dimana musim hujan sedang berlangsung sehingga terjadi pencucian kalium pada tanah tersebut.

42

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Sampel tanah pada Desa Buring merupakan tanah yang dapat dikatakan tanah yang tidak sehat. Tanah tersebut apabila digunakan untuk kegiatan budidaya, tidak dapat memeberikan daya dukung yang maksimal. Ditinjau dari kadar pH sebelum dilakukan pengapuran adalah 5,84. Kemudian setelah dilakukan pengapuran dan diamati selama 5 minggu ternyata pH mengalami kenaikan pada setiap perlakuannya. Pada perlakuan 1 pH menjadi 6,3; perlakuan 2 pH menjadi 8,2; dan perlakuan 3 pH menjadi 7,7. Hal tersebut menunjukkan adanya dampak pengapuran terhadap sifat kimia tanah tersebut. Pada tanah yang belum diberikan perlakuan hasil dari analisis C Organik yang telah dilakukan adalah sebesar 3,63%. Lalu analisis C Organik yang kami lakukan selanjutnya adalah 41 hst dengan 3 perlakuan yang berbeda, masing masing didapatkan hasil yaitu sebesar 1,39%; 1,05%; dan 1,77%. Tinggi dan jumlah daun tanaman jagung yang baik terdapat pada perlakuan ketiga yaitu dengan media tanam tanah dan 50 gr kapur.

5.2 Saran Sebaiknya drainase pada Desa Buring diperbaiki agar tidak terjadi karatan (molting) pada tanah sehingga tanah bias memproduksi tanaman dengan baik.

43

DAFTAR PUSTAKA Anonymousa.2013.

http://edukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20 pada

Belajar/Modul%20Online/view&id=109&uniq=912.diakses 15 Desember 2013

Balai Penelitian Tanah. 2010. Pengapuran tanah masam untuk jagung dan kedelai.http://www.pustaka.litbang.deptan.go.id 2013] Fergason, V. 1994. High amylose and waxy corn. In: A. R. Halleuer (Ed.)Specialty Corns. CRC Press Inc. USA. Foth, H. D. 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Edisi ketujuh. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 762 hal Hardman and Gunsolus. 1998. Corn growth and development. Extension Service.University of Minesota. p.5. Indranada, H.K. 1986. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Bina Aksara. Jakarta Kuswandi. 2005. Pengapuran Tanah Pertanian: Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius. Lambert, R.J. 1994. High oil corn hybrids. In: Arnel R. Halleuer (Ed.). Specialty corns. CRC Press Inc. USA. Lee, C. 2007. Corn growth and development. www.uky.edu/ag/grain crops. McWilliams, D.A., D.R. Berglund, and G.J. Endres. 1999. Corn growth and management quick guide.www.ag.ndsu.edu. Paliwal. R.L. 2000. Tropical maize morphology. In: tropical maize: improvement and production. Food and Agriculture Organization of the United Nations. Rome. p 13-20. Smith, M.E., C.A. Miles, and J. van Beem. 1995. Genetic improvement of maize for nitrogen use efficiency. In Maize research for stress environment. p.39-43. Syafruddin, Faesal, dan M. Akil. 2007. Pengelolaan Hara pada Tanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. [13 Desember

44

Syafruddin. 2002. Tolok ukur dan konsentrasi Al untuk penapisan tanaman jagung terhadap ketenggangan Al. Berita Puslitbangtan 24: 3-4. Tracy, W. F. 1994. Sweet corn. In: A. R. Halleuer (Ed.) Specialty corns. CRC Press Inc. USA. Vasal, S.K. 1994. High quality protein corn. In: A. R. Halleuer (Ed.). Specialty corns. CRC Press Inc. USA. White, P.J. 1994. Properties of corn strach. In: A. R. Halleuer (Ed.). Specialty corns. CRC Press Inc. USA.

45

Winda Salwati. 2003. Pengaruh Pengapuran Tanah Podsolik Merah Kuning Terhadap Pertumbuhan Rumput Tropika. Skripsi. Ilmu Nutrisi Dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan_ Institut Pertanian Bogor. Bogor LAMPIRAN

Perhitungan C-Organik Diketahui : Berat sampel = 0,5 gram ml.blangko = 10,5 ml %KA = 63,2 % FKa = = 1,632 Perhitungan Pengamatan Awal C-organik (%) = = = = 3,63 % Perhitungan 41 HST a. P1 C-organik (%) = =
( ) ( ( )

46

x 1,632%

= 1,39% b. P2 C-organik (%) =


( )

= =

= 1,05 % c. P3 C-organik (%) = = = = 1,77 %


( )

Perhitungan Nitrogen (N) Diketahui : Berat sampel = 0,5 gram ml blanko = 1,3 ml %KA = 63,2 % Fka = = 1,632%

47

Perhitungan Pengamatan Awal N tersedia (%) = = = = 0,27 % Perhitungan 41 HST a. P1 N tersedia (%) = = = = 0,31 % b. P2 N tersedia (%) = = = = 0,33% c. P3 N tersedia (%) = = = = 0,31 %
( ( ) ) ( ( ) ) ( ) ( )

48