Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sjamsuhidayat R (1997), membagi bahasan neoplasma pada system
muskuloskeletal menjadi dua, yaitu neoplasma jaringan lunak dan
neoplasma kerangka. Tumor tulang di luar tulang, kulit, dan sistem organ
besar biasanya disebut tumor ganas jaringan lunak dan bukan sarkoma,
karena berbagai tumor mesenkim dengan derajat keganasan rendah dan
tumor dengan penumbuhan infiltratif setempat juga termasuk dalam
golongan ini.
Reeves (2001), terdapat dua tipe tumor tulang (neoplasma) yaitu
primer dan metastasis. Tumor yang berasal dari tulang (primer) mencakup
tumor yang tidak berbahaya seperti osteoma, kondroma, tumor sel raksasa,
kista dan osteid osteoma. Tumor primer tumbuh dengan lambat, pada area
terbatas, dan jarang sekali meluas. Tumor primer yang ganas sangat jarang
menyerang orang dewasa dan jika menyerang, tumor ini mencangkup
osteosarkoma dan multiple myeloma.
Doenges (2000), memakai istilah kanker untuk menggambarkan
gangguan pertumbuhan seluler, kanker merupakan kelompok penyakit dan
bukan hanya penyakit tunggal. Sarkoma merupakan kanker yang berasal
dari tulang, otot, atau jaringan penyambung.
Tumor ganas sering bermetastis sampai paru-paru selama tahap
awalnya. Osteosarkoma merupakan keganasan tulang yang utama, sering
ditemukan pada anak-anak dan remaja. Tumor tulang metastatik awalnya
terdapat di paru-paru, payudara, prostat, ginjal, ovary, atau tiroid. Insiden
osteosarkoma lebih banyak terjadi daripada tumor tulang primer dan
memiliki prognosis yang buruk. Karsinoma akan lebih sering
bermetastatis ke tulang daripada sarkoma.



2

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan mempelajari tentang konsep dasar dari Tumor
Tulang.
2. Tujuan Khusus
- Mengetahui apa itu penyakit tumor tulang
- Bagaimana proses terjadinya tumor tulang
- Apa saja dan bagaimana penatalaksanaan tumor tulang serta
pencegahannya.
3

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Tumor merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi berasal dari
bahasa latin, yang berarti bengkak. Istilah Tumor ini digunakan untuk
menggambarkan pertumbuhan biologikal jaringan yang tidak normal. Menurut
Brooker (2001), pertumbuhan tumor dapat digolongkan sebagai ganas
(malignant) atau jinak (benign).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak
pada umumnya tidak cepat membesar.
Osteoma merupakan lesi tulang yang bersifat jinak dan ditandai oleh
pertumbuhan tulang yang abnormal.

B. Klasifikasi
Dalam kasus tumor pada tulang dapat dibedakan berdasarkan sifatnya menjadi
tumor tulang jinak dan tumor tulang ganas :
1. Tumor Jinak
a. Osteoma
Osteoma merupakan lesi tulang yang bersifat jinak dan ditandai oleh
pertumbuhan tulang yang abnormal. Osteoma klasik berwujud sebagai
suatu benjolan yang tumbuh dengan lambat, tidak nyeri. Pada
pemeriksaan radiografi, osteoma perifer tampak sebagai lesi, lesi
menimbulkan adiopak yang meluas dari perrmukaan tulang, osteoma
sentral tampak sebagai suatu massa sklerotik terbatas jelas didalam
tulang. Kalau lesi menimbukan gejala-gejala, membesar, atau
menyebakan ketidakmampuan maka perawatan yang dipilih adalah
eksisi osteoma dengan pembedahan. Operasi pembuangan bagian
tulang yang membesar ini juga dilakukan untuk tujuan diagnostik pada
lesi-lesi yang besar. Eksisi meemberikan penyembuhan pada tulang.


4

b. Kondroblastoma
Tempat paling sering terserang adalah tulang humerus. Gejala
seringkali berupa nyeri sendi yang timbul dari jaringan tulang rawan.
Perawatannya dengan eksisi pembedahan. Jika kambuh, tumor ini akan
di tangani dengan eksisi, bedah beku atau radioterapi.

c. Endrokoma
Endrokoma atau kondroma sentral adalah tumor jinak sel-sel rawan
displatik yang timbul pada metafisis tulang fibula, terutama pada
tangan dan kaki. Pada pemerikasasn radiografi didapati titik-titik
perkapuran yang berbatas tegas, membesar dan menipis. Tanda ini
merupakan ciri khas dari tumor. Keadaan ini meningkatkan fraktur
patologis untuk jenis gangguan ini biasanya dilakukan pembedahan
dengan kuretase dan pencangkokan tulang.

d. Tumor sel raksasa
Sifat khas sel raksasa adalah adanya stroma vascular yang terdiri
dari sel-sel dan bentuk oval yang mengandung sejumlah nucleus
lonjong, kecil dan berwarna gelap. Sel raksasa ini merupakan sel besar
dengan sitoplasma yang berwarna merah muda. Sel ini mengandung
sejumlah nucleus yang vesicular dan menyerupai sel-sel stroma.
Walaupun tumor ini dianggap jinak tetapi tetap memiliki derajat
keganasaaan bergantung pada sifat sarkopatosa dari stromanya. Pada
jenis yang ganas, tumor ini menjadi anaplastik dengan daerah-daerah
nekrosis dan perdarahan .
Tempat-tempat biasa yang di sarang pada tumor ini adalah ujung-
ujung tulang panjang radius. Gejala yang paling sering adalah nyeri,
juga ada keterbatasan gerakan sendi dan keleamahan.
Setelah dibiopsi untuk memastikan adanyan tumor ini , biasanya
diperlukkan eksisi yang cukup luas, termasuk pengangkatan di tepi
tumor. Tumor ini cenderung kambuh secara local dan tumor yang
kambuh setelah suatu eksisi yang tidak bersih biasanya lebih ganas.
5

Dengan melakukan biopsy maka diagnosis dapat ditegakkan dan
yang disertai tindakan rekontruksi segera dapat dilakukan. Pada kasus-
kasus tumor sel raksasa ini menyerang suatu daerah yang luas di
bagian distal radius, maka bagian proksimal fibula pasien dapat di
cangkokkan untuk rekontruksi lengan bawah.

2. Tumor ganas
a. Sarkoma Osteogenik
Sarcoma osteogenik atau osteosarkoma merupakan neoplasma tulang
primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang.
Tempat yang paling sering terkena tumor ini adalah bagian tulang-
tulang panjang, terutama lutut. Nyeri yang disertai destruksi tulang dan
erosi adalah gejala umum dari penyakit ini.

Penampakan kasar dari sarcoma osteogenik bervariasi. Neoplasma
tersebut dapat berupa :
Osteolitik, dengan tulang yang telah mengalami kerusakan dan
jaringan lunak diinvasi oleh tumor, atau
Osteoblastik sebagai akibat pembentukan tulang sklorotik yang
baru.Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat dengan
lesi, dan pada hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya
suatu bangunan yang berbentuk segitiga. Walaupun deposit tulang
ini terlihat pada banyak keganasan tulang, tetapi bersifat khas
untuk sarcoma osteogenik, tumor itu sendiri dapat menghasilkan
suatu pertumbuhan tulang yang bersifat abortif. gangguan seperti
ini pada radiogram akan terlihat sebagai suatu sunburst
(pancaran sinar matahari).

b. Kondrosarkoma
Kondrosarkoma merupakan tumor tulang ganas yang terdiri dari
kondrosit anaplastik yang dapat tumbuh sebagai tumor tulang perifer
atau sentral. Gejala yang paling sering adalah massa tanpa nyeri yang
6

berlangsung lama. Contoh lesi perifer sering kali tidak menimbulkan
gejala-gejala tertentu untuk jangka waktu yang lama dan hanya
merupakan pembesaran yang dapat diraba dan hampir tidak
menimbulkan gangguan.tetapi mungkin akan disusul dengan suatu
pertumbuhan yang cepat dan agresif. tempat-tempat yang paling sering
ditumbuhi tumor ini adalah : pelvis, femur, tulang iga, gelang bahu dan
tulang-tulang kraniofasial.
Pada radiogram kondroskoma akan tampak sebagai suatu daerah
radiolusen dengan bercak-bercak perkapuran yang tidak jelas.
Penatalaksanaan terbaik yang dilakukan pada saat ini adalah dengan
eksisi radikal, tetapi bisa dilakukan juga dengan bedah beku,
radioterapi, dan kemotrapi. Untuk lesi-lesi besar yang agresif dan
kambuh berulang-ulang, penatalaksanaan yang paling tepat mungkin
adalah dengan melakukan amputasi.

c. Sarkoma Ewing
Tempat yang paling sering adalah korpus tulang-tulang panjang.
Penampilan kasar adalah berupa tumor abu-abu lunak yang tumbuh ke
reticulum sumsum tulang dan merusak korteks tulang dari sebelah
dalam.Dibawah periosteum terbentuk lapisan-lapisan tulang yang baru
diendapkan paralel dengan batang tulang sehingga membentuk
gambaran seperti tulang bawang.

C. Etiologi
Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Akhir-akhir ini,
penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu C-Fos
dapat meningkatkan kejadian tumor tulang. Radiasi sinar radio aktif dosis
tinggi, keturunan, beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti
penyakit paget (akibat pajanan radiasi ), (Smeltzer. 2001).
Meskipun tidak ada penyebab tumor tulang yang pasti, ada beberapa
faktor yang berhubungan dan memungkinkan menjadi faktor penyebab
terjadinya tumor tulang yang meliputi:
7


1. Genetik
Beberapa kelainan genetik dikaitkan dengan terjadinya keganasan tulang,
misalnya sarcoma jaringan lunak atau soft tissue sarcoma (STS). Dari data
penelitian diduga mutasi genetic pada sel induk mesinkin dapat
menimbulkan sarcoma. Ada beberapa gen yang sudah di ketahui,
mempunyai peranan dalam kejadian sarcoma, antara lain gen RB-1 dan
p53. Mutasi p53 mempunyai peranan yang jelas dalam terjadinya STS.
Gen lain yang juga diketahui mempunyai peranan adalah gen MDM-2
(Murine Double Minute 2). Gen ini dapat menghasilkan suatu protein yang
dapat mengikat pada gen p53 yang telah mutasi dan menginaktivitas gen
tersebut.

2. Radiasi.
Keganasan jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang
terpapar radiasi seperti pada klien karsinoma mamma dan limfoma
maligna yang mendapat radioterapi.Halperin dkk. Memperkirakan resiko
terjadinya sarcoma pada klien penyakit Hodgkin yang diradiasi adalah
0,9%. Terjadinya keganasan jaringan lunak dan bone sarcoma akibat
pemaparan radiasi sudah diketahui sejak 1922. Walaupun jarang
ditemukan, prognosisnya buruk dan umumnya high grade.
Tumor yang sering ditemukan akibat radiasi adalah malignant
fibrous histiocytoma (MFH) dan angiosarkoma atau limfangiosarkoma.
Jarak waktu antara radiasi dan terjadinya sarcoma diperkirakan sekitar 11
tahun.

3. Infeksi.
Keganasan pada jaringan lunak dan tulang dapat juga disebabkan oleh
infeksi parasit, yaitu filariasis.Pada klien limfedema kronis akibat
obstruksi, filariasis dapat menimbulkan limfangiosrakoma.


8

D. Patofisiologi
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel
tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses
destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses
pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal. Pada proses osteoblastik,
karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang
baru dekat tempat lesi terjadi, sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang
abortif.
Kelainan congenital, genetic, usia, rangsangan fisik berulang, hormon,
infeksi, gaya hidup, karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi) dapat
menimbulkan tumbuh atau berkembangnya sel tumor. Sel tumor dapat bersifat
benign (jinak) atau bersifat malignant (ganas).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor
jinak pada umumnya tidak cepat membesar.Sel tumor mendesak jaringan
sehat sekitarnya secara serempak sehingga terbentuk simpai (serabut
pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat). Oleh
karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah dikeluarkan
dengan cara operasi.
Sel tumor pada tumor ganas (kanker) tumbuh cepat, sehingga tumor
ganas pada umumnya cepat menjadi besar.Sel tumor ganas tumbuh menyusup
ke jaringan sehat sekitarnya, sehingga dapat digambarkan seperti kepiting
dengan kaki-kakinya mencengkeram alat tubuh yang terkena. Disamping itu
sel kanker dapat membuat anak sebar (metastasis) ke bagian alat tubuh lain
yang jauh dari tempat asalnya melalui pembuluh darah dan pembuluh getah
bening dan tumbuh kanker baru di tempat lain. Penyusupan sel kanker ke
jaringan sehat pada alat tubuh lainnya dapat merusak alat tubuh tersebut
sehingga fungsi alat tersebut menjadi terganggu.
Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel
yang tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan
biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang
bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh
(metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan
9

DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan
fungsi lainnya (Tjakra, Ahmad. 1991).
Adapun siklus tumbuh sel kanker adalah membelah diri, membentuk
RNA, berdiferensiasi / proliferasi, membentuk DNA baru, duplikasi
kromosom sel, duplikasi DNA dari sel normal, menjalani fase mitosis, fase
istirahat (pada saat ini sel tidak melakukan pembelahan).

E. Tanda dan Gejala
1. Rasa sakit (nyeri),
Nyeri dan atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi
semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan
progresivitas penyakit).
2. Pembengkakan
Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan
yang terbatas (Gale. 1999: 245).
3. Keterbatasan gerak
4. Fraktur patologik.
5. Menurunnya berat badan
6. Teraba massa; lunak dan menetap dengan kenaikan suhu kulit di atas
massa serta distensi pembuluh darah maupun pelebaran vena.

F. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
1. Pemeriksaan radiologis menyatakan adanya segitiga codman dan destruksi
tulang.
2. CT scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru.
3. Biopsi terbuka menentukan jenis malignansi tumor tulang, meliputi
tindakan insisi, eksisi, biopsi jarum, dan lesi-lesi yang dicurigai.
4. Skrening tulang untuk melihat penyebaran tumor.
5. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan adanya peningkatan alkalin
fosfatase.
10

6. MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan
penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya.
7. Scintigrafi untuk dapat dilakukan mendeteksi adanya skip lesion, (
Rasjad. 2003).

G. Penatalaksanaan Medik
Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat
didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan
tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi
secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit.
Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi
kombinasi.
Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi
dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi
adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau
metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin
digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi.
Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan
pemberian cairan normal intravena, diuretika, mobilisasi dan obat-obatan
seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid.( Gale. 1999: 245 ).
Tujuan dari penatalaksanaan adalah untuk menghancurkan atau mengangkat
jaringan maligna dengan menggunakan metode yang seefektif mungkin.
Secara umum penatalaksanaan osteosarkoma ada dua, yaitu: Pada
pengangkatan tumor dengan pembedahan biasanya diperlukan tindakan
amputasi pada ekstrimitas yang terkena, dengan garis amputasi yang
memanjang melalui tulang atau sendi di atas tumor untuk control lokal
terhadap lesi primer.
Beberapa pusat perawatan kini memperkenalkan reseksi lokal tulang tanpa
amputasi dengan menggunakan prosthetik metal atau allograft untuk
mendukung kembali penempatan tulang-tulang. Kemoterapi : Obat yang
digunakan termasuk dosis tinggi metotreksat yang dilawan dengan factor
citrovorum, adriamisin, siklifosfamid, dan vinkristin.
11


H. Komplikasi
1. Akibat langsung : Patah tulang
2. Akibat tidak langsung : Penurunan berat badan, anemia, penurunan
kekebalan tubuh
3. Akibat pengobatan : Gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah,
kebotakan pada kemoterapi.

I. Pencegahan
Penyakit kanker tulang dapat dicegah seperti halnya penyakit
lainnya. Pencegahan kanker tulang ada beberapa cara yang dapat dilakukan
sejak dini, yakni:
1. Melakukan penguatan terhadap tulang dengan cara mendapatkan vitamin
D melalui berjemur sebelum pukul 10 pagi di bawah sinar matahari
langsung.
2. Mengembangkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang
seimbang, empat sehat lima sempurna. Terutama makanan yang
mengandung kalsium alami dengan jumlah yang cukup.
3. Olahraga yang teratur dapat menguatkan tulang karena banyak bergerak
akan membuat komposisi tulang menjadi lebih padat. Lari dan senam
adalah olahraga yang direkomendasikan baik untuk tulang.
4. Hindari makanan yang mengandung zat karsiogenik atau mengandung zat
yang dapat menyebabkan kanker.
5. Tidak mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol.



12

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Tumor merupakan
salah satu dari lima karakteristik inflamasi berasal dari bahasa latin, yang
berarti bengkak. Istilah Tumor ini digunakan untuk menggambarkan
pertumbuhan biologikal jaringan yang tidak normal. Menurut Brooker (2001),
pertumbuhan tumor dapat digolongkan sebagai ganas (malignant) atau jinak
(benign).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor
jinak pada umumnya tidak cepat membesar.
Osteoma merupakan lesi tulang yang bersifat jinak dan ditandai oleh
pertumbuhan tulang yang abnormal.

B. Saran
Saran kami dari kelompok kiranya makalah ini bisa berguna bagi para
pembaca dan dapat di pelajari dan dipraktekkan dalam kehidupan dan
dirumah sakit.

13

DAFTAR PUSTAKA

http://doktersehat.com/gejala-dan-pencegahan-kanker-tulang/#ixzz2zV7jnjdp
http://doktersehat.com/gejala-dan-pencegahan-kanker-tulang/

http://ridwanaz.com/kesehatan/pengobatan-dan-pencegahan-kanker-tulang/
http://nurse87.wordpress.com/2013/06/18/asuhan-keperawatan-pada-pasien-
dengan-tumor-tulang/
http://silviahidayantiaskep.blogspot.com/2012/05/askep-tumor-tulang.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoma