Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Uji Tarik merupakan salah satu pengujian untuk mengetahui sifat sifat suatu
bahan. Dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bagaimana bahan
tersebut berekasi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu
bertambah panjang.
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari hasil uji tarik, bila kita terus menarik suatu
bahan suatu logam sampai putus kita akan mendapatkan profil tarikan yang lengkap
yang berupa kurva. Kurva ini menunjukan hubungan antara gaya tarikan dengan
perubahan panjang.
Dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bagaimana bahan
tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu
bertambah panjang. Alat eksperimen untuk uji tarik ini harus memiliki cengkeraman
( grip ) yang kuat dan kekakuan yang tinggi ( highly stiff ).
Suatu logam mempunyai sifat sifat tertentu yang dibedakan atas sifat fisik,
mekanik, thermal dan korosif. Salah satu yang penting dari sifat tersebut adalah sifat
mekanik. Sifat mekanik terdiri dari keuletan, kekerasan, kekuatan dan ketangguhan.
Sifat mekanik merupakan salah satu acuan untuk melakukan proses selanjutnya
terhadap suatu material yang selanjutnya dibentuk dan dilakukan proses permesinan.
Dalam pembuatan suatu konstruksi diperlukan materila dengan spesifikasi dan sifat
sifat yang khusus pada setiap bagiannya. Diperlukan materila yang kuat untuk
menerima beban diatasnya, material juga harus elastis agar pada saat terjadi
pembebanan standart atau berlebih tidak patah.
Meskipun dalam proses pembuatan telah diprediksi sifat mekanik dari logam,
kita perlu benar benar mengetahui nilai mutlak dan akurat dari sifat mekanik logam
tersebut. Pengujian dimaksudkan agar kita dapat mengetahui besar sifat mekanik dari
material, sehingga dapat dilihat kelebihan dan kekurangannya.
Pengujian tarik ini dilakukan untuk mengetahui sifat sifat mekanis suatu material,
khususnya logam diantara sifat sifat mekanis yang dapat diketahui dari hasil
pengujian tarik adalah sebagai berikut :
1. Kekuatan tarik
2. Kuat luluh dari material


3. Keuletan dari material
4. Modulus elastic dari material
5. Kelentingan dari suatu material
6. Ketangguhan.
Pengujian tarik banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar
kekuatan suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan. Karena
dengan pengujian tarik dapat diukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis
yang diberikan secara perlahan. Pengujian tarik ini merupakan salah satu pengujian
yang penting untuk dilakukan, karena dengan pengujian ini dapat memberikan
berbagai informasi mengenai sifat sifat logam.

B. PERUMUSAN MASALAH
Dengan mempelajari uji tarik maka dapat dirumuskan beberapa masalah
antara lain :
1. Pengaruh atau respon material terhadap pembebanan ?
2. Pengujian tarik suatu benda uji akan menghasilkan suatu diagram tarik ?

C. BATASAN MASALAH
Karena banyak macam dan uji tarik yang ada, maka masalah dibatasin pada :
1. Mempelajari kurva diagram uji tarik dari benda uji.
2. Menetukan beberapa sifat mekanik benda uji.
3. Mengamati fenomena fenomena fisik yang terjadi selama penarikan.

D. MANFAAT
Praktikum ini diharapkan mempunyai manfaat kepada mahasiswa antara lain :
1. Mengetahui fungsi secara umum seperti bagian bagian pada alat uji tarik dan cara
penggunaannya.
2. Mengetahui dan menjelaskan kurva diagram uji tarik terhadap pengujian tarik suatu
benda uji.


E. TUJUAN
Praktikum ini mempunyai tujuan kepada mahasiswa antara lain :
1. Mahasiswa mampu mengaplikasikan teori dalam praktek.
2. Mahasiswa mampu memahami cara melakukan pengujian tarik dan mengerti
karakteristik pengujian yang terjadi.
3. Mahasiswa mampu melakukan analisa data terhadap pengujian tarik dengan membaca
kurva diagram tarik.

F. SISTEMATIKA PENULISAN
1. BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini terdapat penjelasan mengenai latar belakang penulisan makalah,
rumusan masalah, batasan masalah , manfaat , tujuan dan sistematika penulisan
makalah itu sendiri.
2. BAB II LANDASAN TEORI
Dalam bab ini terdapat teori teori yang mendukung dalam pembahasan materi
makalah jurnal sehingga menunjang pemahaman dan penyelesaian praktikum dengan
baik.
3. BAB III JURNAL PRAKTIKUM
Pada bab ini akan dibahas mengenai jurnal praktikum dan langkah langkah
percobaan sehingga dapat menjawab perumusan masalah yang dibuat.
4. BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN SOAL
Pada bab ini dibahas mengenai jawaban pertanyaan dari jurnal praktikum
5. BAB V PENUTUP
Pada bab ini menyimpulkan permasalahan dalam jurnal praktikum yang dilakukan dan
memberikan saran pengembangan kedepan dalam melakukan praktikum.
6. DAFTAR PUSTAKA
Memberi referensi penulisan untuk pengembangan yang lebih baik dan memberi
penunjang untuk melakukan referensi yang lain.



BAB II
LANDASAN TEORI
A. Teori Dasar
Hukum Hooke (Hooke's Law)
Hampir semua logam, pada tahap sangat awal dari uji tarik, hubungan antara beban
atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang bahan tersebut.
Ini disebut daerah linier atau linear zone. Di daerah ini, kurva pertambahan panjang vs
beban mengikuti aturan Hooke yaitu rasio tegangan (stress) dan regangan (strain)
adalah konstan.
Stress adalah beban dibagi luas penampang bahan
strain adalah pertambahan panjang dibagi panjang awal bahan

Dirumuskan:
Stress (Tegangan Mekanis):


Dimana :
F = gaya tarikan
A = luas penampang
Strain (Regangan):


Dimana :
L = Pertambahan panjang
L = Panjang awal
Maka, hubungan antara stress dan strain dirumuskan:

atau


Dimana :
E = Modulus elastisitas yang merupakan konstanta bahan
= Regangan


= Tegangan
L = Pertambahan panjang material
Lo = Panjang mula mula material
F = Beban tarik
Ao = Luas penampang material

Untuk menghitung tegangan ( dan Regangan ( digunakan rumus :

dan


x 100%
Dimana :
F = Gaya Total ( Newton )
A0 = Luas Penampang awal (m )
L0 = Panjang Mula mula ( m )

Untuk reduksi penampang dapat dihitung dengan menggunakan :





Dimana :
Q = Reduksi Penampang dalam persen
Ao = Luas Penampang awal
Af = Luas penampang


Kurva yang menyatakan hubungan antara strain dan stress seperti ini sering disingkat
dengan kurva SS (SS curve).
kurva standar ketika melakukan eksperimen uji tarik. E adalah gradien kurva dalam
daerah linier, di mana perbandingan tegangan () dan regangan () selalu
tetap. E diberi nama "Modulus Elastisitas" atau " Modulus Young".



Gambar 2.1. Kurva Pertambahan Panjang.

B. Dasar Pengujian Logam
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu
bahan/ material dengan cara memberikan beban gaya. Hasil yang didapatkan dari
pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena
menghasilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur
ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.

Gambar 2.2. Mesin Uji Tarik.

Pengujian tarik adalah dasar dari pengujian mekanik yang dipergunakan pada
material. Dimana spesimen uji yang telah distandarisasi, dilakukan pembebanan
uniaxial sehingga spesimen uji mengalami peregangan dan bertambah panjang hingga
akhirnya patah. Pengujian tarik relatif sederhana, murah dan sangat terstandarisasi
dibanding pengujian lain. Hal hal yang perlu diperhatikan agar pengujian
menghasilkan nilai valid adalah bentuk dan dimensi spesimen uji, pemilihan grips dll.


Beban tarikan adalah apabila pada suatu benda bekerja beberapa gaya yang
arah garis kerja gaya berlawanan ( bertolak belakang ). Besarnya gaya tarik yang
dapat ditahan batang bahan uji dengan ukuran dan penampang tertentu, dapat
ditentukan dengan cara membebani batang tersebut dengan tarikan yang semakin
tinggi dan mengukur besarnya gaya maksimum yang dapat ditahan oleh batang
sebelum putus dan patah .
P
P

Gambar. 2.3. Kerja gaya tarik terhadap batang uji.

Apabila setap mm penampang dari bahan menerima/ menahan beban yang sama
besar sebelum bahan uji tarik putus, maka harga ini disebut kekuatan tarik.

C. Grip and Face Selection
Face dan grip adalah faktor penting.dengan pemilihan setting yang tidak tepat,
spesimen uji akan terjadi slip atau bahkan pecah dalam daerah grip ( jaw break ). Ini
akan menghasilkan hasil yang tidak valid. Face harus selalu tertutupi diseluruh
permukaan yang kontak dengan grip. Agar spesimen uji tidak bergesekan langsung
dengan face.
Beban yang diberikan pada bahan yang diuji ditransmisikan pada pegangan
bahan yang diuji. Dimensi dan ukuran pada benda uji disesuaikan dengan standar
baku pengujian. Spesimen uji harus memenuhi standar dan spesifikasi dari ASTM E8
atau D638. Bentuk dari spesimen penting karena kita harus menghindari terjadinya
patah atau retak pada daerah grip atau yang lainnya. Jadi standarisasi dari bentuk
spesimen uji dimaksudkan agar retak dan patahan terjadi didaerah gage length

D. Konsep Dasar Tegangan dan Regangan
Proses pembentukan secara metalurgi merupakan proses deformasi plastis.
Deformasi plastis artinya adalah apabila bahan mengalami pembebanan sewaktu


terjadinnya proses pembentukan dimana setelah beban dilepaskan maka diharapkan
pelat tidak kembali kekeadaan semula. Bahan yang mengalami proses embentukan ini
mengalami peregangan atau penyusutan. Terbentuknya bahan inilah yang dikatakan
sebagai deformasi plastis. Kondisi proses pembentukan dengan deformasi plastis ini
mendekatkan teori pembentukan dengan teori plastisitas.
Teori plastisitas membahas prilaku bahan pada regangan dimana pada kondisi
tersebut hukum hook tidak berlaku lagi. Aspek aspek deformasi plastis membuat
formulasi matematis teori plastisitas lebih sulit dari pada perilaku benda pada elastis.
Pada hasil uji tarik sebuah benda uji menunjukan grafik tegangan regangan yang
terbentuk terdiri dari komponen elastis yang ditunjukan pada garis linier dan kondisi
plastis ditunjukan pada garis parabola sampai mendekati putus.
Deformasi elastis tergantung dari keadaan awal dan akhir tegangan serta
regangan regangan plastis tergantung dari jalannya pembebanan yang menyebabkan
tercapainnya keadaan akhir. Gejalan pengerasan regang ( strain hardening ) sewaktu
pelat mengalami proses pembentukan sulit diteliti dengan pendekatan teori plastisitas
ini.

Gambar.2.4. Kurva Tegangan dan Regangan

Teori plastisitas telah menjadi salah satu bidang mekanika kontinum yang paling
berkembang, dam suatu kemajuan untuk mengembangkan suatu teori dalam rekayasa
yang penting. Analisis regangan plastis diperlukan dalam menangani proses


pembentukan logam. Teori plastisitas ini didasari atas pengujian tarik, dimana
pengujian tarik ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari suatu bahan.


Gambar 2.5. Benda Yang Diberi Gaya Tarik

Prinsip dasar pengujian tarik yang dilakukan ini adalah dengan melakukan
penarikan terhadap suatu bahan sampai bahan tersebut putus/ patah. Gaya tarik yang
dikenakan pada spesimen benda uji sejajar dengan garis sumbu spesimen ( bahan uji )
dan tegak lurus terhadap penampang spesimen yang sudah ditentukan menurut BS,
ISO, ASTM dan sebagainnya. Pengujian tarik merupakan pengujian terpenting dalam
pengujian statis, secara skematis hasil pengujian tarik untuk logam diperlihatkan
dibawah ini :

Gambar 2.6. Dimensi Spesimen Uji Tarik ( JIS Z2201 ).

E. Modulus Elastisitas
Modulus Elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan ke
elastisitasnya. Makin besar modulus, makin kecil regangan elastik yang dihasilkan
akibat pemeberian tegangan Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikat antar atom,


karena gaya gaya ini tidak dapat dirubah tanpa terjadi perubahan mendasar pada
sifat bahannya. Sehingga modulus elastisitas salah satu sifat sifat mekanik yang
tidak dapat diubah. Sifat ini hanya sedikit berubah oleh adannya penambahan
panduan, perlakuan panas, atau pengerjaan dingin.
Modulus elastic dapat ditulis
Mo =


Dimana :



Tabel.2.1. Harga modulus elastisitas pada berbagai suhu.
Bahan
Modulus Elastisitas, psi x


Suhu
Kamar
400 F 800 F 1000 F 1200 F
Baja Karbon 30.0 27.0 22.5 19.5 18.0
Baja tahan karat
austenit
28.0 25.5 23.0 22.5 21.0
Paduan titanium 16.5 14.0 10.7 10.1
Paduan aluminium 10.5 9.5 7.8





Gambar. 2.7. Kurva Uji Tarik Tegangan dan Regangan


Apabila deformasi terjadi memanjang, terjadi pula deformasi penyusutan yang
melintang. Kalau regangan melintang ( lateral strain ) r perbandingannya dengan e
( linier strain ) disebut juga perbandingan Poisson, dinyatakan dengan


Modulus elastik Bulk ( K ) jika


maka K =

yang artinya dalam deformasi


elastik volume mengembang.
Dalam hal geseran, regangan mempunyai hubungan dengan tegangan geser T yaitu :
T = Gx, G disebut sebagai modulus geser ( modulus of rigidity ). Jika dilihat dari
gambar grafik tegangan dan regangan memperlihatkan bahwa sesudah garis linier
muncul daerah luluh dan selanjutnya garis membentuk lengkungan sampai putus.
Garis melengkung inilah merupakan fungsi dari modulus elastisitas Bulk yang
digunakan pada prinsip pembentukan.

Gambar . 2.8. Kurva Tegangan dan Regangan Di Daerah Elastik

F. Detail Profil Uji Tarik dan Sifat Mekanik Logam
Untuk keperluan kebanyakan analisa teknik, data yang didapatkan dari uji tarik dapat
digeneralisasi seperti pada gambar.



Gambar 2.9. Kurva Hasil Uji Tarik

Asumsi bahwa kita melakukan uji tarik mulai dari titik O sampai D sesuai dengan arah
panah dalam gambar.
Batas elastisitas .
Dalam gambar dinyatakan dengan titik A. Bila sebuah bahan diberi beban sampai
pada titik A, kemudian bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke
kondisi semula (tepatnya hampir kembali ke kondisi semula) yaitu regangan nol
pada titik O .Tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik A, hukum Hooke tidak
lagi berlaku dan terdapat perubahan permanen dari bahan. Terdapat konvensi batas
regangan permamen (permanent strain) sehingga masih disebut perubahan elastis
yaitu kurang dari 0.03%, tetapi sebagian referensi menyebutkan 0.005% . Tidak ada
standarisasi yang universal mengenai nilai ini.
Batas proporsional
Titik sampai di mana penerapan hukum Hook masih bisa ditolerir. Tidak ada
standarisasi tentang nilai ini. Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama
dengan batas elastis.
Deformasi plastis ( plastis deformation )


Yaitu perubahan bentuk yang tidak kembali ke keadaan semula. Pada gambar diatas
yaitu bila bahan ditarik sampai melewati batas proporsional dan mencapai
daerah landing.
Tegangan luluh atas

( upper yield stress ).


Tegangan maksimum sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan
deformasi elastis ke plastis.
Tegangan luluh bawah

)
Tegangan rata-rata daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase deformasi
plastis. Bila hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka yang dimaksud
adalah tegangan ini.
Regangan luluh

yield strain )
Regangan permanen saat bahan akan memasuki fase deformasi plastis
Regangan elastis


Regangan yang diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan
regangan ini akan kembali ke posisi semula.
Regangan plastis


Regangan yang diakibatkan perubahan plastis. Pada saat beban dilepaskan regangan
ini tetap tinggal sebagai perubahan permanen bahan.
Regangan total ( total strain )
Merupakan gabungan regangan plastis dan regangan elastis,
T
=
e
+
p.
Perhatikan
beban dengan arah OABE. Pada titik B, regangan yang ada adalah regangan total.
Ketika beban dilepaskan, posisi regangan ada pada titik E dan besar regangan yang
tinggal (OE) adalah regangan plastis.
Tegangan tarik maksimum ( ultimate tensile strength )
Pada gambar ditunjukkan dengan titik C (

), merupakan besar tegangan maksimum


yang didapatkan dalam uji tarik.
Kekuatan patah ( breaking strength )
Pada gambar ditunjukkan dengan titik D, merupakan besar tegangan di mana bahan
yang diuji putus atau patah.
Tegangan luluh pada data tanpa batas jelas antara perubahan elastis dan plastis
Untuk hasil uji tarik yang tidak memiliki daerah linier dan landing yang jelas,
tegangan luluh biasanya didefinisikan sebagai tegangan yang menghasilkan regangan
permanen sebesar 0.2%, regangan ini disebut offset-strain.




Gambar 2.10. Penentuan Tegangan Luluh ( yield stress )Untuk Kurva Daerah
Linier

satuan SI untuk tegangan (stress) adalah Pa (Pascal, N/m
2
) dan strain adalah besaran
tanpa satuan.
Kelenturan (ductility)
Merupakan sifat mekanik bahan yang menunjukkan derajat deformasi plastis yang
terjadi sebelum suatu bahan putus atau gagal pada uji tarik. Bahan disebut
lentur (ductile) bila regangan plastis yang terjadi sebelum putus lebih dari 5%, bila
kurang dari itu suatu bahan disebut getas (brittle).
Derajat kelentingan ( resilience )
Derajat kelentingan didefinisikan sebagai kapasitas suatu bahan menyerap energi
dalam fase perubahan elastis. Sering disebut dengan Modulus Kelentingan (Modulus
of Resilience), dengan satuan strain energy per unit volume (Joule/m
3
atau Pa).
Derajat ketanguhan ( toughness )
Kapasitas suatu bahan menyerap energi dalam fase plastis sampai bahan tersebut
putus. Sering disebut dengan Modulus Ketangguhan (modulus of toughness). Dalam
gambar 2.6., modulus ketangguhan sama dengan luas daerah dibawah kurva OABCD.
Ketangguhan ( So) adalah perbandingan antara kekuatan dan keuletan .persamaan
sebagai berikut :


Atau




Dimana :



Pengerasan regang ( strain hardening ).
Sifat kebanyakan logam yang ditandai dengan naiknya nilai tegangan berbanding
regangan setelah memasuki fase plastis.
Tegangan sejati, regangan sejati ( true stress, true strain )
Untuk itu dipakai definisi tegangan dan regangan sejati, yaitu tegangan dan regangan
berdasarkan luas penampang bahan secara real time.

Gambar.2.11. Regangan Sejati

Regangan sejati didefinisikan sebagai pertambahan panjang dL dibagi panjang bahan L.


= ln ( 1 +

)
= ln ( 1 + )
=ln


= ln



Tegangan sejati

=
Volume konstan
AL =





G. Mesin Uji Tarik
Dilihat dari cara pemberian beban atau gaya tarik pada batang uji maka mesin uji
dapat dibedakan menjadi 2 ( dua ) yaitu :
1. Mesin uji tarik mekanik
2. Mesin uji tarik hidrolik
Mesin uji tarik mekanik, pemberian gaya tarik diperoleh melalui sistem mekanik roda
roda gigi yang digerakan dengan tangan ataupun dengan motor listrik. Kapasitas
mesin uji tarik mekanik ini biasanya realtif rendah dibandingkan dengan mesin
hidrolik.

Gambar 2.12 Mesin uji tarik mekanik
Mesin uji tarik hidrolik, gaya tarik dihasilkan oleh tekanan minyak didalam
silindernya. Kapasitas mesin hidrolik relatif besar dan biasannya mesin ini universal
sehingga dapat digunakan untuk melaksanakan beberapa macam pengujian
diantarannya :
Pengujian tarik
Pengujian tekan


Pengujian geser
Pengujian lengkung

Gambar 2.13 Mesin Uji tarik hidrolik

H. Bentuk dan Ukuran Batang Uji.
Bentu dan ukuran batang uji sudah dinormalisasikan dengan kata lain mengikuti
standart standart tertentu.
Dilihat dari bentuk dapat digolongkan menjadi 2 ( dua ) yaitu :
1. Batang uji proporsional
Yang dimaksud dengan batang uji proporsional adalah panjang batang uji
ditentukan dengan menggunakan rumus :
Lo = k Ao
Dimana :
Lo = Panjang batang uji
K = Konstanta
Ao = Luas penampang batang uji
Konstanta ( k ) untuk baja dan baja tuang adalah 5.65 untuk logam bukan besi
adalah 11.3 dan besi tuang mampu tempa adalah 3.39

a. Batang uji sistem Dp
Untuk batang uji dengan penampang bulat diberlakukan juga sistem Dp yaitu
perbandingan antara diameter dan batang uji sesuai dengan standar indonesia


( SNI ), sitem Dp yang dipakai adalah Dp 10, Dp 5 dan Dp 3, Dp 10 artinya
bahwa panjang batang uji ( Lo ) adalah 10 x Diameter. Ukuran ini juga adalah
pendekatan dari konstanta k = 11.3, DP 5 artinya bahwa panjang batang uji
( Lo ) 5 x Diameter. Ukuran ini juga adalah pendekatan dari konstanta k =
5.65 dan Dp 3 artinya bahwa panjang batang uji ( Lo ) 3 x Diameter atau
pendekatand ari konstantan k = 3.39


Gambar 2.14 Dimensi ukuran batang uji proporsional

Tabel 2.2. Standart ukuran batang uji untuk kepala rata/ lurus
Lo Lo + 2m Lt. Min Lo Lo+2m Lt ( min )
6 8 25 3 2.5 3 30 36 91 60 66 121
8 10 30 4 3 4 40 48 114 80 80 154
10 12 35 5 3 5 50 60 136 100 110 186
12 15 40 6 4 6 60 72 160 120 132 220
14 17 45 7 4.5 7 70 84 183 140 154 255
16 20 50 8 5.5 8 80 96 207 160 176 280
18 22 55 9 6 8 90 108 230 180 198 320
20 24 60 10 6 10 100 120 252 200 220 352
25 30 70 12.5 7 12.5 125 150 305 260 275 439
Batang uji dp 10 Batang uji dp 5
r d D ( mi n ) h ( min ) m n


Tabel 2.3. Standart ukuran batang uji dengan kepala bertingkat
Lo Lo + 2m Lt. Min Lo Lo+2m Lt ( min )
6 7.5 11 6 11 3 2 3 30 36 71 60 66 104
8 10 14 8 13 4 3 4 40 48 96 80 88 136
10 12 18 10 15 5 3 5 50 60 116 100 110 166
12 14.5 21 12 17 6 4 6 60 72 138 120 132 198
14 17 25 14 19 7 4.5 7 70 84 159 140 154 229
16 19 28 16 21 8 5 8 80 96 180 160 176 260
18 22 31 18 23 9 6 8 90 108 202 180 198 292
20 24 35 20 25 10 6 10 100 120 222 200 220 322
25 30 44 25 30 12.5 7.5 12.5 125 150 275 260 275 400
Batang uji dp 10 Batang uji dp 5
r d d1 D min g min h min m n




2. Batang uji non proporsional
Batang uji non proporsional adalah batang uji yang tidak mengikutirumus Lo=
kAo. Namun demikian masih tetap mempunyai ketentuan ketentuan ukuran
tertentu untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Batang uji non proporsional ini biasannya digunakan apabila menguji bahan
bahan :
Kawat
Plat yang tipis ( pipih )
Besi tuang

Gambar 2.15 Dimensi ukuran batang uji non proporsional

I. Pengukuran Batang Uji Setelah Putus
Penentuan panjang ukur setelah putus dapat ditentukan dengan cara menyambungkan
kedua patahn batang uji yang sudah diuji. Dan mengukurnya pada batas panjang ukur
asal ( Lo ) yang sudah diberi tanda sebelum batang uji di uji pada mesin.


Apabila batang uji putus sekitar pertengahan panjang ukur batang uji atau tidak kuang
dari 1/3 panjang ukur batang uji dengan Dp 5 dan 1/5 panjang ukur untuk batang uji
Dp 10, maka panjang ukur dapat diukur langsung dari titik ujung yang satu ke titik
ujung yang lainnya.
Jika batang uji putus kurang dari 1/3 bagian dari batang ukur untuk batang uji Dp 5
dan 1/3 bagian panjang ukur untuk batang uji Dp 10, maka penentuan panjang ukur
setelah batang uji putus dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Hubungkan kedua patahan batang uji putus
Tanda terdekat dengan bidang putus di beri tanda 0
Beri tanda 1.2 dan seterusnya pada bagian patahan yang terpendek sampai
pada titik ujung panjang ukur.
Pada bagian patahan yang panjang beri tanda 1,2,3 dan seterusnya. Sampai
setengah dari jumlah pembagian semula, yakni sampai pada 5 untuk 10
pembagian dan sampai 10 untuk 20 pembagian.





Gambar 2.16. Dimensi perubahan benda uji tarik tegangan



















BAB III
JURNAL PRAKTIKUM
A. Maksud dan Tujuan
1. Mahasiswa mampu melakukan uji tarik dengan alat uji tarik
2. Mahasiswa mampu mengamati fenomena fisik yang terjadi selama penarikan.
3. Mahasiswa mampu membaca kurva uji tarik dari benda uji.

B. Alat dan Bahan
1. Mistar sorong
2. Benda uji tarik
3. Mesin uji tarik
4. Kertas grafik
5. Spidol

C. Langkah Langkah Pengujian
1. Jepitlah batang uji pada kedua rahang penjepit, dan usahakan bahwa batang uji
satu sumbu dengan batang penarik.
2. Atur jarum penunjuk beban pada posisi nol, dengan cara melonggarkan atau
mengencangkan mur sensor beban yang terdapat pada batang penghubung jarum
dengan beban.
3. Posisikan skala pengukuran disesuaikan dengan berat bandul ( dalam percobaan
menggunakan 10 kg f ).
4. Pasang bandul pemberat disesuaikan dengan skala pengukuran yang digunakan
dengan acuan 1 t = A ( bandul ), 2.5t = A + B, 5t = A + B + C, 10t = A + B + C
+ D
5. Pasang kertas grafik pada nol grafik untuk penggambaran diagram penarikan.
6. Periksa kembali semua bagian bagian mesin uji untuk meyakinkan apakah
mesin sudah siap untuk dilakukan pengujian.
7. Selam proses pengujian berlangsung perhatikan gerakan jarum penunjuk beban
dan catatlah besarnya beban pada saat beban batang uji mulur dan pada saat beban
maksimum hingga batang uji tersebut putus. Dan apabila pada batang uji terjadi
batas ulur atas dan batas ulur bawah, catatlah kedua besarnya beban.


8. Disamping pengamatan beban tarik, perhatikan perubahan yang dialami oleh
batang uji akibat pembebanan.
9. Setelah batang uji putus, ambil batang uji dan ukur perpanjangan dan pengecilan
penampang batang uji.
10. Ambil kertas grafik dan sesuaikan analisa grafik tersebut apakah sesuai dengan
besaran beban yang sudah dicatat pada saat pengujian berlangsung.





















BAB IV
ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN SOAL

A. Data ukuran spesimen sebelum pengujian ( mm ) :

Lo A B C D
48 17.5 - 57 157 51 -

Daerah do Rata rata do
1 12.7
12.88
2 12.9
3 13
4 13
5 12.8

B. Data Hasil Pengujian
No
Lo
( mm)
Lf
( mm)

( mm)

( %)
Do
( mm)
Df
( mm)


( Kgf)
Py
( Kgf)
Pf
( Kgf)


( mpa)


( mpa)
1 157 162 5 3.18 12.88 20 12000 10000 9000 188.3 225.76

C. Perhitungan Gaya
1. Yield strenght ( 10.000 kgf)




725,53



2. Tensile strength ( 12.000 kgf )




903,03



D. Pembahasan Soal
1. Apa yang dimaksud :
a. Kekuatan adalah kemampuan bahan untuk menerima beban
b. Keuletan adalah kemampuan logam menahan deformasi hingga terjadinya
perpatahan.
c. Ketangguhan adalah kemampuan material bahan dalam menyerap energi
hingga terjadinya perpatahan.
d. Modulus elastisitas adalah ukuran kekakuan suatu material
2. Buatlah diagram/ kurva :
a. Tengangan teknik regangan teknik

b. Tengangan sebenarnya regangan sebenarnya




3. Dari pengujian yang telah dilakukan, tentukan harga harga sebagai berikut
a. Modulus elastisitas ( E )
E =

= 23664

b. Tegangan luluh


y =

=



= 752, 53 Mpa

c. Tegangan tarik


ts =

903,03 Mpa

d. Tegangan putus


f =

= 677,27 Mpa

e. Regangan total (e



=

0,0318 mm

f. Reduksi penampang ( q)

Q=


Q=


Q= 22%

4. Tentukan besarnya tegangan maksimum, tegangan putus dan regangan sebenarnya
dari kurva


Tegangan maksimum = u = 903,03 MPa
Tegangan Putus = f = 627,27 Mpa
Regangan sebenarnya = e = 0,0318 x 100% = 3,18 %

5. Bila hubungan antara tegangan sebenarnya dengan regangan sebenarnya dapat
dinyatakan dengan persamaan, tentukan harga

dan n
u = K


u = 903,03 Mpa ; K =

150,506
903,03 Mpa =

; n = 1, 358
Dimana,
K = Konstanta Elastis






BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Besar diameter sebagai persyaratan standart pengujian akan mempengaruhi hasil
grafik tegangan dan regangan.
2. Perubahan panjang setelah dilakukan uji tarik mengalami pertambahan panjang 5
mm dari 157 menjadi 162 3.18% setelah di lakukan perhitungan.
3. Tegangan yeild strength dengan hasil 188.13 mpa setelah dilakukan perhitungan.
4. Tegangan tensile strength ( daya regang maksimal ) setelah dilakuka perhitungan.

B. Saran Saran
1. Untuk membuat praktikum maksimal di setiap kelompok diharapkan peserta
membuat ukuran standart benda uji dari awal sehingga setiap peserta memahami
pengaruh besar diameter terhadap hasil pengujian.
2. Untuk pengujian dilakukan agar dilakukan dalam dua jenis benda uji untuk
memberi pemahaman yang lebih baik untuk peserta praktikum.



















DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.academia.edu/2325432/PENGUJIAN_BAHAN_I_BHN_PERKULIAHAN_
2. http://yefrichan.wordpress.com/2010/05/20/tegangan-dan-regangan/
3. http://temonsoejadi.com/2012/09/29/mekanika-kekuatan-material-tegangan-dan-
regangan/




















KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan segala hidayahnya
sehingga penulisan materi praktikum ini dapat diselesaikan dengan baik.
Praktikum uji tarik/ tension ini merupakan salah satu bagian penting untuk memberikan
pengetahuan pada mahasiswa untuk dapat memahami dan mempelajari materi dan
memadukan dengan praktek sehingga memenuhi kemampuan mahasiswa dalam penerapan
teori dan aplikasinya.
Dengan praktikum ini juga mahasiswa dibekali kemampuan analisa dan praktek sehingga
sangat bermanfaat untuk perkembangan bagi setiap mahasiswa dalam dunia kerja nantinya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen, asisten dosen dan para staff lab Mesin yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan kegiatan praktikum yang
sudah berjalan .

Jakarta, Juli 2013


Satria Azhar









DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................... Ii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................................. Iv
KATA PENGANTAR............................................................................................... I
DAFTAR TABEL...................................................................................................... V
BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 1
A. Latar Belakang................................................................................. 1
B. Perumusan Masalah......................................................................... 2
C. Batasan Masalah.............................................................................. 2
D. Manfaat............................................................................................ 2
E. Tujuan.............................................................................................. 3
F. Sistematika Penulisan...................................................................... 3
BAB II LANDASAN TEORI........................................................................... 5
A. Teori Dasar...................................................................................... 5
B. Dasar Dasar Pengujian Logam..................................................... 7
C. Grip And Selection.......................................................................... 8
D. Konsep Dasar Tegangan Dan Regangan......................................... 8
E. Modulus Elastisitas......................................................................... 10
F. Detail Profil Uji Tarik Dan Sifat Mekanik Logam.......................... 12
G. Mesin Uji Tarik............................................................................... 17
H. Bentuk Dan Ukuran Batang Uji...................................................... 18
I. Pengukuran Batang Uji Setelah Putus............................................ 20
BAB III JURNAL PRAKTIKUM................................................................... 23
A. Maksud Dan Tujuan........................................................................ 23
B. Alat Dan Bahan............................................................................... 23
C. Langkah Langkah Pengujian........................................................ 23
D. Gambar Benda Uji.......................................................................... 25
E. Gambar Benda Hasil Pengujian...................................................... 26
BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN...................................... 27
A. Data Ukuran Spesimen Sebelum Pengujian................................... 27
B. Data Hasil Pengujian....................................................................... 27
C. Perhitungan Gaya............................................................................ 27
D. Pembahasan Soal............................................................................. 28
BAB V PENUTUP............................................................................................ 31
A. Kesimpulan...................................................................................... 31
B. Saran Saran................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ vi





DAFTAR GAMBAR

2.1 Kurva Pertambahan Panjang.......................................................... 7
2.2 Mesin Uji Tarik......................................................................... 7
2.3 Kerja Gaya Tarik terhadap Batang Uji........................................ 8
2.4 Kurva Tegangan Dan Regangan................................................. 9
2.5 Benda Yang Diberi Gaya Tarik.................................................... 10
2.6 Dimensi Spesimen Uji Tarik.......................................................... 10
2.7 Kurva Uji Tarik Tegangan Dan Regangan.................................... 11
2.8 Kurva Tegangan Dan Regangan Didaerah Elastis........................ 12
2.9 Kurva Hasil Uji Tarik................................................................... 13
2.10 Penentuan Tegangan Luluh.......................................................... 15
2.11 Regangan Sejati............................................................................. 16
2.12 Mesin Uji Tarik Mekanik............................................................. 17
2.13 Mesin Uji Tarik Hidrolik.......................................................... 18
2.14 Dimensi Ukuran Batang Uji Proporsional.................................. 19
2.15 Dimensi Ukuran Batang Uji Non Proporsional......................... 20
2.16 Dimensi Perubahan Benda Uji Tarik Tegangan......................... 22