Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH TEKNOLOGI BAHAN

UJI TARIK

Dosen Pembimbing :

PINIHAS,Ir

Disusun Oleh:

SAFRYAN EKO P.
SUNARYO

(TM2)
(TM2)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


POLITEKNIK GUNAKARYA INDONESIA
2013/2014

Kampus A. Jl. Cut Mutia No. 99 Bekasi 17000. Telp. 021.8811250, 8822842 Kampus B. Jln Raya
Cibarusah Gedung Sentra Kuning No. 20-21. Cikarang Bekasi Telp. 021. 8990185

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Suatu logam mempunyai sifat-sifat tertentu yang dibedakan atas sifat


fisik, mekanik, thermal, dan korosif. Salah satu yang penting dari sifat tersebut
adalah sifat mekanik. Sifat mekanik terdiri dari keuletan, kekerasan, kekuatan,
dan ketangguhan. Sifat mekanik merupakan salah satu acuan untuk melakukan
proses selanjutnya terhadap suatu material, contohnya untuk dibentuk dan
dilakukan proses permesinan. Untuk mengetahui sifat mekanik pada suatu logam
harus dilakukan pengujian terhadap logam tersebut. Salah satu pengujian yang
dilakukan adalah pengujian tarik.
Dalam pembuatan suatu konstruksi diperlukan material dengan
spesifikasi dan sifat-sifat yang khusus pada setiap bagiannya. Sebagai contoh
dalam pembuatan konstruksi sebuah jembatan. Diperlukan material yang kuat
untuk menerima beban diatasnya. Material juga harus elastis agar pada saat
terjadi pembebanan standar atau berlebih tidak patah. Salah satu contoh
material yang sekarang banyak digunakan pada konstruksi bangunan atau
umum adalah logam.
Meskipun dalam proses pembuatannya telah diprediksikan sifat mekanik
dari logam tersebut, kita perlu benar-benar mengetahui nilai mutlak dan akurat
dari sifat mekanik logam tersebut. Oleh karena itu, sekarang ini banyak
dilakukan pengujian-pengujian terhadap sampel dari material.
Pengujian ini dimaksudkan agar kita dapat mengetahui besar sifat mekanik dari
material, sehingga dapat dlihat kelebihan dan kekurangannya. Material yang
mempunyai sifat mekanik lebih baik dapat memperbaiki sifat mekanik dari
material dengan sifat yang kurang baik dengan cara alloying. Hal ini dilakukan
sesuai kebutuhan konstruksi dan pesanan.
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan
suatu bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang sesumbu. Hasil
yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan
desain produk karena mengahsilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik
digunakan untuk mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang
diberikan secara lambat.Salah satu cara untuk mengetahui besaran sifat
mekanik dari logam adalah dengan uji tarik. Sifat mekanik yang dapat diketahui
adalah kekuatan dan elastisitas dari logam tersebut. Uji tarik banyak dilakukan
untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai

data pendukung bagi spesifikasi bahan. Nilai kekuatan dan elastisitas dari
material uji dapat dilihat dari kurva uji tarik.

Pengujian tarik ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat mekanis suatu


material, khususnya logam diantara sifat-sifat mekanis yang dapat diketahui dari
hasil pengujian tarik adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kekuatan tarik
Kuat luluh dari material
Keuletan dari material
Modulus elastic dari material
Kelentingan dari suatu material
Ketangguhan.

Pengujian tarik banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan


dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan.
Karena dengan pengujian tarik dapat diukur ketahanan suatu material terhadap
gaya statis yang diberikan secara perlahan. Pengujian tarik ini merupakan salah
satu pengujian yang penting untuk dilakukan, karena dengan pengujian ini dapat
memberikan berbagai informasi mengenai sifat-sifat logam.
Dalam bidang industri diperlukan pengujian tarik ini untuk
mempertimbangkan faktor metalurgi dan faktor mekanis yang tercakup dalam
proses perlakuan terhadap logam jadi, untuk memenuhi proses selanjutnya.
Oleh karena pentingnya pengujian tarik ini, kita sebagai mahasiswa
metalurgi hendaknya mengetahui mengenai pengujian ini. Dengan adanya kurva
tegangan regangan kita dapat mengetahui kekuatan tarik, kekuatan luluh,
keuletan, modulus elastisitas, ketangguhan, dan lain-lain. Pada pegujian tarik ini
kita juga harus mengetahui dampak pengujian terhadap sifat mekanis dan fisik
suatu logam. Dengan mengetahui parameter-parameter tersebut maka kita
dapat data dasar mengenai kekuatan suatu bahan atau logam.

B. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kekuatan bahan logam
melalui pemahaman dan pendalaman kurva hasil uji tarik.

C. BATASAN MASALAH
Batasan masalah dalam percobaan ini yaitu melakukan pengujian pada
sampel yang berbentuk pelat dan kawat sampai sampel tersebut putus. Dari
hasil pengujian yang diperoleh, mencari berapa besar yield strength, tensile
strength dan persentase elongasinya.

D. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan laporan ini dibagi menjadi lima bab. Bab I menjelaskan mengenai
latar belakang, tujuan percobaan, batasan masalah, sistematika penulisan. Bab II

menjelaskan mengenai tinjauan pustaka yang berisi mengenai teori singkat dari
percobaan yang dilakukan, Bab III menjelaskan mengenai metode penelitian, Bab
IV menjelaskan mengenai data percobaan, Bab V menjelaskan mengenai
pembahasan dan Bab VI menjelaskan mengenai kesimpulan dari percobaan.
Selain itu juga di akhir laporan terdapat lampiran yang memuat contoh
perhitungan, jawaban pertanyaan dan tugas serta terdapat juga blangko
percobaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DASAR PENGUJIAN LOGAM
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan
suatu bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang sesumbu
[Askeland, 1985]. Hasil yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting
untuk rekayasa teknik dan desain produk karena mengahsilkan data kekuatan
material. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur ketahanan suatu
material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat.

Gambar 1. Mesin uji tarik dilengkapi spesimen ukuran standar.


Seperti pada gambar 1 benda yang di uji tarik diberi pembebanan pada kedua
arah sumbunya. Pemberian beban pada kedua arah sumbunya diberi beban yang
sama besarnya.
Pengujian tarik adalah dasar dari pengujian mekanik yang dipergunakan pada
material. Dimana spesimen uji yang telah distandarisasi, dilakukan
pembebanan uniaxial sehingga spesimen uji mengalami peregangan dan
bertambah panjang hingga akhirnya patah. Pengujian tarik relatif sederhana,
murah dan sangat terstandarisasi dibanding pengujian lain. Hal-hal yang perlu

diperhatikan agar penguijian menghasilkan nilai yang valid adalah; bentuk dan
dimensi spesimen uji, pemilihan grips dan lain-lain.
a. Bentuk dan Dimensi Spesimen uji
Spesimen uji harus memenuhi standar dan spesifikasi dari ASTM E8 atau
D638. Bentuk dari spesimen penting karena kita harus menghindari terjadinya
patah atau retak pada daerah grip atau yang lainnya. Jadi standarisasi dari
bentuk spesimen uji dimaksudkan agar retak dan patahan terjadi di daerah gage
length.
b. Grip and Face Selection
Face dan grip adalah faktor penting. Dengan pemilihan setting yang tidak
tepat, spesimen uji akan terjadi slip atau bahkan pecah dalam daerah grip (jaw
break). Ini akan menghasilkan hasil yang tidak valid. Face harus selalu tertutupi
di seluruh permukaan yang kontak dengan grip. Agar spesimen uji tidak
bergesekan langsung dengan face.
Beban yang diberikan pada bahan yang di uji ditransmisikan pada pegangan
bahan yang di uji. Dimensi dan ukuran pada benda uji disesuaikan dengan
estndar baku pengujian.

Gambar 2. Dimensi dan ukuran spesimen untuk uji tarik


Kurva tegangan-regangan teknik dibuat dari hasil pengujian yang didapatkan.

Gambar 3. Contoh kurva uji tarik


Tegangan yang digunakan pada kurva adalah tegangan membujur rata-rata
dari pengujian tarik. Tegangan teknik tersebut diperoleh dengan cara membagi
beban yang diberikan dibagi dengan luas awal penampang benda uji. Dituliskan
seperti dalam persamaan 2.1 berikut:
s= P/A0
Keterangan ;
s : besarnya tegangan (kg/mm2)
P : beban yang diberikan (kg)
A0 : Luas penampang awal benda uji (mm2)
Regangan yang digunakan untuk kurva tegangan-regangan teknik adalah
regangan linier rata-rata, yang diperoleh dengan cara membagi perpanjangan
yang dihasilkan setelah pengujian dilakukan dengan panjang awal. Dituliskan
seperti dalam persamaan 2.2 berikut.

Keterangan ; e : Besar regangan


L : Panjang benda uji setelah pengujian (mm)
Lo : Panjang awal benda uji (mm)
Bentuk dan besaran pada kurva tegangan-regangan suatu logam tergantung
pada komposisi, perlakuan panas, deformasi plastik, laju regangan, temperatur
dan keadaan tegangan yang menentukan selama pengujian. Parameterparameter yang digunakan untuk menggambarkan kurva tegangan-regangan
logam adalah kekuatan tarik, kekuatan luluh atau titik luluh, persen
perpanjangan dan pengurangan luas. Dan parameter pertama adalah parameter
kekuatan, sedangkan dua yang terakhir menyatakan keuletan bahan.
Bentuk kurva tegangan-regangan pada daerah elastis tegangan berbanding lurus
terhadap regangan. Deformasi tidak berubah pada pembebanan, daerah
remangan yang tidak menimbulkan deformasi apabila beban dihilangkan disebut
daerah elastis. Apabila beban melampaui nilai yang berkaitan dengan kekuatan
luluh, benda mengalami deformasi plastis bruto. Deformasi pada daerah ini
bersifat permanen, meskipun bebannya dihilangkan. Tegangan yang dibutuhkan
untuk menghasilkan deformasi plastis akan bertambah besar dengan
bertambahnya regangan plastik.
Pada tegangan dan regangan yang dihasilkan, dapat diketahui nilai modulus
elastisitas. Persamaannya dituliskan dalam persamaan

Keterangan ; E : Besar modulus elastisitas (kg/mm2),


e : regangan
: Tegangan (kg/mm2)
Pada mulanya pengerasan regang lebih besar dari yang dibutuhkan untuk
mengimbangi penurunan luas penampang lintang benda uji dan tegangan teknik
(sebanding dengan beban F) yang bertambah terus, dengan bertambahnya
regangan. Akhirnya dicapai suatu titik di mana pengurangan luas penampang
lintang lebih besar dibandingkan pertambahan deformasi beban yang
diakibatkan oleh pengerasan regang. Keadaan ini untuk pertama kalinya dicapai
pada suatu titik dalam benda uji yang sedikit lebih lemah dibandingkan dengan
keadaan tanpa beban. Seluruh deformasi plastis berikutnya terpusat pada
daerah tersebut dan benda uji mulai mengalami penyempitan secara lokal.
Karena penurunan luas penampang lintang lebih cepat daripada pertambahan
deformasi akibat pengerasan regang, beban sebenarnya yang diperlukan untuk
mengubah bentuk benda uji akan berkurang dan demikian juga tegangan teknik
pada persamaan (1) akan berkurang hingga terjadi patah.
Dari kurva uji tarik yang diperoleh dari hasil pengujian akan didapatkan beberapa
sifat mekanik yang dimiliki oleh benda uji, sifat-sifat tersebut antara lain [Dieter,
1993]:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kekuatan tarik
Kuat luluh dari material
Keuletan dari material
Modulus elastic dari material
Kelentingan dari suatu material
Ketangguhan.

B. KEKUATAN TARIK
Kekuatan yang biasanya ditentukan dari suatu hasil pengujian tarik adalah
kuat luluh (Yield Strength) dan kuat tarik (Ultimate Tensile Strength). Kekuatan
tarik atau kekuatan tarik maksimum (Ultimate Tensile Strength / UTS), adalah
beban maksimum dibagi luas penampang lintang awal benda uji.

di mana :
Su
= Kuat tarik
Pmaks = Beban maksimum
A0
= Luas penampang awal
Untuk logam-logam yang liat kekuatan tariknya harus dikaitkan dengan beban
maksimum dimana logam dapat menahan sesumbu untuk keadaan yang sangat
terbatas.

Tegangan tarik adalah nilai yang paling sering dituliskan sebagai hasil suatu uji
tarik, tetapi pada kenyataannya nilai tersebut kurang bersifat mendasar dalam
kaitannya dengan kekuatan bahan. Untuk logam-logam yang liat kekuatan
tariknya harus dikaitkan dengan beban maksimum, di mana logam dapat
menahan beban sesumbu untuk keadaan yang sangat terbatas. Akan
ditunjukkan bahwa nilai tersebut kaitannya dengan kekuatan logam kecil sekali
kegunaannya untuk tegangan yang lebih kompleks, yakni yang biasanya
ditemui. Untuk berapa lama, telah menjadi kebiasaan mendasarkan kekuatan
struktur pada kekuatan tarik, dikurangi dengan faktor keamanan yang sesuai.
Kecenderungan yang banyak ditemui adalah menggunakan pendekatan yang
lebih rasional yakni mendasarkan rancangan statis logam yang liat pada
kekuatan luluhnya. Akan tetapi, karena jauh lebih praktis menggunakan
kekuatan tarik untuk menentukan kekuatan bahan, maka metode ini lebih
banyak dikenal, dan merupakan metode identifikasi bahan yang sangat berguna,
mirip dengan kegunaan komposisi kimia untuk mengenali logam atau bahan.
Selanjutnya, karena kekuatan tarik mudah ditentukan dan merupakan sifat yang
mudah dihasilkan kembali (reproducible). Kekuatan tersebut berguna untuk
keperluan spesifikasi dan kontrol kualitas bahan. Korelasi empiris yang diperluas
antara kekuatan tarik dan sifat-sifat bahan misalnya kekerasan dan kekuatan
lelah, sering dipergunakan. Untuk bahan-bahan yang getas, kekuatan tarik
merupakan kriteria yang tepat untuk keperluan perancangan.
Tegangan di mana deformasi plastik atau batas luluh mulai teramati
tergantung pada kepekaan pengukuran regangan. Sebagian besar bahan
mengalami perubahan sifat dari elastik menjadi plastik yang berlangsung sedikit
demi sedikit, dan titik di mana deformasi plastik mulai terjadi dan sukar
ditentukan secara teliti. Telah digunakan berbagai kriteria permulaan batas luluh
yang tergantung pada ketelitian pengukuran regangan dan data-data yang akan
digunakan.
Batas elastik sejati berdasarkan pada pengukuran regangan mikro pada skala
regangan 2 X 10-6 inci/inci. Batas elastik nilainya sangat rendah dan dikaitkan
dengan gerakan beberapa ratus dislokasi.
Batas proporsional adalah tegangan tertinggi untuk daerah hubungan
proporsional antara tegangan-regangan. Harga ini diperoleh dengan cara
mengamati penyimpangan dari bagian garis lurus kurva tegangan-regangan.
Batas elastik adalah tegangan terbesar yang masih dapat ditahan oleh bahan
tanpa terjadi regangan sisa permanen yang terukur pada saat beban telah
ditiadakan. Dengan bertambahnya ketelitian pengukuran regangan, nilai batas
elastiknya menurun hingga suatu batas yang sama dengan batas elastik sejati
yang diperoleh dengan cara pengukuran regangan mikro. Dengan ketelitian
regangan yang sering digunakan pada kuliah rekayasa (10-4 inci/inci), batas
elastik lebih besar daripada batas proporsional. Penentuan batas elastik
memerlukan prosedur pengujian yang diberi beban-tak diberi beban (loadingunloading) yang membosankan.

C. KEKUATAN LULUH (YIELD STRENGTH)


Salah satu kekuatan yang biasanya diketahui dari suatu hasil pengujian tarik
adalah kuat luluh (Yield Strength). Kekuatan luluh (yield strength) merupakan
titik yang menunjukan perubahan dari deformasi elastis ke deformasi plastis
[Dieter, 1993]. Besar tegangan luluh dituliskan seperti pada persamaan 2.4,
sebagai berikut.

Keterangan ; Ys : Besarnya tegangan luluh (kg/mm2)


Py : Besarnya beban di titik yield (kg)
Ao : Luas penampang awal benda uji (mm2)
Tegangan di mana deformasi plastis atau batas luluh mulai teramati tergantung
pada kepekaan pengukuran regangan. Sebagian besar bahan mengalami
perubahan sifat dari elastik menjadi plastis yang berlangsung sedikit demi
sedikit, dan titik di mana deformasi plastis mulai terjadi dan sukar ditentukan
secara teliti.
Kekuatan luluh adalah tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah
kecil deformasi plastis yang ditetapkan. Definisi yang sering digunakan untuk
sifat ini adalah kekuatan luluh ditentukan oleh tegangan yang berkaitan dengan
perpotongan antara kurva tegangan-regangan dengan garis yang sejajar dengan
elastis ofset kurva oleh regangan tertentu. Di Amerika Serikat offsetbiasanya
ditentukan sebagai regangan 0,2 atau 0,1 persen (e = 0,002 atau 0,001)

Cara yang baik untuk mengamati kekuatan luluh offset adalah setelah benda
uji diberi pembebanan hingga 0,2% kekuatan luluhoffset dan kemudian pada
saat beban ditiadakan maka benda ujinya akan bertambah panjang 0,1 sampai
dengan 0,2%, lebih panjang daripada saat dalam keadaan diam.
Tegangan offset di Britania Raya sering dinyatakan sebagai tegangan uji (proff
stress), di mana harga ofsetnya 0,1% atau 0,5%. Kekuatan luluh yang diperoleh
dengan metode ofset biasanya dipergunakan untuk perancangan dan keperluan
spesifikasi, karena metode tersebut terhindar dari kesukaran dalam pengukuran
batas elastik atau batas proporsional.

D. PENGUKURAN KELIATAN (KEULETAN)


Keuleten adalah kemampuan suatu bahan sewaktu menahan beban pada saat
diberikan penetrasi dan akan kembali ke baentuk semula.Secara umum
pengukuran keuletan dilakukan untuk memenuhi kepentingan tiga buah hal
[Dieter, 1993]:

Untuk menunjukan elongasi di mana suatu logam dapat berdeformasi tanpa


terjadi patah dalam suatu proses suatu pembentukan logam, misalnya
pengerolan dan ekstrusi.
Untuk memberi petunjuk secara umum kepada perancang mengenai
kemampuan logam untuk mengalir secara pelastis sebelum patah.
Sebagai petunjuk adanya perubahan permukaan kemurnian atau kondisi
pengolahan

E. MODULUS ELASTISITAS
Modulus Elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan
keelastisitasannya. Makin besar modulus, makin kecil regangan elastik yang
dihasilkan akibat pemberian tegangan.Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya
ikat antar atom, karena gaya-gaya ini tidak dapat dirubah tanpa terjadi
perubahan mendasar pada sifat bahannya. Maka modulus elastisitas salah satu
sifat-sifat mekanik yang tidak dapat diubah. Sifat ini hanya sedikit berubah oleh
adanya penambahan paduan, perlakuan panas, atau pengerjaan dingin.
Secara matematis persamaan modulus elastic dapat ditulis sebagai berikut.

Dimana, s = tegangan
= regangan
Tabel 1 Harga modulus elastisitas pada berbagai suhu [Askeland, 1985]

F. KELENTINGAN (RESILIENCE)
Kelentingan adalah kemampuan suatu bahan untuk menyerap energi pada
waktu berdeformasi secara elastis dan kembali kebentuk awal apabila bebannya
dihilangkan [Dieter, 1993]. Kelentingan biasanya dinyatakan sebagai modulus
kelentingan, yakni energi regangan tiap satuan volume yang dibutuhkan untuk

menekan bahan dari tegangan nol hingga tegangan luluh o. Energi regangan
tiap satuan volume untuk beban tarik satu sumbu adalah :
Uo = xx
Dari definisi diatas, modulus kelentingan adalah :

Persamaan ini menunjukan bahwa bahan ideal untuk menahan beban energi
pada pemakaian di mana bahan tidak mengalami deformasi permanen, misal
pegas mekanik, adalah data bahan yang memiliki tegangan luluh tinggi dan
modulus elastisitas rendah.

G. KETANGGUHAN (TOUGHNESS)
Ketangguhan (Toughness) adalah kemampuan menyerap energi pada daerah
plastik. Pada umumnya ketangguhan menggunakan konsep yang sukar
dibuktikan atau didefinisikan. Salah satu menyatakan ketangguhan adalah
meninjau luas keseluruhan daerah di bawah kurva tegangan-regangan. Luas ini
menunjukan jumlah energi tiap satuan volume yang dapat dikenakan kepada
bahan tanpa mengakibatkan pecah. Ketangguhan (S0) adalh perbandingan
antara kekuatan dan kueletan. Persamaan sebagai berikut.
UT su ef
atau

Untuk material yang getas

Keterangan;

UT : Jumlah unit volume

Tegangan patah sejati adalah beban pada waktu patah, dibagi luas
penampang lintang. Tegangan ini harus dikoreksi untuk keadaan tegangan tiga
sumbu yang terjadi pada benda uji tarik saat terjadi patah. Karena data yang
diperlukan untuk koreksi seringkali tidak diperoleh, maka tegangan patah sejati
sering tidak tepat nilai.

BAB III

METODE PERCOBAAN
1) DIAGRAM ALIR PERCOBAAN

Gambar 4. Diagram alir proses percobaan pengujian uji tarik

2) ALAT DAN BAHAN


Alat-Alat yang Digunakan
1. Masin uji tarik
2. Jangka sorong
3. Meteran

Bahan-Bahan yang Digunakan


1. Sampel berbentuk plat
2. Sampel berbentuk kawat

3) PROSEDUR PERCOBAAN
Mengukur benda uji dengan ukuran standar
Mengkur panjang awal (Lo) atau gage length dan luas penampang irisan benda
uji.
Mengukur benda uji pada pegangan (grip) atas dan pegangan bawah pada mesin
uji tarik.
Nyalakan mesin uji tarik dan lakukan pembebanan tarik sampai benda uji putus.

Mencatat beban luluh dan beban putus yang terdapat pada skala.
Melepaskan benda uji pada pegangan atas dan bawah, kemudian satukan
keduanya seperti semula.
Mengukur panjang regangan yang terjadi.

BAB IV
DATA HASIL PERCOBAAN
1. DATA HASIL PERCOBAAN
Dari hasil percobaan pengujian tarik yang telah dilakukan, didapatkan data-data
berikut,dengan spesimen uji adalah wire dan strip.
Tabel 2. Data hasil percobaan uji tarik
Benda Uji T
Standar
WIRE

2.2 200

So

Lo

Fy

Fm

YS

TS

250

3.79

1382

1384.5 364.64 365.303 23.28%

=
46.5676
PLATE

0.36 50

25%

82

2735. 2735.8 303.94 303.92


5

=
25.5419

Keterangan :
T : Tebal Sampel Uji
W : Lebar Sampel Uji
So : Luas Sampel Uji
Lo : Gage Lenght

%EL

51.083%

64%

YS : Yield strength
TS : Tensile strength
% EL : % elongation
LI
: Perpanjangan

2. PEMBAHASAN
Pada percobaan uji tarik ini, menggunakan bahan alumunium berbentuk pelat
dan kawat. Proses pengujiannya adalah dengan cara memasangkan specimen
pada alat uji tarik. Dengan gaya yang sudah ditentukan pengujian dilakukan
sampai terjadi fracture dan dapat diketahui UTS dan tegangan luluhnya.

Uji tarik kawat logam


Berdasarkan hasil pengujian tarik pada bahan kawat yang dilakukan,
didapatkan grafik sebagai berikut:

Gambar 5 Grafik hasil uji tarik pada bahan kawat


Dari gambar 5 dapat dilhat perubahan grafik dari deformasi elastis menjadi
deformasi plastis, perubahan tersebut terjadi pada saat nilai mencapai 364,64
N/mm dan fenomena fracture terjadi pada saat regangan bertambah 200
mm.Ultimate Tensile Strenghyang dicapai oleh kawat dicapai pada saat nilai
mencapai 365,303 N/mm dan tensile strength didapat sebesar 365,303N/mm
dimana tensile strength ini adalah nilai akhir sebelum terjadinya
patahan.Pertambahan panjang ini terjadi akibat gaya yang diberikan hingga
mencapai putus dan terbukti makin besar tegangan maka makin panjang
regangan yang didapat.
Uji tarik pelat logam
Percobaan dengan menggunakan specimen uji berbeda dengan
mengguanakan pelat terlihat sedikit perbedaan baik dari nilai maupun nilai
pertambahan panjang karena specimen ketika mengalami patah ujung dari
permukaan patahan menjadi tidak lurus melainkan patahannya miring.
Perbandingan dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7 Grafik hasil uji tarik pada bahan pelat


Dari gambar 7, titik yang menunjukan perubahan dari deformasi elastis ke
deformasi plastis berada pada nilai 303.94 N/mm dapat diketahui bahwa nilai
yang berada pada tittik tersebut menunjukkan kekuatan luluh (yield strength), .
Sedangkan nilai kekuatan tarik (tensile strength), yaitu merupakan titik akhir
pengujian tarik yang ditandai dengan perpatahan berada pada nilai 2620 N/mm.
Pengujian yang sudah dilakukan mendapat perbedaan data yang dapat
dibandingkan dari kedua jenis specimen yaitu specimen uji berbentuk kawat dan
specimen uji berjenis pelat atau strip. Pada pengujian antara dua specimen ini
terlihat bahwa kekuatan tarik makasimum kawat lebih besar dibandingkan
kekuatan tarik maksimum pada pelat, tetapi kekuatan luluh pada kawat lebih
rendah dibandingkan kekuatan luluh pada pelat.Faktor penyebab ini adalah
perbedaan dimensi terutama dimensi standar yang digunakan berbeda-beda.
Pada perlakuan awal dari kedua specimen pun berbeda.Pada kawat merupakan
hasil dari proses ektrusi (penarikan), yang menyebabkan sifat dari specimen uji
menjadi lebih keras. Pada bahan pelat merupakan hasil dari proses pengerolan,
yang mempunyai sifat lebih ulet dari kawat.
Dari kurva hasil uji tarik dapat diperoleh keterangan bahwa bahan yang
berbentuk pelat lebih ulet dari pada bahan yang berbentuk kawat. Sebaliknya,
bahan yang berbentuk kawat lebih keras dari pada bahan yang berbentuk pelat

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

I.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan pengujian tarik yang telah dilakukan, maka didapatkan
beberapa kesimpulan, antara lain :

Pada uji coba ini kita menguji ketahanan bahan materialnya sejauh mana
pertambahan panjangnya dan bagaimana bahan tersebut bereaksi terhadap
tarikan, berdasarkan hasil percobaan dan dari grafik kurva uji tarik, plat
mengalami perpanjangan lebih kecil dari kawat dikarnakan luas penampang
kawat lebih kecil dibanding plat
Jenis material yang berbeda, dengan perlakuan yang didapatkannya berbeda
dan komposisinya yang berbeda akan menyebabkan nilai kekuatannya berbeda
pula dan kurva hasil uji tariknya juga berbeda.
Faktor penyebab terjadinya nilai diantara dua specimen uji tersebut adalah
dimensi yang berbeda dan perlakuan yang berbeda pula

II.

SARAN
Setelah melakukan praktikum di hari yang lalu penulis menyarankan agar alat
yang di gunakan (mesin uji tarik) untuk uji tarik harus di lengkapi dengan
monitor yang mana langsung menampilkan kurva hasil uji tarik. Sehingga
kesalahan praktikan dalam membuat kurva uji tarik dapad di minimalisir.

DAFTAR PUSTAKA
Dieter, E. George, 1993, Metalurgi Mekanik, Jakarta: PT. Gelora Aksara
Pratama.
http://www.calce.umd.edu/general/facilities/hardness_ed_.htm
http://www.geology.csupomona.edu/alert/mineral/hardness.htm
http://www.gordonengland.co.uk/hardness.htm
Tim Laboratorium metalurgi, 2009, Panduan Praktikum Laboratorium Metalurgi
II, Cilegon: FT. Untirta.

LAMPIRAN

I. PERHITUNGAN
Tabel 2. Data hasil percobaan uji tarik
Benda Uji T
Standar
WIRE

2.2 200

So

Lo

Fy

Fm

YS

TS

250

3.79

1382

1384.5 364.64 365.303 23.28%

=
46.5676
PLATE

0.36 50

%EL

25%

82

2735. 2735.8 303.94 303.92


5

=
25.5419

Keterangan :
T : Tebal Sampel Uji
W : Lebar Sampel Uji
So : Luas Sampel Uji
Lo : Gage Length

64%

YS : Yield strength
TS : Tensile strength
% EL : % elongation
LI
: Perpanjangan

Logam Kawat
Gage Length: Lo = (d/4)2= 3,79 mm2
Yield Strength: YS = Fy/So = 1382/3,79 = 364,64N/mm2
Tensile Strength: TS = Fm/So = 1384,5/3,79 = 365,303 N/mm2
Elongation: % EL = {(L1 L0) : L0} x 100 % = 23,28%

Logam pelat
Gage Length: Lo = 9 mm2
Yield Strength: YS = Fy/Lo = 2735.5/9 = 303,94 N/mm2
Tensile Strength: TS = Fm/Lo = 2735.8/9=303.92 N/mm2
Elongation: % EL = {(L1 L0) : L0} x 100 % = 51.083%

II. JAWABAN PERTANYAAN

51.083%

1. Buat grafik hasil uji tarik, hubungan antara kekuatan () dengan


regangan () dari data hasil pengujian tarik
untuk specimenberdiamerer 1,5 inch berikut :
Tabel II.1 Data Hasil Pengujian Tarik
Load (lb)

Gage Length (In/in)

2.000

1000

2.001

3000

2.003

5000

2.005

7000

2.007

7500

2.030

7900

2.080

8000

2.120

8000 (Max)

2.106

7600 (fract)

2.205

Jawab :

Gambar 8 Kurva Hasil Uji Tarik

2. Tentukan kuat luluh dan kuat tarik dari grafik soal no.1 !
Jawab :

Kuat luluh
Didapatkan dengan cara metode offset, yaitu pada tegangan sekitar 37500 psi
dan pada regangan sekitar 1,5 x 10-5.
Kuat tarik (tensile strength)

3. Berdasarkan hal diatas berapakah beban yang diperlukan untuk


menghasilkan tegangan 25000 psi pada spesimen berdiameter 1 in dan
2 in ?
Jawab :
Untuk yang berdiameter 1 in
Untuk yang berdiameter 2 in

4. Jelaskan manfaat hasil pengujian tarik dalam kehidupan sehari-sehari


!
Jawab :
Dari hasil pengujian tarik yang telah dilakukan dapat digunakan sebagai acuan
untuk mendesain suatu produk. Dalam hasil pengujian tarik diperoleh nilai
kekuatan suatu bahan, yang dimana terdapat nilai kekuatan luluh dan kekuatan
tarik maksimumnya. Nilai dari kuat luluh dan kuat tarik tersebut dapat digunakan
sebagai gambaran akan kekuatan logam tersebut.

5. Gambarkan dan jelaskan bentuk kurva uji tarik dari material lunak
dan material getas. Dan sebutkan contoh jenis materialnya! Apa
perbedaan dari kedua bentuk kurva tersebut ?
Jawab:

Gambar 9 Kurva uji tarik untuk material ulet

Gambar 10 Kurva uji tarik untuk material getas


Pada daerah getas memiliki daerah elastis dan plastis yang kecil karena untuk
material getas memiliki kemampuan untuk berdeformasinya kecil, baik deformasi
elastis maupun plastis. contohnya pada baja AISI 4130. Dan untuk yang ulet
memiliki daerah elastis dan plastis yang besar karena kemampuan untuk
berdeformasinya tinggi, baik deformasi elastis maupun plastis. Contohnya pada
baja HSS.

6. Apa yang dimaksud dengan metode offset dalam kurva uji tarik? Dan
dalam keadaan yang bagaimana metode ini digunakan?
Jawab :
Metode offset merupakan metode untuk menentukan daerah kekuatan luluh
suatu bahan dari hasil pengujian tarik. Metode ini dilakukan dengan cara menarik
garis sejajar dengan daerah elastis pada kurva hasil uji tarik, dimana garik
tersebut merupakan 2 % daerah elastisnya. Metoda offset digunakan bila dalam
grafik hasil uji tarik tidak dicantumkan daerah luluhnya

7. Gambarkan secara lengkap ukuran spesimen uji yarik sesuai dengan


standar API !
Jawab :

Gambar 11 Dimensi dan ukuran spesimen uji tarik


berdasarkan API
8.Selain kekuatan, jelaskan sifat mekanik lain yang bisa ditentukan
dengan uji tarik
Jawab :
Keuletan
Keuletan bisa terbaca dari besarnya daerah elastis dan plastas, serta dari
patahan yang terjadi pada material. Dan dari persentase elongasinya.
Ketangguhan
Ketangguhan dapat teramati dari kemampuan bahan untuk menahan beban
sampai patah. Dalam kurva bisa dilihat dari besar daerah elastis dan plastisnya.