Anda di halaman 1dari 10

Sedangkan untuk ekosistem air tawar keberadaan organisme dapat diklasifikasikan berdasarkan ekologi:

a.Organisme dapat diklasifikasikan berdasar niche utama pada posisinya dalam rantai energi dan rantai
makanan; yaitu: Autotroph, Phagotroph, dan Saprotroph.
b.Organisme dapat diklasifikasikan berdasar bentuk kehidupannya atau kebiasaan hidup; yaitu: Benthos,
Periphyton, Plankton, Nekton, dan Neuston
c.Organisme dapat diklasifikasikan berdasar daerah atau subhabitat. Dalam daerah lentik (air tenang)
dengan kedalaman tertentu, seperti danau dapat ditemukan tiga zona, yaitu zona litoral (daerah
dangkal), zona limnetik (daerah tengah), dan zona profundal (bagian dasar atau daerah diamana tidak
ada penetrasi cahaya matahari).

Beberapa jenis organisme yang hidup di air tawar dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas air,
salah satunya adalah plankton. Plankton merupakan organisme melayang yang bergerak pasif mengikuti
aliran air, dalam klasifikasi ekologi plankton termasuk dalam organisme yang diklasifikasikan
berdasarkan bentuk kehidupan atau kebiasaan hidup. Kehidupan organisme plankton tergantung dari
kualitas parairan, iklim dan faktor kompetisi. Keanekaragaman plankton dan dominasi species plankton
dalam suatu perairan menggambarkan daya dukung lingkungan terhadap kehidupan dan keberadaan
plankton di perairan tersebut.
Plankton terbagi menjadi 2 jenis, yaitu phytoplankton dan Zooplankton. Phytoplankton adalah
tumbuhan mikroskopis yang hidup di perairan tawar maupun laut. Ada banyak jenis phytoplankton,
masing-masing memiliki characteristi cshape. Secara bersama-sama, banyak tumbuh phytoplankton di
lautan di seluruh dunia dan merupakan dasar dari rantai makanan laut. Ikan kecil, dan beberapa jenis
ikan paus, memakan phytoplankton. Beberapa species phytoplankton tergantung kondisi tertentu untuk
pertumbuhan, mereka adalah indikator baik perubahan di lingkungannya. Zooplankton adalah
kategorisasi untuk organisme kecil yang termasuk protozoa kecil dan metazoa besar. Kepentingan
ekologi dari zooplankton termasuk foraminifera, radiolaria dan dinoflagellate. Zooplankton metazoa
penting termasuk cnidaria seperti ubur-ubur, crustacea seperti copepoda dan krill, moluska seperti
pteropoda dan chordate.

Di Instalasi Laboratorium Biologi Lingkungan BBTKL-PPM Yogyakarta pengujian parameter plankton
telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), Methode pengujian yang diterapkan
berdasarkan Standard Methode for the Examination of Water and Wastewater 21th Edition 2005
meliputi methode pangambilan dan pengujian plankton. Secara umum pengujian plankton merupakan
pengujian untuk menentukan jenis (species) dan jumlah setiap species plankton dari sampel air. Dari
data jenis dan jumlah setiap species plankton maka dapat ditentukan index dominasi , index diversitas,
dan index kesamaan antara 2 sampel jika dibutuhkan. Dari nilai index-index tersebut dapat ditentukan
kualitas perairan berdasarkan organisme plankton.
Berkut ini adalah cara pengujian plankton dan rumus untuk menentukan index dominasi , index
diversitas, dan index kesamaan antara 2 sampel;


Alat dan Bahan:

-Rafter (SR)


Prosedur :

1 mL
dan hitung jumlah setiap jenis plankton dengan mikroskop.


annon:

H = - Pi log Pi
Pi = ni / N
Dimana ni : Jumlah setiap jenis Plankton
N : Jumlah total jenis plankton

C = (ni / N)2
Dimana ni : Jumlah setiap jenis Plankton
N : Jumlah total jenis plankton
Sumber:
Standard Methode for the Examination of Water and Wastewater 21th Edition.
American Public Health Association. Inc. New York.
-Dasar Ekologi Edisi ke-3, terjemahan dari Fundamental of
Ecology 3th edition. UGM press. Yogyakarta

Plankton merupakan organisme yang hidup melayang atau mengapung di dalam air. Kemampuan geraknya,
kalaupun ada, sangat terbatas hingga organisme tersebut selalu terbawa arus. Plankton dapat di bagi menjadi dua
golongan utama yakni fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton (acapkali pula disebut plankton nabati) merupakan
tumbuhan yang amat banyak ditemukandi semua parairan, tetapi karena ukurannya mikroskopis sukar dilihat
kehadirannya. Konsentrasinya bisa ribuan hingga jutaan sel per liter air laut. Zooplankton, sering pula disebut
plankton hewani, terdiri dari sangtan banyak jenis hewan. Ukurannya lebih besar dari fitoplankton, bahkan ada pula
yang bisa mencapai lebih satu meter seperti pada ubur-ubur. Plankton, baik fitoplankton maupun zooplankton,
mempunyai peran penting dalam ekosistem laut, karena plankton menjadi bahan makanan bagi berbagai jenis
hewan lainnya. Selain itu hampir semua hewan laut memulai kehidupannya sebagai palnkton terutama pada tahap
masih berupa telur dan larva.
Berbeda dengan tumbuhan bentos yang hidupnya menancap atau melekat di dasar laut dan hanya terdapat di
sepanjang pantai yang dangkal, fitoplankton bisa ditemukan di seluruh massa air mulai dari permukaan laut sampai
pada kedalaman dengan intensitas cahaya yang masih memungkinkan terjadinya fotosintesis. Zone ini dikenal
sebagi zone eufotik, tebalnya bervariasi dari beberapa puluh sentimeter pada air yang keruh hingga lebih 150 m
pada air yang jernih. Besarnya dimensi ruang zone eufotik yang menjadi habitat fitoplankton menyebabkan
fitoplankton yang mikroskopis ini berfungsi sebagai tumbuhan yang paling penting artinya dalam ekosisitem laut.
Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil mampu melaksanakan reaksi fotosintesis
di mana air dan karbon dioksida dengan adanya sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa
organik seperti karbohidrat. Karena kemampuan membentuk zat organik dari zat anorganik maka fitoplankton disebut
sebagai produsen primer (primary producer).
Fitoplankton sebagai produser primer merupakan pangkal rantai pakan dan merupakan fondamen yang
mendukung kehidupan seluruh biota laut lainnya. Atau dengan kata lain dapat disebutkan bahwa perairan yang
produktivitas primer fitoplanktonnya tinggi akan mempunyai potensi sumberdaya hayati yang besar pula.
Fitoplankton yang subur umumnya terdapat di perairan sekitar muara sungai atau di perairan sekitar muara
sungai atau di perairan lepas pantai di mana terjadi air naik (upwelling). Di kedua lokasi itu terjadi proses penyuburan
karena masuknya zat hara ke dalam lingkungan tersebut. Di depan muara sungai banyak zat hara datang dari
daratan dan dialirkan oleh sungai ke laut, sedangkan daerah air naik zat hara yang kaya terangkat dari lapisan lebih
dalam ke arah permukaan.

http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/08/kelimpahan-dan-kepadatan-plankton.html

studi kasus benthos
PENENTUAN KUALITAS PERAIRAN PADA 3 KOLAM DI KAWASAN ITS DENGAN MENGGUNAKAN
MAKROFAUNA BENTIK SEBAGAI BIOINDIKATOR
Laporan Praktikum Biologi Monitoring 2011, Kelompok 6
Laboratorium Ekologi,
Jurusan Biologi FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
2011

METODOLOGI
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan bulan Mei tahun 2011 di sekitar perairan perairan kolam di Kampus ITS
Surabaya, dengan tiga stasiun pengamatan yaitu, stasiun I berada di kolam samping biologi, stasiun II
berada di kolam 8 dan stasiun III berada dikolam FTK (Fakultas Teknologi Kelautan (Gambar 1).
Rounded Rectangle: Stasiun I Rounded Rectangle: Stasiun IIRounded Rectangle: Stasiun III3 lokasi
sampling

Metode Pengambilan sampel
Metode pengambilan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan Metode sampling, dimana
penetapan titik sampel pada 3 titik pengamatan, yaitu di titik 1 kolam samping biologi, titik 2 kolam
8,titik 3 kolam FTK. Sampel diambil pada 2 waktu yaitu siang dan malam.
Pengambilan sampling dilakukan dengan menggunakan scoop net. Pengambilan sampling tersebut
dilakukan pada perairan tenang. Masing-masing sampel tersebut diambil di lokasi yang terletak di
bawah alga dan menempel pada substrat berupa sedimen.
Pengumpulan sampel
Pada setiap titik sampling dilakukan pengoleksian makrofauna bentik. Pengambilan sampel Bentos
dilakukan dengan menggunakan Scoope net, dan diawetkan dengan formalin 5%. Sampel yang diambil
kemudian dibawa ke laboratorium untuk keperluan identifikasi. Pada setiap titik sampling juga dilakukan
pengambilan sampel substrat dasar untuk analisis kandungan materi organik.
Identifikasi
Identifikasi dilakukan di Laboratorium Zoologi kampus Biologi ITS Surabaya dengan menggunakan
beberapa buku identifikasi makrofaunabentik.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kualitas Perairan Berdasarkan Indeks Diversitas Shannon-Wienner (H)
Hasil analisis terhadap kelompok organisme makrozoobentos secara keseluruhan diperairan kolam
samping biologi, kolam delapan dan kolam dekat perkapalan ditemukan 6 spesies dari kelas Gastropoda
dan 1 jenis dari kelas Crustacea. Spesies Gastropoda yang berhasil teridentifikasi antara lain Bellamya
javanica, Brachydiplax chalybea, Melanoides granifera, Melanoides tuberculata, Pila scutata dan
Bellamya sp.. Sedangkan spesies dari kelas Crustacea adalah Caridina sp..
Jenis Gastropoda merupakan jenis yang paling banyak didapat. Hal ini sangat erat kaitannya dengan
berbagai faktor fisika kimia perairan dan sedimen, salah satunya adalah jenis sedimen. Jenis sedimen
pada lokasi penelitian dengan fraksi dominan lumpur dapat menopang kehidupan makrozoo bentos dari
jenis Gastropoda. Jenis Gastropoda Melanoides sp., Bellamya sp. dan Caridina sp. dijumpai pada seluruh
stasiun pengamatan, ini menunjukkan bahwa ketiga spesies tersebut lebih toleran terhadap terhadap
perubahan kondisi lingkungan. Menurut Barnes (1987) bahwa jenis Gastropoda biasa hidup pada
substrat berpasir dan lumpur. Selain itu hal ini juga berhubungan dengan sifat Gastropoda yang lebih
toleran terhadap terhadap perubahan berbagai parameter lingkungan sehingga penyebarannya bersifat
kosmopolit.
Spesies yang ditemukan disetiap stasiun pengamatan dan dalam jumlah yang cukup banyak yaitu
Carinida sp. dan Bellamya javanica. Carinida sp sebanyak 62 individu pada stasiun I,37 individu pada
stasiun II, sedangkan Bellamya javanica sebanyak 37 individun pada stasiun III. Ini menunjukkan bahwa
Carinida sp. B. Javanica merupakan spesies yang paling sesuai dengan kondisi perairan di ke 3 lokasi
pengambilan sampel. Caridina sp. merupakan jenis udang yang berukuran kecil yang umumnya banyak
dijumpai di anak-anak (alur) sungai sekitar perairan muara dan di air tenang seperti danau yang juga
merupakan komponen penting jaring-jaring makanan (food web) ekosistem perairan danau dan muara.
Sedangkan Bellamya javanica merupakan nama lain dari keong sawah yang paling banyak ditemukan di
sawah, banyak juga ditemukan dihabitat berlumpur dan airnya tak berarus/begerak seperti kolam dan
danau.
Berdasarkan Brower (1998), keanekaragaman spesies merupakan pengukur dari stabilitas komunitas
(kemampuan struktur komunitas untuk tidak terpengaruh oleh gangguan dari komponennya). Stabilitas
suatu komunitas berhubungan dengan jumlah dan tingkat kompleksitas jalur energi dan nutrisi (jaring-
jaring makanan). Makin baik tingkat kompleksitas dari jaring-jaring makanan, maka komunitas makin
stabil. Komunitas yang stabil memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.
Hasil pengukuran indeks keanekaragaman pada kolam samping biologi, kolam delapan dan kolam dekat
perkapalan disajikan pada tabel 4. Keanekaragaman bentos pada ketiga lokasi pengambilan sampel yaitu
di kolam samping biologi, kolam 8 dan kolam dekat perkapalan dihitung dengan menggunakan indeks
Shannon-Wiener. Didapatkan hasil, stasiun I mempunyai indeks keanekaragaman 1,10 dengan struktur
komunitas cukup stabil. Stasiun II memiliki indeks keanekaragaman 1.37 dengan struktur komunitas
stabil. Stasiun III memiliki indeks keanekaragaman 0.31 dengan struktur komunitas cukup stabil. Dari
data ini dapat disimpulkan bahwa nilai indeks keanekaragaman Shannon-winner masuk dalam kategori
sedang dan buruk/rendah.hal ini menunjukkan bahwa kualitas perairan kolam samping biologi, kolam 8
dan kolam dekat perkapalan telah tercemar sedang hingga berat. Kovacs (1992) menyebutkan bahwa
terdapat hubungan yang erat antara keanekaragaman dengan kualitas lingkungan.
Bahan pencemar yang masuk pada ke tiga kolam tersebut berasal dari sungai dan selokan yang
merupakan akumulasi dari limbah rumah tangga di sekitar keputih merupakan sumber utama penghasil
limbah organik maupun anorganik. Kondisi ini sangat mempengaruhi kualitas perairan kolam, hal ini
dapat dilihat dari nilai indeks keanekaragaman bentos yang rendah. Odum (1971) menyebutkan bahwa
keanekaragaman spesies cenderung rendah dalam ekosistem yang mengalami tekanan secara fisik
maupun kimia. Tingginya faktor pembatas fisikokimia perairan menyebabkan organisme tertentu saja
yang mengalami kesintasan.
Tabel 4. Nilai Indeks Keanekaragaman (Shannon-Wienner) Makrofauna Bentik pada 3 Stasiun
Pengamatan Di Kawasan ITS
Stasiun
Pengamatan
Indeks
Keanekaragaman
Struktur
Komunitas*) Kategori*)
Kualitas
Perairan**)
Stasiun I 1,100 cukup stabil Sedang
tercemar
sedang
Stasiun II 1,367 stabil Sedang
tercemar
sedang
Stasiun III 0,314 cukup stabil Buruk
tercemar
berat
*) Wibisono,2005; **) Dahuri,1995
Tabel 5. Hasil perhitungan Family Biotic Index
Data Spesies Ordo Family t
i
x
i
t
i
.x
i
FBI
STASIUN I

Bellamya Javanica
Architaenogloss
a Viviparidae* 6 32 192

Carinida sp.. Decapoda* Atyidae 6 62 372

Brachydipalx chalibdea Odonata Cardolidae* 5 14 70

Melanoides granifera Neotaenoglossa Thiaridae* 6 6 36

Total (n)

114 670 5,87
STASIUN II

Melanoides sp. Neotaenoglossa Thiaridae* 6 27 162

Brachydipalx chalibdea Odonata Cardolidae* 5 4 20

Carinida sp. Decapoda* Atyidae 6 37 222

Bellamya sp.
Architaenogloss
a Viviparidae* 6 5 30

Total (n)

73 434 5,94
STASIUN III

Belamya javanica
Architaenogloss
a Viviparidae* 6 37 222

Melanoides tuberculata Neotaenoglossa Thiaridae* 6 2 12

Carinida sp. Decapoda* Atyidae 6 1 6

Total (n)

40 240 6

Taxon yang memiliki tanda * merupakan tingkatan taxon yang memberikan nilai toleransi berdasarkan
Bode et al. (1996); Hauer and Lamberti (1996); Hilsenhoff (1988); Plafkin et al. (1989) dalam Mandavile
(2002). Tidak semua famili yang kami temukan dalam sampel memiliki nilai toleransi berdasarkan
literatur tersebut sehingga ada kalanya spesies tersebut dinilai tingkat toleransinya berdasarkan
tingkatan ordo (Carinida sp.: Decapoda). Pada stasiun pengamatan 2 ditemukan satu spesies yang tidak
memiliki nilai toleransi baik pada tingkat famili maupun ordo yaitu Pila scuttata. Hal ini mungkin
disebabkan karena biasanya indek biologi yang digunakan masih mengadopsi dari kriteria yang berasal
dari negara beriklim subtropis yang kadangkala belum tentu cocok diterapkan di Indonesia karena
sebagai negara tropis, indonesia memiliki keanekaragaman makrofauna bentik yang lebih tinggi
daripada negara beriklim subtropis (Sudarso et al, 2009).
Berdasarkan tabel diatas maka dapat diketahui bahwa family biotic index (FBI) masing-masing
stasiun pengamatan berada pada kisaran 5,76 6,50 yang artinya berdasarkan FBI, masing-masing
stasiun pengamatan memiliki kualitas lingkungan cukup buruk (fairly poor), yang artinya terdapat
banyak polutan bahan organik di stasiun-stasiun pengamatan tersebut.

Tabel 6. Hasil pengukuran kandungan bahan organik dalam sedimen menggunakan metode gravimetri
Stasiun pengamatan Kandungan Bahan Organik
Stasiun I 4,65 %
Stasiun II 2,86 %
Stasiun III 4,67 %

Semua stasiun pengamatan merupakan ekosistem kolam buatan yang tidak memiliki sistem sirkulasi air
atau bisa dikatakan bahwa semua stasiun pengamatan merupakan ekosistem lentik (standing water).
Menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) dalam Djaenuddin et al (1994), dalam Sinaga (2009) kriteria
tinggi rendahnya kandungan organik substrat atau tanah berdasarkan persentase adalah sebagai
berikut:
< 1 % = sangat rendah
1% - 2% = rendah
2,01% - 3% = sedang
3% - 5% = tinggi
>5,01% = sangat tinggi
Berdasarkan kriteria diatas maka dapat dikatakan bahwa kandungan bahan organik stasiun I dan III
adalah tinggi sedangkan pada stasiun II kandungan bahan organiknya sedang. Menurut Sinaga (2009),
substrat dasar suatu perairan merupakan faktor yang penting bagi kehidupan hewan makrozoobentos
yaitu sebagai habitat hewan tersebut. Masing-masing spesies mempunyai kisaran toleransi yang
berbeda-beda terhadap substrat dan kandungan bahan organik substrat. Perairan dengan sedimen yang
halus memiliki persentase bahan organik yang tinggi karena kondisi lingkungan yang tenang (seperti
pada tiap stasiun sampel) yang memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh
akumulasi bahan-bahan organik dasar perairan, sedangkan tipe sedimen yang kasar memiliki kandungan
bahan organik yang lebih rendah karena partikel yang lebih halus tidak dapat mengendap, serta
kehadiran spesies dalam suatu komunitas zoobentos didukung oleh kandungan organik yang tinggi, akan
tetapi belum tentu menjamin kelimpahan zoobentos tersebut, karena tipe substrat pun ikut
menentukan.
Perbandingan Kualitas Perairan Menggunakan Parameter H dan FBI
Terdapat beberapa perbedaan mengenai kualitas perairan jika dihitung berdasarkan H atau FBI.
Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel 7
Tabel 7. Perbandingan Kualitas Perairan Berdasarkan H dan FBI
Stasiun
Pengamatan
Kualitas Perairan Kandungan
Bahan Organik
Berdasarkan H Berdasarkan FBI
Nilai Struktur Komunitas Nilai Kategori
I 1,100 Cukup stabil 5,87 Cukup Buruk 4,65 %
II 1,367 Stabil 5,94 Cukup Buruk 2,86 %
III 0,314 Cukup stabil 6 Cukup Buruk 4,67 %

Secara umum, terdapat sedikit perbedaan antara nilai H dan FBI dalam menilai kualitas perairan.
Menurut perhitungan H(dilihat dari kestabilan struktur komunitas), stasiun II memiliki kualitas perairan
yang terbaik (bernilai 1,367 yang artinya struktur komunitas stabil). Sedangkan menurut perhitungan FBI
(berdasarkan adanya spesies-spesies yang toleran terhadap pencemaran), stasiun I memiliki kualitas
lingkungan perairan yang paling bagus (berdasarkan nilai: 5,87), meskipun semua stasiun pengamatan
memiliki kategori cukup buruk menurut kategori yang ditentukan oleh Hilsenhoff (1988) dalam
Mandavile (2002). Namun kedua indeks ini menunjukkan hasil yang relatif sama pada stasiun
pengamatan III. Menurut indeks keanekaragaman, stasiun III memiliki nilai H terendah yang
mengindikasikan kualitas perairan yang lebih buruk, begitu juga menurut perhitungan FBI yang
menyatakan bahwa stasiun III memiliki nilai FBI yang paling tinggi yang juga mengindikasikan kualitas
perairan yang lebih buruk jika dikaitkan dengan pencemar bahan organik. Selain itu % kandungan bahan
organik dalam sampel sedimen stasiun III juga menunjukkan angka tertinggi jika dibendingkan dengan
dua stasiun pengamatan lainnya.
Kehadiran spesies dalam suatu komunitas zoobentos didukung oleh kandungan organik yang
tinggi, meskipun belum tentu menjamin kelimpahan zoobentos tersebut, karena tipe substrat pun ikut
menentukan. Namun disisi lain, tingginya kandungan bahan organik akan mengakibatkan turunnya
kandungan oksigen terlarut (DO) (Sinaga, 2009). Meskipun beberapa spesies bentos sensitif pada
perubahan DO namun ada spesies lainnya yang toleran terhadap kondisi ini. Sehingga dalam kondisi
kandungan bahan organik tinggi sekalipun dapat memungkinkan kelimpahan makrofauna bentik, atau
dengan kata lain memungkinkan tingginya nilai H.
Disisi lain, perhitungan FBI didasarkan pada toleransi suatu famili terhadap polutan bahan organik.
Famili yang toleran terhadap pencemar bahan organik memiliki nilai toleransi yang lebih tinggi sehingga
kehadiran spesies-spesies yang toleran ini akan mengakibatkan meningkatnya nilai FBI. Dengan semakin
tingginya nilai FBI maka semakin tinggi pula kandungan polutan bahan organik yang ada (Mandavile,
2002). Sehingga kandungan bahan organik yang tinggi akan memicu tingginya nilai FBI.
KESIMPULAN
Setelah dilakukan praktikum dan dilakukan pula pengamatan dan perhitungan aka dapat disimpulkan
bahwa berdasarkan indeks diversitas Shannon-Wiener makrofauna bentik di tiga stasiun pengamatan,
stasiun I dan III memiliki struktur komunitas yang cukup stabil sedangkan stasiun II memiliki struktur
komunitas yang stabil. Berdasarkan perhitungan family biotic index (FBI), seluruh stasiun pengamatan
termasuk dalam kategori cukup buruk, yaitu terdapat banyak polutan bahan organik. Berdasarkan
analisa pengukuran kandungan bahan organik dalam sampel sedimen, kandungan bahan organik stasiun
I dan III adalah tinggi sedangkan pada stasiun II kandungan bahan organiknya sedang.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrohim, et al. 2008. Keanekaragaman Nudibranchia Di Perairan Pasir Putih Situbondo. Jurusan
Biologi ITS, Surabaya
Aunurohim. 2010. Modul Ajar Biomonitoring Serial: Pencemaran Air, Udara, dan Tanah. Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember:
Surabaya
Barbour, M.T., J. Gerritsen, B.D. Snyder, & J.B. Stribling, 1999, Rapid Bioassessment Protocols For Use In
Streams And Wadeable Rivers: Periphyton, Benthic Macroinvertebrates And Fish, Second Edition.
EPA 841-B-99-002, US-EPA, Office Of Water Washington, D.C.
Barnes, R. S. K. and R. N. Hughes. 1999. An Introduction to Marine Ecology 3rd Edition. Blackwell Science
Ltd. London.
Brower, J.E. 1998. Field and Laboratory Methods for General Ecology. United States of America:
McGraw-Hill Companies.
Dahuri. R. 1995. Metode dan Pengukuran Kualitas Air Aspek Biologi. IPB. Bogor.
Kovacs, M. 1992. Biological Indicators of Environment Protection. Ellis Horwoad. New York.
Mandavile, S.M. 2002. Benthic Macroinvertebrates in Freshwaters Taxa Tolerance Values, Metrics, and
Protocols. (Project H-1) Soil & Water Conservation Society of Metro Halifax
Montagna, P. A., J. E. Bauer, D. Hardin and R. B., Spies. 1989. Vertical Distribution of Microbial and
Meiofaunal Populations in Sediments of Natural Coastal Hydrocarbon Seep. Journal of Marine Science.
Odum EP. 1971. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Yogayakarta. Gajah Mada University press.
Pavluk T.I., A. bij de Vaate, & H. A. Leslie, 2000, Development of an Index of Trophic Completeness
for Benthic Macroinvertebrate Communities in Flowing Waters. Hydrobiologia 427: 135141.
Sinaga, T. 2009. Keanekaragaman Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan Danau Toba
Balige Kabupaten Toba Samosir. TESIS: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara: Medan
Sudarso, Y. et al. 2009. Penyusunan biokriteria dengan Menggunakan Konsep Multimetrik: Studi Kasus
Anak Sungai Cisadane. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia (2009) 35 (2): 179-200
Sulastri, Dede Irving Hartoto Dan Iwan Ridwansyah. 2010. Pemilihan zonasi kawasan konservasi
Keanekaragaman biota muara layang di sekitar Teluk klabat, pulau Bangka. Oseanologi dan Limnologi di
Indonesia (2010) 36(3): 343-360
Suwondo, Mahmud alpusari, Elya febrita, Dessy.2004. Kualitas biologi perairan sungai senapelan, sago
dan sail Di kota pekanbaru Berdasarkan bioindikator plankton dan bentos. Jurnal Biogenesis Vol. 1(1):15-
20, 2004
Wardhana, Arya Wisnu.1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offest. Yogyakarta.
Wibisono, M. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Penerbit Grasindo: Jakarta

http://gresyan.blogspot.com/2011/10/penentuan-kualitas-perairan-pada-3.html