Anda di halaman 1dari 20

KERJASAMA KEAMANAN MARITIM INDONESIA-AUSTRALIA

DALAM KERANGKA PERJANJIAN LOMBOK



INTAN SARAH AUGUSTA

Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer
Indonesia
Jalan Dipati Ukur No. 112 Bandung 40132 Indonesia

E-mail: intan.augusta@yahoo.co.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kerjasama keamanan maritim yang dilakukan
antara Indonesia-Australia dalam kerangka Perjanjian Lombok. Yang menjadi objek dari penelitian ini adalah
kerjasama keamanan maritimantara Indonesia-Australia dan Perjanjian Lombok. Peneliti mencoba memahami
dan menganalisis bagaimana kerjasama keamanan maritim Indonesia-Australia dalam mengatasi ancaman-
ancaman yang terdapat di wilayah perairan perbatasan kedua negara.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah teknik
analisa deskriptif. Sebagian besar data dikumpulkan melalui studi pustaka dan penelusuran website. Data-data
yang diperoleh kemudian dianalisis dengan pendekatan teori yang berhubungan dengan Hubungan
Internasional, Kerjasama Internasional, Perjanjian Internasional, Hukum Laut Internasional, Kepentingan
Nasional dan teori Geopolitik.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan segala bentuk kerjasama keamanan maritim Indonesia-Australia
dalam kerangka Perjanjian Lombok dalam upaya menjaga keamanan perairan perbatasan kedua negara dari
tahun 2007 sampai 2010.


Kata Kunci : Keamanan Maritim, Perjanjian Lombok, Indonesia, Australia



ABSTRACT

This study aims to determine how Maritime Security Cooperation Between Indonesia-Australia through
Lombok Treaty Framework. The objects of this study is the maritime security cooperation between Indonesia-
Australia and Lombok Treaty. Researcher are trying to understand and analyze how this cooperation in order
to overcome the threats that occur in the sea border between both countries.
This study used qualitative research type. The research method used is descriptive analysis techniques.
Most of the data collected through the literature and websites searching. Those data were analyzed by theory
approach based on International Relations, International Cooperation, International Agreement, International
Law of the Sea, National Interest and Geopolitic theory.
The results of this study show all the maritime security cooperation between Indonesia-Australia through
Lombok Treaty framework to secure the sea border between Indonesia-Australia from 2007 until 2010.


Keywords : Maritime Security, Lombok Treaty, Indonesia, Australia







1. Pendahulan

1.1 Latar Belakang Masalah
Fenomena hubungan internasional dapat
dilihat dengan dua cara yang berbeda. Pertama
dipandang sebagai fenomena sosial dan kedua
dipandang sebagai salah satu disiplin ilmu. Sebagai
fenomena sosial, aspek cakupan hubungan
internasional ini sangat luas, yakni segala aktivitas
kehidupan manusia yang kompleks dan bersifat
internasional. Sebuah hubungan internasional dapat
terjalin karena adanya perbedaan kepentingan,
ketidakmerataan kekayaan alam, perbedaan letak
geografis, dan lain-lain. Sehingga menuntut sebuah
negara untuk melakukan kerjasama dengan negara
lain dengan tujuan untuk mencapai pemenuhan
kebutuhan dalam negerinya, baik berupa hubungan
di bidang politik, sosial, budaya, ekonomi,
pertahanan keamanan (hankam), atau hubungan-
hubungan lainnya.
Globalisasi mengaburkan batas-batas
wilayah suatu negara sehingga ruang gerak
manusia, materi maupun nilai-nilai cenderung
bersifat lebih fleksibel dan tidak mengalami
hambatan yang begitu signifikan, kedaulatan tetap
merupakan suatu privilege (keistimewaan) bagi tiap
negara yang tidak mungkin atau setidaknya belum
mungkin bisa dilenyapkan dari sistem
internasional. Tidak ada negara di dunia ini yang
hidup terisolir tanpa berhubungan dengan negara
lain. Batas antar negara yang satu dengan yang lain
ditandai oleh kewenangan untuk melaksanakan
yurisdiksi eksekutif di wilayah teritorial masing-
masing negara sesuai dengan tujuan kebijakan
pemerintahannya. Pelaksanaan yurisdiksi eksekutif
merupakan implementasi riil dari manifestasi
utama kedaulatan suatu negara karena terkait erat
dengan penentuan batas wilayah kedaulatan,
pemanfaatan sumber daya alam, serta pengamanan
terhadap keutuhan wilayah (Debe, 2009: 152).
Keamanan maritim adalah salah satu isu
yang keamanan kawasan yang paling banyak
dibicarakan pada abad ke-21. Alasannya adalah isu
ini terkait dengan fungsi wilyah maritim yang
makin strategis bagi kepentingan nasional suatu
negara yang mendorong upaya untuk meningkatkan
keamanan masing-masing negaranya.
Secara geografis Indonesia terletak di
daerah yang strategis dan memiliki wilayah yang
luas baik daratan maupun lautan, serta didalamnya
terkandung kekayaan sumber daya alam, maka
pemerintah Indonesia harus secara seksama
menjaga kedaulatan Indonesia. Salah satunya
dilakukan dengan cara menjaga keamanan wilayah
perairan Indonesia, khususnya yang berbatasan
dengan negara lain, untuk mencegah dan mengatasi
segala bentuk ancaman.
Maka dari itu keamanan maritim sangat
penting bagi Indonesia dalam upaya menjaga
kedaulatan negaranya. Salah satu upaya yang
dilakukan oleh pemerintah Indonesia ialah
bekerjasama dengan pemerintah Australia membuat
sebuah forum dialog di bidang pertahanan.
Forum dialog di bidang pertahanan dan
keamanan tersebut pada awalnya bernama
Pertemuan Informal Indonesia-Australia, namun
pada pertemuan kedua di Yogyakarta, kedua
delegasi sepakat untuk memberi nama Pertemuan
Informal Indonesia-Australia menjadi Indonesia-
Australia Defence Strategic Dialogue (IADSD).
Forum dialog ini pertama kali diadakan pada tahun
2001 di Jakarta. Sejak tahun 2004 forum ini
dilaksanakan secara bergantian di Indonesia dan
Australia setiap satu tahun sekali.
Pada 13 November 2006 Indonesia dan
Australia menandatangani Framework Agreement
on Security Cooperation di Pulau Lombok,
Indonesia. Perjanjian yang dikenal juga dengan
nama Perjanjian lombok ini merupakan kerangka
kerjasama yang telah dimatangkan oleh kedua
negara selama bertahun-tahun. Perjanjian
kerjasama keamanan yang ditandatangani menteri
luar negeri kedua negara mengatur kerjasama pada
10 bidang. Kesepuluh bidang itu meliputi
pertahanan, keamanan maritim, intelejen, kontra
terorisme, pencegahan proliferasi senjata pemusnah
massal, tanggap darurat bencana alam, penegakan
hukum, keselamatan dan keamanan penerbangan,
kerjasama di dalam organisasi internasional dan
kerjasama antar masyarakat.
Perjanjian kerangka kerjasama keamanan
tersebut dilatarbelakangi oleh keperluan Indonesia
memasukkan jaminan pengakuan Australia atas
kedaulatan Republik Indonesia (RI) ke dalam suatu
kerangka perjanjian. Demikian juga terhadap
pernyataan tidak mendukung gerakan-gerakan
separatis di Indonesia. Selain itu juga dimaksudkan
untuk mewadahi dan mengembangkan berbagai
kerjasama keamanan bilateral yang sudah ada.
Sebagai implementasi dari perjanjian
lombok, maka pada tahun berikutnya, ditahun 2007
dan seterusnya forum dialog IADSD dilaksakan
untuk mengimplementasikan poin-poin kerjasama
yang telah disepakati pada Perjanjian Lombok.
Forum dialog ini telah berjalan sejak tahun 2001
dan terus dilakukan sejak tahun 2004 sampai
sekarang. Dalam IADSD terdapat beberapa hasil
kesepakatan yang diperoleh dalam poin kerjasama
keamanan maritim, yaitu Join (Save and Recue)
SAR Operation Badan SAR Nasional (Basarnas)
dan Australian Maritime Safety Autority (AMSA),
latihan bersama patroli laut TNI angkatan laut
Indonesia dan Royal Autralian Navy (RAN).
Salah satu faktor yang mendasari adanya
bentuk kerjasama di bidang keamanan maritim
adalah faktor geografi, dimana Indonesia memiliki
karakteristik geografi yang terbuka, utamanya
dimensi maritim. Ancaman keamanan saat ini lebih
banyak di dominasi oleh ancaman yang banyak
memanfaatkan jalur laut seperti penyelundupan
manusia (people smugling), narkotika,
penyelundupan senjata, penyelundupan barang,
pembajakan laut, nelayan ilegal, terorisme maritim,
yang juga memiliki peluang terhadap adanya
peningkatan gerakan separatis dan konflik,
khususnya di wilayah Indonesia Timur.
Perjanjian keamanan yang telah disepakati
oleh pemerintah Indonesia dengan pemerintah
Australia memiliki arti yang sangat penting bagi
kedua negara, baik pada tingkat konsep maupun
hubungan bilateral kedua negara. Jika melihat dari
realitas dan dinamika hubungan bilateral yang
selalu mengalami pasang surut, maka perjanjian
keamanan ini merupakan prestasi tertinggi dalam
meletakkan kerangka kerjasama keamanan bagi
kedua negara, khususnya pasca pembatalan
perjanjian keamanan Indonesia-Australia pada
tahun 1999.
Bagi Indonesia perjanjian keamanan ini
memiliki arti penting dalam menjaga kedaulatan
wilayah Indonesia. Terutama jaminan kedaulatan
dari pemerintah Australia atas Integritas wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di sisi lain
perjanjian keamanan memberikan keuntungan
khusus bagi Indonesia berupa peningkatan
kemampuan kontrol wilayah dan geografi, terkait
dengan Joint Exercises (latihan bersama) Patroli
Keamanan Maritim Terkoordinasi antara TNI
Angkatan laut dan AMSA, kerjasama intelijen,
sebagai implementasi dari kerjasama keamanan.
Sedangkan bagi Australia, dengan perjanjian
keamanan ini Australia sangat berharap bahwa
pemerintahnya dapat meningkatkan kerjasama
dengan pemerintah Indonesia di bidang keamanan,
untuk menghadapi ancaman kejahatan
transnasional yang banyak memanfaatkan dimensi
maritim. Selain menjaga kepentingan dan
keamanan, kerjasama keamanan ini juga dipilih
oleh pemerintah Australia guna mencegah serangan
terorisme dan para pelaku teror masuk ke dalam
teritorial negaranya.
Tujuan dari kerjasama ini adalah untuk
memperkuat dan mengembangkan hubungan
persahabatan dan kerjasama di bidang pertahanan
dan militer atas dasar saling menghormati
kemerdekaan masing-masing, kedaulatan dan
integritas teritorial, tidak campur tangan dalam
urusan internal masing-masing, kesetaraan, saling
manfaat dan menjunjung tinggi perdamaian seperti
yang tercantum dalam Piagam PBB (Perserikatan
Bangsa Bangsa) dan norma-norma yang diakui
secara universal hukum internasional lainnya.
Maka berdasarkan pemaparan diatas,
peneliti tertarik untuk melakukan penelitan yang
berjudul :
Kerjasama Keamanan Maritim
IndonesiaAustralia Dalam Kerangka
Perjanjian Lombok
Penelitian yang akan dilakukan ini berkaitan
dengan beberapa mata kuliah pada Program Studi
Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia,
antara lain:
1. Pengantar Hubungan Internasional.
Dimana pada mata kuliah ini mulai
mengetahui dinamika yang terjadi
dalam konteks hubungan Internasional,
baik itu antara state actors maupun
non-state actors dalam sistem
internasional.
2. Hubungan Internasional di Kawasan
Asia Pasifik. Dalam mata kuliah ini
kita mempelajari interaksi yang
dilakukan oleh negara yang berada di
kawasan Asia Pasifik.
3. Politik Luar Negeri. Dalam mata
kuliah ini membantu menjelaskan
berbagai tindakan yang dilakukan oleh
negara dalam interaksinya terhadap
negara lain serta kebijakan politik luar
negeri suatu negara untuk menghadapi
perubahan yang terjadi diluar
wilayahnya demi pencapaian
kepentingan nasional.
4. Hukum Internasional. Dalam mata
kuliah ini kita mempelajari tentang
batas-batas yurisdiksi yang dimiliki
oleh masing-masing negara dan
membahas Hukum Laut Internasional.
1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan uraian yang dikemukakan di
atas, maka permasalahan dapat di identifikasikan
dalam beberapa pertanyaan berikut :
Rumusan masalah mayor:
Bagaimana kerjasama keamanan
maritim IndonesiaAustralia dalam
kerangka Perjanjian Lombok?

Rumusan masalah minor:
1. Faktor apa yang menjadi latar belakang
Pemerintah Indonesia melakukan
kerjasama keamanan maritim dengan
Pemerintah Australia?
2. Program apa saja yang dilakukan oleh
pemerintah IndonesiaAustralia dalam
menjalankan kerjasama keamanan
maritim dalam kerangka Perjanjian
Lombok?
3. Kendala apa saja yang dihadapi oleh
Pemerintah IndonesiaAustralia dalam
menjalankan kerjasama keamanan
maritim dalam kerangka Perjanjian
Lombok?
4. Keuntungan yang diperoleh
pemerintah Indonesia dari kerjasama
keamanan maritim tersebut?

1.2.1 Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah diajukan untuk
mempersempit fokus terhadap masalah. Dari
permasalahan yang ada, penulis membatasi
masalah dalam kerjasama keamanan maritim dalam
kerangka Perjanjian Lombok yang dilakukan pada
tahun 2007-2010. Perjanjian keamanan sebagai
payung hukum kerjasama keamanan kedua negara
memberikan keuntungan khusus bagi Indonesia
berupa peningkatan kemampuan kontrol wilayah
dan geografi, terkait dengan ancaman keamanan
yang masuk melalui laut seperti, penyeludupan
senjata, narkotika, people smugling, penyeludupan
barang serta terorisme dan ancaman lainnya serta
peningkatan kegiatan kerjasama pertahanan dan
kerjasama lainnya yang telah ada dan pembangunan
kapasitas dalam bidang keamanan udara dan maritim
sesuai dengan hukum internasional. Pembatasan
tahun ini diambil karena perjanjian yang baru
ditandatangani pada tahun 2006 dan diratifikasi
tahun 2007 untuk melihat hasil kerjasama
keamanan maritim dalam kerangka perjanjian ini.
Dan dibatasi sampai pada tahun 2010 karena untuk
melihat perkembangan dari kerjasama yang telah
dilakukan terkait dana yang telah dikeluarkan
selama kurun waktu 2007-2010.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dilakukannya penelitian ini adalah
untuk menganalisa kerjasama keamanan maritim
Indonesia-Australia dalam kerangka Perjanjian
Lombok yang dilakukan oleh Indonesia dan
Australia dalam upaya menangani ancaman-
ancaman yang ada di wilayah perairan perbatasan
kedua negara.

1.3.2 Tujuan Penelitian
Suatu kegiatan penelitian yang dilakukan
hendaknya memiliki suatu tujuan yang hendak
dicapai. Adapun tujuan dari penelitian dan
penulisan skripsi ini adalah :
1. Penelitian dalam penulisan skripsi ini
diharapkan untuk dapat mengetahui,
memahami, dan meneliti berbagai
faktor atau alasan Pemerintah
Indonesia mengadakan kerjasama
keamanan maritim dengan pemerintah
Australia.
2. Mengetahui, memahami dan meneliti
program yang dilakukan oleh
pemerintah Indonesia-Australia dalam
menjalankan kerjasama keamanan
maritim dalam kerangka Perjanjian
Lombok.
3. Mengetahui, memahami, dan meneliti
kendala yang dihadapi oleh pemerintah
Indonesia-Australia dalam
menjalankan kerjasama keamanan
maritim dalam kerangka Perjanjian
Lombok.
4. Mengetahui, memahami, dan meneliti
keuntungan yang diperoleh pemerintah
Indonesia dari kerjasama tersebut.

1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis, diharapkan dapat
memberikan sumbangan bagi
perkembangan teoriteori ilmu
hubungan internasional yang akan
menambah khasanah keilmuan,
menambah wawasan serta dapat
berguna sebagai tambahan informasi
dan pembelajaran yang tertarik
membahas terkait dengan topik
penelitian yang dibahas kali ini. Hasil
dari penelitian ini diharapkan dapat
berguna dan dapat dijadikan masukan
untuk keperluan referensi akademis
bagi yang berminat mengadakan
penelitian lanjutan untuk masalah yang
sama.
2. Secara praktis, penelitian ini
diharapkan dapat digunakan sebagai
masukkan bagi pemerintah. Penelitian
ini juga untuk meneliti lebih lanjut agar
program kerjasama pemerintah dapat
lebih tepat sasaran dan sebagai bahan
pertimbangan serta evaluasi program
kerjasama. Selain itu sebagai salah satu
syarat bagi peneliti untuk meraih gelar
kesarjanaan Strata Satu (S-1) pada
Program Studi Ilmu Hubungan
Internasional Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas
Komputer Indonesia.

2. Tinjauan Pustaka Dan Kerangka
Pemikiran

2.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian sebelumnya yang penulis jadikan
acuan dalam tinjauan pustaka adalah tesis yang
ditulis oleh Ahmad Almaududy Amri dari
Universitas Indonesia pada tahun 2012, yang
berjudul Foreign Affairs and Defence Ministers
Meeting Indonsesia-Australia: Upaya dalam
Meningkatkan Hubungan Bilateral di Bidang
Keamanan. Dalam tesis ini diuraikan tentang
bentuk baru dalam hubungan bilateral antara
Indonesia dan Australia yaitu Foreign Affairs and
Defence Ministers Meeting (FADMM). Ide ini
mulai mengemuka saat Presiden RI melakukan
kunjungan ke Canberra pada bulan Maret 2010
dimana kedua negara menyepakati untuk
menyelenggarakan pertemuan tahunan FADMM.
Dasar pemikiran pembentukan FADMM adalah
sebagai langkah upaya mendorong dan
mewujudkan kesepakatan dalam Perjanjian
Lombok dan rencana aksi. Selain itu, Indonesia
memiliki kepentingan dalam pembentukan forum
ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pembentukan FADMM selain menguntungkan bagi
Indonesia khususnya di bidang keamanan, dapat
pula meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-
Australia, mengurangi ketegangan antara kedua
negara, meningkatkan rasa saling percaya dan
mencegah terjadinya konflik.
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat
faktor apa saja yang mendorong Indonesia untuk
membentuk FADMM. Selain itu akan diketahui
pula peran FADMM dalam meningkatkan
hubungan bilateral Indonesia dan Australia di
bidang keamanan. Dalam kaitannya dengan hal
tersebut maka akan diperoleh pula pemahaman
tentang kebijakan Pemerintah Indonesia melalui
kebijakan luar negerinya untuk meningkatkan
hubungan bilateral di bidang keamanan dengan
membuat forum yang mengikutsertakan menteri
luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara.
Sementara itu, Forum Kajian Pertahanan
dan Maritim dalam jurnal terbitan tahun 2006 yang
berjudul Mencermati Perjanjian Keamanan
Indonesia-Australia, mengkaji bagaimana
perjanjian kerjasama keamanan maritim kedua
negara menguntungkan kedua negara dari
kepentingan nasional masing-masing negara. Selain
itu jurnal ini juga membahas tentang keamanan
maritim dikaitkan dengan kepentingan nasional
Australia. Dan bagaimana Ambisi Australia untuk
mempertahankan posisinya sebagai aktor regional
mendorong negara itu untuk dengan segala cara
berupaya mengamankan kepentingan nasionalnya.
Dalam konteks Framework Agreement on Security
Cooperation.
Penelitian terdahulu yang juga digunakan
dalam penelitian ini yaitu skripsi yang ditulis oleh
Susi Pesta Romauli Boru Aritonang dari
Universitas Komputer Indonesia pada tahun 2011,
yang berjudul Pengaruh Kebijakan Maritim
Australia Australias Maritime Identification Zone
(AMIZ) Terhadap Batas Yurisdiksi Perairan
Indonesia. Dalam skripsinya penulis membahas
tentang Kebijakan Pertahanan dan Keamanan
Maritim Australia yaitu Australias Maritime
Identification Zone (AMIZ), disebabkan oleh
persepsi Australia tentang ketidakmampuan
Australia untuk mengatasi ancaman serta
keikutsertaan Australia dalam kerjasama dengan
negara sukutunya Amerika Serikat dalam hal
pertahanan missile.
Australia merasa perlu untuk melakukan
deteksi dini terhadap kapal-kapal yang memasuki
perairan Australia. Namun, dirasakan kekhawatiran
oleh beberapa negara yang berada di kawasan Asia-
Pasifik, akibat daya jangkau 1000-1500 mil laut
yang terdapat dalam kebijakannya tersebut.
Indonesia sebagai negara kepulauan merasa bahwa
daya jangkau 1000-1500 mil laut tersebut
memasuki dua per tiga wilayah perairan Indonesia.
Berdasarkan permasalah tersebut dapat dirumuskan
sebuah permasalahan yaitu Bagaimana Pengaruh
Kebijakan Maritim Australia Australias Maritim
Identification Zone (AMIZ) terhadap Batas
Yurisdiksi Perairan Indonesia
Metode dan teknik penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif analitis dan studi kepustakaan, dimana
dengan menggunakan metode ini dapat diambil
hipotesis untuk mengidentifikasikan permasalahan
tersebut, hipotesis tersebut adalah Kebijakan
Maritim Australia berupa pemberlakuan Australias
Maritime Identification Zone (AMIZ) yang
mempunyai jangkauan radar 1000-1500 mil telah
mempengaruhi batas Yurisdiksi Perairan Indonesia
ditandai dengan 2/3 wilayah Indonesia yang masuk
dalam wilayah operasional AMIZ.
Hasil uji dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
Australia dalam menerapkan kebijakan pertahanan
maritimnya yaitu Australiass Maritime
Identification Zone (AMIZ) telah memberikan
pengaruh terhadap Yurisdiksi dari negara lain
khususnya Indonesia yang mana sebagian dari
wilayah Perairan Indonesia masuk dalam
jangkauan AMIZ.
Yang membedakan penelitian ini dari
ketiga karya ilmiah diatas yaitu penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui bagaimana kerjasama
keamanan maritim yang dilakukan antara
Indonesia-Australia dalam kerangka Perjanjian
Lombok. Yang menjadi objek dari penelitian ini
adalah kerjasama keamanan maritimantara
Indonesia-Australia dan Perjanjian Lombok.
Peneliti mencoba memahami dan menganalisis
bagaimana kerjasama keamanan maritim
Indonesia-Australia dalam mengatasi ancaman-
ancaman yang terdapat di wilayah perairan
perbatasan kedua negara.
Metode penelitian yang digunakan adalah
kualitatif. Metode penelitian yang digunakan
adalah teknik analisa deskriptif. Sebagian besar
data dikumpulkan melalui studi pustaka dan
penelusuran website. Data-data yang diperoleh
kemudian dianalisis dengan pendekatan teori yang
berhubungan dengan Hubungan Internasional,
Kerjasama Internasional, Perjanjian Internasional,
Hukum Laut Internasional, Kepentingan Nasional
dan teori Geopolitik. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan segala bentuk kerjasama keamanan
maritim Indonesia-Australia dalam kerangka
Perjanjian Lombok dari tahun 2007 sampai 2010.

2.2 Kerangka Pemikiran
2.2.1 Hubungan Internasional

Ilmu hubungan internasional merupakan
bagian dari ilmu sosial yang khusus mempelajari
masyarakat internasional atau sociology of
international relations. Ilmu hubungan
internasional dalam arti umum tidak hanya
mencakup unsur politik saja, tetapi juga mencakup
unsur-unsur ekonomi, sosial, budaya, hankam dan
lain sebagainya.
Istilah hubungan internasional memiliki
banyak definisi. Secara keseluruhan hubungan
internasional merupakan studi yang terbentuk dari
ilmu-ilmu yang bersifat interdisipliner dan
melengkapi satu sama lain. Hal ini digunakan oleh
para ahli untuk menjelaskan fenomena-fenomena
yang terjadi didalam hubungan antar negara,
sehinga pada akhirnya memberikan berbagai
definisi terhadap studi hubungan internasional itu
sendiri. Hubungan internasional juga dapat
ditujukan kepada semua bentuk interaksi antara
anggota-anggota masyarakat yang berbeda, baik
yang didukung oleh pemerintah maupun tidak.
Dalam mempelajari ilmu Hubungan
Internasional terdapat tujuan dasar mempelajari
ilmu ini, seperti yang disampaikan oleh DR. Anak
Agung Banyu Perwita dan DR. Yanyan Mochamad
Yani dalam bukunya Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional yaitu:
Tujuan dasar studi Hubungan Internasional
adalah mempelajari perilaku internasional,
yaitu perilaku antara aktor negara maupun
non-negara, di dalam arena transaksi
internasional. Perilaku ini bisa berwujud
kerjasama, pembentukan aliansi, perang,
konflik serta interaksi didalam organisasi
internasional (Perwita & Yani, 2005:4-5).

Menurut The Dictionary of World Politics,
hubungan internasional adalah istilah yang
digunakan untuk melihat seluruh interaksi antara
aktor-aktor negara dengan melewati batas-batas
negara. Sedangkan Mc. Clelland mendefinisikan
hubungan internasional secara jelas sebagai studi
tentang interaksi antara jenis kesatuan-kesatuan
sosial tertentu, termasuk studi tentang keadaan-
keadaan relevan yang mengelilingi interaksi.
Hubungan internasional akan berkaitan dengan
segala bentuk interaksi antara masyarakat negara-
negara, baik yang dilakukan oleh pemerintah
ataupun warga negara. Hubungan internasional
mencakup pengkajian terhadap politik luar negeri
dan politik internasional, dan meliputi segala segi
hubungan diantara berbagai negara didunia
(Perwita & Yani, 2005:4).
DR. Anak Agung Banyu Perwita dan DR.
Yanyan Mochamad Yani dalam buku Pengantar
Ilmu Hubungan Internasional menyatakan bahwa:

Studi tentang Hubungan Internasional
banyak diartikan sebagai suatu studi tentang
interaksi antar aktor yang melewati batas-
batas negara. Terjadinya Hubungan
Internasional merupakan suatu keharusan
sebagai akibat adanya saling ketergantungan
dan bertambah kompleksnya kehidupan
manusia dalam masyarakat internasional
sehingga interdependensi tidak
memungkinkan adanya suatu negara yang
menutup diri terhadap dunia luar (Perwita
& Yani, 2005:3).

Sesuai dengan definisi hubungan
internasional yang telah diuraikan dan sesuai
dengan fenomena kerjasama keamanan maritim
antara Indonesia dan Australia, dalam hal ini,
hubungan, interaksi serta dinamika kedua negara
ini dalam menjalankan kerjasama maritim tersebut.

2.2.2 Kerjasama Internasional
2.2.2.1 Pengertian Kerjasama Internasional

Kerjasama internasional tidak dapat
dihindari oleh negara atau aktor-aktor internasional
lainnya. Keharusan tersebut diakibatkan adanya
saling ketergantungan diantara aktor-aktor
internasional dan kehidupan manusia yang semakin
kompleks, ditambah lagi dengan tidak meratanya
sumber dayasumber daya yang dibutukan oleh
para aktor internasional. Dalam suatu kerjasama
internasional bertemu berbagai macam kepentingan
nasional dari beberapa negara dan tidak dapat
dipenuhi sendiri secara maksimal oleh satu negara
saja, namun dari bantuan dan kerjasama negara
lain.
Kerjasama internasional adalah sisi lain dari
konflik internasional yang juga merupakan salah
satu aspek dalam hubungan internasional. Isu
utama dari kerjasama internasional yaitu
berdasarkan pada sejauh mana keuntungan bersama
yang diperoleh melalui kerjasama tersebut dapat
mendukung konsepsi dari kepentingan tindakan
yang unilateral dan kompetitif. Kerjasama
internasional terbentuk karena kehidupan
internasional meliputi berbagai bidang seperti
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan
(Perwita dan Yani, 2005: 33-34).
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan di
dalam kerjasama internasional adalah:
1. Negara bukan lagi sebagai aktor
eksklusif dalam politik internasional
melainkan hanya bagian dari jaringan
interaksi politik, militer, ekonomi dan
kultural bersama-sama dengan aktor-
aktor ekonomi dan masyarakat sipil.
Kerjasama internasional tidak lagi semata-
mata ditentukan oleh kepentingan masing-masing
negara yang terlibat di dalamnya, melainkan juga
oleh institusi internasional, karena institusi
internasional seringkali bukan hanya bisa
mengelola berbagai kepentingan yang berbeda dari
negaranegara anggotanya, tetapi juga memiliki
dan bisa memaksakan kepentingannya sendiri
(Sugiono, 2006; 6).
2.2.2.2 Kerjasama Keamanan Maritim

Palma mendefinisikan keamanan maritim
dengan kondisi terbebasnya suatu negara dari
berbagai ancaman terhadap kepentingan
nasionalnya di laut. Ancaman tersebut baik berupa
ancaman militer, maupun non-militer seperti
tindakan kekerasan untuk memaksa, mendorong
sebuah kepentingan dan tujuan politik, menantang
kedaulatan sebuah negara, mengabaikan hukum,
baik nasional dan internasional, pemanfaatan secara
illegal sumber daya laut, transportasi illegal
terhadap barang dan orang melalui laut (Palma,
2009: 1).
Marry Ann Palma lebih lanjut membagi
permasalahan keamanan maritim ke dalam dua
kategori, yakni, pertama, keamanan maritim
sebagai keamanan nasional, yang mempunyai
tujuan melindungi integritas wilayah dari sumber
ancaman internal (konflik komunal dan
separatisme). Kedua, keamanan maritim sebagai
kepentingan keamanan yang berdampak regional.
Setiap negara pasti memiliki kebijakan terhadap
adanya ancaman eksternal (transnational crime),
yang mana kebijakan atau jurisdiksi nasional
tersebut berimplikasi pada dinamika regional di
suatu kawasan (Palma, 2009: 26).

2.2.3 Hukum Internasional
2.2.3.1 Pengertian Hukum Internasional

Hukum Internasional juga merupakan salah
satu kajian dalam hubungan internasional. Hukum
internasional dapat didefinisikan sebagai
keseluruhan hukum yang untuk sebagian besar
terdiri dari prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah
perilaku dan terhadapnya negara-negara merasa
dirinya terikat untuk mentaati dan karenanya benar-
benar ditaati secara umum dalam hubungan-
hubungan mereka satu sama lain dan meliputi juga
:
1. Kaidah-kaidah hukum yang berkaitan
dengan berfungsinya lembaga-lembaga
atau organisasi-organisasi
internasional, hubungan-hubungan
mereka satu sama lain dan hubungan
mereka dengan negara-negara dan
individu-individu.
2. Kaidah-kaidah hukum tertentu yang
berkaitan dengan individu-individu dan
badan-badan non-negara sejauh hak-
hak dan kewajiban individu dan badan
non-negara tersebut penting bagi
masyarakat internasional.
Pada dasarnya hukum internasional
didasarkan atas beberapa pemikiran sebagai berikut
:
1. Masyarakat internasional yang terdiri
dari sejumlah negara yang berdaulat
dan merdeka (independen) dalam arti
masing-masing berdiri sendiri tidak
berada dibawah kekuasaan yang lain
(multi state system).
2. Tidak ada suatu badan yang berdiri
diatas negara-negara baik dalam
bentuk negara (world state) maupun
badan supranasional yang lain.
3. Merupakan suatu tertib hukum
koordinasi antar anggota masyarakat
internasional sederajat. Masyarakat
Internasional tunduk pada hukum
internasional sebagai tertib hukum
yang mengikat secara koordinatif
untuk memelihara & mengatur
berbagai kepentingan bersama (Rudy,
2006: 2).
Negara-negara memiliki kepentingan bersama
dalam membangun dan memelihara ketertiban
nasional sehingga mereka dapat hidup
berdampingan dan berinteraksi atas dasar stabilitas,
kepastian dan dapat diramalkan. Untuk tujuan itu,
negara-negara diharapkan menegakkan hukum
internasional untuk menjaga komitmen perjanjian
mereka dan mematuhi aturan, konvensi, dan
kebiasaan tatanan hukum internasional. Mereka
juga diharapkan mengikuti praktek-praktek
diplomasi yang telah diterima dan mendukung
organisasi internasional. Hukum internasional,
hubungan diplomatik dan organisasi internasional
hanya dapat bertahan dan berjalan lancar jika
pengharapan tersebut umumnya disadari oleh
seluruh negara sepanjang waktu (Jackson &
Sorensen, 2007: 6).
2.2.3.2 Hukum Laut Internasional dan
UNCLOS (United Nations Conference on the
Law of the Sea)
Pada awal sejarah perkembangan hukum
laut, terdapat beberapa ukuran yang
dipermasalahkan untuk menetapkan lebar laut
teritorial sebagai jalur yang berbeda di bawah
kedaulatan negara pantai atas jalur maritim ini
benar-benar berlaku. Definisi hukum laut adalah:
Sekumpulan atau serangkaian peraturan yang
menyangkut tentang wilayah laut (Koers, 1994:
5).
Dua perkembangan penting setelah
berakhirnya Perang Dunia II, adalah :
1. Penerimaan Umum atas Landas
kontinen Zona Ekonomi Eksklusif.
2. Keputusan-keputusan international
Court of Justice dalam perkara Anglo
Norwegian Fisheries Case (yaitu
mengenai pertimbangan bahwa jalur
maritim bukanlah suatu perluasan
semua terbatas dari wilayah kekuasaan
daratan suatu negara sebagai suatu
wilayah tambahan yang berdampingan)
dimana demi alasan-alasan ekonomi,
keamanan, dan geografis negara pesisir
itu berhak untuk melaksanakan hak-
hak kedaulatan eksklusif, yang hanya
tunduk pada pembatasan-pembatasan
seperti hak lintas damai dari kapal-
kapal asing (Rudy, 2006 : 2).
Sejak laut dimanfaatkan sebagai jalur
pelayaran, perdagangan dan sebagai sumber
kehidupan seperti penagkapan ikan, semenjak itu
pulalah ahli-ahli hukum mulai memusatkan
perhatiannya pada hukum laut. Ahli-ahli hukum
berusaha meletakkan konsep-konsep dasar tentang
hukum laut, seperti halnya Summer yang membagi
teori-teori tentang lautan secara legalistik dalam
empat bagian:
1. Perairan pedalaman
2. Laut Teritorial
3. Zona Tambahan
4. Laut Lepas
Dalam perkembangannya hukum laut
melewati beberapa konsepsi yaitu:
1. Konsepsi Cornelius van Bijnkerhoek
1702.
2. Konferensi Liga Bangsa-bangsa di Den
Haag tahun 1930.
3. Konsepsi UNCLOS I I958.
4. Konsepsi UNCLOS II 1960.
5. Konsepsi UNCLOS III 1982 (Rudi,
2006: 2-8).
Konferensi PBB mengenai hukum laut yang
pertama dan kedua (tahun 1958 dan 1960) belum
dapat menyelesaikan beberapa masalah, seperti:
1. Lebar laut teritorial secara tepat.
2. Masalah lintas damai bagi kapal-kapal
perang setiap waktu melintasi selat-
selat yang merupakan jalan raya
maritim internasional dan yang
seluruhnya merupakan perairan laut
territorial.
3. Hal lintas dan terbang lintas dalam
hubungannya dengan perairan
kepulauan.
4. Masalah perlindungan dan konservasi
spesies-spesies khusus untuk
kepentingan ilmiah atau fasilitas
kepariwisataan.
Pada tahun 1973 diadakan Konferensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut
yang ke III, yang dikenal sebagai United Nations
Conference on the Law of the Sea (UNCLOS).
Konferensi ini berakhir dengan pengesahan naskah
akhir konvensi dan penandatanganannya di
Montego Bay, Jamaika pada tanggal 10 Desember
1982 oleh 119 negara dan mencakup hal-hal:
1. Kodifikasi ketentuan-ketentuan hukum
laut yang ada, misalnya kebebasan-
kebebasan dilaut lepas dan hak lintas
damai dilaut territorial.
2. Pengembangan hukum laut yang sudah
ada, seperti ketentuan mengenai lebar
laut territorial menjadi maksimum 12
mil laut dan kriteria landas kontinen.
3. Penciptaan aturan-aturan baru, seperti
asas negara kepulauan, zona ekonomi
eksklusif dan penambangan didasar
laut internasional (Rudy, 2006: 17-18).

2.2.4 Perjanjian Internasional
Pada Statuta Mahkamah Internasional pasal
38, sumber-sumber hukum internasional adalah
perjanjian internasional, baik yang bersifat umum
maupun khusus, kebiasaan internasional, prinsip-
prinsip hukum umum yang diakui oleh negara-
negara beradab, dan keputusan pengadilan dan
pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya
menurut sumber hukum internasional (Mauna,
2001: 84).
Sebelum lahirnya Undang-Undang No. 24
Tahun 2000, semua dokumen sepanjang bersifat
lintas negara, sepanjang yang menjadi pihak adalah
pemerintah Indonesia, diperlakukan sebagai
perjanjian internasional dan disimpan dalam Ruang
Perjanjian (treaty room) Kementerian Luar Negeri.
Perjanjian yang dibuat Pemerintah dengan
organisasi non pemerintah juga dianggap sebagai
perjanjian internasional. Setelah lahirnya Undang-
Undang tersebut, Indonesia telah menunjukkan
konsistensi tentang perjanjian (Agusman, 2010:
24).
Dalam Konvensi Wina 1969 dan 1986 telah
memuat definisi tentang perjanjian internasional,
yaitu perjanjian internasional yang dibuat antara
negara (dan organisasi internasional) dalam bentuk
tertulis dan diatur oleh hukum internasional, baik
yang terkandung dalam instrumen tunggal atau
dalam dua atau lebih instrumen yang terkait.
Selanjutnya, definisi ini diadopsi oleh
Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang
perjanjian internasional dengan sedikit modifikasi,
yaitu setiap perjanjian di bidang hukum publik,
yang diatur oleh hukum internasional, dan dibuat
oleh Pemerintah dengan Negara, organisasi
internasional, atau subjek hukum internasional lain.
Dari pengertian ini, maka terdapat beberapa
kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh suatu
dokumen perjanjian untuk dapat ditetapkan sebagai
suatu perjanjian internasional menurut Konversi
Wina 1969 dan Undang-Undang No. 24 Tahun
2000, yaitu:
1. Perjanjian tersebut harus berkarakter
internasional (an international
agreement), sehingga tidak mencakup
perjanjian-perjanjian yang berskala
nasional seperti perjanjian antarnegara
bagian atau antara Pemerintah Daerah
dari suatu negara nasional.
2. Perjanjian tersebut harus dibuat oleh
negara dan/atau organisasi
internasional (by subject of
international law), sehingga tidak
mencakup perjanjian yang sekalipun
bersifat internasional namun dibuat
oleh non subjek hukum internasional,
seperti perjanjian antara negara dengan
perusahaan multinasional.
3. Perjanjian tersebut tunduk pada rezim
hukum internasional (governed by
international law) yang oleh Undang-
Undang No. 24 Tahun 2000 tentang
Perjanjian Internasional disebut dengan
diatur dalam hukum internasional
serta menimbulkan hak dan kewajiban
di bidang hukum publik. Perjanjian-
perjanjian yang tunduk pada hukum
perdata nasional tidak mencakup dalam
kriteria ini (Agusman, 2010: 20).
Dapat disimpulkan bahwa yang disebut
perjanjian internasional adalah semua perjanjian
yang dibuat oleh negara sebagai salah satu subjek
hukum internasional, yang diatur oleh hukum
internasional dan berisikan ikatan-ikatan yang
mempunyai akibat-akibat hukum. Sehubungan
dengan itu ada dua unsur pokok dalam definisi
perjanjian internasional tersebut, yaitu:
1. Adanya Subjek Hukum Internasional
Negara adalah subjek hukum
internasional yang mempunyai
kapasitas penuh untuk membuat
perjanjian-perjanjian internasional.
2. Rejim Hukum Internasional
Suatu perjanjian merupakan
perjanjian internasional apabila
perjanjian tersebut diatur oleh rejim
hukum internasional (Mauna, 2001:
88).
T. May Rudy menggolongkan perjanjian
internasional menjadi dua bagian, Treaty Contract
dan Law Making. Berikut penjelasannya:
Penggolongan perjanjian internasional sebagai
sumber hukum formal adalah penggolongan
perjanjian dalam Treaty Contract dan Law Making
Treaties. Treaty Contract dimaksudkan perjanjian
seperti kontrak atau perjanjian hukum perdata,
hanya mengakibatkan hak dan kewajiban antara
pihak yang mengadakan perjanjian itu (Rudy,
2002:44).
2.2.5 Konsep Pertahanan dan Keamanan
Menurut Andi Widjajanto, dari Kelompok
Kerja Propatria, pertahanan negara adalah segala
usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap
bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap
keutuhan bangsa dan negara. Andi Widjajanto juga
menjelaskan sistem pertahanan negarayang bersifat
semesta yang melibatkan seluruh warga negara,
wilayah, dan sumber daya nasionalnya. Kemudian,
sistem ini dipersiapkan secara dini oleh pemerintah
dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah,
dan berlanjut untuk menegakan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa
dari segala ancaman (Bakrie, 2007: 49).
Seiring dengan berkembangnya peradaban
manusia, dan dengan adanya berbagai macam
konflik di dunia, konsep keamanan adalah konsep
yang masih diperdebatkan (contested concept),
yang mempunyai makna berbeda bagi aktor yang
berbeda. Hal ini terjadi karena konsep keamanan
makin luas yang didorong dengan meningkatnya
interdependensi dan semakin kompleksnya jaringan
hubungan antar bangsa (international relation)
dalam era globalisasi.
Secara umum dapat dikatakan bahwa suatu
hal yang membahayakan eksistensi dan
mengganggu kesejahteraan hidup bangsa dan
negara, maka hal tersebut akan dirasakan sebagai
suatu ancaman terhadap masalah keamanan
nasional negara tersebut. Sebagaimana
diungkapkan oleh Prof. Dr. Yahya A. Muhaimin
dalam buku Masalah Kebijakan Pembinaan
Pertahanan Indonesia, yaitu:
Bahwa pembinaan pertahanan negara dapat
dilakukan denga konsep Preventif defense
yakni strategi pertahanan yang
mengonsentrasikan keamanan nasional pada
berbagai macam potensi ancaman, meskipun
ancaman tersebut bersifat kecil, namun jika
tidak dikelola secara tepat maka ancaman
tersebut akan menjadi bahaya yang konkrit,
yang secara langsung akan mengancam
eksistensi dan kelangsungan hidup suatu
bangsa dan negara (Muhaimin, 2008: 23).
Konsep keamanan kini dapat dikaji sebagai
pengaruh dari masing-masing posisi ekstrim antara
kekuatan dan perdamaian. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Buzan dalam buku People, States,
and Fear: An Agenda for International Security
Studies in the Post-Cold War Era, bahwa:
Keamanan berkaitan dengan masalah
lingkungan hidup, dimana isu-isu yang
mengancam kelangsungan hidup suatu unit
kolektif tertentu akan dipandang sebagai
ancaman yang eksistensial. Berdasarkan
kriteria isu keamanan, Buzan membagi
keamanan kedalam lima dimensi yaitu
politik, militer, ekonomi, sosial, dan
lingkungan. Dimana tiap dimensi keamanan
tersebut mempunyai unit keamanan, nilai
dan karakteristik kelangsungan hidup dan
ancaman yang berbeda-beda (Perwita &
Yani, 2005:122).
2.2.6 Teori Geopolitik
Istilah geopolitik pertama kali diartikan oleh
Frederich Ratzel sebagai ilmu bumi politik
(Political Geography) yang kemudian diperluas
oleh Rudolf Kjellen menjadi Geographical Politic,
disingkat Geopolitik. Alfred Thayer Mahan (1840-
1914) mengembangkan lebih lanjut konsepsi
geopolitik yaitu selain kekuatan darat diperlukan
kekuatan maritim. Berdasarkan hal tersebut muncul
konsep wawasan bahari atau konsep kekuatan di
laut. Barang siapa menguasai lautan akan
menguasai kekayaan dunia.
Paham Geoploitik bangsa Indonesia
terumuskan dalam konsepsi Wawasan Nusantara.
Bagi bangsa Indonesia, geopoliik merupakan
pandangan baru dalam mempertimbangkan faktor-
faktor geografis wilyah negara untuk mencapai
tujuan nasionalnya. Untuk Indonesia, geopolitik
adalah kebijakan dalam rangka mencapai tujuan
nasional dengan memanfaatkan keuntungan letak
geografis negara berdasarkan pengetahuan ilmiah
tentang kondisi geografis tersebut.
Dalam geopolitik terdapat dua aspek yang
tidak bisa dipisahkan, yaitu aspek spasial dan
dimensi politik. Gagasan awal geopolitik adalah
geografi merupakan dari aspek sosial dan sejarah
yang akan selalu berhubungan dengan masalah-
masalah politik dan ideologi. R. Kjellen
mengartikan geopolitik sebagai teori yang melihat
negara sebagai kesatuan politik yang menyeluruh
serta sebagai satuan biologis yang memiliki
intelektualitas. Sedangkan Housofer mengemukan
teori geopolitik sebagai ilmu pengetahuan
mengenai kenegaraan, yang mana geopolitik berisi
pertautan antara dua dimensi, yakni determinan
spasial yang menentukan proses perpolitikan suatu
negara (Cohen, 2003: 11-12).
Dengan teori geopolitik ini dapat Indonesia
dapat memenuhi kepentingan nasional nya dilihat
dari kerjasama keamanan maritim yang dilakukan
dengan Austalia. Wilayah laut Indonesia yang
strategis dan berbatasan langsung dengan Australia
memungkinkan Indonesia untuk mengambl
keuntungan dari kerjasama keamanan maritim
tersebut.

2.2.7 Kepentingan Nasional
Kepentingan nasional sangat penting untuk
menjelaskan dan memahami perilaku internasional.
Konsep kepentingan nasional merupakan dasar
untuk menjelaskan perilaku politik luar negeri
suatu negara. Menurut May Rudi, kepentingan
nasional yaitu :
Kepentingan nasional (national interest)
merupakan tujuan-tujuan yang ingin dicapai
sehubungan dengan hal yang dicita-citakan,
dalam hal ini kepentingan nasional yang
relatif tetap sama diantara semua negara
atau bangsa adalah keamanan (mencakup
kelangsungan hidup rakyatnya dan
kebutuhan wilayahnya) serta kesejahteraan
(prosperity), serta merupakan dasar dalam
merumuskan atau menetapkan kepentingan
nasional bagi setiap negara (2002 : 116).

Kepentingan nasional juga dapat diartikan
sebagai tujuan mendasar serta faktor paling
menentukan yang memandu para pembuat
keputusan dalam merumuskan kebijakan atau
politik luar negeri. Kepentingan nasional
merupakan konsepsi yang sangat umum tetapi
merupakan unsur yang menjadi kebutuhan vital
bagi suatu negara, karena mencakup kelangsungan
hidup bangsa dan negara, kemerdekaan, keutuhan
wilayah, keamanan, militer, kesejateraan dan
ekonomi (Plano & Olton, 1999: 7).
Kepentingan nasional merupakan sebuah
dasar pokok dalam menentukan suatu kebijakan
serta merupakan kriteria dalam upaya menentukan
tindakan dan langkah yang akan diambil oleh suatu
pemerintahan, baik dalam lingkup nasional maupun
internasional.
3. Objek Dan Metodelogi Penelitian
3.1 Objek Penelitian
3.1.1 Gambaran Umum Indonesia
3.1.1.1 Indonesia Sebagai Negara Maritim

Indonesia merupakan negara kepulauan
terbesar didunia yang terdiri dari 17.508 pulau.
Panjang garis pantai Indonesia lebih dari 80.570
km, luas laut teritorial sekitar 285.005 km, luas laut
perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sejumlah
2.692.762 km, luas perairan dalam pedalaman
2.012.392 km, dan luas daratan 2.012.402 km
dengan luas total perairan Indonesia adalah
5.877.879 km. Berdasarkan statistik aset
kewilayahan nasional, luas wilayah perairan
Indonesia mencapai 5,9 juta km
2
dengan rincian
luas kepulauan 2,8 juta km
2
, luas laut territorial 0,4
km
2
, 2,7 km
2
luas wilayah Zona Ekonomi Eksklusif
(ZEE) dan klaim 0,8 juta km
2
luas wilayah Landas
Kontinen Republik Indonesia (LKRI), dengan
jumlah pulau sekitar 17.508 pulau besar dan kecil.
Wilayah laut sebagai bagian integral dari wilayah
kelautan nasional yang ditetapkan melalui
Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa (UNCLOS)
pada tahun 1982 tentang Hukum Laut Internasional
(secara resmi diratifikasi pada tanggal 19
November 1993 setelah disetujui dan
ditandatangani oleh 60 negara anggota PBB
kemudian disahkan secara resmi tanggal 16
November 1994), merupakan wilayah teritorial
Indonesia yang melingkupi seluruh kepulauan
Indonesia sampai jarak 12 mil ke arah luar dari
garis pantai. Disamping itu, wilayah yurisdiksi
nasional yang meliputi Zone Ekonomi Ekslusif
(ZEE) sejauh 200 mil dan klaim atas wilayah
Landas Kontinen Republik Indonesia (LKRI)
sejauh 350 mil diukur dari garis pangkal territorial
(http://www.mgi.esdm.go.id/content/potensi-
sumber-daya mineral-dan-energi-kawasan-pesisir-
dan-laut-dangkal-peluang-investasi-se diakses pada
tanggal 21/02/2014).
3.1.1.1.1 Perbatasan Maritim Indonesia-
Australia
Secara garis besar perjanjian batas maritim
Indonesia-Australia dibagi menjadi menjadi 3 (tiga)
bagian, yaitu :
a. Perjanjian garis batas Landas Kontinen
ditandatangani di Canbera pada tanggal
18 Mei 1971 dan diratifikasi dengan
Kepres No. 42 tahun 1971, terdiri dari
16 titik koordinat di Laut Arafura,
perairan pantai Selatan Papua dan
Perairan Utara pantai Utara Papua.
b. Sebagai tambahan dilakukan perjanjian
perbatasan pada tanggal 9 Oktober
1972 dan diratifikasi dengan Kepres
No. 66 tahun 1972 tanggal 4 Desember
1972, di Selatan Kep. Tanimbar pada
laut Arafura dan Selatan P. Roti dan P.
Timor.
c. Perjanjian Celah Timor pada tanggal 9
September 1989 yang isinya :
1. Wilayah B dimana merupakan
landas kontinen milik Indonesia maka
dalam pembagian hasil pengolahan
Indonesia akan mendapat 80% dan
Australia 20%.
2. Wilayah A wilayah adalah
wilayah overlap maka pembagian hasil
pengolahan sumber daya alam adalah
50% unrtuk Indonesia dan 50% untuk
Australia.
3. Wilayah C dimana merupakan
landas kontinen milik Australia maka
dalam pembagian hasil pengolahan
Australia akan mendapat 80% dan
Indonesia 20%.
Akibat merdekanya Propinsi Timor
Timur menjadi Negara Republik
Democrate Timor Leste (RDTL), maka
perjanjian dan kerjasama antara
Indonesia dengan negara lain seperti
dengan Australia menyangkut wilayah
Timor Timur secara hukum batal dan
tidak berlaku lagi.
Perjanjian perbatasan maritim tanggal 16 Maret
1997 yang meliputi ZEE dan batas landas kontinen
Indonesia-Australia dari perairan selatan P. Jawa,
termasuk perbatasan maritim di Pulau Ashmore dan
Pulau Christmas
(http://www.strahan.kemhan.go.id/web/produk/per
batasan.pdf diakses pada tanggal 10/01/2014).
3.1.1.2 Pemerintahan Indonesia
Indonesia menjalankan pemerintahan
republik presidensial multipartai yang demokratis.
Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya,
sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias
Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan
yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh
sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) yang terdiri dari dua badan yaitu
DPR yang anggota-anggotanya terdiri dari wakil-
wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-
anggotanya mewakili provinsi yang ada di
Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang
dipilih langsung oleh rakyat di daerahnya masing-
masing.
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
adalah lembaga tertinggi negara. Namun setelah
amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi
lagi. Keanggotaan MPR berubah setelah
Amandemen UUD 1945 pada periode 1999-2004.
Seluruh anggota MPR adalah anggota DPR,
ditambah dengan anggota DPD (Dewan Perwakilan
Daerah).[25] Anggota DPR dan DPD dipilih
melalui pemilu dan dilantik dalam masa jabatan
lima tahun. Sejak 2004, MPR adalah sebuah
parlemen bikameral, setelah terciptanya DPD
sebagai kamar kedua. Sebelumnya, anggota MPR
adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan
golongan. Anggota MPR saat terdiri dari 550
anggota DPR dan 128 anggota DPD.

3.1.1.3 Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Tentara Nasional Indonesia lahir dalam
kancah perjuangan bangsa Indonesia
mempertahankan kemerdekaan dari ancaman
Belanda yang berambisi untuk menjajah Indonesia
kembali melalui kekerasan senjata. TNI merupakan
perkembangan organisasi yang berawal dari Badan
Keamanan Rakyat (BKR).
Peran, Fungsi dan Tugas TNI (dulu ABRI)
juga mengalami perubahan sesuai dengan Undang-
Undang Nomor: 34 tahun 2004. TNI berperan
sebagai alat negara di bidang pertahanan yang
dalam menjalankan tugasnya berdasarkan
kebijakan dan keputusan politik negara. TNI
sebagai alat pertahanan negara, berfungsi sebagai:
penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer
dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri
terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, dan
keselamatan bangsa, penindak terhadap setiap
bentuk ancaman sebagaimana dimaksud di atas,
dan pemulih terhadap kondisi keamanan negara
yang terganggu akibat kekacauan keamanan. TNI
terdiri dari TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan
Darat dan TNI Angkatan Udara.

3.1.1.3.1 Kekuatan Pertahanan TNI Angkatan
Laut
Dalam Buku Putih Pertahanan Indonesia
pada tahun 2008 pada poin pembahasan kekuatan
TNI Angkatan Laut Indonesia disebutkan bahwa
kekuatan KRI untuk memenuhi standar kekuatan
pokok minimum adalah 274 kapal yang terdiri dari
berbagai jenis. KRI disusun dalam tiga kelompok
kekuatan, yakni kekuatan Tempur Pemukul,
Kekuatan Tempur Patroli, dan Kekuatan
Dukungan. Kapal Republik Indonesia (KRI)
merupakan kekuatan vital terdepan pertahanan
Indonesia untuk mengawal wilayah maritim NKRI
dengan segala kepentingannya. Prioritas diarahkan
untuk pengadaan Kapal Patroli cepat hingga
mencapai keseimbangan kekuatan di tiap wilayah.
Pengadaan kapal selam secara bertahap
mewujudkan kekuatan pokok minimum, khususnya
dalam mengamankan jalur-jalur pelintasan (ALKI)
(http://
www.dephan.go.id/kemhan/files/04f92fd80ee3d01
c8e5c5dc3f56b34e3.pdf diakses pada tanggal
21/01/2014).
Kekuatan Tempur Pemukul diproyeksikan
untuk mencapai kekuatan pokok minimum dengan
susunan Kapal Perusak Kawal, Kapal Perusak
Kawal Rudal, Kapal Selam, Kapal Cepat Rudal,
Kapal Cepat Torpedo, dan Kapal Buru Ranjau.
Kekuatan Tempur Patroli diproyeksikan untuk
mewujudkan kemampuan satuan-satuan
operasional TNI AL dalam menyelenggarakan
patroli dan pengamanan wilayah perairan
Nusantara dengan Kapal Patroli dari berbagai jenis.

3.1.2 Gambaran Umum Australia
Australia terletak di belahan bumi bagian
selatan antara Samudera Pasifik dan Samudera
Hindia. Benua Australia membentang dari garis
lintang 10
o
41'LS sampai garis lintang 43
o
39'LS
dan dari garis bujur 113
o
09'BT sampai 153
o
39'BT.
Benua Asia terletak di sebelah utara Australia, dan
di sebelah selatan terletak Samudera Selatan, dan
semakin ke selatan lagi terletak Benua Antartika.
Australia saling berbagi lautan dengan tetangga-
tetangganya yang terdekat, yakni Indonesia dan
Papua Nugini. Australia terletak di sebelah
tenggara Indonesia. Pada titik batasnya yang
terdekat, Australia dan Indonesia hanya terpisah
beberapa kilometer.
3.1.2.1 Pemerintahan Australia
Sistem pemerintahan Australia dibangun
diatas tradisi demokrasi liberal. Berdasarkan nilai-
nilai toleransi beragama, kebebasan berbicara dan
berserikat, dan supremasi hukum, lembaga-
lembaga Australia dan praktik-praktik
pemerintahannya mencerminkan model Inggris dan
Amerika Utara. Pada saat yang sama, mereka khas
Australia.
Salah satu demokrasi yang tertua dan lestari
di dunia, Persemakmuran Australia didirikan pada
1901 ketika bekas koloni Inggris ini kini enam
negara bagian sepakat untuk menjadi federasi.
Praktik dan prinsip demokrasi yang membentuk
parlemen kolonial pra-federasi (seperti satu orang,
satu suara dan hak pilih wanita) diberlakukan oleh
pemerintah federal Australia yang pertama. Koloni
Australia mewarisi tradisi pemilu dari Inggris yang
mencakup hak pilih terbatas dan pemungutan suara
umum dan ganda. Pelanggaran seperti suap dan
intimidasi pemilih mendorong perubahan pemilihan
umum. Australia mempelopori reformasi yang
menopang praktik pemilu demokrasi modern.
Pemerintah Australia didasarkan pada
parlemen yang dipilih secara populer dengan dua
majelis: Dewan Perwakilan dan Senat. Para menteri
yang diangkat dari kedua majelis ini menjalankan
fungsi eksekutif, dan keputusan kebijakan dibuat
dalam rapat-rapat Kabinet. Selain pengumuman
keputusan, diskusi Kabinet tidak disebarluaskan.
Para menteri terikat oleh prinsip solidaritas
Kabinet, yang sangat mencerminkan model Inggris
yakni Kabinet bertanggungjawab kepada
parlemen. Walaupun Australia adalah bangsa yang
merdeka, Ratu Elizabeth II dari Inggris secara
resmi juga merupakan Ratu Australia. Ratu
menunjuk Gubernur Jenderal (atas saran dari
Pemerintah Australia terpilih) untuk mewakilinya.
Gubernur Jenderal memiliki kekuasaan yang luas,
tetapi berdasarkan konvensi hanya bertindak atas
saran para menteri dalam hampir semua urusan.
Seperti Amerika Serikat namun berbeda dengan
Inggris, Australia memiliki undangundang dasar
tertulis. UUD Australia merumuskan tanggung
jawab pemerintah federal, yang mencakup
hubungan luar negeri, perdagangan, pertahanan dan
imigrasi. Pemerintah negara bagian dan teritori
bertanggungjawab atas semua urusan yang tidak
dilimpahkan kepada Persemakmuran, dan mereka
juga mematuhi prinsip pemerintah yang
bertanggungjawab. Di negara bagian, Ratu diwakili
oleh seorang Gubernur untuk setiap negara
bagian. Pengadilan Tinggi Australia menangani
sengketa antara Persemakmuran dan negara bagian.
3.1.2.2 Australian Defence Force (ADF)
Ausralian Defence Force didirikan dibawah
Undang-undang Pertahanan 1903, tujuannya adalah
untuk melindungi Australia dan kepentingan
nasionalnya. Untuk menjalankan tujuan ini ADF
mengabdi kepada pemerintah dan bertangungjawab
langsung kepada parlemen Australia, yang mana
mewakili secara langsung rakyatnya untuk secara
efesien dan efektif menjalankan kebijakan
pertahanan. Fokus utama dalam hal pertahanan
adalah untuk melindungi dan menjalankan
kepentingan nasional Australia dengan
menyediakan kekuatan militer dan menunjang
kekuatan tersebut pada militer Australia dan
kepentingan nasionalnya. Untuk mencapai hal ini,
militer Australia menyiapkan dan melaksanakan
operasi militer dan tugas lainnya yang
diperintahkan oleh Pemerintah Australia
(http:defence.gov.au/ips /aboutus .htm. diakses
pada tanggal 05/03/2014).
ADF merupakan organisasi militer yang
bertanggung jawab dalam melindungi Australia.
ADF terdiri dari Royal Australian Navy, The
Australian Army dan The Royal Australia Air
Force. Dalam dekade pertama pada abad-20,
Pemerintah Australia telah mementuk secara
terpisah tiga instasi militer, setiap instansi memiliki
rantai komando yang independen. Pada tahun 1976,
Pemerintah Australia membuat perubahan strategi
dan membentuk ADF untuk menjalankan tugasnya
dibawah satu markas besar.
3.1.2.2.1 Kekuatan Royal Australian Navy (RAN)
RAN berperan dalam menyediakan
kekuatan maritim yang berkontribusi bagi ADF
untuk melindungi Australia, kemanan kawasan,
kepentingan global dan membentuk lingungan yang
strategis dan melindungi kepentingan nasional. hal
ini dicapai dengan mengadakan patroli maritim dan
respon cepat perairan, melindungi kapal-kapal di
daerah teritorial, menyediakan intelegen maritim,
pengawasan martim, search and rescue maritim.
Dalam Buku Putih Pertahanan Australia
tahun 2009 yang berjudul Defending Australia In
The Asia Pacific Century: Force 2030, Pemerintah
Australia telah memutuskan untuk menyediakan 12
kapal selam baru, yang akan dirakit di Australia
Selatan. Ini akan menjadi desain utama dan
program pembangunan mencakup tiga dekade, dan
akan menjadi proyek pertahanan tunggal yang
pernah ada dan terbesar di Australia. Kapal selam
yang baru ini dimasa mendatang akan memiliki
rentang yang lebih besar, daya tahan lebih lama
dalam melakukan patroli, dan kemampuan yang
diperluas dibandingkan dengan kapal selam saat
ini, yaitu kelas Collins. Kapal selam ini juga akan
dilengkapi dengan komunikasi yang sangat aman
dan dapat membawa muatan misi yang berbeda
seperti kendaraan bawah air tak berawak.
Adapun kemampuan peperangan udara masih
terkait dengan program SEA 4000/Air Warfare
Destroyer (AWD) kelas Hobart. Tiga kapal perusak
pertama yang telah dipesan oleh pemerintah
Australia akan dilengkapi dengan rudal anti
pesawat jarak jauh Standard Missile 6 (SM-6),
selain Aegis Combat System. Sistem
sensor Cooperative Engagement Capability (CEC)
yang akan terpasang pula di kapal itu, sehingga
nantinya interoperable dengan sensor serupa pada
pesawat udara AEW&C yang tengah dipesan
oleh Royal Australian Air Force. Selain pengadaan
heli anti kapal selam, pembangunan kekuatan
maritim ditunjang pula oleh pembelian enam heli
MRH-90 guna menggantikan heli Sea
King milik Royal Australian Navy, sementara tujuh
heli sejenis akan dioperasikan bersama Australian
Army. Fungsi asasi heli ini adalah untuk
kepentingan angkutan dan diharapkan pada 2010
sudah berdinas. Sebenarnya akuisisi heli MRH-90
merupakan program lanjutan dari pemerintahan
Perdana Menteri John Howard. Untuk kepentingan
patroli, survei hidrografi dan oseanografi, lawan
peranjauan, direncanakan kekuatan laut
Australia akan menerima 20 Offshore Combatant
Vessel serbaguna (http://www.
fkpmaritim.org/analisis-terhadap-defending-
australia-in-the-asia-pacificcentury-force -2030/
diakses pada tanggal 25/02/2014)
3.1.3 Perjanjian Lombok
3.1.3.1 Sejarah Kerjasama Pertahanan
Keamanan Indonesia-Australia
Hubungan bilateral antara Indonesia dan
Australia dalam bidang pertahanan sudah
berlangsung sejak awal tahun 1970. Kerjasama ini
pada awalnya lebih banyak dilakukan dalam bidang
bantuan alat utama sistem pertahanan negara
(alutsista) dan pelatihan teknis terkait alutsista yang
diperuntukan bagi pihak Indonesia. Perlahan
kerjasama pertahan kedua negara ini makin
meningkat, terutama pada bidang pelatihan dan
pendidikan yang sebagian besar diikuti oleh
personel TNI. dan pada tahun 1990 hubungan
kerjasama pertahan kedua negara makin menguat
seiiring dibahasnya isu-isu ancaman senjata
pemusnah massal, keamanan maritin serta
penyelundupan.
Diawal tahun 1994 pejabat kedua negara
melakukan negosiasi untuk membuat rencana
kerjasama pertahanan lebih lanjut. Karena prinsip
politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif,
menolak terlibat aliansi militer dengan negara
manapun, maka dibuatlah kesepakatan kerjasama
pertahanan yang disebut Aggrement on
Maintaining Secuity (AMS). Pada tanggal 14
Desember 1995, perjanjian ini disahkan oleh kedua
negara. Perjanjian ini berisi prinsip dasar
kerjasaman keamanan kedua negara yang menjadi
landasan kerjasama pertahanan lebih lanjut (Taylor,
2007: 103).
3.1.3.2 Kerjasama Keamanan Maritim
Indonesia-Australia
Kerjasama pertahanan antara Indonesia
dengan Australia sudah di mulai sejak lama.
Namun karena memanasnya situasi politik antara
kedua negara menyebabkan kerjasama pertahanan
ini sedikit terabaikan. Pertemuan tingkat menteri
pertahanan dan departemen pertahanan yang tiap
tahun diadakan untuk membahas lebih lanjut
kerangka kerjasama yang akan dilakukan oleh
kedua negara. Dalam pembahasan tahunan ini,
dibahas juga kerangka kerjasama keamanan
maritim.
Kerjasama keamanan maritim menjadi
bahasan dalam setiap pertemuan karena kedua
negara saling berbatasan langsung, yang dipisahkan
oleh batas laut. Karenanya diperlukan kerangka
kerjasama dalam mengatur kerjasama keamanan
maritim antara dua negara. Selain itu untuk
menghalau nelayan asing yang mencari ikan di
wialayah perairan perbatasan kedua negara serta
menghadapi kejahatan terorganisir tentang
penyeludupan manusia dan tentunya para pencari
suaka yang melintasi wilayah perairan indonesia
menuju perairan Australia.
Kerjasama keamanan maritim yang
dijalankan oleh Indonesia-Australia meliputi patroli
gabungan di wilayah perairan perbatasan kedua
negara, studi banding angkatan laut Indonesia di
Australia, Join (Save and Recue) SAR Operation
Basarnas dan AMSA.
Kerjasama keamanan maritim antara
Indonesia dan Australia yang merupakan salah satu
poin kerjasama dari forum dialog IADSD, yang
merupakan forum pertemuan untuk meningkatkan
kerjasama pertahanan kedua negara yang diadakan
tiap tahun dari tahun 2001 sampai sekarang yang
membahas mekanisme kerjasama pertahan antara
dua lembaga pertahanan masing-masing negara.
Setelah tercetusnya Perjanjian Lombok,
forum dialog IADSD menjadi tempat dimana
dibahasnya mekanisme rencana aksi dan
kerjasama-kerjasama yang akan terus dilakukan
untuk terwujudnya poin-poin dalam Perjanjian
Lombok.
3.1.3.3 Isi Perjanjian Lombok
Sejak tahun 2003 telah terbentuk
pembicaraan mengenai pentingnya peningkatan
hubungan kerjasama pertahanan antara Indonesia
dan Australia. Situasi politik dan kondisi keamaan
regional menjadi pertimbangan masing-masing
negara untuk menentukan arah kerjasama
pertahanan ini. Pada tahun 2004 Australia
menginginkan peningkatan kerjasama ini untuk
dapat segera dilakukan, namun Indonesia masih
harus menunggu situasi politik dalam negeri
terlebih dahulu. Keputusanini dapat dibuat setelah
presiden RI yang baru telah terpilih dan
dibentuknya kabinet yang baru.
Pada Juli 2005, Menlu Australia Alexander
Downer menulis surat pada Menlu Indonesia
Hassan Wirajuda yang berisi pernyataan bahwa
perjanjian keamanan bilateral Indonesia-Australia
telah menjadi prioritas bagi pemerintah Australia.
Hal ini dalam pandangan Australia untuk mengatasi
ancaman terorisme dan ancaman lainnya.
Setelah melakukan berbagai perundingan
secara formal dan pembicaraan tentang payung
hukum dan realisasi perjanjian keamanan
Indonesia-Australia yang dilaksanakan pada bulan
Agustus 2006 di Jakarta dan September 2006 di
Canberra, dan diakhiri dengan pertemuan tingkat
Menteri Luar Negeri di New York di sela Sidang
Majelis Umum-PBB ke-68 yang membahas dan
menyepakati naskah final Agreement between The
Government of The Republic Indonesia and The
Government of Australia on the Framework for
Security Cooperation.
Hubungan antara Indonesia dan Australia
memiliki sejarah yang cukup panjang sejak zaman
perjuangan kemerdekaan Indonesia. Australia
merupakan salah satu dari sejumlah negara di dunia
yang pertama mengakui hak Indonesia untuk
merdeka. Dalam perkembangannya, hubungan
bilateral antara Indonesia dan Australia mengalami
pasang surut. Hal tersebut terjadi karena berbagai
perbedaan yang ada di antara kedua negara, antara
lain, perbedaan yang terkait dengan sistem politik,
kondisi sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Namun,
fakta geografis yang menunjukkan bahwa kedua
negara merupakan negara bertetangga menjadi faktor
yang mendorong perlunya kedua negara untuk
berinteraksi secara kondusif guna menjaga stabilitas
kawasan.

3.2 Metode Penelitian
3.2.1 Desain Penelitian
Desain penelitian yang peneliti pakai menggunakan
pendekatan penelitian kualitatif. Desain penelitian
kualitatif pada umumnya menggunakan metode
penelitian deskriptif. Bogdan dan Taylor (Moleong,
2007: 3) mengemukakan bahwa metodologi
kualitatif merupakan prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku
yang diamati.

3.2.2 Teknik Pengumpulan Data
3.2.2.1 Studi Pustaka
Teknik pengumpulan data yang dilakukan
dalam penelitian ini akan dilakukan melalui studi
kepustakaan (library research). Teknik ini
mengasumsikan bahwa setiap kumpulan informasi
tertulis dapat digunakan sebagai indikator sikap,
nilai, dan maksud politik dengan cara menelaah
secara sistematis menurut kriteria penafsiran kata
dan pesan tertentu.

3.2.3 Teknik Analisa Data
Teknik analisa yang dipergunakan peneliti
adalah data display (penyajian data), dimana
susunan informasi yang memungkinkan dapat
ditariknya suatu kesimpulan, sehingga
memudahkan untuk memahami apa yang terjadi
(Tim Penyusun, 2011: 23). Neuman menjelaskan
dalam penelitian kualitatif menginterpretasikan
data dengan cara mengartikan, menerjemahkan dan
membuat data tersebut menjadi lebih mudah untuk
dipahami melalui sudut pandang peneliti.

3.2.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.4.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi pada
sumber data yang cukup memadai, antara lain:
1. Kedutaan Besar Australia, Jl. H.R.
Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
2. Perpustakaan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jl.
Gatot Subroto, Jakarta.
3. Perpustakaan Universitas Komputer
Indonesia, Jl. Dipati Ukur 116,
Bandung.
4. Perpustakaan Universitas Padjajara, Jl.
Raya Jatinangor, Sumedang.
5. Perpustakaan Universitas Pasundan, Jl.
Lengkong Besar, Bandung.
6. Perpustakaan Universitas Parahyangan,
Jl. Ciumbuleuit, Bandung.
7. Kementrian Pertahanan Republik
Indonesia, Jl. Merdeka Barat 13-14,
Jakarta.


3.2.4.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini berlangsung sejak bulan Desember
2012 sampai dengan Februari 2014, yang dapat
dirinci sebagai berikut:

Tabel 3.2
Waktu Penelitian
No
.
Keterangan
Waktu Penelitian
201
2
2013 2014
Des Jan
-
Ju
n
Jul
-
De
s
Ja
n
Fe
b
1. Pengajuan
Judul


2. Usulan
Penelitian


3. Bimbingan
Skripsi

4. Pengumpula
n Data

5. Sidang
Skripsi



3.2.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini diuraikan masalah yang
melatarbelakangi diajukannya penelitian ini. Uraian
dimulai dari latar belakang penelitian, rumusan
masalah, pembatasan masalah, dan tujuan serta
kegunaan penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN
KERANGKA PEMIKIRAN
Pada bab ini peneliti menjelaskan teori-teori yang
relevan dengan subjek yang diteliti, seperti
hubungan internasional, kerjasama internasional,
perjanjian internasional, kepentingan nasional,
kebijakan imigrasi dan teori gepolitik. Pada bab ini
pula dijelaskan tentang kerangka pemikiran yang
diambil. Bab ini berisi uraian tentang data sekunder
yang diperoleh dari jurnal-jurnal ilmiah atau hasil
penelitian yang dapat dijadikan asumsi yang
memungkinkan penalaran untuk menjawab masalah
yang diajukan.
BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE
PENELITIAN
Dalam bab ini peneliti menjelaskan gambaran
umum Indonesia sebagai negara maritim, tentang
Perjanjian Lombok, hubungan kerjasama
Indonesia-Australia serta kerjasama keamanan
maritim antara Indonesia dan Australian dalam
kerangka Perjanjian Lombok.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Dalam bab ini peneliti menjelaskan tentang
pembahasan dari hasil penelitian yang merupakan
jawaban dari identifikasi masalah serta
menganalisis kerjasama keamanan maritim
Indonesia-Australia dalam kerangka Perjanjian
Lombok untuk menangani acaman-ancaman yang
ada di perbatasan perairan kedua negara .
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan merupakan intisari hasil analisis dan
interpretasi, cara penulisan/pembahasan
dirumuskan dalam bentuk pernyataan secara tertata
dan padat, sehingga tidak menimbulkan penafsiran
lain. Informasi yang disampaikan dalam
kesimpulan ini bisa berupa pendapat baru, koreksi
atas pendapat lama, pengukuhan pendapat lama
atau mengganti pendapat lama. Saran merupakan
kelanjutan dari kesimpulan, sering berupa anjuran
yang dapat menyangkut aspek operasional maupun
konseptual.

4. Hasil Penelitian
4.1 Faktor Yang Menjadi Latar Belakang
Pemerintah Indonesia Melakukan Kerjasama
Keamanan Maritim Dengan Pemerintah
Australia
Hubungan bilateral Indonesia dan Australia
dalam bidang pertahanan dan keamanan telah
terjalin sejak awal tahun 1970an. Sejak dahulu,
dinamika hubungan kedua negara mengalami
pasang surut. Berbagai permasalahan seperti isu
Timor Timur dimana Australia dinilai Indonesia
terlalu mencampuri urusan politik dalam negeri
negara kepulauan tersebut, hingga isu terorisme
pasca meledaknya Bom Bali 1 memberikan
implikasi yang buruk pada pola hubungan kedua
negara itu. Namun tidak dapat terlepaskan fakta
bahwa kedua negara bertetangga tersebut saling
memerlukan satu sama lain untuk bekerjasama
mengatasi ancaman yang ada di wilayah perairan
perbatasannya.
Terdapat dua alasan yang menjadi latar belakang
pemerintah Indonesia ingin menjalin kerjasama
keamanan maritim dengan pemerintah Australia.
Alasan pertama Indonesia melakukan kerjasama
dengan Australia adalah untuk menanggulangi
ancaman-ancaman yang terdapat di perairan
Indonesia terutama yang berbatasan langsung
dengan wilayah Australia. Perlunya pengakuan
kedaulatan yang dimasukkan kedalam suatu
dokumen perjanjian agar Australia lebih
menghormati dan menghargai serta tidak
mencampuri kedaulatan dan urusan politik dalam
negeri Indonesia menjadi alasan kedua Indonesia
menjalankan kerjasama keamanan martim dengan
Australia.

4.2 Program Yang Dilakukan Pemerintah
Indonesia-Australia Dalam Menjalankan
Kerjasama Keamanan Maritim Dalam
Kerangka Perjanjian Lombok
Program-program yang dilakukan oleh
Pemerintah Indonesia dan Australia dalam
kerjasama keamanan maritim ini mengacu pada dua
poin kerjasama keamanan maritim yang ada pada
isi Perjanjian Lombok. dalam isi perjanjian ini
disebutkan bahwa kerjasama bilateraluntuk
meningkatkan keselamatan maritim dan untuk
meneapkan langkah-langkah keamanan maritim,
secara konsisten denan hukum internasional. Selain
itu untuk meningkatkan kegiatan kerjasama
pertahanan dan kerjasama lainnya yang telah ada
dan pembangunan kapasitas dalam bidan keamanan
udara dan maritim sesuai dengan hukum
internasinal.
Maka dari itu dengan melihat ruang lingkup
kerjasama keamanan maritim yang tertuang dalam
isi Perjanjian Lombok, program-program yang
dilakukan dalam menjalankan kerjasama keamanan
maritim antara Pemerintah Indonesia dan Australia
meliputi latihan bersama, join rescue antara
Basarnas dan AMSA dan patroli bersama.

4.3 Kendala Yang Dihadapi Pemerintah
Indonesia-Australia Dalam Menjalankan
Kerjasama Keamanan Maritim Dalam
Kerangka Perjanjian Lombok
4.3.1 Kendala Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam kerjasama yang dilakukan oleh dua negara
ini, hal yang dibutuhkan adalah SDM pertahanan
yang memadai. Bukan hanya sekedar peralatan
teknologi yang canggih, tanpa ada sumber daya
yang mampu mengoperasikan peralatan tersebut.
Terlebih lagi dibutuhkan komunikasi antar personel
lembaga dua negara tersebut untuk kelancaran dan
menghindari konflik serta kesalahpahaman dalam
pelaksanaan program kerjasama keamanan
maritim.

4.3.2 Keterbatasan Alat Utama Sistem
Pertahanan Negara (Alutsista) Indonesia
Dengan keterbatasan alutsista, penggelaran
kekuatan di laut sebagian dititikberatkan pada
daerah rawan, seperti Selat Malaka, Laut Sulawesi
(termasuk Blok Ambalat), Alur Laut Kepulauan
Indonesia (ALKI), Laut Natuna, Laut Timor, Laut
Arafuru dan wilayah perbatasan lainnya. Wilayah-
wilayah perairan itu mendapat perhatian khusus
karena kerawanannya, baik adanya sengketa batas
maritim, pembajakan dan perompakan di laut
(piracy and armed robbery), pencurian sumber
daya alam dan lain sebagainya. Keterbatasan ini
dipengaruhi pula oleh anggaran pertahanan yang
dialokasikan untuk Angkatan laut. Sebagian besar
dari dana ini digunakan untuk pemeliharaan 145
kapal perang dan patroli serta operasi laut.
4.4 Keuntungan Yang Diperoleh Pemerintah
Indonesia Dari Kerjasama Keamanan Maritim
Dalam Kerangka Perjanjian Lombok
Mengingat bahwa perjanjian kerjasama
keamanan Indonesia-Australia telah ditandatangani
dan mengikat kedua belah pihak, sudah sewajarnya
semua pihak keamanan di Indonesia
mempersiapkan diri dengan sejumlah bentuk
kerjasama keamanan. Termasuk di dalamnya
kerjasama keamanan maritim, yang dirancang
untuk mengamankan kepentingan nasional di laut,
termasuk menghadapi kemungkinan ancaman-
ancaman yang ada. Kepentingan nasional Indonesia
yang vital dan permanen adalah tetap tegak dan
utuhnya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945. Dalam mewujudkan kepentingan
nasional tersebut, pertahanan negara Indonesia
diselenggarakan untuk menangkal dan mencegah
segala bentuk ancaman dan gangguan, baik yang
bersumber dari luar maupun dari dalam negeri.
Tujuan utama yang diperoleh dari kerjasama ini
untuk Australia adalah dalam rangka mencegah
masuknya illegal migrant ke negara tersebut
sedangkan kepentingan nasional Indonesia antara
lain mencegah illegal fishing dan illegal activity
termasuk kemungkinan pelarian simpatisan OPM
dalam rangka mencari suaka politik atau dukungan
simpati internasional melalui selat Torres dari
Papua ke Australia.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan peelitian yang telah dilakukan
serta apa yang telah dipaparkan pada bab
sebelumnya. Maka peneliti dapat mengambil
kesimpulan dari Kerjasama Keamanan Maritim
Indonesia-Australia Dalam Kerangka perjanjian
Lombok.
1. Letak geografis merupakan salah satu
faktor utama yang menentukan masa
depan dari suatu negara dalam
melakukan hubungan internasional.
Kondisi geografis suatu negara akan
menentukan peristiwa-peristiwa yang
memiliki pengaruh secara global.
Indonesia dikenal sebagai negara
kepulauan yang memiliki geografi
yang terbuka, hal ini akan berdampak
pada bentuk ancaman keamanan.
2. Kerjasama keamanan yang dilakukan
oleh Indonesia dan Australia telah
berlangsung cukup lama dan telah
mengalami pasang surut terkait
hubungan politik kedua negara.
Khususnya dalam kerjasama keamanan
maritim, dimana tiap kerjasama
keamanan pertahanan yang terjalin
merupakan interoperabilitas, artinya
kerjasama keamanan maritim yang
dijalankan merupakan kapasitas dari
suatu sistem yang dapat berinteraksi
dengan sistem lainnya melalui
kesepakatan bersama.
3. Terlepas dari situasi politik kedua
negara yang dinamis, baik Pemerintah
Indonesia maupun Pemerintah
Australia berjuang untuk terwujudnya
kepentingan nasional masing-masing
negara dalam menjaga keamanan
wilayahnya masing-masing. Dengan
adanya ancaman-ancaman yang terjadi
di wilayah laut perbatasan kedua
negara yang secara langsung
mengancam keamanan Indonesia dan
Australia, maka kedua negara
diharapkan tetap menjalin hubungan
kerjasama yang saling menguntungkan
bagi kedua negara.
4. Kerjasama yang telah ada dan yang
telah dilaksanakan dalam upaya
menjaga keamanan wilayah laut di
perbatasan kedua negara mencakup
latihan bersama oleh TNI Angkatan
Laut dan RAN Australia, latihan
patroli bersama kedua angkatan laut
masing-masing negara, Join Rescue
SAR dan AMSA, serta pemberiaan
dana bantuan oleh Australia untuk
Indonesia pada program keselamatan
penerbangan dan maritim digunakan
untuk pemasangan Global Maritime
Distress and Safety System (GMDSS).
5. Kerjasama ini dapat dikatakan cukup
berhasil, hal ini dapat terlihat dari
peningkatan jumlah imigran gelap
yang berhasil ditangani oleh
pemerintah Indonesia. Dalam hal
hubungan antara Indonesia-Australia
menjadi lebih baik dan solid.
6. Dalam pelaksanaan kerjasama ini masi
banyak hambatan dan keterbatasan
yang dialami oleh kedua negara agar
tercapai hasil yang diharapkan dalam
peenuhan kepentingan nasional kedua
negara. Diantara kendala tersebut
berasal dari kendala kultural yang
berasal dari pemerintah Indonesia dan
Australia, yang berupa kendala dalam
hal komunikasi dan perbedaan budaya
serta kendala teknis dari pemerintah
Indonesia terkait kurangnya anggaran
pemerintah untuk Departemen
Pertahanan untuk peremajaan,
pengadaan dan perawatan alutsista.

5.2 Saran
5.2.1 Saran Untuk Pemerintah Indonesia
Agar kerjasama keamanan maritim kedua
negara dapat berjalan secara lancar, stabilitas
hubungan politik kedua negara harus dapat
dijalankan dan dipertahankan sebaik mungkin. Hal
ini dapat dilakukan dengan mengesampingkan
perilaku-perilaku politik yang dapat merugikan
kerjasama keamanan maritim yang telah
dilaksanakan.
Pemerintah Indonesia juga harus lebih
memperhatikan anggaran yang disalurkan bagi
Departemen Pertahanan, karena keamanan
merupakan hal yang utama bagi suatu negara agar
terhndar dari segala bentuk ancaman yang
mengancam kepentingan nasional Indonesia. Selain
itu diharapkan pemerintah Indonesia dapat lebih
memberikan perhatian kepada sektor pertahanan
melalui peremajaan dan perawatan serta
penambahan alutsista yang menunjang sistem
pertahanan Indonesia. Masih kurangnya alutsista
yang dimiliki Indonesia menjadi hambatan bagi
TNI Angkatan Laut untuk mengamankan wilayah
laut NKRI.
Saran lain untuk Pemerintah Indonesia
adalah penguatan SDM di bidang pertahanan agar
mampu bersaing dengan negara lain serta berguna
untuk penunjang alutsista dalam hal pengoperasian
teknologi, agar pengamanan di wilayah laut dapat
berjalan dengan sempurna tanpa ada hambatan.

5.2.2 Saran Untuk penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan akan
menambah khazanah keilmuan, memperluas
pemahaman, menambah wawasan, dan memberikan
masukan dalam hal kerjasama keamanan maritim.
Hasil Pengetahuan ini juga dapat dijadikan referensi
umumnya bagi mahasiswa yang melakukan
penelitian berkaitan dengan penelitian ini khususnya
bagi mahasiswa program studi Ilmu Hubungan
Internasional dan dapat digunakan sebagai pedoman
pustaka lebih lanjut.
Peneliti secara sadar sangat menyadari
kekurangan penelitian yang telah disusun, dari awal
penulisan skripsi hingga peneliti mendapatkan hasil
dari apa yang telah diteliti. Peneliti menyarankan
apabila dilakukan penelitian lanjutan sebaiknya
diberikan tambahan informasi atau data yang lebih
banyak, penelitian sebaiknya melengkapinya
dengan metode wawancara, menggunakan jumlah
sampel penelitian yang lebih banyak dan lokasi
pekerjaan yang lebih luas sehingga responden yang
didapat pun dapat lebih bervariasi.
Acuan Buku
Agusman, Damos Dumoli. 2010. Hukum Perjanjian
Internasional: Kajian Teori Dan
Praktik Indonesia. Bandung. PT.
Refika Aditama
Amri, Ahmad Almaududy. 2012. Foreign Affairs
and Defence Ministers Meeting
Indonesia-Australia: Upaya dalam
Meningkatkan Hubungan Bilateral di
Bidang Keamanan. Depok.
Mauna, Boer. 2005. Hukum Internasional
Pengertian Peranan Dan Fungsi
Dalam Era Dinamika Global.
Bandung: PT. ALUMNI
Muhaimin, Yahya A. 2008. Bambu runcing &
mesiu : Masalah Kebijakan
Pembinaan Pertahanan Indonesia.
Yogyakarta: Tiara Wacana
Perwita, A.A. Banyu dan Yanyan Mochamad Yani.
2005. Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Rudy, T. May. 2006. Hukum Internasional 1.
Bandung: PT. Refika Aditama.
________. 2009. Pengantar Ilmu Politik. Bandung:
PT. Refika Aditama

Sugiono, Muhadi. 2006. Global Governance
Sebagai Agenda Penelitian Dalam
Studi Hubungan Internasional.
Jakarta
Taylor, Brendan. 2007. Australia As An Asia-
Pasific Regional Power: Friendship
In Flux?. Routledge
http://www.mgi.esdm.go.id/content/potensi-
sumber-daya mineral-dan-energi-
kawasan-pesisir-dan-laut-dangkal-
peluang-investasi-se diakses pada
tanggal 21/02/2014