Anda di halaman 1dari 4

Sindaktili merupakan kelainan jari berupa pelekatan dua jari atau lebih sehingga

telapak tangan menjadi berbentuk seperti kaki bebek atau angsa (webbed fingers).
Sindaktili merupakan kelainan bawaan yang paling sering ditemukan pada jari-jari
tangan, jari-jari tidak terpisah, dan bersatu dengan yang lain. Dapat terjadi
hubungan satu, dua, atau lebih jari-jari. Hubungan jari-jari dapat terjadi hanya pada
kulit dan jaringan lunak saja, tetapi dapat pula terjadi hubungan tulang dengan
tulang. (Muttaqin, 2008)
Dalam keadaan normal, ada sejumlah gen yang membawa perintah kepada
deretan sel di antara dua jari untuk mati, sehingga kedua jari tersebut menjadi
terpisah sempurna. Pada kelainan ini, gen tersebut mengalami gangguan.
Akibatnya, jari-jari tetap menyatu dan tidak terpisah menjadi lima jari.
(http://meilankiky.blogspot.com/2011/5/kelainan-jari . html)
Jari yang sering mengalami pelekatan adalah jari telunjuk dengan jari tengah, jari
tengah dengan jari manis, atau ketiganya. Sindaktili terjadi pada 1 dari 2.500
kelahiran.
2.

Etiologi

Kebanyakan akibat kelainan genetika atau keadaan di dalam rahim yang


menyebabkan posisi janin tidak normal, cairan amnion pecah, atau obat-obatan
tertentu yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan. Apabila penyebabnya akibat
kelainan genetika, maka tidak dapat dilakukan pencegahan. Kemungkinannya dapat
diperkecil bila penyebabnya adalah obat-obatan yang dikonsumsi ibu selama hamil.
Penyebab langsung sindaktili sering kali sukar diketahui. Pertumbuhan embrional
dan fetal dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor genetik, faktor lingkungan
atau kedua faktor secara bersamaan. Beberapa faktor etiologi yang diduga dapat
mempengaruhi terjadinya sindaktili antara lain :
a.

Kelainan Genetik dan Kromosom

Kelainan genetik pada ayah atau ibu kemungkinan besar akan berpengaruh atas
sindaktili pada anaknya. Di antara kelainan-kelainan ini ada yang mengikuti hukum
Mendel biasa, tetapi dapat pula diwarisi oleh bayi yang bersangkutan sebagai unsur
dominan ("dominant traits") atau kadang-kadang sebagai unsur resesif.
Penyelidikan daIam hal ini sering sukar, tetapi adanya kelainan kongenital yang
sama dalam satu keturunan dapat membantu langkah-langkah selanjutnya.
Dengan adanya kemajuan dalam bidang teknologi kedokteran , maka telah dapat
diperiksa kemungkinan adanya kelainan kromosom selama kehidupan fetal serta
telah dapat dipertimbangkan tindakan-tindakan selanjutnya.
b.

Faktor Mekanik

Tekanan mekanik pada janin selama kehidupan intrauterin dapat menyebabkan


kelainan bentuk organ tubuh hingga menimbulkan deformitas organ tersebut. Faktor
predisposisi dalam pertumbuhan organ itu sendiri akan mempermudah terjadinya
deformitas suatu organ.
c.

Faktor Obat

Beberapa jenis obat tertentu yang diminum wanita hamil pada trimester pertama
kehamilan diduga sangat erat hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital
pada bayinya. Salah satu jenis obat yang telah diketahui dapat menimbulkan
kelainan kongenital ialah thalidomide yang dapat mengakibatkan terjadinya
fokomelia atau mikromelia. Beberapa jenis jamu-jamuan yang diminum wanita
hamil muda dengan tujuan yang kurang baik diduga erat pula hubungannya dengan
terjadinya kelainan kongenital, walaupun hal ini secara laboratorik belum banyak
diketahui secara pasti. Sebaiknya selama kehamilan, khususnya trimester pertama,
dihindari pemakaian obat-obatan yang tidak perlu sama sekali, walaupun hal ini
kadang-kadang sukar dihindari karena calon ibu memang terpaksa harus minum
obat. Hal ini misalnya pada pemakaian trankuilaiser untuk penyakit tertentu,
pemakaian sitostatik atau prepaat hormon yang tidak dapat dihindarkan ; keadaan
ini perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya sebelum kehamilan dan akibatnya
terhadap bayi.
d.

Faktor Radiasi

Radiasi ada permulaan kehamiIan mungkin sekali akan dapat menimbulkan kelainan
kongenital pada janin. Adanya riwayat radiasi yang cukup besar pada orang tua
dikhawatirkan akan dapat mengakibatkan mutasi pada gen yang mungkin sekali
dapat menyebabkan kelainan kongenital pada bayi yang dilahirkannya. Radiasi
untuk keperluan diagnostik atau terapeutis sebaiknya dihindarkan dalam masa
kehamilan, khususnya pada hamil muda.
e.

Faktor Gizi

Kekurangan gizi berat dalam masa kehamilan dapat menimbulkan kelainan


kongenital. Pada manusia, pada penyelidikan-penyelidikan menunjukkan bahwa
frekuensi kelainan kongenital pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang
kekurangan makanan lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir
dari ibu yang baik gizinya.
f.

Faktor-Faktor Lain

Banyak kelainan kongenital yang tidak diketahui penyebabnya. Faktor janinnya


sendiri dan faktor lingkungan hidup janin diduga dapat menjadi faktor
penyebabnya. Masalah sosial, hipoksia, hipotermia, atau hipertermia diduga dapat
menjadi faktor penyebabnya. Seringkali penyebab kelainan kongenitai tidak
diketahui.

3.

Patofisiologi

Pada awal perkembangan janin manusia, selaput jari- jari kaki adalah normal.
Pada sekitar 16 minggu kehamilan, apoptosis (kematian sel) berlangsung dan enzim
menghilangkan selaput tersebut. Pada beberapa janin, proses ini tidak terjadi
sepenuhnya antara semua jari tangan atau kaki sehingga selaput tersebut
menetap.
4.

Manifestasi Klinis

Bentuknya ada yang pelekatannya hanya sepertiga dari panjang jari, atau
sepanjang jari saling melekat. Pelekatan juga bisa hanya terjadi pada jaringan kulit,
tendon (jaringan lunak), bahkan pada kedua tulang jari yang bersebelahan. Kelainan
ini dapat mengganggu proses tumbuh-kembang karena jari yang dempet
menghambat pertumbuhan jari dari gerakan jari-jari lain di sampingnya. Bila tidak
diatasi, dapat mengganggu perkembangan mental anak. Kadangkala dilakukan
cangkok kulit untuk menutup sebagian luka, sehingga membutuhkan perawatan di
rumah sakit yang lebih lama dibandingkan operasi penanganan polidaktili.
5. klasifikasi indaktili

Gambar 12. Tipe-tipe syndaktili

5.

Penatalaksanaan

Penanganan sindaktili dapat berupa tindakan bedah, kelainan kongenital bersifat


medik, dan kelainan kongenital yang memerlukan koreksi kosmetik. Setiap

ditemukan kelainan kongenital pada bayi baru lahir, hal ini harus dibicarakan
dengan orang tuanya tentang jenis kemungkinan faktor penyebab langkah-langkah
penanganan dan prognosisnya.
Cara mengatasinya dengan melakukan operasi pemisahan pada jari-jari yang saling
melekat atau menyatu. Operasi pemisahan jari-jemari dilakukan setelah anak
berumur antara 12-18 bulan. Bila ada beberapa jari yang melekat, operasi
pemisahan dilakukan satu persatu untuk menghindari komplikasi pada luka dan
sistem perdarahan jari yang dipisahkan.

Penatalaksanaan yang sering dilakukan adalah tindakan operasi dengan


memisahkan jari-jari yang kemungkinan memerlukan skin graft.(Muttaqin, 2008)