Anda di halaman 1dari 58

KURSUS SINGKAT

Pemetaan Geologi
di Lokasi Tambang
PT Bukit Asam
(Geological Mapping in PT Bukit Asams Mine-Sites)

04 Oktober 2010
Instruktur :

Budhi Kuswan Susilo


(IAGI Member : 2419)
Diorganisasi oleh :

Cikara Bhuana
Didukung oleh :

PT Bukit Asam
Teknik Pertambangan-UNSRI
Pengda IAGI Sumsel

Pemetaan Geologi
0

di Lokasi Tambang
PT Bukit Asam
(Geological Mapping in PT Bukit Asams Mine-sites)

Dipersiapkan Untuk

Kursus Singkat dan Kunjungan Lapangan


(Short Course and Fieldtrip)

Budhi Kuswan Susilo


Dosen KBK-Geologi, Teknik Pertambangan, Universitas Sriwijaya
Anggota IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) NPA : 2419
Sekretaris Pengda IAGI Sumsel

B.K. Susilo 2010

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas perkenan dan ridho-Nya, maka materi
short-course tentang pemetaan geologi dapat diselesaikan juga. Materi yang
diberikan sesungguhnya merupakan pengetahuan dasar dalam pemetaan geologi.
Karena ini adalah pelatihan yang ditujukan bagi mahasiswa yang bukan dari jurusan
teknik geologi, maka diharapkan materi ini cukup memberikan wawasan tentang
dasar pemetaan geologi, presentasikan data geologi dan mendapatkan prespekif
tentang pemanfaatannya. Misalnya penggunaan untuk keteknikan sipil atau
pertambangan.
Sebelum menjelaskan tentang teknik pemetaan geologi yang menjadi fokus dalam
materi ini, maka diberikan pengantar terlebih dahulu berkenaan dengan pentingnya
ilmu geologi bagi sendi kehidupan manusia. Berikutnya adalah pengetahuan dasar
tentang identifikasi batuan (diutamakan batuan sedimen) dan pengenalan data
struktur geologi termasuk penggunaan kompas Brunton dan teknik pengukuran
kedudukan struktur bidang. Setelahnya, peserta mendapatkan penjelasan
sederhana tentang pemetaan geologi dengan teknik tape & compass.
Target pelatihan ini adalah memberikan pemahaman bagi peserta agar dapat
memahami kaidah dalam pemetaan geologi dan berlatih langsung di lapangan untuk
mendapatkan data geologi, lalu mencoba memberikan presentasi atas kegiatan
pemetaan geologi yang sudah dilakukan. Dengan demikian, kegiatan short-course
ini adalah serangkai dengan kegiatan fieldtrip yang diselenggarakan setelahnya.
Adapun lokasi fieldtrip rencananya dilaksanakan di lokasi tambang, tepatnya pada
tambang Air Laya, PT Bukit Asam Persero (Tbk).
Atas inisiasi dan gagasan dan penyelenggaraan kegiatan ini disampaikan terima
kasih kepada Cikara Bhuwana yang telah mengorganisasikannya dengan baik.
Akhirnya disampaikan selamat mengikuti kegiatan short-course dan fieldtrip dengan
seksama. Semoga memberikan kemanfaatan bagi kita semua.

Palembang, 03 Oktober 2010

Budhi Kuswan Susilo

JADWAL DAN MATERI KURSUS SINGKAT


Senin, 04 Oktober 2010
09.00 - 10.30 Materi Sesi Ke-1

Hal2

1.1
1.2
1.3

Latar Belakang dan Tujuan


Pentingnya Geologi dalam Sendi Kehidupan
Pengenalan & Deskripsi Batuan

4
5
6

10.30 - 10.50 Rehat Sejenak


10.50 - 12.20
2.1
2.2
2.3

Materi Sesi Ke-2


Penentuan Stratigraphic way-up dari Sikuen Batuan
Pengenalan Struktur Geologi
Data : Observasi Geometri dan Pengukuran Kedudukan
Struktur Geologi

14
16
18

12.20 - 13.15 Ishoma


13.15 - 15.20
3.1
3.2
3.3
3.4

Materi Sesi Ke-3


Observasi SIngkapan
Perencanaan Lintasan pada Pemetaan Geologi
TeknikTape & Compass
Penentuan Ketebalan Lapisan Batuan

15.20

Kursus Singkat - Selesai

22
24
26
31

PEMETAAN GEOLOGI - SESI PERTAMA


Kegiatan ini seharusnya dan sewajarnya mendapatkan apresiasi yang tinggi dari
pimpinan pimpinan Jurusan Teknik Pertambangan dan Fakultas Teknik, Universitas
3

Sriwijaya atas kemampuan organisasi Cikara Bhuwana menyelenggarakan kegiatan


ini. Karena itu pada sesi pertama dijelaskan latar belakang dan tujuan yang
mendasari terlaksananya kegiatan short-course dan fieldtrip. Materi dasar yang
diberikan adalah motivasi untuk memaksimalkan penggunakan informasi geologi
dalam sendi kehidupan manusia dan pengenalan batuan dengan fokus pada batuan
sedimen.

1.1 Latar Belakang & Tujuan


Cikara Bhuwana adalah organisasi pencinta alam bagi mahasiswa
Teknik Pertambangan, Universitas Sriwijaya. Cikara Bhuwana
memiliki program kerja yang konsern mempelajari tentang
fenomena geologi melalui kegiatan yang diberi tajuk SGL,
kependekan dari Studi Geologi Lapangan. Kegiatan SGL pada
umumnya menyelaraskan kegiatan jalan-jalan di alam (pencinta
alam) sambil belajar fenomena geologi.
Belakangan mereka menginginkan kegiatan yang lebih serius
dalam mempelajari geologi, yaitu bagaimana informasi geologi itu
diperoleh. Hal ini mungkin didorong keinginan untuk membekali
diri lebih mendalam, karena mereka menyadari bahwa
pemahaman geologi diperlukan dalam kegiatan/pekerjaan mereka
dimasa mendatang sebagai ahli tambang.
Kegiatan kursus singkat dan kunjungan lapangan ini dilaksanakan
sebagai apresiasi atas keinginan mereka. Beruntung sekali,
kegiatan ini mendapat dukungan moril dan materil dari Diklat PT
Bukit Asam untuk kegiatan kunjungan lapangan yang
dilaksanakan di Lokasi Tambang Air Laya, Tanjung Enim. Karena
itu, kegiatan ini diberi judul Kursus Singkat dan Kunjungan
Lapangan di Wilayah Tambang PT Bukit Asam (Short Course and
Fieldtrip of Geological Mapping in PT Bukit Asams Mine-sites).
Tujuan Kegiatan Kursus dan Kunjungan Lapangan adalah :
1) Mengenalkan dan memberikan pemahaman tentang
batuan, khususnya batuan sedimen dan batubara;
2) Mengenalkan dan
struktur geologi;

memberikan

pemahaman

tentang

3) Memberikan pemahaman tentang prinsip perolehan data


geologi melalui kegiatan pemetaan geologi permukaan
(surface geological mapping) dan memberikan pengalaman
dalam melakukan metode penampang terukur (measured
section) untuk menghasilkan kolom stratigrafi sederhana.

1.2 Pentingnya Geologi dalam Sendi


Kehidupan
Geologi didefinisikan sebagai kajian ilmu pengetahuan tentang
asal muasal, sejarah, dan struktur bumi meliputi aspek fisik dan
dinamiknya.
Terdapat banyak alasan mengapa geologi penting bagi kehidupan
dan peradaban. Mari kita coba pikirkan tentang gempa bumi,
longsor, banjir, kekeringan, aktivitas gunungapi, arus air laut (el
Nio), tipe tanah, bahan bakar minyak, mineral (emas, perak,
uranium), dan masih banyak lainnya. Karenanya, kajian geologi
memainkan peran penting di dalam kehidupan modern dan
peradaban.
Hampir semua hal yang kita gunakan dalam kehidupan terkait
dengan
bumi.
Rumah,
jalan,
komputer,
mainan,
peralatan/perkakas dan lainnya adalah dibuat dari material bumi.
Kebutuhan energi pun memerlukan sumberdaya bumi seperti
energi minyak, karbon, dan nuklir yang diperoleh dari uranium, dll.
Aplikasi geologi sangat luas. Misalnya pemenuhan kebutuhan air
minum. Beberapa bagian bumi mengalami kelangkaan air
permukaan. Kajian geologi dapat membantu untuk memperoleh
air tanah untuk mengatasi kebutuhan tersebut.
Kajian geologi juga meliputi proses bumi yang penting dan dapat
mempengaruhi peradaban manusia. Proses tersebut dapat
menyebabkan
bencana
geologi.
Gempa
bumi
dapat
menghancurkan kehidupan dalam beberapa menit. Demikian juga
tsunami, banjir, longsor, kekeringan dan aktivitas volkanik.
Geologist mempelajari proses-proses tersebut dan dapat
memberikan rekomendasi rencana aksi (action plans) untuk
meminimisasi kerusakan yang mungkin terjadi, misalnya
memberikan saran pembangunan yang adaptif untuk tercegah
dari banjir berdasarkan sebaran bentuk lahannya (landform); juga
dapat membantu melalui upaya estimasi lokasi yang rentan
karena sering terjadi gempa bumi dengan membuat zonasi
bencana yang diperlukan bagi pembangunan berkelanjutan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dilihat dari
penggunaan peralatan modern dan canggih untuk berkontribusi
pada peradaban saat ini. Refleksi dan refraksi seismik, juga GPR
(ground penetrating radar) digunakan untuk memotret bawah
permukaan sehingga diketahui apa saja yang ada di bawah
5

permukaan. Sebelumnya, i pemboran adalah salah satu metode


pemetaan bawah permukaan dengan membacanya pada inti bor
(core). Selain itu, kecanggihan mikroskop dengan resolusi optis
tinggi digunakan untuk melihat kristal tunggal yang menyusun
batuan.
Namun sayangnya, ilmu geologi belum cukup dikenali.
Pertimbangan dari perspektif geologi masih minim digunakan
dalam penentuan pembangunan, terutama di Indonesia.

1.3 Pengenalan & Deskripsi Batuan


Batuan dapat bagi menjadi tiga jenis, yaitu batuan beku, batuan
sedimen dan batuan metamorf. Hubungan dari ketiga jenis batuan
tersebut dapat dijelaskan melalui konsep daur batuan.

Daur Batuan
Daur batuan melibatkan magma, batuan beku, batuan sedimen
dan batuan metamorf. Masing-masing komponen memiliki
pertalian yang dapat membentuk suatu daur (Gambar 1.1).

Gambar 1.1 Daur Batuan : Hubungan antara magma,


batuan beku, batuan sedimen dan batuan
metamorf.

Magma sebagai larutan panas yang pijar mengalami pendinginan


dan kristalisasi. Mineral-mineral yang terbentuk adalah komposisi
dari batuan beku.
Batuan yang tersingkap di permukaan bumi mengalami pelapukan
fisik dan kimiawi (dekomposisi). Batuan yang mengalami proses
ini adalah pre-existing rocks, batuan yang terbentuk terlebih
dahulu. Akibat pelapukan, batuan menjadi tanah dan pecahan
batuan yang mudah tererosi. Material ini kemudian diangkut
melalui media, misalnya sungai sehingga mengalir bersama aliran
sungai sebagai sedimen yang kemudian mengendap di suatu
lingkungan pengendapan tertentu. Melalui proses diagenesa yang
sangat lama (~berjuta tahun) menyebabkan sedimen menjadi
kompak dan membatu. Itulah batuan sedimen.
Batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf dapat
mengalami metamorfisme. Kondisi ini mengubah mineral melalui
fase padat, walaupun ada juga keterlibatan fluida panas dalam
reaksi yang mengubah suatu mineral menjadi mineral yang stabil
pada kondisi baru. Metamorfisme melibatkan perubahan
temperatur dan tekanan dalam besaran yang berbeda. Batuan
yang terubah disebut sebagai batuan metamorf.
Salah satu batuan metamorf berapa pada lingkungan yang dekat
dengan zona penunjaman (subduction zone). Pada saatnya
batuan ini akan melebur menjadi magma melalui proses partial
melting.

Batuan Sedimen
Fokus pengenalan batuan kita adalah pada batuan sedimen.
Batuan ini secara volume kecil sekali, yakni sekitar 0,029%,
namun batuan ini tersingkap di permukaan meliputi dua per tiga
dari permukaan daratan.
Batuan sedimen sangat mudah dikenali dari kehadiran perlapisan
batuan. Perlapisan batuan yang adalah refleksi dari proses
pengendapan sedimen. Oleh karena itu, melalui pengamatan
asosiasi struktur sedimen dapat digunakan untuk interpretasi
mekanisme pengangkutan sedimen. Selain itu dilengkapi dengan
indikator lain, seperti beberapa jenis fosil dapat menunjukkan
kemungkinan lingkungan pengendapannya.

Struktur Sedimen

Struktur sedimen yang mudah dikenali adalah perlapisan. Batuan


yang berlapis memiliki kelas perlapisan (Tabel 1.1).
Tabel 1.1. Klasifikasi Perlapisan (Ingram, 1954 op.cit.
Raymond, 1995)
KETEBALAN PERLAPISAN

NAMA

BED
> 300 mm
100 300 mm
30 100 mm
10 30 mm
3 10 mm
1 3 mm

Massive
Very thickly bedded
Thickly Bedded
Mediumly bedded
Thinly bedded
Very thinly bedded

0,3 1 mm
< 0,3 mm

Thickly laminated
Thinly laminated

LAMINA

Dari perlapisan tersebut di atas, maka struktur sedimen dapat


dikenali pada bagian internal dan permukaan bagian bawah
(bottom) dan bagian atas (top) suatu lapisan. Sebagai contoh,
struktur internal antara lain cross bedding, graded bedding;
struktur permukaan (bottom) antara lain load cast, flute cast,
channel (scour and fill); dan struktur permukaan (top) antara lain
flame structure, ripple mark, dan flame structures (Gambar 1.2).

Large-scale tabular cross-bedding

Large-scale trough cross-bedding

Mud crack

Ripple Marks

Load cast

Flute Cast

Graded Bedding

Flame structure

Gambar 1.2 Beberapa contoh struktur sedimen


Tekstur Sedimen
Batuan sedimen secara tekstural menunjukkan hubungan antar
butiran yang mengkomposisi batuan, dan dapat dibagi atas :
1) Tekstur klastik (butiran)
2) Tekstur kristalin (kristal)
Tekstur klastik terbentuk dengan material sumber asal silikat yang
dikenal dengan sebutan material silika klastik. Sumber lain
berasal dari allochem, yakni berasal dari pecahan batuan kristalin
yang terbentuk secara presipitasi (pengendapan secara kimiawi).
Oleh karena itu, tekstur ini dibangun oleh butiran sedimen.

Tekstur kristalin menunjukkan bahwa mineral mendominasi


komposisi batuan. Namun, pada kursus ini tekstur kristalin tidak
diberikan dalam kursus karena tidak relevan dengan kebutuhan di
lapangan.
Batuan sedimen klastik dapat dikenali dengan mudah dari
teksturnya. Ukuran butir menjadi kunci dalam penentuan nama
batuan (Tabel 1.2).
Tabel 1.2. Nama kelas butiran menurut ukuran butir skala
wentworth dan penamaan batuan. Skala Wentworth scale
dipublikasi pada tahun 1922 oleh Chester K. Wentworth,
memodifikasi skala yang ada sebelumnya oleh Johan A.
Udden. Kemudian oleh William Krumbein ditambahkan
padanan kelas butiran berdasarkan phi atau skala logaritma.
Millimeters

Wentworth

Grade Phi
() Scale

Nama Batuan

>256
>64
>4
>2

Boulder (bongkah)
Cobble (berangkal)
Pebble (kerakal)
Granule (kerikil)

8
6
2
1

Conglomerate
(konglomerat; butiran
rounded); Breccia
(breksi; butiran
angular)

>1

Very coarse sand (pasir


sangat kasar)
Coarse sand (pasir kasar)
Medium sand (pasir
sedang)
Fine sand (Pasir halus)
Very fine sand (pasir sangat
halus)
Coarse silt (lanau kasar)
Medium silt (lanau sedang)
Fine silt (lanau halus)
Very fine silt (lanau sangat
halus)
Clay (lempung)

>1/2
>1/4
>1/8
>1/16
>1/32
>1/64
>1/128
>1/256
<1/256

1
2

Sandstone
(batupasir)

3
4
5
6
7
8
>8

Siltstone
(batulanau)
Claystone
(batulempung)

Sampling
Sampling batuan ditentukan oleh tujuan kegunaannya. Oleh
karena itu, berapa banyaknya sampel (volume) yang harus
diambil adalah relatif.
Metode pengambilan sampel sangat ditentukan juga oleh jenis
batuannya. Batuan yang kompak dan keras, pasti berbeda
dengan batuan lunak, atau material urai (lepas-lepas).
10

Pada umumnya, untuk batuan keras memerlukan palu/godam dan


pahat untuk dapat mengambil sampel. Sedangkan untuk batuan
yang lunak, cukup dengan palu geologi dengan mata pahat.
Sedangkan material urai dapat diambil dengan cetok/sekop.
Sampel tersebut selanjutnya dimasukkan didalam kantong
sampel. Bahan kantung ada yang dari plastik, dan ada yang
dibuat dari kain blacu atau sejenisnya.

Persiapan Deskripsi Batuan


Identifikasi untuk menentukan nama batuan sedimen klastik
berdasarkan komposisi dan tekstur batuan dapat dilakukan
dengan mudah. Beberapa persiapan yang diperlukan, yaitu :
1) Kaca pembesar (handlens) untuk identifikasi feldspar and
lithics (pecahan batuan), jika diperlukan untuk penentuan
batuan berdasarkan kedua komponen tersebut (tidak
dibahas dalam kursus ini).
2) Panduan ukuran butir (mistar), atau komparator yang
mencakup komparator ukuran butir, bentuk butir dan sortasi
yang diperlukan untuk mendeskripsi batuan sedimen klastik
(Gambar 1.3 dan 1.4).

Gambar 1.3. Komparator bentuk butir menunjukkan


kebolaan (sphericity) dan kebulatan (roundness).

11

Gambar 1.4. Komparator sortasi menunjukkan


tingkat keterpilahan butiran yang berelasi
dengan tingkat keseragaman butiran.

3) Dapat juga menggunakan chart kunci identifikasi untuk


memandu
dalam
menentukan
salah
satu
kategori/kelompok batuan untuk memberikan penamaan
batuan (Gambar 1.5).
4) Pergunakan HCL (asam hidroklorida) pada batuan untuk
menguji kandungan karbonat. Kandungan tersebut dapat
dikenali dari gelembung putih (seperti buih). Indikasi positif
dapat analisisnya adalah semen yang mengikat batuan
adalah karbonat, yang mungkin didominasi oleh kalsit
(CaCO3). Kalau komposisi batuan didominasi material
karbonat, maka dapat menggunakan kunci indentifikasi
untuk penentuan nama batuan karbonat (Gambar 5).
Catatan : Gunakan larutan HCL dengan konsentrasi lemah
dengan perbandingan HCL dan air adalah 1 bagian HCL
dan 9 bagian air. Contoh : 10 tetes HCL ditambahkan ke air
90 tetes. HCL yang ditambahkan ke air dan bukan
sebaliknya,
karena
dapat
menyebabkan
ledakan
berbahaya. Hindari asam ini terhadap mata dan kulit.

Perlengkapan di atas diperlukan dalam pendeskripsian batuan.


Deskripsi batuan dapat dilakukan dengan mengobservasi
langsung singkapan (outcrops) atau mengamati sampel batuan.
Urutan dalam mendeskripsi batuan adalah sebagai berikut :
1) Amati singkapan batuan dengan seksama;

12

2) Perhatikan: Apakah ada struktur sedimen yang dapat


dikenali? Ciri perlapisan, perulangan lapisan, dst.
3) Deskripsi batuan langsung pada singkapan batuan, atau
mendeskripsi pada sampel batuan yang diambil;
4) Deskripsi batuan mencakup beberapa hal berikut: warna,
struktur sedimen, tekstur sedimen dan komposisi;
5) Data deskripsi digunakan untuk penentuan nama batuan.
Pada batuan sedimen biasanya didasarkan atas ukuran
butir sedimen (untuk batuan sedimen klastik, misal
sandstone, conglomerate.), atau atas komposisi yang
dikandungnya (misal komposisi dominan calcite dinamakan
limestone [batugamping], komposisi dominan karbon
dinamakan coal [batubara]).

13

Gambar 1.5. Kunci untuk Identifikasi batuan sedimen secara


sederhana (courtesy of Lynn S. Fichter (Department of
Geology and Environmental Science; James Madison
University, Harrisonburg, Virginia 22807)
Contoh deskripsi
No Sampel : 01
Ciri Batuan :
a) Warna : abu-abu kecoklatan
b) Struktur sedimen : berlapis tipis
14

c) Tekstur : pasir halus (ukuran butir); sub-rounded (bentuk


butir); well sorted
d) Komposisi : kuarsa
Nama batuan : quartz sandstone (batupasir kuarsa)

Bentuk contoh deskripsi di atas adalah menjelaskan lingkup


materi yang perlu dicatatkan pada umumnya pada lembar
deskripsi batuan. Untuk pencatatan pada kolom stratigrafi memiliki
bentuk penulisan yang lebih singkat. Misal, ada sandstone yang
ingin dideskripsi, maka perlu dicatat sebagai berikut: Sandstone
mempunyai warna abu-abu kecoklatan; berlapis tipis; berukuran
butir pasir halus; bentuk butir sub-rounded, jenis keterpilahan
well-sorted, dan didominasi komposisinya oleh kuarsa. Pada
kolom stratigrafi, karena lebar kolom deskripsi yang terbatas,
maka penulisannya dilakukan secara ringkas dan singkat. Misal,
SS : abu kecokltn, lps tps, sb round, well-sorted, qtz.
Berikut ini diberikan kembali contoh dalam mendeskripsi batuan.
Contoh yang diberikan adalah sandstone, coal (bituminous) dan
coal (antrasite). Sandstone dengan komposisi butiran pasir kuarsa
menunjukkan struktur sedimen cross bedding, warna pink
menunjukkan adalnya sedikit pewarnaan pada cross bedding
karena adanya pengaruh kontaminan besi yang bukan merupakan
bagian dari komposisi awal. Coal (bituminous) menunjukkan
bahwa batuan berwarna hitam, berlapis, kadangkala dijumpai
kekar konkoidal, dan kalau dipegang akan meninggalkan bercak
hitam pada jari-jari. Batubara (antrasite) menunjukkan warna
hitam dan mengkilap, homogeneous, dan memiliki hancuran
dengan kekar conchoidal (Gambar 1.6)

Sandstone

Coal (bituminous)

Coal (antrasite)

Gambar 1.6. Contoh mendeskripsi diberikan untuk sandstone,


coal (bituminous) dan Coal (antrasite).

15

PEMETAAN GEOLOGI - SESI


KEDUA
Pada sesi kedua, materi yang diberikan adalah terutama pada
penentuan stratigraphic way-up yang menentukan kearah mana
urut-urutan pengendapan sedimen secara relatif dari tua ke muda
(younging direction). Hal ini penting agar pemahaman deformasi
tektonik yang mengenai batuan dapat dijelaskan dengan baik.
Pengetahuan tentang struktur bidang dan cara mendapatkan data
kedudukannya diberikan termasuk pengenalan arah mata angin
dan teknik pengukuran menggunakan kompas Brunton.

2.1 Penentuan Stratigraphic


dari
Sikuen Batuan

way-up

Hal yang penting dalam pemetaan geologi adalah mengetahui


kedudukan batuan apakah dalam kondisi normal atau mengalami
gangguan. Maksud kondisi normal adalah batuan secara relatif
menunjukkan posisi stratigrafi dimana lapisan batuan yang
terletak dibagian bawah adalah berumur relatif lebih tua
dibandingkan dengan lapisan batuan yang berada di atasnya.
Sedangkan kondisi deformasi berarti sudah terubah. Perlu
observasi untuk menentukan posisi stratifrafinya. Mungkin saja
batuan yang terletak dibagian bawah adalah batuan yang berumur
lebih muda.
Apa sih stratigrafi itu? stratigrafi secara sederhana diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antar lapisan batuan
dan posisinya dalam ruang dan waktu geologi). Ada dua prinsip
yang diberikan oleh Steno yakni prinsip horisontalitas dan
superposisi.
Horisontalitas adalah konsep pengetahuan bahwa lapisan batuan
sedimen dahulunya diendapkan relatih horizontal. Ini didasarkan
pada pada anggapan bahwa sedimen yang mengendap akan
mengisi ruang yang terdalam kemudian semakin dangkal. Pada
kenyataannya, pengendapan dikontrol oleh kemiringan awal dasar
cekungan (initial dip).
Superposisi adalah konsep pengetahuan bahwa pada kondisi
normal (tidak terganggu), maka lapisan yang terletak di atas
16

berumur relatif muda, dan sebaliknya lapisan yang terletak di


bawah berumur relatif tua.
Persoalannya adalah bagaimana untuk menentukan umur relatif
lapisan batuan tersebut. Prosedur penentuannya sangat
menggunakan dua pendekatan. Pertama, observasi batuan untuk
mempelajari struktur sedimen dan kontak antar lapisan. Kedua,
melakukan penentuan umur batuan.
Pada kesempatan ini hanya dijelaskan tentang pendekatan
pertama saja. Hal ini lebih penting, karena dibutuhkan sebagai
bekal pengetahuan untuk melakukan pemetaan geologi.
Prosedur dalam penentuan posisi stratigrafi lapisan batuan dapat
dilakukan sebagai berikut:
1) Lakukan observasi umum pada singkapan batuan meliputi
kondisi singkapan dan pengenalan perlapisan batuan dan
kontak perlapisan;
2) Kenali struktur geologi untuk menentukan strike dan dip
lapisan batuan. Data ini diperlukan untuk penentuan jalur
lintasan pengamatan batuan;
3) Kenali struktur sedimen pada setiap lapisan batuan untuk
menentukan stratigraphic way-up atau younging lapisan
batuan.
4) Berdasarkan pengenalan struktur sedimen & assosiasinya
dapat ditentukan top dan bottom dari satu lapisan,
sehingga dapat menunjukkan arah menuju lapisan batuan
yang berumur relatif lebih muda dan dapat diketahui uruturutan pengendapan dari lapisan batuan (Gambar 2.1a).

Berdasarkan uraian yang dijelaskan di atas, maka penting


dipahami pengenalan struktur sedimen di lapangan. Struktur
sedimen pada satu lapisan batuan dapat dikenali dari ekspresi
lapisan batuan pada bagian kontak antar lapisan dibagian atas
dan bawah dari lapisan tersebut, serta pengenalannya pada
kenampakan internalnya (Gambar 2.1 b).

17

(b)
(a)
Gambar 2.1 Pennetuan stratigraphic way-up: (a) Pengenalan top
dan bottom lapisan berdasarkan pengenalan atas struktur
sedimen. (b) Kondisi geologi mempengaruhi stratigraphic
way-up, dimana pada A tatanan geologi sederhana
sehingga lapisan batuan berumur muda menutupi lapisan
batuan berumur tua. Pada B tatanan geologi kompleks
menunjukkan deformasi yang mengubah kondisi normal,
sehingga lapisan batuan berumur tua berada di atas
lapisan batuan berumur muda.
Pada uraian di atas, dinyatakan pentingnya memperhatikan
struktur sedimen dalam lapisan batuan. Sealin itu perlu
diperhatikan juga kontak antara lapisan batuan. Tentu saja lapisan
yang dimaksud adalah kontak pengendapan.
Pengendapan yang menerus akan memberikan kontak selaras
(conformable contact). Sedangkan pengendapan sedimen yang
terganggu akan menunjukkan ada interupsi dalam prosesnya.
Dengan demikian sempat terjadi tidak ada pengendapan.
Kemungkinan lain adalah terjadi deformasi tektonik yang
bertanggung jawab pada tersingkapnya batuan ke permukaan,
sehingga batuan mengalami erosi sebelum kemudian tertutupi
oleh pengendapan sedimen lanjutan yang menutupi permukaan
erosi. Kondisi ini disebut sebagai kontak tidak selaras
(unconformable contact).
Ciri pengenalan kontak selaras adalah sebagai berikut:
1) Batas antara lapisan yang berdekatan
2) Tidak ada substantial gap in time
3) Rangkaian lapisan yang diendapkan menerus; umur sama
18

Ciri pengenalan kontak tidak selaras adalah sebagai berikut:


1) Memperlihatkan adanya interupsi sedimentasi
2) Adanya substantial gap in time (disebut sebagai hiatus)
3) Kontak dapat berupa: kontak erosi atau tidak ada
pengendapan lapisan sedimen

2.2 Pengenalan Struktur Geologi


Stuktur geologi adalah produk deformasi tektonik. Pengenalannya
adalah mengenali bentuk deformasi pada batuan. Bentuk
deformasi dapat dijumpai berupa kekar, sesar dan lipatan pada
batuan.
Berkenaan dengan kegiatan pemetaan geologi, maka kali ini
hanya difokuskan pada bahasan sesar dan lipatan. Kedua
struktur tersebut dapat mengontrol distribusi atau pelamparan
batuan. Oleh karena itu, pengenalan atas ciri dari kedua struktur
tersebut diperlukan.
Sebelum itu perlu digambarkan bahwa pengenalan struktur
geologi sangat mudah dipahami pada batuan sedimen. Contoh
sederhana antara perlapisan batuan dan hubungannnya dengan
struktur geologi diberikan kenampakan struktur dimana pada
suatu daerah dikontrol oleh salah satu sayap lipatan (Gambar
2.2).
Pada gambar nampak 10 (sepuluh) lapisan batuan yang
memperlihatkan kemiringan ke satu arah dari siken lapisan
batuan. Perhatikan kontak antara lapisan batuan 5 dan batuan 6.
Kontak antara keduanya menunjukkan adalanya bidang miring
yang tersingkap. Bidang ini adalah bidang perlapisan batuan.
Pengenalan bidang ini diperoleh strikeline, dip angle dan dip
direction..

19

Gambar 2.2. Singkapan menunjukkan hubungan antar perlapisan


batuan. Memahami singkapan sebagai penentu besaran
kedudukan struktur geologi tersebut.

Pada suatu lapangan, mungkin saja kita mendapatkan hanya satu


arah kemiringan dari sikuen lapisan batuan. Namun, dapat saja
suatu daerah menunjukkan kemiringan lapisan batuan yang
berlawanan arah sehingga memungkinkan diperoleh sumbu
lipatan, apakah sumbu anticline atau syncline (Gambar 2.3). Pada
lintasan pengukuran yang melewati sumbu lipatan, maka akan
terjadi perulangan perekaman data lapisan batuan. Jadi, hal ini
harus diperhatikan dengan seksama.

Gambar 2.3. Perulangan lapisan yang sama terjadi lintasan


memotong sumbu anticline dan syncline.

Pengenalan sesar menjadi penting untuk memahami adanya


pergeseran (displacement) dari lapisan batuan. Oleh karena itu
observasi terhadap ciri-ciri sesar di lapangan sangat diperlukan
terutama untuk mengetahui offset bergesernya lapisan batuan
sepanjang kontak sesar. Pada pembuatan kolom stratigrafi,
lintasan pengukuran (measured section) tidak boleh melalui jalur
sesar. Hal ini karena tidak kontinyunya lapisan batuan secara
stratigrafi.
Tipe sesar dapat di jumpai berupa normal fault, reverse fault dan
strike-slip fault. Sesar bisa terjadi pada satu sayap lipatan. Namun
sesar juga dapat memotong sumbu lipatan. Kompleksitas struktur
geologi terjadi ketika terbentuk berbagai ubahan akibit deformasi.
Seperti pada gambar di bawah ini, sumbu lipatan dipotong oleh

20

sesar, apalagi kalau daerah tersebut dikontrol pula oleh intrusi


magma (Gambar 2.4).

Gambar 2.4. Tipe sesar dan hubungan antara sesar dan lipatan.

2.3 Data : Observasi Geometri


Pengukuran
Kedudukan Struktur Geologi

dan

Observasi pada singkapan batuan diperlukan untuk mendapatkan


data struktur geologi. Pengenalan jenis struktur geologi
diperlukan. Oleh karena itu, deskripsi struktur geologi dilakukan
dengan mengamati geometri dan melakukan pengukuran.
Geometri maksudnya mengenal bentuk dan ukuran serta
kedudukan struktur yang dapat dikenali dari pengenalan bentuk
deformasinya. Misalnya sesar sangat mudah dikenali dengan
adanya bidang sesar dan offset litologi. Pengenalan ini akan
mengarahkan dalam mendeskripsikan data struktur termasuk
pengukuran kedudukannya. Contoh lain adalah memahami
geometri lipatan. Kedudukan lapisan batuan menjadi kunci dari
pemahaman struktur lipatan.
Oleh karena itu diperlukan pengetahuan dengan data struktur
bidang dan struktur garis. Data struktur bidang adalah pengukuran
bidang miring suatu struktur sehingga diperoleh data strike, dip
angle dan dip direction. Contoh bentuk data struktur bidang
adalah bidang sesar, bidang kekar dan kedudukan perlapisan
batuan. Selain itu, terdapat data struktur garis. Contoh bentuk

21

data struktur garis yang diperoleh adalah gores-garis pada bidang


sesar dan sumbu lipatan.
Pada kegiatan pemetaan geologi, sebelum melakukan pemetaan
dengan teknik tape & compass, perlu diketahui kedudukan
perlapisan batuan terlebih dahulu termasuk slope (kemiringan
lereng).
Pengukuran kedudukan perlapisan batuan memerlukan
pengenalan terhadap bidang perlapisan, yakni kontak antara
lapisan batuan. Selanjutnya tentukan kedudukan bidang miring
dengan menggunakan kaidah tangan kiri, dimana telunjuk
menunjukkan arah strike dan ibu jari menunjukkan arah dari dip
direction. Kaidah lain adalah kaidah tangan kanan, dimana arah
kemiringan bidang menunjuk ke posisi tangan kanan kita
sementara pandangan mata kita adalah menunjuk ke arah strike.
Setelah diketahui kondisi suatu bang tersebut, selanjutnya
dilakukan pengukuran besaran strike, dip angle dan dip direction.
Prosedur pengukuran ketiga data tersebut diberikan agar
memberikan kejelasan berupa pentahapan pengukuran.
a) Pengukuran strike
Prosedur untuk mendapatkan data strike adalah dengan
melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Arahkan lengan pembidik kompas ke arah asimut.
2) Tempelkan kompas pada bidang miring tersebut (pada
kompas, yang menempel adalah sisi east). Catatan :
Kompas brunton jika lengan pembiding diarahkan ke arah
pandang mata kita, maka sisi east pada kompas berada di
sisi kiri, sedangkan sisi west ada di sisi kanan. Jadi, skala
pembacaan asimut perputaran 0 - 360 derajat adalah
berlawanan dengan arah jarum jam. Tetapi, notasi
penulisan dan penggambaran data asimut tetap harus
searah dengan jarum jam.
3) Perhatikan posisi pada kondisi kompas terhadap bidang
miring tersebut (Gambar 2.5)

22

(a)

(b)

Gambar 2.5 cara mengukur strike dengan menghorisontalkan


level mata sapi: a) dapat ditempelkan langsung pada
bidang miring, b) menggunakan hardboad (papan) untuk
mendapatkan rata-rata kemiringan bidang bila bidangnya
tidak rata.
4) Horisontalkan level (nivo) mata sapi dengan memasukkan
gelembung ke lingkaran di dalam level.
5) Setelah horisontal, buat garis yang menandakan sebagai
garis strike (strikeline),
6) Tekan pin pengunci.
7) Baca asimut yang ditunjukkan jarum magnet untuk
mendapatkan data strike. Misal 125 derajat.
8) Catat data dengan notasi yang tepat, misal notasi asimut.
Misal N125oE.

b) Pengukuran dip angle


Prosedur untuk mendapatkan data dip angle menggunakan
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Perhatikan garis yang dibuat ketika mengukur strike.
2) Letakkan kompas brunton pada posisi tegak lurus terhadap
garis tersebut. Biasanya yang ditempelkan adalah sisi west
pada kompas. Cara mengecek tegak lurus adalah dengan
melihat kelurusan garis yang terpantul pada kaca kompas.
3) Perhatikan posisi pada kondisi kompas terhadap bidang
miring tersebut (Gambar 2.6)

23

Gambar 2.6. Posisi kompas adalah tegak lurus terhadap strikeline yang sudah digariskan pada pengukuran strike. Sisi
west dari kompas Brunton menempel bidang. Selanjutnya
menggerakkan pengatur clinometer di belakan kompas
untuk menempatkan gelembung tepat ditengah level
clinometer sehingga diperoleh dip angle.

4) Gerakkan penggerak klinometer yang berada di bagian


bawah kompas tersebut sampai gelembung tepat ditengah
level klinometer.
5) Selanjutnya pembacaan data dip angle dalam derajat.
Misal terbaca 65 derajat.
6) Catat melanjutkan data strike sehingga diperoleh, misal
N125oE/65o
c) Pengukuran dip direction.
Prosedur untuk mendapatkan data dip directionmenggunakan
langkah-langkah sebagai berikut :
1) Perhatikan garis yang dibuat ketika mengukur strike.
2) Tempelkan bagian sisi belakang kompas sehingga lengan
penunjuk menunjuk asimut. Pada posisi ini antara garis
strike dan lengan pembidk adalah tegak lurus.
3) Baca jarum magnet serada pada kwdran yang mana,
misal NE, SE, SW atau NW. Kita tentukan misalnya
tercatat ke arah SW.
4) Catat data tersebut melanjutkan data strike dan dip angle.
Misal N125oE/65oSW.

24

PEMETAAN GEOLOGI - SESI


KETIGA
Pada pemetaan geologi perlu diketahui dengan seksama
gambaran singkapan. Singkapan ini adalah penting karena
padanya terdapat data geologi. Pengetahuan tentang tatanan
geologi setempat melalui pemahaman atas orientasi batuan
digunakan untuk menentukan jalur lintasan pemetaan geologi.
Teknik pemetaan yang digunakan adalah tape & compass. Pada
akhirnya selain peta, penampang geologi, maka diketahui
bagaimana pembuatan kolom stratigrafi.

3.1 Observasi Singkapan


Sebelum melakukan pemetaan dengan teknik tape & compass
perhatikan dahulu bentang alam di lapangan. Bentang alam yang
memperlihatkan batuan yang tersingkap. Dari kejauhan kita dapat
mengetahui karakterisasi batuan dan kedudukan kemiringan
batuan (struktur geologi).

25

Karakteristik batuan antara lain adalah mengetahui perlapisan


batuan. Perlapisan dapat tebal atau tipis terlihat dari kejauhan.
Namun, diperlukan pengukuran untuk dapat menentukan besar
ketebalan lapisan batuan (Gambar 3.1).

Gambar 3.1 Contoh pengamatan singkapan. Gambar di atas :


kenampakan fotomozaik singkapan. Gambar di bawah :
interpretasi yang dibuat dari foto dan penyelidikan
singkapan.

Berdasarkan gambar di atas, maka dapat diketahui profil lateral


yang menunjukkan perubahan secara vertikal. Perhatikan ada
permukaan B-B yang menunjukkan bounding surface yang
kemudian di atasnya terjadi pengendapan yang menandakan
kanal baru dimana lapisan di atasnya menunjukkan pola downlap
di atas permukaan.
Pada pemetaan di lokasi tambang, maka prosedur yang sama
dilakukan pada singkapan yang terbentuk karena bukaan
excavator. Jenjang tampang dari kejauhan akan memperlihatkan
perlapisan batuan yang menandakan variasi litologi. Singkapan
juga seringkali menjelaskan bentuk struktur geologi yang dapat
dibaca dari kejauhan.
Batuan sedimen yang tersingkap memiliki ekspresi di permukaan
bumi dengan mengikuti pola lembah dan gunung. Perpotongan
antara data geologi dan elevasi morfologi (topografi) memberikan
pola singkapan di lapangan. Pola singkapan dapat menunjukkan
kedudukan lapisan horizontal, vertikal, miring ke arah hulu, miring
ke arah hilir, dan kemiringan yang dikontrol oleh kemiringan

26

lembah (Gambar 3.2). Inilah yang disebut sebagai Kaidah V (V


rules)

Gambar 3.2. Pola singkapan mengilustrasikan Aturan V

Gambaran dari hubungan antara perlapisan batuan dan topografi


menunjukkan bahwa kondisi pemukaan dapat mengubah pola
sebaran singkapan di permukaan bumi. Diberikan contoh secara
ilustratif gambaran lapisan vertikal dan lapisan miring yang
dikontrol topografi (Gambar 3.3).

Gambar 3.3 Hubungan antara kedudukan lapisan batuan dan


topografi

3.2

Perencanaan
Lintasan
Pemetaan Geologi

pada

Pemetaan geologi adalah salah satu kerja geologi untuk


mendapatkan
data
geologi
lapangan,
kemudian
mempresentasikannya dalam peta geologi. Prinsip pemetaan
geologi di lapangan adalah mengumpulkan data geologi secara
27

sistematis sesuai dengan resolusi data yang ingin ditampilkan,


sehingga berelasi dengan skala peta. Selain peta, presentasi data
geologi diberikan dalam bentuk penampang geologi dan kolom
stratigrafi.
Pemetaan sistematis dilakukan dengan merencanakan lintasan
yang akan dilalui. Kaidah yang perlu diperhatikan dalam
menentukan lintasan adalah mencakup hal berikut:
1) Memahami penyebaran satuan batuan di daerah penelitian.
Hal ini maksudnya mendapatkan data strike dan dip angle
dari sikuen perlapisan batuan.
2) Menentukan jalur lintasan yang relatif tegak lurus terhadap
strike dari siken perlapisan batuan. Hal ini dimaksudkan
untuk mendapatkan lebih banyak variasi litologi sehingga
gambaran geologi litologi dapat segera dipahami.
3) Jalur lintasan pemetaan umumnya mengikuti pola aliran
sungai. Pemetaan dilakukan dari hilir ke arah hulu. Alasan
pemilihan mengikuti lembah sungai adalah data geologi
banyak tersingkap karena tertoreh aliran sungai.
4) Data yang diperoleh kemudian ditempatkan (plotting) pada
peta dasar (peta topografi).
5) Data singkapan yang memuat data litologi seperti batas
kontak perlapisan batuan (lokal) atau batas kontak antara
dua formasi (regional) dihubungkan sehingga diperoleh
batas satuan batuan atau batas formasi di dalam peta. Hal
sama juga digunakan untuk menggambarkan struktur sesar
atau perlipatan berdasarkan data, misal kedudukan
perlapisan batuan, sumbu lipatan.

Lintasan pengukuran selalu melalui morfologi yang berundulasi.


Jadi faktor topografi Data lintasan pengukuran dapat
dipresentasikan dalam bentuk penampang geologi (Gambar 3.4)

Gambar 3.4. Penampang yang dibuat dari peta topografi.

28

Pada pembuatan penambang setelah morfologi permukaan


digambarkan, maka plotting nilai dip angle harus menunjukkan
true dip. Namun seringkali pada lintasan pengukuran tidak dibuat
tegak lurus terhadap strike perlapisan batuan. Kondisi ini
memerlukan koreksi dip sehingga diperoleh apperent dip untuk
digambarkan pada penampang geologi (Gambar 3.5 dan 3.6)

Gambar 3.5. Ploting dip angle tegak lurus terhadap strike


terekspresi pada penampang, karena jalur lintasan tegak
lurus terhadap strike. Namun, pada lintasan yang tidak
tegak lurus strike, maka diperlukan koreksi sehingga yang
tergambar bukan true dip, melainkan apparent dip.

Gambar 3.6. Penampang sudah disertai dengan simbol litologi


(warna) berdasarkan perlapisannya. Kemiringan lapisan
batuan harus dikoreksi, jika lintasan pengukuran tidak
tegak lurus strike.

Bagaimana cara mengoreksi nilai dip? Langkah yang diperlukan


adalah mengetahui besaran strike, dip angle (true dip) dan
bearing dari lintasan pengukuran (Gambar 3.7). Sudut lancip
antara strike dan bearing lintasan digunakan untuk menentukan
nilai apparent dip (Tabel 3.1)

29

Gambar 3.7. Data yang diperlukan untuk koreksi dip angle pada
penggambaran penampang geologi.
Tabel 3.1 Penentuan apparent dip

3.3 Teknik Tape & Compass


Pemetaan geologi permukaan dilakukan dengan berbagai teknik
pemetaan. Terdapat enam teknik yang digunakan dalam
pemetaan, meliputi pace & compass (langkah dan kompas), tape
& compass (pita ukur dan kompas), Grid, plane table, topo map
sheet dan air photo. Namun pada kesempatan ini hanya diberikan
pengenalan untuk melakukan pemetaan menggunakan teknik
tape & compass.
Teknik tape & compass ini adalah pemetaan dengan membuat
lintasan (traverse mapping) yang digunakan pada pemetaan
prospek detil. Skala yang diharapkan pada pemetaan ini berkisar
30

antara 1 : 100 sampai dengan 1 : 1000. Keuntungan dari metoda


ini adalah cepat dan memiliki akurasi yang baik, sederhana
karena tidak memerlukan preparasi yang rumit. Kegiatan ini tidak
dapat dilakukan sendiri. Karena itu memerlukan asisten.
Pekerjaan lambat jika dilakukan pemetaan pada daerah dengan
dimensi yang sangat luas.

Singkapan
Singkapan (outcrop) adalah kondisi dimana batuan tersingkap dari
kondisi biasanya tertutupi oleh vegetasi ataupun tebalnya tanah
yang merupakan produk lapukan dari batuan. Oleh karena itu,
batuan yang tersingkap kebanyakan dijumpai pada daerah yang
terangkat secara tektonik (uplifting) kemudian diikuti oleh proses
erosi. Misalnya batuan tersingkap pada tepi sungai, karena erosi
sungai. Batuan dapat tersingkap misalnya ada pemotongan bukit
untuk kepentingan pembuatan jalan atau pertambangan. Kondisi
yang demikian dimanfaatkan geologist untuk meneliti beragam
jenis batuan dan mengkonstruksi suatu kolom stratigrafi.

Kolom Stratigrafi
Kolom stratigrafi (stratigraphic column) didesain agar geologist
dapat menggambarkan dan mengidentifikasi lapisan batuan dan
sedimen serta menentukan proses geologi yang terjadi di suatu
daerah. Lapisan adalah satuan batuan terkecil dalam kolom
stratigrafi dimana memilik perbedaan dengan lapisan di atas dan
di bawahnya. Lapisan memberikan informasi ciri struktural dan
sedimen. Kehadiran fosil sering sebagai indikator penting penentu
umur batuan. Adapun ciri lain yang hadir seperti ripple marks dan
clast orientation dapat mengungkapkan arah aliran air, yang
menunjukkan pengendapan sedimen. Kadangkala dapat pula
menenukan kondisi iklim selama pengendapan berlangsung.

Peralatan
Dalam pembuatan kolom stratigrafi dibutuhkan sejumlah peralatan
yang digunakan untuk mengukur jarak lintasan, lebar singkapan,
ketebalan lapisan batuan, membantu deskripsi batuan dan
membantu pengukuran kedudukan perlapisan batuan. Peralatan
tersebut antara lain yaitu: lembar kolom stratigrafi (buku
lapangan), pensil/pena, potingan papan (clip board), jacob staff
(kayu ukur/meteran), lensa pembesar (Hand lens), cangkul (hoe),
31

skop (shovel), kamera, kantong sampel, pita penanda (flagging


tape), pita ukur (meteran), kompas & clinometer.

Prosedur
Dalam melakukan kerja pembuatan kolom stratigrafi yang paling
penting adalah 1) menentukan suatu datum point, sebagai
landasan kerja; 2) membuat lintasan; 3) mengukur kedudukan
lapisan batuan; 4) mendeskripsi litologi; 5) penentukan ukuran
sedimen; 6) merekan struktur sedimen; 7) mengumpulkan sampel
batuan; 8) merekam gambar lapangan; dan 9) menginterpretasi
data.
Ketika mulai kegiatan, terlebih dahulu pelakukan orientasi
lapangan. Tengok dan amati sekeliling daerah untuk mendapatkan
indikasi petunjuk masa lampau. Lantas tentukan titik referensi
(reference point) sebagai pertanda lokasi kerja. Datum kerja
ditentukan, sehingga menjadi acuan jarak dalam bekerja.
Gunakan kompas untuk menentukan bearing dari datu ke tempat
kerja (working spot). Tandai lokasi ini sehingga dapat diketahui
lokasinya dari titik referensi.
Pada sedimen yang tidak terkonsolidasi, maka perlu mengupas
material yang menutupi lapisan sedimen. Lapisan yang tersingkap
akan memberikan data untuk pembuatan kolom stratigrafi. Pada
batuan yang lapuk, seringkali harus menggali sampai
mendapatkan batuan yang masih segar.
Seringkali satu kolom belum cukup menggambarkan lingkungan
pengendapan sedimen. Oleh karena itu, kemungkinan data yang
melum diperoleh dapat diperoleh dari kolom lain. Pada daerah
yang terisolasi, maka minimal dibuat tiga kolom stratigrafi yang
kadangkala harus digali (membuat sumur uji). Satu sumur dapat
menjadi referensi bagi minimal dua sumur lainnya.
Pada kolom stratigrafi seringkali dijumpai kesamaan ciri material.
Lapisan yang kecil mungkin terkandung di dalam lapisan yang
besar, tetapi jika itu menunjukkan pola perulangan (repetition).
Setiap lapisan dapat ditentukan ketebalannya.
Pengukuran ketebalan sering menggunakan jacob staff, yakni
tongkat yang ditandai untuk ukuran satu meter s.d satu setengah
meter panjang. Pada Jacobs staff dipasang clinometer untuk
kontrol sudut (Gambar 3.8; 3.9 dan 3.10). Awal pengukuran
dimulai dari poligon awal pengukuran atau bagian bawah dari
penampang. Namun, penggunaan jacob staf tidak familier
32

dilakukan di Indonesia. Pengukuran langsung dengan


menggunakan pita ukur sebagai langkah yang banyak dipilih.

Gambar 3.8 Pengukuran menggunakan Jacobs staff.

Gambar 3.9. Orientasi Jacobs staff sangat bergantung secar


relatif pada dip perlapisan dan slope (kemiringan lereng)

Semua data pengukuran dituliskan pada lembar kolom (column


sheet). Semua data pengukuran direkan dalam satuan jarak yang
sama, misalkan meter. Deskripsi litologi dilakukan setiap
perubahan lapisan batuan. Misalnya, ditemukan limestone,
sandstone, shale, dll. Setiap litologi terkadang dapat diindikasi
berdasarkan warnanya sebagai simbol dalam kolom. Gunakan
simbol standar yang biasa dipakai dalam kegiatan geologi di
Indonesia. Selain warna, maka untuk penjelasan dapat
menggunakan teks atau narasi singkat saja.

33

Gambar 3.10 . Pengukuran ketebalan menggunakan Jacobs staff.

Perhatikan dengan seksama dalam menentukan ukuran sedimen.


Kolom stratigrafi ditantai apakah berukuran fine grain sands,
medium grains and coarse (gunakan standar ukuran butir
sedimen, misalnya menggunakan skala Wentworth.
Rekam struktur sedimen karena dari data ini dapat menjelaskan
proses atau mekanisme pengendapan. Jenis struktur sedimen
direkam dengan kamera dan deskripsinya dicatatkan dalam
lembar kolom.
Pengambilan sampel diperlukan sesuai dengan tujuannya.
Misalkan, untuk sedimen yang tidak terkonsolidasi, maka sampel
dapat dilakukan analisis butiran menggunakan metoda ayakan
(sieving methods). Jangan lupa untuk memberikan pelebelan
pada sampel. Tandai pada lembar kolom, pada lapisan mana
dilakukan pengambilan sampel batuan.
Pengambilan foto diperlukan. Ambil sebanyak-banyaknya foto.
Lebih baik lagi apabila diberikan cacatan pada lembar kolom
nomor foto yang menjelaskan fenomena yang diamati. Jangan
lupa pula, memberikan deskripsi singkat tentang foto tersebut.
Berikan objek yang ukurannya mudah dikenali atau berikan skala
dalam cm.
Interpretasi didasarkan atas semua data yang diperoleh dan
dicatatkan pada lembar kolom stratigrafi. Interpretasi bisa sampai
menjelaskan tentang lingkungan pengendapan sedimen, seperti
lake deposits, glacial, desert, coastal, alluvial dan laut. Model
fasies dapat membantu dalam melakukan interpretasi.
Struktur geologi dilapangan kemungkinan akan dijumpai struktur
sesar dan lipatan. Hal ini mengindikasikan aktivitas tektonik.
Sealin itu, bentuk deformasi di dalam sikuen dapat diamati,
misalnya kehadiran struktur slump dan bentuk deformasi lainnya
berkaitan dengan lapisan penutup material.
34

Contoh kolom stratigrafi berikut ditunjukkan untuk menjelaskan


bahwa kemungkinan kolom stratigrafi dapan menunjukkan
perubahan lingkungan pengendapan dan kondisi tektoniknya.
Interpretasi yang demikian tidak dapat dilepaskan dari deskripsi
data litologi, ukuran butir sedimen, struktur sedimen dan
litofasiesnya (Gambar 3.11).

Gambar wsz. Contoh kolom stratigrafi sederhana yang


menggambarkan perubahan lingkungan pengendapan
dan hubungannya dengan aktivitas tektonik.

35

Contoh lain adalah diberikan kolom stratigrafi yang memberikan


lebih banyak informasi. Deskripsi singkat dan penjelasan tentang
kejadian yang berkenaan dengan sikuen batuan langsung
ditunjukkan pada kolom stratigrafi, misalnya kehadiran
unconformity (Gambar 3.12).

36

Gambar 3.12. Contoh lain kolom stratigrafi


37

3.4 Penentuan Ketebalan Lapisan Batuan


Hal terpenting didalam pemetaan geologi menggunakan teknik
tape & compass adalah menentukan ketebalan dari lapisan
batuan. Jika diperoleh data berupa D (angle of dip), V (vertikal
thickness), maka ketebalan T (true thickness) diperoleh dengan
rumusan : T = V x CosD (Gambar 3.13).

Gambar 3.13. Penentuaan ketebalan lapisan batuan.

Formula lain yang digunakan pad apenentuan ketebalan adalah


dengan memperhatikan besar dip angle dan slope (sudut lereng).
Kedudukan perlapisan batuan dapat berada dalam dua kondisi
dimana berlawanan atau searah dengan slope. Berdasarkan
kondisi ini, maka terdapat empar formula yang digunakan yaitu
(Gambar 3.14):
a. Slope dan dip berlawanan arah. Kondisinya angle of slope
(Y) ditambah dip angle (X) adalah kurang dari 90o. Formula
yang digunakan adalah BC = AB Sin (X+Y).
b. Slope dan dip berlawanan awah. Kondisinya angle of slope
(Y) ditambah dip angle (X) adalah lebih besar dari 90o.
Formula yang digunakan adalah: BC = ABCos(X+Y-90o)
atau BC = AB Sin [180o-(X+Y)].
c. Slope dan dip memiliki arah yang sama. Kondisinya dip
lebih besar dari slope. Formula yang digunakan adalah AC
= AB Sin (X Y).
d. Slope dan dip memiliki arah yang sama. Kondisinya dip
lebih kecil dari slope. Formula yang digunakan adalah BC =
AB Sin (Y X).

38

Pengukuran ketebalan dapat dilakukan pada satuan batuan atau


setiap perlapisan batuan. Pengertian satuan batuan adalah
bebapa lapisan yang memiliki kenampakan ciri litologi yang sama.
Kalau satuan batuan dapat dipetakan dalam skala 1 ; 25.000,
maka satuan batuan yang demikian menurut Sandi Stratigrafi
Indonesia disebut sebagai formasi, yakni satuan dasar dalam
litostratigrafi.
B

B
C

A
X

Y
X

C
(b) BC = ABCos(X+Y-90o) atau

(a) BC = AB Sin (X+Y).

BC = AB Sin [180o-(X+Y)]
B
Y

A
C

(c) AC = AB Sin (X Y)

(d) BC = AB Sin (Y X)

Gambar 3.14. Formula ketebalan lapisan batuan

39

40

Surficial/superficial lithologic patterns

41

Sedimentary lithologic patterns

42

Symbols for Sedimentary depositional structures

43

Volcanic/Igneous extrusive lithologic patterns

Plutonic/Igneous-intrusive lithologic pattern

44

Metamorphic litologic patterns

45

LEMBAR DESKRIPSI
Daerah

Tanggal

Tujuan

Cuaca

STA

LP

Catatan

46

SKETSA
STA/LP :

Lokasi :

47

LEMBAR DESKRIPSI
Daerah

Tanggal

Tujuan

Cuaca

STA

LP

Catatan

48

SKETSA
STA/LP :

Lokasi :

49

LEMBAR DESKRIPSI
Daerah

Tanggal

Tujuan

Cuaca

STA

LP

Catatan

50

SKETSA
STA/LP :

Lokasi :

51

LEMBAR DESKRIPSI
Daerah

Tanggal

Tujuan

Cuaca

STA

LP

Catatan

52

SKETSA
STA/LP :

Lokasi :

53

LEMBAR DESKRIPSI
Daerah

Tanggal

Tujuan

Cuaca

STA

LP

Catatan

54

SKETSA
STA/LP :

Lokasi :

55

LEMBAR DESKRIPSI
Daerah

Tanggal

Tujuan

Cuaca

STA

LP

Catatan

56

SKETSA
STA/LP :

Lokasi :

57