Anda di halaman 1dari 9

TEORI PELEDAKAN

Kegiatan Peledakan dalam penambangan batubara bertujuan untuk


membongkar lapisan penutup (overburden) yang berada di atas lapisan
batubara.

Suatu operasi peledakan dinyatakan berhasil dengan baik pada kegiatan penambangan
apabila (Koesnaryo, 2001):
• Target produksi terpenuhi (dinyatakan dalam ton/hari atau ton/bulan).
• Penggunaan bahan peledak efisien yang dinyatakan dalam jumlah batuan yang
berhasil dibongkar per kilogram bahan peledak (disebut powder factor).
• Diperoleh fragmentasi batuan berukuran merata dengan sedikit bongkah (kurang dari
15 % dari jumlah batuan yang terbongkar per peledakan).
• Diperoleh dinding batuan yang stabil dan rata (tidak ada overbreak, overhang,
retakan-retakan).
• Aman
• Dampak terhadap lingkungan (flyrock, getaran, kebisingan, gas beracun, debu)
minimal.
Faktor-faktor atau Parameter - parameter yang mempengaruhi dalam
kegiatan peledakan, yaitu :

3. Diameter pemboran (Bore Hole Diameter),


Ukuran diameter lubang ledak yang akan dipilih bergantung pada volume massa
batuan yang akan dibongkar, tinggi jenjang dan konfigurasi bahan isian peledak,
tingkat fragmentasi yang diinginkan, alat bor dan bit yang tersedia, dan biaya
pemboran.
5. Jenjang (Bench),
Bentuk jenjang akan mempengaruhi kemiringan lubang ledak. Jenjang miring akan
memberikan lubang ledak miring dan sebaliknya jenjang tegak akan memberikan
lubang ledak tegak.
7. Burden (B),
Burden adalah jarak tegak lurus antara lubang ledak terhadap bidang bebas terdekat
dan merupakan arah pemindahan batuan (displacement) akan terjadi.
Jika burden terlalu kecil memungkinkan terjadinya fly rock, air blast dan fragmentasi
batuan yang dihasilkan relatif tidak seragam, sedangkan burden yang terlalu besar
maka akan terjadi backbreak dan kerusakan pada dinding jenjang.
1. Spasi (S),
Spasi adalah jarak terdekat antara dua lubang ledak yang berdekatan di dalam satu
baris (row). Apabila jarak spasi terlalu kecil akan menyebabkan batuan hancur
menjadi halus, disebabkan karena energi yang menekan terlalu kuat, dan
menimbulkaan efek ledakan berupa noise (kebisingan) dan flyrocks.
Sedangkan bila spasi terlalu besar akan menyebabkan banyak bongkah atau bahkan
batuan hanya mengalami keretakan dan menimbulkan tonjolan diantara dua lubang
ledak setelah diledakkan.
4. Stemming (T),
Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang ledak, yang letaknya di
atas kolom isian bahan peledak.
Fungsi stemming adalah agar terjadi keseimbangan tekanan dan mengurung gas-gas
hasil ledakan sehingga dapat menekan batuan dengan energi yang maksimal dan
juga berfungsi untuk mencegah agar tidak terjadi batuan terbang (flyrock) dan
ledakan tekanan udara (airblast) saat peledakan.
1. Subdrill (J),
Subdrilling adalah tambahan kedalaman pada lubang bor di bawah lantai jenjang
yang dibuat dengan maksud agar batuan dapat terbongkar sebatas lantai jenjangnya.
Jika panjang subdrilling terlalu kecil maka batuan pada batas lantai jenjang (toe)
tidak lengkap terbongkar sehingga akan menyisakan tonjolan pada lantai
jenjangnya, sebaliknya bila panjang subdrilling terlalu besar maka akan
menghasilkan ground vibration dan secara langsung akan menambah biaya
pemboran dan peledakan.
4. Kedalaman Lubang Ledak (H),
Kedalaman lubang ledak merupakan jumlah total antara tinggi jenjang dengan
besarnya subdrilling. Dalam penentuan kedalaman lubang ledak biasanya
disesuaikan dengan tingkat produksi (kapasitas alat muat) dan pertimbangan
geoteknik.
6. Panjang Kolom Isian (PC),
Panjang kolom isian merupakan panjang kolom lubang ledak yang akan diisi bahan
peledak. Panjang kolom ini merupakan kedalaman lubang ledak dikurangi panjang
stemming yang digunakan.
1. Tinggi Jenjang (L),
Secara spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan lubang bor dan
alat muat yang tersedia. Tinggi jenjang berpengaruh terhadap hasil peledakan
seperti fragmentasi batuan, ledakan udara, batu terbang dan getaran tanah. Hal ini
dipengaruhi oleh jarak burden.
3. Konsentrasi Isian (Loading Density),
Konsentrasi isian merupakan jumlah isian bahan peledak yang digunakan dalam
kolom isian (PC) lubang tembak. Untuk menghitung lubang tembak maka harus
ditentukan dulu jumlah isian bahan peledak permeter panjang kolom isian (loading
density).
5. Powder Factor (PF),
PF merupakan ukuran banyaknya jumlah bahan peledak yang digunakan (Kg) per
setiap volume material overburden yang akan diledakkan.
Gambar Geometri Peledakan
Pola Peledakan

Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang-lubang bor dalam
satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya, ataupun antara lubang bor yang
satu dengan lubang bor yang lainnya. Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan
urutan waktu peledakan serta arah runtuhan material yang diharapkan.

Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut :


• Box Cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan dan
membentuk kotak.
• Corner cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke salah satu sudut
dari bidang bebasnya.
• V cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan dan membentuk
huruf V.

Berdasarkan urutan waktu peledakan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut :


9. Pola peledakan serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan secara
serentak untuk semua lubang ledak.
10. Pola peledakan beruntun, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan dengan
waktu tunda antara baris yang satu dengan baris lainnya.
Terima Kasih