Anda di halaman 1dari 11

PEMERIKSAAN SEDIMEN

Pemeriksaan sedimen urin termesuk pemeriksaan rutin. Urin yang dipakai untuk
pemeriksaan itu adalah urin segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet, sebaiknya
formalin. Yang paling baik untuk pemeriksaan sedimen adalah urin pekat, yaitu yang mempunyai
berat jenis 1023 atau lebih tinggi ; urin yang pekat lebih mudah didapat bila memakai urin pagi
sebagai bahan pemeriksaan.
Pada pemeriksaan ini diusahakan menyebut hasil pemeriksaan secara semikuantitatif
dengan menyebut jumlah unsur sedimen yang bermakna per lapangan penglihatan.
UNSUR-UNSUR SEDIMENT
Lazimnya unsur-unsur sedimen dibagi atas 2 golongan: yang organik (organized), yaitu
yang berasal dari suatu organ atau jaringan dan yang tak organik (unorganized) yang tidak
berasal dari sesuatu jaringan. Biasanya unsur organik lebih bermakna daripada yang tak organik.
A. Unsur-Unsur Organik
1. Sel Epitel

Sel ini berinti satu; ukurannya lebih besar dari leukosit; bentuknya berbeda menurut
tempat asalnya. Sel epitel gepeng (skuameus) lebih banyak dilihat dalam urin wanita
dari pada pria dan berasal dari vulva atau dari uretra bagian distal. Sel epitel skuameus
mempunyai bentuk yang berbeda-beda, besarnya sering dua sampai tiga kali leukosit,
sedangkan sitoplasmanya biasanya tanpa struktur tertentu. Sel-sel epitel yang berasal
dari kantung kencing sering mempunyai tonjolan dan kadang-kadang diberi nama sel
transisional; untuk dapat membedakan sel epitel gepeng dari sel transisional tidak selalu
mudah dan memerlukan pengalaman dan kejujuran yang mendalam. Sel-sel yang berasal
dari pelvis ginjal dan dari tubuli ginjal lebih bulat dan lebih kecil dari sel epitel
skuameus. Dalam laporan sedimen urin hendaknya diusahakan membedakan sel epitel
gepeng dari yang bulat karena implikasinya mengenai tempat asal itu.
2. Leukosit
Tampak seperti benda bulat yang biasanya berbutir halus. Intinya lebih jelas nampak jika
kepada sedimen diberikan setetes asam asetat 10%. Untuk mengetahui asal leukosit,
pewarnaan Sternheimer-Malbin sangat berguna.
3. Eritrosit
Rupanga berbeda menurut lingkungannya; dalam urin pekat mengerut (crenated), dalam
urin encer bengkak dan hampir tak berwarna; dalam urin lindi mengecil sekali. Ertitrosit
sering terlihat sebagai benda bulat tanpa struktur yang mempunyai warna kehijau-

4.

5.

6.
7.

8.
9.
10.

hijauan. Jika ragu-ragu, tambahlah setetes larutan asam asetat 10% kepada sediment;
eritrosit-eritrosit akan pecah karena itu.
Silinder
Ada bermacam-macan yang harus dibeda-bedakan :
a. Silinder Hialin
Silinder yang sisi-sisinya paralel dan ujung-ujung membulat; homogen (tanpa
struktur) dan tidak berwarna. Karena ciri-ciri terakhir silinder hialin sukar nampak.
b. Silinder Berbutir
Dari silinder macam ini ada 2 bentuk lagi, yaitu dengan butir-butir halus dan yang
berbutir kasar. Yang berbutir halus mempunyai bentuk seperti silinder hialin; yang
berbutir kasar sering lebih pendek dan lebih tebal.
c. Silinder Lilin
Tak berwarna atau sedikit abu-abu; lebih lebar dari silinder hialin; mempunyai
kilauan seperti permukaan lilin; pinggir-pinggir sering tidak rata oleh adanya
lekukan-lekukan, sedangkan ujung-ujungnya sering bersudut.
d. Silinder Fibrin
e. Silinder Eritrosit
Pada permukaan silinder ini terlihat eritrosit-eritrosit. Adakalanya eritrosit-eritrosit
tidak jelas kelihatan; biarpun begitu silinder eritrosit masih memperlihatkan bekasbekas eritrosit karena ada warna kemerah-merahan.
f. Silinder Leukosit
Silinder yang tersusun dari leukosit atau yang permukaannya dilapisi oleh leukosit.
g. Silinder Lemak
Silinder ini mengandung bitir-butir lemak.
Ovale Fat Bodies
Sel epitel yang mengalami degenerasi lemak, bentuknyaa membulat. Sifat lemak dapat
dinyatakan dengan memberikan Sudan III kepada sediment. Lemak mungkin berkias
ganda sifat ini dapat dipastikan dengan menggunakan mikroskop polarisasi.
Benang Lendir
Bentuknya panjang, sempit dan berombak-ombak.
Silindroid
Hampir serupa silinder hialin, tetapi salah satu ujung lambat-lambat menyempit, menjadi
halus serupa benang.
Spermatozoa
Potongan-Potongan Jaringan
Parasit-Parasit

Mungkin Trichomonas vaginalis atau Schistosoma haematobium.


11. Bakteri-Bakteri
B. Unsur-Unsur Tak Organik
1. Bahan Amorf. Urat-urat dalam urin asam dan fosfat-fosfat dalam urin lindi.
2. Kristal-Kristal dalam Urin Normal
a. Dalam urin asam; asam urat, natrium urat dan jarang sekali kalsium sulfat. Kristal

asam urat biasanya berwarna kuning.


b. Dalam urin asam atau yang netral atau yang agak lidi ; kalsium oksalat dan kadangkadang asam hipurat.
c. Dalam urin lindi atau kadang-kadang dalam yang netral; ammonium-magnesium
phosfat (tripelfosfat) dan jarang-jarang dikalsiumfosfat.
d. Dalam urin lindi; kalsium karbonat, ammonium biurat dan kalsium fosfat.
3. Kristal-Kristal yang menunjukan keadaan abnormal : cystine, leucine, tyrosine,
cholesterol, bilirubin dan hematoidin.
4. Kristal-kristal yang berasal bari suatu bahan obat seperti bermacam-macam sulfonamida
5. Bahan Lemak
Warnakan dengan Sudan III atau periksa dengan mikroskop polarisasi.
Laporan jumlah unsur dengan cara semikuantitatif mempunyai arti yang terbatas.
Besarnya diuresis dan pekatnya urin berpengaruh kepada hasil semikuantitatif itu. Lagi pula,
dalam urin yang rendah berat jenisnya, yaitu kurang dari 1010 dan yang reaksinya asam lemah,
silinder hialin dan eritrosit lekas hilang.
Agar penilaian semikuantitatif mempunyai makna, berpeganglah kepada sediment bahwa
sedimen yang semula terkandung dalam 7-8 ml urin dipekatkan sampai menjadi ml. Pada
umumnya unsur-unsur organik lebih bermakna daripada yang tak organik.
Sel-sel epitel hampir selalu ada, apalagi yang skuameus dan berasal dari kandung
kencing, urethra dan vagina. Sel epitel bulat dianggap berasal dari tubulu ginjal dan tidak
mempunyai arti jika jumlahnya sangat kecil. Pada glomerulonephritis jumlah sel epitel bulat itu
bertambah banyak dan mungkin menyatakan tanda-tanda degenerasi seperti degenerasi lemak,
sel epitel bulat yang berasal dari saluran kencing proksimal sukar dibedakan dari leukosit karena
ukurannya yang hampir sama. Bertambahnya sel epitel menunjukan kepada iritasi atau radang
sesuatu permukaan selaput lendir dalam tractus urogenitalis.

Ovale fat bodies adalah sel epitel bulat yang mengandung lemak yang berasal dari tubuli
ginjal dan dipertalikan dengan sindrom nefrotik.
Leukosit. Angka-angka jumlah leukosit per 24 jam yang dilakukan dengan Addis Count
membuktikan bahwa sejimlah sampai 650.000 leukosit per 24 jam tidak selalu berarti abnormal.
Sangat sukarlah untuk mengatakan sampai berapa banyak leukosit dalam pemeriksaan biasa
masih boleh dipandang normal. Sekedar pegangan, dapat diberikan: lebih dari 5 leukosit/LPB
menunjukan kepada hal yang abnormal.
Dalam urin dari wanita dewasa, mungkin didapat lebih banyak leukosit yaitu yang
berasal dari vagina dan vulva. Jika hendak mengesampingkan pencemaran itu, periksalah urin
aliran tengah. Pada cara ini wanita diminta lebih dulu membersihkan celah kelaminnya. Bagian
pertama dari aliran kencing tidak ditampung; tanpa menghentikan aliran kencing bagian
berikutnya ditampung, sedangkan bagian akhir dari aliran urin dibuang juga.
Radang purulen disuatu tractus urogenitalis (umpamanya pyelonephritis, cystitis,
urethritis) menyebabkan adanya banyak leukosit dalam sediment. Pada glomerulonephritis acuta
jumlahnya tidak besar. Selain oleh peradangan, leukosit dalam sediment urin juga bertambah
banyak oleh ump. Urolithiasis, tumor, dsb.
Jika leukosit terdapat berkelompok-kelompok, hal itu perlu dilaporkan tersendiri
disamping jumlah leikosit perlapang pandang. Begitu pula jika ditemukan glitter cells dengan
memakai pewarnaan Sternheimer-Malbin.
Eritrosit. Addis count: 130.000 eritrosit per 24 jam mungkin tidak berarti abnormal. Pada
pemeriksaan biara waspadalah jika terdapat lebih dari satu eritrosit per lapang pandang besar
(LPB). Dalam menafsirkan hasil pemeriksaan timbanglah kemungkinan eritrosit datang dari
vagina, radang, trauma, ditesis, hemoragik, dsb. Adalah keadaan-keadaan yang menyebabkan
adanya eritrosit dalam urin. Dari bentuk eritrosi tidak dapat diketahui dari mana eritrosit itu
berasal: prerenal, renal atau postrenal.
Silinder. Tempat pembentukannya adalah tubuli ginjal. Dengan Addis acount didapat
sejumlah sampai 2.000 silinder hialin per 24 jam pada orang normal. Pada pemeriksaan biasa
adanya belaka mungkin sudah menunjukan ke satu hal yang tidak normal.
Biarpun tempat pembentukan silinder selalu di dalam lumen tubuli ginjal, ukurannnya
berbeda-beda menurut besarnya lumen tubuli. Ada indikasi bahwa semakin besar silinder,
semakin berat keadaan yang menyebabkan terbentuknya silinder. Terjadinya silinder dalam

tubuli dipertalikan dengan sekresi semacam mucoprotein oleh tubuli sedangkan reaksi asam
dalam lumen tubuli mempermudah pembentukannya.
Jika urin bereaksi lindi, kemungkinan mendapat silinder kurang baik. Silinder hialin
menunjukan kepada iritasi atau kelainan yang ringan. Yang berbutir halus sama artinya dengan
hialin, sedangkan yang berbutir kasar mengarah kepada suatu kelainan yang lebih serius.
Silinder lilin didapat pada keadaan yang lebih berat seperti nephritis lanjut dan pada
amyloidosis. Jika sediment mengandung eritrosit, leukosit, dll., unsur-unsur itu dapat melekat
pada permukaan silinder dan menyusun silinder ertrosit, silinder leukosit, dsb.
Benang lendir. Didapat pada iritasi permukaan selaput lendir tractus urogenitalis bagian
distal.
Silindroid. Tidak mempunyai arti banyak; mungkin sekali silindroid berarti adanya
radang yang ringan.
Spermatozoa mungkin didapat baik dalam urin pria atau wanita dan tidak mempunyai arti
dalam klinik.
Potongan jaringan kalau didapat berarti satu hal yang serius dan memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut.
Bakteri. Bakteri yang didapat di samping kelainan sediment lain, khusus bersama dengan
banyaknya leukosit, menunjukan kepada suatu infeksi dan dapat diperiksa lebih lanjut dengan
memulas sediment dengan Gram atau dengan biakan urin untuk diidentifikasi. Jika ada bakteri,
tetapi sedimen bersih, mungkin sekali bakteri itu cemaran yang kemudian masuk ke dalam
urin.
Bakteri-bakteri tertentu yang terdapat dalam urin sebelum dikeluarkan dari tubuh dapat
mengubah nitrat dalam urin menjadi nitrit. Kadang-kadang dikehendaki agar diperiksa adanya
nitrit dalam urin, karena pendapat itu menunjuk kepada infeksi dlam saluran kencing dan sering
pemeriksaan itu dilakukan dengan memakai carik celup. Meskipun cara itu cepat tetapi perlu
mengingat kelemahan-kelemahannya, seperti:
1. Bakteri ybs. harus mengandung reduktase agar perubahan nitrat menjadi nitrit dapat

dilakukan; E. coli, Proteus, Enterobacter, dll., dapat mengerjakannya, tetapi ada juga
bakteri-bakteri patogen yang tidak mempunyai reduktase.
2. Urin harus paling sedikit 4 jam dalam kandung kencing, waktu yang kurang dari itu tidak
cukup untuk memungkinkan reduksi; karena itu urin pagi yang harus dipakai.
3. Adanya vitamin C dalam urin menyebabkan negatif palsu.

4. Urin harus berisi cukup banyak nitrat (berasal dari sayur-sayuran); pasien yang menjalani

diit tanpa sayuran mungkin negatif hasil pemeriksaan terhadap nitrit.


Bentuk sediment tak organik perlu diketahui juga agar unsur-unsur itu tidak dianggap
sesuatu yang berarti. Bahan amorf, kristal-kristal asam urat, calciumoxalat, tripelfaofat ialah
yang sering dilihat dalam sediment dan tak mempunyai arti apapun juga. Adanya kristal-kristal
tersebut tidak ada pertalian langsung dengan adanya batu kencing, tetapi merupakan zat sampah
metabolismus yang normal; adanya dan banyaknya ikut ditentukan oleh jenis makanan,
banyaknya makanan, kecepatan metabolismus dan konsentrasi urin.
Tidak jarang dalam sediment urin kelihatan unsur-unsur yang tidak mungkin berasal dari
dalam tubuh manusia, seperti benang atau serat kapas halus, rambut, diatome, dsb. Hal itu
menandakan bahwa cara memperoleh contoh urin tidak memenuhi syarat-syarat kebersihan.
Sangat berhati-hatilah menamakan suatu kristal tyrosine, leucine, dsb. Adanya asam-asam
amino itu dalam jumlah besar sehingga mengkristal dalam urin berarti kerusakan hati yang
lanjut. Kalau ingin memastikan jenis kristal, pakailah salah satu tes kimia untuk mengenal kristal
itu. Mengatakan dalam laporan kristal yang tak dikenal lebih dapat dipertanggungjawabkan
dari pada main tebak saja. Dari riwayat penderita dan pengobatannya biasa dapat diperoleh faktafakta yang menerangkan wujud dan jenis kristal tersebut.
Meskipun derivat-derivat sulfonamida sekarang tidak banyak lagi dipakai dalam klinik,
masih ada baiknya mengemukakan sesuatu mengenai kristal-kristal obat-obatan itu dalam
sediment urin. Janganlah menyebut begitu saja bahwa sesuatu kristal itulah sufadiazin,
sulfapyridin, dsb. Petunjuk lebih lanjut bisa didapat dengan melakukan tes lignin terhadap
sulfonamida:
1. Taruhlah beberapa tetes dari sediment urin ke atas sepotong kertas murah (kertas surat kabar

yang mengandung banyak lignin).


2. Tambahlah setetes kecil HCl 25% ke tengah tempat yang basah itu.
3. Warna kuning tua atau jingga yang segera terjadi menunjukan kepada adanya suatu
sulfonamida.
Untuk identifikasi beberapa macam unsur dalam sediment dapat dilakukan tes khusus
sebagai pelengkap pemeriksaan, yaitu:
1. Tes Terhadap Tyrosine

Campurlah cukup banyak dari sediment urin yang disangka mengandung tyrisine dengan
2 ml dari reagens Moerner (formalin 1 ml; aquades 25 ml dan asam sulfat pekat 55 ml).
- Panasilah berhati-hati sampai mendidih.
- Timbulnya warna hijau menandakan adanya tyrosine.
2. Tes terhadap Leucine
- Sediment yang tersangka mengandung leucine dicampur dengan 1 tetes larutan
cuprisulfat10%.
- Terjadinya warna biru menendakan adanya leucine. Kalau kemudian dipanasi, maka tidak
boleh terjadi reduksi cuprisulfat itu, warna biru tidak boleh berubah menjadi kuning.
3. Tes Tehadap Hemosiderin
- Sediment sebanyak ml dicampur dengan 5 ml larutan segar kalium-ferrosianida 10%.
Biarkan 5 menit.
- Tambahlah kemudian 5 ml HCl 0,1 N dan biarkan selama 5 menit lagi.
- Pusingkanlah campuran itu selama 5 menit pada 2.000 rpm.
- Sediment diperiksa lagi: hemosiderin terlihat seperti butir-butir yang biru warnanya dan
ditemukan sebagian bebas dan sebagian lagi di dalam sel-sel epitel atau silinder.
4. Tes Terhadap Zat Lemak
-

Zat lemak diwarnai dengan Sudan III atau Sudan IV yang bersifat larut lemak. Larutan zat
warna: Sudan III (atau IV) 1 g; alkohol 70% 50 ml; aseton 50 ml.
-

Campurlah sediment yang ada dalam tabung sentrifuge dengan beberapa tetes larutan
Sudan III (atau IV) dan biarkan selama 5 menit.
Periksalah dengan mikroskop.
Zat lemak menjadi jingga atau merah; dapat ditemukan sebagai butir-butir bebas pada
lipiduria tau di dalam sel-sel berasal dari tubuli yang mengalami degenerasi lemak.

Selain memakai pewarnaan zat lemak dapat dinyatakan juga memakai mikroskop polarisasi
karena sifat berkias gandanya.
JENIS-JENIS PEMERIKSAAN SEDIMEN URIN
A. Pemeriksaan Makroskopi

Perhatikanlah dulu dengan mata belaka ada-tidaknya sediment dalam botol


penampung urin. Jika ada, catatlah jumlah dan rupanya.
Jika ingin segera mengetahui jenis sediment itu, kocoklah botol urin dan tuanglah
sebagian urin tersebut ka dalam tabung reaksi. Fosfat-fosfat yang mengendap dalam

lingkungan lindi akan larut dan jika diberi sejumlah kecil asam asetat encer. Sediment yang
tersusun dari urat-urau dalam lingkungan asam akan larut oleh pemanasan kira-kira 50 oC.
B. Pemeriksaan Mikroskopi
Tahap-tahap pemeriksaan mikroskopi adalah sebagai berikut:
1. Kocoklah botol urin supaya sedimen bercampur dengan cairan atas.
a. Jika urin itu mengandung banyak sekali sedimen fosfat dalam lingkungan lindi,
kepada urin itu boleh diberikan sedikit asam asetat encer untuk melarutkan sebagian
fosfat itu;
b. Jika terdapat terlalu banyak sediment urat dalam lingkunagn asam, urin boleh
dipanasi sedikit agar sebagian urat melarut.
2. Masukkanlah 7-8 ml dari urin yang sudah dibebasasamkan itu ke dalam tabung sentrifuge
dan pusinglah selama 5 menit pada 1.500-2.000 rpm.
3. Tuanglah cairan atas keluar dari tabung dengan satu gerakan yang agak cepat tetapi
luwes; kemudian tegakkanlah lagi tabung hingga cairan yang masih melekat pada dinding
mengalir kembali ke dasar tabung. Volume sediment dan cairan menjadi kira-kira ml.
4. Kocoklah tabung untuk mensuspensikan sediment.
5. Dengan menggunakan pipet pasteur taruhlah 2 tetes dari sediment itu terpisah ke atas
sebuah kaca objek dan tutuplah tetes masing-masing dengan kaca penutup.
6. Turunkanlah kondensor mikroskop atau kecilkanlah diafragmanya, kemudian periksalah
sediment itu dengan lensa objektif kecil (10 x).
7. Periksalah kemudian sediment itu dengan memakai lensa objektif besar (40 x).
8. Laporkanlah pendapat mengenai unsur-unsur sediment dengan cara seperti dijelaskan di
bawah ini.
Lapangan penglihatan yang nampak dengan objek kecil dinamakan lapangan
penglihatan kecil atau LPK. Lapangan penglihatan dengan objek besar dinamakan
lapangan penglihatan besar atau LPB.
Jumlah unsur sedimen nampak diberitakan secara semikuantitatif, yaitu jumlah ratarata per LPK atau per LPB. Jumlah silinder dilaporkan (rata-ratanya) per LPK; jumlah ratarata leukosit dan eritrosit dilaporkan per LPB. Unsur-unsur sedimen yang kurang bermekna
tidak dilaporkan secara tadi; umpamanya jumlah epitel dan kristal cukup diberitahukan
dengan tanda-tanda atau perkataan : + (ada), ++ (banyak) dan +++ (banyak sekali).
Unsur-unsur sedimen urinmempunyai indeks refraksi yang tidak jauh berbeda dari
indeks refraksi urin; untuk lebih mudah melihat unsur-unsur itu perlu kontras antara unsurunsur dan cairan dipertinggi. Itu dicapai dengan menurunkan kondensor mikroskop atau

mengecilkan diafragmanya. Jika memiliki kondensor fase kontras pemakaiannya sangat


membantu pemeriksaan.
Cara lain untuk lebih menonjolkan unsur sedimen dan memperjelas strukturnya ialah
berusaha memberi warna kepada unsur-unsurnya. Pewarnaan menurut Sternheimer-Malbin
sebenarnya dikemukakan mereka untuk membedakan leukosit yang berasal dari saluran
kencing proksimal dengan leukosit yang berasal dari bagian distal, tetapi unsur-unsur lain
dalam sedimen juga memperoleh warna tertentu.
Larutan Sternheimer-Malbin terdiri dari larutan A dan B yang disimpan terpisah.
Larutan A: methylviolet 3 g dilarutkan dalam alkohol 95% 20 ml; tambahkan amonium
oksalat 0,8 g dan aquades ad 80 ml. Larutan B: safranin 0,25 g, larutkan dalam alkohol 95%
10 ml, tambahkan aquades ad 100 ml. Larutan kerja dibuat dengan mencampur 3 ml larutan
A dengan 97 ml larutan B kemudian disaring. Larutan kerja hanya tahan satu hari. Sediment
yang sudah disuspensikan dalam tabung sentrifuge dicampur dengan 2-3 tetes larutan kerja
Sternheimer-Malbin.
Hasil pewarnaan menjadi sbb: sel epitel skuameus (gepeng) menjadi agak ungu
dengan inti unggu tua; sel-sel yang berasal dari ginjal berwarna antara jingga dan ungu
dengan inti unggu tua. Eritrosit tidak berwarna atau agak merah jambu muda. Leukosit yang
berasal dari saluran kencing distal berwarna merah muda dengan inti unggu, sedangkan yang
berasal dari ginjal (glitter cells) lebih besar ukurannya dan menjadi biru muda. Silinder hialin
dan silinder lilin tidak berwarna atau agak merah jambu muda; silinder berbutir berwarna
merah jambu dengan granula unggu; silinder eritrosit mendapat warna antara unggu dan
merah. Unsur-unsur lain yang mudah dikenal berbeda-beda hasil pewarnaannya.
Sekali lagi ditegaskan bahwa pemberian warna pada sediment urin hanyalah cara
mempermudah pemeriksaan, sehingga pewarnaan itu tidak boleh menjadi alasan melakukan
pemeriksaan sedimen secara ceroboh. Keterampilan dan ketelitian jauh lebih bernilai dari
pada pemakaian zat warna. Yang jelas keuntungan pewarna Sternheimer-Malbin yang paling
berarti adalah untuk membedakan glitter cells dari leukosit-leukosit yang tidak berasal dari
ginjal dan untuk menemukan silinder.

C. Pemeriksaan secara Addis Count

Pemriksaan secara Addis count adalah pemeriksaa yang bertujuan untuk mengetahui
jumlah unsur sediment yang bermakna dalam urin 24 jam bermanfaat dalam menafsirkan
hasil pemeriksaan sediment. Addis count berguna juga untuk mengikuti jalan penyakit, upaya
itu tidak untuk tujuan diagnostik.
Salah satu cara untuk melakukan Addis count ialah sebagai berikut:
1. Kumpulkanlah urin malam 12 jam dengan pembatasan minuman dan ukurlah volume
urin itu.
2. Perhitungkanlah volume urin seperlima jam dan masukkanlah jumlah itu ke dalam tabung
centrifuge yang bergaris.
3.
D. Pemeriksaan Bakteriologi
Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Kuman yang sering menyebabkan unfeksi
pada ginjal dan saluran urin adalah: Escherichia coli, Aerobacter aerogenes, Staphylococci,
Streptococci, Salmonella typhi, Proteus vulgaris, Pseudomonas aeruginosa, Mycobacterium
tuberculosis dan Neissereria gonorrhaeae.
Jika tersangka ada infeksi periksalah sediment urin yang dipulas secara Gram dan
Ziehl Neelsen; hasilnya sering memberi petunjuk ke arah diagnosa bakteriil, meskipun tidak
secara mutlak.
Jika ingin melakukan biakan urin, teknik memperoleh sampel urin menjadi sangat
penting; cemaran bakteri dari luar dapat mengacaukan tafsiran hasil biakan. Tiap alat yang
dipakai harus steril pula.
Pada pria tidak diperlukan kateter untuk mengambil sampel urin untuk biakan; glans
penis dan orificium externum urethrae harus dibersihkan dan pelepasan urin hendaknya
langsung ke dalam botol penampung steril yang tersedia.
Pada wanita tidak selalu diperlukan kataterisasi, asal mengindahkan syarat-syarat
memperoleh sampel yang disebut urin aliran tengah (cleean voided midstream urine). Pada
ikhtiar ini rima pudendi dan khususnya mulut urethra dibersihkan dengan cairan steril dan
kemudian urin dilepaskan dengan menjaga jangan sampai arus urin itu kena permukaan labia.
Urin dikeluarkan langsung ke dalam botol steril, urin yang pertama-tama keluat tidak ikut
serta ditampung. Ikhtiar lain ialah dengan memperoleh urin langsung dari kandung kencing
melalui pungsi suprapubik. Tindakan ini hanya boleh dilakukan oleh seorang dokter.

Pemeriksaan bakteriologi sedapat-dapatnya dilakukan dengan cara kuantitatif, yaitu


dengan memperhitungkan berapa banyak kuman didapat rata-rata per ml urin. Jika
dipergunakan clean voided midstream urin maka tafsiran hasil menjadi sedikit berlainan dari
urin yang diperoleh dengan kateter steril atau dengan pungsi suprapubik.
a. Jumlah kuman < 10.000 per ml urin; pendapat ini biasanya tidak dianggap infeksi yang

sebenar-benarnya.
b. Jumlah kuman 10.000-100.000 per ml urin. Mungkin berarti satu infeksi dalam saluran
urin; tafsiran ini harus didasarkan juga ataas pendapat pemeriksaan lain-lain.
c. Jumlah kuman > 100.000 biasanya berarti infeksi. Kalau ada infeksi jumlahnya lebih dari
100.000, sering lebih dari 1.000.000 per ml urin.