Anda di halaman 1dari 18

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS


A. Definisi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) Merupakan virus yang merusak
sistem kekebalan tubuh manusia yang tiidak dapat hidup di luar tubuh manusia.
Kerusakan sistem kekebalan tubuh ini akan menimbulkan kerentanan terhadap
infeksi penyakit
Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala,
infeksi dan kondisi yang diakibatkan infeksi HIV pada tubuh. Muncul akibat
rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia sehingga infeksi dan penyakit mudah
menyerang tubuh dan dapat menyebabkan kematian. Infeksi oportunistik adalah
infeksi yang muncul akibat lemahnya system pertahanan tubuh yang telah terinfeksi
HIV atau oleh sebab lain.
B. Klasifikasi
Klasifikasi HIV berdasarkan tampilan klinisnya dan stadium:

Tampilan Klinis

Stadium Klinis

Asymptomatic/ Asimtomatik

Mild/ Ringan

Advance/ Lanjut

Severe/ Berat

Stadium Klinis 1
1. Tidak ada gejala
2. Pembesaran

Kelenjar

Limfe

Lymphadenopathy)

Menetap

(Persistent

Generalized

Stadium Klinis 2
1. Berat badan menurun <10% dari BB semula
2. Infeksi saluran napas berulang (sinusitis, tonsilitis, otitis media, faringitis)
3. Herpes zoster
4. Cheilitis angularis
5. Ulkus oral yang berulang
6. Papular pruritic eruption
7. Dermatitis seboroika
8. Infeksi jamur kuku

Stadium Klinis 3
1. Berat badan menurun >10% dari BB semula
2. Diare kronis yg tdk diketahui penyebabnya berlangsung > 1 bulan
3. Demam persisten tanpa sebab yang jelas yang (intermiten atau konstan >
37,5oC) > 1 bulan
4. Kandidiasis Oral persisten (thrush)
5. Oral Hairy Leukoplakia
6. TB paru
7. Infeksi bakteri berat (pnemonia, empiema, pyomiositis, infeksi tulang atau
sendi, meningitis atau bakteremia)
8. Stomatitis ulseratif nekrotizing akut, gingivitis atau periodontitis
9. Anemi (< 8g/dL), netropeni (< 0,5x109/L) dan/atau trombositopeni kronis yg
tdk dpt diterangkan sebabnya

Stadium Klinis 4
1. HIV wasting syndrome (BB turun 10% + diare kronik > 1 bln atau demam >1
bln yg tdk disebabkan peny lain)Pneumonia Pneumocystis (PCP)
2. Pneumonia bakteri berat yg berulang
3. Infeksi herpes simpleks kronis (orolabial, genital atau anorektal > 1 bulan atau
viseral)
4. Kandidiasis esofagus (atau trakea, bronkus, paru)
5. TB ekstra paru
6. Sarkoma Kaposi
7. Infeksi Cytomegalovirus (CMV) (retinitis atau organ lain)
8. Toksoplasmosis SSP

9. Ensefalopati HIV
10. Kriptokokus ektra pulmoner termasuk meningitis
11. Infeksi mikobakteri non-TB diseminata
12. Progressive multifocal leukoencephalopathy
13. Cryptosprodiosis kronis
14. Isosporiasis kronis
15. Mikosis diseminata (histoplasmosis atau coccidioidomycosis ekstra paru)
16. Septikemi berulang (a.l. Salmonella non-typhoid)
17. Limfoma (serebral atau non Hodgkin sel B)
18. Karsinoma serviks invasif
19. Leishmaniasis diseminata atipik
20. Nefropati atau kardiomiopati terkait HIV yg simtomatis

C. Etiologi
Penyebab AIDS adalah retrovirus (HIV/ Human Immunodeficiency Virus) yang
termasuk famili retroviridae. Sarana transmisinya HIV (Retrovirus HIV) melaui :
1. Rute yang dikatahui beresiko tinggi (semen, sekresi vagina).
a. Hubungan seksual.
b. Homoseksual, biseksual (rute utama).
c. Heteroseksual (laki-laki perempuan atau sebaliknya)
2. Darah (melalui darah murni komponen selular, plasma, factor pembeku)
a. Tranfusi darah atau komponen darah.
b. Jarum suntik yang dipakai bersama-sama.
c. Tusukan jarum suntik (resiko rendah).
3. Perinatal
a. Intra placenta
b. Menyusui ASI
c. Ludah dan air mata.

D. Patofisiologi
HIV dapat diisolasi dari darah, cairan cerebrospinalis, semen, air mata, sekresi
vagina atau serviks, urine ASI, dan air liur. Penularan terjadi paling efisien melalui
darah dan semen. HIV tergolong kedalam virus yang dikenal sebagai retrovirus yang
menunjukkan bahwa virus tersebut membawa materi genetiknya ke dalam asam
ribonekleat (RNA) bukan asam deoksisribonukleat (DNA). Vition HIV (partikel virus

lengkap yang di bungkus oleh selubung pelindung). Selubung luarnya atau kapsul
viral, terdiri dari lemak lapis ganda yang mengandung banyak tonjolan protein. Duri
ini terdiri dari dua glikoprotein yaitu gp120 dan gp41. Gp mengacu kepada
glikoprotein dan ankanya mengacu kepada massa protein dalam ribuan dalton. Gp120
adalah selubung permukaan eksternal duri dan gp41 adalah bagian transmembran.
Terdapat suatu protein matrix yang disebut p17 yang mengelilingi segmen bagian
dalam membran virus. Sedangkan intinya dikelilingi oleh suatu protein kapsid yang
disebut p24. Di dalam kapsid 24 terdapat 2 untai RNA identik dan molekul
performed reserve transciptase, integrase, dan protease yang sudah terbentuk.
HIV adalah suatu retrovirus sehingga materi genetik berada dalam RNA bukan
RNA. Reserve transciptase adalah enzim yang mentranskipsikan RNA virus menjadi
DNA setelah virus masuk ke sel sasaran. Enzim-enzim lain yang menyerang RNA
adalah intergrase dan protease. HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel
sasaran yang memiliki reseptor membran CD4. Sejauh ini sel sasaran yang disukai
HIV adalah limfosit T penolong positif-CD4, atau sel T4. Sel-sel CD4+ meliputi
monosit, makrograf dan limfosit T4 helper ini merupakan sel yang paling banyak
diantara ketiga sel diatas. Sesudah terkait dengan membran sel T4 helper, HIV akan
menginjeksikan dua utas benang dengan membran sel T4 helper. Dengan
menggunakan enzim yang dikenal dengan Reserve Transciptase, HIV akan
melakukan pemprograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi unutk
membuat double-stranded DNA ( DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan
kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang
permanen.
Siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sampai sel terinfeksi diaktifkan.
Aktivasi sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen, mitogen, sitokin. Pada
saat sel t4 yang terinfeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas HIV akan
terjadi dan sel T4 akan dihancurkan. Hiv yang baru dibentuk ini akan dilepaskan
kedala plasma darah dan menginfeksi sel-sel CD4+ dan lainnya.
infeksi monosit dan makrofag tampaknya akan berlangsung secara persisten dan
tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna, tetapi sel-sel ini menjadi reservoir
bagi HIV sehingga virus tersebut dapat bersembunyi dari sistem imun dan terangkut
keseluruh tubuh lewat sistem ini unutk menginfeksi jaringan lain. Sebagian besar
jaringan ini dapat mengandung molekul CD4+ atau memiliki kemampuan
memproduksinya. Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa sesudah infeksi inisial,
+- 25% dari sel-sel kelenjar limfe akan terinfeksi pula oleh HIV.

Kecepatan produsi HIV diperkirakan berkaitan dengan status kesehatan orang


yang terjangkit infeksi HIV. Jika orang tersebut tidak sedang melawan infeksi lain
maka reproduksi HIV akan bejalan lambat. Sedangkan jika orang tersebut sedang
berperan melawan infeksi lain maka reproduksi HIV akan berjalan cepat. Keadaan ini
dapat menjelaskan periode laten yang diperlihatkan sebagaian penderita sudah
terinfeksi HIV.
Dalam respon imun, limfosit T4 memainkan beberapa peranan penting yaitu,
mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibodi,
menstimulasi limfosit T sitotoksik, memproduksi limfokin dan mempertahankan
tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi limfosit T4 terganggu, mikroorganisme
yang biasanya tidak menimbulkan penyakit memliki kesempatan untuk menginvasi
dan menyebabkan sakit yang serius. Infeksi dan maligna yang timbul sebagai akibta
gangguan dari sistem imun disebut infeksi Opportunistik.

E. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan

Hasil pada infeksi HIV

Tes Antibodi HIV

ELISA

Hasil tes yang positif dipastikan


dengan Western biot

Western biot

Inderect immunofluorecence assay


(IFA)

Positif

Hasil tes yang positif dipastikan


dengan western biot

Radioimmunoprecipitation

assay

Positif, lebih spesifik dan sensitif


daripada Western biot

(RIPA)
Pelacakan HIV

Antigen P24

Positif untuk protein virus yang


bebas

Reaksi

rantai

polimerase

(PCR:polymerase chain reaction)

Kultur

sel

mononuklear

darah

perifer untuk HIV-1

Deteksi RNA atau RNA virus


HIV

Positif kalau dua kali uji-kadar


(assay)

secara

mendeteksi

berturut-turut

enzim

reserve

transciptase

atau

antigen

p24

dengan kadar yang meningkat.

Kultur sel kuantitatif

Mengukur muatan virus dalam sel

Kultur plasma kuantitatif

Mengukur muatan virus lewat


virus bebas yang infeksius dalam
plas ma.

Mikroglobulin B2

Protein

meningkat

bersamaan

dengan berlanjutnya penyakit

Neopetrin serum

Kadar

meningkat

dengan

berlanjutnya penyakit.
Status Imun

# sel-sel CD4+

Menurun

% sel-sel CD4+

Menurun

Rasio CD4:CD8

Rasio CD4:CD8 menurun

Hitung sel darah putih

Normal hingga menurun

Kadar immunoglobulin

Meningkat

Tes fungsi sel CD4+

Sel-sel T4 mengalami penurunan


kemampuan

unutk

pereaksi

terhadap antigen

Reaksi sensitivitas pada tes kulit

Menurun hingga tidak terdapat

F. Komplikasi
1. Oral lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
penurunan berat badan, nutrisi, dehidrasi, keletihan dan cacat.
2. Neurologik
a.

Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung HIV pada sel saraf.

b.

Enselopathi

akut,

karena

reaksi

terapeutik,

hipoksia,

hipoglikemi,

ketidakseimbangan elektrolit.
c.

Infark serebral kornea sifilis meningo vaskuler, hipotensi sistemik dan


maranik endocarditis.

d.

Neuropati karena inflamasi dimielinasi oleh serangan HIV.

3. Gastrointestinal
a.

Diare, karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal.

b.

Hepatitis, karena bakteri dan virus, alkoholik.

c.

Penyakit anorektal, karena abses dan vistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi.

4. Respirasi
Infeksi karena pneumocystik, cytomegalovirus, virus influenza.
5. Dermatologik
Lesi kulit staphylococcus,dermatitis, lesi scabies, dan decubitus.
6. Sensorik
a.

Pandangan: sarkoma kaposi pada konjungtiva berefek pada kebutaan.

b.

Pendengaran: otitis eksternal akut dan otitis media akut.

G. Pencegahan
1. Penyuluhan kesehatan di sekolah tentang cara menghindari resiko terjadinya
infeksi HIV.
2. Tidak melakukan hubungan seks dengan orang yang diketahui mengidap AIDS
serta tidak bergonta-ganti pasangan.
3. Memperbanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang, begitu juga
dengan program harm reduction yang menganjurkan para pengguna jarum suntik
untuk menggunakan metode dekontaminasi dan menghentikan jarum bersama.
4. Menyediakan fasilitas konseling dan testing HIV.
5. Melakukan pemeriksaan tes HIV pada wanita hamil sejak dini untuk mencegah
penularan HIV melalui uterus dan perinatal.
6. Darah yang digunakan untuk donor sebaiknya dilakukan uji antibody HIV.
7. Sikap hati-hati terhadap penanganan, pemakaian, dan pembuangan jarum suntik,
dan alat-alat kesehatan yang bersifat tajam serta bersifat disposible.
8. Merekomendasikan pemberian immunisasi bagi anak-anak yang terinfeksi HIV
tanpa gejala dengan vaksin EPI (Expended Programme on Immunization).

H. Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah pencegahan
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi, apabila terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) maka terapinya yaitu:

1. Pengendalian infeksi oportunistik


Bertujuan menghilangkan, mengendalikan dan pemulihan infeksi opurtuniti,
nosokomial atau sepsis, tindakan ini harus di pertahankan bagi pasien di
lingkungan perawatan yang kritis.
2. Terapi AZT (Azidotimidin)
Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV dengan menghambat enzim
pembalik transcriptase.
3. Terapi antiviral baru
Untuk meningkatkan aktivitas system immune dengan menghambat replikasi
virus atau memutuskan rantai reproduksi virus padan proses nya.obat- obat ini
adalah: didanosina, ribavirin, diedoxycytidine, recombinant CD4 dapat larut.
4. Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah interveron.
5. Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T dan
mempercepat replikasi HIV.
6. Rehabilitasi bertujuan untuk memberi dukungan mental-psikologis, membantu
mengubah perilaku risiko tinggi menjadi perilaku kurang berisiko atau tidak
berisiko, mengingatkan cara hidup sehat dan mempertahankan kondisi tubuh
sehat.
7. Pendidikan untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang
sehat, hindari stres, gizi yang kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi
imunne.
8. Edukasi bagi keluarga yang bertujuan untuk mendidik keluarga pasien bagaimana
menghadapi kenyataan ketika anak mengidap AIDS dan kemungkinan isolasi dari
masyarakat.

I. Prognosis
Perjalanan alamiah penyakit AIDS belum diketahui dengan pasti. Faktorfaktor yang memegang peran untuk timbulnya AIDS pada seseorang HIV positif
belum diketahui dengan jelas. Diperkirakan bahwa infeksi HIV yang berulang dan
pemajanan terhadap infeksi-infeksi lain, seperti virus herpes simpleks, CMV, dan
EBV mengakibatkan progresivitas penyakit. Median survival pasien AIDS adalah
antara 1-2 tahun untuk negara maju dan kurang dari satu tahun untuk negara yang
sedang berkembang.

BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Aktivitas / Istirahat

Gejala

Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya,


progresi kelelahan/malaise.

Tanda

Perubahan tidur.

Kelemahan otot, menurunnya massa otot.

Respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan dalam tekanan


darah, frekuensi jantung, pernapasan.

Sirkulasi

Gejala

Proses penyembuhan luka yang lambat (bila anemia); perdarahan lama


pada cedera (jarang terjadi).

Tanda

Takikardi, perubahan tekanan darah postural.

Menurunnya volume nadi perifer.

Pucat atau sianosis; perpanjangan pengisian kapiler.

Faktor stres yang berhubungan dengan kehilangan misalnya; dukungan

Integritas Ego

Gejala

keluarga, hubungan dengan orang lain, penghasilan, gaya hidup tertentu,


dan distres spiritual.

Mengkuatirkan penampilan: alopesia, lesi, cacat dan menurunnya berat


badan.

Mengingkari diagnosa, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak berguna,


rasa bersalah, kehilangan kontrol diri, dan depresi.

Tanda

Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri.

Prilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata yang
kurang.

Gagal menepati janji atau banyak janji untuk periksa dengan gejala yang
sama.

Eliminasi

Gejala

Diare yang intermiten, terus menerus, seiring dengan atau tanpa disertai
kram abdominal.

Tanda

Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi.

Feses encer dengan atau tanpa disertai mukus atau darah.

Diare pekat yang sering.

Nyeri tekan abdominal.

Lesi atau abses rektal, perianal.

Perubahan dalam jumlah, warna, dan karakteristik urine.

Makanan / Cairan

Gejala

Tidak nafsu makan, perubahan dalam kemampuan mengenali makan,


mual/muntah.

Tanda

Disfagia, nyeri retrosternal sat menelan.

Dapat menunjukkan adanya bising usus hiperaktif.

Penurunan

berat

badan:

perawakan

kurus,

menurunnya

lemak

subkutan/massa otot.

Turgor kulit buruk.

Lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna.

Kesehatan gigi/gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal.

Edema (umum, dependen).

Higiene

Gejala

Tidak dapat menyelesaikan aktivitas kegiatan sehari hari.

Tanda

Memperlihatkan penampilan yang tidak rapi.

Kekurangan dalam banyak atau semua perawatan diri, aktivitas


perawatan diri.

Neurosensori

Gejala

Pusing/pening, sakit kepala.

Perubahan status mental, kehilangan ketajaman atau kemampuan


diri untuk mengatasi masalah, tidak mampu mengingat, dan
konsentrasi menurun.

Kerusakan sensasi atau indera posisi dan getaran.

Kelemahan otot, tremor, dan perubahan ketajaman penglihatan.

Kebas, kesemutan pada ekstremitas (kaki tampak menunjukkan


perubahan paling awal).

Tanda

Perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental


sampai demensia, lupa, konsentrasi buruk, tingkat kesadaran
menurun, apatis, retardasi psikomotor/respon melambat.

Ide paranoid, ansietas yang berkembang bebas, harapan yang tidak


realistis.

Timbul refleks tidak normal, menurunnya kekuatan otot, dan gaya

10

berjalan ataksia.

Tremor pada motorik kasar/halus, menurunnya motorik fokalis;


hemiparesis, kejang.

Hemoragi retina dan eksudat

Nyeri / Kenyamanan

Gejala

Tanda

Nyeri umum atau lokal, sakit, rasa terbakar pada kaki.

Sakit kepala (keterlibatan SSP).

Nyeri dada pleuritis.

Pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan.

Penurunan rentang gerak, perubahan gaya berjalan/pincang.

Gerak otot melindungi bagian yang sakit.

Infeksi saluran kemih sering, menetap.

Napas pendek yang progresif.

Batuk (mulai dari sedang sampai parah), produktif/non-produktif

Pernapasan

Gejala

(tanda awal dari adanya PCP mungkin batuk sapsmodik saat napas
dalam.

Tanda

Bendungan atau sesak pada dada.

Takipnea, distres pernapasan.

Perubahan pada bunyi napas/bunyi napas adventisius.

Sputum: kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum).

Riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka yang lambat proses

Keamanan

Gejala

penyembuhannya.

Riwayat menjalani transfusi darah yang sering atau berulang


(misal; hemofilia, operasi vaskuler mayor, insiden traumatis).

Riwayat defisiensi imun, yakni kanker tahap lanjut.

Riwayat/berulangnya infeksi dengan PHS.

Demam

berulang;

suhu

rendah,

peningkatan

suhu

intermiten/memuncak; berkeringat malam.

Tanda

Perubahan integritas kulit: terpotong, ruam, misal; ekzema,


eksantem, psoriasis, perubahan warna, perubahan ukuran/warna
mola; mudah terjadi memar yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

Rektum, luka-luka perianal atau abses.

Timbulnya nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe pada dua area

11

tubuh atau lebih (misal; leher, ketiak, paha).

Menurunnya kekuatan umum, tekanan otot, perubahn pada gaya


berjalan.

Seksualitas

Gejala

Riwayat perilaku berisiko tinggi

yakni mengadakan hubungan

seksual dengan pasangan yang positif HIV, pasangan seksual


multipel, aktivitas seksual yang tidak terlindung, dan seks anal.

Menurunnya libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan seks.

Penggunaan kondom yang tidak konsisten.

Menggunakan pil pencegah kehamilan (meningkatkan kerentanan


terhadp virus pada wanita yang diperkirakan dapat terpajan karena
peningkatan kekeringan/friabilitas vagina).

Tanda

Kehamilan atau risiko terhadap hamil.

Genitalia: manifestasi kulit (misal: herpes, kutil); rabas.

Interaksi Sosial

Gejala

Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, misalnya: kehilangan


kerabat/orang terdekat, teman, pendukung. Rasa takut untuk
mengungkapkannya

pada

orang

lain,

takut

akan

penolakan/kehilangn pendapatan.

Isolasi, kesepian, temn dekat ataupu pasangan seksual yang


meninggal karena AIDS.

Mempertanyakan kemampun untuk tetap mandiri, tidak mampu


membuat rencana.

Tanda

Perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat.

Aktivitas yang tak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan.

Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala

Kegagalan

untuk

mengikuti

perawatan,

melanjutkan

perilaku berisiko tinggi (misal; seksual ataupun penggunaan


obat-obatan IV).

Penggunaan/ penyalahgunaan obat-obatan IV, saat ini


merokok, penyalahgunaan alkohol.

Pertimbangan

DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 10,2 hari.

rencan

Memerlukan

pemulangan

bantuan

keuangan,

obat-obatan/tindakan,

perawatan kulit/luka, peralatan/bahan, transportasi, belanja


makanan

dan

12

persiapan;

perawatan

diri,

prosedur

keperawatan teknis, tugas perawatan/pemeliharaa rumah,


perawatan anak; perubahan fasilitas hidup.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Diare yang berhubungan dengan kuman patogen usus dan atau infeksi HIV
2. Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan immunodefisisensi
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keadaan mudah letih, kelemahan,
malnutrisi, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dan hipoksia yang
menyertai infeksi paru.
4. Bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan pneumonia,
peningkatan sekresi bronkus dan penurunan kemampuan untuk batuk yang
menyertai kelemahan serta mudah letih
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan penurunan
asupan oral
6. Isolasi sosial yang berhubungan dengan stigma penyakit , penarikan diri dari
sistem pendukung , prosedur isolasi dan ketakutan bila dirinya menulari orang lain
7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan cara-cara mencegah penularan HIV
AIDS dan perawatan mandiri.

C. Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan I
Masalah Keperawatan: Perubahan pola eliminasi: diare
Kemungkinan disebabkan oleh: adanya patogen enterik dan atau infeksi HIV
Ditandai dengan: Frekeunsi BAB >3 kali sehari, turgor kulit jelek
Intervensi

Rasional

1. Kaji kebiasaan defekasi pasien

1. Memeberikan dasar untuk evaluasi.

2. Kaji tentang frekuensi, konsistensi 2. Mendeteksi perubahan pada status,


feses, kram abdomen, volume feses,

kuantitas kehilangan cairan.

dan faktor yang memperberat dan


penghilang.
3. Anjurkan pasien untuk menghindari 3. Mencegah merangsang usus dan
makanan pennyebab iritan usus,

distensi abdomen dan meningkatkan

seperti makanan berlemak, gorengan

nutrisi adekuat.

sayuran

mentah,

dan

kacang-

kacangan.

13

4. Pertahankan intake cairan sedikitnya

4. Mencegah hipovolemi.

3 Liter kecuali dikontraindikasikan.

Diagnosa Keperawatan II
Masalah keperawatan: Resiko terjadinya infeksi.
Kemungkinan disebabkan oleh: Terjadinya immunodefisiensi.
Ditandai dengan: Intervensi

Rasional

1. Pantau adanya infeksi: Suhu tubuh 1. Deteksi dini terhadap infeksi penting
meningkat

(demam),

kemerahan,

untuk melakukan tindakan segera.

bengkak., menggigil, nyeri menelan,

Infeksi

lama

dan

berulang

lezi vesikular dibibir, wajah dan

memperberat kelemahan pasien.

daerah perineal
2. Pantau jumlah sel darah putih dan 2. Peningkatan SDP dikaitkan dengan
deferensial.

infeksi

3. Dapatkan kultur drainase luka, lesi 3. Mencegah infeksi nosokomial


kulit, urin, feses, sputum, mulut, dan
darah sesuai ketentuan.
4. Pertahankan

tehnik

aseptik

bila 4. Organisme

pengganggu

harus

melakukan prosedur invasif seperti

diidentfikasi sesuai ketentuan untuk

pungsi pena, kateterisasi VU, dan

memulai tindakan yang tepat.

injeksi.

Diagnosa Keperawatan III


Masalah Keperawatan: Bersihan jalan napas tidak efektif
Kemungkinan disebabkan oleh: peningkatan sekresi bronkial, penurunan
Kemampuan untuk batuk karena kelemahan dan
keletihan.
Ditandai dengan: adanya takipnea, batuk, bunyi napas abnormal, terdapat sianosis
Intervensi

Rasional

1. Kaji dan laporkan tanda dan gejala


perubahan
takipnea,

status
batuk,

pernapasan
bunyi

napas

abnormal, terdapat sianosis, gelisah,


konfisuo atau somnolen.

14

1. Menunjukkan
abnormal.

fungsi

pernapasan

2. Beriakan perawatan paru (Batuk,


napas dalam, drainase postural dan

2. Mencegah

statis

sekresi

dan

meningkatkan bersihan jalan napas.

vibrasi) setiap 2-4 jam


3. Bantu

pasien

dalam

mengambil

posisi semi fowler atau fowler tinggi.


4. Lakukan pengisapan trakeal sesuai
kebutuhan.
5. Berikan

3. Memudahkan bersihan jalan napas


dan pernapasan.
4. Membuang sekresi jika pasien tidak
dapat melakukannya sendiri.

terapi

oksigen

sesuai

5. Meningkatkan availabilitas oksigen.

6. Lakukan tindakan untuk menurunkan

6. Memudahkan ekspektorasi sekresi,

ketentuan.

vislositas sekresi:

mencegah statis sekresi.

a. Mempertahankan masuka cairan


sedikitnya

3L/

hari

kecuali

dikontraindikasikan.
b. Lembabkan
diinspirasi

udara
sesuai

yang
kebutuhan

dokter.
c. Konsulkan
mengenai

dengan

dokter

penggunaan

agens

mukolitik yang diberikan melalui


nebulizer.

Diagnosa Keperawatan IV
Masalah Keperawatan: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
Kemungkinan disebabkan oleh : Penurunan masukan oral
Ditandai dengan : Penurunan berat badan
Intervensi

Rasional

1. Kaji terhadap malnutrisi dengan


mengukur

tinggi

dan

1. Memberikan

berat

pengukuran

objektif

terhadap status nutrisi.

badan, usia, dan pengukuran


antropometrik.
2. Dapatkan riwayat diet, termasuk

2. Memastikan

makanan yang disukai dan tidak


disukai
makanan

serta

kebutuhan

terhadap

pendidikan nutrisi.

intoleransi
3. Memastikan dasar dan arahan untuk

15

3. Kaji faktor yang mempengaruhi

intervensi

masukan oral

4. Memudahkan perencanaan makan

4. Kurangi faktor yang membatasi


masukan oral:
a. Dorong

a. Meminimalkan
pasien

untuk

pasien

yang

dapat menurunkan nafsu makan.

istirahat sebelum makan.


b. Ajarkan

keletihan

b. Mencegah pasien terlalu kenyang

prinsip

makan sedikit tetapi sering.

c. Membatasi isolasi

c. Dorong pasien unutk makan


dengan pengunjung

Diagnosa Keperawatan V
Masalah keperawatan: Isolasi sosial
Kemungkinan disebabkan oleh : Penyakitnya, menarik diri dari sistem
dukungan, prosedur isoalsi dan rasa takut
terhadap orang lain yang terinfeksi.
Ditandai dengan: Perilaku menarik diri, tidak merespon orang disekelilingnya,
nampak ketakutan.
Intervensi

Rasional

1. Kaji interaksi sosial pasien yang 1. Menetapkan dasar untuk intervensi


lazim.

individual.

2. Berikan waktu untuk bersama 2. Meningkatkan perasaan diri benmakna


pasien lebih banyak daripada

dan memberikan interaksi sosial.

unutk pengobatan dan prosedur.


3. Dorong partisipasi dalam aktivitas 3. Memberikan distraksi.
pengalih

seperti

membaca,

mendengar musik, televisi atau


kerajinan tangan.

Diagnosa Keperawatan VI
Masalah keperawatan : Kurang pengetahuan tentang cara-cara pencegahan
penularan HIV
Kemungkinan disebabkan oleh: Kurang mendapatkan informasi
Ditandai dengan: Ketidakmampuan mengungkapkan pengertian tentang proses
infeksi dan penularannya dan tindakan yang dibutuhkan untuk mencegah

16

penularan
Intervensi

Rasional

1. Instruksikan pasien, keluarga dan 1. Pengetahuan


teman tentang rute penularan HIV

tentang

penularan

penyakit dapat membantu pencegahan


penyebaran penyakit

2. Instruksikan pasien, keluarga dan


teman

tentang

pencegahan

penularan HIV.
a. Menghindari

kontak

seksual a. Resiko infeksi meningkat bersamaan

dengan pasangan ganda.

dengan jumlah pasangan dan kontak


sosial dengan orang yang berperilaku
resiko tinggi.

b. Gunakan

kondom

selama b. Menurunkan resiko penularan HIV

berhubungan seksual, hindari


kontak mulut dengan penis,
vagina dan rektum, hindari
praktek seksual yang dapat
menyebabkan robekan vagina,
rektum atau penis.
c. Hindari seks dengan prostitusi c. Banyak

prostitusi

melaui

tinggi.

pasangan multiple atau obat intravena.


menggunakan

seksual

HIV

dan orang lain yang beresiko

d. Jangan

kontak

terinfeksi

dengan

obat d. Mencegah penularan HIV unutk orang

intravena.

yang terus menggunakan obat.

e. Wanita yang telah tepajan pada e. Mencegah penularan HIV ke anak


AIDS melalui praktik seksual
harus konsul dokter sebelum ia
hamil.

17

dalam kandungan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. 2009. Asuhan Keperawatan HIV-AIDS. http://kumpulanaskep.com/
blog/asuhan-keperawatan-aids-hiv/. Diakses pada tanggal 1 Desember 2014
2. Doenges E. Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta:
EGC
3. Price, Sylvia Anderson. 2005. Patologis : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC
4. Smeltzer S. C. & Bare B.G. 2001. Buku ajar keperawatan medikal bedah brunner
suddart. Ed. 8. Vol. 3. Jakarta: EGC

18