Anda di halaman 1dari 15

TUJUAN HUKUM DALAM

PENEGAKAN DAN PENEMUAN HUKUM

LEGAL ASPECT IN ECONOMIC

MELISA PERMATADEWI TIWON


1801451166
JURUSAN MANAJEMEN MARKETING D3-S1

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ii
ABSTRAK... iii
BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II PEMBAHASAN. 2
BAB III KESIMPULAN 10
DAFTAR PUSTAKA.. iv

ABSTRAK
Di mana ada masyarakat disana ada hukum (ubi societas ibi ius). Hukum ada pada setiap
masyarakat, kapan pun, di manapun, dan bagaimanapun keadaan masyarakat tersebut. Artinya
eksistensi hukum bersifat sangat universal, terlepas dari keadaan hukum itu sendiri sangat
dipengaruhi oleh corak dan warna masyarakatnya.
Dewasa ini, kita kerap sekali menemukan kejadian-kejadian yang menimbulkan
keresahan dalam kehidupan sehari-hari misalnya pencurian, penculikan, pemerkosaan, bahkan
pembunuhan. hukum, yang secara langsung ataupun tak langsung diterapkan. Untuk itu
dibutuhkan aturan-aturan yang dapat melindungi masyarakat dan meciptakan ketentraman.
Aturan-aturan itu disebut hukum.
Kadang kita tidak peka akan apa yang terjadi disekitar kita, apakah hukum berjalan
seharusnya atau tidak, bahkan tidak tahu hukum apa yang berlaku dalam masyarakat sehingga
penegakan hukum tidak optimal. Padahal hukum yang berlaku berasal dari masyarakat itu
sendiri.
Pada dasarnya manusia membutuhkan hukum untuk mengatur aneka macam hubungan
antar manusia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara dengan tertib sehingga tercapai
keseimbangan. Untuk itu, hukum itu perlu dipelajari oleh siapapun, tak dipandang siapapun dan
itu adalah sebuah keharusan. Karena itulah ada yang disebut ilmu hukum. Ilmu hukum itu lebih
besar dan lebih luas dari hukum. Ilmu hukum bukan merupakan bagian dari sejarah ekonomi
maupun sosiologi, hukum adalah bagian dari falsafah hidup bangsa.
.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai pengantar sebelum mempelajari mengenai apakah tujuan hukum, haruslah ada
kesepakatan mengenai apa definisi dari hukum itu sendiri agar mendapat gambaran dan batasan
yang jelas untuk memudahkan pembahasan pada bab selanjutnya.

Sudah banyak ahli hukum yang mencoba mendefinisikan hukum namun sulit karena
menurut Prof. Mr. Dr. L.J. van Apeldoorn, tidak mungkin memberikan suatu definisi tentang
apakah yang disebut hukum itu. Definisi tentang hukum sangat sulit dibuat karena tidak mungkin
untuk merumuskannya yang sesuai dengan kenyataan (Apeldoorn dalam Kansil, 1977: 28). Jika
dipilih satu dari sekian banyak pendapat mengenai hukum, akan ditemukan ketidak-selarasan
pendapat.

Menurut Dr. W. 1. G. Lemaire, alasan mengapa hukum itu sulit diberikan definisi yang
tepat adalah karena hukurn itu mempunyai segi dan bentuk yang sangat banyak sehingga tidak
mungkin dicakup secara keseluruhan dalam satu definisi (Lemaire dalam Kansil, 1977: 30).
Walaupun tidak dapat melihat sendiri wujudnya, namun hukum sangat penting bagi
kehidupan masyarakat karena mengatur hubungan antara anggota masyarakat yang satu dengan
yang lain.

Dari beberapa definisi dan pengertian hukum, dapat disimpulkan bahwa secara umum
hukum adalah peraturan tingkah laku manusia, yang diadakan oleh badan-badan resmi yang
berwajib, yang bersifat memaksa, harus dipatuhi, dan memberikan sanksi tegas bagi pelanggar
peraturan tersebut.

Tujuan hukum merupakan wacana yang kajiannya hampir sama sulitnya dengan
membuat definisi dari hukum. Hal ini disebabkan karena baik definisi maupun tujuan
hukum sama-sama menjadikan hukum yang memiliki arti yang sangat luas dengan berbagai segi
dan aspeknya serta abstrak sebagai objek kajiannya. Oleh karena itu, para pakar atau ahli hukum
juga memberikan pengertian yang berbeda-beda mengenai tujuan hukum, tergantung dari sudut
pandang mana atau aliran dan paham yang dianutnya dalam menjelaskan tujuan hukum.

B. Rumusan Masalah
Berkaitan dengan uraian pada latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah tujuan hukum?
2. Apakah tujuan hukum dalam penegakan hukum?
3.

Apakah tujuan hukum dalam penemuan hukum?

BAB II
PEMBAHASAN

Sebelum lebih lanjut menelaah apa itu tujuan hukum, maka penting bagi kita untuk
menelaah terlebih dahulu pengertian tujuan hukum secara etimologi. Tujuan hukum berasal dari
kata tujuan dan hukum. Secara etimologi, kata tujuan berarti arah atau sasaran yang hendak
dicapai.Pengertian tujuan tersebut adalah sebagaimana tertuang dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia(KBBI).

Selanjutnya adalah kita kembali pada pengertian hukum. Pengertian hukum yang
digunakan adalah sangat tergantung dari sudut pandang mana kita akan melihat hukum. Dalam
artikel sebelumnya telah disebutkan berbagai macam definisi atau pengertian hukum menurut
para pakar atau ahli hukum yang berbeda-beda tergantung pada aliran atau paham yang dianut
oleh pakar hukum tersebut.

Pengertian hukum yang akan digunakan disini adalah pengertian hukum dalam ilmu
hukum atau pengertian hukum standar yang biasanya diberikan kepada kalangan atau mereka
yang baru akan belajar mengenal hukum.

A. Tujuan Hukum
Tujuan hukum adalah mengatur hak-hak dan kewajiban seluruh warga negara dari
lembaga tinggi negara, semua pejabat negara, dan setiap warga negara agar semuanya dapat
melaksanakan kebijaksanaan dan tindakan-tindakan demi terwujudnya tujuan nasional bangsa
Indonesia yaitu terciptanya masyarakat yang terlindungi oleh hukum, cerdas, terampil, cinta, dan
bangga bertanah air Indonesia dalam suasana kehidupan makmur dan adil berdasarkan filsafah
Pancasila.
Beberapa para ahli mengemukamakan pendapat mereka mengenai tujuan hukum secara
umum yaitu:

a. Menurut Prof. Soebekti, SH, tujuan hukum adalah menyelenggarakan keadilan dan
ketertiban sebagai syarat untuk mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan.
b. Menurut Prof, I.J. Van Apeldorn, hukum bertujuan untuk mengatur pergaulan hidup secara
damai.
c. Menurut Van Kan, tujuan hukum adalah menjaga kepentingan tiap-tiap manusia supaya
kepentingan-kepentingan itu tidak diganggu.
d. Sedangkan menurut O. Notohamidjojo, hukum memiliki tiga tujuan yaitu sebagai berikut.
1) Mendatangkan tata dan damai dalam masyarakat
2) Mewujudkan keadilan
3) Mejaga agar manusia diperlakukan sebagai manusia
e. Menurut Jaremy Bantham, tujuan hukum adalah mewujudkan kebahagiaan yang sebesabesarnya bagi orang sebanyak mungkin

Teori tujuan hukum menurut aliran dan paham dalam hukum:


a. Teori etis, teori ini mendasarkan pada etika. Aliran etis menganggap tujuan hukum pada
dasarnya adalah semata-mata untuk mewujudkan keadilan. Oleh karena itu aliran etis
menganggap bahwa hukum itu ditentukan oleh adanya keyakinan terhadap sesuatu itu adil atau
tidak adil. Pakar hukum yang mendukung paham atau aliran etis adalah Geny, Wartle, Ehrliek,
Gery Mil dan Aristoteles.
b. Teori utilities, teori ini tujuan hukum adalah untuk memberikan faedah sebanyakbanyaknya bagi masyarakat, yaitu dengan memberikan kebahagiaan dan kenikmatan. Aliran
utilistis yang menganggap bahwa pada asasnya tujuan hukum adalah semata-mata untuk
menciptakan kemanfaatan atau kebahagiaan warga. Aliran utilistis cenderung menerapkan
ajaran moral praktis karena menganggap bahwa tujuan hukum hanyalah memberikan manfaat
yang sebesar-besarnya bagi mayoritas masyarakat atau sebanyak-banyaknya masyarakat.

c. Campuran dari teori etis dan utilities, teori ini hukum bertujuan untuk menjaga ketertiban
dan untuk mencapai keadilan dalam masyarakat.
d. Aliran Yuridis Dogmatik yang menganggap bahwa tujuan hukum adalah semata-mata
hanya untuk mewujudkan kepastian hukum. Aliran Yuridis Dogmatik ini menganggap bahwa
hukum yang telah tertuang dalam rumusan peraturan perundang-undangan adalah sesuatu yang
memiliki kepastian untuk diwujudkan. Kepastian hukum adalah hal yang mutlak bagi setiap
aturan dan karena itu kepastian hukum itu sendiri merupakan tujuan hukum. Penganut aliran ini
sepertinya lupa bahwa sebenarnya penegakan hukum itu sendiri bukan suatu yang harus tetapi
sesuatu yang seharusnya dilakukan.
Tujuan hukum menurut hukum positif Indonesia termuat dalam pembukaan UUD 1945
alinea keempat yang berbunyi ...untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Pada umumnya hukum bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat.
Selain itu, menjaga dan mencegah agar tiap orang tidak menjadi hakim atas dirinya sendiri,
namun tiap perkara harus diputuskan oleh hakim berdasarkan dengan ketentuan yang sedang
berlaku.

B. Tujuan Hukum Dalam Penegakan Hukum


Menurut Soerjono Soekanto (1993; 5) berikut faktor-faktor yang mempengaruhi
penegakan hukum:
-

Faktor hukumnya sendiri

Faktor penegak hukum, pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum

Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum

Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan

Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa
manusia dalam pergaulan hidup

Hakim sebagai penegak hukum menurut pasal 27 ayat (1) Undang-Undang No.14 Tahun
1970 bahwa; Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti dan
memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.

Dalam penjelasan pasal ini dikatakan; di dalam masyarakat yang masih mengenal hukum
tidak tertulis, serta berada dalam masa pergolakan dan peralihan, hakim merupakan perumus dan
penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup di kalangan rakyat. Untuk itu seorang hakim harus
terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami
perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian hakim dapat
memberikan putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Hukum itu harus dilaksanakan dan ditegakkan. Gustav Radbuch mengatakan dalam
menegakkan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan, yaitu:
1. Keadilan hukum(gerechtigkeit)
Keadilan itu terkait dengan pendistribusian yang merata antara hak dan kewajiban.
Gustav Radbruch menyatakan rechct ist wille zur gerechtigkeit (hukum adalah kehendak demi
untuk keadilan). Sedangkan Soejono K.S mendefinisikan keadilan adalah keseimbangan batiniah
dan lahiriah yang memberikan kemungkinan dan perlindungan atas kehadiran dan perkembangan
kebenaran yang beriklim toleransi dan kebebasan.
Hukum tidak ada untuk diri dan keperluannya sendiri melainkan untuk manusia,
khususnya kebahagiaan manusia. Hukum tidak memilki tujuan dalam dirinya sendiri. Hukum
adalah alat untuk menegakkan keadilan dan menciptakan kesejahteraan sosial. Tanpa keadilan
sebagai tujuan ultimumnya, hukum akan terperosok menjadi alat pembenar kesewenangwenangan mayoritas atau pihak penguasa terhadap minoritas atau pihak yang dikuasai. Itulah
sebabnya maka fungsi utama dari hukum pada akhirnya menegakkan keadilan.
Keadilan merupakan salah satu tujuan hukum yang paling banyak dibicarakan sepanjang
perjalanan sejarah filsafat hukum. Tujuan hukum bukan hanya keadilan, tetapi juga kepastian
hukum dan kemanfaatan hukum. Idealnya, hukum memang harus mengakomodasikan ketiganya.
Ada yang berpendapat, bahwa di antara ketiga tujuan hukum tersebut, keadilan merupakan
tujuan hukum yang paling penting, bahkan ada yang berpendapat, bahwa keadilan adalah tujuan
hukum satu-satunya. Hubungannya degan hal tersebut, maka Plato (428-348 SM) pernah

menyatakan, bahwa negara ideal apabila didasarkan atas keadilan, dan keadilan baginya adalah
keseimbangan dan harmoni.

2. Kemanfaatan hukum(zweckmassigkeit)
Secara etimologi, kata ini berasal dari kata dasar manfaat yang menurut KBBI berarti
faedah atau guna. Hukum merupakan urat nadi dalam kehidupan suatu bangsa untuk mencapai
cita-cita masyarakat adil dan makmur. Sebagian orang berpendapat bahwa kemanfaatan hukum
sangat berkorelasi dengan tujuan pemidanaan terutama sebagai prevensi khusus agar terdakwa
tidak mengulangi kembali perbuatannya melawan hukum. Oleh karena itu putusan hakim harus
memberi manfaat bagi dunia peradilan, msyarakat umum dan perkembangan ilmu pengetahuan.

3. Kepastian hukum(rechtssicherheit)
Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan
secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan
keragu-raguan (multi-tafsir) dan logis dalam artian ia menjadi suatu sistem norma dengan norma
lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Konflik norma yang
ditimbulkan dari ketidakpastian aturan dapat berbentuk kontestasi norma, reduksi norma atau
distorsi norma.

Menurut Radbruch, jika terjadi ketegangan antara nilai-nilai dasar tersebut, kita harus
menggunakan dasar atau asas prioritas dimana prioritas pertama selalu jatuh pada nilai keadilan,
baru nilai kegunaan atau kemanfaatan dan terakhir kepastian hukum. Ini menunjukkan bahwa
Radbruch menempatkan nilai keadilan lebih utama daripada nilai kemanfaatan dan nilai
kepastian hukum dan menempatkan nilai kepastian hukum dibawah nilai kemanfaatan hukum.
Achmad Ali menyetujui asas prioritas tetapi tidak dengan menetapkan urutan prioritas
sebagaimana dikemukakan oleh Radbruch. Ia menganggap lebih realistis jika kita
memprioritaskan nilai dasar hukum sesuai kasus yang dihadapi. Dengan begini, maka sistem
hukum kita akan terhindar dari berbagai konflik yang tidak terpecahkan menurut Achmad Ali.

Setiap orang mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dalam hal terjadi peristiwa yang
konkrit. Bagaimana hukumnya itulah yang harus berlaku, sehingga pada dasarnya tidak
dibolehkan menyimpang, meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan. Inilah yang
disebut kepastian hukum.
Kepastian hukum sebagai perlindungan yustisiabel terhadap tindakan sewenang-wenang,
yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan
tertentu. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian
hukum masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena
bertujuan menciptakan masyarakat yang tertib.

Sebaliknya masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan


hukum. Hukum adalah untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus
memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat Jangan sampai penegakan hukum malah
menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.

Pelaksanaan atau penegakan hukum hendaklah memperhatikan dan mementingkan


keadilan dalam masyarakat. Jadi, dalam pelaksanaan atau penegakan hukum harus adil. Tetapi
hukum tidak identik dengan keadilan. Hukum itu bersifat umum mengikat setiap orang, bersifat
menyamaratakan. Contohnya, siapapun yang mencuri harus dihukum, jadi setiap orang yang
mencuri harus dihukum, tanpa membeda-bedakan siapa yang mencuri. Akan tetapi sebaliknya
keadilan itu bersifat subyektif, individualistis dan tidak menyamaratakan. Misalnya adil menurut
si Badu belum tentu adil menurut si Cahyo.

Di dalam menegakkan hukum harus ada kompromi antara ketiga unsur tersebut. Ketiga
unsur itu harus mendapat perhatian secara proporsional seimbang. Meskipun dalam praktek tidak
selalu mudah mengusahakan kompromi secara proporsional seimbang antara ketiga unsur
tersebut, namun harus berusaha ke arah itu, karena ketiga unsur itulah merupakan tujuan hukum
yang akan ditegakkan dalam masyarakat.

C. Tujuan Hukum Dalam Penemuan Hukum


Penemuan hukum lazimnya diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh hakim
atau petugas-petugas hukum lainnya yang berwewenang untuk itu yang diberi tugas untuk
melaksanakan hukum terhadap peristiwa-peristiwa hukum yang konkrit. (Sudikno Mertokusumo,
1991; 136).

Biasanya orang lebih sering menggunakan istilah pembentukan hukum daripada


penemuan hukum, karena istilah penemuan hukum memberi sugesti seakan-akan hukumnya
sudah ada. Namun harus diketahui bahwa dalam istilah pembentukan hukum oleh hakim sama
saja kalau dikatakan penemuan hukum oleh hakim. Sedang pembentukan hukum oleh suatu
lembaga yang berwewenang itu disebut pembentukan hukum.
Penemuan hukum yang dilakukan oleh hakim dalam memeriksa dan memutus suatu
perkara, hakim ini dianggap mempunyai wibawa, begitu pula ilmuan hukum mengadakan
penemuan hukum. Hanya kalau hasil penemuan hukum oleh hakim adalah hukum,sedang hasil
penemuan hukum oleh ilmuan hukum bukanlah hukum melainkan ilmu atau doktrin. Sekalipun
yang dihasilkan itu bukanlah hukum, namun di sini digunakan istilah penemuan hukum juga oleh
karena doktrin ini kalau diikuti dan diambil alih oleh hakim dalam putusannya, itu juga akan
menjadi hukum.
Dalam rangka itu, sebagai upaya mengkaji putusan hakim dengan mempergunakan optik
sosiologi hukum, akan didasarkan pada pendapat beberapa pakar sosiologi hukum, sebagaimana
yang dikemukakan oleh Alvin S.Johnson (1994;10-11) yang mengutip pendapat Dean Rescoe
Pound yang mengutarakan bahwa; besar kemungkinan kemajuan yang terpenting dalam ilmu
hukum moderen adalah perubahan pandangan analitis ke fungsional. Sikap fungsional menuntut
supaya hakim, ahli hukum dan pengacara harus ingat adanya hubungan antara hukum dan
kenyataan sosial yang hidup, dan tetap memperhatikan hukum yang hidup dan bergerak, sebab
biang ketidak-adilan adalah konsep-konsep kekuasaan yang sewenang-wenang, sebagaimana
yang dinyatakan oleh hakim Benjamin Cardozo, ia melukiskan pembatasan logikanya
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sosiologis yang terjadi dalam proses pengadilan dewasa
ini. Keterangan yang dimaksudkan sebelumnya telah dilancarkan oleh hakim O.W.Holmes,
bahwa kehidupan hukum tidak berdasarkan logika, melainkan pengalaman. Pengalaman nyata

dari kehidupan sosial yang tidaklah mungkin diabaikan dalam setiap proses Pengadilan, jika
tidak menginginkan proses tersebut sebagai permainan kata-kata. (Georges Gurvitch, 1996;
2).
Hakim dalam menjatuhkan putusannya dibimbing oleh pandangan-pandangan atau
pikirannya sendiri. Dalam penemuan hukum yang otonom ini hakim memutus menurut apresiasi
pribadi. Di sini hakim menjalankan fungsi yang mandiri dalam penerapan undang-undang
terhadap peristiwa hukum yang konkrit. Dalam hal ini hakim diharapkan mampu mengkaji
hukum-hukum yang hidup di dalam masyarakat. Karena terkadang peristiwa konkrit yang terjadi
itu, tidak tertulis aturannya dalam peraturan perundang-undangan.
Masyarakat mengharapkan bahwa hakim di dalam menjatuhkan putusan hendaklah
memenuhi tiga unsur tujuan hukum yaitu kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan
sebagaimana halnya pada penegakan hukum.

BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa tujuan hukum adalah
mencapai kepastian hukum dan kemanfaatan hukum serta keadilan, baik dalam rangka
penegakan hukum maupun dalam penemuan hukum, menciptakan keseimbangan dengan
tercapainya ketertiban dalam masyarakat. Hukum berfungsi membagi hak dan kewajiban antar
perorangan di dalam masyarakat, membagi wewenang dan mengatur cara memcahakan masalah
hukum serta memelihara kepastian hukum. Dengan begitu, diharapkan kepentingan manusia
akan terlindungi dalam mencapai tujuannya.

Adanya hukum bersifat tegas dan memaksa masyarakat untuk patuh menaatinya setiap
dalam hubungan di dalam masyarakat. Setiap pelanggaran atas peraturan yang ada akan
dikenakan sanksi atau hukuman sebagai reaksi terhadap perbuatan yang melanggar peraturan.

Untuk menjaga agar peraturan-peraturan itu dapat berlangsung terus-menerus dan


diterima oleh seluruh anggota masyarakat, aturan hukum yang ada harus sesuai dan tidak boleh
bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat. Dengan demikian, hukum bertujuan untuk
menjamin adanya keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum dalam masyarakat sebagaimana
dalam penegakan hukum maupun penemuan hukum.

B. Saran
Penegakkan hukum hendaknya tidak hanya dijalakan oleh lembaga hukum namun juga
seluruh masyarakat agar dapat tercapai tujuan hukum. Maka dari itu penting untuk masyarakat
mengetahui, mempelajari dan mentaati hukum yang berlaku di negaranya.

DAFTAR PUSTAKA
Books:
Satjipto Rahardjo. 1996. Ilmu Hukum. Cet.IV. PT.Citra Aditya. Bandung.
Soerjono Soekanto. 1993. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Sudikno Mertokusumo, dan A.Pitlo. 1993.Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Citra Aditya
Bakti. Yogyakarta.

Internet:
http://www.pustakasekolah.com
http://www.statushukum.com
http://wordpress.com
http://lapatuju.blogspot.com/2013/03/keadilan-kemanfaatan-dan-kepastian.html