Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Hukum merupakan salah satu sarana untuk menjaga keserasian dan keutuhan masyarakat serta
pembaharu masyarakat yang didasarkan pada moral dan agama. Karena, fungsi hukum yaitu sebagai
sarana pengendali sosial dan hukum merupakan alat penting untuk mencapai suatu tujuan guna
membantu usaha-usaha dalam pembangunan. Selain itu fungsi hukum adalah melakukan upaya untuk
menggerakan masyarakat agar berperilaku sesuai dengan cara-cara baru sesuai dengan apa yang telah
dicita-citakan juga mengarahkan masyarakat pada pola-pola baru yang berarti mengubah atau bahkan
menghapus kebisaaan-kebisaaan lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.
Kesadaran hukum merupakan sikap yang perlu ditanamkan kepada seluruh warga Negara,
sebagai usaha pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat
Indonesia secara berkelanjutan, berdasarkan kemajuan nasional yang berpusat pada perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Oleh karena itu, masalah kesadaran hukum masyarakat bila dikaitkan
dengan pembangunan nasional harus dilihat dari dua sisi subjek dan objek. Subjek dari pada kesadaran
itu merupakan indikator yang dapat mendukung dan mempercepat pembangunan secara keseluruhan.
Sedangkan objeknya yaitu sesuatu yang perlu mendapatkan prioritas untuk ditingkatkan dan
dikembangkan.
Terdapat juga di dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 pada bagian Sistem
Pemerintahan Negara menyatakan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum, tidak berdasarkan
atas kekuasaan belaka. Pernyataan tegas tersebut seringkali dikemukakan oleh berbagai kalangan, akan
tetapi usaha untuk mewujudkan masyarakat yang sadar hukum itu tidak hanya dengan suatu pernyataan
saja, tetapi harus ada suatu usaha agar hukum itu dapat diketahui dan dimengerti, sehingga hukum bisa
ditaati dan dihargai. Setelah masyarakat menanamkan sikap-sikap tersebut di dalam diri mereka, maka
rasa memiliki terhadap hukum akan menjiwai sikap dan perilaku masyarakat dalam melaksanakan
kehidupan. Seperti yang dikemukakan oleh Soejono Soekanto Masalah kesadaran hukum masyarakat
sebenarnya menyangkut faktor-faktor apakah suatu ketentuan hukum tertentu diketahui, dimengerti,
ditaati dan dihargai. Apabila masyarakat hanya mengetahui adanya suatu ketentuan hukum, maka taraf
kesadaran hukumnya masih rendah dari pada apabila mereka memahaminya.
Sesuai dengan pendapat diatas, mengemukakan bahwa Masyarakat dalam arti derajat kepatuhan
hukum warga masyarakat ditentukan oleh faktor pengetahuan, mengerti, menghayati, dan mentaati
(secara ikhlas dan rela). Berdasarkan pengertian di atas jelaslah bahwa hukum pada hakikatnya
merupakan suatu pesan yang harus disampaikan agar warga masyarakat dan pimpinannya menjadi tahu
mana yang benar dan mana yang salah, mana yang hak dan mana kewajiban, sehingga mereka sadar
hukum dan berbuat sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Oleh karena itu untuk mewujudkan
suatu negara yang berbudaya hukum, maksudnya suatu negara yang masyarakatnya sadar akan
keberadaan hukum dan sanggup mentaati hukum diperlukan suatu pembinaan hukum seperti penanaman
sikap yang bertanggungjawab terhadap hukum baik bagi penyelenggaranya maupun bagi masyarakatnya
sebagai usaha penyempurnaan hukum dan usaha penegakan hukum agar dihormati, ditaati dan dipatuhi
oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran pola
penegakan hukum di Indonesia yang dibarengi dengan tinjauan yuridis secara kostitusional sesuai
dengan peraturan dan Undang-undang yang berlaku. Selain itu memberikan gambaran keadaan secara
singkat asas-asas yang memayungi kondisi hukum di Indonesia dalam rangka upaya peningkatan
kesadaran hukum manusia Indonesia.

C. Manfaat
Setelah membaca dan memahami isi dari makalah serta diaplikasikan dalam bentuk diskusi,
diharapkan makalah ini dapat menjadi sebuah barometer dalam merefresh kembali tinjauan-tinjauan
hukum di Indonesia dalam rangka geliatnya penegakan hukum di negara ini. Makalah ini juga
memberikan gambaran bagaimana pola-pola penegakan hukum di Indonesia ditinjau dari keadaan riil
pemahaman masyarakat akan hukum dan pemahaman masyarakat akan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.













II. ASAS KESADARAN HUKUM

A. Asas-Asas Yang Melingkupi Sistem Hukum Indonesia
Berdasarkan ketentuan GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) tujuan pembangunan adalah
mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. GBHN 1993 menyebutkan bahwa sistem hukum nasional
adalah sistem hukum yang mendukung dan bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Di dalam GBHN 1993 disebutkan bahwa :
Pembangunan Hukum diarahkan pada makin terwujudnya sistem hukum nasional yang
bersumber pada Pancasila dan UUD 1945 yang mencakup pembangunan ateri hukum, aparatur hukum
serta sarana dan prasarana hukum dalam rangka pembangunan Negara hukum untuk menciptakan
kehidupan masyarakat yang aman dan tentram. Pembangunan hukum dilaksanakan melalui
pembaharuan hukum dengan tetap memperhatikan kemajemukan tatanan hukum yang berlaku yang
mencakup upaya untuk meningkatkan kesdaran hukum, kepastian hukum, perlindungan hukum yang
berintikan keadilan dan kebenaran, . (Lihat GBHN 1993).
Dengan demikian dalam pembangunan hukum diharapkan terwujudnya sistem hukum nasional
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menggantikan sistem hukum dari masa Hindia Belanda karena
masih banyak peraturan dari masa itu yang masih berlaku setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya.
Hukum nasional Indonesia adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur kehidupan
manusia dalam wilayah hukum Indonesia. Sistem hukum Indonesia berdasarkan kedekatan sejarahnya
adalah menganut Sistem Hukum Eropa Kontinental (Civil law). Pada sistem hukum ini dititik beratkan
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku (hukum positip). Hukum positip Indonesia adalah
keseluruhan asas dan kaidah-kaidah berdasarkan keadilan yang mengatur hubungan manusia dalam
masyarakat, yaitu berupa hubungan antar manusia, hubungan antar manusia dengan masyarakat dan
sebaliknya hubungan masyarakat dengan manusia anggota masyarakat itu. Dengan lain perkataan, maka
hukum positip adalah sistem atau tatanan hukum dan asas-asas berdasarkan keadilan yang mengatur
kehidupan manusia di masyarakat.
1.Asas Idiil
Falsafah Negara, Pancasila adalah jiwa, pandangan hidup dan dasar Negara Republik Indonesia.
Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di
Indonesia. Pandangan hidup adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki oleh suatu bangsa yang
diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya. Dalam
pandangan hidup ini terkandung konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan oleh suatu
bangsa. Hal ini berarti dengan berpedoman kepada pandangan hidup itu bangsa tersebut akan
memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya untuk memelihara identitasnya, eksistensinya, dan
kelestariannya.
Pancasila sebagai jiwa, pandangan hidup atau dasar Negara, bersifat abstrak dan dijabarkan ke
dalam batang tubuh UUD 1945. Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang
seharusnya dikonkretisasi ke dalam aturan-aturan hukum positip. Melalui penjelmaan ke dalam aturan
aturan-aturan hukum positip, Pancasila menyentuh kehidupan yang nyata. Didalam penjelasan
Ketetapan tentang P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tersebut ditunjuk asas-asas
yang perlu dihayati dan diamalkan, yang merupakan pula asas-asas yang perlu diperhatikan dalam
sistem hukum nasional. Asas-asas itu terkandung dalam sila-sila Pancasila, yaitu Sila Ketuhanan Yang
Maha Esa, Sia Kemanusiaan Yang adil dan Beradab, Sila Persatuan Indonesia, Sila Kerakyatan yang
dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, dan Sila Keadilan Sosial
dagi Seluruh Rakyat Indonesia.
2. Asas Konstitusional (Struktural)
Undang-Undang Dasar 1945 terdiri dari pembukaan dan batang tubuh. Pembukaan UUD 1945
merupakan landasan filsafah dari Negara Republik Indonesia, sedangkan batang tubuh merupakan
sumber-sumber hukum tertinggi dari hukum yang berlaku di Indonesia (landasan yuridisnya).
Pembukaan UUD 1945 mempunyai hubungan langsung dengan batang-batang tubuh UUD 1945 itu.
Hubungan langsung itu berarti keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pokok-
pokok pikiran yang dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 itu, keduanya mempunyai hubungan yang
fungsional.
Jikalau dikaji UUD 1945 ditemukan asas-asas yang relevan dengan hukum perdata, yaitu :
Asas-asas hukum : asas kesatuan dan persatuan, asas Negara hukum, asas persamaan, asas keadilan,
asas kerakyatan, asas kemanusiaan, asas kekeluargaan, asas keseimbangan, asas kebebasan yang
bertanggung jawab, asas demokrasi ekonomi, asas bhineka tunggal ika, asas kepentingan nasional, asas
kepastian hukum.
3. Asas Politik
Asas-asas ini bersifat abstrak (umum kolektip) oleh karena sudah menjelma di dalam hukum
positip, dalam hal ini Hukum Dasar yang tertulis. Di dalam berbagai-bagai Ketetapan MPR (Majelis
Permusyawaratan Rakyat) ditemukan kemauan politik tentang asas-asas yang perlu diperhatikan dalam
bidang hukum perdata, seperti Ketetapan MPR II Tahun 1960. Dalam Tap MPR No.IV Tahun 1978,
GBHN hasil Tap ini memuat strategi pembangunan nasional. Ditentukan bahwa asas-asas pembangunan
nasional adalah :
Asas manfaat, asas usaha bersama dan kekeluargaan, asas demokrasi, asas adil dan merata,
asas perikehidupan dalam keseimbangan, asas kesadaran hukum, asas kepercayaan pada diri sendiri,
asas wawasan nusantara.
Asas-asas yang merupakan sendi Hukum Nasional yang dirumuskan di atas disana-sini
menunjukkan ulangan dan secara langsung merupakan asas-asas pula dalam Hukum Perdata Nasional.
Penjelasan dari asas-asas itu adalah sebagai berikut :
Asas manfaat, ialah bahwa segala usaha dan kegiatan pembangunan harus dapat dimanfaatkan
sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan bagi pengembangan
pribadi warga negara.
Asas usaha bersama dan kekeluargaan, ialah bahwa usaha mencapai cita-cita dan aspirasi
bangsa harus merupakan usaha bersama dari bangsa dan seluruh rakyat yang dilakukan secara gotong
royong dan dijiwai oleh semangat kekeluargaan.
Asas demokrasi, ialah demokrasi berdasarkan pancasila yang meliputi bidang-bidang politik,
sosial, dan ekonomi serta yang dalam penyelesaian masalah-masalah nasional berusaha sejauh mungkin
menempuh jalan permusyawaratan untuk mencapai mufakat.
Asas adil dan merata, ialah bahwa hasil-hasil mateial dan sipiritual yang dicapai dalam
pembangunan harus dapat dinikmati merata oleh seluruh bangsa dan bahwa tiap-tiap warga negara
berhak menikmati hasil-hasil pembangunan yang layak diperlukan bagi kemanusiaan dan sesuai dengan
nilai dharma baktinya yang diberikannya kepada bangsa dan negara.
Asas perikehidupan dalam keseimbangan, ialah keseimbangan antara kepentingan-kepentingan,
yaitu antara kepentingan keduniaaan dan akhirat, antara kepentingan material dan spiritual, antara
kepentingan jiwa dan raga, antara kepentingan individu dan masyarakat, antara kepentingan
perikehidupan darat, laut dan udara, serta kepentingan nasional dan internasional.
Asas kesadaran hukum, ialah bahwa tiap warga negara Indonesia harus selalu sadar dan taat
kepda hukum dan mewajibkan Negara menegakkan dan menjamin kepastian hukum.
Asas kepercayaan pada diri sendiri, yaitu bahwa pembangunan nasional harus berlandaskan
pada kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri, serta bersendikan kepada kepribgadian
bangsa.
Asas wawasan nusantara yang mencakup perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu
kesatuan politik, satu kesatuan sosial budaya, satu kesatuan pertahanan dan keamanan. Dalam penertian
kesatuan politik tercakup pengertian bahwa seluruh kepulauan nusantara merupakan satu kesatuan
hukum, hanya ada satu Hukum Nasional yang mengabdi pada kepentingan nasional.


B. Kesadaran Hukum Sebagai Landasan Untuk Memperbaiki Sistem Hukum
Bicara tentang kesadaran hukum pada hakekatnya adalah bicara tentang manusia secara umum,
bukan bicara tentang manusia dalam lingkungan tertentu atau manusia dalam profesi tertentu seperti
hakim, jaksa, polisi dan sebagainya.
Manusia sejak dilahirkan sampai meninggal dari dulu sampai sekarang, dimana mana, selalu
mempunyai kepentingan. Kepentingan adalah suatu tuntutan yang diharapkan untuk dipenuhi.Sewaktu
masih kecil ia butuh kasih sayang ibu, butuh minum, makan dan pakaian. Beranjak besar ia butuh
bermain-main dengan manusia lain. Lebih besar lagi butuh sekolah, bekerja mencari mata pencaharian,
berkeluarga dan sampai pada saat meninggalnya ia mempunyai kepentingan. Semua itu merupakan
kepentingan-kepentingan manusia yang diharapkan dipenuhi.
Akan tetapi kenyataannya sepanjang sejarah, dimana-mana kepentingan manusia itu selalu
diancam atau diganggu oleh bahaya yang ada disekelilingnya. Dalam perjalanan hidupnya manusia
selallu diganggu oleh sesama manusia: pencurian, penipuan, perkosaan, perzinahan, pembunuhan atau
oleh binatang buas, atau bencana alam seperti tsnunami, lumpur panas atau taufan tiada hentinya.
Maka oleh karena itu manusia menginginkan adanya perlindungan kepentingan-kepentingannya
terhadap ancaman-ancaman bahaya sepanjang masa. Perlindungan kepentingan terhadap bahaya-bahaya
disekelilingnya itu terpenuhi dengan terciptanya antara lain kaedah (peraturan) hukum. Dengan
terciptanya kaedah hukum itu manusia merasa lebih telindungi terhadap ancaman bahaya di
dekelilingnya. Jadi fungsi kaedah hukum itu melindungi kepentingan manusia dan sesamanya
(masyarakat). Meskipun demikian bahaya akan selalu mengancam kepentingannya.
Manusia sadar dan yakin bahwa kaedah hukum itu untuk melindungi kepentingan manusia dan
sesamanya terhadap ancaman bahaya di sekelilingnya. Oleh karena itu setiap manusia mengharapkan
agar hukum dilaksanakan dan dihayati oleh semua manusia agar kepentingannya dan kepentingan
masyarakat terlindungi terhadap bahaya yang ada di sekelilingnya.
Dengan demikian maka kesadaran hukum adalah kesadaran bahwa hukum itu melindungi
kepentingan manusia dan oleh karena itu harus dilaksanakan serta pelanggarnya akan terkena sanksi.
Pada hakekatnya kesadaran hukum adalah kesadaran akan adanya atau terjadinya kebatilan atau
onrecht, tentang apa hukum itu atau apa seharusnya hukum itu. Kesadaran hukum adalah sumber
segala hukum. Dengan perkataan lain kesadaran hukum itu ada pada setiap manusia, karena setiap
manusia berkepentingan kalau hukum itu dilaksanakan, dihayati karena dengan demikian
kepentingannya akan terlindungi. Kalau hukum itu dilaksanakan atau dihayati, tidak dilanggar, maka
kepentingan saya, kepentingan orang lain, kepentingan masyarakat terlindingi. Dengan demikian
kesadaran hukum bukan monopoli dari sarjana hukum saja, bukan hanya harus dimiliki oleh hakim,
jaksa dan polisi saja, tetapi pada dasarnya ada pada diri setiap manusia baik ia terpelajar maupun tidak.
Asas hukum yang berbunyi setiap orang dianggap tahu akan undang-undang menunjukkan
bahwa kesadaran hukum itu pada dasarnya ada pada diri setiap manusia. Asas hukum merupakan
persangkaan, merupakan sebagian dari cita-sita manusia, sebagai sesuatu yang tidak nyata, suatu
presumption yang banyak terdapat didunia hukum. Setiap orang dianggap tahu akan undang-undang
agar melaksanakan dan menghayatinya, agar kepentingan kita atau masyarakat terlindungi terhadap
gangguan atau bahaya dari sekitarnya, meskipun kenyataannya tidak tahu. Bahkan asas hukum tersebut
mengasumsikan asas hukum lain yang berbunyi ketidak tahuan akan undang-undang tidak merupakan
alasan pemaaf (ignorantia leges excusat neminem).
Dipelosok desa yang terpencil seorang pencuri ayam diajukan dimuka pengadilan. Ia tidak
dapat membela diri untuk tidak dihukum, dengan mengatakan bahwa ia buta huruf dan tidak tahu kalau
ada Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang mengancam pencuri ayam dengan hukuman penjara.
Seorang suami terpelajar melaporkan isterinya meninggal hanya agar supaya dapat nikah lagi. Dalam
hati kecilnya, kalau ia mau jujur, ia akan menilai perbuatannya itu tidak terpuji, melanggar hukum.
Seharusnya ia sadar (hukum) bahwa hal itu tidak baik, melanggar hukum, meskipun ia tidak pernah tahu
akan adanya Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan PP no 45 tahun 1990. Dalam hati kecil
saya bertanya: Apakah jawaban seorang koruptor kalau ditanya oleh anak kandungnya yang masih di
SD: Pak apakah korupsi itu baik? Karena yang bertanya itu buah hatinya yang disayangi, maka saya
yakin bahwa ia akan menjawab: Korupsi itu tidak baik nak, karena sebagai orang tua tidak ingin
anaknya menjadi koruptor. Kalau saya tidak mau dilaporkan mati janganlah melaporkan orang lain mati
untuk kepentingan atau keuntungan diri sendiri.
Walaupun kesadaran hukum itu ada pada setiap manusia tetapi kesadaran hukum itu tidak selalu
disertai dengan perbuatan yang positif yang sesuai dengan kesadaran hukum manusia pada umumnya,
tetapi justru disertai dengan perbuatan yang tidak terpuji. Sadar bahwa mencuri itu tidak baik tetapi
masih juga mencuri, sadar bahwa korupsi itu tidak baik tetapi masih juga korupsi, sadar bahwa
membunuh itu tidak baik tetapi masih juga mau membunuh. Ini dapat dimaklumi oleh karena manusia
itu pada umumnya mencari benarnya sendiri, tidak mau disalahkan, kepentingan pribadi atau kelompok
lebih menonjol.
Apa yang dapat kita konstatasi di dalam masyarakat yang berhubungan dengan kesadaran
hukum dewasa ini? Banyaknya perampokan, korupsi, yang sudah meluas tidak terbatas pada penegak
hukum saja, tetapi juga melibatkan lembaga legislatif dan eksekutif, pembunuhan dan pelanggaran-
pelanggaran hukum lainnya membuktikan bahwa kesadaran hukum kita (masyarakat) menurun. Yang
memrihatinkan ialah bahwa meningkatnya kriminalitas bukan hanya dalam kualitas atau volumenya
saja, tetapi juga dalam kualitas atau intensitas serta jenisnya.
Disamping pelanggaran hukum atau undang-undang, terjadi juga penyalah gunaan hak atau
wewenang. Menggunakan haknya secara berlebihan atau wewenang itu akan merugikan orang lain.
Pelanggaran hukum dan penyalahgunaan hak dan wewenang menunjukkan tidak adanya kesadaran
hukum. Adanya gerakan reformasi hukum menunjukkan bahwa kesadaran hukum kita sudah menurun.
Akan tetapi menurunnya kesadaran hukum tidak hanya mengakibatkan pelanggaran hukum
(undang-undang), penyalahgunaan hak atau wewenang saja tetapi mengakibatkan juga pembentuk
undang-undang tidak memperhatikan sistem hukum kita. Karena euphoria maka kita ada dalam keadaan
senang-senangnya (mbungahi) membuat atau mengubah, merevisi atau mengamandamen undang-
undang dan mengubah undang-unang baru. Undang-undang Dasar saja diubah. Dalam mengubah atau
membentuk undang-undang baru jarang diperhatikan bahwa hukum itu merupakan suatu sistem, yang
berarti bahwa suatu undang-undang itu tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan sistem dengan undang-
undang yang lain. Tidak diperhatikannya sistem hukum ada kemungkinannya karena kesadaran
hukumnya, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada, telah menurun. Di dunia hukum di Indnesia ini ada 2
kelompok, yaitu kelompok petualangan, yaitu sarjana hukum yang tahu akan hukum atau sistem hukum,
tetapi berveripericolo menyimpang dari sistem hukumnya. Kelompok kedua adalah para pejabat yang
mempunyai kekuasaan yang bukan sarjana hukum akan tetapi mencoba berbicara tentang hukum.
Tidak jarang digunakan terminologi hukum dalam undang-undang baru yang sama dengan
terminologi yang sama dalam undang-undang sebelumnya tetapi artinya berbeda. Tidak sedikit undang-
undang diciptakan karena kepentingan sesaat dan tidak memperhatikan sistem hukum, sehingga
akibatnya undang-undang itu tidak berlangsung lama dan dicabut. Yang ideal ialah kalau undang-
undang itu bersifat futuristik yang berarti bahwa undang-undang itu dapat berlangsung dalam kurun
waktu yang lama dan tidak kasuistik, belum berapa lama berlaku sudah direvisi, diamandemen atau
dicabut.
Kesadaran hukum telah menurun secara memrihatinkan yang mau tidak mau mengakibatkan
merosotnya kewibawaan pemenrintah. Seperti yang dikatakan diatas kesadaran hukum itu berhubungan
dengan manusianya bukan dengan hukum. Bukan hukumnyalah yang harus direformasi. Oleh karena itu
yang harus diperbaiki atau ditingkatkan adalah manusianya atau sumber daya manusianya. Moral,
mental dan intelektualitasnya harus ditingkatkan. Sistem pendidikan kita rupa-rupanya kurang menaruh
perhatian dalam menanamkan kesadaran hukum. Jadi untuk memperbaiki sistem hukum kita, perlu
sumber daya manusianya ditingkatkan melalui pendidikan

C. Kesadaran Hukum Vs Kepatuhan Hukum
Berbagai program penyuluhan hukum yang dilakukan selama ini terhadap masyarakat luas
terutama yang berada di Desa-Desa dengan target terciptanya masyarakat sadar hukum (Kadarkum)
kelihatannya sesuatu yang baik dan ideal. Namun haruslah difahami bersama bahwa kesadaran hukum
masyarakat tidak identik dengan kepatuhan hukum hukum masyarakat itu sendiri.
Kepatuhan hukum pada hakikatnya adalah kesetian seseorang atau subyek hukum terhadap
hukum itu yang diujudkan dalam bentuk prilaku yang nyata, sedang kesadaran hukum masyarakat
masih bersifat abstrak belum merupakan bentuk prilaku yang nyata yang mengakomodir kehendak
hukum itu sendiri. Banyak diantara anggota masyarakat sebenarnya sadar akan perlunya penghormatan
terhadap hukum baik secara instinktif maupun secara rational namun mereka cenderung tidak patuh
terhadap hukum. Kebudayaan hukum yang berkembang dimasyarakat kita ternyata lebih banyak
mencerminkan bentuk prilaku opportunis yang dapat diibarat mereka yang berkenderaan berlalu lintas
di jalan raya, ketika lampu merah dan kebetulan tidak ada polisi yang jaga maka banyak diantara
mereka nekat tetap jalan terus dengan tidak mengindahkan atau memperdulikan lampu merah yang
sedang menyala.
Apakah dengan begitu mereka yang melanggar lampu merah itu kita katakan tidak sadar hukum
dan/atau tidak mengerti apa sebenarnya fungsi keberadaan lampu pengatur lalu-lintas yang ada
disimpang-simpang jalan..? Terlalu prematur kita katakan mereka tidak sadar hukum.
Mereka sebenarnya sadar tentang perlunya peraturan berlalu-lintas di jalan raya dan lebih dari itu
mereka juga sadar telah melanggar lampu merah, tapi masalahnya mereka tidak patuh terhadap
peraturan itu. Dan ada lagi sebagai illustrasi kasus seorang anak bangsa di negeri ini yang baru saja
melakukan yel-yel (demonstrasi) dengan agenda tegakkan supremasi hukum tanpa pandang bulu,
hukum pejabat yang korup serta konglomerat hitam namun ketika seorang anak bangsa tersebut usai
demostrasi dan bergegas pulang kebetulan di tengah jalan kena razia (cegatan Poltas) dan anak bangsa
tersebut kebetulan tidak membawa SIM, malah ngajak Poltas tersebut untuk 86, kata lain untuk
dimengerti diselesaikan diluar jalur hukum.
Agaknya illustrasi kasus tersebut merupakan representasi dari kebudayaan hukum di Indonesia.
Sebagian besar masyarakat kita sadar akan perlunya hukum dan penghormatan terhadap hukum itu
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun kenyataannya masyarakat kita cenderung tidak patuh
pada hukum. Bahwa kesadaran seseorang tentang hukum ternyata tidak serta merta membuat seseorang
tersebut patuh pada hukum karena banyak indikator-indikator sosial lainnya yang mempengaruhinya.
Kepatuhan hukum merupakan dependen variabel maka untuk membangun masyarakat patuh hukum
perlu dicari independen variabel atau intervening variabel agar program Pemerintah yang menghendaki
terciptanya masyarakat sadar hukum hasilnya dapat dilihat dalam bentuk kepatuhan masyarakat tersebut
pada hukum itu sendiri, sehingga tidak diperlukan alat pemaksa (kekuasaan cq Polisi) yang membuat
masyarakat takut agar mereka patuh pada hukum.
Namun disisi lain ternyata tidak sedikit pula dalam kenyataannya para Penegak Hukum kita
yang tergolong dalam catur wangsa yang dalam melakukan tugasnya menegakkan hukum terutama
dalam hukum pidana materiil (KUHP dan Peraturan Perundang-undang lainnya yang mengandung
sanksi pidana) justru dilakukannya dengan jalan melanggar hukum pidana formil (KUHAP dan Hukum
Acara Pidana lainnya) baik itu disengaja ataupun tidak disengaja, kenyataan ini dapat
mengindikasikan sekaligus memberi kesan kuat kepada masyarakat bahwa proses penegakan hukum di
Negara kita masih dilakukan dengan setengah hati sekalipun itu di jaman era reformasi ini yang katanya
mengedepankan hukum sebagai panglima. Kenyataan ini semakin memberi kesan kuat kepada
masyarakat luas bahwa penegak hukumpun di negeri ini tidak patuh pada hukum.

D. Menanamkan Kesadaran Hukum Dan Kepatuhan Hukum
Kesadaran hukum itu kiranya dapat dirumuskan sebagai kesadaran yang ada pada setiap
manusia tentang apa hukum itu atau apa hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita
yang membedakan antara hukum dan tidak hukum (on recht) antara yang seyogyanya dilakukan dan
tidak dilakukan. Kesadaran hukum adalah kesadaran tentang apa yang seyogyanya kita lakukan atau
yang seyogyanya tidak kita lakukan terutama terhadap orang lain. Ini berarti kesadaran akan kewajiban
hukum kita masing-masing terhadap orang lain.
Kesadaran hukum itu berarti juga kesadaran tentang hukum, kesadaran bahwa hukum
merupakan perlindungan kepentingan manusi: menyadari bahwa manusia mempunyai banyak
kepentingan yang memerlukan perlindungan hukum. Kesadaran hukum perlu dibedakan dari perasaan
hukum. Kalau perasaan hukum itu merupakan penilaian yang timbul secara serta merta (spontan) maka
kesadaran hukum merupakan penilaian yang secara tidak langsung diterima dengan jalan pemikiran
secara rasional dan berargumentasi. Sering kesadaran hukum itu dirumuskan sebagai resultante dari
perasaan-perasaan hukum di dalam masyarakat.
Jadi kesadaran hukum tidak lain merupakan pandangan-pandangan yang hidup dalam
masyarakat tentang apa hukum itu. Pandangan-pandangan hidup dalam masyarakat bukanlah semata-
mata hanya merupakan produk dari pertimbangan-pertimbangan menurut akal saja, akan tetapi
berkembang di bawah pengaruh beberapa faktor seperti agama, ekonomi, politik dan lain sebagainya.
Akhir-akhir ini banyak dipermasalahkan tentang merosotnya kesadaran hukum. Pandangan
mengenai merosotnya kesadaran hukum disebabkan karena akhir-akhir ini banyak terjadi pelanggaran-
pelanggaran hukum dan ketidakpatuhan hukum. Kalau kita mengikuti berita-berita dalam surat kabar,
maka boleh dikatakan tidak ada hati lewat dimana tidak dimuat berita tentang terjadinya pelanggaran-
pelanggaran hukum. Berita-berita tentang penipuan, penjambretan, penodongan, pembunuhan, korupsi,
kredit macet, manipulasi dan sebagainya setiap hari dapat kita baca dalam surat kabar. Yang
menyedihkan ialah bahwa tidak sedikit orang yang seharusnya menjadi panutan, orang yang tahu hukum
melakukannya, baik ia petugas penegak hukum atau bukan. Yang mencemaskan ialah bahwa
meningkatnya kriminalitas bukan hanya dalam kuantitas dan volumenya saja, tetapi juga dalam kualitas
atau intensitas serta jensinya. Tidak hanya pelanggaran hukum atau ketidakpatuhan hukum saja yang
terjadi tetapi juga penyalahgunaan hak dan/atau wewenang.
Karena peristiwa-peristiwa tersebut di atas dapatlah dikatakan secara umum bahwa kesadaran
hukum masyarakat dewasa ini menurun. Pada hakekatnya kesadaran hukum itu tidak hanya
berhubungan dengan hukum tertulis. Tetapi dalam kaitannya dengan kepatuhan hukum, maka kesadaran
hukum itu timbul dalam proses penerapan hukum positif tertulis. Kepatuhan hukum adalah ketaatan
pada hukum, dalam hal ini hukum yang tertulis. Kepatuhan atau ketaatan ini didasarkan pada kesadaran.
Hukum dalam hal ini hukum tertulis atau peraturan perundang-undangan mempunyai pelbagai macam
kekuatan, kekuatan berlaku atau rechtsgeltung.
Kalau suatu undang-undang itu memenuhi syarat-syarat formal atau telah mempunyai kekuatan
secara yuridis, namun belum tentu secara sosiologis dapat diterima oleh masyarakat, ini yang disebut
kekuatan berlaku secara sosiologis. Masih ada kekuatan berlaku yang disebut filosofische
rechtsgetung, yaitu apabila isi undang-undang tersebut mempunyai ketiga kekuatan berlaku sekaligus.
Orang akan patuh atau taat pada hukum apabila ia sadar bahwa hukum itu berfungsi untuk melindungi
kepentingan manusia baik sebagai individu termasuk dirinya sendiri maupun kelompok.
Kepatuhan merupakan sikap yang aktif yang didasarkan atas motivasi setelah ia memperoleh
pengetahuan. Dari mengetahui sesuatu, manusia sadar, setelah menyadari ia akan tergerak untuk
menentukan sikap atau bertindak. Oleh karena itu dasar kepatuhan itu adalah pendidikan, kebiasaan,
kemanfaatan dan identifikasi kelompok. Jadi karena pendidikan, terbiasa, menyadari akan manfaatnya
dan untuk identifikasi dirinya dalam kelompok manusia akan patuh. Jadi harus terlebih dahulu tahu
bahwa hukum itu ada untuk melindungi dari kepentingan manusia, setelah tahu kita akan menyadari
kegunaan isinya dan kemudian menentukan sikap untuk mematuhinya.
Dalam usaha kita meningkatkan dan membina kesadaran hukum ada tida tindakan pokok yang
dapat dilakukan.
a. Tindakan represif, ini harus bersifat drastic, tegas. Petugas penegak hukum dalam melaksanakan law
enforcement harus lebih tegas dan konsekwen. Pengawasan terhadap petugas penegak hukum harus
lebih ditingkatkan atau diperketat. Makin kendornya pelaksanaan law enforcement akan
menyebabkan merosotnya kesadaran hukum. Para petugas penegak hukum tidak boleh membeda-
bedakan golongan.
b. Tindakan preventif merupakan usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran hukum
atau merosotnya kesadaran hukum. Dengan memperberat ancaman hukum terhadap pelanggaran-
pelanggaran hukum tertentu diharapkan dapat dicegah pelanggaran-pelanggaran hukum tertentu.
Demikian pula ketaatan atau kepatuhan hukum para warga Negara perlu diawasi dengan ketat.
c. Tindakan persuasif, yaitu mendorong, memacu. Kesadaran hukum erat kaitannya dengan hukum,
sedang hukum adalah produk kebudayaan. Kebudayaan mencakup suatu sistem tujuan dan nilai-nilai
hukum merupakan pencerminan daripada nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat. Menanamkan
kesadaran hukum berarti menanamkan nilai-nilai kebudayaan.
Pendidikan tetang kesadaran hukum hendaknya diberikan secara formal di sekolah-sekolah dan
secara non formal di luar sekolah kepada masyarakat luas. Yang harus ditanamkan dalam pendidikan
formal maupun non formal ialah bagaimana menjadi warga Negara yang baik, tentang apa hak dan
kewajiban seorang Warga Negara Indonesia. Setiap warga Negara harus tahu undang-undang yang
berlaku di negara kita. Pengetahuan tentang adanya dan isinya harus diketahui untuk menimbulkan
kesadaran hukum. Ini merupakan presumsi hukum, merupakan azas yang berlaku. Dengan mengenal
undang-undang maka kita akan menyadari isi dan manfaatnya dan selanjutnya mematuhinya. Lebih
lanjut ini semuanya berarti menanamkan pengertian bahwa di dalam pergaulan hidup kita tidak boleh
melanggar hukum serta kewajiban hukum, tidak boleh berbuat merugikan orang lain dan harus
bertindak berhati-hati di dalam masyarakat terhadap orang lain.
Pendidikan non formal ditujukan kepada masyarakat luas meliputi segala lapisan. Menanamkan
kesadaran hukum dengan cara ini dapat dilakukan dengan penyuluhan, baik dengan cara penerbitan
buku saku, ceramah, penulisan artikel maupun pembinaan kadarkum. Tetapi yang lebih penting lagi
kiranya kalaulah semua Warga Negara Indonesia mengamalkan ilmu hukum yang diperolehnya baik
dari pendidikan formal maupun non formal. Ilmu hukum yang diperoleh itu harus diamalkan (ilmu yang
amaliah) dan amal itu harus ilmiah (amal yang ilmiah).

E. Potret Kesadaran Hukum Indonesia
Fase pertumbuhan manusia adalah tahapan perkembangan usia, akal, watak, dan sifat manusia
dari mulai anak-anak hingga beranjak dewasa. Jika kita mengibaratkan kehidupan masyarakat Indonesia
seperti fase pertumbuhan manusia. Masyarakat Indonesia saat ini masih berada pada fase ABG (anak
baru gede). Masa ini adalah masa idealisme dan egoisme tinggi sehingga cenderung melakukan sesuatu
hal dengan tanpa pertimbangan yang matang dan seringkali melabrak aturan-aturan yang ada. Masa ini
adalah masa dimana seseorang mulai melakukan pencarian jati diri karena masih labil. Masa dimana
perasaan pingin dihargai, dihormati, diakui, dan pingin dikenal oleh orang lain menjadi dominan.
Itulah gambaran yang bisa kita lihat sekarang ini. Tingkat kesadaran masyarakat kita yang
masih dalam taraf ABG alias belum dewasa. Contoh kecil bisa kita lihat di jalan-jalan umum di sekitar
kita, sebagian besar dari mereka (pengguna jalan) tidak tertib berlalulintas, selalu tergesa-gesa, dan tidak
mengindahkan aturan-aturan lalu lintas yang ada. Begitu rendahnya kesadaran masyarakat di Negara
kita termasuk kesadaran hukum di segala bidang. Penyalahgunaan wewenang kekuasaan, perbuatan
korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah menjadi hal yang wajar bagi kalangan orang-orang berduit.
Hukum hanyalah politik dagang sapi, bisa diperjual belikan dengan seenaknya tergantung
penawaran tertinggi. Hukum adalah praktek monopoli para jaksa dan hakim untuk mempercepat kaya.
Hukum di Negara kita ibarat para ABG perempuan yang senang sekali bersolek untuk mempercantik
diri dan ibarat ABG lelaki yang senang dengan kebut-kebutan di jalan raya tanpa mengindahkan
keselamatan orang lain.
Hukum di Indonesia selamanya tidak akan berubah menuju lebih baik, kalau para pemimpin
Negara, para pejabat, dan para jaksa di Negara kita masih ABG. Meskipun wajah kelihatan Tua, namun
pemikirannya masih ABG. Pencarian jati diri sih boleh-boleh saja, tapi jangan sikut kiri, sikut kanan,
lirik sana-sini, ada makanan di embat, jangan-jangan yang tengah juga dicomot lagi. Wajar saja kalau
banyak yang menyebut negeri ini dengan negeri seribu satu maling.





















III. KESIMPULAN

Hukum nasional Indonesia adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur kehidupan
manusia dalam wilayah hukum Indonesia. Dalam kehidupannya manusia memiliki kepentingan dimana
kepentingan manusia itu selalu diancam atau diganggu oleh bahaya yang ada disekelilingnya seperti
pencurian, perampokan, perzinahan, pencemaran nama baik dan sebagainya. Maka oleh karena itu
manusia menginginkan adanya perlindungan kepentingan-kepentingannya terhadap ancaman-ancaman
bahaya sepanjang masa. Perlindungan kepentingan terhadap bahaya-bahaya disekelilingnya itu
terpenuhi dengan terciptanya antara lain kaedah (peraturan) hukum. Oleh karena itu setiap manusia
mengharapkan agar hukum dilaksanakan dan dihayati oleh semua manusia agar kepentingannya dan
kepentingan masyarakat terlindungi terhadap bahaya yang ada di sekelilingnya.
Akan tetapi dalam aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari pelaksanaan hukum ini tidak sesuai
dengan kerangka penegakannya. Banyak terjadi pelanggaran disana-sini yang sangat tidak
memperhatikan asas kesadaran hukum. Walaupun kesadaran hukum itu ada pada setiap manusia tetapi
kesadaran hukum itu tidak selalu disertai dengan perbuatan yang positif yang sesuai dengan kesadaran
hukum manusia pada umumnya, tetapi justru disertai dengan perbuatan yang tidak terpuji.
Disamping pelanggaran hukum atau undang-undang, terjadi juga penyalah gunaan hak atau
wewenang. Menggunakan haknya secara berlebihan atau wewenang itu akan merugikan orang lain.
Pelanggaran hukum dan penyalahgunaan hak dan wewenang menunjukkan tidak adanya kesadaran
hukum. Adanya gerakan reformasi hukum menunjukkan bahwa kesadaran hukum kita sudah menurun.
Akan tetapi menurunnya kesadaran hukum tidak hanya mengakibatkan pelanggaran hukum
(undang-undang), penyalahgunaan hak atau wewenang saja tetapi mengakibatkan juga pembentuk
undang-undang tidak memperhatikan sistem hukum kita. Di dunia hukum di Indonesia ini ada 2
kelompok, yaitu kelompok petualangan, yaitu sarjana hukum yang tahu akan hukum atau sistem hukum,
tetapi berveripericolo menyimpang dari sistem hukumnya. Kelompok kedua adalah para pejabat yang
mempunyai kekuasaan yang bukan sarjana hukum akan tetapi mencoba berbicara tentang hukum.
Proses penegakan hukum di Negara kita masih dilakukan dengan setengah hati sekalipun itu di jaman
era reformasi ini yang katanya mengedepankan hukum sebagai panglima. Kenyataan ini semakin
memberi kesan kuat kepada masyarakat luas bahwa penegak hukumpun di negeri ini tidak patuh
pada hukum.
Kesadaran hukum telah menurun secara memprihatinkan yang mau tidak mau mengakibatkan
merosotnya kewibawaan pemerintah. Seperti yang dikatakan diatas kesadaran hukum itu berhubungan
dengan manusianya bukan dengan hukum. Bukan hukumnyalah yang harus direformasi. Oleh karena itu
yang harus diperbaiki atau ditingkatkan adalah manusianya atau sumber daya manusianya. Moral,
mental dan intelektualitasnya harus ditingkatkan. Sistem pendidikan kita rupa-rupanya kurang menaruh
perhatian dalam menanamkan kesadaran hukum. Jadi untuk memperbaiki sistem hukum kita, perlu
sumber daya manusianya ditingkatkan melalui pendidikan.
Dalam usaha kita meningkatkan dan membina kesadaran hukum ada tida tindakan pokok yang
dapat dilakukan.
a. Tindakan represif, ini harus bersifat drastic, tegas.
b. Tindakan preventif merupakan usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran hukum
atau merosotnya kesadaran hukum.
c. Tindakan persuasif, yaitu mendorong, memacu.