Anda di halaman 1dari 14

Pasien Meninggal Akibat Kelalaian Dokter

Grace Marcella Untoro


102011028
gre-marc@hotmail.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no. 6 Jakarta
Pendahuluan
Zaman sekarang ini tidak jarang ditemui kasus-kasus antara dokter dan pasien, dimana pasien
menuntut sang dokter. Situasi tersebut bisa dikarenakan kesalahan seorang dokter maupun
bukan kesalahan dokter. Tidak jarang juga karena tindakan yang dilakukan seorang dokter
sampai menyebabkan pasien meninggal. Sebagai seorang dokter harus melakukan segala
sesuatu dengan baik dan benar sesuai ketentuan yang berlaku. Meskipun begitu sering kali
sebagai seorang dokter lupa akan apa yang harus dilakukan dan yang tidak harus dilakukan.
Definisi Malpraktek
Blacks Law Dictionary mendefinisikan malpraktik sebagai professional misconduct
or unreasonable lack of skill atau failure of one rendering professional servicees to
exercise that degree of skill and learning commonly apllied under all the circumtances in the
community by the average prudent reputable member of the profession with the result injury,
loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them
(bahasa mudahnya: lalai). 1
Dari segi hukum, di dalam definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa malpraktik
dapat terjadi karena tindakan yang disenganja (intetional) seperti misconduct tertentu,
tindakan kelalaian (negligence), ataupun suatu kekurang-mahiran/ ketidak-kompetenan yang
beralasan. 1
Malpraktik dapat dilakukan oleh profesi apa saja, tidak hanya oleh dokter. Profesional
dibidang hukum, perbankan dan akuntansi adalah beberapa profesional lain di luar
kedokteran yang dapat ditunjuk sebagai pelaku malpraktik dalam pekerjannya masingmasing. 1

Professional misconduct yang merupakan kesengajaan dapat dilakukan dalam bentuk


pelanggaran kententuan etik, ketentuan disiplin profesi, hukum administratif, serta hukum
pidana dan perdata, seperti melakukan kesengajaan yang merugikan pasien, fraud,
penahanan pasien, pelanggaran wajib simpan rahasia kedoktean, aborsi ilegal, euthanasia,
penyerangan seksual, misrepresentasi atau fraud, keterangan palsu, menggunakan iptekdok
yang belum teruji/diterima, berpraktek tanpa SIP, berpraktek di luar kompetensinya, sengaja
melanggar standar, dan lain-lain. 1
Selain itu malpraktik juga dapat terjadi sebagai akibat kelalaian. Sementara itu itu
ketidak-kompetenan dapat menuju ke suatu tindakan misconduct ataupun suatu kelalaian. 1
Dengan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kesimpulan adanya malpraktik
bukanlah dilihat dari hasil tindakan medis pada pasien melainkan harus ditinjau dari
bagaimana proses tindakan medis tersebut dilaksanakan. 1
Suatu hasil yang tidak diharapkan di bidang medik sebenarnya diakibatkan oleh
beberapa kemungkinan yaitu:
1. Hasil dari suatu perjalanan penyakitnya sendiri, tidak berhubungan dengan
tindakan medis yang dilakukan dokter.
2. Hasil dari suatu risiko yang tak dapat dihindari, yaitu risiko yang tak dapat
diketahui sebelumnya (unforseeable), atau risiko yang meskipun telah diketahui
sebelumnya tetapi dianggap acceptable, sebagaimana telah diuraikan di atas.
3. Hasil dari suatu kelalaian medik.
4. Hasil dari suatu kesengajaan. 1
Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian itu tidak sampai
membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Ini
berdasarkan prinsip hukum De minimis noncurat lex, yang berarti hukum tidak
mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian
materi, mencelakakan bahkan merenggut nyawa orang lain, maka ini diklasifikasikan sebagai
kelalaian berat (culpa lata), serius dan kriminil.1
Tolak ukur culpa lata adalah:
1.
2.
3.
4.

Bertentangan dengan hukum


Akibatnya dapat dibayangkan
Akibatnya dapat dihindarkan
Perbuatannya dapat dipersalahkan.1

Jadi malpraktek medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran di bawah
standar.1
Malpraktek medik murni (criminal malpractice) sebenarnya tidak banyak dijumpai. Misalnya
melakukan pembedahan dengan niat membunuh pasiennya atau adanya dokter yang sengaja
melakukan pembedahan pada pasiennya tanpa indikasi medik, (appendektomi, histerektomi
dan sebagainya), yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, jadi semata-mata untuk mengeruk
keuntungan pribadi. Memang dalam masyarakat yang menjadi materialistis, hedonistis dan
konsumtif, di mana kalangan dokter turut terimbas, malpraktek di atas dapat meluas.2
Pasien/keluarga menaruh kepercayaan kepada dokter, karena:
1. Dokter mempunyai ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk menyembuhkan
penyakit atau setidak-tidaknya meringankan penderitaan.
2. Dokter akan bertindak hati-hati dan teliti
3. Dokter akan bertindak berdasarkan standar profesinya.2
Dokter dikatakan melakukan malpraktek jika:
1. Dokter kurang menguasai iptek kedokteran yang sudah berlaku umum di kalangan
profesi kedokteran
2. Memberikan pelayanan kedokteran di bawah standar profesi (tidak lege artis).
3. Melakukan kelalaian yang berat atau memberikan pelayanan dengan tidak hati-hati.
4. Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum.2
Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik kedokteran, maka ia
hanya telah melakukan malpraktek etik. Untuk dapat menuntut penggantian kerugian karena
kelalaian, maka penggugat harus dapat membuktikan adanya 4 unsur berikut:
1.
2.
3.
4.

Adanya suatu kewajiban bagi dokter terhadap pasien


Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim dipergunakan
Penggugat telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya
Secara factual kerugian itu disebabkan oleh tindakan di bawah standar.2

Kadang-kadang penggugat tidak perlu membuktikan adanya kelalaian yang tergugat. Dalam
hukum terdapat suatu kaedah yang berbunyi Res Ipsa Loquitur, yang berarti faktanya telah
berbicara, misalnya terdapatnya kain kasa yang tertinggal di rongga perut pasien, sehingga
menimbulkan komplikasi pasca bedah. Dalam hal ini maka dokterlah yang harus
membuktikan tidak adanya kelalaian pada dirinya.2

Kelalaian dalam arti perdata berbeda dengan arti pidana. Dalam arti pidana (kriminil),
kelalaian menunjukkan kepada adanya suatu sikap yang sifatnya lebih serius, yaitu sikap
yang sangat sembarangan atau sikap sangat tidak hati-hati terhadap kemungkinan timbulnya
resiko yang bisa menyebabkan orang lain terluka atau mati, sehingga harus bertanggung
jawab terhadap tuntutan kriminal oleh negara.2
Macam-macam Malpraktek
Malpraktek dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu malpraktek etik dan malpraktek yuridis,
ditinjau dari segi etika profesi dan segi hukum.3
1. Malpraktek etik
Yang dimaksud dengan malpraktek etik adalah kesalahan profesi karena kelalaian dalam
melaksanakan etika profesi, maka sanksinya adalah sanksi etika yang berupa sanksi
administrasi

sesuai

dengan

tingkat

kesalahannya.

Contoh konkrit yang merupakan malpraktek etik ini antara lain:


a. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan terhadap pasien kadangkala tidak
diperlukan bilamana dokter mau memeriksa secara lebih teliti. Namun karena
laboratorium memberikan janji untuk memberikan hadiah kepada dokter
yang mengirimkan pasiennya, maka dokter kadang-kadang bisa tergoda juga
mendapatkan hadiah tersebut.
b. Berbagai perusahaan yang menawarkan antibiotika kepada dokter dengan janji
kemudahan yang akan diperoleh dokter bila mau menggunakan obat tersebut,
kadang-kadang juga bisa mempengaruhi pertimbangan dokter dalam
memberikan terapi kepada pasien. Orientasi terapi berdasarkan janji-janji
pabrik obat yang sesungguhnya tidak sesuai dengan indikasi yang diperlukan
pasien juga merupakan malpraktek etik.3

2. Malpraktek yuridis
Malpraktek yuridis dibagi menjadi malpraktek civil, malpraktek pidana dan malpraktek
administratif.
a. Malpraktek perdata (civil malpractice)

Terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak dipenuhinya isi


perjanjian (wanprestasi) didalam transaksi terapeutik oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain, atau terjadinya perbuatan melanggar hukum (onrechmatige
daad)

sehingga

menimbulkan

kerugian

pada

pasien.

Adapun isi dari tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa:

Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.


Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi

terlambat melaksanakannya.
Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi

tidak sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya.


Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya
dilakukan.3

Sedangkan untuk perbuatan atau tindakan yang melanggar hukum haruslah


memenuhi beberapa syarat seperti:

Harus ada perbuatan (baik berbuat naupun tidak berbuat)


Perbuatan tersebut melanggar hukum (baik tertulis maupuntidak

tertulis)
Ada kerugian
Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan yang

melanggar hukum dengan kerugian yang diderita.


Adanya kesalahan (schuld)3

Sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi) karena


kelalaian dokter, maka pasien harus dapat membuktikan adanya empat unsure
berikut:

Adanya suatu kewajiban dokter terhadap pasien.


Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim.
Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat dimintakan

ganti ruginya.
Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar.3

Namun ada kalanya seorang pasien tidak perlu membuktikan adanya kelalaian
dokter. Dalam hukum ada kaidah yang berbunyi res ipsa loquitor yang
artinya fakta telah berbicara. Misalnya karena kelalaian dokter terdapat kain
kasa yang tertinggal dalam perut sang pasien tersebut akibat tertinggalnya kain

kasa tersebut timbul komplikasi paksa bedah sehingga pasien harus dilakukan
operasi kembali. Dalam hal demikian, dokterlah yang harus membuktikan
tidak adanya kelalaian pada dirinya.3
b. Malpraktek pidana (criminal malpractice)
Terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat akibat dokter
atau tenaga kesehatan lainnya kurang hati-hati atua kurang cermat dalam
melakukan upaya penyembuhan terhadap pasien yang meninggal dunia atau
cacat tersebut. Malpraktek medis yang dipidana membutuhkan pembuktian
adanya unsure culpa lata atau kelaalaian berat atau zware schuld dan pula
adanya akibat fatal atau serius.

Malpraktek

pidana

karena

kesengajaan

(intensional)

Misalnya pada kasus-kasus melakukan aborsi tanpa indikasi medis,


euthanasia, membocorkan rahasia kedokteran, tidak melakukan
pertolongan pada kasus gawat padahal diketahui bahwa tidak ada
orang lain yang bisa menolong, serta memberikan surat keterangan

dokter yang tidak benar.


Malpraktek
pidana

karena

kecerobohan

(recklessness)

Misalnya melakukan tindakan yang tidak lege artis atau tidak sesuai
dengan standar profesi serta melakukan tindakn tanpa disertai

persetujuan tindakan medis.


Malpraktek
pidana

karena

kealpaan

(negligence)

Misalnya terjadi cacat atau kematian pada pasien sebagai akibat


tindakan dokter yang kurang hati-hati atau alpa dengan tertinggalnya
alat operasi yang didalam rongga tubuh pasien.
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance,
misfeasance dan nonfeasance. Malfeasance berarti melakukan
tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak (unlawful atau
improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang
memadai

(pilihan

tindakan

medis

tersebut

sudah

improper).

Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat


tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance), yaitu
misalnya melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur.

Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan


kewajiban baginya. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan
bentuk-bentuk error (mistakes, slips and lapses) yang telah diuraikan
sebelumnya, namun pada kelalaian harus memenuhi ke-empat unsur
kelalaian dalam hukum khususnya adanya kerugian, sedangkan error
tidak selalu mengakibatkan kerugian. Demikian pula adanya latent
error yang tidak secara langsung menimbulkan dampak buruk.
Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktik medis,
sekaligus merupakan bentuk malpraktik medis yang paling sering
terjadi. Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang dengan tidak
sengaja, melakukan sesuatu (komisi) yang seharusnya tidak dilakukan
atau tidak melakukan sesuatu (omisi) yang seharusnya dilakukan oleh
orang lain yang memiliki kualifikasi yang sama pada suatu keadaan
dan situasi yang sama. Perlu diingat bahwa pada umumnya kelalaian
yang dilakukan orang-per-orang bukanlah merupakan perbuatan yang
dapat dihukum, kecuali apabila dilakukan oleh orang yang seharusnya
(berdasarkan

sifat

profesinya)

bertindak

hati-hati,

dan

telah

mengakibatkan kerugian atau cedera bagi orang lain.3


c. Malpraktek administrative (administrative malpractice)
Terjadi apabila dokter atau tenaga kesehatan lain melakukan pelanggaran
terhadap hukum Administrasi Negara yang berlaku, misalnya menjalankan
praktek dokter tanpa lisensi atau izinnya, manjalankan praktek dengan izin
yang sudah kadaluarsa dan menjalankan praktek tanpa membuat catatan
medik.
Dua macam pelanggaran administrasi tersebut adalah:

Pelanggaran

kedokteran
Pelanggaran administrasi mengenai pelayanan medis3

hukum

administrasi

tentang

kewenangan

praktek

Pembuktian Malpraktek di Pelayanan Kesehatan


Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan dengan
dua cara yakni :

1. Cara langsung
Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni:
a. Duty (kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian tenaga dokter dengan pasien, dokter haruslah
bertindak berdasarkan:
Adanya indikasi medis
Bertindak secara hati-hati dan teliti
Bekerja sesuai standar profesi
Sudah ada informed consent
b. Dereliction
of
Duty
(penyimpangan

dari

kewajiban)

Jika seorang dokter melakukan tindakan menyimpang dari apa yang


seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut
standard profesinya, maka dokter dapat dipersalahkan.
c. Direct Cause (penyebab langsung)
d. Damage (kerugian)
Dokter untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung)
antara penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya
dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela diantaranya., dan hal ini haruslah
dibuktikan dengan jelas. Hasil (outcome) negatif tidak dapat sebagai dasar
menyalahkan dokter. Sebagai adagium dalam ilmu pengetahuan hukum, maka
pembuktiannya adanya kesalahan dibebankan/harus diberikan oleh si
penggugat (pasien).4
2. Cara tidak langsung
Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien, yakni dengan
mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res
ipsa loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada
memenuhi kriteria:
a. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila dokter tidak lalai
b. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab dokter
c. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak
ada contributory negligence.4
Kejadian Tidak Diharapkan

Ketika memberikan pelayanan kepada pasien, terjadilah hubungan yang disebut kontrak
terapeutik. Dalam hubungan tersebut timbul hak, kewajiban dan tanggungjawab yang
mengikat para pihak dengan dilandaskan pada niat baik, kepercayaan dan kesetaraan. Di satu
pihak pasien dengan jujur menjelaskan masalahnya dan mempercayakan pengobatannya
kepada dokter dan di pihak lain dokter akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk
menolong pasien tersebut. Dalam perikatan ini, dokter harus berupaya sebaik mungkin
(inspannings verbintenis) sesuai standar profesi namun tidak dibenarkan untuk menjamin
hasil pengobatannya karena memang bukan perikatan hasil (resultaat verbintenis).5
Sekalipun dokter telah berupaya sebaik mungkin, adakalanya hasil pengobatan tidak sesuai
dengan harapan pasien ataupun dokter, ketidakberhasilan itu dapat berupa antara lain
timbulnya nyeri kronik, kecacatan, koma atau bahkan kematian. Kejadian tidak diharapkan
(KTD) ini disebut dengan adverse event. KTD dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Perjalanan penyakit yang tidak dapat dihentikan misal karena keganasan atau stadium
yang sudah lanjut; atau karena komplikasi penyakit yang terjadi kemudian.
2. Merupakan risiko yang tidak dapat diketahui atau dibayangkan sebelumnya
(unforeseeable risk)
3. Merupakan risiko yang sudah dapat diketahui namun dapat diterima oleh pasien
(foreseeable but accepted)
4. Akibat dari kegagalan dokter melaksanakan pelayanan yang layak (reasonable care)
dalam melaksanakan tugas profesionalnya, tanpa alasan yang dapat dibenarkan.5
Dalam hal nomer 1,2,3 diatas, dokter tidak harus bertanggungjawab selama dokter tersebut
telah melakukan asuhan medis sesuai standar profesi. Bila terjadi yang nomer 4, dokter dapat
dimintai pertangungjawaban karenanya.5
Mengingat adanya risiko pada tindakan pengobatan oleh dokter, maka dipandang perlu
diterbitkan Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang mengatur
praktik kedokteran di Indonesia. Pengaturan Praktik Kedokteran dilaksanakan oleh Konsil
Kedokteran Indonesia (KKI) sebagai perwujudan otonomi profesi dalam melakukan
pengaturan diri (self regulation) pada profesi kedokteran dan kedokteran gigi. Pengaturan
praktik kedokteran oleh KKI bertujuan 1) untuk melindungi masyarakat dan 2) untuk
meningkatkan mutu praktik kedokteran dan kedokteran gigi.5

Untuk mencapai tujuan tersebut, pengaturan dilakukan oleh KKI melalui berbagai kegiatan
diantaranya:
1. Meregistrasi dokter/dokter gigi praktik (practitioner) melakui penilaian kredential.
Bila dinilai memenuhi persyaratan mutu, kepada yang bersangkutan akan diberikan
surat tanda registrasi (STR) sebagai bukti kewenangannya untuk melaksanakan
asuhan medis.
2. Melakukan pembinaan dan pengawasan kepada para praktisi diatas, melalui
penyusunan standar-standar praktik kedokteran diantaranya standar pendidikan
profesi, standar kompetensi, standar perilaku profesional dan manual-manual teknis
lainnya.
3. Melakukan penegakan disiplin profesi kedokteran berupa penilaian kinerja dan
perilaku profesional dari dokter/dokter gigi yang berpraktik, yang dalam hal ini
dilakukan oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)5
MKDKI adalah bagian dari KKI yang bersifat otonom dalam melaksanakan tugas
fungsionalnya. Tugas pokok MKDKI adalah menegakkan disiplin profesi kedokteran, yang
meliputi keahlian profesional (professional expertise) dan perilaku profesional (professional
behaviour)6
Keluhan pasien pada umumnya adalah, hasil pengobatan yang tidak sesuai harapan dan
komunikasi yang tidak adekuat, baik karena pasien tidak memahami penjelasan dokter atau
karena informasi dokter yang tidak memadai sehingga pasien tidak memahami
permasalahnya dan kemudian menimbulkan respons emosional.5
Bila pasien tidak puas pada pelayanan dokter/dokter gigi, ada beberapa langkah yang dapat
dilakukan, yaitu:
1. Menanyakan kepada dokter atau manajemen rumah sakit dalam rangka meminta
penjelasan tentang penanganan terhadapnya.
2. Bila pasien menduga adanya pelanggaran disiplin yang serius, dan dalam rangka
meningkatkan kinerja dokter/dokter gigi, sebaiknya pasien mengadukan keluhannya
kepada MKDKI. Pengaduan tentang kinerja dokter/dokter gigi dapat disampaikan
oleh pasien atau keluarganya, atau oleh otoritas kesehatan seperti dinas kesehatan,
departemen kesehatan, sarana kesehatan, dan lain-lain.5

Setelah menerima laporan/pengaduan, MKDKI akan mengumpulkan fakta data dan


informasi untuk kemudian membentuk majelis yang akan melakukan pemeriksaan dalam
rangka menemukan ada atau tidaknya pelanggaran disiplin profesi yang telah dilakukan oleh
seorang dokter/dokter gigi.5
Bila ditemukan pelanggaran disiplin profesi maka MKDKI akam memberikan sanksi
disiplin dalam rangka memperbaiki inerja yang bersangkutan berupa peringatan tertulis,
reedukasi, pencabutan sementara STR dan SIP, atau pencabutan selamanya bila dipandang
kinerja dokter/dokter gigi tersebut tidak dapat diperbaiki lagi.5
MKDKI tidak berwenang menyelesaikan sengketa medik atau memerintahkan pihak
lain untuk memberikan kompensasi atau ganti rugi, maka bila menginginkan hal tersebut
pengadu dapat memanfaaatkan lembaga mediasi atau peradilan umum.5
Upaya Pencegahan Malpraktek
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga dokter, bidan dan ahli
kesehatan lainnya karena adanya mal praktek diharapkan para dokter,bidan dan ahli
kesehatan lainnya dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:
a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena
perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan
berhasil (resultaat verbintenis).
b. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
d. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
e. Memperlakukan

pasien

secara

manusiawi

dengan

memperhatikan

segala

kebutuhannya.
f. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya.5
Syok anafilaksis
Syok

anafilaktik

adalah

suatu

respons

hipersensitivitas

yang

diperantarai

oleh Immunoglobulin E (hipersensitivitas tipe I) yang ditandai dengan curah jantung dan
tekanan arteri yang menurun hebat. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu reaksi antigen-

antibodi yang timbul segera setelah suatu antigen yang sensitif masuk dalam sirkulasi. Syok
anafilaktik merupakan salah satu manifestasi klinis dari anafilaksis yang merupakan syok
distributif, ditandai oleh adanya hipotensi yang nyata akibat vasodilatasi mendadak pada
pembuluh darah dan disertai kolaps pada sirkulasi darah yang dapat menyebabkan terjadinya
kematian. Syok anafilaktik merupakan kasus kegawatan, tetapi terlalu sempit untuk
menggambarkan anafilaksis secara keseluruhan, karena anafilaksis yang berat dapat terjadi
tanpa adanya hipotensi, seperti pada anafilaksis dengan gejala utama obstruksi saluran napas.
Mekanisme umum terjadinya reaksi anafilaksis dan anafilaktoid adalah berhubungan
dengan degranulasi sel mast dan basophil yang kemudian mengeluarkan mediator kimia yang
selanjutnya bertanggung jawab terhadap symptom. Degranulasi tersebut dapat terjadi melalui
kompleks antigen dan Ig E maupun tanpa kompleks dengan Ig E yaitu melalui pelepasan
histamine secara langsung.
Mekanisme lain adalah adanya gangguan metabolisme asam arachidonat yang akan
menghasilkan leukotrien yang berlebihan kemudian menimbulkan keluhan yang secara klinis
tidak dapat dibedakan dengan meknisme diatas. Hal ini dapat terjadi pada penggunaan obatobat NSAID atau pemberian gama-globulin intramuscular.
Penatalaksanaan Syok Anafilaksis
Bila kita mencurigai adanya reaksi anafilaksis segera bertindak dan jangan ditunggutunggu. Salah seorang penulis mengatakan Do not wait until it is fully developed artinya
segeralah bertindak. 6
Apakah yang harus kita lakukan bila berhadapan dengan penderita syok anafilaksis?
1.

Posisi: Segera penderita dibaringkan pada posisi yang nyaman /comfortable dengan
posisi kaki ditinggikan (posisi trendelenberg), dengan ventilasi udara yang baik dan

jangan lupa melonggarkan pakaian.


2. Airways : Jaga jalan nafas dan berikan oksigen nasal/mask 5-10 I/menit, dan jika
penderita tak bernafas disiapkan untuk intubasi.
3. Intravena access : Pasang IV line dengan cairan NacL 0,9% / Dextrose 5% 0,5-1
liter/30 menit
4. Drug: Epinefrin / Adrenalin adalah drug of choice pada syok anafilaksis dan diberikan
sesgera mungkin jika mencurigai syok anafilaksis (TD sistolik turin < 90 MmHg).
Namun harus hati-hati dengan penderita yang dalam sehari-hari memang hipotensi. 6

Untuk itu perlunya dilakukan pemeriksaan TD sebelum dilakukan tindakan.


Dosis : 0,3-0,5 ml/cc Adrenalin/Epinefrin 1 : 1000 diberikan IM (untuk anak-anak dosis :
0,01 ml/KgBB/.dose dengan maksimal 0,4 ml/dose). Bila anafilaksis berat atau tidak respon
dengan pemberian dengan cara SK/IM pemberian Epinefrin/adrenalin dapat langsung melalui
intavena atau intratekal (bila pasien sudah dilakukan intubasi melalui ETT) dengan dosis 1-5
ml (Epi 1 : 10.000, dengan cara membuatnya yaitu mengencerkan epinefrin 1 ml1: 1000
dengan 10 ml NaCl). Dapat diulang dalam 5-10 menit. Jika belum ada respons diberikan
adrenalin perdip dengan dosis ug/menit (cara membuat : 1 mg Epinefrin1: 1000 dilarutkan
dalam DX5% 250 cc). 6
Selain pemberian Epi/Adrenalin pemberian antihistamin ternyata cukup efektif untuk
mengontrol keluhan yang ditimbulkan pada kulit atau membantu pengobatan hipotensi yang
terjadi. Dapat diberikan antihistamin antagonist H1 yaitu Dipenhidram dengan dosis 25-50
mg IV (untuk anak-anak 2 mg/KgBB) dan bila dikombinasikan dengan antagonis H2 ternyata
lebih superioar yaitu denagn Ranitidin dosis 1 mg/kgbb IV atau dengan Cimetidine 4
mg/kgbb IV pemberian dilakukan secara lambat. 6
Pemberian golongan kortikosteroid dapat diberikan walaupun bukan first line therapy.
Obat ini kurang mempunyai efek untuk jangka pendek, lebih berefek untuk jangka panjang.
Dapat diberikan Hidrokortison 250-500 mg IV atau metal prednisolon50-100 mg IV. 6
Bila terdapat bronkospasme yang tak respon dengan adrenalin dapat diberikan
aminophylin dengan dosis 6 mg/KgBB dala 50 ml NaCL 0.9% diberikan secara Iv dalam 30
menit. 6
Bila penderita menunjukan tanda-tanda perbaikan harus diobservasi minimal 6 jam
atau dirujuk ke RS bila belum menujukan respons.
Penutup
Malpraktek medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran di bawah
standar. Malpraktek dapat dibagi menjadi malpraktek etik dan malpraktek yuridis. Selain itu
dalam pelayanan kedokteran meskipun dokter telah berusaha sebaik mungkin, terkadang
timbul kejadian yang tidak diinginkan (adverse event) yang dapat berakibat merugikan
pasien. Apabila dokter sebenarnya dapat mencegah adverse event tetapi tidak dilakukan maka
dokter melakukan malpraktek.

Daftar Pustaka
1. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Jakarta: EGC; 2009.h.87-9.
2. Sage WM, Kersh R. Medical malpractice. New York: Cambridge University; 2006.p.52-3.
3. McCellan FM. Medical malpractice:law, tactics, and ethics. Philadelphia: Temple University;
2004.p.39.
4. Isfandyarie, Anny. Malpraktek dan resiko medik dalam kajian hukum pidana. Jakarta: Prestasi
Pustaka; 2005.h.46-7.

5. Samil RS. Etika kedokteran Indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2004.h.178-180.
6. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga; 2005. h. 128-9.