Anda di halaman 1dari 12

1. Jelaskan perbedaan titik nyala dan titik api !

- Titik nyala
Titik nyala (flash point) adalah temperatur dimana timbul sejumlah uap yang apabila
bercampur dengan udara membentuk suatu campuran yang mudah menyala. Titik
nyala dapat diukur dengan jalan melewatkan nyala api pada bahan bakar yang
dipanaskan

secara

teratur.

Titik

nyala merupakan sifat bahan bakar

yang

digunakan untuk prosedur penyimpanan agar aman dari bahaya kebakaran.


Semakin tinggi titik nyala suatu pelumas berarti semakin aman dalam penggunaan
dan penyimpanan.
1. Flash Point dapat digunakan untuk mengukur kecenderungan sample untuk
membentuk campuran yang mudah menyala jika ada udara di bawah
kondisi terkontrol. Ini merupakan satu-satunya sifat bahan bakar yang harus
dipertimbangkan dalam memperkirakan timbulnya bahaya kebakaran pada bahan
bakar tersebut.
2. Flash Point diperlukan dalam pelayaran dan peraturan keamanan bahan bakar
yang akan ditransport untuk mendefinisikan bahan-bahan yang mudah menyala
dan juga mudah terbakar, seseorang seharusnya tetap mengacu pada aturan
aturan khusus yang terkait pada definisi yang tepat dari penggolongan bahanbahan tersebut diatas.
3. Flash Point dapat menunjukkan adanya bahan yang mudah menguap dan mudah
terbakar didalam suatu bahan yang relatif tidak mudah untuk menguap ataupun
-

relatif tidak mudah untuk terbakar.


Titik api
Fire Point atau Titik api bahan bakar adalah suhu di mana ia akan terus menyala
selama minimal 5 detik setelah kunci kontak dengan api terbuka.
Fire Point dapat juga digunakan untuk mengukur karakteristik dari sample
untuk mendukung proses pembakaran.

Pada pemeriksaan ganda (duplo) sebagai titik nyala benda uji yang dapat memenuhi
syarat toleransi sebagai berikut :
Titik Nyala

Ulangan

Oleh

Satu Ulangan

Oleh

Orang

dan Titik Bakar


0

Titik Nyala 175 F 550 F


Titik Bakar

Dengan

Satu Beberapa

Alat
5 0F (2 0C)
10 F (5.5 C)

Orang

Dengan Satu Alat


10 F (5.5 C)
15 F (8 C)

2. Tuliskan 6 sifat fisik bahan bakar !


1. Sifat Fisik dan Kimia Bahan Bakar Padat Batubara
Sifat fisik batubara termasuk nilai panas, kadar air, bahan mudah menguap dan
abu. Sifat kimia batubara tergantung dari kandungan berbagai bahan kimia seperti
karbon, hidrogen, oksigen, dan sulfur.
Nilai kalor batubara beraneka ragam dari tambang batubara yang satu ke yang
lainnya.
Sifta fisik dan kimia bahan bakar:
1.Batubara
Formula :C137H97O9NS (jenis bituminus)
Unsur utama : Carbon, Hidrogen, dan Oksigen
Warna : Black / Hitam berkilauan metalik
Kandungan : 86% 98% unsur Carbon
2.Arang
Pengertian : Residu hitam berisi karbon tidak murni
Unsur utama : Carbon, Hidrogen, dan Oksigen
Warna : Hitam ringan mudah hancur
Kandungan : 86% 98% unsur Carbon
4.Kayu
Pengertian : Bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan
Terbentuk dari : Akumulasi selulosa dan lignin pada dinding sel
Warna : rata-rata Coklat
Tekstur : Penampilan sifat struktur pada bidang lintang

2. Sifat Bahan Bakar Cair


a.

Densitas
Densitas didefinisikan sebagai perbandingan massa bahan bakar terhadap
volum bahan bakar pada suhu acuan 15 C. Densitas diukur dengan suatu alat yang
disebut hydrometer. Pengetahuan mengenai densitas ini berguna untuk penghitungan
kuantitatif dan pengkajian kualitas penyalaan. Satuan densitas adalah kg/m3.

b.

Specific gravity
Didefinisikan sebagai perbandingan berat dari sejumlah volum minyak bakar
terhadap berat air untuk volum yang sama pada suhu tertentu. Densitas bahan bakar,
relatif terhadap air, disebut specific gravity. Specific gravity air ditentukan sama
dengan 1. Karena specific gravity adalah perbandingan, maka tidak memiliki satuan.
Pengukuran specific gravity biasanya dilakukan dengan hydrometer. Specific gravity
digunakan dalam penghitungan yang melibatkan berat dan volum.

c.

Viskositas
Viskositas suatu fluida merupakan ukuran resistansi bahan terhadap aliran.
Viskositas tergantung pada suhu dan berkurang dengan naiknya suhu. Viskositas
diukur dengan Stokes / Centistokes. Kadang-kadang viskositas juga diukur dalam
Engler, Saybolt atau Redwood. Tiap jenis minyak bakar memiliki hubungan suhu
viskositas tersendiri. Pengukuran viskositas dilakukan dengan suatu alat yang disebut
Viskometer.

d.

Titik Nyala
Titik nyala suatu bahan bakar adalah suhu terendah dimana bahan bakar dapat
dipanaskan sehingga uap mengeluarkan nyala sebentar bila dilewatkan suatu nyala
api. Titik nyala untuk minyak tungku/ furnace oil adalah 66 C.

e.

Titik Tuang

Titik tuang suatu bahan bakar adalah suhu terendah dimana bahan bakar akan
tertuang atau mengalir bila didinginkan dibawah kondisi yang sudah ditentukan. Ini
merupakan indikasi yang sangat kasar untuk suhu terendah dimana bahan bakar
minyak siap untuk dipompakan.
f.

Panas Jenis
Panas jenis adalah jumlah kKal yang diperlukan untuk menaikan suhu 1 kg
minyak sebesar 10C. Satuan panas jenis adalah kkal/kg0C. Besarnya bervariasi mulai
dari 0,22 hingga 0,28 tergantung pada specific gravity minyak. Panas jenis
menentukan berapa banyak steam atau energi listrik yang digunakan untuk
memanaskan minyak ke suhu yang dikehendaki. Minyak ringan memiliki panas jenis
yang rendah, sedangkan minyak yang lebih berat memiliki panas jenis yang lebih
tinggi.

g.

Nilai Kalor
Nilai kalor merupakan ukuran panas atau energi yang dihasilkan., dan diukur
sebagai nilai kalor kotor/ gross calorific value atau nilai kalor netto/ nett calorific
value. Perbedaannya ditentukan oleh panas laten kondensasi dari uap air yang
dihasilkan selama proses pembakaran.
Nilai kalor kotor/. gross calorific value (GCV) mengasumsikan seluruh uap
yang

dihasilkan

selama

proses

pembakaran

sepenuhnya

terembunkan/

terkondensasikan. Nilai kalor netto (NCV) mengasumsikan air yang keluar dengan
produk

pengembunan

tidak

seluruhnya

terembunkan.

Bahan

bakar

harus

dibandingkan berdasarkan nilai kalor netto.


h.

Sulfur
Jumlah sulfur dalam bahan bakar minyak sangat tergantung pada sumber
minyak mentah dan pada proses penyulingannya. Kandungan normal sulfur untuk
residu bahan bakar minyak (minyak furnace) berada pada 2 - 4 %.

Kerugian utama dari adanya sulfur adalah resiko korosi oleh asam sulfat yang
terbentuk selama dan sesudah pembakaran, dan pengembunan di cerobong asap,
pemanas awal udara dan economizer.
i.

Kadar Abu
Kadar abu erat kaitannya dengan bahan inorganik atau garam dalam bahan
bakar minyak. Kadar abu pada distilat bahan bakar diabaikan. Residu bahan bakar
memiliki kadar abu yang tinggi. Garam-garam tersebut mungkin dalam bentuk
senyawa sodium, vanadium, kalsium, magnesium, silikon, besi, alumunium, nikel,
dll.
Umumnya, kadar abu berada pada kisaran 0,03 0,07 %. Abu yang berlebihan
dalam bahan bakar cair dapat menyebabkan pengendapan kotoran pada peralatan
pembakaran. Abu memiliki pengaruh erosi pada ujung burner, menyebabkan
kerusakan pada refraktori pada suhu tinggi dapat meningkatkan korosi suhu tinggi
dan penyumbatan peralatan.

j.

Residu Karbon
Residu karbon memberikan kecenderungan pengendapan residu padat karbon
pada permukaan panas, seperti burner atau injeksi nosel, bila kandungan yang mudah
menguapnya menguap. Residu minyak mengandung residu karbon 1 persen atau
lebih.

k.

Kadar Air
Kadar air minyak bumi pada saat pemasokan umumnya sangat rendah sebab
produk disuling dalam kondisi panas. Batas maksimum 1% ditentukan sebagai
standar.
Air dapat berada dalam bentuk bebas atau emulsi dan dapat menyebabkan
kerusakan dibagian dalam permukaan tungku selama pembakaran terutama jika
mengandung garam terlarut. Air juga dapat menyebabkan percikan nyala api di ujung
burner, yang dapat mematikan nyala api, menurunkan suhu nyala api atau
memperlama penyalaan.

Macam bahan bakar cair :


1. Solar
Solar adalah salah satu produk dari minyak bumi yang mempunyai titik
o
o
didih antara 250 C sampai dengan 350 C. Solar digunakan sebagai bahan bakar
mesin diesel. Kualitas solar sebagai bahan bakar motor diesel putaran tinggi sangat
menetukan kelancaran operasi, cara kerja, usia motor, dan kebersihan sisa
pembuangan dari motor diesel.
Bahan bakar diesel mempunyai sifat utama , yaitu :
Tidak berwarna atau sedikit kekuning-kuningan dan berbau.
Encer dan tidak menguap dibawah temperatur normal.
Mempunyai titik nyala tinggi (40 oC - 100 oC).
Mempunyai berat jenis 0,82-0,86 g/cm3 .
Menimbulkan panas yang besar (sekitar 10.500 kcal/kg).
Mempunyai kandungan sulfur lebih besar dibanding bensin.
Memiliki rantai Hidrokarbon C14 s/d C18.
2. Avtur
Avgas (Aviation Gasoline) merupakan bahan bakar minyak jenis khusus yang
didesain untuk pesawat terbang dan mobil balap. Klasifikasi pesawat terbang yang
menggunakan bahan bakar avgas ini khususnya pesawat terbang yang memiliki
piston atau mesin wankle. Sementara pesawat terbang dengan mesin turbin biasanya
menggunakan avtur (fraksi kerosine).
Komponen utama avgas adalah alkylate yang pada dasarnya merupakan
campuran dari berbagai isooctane dan beberapa hasil distilasi minyak bumi yang
berupa reformate. Avgas memiliki density sebesar 6.02 lb/ US gal pada 15 C , atau
setara dengan 0.721 kg/l. Density tersebut digunakan untuk perhitungan berat dan
keseimbangan. Density meningkat menjadi 6.40 lb/US galon pada -40 C, dan
menurun dengan sekitar 0,5% per 5 C (9 F) kenaikan suhu. Avgas mempunyai
koefisien emisi dari 18.355 lb CO2 per US galon (2,1994 kg / L) atau sekitar 3,05
satuan berat CO2 yang dihasilkan per satuan berat bahan bakar yang digunakan.
Avgas memiliki lebih rendah dan lebih seragam tekanan uap dari bensin otomotif,
yang menyimpannya dalam keadaan cair pada ketinggian tinggi, mencegah terjadinya
vapor lock.
Spesifikasi Avgas Menurut Dirjen Migas

3. Bensin
Bensin mengandung hydrocarbon hasil sulingan dari produksi minyak
mentah. Bensin mengandung gas yang mudah terbakar, pada umumnya bahan bakar

ini digunakaan untuk mesin dengan pengapian busi. Sifat yang dimiliki bensin
sebagai berikut:
Mudah menguap pada temperatur normal
Tidak berwarna, tembus pandang dan berbau
Mempunyai titik nyala rendah (-10 sampai -15C)
Mempunyai berat jenis yang rendah (0,60-0,78)
Dapat melarutkan oli dan karet
Menghasilkan jumlah panas yang besar (9,500-10,500 kcal/kg)
Sedikit meninggalkan karbon setelah dibakar
Beberapa Bahan Bakar Dan Titik Nyalanya Pada Tekanan Atmosfer
Fuel
Acetaldehyde
Acetone
Aspal
Benzene
Biodiesel
Carbon Disulfide
Diesel Fuel (1-D)
Diesel Fuel (2-D)
Diesel Fuel (4-D)
Ethyl Alcohol, Ethanol
Fuels Oil No.1
Fuels Oil No.2
Fuels Oil No.4
Fuels Oil No.5 Lite
Fuels Oil No.5 Heavy
Fuels Oil No.6
Gasoline
Gear oil
Iso-Butane
Iso-Pentane
Iso-Octane
Jet fuel (A/A-1)
Kerosene
Methyl Alcohol
Motor oil
n-Butane
n-Pentane
n-Hexane
n-Heptane
n-Octane
Naphthalene

Flash Point (oF)


-36
0
175-550
12
266
-22
100
126
130
63
100 - 162
126 - 204
142 - 240
156 - 336
160 - 250
150
-45
375 - 580
-117
less than -60
10
100 - 150
100 - 162
52
420 - 485
-76
less than -40
-7
25
56
174

NeoHexane
Paraffin wax without additives
Paraffin wax with additives
Propane
Styrene
Toluene
Xylene

-54
390,2
480,2
-156
90
40
63

T(oC) = 5/9[T(oF) - 32]

3. Sifat-Sifat Bahan Bakar Gas


Karena hampir semua peralatan pembakaran gas tidak dapat menggunakan
kadungan panas dari uap air, maka perhatian terhadap nilai kalor kotor (GCV) menjadi
kurang. Bahan bakar harus dibandingkan berdasarkan nilai kalor netto (NCV). Hal ini
benar terutama untuk gas alam, dimana kadungan hidrogen akan meningkat tinggi karena
adanya reaksi pembentukan air selama pembakaran.
-

LPG
LPG terdiri dari campuran utama propan dan Butan dengan sedikit persentase

hidrokarbon tidak jenuh (propilen dan butilene) dan beberapa fraksi C2 yang lebih ringan
dan C5 yang lebih berat. Senyawa yang terdapat dalam LPG adalah propan (C3H8),
Propilen (C3H6), normal dan iso-butan (C4H10) dan Butilen (C4H8).
LPG merupakan campuran dari hidrokarbon tersebut yang berbentuk gas pada
tekanan atmosfir, namun dapat diembunkanmenjadi bentuk cair pada suhu normal,
dengan tekanan yang cukup besar. Walaupun digunakan sebagai gas, namun untuk
kenyamanan dan kemudahannya, disimpan dan ditransport dalam bentuk cair dengan
tekanan tertentu. LPG cair, jika menguap membentuk gas dengan volum sekitar 250 kali.
Uap LPG lebih berat dari udara: butan beratnya sekitar dua kali berat udara dan
propan sekitar satu setengah kali berat udara. Sehingga, uap dapat mengalir didekat
permukaan tanah dan turun hingga ke tingkat yang paling rendah dari lingkungan dan
dapat terbakar pada jarak tertentu dari sumber kebocoran. Pada udara yang tenang, uap
akan tersebar secara perlahan. Lolosnya gas cair walaupun dalam jumlah sedikit, dapat
meningkatkan campuran perbandingan volum uap/udara sehingga dapat menyebabkan
bahaya. Untuk membantu pendeteksian kebocoran ke atmosfir, LPG biasanya ditambah

bahan yang berbau. Harus tersedia ventilasi yang memadai didekat permukaan tanah pada
tempat penyimpanan LPG. Karena alasan diatas, sebaiknya tidak menyimpan silinder
LPG di gudang bawah tanah atau lantai bawah tanah yang tidak memiliki ventilasi udara.
-

Gas Alam
Metan merupakan kandungan utama gas alam yang mencapai jumlah sekitar 95%

dari volum total. Komponen lainnya adalah: Etan, Propan, Pentan, Nitrogen, Karbon
Dioksida, dan gasgas lainnya dalam jumlah kecil. Sulfur dalam jumlah yang sangat
sedikit juga ada. Karena metan merupakan komponen terbesar dari gas alam, biasanya
sifat metan digunakan untuk membandingkan sifat-sifat gas alam terhadap bahan bakar
lainnya.
Gas alam merupakan bahan bakar dengan nilai kalor tinggi yang tidak
memerlukan fasilitas penyimpanan. Gas ini bercampur dengan udara dan tidak
menghasilkan asap atau jelaga. Gas ini tidak juga mengandung sulfur, lebih ringan dari
udara dan menyebar ke udara dengan mudahnya jika terjadi kebocoran.
3. Mengapa sampel harus didinginkan terlebih dahulu sebelum diuji ?
Karena, pada suhu yang tinggi senyawa yang diukur titik nyala dan titik apinya dapat
menguap sehingga dapat mempengaruhi berat jenisnya, demikian pula halnya pada suhu
yang sangat rendah dapat menyebabkan senyawa membeku sehingga sulit untuk
menghitung titik api dan titik nyalanya. Oleh karena itu, digunakan suhu dimana biasanya
senyawa stabil, yaitu pada suhu 25oC (suhu kamar).

TUGAS PRATIKUM HIDROKARBON


TITIK NYALA 2

Disusun Oleh :

Nama

: Icha Sri Wahyuni

NIM

: (0612 3040 0298)

Kelas

: 5 KA

DOSEN

: Taufiq Jauhari, S.T.,M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG
2014

TUGAS PRATIKUM HIDROKARBON


TITIK NYALA 2

Disusun Oleh :

Nama

: Anggun Astrian Fratiwi

NIM

: (0612 3040 0289)

Kelas

: 5 KA

DOSEN

: Taufiq Jauhari, S.T.,M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG
2014