Anda di halaman 1dari 23

STIMULASI

Stimulasi adalah merangsang sumur yang merupakan suatu proses


perbaikan terhadap sumur untuk meningkatkan harga permeabilitas formasi yang
mengalami kerusakan sehingga dapat memberikan laju produksi yang besar, yang
akhirnya produktifitas sumur akan menjadi lebih besar jika dibandingkan sebelum
diadakannya stimulasi sumur. Stimulasi dilakukan pada sumur-sumur produksi
yang mengalami penurunan produksi yang disebabkan oleh adanya kerusakan
formasi (formation damage) disekitar lubang sumur dengan cara memperbaiki
permeabilitas batuan reservoir. Metode stimulasi dapat dibedakan menjadi
Acidizing dan Hydraulic Fracturing.
Alasan dilakukanya stimulasi antara lain karena adanya hambatan alami
yaitu permeabilitas reservoir yang rendah sehingga menyebabkan fluida reservoir
tidak dapat bergerak secara cepat melewati reservoir dan hambatan akibat yaitu
yang sering disebut dengan kerusakan formasi (formation damage), kerusakan
fomasi ini kebanyakan disebabkan oleh operasi pemboran dan penyemenan yang
menyebabkan permeabilitas batuan menjadi kecil jika dibandingkan dengan
permeabilitas

alaminya

sebelum

terjadi

kerusakan

formasi,

pengecilan

permeabilitas batuan formasi ini akan mengakibatkan terhambatnya aliran fluida


dari formasi menuju ke lubang sumur sehingga pada akhirnya akan menyebabkan
turunnya produktivitas suatu sumur.
Sasaran dari stimulasi ini adalah formasi produktif, karena itu karakteristik
reservoir mempunyai pengaruh besar pada pemilihan stimulasi. Karakteristik
reservoir

meliputi karakteristik batuan maupun karakteristik fluida reservoir

terutama berpengaruh pada pemilihan fluida treatment baik pada acidizing


maupun pada hydraulic fracturing, faktor lain yang berpengaruh dalam treatment
ini adalah kondisi reservoir yaitu volume pori, tekanan dan temperatur reservoir.

1. Acidizing
1.1. Pengertian dan Jenis Acidizing
Acidizing adalah salah satu proses perbaikan terhadap sumur untuk
menanggulangi atau mengurangi kerusakan formasi dalam upaya peningkatan laju
produksi

dengan

melarutkan

sebagian

batuan,

dengan

demikian

akan

memperbesar saluran yang tersedia atau barangkali lebih dari itu membuka
saluran baru sebagai akibat adanya pelarutan atau reaksi antara acid dengan
batuan. Stimulasi dengan acidizing dapat dilakukan dengan menggunakan tiga
metode yaitu :
1. Acid Washing
2. Acid fracturing
3. Matrix acidizing
Acid washing adalah operasi yang direncanakan untuk menghilangkan
endapan scale yang dapat larut dalam larutan asam yang terdapat dalam lubang
sumur untuk membuka perforasi yang tersumbat. Acid fracturing adalah
penginjeksian asam ke dalam formasi pada tekanan yang cukup tinggi untuk
merekahkan formasi atau membuka rekahan yang sudah ada. Aplikasi acid
fracturing ini hanya terbatas untuk formasi karbonat, karena jika dilakukan pada
formasi batu pasir dapat menyebabkan keruntuhan formasinya dan mengakibatkan
problem kepasiran. Matriks acidizing dilakukan dengan cara menginjeksikan
larutan asam dan additif tertentu secara langsung ke dalam pori-pori batuan
formasi disekitar lubang sumur dengan tekanan penginjeksian di bawah tekanan
rekah formasi, dengan tujuan agar reaksi menyebar ke formasi secara radial.
Pada intinya, acidizing adalah proses pelarutan material-material batuan
yang terdapat disekitar lubang tempat masuknya fluida reservoir ke dalam sumur
dengan menginjeksikan sejumlah asam ke dalam sumur atau lapisan produktif.
Acidizing ini digunakan untuk menghilangkan pengaruh kerusakan formasi
disekitar lubang sumur yaitu skin dengan cara memperbesar pori-pori batuan dan
melarutkan partikel-partikel penyumbat pori-pori batuan.
Kelarutan partikel-partikel batuan / efektivitas pengasaman tergantung dari
faktor-faktor yang mempengaruhi, diantaranya :

1. Surface area terhadap volume pori


Semakin besar permukaan batuan yang akan bersentuhan dengan acid,
maka semakin banyak acid yang diperlukan dan semakin cepat acid
bereaksi.

Gambar 1
Pengaruh Perbandingan Luas Volume Terhadap Laju Reaksi HCl-CaCO3
(Allen, T.O, Robert, A.P, Production Operations, Well Completion,
Workover and stimulation)
Gambar 1. terlihat pengaruh perbandingan luas-volume pada reaksi asam

HCl dengan CaCO3. Harga spesifik surface area semakin besar maka semakin
besar laju reaksi asam terhadap batuan sehingga spending time semakin kecil.
2. Tekanan
Diatas tekanan 750 psi, pengaruh zat lebih rendah pada reaksi antara acid
dengan batuan calcareous. Tetapi dibawah tekanan 750 psi, perubahan
tekanan banyak pengaruhnya, yaitu reaksi akan lebih cepat dengan
naiknya tekanan pada tekanan dibawah 750 psi.

Gambar 2
Pengaruh Tekanan Terhadap Waktu Reaksi dari HCl dan Batugamping
(......, Stimulasi Sumur, Penataran Teknik Produksi untuk Pertamina,

1987)
3. Temperatur
Semakin tinggi temperature, maka reaksi akan semakin cepat, tetapi perlu
diperhatikan bahwa semakin tinggi temperature, viskositas cairan akan
semakin kecil, dan berakibat terjadinya rekahan acid, juga korosi yang
kemungkinan besar bisa terjadi.

Gambar 3
Pengaruh Temperatur Terhadap Laju reaksi HCl-CaCO3
(Allen, T.O, Robert, A.P, Production Operations, Well Completion,
Workover and stimulation)
4. Konsentrasi acid
Semakin kuat konsentrasi acid, maka semakin lama reaksi berlangsung
sehingga kecepatan reaksi juga akan berlangsung lebih cepat.

Gambar 4
Pengaruh Konsentrasi Asam Terhadap Laju Reaksi HCl-CaCO3
(Allen, T.O, Robert, A.P, Production Operations, Well Completion,
Workover and stimulation)

5. Kecepatan aliran
Kenaikan kecepatan aliran umumnya menurunkan waktu kontak acid
dengan batuan yang berakibat tidak seluruh acid bereaksi dengan batuan
yang dilalui. Akibatnya acid akan semakin jauh masuk ke dalam formasi.
6. Komposisi batuan
Komposisi batuan secara fisik banyak pengaruhnya terhadap reaksi. Batu
gamping umumnya lebih cepat bereaksi dengan HCl disbanding dolomite.
Formasi karbonat sering terdiri dari batugamping dan dolomite juga
mineral-mineral lain yang tidak larut. Semakin lambat reaksi berlangsung,
maka semakin baik hasil reaksi.
1.2. Jenis-jenis Acid
Pertimbangan utama dalam pemilihan jenis asam adalah kesesuaiannya
dengan batuan dan fluida formasi. Bila asam tidak sesuai dengan formasi maka
treatment akan gagal atau bahkan mengakibatkan kerusakan formasi lebih lanjut.
Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam pemilihan jenis asam ini,
yaitu :
a. Konsep Dasar
Konsep dasar ini pada dasarnya membahas mengenai jenis dan lokasi
kerusakan. Jenis material penyebab kerusakan mambutuhkan jenis asam
tertentu untuk melarutkannya, sedangkan lokasi kerusakan berpengaruh dalam
penentuan kekuatan asam, karena asam harus mencapai lokasi keruskan
dengan kondisi yang diinginkan walaupun kualitas asam telah berubah akibat
pengaruh mineral-mineral batuan yang dilewatinya dari lubang sumur hingga
lokasi kerusakan.
b. Kriteria Mineralogi
Formasi yang sensitif akan mengalami kerusakan akibat reaksi-reaksi
kimia yang terjadi antara asam injeksi dengan mineral-mineral batuan formasi
maupun unsur-unsur dalam air formasi. Sensitivitas suatu formasi sangat
dipengaruhi oleh kereaktifan seluruh mineral-mineral batuan terhadap asam

yang diinjeksikan. Sedangkan kereaktifan mineral tergantung pada komposisi


kimia dan luas permukaan.
c. Kriteria Lain
Terdapat kriteria-kriteria lain dalam pemilihan fluida treatment yang
perlu dipertimbangkan, antara lain : permeabilitas, fluida produksi, kondisi
fisik sumur dan mekanisme damage-removal.
Permeabilitas formasi mempengaruhi jenis dan tingkat kerusakan yang
dialami formasi. Formasi yang sangat permeabel dapat dengan mudah
ditembus oleh partikel-partikel padat asing atau fluida. Sebaliknya formasi
batupasir berpermeabilitas rendah mungkin hanya akan mengalami kerusakan
akibat invasi partikel-partikel asing. Tetapi formasi ini lebih sensitif terhadap
invasi fluida asing, karena dalam pori-pori yang kecil sering mengandung clay
dalam jumlah besar yang sangat reaktif terhadap fluida.
Jenis fluida produksi juga berpengaruh dalam pemilihan fluida
treatment. Sumur gas yang mempunyai masalah water blocking memerlukan
fluida treatment yang mengandung alkohol. Fluida ini mempunyai kelarutan
yang tinggi dalam gas sehingga mempermudah removal air. Jenis asam yang
sering digunakan pada industri perminyakan dapat berupa inorganik (mineral)
yaitu asam chlorida dan asam flourida, atau organik yaitu asam acetic (asetat)
dan asam formic (format).
1.2.1. Hydrochloric Acid (HCl)
Asam hydrochloric (HCl) merupakan jenis asam yang paling banyak
digunakan dalam operasi pengasaman di lapangan. Asam ini merupakan larutan
hydrogen chloride yang berupa gas di dalam air dengan berbagai konsentrasi.
Konsentrasi asam ini bervariasi antara 535 %. Secara umum yang biasa
digunakan di lapangan adalah konsentrasi 15 % HCl. Asam jenis ini akan
melarutkan batugamping, dolomite dan karbonat lainnya. Sedangkan untuk
pengasaman batupasir digunakan 5-7 % HCl.
Keuntungan penggunaan asam HCl antara lain memiliki daya reaksi yang
cukup tinggi terhadap batugamping dan dolomite, serta harganya relatif lebih

murah dibandingkan dengan asam jenis lainnya. Sedangkan kerugiannya, asam


memiliki sifat korosifitas paling tinggi, terutama pada temperatur tinggi diatas
o

250 F. Oleh karena itu agar temperatur tidak melebihi tingkat korosifitasnya,
maka pada penggunaan asam HCl biasanya ditambahkan additif yaitu corrosion
inhibitor sebagai pencegah korosi. Reaksi yang terjadi antara asam HCl dengan
beberapa mineral batuan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1
Reaksi Antara HCl Dengan Beberapa Mineral Batuan
(Doherty, Henry L., Acidizing Fundamentals, Society of Petroleum
Engineering, New York, 1979)
Calcite/limestone
2HCl + CaCO3
4HCl + CaMg(CO3)2
2HCl + FeCO3
sulfide
2HCl + FeS
6HCl + Fe2O3

CaCl2 + CO2 + H2O Dolmite


CaCl2 + MgCl2 + CO2 + H2O Siderite
FeCl2 + CO2 + H2O Ferrous

FeCl2 + H2S Ferric oxide


2FeCl3 + 3H2O

1.2.2. Hydrofluoric Acid (HF)


Asam hydroflouric tersedia sebagai larutan dengan kosentrasi 40-70%.
Namun untuk keperluan pengasaman, HF biasanya digunakan bersama-sama atau
dicampur dengan HCl. Asam ini mempunyai kemampuan untuk melarutkan
padatan-padatan lumpur, mineral-mineral lempung feldspar dan silica. HF juga
bersifat korosi, tetapi tingkat korosifitas dari campuran asam ini relatif rendah
dibandingkan dengan HCl.
Asam HF dapat bereaksi dengan silika dan senyawa-senyawa silika seperti
gelas, bangunan beton, karet alam, kulit dan logam-logam tertentu seperti baja
serta material organik. Asam ini beracun baik dalam keadaan sendiri maupun
bercampur dengan asam HCl sehingga diperlukan penanganan yang hati-hati.

Tabel 2
Reaksi Antara HF Dengan Beberapa Mineral Batuan
(Doherty, Henry L., Acidizing Fundamentals, Society of Petroleum
Engineering, New York, 1979)
Calcite/limestone
2HF + CaCO3

Dolomite
4HF + CaMg(CO3)2

CaF2 + MgF + 2CO2 + 2H2O

Silicat/feldspar
8HF + Na4SiO4

H2SiF6

CaF2 + CO2 + H2O

SiF4 + 4NaF + 4H2O 2HF +

SiF4

Albite (sodium feldspar)


+
+
+
14HF + NaAlSi3O8 + 2H Na + AlF2 + 3SiF4 + 8H2O
Orthoclase (potassium feldspar)
+
14HF + KalSi3O8 + 2H

K + AlF2 + 3SiF4 + 8H2O

Kaolinite

24HF + Al4Si4O10(OH)8 + 4H 4AlF2 + 4SiF4 + 18H2O 18HF +


Al2SiO2O5(OH)4
2H2SiF6 + 2AlF3 + 9H2O
Monmorilonite
+
40HF + Al4Si8O20(OH)4 + H
Bentonite
36HF + Al2(Si4O10)(OH)2

4AlF2 + 8SiF4 + 24H2O

H2SiF6 + 2H3AlF + 12H2O

1.2.3. Organic Acid


1.2.3.1. Acetic Acid (CH3COOH)
Asam jenis ini digunakan untuk pengasaman batuan karbonat dengan laju
reaksi lebih lambat dibandingkan dengan HCl, karena derajat ionisasinya lebih
kecil. Asam acetic lebih mahal dibandingkan HCl dan tidak bersifat korosif
terhadap peralatan sumur, sehingga dapat dibiarkan lama dalam tubing maupun
casing. Asam acetic mempunyai karakteristik sebagai berikut :

Tidak berwarna dan mudah larut dalam air

Waktu reaksi lebih lambat sehingga jumlah batuan per volume yang dapat
bereaksi lebih banyak.

Tidak bersifat korosif dan kosentrasi yang umum digunakan berkisar


antara 10-15%.

Beberapa keuntungan yang didapatkan dari penggunaan asam acetic yaitu :

Tidak menimbulkan pengendapan dengan ion besi

Tidak menyebabkan embrittlement atau stress cracking pada baja yang


mempunyai strength yang tinggi

Tidak merusak peralatan aluminium

Tidak merusak lapisan chrome pada temperatur di atas 200 F.

1.2.3.2. Formic Acid (COOH)


Jenis asam ini termasuk asam organik yang yang lambat bereaksi dan
terionisasi secara lemah. Sifat formic mirip dengan acetic, tetapi pada temperatur
tinggi asam formic lebih korosif dibanding asam acetic. Keuntungan asam formic
yaitu harganya lebih murah dibandingkan asam acetic.

1.3. Jenis-jenis Acid Additif


Acid additif digunakan untuk mencegah atau menanggulangi efek yang
ditimbulkan proses acidizing pada peralatan produksi maupun pada formasi.
Adapun jenis-jenis acid additif yang ada yaitu :
1.3.1. Surfactant
Surfactant digunakan selama pekerjaan acidizing dilakukan dan berfungsi
menurunkan tegangan permukaan antara cairan dengan batuan sehingga lebih
mudah lewat, selain itu juga berfungsi sebagai non emulsifiers, emulsifiers,
emulsion breakers, antisludging agents, wetting agents, foaming agents, dan
surface tension atau interfacial tension reducers.
Surfactan dapat dibagi menjadi empat kategori berdasarkan muatan ionnya,
yaitu :

1. Cationic

bermuatan positif

2. Anionic

bermuatan negatif

3. Non-ionic

tidak bermuatan

4. Amphoteric

muatan tergantung PH dari sistem

Kempat kategori di atas terdiri dari dipolar. Setiap surfactant terdiri dari
water soluble hydrophylic group dan oil soluble lipophilic group. Water soluble
dapat mengandung muatan ion sehingga dapat dibagi menjadi empat macam
kategori di atas.

Anionic

Cationic

Gambar 5
Orientasi Muatan Pada Surfactant Anionic dan Cationic
Serta Sifat Wettingnya

(Tjondrodiepoetro, Bambang.diktat kursus stimulation (acidizing and


hydraulic fracturing))
Pada Gambar 5. menunjukkan suatu hydrophilic group dengan anionic
surfactant yang bermuatan listrik negatif. Karena adanya unsur silika di batupasir
bermuatan negatif, maka anionic akan menyebabkan water wet di batupasir.
Sebaliknya untuk batugamping yang secara alamiah bermuatan positif, anionic
menyebabkan oil wet di batugamping.

Beberapa jenis surfactant surfactant yang biasa digunakan berdasarkan


fungsinya antara lain :
a. Anti Sludge Agent
Jika asam diinjeksikan ke dalam formasi dan kontak dengan crude oil
akan menyebabkan terbentuknya sludge (partikel-partikel seperti lumpur) di
bidang antar permukaan minyak dengan asam. Hal ini umumnya terjadi pada
crude oil yang mempunyai prosentase aspalt yang tinggi. Padatan sludge
hanya sedikit larut dalam minyak, karena itu jika sudah terbentuk akan sulit
untuk dihilangkan. Dengan demikian material tersebut dapat terakumulasi di
dalam formasi dan dapat menurunkan harga permeabilitas batuan di sekitar
sumur.
Anti sludge agent dapat mencegah terbentuknya endapan sludge yang
terjadi selama treatment pengasaman dengan cara menjaga bahan-bahan
coloidal terdispersi. Terbentuknya sludge oil di dalam formasi akan meningkat
dengan naiknya konsentrasi asam.
b. Suspending Agent
Suspending agent digunakan untuk mencegah terbentuknya endapan
butiran yang tidak larut dalam asam dengan cara mensuspensikannya dalam
larutan asam, sehingga dapat terangkut ke permukaan bersama larutan asam
sisa.
c. Non Emulsifying Agent
Reaksi antara asam dengan fluida formasi dapat menyebabkan
terbentuknya emulsi karena fluida formasi mungkin mengandung zat-zat
kimia yang terbentuk sebagai zat yang menstabilkan emulsi. Kecenderungan
terbentuknya emulsi akan meningkat dengan bertambahnya konsentrasi asam.
Non-emulsifying agent digunakan untuk mencegah terbentuknya emulsi,
karena dapat larut atau terdispersi dalam larutan asam ataupun dapat
bercampur dengan bahan-bahan lainnya. Non-emulsifying agent menghasilkan
tegangan permukaan dan tegangan antar muka yang rendah sehingga
mencegah natural emulsifier di dalam crude oil membentuk emulsi.

d. Retarder Agent
Additif retarder agent digunakan untuk mengontrol laju reaksi asam
sehingga spending timenya menjadi lebih lama. Additif ini diperlukan
terutama jika volume asam yang digunakan besar dan sumur relatif dalam.
1.3.2. Corrosion Inhibitor
Corrosion Inhibitor adalah campuran dari beberapa persenyawaan termasuk
quaternary amines, acetylenic, alcohols, methanol, dan surfactant. Kebanyakan
corrosion inhibitor adalah cationic (membuat batugamping menjadi bersifat water
wet).
Corrosion inhibitor merupakan additif yang selalu digunakan dalam setiap
operasi pengasaman, dengan mengingat kondisi asam yang korosif terhadap
peralatan logam. Dengan adanya corrosion inhibitor, walaupun tidak bisa 100%
menghilangkan korosi, tetapi dapat mengurangi laju korosi hingga batas yang
dapat ditolerir. Corrosion inhibitor mengurangi laju korosi dengan cara
membentuk lapisan film ujungis di permukaan peralatan logam tubing atau casing.
Dengan adanya lapisan ini, dapat dicegah reaksi penembusan asam terhadap
logam sehingga laju korosi terhambat.
Kesesuaian antara corrosion inhibitor dengan additif lain perlu diperhatikan.
Ketidaksesuaian dapat menimbulkan masalah merugikan yang tidak diinginkan
seperti misalnya terjadi reaksi yang menghasilkan pengendapan. Fluida corrosion
inhibitor biasanya cenderung terpisah dari fluida asam. Pemisahan akan dapat
dilihat pada permukaan fluida asam yang telah didiamkan sekitar 15 menit berupa
lapisan film berminyak dan berwarna gelap. Karena itu pencampurannya harus
selalu dilakukan pengadukan agar tidak terpisah dari asam.
1.3.3. Iron Control Additive
Pada semua projek pengasaman, besi di pipa atau di formasi akan terlarut.
3+

Jika besinya Fe , maka bisa menyebabkan kerusakan formasi jika asam telah

terpakai (spent acid) dan pH naik. Pada pH 2.2, Fe

3+

(ferric) akan mengendap

sebagai ferric hydroxide, Fe(OH)3, suatu gel sangat kental yang akan
mengakibatkan kerusakan formasi. Kebanyakan ion besi di asam adalah Fe2+
(ferrous) dan ini akan mengandap jika pH > 7 atau pH = 7. Dalam kebanyakan
pengasaman, harga 7 dan ke atas ini tidak akan pernah dicapai oleh spent acid
maupun fluida formasinya, sehingga ferrous cukup aman.
Ada tiga cara untuk mengontrol pengendapan ferric oxide, yaitu sebagai
berikut :
1. Mengontrol pH agar tetap di bawah 2.2
2. Menggunakan sequestering agent yang akan membuuat produk yang terlarut
di dalam air.
3. Menggunakan reducing agent untuk merubah ferric ke ferrous.
Ketiga metode ini tidak dapat dipakai secara kombinasi tetapi masingmasing mempunyai keuntungan tersendiri tergantung situasinya.
1.3.4. Alcohol
Alcohol digunakan untuk membantu meningkatkan effisiensi pembersihan
sumur pada operasi pengasaman untuk sumur gas. Alcohol dan campuran antara
alcohol-asam mempunyai tegangan permukaan yang lebih rendah daripada
campuran asam. Alcohol yang biasa digunakan konsentrasinya berkisar antara 5
50% volume. Hal ini memudahkan sumur dengan tekanan dasar sumur yang
rendah untuk mendorong keluar fluida treatmen dari lubang sumur. Untuk sumur
dengan formasi yang sensitif terhadap air, alcohol dapat digunakan untuk
menggantikan sebagian air pada campuran asam, sehingga penggunaan air dapat
dikurangi. Alcohol yang paling banyak digunakan adalah methanol. Pada
temperatur dingin methanol dapat ditambahkan dalam asam utnuk menurunkan
titik beku asam.
1.3.5. Mutual Solvent
Umumnya mutual solvent digunakan pada saat after flush (overlfush) di
belakang campuran HF-HCl. Fungsinya adalah untuk membersihkan formasi dari
sisa-sisa pengasaman. Dalam operasi pengasaman yang banyak digunakan yaitu

ethylene glycol monobuthyl ether (EGMBE) yang berguna untuk mengurangi


tegangan antar permukaan minyak-air, sebagai solvent untuk melarutkan minyak
dalam air, sebagai pencuci untuk merubah bahan-bahan basah minyak menjadi
basah air, serta meningkatkan aksi surfactant dan demuslifier saat kontak dengan
material-material formasi. Secara empiris EGMBE diketahui sangat bermanfaat
untuk mengurangi emulsi dan mempercepat clean-up pada pengasaman batupasir.
Tabel 3
Aplikasi Mutual Solvent
(Tjondrodiepoetro, Bambang.diktat kursus stimulation (acidizing and
hydraulic fracturing))
Larut dalam air dan minyak (diesel, crude oil, xylene, toluene,
Solubilitas

kerosene, dll.
Menjadikan formasi basah air. Butiran basah air untuk

Kegunaan

mencegah stabilitas emulsi, menurunkan tegangan permukaan


dan meningkatkan pembersihan.
Dalam overflush diesel untuk pengasaman sumur minyak.
Dalam overflush ammonium chloride brine untuk sumur minyak

Penggunaan

atau gas.
Dalam preflush HCl atau treatmen mud acid.
Bersama demulsifier untuk membentu memecahkan emulsi.

Konsentrasi
Kerugian

2 10 % volume.
Masalah jika digunakan konsentrasi yang lebih tinggi.

1.3.6. Clay Stabilizer


Clay stabilizer dikembangkan untuk meminimalkan kerusakan formasi
akibat pengembangan lempung (clay swelling) atau migrasi clay.
Clay stabilizer yang digunakan dalam pengasaman dimasukan dalam
kategori polyquartenery amines, polyamines, cationic organic polymer dan
cationic surfactant. Material-material ini dapat juga digunakan dalam fluida
fracturing, tetapi hanya baik untuk masalah clay swelling. Zirconium oxychloride
salt dan hydroxy aluminum merupakan clay stabilizar yang banyak digunakan

untuk mengatasi masalah migrasi clay. Clay stabilizer tidak perlu digunakan
kecuali memang diperlukan yang didasarkan pada hasil pengujian di laboratorium
atau

berdasarkan

pengalaman

sebelumnya

yang

menunjukkan

perlunya

penggunaan material ini.


Stabilizer dapat digunakan sebagai overflush dengan konsentrasi 0,1 2,0
% volume. Walaupun clay stabilizer tidak menunjukkan potensi untuk
menyebebkan terjadinya kerusakan pada formasi, sebaiknya jangan digunakan
dengan konsentrasi yang terlalu tinggi.
1.3.7. Diverting Agents
Dalam setiap treatmen pengasaman, penting untuk menangani seluruh zona
produktif. Biasanya permeabilitas tidak seragam di setiap interval produksi
sehingga penyebaran asam di tiap interval berbeda, lebih banyak masuk ke
permeabilitas tinggi.
Karena itulah perlu penggunaan diverting agent untuk memblok sementara
saluran perforasi pada zone permeabilitas tinggi. Dengan ini asam dapat diarahkan
masuk ke zona permeabilitas rendah. Penggunaan diverting agent terutama
diperlukan untuk interval panjang melebihi 20 ft.
Material diversi yang digunakan antara lain particulate, gel, foam atau ball
sealer. Material particulate yang digunakan seperti rock salt, benzoic acid flake,
wax bead dan oil soluble resin. Particulate menghasilkan diversi dengan
menyumbat perforasi atau membentuk cake di dinding saluran perforasi. Ini akan
menyebabkan pressure drop di depan perforasi dan menekan fluida ke perforasi
yang lain.
Ball sealer merupakan jenis yang paling banyak digunakan sebagai diverting
agent. Ball sealer akan memblok aliran fluida ke interval pemeabilitas tinggi
sehingga fluida asam masuk ke zona permeabilitas rendah.
Ball sealer dapat digunakan baik dalam acid fracturing dengan laju
penginjeksian tinggi dan tekanan lebih besar daripada tekanan rekah formasi. Dan
dapat pula digunakan pada operasi pengasaman matriks dengan laju injeksi
rendah, tergantung pada specific gravitynya. Separti disebutkan sebelumnya, ball

sealer digunakan pada cased hole completion untuk memblok sementara lubang
perforasi permeabilitas tinggi. Bola-bola ditempatkan di perforasi karena
pengaruh differential pressure antara bola dengan perforasi. Dan jika treatmen
telah selesai dilakukan, bola-bola akan lepas dengan sendirinya dan setelah
dilakukan pembersihan sumur siap diproduksikan.
Tabel 4
Pemilihan dan Penggunaan Diverting Agent
(Tjondrodiepoetro, Bambang.diktat kursus stimulation (acidizing and
hydraulic fracturing))
Jenis Diverter

Rock Salt

Benzoic Acid
Flakes (BAF)

Wax Beads
(Unibeads)

Oil Soluble
Resin (OSR)

Terlarut

Sumur

Tempat

Air,

Minyak1

Formasi

Air garam,

Gas1

Perforasi

HCl dilute

Injeksi

Perforasi

Air

Minyak

Formasi

Air garam,

Injeksi

Perforasi

Minyak

Gas1

Perforasi

Minyak

Minyak

Formasi

di

Minyak

Ball Sealers
(tak

mengapung)
Ball Sealers4
(mengapung)

Minyak
Gas3
Minyak
Gas

Formasi

Perforasi

Minyak
-

Gas

Perforasi

Injeksi
Minyak

Foam

Gas
Injeksi

Formasi

1.3.8. Nitrogen
Nitrogen sering dipakai pada proses pengasaman. Pertama untuk foaming
acid, kedua untuk enersi clean up pada reservoir bertekanan rendah, dan ketiga
sebagai sumber gas bagi foam untuk diverter. Selain itu, nitrogen kadang
digunakan untuk sumber gas lift sementara.
Foaming acid digunakan pada acid fracturing dimana viskositas foam
membantu membuat rekahan dan sebagai retarder acidnya. Foamed acid tidak
boleh dipakai untuk matrix acidizing karena viskositas foamed acid lebih besar
dari abiasa, maka bisa terjadi fracture. Dengan adanya fracture, maka semua asam
akan masuk ke rekahan.
1.3.9. Aromatic Solvent
Formasi dengan minyak berat, sludge (gumpalan atau endapan), asphalt dan
scale berlapis minyak perlu digunakan aromatic solvent untuk melarutkannya agar
kerja asam lebih baik lagi.
Solvent digunakan sebagai preflush atau pendispersi dalam fluida asam
treatment untuk melarutkan hidrokarbon sehingga asam dapat bereaksi dengan
material formasi atau materail asing penyumbat pori.
Aromatic solvent yang umum digunakan yaitu xylene dan toluene. Jenis lain
seperti A-Sol, N.L.Chekersol, Paravan G-15 dan Torgan. Kesemua jenis solvent
ini memberikan fungsi yang sama untuk menghilangkan lapisan hidrokarbon.

Tabel 5
Aplikasi Aromatic Solvent
(Tjondrodiepoetro, Bambang.diktat kursus stimulation (acidizing and
hydraulic fracturing))
Produk

Aplikasi
Melarutkan segala endapan hidrokarbon seperti sludge, asphaltenes,

Xylene
Toluene

oily coatings. Digunakan untuk preflush pada pengasaman. Dengan


penambahan surfactant bisa larut di asam. Pembersih perforasi dan
batuan yang dilapisi minyak sehingga asam bisa bereaksi.
Campuran bermacam alcohol dan membantu pengasaman dengan
membersihkan lapisan (coating) hidrokarbon, menurunkan surface

A-Sol Solvent

tension, dan membuat formasi water wet. Tergantung jenisnya


sampai 80 % volume bisa dipakai di HCl, juga bisa dipakai sendiri
sebagai preflush.
Tersebar di asam. Digunakan dengan sekaligus pada asamnya untuk

N.L.
Checkersol

melarutkan coating hidrokarbon dan scale dan material lain yang


akn bereaksi dengan asam. Maksimum 5 % volume.
Dapat dipakai di asam maksimum 5 % volume atau sebagai additif

Paravon G-5

untuk menggiatkan kelarutan xylene dan toluene.


Digunakan

Targon

bersamaan

dengan

aromatic

solvent

untuk

menghilangkan asphalthene dan deposit minyak. Dipompa sebagai


preflush. Konsentrasi 5 % volume.