Anda di halaman 1dari 11

Air Formasi adalah

23:53 Posted by Teknik Perminyakan Indonesia No Comments

Air formasi adalah air yang ikut terproduksi bersama-sama dengan minyak dan
gas. Air ini biasanya mengandung bermacam-macam garam dan asam, terutama NaCl sehingga
merupakan air yang asam bahkan asam sekali. Air formasi biasanya disebut dengan oil field
water atau connate water atau intertial water.
Air formasi hampir selalu ditemukan didalam reservoir hidrokarbon karena memang
dengan adanya air ini ikut menentukan terakumulasinya hidrokarbon didalam suatu akumulasi
minyak, air selalu menempati sebagian dari suatu reservoir, minimal 10 % dan maksimal 100 %
dari keseluruhan pori.
Air formasi selain berasal dari lapisan itu sendiri atau juga berasal dari air formasi dari
lapisan lain yang masuk kedalam lapisan produktif, biasanya disebabkan oleh :
a.
b.

Penyemenan yang kurang baik.


Kebocoran casing yang disebabkan oleh :
1. Korosi pada casing.
2. Sambungan kurang rapat.

3. Pengaruh gaya tektonik rapat (patahan).


Sifat-sifat yang terkandung dalam air formasi :
1.

Sifat fisika,meliputi :
a. Kompresibilitas
b. Kelarutan gas didalam air
c. Viscositas air.
d. Berat jenise.
e. Konduktifitas.

2.

Sulfat kimiawi, meliputi :


a. Ion-ion negatif. (Anion)

b. Ion-ion positif. (Kation)


Alkalinitas, CO3, HCO3, dan OH harus ditentukan ditempat pengambilan contoh, karena
ion-ion ini tidak stabil (dapat mengurai) seiring dengan perubahan waktu dan suhu. Untuk itu, pH
perlu diturunkan sampai 1 dengan asam garam. Penentuan kadar barium (Ba) harus dilakukan
segera setelah contoh diterima, karena unsur BaSO4 terbatas kelarutannya, karena reaksi
barium cepat dengan SO4,akan mengurangi konsentrasi barium dan akan menimbulkan
kasalahan dalam penelitian. Selain dengan barium, SO 4 juga cepat bereaksi dengan kalsium
menjadi CaSO4 pada saat suhu turun.
Untuk mengetahui air formasi secara cepat dan praktis digunakan sistem klasifikasi dari air
formasi air, hal ini dapat memudahkan pengerjaan pengindetifikasian sifat-sifat air formasi.
Dimana kita dapat memplot hasil analisa air formasi tersebut kedalam grafik, hal ini akan
memudahkan kita dalam korelasi terhadap lapisan-lapisan batuan dari sumur secara tepat..
Beberapa kegunaan yang paling penting dari analisa air formasi ini adalah :

a.

Untuk korelasi lapisan batuan

b.
c.

Menentukan kebocoran casing


Menentukan kualitas sumber air untuk proses water floding.

Dampak Air Formasi


Dampak air formasi merupakan peristiwa dimana air ikut terseret ketika kita mengisolasi minyak
dari dalam reservoir. Air formasi memiliki dua sifat yaitu asam dan basa sifat asam
mengakibatkan korosi yang dapat menyebabkan produksi minyak terganggu dimana air yang
melekatdi pipa yang semakin mengeras dan mengakibatkan karat. Sedangkan yang basa akn
membentuk endapan yang berbentuk pasir dan sedimen dimana endapan ini dapat merusak
prodiksi minyak yang di hasilkkan.
Komposisi: kandungan utama air formasi kalium, natrium, chor
Yang dijumpai dalam jumlah yang sangat banyak, keberadaan air formasi menimbulkan
gangguan pada proses produktifitas
Proses pengkaratan pada pipa terjadi karana air formasi yang mengandung oksigen
mampu mengoksidasi pipa, sehimgga minyak dapat merembes keluar pipa dan poros atau
rekahan yang disebabkan oleh karat
Keuntungan dan kekurangan
Keuntungan: bukan hanya kerugian saja yang dii hasilkan oleh air formasi, air formasi ini
jiga mempunyai dampak positif yang di gunaka untuk water injeksi, Produced water merupakan
salah satu limbah terbesar yg dihasilkan oleh sektor hulu migas. Terlebih untuk lapangan
marjinal, water cut produksinya saja bisa mencapai 90% (bahkan bisa lebih). Hal tersebut
menjadi concern utama untuk pengelolaannya sering bermasalah karena jumlahnya cenderung
meningkat dari tahun ke tahun. Opsi pengelolaan produced water ada 2 macam. Kita bisa
treatment untuk di buang ke badan air atau di-re-injeksi. Re-injeksi terbagi menjadi dua, yakni
untuk enhance oil recovery /EOR (pressure maintenance, water flooding dll) atau berupa sumur
disposal. Semua opsi mewajibkan pre-treatment dulu untuk memenuhi baku mutu, kecuali sumur
disposal. Semua opsi perlu perijinan dan pemantauan rutin minimal per bulan dari instansi
lingkungan, kecuali untuk re-injeksi sebagai EOR. Ref Permen LH 04 thn 2007 dan Permen LH
13 th 2007.
Saat ini re-injeksi merupakan opsi yg paling banyak dipilih karena praktis, tidak ribet bermaslah
secara sosial lingkungan terutama juga mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi teknologi.
Sebagai contoh, beberapa lapangan akan sangat sulit memenuhi kriteria baku mutu TDS <
4.000 dengan teknologi konvensional.
Selain itu ada keuntungan yang didapatkan dari injeksi air terproduksi kedalam formasi yaitu
untuk mendorong kandungan crude oil dari dalam formasi kesumur-sumur produksi dan menjaga
tekanan fluida didalamnya, namun ada criteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi terlebih
dahulu.
Air untuk injeksi proses EOR memang perlu memenuhi kriteria tertentu. Jika tidak, alih-alih
mendorong produksi crude oil malah membuat plug formasi. Fasprod pipa, pompa dan lain-lain
juga cepat plugging, korosif & rusak. Parameter yang biasa dijadikan indikator diantaranya pH,
DO, TSS, MPFT, SRB (Sulfur Reduction Bacteria), oil content, RPI, Fe dan turbidity.
Untuk kualitas air injeksi ke dalam formasi, ada fenomena swelling atau deflocculating clay
mineral dari batuan formasi. Clay merespon terhadap kekurangan kation divalent yang

terkandung di dalam air injeksi. Ada beberapa tipe clay yang mempunyai korelasi langsung
dengan kation divalent ini, yaitu montmorilonite, illite, koalinite, dan mixed layer mont-illite.
Untuk kegiatan water injection, sebagai salah satu strategi EOR, juga digunakan untuk menjaga
tekanan dalam formasi, juga bisa digunakan untuk mensiasati limbah produced water yang
dihasilkan dari produksi oil/gas.
Penanggulangan Scale
Istilah scale dipergunakan secara luas untuk deposit keras yang terbentuk pada peralatan yang
kontak atau berada dalam air. Dalam operasi produksi minyak bumi sering ditemui mineral scale
seperti CaSO4, FeCO3, CaCO3, dan MgSO4. Senyawa-senyawa ini dapat larut dalam air. Scale
CaCO3 paling sering ditemui pada operasi produksi minyak bumi. Akibat dari pembentukan
scale pada operasi produksi minyak bumi adalah berkurangnya produktivitas sumur akibat
tersumbatnya penorasi, pompa, valve, dan fitting serta aliran.
Penyebab terbentuknya deposit scale adalah terdapatnya senyawasenyawa tersebut dalam air
dengan jumlah yang melebihi kelarutannya pada keadaan kesetimbangan. Faktor utama yang
berpengaruh besar pada kelarutan senyawa-senyawa pembentuk scale ini adalah kondisi fisik
(tekanan, temperatur, konsentrasi ion-ion lain dan gas terlarut).
Pencegahan Scale dengan Scale Inhibitor
Scale inllibitor adalah bahan kimia yang menghentikan atau mencegah terbentuknya scale bila
ditambahkan pada konsentrasi yang kecil pada air.Penggunaan bahwa kimia ini sangat menarik,
karena dengan dosis yang sangat rendah dapat mencukupi untuk mencegah scale dalam
periode waktu yang lama.
Mekanisme kerja scale inhibitor ada dua, yaitu:
1. Scale inhibitor dapat teradsorpsi pada permukaan kristal scale pada saat mulai terbentuk.
Inhibitor merupakan kristal yang besar yang dapat menutupi kristal yang kecil dan menghalangi
pertumbuhan selanjutnya.
2. Dalam banyak hal bahan kimia dapat dengan mudah mencegah menempelnya suatu partikelpartikel pada permukaan padatan.
Tipe Scale Inhibitor
Kelompok scale inhibitor antara lain: inorganik poliphospat, Inhibitor organik, Phosponat, ester
phospat, dan polimer. Inorganik poliphospat adalah padatan inorganik non-kristalin. Senyawa ini
jarang digunakan dalam operasi perminyakan. Kerugiannya adalah merupakan padatan dan
bahan kimia ini ymudah terdegradasi dengan cepat pada pH rendah atau pada temperaturtinggi. Inhibitor organik biasanya dikemas sebagai cairan konsentrat dan tidak dapat dipisahkan
sebagai bahan kimia stabil. Ester phospat merupakan scale inhibitor yang sangat efektif tetapi
pada temperatur diatas 175C dapat menyebabkan proses hidrolisa dalam waktu singkat.
Phosponat merupakan scale inhibitor yang baik untuk penggunaan pada temperature diatas
3500F. Sedangkan polimer seperti akrilat dapat digunakan pada temperatur diatas 350C.
Pemilihan Scale Inhibitor

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis inhibitor untuk mendapatkaIl
efektifitas kerja inhibitor yang baik adalah sebagai berikut: Jenis scale, dengan diketahuinya
komposisi scale, dapat dilakukan pemilihan scale inhibitor yang tepat. Kekerasan scale.
Temperatur, secara umum, inhibitor berkurang keefektifannya apabila Temperature meningkat.
Setiap inhibitor mempunyai batas maksimum temperatur operas agar dapat berfungsi dengan
baik. pH, kebanyakan scale inhibitor konvensional tidak efektif pada pH rendah. Kesesuaian
bahan kimia, scale inhibitor yang digunakan harus sesuai dengan bahan kimia lain yang juga
digunakan untuk kepentingan operasi seperti corrosion inhibitor. Beberapa scale inhibitor ada
yang bereaksi dengan kalsium, magnesium atau barium membentuk scale pada konsentrasi
yang tinggi. Padatan terlarut, semakin banyak padatan terlarut maka semakin tinggi
konsentrasi inhibitor yang digunakan. Kesesuaian dengan kondisi air, kandungan ion ion
kalsium, barium, dan magnesium yang ada dalam air akan menyebabkan terjadinya reaksi
dengan beberapa jenis inhibitor sehingga menimbulkan masalah baru yaitu terbentuknya
endapan. Sehingga jenis inhibitor harus dipilih sesesuai mungkin. lklim, setiap inhibitor
mempunyai titik lebur tertentu dan cara menginjeksikan ke dalam sistem, sehingga untuk
menghindari terjadinya pembekuan ataupun perubahan komposisi dari inhibitor.
Beberapa Jenis Scale Inhibitor
1. Hidrokarbon
Hidrokarbon diperlukan sebagai pelarut hidrokarbon digunakan untuk menghilangkan minyak,
parafin, atau asphaltic materials yang menutupi scale yang terbentuk, karena apabila digunaka
asam sebagai penghilang scale makaasam ini tidak akan bereaksi dengan scale yang tertutupi
oleh minyak (oil coated scale), oleh sebab itu minyak harus dihilangkan terlebih dahulu dari scale
dengan menggunakan hidrokarbon.
2. Asam klorida
Asam klorida adalah bahan yang banya digunakan untuk membersihkan scale yang telah
terbentuk. Bahan ini dapat digunakan pada berbagai kondisi. Asam klorida digunakan dengan
konsentrasi 5%, 10%, atau 15% Hcl. Reaksi yang terjadi: CaCO3 + 2 HCI H2O + CO2 + CaCl2
Corrotion inhibitor harus ditambahkan dalam Hcl untuk menghindari efek keasaman pada pipa
yang dapat menyebabkan korosi.
3. Inorganic Converters
Inorganic converters biasanya merupakan suatu karbonat atau hidroksida yang akan bereaksi
dengan kalsium sulfat dan membentuk acid soluble calcium carbonate. Kemudian diikuti dengan
penambahan asam klorida untuk melarutkan karbonat atau kalsium hidroksida yang terbentuk.
CaSO4 + (NH4)2CO3 (NH4)2S04 + CaCO3
CaCO3 + 2 Hcl H2O + CO2 + CaCl2
CO2 yang terbentuk dari reaksi dengan asam ini akan membantu mengeluarkan secara mekanis
scale yang mungkin tersisa. Inorganic converters sebaiknya tidak digunakan pada scale yang
keras.
4. Organic Converters

Organic converters seperti natrium sitrat, potassium asetat sering digunakan. Reaktan ini akan
bereaksi dengan scale kalsium sulfat, sehingga scale akan menjadi lebih lunak dan mudah
dibersihkan dengan melewatkan air.
5. Natrium Hidroksida
Larutan 10% natrium hidroksida dapat melarutkan hingga 12,5% berat dari scale kalsium
karbonat.
Kondisi Yang Mendukung Terjadinya Scale
Perubahan tekanan dan temperatur
Larutan lewat jenuh (supersaturated solution)
Terjadinya perubahan komposisi air formasi
Perubahan derajat keasaman (pH)
Bercampurnya air formasi dari lapisan yang berbeda

Kerugian Akibat Masalah Scale


Kerusakan formasi batuan disekitar lubang bor (kehilangan tekanan / potensi formasi)
Penurunan produksi
Kerusakan alat alat produksi
Meningkatnya biaya produksi

Dasar dari mekanisme scale inhibitor yakni usaha pencegahan sedini mungkin akan terjadinya
scale dengan cara menginjeksikan bahan kimia ke dalam sumur untuk mencegah terjadinya
reaksi kimia antara ion dan kation yang bisa mengendap. Jenis jenis Scale Inhibitor yang
memiliki kemampuan mencegah terjadinya Scale :
Phospate ester
Polymers (polyacramides)
Phosphonates

Faktor yang sangat penting dalam pemilihan inhibitor, sbb ;


Harga bahan kimianya
Kestabilan inhibitor terhadap perubahan tekanan dan temperatur yang besar
Keefektifannya
Kompabilitas terhadap fluida produksi, fluida workover / routine service dan bahan kimia lain

Penanggulangan Korosi
Dengan dasar pengetahuan tentang elektrokimia proses korosi yang dapat menjelaskan
mekanisme dari korosi, dapat dilakukan usaha-usaha untuk pencegahan terbentuknya korosi.
Banyak cara sudah ditemukan untuk pencegahan terjadinya korosi diantaranya adalah dengan
cara proteksi katodik, coating, dan pengg chemical inhibitor.Proteksi KatiodikUntuk mencegah
terjadinya proses korosi atau setidak-tidaknya untuk memperlambat proses korosi tersebut,

maka dipasanglah suatu anoda buatan di luar logam yang akan diproteksi. Daerah anoda adalah
suatu bagian logam yang kehilangan elektron. Ion positifnya meninggalkan logam tersebut dan
masuk ke dalam larutan yang ada sehingga logaml tersebut berkarat. Terlihat disini karena
perbedaan potensial maka arus elektron akan mengalir dari anoda yang dipasang dan akan
menahan melawan arus electron dari logam yang didekatnya, sehingga logam tersebut berubah
menjadi daerah katoda. Inilah yang disebut Cathodic Protection. Dalam hal diatas elektron
disuplai kepada logam yang diproteksi oleh anoda buatan sehingga elektron yang hilang dari
daerah anoda tersebut selalu diganti, sehingga akan mengurangi proses korosi dari logam yang
diproteksi. Anoda buatan tersebut ditanam dalam suatu elektrolit yang sama (dalam hal ini tanah
lembab) dengan logam (dalam hal ini pipa) yang akan diprotekasi dan antara dan pipa
dihubungkan dengan kabel yang sesuai agar proses listrik diantara anoda dan pipa tersebut
dapat mengalir terus menerus.Coating Cara ini sering dilakukan dengan melapisi logam (coating)
dengan suatu bahan agar logam tersebut terhindar dari korosi.
Pemakaian Bahan-Bahan Kimia (Chemical Inhibitor)
Untuk memperlambat reaksi korosi digunakan bahan kimia yang disebut inhibitor corrosion yang
bekerja dengan cara membentuk lapisan pelindung pada permukaan metal. Lapisan molekul
pertama yang tebentuk mempunyai ikatan yang sangat kuat yang disebut chemis option.
Corrosion inhibitor umumnya berbentuk fluid atau cairan yang diinjeksikan pada production line.
Karena inhibitor tersebut merupakan masalah yang penting dalam menangani kororsi maka
perlu dilakukan pemilihan inhibitor yang sesuai dengan kondisinya. Material corrosion inhibitor
terbagi 2, yaitu :
1. Organik Inhibitor
Inhibitor yang diperoleh dari hewan dan tumbuhan yang mengandung unsure karbon dalam
senyawanya. Material dasar dari organik inhibitor antara lain:
Turunan asam lemak alifatik, yaitu: monoamine, diamine, amida, asetat, oleat, senyawasenyawa amfoter. Imdazolines dan derivativnya
2. Inorganik Inhibitor
Inhibitor yang diperoleh dari mineral-mineral yang tidak mengandung unsur karbon dalam
senyawanya. Material dasar dari inorganik inhibitor antara lain kromat, nitrit, silikat, dan pospat.

AIR BAWAH TANAH


Lebih dari 98 % dari semua air di atas bumi tersembunyi di bawah permukaan dalam
pori-pori batuan dan bahan-bahan butiran. Dua persen sisanya adalah apa yang kita lihat di
danau, sungai dan reservoir. Jumlah air tanah yang besar memerankan peranan penting dalam
sirkulasi air alami.
Asal-muasal air tanah juga dipergunakan sebagai konsep dalam mengggolongkan air
tanah ke dalam 4 macam yang jelas, yaitu

1. Air meteorik
Air ini berasal dari atmosfer dan mencapai mintakat kejenuhan baik secara langsung maupun
tidak langsung dengan :
- Secara langsung oleh infiltrasi pada permukaan tanah
- Secara tidak langsung oleh perembesan influen (dimana kemiringan muka air tanah
menyusup di bawah aras air permukaan kebalikan dari efluen) dari danau, sungai,
saluran buatan dan lautan.
- Secara langsung dengan cara kondensasi uap air (dapat diabaikan)
2. Air juvenil
Air ini merupakan air baru yang ditambahkan pada mintakat kejenuhan dari kerak bumi yang
dalam. Selanjutnya air ini dibagi lagi menurut sumber spesifiknya ke dalam :
- air magmatik
- air gunung api dan air kosmik (yang dibawa oleh meteor)
3. Air diremajakan (rejuvenated)
Air yang untuk sementara waktu telah dikeluarkan dari daur hidrologi oleh pelapukan, namun
ke daur lagi dengan prosesproses metamorfisme, pemadatan atau proses-proses yang serupa.
4. Air konat
Air yang dijebak pada beberapa batuan sedimen atau gunung pada saat asal mulanya.
Air tersebut biasanya sangat termineralisasi dan mempunyai salinitas yang lebih
tinggi daripada air laut.
Air tanah ditemukan pada formasi geologi permeabel (tembus air) yang dikenal dengan
akuifer (juga disebut reservoir air tanah, formasi pengikat air yang memungkinkan jumlah air
yang cukup besar untuk bergerak melaluinya pada kondisi lapangan yang biasa. Air tanah
juga ditemukan pada akiklud (atau dasar semi-permeabel) yang mengandung air tetapi tidak
mampu memindahkan jumlah air yang nyata (seperti tanah liat).
Kondisi alam dan distribusi akuifer, akiklud dan akuitard dikendalikan oleh litologi,
stratigrafi dan struktur dari materi simpanan geologi dan formasi.
- Litologi merupakan susunan fisik dari simpanan geologi. Susunan ini termasuk komponen
mineral, ukuran butir, dan kumpulan butir (grain packing) yangterbentuk dari sedimentasi
atau batuan yang menampilkan sistem geologi.
- Stratigrafi menjelaskan hubungan geometris dan umur antara macam-macam lensa, dasar
dan formasi dalam geologi sistem dari asal terjadinya sedimetasi.
- Bentuk struktur seperti pecahan, retakan, lipatan dan patahan merupakan sifat-sifat
geometrik dari sistem geologi yang dihasilkan oleh perubahan bentuk (deformasi) akibat
proses penyimpanan (deposisi) dan proses kristalisasi dari batuan. Pada simpanan yang

belum terkonsolidasi (unconsolidated


pengendali yang paling penting.

deposits) litologi

dan

stratigrafi

merupakan

Hujan yang merembes kedalam tanah dan menembus sampai ke lapisan dasar
(underlying strata) disebut air tanah (groundwater). Jumlah air yang dapat diakomodasikan
di bawah permukaan tergantung pada porosits lapisan tanh bagian bawah. Lapisan kandung
air (water-bearing strata) yang disebut akuifer, dapat tyerdiri dari bahan yang
takterkonsilidasi seperti pasir, kerikil, dan tumpukn glacial (es) atau material yang
terkonsilidasi seperti batu pasir dan batu kapur.
ALIRAN AIR TANAH
Secara hidrologis air di bawah permukaan tanah dapat dibedakan menjadi:
1. menjadi air pada daerah yang tak jenuh (zone of aeration).
Daerah tak jenuh yang umumnya terdapat pada bagian teratas dari lapisan tanah dicirikan
oleh gabungan antara material padatan, air dalam bentuk air adsorpsi, air kapiler dan air
infiltrasi serta gas dan udara
2.
Air
pada
daerah
jenuh
(zone
of
saturation)
Daerah ini dipisahkan dari daerah jenuh oleh jaringan kapiler. Air yang berada pada daerah jenuh disebut air
tanah (groundwater).

Aliran air tanah dapat dibedakan menjadi


1.
Aliran laminar
aliran yang partikel-parikel airnya bergerak sejajar dengan kecepatan relatif lambat. Pada
umumnya air tanah yang bergerak dalam media berpori bergerak secara laminar
2.
Aliran turbulen.
aliran yang partikel-partikelnya bergerak secara berputar, biasanya mempunyai kecepatan
yang besar. Aliran turbulen terjadi pada air tanah yang mengalir lewat rongga-rongga (celah)
batuan yang besar.
Aliran

air

tanah

lebih

sering

ditemukan

dalam

bentuk

aliran

laminar.

Aliran air tanah secara laminer ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1. aliran tetap atau aliran tunak (steadyflow) yaitu Aliran tetap adalah aliran yang
tidak berubah karena waktu.
Aliran tunak terjadi apabila ada keseimbangan antaraair yang keluar dan masuk dari atau ke
akuifer.Keadaan ini dapat ditunjukkan jika tinggi pisometrikrelatif tidak berubah
terhadap pertambahan waktu dan hanya dapat diamati pada uji pemompaan sampai tahap
stabil tercapai.
2. Aliran tidak tetap atau aliran tidak tunak (unsteady flow).,
Yaitu Aliran yang akan berubah karena waktu.
Aliran tidak tunak terjadi apabila keseimbangan antara air yang masuk dan keluar tidak pernah
tercapai. Keadaan ini dapat diketahui dari tinggi pisometrik yang mengalami perubahan terhadap

waktu

Berdasarkan kondisi fisik batuan dalam kaitanya dalam kemampuan batuan untuk menyimpan air
tanah, maka terdapat beberapa istilah sebagai berikut ( Fetter, 1994 ):
Akuifer :
Suatu formasi batuan yang mengandung cukup bahan yang lulus dan mampu melepaskan air dalam
jumlah yang berarti ke sumur atau mata air. Ini dapat diartikan formasi tersebut mempunyai
kemampuan menyimpan dan melalukan air.
Akuiklud :
Suatu lapisan jenuh air tetapi relative kedap air yang tidak dapat meloloskan air dalam jumlah
besar.
Akuifug :
Lapisan batuan yang relative kedap air, yang tidak mengandung ataupun dapat meluluskan air.
Akuitard :
Lapisan jenuh air namun hanya sedikit luluskan air dan tidak mampu melepaskan air dalam jumlah yang berarti.

Berdasarkan posisi stratigrafinya, variasi posisi dari akifer, akuitar, akuifug dan akuiflud ditunjang
pula dengan sifat-sifat fisik lainnya maka dapat ditentukan berbagai jenis akifer (Fetter,1994) :
1. Akifer bebas (Unconfined aquifer / Phretic aquifer /Water Table aquifer),
Akifer ini hanya sebagian yang terisi oleh air dan terletak pada suatu dasar yang kedap. Pada akifer demikian,
permukaan air didalam sumur merupakan permukaan bebas atau permukaan phreativ. Untuk mudahnya,
dianggap tubuh batuan ini tidak mempunyai rumbai-rumbai kapiler (capillary fringe) dimana sebenarnya tebal
tubuh
air
tanah
bervariasi
dari
satu
titik
ke
titik
lainnya.

2. Akifer setengah bebas (Semi-unconfined Aquifer),

jika lapisan semi-permiabel yang berada di tas akuifer memiliki permeabilitas yang cukup besar
sehingga aliran horisntal pada lapisan tersebut tidak dapat diabaikan, maka akuifer tersebut
dikatakan setengah bebas.

3. Akifer tertekan (Confined aquifer / non leaky aquifer),


Akifer yang sepenuhnya jenuh dengan air, bagian atas dan bawahnya dibatasi oleh lapisan yang kedap air

4. Akifer setengah tertekan (Semi confined aquifer /leakage aquifer),


Akifer ini biasanya setengah terkurung yaitu akifer yang sepenuhnya jenuh air yang pada bagian
atasnya dibatasi oleh lapisan setengah kedap air (semi permiabel) dan terletak pada dasar yang
kedap air.