Anda di halaman 1dari 10

PENGELOLAAN PERTAMBANGAN YANG BERDAMPAK LINGKUNGAN DI

INDONESIA

JEANNE DARC NOVIAYANTI MANIK SH.,M.HUM


Staff Pengajar Universitas Bangka Belitung
Abstrak
Usaha Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan
dan penjualan serta kegiatan pasca tambang (Pasal 1 butir 6 Undang-Undang No.4 tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara). Pertambangan mempunyai beberapa karakteristik
, yaitu tidak dapat diperbaharui (non renewable), mempunyai resiko relatif lebih tinggi dan
pengusahaannya mempunyai dampak lingkungan baik fisik maupun lingkungan yang relatif
lebih tinggi dibandingkan pengusahaan komoditi lain pada umumnya. Pentingnya penerapan
kegiatan industri dan/atau pembangunan yang berbasis lingkungan, perlu disadari oleh setiap
elemen bangsa, karena persoalan lingkungan merupakan permasalahan bersama. Hanya saja
dalam pratiknya, diperlukan lembaga formal pengendali yang secara yuridis berwenang untuk
itu. Pengendalian kegiatan dan operasionalisasi industri, dalam prakteknya terwujud dalam
konsep dan program kerja sistematis dalam bentuk perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup. Pengelolaan lingkungan hidup harus bermuara pada terjaminnya kelestarian lingkungan,
seperti tercantum dalam Pasal 1 butir 2 Undang-Undang No.32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Kata kunci

: pertambangan, hukum, lingkungan, pengelolaan, masyarakat

lempeng

PENDAHULUAN
Indonesia secara regional berada

tersebut

menghasilkan

pulalah

tatanan

akhirnya

tektonik

yang

pada dua buah lempeng besar yaitu lempeng

lengkap.

Pacifik di Utara dan lempeng Australia di

mendukung

Selatan. Akibat tumbukan kedua lempeng

berbagai mineral atau bahan galian berharga

tersebut,

Indonesia

sebagai anugerah Tuhan YME yang patut

menjadi salah satu wilayah Negara yang

disyukuri, misalnya mineral logam dan lain-

rawan dengan bencana gempa bumi, tsunami

lain.1

telah

menempatkan

Kondisi

geologi

pembentukan

demikian
minaeralisasi

dan letusan gunung berapi. Namun, dibalik


1

bencana alam akibat tumbukan dua lempeng


tersebut,membawa hikmah yang tak ternilai
harganya. Akibat aktifitas pergerakan kedua

Sujono, Geoplogi dan Mula jadi Emas, Puslitbang


Mineral dan Batubara, 2004, Hal.90. Secara regional,
Indonesia terbentuk akibat tumbukan dua lempeng
besar yaitu lempeng Pacidik di Utara dan lempeng
Australia
di
Selatan.
Tumbukan
tersebut

Proses mineralisasi adalah salah satu

meliputi penyelidikan umum, eksplorasi,

hikmah dari bencana yang diakibatkan

studi kelayakan, konstruksi, penambangan

tumbukan kedua lempeng tadi, secara nyata

pengolahan dan pemurnian, pengangkutan

telah

sebagai

dan penjualan serta kegiatan pasca tambang

Negara kaya akan berbagai macam mineral

(Pasal 1 butir 6 Undang-Undang No.4 tahun

atau bahan galian. Sumber daya mineral atau

2009 tentang Pertambangan Mineral dan

bahan galian yang terkandung di Indonesia

Batubara).

menempatkan

Indonesia

sebenarnya sudah diusahakan sejak jaman

Pertambangan mempunyai beberapa

Hindia Belanda, seperti tambang emas di

karakteristik, yaitu tidak dapat diperbaharui

Cikotok yang baru dilakukan penutupan di

(non renewable), mempunyai resiko relatif

akhir tahun 1980-an, kemudian tambang

lebih

bauksit di Pulau Bintan, tambang Batubara

mempunyai dampak lingkungan baik fisik

si Sumatera Barat dan lain-lain.

Melihat

maupun lingkungan yang relatif lebih tinggi

sejarah pertambangan Indonesia yang sudah

dibandingkan pengusahaan komoditi lain

berjalan cukup lama, merupakan modal

pada umumnya.2 Pada dasarnya, karena

dasar pembangunan dalam rangka mencapai

sifatnya yang tidak dapat diperbaharui

tujuan sebesar-besarnya untuk kemakmuran

tersebut pengusaha pertambangan selalu

rakyat.

mencari cadangan terbukti (proven reserves)


Usaha

Pertambangan

tinggi

dan

pengusahaannya

adalah

baru. Cadangan terbukti berkurang dengan

sebagian atau seluruh tahapan kegiatan

produksi dan bertambah dengan adanya

dalam rangka penelitian, pengelolaan dan

penemuan. Ada beberapa macam resiko di

pengusahaan mineral dan batubara yang

bidang pertambangan, yaitu resiko geologi

mengakibatkan terbentuknya jalur gunung berapi


(volcans arc). Diantara kedua lempeng tersebut,
terdapat jalur sesar naik dan lipatan. Dibelakang
jalur penujaman (back arc subduction zone) akan
terbentuk rangkaian kegiatan magmatic dan gunung
api dan berbagai cekungan pengendapan.
Pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan
lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman di
selatan Pulau Jawa dan jalur gunung api di Sumatera,
Jawa dan Nusa Tenggara serta cekungan lainnya
seperti cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah,
Sumatera Selatan dan cekungan Jawa Utara. Kondisi
tatanan tektonik yang lengkap tersebut menadi
pendukung bagi pembentukan mineralisasi emas dan
logam lainnya di Indonesia.

(eksplorasi)
ketidakpastian
(produksi),

yang

berhubungan
penemuan

resiko

dengan
cadangan

teknologi

yang

berhubungan dengan ketidakpastian biaya,


resiko pasar yang berhubungan perubahan
harga dan resiko kebijakan pemerintah yang
berhubungan dengan perubahan pajak dan

Adrian Sutedi, Hukum Pertambangan, Sinar Grafika,


Jakarta, 2011, hal.43

harga domestic.
berhubungan

Resiko-resiko tersebut

dengan

besaran

yang

daerah yang luas di permukaan. Tambang


ada yang digali di permukaan atau tambang

mempengaruhi keuntungan usaha, yaitu

dengan

produksi, harga, biaya dan pajak usaha yang

permukaan seperti batu bara, tembaga, emas

mempunyai resiko lebih tinggi menuntut

dan lain-lain sehingga relatif membutuhkan

pengembalian keuntungan (rate of return)

daerah yang luas di permukaannya dan

yang lebih tinggi.

sebagai akibat dampak lingkungan fisik

Walaupun

demikian,

membuat

terowongan

dekat

terdapat

maupun sosialnya lebih besar. Apalagi

dampak lingkungan pada waktu eksplorasi,

tambang tersebut tadinya merupakan mata

tetapi dampak lingkungan pertambangan

pencaharian penduduk setempat.

utama adalah pada waktu eksploitasi dan

Pentingnya

penerapan

kegiatan

pemakaiannya untuk yang bisa digunakan

industri

sebagai energi (minyak, gas dan batu bara).

berbasis lingkungan, perlu disadari oleh

Dampak

setiap elemen bangsa, karena persoalan

lingkungan

tersebut

dapat

dan/atau

pembangunan

yang

berbentuk fisik seperti penggundulan hutan,

lingkungan

pengotoran air (sungai, danau dan laut) serta

bersama.

pengotoran udara untuk energi.

diperlukan lembaga formal pengendali yang

Dampak

merupakan

permasalahan

Hanya saja dalam pratiknya,

lingkungan tersebut dapat juga bersifat

secara

sosial, yaitu hilangnya mata pencaharian

Pengendalian kegiatan dan operasionalisasi

masyarakat yang tadinya hidup dari hasil

industri, dalam prakteknya terwujud dalam

hutan maupun hasil

konsep dan program kerja sistematis dalam

pertambangan itu

yuridis

berwenang

untuk

itu.

sendiri. Sebagai contoh dengan cara yang

bentuk

sederhana penduduk dapat mendulang emas.

lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan

Dampak lingkungan pertambangan

hidup harus bermuara pada terjaminnya

berbeda antara jenis tambang yang satu

kelestarian lingkungan, seperti tercantum

dengan yang lain.

Tambang yang ada

dalam Pasal 1 butir 2 Undang-Undang

berada jauh di bawah permukaan bumi

No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

seperti tambang minyak dan gas (migas)

Pengelolaan

Lingkungan

sehingga

menyatakan

bahwa

penambangannya

dengan membuat sumur.

dilakukan

perlindungan

dan

pengelolaan

Hidup,

perlindungan

yang
dan

Oleh sebab itu,

pengelolaan Lingkungan hidup adalah upaya

penambangannya relatif tidak membutuhkan

sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk

melestarikan fungsi lingkungan hidup dan

bitumen padat, batuan aspal, batubara dan

mencegah terjadinya pencemaran dan/atau

gambut).

kerusakan lingkungan hidup yang meliputi

digolongkan atas :

Pertambangan

mineral

perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,

a. Pertambangan mineral radioaktif

pemeliharaan, pengawasan dan penegakan

b. Pertambangan mineral logam

hukum

c. Pertambangan mineral bukan logam,


Dasar kebijakan publik di bidang

pertambangan adalah Undang-Undang Dasar

dan
d. Pertambangan batuan

tahun 1945 (UUD 1945) pada Pasal 33 ayat


(3) yang menyatakan bahwa bumi dan air

PEMBAHASAN

dan

terkandung

Pasal 2 Undang-Undang No. 4 Tahun 2009

oleh Negara dan

mengatur bahwa Petambangan Mineral dan

kekayaan

alam

didalamnya dikuasai
digunakan

yang

sebesar-besarnya

untuk

Batu bara (Minerba) dikelola berasaskan :

kemakmuran rakyat. Peraturan pelaksana

a. Manfaat, keadilan dan keseimbangan

dalam kegiatan pertambangan khususnya

b. Keberpihakan kepada kepentingan

antara lain Undang-Undang No.11 tahun

bangsa

1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

c. Partisipatif,

Pertambangan, Undang-Undang No. 4 tahun


2009 tentang Pertambangan Mineral dan

transparansi

dan

akuntabilitas
d. Berkelanjutan

dan

berwawasan

Batubara, Undang-Undang No. 32 tahun

lingkungan.

2004 tentang Pemerintahan Daerah dan

Asas

Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tetang

mengintegrasikan dimensi ekonomi,

Pengelolaaan dan Perlindungan Lingkungan

lingkungan dan sosial budaya dalam

Hidup.

keseluruhan

Berdasarkan Pasal 2 Peraturan Pemerintah

mineral

No.2 tahun 2010 tentang Pelaksanaan

mewujudkan kesejahteraan masa kini

Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba,

dan masa mendatang.

yang

telah

pemerintah

diubah
No.

dengan
26

Peraturan

tahun

2012

dikelompokkan atas pertambangan mineral


dan pertambangan batubara (antara lain

yang

usaha

dan

batu

terencana

pertambangan
bara

untuk

Pada Pasal 3 Undang-Undang No.4 Tahun


2009

mengatur

bahwa

dalam

rangka

mendukung pembangunan nasional yang

berkesinambungan,

tujuan

pengelolaan

mineral dan batubara adalah :


a. Menjamin

baik dan benar, adalah anggapan yang


segera harus diakhiri. Caranya adalah

efektifitas

pelaksanaan

melakukan penataan konsep kegiatan

dan pengendalian kegiatan usaha

usaha pertambangan melalui sebuah

pertambangan secara berdaya guna,

upaya yang nyata agar stempel buruk itu

berhadil guna dan berdaya saing;

dapat dibuktikan tidak benar adanya.

b. Menjamin

manfaat

pertambangan

Munculnya

stempel

buruk

tersebut

minerba secara berkelanjutan dan

berdasarkan pada permasalahan yang

berwawasan lingkungan hidup;

selalu ada dalam usaha pertambangan,

c. Menjamin tersedianya mineral dan


batubara

sebagai

bahan

baku

dan/atau

sumber

energi

untuk

kebutuhan dalam negeri;


d. Mendukung

dan

diantaranya :
a. Terkorbannya pemilik lahan
Bahwa

kegaiatan

usaha

pertambangan adalah kegiatan yang


menumbuh

cenderung

mengorbankan

kembangkan kemampuan nasional

kepentingan pemilik hak atas lahan.

agar lebih mampu bersaing di tingkat

Hal ini sering terjadi lantaran selain

nasional, regional dan internasional;

kurang

e. Meningkatkan

pendapatan

baiknya

administrasi

pertanahan di tingkat bahwa, kuha

masyarakat lokal, daerah dan Negara

karena faktor budaya

serta menciptakan lapangan kerja

setempat. Kebiasaan masyarakat adat

yang

di beberapa daerah dalam hal hak

sebesar-besarnya

untuk

kesejahteraan rakyat.

kegiatan

usaha

pertambangan mineral dan batubara.


Cap

atau

kesan

adat

penguasaan tanah biasanya cukup

f. Menjamin kepastian hukum dalam


penyelenggaraan

dan

buruk

bahwa

dengan adanya pengaturan intern


mereka yaitu saling mengetahui dan
menghormati
tanah.

diantara

batas-batas

Keadaan tersebut kemudian

pertambangan merupakan kegiatan yang

dimafaatkan oleh sekelompok orang

bersifat zero value,

dengan membuat surat tanah dari

kenyataan

sebagai akibat

berkembangnya

kegiatan

desa setempat sehingga tidak jarang

penambangan yang tidak memenuhi

pemilik lahan merupakan orang atau

kriteria dan kaidah-kaidah teknis yang

kelompok pertama yang menjadi

ada.

korban dari aktivitas pertambangan.

mendorng

b. Kerusakan lingkungan

Kenyataan

ini

kemudian

munculnya

ungkapan

popular

di

suatu
kalangan

Bahwa kegiatan usaha pertambangan

profesi geologi dan pertambangan,

adalah kegiatan yang sudah pasti

bahwa sebelum bumi jadi roti,

akan menimbulkan kerusakan dan

kegiatan usaha pertambangan akan

pencemaran

terus berjalan.

lingkungan

adalah

sesuatu yang tidak dapat dibantah.

c. Ketimpangan sosial.

Oleh karena itu, untuk mengambil

Kebanyakan

atau

pertambangan

memperoleh

tertentu,

sudah

penggalian,

bahan
pasti

artinya

perombakan

galian

akan

dimana

terjadi

masih

didaerah

keadaan
hidup

usaha
terpencil,

masyarakatnya
dengan

sangat

perubahan

sederhana, tingkata pendidikan yang

permukaan bumi, sesuai dengan

rendah, dan kondisi sosial ekonomi

karakteristik

umumnya masih berada di bawah

keberadaan

atau

dengan

kegiatan

pembentukan
bahan

galian,

dan
yang

garis

kemiskinan.

Dilain

secara ganesa atau geologis dalam

pihak,kegiatan usaha pertambangan

pembentukannya atau kejadiannya

membawa pendatang dengan tingkat

harus memenuhi kondisi geologis

pendidikan

tertentu dan pasti berada dibawah

teknologi menengah tekonologi

permukaan bumi, laut dan atau

tinggi, dengan budaya dan kebiasaan

permukaan bumi khususnya bagai

yang kadangkala bertolak belakang

endapan

alluvial.

dengan

Namun di pihak lain, hal yang harus

Kondisi

disadari

kegiatan

munculnya kesenjangan sosial antara

pertambangan merupakan industri

lingkungan pertambangan dengan

penyedia bahan baku dasar bagi

masyarakat

industri hilir.

pertambangan berlangsung.

sekunder

atau

bahwa

Dengan demikian,

cukup,

menerapkan

masyarakat
ini

akan

setempat.
menyebabkan

disekitar

usaha

kegiatan penggalin bahan galian

Konsep prinsip-prinsip pengelolaan dan

akan

pengusahaan

terus

berlangsung,

selama

peradaban manusiaada didunia masih

bahan

galian

atau

usaha

pertambangan yang baik dan benar bukan

hanya dalam rangka menjawab tudingan


miring

selama

ini,

tetapi

mempunyai

Mencermati

keadaan

bahwa

dimensi yang lebih luas lagi yaitu prinsip-

kebutuhan akan bahan galian akan

prinsip pertambangan yang baik dan benar

meningkat

serta memuat semangat, maksud dan tujuan

datang, maka secara kuantitas diprediksi

kegiatan
a. Mengendalikan

distribusi

usaha

meningkat pula.
usaha

masa

yang

pertambangan

akan

akan

Salah satu alasa

pemanfaaatan bahan galian, dengan

kegiatan

prioritas uatama dan pertama atau

meningkat, dapat dilihat dari fakta

terlabih dahulu untuk kepentingan

bahwa kebutuhan listrik dunia gampir

bangsa dan Negara;

65% dipasok dari produk pertambangan

pertambangan

akan

b. Meningkatkan mining recovery atau

berupa minyak, gas dan batubara. Untuk

perolehan bahan galian semaksimal

Indonesia, kebutuhan listrik nasional

mungkin;

80% dipasok dari pertambangan berupa


panas bumi, minyak, gas dan batubara.

c. Memingkatkan efisiensi pemakaian


bahan

galian,

sebagai

upaya

Industri

lainnya

seperti

industri

penghematan pemakaian bahan dasar

transportasi (kenderaan roda empat, dua,

industri berdimensi jangka panjang.

kapal laut, pesawat terbang), industri

Hal ini berkaitan dengan keberadaan

rumah

bahan galian sebagai non renewable

industri bangunan, dan industri peralatan

resources, artinya penghematan yang

kerja dan lain-lain memerlukan berbagai

berkaitan

bahan baku mineral logam dan non

dengan

kepentingan

generasi yang akan datang.

untuk

logam.

tangga,

industri

elektronik,

Artinya bahwa tanpa adanya

d. Meningkatkan peroleh devisa Negara

adanya suplai bahan baku dasar untuk

dari sektor pertambangan karena

industri-industri tersebut, maka akan

adanya mining recovery, berarti pula

terjadi stagnansi kegiatan industri, yang

meningkatkan

berarti pula timbulnya berbagai dampak

jumlah

perolehan

bahan galian dan memperpanjang

sosial

umur galian.

Data tersebut menunjukkan bukti bahwa

Nandang Sudrajat, Teori dan Praktik Pertambangan


di Indonesia Menurut Hukum, Pustaka Yustisia,
Yogyakarta, 2010, hal.142.

ekonomi

yang

menyertainya.

Suyartono dkk, Good Mining Practice Konsep


tentang Pengelolaan Pertambangan yang Baik dan
Benar, Studi Nusa, Semarang, Edke-4, 2003, hal.4

industri

pertambangan

merupakan

6. Meningkatkan

industri

hulu

menopang

masyarakat

yang

bergeraknya kegiatan-kegiatan industri


hilir.

sumber
(SDM)

daya

masyarakat

lingkar tambang;
7. Meningkatkan

derajat

kesehatan

Di sisi lain, maka akan didapatkan pula

masyarakat lingkar tambang.

pendapat daerah dari usaha pengelolaan

Dampak negatif dari pembangunan di

pertambangan yang ada, terdiri atas :

bidang pertambangan antara lain :

1. Pajak daerah;

1. Kehancuran lingkungan hidup

2. Retribusi daerah ; dan

2. Penderitaan masyarakat adat

3. Pendapatan

lainnya

yang

sah

3. Menurunnya

berdasarkan aturan yang berlaku.

kualitas

hidup

penduduk lokal
4. Meningkatnya kekerasan terhadap
perempuan

KESIMPULAN
Setiap kegiatan pembangunan di bidang
pertambangan pasti menimbulkan dampak,
baik

dampak

negatif.

positif

maupun

di

bidang pertambangan,

antara lain :

nyata kepada pertumbuhan ekonomi;


pendapatan

asli

daerah (PAD);

masyarakat lingkar tambang;

lingkar tambang;

HAM

pada

bentuk kuasa pertambangan

menurut Undang-Undang No. 11 tahun 1967


Ketentuan-Ketentuan

Pertambangan,

Pokok

Peraturan

Menteri

Pertambangan dan energy No.01 P/ 201 /


M.PE/1986 tentang Pedoman Pengelolaan
Rakyat

Bahan

Galian

Strategis dan Vital (golongan a dan b) dan


Keputusan

4. Meningkatkan ekonomi masyarakat

5. Meningkatkan

Bentuk

Pertambangan

3. Menampung tenaga kerja, terutama

pelanggaran

kuasa pertambangan

tentang

1. Memberikan nilai tambah secara

2. Meningkatkan

6. Terjadi

dampak

Dampak positif dari kegiatan

pembangunan

5. Kehancuran ekologi pulau-pulau

Energi

Menteri

Nomor

Pertambangan

dan

20127.K/201/M.PE/1985

tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian


usaha

masyarakat lingkar tambang;

mikro

Kuasa Pertambangan dan Perpanjangan


Kuasa Pertambangan dan pengaturannya :
1. Surat

Kuasa

Pertambangan

Penugasan

Adalah kuasa pertambangan yang

sifat khusus daerah, maka wewenang

diberikan

Menteri ESDM untuk memberikan

oleh

Menteri

ESDM

kepada instansi pemerintah yang

izin

ditunjuk untuk melakukan usaha

dilimpahkan

pertambangan. Instansi Pemerintah

dimana terdapatnya bahan galian

yang dimaksud antara lain Kantor

yang bersangkutan.

Wilayah Departemen Pertambangan

tambang

rakyat

kepada

untuk
Gubenur,

3. Surat keputusan Pemberian Kuasa

dan Eneergi, Direktorat, Badan dan

Pertambangan

Lembaga

Surat keputusan pemberian kuasa

Pemerintah

Nondepartemen
Pengetahuan
Badan

ILembaga
Indonesia

Tenaga

Atom

Ilmu
(KIPI),

Nasional

pertambangan
Menteri

diberikan

ESDM

Perusahaan

oleh

kepada BUMN,

Daerah,

Koperasi

(BATAN), Badan Pengkajian dan

Pertambangan, Perusahaan Swasta

Penerapan
Lembaga

Teknologi

(BPPT),

dan perorangan untuk melakukan

Oceanologi

Nasional

usaha

(LON) dan lain-lain


2. Surat

Kuasa

Izin

pertambangan.

Pemberian

kuasa pertambangan berbeda dengan


Pertambangan

bentuk kuasa pertambangan lainnya

Rakyat

yang lebih khusus. Pemberian kuasa

Adalah kuasa pertambangan yang

pertambangan selain subjek hukum

diberikan

yang dapat diberikan bervariasi, juga

oleh

Menteri

ESDM

kepada rakyat setempat. Krieteria

pemberian

kuasa

dan sifat dari pertambangan rakyat

disesuaikan

dengan

adalah kegiatan usaha pertambangan

pertambangan yang dilakukan. Jenis

sederhana dan kecil-kecilan, tidak

usaha yang dimaksud antara lain

menggunakan

penyelidikan

peralatan

yang

umum,

pertambangan
jenis

eksplorasi,

canggih, produksinya cukup untuk

eksploitasi,

keperluan hidup sehari-hari bagi

pengangkutan dan penjualan.

penambangnya,

luasnya

sangat

usaha

pengolahan/pemurnian,

4. Surat Izin Pertambangan Daerah

terbatas, yaitu tidak melebihi 5

(SIPD)

(lima) hektar dan umur tambangnya

Ialah

relatif pendek serta beragam sifat-

diberikan oleh Gubernur kepada

kuasa

pertambangan

yang

badan hukum dan atau perorangan


untuk

melakukan

penambangan

atas

usaha

bahan

galian

golongan c. Menurut Pasal 5 ayat (2)


Peraturan Pemerintah No. 37 tahun
1986

Surat

Izin

Pertambangan

Iskandar Zulkarnaen, Erwiza Erman, Tri


Nuke Pidjiastuti, Yani Mulyaningsih,
Konflik di Kawasan Pertambangan Timah
Bangka Belitung: Persoalan dan Alternatif
Sosial, LIPI Pres Jakarta, 2005
Nandang Sudrajat, Teori dan Praktik
Pertambangan di Indonesia Menurut
Hukum, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2010,

Daerah dapat diberikan kepada :


Salim HS, Hukum Pertambangan di
Indonesia, RadjaGrafindo, Jakarta, ed.ke-5,
2010

a. Perusahaan daerah
b. Koperasi
c. Badan Usaha Milik Negara
d. Badan

Hukum

swasta

yng

didirikan berdasarkan peraturan


perundang-undangan RI
e. Perorangan
diprioritaskan

WNI

yang

bagi

yang

berdomisili di daerah tingkat II


tempat terdapatna bahan galian
golongan C yang bersangkutan
f. Perusahaan

patungan

anatara

Negara / BUMN di satu pihak


dengan pemerintah daerah atau
perusahaan daerah lainnya.

Supriyadi, Hukum Lingkungan di Indonesia,


Suatu Pengantar, Sinar Grafika, Jakarta,
2006
Sutedjo Sujitno, Sejarah Pertambangan
Timah Di Indonesia, Abad 18 Abad 20,
Ibalat Communication, 2007
Wisnu
Arya
Wardhana,
Dampak
Pencemaran Lingkungan, Andi Offset,
Jakarta, 2004
Undang-Undang No.11 tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan
Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara
Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah

DAFTAR PUSTAKA
Adrian Sutedi, Hukum Pertambangan, Sinar
Grafika, Jakarta, 2011,

Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang


Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan
Hidup.

Eko Teguh Paripurno, Hendrik Siregar, Igor


ONeil, Jevelina Punih, Nurhidayati, Torry
Kuswardono, Datang, Gali dan Pergi,
Potret Penutupan Tambang di Indonesia,
Jatam, Jakarta, 2009

Peraturan Pemerintah No.2 tahun 2010


tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Minerba, yang telah diubah
dengan Peraturan pemerintah No. 26 tahun
2012