Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

PEMURNIAN DAN IDENTIFIKASI SPEKTRA UV-VIS KURKUMINOID DARI


EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza)
Kelompok F-3 :
Felicia Kristianti / 1110065
Tanoko Harris A. / 1100037
Valentina Sintya / 1110085
Wijaya Kartanegara / 1110097
Amelia Susetyo / 1110098
Putri Wardhani / 1110141
Vani Oktavia S. / 1110118
Zhidni Robbi R. / 1110160
Fonnyza M. / 11100328
Langgeng Dewi A. / 1110346
A. PENDAHULUAN
A.1 Tinjauan Pustaka
Temulawak (Curcumae xanthorrhiza)
Temulawak terdiri dari fraksi pati, kurkuminoid dan minyak asiri (3-12 %).
Fraksi pati merupakan kandungan terbesar, jumlah bervariasi antara 48-54%
tergantung dari ketinggian tempat tumbuh. Makin tinggi tempat tumbuh maka
kadar patinya semakin rendah dan kadar minyaknya semakin tinggi.
Pati temulawak terdiri dari abu, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar,
kurkuminoid, kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, mangan dan kadnium
(Sidik, 1985). pati rimpang temulawak dapat dikembangkan sebagai sumber
karbohidrat, yang digunakan untuk bahan makanan atau campuran bahan
makanan.
Fraksi kurkuminoid mempunyai aroma khas, tidak toksik, terdiri dari
kurkumin yang mempunyai aktivitas antiradang dan desmetoksikurkumin.
Minyak atsiri berupa cairan berwarna kuning atau kuning jingga, berbau
aromatik tajam. Komposisinya tergantung pada umur rimpang, tempat tumbuh,
teknik isolasi, teknik analisis, perbedaan klon varietas dan sebagainya. Oei Ban
Liang (1985) dengan metode kromatografi gas mendeteksi 31 komponen yang
terkandung dalam temulawak. Beberapa diantaranya merupakan komponen
minyak khas asiri temulawak, yaitu isofuranogermakren, trisiklin, alloaromadendren, germaken dan xanthorrhizol. Selain itu, terdapat komponen lain
yang bersifat insect repellent yaitu ar-turmeron
Dieterle dan Kaiser (1932;1933), minyak atsiri temulawak (Curcuma
xanthorrihiza) antara lain mengandung siklo-isoprem-mirsen, p-tolil-metilkarbinol dan kamper;juga mengandung kurkumin des-metoksi-kurkumin dan
bides-metil-kurkumin. Kelkar dan Rao (1934) menemukan d-alpha-felanden, dsabinen, sineol, borneol, zingiberen, seskuiterpen-alkohol dan keton dalam
minyak atsirinya. Rupe dan Gassman (1934) menemukan tuermeron dan

arturmeron di samping seskuiterpenalkohol. Gunster (1943) menemukan sineol,


alpha-felandren, kamper, borneol, zingiberen, atlanton, turmeron dan artumeron.
Rimpler (1970) menemukan santorizol dalam ekstrak metilenklorida dari
temulawak. Maligre (1975) menemukan seskuiterpen-keton, seskuiterpen
alkohol dan santorizol dengan kromatografi gas IR dan NMR. Terutama
digunakan sebagai obat penyakit kandungan empedu dan hati, bekerja sebagai
kolagog (Isaac. 1959), Luckner (1967) menyatakan dalam bentuk rebusan dan
ekstrak dipakai pada kolelitiasis, kolesistitis, kolangitida dan kerusakan pada
parenchym hati. Bekerja baik sebagai kolekinetik maupun sebagai koleretik. Zat
warna kuning kurkumin dan kurkuminoid bekerja sebagai kolekinetik, sedang
minyak atsirinya bekerja sebagai koleretik. Mengenai daya kerja kandung
empedu belum ada persamaan pendapat. Robbers (1936) dengan hewan
perlakuan anjing, hanya dapat melihat daya kerja kolekinetik dari kurkumin,
tetapi Jentzch (1959) menerangkan kurkumin juga menyebabkan efek koleretik
yang nyata dengan hewan perlakuan tikus. Gunster (1959) tidak menemukan
efek apapun dari kurkumin dan harsanya pada sistim blier hewan perlakuan.
Pada percobaan dapat dilihat bahwa minyak atsirinya disamping berefek
koleretik juga bersifat disinfektan dan dapat melarutkan kolesterol.
(Pustaka : Vademekum Bahan Obat Alam 1989 Departemen Kesehatan
Repulik Indonesia, penerbit; Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan)

Kromatografi Kolom
Pada prinsipnya kromatografi kolom adalah suatu teknik pemisahan yang
didasarkan pada peristiwa adsorpsi. Sampel yang biasanya berupa larutan pekat
diletakkan pada ujung atas kolom. Eluen atau pelarut dialirkan secara continue
ke dalam kolom. Dengan adanya gravitasi atau karena bantuan tekanan, maka
eluen/pelarut akan melewati kolom dan proses pemisahan akan terjadi. Seperti
pada umumnya, eluen/pelarut yang digunakan dimulai dari yang paling
nonpolar dan dinaikkan secara gradient kepolarannya hingga pemisahan dapat
terjadi. Sama halnya pada KLT, pemisahan dapat terjadi karena adanya
perbedaan afinitas senyawa pada adsorben dan perbedaan kelarutan senyawa
pada eluen/pelarut.

Ketika sampel diletakkan di ujung kolom, seketika itu juga sudah terjadi
peristiwa adsorpsi oleh permukaan adsorben yang berbatasan dengan sampel.
Eluen yang dialirkan secara kontinu ke dalam kolom akan menyebabkan adanya
peristiwa adsorpsi dan desorpsi senyawa-senyawa pada sampel. Molekulmolekul senyawa akan dibawa ke bagian bawah kolom dengan kecepatan yang
bervariasi bergantung pada besarnya afinitas molekul tersebut pada adsorben
dan juga pada besarnya kelarutan molekul tersebut dalam eluen/pelarut. Cairan
yang keluar dari kolom ditampung dan dilakukan analisis menggunakan KLT
untuk melihat hasil pemisahannnya.
Pada kromatografi kolom, hal-hal yang paling berperan dalam kesuksesan
pemisahan adalah adsorben dan eluen/pelarut, dimensi kolom yang digunakan
serta kecepatan elusi yang dilakukan.
(Pustaka : Buku Ajar Fitokimia, Airlangga University Press, Surabaya :
2008)

Kromatografi Lapis Tipis


Metode pemisahan kromatografi didasarkan pada perbedaan distribusi
molekul-molekul komponen diantara dua fase (fase gerak dan fase diam) yang
kepolarannya berbeda. Apabila molekul-molekul komponen berinteraksi secara
lemah dengan fase diam maka komponen tersebut akan bergerak lebih cepat
meninggalkan fase diam. Keberhasilan pemisahan kromatografi bergantung
pada daya interaksi komponen-komponen campuran dengan fase diam dan fase
gerak (Hendayana, 2010).
Dibandingkan dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan
kromatografi gas (KG), KLT mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:
1. Dalam hal memilih fase gerak, KLT memberikan fleksibilitas yang lebih
2.

besar.
Beberapa macam teknik untuk optimasi pemisahan seperti pengembangan 2
dimensi, pengembangan bertingkat, dan pembaceman penjerap dapat

3.

dilakukan pada KLT.


Proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan dapat dihentikan

4.

kapan saja.
Semua komponen dalam sampel dapat dideteksi.

Bahan dan Teknik KLT (Rohman, 2009)


1. Penjerap / Fase Diam

Penjerap yang paling sering digunakan pada KLT adalah silika dan serbuk
selulosa, sementara mekanisme sorpsi-desorpsi yang utama pada KLT
2.

adalah partisi dan adsorbsi


Fase Gerak pada KLT
Sistem yang paling sederhana ialah dengan menggunakan campuran 2
pelarut oganik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah

3.

diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal.


Aplikasi (Penotolan) Sampel
Penotolan (aplikasi) sampel dapat dilakukan sebagai suatu bercak, pita, atau

4.

dalam bentuk zig zag.


Pengembangan
Teknik pengembangan KLT dan KLT kinerja tinggi yaitu konvensional,
pengembangan 2 dimensi, dan pengembangan kontinyu.

Penggunaan KLT (Sudjadi, 2007)


KLT digunakan secara luas untuk analisis solu-solut organik terutama
dalam bidang biokimia, farmasi, klinis forensik, baik untuk analisis kualitatif
dengan cara membandingkan nilai Rf solute dengan nilai Rf senyawa baku atau
untuk analisis kualitatif.
Penggunaan umum KLT adalah untuk menentukan banyaknya komponen
dalam campuran, identifikasi senyawa, memantau berjalannya suatu reaksi,
menentukan efektifitas pemurnian, menentukan kondisi yang sesuai untuk
kromatografi kolom, serta untuk memantau kromatografi kolom, melakukan
screening sampel untuk obat.
Tujuan
Dapat mengembangkan dan menunjukkan kemampuan pengetahuan dan/praktis
untuk:
1. Menjelaskan teori dan prinsip-prinsip dasar KLT
2. Memilih fase gerak yang sesuai untuk pemisahan terbaik
3. Melakukan analisis kualitatif untuk identifikasi senyawa obat dalam
pengobatan tradisional

Spektra UV-Vis
Spektroskopi

: Ilmu yang mempelajari interaksi materi dengan energi

Spektrometri

pada level mikroskopis


: Ilmu yang mempelajari teknik pengukuran interaksi

materi dengan energi


Spektrofotometri : Ilmu yang mempelajari teknik pengukuran interaksi
materi dengan energi / sinar / komponen sinar matahari

Spektrofotometer : Alat/instrumen
Spektroskopi

adalah

sebuah

cabang

ilmu

pengetahuan

yang

mempergunakan cahaya (radiasi sinar tampak) dengan panjang gelombang


tertentu untuk menghasilkan spektra, yang lalu digambarkan sebagai fungsi
intensitas radiasi terhadap panjang gelombang atau frekuensi terhadap analit.
Pengertian spektroskopi sekarang tidak hanya mencakup radiasi sinar tampak,
tetapi juga radiasi elektromagnetik seperti sinar X, ultraviolet, sinar tampak,
infra merah, gelombang mikro dan frekuensi radio.
Radiasi serapan adalah radiasi elektromagnetik yang merupakan jenis
energi yang paling banyak digunakan, namun yang paling banyak dikenal
adalah energi panas dan sinar tampak, diikuti sinar gamma, sinar X , sinar
ultraviolet, gelombang mikro dan radiasi frekuensi radio. Absorpsi adalah suatu
proses dimana spesi kimia dalam media transparan melemahkan frekuensi dari
radiasi gelombang elektromagnetik.
Kareteristik serapan spesi dijelaskan oleh spektrum absorpsi yang
merupakan penggambaran fungsi melemahnya berkas radiasi terhadap panjang
gelombang frekuensi atau angka gelombang.
Empat terminology digunakan disini adalah:
1. Transmitansi
Apabila seberkas sinar radiasi dilewatkan pada sebuah larutan yang
diletakkan dalam sebuah wadah kuvet dengan ketebalan b cm dan
konsentrasi c mol/L, maka terjadi interaksi antara energi foton dan partikel
absorbsi, data berkas cahaya melemah dari Po menjadi P. Transmitansi T
dari medium adalah fraksi antara radiasi insiden yang ditransmisikan oleh
2.
3.

medium. Transmitansi dinyatakan dalam persen (%).


Absorbansi
Absortivitas dan molar absortivitas
Absorbansi berbanding lurus dengan tebal larutan yang dilalui larutan dan
konsentrasi dari spesi penyerap.

Cahaya saat mengenai larutan bening akan mengalami 2 hal yaitu:


a) Transmitansi
Nilai dari Transmitansi berbanding terbalik dengan absorbansi.
Transmitansi larutan T merupakan bagian dari cahaya yang diteruskan
melalui larutan.
b) Absorbansi
Cahaya akan diserap jika energi cahaya tersebut sesuai dengan energi
yang dibutuhkan untuk mengalami perubahan dalam molekul

Absorbansi larutan bertambah dengan pengurangan kekuatan sinar


Nilai absorbansi berbanding lurus dengan ketebalan dan konsentrasi
Nilai absorbansi berbanding terbalik dengan transmitan
HUKUM LAMBERT BEER
Jika suatu cahaya monokromatis dengan kekuatan Po dilewatkan kepada
balok yang tegak lurus pada permukaan dengan ketebalan b dan
mengandung n partikel pengabsorbsi, maka kekuatan cahaya menurun
menjadi P.
Syarat Hukum Beer :
Konsentrasi harus rendah
Zat yang diukur harus stabil
Cahaya yang dipakai harus monokromatis
Larutan yang diukur harus jernih
P = Po 10-abc
-log P/P = abc
-log T = abc
A = abc
Dimana:
T : transmisi
A : absorbansi
a : absorptivitas (tergantung satuan [ ]); a (ppm) dan (Molar)
b : tebal media/kuvet
c : konsentrasi larutan

A.2 Tujuan Praktikum


Mendapatkan dan mengidentifikasi senyawa kurkuminoid dari ekstrak temulawak
(Curcumae xanthorrhiza).
B. METODE PRAKTIKUM
B.1 Alat
Beaker Glass
Bejana Kromatografi
Erlenmeyer
Gelas Ukur
Kolom Kromatografi
Pengaduk Kaca
Pipet Tetes
Statif + Klem Holder
Vial + Tutup
B.2 Bahan
Ekstrak Temulawak
Fase Gerak CHCl3:Benzena:Etanol (45:45:10)
Kertas Saring
Kieselgel 60 ukuran 0,063-0,200 nm
Larutan NaOH dalam metanol

Silika Gel GF 254 nm

C. SKEMA KERJA
Penyiapan Kolom Kromatografi
Kolom kromatografi
dicuci bersih

Siapkan fase diam Kieselgel 60


ukuran 0,063-0,200 nm

Dipasang pada statif

Ditimbang fase diam : ekstrak


dengan perbandingan 1:50

Dibilas dengan fase gerak


yang akan dipakai

Fase diam dimasukkan wadah,


disuspensikan dengna fase geraknya

Fase diam dimasukkan ke dalam


kolom sampai homogen tanpa
ada udara dengan fase gerak
sampai 3-5cm di atas permukaan
fase gerak

Ekstrak dicampur
homogen dengan sedikit
fase diam Kieselgel 60

Diamkan semalam

Ekstrak + fase diam dimasukkan


merata pada permukaan fase diam
pada kolom

Ditunggu hingga menyebar sampai


ke dasar kolom kromatografi
Kemudian kran dibuka
Cairan yang keluar ditampung dalam
vial yang sudah ditara 5 mL
NB : Usahakan fase gerak selalu
ada di atas permukaan fase diam

Identifikasi Kurkuminoid Secara KLT


Totolkan masing-masing kelipatan lima (1,6,11,16,) vial hasil
kromatografi kolom pada lempeng silika gel GF 254 nm
Eluasi dengan fase gerak CHCl3:Benzena:Etanol (45:45:10)
Visualisasi dengan penampak noda larutan KOH 5% dalam etanol
Gabungkan filtrat dalam vial-vial yang mempunyai profil kromatografi yang
sama kemudian lakukan KLT lagi terhadap filtrat hasil gabungan tersebut
Gabungkan filtrat dalam vial-vial yang mempunyai profil kromatografi yang
sama kemudian lakukan KLT lagi terhadap filtrat hasil gabungan tersebut
Apabila masih terdapat vial yang mengandung lebih dari satu noda, lakukan
kromatografi kolom lagi sampai diperoleh satu noda

Identifikasi Kurkuminoid Secara Spektrofotometri UV-Vis


Uapkan larutan kurkumin hasil pemurnian di atas sampai kering
Larutkan dalam etanol q.s
Amati spektrumnya pada panjang gelombang 300-600 nm pada
spektrofotometri uv-vis
Tambahkan larutan NaOH dalam metanol 3 tetes,
kemudian amati kembali spektrumnya

D. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Mekanisme pemisahan kromatografi kolom merupakan kromatografi serapan atau
adsorpsi, dimana silika gel sebagai fase diam dan campuran kloroform-benzena-etanol
(45:45:10) sebagai fase gerak akan mengelusi ekstrak temulawak dengan memanfaatkan gaya
gravitasi sehingga eleuen bergerak turun membawa senyawa dalam ekstrak temulawak.
Adsorben yang digunakan yaitu silika gel 60 karena memiliki daya adsorbsi yang
tergolong cukup besar sehingga ketika eluen yang membawa ekstrak temulawak melewati
fase diam akan terbentuk fraksi-fraksi warna yang berbeda. Fraksi warna yang berbeda ini
menunjukkan perbedaan senyawa yang dipisahkan dari setiap fraksi.

Pada praktikum ini digunakan metode kromatografi kolom basah yaitu silika gel
dilarutkan dalam fase gerak kemudian dituang ke dalam kolom dan didiamkan semalam
supaya campuran menjadi homogen dan memberi kesempatan campuran memadat sehingga
tidak ada udara yang terjebak di dalam kolom. Fase gerak harus selalu berada di atas
permukaan fase diam karena jika sampai fase gerak habis dapat menyebabkan fase diam
menjadi kering dan terjadi keretakan pada kolom.
Setelah fase diam mampat, kolom diisi dengan ekstrak temulawak dan dialiri dengan
fase geraknya sehingga ada senyawa akan terbawa oleh fase gerak dan teradsorbsi oleh fase
diam. Senyawa yang terlarut dalam eluen terbawa sampai ke bagian bawah kolom dan
kemudian keluar melalui kran. Senyawa yang lebih mudah larut akan terbawa lebih dahulu
bersama fase gerak.
Segera diambil tetesan fraksi pertama sebanyak 5mL dengan menggunakan botol vial
sebagai wadah yang telah dikaliberasi 5 mL. Langkah tersebut dilakukan sampai mendapat
50 fraksi dan kolom tetap dijaga agar tidak kering dengan menambahkan eluen sampai pada
fraksi ke-50. Setiap fraksi masing-masing diberikan label agar tidak tertukar. Fraksi-fraksi
dalam botol vial dibungkus dengan aluminium foil agar tidak terkontaminasi dari udara luar
dan tidak terurai akibat kontak dengan cahaya. Lima puluh fraksi yang didapatkan
menghasilkan warna yang berbeda-beda ada yang berwarna kuning muda, kuning tua, kuning
pekat, sesuai dengan kadungan senyawa yang terlarut dalam eluen.
Identifikasi dilakukan untuk mengetahui kemurnian dan adanya zat kurkimin dari
hasil pemurnian dengan kromatografi kolom, Oleh kerena itu perlu dilakukan tahapan
identifikasi ini antara lain:
A. Kromatografi Lapis Tipis
Fase Diam
: Silikagel GF 254
Fase Gerak
: kloroform-benzena-etanol (45:45:10)
Penampak Noda : KOH 5% dalam etanol
Dalam praktikum KLT ini fase diam yang digunakan adalah silika gel GF254 yang
bersifat polar dan fase geraknya yaitu pelarut campuran (Benzena : kloroform : etanol 96% =
45:45:10) yang bersifat non polar. Fasediam silika gel GF254 yang mana G adalah Gypsum
(pengikat) biasanya pengikat yang digunakan adalah kalsium sulfat, F adalah Flouresence
(panjang gelombang), dan 254 adalah panjang gelombang yang digunakan yaitu 254 nm. Jadi
arti GF 254 adalah penjerap silika gel dengan pengikat kalsium sulfat dengan ditambahkan

indikator yang dapat berflouresensi jika dideteksi pada sinar ultraviolet dengan panjang
gelombang 254 nm. Indikator flouresensi akan padam jika terdapat senyawa yang terjerap

Hasil pemurnian dari kromatografi kolom yang terfraksi-fraksi dalam vial-vial


yang telah dikalibrasi 5ml, kemudian mulai diidentifikasi secara KLT untuk vial-vial
dengan kelipatan 5, yaitu antara lain 1, 6, 11, 16, 21, 26, 31, 36, 41, dan 46.
Dari masing-masing vial tersebut kemudian ditotolkan pada Lempeng KLT,
sehingga didapatkan 10 totolan, kemudian lempeng klt yang telah ditotolkan dieluasi
dengan fese gerak sehingga pada akhir eluasi kan diperoleh 10 noda.
Dari hasil kromatografi kolom, telah ditampung vial 46 yang siap untuk
dianalisis. Pemisahan pertama dapat dilihat pada gambar l, dimana vial nomor 1
hingga 6 belum menunjukkan adanya noda, pada vial nomor 16 sampai 26
memberikan noda sehingga diperkirakan sudah mengandung kurkuminoid, namun
yang terlihat sangat cerah pada noda dari vial nomer 11 dan 16, sedangkan pada vial
nomor 27 sampai 41 menunjukan noda yang tidakterlalu kuning (cerah).

1 16 21 26 31 36 41 46
1
Gambar 1. Hasil KLT secara kromatografi kolom penotolan vial 1 sampai
46 dengan kelipatan 5

Setelah disinari dengan UV 254 nm, pada vial 1 sampai 46 tidak


menunjukkan fluoresensi, diperkirakan pada vial adri nomer 1 hingga 46
terdapat senyawa, namun belum dapat diketahui apakah senyawa
tersebut merupakan senyawa kurkuminoid. kurkumin. Noda dari vial
nomer 11 memiliki ketinggian yang sama dengan noda dari nomer 16,
maka larutan pada vial 11-16 dijadikan satu dala satu fraksi. Larutan pada
vial 21-26 digabung menjadi 1 fraksi dan vial 31-41 juga bagung menjadi 1
fraksi, maka diperoleh 3 fraksi yang mengandung kurkuminoid.

1 6
1 16 21 26 31 36 41 46
1 16 21 26 31 36 41 46
Gambar
1
2. Noda pada sinar UV 254 nm Gambar
1 3. Noda pada sinar

UV 365 nm

Gambar 4. Noda dengan penampak noda (KOH 5%


dalam etanol)

Gambar 5. Noda hasil eluasi dari


fraksi vial nomer (Kiri ke Kanan): 1116, 21-26, dan 31-41.

Gambar 6. Noda dengan penampak


noda KOH 5% dalam etanol dari
fraksi vial nomer (Kiri ke Kanan): 1116, 21-26, dan 31-41.

Gambar 6. Pada sirar UV 25 4nm dari


fraksi vial nomer (Kiri ke Kanan): 1116, 21-26, dan 31-41.

Gambar 7. Pada sinar UV 366 nm


dari fraksi vial nomer (Kiri ke
Kanan): 31-41, 21-26, dan 11-16.

Fraksi 11-16 ditotolkan pada lempeng klt dan dieluasi dengan fase gerak yang
sama dan diukur Rfnya, yaitu Rf= 0,51. Perlakuan yang sama dilakukan untuk fraksi
dari vial 21-26 dan vial 31-41, dan diperoleh Rf secara berturut yaitu Rf= 0,34 dan
Rf= 0,21.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diketahui bahwa senyawa kurkuminoid
yang diperoleh melalui hasil pemurnian dengan kromatografi kolom merupakam 3
senyawa kurkuminiod yang terbesar kandungannya dalam temulawak, yaitu:
curcumin, demetoksikurkumin, bidesmetoksikurkumin. Sesuai data yang diperoleh
dari pustaka, dari Kromatogram HPLC dari rimpang temulawak dapat mendeteksi
adanya 4 senyawa yaitu kurkumin 61-67%, desmetoksikurkumin 22-26%,
bisdesmetoksikurkumin 1-3%, dan turunan kurkuminoid 10-11%. (Cahyono, 2011).
Berdasarkan hasil Rf dari ketiga senyawa kurkumin yang diperoleh dalam proses
pemurnian ini dapat diketahui bahwa senyawa pada vial 11-16 adala kurkumin, vial
21-26 adalah demetoksikurkumin, dan vial no 31-41 adalah bidesmetoksikurkumin.
Hal ini sesuai dengan pustaka, yaitu : curcuminoids standard dengan fase diam silica
gel GF 254, Fase gerak kloroform-benzena-etanol (45:45:10) Rf = 0.4 curcumin, Rf =
0.35 desmethoxy curcumin, and Rf = 0.25 bisdesmethoxy curcumin. (Asghari, 2009).
Berdasarkan kepolaran dari senyawa kurkuminoid maka dapat diketahui bahwa
curcunin bersifat lebih non polar dibandingkan senyawa kurkuminoid lain secara
berturut-turut: desmetoksikurkumin dan bisesmetoksikurkumin. Kurkumin lebih
terlarut dan terbawa oleh fase gerak yang bersifat non polar dibandingkan terjerap
dalam fase gerak yang bersifat lebih polar.
B. Spektrofotometri UV-Vis
Sampel

: Kurkumin (vial no 11-16)

Pelarut

: Etanol 96%

Pereaksi Geser

: NaOH 2M

Kurkumin hasil pemurnian secara kromatografi kolom kemudian dilarutkan


dalam pelarut etanol. Pelarut yang digunakan etanol karena kurkumin juga memiliki
kelarutan yang baik dalam etanol selain metanol. Pada Hasil identifikasi kurkumin
secara spektrofotometri UV-VIS pada diperoleh panjang gelombang maksimum pada

422 nm. Hal ini sesuai dengan pustaka yaitu panjang gelombang maksimum kurkumin
dalam etanol berkisar antara 420-430 nm (Verghese, 1999) dan pustaka lain yang
mengatakan panjang gelombang maksimum kurkumin dalam etanol adalah 425 nm
sehingga dapat disimpulkan bahwa isolat yang didapat adalah kurkumin yang murni.
Hasil pengujian kurkumin dalam pelarut metanol secara spektrofotometri UV-VIS
setelah ditambah 3 tetes NaOH 2M, tampak ada perubahan warna senyawa dari
kekuningan menjadi merah, serta hasil pembacaan panjang gelombang maksimumnya
mengalami pergeseran sebesar 54 nm sehingga panjang gelombang maksimumnya
menjadi 476 nm. Pergeseran panjang gelombang yang terjadi adalah pergeseran
batochromic yaitu pergeseran absorbansi maksimum ke arah panjang gelombang yang
lebih besar.

Gambar 8. Spektra
Gambar
Spectrofotometri
9. Spektra Spectrofotometri
UV-Vis Kurkumin
UV-Vis
dalam
Kurkumin
pelarut
dalam pelarut etanol
etanol
dan setelah penambahan NaOH

Adanya pergeseran puncak spectra terjadi karena adanya perubahan struktur dari
kurkumin, dimana kurkumin mrmiliki gugus hidroksil bereaksi dengan NaOH (suatu
basa kua)t sehingga akan mengionkan semua gugus hidroksil yang ada menjadi gugus
fenolat
E. KESIMPULAN

Dari Hasil pemurnian ini diketahui bahwa senyawa kurkuminoid terdiri dari

kurkumin, desmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin.


Hasil Pemurnian kurkumin dari metode kromatografi kolom preparative
diperoleh hasil kurkumin yang murni pada fraksi dari vial nomer 11-16 yang

didentifikasi dengan metode Kromatografi Lapis Tipis.


Berdasakan hasil identifikasi secara spektrofotometri UV-Vis diketahui bahwa
kurkumin hasil pemurnian memiliki puncak pada panjang gelombang 422nm

dengan absorbansi sebesar 0,353.


Terjadi pergeseran puncak spectra dari kurkumin sebesar 54 nm sehingga panjang
gelombang maksimumnya menjadi 476 nm. Hal ini disebabkan karena terjadi
perubahan struktur hridroksi pada kurkumin menjadi suatu senyawa fenolat.

F. DAFTAR PUSTAKA
Asghari, G, A. Mostajeran, M. Shebli. 2009. Curcuminoid And Essential Oil Components Of
Turmeric At Different Stages Of Growth Cultivated In Iran. Research in Pharmaceutical
Sciences, April 2009; 4(1): 55-61
Cahyono, Bambang, Muhammad Diah Khoirul Huda, dan Leenawaty Limantara. 2011.
PENGARUH PROSES PENGERINGAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma
xanthorriza ROXB) TERHADAP KANDUNGAN DAN KOMPOSISI KURKUMINOID.
Reaktor, Vol. 13 No. 3, Juni 2011, Hal. 165-171.
Food and agriculture organization of united states. 2003.
Curcumin.www.fao.org/ag/agn/jecfa-addivitives/spec/monograph1/Additive-140.pdf

Kristanti, Alfinda Novi, dkk. 2008. Buku Ajar Fitokimia. Surabaya: Airlangga University
Press.
Lide, David. 2001. Handbook of Chemistry and Physic.
Soesilo, Slamet, dkk. 1989. Vademekum Bahan Obat Alam. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Repulik Indonesia.