Anda di halaman 1dari 26

Gangguan tumbuh kembang anak

Perkembangan dan tumbuh kembang anak perlu kita pantau secara terus menerus. Dengan
memperhatikan tumbuh kembangnya kita berharap dapat mengetahuinya secara dini kelainan
pada anak kita sehingga langkah-langkah antisipatif lebih cepat kita ambil. Anak yang cedas
adalah harapan setiap orang tua. Orang tua selalu berharap agar anaknya dapat tumbuh sehat.
Berikut 7 gangguan tumbuh kembang anak yang perlu kita ketahui :
1. Gangguan bicara dan bahasa. Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh
perkembangan anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan
berbicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.
2. Cerebral palsy. Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak
progresif, yang disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat
yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.
3. Sindrom Down. Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenal dari
fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang menjadi akibat adanya jumlah
kromosom 21 yang lebih. Beberapa faktor seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia
yang berat, masalah biologis atau lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan
perkembangan motorik dan keterampilan untuk menolong diri sendiri.
4. Perawakan pendek. Penyababnya dapat karena variasi normal, gangguan gizi, kelainan
kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan endokrin.
5. Gangguan autisme. Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang
gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek
perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi
anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme
mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
6. Retardasi mental. Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang rendah
( IQ<70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi
terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.
7. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas ( GPPH ). Merupakan gangguan
dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian yang seringkali disertai
dengan hiperaktivitas.

Gangguan Tumbuh Kembang Anak dan Penyebabnya


Di dalam kehidupan sehari-hari kita menemui berbagai macam karakter, sikap dan tingkah laku
anak-anak yang berbeda-beda. Di antara berbagai macam karakter, sikap dan tingkah laku anakanak yang berbeda-beda tersebut, terkadang kita juga menjumpai beberapa anak yang memiliki
karakter, sikap dan tingkah laku yang agak berbeda dari kebanyakan anak-anak. Hal ini
terkadang kurang di perhatikan dan disadari oleh kita semua. KIta hanya tahu bahwa anak itu
bodoh dan tidak memiliki kemampuan, tanpa kita berfikir dan sadari mungkin saja anak itu
mengalami gangguan tumbuh kembang atau mengalami cedera otak.

Berikut sedikit informasi tentang beberapa gangguan tumbuh kembang anak yang
sering terjadi dan penyebabnya.

1. Mental Retardasi (MR)


MR (keterbelakangan mental) adalah suatu keadaan dimana kemampuan intelektual di bawah
rata-rata dan di sertai dengan penurunan perilaku adaptasi dan manivestasinya selama masa
perkembangan. Biasanya kelihatan saat umur anak di atas 3 tahun.
MR dapat di klasifikasikan menjadi 3 :
a. Educable (mampu untuk di didik) = IQ 50 s/d 75.
b. Try Enable (mampu untuk di latih) = IQ 25 s/d 49.
c. Custodial (mampu rawat) = IQ 0 s/d 24.
Penyebab MR (Mental Retardasi) adalah :

Pre Natal (saat kehamilan) : anoxia (kurang oksigen), infeksi ibu seperti
toksoplasma rubella, sipilis, kekurangan gizi.

Natal (saat kelahiran) : anoxia, prematur, lahir dengan di vakum, dll.

Post Natal (saat pertumbuhan 0-3 tahun) : anoxia, trauma kepala, kuarang
gizi, dll.

2. Down Sindrome
Down Sindrome adalah gangguan mental syndrome akibat dari jumlah kromosom yang tidak
normal dan memiliki ciri yang khas seperti wajah mongoloid. 90% kasus di sebabkan karena

kelebihan kromosom ke-21, perpindahan komponen kromosom 21 pindah ke kromosom yang


lain sehingga pada manusia normal mempunyai 2 garis kromosom yang sama (linear) menjadi
tidak seimbang karena salah satu kromosomnya menjadi 47 (pada normalnya 46).
Penyebab yang lainnya adalah faktor usia pada saat ibu hamil. Berdasarkan penelitian dimana
usia ibu melahirkan &gt;= 40 tahun lebih beresiko melahirkan anak dengan down syndrome dari
pada ibu-ibu muda.
3. Autis
Autis adalah gangguan tumbuh kembang anak pada masa kanak-kanak dengan karakteristik
sebagai berikut :
1. Kurang atau tidak adanya respon terhadap orang lain.
2. Penurunan dalam berkomunikasi atau berbicara.
3. Bereaksi yang aneh terhadap berbagai aspek lingkungan.
4. Gangguan berbicara seperti ecolalia.
5. Melakukan sesuatu tanpa tujuan.

Autis kelihatan di saat umur anak di atas 3 tahun.


Penyebab autis secara pasti belum di ketahui, di duga autis disebabkan karena adanya gangguan
reticular system aktif (system saraf pusat), faktor genetik, metabolic dan biochemical.
Banyak orang tua yang melaporkan anak autis mengalami kemajuan pesat setelah tidak
mengkonsumsi susu sapi dan terigu. Kenapa demikian ? alasannya karena hampir semua anak
autis menderita Multiple Food Alergi / Alergi Makanan, sehingga perlu dilakukan pengaturan
dukungan nutrisi yang sesuai dan seimbang, sebagai contoh yang paling sering terjadi menurut
pengalaman saya, kebanyakan anak autis lebih sering cenderung bersikap hiperaktif bila di beri
susu sapi, cokelat, dan makanan yang terbuat dari terigu.
Pengaturan nutrisi dan diet untuk anak autis berikut contoh bahan makanan dan minuman yang
dilarang, adalah :

Diet bebas Gluten dan Kasein. Gluten : Makanan yang mengandung terigu
( Mie, roti, biskuit ).Kasein : mentega,mozarella butter, butter, susu sapi,
yoghurt, susu kambing, susu bubuk, keju, laktalbumin, cream.

Diet bebas gula : gula pasir, soft drink, sirup, fruit juice kemasan.

Diet bebas jamur/fermentasi : minuman fermentasi, kecap, vermipan, tauco,


baking soda, keju, soft drink.

Diet bebas zat aditif : pewarna makanan, penambah rasa, dan pengawet
makanan.

Diet bebas fenol dan salisilat : buah berwarna cerah, anggur, apel, almond,
cherry, plum, prune, jeruk, tomat.

Diet rotasi dan eliminasi : diketahui dan dilakukan setelah melakukan test
alergi.

Pengaturan alat masak dan saat pemberian makanan : Alat masak dari bahan
yang tidak mengandung logam berat. Makanan yang tinggi protein di berikan
saat makan pagi untuk mencegah anak hiperaktif.

Pemberian suplemen yang sesuai.

Catatan : sebaiknya sebelum melakukan diet, lakukanlah test alergi terlebih dahulu.
4. ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder)
ADHD adalah suatu kondisi yang di gunakan untuk menggambarkan anak-anak dengan
itelegensi rata-rata atau di bawah rata-rata yang mempunyai tingkat perkembangan yang tidak
sesuai pada area atensi dengan adanya implusive dan hiperaktif.
Penyebab gangguan ini tidak di ketahui secara pasti, faktor penyebabnya mungkin berhubungan
dengan kerusakan sistem saraf pusat selama atau sebelum kehamilan, faktor genetik, hiperaktif di
sebabkan oleh kurangnya penyaringan stimulasi eksternal.
5. Gangguan Congenital
Gangguan Congenital adalah suatu kondisi yang di tandai dengan malformasi pada anggota
tubuh yang terjadi selama proses kehamilan. Penyebab secara pasti masih belum di ketahui,
kemungkinan faktor genetik atau metabolisme.
6. Cerebral Palsy
CP (Cerebral Palsy) adalah kelainan anggota gerak yang di sebabkan oleh gangguan otak/cidera
otak yang sifatnya tidak progresif, sehingga berdampak pada sistem motorik anak.
Penyebabnya :
a. Prenatal (saat kehamilan)

Infeksi seperti : Rubella, toksoplasma, cipilis.


Anoxia (kekurangan oksigen).
Trauma kehamilan.
b. Natal (saat kelahiran)
Prematur
Lahir dengan divakum
Anoxia
c. Post Natal (saat pertumbuhan 0-3 tahun)
Trauma kepala
Anoxia
CP (Cerebral Palsy) ada beberapa macam, yaitu :
- CP Spastik : kerusakan terjadi di otak besar.
- CP Atetoik : lokasi gangguan ada di otak besar.
- CP Ataksia : terjadi gangguan pada otak kecil.
- CP Flaccid

: gangguan pada otot.

DETEKSI DINI GANGGUAN TUMBUH KEMBANG


BAYI RISIKO TINGGI
Factor resiko terjadinya gangguan tumbuh kembang
aPerlakuan yang mengganggu kehamilan
Kebiasaan merokok, minum alcohol,narkoba
Kehamilan yang tidak dikehendaki
b.Proses persalinan:
Bayi lahir tidak langsung menangis / asfiksia berat ( nilai Apgar < 5
pada menit pertama), mendapatkan resusitasi
Bayi lahir dengan umur kehamilan 42 minggu
Berat lahir bayi 4200 gram

Lahir dengan tindakan seperti ekstraksi vakum


Mengalami trauma persalinan : paresis Erbs, perdarahan otak, atau
paresis N VII
c.Setelah Persalinan
Bayi menderita kelainan bawaan
Hiperbilirubinemia, terutama dengan kadar bilirubin diatas 15 mg%
Bayi memerlukan perawatan intensif, penggunaan ventilator
Bayi pernah menderita sepsis, infeksi otak, perdarahan otak atau
kejang
Kadangkala pada bayi risiko tinggi didapatkan gangguan yang saling
memperberat. Misalnya bayi berat lahir 2000 gram disertai asfiksia
berat dan perdarahan intrakranial. Sehingga gabungan beberapa faktor
risiko di atas akan semakin memperburuk prognosis bayi tersebut
dkemudian hari.
Komplikasi pada bayi risiko tinggi
Akibat adanya gangguan selama kehamilan, proses persalinan maupun
setelah persalinan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang
anak. Gangguan pertumbuhan meliputi gangguan dalam pertambahan
BB-TB-LK. Adapun gangguan perkembangan dapat berupa gangguan
perkembangan motorik kasar, motorik halus, gangguan penglihatan,
gangguan pendengaran dan gangguan psikososial.
Komplikasi atau gangguan tumbuh kembang yang sering menyertai bayi risiko
tinggi di kemudian hari adalah :
1. Gagal tumbuh (peningkatan ukuran antropometri yang lambat) : infeksi
TORCH, ibu makan obat-obat tertentu, ibu menderita asma
2. Hidrosefalus atau mikrosefali : infeksi TORCH, pasca infeksi otak dan
perdarahan otak, berat lahir< 2500gram, lahir tidak langsung menangis
3. Gangguan penglihatan atau korioretinitis: infeksi TORCH, pemakaian
ventilator jangka lama, berat lahir < 2500 gram, usia kehamilan < 37 minggu
4. Gangguan pendengaran atau bicara: infeksi TORCH, pasca infeksi otak, berat
lahir < 2500 gram, hiperbilirubinemia
5. Gangguan perkembangan motorik: infeksi TORCH, seluruh penyebab bayi
risiko tinggi
6. Epilepsi atau kejang demam : infeksi TORCH, pasca infeksi otak, kejang saat
neonatal
7. Gangguan psikososial (hiperaktif, retardasi mental) : seluruh penyebab bayi
risiko tinggi
Oleh karena komplikasinya yang sangat bervariasi, diperlukan penanganan
multidisiplin pada bayi risiko tinggi. Keterlibatan multidisiplin meliputi : dokter
anak /dokter saraf anak, dokter rehabilitasi medis beserta timnya, dokter mata,
dokter THT, psikiater anak,dokter radiologi, psikiater anak, psikolog dan lain lain.
Pemeriksaan penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang yang sering digunakan untuk mendeteksi dan


memantau adanya gangguan tumbuh kembang :
1. CT scan atau MRI kepala : mendeteksi adanya perdarahan intrakranial,
hidrosefalus, mikrosefali, adanya kalsifikasi intrakranial, atrofi serebri
2. Elektroensefalografi (EEG) : mendeteksi epilepsi atau gangguan fungsi otak
3. Brainstem Auditory Evoked Potential (BAEP) : mendeteksi adanya gangguan
pendengaran
4. Visual Evoked Potential (VEP) dan Elektroretinografi (ERG): mendeteksi
gangguan penglihatan
5. Elektromiografi (EMG) : mendeteksi adanya gangguan neuromuskular, paresis
Erbs
6. Somatosensori Evoked Potential (SSEP): mendeteksi adanya gangguan
sensibilitas
7. Pencitraan tulang: bila dicurigai adanya kelainan hormonal, perawakan pendek
8. Laboratorium : kadar hormon tiroid, pertumbuhan , kadar insulin dll
Stimulasi dini
Stimulasi pada bayi risiko tinggi diberikan sedini mungkin baik oleh orangtua
maupun tenaga profesional yang terlatih. Kebutuhan dasar atau stimulasi dasar
yang diberikan orang tua dalam bentuk :
ASUH kebutuhan ASI, nutrisi, imunisasi, sandang-pangan, kesehatan , hygiene
dan sanitasi
ASIH kebutuhan hubungan ibu-anak, emosi, psikososial dan kasih saying
ASAH agama, moral-etika, kreativitas dan keterampilan
Stimulasi yang diberikan tenaga profesional meliputi fisioterapi, terapi okupasi,
terapi wicara, terapi bermain, terapi pijat, terapi suara, latihan persepsi
motorik,psikoterapi dan edukasi. Stimulasi yang diberikan orangtua dan tenaga
profesional berupa stimulasi sensori yang terintegrasi meliputi : penglihatan,
pendengaran, , proprioseptif raba dan sentuhan serta keseimbangan (vestibuler).
Kesimpulan
Bayi risiko tinggi mempunyai risiko lebih besar untuk terjadinya gangguan
tumbuh kembang anak di kemudian hari. Deteksi dini baik yang dilakukan oleh
orangtua ataupun tenaga profesional memungkinkan pemberian stimulasi sedini
mungkin. Stimulasi dini diberikan pada bayi dalam bentuk Stimulasi Integrasi
Sensori. Deteksi dan stimulasi dini pada bayi risiko tinggi akan memberikan hasil
terbaik guna tercapainya tumbuh kembang anak yang seoptimal mungkin.

Anak adalah merupakan harapan keluarga, sebagai penerus generasi dan


pengisi masa depan bangsa. Guna mendapatkan anak yang sehat jasmani rohani dan

sosial, diperlukan lingkungan keluarga yang baik. Terpenuhinya kebutuhan dasar anak
Asuh Asih Asah oleh keluarga akan memberikan
lingkungan yang terbaik bagi anak, sehingga tumbuh kembang anak menjadi seoptimal
mungkin.
Tidak semua bayi lahir dalam keadaan sehat. Beberapa bayi lahir dengan gangguan pada
masa prenatal, natal dan pascanatal. Keadaan ini akan memberikan pengaruh bagi
tumbuh kembang anak selanjutnya. Deteksi adanya gangguan dan stimulasi sedini
mungkin, akan memberikan hasil yang optimal sesuai dengan genetik dan lingkungan
anak.
Dalam makalah ini akan coba dibahas tentang perkembangan susunan saraf,
perkembangan bayi normal sampai usia 2 tahun disertai deteksi dini, bayi risiko tinggi,
komplikasi bayi risiko tinggi, pemeriksaan penunjang dan stimulasi dini yang perlu
diberikan. Diharapkan dengan penjelasan ini orangtua dapat melakukan pemantauan
tumbuh kembang bayinya dan mendeteksi kelainannya sedini mungkin. Orangtua
diharapkan dapat merujuk pada dokter anak, guna pemeriksaan dan stimulasi lebih lanjut.
Perkembangan susunan saraf pusat
Otak embrio menghasilkan sel saraf (neuron) jauh lebih banyak daripada yang
dibutuhkan. Selanjutnya sel saraf yang sering digunakan (terangsang) akan makin
berkembang, sedangkan yang jarang atau tidak pernah digunakan akan menjadi atrofi
sampai lenyap. Saat kelahiran, berat otak adalah otak dewasa, dan waktu umur 3 tahun
menjadi 4/5 berat otak dewasa. Selama itu sel saraf mengalami pertumbuhan akson (yang
mengirim sinyal) dan dendrit ( bagian yang menerima sinyal) yang cepat. Sel saraf
tumbuh dengan pesat, proses mielinisasi menjadi lebih sempurna, membentuk banyak
sambungan (interkoneksi) sehingga menjadi lebih kompleks.
Perkembangan otak berbeda pada setiap bagiannya. Daerah motorik lebih cepat
berkembang daripada daerah sensorik. Daerah penglihatan (visual) lebih cepat
berkembang dibandingkan daerah pendengaran (auditory). Oleh karenanya, mudah
dimengerti bahwa gangguan yang paling awal adalah perkembangan terlambat.
Selanjutnya, seorang anak lebih sulit mendengar atau berbicara dibandingkan dengan
fungsi penglihatannya.
Perkembangan yang cepat dan kompleks dari susunan saraf pusat menyebabkan
gangguan pada saat dalam kandungan sampai umur 3 tahun akan sangat mempengaruhi
perkembangan anak dikemudian hari. Adanya sifat kompetitif dari sel saraf menyebabkan
pentingnya deteksi dan stimulasi dini. Stimulasi sedini mungkin akan merangsang
pertumbuhan saraf menjadi lebih fungsional dan kompleks.
Perkembangan normal dan deteksinya
a. Ukuran antropometri
Bayi normal setiap bulan ukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan lingkar kepala
(LK) selalu bertambah. Perkiraan berat badan normal pada bayi cukup bulan adalah usia
5 bulan 2 kali berat lahir, usia 1 tahun 3 kali berat lahir dan usia 2 tahun minimal 4 kali
berat lahir. Panjang/tinggi bayi cukup bulan adalah saat lahir 50 cm, usia 1 tahun 75 cm

sedangkan usia 2 tahun sekitar 87,5 cm. Ukuran lingkar kepala bertambah 7 cm pada usia
6 bulan, 12 cm pada usia 12 bulan dan 15 cm pada usia 2 tahun.
Deteksi gangguan antropometri dilakukan dengan menggunakan kurva BB-TB dari
NCHS atau KMS, sedangkan LK menggunakan kurva Nelhaus. Pemantauan dilakukan
tiap bulan sampai usia 1 tahun dan tiap 2 bulan sampai usia 2 tahun. Ukuran BB-TB-LK
yang tidak bertambah selama 3 bulan atau ukuran LK yang meningkat terlalu cepat harus
dicari penyebabnya sedini mungkin. Berat badan di bawah P5NCHS disebut gizi kurang
atau buruk, TB dibawah P3NCHS disebut perawakan pendek, LK di bawah 2 Standard
Deviasi (SD) disebut mikrosefali, sedangkan LK diatas 2 SD disebut makrosefali. Selain
itu, pemeriksaan ubun-ubun besar sangat penting. Diameter normal berkisar 0,6 cm
sampai 3,6 cm, dan menutup mulai usia 6 bulan sampai 20 bulan. Ubun-ubun membonjol
dapat dijumpai pada hidrosefalus, sedangkan bila diameternya bertambah dapat diduga
adanya perkembangan otak yang terganggu.
b. Motorik kasar dan halus
Perkembangan motorik kasar berlangsung secara Sefalokaudal yakni mulai dari bagian
kepala sampai ke kaki. Usia 1 bulan mulai dapat mengontrol kepala secara minimal, usia
2-3 bulan dapat menggerakkan kepala ke kiri kanan, mengangkat kepala dan dada pada
posisi tengkurap, usia 5 bulan sudah mampu mengangkat kepala pada waktu terlentang.
Usia 8 bulan mampu berguling-guling dari depan ke belakang dan duduk sendiri tanpa
dibantu. Usia 9-10 bulan mampu berdiri dengan bersanggah, sedangkan 12 bulan dapat
berdiri tanpa dibantu.
Bersamaan dengan perkembangan diatas, bayi mengalami perkembangan bergerak
(lokomosi). Bayi mulai belajar merangkak pada usia 7 9 bulan, usia 10 bulan mulai
melangkah dengan dibantu dan pada usia 12 bulan sudah dapat berjalan sendiri.
Kemampuan berjalan normal dapat terjadi sampai usia 18 bulan.
Kemampuan motorik halus meliputi meraih, menggenggam dan melepaskan dengan
tangan. Bayi baru lahir mempunyai refleks menggenggam bila telapak tangannya
disentuh dengan jari kita. Usia 4 bulan menggenggam benda dengan seluruh jari dan
telapak tangan, usia 6 bulan memegang benda dengan ibu jari dan 2 jari lainnya..
Mengambil benda dengan ibu-jari dan jari lainnya pada usia 12 bulan, sedangkan usia 18
bulan mampu melepaskan mainan dari tangannya dengan baik.
Kecurigaan adanya gangguan perkembangan, bila dijumpai bayi dengan:
Usia 4 bulan belum dapat mengangkat kepala, dan telapak tangan masih tergenggam
Usia 8 bulan belum dapat tengkurap
Usia 12 bulan belum dapat duduk
Usia 18 bulan belum dapat berjalan
Gangguan perkembangan tertentu tanpa disertai gangguan lain seperti mikrosefali masih
mungkin dijumpai pada keadaan normal.
c. Penglihatan dan pendengaran Sejak lahir bayi sudah dapat melihat. Usia di bawah 2
bulan mata
belum dapat terfiksasi dengan baik.

Usia 2-3 bulan sudah dapat mengikuti benda-benda yang digerakkan di depan mata.
Akomodasi mata tampak pada usia diatas 3 bulan.
Perkembangan pendengaran bayi dapat dinilai pada usia 3 bulan dengan adanya reaksi
terkejut terhadap suara keras, tertawa mengeluarkan suara; usia 6 bulan dapat melihat ke
arah suara, berceloteh bila diajak bicara; senang bermain dengan mainan yang
mengeluarkan suara. Usia 12 bulan dapat mengikuti perintah, bicara menggunakan
konsonan (b,d,g,m,n); usia 18 bulan menunjuk bagian tubuh bila ditanya, menirukan kata
baru, mengucapkan 10-20 kata; sedangkan usia 2 tahun dapat mengikuti petunjuk
sederhana, menyebutkan namanya sendiri dan membuat kalimat dengan 2 katamau
makan.
Dicurigai adanya gangguan penglihatan dan / atau pendengaran bila dijumpai:
Usia 2 bulan mata terlihat selalu bergerak-gerak (nistagmus) atau juling (strabismus)
Usia 4 bulan sewaktu menyusui jarang menatap mata ibunya
Usia 6 bulan tidak berceloteh bila diajak bicara
Usia 12 bulan tidak dapat mengikuti perintah, bicara masih monoton
Usia 18 bulan tidak dapat menunjuk bagian tubuh bila ditanya, atau perbendaharaan
kata yang terbatas
d. Psikososial
Perkembangan psikososial bayi dimulai pada usia 1-2 bulan memperlihatkan rasa senangnyaman berdekatan dengan orang yang dikenal, usia 4-7 bulan memberikan respon
emosional terhadap kontak social, dan usia 9-10 bulan mulai lepas dari pengasuhnya
karena sudah dapat merangkak atau meraih sesuatu. Usia 1 tahun tampak interaktif rasa
aman dengan ibu atau pengasuhnya dan usia 2 tahun mulai mngikuti perbuatan orang lain
diluar ibu atau pengasuhnya, bermain sendiri atau dengan orang lain.
Adanya gangguan psikososial ini kemungkinan dapat memperkirakan apakah anak akan
cendrung menjadi pendiam atau hiperaktif. Adanya gangguan ini perlu mendapatkan
perhatian orang tua, karena biasanya berhubungan dengan gangguan lainnya seperti
hiperaktif dengan terlambat bicara.
Bayi risiko tinggi
Bayi risiko tinggi adalah bayi yang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk
mengalami hambatan dalam tumbuh kembang selanjutnya. Berdasarkan waktu terjadinya
gangguan/penyakit, penyebab terjadinya bayi risiko tinggi dapat dibagi atas:
a. Masa kehamilan :
Menderita infeksi saat hamil: toxoplasma, sitomegalovirus, rubella, herpes, sifilis,
HIV/AIDS (TORCH), atau infeksi lain
Gangguan pada saat kehamilan: kecelakaan, muntah-muntah berlebihan (hyperemesis),
gangguan emosional, cairan ketuban yang berlebihan (hidramnion), perdarahan, anemia,
ketuban pecah dini lama atau mendapat anastesia umum
Kehamilan pertama pada usia > 35 tahun

Kehamilan kembar, riwayat keguguran berulang


Minum obat-obatan dalam jangka lama : anti asma, antiepilepsi, narkoba, obat untuk

Deteksi dini gangguan tumbuh kembang - Presentation


Transcript
1. Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita Setio Budi Wibowo
2. Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak
o Faktor Bawaan (genetika) modal dasar
o Faktor Lingkungan optimalisasi potensi
3. Pertumbuhan Otak 50 % 60 & 80 % 100 % hamil lahir 1 tahun 2 tahun 12 tahun
4. Sebelum Lahir (pra natal)
o Gizi Ibu (kekurangan gizi pada janin menyebabkan kekurangan sel otak 40 %,
sehingga volume otak lebih kecil dari anak normal)
o Obat 0batan
o Penyakit Ibu
o Stress
o Posisi Janin
o Gangguan Hormon
5. Setelah Lahir (post Natal)
o Gizi Anak ( kekurangan gizi pada anak mengganggu pertumbuhan fisik, motivasi,
kemampuan konsentrasi dan kesanggupan belajar, sehingga ana tertinggal
perkembangannya dibanding teman sebayanya)
o Penyakit , gangguan hormon.
o Lingkungan fisik (kebersihan rumah, dll)
o Stimulasi & deteksi dini
o Kasih sayang, stabilitas rumah tangga

o Stress.
6. Sekitar persalinan
o Trauma persalinan : VE, Tang, SC.
o Ikterus Neonatorum (bayi kuning)
o Asfiksi Neonatorum (nafas tidak spontan & teratur)
o Sepsis Neonatorum (infeksi)
o Kelainan Kongenital (bawaan)
7. Kebutuhan Dasar Anak
o Asuh
o Kebutuhan fisik-biomedik, Gizi, Sandang, Pangan, Papan.
o Perawatan Kesehatan Dasar :
o ASI, Imunisasi, Penimbangan teratur, dsb.
o Asih
o Kebutuhan emosi, kasih sayang, kepedulian, perlindungan ortu & anggota
keluarga yang lain
o Asah
o Kebutuhan stimulasi mental, kelompok bermain, sekolah (perkembangan mental
psikososial)
8. Tumbuh Kembang
o Sumber daya manusia yang berkualitas sejak awal kehidupan (janin, balita)
merupakan modal dasar proses tumbuh kembang selanjutnya.
o Pertumbuhan dan perkembangan :
o - berbeda, saling berkaitan, sulit dipisahkan
o - interaksi genetik dan lingkungan

o Sehat (health) adalah keadaan di mana Fisik, Mental, Sosial, dan Intelektual
dalam kondisi baik, tidak pernah terganggu / sakit. (WHO)
9. Tumbuh kembang ?
o Tumbuh : bertambah besarnya anak
o Kembang: bertambah pandainya anak
o Ciri Tumbuh Kembang :
o Proses kelanjutan & bersama-sama
o Dipengaruhi faktor bawaan & lingkungan
o Pola perkembangan anak sama, irama berbeda
o Aktifitas seluruh tubuh digant dengan reaksi khas.
o Sering dikaitkan dengan maturasi sistem syaraf.
10. Pertumbuhan
o Perubahan besar, jumlah, ukuran.
o Dapat diukur : BB, TB, LK, dsb.
o Kecepatan pertumbuhan tidak teratur
o Ada periode kritis (janin, bayi, remaja)
11. Perkembangan
o Bertambahnya kemampuan, fungsi, ketrampilan.
o Proses majemuk, berlangsung seumur hidup.
o Proses belajar.
o Balita merupakan periode penting, tercepat, kritis sangat berpengaruh pada
perkembangan selanjutnya.
o Memerlukan deteksi dini dan stimulasi .
12. Aspek Perkembangan Anak

o Sensori : dengar, lihat, raba, cium, rasa


o Gerak : kasar, halus, keseimbangan, koordinasi
o Bicara, komunikasi, bahasa
o Kognisi, kecerdasan
o Kreativitas, seni
o Kemandirian
o Emosi, Sosial, Kerjasama & Kepemimpinan
o Etika, Moral & Spiritual
o Saling mempengaruhi
13. Prinsip-prinsip Stimulasi Dini
o Timing : semakin dini semakin baik
o Metoda : dengar, lihat, tiru / coba, diulang-ulang
o (diintegrasikan dalam aktifitas sehari-hari)
o Yang dirangsang adalah semua aspek perkembangan
o Pola pengasuhan (parentyng style) : demokratik
o Perhatikan temperamen individu
o - easy : mudah diatur
o - slow to warm up : pemalu
o - difficult : susah diatur
o Perhatikan : minat, intensitas, ambang kepekaan bayi / anak.
14. Stimulasi Dini Untuk Merangsang:
o Otak Kiri :
o - konvergen (menyempit, menajam)

o - logiko-matematik, rasional
o - tata bahasa, membaca, menulis
o Otak Kanan :
o - divergen (meluas, melebar)
o - imajinasi, kreatifitas, seni, musik, nyanyi
o - sosio-emosional, kerjasama, kepemimpinan
o - moral, spiritual
o Kecerdasan Multipel : kerjasama otak kiri & kanan
15. Stimulasi dilakukan ;
o Setiap hari, setiap berinteraksi
o Suasana nyaman, timbulkan rasa aman
o Suasana bermain, gembira, kasih sayang
o Tidak tergesa-gesa, tidak memaksa
o Beri contoh, dorong untuk mencoba
o Bervariasi, sesuai dgn minat & kemampuan anak
o Bila berhasil : beri pujian
o Bila belum bisa: koreksi, bukan hukuman
o

pola asuh demokratik

kecerdasan emosional

kerjasama kepemimpinan

16. Deteksi Dini


o Upaya penjaringan, komperhensif

o Mengetahui penyimpangan secara dini


o

stimulasi, penyembuhan / pemulihan, pencegahan.

o Aktif, rutin
o Pendekatan epidemiologi, faktor resiko
o Pola pertumbuhan dan perkembangan normal, masa kritis
o Melibatkan keluarga, kader & guru
17. Langkah-langkah
o Anamnesis faktor resiko :
o - Riwayat kehamilan dan persalinan:
o - prematur, berat lahir rendah (< 2,5 kg)
o - lahir sungsang, operasi, tidak langsung menangis, biru, daerah endemik gondok
(kekurangan yodium)
o - Riwayat sakit : kejang, infeksi otak, sakit lama, trauma
o - Lingkungan tidak mendukung : perceraian / orang tua single, kekerasan, sosial
ekonomi / pendidikan kurang.
o Pemeriksaan :
o - penampakan umum (wajah aneh / khas, kelainan bawaan
o - BB / TB / LK
18. Pertumbuhan setelah lahir
o BB:
o - 5 bln = 2 x BB lahir
o - 1 thn = 3 x BB lahir
o - 2 thn = 4 x BB lahir
o TBL :

o - 1 thn = 1,5 x TB
o - 4 thn = 2 x TB
o Kepala :
o - LK lahir = 34 cm
o - 6 bln = 44 cm
o - 1 thn = 47 cm
o - 2 thn = 49 cm
o Gigi :
o - muncul I : 5 -9 bln, 1 thn = 6-8, 2,5 thn : 20 gigi susu
19. 0 3 bulan :
o Belajar mengangkat kepala (3 bln : 45)
o Mengikuti obyek dengan mata ( 3 bln : grs tengah)
o Melihat muka orang dengan tersenyum
o Terkejut terhadap suara
o Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, kontak
o Mengoceh spontan, bereaksi dengan mengoceh (meraban)
o Menahan benda yang ada dalam genggaman
20. 3-6 bulan
o Berbalik dari telungkup ke terlentang
o Mengangkat kepala 90, mengangkat dada dengan bertopang tangan
o Mulai belajar meraih benda yang ada dalam jangkauannya
o Berusaha memperluas pandangan
o Mengarahkan matanya pada benda kecil

o Tertawa, menjerit karena gembira / diajak bermain


o Tersenyum bila melihat mainan lucu / gambar pada saat bermain sendiri
21. 6 -9 bulan :
o Duduk (sikap tripoid sendiri)
o Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang
o Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lain
o Memegang benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
o Bergembira dengan melempar benda
o Mengeluarkan kata tanpa arti (ma, ba, dsb)
o Mengenal muka anggota keluarga, takut pada orang asing
o Bertepuk tangan / bermain ciluba, dsb
22. 9 - 12 bulan
o Merangkak, kadang berdiri
o Dapat berjalan dengan dituntun
o Mengulang / menirukan bunyi yang didengar
o Berbicara 2-3 suku kata
o Mengeksploitasi sekitar (ingin tahu)
o Ingin menyentuh apa saja, memasukkan ke dalam mulut
o Mengerti perintah sederhana, berpartisipasi dalam permainan
23. 13 -18 bulan
o Berjalan lari
o Bicara 3 - 6 kata
o Menyusun 2 4 kubus, memasukkan kubus ke kotak

o Menggelindingkan bola
o Belajar makan - minum sendiri
o Membantu / menirukan pekerjaan Rumah Tangga
o Memperlihatkan rasa bersaing / cemburu
24. 18 -24 bulan
o Lari, naik tangga, jalan mundur, menendang bola
o Menyusun 4-6 kubus, menggambar garis
o Bicara 6 kata, menunjuk 6 anggota tubuh
o Gosok gigi dgn bantuan, belajar menyuapi boneka, mulai belajar mengontrol
BAB, BAK
o Belajar memakai / melepas baju.
25. 2 3 tahun
o Meloncat, memanjat melempar bola ke atas
o Menyebut 1 2 warna, sifat, susun kalimat.
o Menyusun 8 kubus, vertikal
o Memakai baju dengan bantuan, menyebut nama teman, mencuci tangan
o Makan tanpa tumpah
26. 3 4 tahun
o Berdiri 1 kaki
o Belajar berpakaian, membuka kancing
o Menggambar garis silang
o Mengenal 2 warna
o Bicara baik

o Menyebut nama, umur, tempat


o Mengenal sisi atas, bawah, depan
o Mendengarkan cerita
o Bermain dengan anak lain
27. 4 5 tahun
o Meloncat dengan 1 kaki
o Menari
o Menggambar orang, 3 anggota badan
o Menyebut 4 kegiatan, bicara mudah dimengerti
o Menghitung jari
o Menyebut hari
o Minat pada kata baru, bertanya
o Membedakan ukuran, bentuk
o Berpakaian, gosok gigi tanpa bantuan
28. 5 6 tahun
o Berjalan lurus, naik sepeda, menangkap bola kecil
o Lawan kata
o Mengartikan 7 kata
o Menyebutkan kegunaan alat, terbuat dari apa
o Menghitung 5 10
o Menggambar orang lengkap
o Simpati, mengikuti aturan permainan
o Berpakaian lengkap sendiri

29. Kuisioner Perilaku Anak Pra Sekolah


o Lari, loncat, tidak bisa diam
o Gugup, gelisah
o Merusak barang
o Berkelahi
o Tidak dsukai anak lain
o Menyendiri
o Khawatir banyak hal
o Mudah tersinggung, marah
o Murung, sedih, tertekan
o Gerakan tidak terkendali
o Menggigit kuku / jari
o Tidak menurut
o Sukar konsentrasi
o Takut situasi baru
o Rewel / banyak menuntut
o Berbohong
o Mengompol
o Gagap
o Kesulitan bicara
o Mengganggu
o Tidak ada perhatian terhadap lingkungan
o Tidak mau meminjamkan barang kepada orang lain

o Cengeng
o Menyalahkan orang lain
o Mudah putus asa
o Tidak memperhatikan kepentingan anak lain
o Gangguan perilaku seksual
o Menyakiti anak lain
o Melamun
o Orang tua menganggap anak mengalami gangguan perilaku
30. Kuisioner Perilaku Anak Pra Sekolah
o Deteksi gangguan perilaku 3 6 tahun
o 30 item
o Nilai :
o - Tidak Dapat (T) = 0
o - Kadang-kadang (K) = 1
o - Sering (S) = 2
o Bila > rujuk
31. Tes Daya Lihat
o > 3 tahun
o Ruang tenang, cukup cahaya
o Kartu E
o Jarak 3 meter, sejajar
o Mulai dari yang paling atas (besar), mata kanan

o Hasil mata kanan & kiri tidak sama, tidak bisa sampai baris ke 3 rujuk
32. Tes Daya Dengar
o Komunikasi
o Deteksi dini terapi sedini mungkin
o Sejak usia 2 -3 bulan
o - bila suara gaduh kaget, mengerdipkan mata, bangun
o 6 9 bulan : dipanggil memalinkan kepala
o 1 -2 tahun : meniru kata mudah
o > 2 tahun : mengerjakan perintah
33. Gangguan Pertumbuhan & Perkembangan
o Macam :
o - Gangguan tumbuh, perawakan pendek
o - Motorik Kasar : Cerebral Palsy
o - Gangguan bahasa, pendengaran
o - Gangguan penglihatan
o - Gangguan Perilaku : Gangguan pemusatan perhatian / hiperaktif, Autisme
o - Sindroma Down, retardasi mental
o Perlu penanganan khusus : sekolah khusus
34. Mengatasi Gangguan Tumbuh Kembang (1)

35.
36. Terlepas dari faktor penyebab gangguan tumbuh kembang, anak akan lebih terbantu
dengan terapi juga orang tua yang menerima sepenuhnya kondisi anak dan
mendukungnya.
37. Saat dilahirkan, Bintang terbilang anak yang sehat dan tak pernah absen diberikan ASI.
Perkembangannya sangat pesat, belum ada setahun ia sudah mulai belajar berjalan.
Namun saat berjalan, ia menjinjitkan kakinya. Awalnya, Sang Ibu menganggap ini bagian
dari prosesnya belajar berjalan, tapi ketika hal ini berlangsung hingga usianya jelang 3
tahun, ibunya merasakan keganjilan.
38. Menurut Rini Hildayani, M.Si, Psikolog. , Bintang mengalami tumbuh kembang yang
tak sempurna yang secara umum disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
39. Faktor lingkungan meliputi kondisi pada masa prenatal, perinatal, dan postnatal. Faktor
yang paling beresiko ada di masa prenatal, yaitu bisa disebabkan karena pada saat hamil
Si Ibu mengonsumsi obat-obatan terlarang, alkohol, dan merokok.
40. Faktor perinatal dapat berupa komplikasi pada saat melahirkan. Sedangkan, masa
postnatal meliputi kondisi medis dan juga bentuk-bentuk pengasuhan yang diberikan
oleh orang tua atau orang-orang yang terlibat dalam pengasuhan anak (baby sitter ,
misalnya).
41. Selain jalan jinjit, ada juga beberapa masalah tumbuh kembang. Berikut penjelasannya:
42. Speech Delay
43. Speech delay adalah kegagalan mengembangkan kemampuan berbicara pada anak yang
diharapkan bisa dicapai pada usia kronologisnya. Dengan kata lain, perkembangan anak
(dalam hal bicara) tertinggal beberapa bulan dari teman-teman seusianya.
44. Penyebab:
Anak-anak yang dicurigai mengalami speech delay mengalami masalah pendengaran.
45. Adanya keterlambatan perkembangan yang terjadi karena belum dicapainya tingkat
kematangan, seperti kematangan organ-organ bicara.
46. Deprivasi sosial, misalnya, kurang terpapar dalam lingkungan sosial dan kurang
stimulasi.
47. Cara mengatasi:
Bacakan buku atau cerita bergambar sehingga anak dapat menunjuk atau memberi nama
beda-benda yang ia kenal.
48. Gunakan bahasa yang sederhana ketika berbicara dengan anak.
49. Mengoreksi ucapan yang salah dari anak. Misalnya ketika anak mengatakan, Obi, obi
saat menunjuk mobil, orang tua atau pengasuh segera membenarkannya dengan
mengucapkan Oh, itu mobil.

50. Berikan pujian ketika anak bicara benar.


51. Selalu merespon apa yang dikatakan anak.
52. Mengulangi apa yang dikatakan anak. Misalnya ketika anak mengatakan Ma, susu!,
orang tua dapat mengelaborasi perkataan anak dengan mengatakan Adik mau minum
susu?
53. Jangan memaksa dan memburu-buru anak untuk bicara. Ini hanya akan menekan anak.
54. Berkonsultasi kepada tenaga profesional.
55. Jalan Jinjit
Jalan jinjit adalah sesuatu yang normal, khususnya pada anak-anak yang baru belajar
berjalan. Namun, jika bertahan hingga anak berusia 3 tahun atau lebih atau anak tidak
dapat berdiri dengan menggunakan telapak kaki, Anda wajib waspada.
56. Penyebab:
Sulit menentukan penyebab utama jalan jinjit, namun pada umumnya gangguan ini
mengarah pada sejumlah masalah, seperti cerebral palsy , masalah fisik, atau
keterlambatan perkembangan (developmental delay ). Jalan jinjit juga dapat menjadi
tanda gangguan yang lebih kompleks. Anak penyandang autis, misalnya, terkadang
memperlihatkan tingkah laku berjalan jinjit.
57. Cara mengatasi:
Berkonsultasi kepada fisioterapis, ortopedis, dan neurologist .
58. Autisme
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang kompleks yang umumnya muncul
sebelum usia tiga tahun sebagai hasil dari gangguan neurologis yang mempengaruhi
fungsi normal otak. Gangguan ini memengaruhi perkembangan dalam area interaksi
sosial dan keterampilan komunikasi.
59. Anak penyandang autis umumnya menunjukkan kesulitan dalam komunikasi verbal dan
nonverbal, interaksi sosial, dan kegiatan bermain, serta waktu luang. Mereka juga
menunjukkan pola-pola tingkah laku yang terbatas, berupa pengulangan, dan stereotip.
60. Penyebab:
Tidak ada satu penyebab tunggal dari autis dan meski hingga saat ini masih belum
diketahui penyebab persisnya, autis tidak lagi dikaitkan dengan dinginnya orang
tua.Saat ini, para ahli menyimpulkan penyebabnya adalah:
61. - Permasalahan pada perkembangan awal seorang anak
Anak penyandang autis mengalami masalah kesehatan yang lebih banyak selama masa
kehamilan, pada saat dilahirkan, dan segera telah dilahirkan, daripada anak yang bukan
penyandang autisma.
62. - Pengaruh genetik
Adanya gangguan gen dan kromosom yang ditemukan pada studi terhadap keluarga
dengan anak kembar menunjukkan peran yang besar dari faktor genetik sebagai penyebab
dari autis.
63. - Abnormalitas otak
Meskipun tidak diketahui tanda-tanda biologis untuk autism, penelitian yang dilakukan
oleh sejumlah ahli menunjukkan adanya dasar biologis dari autis. Salah satu penelitian
yang dilakukan menunjukkan bahwa gambar otak anak penyandang autism berbeda
dengan gambar otak anak normal.
64. Cara mengatasi:
Modifikasi perilaku dengan bantuan tenaga profesional. Misalnya dalam pendekatan

ABA (Applied Behavioral Analysis ) untuk menguasai keterampilan yang diperlukan


yang berfungsi dalam lingkungan, terapi integrasi sensori untuk menghadapi stimulasi
sensoris, dan floortime untuk meningkatkan perkembangan emosi anak.
- Terapi wicara.
- Sarana pendukung dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan orang tua/pengasuh
anak di luar waktu-waktu terapi, seperti:
a. Pendukung visual agar anak lebih mudah berkomunikasi, mengutarakan keinginan, dan
membantu anak memahami kehidupan dengan lebih baik juga membantu anak
mengembangkan pemahaman tentang waktu dan pentingnya menghargai lingkungan
b. Hiking , berenang, berkuda, naik sepeda, sepatu roda, atau naik-turun tangga.
Kegiatan-kegiatan tersebut sejalan dengan prinsip terapi integrasi sensori
c. Berinteraksi dengan anak dalam situasi bermain yang melibatkan sentuhan dan kontak
mata yang memadai.
65. Disleksia
Disleksia merupakan kesulitan belajar khusus yang dikarakteristikkan oleh kesulitan
dalam belajar membaca. Namun, beberapa anak juga ditemukan memiliki kesulitan
dalam belajar menulis, mengeja, menggunakan kata-kata yang tepat, atau kebingungan
arah dalam membaca (dari kiri ke kanan atau sebaliknya).
66. Penyebab:
- Faktor genetik dan konstitusional, misalnya salah satu orangtua yang memiliki masalah
serupa.
- Faktor neurobiologis yang disebabkan oleh kerusakan otak, perkembangan otak, atau
struktur otak
- Faktor sosial dan psikologis berupa gangguan emosional dan tanda-tanda lain dari
kemampuan adaptasi yang buruk sering mengikuti masalah kesulitan belajar.
- Faktor lingkungan (lihat lagi faktor prenatal, perinatal, dan postnatal ).
67. Cara mengatasi:
- Orang tua dapat memberikan kegiatan mendengarkan, bersajak, membuat kata dari
balok-alok alfabet yang menyenangkan.
- Dirujuk ke tenaga profesional, seperti terapis remedial, neurolog, atau psikolog agar
mendapat treatment yang tepat.