Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bank
1. Pengertian Umum tentang Perbankan
Bank sebagai lembaga keuangan yangberfungsi sebagai perantara
keuangan (financial intermediary) yaitu menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan
dalam bentuk kredit.
Menurut UU RI No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang
dimaksud dengan bank adalah Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana
dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat
dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf
hidup rakyat.
Menurut Kasmir (2010:11), mengatakan pengertian bank adalah :
Lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari
masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat serta
memberikan jasa Bank lainnya.

Berdasarkan definisi bank tersebut dapat dijelaskan bahwa bank dalam


memberikan usaha terutama dalam bentuk simpanan yang merupakan sumber
dana bank, demikian juga dengan sisi penyaluran dananya, hendaknya bank tidak
semata-mata memperoleh keuntungan sebesar-besarnya bagi pemilik bank tetapi
juga kegiatannya itu harus pula diarahkan pada taraf hidup rakyat banyak. Dan
bank

menjalankan

fungsinya

yang

terkait

dengan

pengumpulan

dana,

pengalokasian dana, serta penyediaan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran.

15

16

2. Jenis-Jenis Bank
Kegiatan utama bank bank sebagai lembaga keuangan yang menghimpun
dana dan menyalurkan dana dari masyarakat tidak terlalu beda satu sama lain.
Menurut Kasmir (2010:20), jenis-jenis bank dapat dibagi menjadi :
1.

2.

3.

4.

Dilihat dari segi fungsinya


a. Bank Umum
b. Bank Pembangunan
c. Bank Tabungan
d. Bank Pasar
e. Bank Desa
f. Lumbung Desa
g. Bank Pegawai
Dilihat dari segi kepemilikannya
a. Bank Milik Pemerintah
Dimana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh
pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank ini dimiliki oleh
pemerintah pula.
b. Bank Milik Swasta Nasional
Merupakan bank yang seluruh atau sebagian besarnya dimiliki oleh
swasta nasional serta akta pendiriannya pun didirikan oleh swasta,
begitu pula pembagian keuntungannya diambil oleh swasta pula.
c. Bank Milik Asing
Merupakan cabang dari bank yang ada diluar negeri, baik milik
swasta asing maupun pemerintah asing suatu Negara.
d. Bank Milik Campuran
Merupakan bank yang kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pihak
asing dan pihak swasta nasional. Dimana kepemilikan sahamnya
secara mayoritas dipegang oleh warga Negara Indonesia.
Dilihat dari segi status
a. Bank Devisa
Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri
atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan.
b. Bank Non Devisa
Merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan
transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan
transaksi seperti halnya bank devisa.
Dilihat dari segi cara menentukan harga
a. Bank yang berdasarkan Prinsip Konvensional
Menetapkan bunga sebagai harga jual, menggunakan atau
menerapkan berbagai biaya-biaya dalam nominal atau persentase
tertentu.
b. Bank yang berdasarkan Prinsip Syariah
Menerapkan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara
bank dengan pihak lain.

Berdasarkan jenis-jenis bank dapat dijelaskan bahwa bank terbagi kedalam


beberapa bagian, hal ini dikarenakan spesifikasi bank dalam jalur lalu lintas
keuangan. Perbedaan jenis perbankan dapat dilihat dari segi fungsi, kepemilikan

17

dan dari segi menentukan harga. Dari segi fungsi perbedaan yang terjadi terletak
pada luasnya kegiatan atau jumlah produk yang dapat ditawarkan maupun
jangkaun wilayah operasinya. Kemudian kepemilikan perusahaan dilihat dari segi
kepemilikan saham yang ada serta akta pendiriannya. Sedangkan dari menentukan
harga yaitu antara bank konvensional berdasarkan bunga dan bank syariah
berdasarkan bagi hasil.
3. Usaha-Usaha Bank
Menurut Syamsu Iskandar (2008:29), usaha-usaha bank umum meliputi :
1.

Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa


giro, deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu.
2. Menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk kredit modal kerja,
kredit investasi, dan kredit konsumtif.
3. Memberikan jasa lainnya dalam bentuk transfer atau pengiriman uang,
kliring, jual beli valuta asing, menerbitkan referensi bank, bank garansi,
L/C dan surat kredit berdokumenter, inkaso, safe deposit box, dan jualbeli surat-surat berharga.
4. Menerima setoran pembayaran dari instansi/perusahaan seperti
pembayaran listrik, uang kuliah, telepon, air, dan pembayaran pajak.
5. Melayani pembayaran seperti pembayaran gaji/pensiun pegawai dan
pembayaran deviden, kupon.
6. Menempatkan dana, meminjam dana baik dengan menggunakan surat,
sarana komunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana
lainnya.
7. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan
perhitungan dengan atau antar pihak ketiga.
8. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya
dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek,
melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali
amanat.
9. Menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain
berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
oleh bank Indonesia.
10. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang
tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Berdasarkan usaha-usaha bank umum tersebut dapat dijelaskan bahwa


bank umum dapat melakukan sebagian atau seluruh kegiatan usahanya dan
masing-masing bank dapat memilih jenis usaha yang sesuai dengan keahlian dan
bidang usaha yang ingin dikembangkannya. Dengan cara demikian kebutuhan

18

masyarakat terhadap berbagai jenis jasa bank dapat dipenuhi oleh dunia
perbankan tanpa mengabaikan prinsip kesehatan dan efisiensi.
4. Sumber Dana Bank
Sumber-sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun dana
untuk membiayai operasinya. Menurut Ismail (2010:40), dana bank yang
digunakan sebagai alat untuk melakukan aktivitas usaha dapat digolongkan
menjadi tiga, yaitu :
1.

2.

3.

Dana Sendiri
a. Modal Disetor
Modal disetor merupakan dana awal yang disetorkan oleh pemilik
pada saat awal bank didirikan.
b. Cadangan
Yaitu sebagian dari laba yang disisihkan dalam bentuk cadangan
modal dan lainnya yang akan digunakan untuk menutup timbulnya
risiko di kemudian hari.
c. Sisa Laba
Merupakan akumulasi dari keuntungan yang diperoleh oleh bank
setiap tahun.
Dana Pinjaman
a. Pinjaman dari Bank Lain di Dalam Negeri
b. Pinjaman dari Bank atau Lembaga Keuangan di Luar Negeri
c. Pinjaman dari Lembaga Keuangan Bukan Bank
Dana Pihak Ketiga
a. Simpanan Giro
Simpanan giro merupakan simpanan yang diperoleh dari
masyarakat atau pihak ketiga yang sifat penarikannya adalah dapat
ditarik setiap saat dengan menggunakan cek dan bilyet giro atau
sarana perintah bayar lainnya atau pemindahbukuan.
b. Tabungan
Tabungan merupakan jenis simpanan yang dilakukan oleh pihak
ketiga yang penarikannya dapat dilakukan menurut syarat tertentu
sesuai perjanjian antara bank dan pihak nasabah.
c. Deposito
Deposito merupakan jenis simpanan yang penarikannya hanya dapat
dilakukan sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan
antara bank dengan nasabah.

Berdasarkan sumber dana bank tersebut dapat dijelaskan bahwa dana


untuk membiayai operasinya dapat diperoleh dari berbagai sumber. Perolehan
dana ini tergantung bank itu sendiri apakah secara pinjaman (titipan) dari
masyarakat atau lembaga lainnya. Disamping itu untuk membiayai operasinya

19

dana dapat diperoleh dengan modal sendiri, yaitu dengan mengeluarkan atau
menjual saham.
5. Pengalokasian Dana Bank
Menurut Syamsu Iskandar (2008:89), penggunaan dana bank, dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Aktiva Produktif

2.

Penggunaan dana dalam aktiva produktif atau earning assets memiliki


tujuan untuk memperoleh penghasilan bagi bank, yang berasal dari :
a. Pemberian Pinjaman
Pemberian pinjaman atau yang biasa disebut dengan kredit adalah
penyediaan uang atau dana sejumlah tertentu sesuai dengan
kesepakatan yang telah disetujui yang akan dilunasi setelah jangka
waktunya berakhir. Dengan diberikannya jasa berupa pinjaman ini
maka kepada nasabah (debitur) akan dikenakan biaya jasa oleh bank
yaitu yang dinamakan bunga pinjaman
b. Penempatan Dana pada Bank Lain
Penempatan dana pada bank lain baik didalam negeri maupun diluar
negeri dapat berupa : call money, deposito berjangka, deposit on call,
sertifikat deposito dan tabungan. Biasanya penempatan dana pada bank
lain ini dilihat dari skala prioritasnya dengan kepentingan bank sendiri
dalam hal memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau likuiditasnya.
c. Surat-Surat Berharga
Penempatan dana pada surat-surat berharga dapat berupa surat-surat
berharga jangka pendek atau jangka panjang baik dalam nilai rupiah
maupun dalam valuta asing, seperti pembelian surat-surat berharga
pasar uang dan pasar modal, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat
Berharga Pasar Uang (SBPU), reksa dana, saham-saham bank lain di
bursa efek, dan lain-lain.
d. Penyertaan
Penyertaan adalah penanaman dana bank dalam bentuk saham
perusahaan lain untuk tujuan investasi jangka panjang, baik dalam
rangka pendirian, ikut serta dalam lembaga keuangan lain,
penyelamatan kredit atau lainnya.
Aktiva Tidak Produktif
Disebut aktiva tidak produktif karena tidak dapat memberikan
penghasilan bagi bank. Yang termasuk dalam pos-pos ini adalah :
a. Kas
Kas merupakan alat yang paling likuid dalam operasional bank yang
dapat dipergunakan setiap saat untuk menunjang operasional bank.
b. Rekening Giro pada Bank Indonesia
Penempatan dana pada rekening giro Bank Indonesia dimaksudkan
untuk memenuhi ketentuan likuiditas wajib minimum yang ditentukan
oleh Bank Indonesia. Disamping itu, rekening giro pada Bank Indonesia
selain untuk transaksi kliring, dapat juga berfungsi untuk transaksi
antar bank.
c. Giro pada Bank Lain
Yaitu dana yang dimiliki yang disimpan pada rekening giro pada bank
lain, baik dalam nilai rupiah maupun dalam valuta asing dari seluruh
kantornya didalam negeri ataupun diluar negeri yang sewaktu-waktu
dapat ditarik jika memerlukannya.
d. Aktiva Tetap dan inventaris bank

20

Berdasarkan uraia di atas, penggunaan dana bank terdiri dari 2 bagian


yaitu pada aktiva produktif dan aktiva tidak produktif. Aktiva produktif
merupakan aktiva yang dapat menghasilkan pendapatan. Aktiva produktif adalah
penanaman dana bank dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk kredit,
surat berharga, penempatan dana pada bank lain, dan penyertaan. Aktiva tidak
produktif merupakan aktiva yang tidak menghasilkan pendapatan yaitu dalam
bentuk kas, rekening giro pada Bank Indonesia, penempatan dana pada bank lain
berupa rekening giro dan aktiva tetap dan inventaris bank.
B. Kredit
1. Pengertian Kredit
Istilah kredit berasal dari bahasa Italia yaitu credere, yang artinya percaya
atau to believe atau to trust. Oleh karena itu, dasar pemikiran persetujuan
pemberian kredit oleh bank pada seseorang atau badan usaha adalah kepercayaan.
Bila dikaitkan dengan kegiatan usaha, kredit berarti suatu kegiatan memberikan
nilai ekonomi (economic value) kepada seseorang atau badan usaha yang
berlandaskan kepercayaan saat itu, bahwa nilai ekonomi yang sama akan
dikembalikan pada kreditur (bank) setelah jangka waktu sesuai dengan
kesepakatan yang sudah disetujui antara kreditur dan debitur.
Pengertian kredit menurut Syamsu Iskandar (2008:93), kredit
merupakan piutang bagi Bank, maka pelunasannya (repayment) merupakan
kewajiban yang harus dilakukan oleh debitur terhadap utangnya, sehingga resiko
kredit macet dapat dihindarkan. Adapun menurut Pedomam Akuntansi
Perbankan Indonesia (PAPI) mendefinisikan kredit sebagai penyediaan uang
atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau

21

kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan


pihak peminjam (debitur) untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan. (Irham Fahmi
dan Yovi Lavianti Hadi , 2010:3)
Berdasarkan pengertian kredit tersebut dapat dijelaskan bahwa kredit dapat
berupa uang atau tagihan yang nilainya di ukur dengan uang. Kemudian adanya
kesepakatan antara bank (kreditur) dengan nasabah penerima kredit (debitur),
bahwa mereka sepakat sesuai dengan perjanjian yang telah dibuatnya. Dalam
perjanjian kredit tercakup hak dan kewajiban masing-masing pihak, termasuk
jangka waktu serta bunga yang ditetapkan bersama. Demikian pula dengan
masalah sangsi apabila debitur ingkar janji terhadap perjanjian yang telah dibuat
bersama.
2. Unsur-Unsur Kredit
Kredit yang diberikan suatu lembaga kredit berdasarkan kepercayaan
sehingga dengan demikian kredit merupakan pemberian kepercayaan. Jadi, suatu
bank baru akan memberikan kredit apabila ia telah benar-benar yakin bahwa
debitur akan mengembalikan kredit sesuai dengan jangka waktu dan syarat-syarat
yang telah disetujui untuk kedua belah pihak.
Unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit
menurut Kasmir (2010:75) adalah sebagai berikut :
1.

2.

Kepercayaan
Yaitu suatu keyakinan pemberi kredit (bank) bahwa kredit yang
diberikan baik berupa uang, barang atau jasa akan benar-benar diterima
kembali di masa tertentu di masa datang. Kepercayaan ini diberikan oleh
bank karena sebelum dana dikucurkan, sudah dilakukan penelitian dan
penyelidikan
dilakukan
untuk
mengetahui
kemauan
dan
kemampuannya dalam membayar kredit yang disalurkan.
Kesepakatan
Kesepakatan antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit
dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak

22

3.

4.

5.

menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing. Kesepakatan


penyaluran kredit dituangkan dalam akad kredit yang ditandatangani
oleh kedua belah pihak, yaitu pihak bank dan nasabah.
Jangka Waktu
Setiap kredit yang diberikan pasti memiliki jangka waktu tertentu,
jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah
disepakati. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada kredit yang tidak
memiliki jangka waktu.
Risiko
Faktor risiko kerugian dapat diakibatkan dua hal, yaitu risiko kerugian
yang diakibatkan nasabah sengaja tidak mau membayar kreditnya
padahal mampu dan risiko kerugian yang diakibatkan karena nasabah
tidak sengaja yaitu akibat terjadinya musibah seperti bencana alam.
Penyebab tidak tertagih sebenarnya dikarenakan adanya suatu tenggang
waktu pengembalian (jangka waktu). Semakin panjang jangka waktu
suatu kredit semakin besar risikonya tidak tertagih, demikian pula
sebaliknya. Risiko ini menjadi tanggungan bank, baik risiko yang
disengaja maupun risiko yang tidak disengaja.
Balas Jasa
Akibat dari pemberian fasilitas kredit bank tentu mengharapkan suatu
keuntungan dalam jumlah tertentu. Keuntungan atas pemberian suatu
kredit atau jasa tersebut yang kita kenal dengan nama bunga bagi bank
prinsip konvensional. Balas jasa dalam bentuk bunga, biaya provisi dan
komisi, serta biaya administrasi kredit ini merupakan keuntungan utama
bank, sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah balas
jasanya ditentukan dengan bagi hasil.

Berdasarkan

unsur-unsur

kredit

tersebut

dapat

dijelaskan

bahwa

keprcayaan, kesepakatan, jangka waktu, risiko, dan balas jasa merupakan hal
pokok yang harus ada dalam perjanjian kredit yang telah disepakati kedua belah
pihak, baik debitur maupun kreditur (bank). Hal tersebut dilakukan agar pihak
bank benar-benar yakin bahwa kredit yang diberikan akan dikembalikan secara
tepat waktu oleh debitur.
3. Tujuan Kredit
Yang dimaksudkan dengan tujuan kredit adalah tujuan ditinjau dari
berbagai pihak. Bank sebagai kreditur dan nasabah sebagai debitur serta oleh
pemerintah atau masyarakat umum. Menurut Syamsu Iskandar (2008:94), tujuan
kredit adalah sebagai berikut :
1.

Bagi Bank
a. Asset bank yang dominan dan sumber utama pendapatan bank yang
menjamin kelangsungan hidup bank.
b. Sebagai instrumen bank dalam persaingan dan pemasaran produkproduk perbankan lainnya.

23

c.

2.

3.

Mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi sehingga


menciptakan lapangan kerja.
d. Kredit yang sehat menjadi instrumen untuk memelihara likuiditas,
rentabilitas, dan solvabilitas bank.
Bagi Pengusaha
a. Kegiatan usaha bertambah lancar dan performance perusahaan
bertambah baik.
b. Dengan mendapatkan fasilitas kredit, maka akan meningkatkan
volume usaha dan hasil usaha agar terjamin kelangsungan hidup
perusahaan.
c. Meningkatkan motivasi berusaha.
Bagi Masyarakat/Pemerintah
a. Berfungsi sebagai instrumen untuk kebijakan ekonomi dan moneter.
b. Meningkatkan arus dan daya guna uang serta menghidupkan
ekonomi pasar.
c. Meningkatkan kegiatan produksi, perdagangan, distribusi, dan
konsumsi secara nasional (makro).
d. Membantu efisiensi penggunaan sumber alam.

Berdasarkan tujuan kredit tersebut dapat dijelaskan bahwa pemberian


suatu fasilitas kredit mempunyai tujuan tertentu. Tujuan kredit tersebut tidak akan
terlepas dari misi bank tersebut didirikan.
4. Fungsi Kredit
Kehidupan perekonomian bank sebagai lembaga keuangan memegang
peranan penting dalam membantu pemerintah untuk mencapai kemakmuran.
Menurut Iswi Hariyani (2010:11), fungsi kredit bagi masyarakat adalah untuk :
1.

Menjadi motivator dan dinamisator peningkatan kegiatan perdagangan


dan perekonomian.
2. Memperluas lapangan kerja bagi masyarakat.
3. Memperlancar arus barang dan arus uang.
4. Meningkatkan hubungan internasional.
5. Meningkatkan produktivitas yang ada.
6. Meningkatkan daya guna barang.
7. Meningkatkan kegairahan berusaha masyarakat.
8. Memperbesar modal kerja perusahaan.
9. Meningkatkan income per capita masyarakat.
10. Mengubah cara berpikir atau cara bertindak masyarakat untuk lebih
ekonomis.

Berdasarkan fungsi kredit tersebut dapat dijelaskan bahwa fungsi kredit


adalah untuk meningkatkan daya guna uang sebagai alat sabilitas ekonomi yang
digunakan untuk peningkatan pemerataan pendapatan.

24

5. Jenis-Jenis Kredit
Pada prinsipnya kredit itu hanya satu macam saja, yaitu uang bank yang
dipinjamkan kepada nasabah dan akan dikembalikan pada suatu waktu tertentu
dimasa yang akan dating, disertai dengan suatu kontra prestasi berupa bunga.
Berdasarkan keperluan usaha serta berbagai unsur ekonomi yang mempengaruhi
bidang usaha para nasabah, maka jenis kredit menjadi beragam.
Kredit yang diberikan bank umum mengenai jenis-jenis kredit menurut
Kasmir (2010:76) dapat dilihat dari berbagai segi, anatara lain :
1.

2.

3.

Dilihat dari Segi Kegunaan


a. Kredit Investasi
Yaitu kredit yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan
usaha atau membangun proyek/pabrik baru dimana masa
pemakaiannya untuk suatu periode yang relatif lebih lama dan
biasanya kegunaan kredit ini adalah untuk kegiatan utama suatu
perusahaan.
b. Kredit Modal Kerja
Merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan
produksi dalam operasionalnya. Kredit modal kerja merupakan
kredit yang dicairkan untuk mendukung kredit investasi yang sudah
ada.
Dilihat dari Segi Tujuan Kredit
a. Kredit Produktif
Kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau
investasi. Kredit ini diberikan untuk menghasil barang atau jasa.
Artinya, kredit ini digunakan untuk diusahakan sehingga
menghasilkan sesuatu baik berupa barang maupun jasa.
b. Kredit Konsumtif
Merupakan kredit yang digunakan untuk dikonsumsi atau dipakai
secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan
jasa yang dihasilkan karena memang untuk digunakan atau dipakai
oleh seseorang atau badan usaha.
c. Kredit Perdagangan
Merupakan kredit yang digunakan untuk kegiatan perdagangan dan
biasanya untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya
diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut. Kredit
ini sering diberikan kepada supplier atau agen-agen perdagangan
yang akan membeli barang dalam jumlah tertentu.
Dilihat dari Segi Jangka Waktu
a. Kredit Jangka Pendek
Kredit ini merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang
dari satu tahun atau paling lama satu tahun dan biasanya digunakan
untuk keperluan modal kerja.
b. Kredit Jangka Menengah
Jangka waktu kreditnya berkisar antara satu tahun sampai dengan
tiga tahun, kredit jenis ini dapat diberikan untuk modal kerja.
Beberapa bank mengklasifikasikan kredit menengah menjadi kredit
jangka panjang.

25

c.

4.

5.

Kredit Jangka Panjang


Merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang yaitu
diatass 3 tahun atau 5 tahun.
Dilihat dari Segi Jaminan
a. Kredit dengan Jaminan
Merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan tertentu.
Jaminan tersebut dapat berbentuk berang berwujud atau tidak
berwujud. Artinya, setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi
senilai jaminan yang diberikan si calon debitur.
b. Kredit tanpa Jaminan
Yaitu kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang
tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha,
karakter, serta loyalitas si calon debitur selama berhubungan dengan
bank yang bersangkutan.
Dilihat dari Segi Sektor Usaha
a. Kredit pertanian, merupakan kredit yang dibiayai untuk sector
perkebunan atau pertanian rakyat. Sector usaha pertanian dapat
berupa jangka pendek atau jangka panjang.
b. Kredit peternakan, dalam hal ini kredit diberikan untuk jangka
waktu yang relatif pendek misalnya peternakan ayam dan untuk
kredit jangka panjang seperti kambing atau sapi.
c. Kredit industry, yaitu kredit untuk membiayai industry pengolahan
baik untuk industry kecil, menengah atau besar.
d. Kredit pertambangan, yaitu jenis kredit untuk usaha tambang yang
dibiayainya, biasanya dalam jangka panjang, seperti tambang emas,
minyak, atau tambang timah.
e. Kredit pendidikan, merupakan kredit yang diberikan untuk
memebangun sarana dan prasarana pendidikan atau dapat pula
berupa kredit untuk para mahasiswa yang sedang belajar.
f. Kredit profesi, diberikan kepada kalangan para professional seperti,
dosen, dokter, atau pengacara.
g. Kredit perumahan, yaitu kredit untuk membiayai pembangunan
atau pembelian rumah.
h. Dan sektor-sektor usaha lainnya.

Berdasarkan jenis-jenis kredit tersebut dapat dijelaskan bahwa kredit dapat


dibagi menjadi beberapa bagian ini dimaksudkan agar kredit yang disalurkan
kepada masyarakat sesuai dengan maksud dan tujuan dari masing-masing bank
berdasarkan misi pendirian bank.
6. Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit
Praktek pemberian kredit, bank pada dasarnya harus berpegang kepada
pola umum pemberian kredit yang baik yaitu antara lain dengan cara
memperhatikan prinsip-prinsip pemberian kredit, dengan tanpa mengabaikan
kualitas pelayanan serta memperhatikan usaha kearah peningkatan efisiensi.

26

Prinsip-prinsip pemberian kredit menurut Kasmir (2010:91), dapat


dijelaskan sebagai berikut :
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Personality
Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya
sehari-hari maupun masa lalunya. Personality juga mencakup sikap,
emosi, tingkah laku dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu
masalah. Personality hampir sama dengan character dari 5C
Party
Yaitu mengklasifikasikan nasabah kedalam klasifikasi tertentu atau
golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas, serta
karakternya sehingga nasabah dapat digolongkan ke golongan tertentu
dan akan mendapatkan fasilitas kredit yang berbeda pula dari bank.
Purpose
Yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit,
termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah. Tujuan pengambilan
kredit dapat bermacam-macam apakah untuk tujuan konsumtif,
produktif, atau perdagangan.
Prospect
Yaitu untuk menilai usaha nasabah dimasa yang akan datang apakah
menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek
atau sebaliknya. Hal ini penting mengingat jika suatu fasilitas kredit yang
dibiayai tanpa mempunyai prospek, bukan hanya bank yang rugi, tetapi
juga nasabah.
Payment
Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang
telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian
kredit yang diperolehnya. Semakin banyak sumber penghasilan debitur,
akan semakin baik sehingga jika salah satu usahanya merugi akan dapat
ditutupi oleh sector lainnya.
Profitability
Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba.
Profitability diukur dari periode ke periode apakah akan tetap sama atau
akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan
diperolehnya dari bank.
Protection
Tujuannya adalah bagaimana menjaga kredit yang dikucurkan oleh bank,
tetapi melalui suatu perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan
barang atau orang atau jaminan asuransi.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa proses analisis kredit


harus diketahui pasti maksud kegunaan dari kredit, sehingga manfaat kredit
tersebut sesuai dengan yang diharapkan. Dan tujuan penggunaan dana ini harus
dapat diprediksikan kemungkinann untuk masa yang akan dating apakah
bermanfaat atau tidak, juga diprediksi secara pasti setiap kemungkinan resiko
yang akan muncul.

27

7. Aspek-Aspek Pemberian Kredit


Perkreditan merupakan salah satu sumber utama pendapatan bagi bank.
Mengingat pentingnya perkreditan, maka dapat dipahami jika perhatian bank
selalu dicurahkan pada upaya untuk mengelola aktivitas perkreditan secara lebih
baik. Hubungan antara pertumbuhan suatu kegiatan perekonomian ataupun
pertumbuhan dengan suatu kegiatan usaha dari perusahaan dengan eksistensi
perkreditan mempunyai koefisien korelasi yang sangat erat.
Menurut Kasmir (2010:94), mengemukakan aspek-aspek yang perlu
dilakukan dalam penilaian kredit, yaitu sebagai berikut :
a.

Aspek Hukum
Merupakan aspek untuk menilai keabsahan dan keaslian dokumendokumen atau surat-surat yang dimiliki oleh calon debitur, seperti akta
notaries, izin usaha atau sertifikat tanah, dan dokumen atau surat
lainnya.
b. Aspek Pasar dan Pemasaran
Yaitu aspek untuk menilai prospek usaha nasabah sekarang dan di masa
yang akan datang.
c. Aspek Keuangan
Merupakan aspek untuk menilai kemampuan calon nasabah dalam
membiayai dan mengelola usahanya. Dari aspek ini akan tergambar
berapa besar biaya dan pendapatan yang akan dikeluarkan dan
diperolehnya. Penilaian aspek ini dengan menggunakan rasio-rasio
keuangan.
d. Aspek Operasi/Teknis
Merupakan aspek untuk menilai tata ruangan, lokasi usaha, dan
kapasitas produksi suatu usaha yang tercermin dari sarana dan
prasarana yang dimilikinya.
e. Aspek Manajemen
Merupakan aspek untuk menilai sumber daya manusia yang dimiliki
oleh perusahaan, baik dari segi kuantitas maupun segi kualitas.
f. Aspek Ekonomi/Sosial
Merupakan aspek untuk menilai dampak ekonomi dan social yang
ditimbulkan dengan adanya suatu usaha terutama terhadap masyarakat,
apakah lebih banyak benefit atau cost atau sebaliknya.
g. Aspek AMDAL
Merupakan aspek yang menilai dampak lingkungan yang akan timbul
dengan adanya suatu usaha, kemudian cara-cara pencegahan terhadap
dampak tersebut.

Berdasarkan aspek-aspek pemberian kredit tersebut dapat dijelaskan


bahwa selain penilaian dengan 7P, prinsip penilaian kredit dapat pula dilakukan
dengan studi kelayakan dengann menilai seluruh aspek yang ada. Penilaian

28

dengan model ini biasanya digunakan untuk kredit dalam jumlah yang relatif
besar dan jangka yang panjang.
8. Pengertian Analisis Kredit
Pengertian analisis kredit menurut Ismail (2010:111), analisis kredit
adalah suatu proses analisis kredit yang dilakukan oleh bank untuk menilai suatu
permohonan kredit yang telah diajukan oleh calon debitur. Sedangkan menurut
Syamsu Iskandar (2008:120), analisis kredit di artikan sebagai penilaian
terhadap nasabah dan usahanya untuk diperoleh alternatif sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa rangkaian dalam
proses pengelolaan kredit adalah analisis kredit. Analisis kredit dapat diartikan
sebagai suatu usaha penilaian terhadap kelayakan usaha calon debitur, apakah ia
mempunyai

kemampuan

dan

kesanggupan

untuk

membayar

kembali

kewajibannya, sehingga setiap kredit yang diberikan akhirnya akan memperoleh


keuntungan dan aman. Tujuan ini tidak saja penting bagi debitur dan usahanya,
bahkan bagi bank pun dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur dalam
menentukan keberhasilan untuk mencapai tujuannya. Analisis kredit diberikan,
untuk meyakinkan bahwa debitur benar-benar dipercaya, maka sebelum kredit
diberikan bank terlebih dahulu mengadakan analisis kredit.
Analisis kredit merupakan suatu proses analisis yang dilakukan oleh bank
untuk menilai suatu permohonan kredit yang telah diajukan oleh calon debitur.
Dengan melakukan analisis terhadap permohonan kredit tersebut bank ingin
mendapat keyakinan bahwa proyek yang akan dibiayai dengan kredit tersebut
layak (feasible). Bank melakukan analisis kredit dengan tujuan untuk mencegah

29

secara dini kemungkinan terjadinya default oleh nasabah. Analisis yang baik akan
menghasilkan keputusan yang tepat, sehingga analisis kredit merupakan salah satu
faktor yang sangat penting dalam keputusan kredit.
Analisis kredit merupakan salah satu faktor yang dapat digunakan sebagai
acuan bank apakah permohonan kredit dari nasabah dapat disetujui atau ditolak.
Disamping itu, bank perlu melakukan analisis yang mendalam agar bank terhindar
dari masalah kredit yang timbul di kemudian hari.
C. Kolektibilitas dan Penggolongan Kredit
1. Pengertian Kolektibilitas
Istilah kolektibilitas berasal dari bahasa Inggris yaitu collectible, artinya
yang dapat ditagih. Jadi, kolektibilitas adalah piutang yang dapat ditagih oleh
perusahaan kepada pembeli sebagai akibat dari transaksi penjualan secara kredit.
Kredit yang diberikan oleh bank dengan maksud untuk memperoleh penghasilan
sesuai dengan fungsinya. Oleh sebab itu bank berkewajiban menjaga agar kualitas
kredit yang diberikan atas dasar penggolongan kolektibilitasnya.
Menurut

Mahmoeddin

(2010:10),

definisi

kolektibilitas

adalah

penggolongan pinjaman berdasarkan keadaan pembayaran pokok atau angsuran


pokok dan bunga oleh nasabah serta tingkat kemungkinan diterimanya kembali
dana yang masih ditanamkan dalam surat-surat berharga atau penanaman
lainnya.
Berdasarkan definisi keolektibilitas tersebut dapat dijelaskan bahwa
penggolongan kredit atau pinjaman berdasarkan kolektibilitas ialah membagi atau
memisah-misahkan

kredit

berdasarkan

kelancaran

atau

ketidaklancaran

pengembalian kredit atau pinjaman tersebut baik pokok ataupun bunganya.

30

2. Penggolongan Kredit
Penyaluran dana berupa kredit yang diberikan kepada nasabah selalu
diikuti dengan risiko yang mungkin timbul. Risiko atas kredit adalah tidak
tertagihnya kredit yang telah disalurkannya, baik pokok pinjaman yang diberikan,
maupun bunganya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Meskipun, analisis
kredit telah dilakukan dengan tepat, akan tetapi risoko kredit tetap ada. Oleh
karena itu, bank harus dapat meminimalisasi risiko yang diakibatkan dari kredit
tersebut.
Menurut Ismail (2010:122), Bank melakukan penggolongan kredit
menjadi dua golongan, yaitu kredit tidak bermasalah dan kredit yang bermasalah.
Kredit yang tidak bermasalah dapat dibedakan menjadi dua kategori,yaitu :
Kredit dengan kualitas lancar
Kredit lancar merupakan kredit yang diberikan kepada nasabah dan
tidak terjadi tunggakan, baik tunggakan pokok dan bunga. Debitur
melakukan pembayaran angsuran tepat waktu sesuai dengan perjanjian
kredit.
Kredit dengan kualitas dalam perhatian khusus
Kredit dalam perhatian khusus merupakan kredit yang masih
digolongkan lancar, akan tetapi mulai terdapat tunggakan. Ditinjau dari
segi kemampuan membayar, yang tergolong dalam kredit dalam
perhtian khusus apabila terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau
bunga sampai dengan 90 hari.
Kredit yang bermasalah,dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu :
Kredit Kurang Lancar
Kredit kurang lancar merupakan kredit yang telah mengalami
tunggakan. Yang tergolong kredit kurang lancar, apabila :
1. Pengembalian pokok pinjaman dan bunganya telah mengalami
penundaan pembayarannya melampaui 90 hari sampai dengan
kurang dari 180 hari.
2. Pada kondisi ini hubungan anatara debitur dengan bank memburuk.
3. Informasi keuangan debitur tidak apat diyakini oleh bank.
Kredit Diragukan
Kredit diragukan merupakan kredit yang mengalami penundaan
pembayaran pokok dan/atau bunga. Yang tergolong kredit diragukan
apabila :
1. Penundaan pembayaran pokok dan/atau bunga antara 180 hingga
270 hari.
2. Pada kondisi ini hubungan anatara debitur dengan bank semakin
memburuk.
3. Informasi keuangan sudah tidak dapat dipercaya.
Kredit Macet
Kredit macet merupakan kredit yang menunggak melampaui 270 hari
atau lebih. Bank akan mengalami kerugian atas kredit macet tersebut.

31

Berdasarkan ketentuan kolektibilitas tersebut dapat dijelaskan bahwa


waktu dipakai sebagai ukuran (tepat waktu pembayaran) kolektibilitas kredit
tersebut. Dengan demikian bank dapat menyusun jenjang kolektibilitas
berdasarkan tetap waktu pembayaran pokok atau angsuran pokok, bunga, biayabiaya dan diterima kembali penanaman pada surat-surat berharga dan lain-lain.
D. Kredit Bermasalah
1. Pengertian Kredit Bermasalah
Menurut Mahmoeddin (2010:3), kredit berrmasalah adalah kredit yang
tidak lancar atau kredit dimana debiturnya tidak memenuhi persyaratan yang
diperjanjikan, misalnya persyaratan mengenai pembayaran bunga, pengambilan
pokok pinjaman, peningkatan margin deposit, pengikatan dan peningkatan
agunan, dan sebagainya.
Kredit bermasalah merupakan kredit yang telah disalurkan oleh bank, dan
nasabah tidak dapat melakukan pebayaran atau melaukan angusran sesuai dengan
perjanjian yang telah ditandatangani oleh bank dan nasabah. Penilaian atas
penggolongan kredit baik kredit tidak bermasalah maupun bermasalah tersebut
dilakukan secara kuantitatif, maupun kualitatif. Penialian secara kuantitatif dilihat
dari kemampuan debitur dalam melakukan pembayaran angsuran kredit, baik
angsuran pokok pinjaman dan/atau bunga. Adapun penilaian kredit secara
kualitatif dapat dilihat dari prospek usaha dan kondisi keuangan debitur.
Kredit bermasalah akan berakibat pada kerugian bank, yaitu kerugian
karena tidak diterimanya kembali dana yang telah disalurkan, maupun pendapatan
bunga yang tidak dapat diterima. Artinya, bank kehilangan kesempatan mendapat
bunga, yang berakibat pada penurunan pendapatan secara total. Menurut Ismail

32

(2010:123), kredit bermasalah yang digolongkan pada kokektibilitas adalah kredit


yang berada dalam klasifikasi kurang lancar, diragukan dan macet.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa kredit bermasalah
adalah adanya penyimpangan anatra apa yang diperjanjikan dengan apa yang
terjadi dalam kenyataan. Dalam hal ini terdapat tunggakan pembayaran pokok dan
bunga yang melampaui 90 hari sampai dengan kurang dari 180 hari (kolektibilitas
kurang lancar), terdapat tunggakan pembayaran pokok dan bunga melampaui 180
hari sampai dengan 270 hari (kolektibilitas diragukan) dan terdapat tunggakan
pembayaran pokok dan bunga yang melampaui 270 hari (kolektibilitas macet)
dengan apa yang telah disepakati dalam perjanjian kredit. Walaupun kredit
bermasalah adalah bagian dari bisnisn perbankan namun kredit bermasalah harus
dicegah, jika muncul harus segera ditangani secara serius sehingga tidak tumbuh
menjadi kredit macet atau merugikan pihak bank trelalu besar.
2. Faktor Penyebab Kredit Bermasalah
Menurut Ismail (2010:123), banyak faktor yang menyebabkan kredit
tersebut menjadi bermasalah, yaitu :
A. Faktor Intern Bank
1. Analisis kurang tepat,sehingga tidak dapat memprediksi apa yang
akan terjadi dalam kurun waktu selama jangka waktu kredit.
Misalnya, kredit diberikan tidak sesuai kebutuhan, sehingga nasabah
tidak mampu membayar angsuran yang melebihi kemampuan.
2. Adanya kolusi antara pejabat bank yang menangani kredit dan
nasabah sehingga bank memutuskan kredit yang tidak seharusnya
diberikan.
3. Keterbatasan pengetahuan pejabat bank terhadap jenis usaha
debitur sehingga tidak dapat melakukan analisis yang tepat dan
akurat.
4. Campur tangan terlalu besar dari pihak terkait.
5. Kelemahan dalam melakukan pembinaan dan monitoring kredit
debitur.
B. Faktor Extern Bank
1. Unsur kesengajaan yang dilakukan oleh nasabah.
Nasabah sengaja untuk tidak melakukan pembayaran angsuran
kepada bank, karena nasabah tidak memiliki kemauan dalam
memenuhi kewajibannya.

33

2.

Debitur melakukan ekspansi terlalu besar,sehingga dana yang


dibutuhkan terlalu besar.
Penyelewengan yang dilakukan nasabah dengan menggunakan
dana kredit tersebut tidak sesuai dengan tujuan penggunaan.
Unsur ketidaksengajaan.
Debitur mau melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian,akan
tetapi kemampuan perusahaan sangat terbatas,sehingga tidak
dapat membayar angsuran.
Perusahaannya tidak dapat bersaing dengan pasar, sehingga
volume penjualan menurun dan perusahaan rugi.
Perubahan kebijakan dan peraturan pemerintah yang
berdampak pada usaha debitur.
Bencana alam yang dapat menyebabkan kerugian debitur.

Berdasarkan uraian diatas, bahwa faktor penyebab kredit bermasalah di


sebabkan dari kedua pihak yaitu dari pihak bank dan pihak nasabah. Oleh karena
itu, sebelum kredit diberikan pihak bank terlebih dahulu mengadakan analisis
kredit. Tujuannya adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikan benarbenar aman dalam arti uang yang disalurkan pasti kembali. Pemberian kredit
tanpa dianalisis terlebih dahulu akan sangat membahayakan bank. Akibatnya, jika
salah dalam menganalisis, kredit yang disalurkan akan sulit ditagih alias macet.
3. Cadangan Aktiva Produktif Atas Terjadinya Kredit Bermasalah
Aktiva produktif adalah berfungsi untuk memperoleh pendapatan atas dana
yang disalurkan oleh bank. Namun demikian, penempatan dana dalamaktiva
produktif juga memiliki risiko, yaitu risiko dana yang disalurkan tidak dapat
kembali. Risiko atas penempatan dalam bentuk aktiva produktif ini dapat
menimbulkan kerugian bank. Bank perlu membentuk cadangan kerugian aktiva
produktif, yaitu penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP).
Penyisihan kerugian kredit merupakan pembentukan cadangan terhadap
seluruh kredit yang diberikan. Menurut Ismail (2011:255), sesuai dengan
ketentuan, bank wajib membentuk penyisihan kerugian kredit sebagai berikut:

34

a.

Kredit dengan kualitas lancar atau kredit dengan kualitas dalam


perhatian khusus, maka penyisihan yang wajib dibentuk sebesar
persentase tarif penyisihan dikalikan dengan saldo pokok kredit.
Persentase tarif penyisihan kerugian kredit yang diberlakukan untuk
bank umum untuk kredit dengan kualitas lancar adalah sebesar 1%
dikalikan dengan saldo kredit lancar. Tarif penyisihan untuk kredit
dengan kualitas dalam perhatian khusus ditetapkan sebesar 5%
dikalikan dengan saldo kredit dalam perhatian khusus.
b. Kredit dengan kualitas lancar, diragukan dan macet, penyisihannya
adalah didasarkan pada tarif penyisihan yang berlaku untuk bank
umum dikalikan dengan saldo kredit setelah dikurangi dengan nilai
agunan yang diperhitungkan oleh bank. Tarif penyisihan untuk kredit
kurang lancar sebesar 15%, kredit diragukan sebesar 50% dan kredit
macet sebesar 100%.

Berdasarkan uraian diatas, dalam membentuk penyisihan penghapusan


aktiva produktif (PPAP), dasar perhitungannya adalah persentase tertentu
dikalikan dengan jumlah outstanding masing-masing kualitas aktiva produktif.
Kualitas aktiva produktif digolongkan menjadi lancar, dalam perhatian khusus,
kurang lancar, diragukan dan macet. Kredit yang dilakukan oleh bank merupakan
aktiva produktif yang paling besar yang dimiliki oleh setiap bank. Pendapatan
yang berasal dari kredit, yaitu pendapatan bunga kredit merupakan pendapatan
operasional bank yang terbesar. Kredit juga merupakan aktiva produktif yang
mempunyai risiko paling tinggi.
4. Penanganan Kredit Bermasalah
Menurut Kasmir (2010:109), penyelamatan terhadap kredit macet dapat
dilakukan dengan beberapa metode, yaitu :
1.

2.

Rescheduling
a. Memperpanjang jangka waktu kredit
Dalam hal ini si debitur diberikan keringanan dalam masalah
jangka waktu kredit, misalnya perpanjangan jangka waktu
kredit dari 6 bulan menjadi satu tahun sehingga si debitur
mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya.
b. Memperpanjang jangka waktu angsuran
Memperpanjang angsuran hampir sama dengan jangka waktu
kredit. Dalam hal ini jangka waktu angsuran kreditnya
diperpanjang pembayarannya, misalnya dari 36 kali menjadi 48
kali dan hal ini tentu saja jumlah angsuran pun menjadi
mengecil seiring dengan penambahan jumlah angsuran.
Reconditioning
Dengan cara mengubah berbagai persyaratan yang ada seperti :

35

a.

3.

4.

5.

Kapitalisasi bunga, yaitu dengan cara bunga dijadikan hutang


pokok.
b. Penundaan pembayaran bunga sampai waktu tertentu.
Maksudnya hanya bunga yang dapat ditunda pembayarannya,
sedangkan pokok pinjamannya tetap harus dibayar seperti
biasa.
c. Penurunan suku bunga.
Penurunan suku bunga dimaksudkan agar lebih meringankan
beban nasabah. Sebagai contoh, jika bunga per tahun
sebelumnya dibebankan 17% diturunkan menjadi 15%. Hal ini
tergantung dari pertimbangan bank bersangkutan. Penurunan
suku bunga akan mempengaruhi jumlah angsuran yang semakin
mengecil, sehingga diharapkan dapat membantu meringankan
nasabah.
d. Pembebasan bunga.
Dalam pembebasan suku bunga diberikan kepada nasabah
dengan pertimbangan nasabah sudah tidak akan mampu lagi
membayar kredit tersebut. Akan tetapi, nasabah tetap
mempunyai kewajiban untuk membayar pokok pinjamannys
sampai lunas.
Restructuring
Yaitu dengan cara :
a. Menambah jumlah kredit
b. Menambah equity yaitu dengna menyetor uang tunai dan
tambahan dari pemilik.
Kombinasi
Merupakan kombinasi dari ketiga jenis metode yang di atas.
Misalnya kombinasi antara restructuring dan reconditioning atau
rescheduling dengan restructuring.
Penyitaan Jaminan
Penyitaan jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah sudah
benar-benar tidak punya itikad baik atau sudah tidak mampu lagi
untuk membayar semua utang-utangnya.

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa dalam hal kredit
macet pihak bank perlu melakukan penyelamatan, sehingga tidak akan
menimbulkan kerugian. Penyelamatan dilakukan dengan memberikan keringanan
berupa jangka waktu pembayaran atau jumlah angsuran terutama bagi kredit kena
musibah atau dengan melakukan penyitaan bagi kredit yang sengaja lalai untuk
membayar.

36

E. Hubungan antara Analisis Kredit Dengan Kredit Bermasalah


Hubungan analisis pemberian Kredit Mikro Utama dengan kredit
bermasalah, peneliti akan mengemukakan definisi analisis kredit yang
dikemukakan oleh Ismail (2010:111), analisis kredit adalah suatu proses analisis
kredit yang dilakukan oleh bank untuk menilai suatu permohonan kredit yang
telah diajukan oleh calon debitur.
Definisi kredit bermasalah yang dikemukakan oleh Mahmoeddin
(2010:3), kredit berrmasalah adalah kredit yang tidak lancar atau kredit dimana
debiturnya tidak memenuhi persyaratan yang diperjanjikan, misalnya persyaratan
mengenai pembayaran bunga, pengambilan pokok pinjaman, peningkatan margin
deposit, pengikatan dan peningkatan agunan, dan sebagainya.
Berdasarkan kedua definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa hubungan
antara analisis pemberian Kredit Mikro Utama dan kredit bermasalah dapat
dilihat, dimana pemberian Kredit Mikro Utama diberikan dengan melakukan
proses analisis yang dilakukan oleh pihak bank dalam menilai suatu permohonan
yang diajukan oleh calon debitur sehingga analisis pemberian Kredit Mikro
Utama diharapkan meminimalisasi terjadinya kredit bermasalah.
Hal tersebut diatas sesuai dengan pendapat Iswi Hariyani (2010:35),yaitu:
Prinsip-prinsip analisis pemberian kredit harus selalu dilakukan oleh setiap
pejabat kredit bank sebagai wujud pelaksanaan prinsip kehati-hatian dalam
penyaluran kredit bank kepada semua nasabah debitur agar kelak bank
dapat terhindar dari persoalan kredit bermasalah dan kredit macet.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa bagian analisis kredit


bertanggung jawab membantu bank dalam meminimalisasi kredit bermasalah dan
berwenang untuk melakukan analisis kelayakan kredit yang diajukan oleh calon
debitur.