Anda di halaman 1dari 10

SIMVASTATIN

NAMA GENERIK
Simvastatin
NAMA KIMIA
Sinonim : butanoic acid, 2,2-dimethyl-,1,2,3,7,8,8a-hexahydro-3,7-dimethyl-8-[2-(tetrahydro-4hydroxy-6-oxo-2H-pyran-2-yl)-ethyl]-1-naphthalenyl ester, [1S-[1a,3a,7,8(2S*,4S*),-8a ]].
STRUKTUR KIMIA
C25H38O5
KETERANGAN
Simvastatin merupakan senyawa antilipemik, Inhibitor HMG-CoA (hydroxymethylglutaryl-CoA)
reduktase
SIFAT FISIKOKIMIA
Simvastatin merupakan serbuk kristal warna putih, nonhigroskopis.;Praktis tidak larut dalam air
dan sangat larut dalam kloroform, metanol dan etanol
SUB KELAS TERAPI
Obat Kardiovaskuler
FARMAKOLOGI
Farmakodinamik/Farmakokinetik ;Onset kerja : > 3 hari ;Efek puncak : 2 minggu;Absorpsi : 85%
;Ikatan obat-protein (protein binding) ~ 95%;Metabolisme : di hati melalui CYP3A4; first-pass effect
;Bioavailabilitas : < 5%;T eliminasi : tidak diketahui ;Waktu untuk mencapai puncak : 1,3-2,4
jam;Ekskresi : feces (60%); urine (13%)
STABILITAS PENYIMPANAN
Tablet harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat pada suhu antara 5C hingga 30C
(41F hingga 86F)
KONTRA INDIKASI
Statin kontraindikasi pada pasien dengan penyakit hati yang aktif (tes fungsi hati abnormal yang
persisten) , pada kehamilan dan menyusui, porphyria
EFEK SAMPING
Myositis reversibel merupakan efek samping yang jarang tetapi bermakna (significant side effect) .
Statin juga menyebabkan sikit kepala, mempengaruhi hasil fungsi hati (hepatitis, jarang terjadi),
paraesthasia, dan efek pada saluran cerna termasuk ;nyeri abdomen,flatulence, konstipasi, diare,
mual dan muntah. Rash dan reaksi hipersensitifitas (termasuk angioedema dan anafilaksis)
dilaporkan jarang terjadi.;Efek pada otot : myalgia, myositis dan myopathy jika myopathy diduga
terjadi dan kreatinin kinase meningkat (lebih dari 5 kali batas atas nilai normal), atau timbul gejala

muskular yang berat, pengobatan tidak boleh dilanjutkan. ;Pada pasien dengan risiko tinggi
terhadap gangguan otot, pemberian statin tidak boleh dimulai jika kreatinin kinase meningkat.
Insidensi terjadinya myopahyi akan meningkat jika statin diberikan pada dosis tinggi atau diberikan
dengan fibrat, ;dengan asam nikotinat atau dengan immunosupresan seperti sklosporin ; perlu
pengawasan (monitoring) yang ketat terhadap fungsi hati dan jika kreatinin kinase menunjukakan
gejala akibat penggunaan obat tersebut.;Rhabdomyolysis dengan gagal ginjal akut sekunder hingga
myoglobinuria juga dilaporkan terjadi. ;Efek samping yang lain : alopesia, anemia, pusing, neuropati
perifer, hepatitis, jaundice, pankreatitis.
INTERAKSI MAKANAN
Hindari penggunaan etanol yang berlebihan (potensial mengakibatkan efek hepatik) ;Konsentrasi
serum simvastatin dapat ditingkatkan jika digunakan dengan jus grapefruit ; hindari penggunaan
bersama dengan jus dalam jumlah besar ( > 1 quart/hari, 1 quart = 0,9463 L);St. Johns wort dapat
menurunkan efek simvastatin.
INTERAKSI OBAT
Efek Cytochrome P450: substrat CYP3A4 (mayor); menghambat CYP2C8/9 (lemah), 2D6
(lemah);Meningkatkan efek/toksisitas : resiko myopathy/rhabdomyolyis dapat meningkat dengan
pemberian bersama senyawa penurun lipid yang dapat menyebabkan rhabdomyolysis (gemfibrozil,
turunan asam fibrat atau niasin pada dosis = 1 g/ hari),atau selama penggunaan;bersama inhibitor
CYP3A4 kuat .;Inhibitor CYP3A4 dapat meningkatkan efek/kadar simvastatin;contoh inhibitor
meliputi:antifungi golongan azol,klaritromisin,diklofenak,doksisiklin,
eritromisin,imatinib,isoniazid,nefazodon,nicardipin,propofol,inhibitor protease,kuinidin,
telitromisin ;dan verapamil.Dalam jumlah besar ( > 1 quart/hari, 1 quart = 0,9463 L), jus grapefruit
dapat meningkatkan serum konsentrasi simvastatin, meningkatkan risiko rhabdomyolysis. Pada
umumnya penggunaan bersama dengan inhibitor CYP3A4 tidak direkomendasikan;;produsen
merekomendasikan pembatasan dosis simvastatin hingga 20 mg/hari jika digunakan dengan
amiodaron atau verapamil, dan 10 mg/hari jika digunakan dengan siklosporin,gemfibrozil atau
turunan asam fibrat. ;Efek antikoagulan warfarin dapat ditingkatkan oleh simvastatin. Efek penurun
kolesterol aditif bila digunakan bersama dengan golongan sekuestran asam empedu (kolestipol atau
kolestiramin). ;Menurunkan efek: Jika digunakan dalam 1 jam sebelum atau hingga 2 jam sesudah
kolestiramin, penurunan absorpsi simvastatin dapat terjadi.
PENGARUH KEHAMILAN
Faktor risiko : X;Penggunaan statin dihindari/kontraindikasi pada wanita hamil, dilaporkan terjadi
congenital anomalies (cacat tubuh); biosintesis kolesterol penting bagi perkembangan fetus.
;penurunan syntesis kolesterol kemungkinan mempengaruhi perkembangan janin
PENGARUH MENYUSUI
Ekskresi ke dalam air susu tidak diketahui/kontraindikasi ;Produsen atorvastatin, fluvastatin,

rosuvastatin dan simvastatin menyarankan untuk menghindari penggunaan obat pada wanita
menyusui, tidak ada informasi yang tersedia
PARAMETER MONITORING
Kadar kreatin fosfokinase, serum kolesterol (total dan fraksionasi), tes fungsi hati
BENTUK SEDIAAN
Tablet
PERINGATAN
Statin harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat penyakit hati atau pasien yang
menggunakan alkohol dalam jumlah yang banyak (penggunaan dihindari pada penyakit hati yang
aktif). ;Hipotiroidisme harus diberi pengobatan yang adekuat lebih dahulu sebelum memulai
pengobatan dengan statin). Tes fungsi hati harus dilakukan sebelum pengobatan dan 1 3 bulan
setelah penggunaan obat, diteruskan tiap 6 sampai 1 tahun, ;kecuali jika terdapat tanda-tanda
hepatotoksisitas. Pengobatan harus dihentikan apabila kadar serum transminase meningkat hingga
dan bertahan 3 kali batas atas nilai normalnya.;Statin harus digunakan dengan peringatan (hatihati) pada pasien dengan faktor resiko mengalami myopathy atau rhabdomyolysis; pasien diberi
nasehat untuk melaporkan nyeri otot yang terjadi padanya.;Statin dihindari penggunaannya pada
porphyria , namun rosuvastatin aman digunakan.
INFORMASI PASIEN
Jumlah dan frekuensi penggunaan obat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi pasien,
umur dan berat badan. Bila anda mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah dan/
frekwensi pemakaian obat tanyakan pada apoteker atau dokter. ;Gunakan obat ini pada malam hari
kecuali dinyatakan lain oleh dokter atau apoteker. ;Mintalah nasehat tenaga kesehatan bila anda
makan grapefruit atau minum jus grapefruit ;Obat ini sangat efektif jika digunakan bersama dengan
olah raga dan diet mengurangi asupan makanan yang mengandung kolesterol (lemak) dan lemak
jenuh;Pasien disarankan untuk segera memberitahukan dokter jika mengalami nyeri otot, nyeri
tekan (tenderness) dan kelemahan yang tidak dapat dijelaskan.;Tes laboratorium diperlukan untuk
memonitor terapi. Pastikan hal ini dilakukan ;Jangan menghentikan pemakaian obat ini tanpa
berkonsultasi dengan dokter ;Jangan menggunakan obat melebihi jumlah yang telah diresepkan,
kecuali atas anjuran dokter.;Kondisi medis awal pasien harus diceritakan pada petugas kesehatan
sebelum menggunakan obat ini;Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa
memberitahu dokter yang merawat. Ini termasuk sediaan herbal atau suplemen makanan yang
lain;Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat setelah ingat. Jika terlewat beberapa
jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda,
kecuali atas saran dari tenaga kesehatan .;Jika lebih dari satu kali dosis terlewat, mulai kembali
pengobatan seperti awal dan mintalah nasehat dokter pada kunjungan berikutnya. ;Obat ini hanya
digunakan oleh pasien yang mendapat resep. Jangan diberikan pada orang lain.

MEKANISME AKSI
Simvastatin adalah turunan metilasi dari lovastatin yang bekerja secara kompetitif menghambat 3hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A (HMG-CoA) reduktase, enzim yang sangay berperan dalam
katalisasi biosntesis colesterol.
MONITORING
Kadar kreatin fosfokinase berkaitan dengan kemungkinan terjadinya myopathy, serum kolesterol
(total dan fraksionasi);Tes fungsi hati terutama pada awal pengobatan dan bila ada indikasi
klinik.;Pasien dengan dosis hingga 80 mg harus dilakukan tes pada awal pengobatan dan 3 bulan
sesudah pengobatan. Kemudian disarankan pemeriksaan secara periodik (tiap setengah tahun)
selama tahun pertama pengobatan. ;Pasien dengan peningkatan kadar transaminase harus disertai
tes kedua (sebagai konfirmasi) dan sering dimonitoring hingga nilai kembali normal. Penggunaan
obat dihentikan bila terjadi peningkatan ALT/AST yang menetap > 3 x ULN

KOMPOSISI
Diltiazem 30 mg : Tiap tablet mengandung Diltiazem hidroklorida 30 mg.
FARMAKOLOGI

Diltiazem adalah turunan benzodiazepin yang merupakan prototip dari antagonis


kalsium. Mekanisme kerja Diltiazem adalah mendepresi fungsi nodus SA dan AV, juga
vasodilatasi arteri dan arteriol koroner serta perifer. Dengan demikian maka diltiazem
akan menurunkan denyut jantung dan kontraktilitas otot jantung, sehingga terjadi
keseimbangan antara persediaan dan pemakaian oksigen pada iskhemik jantung.
Diltiazem efektif terhadap angina yang disebabkan oleh vasospasme koroner maupun
aterosklerosis koroner. Pemberian diltiazem akan mengurangi frekuensi serangan angina
dan menurunkan kebutuhan pemakaian obat nitrogliserin.
Pada pemberian dengan oral Diltiazem diabsorpsi kira-kira 80 90 % dan berikatan
dengan protein plasma. Efek mulai tampak kurang dari 30 menit setelah pemberian dan
konsentrasi puncak dalam plasma tercapai setelah 2 jam dengan dengan waktu paruh 4
jam. Senyawa ini dikeluarkan dalam bentuk metabolit melalui urin (35 %) dan feses (60
%).

INDIKASI

Penderita angina pektoris, menurunkan serangan angina pada penderita variant


angina.
Aritmia.

KONTRAINDIKASI

Penderita blok AV tingkat 2 3, hipotensi (tekanan sistole kurang dari 90 mmHg) dan
syok kardiogenik.
Pasien dengan gejala gangguan irama sinus, kecuali bila ada alat pacu jantung
ventikuler yang berfungsi.
Wanita hamil, wanita yang diduga usia subur.
Penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap diltiazem.
Penderita dengan infark miokardial akut dan kongesti paru-paru yang dibuktikan
dengan sinar X.

DOSIS DAN ATURAN PAKAI

Dosis untuk orang dewasa adalah 4 x 30 mg sehari, bila perlu dapat ditingkatkan
sampai 360 mg sehari.
Diltiazem sebaiknya diberikan sebelum makan dan waktu hendak tidur.

EFEK SAMPING

Efek samping Diltiazem jarang terjadi, hanya 2 10 % pasien yang mengalami nyeri
kepala, pusing, gangguan saluran cerna dan bradikardia.
Kadang-kadang dapat meningkatkan enzim fungsi hati seperti SGOT, SGPT dan
fosfatase alkalin.
Reaksi hipersensitivitas atau alergi seperti erupsi, eritemat multiforme (dalam kasus
demikian pengobatan harus dihentikan).
Pernah dilaporkan : rash, pruritus

PERINGATAN DAN PERHATIAN

Pemberian diltiazem tidak boleh dikombinasi dengan beta-bloker atau digoxin.


Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan bradikardia berat (dibawah 50
denyut/menit) atau hambatan atrioventrikuler tingkat 1.
Bila pengobatan dengan diltiazem hendak dihentikan, dosis harus diturunkan secara
bertahap dan gejala-gejala yang mungkin timbul diawasi secara teliti.
Penderita diperingatkan untuk tidak menghentikan pengobatan tanpa petunjuk dokter.
Hati-hati bila diberikan pada penderita payah jantung kongestif.
Penurunan tekanan darah sehubungan pengobatan dengan diltiazem kadang-kadang
dapat menimbulkan hipotensi simptomatik.
Keamanan pemakaian pada anak-anak belum diketahui dengan pasti.
Hati-hati bila diberikan pada wanita menyusui

INTERAKSI OBAT

Diltiazem dapat meningkatkan kadar digoxin dalam darah.


Dengan obat penghambat beta : dapat terjadi bradikardia, sinus berat, hipotensi,
gagal jantung kongestif dan meningkatkan resiko penghambat A-V.
Obat antihipertensi : dapat meningkatkan efek obat antihipertensi.

Carbamazepine : dapat menaikkan tingkat plasma carbamazepine yang menyebabkan


timbulnya gejala-gejala toksik oleh carbamazepine..
Anestesi : dapat terjadi potensiasi penurunan kontraktilitas, konduktifitas dan
otomatisitas jantung seperti dilatasi vaskuler.

DILTIAZEM
NAMA GENERIK
Diltiazem
NAMA KIMIA
Diltiazem HCl. (+)-cis-3-Acetoxy-5-(2-dimethylaminoethyl)-2,3-dihydro-2-(4methoxyphenyl)-1,5-benzothiazepin-4(5H)-one hydrochloride. C22H26N2O4S.HCl =451
STRUKTUR KIMIA
C22H26N2O4S
GB STRUKTUR KIMIA
283
KETERANGAN
SIFAT FISIKOKIMIA
Diltiazem HCl: serbuk kristalin berwarna putih atau praktis putih yang larut dalam air dan
alkohol. Inkompatibilitas: diltiazem HCl secara fisik tidak tercampurkan dengan banyak
obat seperti asetazolamid, asiklovir, aminofilin, ampisilin, kombinasi ampisilin/sulbaktam,
sefamandol, sefoperazon, diazepam, furosemid, heparin, hidrokortison natrium suksinat,
insulin, metilprednisolon natrium suksinat, mezlosilin, nafsilin, fenitoin, rifampin, dan
sodium bikarbonat.1, 2
SUB KELAS TERAPI
Antiangina
KELAS TERAPI
Kardiovaskuler

DOSIS PEMBERIAN OBAT


Angina pektoris kronis yang stabil, Prinzmetal variant angina: dosis awal diltiazem HCl
30mg 4 kali per hari. Dosis dapat dinaikkan secara perlahan-lahan dengan interval 1 - 2 hari
sampai pengontrolan angina yang optimum dapat tercapai.Dosis optimum diltiazem HCl
berkisar antara 180 - 360 mg per hari dalam dosis terbagi 3 - 4 kali. Pasien geriatri dapat
merespon dengan dosis yang lebih rendah. Setelah simtom angina terkontrol, dosis harus
perlahan-lahan diturunkan sampai dosis terendah yang dapat menghilangkan gejala.
Apabila diltizam HCl diberikan dalam bentuk sediaan kapsul lepas lambat, dosis awal
biasanya 120 atau 180 mg per hari. Bila dosis perlu dinaikkan, dosis harus dititrasi dalam
waktu 7 - 14 hari.1 ;Hipertensi: untuk pengobatan monoterapi dengan diltiazem, dosis awal
untuk sediaan lepas lambat Herbesser 90 SR 2 kali/hari, Herbesser 180 SR 1 kali/hari,
Herbesser CD 100 - 200 mg 1 kali/hari. Untuk diltiazem tablet biasa (immeadiate-release)
dosis awal 30mg 3 kali/hari dan dosis maksimum 360 mg/hari dapat digunakan dalam
dosis terbagi 3 - 4 kali/hari.1;Supraventricular Tachyarrythmia: Paroxysmal
Supraventricular Tachycardia (PSVT). Untuk kembali segera ke ritme sinus normal , dosis
IV awal 20 mg (0,25mg/kg) dengan waktu pemberian 2 menit. Bila pasien dapat mentolerir
dosis pertama, tidak terjadi hipotensi tetapi respon belum adekuat, dosis kedua 25 mg
(0,35mg/kg) dapat diberikan 15 menit setelah dosis pertama. Atrial fibrillation dan flutter.
Untuk mengontrol sementara ventrikular rate yang cepat pada orang dewasa dengan atrial
fibrillation atau atrial flutter, diltiazem IV bolus 20mg (0,25 mg/kg) diberikan selama 2
menit. Bila pasien dapat mentolerir dosis pertama tetapi respon belum adekuat, dosis kedua
25 mg (0,35 mg/kg) selama 2 menit dapat diberikan 15 menit setelah dosis pertama.1
FARMAKOLOGI
Diltiazem bekerja dengan menghambat influx transmembran ion kalsium ekstraselular ke
membran sel miokardial dan sel otot polos vaskular, tanpa merubah konsentrasi kalsium
dalam serum. Dengan menghambat influx kalsium, diltiazem menghambat proses kontraksi
otot jantung dan otot polos vaskular; sehingga melebarkan arteri koroner dan arteri
sistemik utama dan menurunkan kontraktilitas miokardial. Pada pasien dengan Prinzmetal
variant angina (vasospastic angina), dengan menghambat spasme, diltiazem meningkatkan
pengiriman oksigen ke miokardial.1
STABILITAS PENYIMPANAN
Absorpsi. Oral 80 %. Bioavailabilitas 40 %. Terikat dengan plasma protein 80%.
Terdistribusi ke air susu. Dimetabolisme secara ekstensif di liver (first-past hepatic
metabolism); salah satu metabolitnya, desasetildiltiazem mempunyai 25 - 50% aktivitas

dari senyawa induknya. T diltiazem 3 - 5 jam. 2 - 4% dari dosis di ekskresi dalam bentuk
tidak berubah di air seni dan sisanya diekskresi sebagai metabolitnya di air seni dan lewat
air empedu.1,2
KONTRA INDIKASI
Diltiazem HCl oral harus disimpan dalam wadah tertutup rapat terlindung dari cahaya.
Setelah direkonstitusi, serbuk diltiazem HCl dosis tunggal untuk injeksi hanya stabil selama
24 jam pada temperatur kamar; sisa obat yang tidak terpakai harus dibuang.1
EFEK SAMPING
Hipersensitifitas terhadap diltiazem, sick sinus syndrome (kecuali bila menggunakan
ventrikular pacemaker), second atau third degree AV block (kecuali bila menggunakan
ventrikular pacemaker), atau hipotensi yang parah (sistolik<90 mmHg), atau syok
kardiogenik. Diltiazem oral kontraindikasi pada pasien dengan infark miokard akut dengan
kongesti paru. Diltiazem jangan digunakan pada pasien dengan ventrikular
tahikardi..Diltiazem harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gagal jantung,
terutama yang juga menggunakan penyekat beta atau digoksin, karena diltiazem dapat
memperburuk gagal jantung pada pasien-pasien ini karena kemungkinan efek inotropik
negatifnya. 1
INTERAKSI MAKANAN
Digoksin. Monitor kadar dan gejala toksisitas digoksin bila diberikan bersamaan dengan
diltiazem terutama pada pasien geriatri, pasien dengan fungsi ginjal tidak stabil. Juga
dimonitor turunnya denyut jantung yang berlebihan, dan atau AV block. Simetidin.
Simetidin dapat meningkatkan kosentrasi plasma diltiazem sebanyak 58% bila diberikan
bersamaan, diduga karena simetidin menghambat sistem sitokhrom P-450. Siklosporin,
karbamazepin, benzodiazepin, lovastatin. Diltiazem dapat meningkatkan kosentrasi
siklosporin, karbamazepin, benzodiazepin (midazolam, triazolam) dan lovastatin dalam
darah sehingga meningkatkan toksisitasnya. Rifampin. Rifampin menurunkan
bioavailabilitas dan meningkatkan klearans dari diltiazem dengan menginduksi enzim
CYP3A yang memetabolisme diltiazem. Kombinasi diltiazem dan rifampin harus dihindari.
Penyekat beta. Penggunaan bersamaan penyekat beta dengan diltiazem dapat mempunyai
efek negatif terhadap kontraktilitas miokardial, denyut jantung (bradikardi), dan konduksi
AV.1

INTERAKSI OBAT
Kardiovaskular:3,2-3,4%: hipotensi. 1%: bradikardi, atrial fibrillasi atau flutter, sakit
dada, murmur jantung, tahikardi, phlebitis, muka pucat (pallor), asistol asimtomatik, sinus
pause, disfungsi sinus node, gagal jantung, AV block, bundle-branch block, ECG abnormal,
PVC, sinkop, dan palpitasi. 2,5-9% bengkak atau edema (diltiazem oral). Gastrointestinal:
s/d 3%: nausea. ; < 2% anoreksia, muntah, diare, sakit perut, paralytic ileus, dispepsia,
disgeusia, gangguan gigi, kolitis, flatulens, pendarahan gastrointestinal, gastrik ulser, haus,
kenaikan berat badan, konstipasi, dan mulut kering. Sistem saraf. 1-5%: sakit kepala,
mengantuk, insomnia, mimpi yang tidak normal, pusing atau astenia. ;< 1%: amnesia,
depresi, gaya berjalan tidak normal, neuropati, berkeringat, parestesia, malaise, demam,
tinnitus, tremor, vertigo, hipertonia, gelisah, gangguan kepribadian, dan halusinasi. Hepatik
: Meningkat tes fungsi liver (seperti serum SGOT, SGPT, LDH, kreatin kinase, alkalin
fosfatase, bilirubin). Lokal dan dermatologi. 1%: Ruam. Ruam bisa sementara dan membaik
dengan obat diteruskan; tetapi, erupsi kulit walaupun jarang dapat berlanjut menjadi
eritema multiforme, toksik epidermal neurolisis, sindroma Stevens-Johnson, dan atau
exfoliatis dermatitis. < 1%: reaksi fotosensitifitas, petechiae, urticaria, hipertrofi kulit, dan
pruritus. Alopecia (jarang).1
PENGARUH ANAK
Penggunaan pada ibu menyusui tidak direkomendasikan.1
PENGARUH HASIL LAB
Keamanan dan efikasi diltiazem pada anak-anak belum diketahui.1
PENGARUH KEHAMILAN
Konsentrasi serum diltiazem dapat meningkat jika digunakan bersama makanan.6
PENGARUH MENYUSUI
Kategori C. Sejauh ini belum ada studi yang adekuat dan terkontrol dalam penggunaan
diltiazem pada ibu hamil. Diltiazem digunakan pada kehamilan hanya apabila
keuntungannya melebihi kemungkinan resiko terhadap janin.1
PARAMETER MONITORING
Meningkatkan aminotransferase [ALT(SGPT)/AST(SGOT)], LDH, kreatin kinase (CK,
kreatin fosfokinase, CPK), alkaline fosfatase, dan bilirubin.1

BENTUK SEDIAAN
Tekanan darah, denyut jantung, dan ECG terutama pada awal terapi. Amati gejala
hipotensi, dan gagal jantung.4
PERINGATAN
Tablet 30 mg, 60 mg. Tablet lepas lambat: SR 90 mg, SR 180 mg, CD 100mg, CD 200 mg.
Larutan injeksi: vial 5 mg/ml (5 ml), ampul 10 mg. Suppositoria anak:10 mg, suppositoria
dewasa:20 mg, rectal tube:10 mg/2,5 ml.2
KASUS TEMUAN
Kurangi dosis pada pasien dengan fungsi hepar dan fungsi ginjal terganggu; gagal jantung
atau fungsi ventrikular kiri yang terganggu, bradikardi (cegah penggunaan bila serius), AV
blok derajat pertama atau interval PR yang memanjang. Untuk pengobatan hipertensi
sebaiknya digunakan diltiazem lepas lambat karena khawatir dengan efek samping pada
penggunaan diltiazem yang kerjanya pendek (short-acting, immediate-release) seperti
halnya yang ditakutkan pada penggunaan nifedipine short-acting.4
MEKANISME AKSI
Pasien melaporkan bila pusing, kaki bengkak, atau sesak nafas (untuk angina). Pasien
sebaiknya mencatat berapa sering nyeri dada, dan jumlah nitrat dibawah lidah (sublingual)
yang digunakan.4
MONITORING
Tidak ada data
DAFTAR PUSTAKA
Kepatuhan penggunaan obat, efek samping obat: hipotensi, bradikardi, pusing, bengkak
kaki, palpitasi.1,5