Anda di halaman 1dari 19

Pendahuluan

Pemeriksaan radiografi pada abdomen dan cavum pelvis dilkakukan


untuk beberapa alasan, antara lain :

Gambaran Patologi Ileus pada Foto Abdomen

Obstruksi atau sumbatan pada usus besar

Perforasi

Renal Pathology

Acute Abdomen (dengan diagnosis klinis yang tak jelas)

Melokalisasi benda asing

Toxic Megacolon

Aneurisma Aorta

Untuk mengawali pemeriksaan radiografi yang menggunakan media


kontras,seperti Intravena Urografi (IVU) untuk menggambarkan
apabila terdapat batu ginjal raiopaque atau batu empedu
radiopaque pada saat mengawali pemeriksaan usus besar.

Untuk mendeteksi calsifikasi atau adanya kumpulan udara


abnormal, sebagai contoh abses

Pemeriksaan radiografi dengan menggunakan media kontras secara


oral dengan menggunakan barium.
Parameter Gambar
Meskipun

teknik

pemeriksaan

radiografi

abdomen

bergantung

terhadap kondisi pasien, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan


untuk setiap pemeriksaan abdomen plain dan cavum pelvis.
Ketajaman dan kontras gambar yang maksimal diperlukan sehingga
batas struktur dari organ-organ soft tissue dapat terlihat jelas.
Pemeriksaan radiografi abdomen pada umumnya dilakukan dengan
menggunakan meja pemeriksaan dengan memanfaatkan moving
grid. Meskipun begitu, hal ini juga bergantung pada kondisi pasien,
pemeriksaan abdomen juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan
stationary grid pada pasien yang menggunakan brancar di ruangan
atau pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan mobile XRay Machine.
Pasien harus benar-benar terfiksasi dan eksposi dilakukan pada saat
pasien tahan nafas setelah full expiration.
Sebagai gambaran, berikut parameter yang dapat digunakan pada

pemeriksaan

abdomen,

masing-masing

(catatan,

berbeda

dan

kondisi

pesawat

memiliki

Sinar-X

protokol

serta

ketentuan dari pabrikan masing-masing) :


Anti Scatter Grid

: R=10 (8); 40/cm

FFD

: 115 (100-150)cm

Radiographic Voltage

: 79-90 kVp

Exposure Time

: Kurang dari 200 ms

Kriteria Anatomi yang Tampak


Keseluruhan

daerah

abdomen

tercover,

sehingga

gambaran

diafragma hingga shymphysis pubis dan Lateral Properitoneat fat


stripe tampak untuk kasus acute abdomen
Visualisasi dari keseluruhan organ-organ saluran kemih (ginjal,
ureter dan bladder-KUB)
Visualisasi ketajaman gambaran tulang dan interface antara airfilled bowel dengan jaringan-jaringan lunak di sekitarnya dengan
tidak adanya overlying artefacts, sebagai contoh: Pakaian pasien.
Pada penyakit yang berhubungan dengan adanya batu, perbedaan
gambaran antar jaringan memungkinkan untuk memvisualisasikan
adanya batu yang berukuran kecil, atau batu dengan opasitas yang
rendah.
Proteksi Radiasi yang Dilakukan
Untuk pasien yang sedang hamil, hanya boleh dilakukan saat kasuskasus yang benar-benar gawat
Gonad Shielding dapat digunakan, namun apabila pada posisi-posisi

tertentu dapat menutupi bagian-bagian penting yang menunjukkan


patologi, sebaiknya tidak perlu digunakan.
Perencanaan

yang

baik

sebelum

prosedur

digunakan,

dapat

mengurangi resiko terjadinya pengulangan foto, sehingga dapat


membatasi dosis radiasi yang diterima oleh pasien.
Teknik Pemeriksaan
Pemeriksaan Abdomen Posisi Supine
Untuk

memberikan

gambaran

obstruksi

usus,

neoplasma,

kalsifikasi,asites dan Plain Photo sebelum pemeriksaan dengan


menggunakan media kontras
Posisi Pasien dan kaset
Pasien supine di atas meja pemeriksaan, dengan Mid Sagital Plane
pasien parallel dengan meja pemeriksaan, dengan kedua kaki
ekstensi dan beri pengganjal pada bagian bawah lutut, agar lebih
nyaman.
Kedua lengan diletakkan di samping tubuh. Pelvis diposisikan agar
anterior

superior

iliac

spines

sama

jaraknya

terhadap

meja

pemeriksaan.
Kaset dipasang longitudinal/portrait dan diposisikan agar daerah
Shimphysis Pubis masuk pada batas bawah film.
Pertengahan kaset kira-kira berada pada letak setinggi 1 cm di
bawah Krista Iliaka. Hal ini berfungsi untuk memastikan agar
Shymphisis Pubis masuk dalam lapangan penyinaran.

Pastikan tidak ada rotasi pada bahu dan pelvis.

Posisi Pasien Supine AP

Central Ray

Central Ray tegak lurus terhadap kaset dan CP setinggi Krista


Iliaka.

Gunakan pemilihan waktu eksposi yang sesingkat mungkin.

Kriteria Radiograf Posisi AP Supine

Catatan
Pada pasien yang memiliki abdomen tebal, dapat digunakan
Imobilization

Band

untuk

mengkompresi

Soft

Tissue

dan

mengurangi efek radiasi hambur.


Memastikan marker posisi dan marker anatomi masuk pada daerah
lapangan penyinaran.
Jika

pasien

tidak

memungkinkan

untuk

dipindah

ke

meja

pemeriksaan akibat nyeri perut yang berlebih, maka penggunaan


Stationary Grid dapat dilakukan. Penggunaan FFD yang tepat juga
perlu dilakukan begitu juga dengan CR yang harus tepat pada

pertengahan kaset, agar tidak terjadi Cut Off.

Pemeriksaan Abdomen Posisi Erect (posisi pasien duduk


tegak)
1

Posisi pasien dan posisi kaset


Mengaturtur faktor eksposi dan posisi tabung Sinar-X sehingga
pengaturan sinar horizontal berada pada ketinggian yang tepat,
pasien berada pada posisi siap, kondisi tubuh tegak 90 sehingga
tepat berhadapan dengan tabung Sinar-X.
Memperhatikan posisi paha, atur pada posisi Abduksi, sehingga Soft
Tissue pada paha tidak menutupi seluruh bagian cavum pelvis.
Mengatur MSP agar parallel terhadap Stand Bucky,maupun Grid dan
kaset.
Posisi kaset terpasang secara vertical di belakang punggung pasien,
dan memastikan bagian atau batas atas kaset tidak terpasang pada
bagian bawah mid-sternum.

Posisi Pasien Duduk Tegak

Central Ray
Memastikan pengaturan berkas sinar horizontal dan FFD benarbenar tepat
Eksposi dilakukan pada saat pasien ekspirasi, setelah eksposi
dilakukan, kembalikan pasien pada posisi supine kembali

Kriteria Radiograf Posisi Duduk Tegak

Esensi Anatomi
Radiograf harus mampu menunjukkan lekuk diafragma untuk
memastikan ada atau tidaknya udara bebas pada peritoneal cavity.
4 Catatan
Faktor eksposi menggunakan mA tinggi dan waktu eksposi yang
singkat dan meningkatkan nilai kV antara 7-10kVp dari faktor
eksposi yang digunakan untuk pemeriksaan abdomen supine.
Pada kasus pasien suspek perforasi, pasien harus tetap berada pada
posisi erect, idealnya selama 20 menit sebelum dilakukan eksposi,
untuk memberi waktu agar udara bebas dapat naik.

Proyeksi Antero Posterior-Left Lateral Decubitus


Proyeksi ini dilakukan apabila pasien tidak dapat diposisikan secara
tegak berdiri ataupun duduk tegak untuk mempejelas ada atau
tidaknya udara bebas pada subdiaphragmatic yang terlihat pada
proyeksi AP supine. Proyeksi ini juga digunakan untuk memastikan
ada atau tidaknya obstruksi.
Dengan posisi pasien berbaring miring kea rah kiri, udara bebas
akan naik, dan berada di antara lateral margin dari liver dan dinding
lateral abdominal bagian kanan. Untuk member waktu agar udara
bebas terkumpul pada daerah tersebut, pasien diposisikan tidur
miring ke arah kiri selama 5-20 menit sebelum eksposi dilakukan.
1

Posisi Paien dan Kaset

Pasien tidur miring pada sisi kiri dengan siku dan lengan fleksi,
sehingga tangan dapat diletakkan di dekat kepala, kedua lutut
fleksi.

Kaset yang digunakan berukuran 35 x 43 cm, diposisikan secara


tranversal

pada

Ventrical

Bucky

atau

bila

tidak

punya,

menggunakan grid dan kaset yang dipasang secara vertical di


belakang dengan bagian atas kaset cukup untuk menunjukkan
bagian atas dari Right Lateral Abdominal dan dinding Thoracic.

Sedikit bagian dari paru-paru yang berada di atas diafragma harus


masuk pada gambaran

Posisi pasien di atur, agar MSP tubuh pasien benar-benar paralael


terhadap kaset dan grid (tidak ada rotasi pada bahu mupun pelvis).

Posisi Paien LLD

Central Ray

Sinar Horizontal langsung tepat menuju aspek anterior pasien dan


CP tepat pada 2 inchi di atas Krista Iliaka (agar daerah diafragma
masuk pada gambaran), batas atas kaset terletak setinggi axilla.

Eksposi dilakukan saat setelah ekspirasi dan tahan nafas.

Kriteria Radiograf Posisi LLD

Daftar Pustaka
Bontrager, Kenneth. L, 2003, Text Book Of Radiographic Positioning
And Related Anatomy, Fifth Edition, The Mosby, St. Louis
Alsop,C.,W.,Hoadley,G., Moore, A.D.,Sloane,C.,L.,Whitley,A.S. 2005,
Clarks Positioning In Radiography 12th Edition, Oxford University
Press, New York.

Pendahuluan
Rektum

panjangnya

sekitar

12

cm

berada

di

pertengahan cekungan dan bagian bawah sakrum.


Dua

pertiga

peritoneum.

atas

rektum

Peritoneum

anterior
di

diliputi

anterior

oleh

rektum

berhadapan dengan dasar kandung kemih pada pria


dan pada wanita membentuk kavum Douglas (rektouterin), terisi oleh usus. Pada pria sepertiga bawah
anterior rektum berhadapan dengan prostat, dasar
kandung kemih dan vesikula seminalis sedangkan
pada wanita dengan vagina.
Anus memiliki panjang 3-4 cm dan memfiksasi rektum
pada perineum. Dinding anus diperkuat oleh otot
sfingter, otot volunter sfingter eksternal dan involunter
sfingter internal. Otot ini berkonstriksi memberikan
tegangan dan kontinensia. Mukosa rektum dapat
langsung dilihat dengan proktoskop atau sigmoidoskop
dan dapat diperiksa melalui palpasi yaitu bagian anus,
rektum dan prostat.

Gambar 1. Anatomi rektum dan anus


1

Gambar 2. Anatomi otot sfingter ani


2

Gambar 3. Posisi pasien

Gambar 4. Posisi anus

Gambar 5. Inspeksi anus

Ga
mbar 6. Beberapa kelainan yang tampak pada
pemeriksaan inspeksi anus. (a) sinus pilonidal di natal
cleft, (b) Warts, (c) hemoroid eksterna mengalami
trombosis, (d) prolaps mukosa rektum, (e) warna
kebiruan pada penyakir Crohn.
3

Gambar

7. Pemeriksaan rektum. (a) tempelkan ujung


jari ke anus, (b) masukkan jari ke rektum, (c) putar jari
ke anterior.
Indikasi colok dubur- curiga apendisitis- perdarahanperubahan pola defekasi- bagian dari pemeriksaan
abdomen - gangguan genitourinari
- trauma pelvis atau spinal
Persiapan alat dan bahan
1. Kasur periksa
2. Handscoon
3. Jeli lubrikan

4. Kassa atau kertas tissu


Perlu ada dijelaskan sebelumnya pada pasien

Prosedur yang akan dilakukan

Indikasi, kontraindikasi dan komplikasi

Bahwa tidak terlalu menyakitkan

Menimbulkan rasa penuh di rektum dan ingin defekasi


Langkah pemeriksaan
Posisikan pasien miring lateral kiri, sendi pinggul dan
lutut fleksi, bokong berada di tepi kasur periksa. Posisi
anus dideskripsikan seperti posisi jarum jam.

Perlahan sibak bokong sehingga telihat anus.


Inspeksi adanya kelainan kulit, warts, fissura, fistula,
hemoroid eksterna atau prolaps mukosa rektum. Kulit
perineum kebiruan dapat ditemukan pada penyakit
Crohn. Kulit teraba nyeri dapat karena infeksi (misal
abses perianal), fisura dan fistula in ano atau
trombosis hemoroid eksternal.

Minta pasien meneran untuk melihat tanda prolaps.

Pakai handscoon, lubrikasi telunjuk dengan jeli


lubrikan.
Minta pasien rileks dan mengambil napas dalam,
beberapa saat kemudian tempelkan dan tekan
pinggiran anus dengan ujung jari menghadap jam 6.
Saat sfingter anus relaksasi perlahan masukkan jari ke
dalam anus dan ke rektum, arahkan ke bagian
posterior
saluran mengikuti lengkung sakrum.

Referensi
Epstein O et al. Clinial Examination second edition.
1997, Barecelona Spain: Times Mirror International
Publishers Limited.