Anda di halaman 1dari 50

REFARAT

KELAINAN KELOPAK

OLEH:
DERIX FALDEINSCOUV
N 111 13 069

PEMBIMBING
dr. SAUL DANIEL RAPAR, Sp. M

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
RSUD UNDATA-FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITS TADULAKO
PALU
2015

LEMBAR PENGESAHAN

Nama

: Derix Faldeinscouv

Nim

: N 111 13 069

Program Studi

: Pendidikan Dokter

Fakultas

: Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas

: Tadulako

Judul

: Kelainan Kelopak

Bagian

: Ilmu Kesehatan Mata

Bagian Ilmu Kesehatan Mata


RSUD Undata Palu
Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Tadulako

Palu, Agustus 2015

Pembimbing Klinik Co-Asistant

dr. Saul Daniel Rapar, Sp.M

Co-Asistant

Derix Faldeinscouv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
DAFTAR ISI
BAB I
Pendahuluan... 1
BAB II
Tinjauan Pustaka 2
Anatomi Kelopak Mata. 2
Definisi... 4
Kelainan Kelopak Mata. 5
Deformitas Anatomik Palpebra..18
Trauma Palpebra 32
Tumor Palpebra.. 33
BAB III
Kesimpulan 45
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Palpebra adalah lipatan tipis yang terdiri atas kulit, otot, dan jaringan fibrosa,
yang berfungsi melindungi struktur-struktur mata yang rentan. Palpebra sangat
mudah digerakkan karena kulitnya paling tipis di antara kulit di bagian tubuh yang
lain. Kelopak mata atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta
mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film air mata di depan kornea.
Kelopak merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata
terhadap trauma, trauma sinar dan keringnya bola mata. Kelopak membasahi
permukaan kornea dengan berkedipnya kelopak secara teratur. Kelopak berkedip
setiap 14-16 detik.
Oleh karena itu, berdasarkan hal-hal di atas kelopak mata merupakan suatu
bagian yang penting untuk mata. Namun kelopak mata juga tidak jarang mengalami
gangguan masalah seperti infeksi, peradangan, deformitas, trauma, dan tumor.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI KELOPAK MATA
Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan
sedangkan dibagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut
konjungtiva tarsal. Konjungtiva tarsal hanya dapat dilihat dengan eversi
kelopak. Konjungtiva tarsal melalui forniks menutup bulbus okuli.
Konjungtiva merupakan membrane mukosa yang mempunyai sel Goblet
yang menghasilkan musin.
Pada kelopak terdapat rambut halus yang hanya tampak dengan
pembesaran. Di bawah kulit terdapat jaringan areolar longgar yang bisa
mengembang pada edema masif. Musculus orbicularis oculi melekat pada
kulit. Permukaan dalamnya dipersarafi nervus cranialis facialis (VII), dan
fungsinya adalah untuk menutup palpebra. Otot ini terbagi atas bagian
orbital, praseptal, dan pratarsal. Bagian orbital, yang terutama berfungsi
untuk menutup mata dengan kuat, adalah suatu otot sirkular tanpa insersio
temporal. Otot praseptal dan pratarsal memiliki caput medial superfisialis dan
profundus yang berperan dalam pemompaan air mata.
Tepian palpebra ditunjang oleh tarsus yaitu lempeng fibrosa kaku
yang dihubungkan ke tepian orbita oleh tendo-tendo kantus medialis dan
lateralis. Septum orbitale, yang berasal dari tepian orbita, melekat pada

aponeurosis levatoris, kemudian menyatu dengan tarsus. Pada palpebra


inferior, septum bergabung dengan tepi bawah tarsus. Septum merupakan
sawar yang penting antara palpebra dan orbita. Di belakangnya terdapat
bantalan lemak pra-aponeurotik, suatu petunjuk bedah yang penting.
Bantalan lemak tambahan terletak di medial palpebra superior. Di bawah
septum orbitale, palpebra memiliki dua bantalan lemak yang terpisah secara
anatomis.
Terbenam di dalam lemak terdapat kompleks otot levator-retraktor
utama palpebra superior dan padanannya, Fasia Kapsulo palpebra di palpebra
inferior otot levator berorigo di apeks orbita. Saat memasuki palpebra, otot
ini membentuk aponeurosis yang melekat pada sepertiga bawah tarsus
superior. Pada palpebra inferior fasia kapsulopalpebra berasal dari musculus
rectus inferior dan berinsersio pada batas bawah tarsus. Ia berfungsi menarik
palpebra inferior saat melihat ke bawah. Musculus tarsalis superior dan
inferior membentuk lapisan berikutnya yang melekat pada konjungtiva. Otototot simpatis ini juga merupakan retractor palpebra. Konjungtiva palpebralis
menyatu dengan konjungtiva yang berasal dari bola mata dan mengandung
kelenjar-kelenjar yang penting untuk pelumasan kornea.
Palpebra superior lebih besar dan lebih mudah digerakan daripada
palpebra inferior. Sebuah alur yang dalam biasanya terdapat diposisi tengah
palpebra superior bangsa kulit putih, merupakan tempat melekatnya serat-

serat otot levator. Alur ini jauh lebih dangkal atau bahkan tidak ada pada
palpebra orang Asia. Dengan meningkatnya usia, kulit tipis palpebra superior
cenderung menggantung di atas alur palpebra tersebut dan bisa sampai
menyentuh bulu mata. Penuaan juga menipiskan septum orbitale sehingga
terlihat bantalan lemak di bawahnya.
Kantus lateralis terletak 1-2 mm lebih tinggi dari kantus medialis.
Karena longgarnya insersio tendo ke tepian orbita, kantus lateralis akan
sedikit naik saat melihat ke atas.
B. DEFINISI
Palpebra adalah lipatan tipis yang terdiri atas kulit, otot, dan jaringan
fibrosa, yang berfungsi melindungi struktur-struktur mata yang rentan.
Palpebra sangat mudah digerakkan karena kulitnya paling tipis di antara kulit
di bagian tubuh yang lain. Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi
melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk
film air mata di depan kornea. Kelopak merupakan alat menutup mata yang
berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan
keringnya bola mata.

C. KELAINAN KELOPAK MATA


1. Infeksi dan Radang Palpebra
a. Infeksi kelopak atau blefaritis
Blefaritis adalah radang yang sering terjadi pada kelopak mata
merupakan radang kelopak dan tepi kelopak. Radang bertukak atau
tidak pada tepi kelopak biasanya melibatkan folikel dan kelenjar
rambut.
Blefaritis disebabkan infeksi dan alergi berjalan kronis atau
menahun. Blefaritis alergi dapat terjadi akibat debu, asap bahan
kimia, iritatif, dan bahan kosmetik. Infeksi kelopak desebabkan
Streptococcus alfa atau beta, Pneumococcus, dan Pseudomonas.
Demodex folliculorum selain dapat merupakan penyebab merupakan
vector umtuk terjadinya infeksi staphylococcus. Dikenal untuk
blefaritis skuamosa, blefaritis ulseratif, dan blefaritis angularis.
Gejala umum blefaritis adalah kelopak mata berwarna merah,
bengkak, nyeri, eksudat lengket, dan epiforia. Blefaritis sering disertai
dengan konjungtivitis dan keratitis.
Biasanya blefaritis sebelum diobati dibersihkan dengan garam
fisiologik hangat, dan kemudian diberi antibiotic yang sesuai.
Penyulit blefaritis yang dapat timbul adalah konjungtivitis, keratitis,
hordeolum. Kalazion, dan madarosis.

Gambar Blefaritis

Blefaritis bacterial
Infeksi bakteri pada kelopak mata dapat ringan sampai berat.
Diduga

sebagian

besar

infeksi

kulit

superfisial

kelopak

diakibatkan streptococcus. Bentuk infeksi kelopak dikenal sebagai


folikulitis, impertigo, dermatitis eksamatoid.
Pengobatan pada infeksi ringan adalah dengan memberikan
antibiotic local dan kompres basah dengan asam borat. Pada
blefaritis sering diperlukan kompres air hangat. Infeksi yang berat
perlu diberikan antibiotic sistemik.

Blefaritis superfisial
Pada

infeksi

kelopak

superficial

disebabkan

oleh

Staphylococcus maka pengobatan yang terbaik adalah dengan


salep antibiotik seperti sulfasetamid dan sulfisoksazol. Sebelum
pemberian antibiotik krusta diangkat dengan kapas basah. Bila
terjadi blefaritis maka dilakukan penekanan manual kelenjar

Meibom untuk mengeluarkan nanah dari kelenjar Meibom


(Meibom mianitis), yang biasanya menyertainya.

Blefaritis seboroik
Blefaritis seboroik biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut
(50 tahun), dengan keluhan mata kotor, panas dan rasa kelilipan.
Gejalanya adalah sekret yang keluar dari kelenjar Meibom, air
mata berbusa pada kantus lateral, hyperemia dan hipertrofi papil
pada konjungtiva. Pada kelopak mata dapat terbentuk kalazion,
hordeolum madarosis, poliosis dan jaringan keropeng.
Blefaritis seboroik merupakan peradangan menahun yang
sukar

penanganannya.

Pengobatannya

adalah

dengan

memperbaiki kebersihan dan memebersihkan kelopak dari


kotoran. Dilakukan pembersihan dengan kapas lidi hangat. Dapat
dilakukan

pembersihan

dengan

nitrat

argenti

1%.

Salep

sulfonamide berguna pada aksi keratolitiknya. Kompres hangat


selama 5-10 menit. Kelenjar Meibom ditekan dan dibersihkan
dengan shampoo bayi. Pada blefaritis seboroik antibiotik
diberikan local dan sistemik seperti tetrasiklin oral 4 kali 250 mg.
Penyulit yang dapat ditimbulkan berupa flikten, keratitis
marginal, ulkus kornea vaskularisasi, horedolum dan madarosis.

Blefaritis skuamosa
Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai terdapatnya
skuama atau krusta pada pangkal bulu mata yang bila dikupas
tidak mengakibatkan terjadinya luka kulit. Merupakan peradangan
tepi kelopak terutama yang mengenai kelenjar kulit di daerah akar
bulu mata dan sering terdapat pada orang dengan kulit berminyak.
Penyebab blefaritis skuamosa adalah kelainan metabolik
ataupun oleh jamur. Pasien dengan blefaritis skuamosa akan
merasa panas dan gatal. Pada blefaritis skuamosa terdapat sisik
berwarna halus-halus dan penebalan margo palpebra disertai
madarosis. Sisik ini mudah dikupas dari dasarnya tanpa
mengakibatkan perdarahan.
Pengobatan blefaritis skuamosa ialah dengan membersihkan
tepi kelopak dengan shampoo bayi, salep mata, dan steroid,
setempat disertai dengan memperbaiki metabolisme pasien.

Gambar Blefaritis Skuamosa

Blefaritis ulseratif
Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan
tukak akibat infeksi Staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif
terdapat keropeng berwarna kekuning-kuningan yang bila
diangkat akan terlihat ulkus yang kecil dan mengeluarkan darah
disekitar bulu mata. Pada blefaritis ulseratif skuama yang
terbentuk bersifat kering dan keras, yang bila diangkat akan luka
dengan disertai pendarahan. Penyakit berfiat sangat infeksius.
Ulserasi berjalan lanjut dan lebih dalam dan merusak folikel
rambut sehingga mengakibatkan rontok (madarosis).
Pengobatan dengan antibiotic dan hygiene yang baik.
Antibiotik yang digunakan berupa sulfasetamid, gentamisin, atau
basitrasin. Biasanya disebabkan stafilokok maka diberi obat
Staphylococcus. Apabila ulseratif luas pengobatan harus ditambah
antibiotik sistemik dan diberi roboransia.
Penyulitnya adalah madarosis akibat ulserasi berjalan lanjut
yang merusak folikel rambut, trikiasis, keratitis superficial,
keratitis pungtata, hordeolum, dan kalazion. Bila ulkus kelopak ini
sembuh maka akan terjadi tarikan jaringan parut yang juga dapat
berakibat trikiasis.

Blefaritis angularis
Blefaritis angularis merupakan infeksi Staphylococcus pada
tepi kelopak di sudut kelopak atau kantus. Blefaritis angularis
mengenai sudut kelopak mata (kantus eksternus dan internus)
sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi pungtum
lakrimal. Blefaritis angularis disebabkan Staphylococcus aureus
atau Morax Axenfeld. Kelainan ini pada umumnya bersifat
rekuren.
Blefaritis angularis diobati dengan sulfa, tetrasiklin dan
sengsulfat. Penyulit pada pungtum lakrimal bagian medial pada
sudut balik mata yang akan menyumbat pada duktus lakrimal.

Blefaritis Virus
Pada blefaritis virus terdapat beberapa infeksi seperti virus
herpes zoster, herpes simpleks, vaksinia, moluskum kontagiosum,
dan veruca vulgaris.

Pada virus herpes zoster terjadi infeksi pada ganglion gaseri


saraf trigeminus. Biasanya herpes zoster akan mengenai orang
dengan usia lanjut. Bila terkena ganglion cabang oftalmik maka
akan terlihat gejala-gejala herpes zoster pada mata dan kelopak
mata atas. Pengobatan herpes zoster tidak merupakan obat spesifik
tapi merupakan simtomatik. Pada infeksi herpes zoster diberikan
analgesik untuk mengurangkan rasa sakit.
Pada herpes simpleks vesikel kecil dikelilingi eritema yang
dapat disertai dengan keadaan yang sama pada bibir. Dikenal
bentuk radang blefaritis simpleks yang merupakan radang tepi
kelopak rnigan dengan terbentuknya krusta kuning basah pada
tepi bulu mata, yang mengakibatkan kedua kelopak lengket. Tidak
terdapat pengobatan spesifik bila terdapat infeksi sekunder dapat
diberikan antibiotik sistemik dan topikal.
Pada infeksi vaksinia akan terdapat kelainan pada kelopak
berupa pustula dengan indentitas pada bagian sentral. Tidak
terdapat pengobatan spesifik untuk kelainan ini.
Moluskum kontangiosum pada kelopak mata akan terliha
sebagai benjolan dengan pengaungan di tengah yang biasanya
terletak pada tepi kelopak. Pengobatan moluskum tidak ada yang

spesifik atau dilakukan ekstirpasi benjolan, antibiotik lokal


diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.

Gambar Blefaritis Virus

Veruca Vulgaris
Veruca Vulgaris merupakan nodul hiperkeratotik papilamatosa
yang lain pada wajah dan palpebra; disebabkan oleh virus kutil,
suatu virus DNA yang merupakan kelompok papovavirus.
Krioterapi merupakan pilihan utama untuk hampir semua veruka
vulgaris. Terapi pembedahan dengan kauter juga menjadi pilihan
untuk veruca vulgaris.

Blefaritis jamur
Infeksi jamur pada kelopak dibagi menjadi dua, yaitu infeksi
superfisial dan infeksi jamur dalam.
Infeksi jamur pada kelopak superficial biasanya diobati
dengan griseofulvin terutama efektif untuk epidermomikosis.
Diberikan 0,5-1 gram sehari dengan dosis tunggal atau dibagi rata.
Pengobatan diteruskan 1-2 minggu setelah terlihat gejala

menurun. Untuk infeksi kandida diberi pengobatan nistatin topical


100.000 unit per gram.
Pengobatan infeksi jamur dalam adalah secara sistemik.
Infeksi Actinomyces dan Nocardia efektif diobati dalam
sulfonamide, penisilin atau antibiotik spectrum luas. Amfoterisin
B dipergunakan untuk pengobatan Histoplasmosis, sporotrikosis,
asperligosis, torulosis, kriptokokosis, dan blastomikosis.
Pengobatan Amoferoterisin B dimulai dengan 0,05-0,1
mg/Kgbb, yang diberikan intravena lambat selama 6-8 jam.
Dilarutkan dalam dekstrose 5% dalam air. Dosis dinaikkan selama
1 mg/Kgbb, dosis total tidak boleh melebihi 2 gram. Pengobatan
diberikan setiap hari selama 2-3 minggu setelah gejala berkurang.

Gambar Blefaritis Jamur

Blefaritis pedikulosis
Kadang-kadang pada penderita dengan hygiene yang buruk
akan dapat bersarang tuma atau kutu pada pangkal silia di daerah
margo palpebra.
Pengobatan

pedikulosis

adalah

dengan

aplikasi

salep

merupakan ammoniated 3%. Salep fisostigmin dan tetes mata


DFP cukup elektif untuk tuma atau kutu ini.

Blefaritis urtikaria
Urtikaria pada kelopak mata terjadi akibat masuknya obat atau
makanan pada pasien yang rentan. Untuk mengurangi keluhan
yang utama diberikan steroid topical ataupun sistemik, dan dapat
dicegah pemakaian steroid lama. Obat antihistamin dapat
mengurangi gejala alergi.

Gambar Blefaritis Urtikaria

Dermatitis kontak
Dermatitis kontak penyebabnya adalah bahan yang berkontak
pada kelopak, maka dengan berjalannya waktu segera akan

berkurang. Pengobatan dengan melakukan pembersihan kelopak


dan bahan penyebab, cuci dengan larutan garam fisiologik, beri
salep mengandung steroid sampai gejala berkurang.
b. Hordeolum
Hordeolum adalah infeksi kelenjar di palpebra, bila kelenjar
meibom terkena, timbul pembengkakan besar disebut hordeolum
interna. Hordeolum eksterna yang lebih kecil dan lebih superficial
(sty) adalah infeksi kelenjar Zeis atau Moll.
Nyeri, merah, dan bengkak, adalah gejala-gejala utamanya.
Intensitas nyeri mencerminkan hebatnya pembengkakan palpebra.
Horedeolum interna dapat menonjol ke kulit atau ke permukaan
konjungtiva. Hordeolum eksterna selalu menonjol ke arah kulit.
Sebagian besar hordeolum disebabkan oleh infeksi stafilokok,
biasanya

Staphylococcus

aureus.

Jarang

diperlukan

biakan.

Pengobatannya adalah kempres hangat, 3-4 kali sehari selama 10-15


menit. Jika keadaan tidak membaik dalam 48 jam, dilakukan insisi
dan drainase bahan purulen. Hendaknya dilakukan insisi vertikal pada
permukaan konjungtiva untuk menghindari terpotongnya kelenjar
meibom. Sayatan ini dipencet untuk mengeluarkan sisa nanah. Jika
hordeolum menonjol keluar, dibuat insisi horizontal pada kulit untuk
mengurangi luka parut.

Pemberian salep antibiotik pada saccus conjungtivalis setiap 3


jam ada manfaatnya. Antibiotik sistemik diindikasikan jika terjadi
selulitis.

Gambar Hordeolum
c. Kalazion
Kalazion adalah radang granulomatosa granulomatosa kronik
yang steril dan idiopatik pada kelenjar meibom; umumnya ditandai
oleh pembengkakan setempat yang tidak terasa sakit dan berkembang
dalam beberapa minggu. Awalnya dapat berupa radang ringan disertai
nyeri tekan yang mirip hordeolum. Kalazion dibedakan dengan
hordeolum

karena

tidak

ada

tanda-tanda

peradangan

akut.

Kebanyakan kalazion mengarah ke permukaan konjungtiva, yang


mungkin sedikit memerah dan meninggi. Jika cukup besar, sebuah
kalazion dapat menekan bola mata dan dapat menimbulkan
astigmatisma. Jika cukup besar sehingga dapat mengganggu
penglihatan atau mengganggu secara kosmetik, dianjurkan eksisi lesi.

Pemeriksaan

laboratorium

jarang

digunakan,

tetapi

pemeriksaan histologis menunjukkan proliferasi endotel asinus dan


respon radang granulomatosa yang melibatkan sel-sel kelenjar jenis
Langerhans. Biopsi diindikasikan pada kalazion berulang karena
tampilan karsinoma kelenjar meibom dapat mirip tampilan kalazion.
Eksisi bedah dilakukan melalui insisi vertical ke dalam
kelenjar tarsal dari permukaan konjungtiva, diikuti kureetase materi
gelatinosa dan epitel kelenjarnya dengan hati-hati. Penyuntikan
steroid intralesi saja mungkin bermanfaat untuk lesi kecil, tindakan ini
dikombinasikan dengan tindakan bedah pada kasus-kasus yang sulit.

Gambar Kalazion

d. Meibomianitis
Meibomianitis merupakan infeksi pada kelenjar Meibom yang
akan mengakibatkan tanda peradangan lokal pada kelenjar tersebut.

Meibomianitis

menahun

perlu

pengobatan

kompres

hangat,

penekanan dan pengeluaran nanah dari dalamnya berulang kali


disertai antibiotik lokal.

Gambar Meibomianitis
2. Deformitas Anatomik Palpebra
a. Entropion
Entropion atau pelipatan palpebra ke arah dalam dapat
involusional (spastic, senilis), sikatrikal, dan kongenital. Entropion
involusional adalah yang paling sering dan menurut definisi terjadi
akibat proses penuaan. Gangguan ini selalu mengenai palpebra
inferior dan terjadi akibat lemahnya otot-otot retractor palpebra
inferior, migrasi otot orbikularis praseptal ke atas, dan menekuknya
tepi tarsus superior.
Entropion sikatrikal dapat mengenai palpebra superior atau
inferior dan disebabkan oleh jaringan parut di konjungtiva atau tarsus.

Keadaan ini paling sering ditemukan pada penyakit radang kronik,


seperti trakhoma.
Entropion kongenital jarang dan jangan dikacaukan dengan
epiblefaron kongenital, yang biasanya mengenai orang Asia. Pada
entropion kengenital, tepian palpebra memutar ke arah kornea; pada
epiblefaron, kulit dan otot pratarsalnya menyebabkan bulu mata
memutari tepi tarsus.
Pada entropion pengobatannya adalah dengan operasi plastik
atau suatu tindakan tarsotomi pada entropion akibat trauma.

Gambar Entropion
b. Ektropion
Ektropion merupakan penurunan dan terbaliknya palpebra ke
arah luar, umunya bilateral dan sering ditemukan pada orang tua.
Ekstropion dapat disebabkan pengenduran muskulus orbicularis oculi,
akibat menua atau akibat kelumpuhan nervus ke tujuh. Gejalanya
adalah mata berair dan iritasi. Dapat timbul keratitis pajanan.

Ektropion involusional ditangani secara bedah dengan


melakukan

pemendekan

horizontal

pada

palpebra.

Ektropion

sikatrikal disebabkan oleh kontraktur pada lamela anterior palpebra.


Penanganannya adalah perbaikan luka parut melalui pembedahan dan
sering dilakukan pencangkokan kulit. Ektropion ringan dapat diatasi
dengan tindakan elektrokauterisasi yang cukup dalam, menembus
konjungtiva 4-5 mm dari tepian palpebra pada aspek inferior
lempemg tarsus. Reaksi fibrotic yang mengikuti seringkali menarik
palpebra ke atas ke posisi normalnya.

Gambar Ektropion

Gambar Palpebra Normal, Entopion, dan Ektropion


c. Trikiasis
Trikiasis merupakan keadaan dimana bulu mata mengarah kea
rah bola mata yang akan menggosok kornea ataupun konjungtiva.
Biasanya terjadi bersama penyakit lain seperti trakoma, sikatrisial,
pemfigoid, trauma kimia basa, dan trauma kelopak lainnya.
Gejalanya adalah konjungtiva kemotik dan hiperemi, pada
kornea terdapat erosi, keratopati dan ulkus. Pasien akan mengeluh,
fotofobia, lakrimasi, dan seperti kelilipan.
Pengobatan sementara dengan epilasi atau mencabut bulu
yang salah tumbuh. Biasanya kejadian akan berulang akibat
pertumbuhan bulu mata dalam 6-8 minggu. Dapat efektif dengan
melakukan elektrolisis. Bila akan dilakukan pada bagian yang lebih
luas maka dilakukan dengan terapi krio. Pada trakhoma dengan
trikiasis akan dilakukan bedah plastik.

Gambar Trikiasis
d. Distikiasis
Distikiasis merupakan keadaan dimana terdapat penumbuhan
bulu mata abnormal atau terdapatnya duplikasi bulu mata daerah
tempat keluarnya saluran Meibom. Berbentuk lebih halus tipis dan
pendek dibandingkan dengan bulu mata normal. Dapat tumbuh ke
dalamsehingga mengakibatkan bulu mata menusuk jaringan bola mata
atau trikiasis. Bersifat congenital dominan, biasanya disertai dengan
kelainan kongentital lainnya.
Pengobatan distrikiasis bila telah memberikan penyulit berupa
epilasi atau melakukan krioterapi pada folikel rambut sehingga bulu
mata tersebut tidak tumbuh lagi.

Gambar Distrikiasis

Gambar Perbedaan Trikiasis dan Distrikiasis


e. Koloboma
Koloboma kelopak merupakan kelainan kongenital yang
terjadi karena tidak sempurnanya penutupan processus maxiliaris
semasa janin sehingga terbentuk celah pada tepian palpebra dengan
ukuran bervariasi. Aspek medial palpebra superior paling sering
terkena, dan sering disertai dermoid. Rekonstruksi bedah umumnya
dapat ditunda beberapa tahun, tetapi harus dilakukan dengan segera
jika membahayakan kornea. Defek palpebra lengkap (full-thickness)
akibat sembarang penyebab terkadang disebut koloboma.

Gambar Koloboma
f. Epikantus
Epikantus ditandai dengan lipatan vertikal kulit di atas kantus
medialis. Ini khas pada orang Asia dan ada dalam batas tertentu pada
kebanyakan anak dari semua ras. Lipatan kulit tersebut sering cukup
besar hingga semua ras. Lipatan kulit tersebut sering cukup besar
hingga

menutupi

sebagian

sclera

nasalis

dan

menimbulkan

pseudoesotropia. Mata tampak juling bila aspek medial sclera tidak


terlihat. Jenis paling banyak adalah epikantus tarsalis. Lipatan
palpebra superior menyatu di medial dengan epikantus. Pada
epikantus interversus, lipatan kulitnya menyatu dengan palpebra
inferior. Jenis lain jarang ditemukan. Lipatan epikantus bisa juga
didapatkan pasca bedah atau trauma di bagian medial palpebra dan
hidung. Penyebab epikantus adalah pemendekan vertikal kulit antara
kantus dan hidung. Koreksi bedah diarahkan pada pemanjangan
vertikal dan pemendekan horizontal. Pada anak normal lipatan

epikantus menghilang secara bertahap hingga puberitas dan jarang


memerlukan pembedahan.

Gambar Epikantus
g. Telekantus
Jarak normal antara kantus-medialis kedua mata - jarak
interkantus- sama dengan panjang visura palpebrae (kira-kira 30 mm
pada orang dewasa). Jarak interkantus yang lebar bisa terjadi akibat
disinsersi

traumatic

atau

disgenesis

kraniofasial

kongenital.

Telekantus ringan dapat dikoreksi dengan operasi kulit dan jaringan


lunak. Namun diperlukan rekonstruksi kraniofasial besar bila orbita
terpisah jauh.

Gambar Telekantus

h. Lagoftalmos
Lagoftalmos adalah suatu keadaan dimana kelopak mata tidak
dapat menutup bola mata dengan sempurna. Kelainan ini akan
mengakibatkan trauma konjungtiva dan kornea, sehingga konjungtiva
dan selaput bening menjadi kering dan terjadi infeksi. Infeksi ini
dapat dalam bentuk konjungtivitis atau suatu keratitis.
Penyebab terjadinya lagoftamos dapat akibat terbentuknya
jaringan parut atau sikatrik yang menarik kelopak, ektropion, paralisis
orbikularis okuli, eksoftalmos goiter, dan terdapatnya tumor
retrobulbar.
Pengobatan lagoftalmos merupakan usaha mempertahankan
bola mata tetap basah dengan memberikan air mata buatan. Kadangkadang digunakan lensa kontak untuk mempertahankan air mata tetap
berada dipermukaan kornea. Bebat dengan kasa sebaiknya hati-hati
karena akan mengakibatkan permukaan kornea kering sehingga sering
terjadi erosi kornea. Bila keadaan terlalu berat maka dilakukan
blefarorafi dengan menjahit dan mendekatkan kedua kelopak atas
dengan bawah.

Gambar Lagoftalmos
i. Ptosis
Ptosis merupakan keadaan dimana kelopak mata atas tidak
dapat diangkat atau terbuka sehingga celah kelopak menjadi lebih
kecil dibandingkan dengan keadaan normal.
Keadaan ini terjadi akibat tidak baiknya fungsi m. levator
palpebra, lumpuhnya saraf ke III untuk levator palpebra atau dapat
pula terjadi akibat jaringan penyokong bola mata yang tidak
sempurna, sehingga bola mata tertarik kebelakang atau enoftalmos.
Penyebab

ptosis

adalah

kelainan

kongenital,

miogenik,

dan

neurogenik. Ptosis juga dapat terjadi pada miastenia gravis pada satu
mata atau kedua mata. Bila ptosis terjadi sejak lahir atau congenital
dan tidak segera diatasi dapat mengakibatkan terjadinya ambliopia
eks anopsia pada mata bayi tersebut.
Pengobatan adalah dengan memperbaiki fungsi otot levator
dengan memperpendek levator sehingga tarsus akan terangkat.

Gambar Ptosis
j. Pseuodoptosis
Bila

terdapat

suatu

kelainan

pada

kelopak

sehingga

mengakibatkan kelopak tidak mudah bergerak atau diangkat maka


keadaan ini disebut pseudoptosis. Pseudoptosis akan mengakibatkan
tertutupnya bola mata oleh kelopak. Pseudoptosis dapat terlihat pada
kelainan kelopak seperti hordeolum, kalazion, tumor kelopak ataupun
blefarokalasis yang mengakibatkan kelopak tersebut sukar terangkat.
Pengobatan yang diberikan pada ptosis adalah dengan mengobati dan
menghilangkan penyebab pseudoptosis tersebut.

Gambar Pseudoptosis

k. Blefarokalasis
Blefarokalasis adalah kondisi yang jarang ada, belum
diketahui penyebabnya (terkadang familial), dan mirip dengan edema
angioneurotik. Serangan beruntun terjadi menjelang masa pubertas,
berkurang pada masa dewasa, dan berakibat atrofi struktur-struktur
periorbital. Kulit palpebra tampak tipis, berkerut, dan menggelambir,
dan digambarkan mirip kertas rokok. Mata tampak cekung akibat
atrofi lemak. Bila aponeurosis levator terkena, akan terjadi ptosis
sedang sampai berat. Penanganan medis terbatas pada pengobatan
simtomatik terhadap edema. Koreksi bedah terhadap ruptur levator
dan eksisi kelebihan kulit paling mungkin berhasil bila seranganserangannya sudah berhenti.

Gambar Blefarokalasis

l. Dermatokalasis
Dermatokalasis adalah kulit palpebra yang menggelambir dan
menurun elastisitasnya, biasanya akibat penuaan. Dipalpebra superior
kulit praseptal dan otot orbikularis, yang biasanya membentuk alur
dekat batas tarsus superior pada orang kaukasia, menggantung di atas
bagian pratarsal palpebra. Bila dermatokalasisnya berat, lapang
pandang superior akan terhalang. Kelemahan septum orbitale
berakibat menonjolnya bantalan lemak medial dan praaponeurotik.
Kantung-kantung didaerah praseptal palpebra inferior merupakan
lemak orbita yang menonjol.
Blefaroplasti diindikasikan untuk alasan visual atau kosmetik.
Di palpebra superior, kelebihan kulit palpebra juga otot dan lemak
dibuang demi estetika yang optimum. Blefaroplasti palpebra inferior
dilakukan demi alasan kosmetik, kecuali pada kelebihan yang banyak
sekali yang akan berakibat ektropion tepian palpebra. Laser erbium
dan pulsed CO2 diketahui efektif untuk mengencangkan kulit
periokuler, tetapi harus dilakukan dengan hati-hati pada kulit palpebra
yang tipis.

Gambar Dermatokalasis
m. Blefarospasme
Blefarospasme esensial jinak adalah sejenis kontraksi otot
involunter yang tidak lazim, yang ditandai dengan spasme musculus
orbicularis oculi yang persisten atau repetitif. Kondisi ini hampir
selalu bilateral dan paling sering pada orang tua. Spasme cenderung
makin kuat dan makin sering menimbulkan ekspresi meringis dan
penutupan mata secara involunter.
Penyebab kelainan ini belum diketahui, tetapi disfungsi ini
diduga berasal dari ganglia basalis. Stress emosional dan kelelahan
terkadang memperburuk keadaan, mengesankan keadaan ini bersifat
psikogenik. Akan tetapi psikoterapi dan obat psikoaktif sangat sedikit
hasilnya.
Pengobatan

blefarospasme

dimulai

dengan

usaha

mengidentifikasi contoh-contoh perilaku psikoneurotik yang tidak


biasa. Psikoterapi dan obat-obatan neuroleptik, latihan biofeedback,

dan hipnosis bisa bermanfaat pada kondisi tersebut. Namun


kebanyakan pasien memerlukan penyuntikan berulang dengan toksin
botulinum tipe A untuk menghasilkan paralisis neuromuscular
temporer. Bila timbul intoleransi atau tak ada respon terhadap toksin
itu, dapat dilakukan ablasi bedah selektif pada nervus facialis atau
ekstirpasi selektif otot orbikularis.

Gambar Blefarospasme
3. Trauma Palpebra
Bila mata mengalami trauma maka dapat terjadi edema dan ekimosis
atau bercak perdarahan kulit, sehingga memberikan warna pada kulit
kemerah-merahan. Warna ekimosis kelopak akan berubah perlahan-lahan
dari coklat-hijau dan kuning. Darah ini diserap tanpa timbulnya penyulit
dan kadang-kadang dapat berupa terbentuknya jaringan fibrosis yang
akan membentuk jaringan parut sehingga terjadi kelumpuhan otot
penggerak mata. Kelemahan otot penggerak ini dapat menimbulkan
ptosis.

Pengobatan khusus tidak begitu diperlukan karena akan diserap


spontan dalam waktu 1-3 minggu tanpa menimbulkan penyulit. Ekimosis
atau edema kelopak akibat benda tumpul akan berkurang dan menghilang
dengan sendirinya. Kompres dingin pada 48 jam pertama akan
mengurangkan gejala kemudian baru akan diteruskan dengan kompres
hangat. Perlu mengetahui kemungkinan adanya cedera yang lebih berat
seperti fraktur orbita atau tengkorak dan kerusakan bola mata. Laserasi
kelopak dan kanalikuli bila terjadi perlu segera diperbaiki.

Gambar Trauma Palpebra

4. Tumor Palpebra
Seperti di bagian tubuh lain, mata kita juga bisa terserang tumor,
baik jinak maupun ganas. Tumor adalah pertumbuhan atau tonjolan
abnormal di tubuh kita. Tumor sendiri dibagi menjadi jinak dan ganas.
Tumor ganas sering disebut sebagai kanker. Tumor pada mata disebut
juga tumor orbita.

Berdasarkan posisinya tumor mata/orbita dikelompokkan sebagai


berikut:
a. Tumor eksternal yaitu tumor yang tumbuh di bagian luar mata seperti:

Tumor palpebra yaitu tumor yang tumbuh pada kelopak mata

Tumor konjungtiva yaitu tumor yang tumbuh pada lapisan


konjungtiva yang melapisi mata bagian depan

b. Tumor intraokuler yaitu tumor yang tumbuh di dalam bola mata


c. Tumor retrobulbar yaitu tumor yang tumbuh di belakang bola mata
Tumor pada mata dapat dibagi dua, tumor jinak dan tumor ganas.
Tumor jinak palpebra sangat umum dan frekuensinya dengan bertambah
semakin meningkatnya usia. Kebanyakan mudah dikenali di klinik, dan
eksisi dilakukan dengan alasan kosmetik. Meskipiun begitu seringkali lesi
ganas sulit dikenalin secara klinik, dan biopsi harus selalu dilakukan jika
ada kecurigaan keganasan.
Tumor jinak palpebra sangat umum dan bertambah banyak
dengan meningkatnya usia. Kebanyakan mudah dikenali secara klinis,
dan eksisi dilakukan dengan alasan kosmetik. Meskipun begitu, lesi ganas
sering kali sulit dikenali secara klinis, dan biopsy harus selalu dilakukan
pada kecurigaan keganasan.

a. Nevus
Nevus melanostik di palpebra adalah tumor jinak biasa dengan
struktur patologik yang sama dengan nevus di tempat lain. Pada
awalanya, nevus ini mungkin relatif kurang berpigmen ; makin
membesar dan bertambah gelap pada masa remaja. Banyak
diantaranya yang tak pernah mendapat pigmen yang jelas terlihat, dan
banyak yag mirip papiloma jinak. Nevus dapat dihilangkan dengan
eksisi-cukur jika dikehendaki dengan alasan kosmetik.

Gambar Nevus Palpebra


b. Papiloma
Papiloma adalah tumor palpebra yang paling umum. Jenisnya
ada dua; papiloma sel skuamosa dan keratosis seboroik. Pada
keduanya,bagian inti fibrovaskular menembus epitel permukaan yang
menebal

(akantotik

dan

hiperkerantotik),

member

tampilan

papilomatosa. Keratosis seboroik terdapat pada usia pertengahan dan


orang tua. Permukaaanya verukosa dan mudah hancur, dan sering
berpigmen karena melanin mengumpul di dalam keratosit.

Gambar Papiloma
c. Xantelasma
Xantelasma adalah kelainan yang umum dan terdapat pada
permukaan anterior palpebra, biasanya lateral didekat sudut medial
mata. Lesi ini tampak berupa plak-plak kuning di dalam kulit palpebra
dan paling sering terlihat pada orang tua. Xantelasma merupakan
endapan lipid di dalam histiosit pada dermis palpebra. Walaupun bisa
ditemukan pada pasien hiperlipidemia herediter atau hiperlipidemia
sekunder.
Pengobatan diindikasikan dengan alasan kosmetik. Lesi dapat
dieksisi, dikauter, atau diatasi dengan bedah laser. Rekurensi tidak
jarang terjadi setelah pembuangan.

Gambar Xantelasma
d. Keratoakantoma
Keratoakantoma adalah tumor peradangan jinak yang terdapat
pada kulit orang dewasa yang terpajan matahari. Tumor ini sesekali
dihubungkan

dengan

kondisi

imunodefisiensi,

xeroderma

pigmentosum, atau sindrom Muir-Torre. Keratoakantoma tampak


sebagai lesi pertumbuhan dengan cekungan berbentuk mangkuk di
pusatnya, yang mengandung keratin dan bisa bertambah besar dalam
waktu singkat. Banyak diantaranya akan mengalami involusi spontan,
tetapi biopsi eksisional sering dilakukan untuk alasan kosmetik atau
untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma sel skuamosa, yang
mirip secara klinis maupun histologist

Gambar Keratoakantoma
e. Kista
Kista di palpebra sering ditemukan. Kista berkeratin yang
dilapisi epitel serta berisi debris dan keratin yang tampak seperti keju
yang timbul akibat penyumbatan struktur pilosebasea (milia dan kista
pilar) atau implantasi epitel permukaan di subepitel (kista inklusi
epidermal) yang terjadi secara kongenital atau akibat trauma.
Kista demoroid, dengan struktur adneksa di dindingnya serta
rambut dan keratin di lumennya, bersifat kongenital. Akan tetapi,
mungkin tidak tampak jelas hingga berjalannya usia saat kista
semakin membesar atau pecah dan menimbulkan respons peradangan
granulomatosa. Kebanyakan terletak di tepi orbita superotemporal,
dan banyak diantaranya berkaitan dengan defek pada tulang yang bisa
membentuk saluran ke rongga intracranial.
Hidrokistoma (kista sudorifera, kista duktus) berasal dari
duktus kelenjar keringat ekrin atau apokrin dan berisi bahan berair.

Gambar Kista Palpebra


f. Hemangioma
Tumor vaskular yang paling umum di palpebra adalah
hemangioma kapiler (nevus strawberry), terdiri atas kapiler-kapiler
dan sel-sel endotel yang berproliferasi. Hemangioma ini timbul saat
lahir atau tidak lama sesudah lahir, sering bertumbuh cepat, dan
umumnya berinvolusi spontan menjelang usia 7 tahun. Jika
superficial, lesi tampak merah terang; lesi yang lebih dalam tampak
kebiruan atau ungu. Anisometropia sekunder, ambliopia refraktif, dan
strabismus sering dijumpai dan harus ditangani secara memadai.
Pengobatan terhadap tumor diindikasikan jika menghalangi sumbu
penglihatan atau menginduksi astigmatisma.
Hemangioma kapiler harus dibedakan dari nevus flammeus
(port wine stain), yang warnanya lebih ungu dibandingkan
hemangioma kapiler yang warnanya merah terang. Lesi nevus
flammeus berupa saluran-saluran vascular kavernosa yang melebar,

tidak bertumbuh atau mengalami regresi seperti hemangioma kapiler,


dan sering terdapat pada sindrom Sturge-Weber. Defek kosmetik ini
dapat diatasi dengan bedah laser.
Jenis angioma ketiga adalah hemangioma kavernosa, berupa
saluran-saluran vascular besar berlapiskan endotel dengan otot polos
pada dindingnya. Jenis ini lebih bersifat developmental dari pada
congenital dan cenderung muncul setelah decade pertama. Tidak
seperti hemangioma kapiler, hemangioma ini umumnya tidak
mengalami regresi.

Gambar Hemangioma
Tumor ganas palpebra, karsinoma sel basal dan sel skuamosa
palpebra adalah tumor mata ganas paling umum. Tumor-tumor ini paling
sering terdapat pada orang bercorak kulit terang atau kuning langsat yang
terpajan menahun terhadap sinar matahari. 95% karsinoma palpebra adalah
dari jenis sel basal. Sisanya 5% terdiri atas karsinoma sel skuamosa dan
karsinoma kelenjar meibom.

a. Karsinoma sel basal


Karsinoma sel basal, umumnya tumbuh lambat dan tanpa nyeri,
berupa nodul yang tidak atau dapat berulkus. Karsinoma ini secara perlahan
menyusupi ke jaringan sekitar namun tidak bermetastasis. Studi potongbeku

tepian

irisan

terutama

penting

untuk

karsinoma

sel

basal

bersklerosis, karena tepian tumor secara klinis tidak nyata. Eksisi yang
dikontrol secara mikroskopik (teknik Mohs yang dimodifikasi), dipakai
sejumlah ahli

penyakit

kulit

untuk mendapatkan eksisi total. Kasus

tertentu dapat diobati dengan cara seperti radioterapi dengan nitrogen cair.

Gambar Karsinoma Sel Basal


b. Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma sel skuamosa juga tumbuh lambat dan tanpa rasa
sakit, seringkali berawal sebagai
dapat

berulkus.

Tumor

radang

sebuah
jinak

mirip karsinoma. Diagnosis tepat

nodul

hiperkeratotik,

yang

seperti keratokanthoma sangat

tergantung pada biopsi.

Seperti

karsinoma sel basal, tumor ini dapat menyisip dan mengkikis jaringan
sekitarnya, dapat pula menyebar ke limfonodus regional melalui sistim
limfatik.

Gambar Karsinoma Sel Squamosa


c. Karsinoma kelenjar sebasea
Karsinoma kelenjar sebasea, paling sering muncul dari kelenjar
Meibom dan kelenjar Zeis, namun dapat pula muncul dalam kelenjar sebasea
alis mata atau karunkulum. Separuhnya mirip lesi dan kelainan radang
jinak seperti chalazion dan blepharitis menahun. Karsinoma ini lebih
agresif dari karsinoma sel skuamosa, sering meluas kedalam orbita,
memasuki pembuluh limfe, dan bermetastasis.

d. Sarkoma jaringan lunak


Sarkoma jaringan lunak pada orbita jarang dan biasanya berupa
perluasan ke anterior tumor-tumor orbita. Rhabdomiosarkoma palpebra dan
orbita adalah tumor ganas primer paling umum di temukan dijaringan ini
dalam dekade pertama kehidupan. Tumor palpebra adalah tanda pertama.
Kombinasi radioterapi biasanya efektif untuk mempertahankan fungsi
mata dan menghindari kematian.

Gambar Sarkoma Jaringan Lunak

e. Melanoma
Melanoma ganas palpebra serupa dengan melanoma kulit dibagian
lain dan terdiri atas tiga golongan berbeda: melanoma yang menyebar
superfisial, melanoma ganas lentigo, dan melanoma nodular. Tidak semua
melanoma ganas berpigmen. Kebanyakan lesi yang berpigmen pada kulit
palpebra bukan melanoma. Karenanya harus di biopsi untuk menegakkan

diagnosis Prognosis melanoma kulit tergantung kedalaman invasi atau


kedalaman lesi. Tumor dengan kedalaman kurang dari 0,76 mm jarang
bermetastase.

Gambar Melanoma

BAB III
KESIMPULAN
1. Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi

bola mata, serta

mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film air mata di depan


kornea
2. Kelopak merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola
mata terhadap trauma, trauma sinar dan keringnya bola mata.
3. Streptococcus alfa atau beta, Pneumococcus, dan Pseudomonas. Demodex
folliculorum selain dapat merupakan penyebab merupakan vector umtuk
terjadinya infeksi staphylococcus.
4. Kalazion dibedakan dengan hordeolum karena tidak ada tanda-tanda
peradangan akut.
5. Tumor jinak palpebra sangat umum dan bertambah banyak dengan
meningkatnya usia
6. Tumor ganas palpebra, karsinoma sel basal dan sel skuamosa palpebra adalah
tumor mata ganas paling umum.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata Ed 5. Jakarta: Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2014. Hal: 1, 91- 104.
2. Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan & Asburys General Ophthalmology
17th Ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2007. Hal: 78-89.
3. Dharmawidiarini D, Unari U, Doemilah R. Bilateral Upper Eyelid Coloboma.
Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. 5. 2007
4. Doemilah R, Faradis H, Witjaksana N. Management Of Paralytic
Lagophthalmos Caused By Leprosy Reaction. Jurnal Oftalmologi Indonesia
Vol. 6. 2008.
5. Wahjudi H, Nuradianti L, Riyanto H. Combination Of Cutler Beard Flap, VY Glabellar Flap And Direct Closure For Large Resection Upper Eyelid
And Medial Canthus. Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. 5. 2007
6. Sutjipto, Desy B, Hoesin R G. Management of Upper Eyelid Coloboma
with Three Steps Technique Surgery. Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. 7.
2009
7. Rayward

et

al.

Diagnostic

puzzler

Acute

eyelid

edema.

JFPONLINE.Com. 2013
8. Rodriguez R L. Blepharitis Disease and Its Management. American
Optomeric Association. 2013

9. Wearne M J, Pitts J. Diagnosis and management ofeyelid and lacrimal


abnormalities. http://www.optometry.co.uk. 2013
10. Nelson C C. Management of eyelid trauma. Australian and New Zealand
Journal of Ophthalmology. 1991
11. Bernardini F P. Management of Malignant and Benign Eyelid Lesion.
Oculoplasticabernardini.it. 2006