Anda di halaman 1dari 7

Nama

: Ni Made Intan Agustina A. D.

NIM

: 1306205008

Nomor

: 02

KONSEP TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL


2.1. Pendahuluan
Teori perdagangan internasional membantu menjelaskan arah serta komposisi
perdagangan antara beberapa negara serta bagaimana efeknya terhadap struktur
perekonomian suatu negara. Beberapa teori menerangkan tentang timbulnya
perdagangan internasional pada dasarnya adalah sebagai berikut:
2.1.1. Teori Klasik:
a. Kemanfaatan absolut (absolute advantage) oleh Adam Smith
b.Kemanfaatan relatif (comparative advantage) oleh John Stuart Mill
c. Biaya relatif (comparative cost) oleh David Ricardo
2.1.2. Teori Modern:
a. Faktor proporsi (Hecksher & Ohlin)
b.Kesamaan harga faktor produksi (factor price equalization) oleh P.
Samuelson
c. Permintaan dan penawaran (teori parsial)
d.Kurva kemungkinan produksi dan indifference (production possibilities
and indifference curves)
e. Offer curve
2.1.3. Alternatif Teori
2.2. Teori Klasik
2.2.1. Kemanfaatan Absolut (Absolute Advantage: Adam Smith)
Teori ini lebih mendasarkan pada besaran (variabel) riil bukan moneter
sehingga sering dikenal dengan nama teori murni (pure theory)
perdagangan internasional. Murni dalam arti bahwa teori ini memusatkan
perhatiannya pada variabel riil seperti misalnya nilai sesuatu barang diukur
dengan banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan

barang. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin tinggi nilai
barang tersebut (labor theory of value).
2.2.2. Kemanfaatan Relatif (Comparative Advantage: J. S. Mill)
Teori ini menyatakan bahwa suatu negara akan menghasilkan dan
kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage
terbesar dan mengimpor baran yang memiliki comparative disadvantage,
yaitu suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan
mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang
besar. Semakin banyak tenaga yang dicurahkan untuk memproduksi suatu
barang, makin mahal barang tersebut.
2.2.3. Biaya Relatif (Comparative Cost: David Ricardo)
Titik pangkal teori Ricardo tentang perdagangan internasional adalah
teorinya tentang nilai/value. Menurutnya nilai/value sesuatu barang
tergantung dari banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk
memproduksi barang tersebut (labor cost value theory).
Perdagangan antar negara akan timbul apabila masing-masing negara
memiliki comparative cost yang terkecil.
Dengan demikian prinsip comparative cost Ricardo dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Jika a1 dan b1 adalah unit labor cost untuk produksi barang A dan B di
negara 1, dan a2 dan b2 adalah unit labor cost di negara II, maka negara I
akan mengekspor barang A dan impor barang B jika:
a1 / b1 < a2 / b2 atau
a1 / b1 < b1 / b2
Artinya sebelum berdagang barang A relatif lebih murah di negara I dan
barang B lebih murah di negara II.
2.2.4. Kelemahan Teori Klasik
Teori klasik menjelaskan bahwa keuntungan dari perdagangan
internasional itu timbul karena adanya comparative advantage yang
berbeda antara dua negara. Teori nilai tenaga kerja menjelaskan mengapa
terdapat perbedaan dalam comparative advantage itu karena adanya
perbedaan di dalam fungsi produksi antara dua negara atau lebih. Syarat

timbulnya perdagangan antarnegara adalah perbedaan fungsi produksi di


antara dua negara tersebut. Namun teori klasik tidak dapat menjelaskan
mengapa terdapat perbedaan fungsi produksi antara dua negara tersebut.
2.3. Teori Modern
2.3.1. Faktor Proporsi (Hecksher & Ohlin)
Teori yang lebih modern seperti yang dikemukakan oleh Hecksher dan
Ohlin menyatakan bahwa perbedaan dalam opportunity cost suatu negara
dengan negara lain karena adanya perbedaan dalam jumlah faktor produksi
yang dimilikinya.
Suatu negara memiliki tenaga kerja lebih banyak daripada negara lain,
sedang negara lain memiliki kapital lebih banyak daripada negara tersebut
sehingga dapat menyebabkan terjadinya pertukaran.
2.3.2. Kesamaan Harga Faktor Produksi (Factor Price Equalization)
Inti dari teori ini adalah bahwa perdagangan bebas cenderung
mengakibatkan harga faktor-faktor produksi sama di beberapa negara. Dari
teori faktor proportions Hecksher-Ohlin, selama negara A memperbanyak
produksi barang X akan mengakibatkan bertambahnya permintaan tenaga
kerja, sebaliknya makin berkurangnya produksi barang Y berarti makin
sedikitnya permintaan akan kapital. Hal ini akan cenderung menurunkan
upah (harga daripada tenaga kerja) dan menaikkan harga daripada kapital
(rate of return)
2.3.3. Teori Permintaan dan Penawaran
Pada prinsipnya perdagangan antara 2 negara itu timbul karena adanya
perbedaan di dalam permintaan maupun penawaran. Permintaan ini
berbeda misalnya, karena perbedaan pendapatan dan selera sedangkan
perbedaan penawaran misalnya, dikarenakan perbedaan di dalam jumlah
dan kualitas faktor-faktor produksi, tingkat teknologi dan eksternalitas.
2.3.4. Kurva Kemungkinan Produksi dan Indifference (Production Possibilities
and Indifference Curves)
Production possibilities curve (PPC) adalah kurva yang menunjukkan
berbagai kombinasi daripada output yang dapat dihasilkan dengan

sejumlah tertentu faktor produksi yang dikerjakan dengan sepenuhnya (full


employment). Bentuk daripada kurva ini tergantung daripada anggapan
tentang ongkos alternatif (opportunity cost) yang digunakan.
a) Constant costs
Constant cost berarti marginal rate of transformationnya tetap. Ini
sebagai akibat bahwa efisiensi faktor produksi tersebut sama baik
untuk produksi tiap barang.
b) Increasing cost
Untuk analisa selanjutnya selalu dipakai suatu PPC dengan keadaan
increasing costs karena keadaan ini lebih mendekati realita. Bersamasama dengan penggunaan suatu indifference curve (IC) dapatlah
digunakan untuk menjelaskan tentang terjadinya perdagangan
internasional. Perdagangan internasional dapat timbul apabila antara
dua negara itu memiliki:
- PPC yang sama dan IC berbeda,
- PPC yang berbeda dan IC sama,
- PPC dan IC berbeda
Prinsip ketiga keadaan ini sama saja, sehingga di sini hanya
dijelaskan salah satu diantaraya, yakni PPC sama dan IC berbeda.
Perbedaan IC ini disebabkan oleh perbedaan dalam pendapatan, rasa
atau preferensi (selera), sedangkan PPC yang sama menunjukkan
kesamaan alam faktor-faktor produksi serta teknik produksi yang
digunakan.
2.3.5. Offer Curve (James Meade)
Proses penurunan offer curve ini akan lebih mudah dipahami apabila
terlebih dahulu dijelaskan apa yang dimaksud dengan trade indifference
curve.
Untuk menjelaskan konsep trade indifference curve digunakan
anggapan: ada dua negara (yang relatif sama besarnya), serta mempunyai
faktor produksi tenaga dan modal yang digunakan untuk menghasilkan
kedua

macam

barang

tersebut

(digambarkan

dengan

production

possibilities curve). Kepuasaan (welfare) dari masyarakat diwujudkan

dengan indifference curve (community indifference cost curves).


Analisanya, pertama dimulai dengan penurunan trade dan offer curves
untuk negara B, kemudian dengan proses yang sama dilakukan untuk
negara A. Akhirnya, kedua offer curve digabungkan guna menentukan
harga serta volume perdagangan dalam keadaan keseimbangan.
2.4. Studi Empirik Teori Perdagangan Internasional
Test empirik pertama model Ricardo dilakukan oleh Mac Dougall tahun 1951.
Data yang dipergunakan adalah output pertenagakerja dan rasio ekspor AmerikaInggris. Dengan analisis statistik diperoleh hubungan positip antara kedua variabel
tersebut.

Kesimpulannya, bahwa hipotesa Ricardo tentang prinsip comparative advantage


didukung oleh data empirik.
Studi empirik model Hecksher - Ohlin menunjukkan hasil yang lebih bervariasi,
sebagian mendukung sebagian tidak, dengan menggunakan data yang sama seperti
yang dilakukan Mac Dougall pada model Ricardo.
Satu hasil studi empirik tetang model H.O yang cukup populer adalah yang
dilakukan oleh Leontief tahun 1947 yang kemudian dikenal dengan sebutan
Leontief paradox. Menurut Leontief, tenaga kerja Amerika itu lebih produktif
dibandingkan tenaga kerja negara lainnya, sehingga barang impor Amerika yang
dalam catatan statistik sebagai barang padat modal kalau diproduksi di negara lain
akan merupakan barang padat tenaga kerja.
Ahli ekonomi lain menjelaskan paradox tersebut dengan mengacu pada masalah

tarif. Struktur tarif di Amerika cenderung bias memberikan proteksi pada barang
padat tenaga kerja sehingga impornya cenderung pada barang padat modal.
Paradox itu, menurut beberapa ahli lainnya, timbul karena faktor sumberdaya
alam (natural resources) diabaikan. Amerika relatif sedikit memiliki sumber daya
alam dan produksi sumber daya alam ini bersifat padat modal.
Penjelasan lain tentang Leontief paradox ini lebih menekankan pada pentingnya
faktor selera. Rakyat Amerika mempunyai selera tinggi pada barang yang padat
modal sehingga mereka cenderung mengimpor dari negara lain.
Paradox Leontief dapat pula dijelaskan dengan apa yang disebut dengan
pembalikan intensitas faktor produksi (factor intensity reversals). Faktor intensity
reversals terjadi apabila kurva intensitas penggunaan tenaga kerja barang X dan Y
saling berpotongan. Syarat lain adalah proporsi pemilikan faktor produksi (factor
proportions) di kedua negara sedemikian rupa sehingga untuk barang yang sama
(misalnya barang Y) merupakan barang padat modal di negara A tetapi padat teaga
kerja di negara B. Paradox Leontied akan terlihat pada salah satu negara.
2.5. Alternatif Teori
Beberapa alternatif teori yang mencoba menjelaskan komposisi/struktur barang
yang diperdagangkan muncul, diantaranya:
a.

Keterampilan (human skills).

b.

Skala ekonomis (economies of scale). Menurut teori ini suatu negara yang pasar
dalam negerinya luas cenderung mengekspor barang yang dapat dihasilkan
dengan biaya rata-rata menurun dengan makin besarnya skala perusaan
(economies of scale). Sebaliknya suatu negara kecil di mana pasar dalam
negerinya sempit cenderung mengekspor barang yang tidak memenuhi syarat
skala perusahaan yang ekonomis.

c.

Kemajuan teknologi.

d.

Product cycle. Teori ini menekankan pada standarisasi produk. Dengan semakin
luasnya pasar serta makin berkembangnya teknologi proses produksi maka
produk maupun proses produksi semakin distandardisir, bahkan mungkin
nantinya secara internasional ditentukan standarnya.