Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN KELOMPOK 10 TAHUN 2015

PENGARUH TEKANAN OSMOSIS TERHADAP


PERTUMBUHAN Bacillus cereus dan Pseudomonas sp.
Khoirun Nisak (1512100702)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: nisak.khoirun12@mhs.bio.its.ac.id

AbstrakMikroorganisme
sangat
tergantung
dengan
lingkungannya yang mempengaruhinya untuk hidup dan tumbuh.
Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroorganisme yaitu tekanna osmosis. Dalam praktikum ini
digunakan bakteri Pseudomonas sp. dan Bacillus cereus.. Pada
praktikum ini akan dilakukan uji untuk mengetahui pengaruh
tekanan osmosis pada pertumbuhan bakteri Pseudomonas sp. dan
Bacillus cereus. Dilakukan praktikum ini dengan langkah-langkah
yaitu pembuatan media kultur untuk starter dan media untuk
pengujian sampel, kultur starter dengan cara menginokulasikan
baktei pada larutan fisiologis untuk diukur DO 0,2 lalu
diinokulasikan pada media cair 90 ml sebanyak 10ml isolat.
selanjutnya dilakukan pengukuran kurva pertumbuhan
menggunakan spektrofotometer selama 24 jam dan diamati setiap
2 jam sekali. Hasilnya didapatkan perbedaan pertumbuhan antara
Pseudomonas sp. dan Bacillus cereus. Bakteri Pseudomonas sp.
dapat melakukan pertumbuhan pada semua kondisi medium
karena bakteri ini termasuk bakteri yang dapat ditemukan pada
hampir semua perairan yaitu tawar, payau, dan asin. Ssedangkan
Bacillus cereus hanya dapat tumbuh pada konsentrasi media
kontrol dan media NaCl 5 gram. dimana diasumsikan bahwa
kadar salinitas pada medium tersebut hampir sesuai dengan
habitat asli B.cereus.
Kata Kunci Bacillus cereus, Pseudomonas sp., tekanan
osmosis

I. PENDAHULUAN
ikroorganisme merupakan makhluk hidup yang
memiliki ukuran tubuh sangat kecil dan hanya dapat
dilihat menggunakan bantuan mikroskop atau kaca
pembesar. Salah satu contoh mikroorganisme adalah bakteri.
Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme uniseluler yang
tidak memiliki membran inti, memiliki ektrakromosomal, serta
hanya memiliki ekson saja pada rantai DNA [1]. Setiap
makhluk hidup sangat tergantung pada kondisi lingkungannya.
Maka dibutuhkan daya adaptasi agar tetap bisa bertahan hidup
dilingkungan tersebut. Namun setiap spesies mikroorganisme
memiliki aktivitas yang berbeda-beda dalam melakukan proses
pertumbuhan
dan
adaptasi
padalingkungannya
[2].
Pertumbuhan mikroba diartikan sebagai pembelahan sel atau
semakin
banyaknya
organisme
yang
terbentuk.
Mikroorganisme akan semakin cepat pertumbuhannya apabila
diinkubasi dalam suasana yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kondisi pertumbuhan suatu mikroorganisme tidak akan lepas
dari faktor fisiko-kimia, seperti pH, suhu, tekanan osmosis,
kandungan nutrisi media, sterilisasi media, kontaminan dan

paparan radiasi yang bersifat inhibitor. Dalam proses


pertumbuhannya setiap makhluk hidup membutuhkan nutrisi
yang cukup serta kondisi lingkungan yang mendukung demi
berlangsungnya proses pertumbuhan mikroorganisme tersebut
[3].
Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
miroorganisme adalah adanya pengaruh tekanan osmosis dari
lingkungan. Tekanan osmosis erat kaitannya dengan
kandungan air. Apabila mikroorganisme diletakkan atau
dikondisikan pada lingkungan hopertonis, maka selnya akan
mengalami plasmolisis. Plasmolisis merupakan terlepasnya
membran sitoplasma dari dinding sel akibat adanya pengerutan
sitoplasma. Apabila mikroorganisme diletakkan pada kondisi
lingkungan yang hipotonis maka maka sel akan mengalami
plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena masuknya cairan ke
dalam sel, sehingga sel membengkak dan akhirnya pecah atau
lisis [2]. Berdasarkan tekanan osmosis, mikroorganisme
bakteri dikelompokkan menjadi:
1. Bakteri osmofil merupakan bakteri yang dapat tumbuh
pada kadar gula tinggi, contohnya beberapa jenis khamir.
2. Bakteri halofil, merupakan bakteri yang dapat tumbuh
pada kadar garam halogen tinggi, contohnya
Archaebacterium, misalnya Halobacterium.
3. Bakteri halodurik merupakan bakteri yang rentan pada
kadar garam tinggi. Namun pada kondisi tersebut bakteri
tidak dapat melakukan pertumbuhan. Biasanya kadar
garam dapat mencapai hingga 30% [1].
Bacillus cereus adalah bakteri fakultatif anaerob yang
dapat membentuk spora dan dapat ditumbuhkan pada
berbagai media termasuk pada makanan yang dapat
menyebabkan penyakit pada manusia. Biasanya akan
menyebabkan diare atau muntah pada manusia yang
terkontaminasi bakteri ini. Pembentukan spora tersebut
dapat menjadikan Bacillus cereus resisten terhadap
pemanasan dan kekeringan. Bacillus cereus termasuk
bakteri katalase negatif dan dapat tumbuh pada media yang
diberi 5 % NaCl. Bacillus cereus merupakan bakteri gram
negatif berbentuk rod dan biasanya ditemukan dalam tanah
[4].
Pseudomonas sp. merupakan bakteri yang memiliki
bentuk sel batang atau bulat dengan diameter koloni 0,5-0,8
m. Pseudomonas sp. yang dikulturkan pada media NA,
koloninya akan berada di atas permukaan media. Koloni
bakteri berwarna kuning, permukaan koloni mengkilat.

LAPORAN MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN KELOMPOK 10 TAHUN 2015


Termasuk ke dalam bakteri gram negatif, memiliki flagel,
motil, dan termasuk bakteri katalase positif [5].
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui
pengaruh tekanan osmosis pada pertumbuhan bakteri
Pseudomonas sp. dan Bacillus cereus.
II. METODOLOGI
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis - Jumat, 19-20
November 2015 di Laboratorium Mikrobiologi dan
Bioteknologi Jurusan Biologi ITS.
Dilakukan pembuatan media dalam praktikum ini yaitu
dengan menyiapkan NB sebanyak 8,4 gram, dimasukkan ke
dalam erlenmeyer. Ditambahkan 1,5 liter akuades ke dalma
erlenmeyer yag sudah berisi medium. Dihomogenkan larutan
akuades + NB menggunakan magnetic stirer. Disiapkan 3
erlenmeyer dan dimasukkan NB sebanyak 90 ml pada masingmasing erlenmeyer. Ditambahkan NaCl 0 g, 5 g, dan 10 g ke
masing-masing erlenmeyer. Setiap erlenmeyer diberi label
masing-masing konsentrasi. Diberi sumbat dan diwrap
erlenmeyer lalu dimasukkan dalam autoklaf selama 15 menit
dengan suhu 121C. Dilakukan pembuatan larutan fisiologis
dimasukkan 0,85 gram NaCl dalam 100 ml akuades lalu
dihomogenkan. Diberi sumbat dan diwrap kemudian di
autoklaf.
Dilakukan kultur starter dengan cara diinokulasikan bakteri
menggunakan ose ke dalam larutan fisiologis yang sudah
diautoklaf. Diukur OD dari sampel menggunakan
spektrofotometer . Pengukuran dilakukan hingga didapatkan
OD 0,2. Selanjutnya dilakukan inokulasi 10 ml larutan
fisiologis + kultur dalam media NB pada masing-masing
erlenmeyer.
Inokulasi isolat ke dalam masing-masing
erlenmeyer dilakukan dalam LAF
Selanjutnya dilakukan pengukuran kurva pertumbuhan
bakteri selama 24 jam menggunakan spektrofotometer.
Diambil isolat bakteri sebanyak 3 ml dan dimasukkan ke
dalam kuvet secara aseptis. Dimasukkan blanko ke dalam
kuvet
secara
aseptis
lalu
diukur
menggunakan
spektrofotometer dan dicatat nilai absorbansinya. Pengambilan
isolat ke dalam masing-masing kuvet dilakukan dalam LAF.
Pengamatan atau pengukuran dilakukan setiap 2 jam sekali.
Pada pengukuran ini digunakan gelombang 600 nm. Data yang
didapatnkan nantinya dibuat grafik untuk mengetahui tingkat
pertumbuhan bakteri.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dilakukan pembuatan media dalam praktikum ini yaitu
dengan menyiapkan NB sebanyak 8,4 gram, dimasukkan ke
dalam erlenmeyer. Ditambahkan 1,5 liter akuades ke dalam
erlenmeyer yag sudah berisi medium. NB digunakan sebagai
sumber nutrisi bagi mikroorganismeyang akan dikulturkan.
Sedangkan penambahan akuades digunakan sebagai pelarut
media. Dihomogenkan larutan akuades + NB menggunakan
magnetic stirer. Digunakan magnetic stirer dalam pengadukan
agar larutan dapat homogen sempurna dalam waktu yang
relatif singkat. Disiapkan 3 erlenmeyer dan dimasukkan NB
sebanyak 90 ml pada masing-masing erlenmeyer. Ditambahkan

NaCl 0 g, 5 g, dan 10 g ke masing-masing erlenmeyer.


Penambahan NaCl digunakan untuk memberikan perlakuan
tekanan osmotik sel bakteri. Setiap erlenmeyer diberi label
masing-masing konsentrasi. Diberi sumbat dan diwrap
erlenmeyer lalu dimasukkan dalam autoklaf selama 15 menit
dengan suhu 121C. Hal ini dilakukan agar media yang akan
diinokulasikan bakteri benar-benar steril dan meminimalisir
kontaminan yang dapat merusak sampel dan membuat data
yang didapatkan dalam pengukuran spektrofotometer error
atau tidak valid. Dilakukan pembuatan larutan fisiologis
dimasukkan 0,85 gram NaCl dalam 100 ml akuades lalu
dihomogenkan. Larutan fisiologis berfungsi agar sel tidak
mudah lisis jika dipindahkan ke medium. Dengan kata lain
larutan fisiologis dapat menjaga sel dan mengadaptasikan sel
pada kondisi medium yang akan diinokulasikan bakteri. Diberi
sumbat dan diwrap kemudian di autoklaf. Hal ini dilakukan
agar larutan fisiologis steril sehingga tidak terkontaminsai
dengan mikroorganisme lain.
Dilakukan kultur starter dengan cara diinokulasikan bakteri
menggunakan ose agar dapat terambil bakteri yang memiliki
ukuran mikro ke dalam larutan fisiologis yang sudah
diautoklaf. Diukur OD dari sampel menggunakan
spektrofotometer. dilakukan pengukuran OD untuk
menentukan densitas bakteri dalam suatu larutan dengan kata
lain digunakna untuk menentukan banyaknya bakteri yang
akan digunakan dalam praktikum ini. Selanjutnya dilakukan
inokulasi 10 ml larutan fisiologis + kultur dalam media NB
pada masing-masing erlenmeyer. Inokulasi isolat ke dalam
masing-masing erlenmeyer dilakukan dalam LAF. Hal ini
dilakukan untu menghindari adanya kontaminan dari udara.
Selanjutnya dilakukan pengukuran kurva pertumbuhan
bakteri selama 24 jam menggunakan spektrofotometer. Hal ini
dimaksudkan untuk mengetahui grafik atau kurva pertumbuhan
bakteri sehingga dapat diketahui fase-fase hidup dari bakteri
tersebut. Diambil isolat bakteri sebanyak 3 ml dan
dimasukkan ke dalam kuvet secara aseptis untuk menghindari
adanya kontaminan. Dimasukkan blanko ke dalam kuvet
secara aseptis lalu diukur menggunakan spektrofotometer dan
dicatat nilai absorbansinya. Fungsi dari blanko adalah untuk
mengukur serapan pereaksi yang digunakan untuk analisis
densitas isolat sehingga jumlah serapan isolat sendiri adalah
nilai absorbansi larutan standar atau sampel (mengandung
pelarut dan isolat) dikurangi serapan pelarutnya. Sehingga
absorbansi yang didapat pada pengukuran ini adalah serapan
untuk isolat dalam sampel, fungsi kalibrasi juga untuk
menghilangkan efek refleksi akibat pancaran sinar radiasi
menuju larutan [6]. Pengambilan isolat ke dalam masingmasing kuvet dilakukan dalam LAF. Hal ini dilakukan untu
menghindari adanya kontaminan dari udara. Pengamatan atau
pengukuran dilakukan setiap 2 jam sekali agar didapatkan
hasil yang signifikan dari pertumbuhan bakteri.
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil
pertumbuhan dari bakteri Bacillus cereus dan Pseudomonas
sp.. Pada grafik pertumbuhan Bacillus cereus pada jam awal
pengukuran hingga akhir mengalami peningkatan secara
signifikan dalam medium dengan konsentrasi 0 gr NaCl.
Begitu pula pada bakter Pseudomonas sp. namun
mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan pada

pengukuran ke 10 hingga 11 dan berjalan normal lagi. Pada


konsentrasi medium NaCl 5 gr, B.cereus mengalami
fluktuasi pertumbuhan yaitu mengalami kenaikan darstis
pada pengukuran ke 4 namun setelah itu mengalami
penurunan signifikan dan kembali naik namun tidak terlalu
signifikan. Sedangkan pada Pseudomonas sp. mengalami
kenaikan secara signifikan hingga akhir pengukuran. Pada
konsentrasi medium NaCl 10 gr B.cereus mengalami
pertumbuhan yang hampir konstan hingga akhir
pengukuran. Sedangakan Pseudomonas sp. pertumbuhannya
berjalan konstan pada pengukuran awal hingga pengukuran
ke 10, namun setelah itu terjadi peningkatan pertumbuhan
bakteri secara signifikan.
Pada B.cereus jika terjadi stress salinitas menurut [7]
akan ada regulasi enzim NCIMB 11796 dalam selnya
sehingga dapat tetap bertahan dalam kondisi yang tidak
menguntungkan tersebut. Stres salinitas juga diketahui dapat
menginduksi pembentukan protein faktor transkripsi B yang
merupakan regulator terhadap stres salinitas [8]
Pada saat bakteri dikulturkan pada lingkungan dengan
salinitas tinggi maka akan terjadi pengeluaran air dari dalam
sel sehingga menyebabkan adanya penurunan tekanan turgor
dalam sel. untuk memperbaiki dan mengatur kembali
tekanan turgor, bakteri menginisiasi 2 langkah adaptasi
terhadap stress salinitas sebagi respon. Pertama dengan
melakukan pengambilan ion K+ oleh sel bakteri dan
melakukan osmoproteksi dengan mengumpulkan proteinprotein seperti glisin betain oleh sistem transport. Sehingga
bakteri yang hidup pada kondisi stress salinitas tetap bisa
tumbuh [8]. Hal ini dapat dilihat baik dari hasil kurva
Bacillus cereus yang tetap bisa tumbuh pada konsentrasi
salinitas medium paling tinggi secara konstan. dan
Pseudomonas sp. yang dapat terus mengalami peningkatan
pertumbuhan secara signifikan. Terjadi adanya perbedaan
kurva pertumbuhan pada Bacillus cereus dan Pseudomonas
sp. dimana Pseudomonas sp. lebih bisa bertahan hidup dan
tetap melakukan pertumbuhan dari pada B.cereus. Hal ini
dikarenakan Pseudomonas merupakan salah satu bakteri
yang dapat hidup diperairan (tawar, payau, asin) sehingga
tetap
dapat
melakukan
pertumbuhan.
Sehingga
Pseudomonas sp. dapat digunakan sebagi salah satu bakteri
pendegradasi tumpahan crude oil dilaut sebagai age
biodegradator [9]. Sedangkan B.cereus tidak dapat
mengalami kenaikan kurva karena bakteri tersebut yang
umumnya ditemukan pada habitat tanah. Sehingga kurang
bisa melakukan adaptasi terhadap stress salinitas yang
diberikan. Diduga B.cereus tidak melakukan pertumbuhan
pada konsentrasi medium dengan NaCl yang tinggi. Bakteri
tersebut hanya melakukan pertahanan hidup untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan. Namun pada
konsentrasi NaCl 5gr B.cereus tetap bisa tumbuh karena
diasumsikan bahwa kadar salinitas tanah hampir sama
seperti medium sehingga tetap bisa terjadi adanya
pertumbuhan bakteri meskipun fluktuatif [4].

Nilai Absorbansi

LAPORAN MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN KELOMPOK 10 TAHUN 2015

Jam ke-

Dalam pertumbuhan bakteri selalu ada faktor-faktor yang


mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor tersebut menurut
menurut [10] adalah:
Waktu
Laju perbanyakan bakteri bervariasi menurut spesies dan
kondisi pertumbuhannya. Pada kondisi optimal hampir semua
bakteri memperbanyak diri dengan pembelahan biner sekali
setiap 20 menit.
Makanan
Semua mikroorganisme memerlukan nutrient yang dapat
digunakan sebagai:
a) Energi, biasanya diperoleh dari senyawa yang mengandung unsur
karbon.
b) Nitrogen untuk sintesa protein.
c) Vitamin dan yang berkaitan denagn faktor pertumbuhan
mikroorganisme.

Kelembaban
Seperti halnya semua organisme memerlukan air untuk
mempertahankan hidupnya. Banyaknya air dalam nutrisi yang
tersedia untuk digunakan dapat di diskripsikan dengan istilah
aktivitas air (Aw).
Suhu
Mikroorganisme dapat diklasifikasikan menjadi tiga
kelompok berdasarkan suhu pertumbuhan yang diperlukannya.

LAPORAN MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN KELOMPOK 10 TAHUN 2015


- Psikrofil (organisme yang suka dingin) dapat tumbuh baik
pada suhu dibawah 20oC, kisaran suhu optimal adalah 10oC
sampai 20 oC.
- Mesofil (organisme yang suka pada suhu sedang) memiliki
suhu pertumbuhan optimal antara 20 oC sampai 45 oC.
- Termofil (organisme yang suka pada suhu tinggi) dapat
tumbuh baik pada suhu diatas 45 oC, kisaran pertumbuhan
optimalnya adalah 50 oC sampai 60 oC.
Oksigen
Tersedianya oksigen dapat mempengaruhi pertumbuhan
mikroorganisme. Mikroorganisme diklasifikasikan menjadi
beberapa kelompok berdasarkan kebutuhannya terhadap
oksigen:
- Aerob yaitu mikroorganisme yang hanya dapat tumbuh jika
terdapat oksigen.
- Anaerob obligat adalah mikroorganisme yang dapat tumbuh
jika tidak ada oksigen, namun justru akan mati kalau ada
oksigen.
- Anaerob Fakultatif merupakan bakteri yang dapat hidup
dengan ada atau tidak adanya oksigen.
- Mikroaerofil merupakan bakteri yang dapat hidup pada
konsisi minim oksigen
- aerotolerant merupakan mikroorganisme yang tidak
menggunakan oksigen untuk pertumbuhannya namun dapat
mentoleransi adanya oksigen
pH
Daging dan bahan pangan hasil laut lebih mudah mengalami
kerusakan oleh bakteri, karena memiliki pH mendekati 7,0.
Pada tersebut merupakan pH yang paling sesuai untuk bakteri
tumbuh dan berkolonisasi. Umumnya bakteri yang terdapat di
permukaan ikan ( lapisan lender) adalah dari golongan
Pseudomonas,
Acinobacter,
Moraxella,
Alcaligenes,
Micrococcus, Flavobacterium, Corynebacterium, Serratia,
Vibrio, Bacillus, Clostridium dan Eschericia. Bakteri
Pseudomonas dan Acromabacter merupakan bakteri Psikrofil
yang kebanyakan dapat menyebabkan ikan membusuk
(Nurwantoro dan Abbas,1997)

IV. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]

[5]
[6]

[7]

Campbell, Neil A. Biologi. Jakarta: Erlangga (2004) .


Effendi, M.. Faktor Lingkungan Mikroba- Agroindustri Produk
Fermentasi. Malang: Universitas Brawijaya (2008)
Hogg, S.. Essential Microbiology. John Wiley & Sons Ltd: England
(2005)
Tallent, Sandra M., Kotewicz, Kristin M., Strain, Errol A. and Bennet,
Reginald W. 2012. Efficient Isolation And Identification of Bacillus
cereus Group. Journal of AOAC International Vol 95 No 2
Brimble combe, Peter. The Effect Of Air Pollution On The Built
Environment. London: World scientific Imperial College Press (2003).
Harley, J.P. and L.M. Prescott.. Laboratory Exercises in
Microbiology, 5th Edition. New York :The Mc Graw Hill Companies
(2002)
Browne, N., and B. C. A. Dowds. 2001. Heat And Salt Stress In The
Food Pathogen Bacillus cereus. Journal Appl. Microbiol. 91:1085
1094.

[8]

Besten, Heidy M.W.D., Mols, M., Moezelaar, R., Zwietering, M.H. and
Abee, T. 2009. Phenotypic And Transcriptomic Analyses Of Mildly
And Severely Salt-Stressed Bacillus cereus ATCC 14579 Cells.
Journal Applied and environmental microbiology, vol. 75 No. 12 pp
4111-4119
[9] Liang, Z.G., Ting, W.Y., Ping, Q.X., Qin, Meng. 2005. Biodegradation
of crude oil by Pseudomonas aeruginosa in the presence of
rhamnolipids. Journal of Zhejiang University Science Vol 6B No 8 pp
725-730
[10] Gaman, P.M & K.B. Sherrington. Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu
Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Yogyakarta:Universitas Gadjah
Mada press (1994).