Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH RANGSANG BERKUMUR DAN MENGUNYAH

TERHADAP SEKRESI SALIVA

Prima Ananta Putra


07/252377/KG/8204

Laboratorium Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRACT
Saliva is a complex fluid that produced in and secreted from major and minor
salivary glands. Saliva has an important roles in oral health through its functions in
digestion, lubrication, neutralization and buffering, and also antibacterial effects. The
secretion of saliva is influenced by several factors, such as the presence of stimuli, kinds of
stimulation, neuron system, physiological condition, medication, even age. So, the aim of this
experiment is to understand the effect gargling and chewing stimulation towards pH and
saliva’s secretion. In this experiment we use five subjects that given four experiment each of
them. The results are: unstimulated average volume 0.68 ml/min with pH 7.16, gargling
aquabides average volume 1.20 ml/min with pH 8.33, chewing apple average volume 1.72
ml/min with pH 7.63, chewing banana average volume 1.60 ml/min with pH 7.70, dropped
by citric acid average volume 2.40 ml/min with pH 7.25. The result of this experiment saw an
increased on pH and saliva’s secretion after stimulation.
Absract: saliva, salivary flowrates, pH, mechanical stimulation, chemical stimulation

PENDAHULUAN

Mulut merupakan pintu gerbang tubuh, setiap hari tidak terhitung banyaknya
mikroorganisme yang masuk melewati mulut. Namun keadaan ini tidak menjadi masalah
selama kondisi rongga mulut dalam keadaan seimbang. Keadaan ini tercipta karena adanya
keseimbangan buffer dalam saliva.
Saliva merupakan campuran cairan-cairan kompleks yang berasal dari glandula
salivarius mayor (parotis, submandibular, sublingual), glandula salivarius minor, dan cairan
krevikuler. Saliva juga terdiri dari sejumlah besar populasi flora normal mulut, sel-sel epitel
yang terdeskuamasi dan sisa-sisa makanan. Sumber-sumber saliva tersebut membuat
komposisinya komplex (Edgar, 1992).
Saliva mengandung dua enzim pencernaan, yaitu lipase lingual, disekresi oleh
kelenjar pada lidah, dan α-amilase saliva yang disekresi oleh kelenjar-kelenjar saliva. Saliva
juga mengandung musin, yaitu glikoprotein yang membasahi makanan dan melindungi
mukosa mulut, IgA yaitu pertahanan imunologik pertama terhadap kuman dan virus, lisozim
yang menghancurkan dinding sel bakteri, laktoferin untuk mengikat besi, dan protein kaya
prolin (Ganong, 2001).

1
Saliva diproduksi oleh tiga pasang kelenjar saliva mayor, yaitu kelenjar sublingual,
submandibula, dan parotis. Selain itu, terdapat kelenjar saliva minor, yaitu kelenjar bukal, di
lapisan mukosa pipi (Sherwood, 2001). Saliva mengandung dua tipe sekresi protein yang
utama yaitu sekresi serus yang mengandung ptialin yang merupakan enzim untuk
mencernakan serat, dan sekresi mukus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan dan
perlindungan permukaan. Saliva mempunyai pH antara 6,0 dan 7,4, suatu kisaran yang
menguntungkan untuk kerja pencernaan dari ptialin (Guyton and Hall, 1997).
Kelenjar ludah dapat dirangsang dengan cara mekanis maupun kimiawi. Secara
mekanis misalnya mengunyah makanan keras atau permen karet, sedangkan secara kimiawi
misalnya oleh rangsangan seperti asam, manis, asin dan pahit (Amerongen, 1991).
Kepentingan saliva bagi kesehatan mulut terutama terlihat bila terjadi gangguan pada
sekresinya. Sekresi saliva yang menurun akan menyebabkan kesukaran bicara, mengunyah
dan menelan, serta fungsi antibakterinya juga menurun (Ariesant, 2004).
Tujuan dilakukannya percobaan pada praktikum ini ialah untuk mengetahui
perbedaan volume serta pH saliva dalam kondisi tanpa terstimulasi maupun pada berbagai
jenis stimulasi. Secara mekanis dengan cara berkumur dan mengunyah buah apel atau pisang,
sedangkan secara kimiawi yaitu dengan cara lidah ditetesi dengan asam sitrun.

BAHAN DAN CARA KERJA

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah pot untuk
menampung saliva, pH meter, spuit injeksi untuk mengukur volume saliva, sopwatch, bahan
kumur aquabides, buah apel dan pisang.
Dalam praktikum ini sekresi saliva dihitung dalam empat keadaan yaitu tanpa
stimulasi, dengan stimulasi berkumur, stimulasi pengunyahan, dan stimulasi dengan asam
sitrun.
Untuk pengukuran saliva yang tanpa stimulasi subjek diminta berdiri tegak lurus
dengan lantai dan mengumpulkan saliva dalam rongga mulut selama 5 menit ,setelah itu
saliva diludahkan selama 1 menit ke dalam pot saliva. Kemudian volume saliva diukur
dengan cara aspirasi menggunakan spuit injeksi. Setelah itu, saliva dituang kembali ke dalam
pot saliva dan diukur pH-nya dengan menggunakan pH meter. Selanjutnya ditunggu selama
15 menit kemudian melanjutkan dengan stimulasi berkumur.
Selanjutnya untuk pengukuran dengan stimulasi berkumur, subjek diminta berdiri
tegak lurus dengan lantai dan berkumur dengan 10 ml aquabides selama 1 menit. Dengan
posisi yang sama, subjek mengeluarkan saliva selama 1 menit untuk di tampung di dalam pot
2
saliva. Kemudian volume saliva diukur dengan cara aspirasi menggunakan spuit injeksi.
Setelah itu, saliva dituang kembali ke dalam pot saliva dan diukur pH-nya dengan
menggunakan pH meter. Selanjutnya ditunggu selama 15 menit kemudian melanjutkan
dengan stimulasi pengunyahan.
Selanjutnya untuk pengukuran dengan stimulasi pengunyahan, subjek mengunyah
apel atau pisang selam 5 menit. Posisi berdiri tegak lurus dengan lantai, subjek mengeluarkan
saliva selama 1 menit dan menampungnya dalam pot saliva. Lalu dilakukan pengukuran
volume dan pH saliva tersebut. Selanjutnya ditunggu selama 15 menit kemudian melanjutkan
dengan stimulasi asam sitrun.
Selanjutnya untuk pengukuran dengan stimulasi asam sitrun, subjek bekumur dengan
10 mL aquabides selama 1 menit, kemudian lidahnya ditetesi dengan asam sitrun sampai
timbul persepsi pengecapan.. Setalah timbul sensasi pengecapan, saliva di buang. Kemudian
dalam posisi tegak lurus dengan lantai, subjek menampung saliva salam rongga mulut selama
5 menit. Setelah itu saliva di masukkan dalam pot saliva dan dilakukan pengukuran volume
dan pH saliva.

HASIL PENGAMATAN

Tabel Hasil Pengukuran Volume dan pH Saliva Pada Lima Orang Probandus
Tanpa Stimulasi Pengunyahan Pengunyahan Stimulasi
Nama Stimulasi Berkumur Pisang Apel Asam Sitrun
Probandus Volume pH Volume pH Volume pH Volume pH Volume pH
(ml/mnt) (ml/mnt) (ml/mnt) (ml/mnt) (ml/mnt)
Hamida 0,80 7,3 1,30 8,30 1,60 7,41 - - 2,00 7,30
0
Rina 0,54 7,3 0,90 8,30 1,60 8,00 - - 2,50 7,37
8
Chandra 0,66 7,2 0,80 8,58 - - 1,50 7,90 2,40 7,13
2
Ananto 0,78 6,7 1,40 8,26 - - 2,10 7,36 2,80 7,12
4
Dendi 0,60 7,1 1,60 8,20 - - 1,80 7,48 2,30 7,34
7
Rata-rata 0,68 7,1 1,20 8,33 1,60 7,70 1,72 7,58 2,40 7,25
6

3
PEMBAHASAN

Dari praktikum diperoleh hasil pengukuran kecepatan sekresi saliva dari yang
terendah ke tertinggi yaitu kecepatan sekresi saliva tanpa stimulasi, kecepatan sekresi saliva
yang distimulasi dengan berkumur, kecepatan sekresi saliva yang distimulasi dengan
pengunyahan apel, kecepatan sekresi saliva yang distimulasi dengan pengunyahan pisang,
dan kecepatan sekresi saliva yang distimulasi dengan asam sitrun. Hasil tersebut telah sesuai
menurut Engelen, dkk (2003), yaitu urutan kecepatan sekresi saliva dari yang terendah
sampai yang tertinggi adalah kecepatan sekresi saliva tanpa stimulasi, kecepatan sekresi
saliva dengan rangsang mekanis, dan kecepatan sekresi saliva dengan rangsang kimiawi.
Pada praktikum kali ini rangsang mekanik yang digunakan adalah berkumur dengan
akuabides dan mengunyah buah apel atau pisang. Sedangkan rangsang kimiawi yang
digunakan adalah meneteskan asam sitrun pada lidah probandus. Hasil juga sesuai menurut
Amerongen (1991) bahwa semua kelenjar saliva paling kuat terangsang oleh asam sitrun.
Besarnya hasil yang didapatkan untuk kecepatan sekresi saliva tanpa stimulasi
maupun terstimulasi termasuk normal menurut Rantonen (2003) bahwa nilai normal untuk
kecepatan sekresi saliva terstimulasi yang banyak diterima adalah 1-3 ml/menit. Nilai di
bawah 0,7 ml/menit dikatakan mengalami hiposalivasi, dan nilai 0,7-1 ml/menit disebut
mengalami kecepatan sekresi yang lambat. Selain itu juga sesuai menurut Edgar (1992),
bahwa kecepatan aliran saliva setelah terstimulasi memiliki rentang nilai antara 1,1-3,0 ml/
menit.
Selanjutnya dari praktikum diperoleh hasil pengukuran derajat keasaman saliva dari
yang terendah ke tertinggi yaitu derajat keasaman saliva tanpa stimulasi, derajat keasaman
saliva yang distimulasi dengan asam sitrun, derajat keasaman saliva yang distimulasi dengan
pengunyahan apel, derajat keasaman saliva yang distimulasi dengan pengunyahan pisang, dan
derajat keasaman saliva yang distimulasi dengan berkumur.
Besarnya derajat keasaman untuk yang tidak terstimulasi telah sesui menurut Guyton
(1997), bahwa pH saliva normal adalah antara 6,0 sampai 7,4. Selain itu juga sesuai Ristchel
dan Thompson (1983), disebutkan rentang pH saliva normal yang lebih luas, yaitu antara 5,6
sampai 7,9. Selain itu hasil yang yang diberi stimulasi lebih tinggi derajat keasamannya
daripada tanpa stimulasi juga sesuai dengan Amerongen (1991) dan Engelen, dkk (2003),
karena kecepatan aliran saliva yang disekresi dengan stimuli mekanis dan kimiawi memang
4
lebih tinggi daripada kecepatan aliran saliva yang disekresi tanpa stimuli, sehingga pH saliva
yang mendapat stimuli mekanis dan kimiawi menjadi lebih tinggi daripada pH saliva yang
tidak mendapat stimuli apapun.
Namun khusus untuk stimulasi dengan pengunyahan antara apel dan pisang pada
percobaan kali ini tidak dapat ditarik kesimpulan dikarenakan jumlah probandusnya tidak
sama, baik untuk kecepatan sekresi saliva maupun derajat keasamannya.

KESIMPULAN

Kecepatan sekresi saliva dapat distimulasi dengan stimulasi mekanis dan stimulasi
kimiawi. Urutan kecepatan sekresi saliva dari yang terendah yaitu kecepatan sekresi saliva
tanpa stimuli, dengan stimuli mekanis, dan dengan stimuli kimiawi. Pada pengukuran pH,
terdapat perbedaan yang tidak terlalu signifikan antara keadaan tidak distimulasi, maupun
dengan berbagai stimulasi.

DAFTAR PUSTAKA

Amerongen, AVN. 1991, Ludah dan Kelenjar Ludah: Arti bagi Kesehatan Gigi. Yogyakarta.
Gadjah Mada University Press.

Ariesanti Y, dkk. 2004. Perbedaan Kadar Urea di dalam Saliva Penderita Karies dan Bebas
Karies. M.I. Kedokteran gigi. 58: 135.

Edgar, WM. 1992. Saliva: its secretion, composition and functions. British Dental Journal.
172: 305.

Engelen W, Prinz VDB, Bosman. 2003. The Relation between Saliva Flow Rate After
Different Stimulations and The Perception of Flavor and Texture Attributes in Custar
Dessert. Physiology and Behavior. 78:165-69.

Ganong WF. 2001. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 20. Jakarta. EGC.

Guyton AC, Hall JE. 1997. Fisiologi Kedokteran Jakarta. EGC.

Rantonen P. 2003. Salivary Flow and Composition in Healthy and Disease Adults.
Disertation, Faculty of Medicine. University of Helsinki.

Ritschel WA, Thompson GA. 1983. Monitoring of Drug Concentration in Saliva : A Non
Invasive Pharmacokinetic Procedure. Methods and Findings in Experimental and
Clinical Pharmacology.;5:511-25.

5
Sherwood, L . 2001. Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta. EGC.

PENGARUH RANGSANG BERKUMUR


DAN MENGUNYAH TERHADAP
SEKRESI SALIVA

oleh :
PRIMA ANANTA PUTRA
07/252377/KG/8204
Kelompok C4

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu


prasyarat matakuliah Biologi Mulut III

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


6
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010