Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Alat dan bahan:
a. Aqua gelas untuk berkumur
b. Kapas atau kain kasa
c. Permen karet yang mengandung gula xylitol dan gula glukosa
d. Jeruk nipis
e. Beker glass atau gelas plastik
f. Gelas ukur
g. PH indikator
2.2 Cara kerja:
a. Mahsasiswa dalam grup praktikum membentuk kelompok kecil berisi 2 atau
3 mahasiswa
b. Tiap pasangan memutuskan salah satunya menjadi probandus
c. Probandus diminta untuk berkumur dengan aqua 1 kali
d. Selanjutnya probandus menampung saliva dalam beker glass atau gelas
plastik selama 5 menit (percobaan 1)
e. Saliva yang telah ditampung diukur PH-nya dengan menggunakan PH
indikator
f. Saliva kemudian dipindahkan ke dalam gelas ukur untuk diukur volumenya
g. Probandus istirahat selama 15 menit untuk melakukan percobaan berikutnya
h. Catat hasil dalam tabel sebagai laporan sementara
i. Selanjutnya:
1) Percobaan 2: probandus mengunyah kapas atau kain kasa selama 5 menit
sambil menampung saliva dalam gelas plastik kemudian lakukan
prosedur e, f, g, h
2) Percobaan 2: probandus mengunyah permen karet yang mengandung gula
xylitol selama 5 menit sambil menampung saliva dalam gelas plastik
kemudian lakukan prosedur e, f, g, h
3) Percobaan 4: probandus mengunyah permen karet yang mengandung gula
glukosa selama 5 menit sambil menampung saliva dalam gelas plastik
kemudian lakukan prosedur e, f, g, h
4) Percobaan 5: probandus menghirup wangi dari buah jeruk nipis yang
segar dan asam selama 5 menit sambil menampung saliva dalam gelas
plastik kemudian lakukan prosedur e, f, g, h
j. Setelah percobaan selesai, bandingkan hasil percobaan tiap pasangan lalu
buatlah laporan disatukan dengan hasil praktikum saliva 2.

2.3 Hasil praktikum
a. Probandus 1
Hari / Tanggal : Selasa, 1 mei 2012
Nama probandus : Derrida Magista P
NIM : G1G010021
Nama Pencatat : Ichfazh Adisetya
NIM : G1G010017
No PERCOBAAN pH VOLUME (ml/menit)
Viskositas

1. Percobaan 1 :
Tanpa stimulasi
7 1,16 ml/menit Serus

2. Percobaan 2 :
stimulasi kapas
8 1,78 ml/menit Serus

3. Percobaan 3 :
stimulasi xylitol
8 2,6 ml/menit Serus

4. Percobaan 4 :
stimulasi sukrosa
8 2,76 ml/menit Serus

5. Percobaan 5 :
stimulasi buah
8 1,8 ml/menit Serus

segar

Hasil pembahasan sementara:
1. Pada saat percobaan yang tidak diberi stimulasi keadaan pH dan viskositas
pada keadaan normal. Namun pada percobaan ini volume melebihi batas dan
bisa diduga bahwa probandus mengalami hipersaliva dimana pada keadaan
normal sekresi saliva yaitu sekitar 0,3-0,4 ml/menit.
2. Pproduksi saliva yang tertinggi terdapat pada percobaan yang menggunakan
stimulasi sukrosa, karena disebabkan oleh gerakan mengunyah dan sukrosa
yang terdapat pada permen bersifat kariogenik yang mempengaruhi sekresi
saliva.
3. Produksi saliva yang terendah terdapat pada stimulasi buah segar karena tanpa
dibarengi dengan gerakan mekanis, Karena pada saat pemberian stimulasi tapi
tanpa adanya gerakan mekanis hasil sekresi juga rendah. Namun sekresi saliva
yang rendah ini bisa juga diakibatkan oleh faktor penyakit yang terdapat pada
probandus, dan gangguan pembauan pada probandus sehingga kurang
menstimulasi sekresi saliva.
4. Produksi saliva juga sangat dipengaruhi oleh konsumsi obat-obatan pada
probandus.
5. Sekresi saliva meningkat seiring dengan jenis stimulasi yang mempunyai rasa
yang diberikan ke probandus.





b. Probandus 2
Hari / Tanggal : Selasa, 1 mei 2012
Nama probandus : Ika Mayasari
NIM : G1G010018
Nama Pencatat : Adizti Lintang C
Charmelita Clara
NIM : G1G010016
G1G010020
No PERCOBAAN pH VOLUME (ml/menit)
Viskositas

1. Percobaan 1 :
Tanpa stimulasi
7 0.4 ml/menit Serus
2. Percobaan 2 :
stimulasi kapas
8 1,19 ml/menit Serus
3. Percobaan 3 :
stimulasi xylitol
8 2,8 ml/menit Serus
4. Percobaan 4 :
stimulasi sukrosa
8 3,7 ml/menit Serus
5. Percobaan 5 :
stimulasi buah
segar
8 0,64 ml/menit Serus

Hasil pembahasan sementara :
1. Pada percobaan ini didapatkan asil seperti diatas. Pada percobaan tanpa
stimulasi (normal) volume 0,4 ml/menit denga pH 7. Hal ini normal
karena batas normal untuk sekresi tanpa stimulasi sekitar 0,3-0,4
ml/menit dan pH 5,6-7. Percobaan ini dapat dibandingkan dengan
percobaan yang menggunakan stimulasi yaitu didapatkan hasil yang
paling tinggi dan paling redah. Hasil yang paling tinggi yaitu pada saat
probandus distimulasi dengan gula glukosa (permen karet) dengan sekresi
saliva 3,7 ml/menit dan pH 8. Hal ini terjadi karena glukosa bersifat
kariogenik, sehingga mempengaruhi pH. Untuk volume bertambah karena
stimulasi oleh gerakan mekanis yaitu berupa gerakan mengunyah sehingga
aliran saliva meningkat. Sedangkan untu hasil yang terendah yaitu setelah
dstimulasi menggunakan buah segar dan volume yang diperoleh adalah
0,64 dengan pH 8. Hal-hal tersebut dapat dipengaruhi oleh jenis kelamin,
umur dan perbedaan gula yang dipakai dalam bahan yang dipakai untuk
stimulasi.

c. Probandus 3
Hari / Tanggal : Selasa, 1 mei 2012
Nama probandus : Meitika W
NIM : G1G010014
Nama Pencatat : Ichma Amarviana B
NIM : G1G010024

No PERCOBAAN pH VOLUME (ml/menit)
Viskositas

1. Percobaan 1 :
Tanpa stimulasi
7 0,083 ml/menit Serus
2. Percobaan 2 :
stimulasi kapas
8 0,4 ml/menit Serus
3. Percobaan 3 :
stimulasi xylitol
8 0,8 ml/menit Serus
4. Percobaan 4 :
stimulasi sukrosa
7 1,6 ml/menit Serus
5. Percobaan 5 :
stimulasi buah
6 0,1 ml/menit Serus
segar

Hasil pembahasan sementara :
1. Jika tidak distimulasi seharusnya laju pada saliva seharusnya 0,3-0,4
ml/menit, tetapi dalam hal ini probandus hanya menghasilkan saliva 0,083
ml/menit.
2. Jika probandus mendapat rangsangan berupa makanan maka laju aliran
saliva akan meningkat.
3. Laju aliran saliva yang terjadi ketika probandus mendapat rangsang
glukosa di dalam mulutya yaitu 1,6 ml/menit.
4. Pada percobaan tersebut pH yang paling asam didapat ketika probandus
distimulasi dengan buah segar pada indera penciuman yaitu 6.
5. Sedangkan pH yang paling basa didapatkan ketika probandus distimulasi
dengan kain kasa dan xylitol didalam rongga mulut yaitu 8.
6. Pada seluruh percobaan viskositas saliva probandus adalah serus.
7. Minimnya produksi saliva oleh probandus dapat juga dipengaruhi oleh
kondisi kesehatan probandus yang sedang influenza, batuk dan juga bisa
karena kurang konsentrasi.
8. Kurangnya sekresi saliva bisa diakubatkan karena probandus mengalami
hiposaliva.
9. Hiposaliva ini bisa diakibatkan karena probandus mengkonsumsi obat
obatan sebelum di tes.
10. Faktor yang mempengaruhi laju saliva antara lain stimulus makanan dan
pola pengunyahan.



2.4 Pembahasn
Faktor yang mempengaruhi sekresi saliva pada keadaan tanpa rangsang dapat
disebabkan oleh faktor berikut :
1. Derajat hidrasi
Pada keadaan dehidrasi, saliva menurun hingga mencapai nol (Rensburg,
1995). Derajat hidrasi atau cairan tubuh merupakan faktor yang paling penting
arena apabila cairan tubuh berkurang 8% maka kecepatan saliva akan
berkurang hingga mencapai nol (Edgar and OMullane, 1996)
2. Posisi tubuh
Posisi tubuh dalam keadaan berdiri merupakan posisi dengan kecepatan
aliran saliva tertinggi bila dibanding kan dengan posisi duduk dan berbaring (
Roth and Calmes,1981)
3. Usia
Kecepatan aliran saliva pada usia yang lebih tua akan mengalami penurunan
sedangkan pada anak-anak dan dewasa kecepatan aliran saliva akan
meningkat ( Roth and Calmes, 1981).
4. Obat-obatan
Atropine dan obat kolinergik lainnya akan menurunkan sekresi saliva (
Ganong, 1996 )
5. Efek psikis
Efek psikis seperti mendengar bunyi makanan yang sedang disiapkan,
berbicara tentang makanan dan melihat makanan akan meningkatkan aliran
saliva (Roth and Calmes, 1981)
Kelenjar saliva meproduksi saliva hampir setengah liter setiap hari. Beberapa
faktor mempengaruhi sekresi saliva dengan merangsang kelenjar saliva melalui cara-
cara berikut :
1. Faktor mekanis yaitu dengan mengunyah makanan yang keras atau permen
karet.
2. Faktor kimiawi yaitu melalui rangsangan seperti asam, manis, asin, pahit, dan
pedas.
3. Faktor neuronal yaitu melalui system syaraf autonom baik simpatis maupun
parasimpatis.
4. Faktor psikis yaitu stress yang menghambat sekresi saliva.
5. Rangsangan rasa sakit, misalnya radang, gingivitis, dan pemakaian protesa
yang dapat menstimulasi sekresi saliva. (Amerongen,1995)
Pada percobaan yang tidak mengunakan stimulasi diperoleh 3 hasil percobaan
yaitu mempunyai hasil : 1,16 ml/menit, 0.4 ml/menit, 0,083 ml/menit, berdasar
sumber yang telah diperoleh diatas sekresi saliva normal jika tanpa distimulasi yaitu
sekitar 0,3-0,4 ml/menit. Sedang pada probandus kami terdapat satu yang hasilnya
diatas batas normal yaitu 1,16 ml/menit, keadaan ini ternyata dipengaruhi oleh
berbagai faktor yaitu seperti pada saat sebelum dilakukan percobaan ternyata
probandus mengkonsumsi obat-obatan yang didalamnya mengadung bahan
parasimpatomometika yang mempengaruhi kecepata saliva meningkat. Selain obat-
obatan faktor lain yang bepengaruh terhadap sekresi saliva yaitu jenis kelamin yaitu
probandus laki-laki memiliki jumlah sekresi saliva yang lebih banyak dibanding
probandus wanita dikarenakan ukuran fisik probandus pria yang lebih besar
dibanding probandus wanita.
Pada percobaan yang menggunakan stimulasi kapas dibandingkan dengan
stimulasi buah segar hasil yang diperoleh pada saat pengunaan stimulasi buah segar
seharusnya lebih sedikit dibandingkan penggunaan stimulasi kapas, karena pada saat
stimulasi dengan kapas terjadi gerakan mekanis (pengunyahan) sehingga sekresi
saliva menjadi lebih tinggi dibanding dengan stimulasi buah segar. Tetapi salah satu
dari hasil percobaan kelompok kami terdapat hasil percobaan dengan stimulasi buah
segar mempunyai sekresi saliva yang lebih banyak dibanding kan dengan stimulasi
kapas. Hal ini bisa diakibatkan karena kesalahan pada saat percobaan atau memang
kondisi dari probandus yang sedang mengalami sakit dan mengkonsumsi obat-obatan,
atau bahkan bisa diakibatkan karena bentuk struktur galandula salivary pada
probandus yang lebih besar.
Pada percobaan sekresi saliva tanpa stimulasi dihasilkan dari kondisi
istirahat rata-rata aliran saliva berkisar 0,3 ml/menit, nilai dibawah 0,1 ml/menit
disebut hiposalivasi sedangkan nilai diantara 0,1-0,25 ml/menit rendah dan
meningkat hingga sekitar 2,5-5 ml/menit bila ada stimulasi. Nilai normal untuk laju
aliran saliva yang distimulasi adalah 1,0-3,0 ml.menit. Nilai diatas 0,7 ml/menit
disebut hipersalivasi.
Saliva yang dihasilkan proses mastikasi pada percobaan dengan mengunyah
kain kasa atau kapas merupakan suatu kegiatan reflex yang tidak bersyarat di rongga
mulut. Menurut penelitian Yeh CK (2000), semakin besar kekuatan mastikasi
diberikan maka semakin cepat aliran saliva yang diproduksi. Selama proses mastikasi
kecepatan sekresi bertambah besar 0,6 ml/menit dan 70 % hasil sekresi tersebut di
produksi oleh kelenjar parotis, hal ini sesuai dengan penelitian Johnson (1987) bahwa
adanya peningkatan regulasi saliva di kelenjar saliva. Kelenjar parotis lebih mudah
dirangsang dibandingkan dengan kelenjar mayor lainnya, hal ini dipengaruhi oleh
karena kelenjar parotis terletak di dekat otot masseter bukan di dasar mulut dan juga
letak duktus kelenjar parotis bersilangan dengan otot masseter dan businator. Hasil
viskositas dari saliva terhadap stimulus mastikasi adalah serous hal tersebut
dikarenakan sekresi dari kelenjar parotis bersifat serous.
Pada proses kimiawi, stimulasi yang terjadi dibantu oleh indera perasa,
dimana sensasi rasa akan ditangkap oleh reseptor yang ada yaitu reseptor manis, asin,,
pahit dan asam. Pada proses ini kelenjar submandibula dan sublingual lebih mudah
dirangsang dan mengeluarkan saliva yang bersifat mucous (kental).
Snow dan Wackym (2008) menyatakan bahwa menguyah permen karet telah
dibuktikan oleh banyak penelitian dapat menstimulasi pengeluaran saliva. Jumlah
saliva meningkat menguntungkan karena membantu memelihara kesehatan mulut
melalui berbagai proses. Peningkatan produksi saliva terjadi setelah 5 sampai 7
menit mengunyah permen karet karena sebagian besar pemanis dan rasa dari permen
telah terurai dalam mulut (Dodds, 2007). Seluruh permen karet dapat digunakan
untuk meningkatkan produksi saliva, namun permen karet jenis xylitol lebih sesuai
karena mengandung kadar gula lebih rendah, bahkan menurut penelitian Corsello
dkk (1994), permen karet yang mengandung xylitol mampu meningkatkan kuantitas
saliva lebih tinggi dibandingkan permen karet yang non xylitol.
Pada saliva terstimulasi glukosa, nilai viskositas saliva dengan kategori
sedang mencapai 83,3 % dan kategori buruk mencapai 16,7%. Perubahan ini
mungkin terjadi karena setelah saliva terstimulasi, kadar air menjadi berkurang
hingga akhirnya mengakibatkan peningkatan konsentrasi musin dan membuat
tampilan saliva menjadi lebih kental dan lengket. Pada percobaan dengan stimulusai
glukosa juga terjadi penurunan hingga mencapai nilai PH kritis (PH < 5,5).
Percobaan dengan stimulasi penciuman khusunya pada praktikum ini dengan
mencium jeruk nipis ditemukan pengaruhnya terhadap sekresi saliva. Hal ini
berhubungan dengan sebuah proses yang disebut conditional refleks. Proses refleks
ini tidak berhubungan dengan stimulasi oral, disni probandus hanya membayangkan,
melihat, mencium, atau hanya mendengar saja. Refleks ini merupakan respon dasar
sebelum melakukan proses mastrikasi.












Gambar 2.1 conditional refleks

Input yang dating dari luar mulut dan psikologi dari seseorang jika digabungkan
dengan proses mastikasi maka korteks serebri akan menstimulus pusat medulla
salivarius sehingga terjadi peningkatan saliva.
Sperti yang telah diketahui bahwa jenis kelamin juga dapat mempengaruhi saliva
telah dibuktikan oleh banyak penelitian. Anak laki-laki diketahui mempunyai
produksi saliva lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Hal ini dapat terjadi
karena pengaruh ukuran kelenjar saliva wanita yang lebih kecil dibandingkan laki-
laki.
Sekresi saliva dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah obat.
Beberapa obat seperti obat parasimpotomimetika dan simpatomimetika akan
menyebabkan bertambahnya kecepatan aliran saliva. Bertambahnya aliran saliva ini
disebabkan adnya stimulus pada neurotransmitter asetilkolin dan noradrenalin.
Obat parasimpatomimetika biasanya merangsang saraf parasimpatik dan
mengeluarkan saliva yang banyak, encer seperti air. Sementara obat
simpatomimetika, merangsang saraf simpatik. Bila reseptor yang distimulasi,
sekresi yang dihasilkan cenderung pekat dan kaya musin. Tetapi jika yang distimulus
reseptor maka saliva yang dihasilkan ridak pekat dan kaya akan protein.
Kecepatan sekresi saliva mempengaruhi derajat keasaman dalam saliva, dan juga
berpengaruh pada proses demineralisasi gigi. Hal ini dapat ditemukan pada beberapa
penyakit dengan gangguan sekresi saliva. Keadaan psikologis juga menyebabkan
penurunan pH saliva akibat penurunan kecepatan sekresi saliva.
















Dapus


52

DAFTAR PUSTAKA

Amerongen , A. Van Nieuw. 1991.
Ludah dan Kelenjar Ludah : Arti Bagi KesehatanGigi (Penerjemah : Prof.drg Rafiah Abyono)
. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta. 1 41.

Anonim. 2009. Cermin Dunia Kedokteran 170/ vol.36 no. 34.
[online]. Available at:

http://www.kalbe.co.id/cdk
.
(diakses 18 Maret 2010).

Andrianto, T. T. 2008.
Susu Fermentasi Untuk Kebugaran & Pengobatan
.Yogyakarta : Universitas Atma Jaya. 38 45.

Arikunto. 1998.
Prosedur Penelitian
. Edisi ke
-
5. Jakarta Rineka Cipta. 109.

Bahar, B. 2008.
Kefir Minuman Susu Fermentasi dengan Segudang Khasiat untuk
Kesehatan
. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 12
24.

Berkovitz, B. K. B.; G. R. Holland; B. J. Moxham. 2002.
Oral Anatomy, Embryology
and Histology. 3
rd
Edition
. London: Mosby, Inc.

Bradley, R. M. 1995.
Essential of Oral Physiology
. St. Louis: Mosby, Inc. 163

Brobeck, J. R. 1981.
Best Taylors : Physiology Basis of Medical Practice. 10th ed
.Baltimore
-
London : William and Walkins Co. 24
-
37.

Copper, D. 1998. Glands associated with the digestive tract:
liver, pancreas, and
salivary glands
. [online]. Available at:

http://www.sacs.ucsf.edu/home/co

oper/Anat118

/GI
-
Glands/lvrpancsali
v.htm
. (diakses 18 Maret 2010).

Danone. 2008. Monograph for Health Care Professional.
[online]. Available at:

http://www.activia.ca/en/documents/Monographie_En.pdf
. (diakses pada 18Mar
et 2010).

Dawes, C. 1987.
Physiological Factors Affecting Salivary Flow Rate, Oral Sugar
Clearance, and The Sensation of Dry Mouth in Man.
J Dent Rest
66, 648 653.

Edgar, W. M. 1992.
Saliva : Its Secretion, Composition and Function
.
Brit Dent J.

305 312.
Edgar, W. M.; D. M. OMullane. 1996.
Saliva and Oral Health
. London: BritishDental Association.
http://www.scribd.com/doc/59758096/4/Faktor-yang-Mempengaruhi-Sekresi-Saliva