Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akuntansi sektor publik terkait dengan tiga hal pokok, yaitu : penyediaan
informasi, pengendalian manajemen, dan akuntabilitas. Akuntansi sektor publik
merupakan alat informasi baik bagi pemerintah sebagai manajemen maupun alat
informasi bagi publik. Bagi pemerintah, informasi akuntansi digunakan dalam
proses pengendalian manajemen mulai dari perencanaan strategik, pembuatan
program, penganggaran, evaluasi kinerja, dan pelaporan kinerja. Akuntabilitas
sektor publik berhubungan dengan praktik transparansi dan pemberian informasi
kepada publik dalam rangka pemenuhan hak publik. Pengawasan adalah salah
satu dari tiga aspek Good Corporate Governance yang menjadi salah satu agenda
reformasi sektor publik di Indonesia. Setelah adanya perubahan asas yang dianut
oleh Indonesia dari dekonsentrasi menjadi desentralisasi (otonomi daerah)
membuat wewenang yang dimiliki oleh pemerintah daerah menjadi lebih luas dari
sebelumnya. Luasnya wewenang dari pemerintah daerah ini sangat mungkin
menimbulkan salah guna wewenang apabila tidak diawasi. Oleh karena itu, peran
dari badan pemeriksa baik internal maupun eksternal menjadi lebih besar dalam
mencegah terjadinya kecurangan oleh pemerintah daerah.
Pemerintah Indonesia memiliki beberapa bentuk pengawasan, salah
satunya adalah pengawasan oleh auditor. Terdapat pemisahan fungsi auditor yaitu
auditor internal dan eksternal. Di Indonesia, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan)
sebagai lembaga pemegang peran auditor eksternal yang bertugas memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. Kegiatan yang diawasi oleh
BPK adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat, pemerintah
daerah, lembaga negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara
(BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan lembaga atau badan lain
yang mengelola keuangan negara.
Pemegang peran auditor internal pemerintah atau biasa disebut dengan
APIP (Aparat Pengawas Intern Pemerintah) yaitu BPKP (Badan Pengawasan

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

Keuangan dan Pembangunan), Inspektorat Jenderal, Inspektorat Provinsi,


Inspektorat Kabupaten/Kota. Pada pelaksanaan tugasnya lembaga lembaga ini
bertanggung jawab kepada pihak yang berbeda dan cakupan objek pengawasan
yang berbeda. BPKP bertanggung jawab kepada presiden dan mengawasi kegiatan
kebendaharaan negara yang bersumber dari APBN. Inspektorat Jenderal
bertanggung jawab kepada menteri dan mengawasi kegiatan kementerian tertentu
yang bersumber dari APBN kementerian tersebut. Inspektorat provinsi
bertanggung jawab kepada gubernur dan mengawasi kegiatan pemerintah provinsi
yang bersumber dari APBD provinsi. Inspektorat Kabupaten/kota bertanggung
jawab kepada bupati dan mengawasi kegiatan yang bersumber dari APBD
Kabupaten/kota.
Pengertian pengawasan intern menurut UU No. 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah adalah seluruh proses kegiatan audit,
reviu,

evaluasi,

pemantauan,

dan

kegiatan

pengawasan

lain

terhadap

penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan


keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok
ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan
dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Pada pelaksanaannya
Inspektorat akan menghasilkan laporan audit kinerja yang berisi rekomendasi
yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk memperbaiki kinerjanya.
Pembentukan fungsi audit intern merupakan keharusan bagi Badan Usaha
Milik Negara(BUMN), Bank dan Lembaga Pemerintah. Perusahaan Publik (Tbk)
wajib membentuk komite audit, dan agar dapat menjalankan tugasnya secara
efektif, komite audit itumemerlukan fungsi audit intern. Pemeriksaan intern (audit
intern) merupakan suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi
untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan. Hasil
pemeriksaan intern dapat berupa berbagai temuan,kesimpulan, pendapat, dan
rekomendasi. Hasil pemeriksaan yang berkualitas sangatbermanfaat bagi
manajemen puncak untuk meningkatkan kinerja perusahaan secarakeseluruhan
(Hiro Tugiman, 1997).

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

Fungsi pemeriksaan intern dapat dilakukan oleh auditor intern, mengingat


auditor intern lebih mengenal dan menguasai situasi dan kondisi dari perusahaan
tersebut. Manajemen puncak mengandalkan pemeriksaan intern sebagai alat
penyaji

hasil

analisis

yang

objektif,

penilaian-penilaian,

rekomendasi-

rekomendasi, saran, dan informasi dalam pengendalianserta pelaksanaan kegiatan


organisasi (Arens dan Loebbecke; 2003: 438).
Peraturan

Menteri

Negara

Pendayagunaan

Aparatur

Negara

(PERMENPAN) No. Per/05/M.Pan/03/2008 tentang standar Audit Pengawasan


Intern Pemerintah (APIP) sebagaimana yang tercantum dalam diktum kedua
menegaskan bahwa standar Audit APIP wajib dipergunakan sebagai acuan bagi
seluruh APIP untuk melaksanakan audit sesuai dengan mandat audit masingmasing, dalam rangka peningkatan kualitas auditor pada saat melakukan
pemeriksaan. Menurut peraturan MENPAN tersebut kualitas auditor dipengaruhi
oleh :
1. Keahlian, menyatakan bahwa auditor harus mempunyai pengetahuan,
keterampilan

dan

kompetensi

lainnya

yang

diperlukan

untuk

melaksanakan tanggungjawabnya dengan kriterianya. Auditor harus


mempunyai tingkat pendidikan formal minimal Strata Satu (S1) atau yang
setara; memiliki kompetensi di bidang auditing, akuntansi, administrasi
pemerintahan dan komunikasi; dan telah mempunyai sertifikasi Jabatan
Fungsional Auditor (JFA); serta mengikuti pendidikan dan pelatihan
professional berkelanjutan (continuing professional education).
2. Independensi, menyatakan bahwa auditor APIP dalam pelaksanaan
tugasnya dengan kriterianya harus memiliki sikap yang netral dan tidak
bias serta menghindari konflik kepentingan dalam merencanakan,
melaksanakan dan melaporkan pekerjaan yang dilakukannya. Apabila
independensi atau objektivitas terganggu , baik secara faktual maupun
penampilan, maka gangguan tersebut harus dilaporkan kepada pimpinan
APIP.
3. Kepatuhan kepada kode etik, menyatakan bahwa auditor wajib memtuhi
kode etik yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari standar audit
APIP, dengan kriterianya kode etik pejabat pengawas pemerintah/auditor
Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

dengan rekan sekerjanya, auditor dengan atasannya, auditor dengan objek


pemeriksanya dan auditor dengan masyarakat.
Agar dapat menghasilkan suatu hasil pemeriksaan yang berkualitas,
ditetapkan kode etik profesi. Kode etik auditor intern memuat standar seragam
yang konsisten dalam mengambarkan praktik-praktik terbaik audit intern serta
merupakan ukuran kualitas pelaksanaan tugas untuk memenuhi tanggung jawab
profesinya. Sedangkan standar praktek profesi auditor intern merupakan ketentuan
yang harus dipenuhi untuk menjaga kualitas kinerja auditor intern dan kualitas
hasil pemeriksaannya (Amin Widjaya Tunggal; 2008: 20).
Kode Etik Auditor Intern menyebutkan bahwa auditor internal harus
memperlihatkan kompetensi dalam melaksanakan jasa auditing internal. Lebih
lanjut Standar Atribut prinsip kedua yang diatur dalam Standar Praktek Profesi
Auditor menyebutkan bahwa fungsi audit intern harus independen, dan auditor
intern harus objektif dalam melaksanakan tugasnya.
Oleh karena itu aktivitas pemeriksaan harus dilakukan oleh orang yang
kompeten dan independen yang bebas dari kepentingan atas hasil pemeriksaan
tersebut. Kompetensi dan independensi dalam melaksanaan pemeriksaan sangat
penting karena akan mempengaruhi hasil pemeriksaan yang nantinya akan
digunakan oleh manajemen puncak dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Dalam melaksanakan tugas auditnya seorang auditor harus berpedoman pada
standar audit yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) yakni
standar umum, standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Selain standar
audit, seorang auditor juga harus mematuhi kode etik profesi yang mengatur
tentang tanggung jawab profesi, kompetensi dan kehati-hatian professional,
kerahasiaan, perilaku profesional serta standar teknis bagi seorang auditor dalam
menjalankan profesinya.
Berbagai pandangan tentang kualitas audit dikemukakan oleh para ahli, De
Angelo (1981) menyatakan bagaimana seorang auditor akan menemukan lalu
melaporkan penyimpangan yang ditemui saat pemeriksaan laporan keuangan.
Menurut Rosnidah (2010) adalah pelaksanaan audit yang dilakukan sesuai dengan
standar sehingga mampu mengungkapkan dan melaporkan apabila terjadi

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

pelanggaran yang dilakukan klien. Selain itu AAA Financial Accounting Committe
(2000) dalam Christiawan (2003:83) menyatakan bahwa Kualitas audit
ditentukan oleh 2 hal yaitu kompetensi dan independensi. Selanjutnya menurut
Hidayat (2011) selain kompetensi dan independensi kualitas auditor juga
dipengaruhi oleh profesionalisme.
Kompetensi dan independensi merupakan standar yang harus dipenuhi
oleh seorang auditor untuk dapat melakukan audit dengan baik, namun belum
tentu auditor yang memiliki kedua hal tersebut akan memiliki komitmen untuk
melakukan audit dengan baik. Akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga
standar perilaku etis tertinggi mereka kepada organisasi dimana mereka bernaung,
profesi mereka, masyarakat dan diri mereka sendiri dimana akuntan mempunyai
tanggungjawab menjadi kompeten dan untuk menjaga integritas dan objektivitas
mereka (Nugrahaningsih, 2005).
Namun pada saat ini keberadaan auditor internal dirasa kurang berfungsi
secara optimal karena masih banyak ditemukan hasil pemeriksaan, pengawasan
dan pembinaan yang dilakukan auditor internal yang kurang mendapatkan respon
baik dari pemerintah daerah. Independensi dari auditor internal masih sangat
terganggu dari sistem tata pemerintahan sebagai akibat instansi pengawasan
seperti Inspektorat di daerah dimana pimpinannya masih merupakan satuan kerja
pemerintah daerah. Dampak dari terganggunya independensi auditor internal juga
berpengaruh kepada kompetensi dari auditor sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka pokok
bahasan dalam makalah ini bagaimana Kompetensi dan Independensi Auditor
Internal
1.3

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Kompetensi

dan Independensi Auditor Internal


1.4 Manfaat Penulisan

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

a. Manfaat Akademisi
Penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah literature serta
memberi acuan bagi rekan-rekan mahasiswa lain tentang Kompetensi dan
Independensi Auditor Internal
b. Manfaat Praktis
Melalui penulisan makalah ini, diharapkan menjadi sumber informasi yang
bermanfaat bagi pengambil kebijakan tentang Kompetensi dan Independensi
Auditor Internal

BAB II

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

PEMBAHASAN
Kompetensi dan independensi merupakan standar yang harus dipenuhi
oleh seorang auditor untuk dapat melakukan audit dengan baik. APIP sebagai
pengawas intern pemerintah merupakan salah satu unsur manajemen pemerintah
yang penting dalam rangka mewujudkan good governance dan clean government.
Peran APIP ini dapat terwujud jika didukung dengan auditor yang profesional dan
kompeten dengan hasil audit yang intern yang semakin berkualitas.
2.1. Kompetensi
2.1.1. Definisi Kompetensi
Menurut Websters Ninth New Collegiate Dictionary (1983) dalam Sri
lastanti (2005) secara harfiah mendefinisikan kompetensi sebagai ketrampilan dari
seorang ahli. Dimana ahli didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki tingkat
ketrampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam subyek tertentu yang
diperoleh dari pelatihan dan pengalaman. Adapaun pengertian kompetensi
menurut pandangan beberapa ahli adalah sebagai berikut:

Trotter (1986) dalam Saifuddin (2004) mendefinisikan bahwa seorang


yang berkompeten adalah orang yang dengan ketrampilannya mengerjakan
pekerjaan dengan mudah, cepat, intuitif dan sangat jarang atau tidak

pernah membuat kesalahan.


Lee dan Stone (1995), mendefinisikan kompetensi sebagai keahlian yang
cukup secara eksplisit dapat digunakan untuk melakukan audit secara

objektif.
Bedard (1986) dalam Sri lastanti (2005) mengartikan keahlian atau
kompetensi

sebagai

seseorang

yang

memiliki

pengetahuan

dan

keterampilan prosedural yang luas yang ditunjukkan dalam pengalaman


audit.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi
auditor adalah pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang dibutuhkan auditor
untuk dapat melakukan audit secara objektif, cermat dan seksama.

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

Dalam standar audit APIP disebutkan bahwa audit harus dilaksanakan oleh
orang yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor. Dengan
demikian, auditor belum memenuhi persyaratan jika ia tidak memiliki pendidikan
dan pengalaman yang memadai dalam bidang audit. Dalam audit pemerintahan,
auditor dituntut untuk memiliki dan meningkatkan kemampuan atau keahlian
bukan hanya dalam metode dan teknik audit, akan tetapi segala hal yang
menyangkut pemerintahan seperti organisasi, fungsi, program, dan kegiatan
pemerintah.
Berkenaan dengan hal tersebut Bedard (1986) dalam Lastanti (2005:88)
mengartikan kompetensi sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan dan
ketrampilan prosedural yang luas yang ditunjukkan dalam pengalaman audit.
Dalam melaksanakan audit, auditor harus bertindak sebagai seorang ahli dalam
bidang akuntansi dan auditing. Pencapaian keahlian dimulai dengan pendidikan
formal, yang selanjutnya melalui pengalaman dan praktek audit (SPAP,2011).
Selain itu auditor harus menjalani pelatihan teknis maupun pendidikan umum.
Dengan demikian auditor harus memiliki kompetensi dalam pelaksanaan
pengauditan agar dapat menghasilkan audit yang berkualitas.
Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh
seseorang, berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan
dalam pelaksanaan tugas jabatannya. Auditor intern pemerintah menerapkan
pengetahuan, keahlian dan keterampilan, serta pengalaman yang diperlukan dalam
pelaksanaan layanan pengawasan intern.
Untuk menerapkan prinsip Kompetensi, auditor intern pemerintah wajib:
a. Memberikan layanan yang dapat diselesaikan sepanjang memiliki
pengetahuan, keahlian dan keterampilan, serta pengalaman yang
diperlukan;
b. Melakukan pengawasan sesuai dengan Standar Audit Intern Pemerintah
Indonesia; dan
c. Terus-menerus meningkatkan keahlian serta efektivitas dan kualitas
pelaksanaan tugasnya, baik yang diperoleh dari pendidikan formal,
pelatihan, sertifikasi, maupun pengalaman kerja.

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

2.1.2. Standar Kompetensi Auditor Internal


Standar Kompetensi Auditor adalah ukuran kemampuan minimal yang
harus dimiliki auditor yang mencakup aspek pengetahuan (Knowledge),
keterampilan /keahlian (Skill) dan sikap perilaku (Attitude) untuk dapat
melakukan tugas-tugas dalam Jabatan Fungsional Auditor dengan hasil yang baik.
Berdasarkan standar audit intern pemerintah Indonesia yang disusun oleh
komite standar audit untuk penugasan audit intern harus dilakukan dengan
kompetensi dan kecermatan profesional. Untuk itu auditor harus mempunyai
pendidikan, pengetahuan, keahlian dan keterampilan, pengalaman, serta
kompetensi lain yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya.
Pendidikan, pengetahuan, keahlian dan keterampilan, pengalaman, serta
kompetensi lain adalah bersifat kolektif yang mengacu pada kemampuan
profesional yang diperlukan auditor untuk secara efektif melaksanakan tanggung
jawab profesionalnya.
Pimpinan APIP harus yakin bahwa latar belakang pendidikan, kompetensi,
dan pengalaman auditor memadai untuk pekerjaan audit yang akan dilaksanakan.
Latar Belakang Pendidikan Auditor Auditor harus mempunyai tingkat pendidikan
formal yang diperlukan. Agar tercipta kinerja audit yang baik maka APIP harus
mempunyai kriteria tertentu dari kualifikasi pendidikan formal auditor yang
diperlukan untuk penugasan audit intern sehingga sesuai dengan situasi dan
kondisi auditi. Aturan tentang tingkatan pendidikan formal minimal dan
kualifikasi yang diperlukan harus dievaluasi secara periodik guna menyesuaikan
dengan situasi dan kondisi auditi.
Untuk menjabat sebagai seoatang auditor, setiap PNS wajib memenuhi
persyaratan jasmani tertentu dan dan wajib memiliki kompetensi dasar bersikap
dan berperilaku yang akan menjamin bahwa auditor tersebut memiliki
kemampuan untuk dapat melaksanakan setiap penugasan yang menjadi tanggung
jawabnya. Adapun Kompetensi standar yang harus dimiliki oleh auditor adalah
sebagai berikut:
1) Kompetensi umum

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

Terkait dengan persyaratan umum untuk dapat diangkat sebagai auditor,


kompetensi umum merupakan kompetensi dasar bersikap dan berperilaku
sebagai auditor yang dijabarkan sebagai dorongan untuk berprestasi,
pemikiran analitis, orientasi pengguna, kerja sama, manajemen stres, dan
komitmen organisasi. Berikut penjabarannya:
No
.

Kompetensi

Level Kompetensi umum


Auditor Terampil
Auditor Ahli

Umum
Dorongan untuk
berprestasi

Pemikiran Analitis

Mampu bkerja dengan


menggunakan aturan
dasar, logika dan
pengalaman masa
lampau, serta bekerja
dengan pola
kecenderungan(patter
n) dalam
mengidentifikasi
masalah

Orientasi
Pengguna

Mampu memenuhi
permintaan pengguna
dan memastikan
apakah jasa/pelayan
yang diberikan
tersebut telah sesuai
dengan yang
dibutuhkan pengguna

Mampu memenuhi
standar prestasi atau
target yang telah
ditetapkan oleh
manajemen/ pimpinan

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

Mampu membuat
suatu perubahan
spesifik dalam sistem
atau metode kerja
untuk meningkatkan
presatsi kerja
Mampu membuat
situasi atau ide yang
kompleks menjadi
jelas, sederhana, dan
mudah dimengerti
dengan menyusun
suatu penjelasan yang
berarti. Mampu
menyampaikan
observasi atau
pengetahuan yag ada
dengan sederhana.
Mampu memadukan
ide-ide dan informasi
dan membuat
ganbaran yang lebih
besar menjadi lebih
lengkap dan jelas
Mempunyai inisiatif
untuk mencari tahu
kebutuhan
jasa/pelayanan apa
yang diinginkan dan
bisa menyesuaikan
jasa/pelayanan
tersebut dengan

Kerja sama

Manajemen stres

Komitmen
organisasi

Mampu bekerjasama
dengan orang lain
serta peduli dengan
tugas dan
permasalahan orang
lain dengan cara
memberikan saran,
masukan, bahan
pertimbangan, atau
solusi
Mampu bekerja dalam
situasi yang penuh
tekanan dan
keterbatasan dengan
menerapkan metode
bekerja sesuai standar

Memiliki kemampuan
dan kemauan untuk
menyelaraskan
perilaku
pribadi
dengan
kebutuhan,
prioritas, dan sasaran
organisasi

2) Kompetensi teknis audit intern

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

kebutuhan pengguna
Memiliki rasa
tanggung jawab
terhadap tigas,
permasalaahan dan
kemajuan kelompok
serta mengajak orang
lain untuk terlibat
didalam kegiatan
kelompok
Mampu menangani
pekerjaan sehari-hari
dengan percaya diri,
mudah beradaptasi
terhadap perubahan
dan kebutuhan.
Mampu menunjukkan
kelenturan pada
waktu dihadapkan
pada tugas yang sulit
atau berbeda pada
saat yang bersamaan.
Mampu menunjukkan
kinerja dalam situasi
yang mendesak
(darurat, periode
yang sangat
sibuk,tenggat waktu)
Memiliki
kemampuan
dan
kemauan
untuk
mendukung
organisasi
secara
aktif serta berusaha
menjaga
dan
menampilkan
citra
organisasi yang baik.

Terkait dengan persyaratan untuk dapat melaksanakan penugasan audit


intern sesuai dengan jenjang jabatan Auditor. Kompetensi teknis audit
intern meliputi tujuh bidang kompetensi yaitu:
a. Kompetensi Bidang Manajemen Risiko, Pengendalian Intern, dan Tata
Kelola Sektor Publik;
b. Kompetensi Bidang Strategi Kegiatan Audit Intern;
c. Kompetensi Bidang Pelaporan Hasil audit intern;
d. Kompetensi Bidang Sikap Profesional;
e. Kompetensi Bidang Komunikasi;
f. Kompetensi Bidang Lingkungan Pemerintahan;
g. Kompetensi Bidang Manajemen Pengawasan.
Audit Internal membantu suatu organisasi dalam mencapai tujuannya
melalui pendekatan sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan
memperbaiki efektivitas proses tata kelola organisasi, pengendalian, dan
manajemen resiko. Oleh karena itu sangat penting bagi auditor untuk
memiliki kompetensi bidang manajemen resiko, pengendalian internal,
dan tata kelola sektor publik. Selanjutnya agar auditor dapat melaksanakan
pengawasan secara profesional maka diperlukan kompetensi bidang
strategi pengawasan. Pengawasan yang dilakukan tidak akan berarti
apabila tidak memberikan nilai tambah bagi organisasi pemerintah. Oleh
karena itu kompetensi dibidang pelaporan hasil pengawasan penting untuk
dimiliki oleh seorang auditor.
Sementara itu, bidang sikap profesional memastikan auditor berperilaku
yang

mencerminkan

profesionalismenya,

baik

pada

saat

sedang

melaksanakan penugasannya maupun diluar penugasan pengawasan.


Untuk mendukung pelaksanaan pengawasan, kompetensi dibidang
komunikasi akan membantu memberkan keyakinan bahwa komunikasi
yang dilakukan jelas dan dapat dimengerti. Selain itu pemahaman auditor
mengenai faktor-fakor tertentu dan isu-isu terkait pemerintahan yang
terangkum dalam kompetensi bidang lingkungan pemerintahan akan
mendukung hasil pengawasan yang realistis dan dapat diterima pihakpihak terkait.
Terakhir, kompetensi bidang manajemen pengawasan diperlukan agar
pengawasan dapat dikelolan dengan baik sehingga tujuan pengawasan
dapat dicapai.
Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

3) Kompetensi kumulatif
Artinya kompetensi pada tingkat atau jenjang jabatan Auditor yang lebih
tinggi merupakan kumulatif dari kompetensi pada tingkat atau jenjang
jabatan Auditor di bawahnya ditambah dengan kompetensi spesifik di
jabatannya.
Peran APIP yang efektif dapat terwujud jika didukung dengan Auditor
yang profesional dan kompeten dengan hasil audit intern yang semakin
berkualitas. Dalam rangka mewujudkan hasil audit intern yang berkualitas
diperlukan suatu ukuran mutu yang sesuai dengan mandat penugasan masingmasing APIP. Oleh karena itu setiap APIP wajib mempertahankan kompetensi nya
melalui pendidikan dan pelatihan profesional yang berkelanjutan guna menjamin
kompetensi

yang

dimiliki

sesuai

dengan

kebutuhan

pengawasan

dan

perkembangan lingkungan pengawasan. Salah satunya melalui Sertifikasi Jabatan


serta Pendidikan dan Pelatihan Berkelanjutan Auditor untuk mendapatkan
sertifikasi jabatan fungsional auditor (JFA) dan/atau sertifikasi lain di bidang
pengawasan intern pemerintah, dan mengikuti pendidikan dan pelatihan
profesional berkelanjutan (continuing professional education). Dengan klasifikasi
sebagai berikut:
a. Auditor wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan sertifikasi jabatan
fungsional auditor (JFA) yang sesuai dengan jenjangnya dan/atau
sertifikasi lain di bidang pengawasan intern pemerintah. Pimpinan APIP
wajib memfasilitasi auditor untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan
serta ujian sertifikasi sesuai dengan ketentuan. Dalam pengusulan auditor
untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan jenjangnya,
pimpinan APIP mendasarkan keputusannya pada formasi yang dibutuhkan
dan

persyaratan

administrasi

lainnya

seperti

kepangkatan

dan

pengumpulan angka kredit yang dimilikinya.


b. Auditor wajib memiliki pengetahuan dan akses atas informasi teraktual
dalam standar, metodologi, prosedur, dan teknik. Pendidikan profesional
berkelanjutan dapat diperoleh melalui keanggotaan dan partisipasi dalam

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

asosiasi profesi, pendidikan sertifikasi jabatan fungsional auditor,


konferensi, seminar, kursuskursus, program pelatihan di kantor sendiri,
dan partisipasi dalam proyek penelitian yang memiliki substansi di bidang
pengawasan intern.
Dalam kondisi tertentu, Pimpinan APIP dapat menggunakan tenaga ahli
apabila Auditor tidak mempunyai keahlian yang diharapkan untuk melaksanakan
penugasan audit intern, dengan kualifikasi sebagai berikut:
1) Pendidikan dan pengalaman auditor memungkinkan ia menguasai atau
memahami hal-hal bisnis secara umum, tetapi ia tidak diharuskan memiliki
keahlian sebagai seorang yang terlatih atau memenuhi syarat untuk
melaksanakan praktik profesi atau pekerjaan lain. Namun dalam audit
intern, auditor mungkin menjumpai masalah-masalah yang kompleks dan
subjektif, yang secara potensial material terhadap pelaksanaan audit intern.
Masalah masalah seperti ini mungkin memerlukan keterampilan atau
pengetahuan khusus dan menurut pertimbangkan auditor memerlukan
penggunaan pekerjaan tenaga ahli untuk mendapatkan bukti audit yang
kompeten.
2) Pimpinan APIP harus memperoleh saran/nasihat dan bantuan dari pihak
yang berkompeten dalam hal auditor tidak memiliki pengetahuan, keahlian
dan keterampilan, serta kompetensi lain yang diperlukan untuk
melaksanakan penugasan audit intern.
3) Tenaga ahli yang dimaksud mencakup, namun tidak terbatas pada,
aktuaris, penilai (appraiser), pengacara, insinyur, konsultan lingkungan,
profesi medis, ahli statistik maupun geologi. Tenaga ahli tersebut dapat
berasal dari dalam maupun dari luar organisasi.
4) Dalam hal penggunaan tenaga ahli, auditor harus menilai kualifikasi
profesional, kompetensi, dan pengalaman yang relevan, independensi, dan
proses pengendalian kualitas dari tenaga ahli tersebut sebelum menerima
pekerjaan. Penggunaan tenaga ahli harus disupervisi sebagaimana
supervisi terhadap auditor.
5) Dalam hal tenaga ahli digunakan untuk penugasan audit intern, maka
harus ada pemahaman dan komunikasi yang cukup antara Auditor dengan

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

tenaga ahli tersebut untuk meminimalkan kesalahpahaman yang dapat


menyebabkan salah menafsirkan hasil pekerjaan dan/atau informasi dari
tenaga ahli tersebut.
6) Ketepatan dan kelayakan metode dan asumsi yang digunakan dan
penerapannya merupakan tanggung jawab tenaga ahli, sedangkan
tanggung jawab auditor terbatas kepada simpulan dan fakta atas hasil audit
intern. Yang harus diperhatikan oleh Auditor adalah antara lain:
(a) memahami metode dan asumsi yang digunakan oleh tenaga ahli,
(b) melakukan pengujian semestinya atas data yang disediakan oleh tenaga
ahli, dengan memperhitungkan taksiran risiko pengendalian auditor, dan
(c) mengevaluasi apakah fakta yang ditemukan tenaga ahli mendukung
pelaksanaan penugasan auditor.
Biasanya auditor akan menggunakan pekerjaan tenaga ahli, kecuali jika
prosedur auditor menyebabkan ia yakin bahwa fakta yang ditemukan
tenaga ahli tersebut tidak masuk akal dalam keadaan tersebut. Jika auditor
yakin bahwa fakta yang ditemukan tenaga ahli tidak masuk akal, ia harus
menerapkan prosedur tambahan, yang dapat mencakup pemerolehan
pendapat dari tenaga ahli lain.
7) Pimpinan APIP harus menolak penugasan konsultansi atau memperoleh
saran/nasehat dan bantuan yang kompeten jika auditor tidak memiliki
pengetahuan, keahlian dan keterampilan, atau kompetensi lain yang
dibutuhkan untuk melakukan semua atau sebagian dari penugasan.
Dalam melaksanakan tugasya sebagai fungsional auditor APIP juga
diharuskan untuk memiliki Kecermatan Profesional Auditor, dimana Auditor
harus menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama (due
professional care) dan secara hati-hati (prudent) dalam setiap penugasan audit
intern. Sebagaimana yang dijelaskan sebagai berikut:
1) Auditor harus merencanakan dan melaksanakan pekerjaannya dengan
menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama
(due professional care) dan secara hati-hati (prudent). Penggunaan
kecermatan profesional menekankan tanggung jawab setiap Auditor

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

untuk memperhatikan Standar Audit serta mempertimbangkan


penggunaan audit berbasis teknologi dan teknik analisis data lainnya.
2) Due professional care dilakukan pada berbagai aspek audit,
diantaranya:
a. formulasi tujuan penugasan audit intern;
b. penentuan ruang lingkup, termasuk evaluasi risiko audit intern;
c. pemilihan pengujian dan hasilnya;
d. pemilihan jenis dan tingkat sumber daya yang tersedia untuk
mencapai tujuan penugasan audit intern;
e. penentuan signifikan tidaknya risiko yang diidentifikasi dalam
audit intern dan efek/dampaknya;
f. pengumpulan dan pengujian bukti audit intern;
g. penentuan kompetensi, integritas, dan kesimpulan yang diambil
pihak lain yang berkaitan dengan penugasan audit intern.
3) Due professional care dapat diterapkan dalam pertimbangan
profesional (professional judgment), meskipun dapat saja terjadi
penarikan kesimpulan yang tidak tepat ketika audit sudah dilakukan
dengan seksama. Kecermatan Profesional (Due Professional Care)
tidak berarti kesempurnaan.
4) Auditor harus menerapkan Kecermatan Profesional (Due Professional
Care) selama penugasan konsultansi dengan mempertimbangkan:
a. Kebutuhan dan harapan klien, termasuk sifat, waktu, dan
komunikasi hasil penugasan;
b. kompleksitas dan tingkat kerja relatif yang diperlukan untuk
mencapai tujuan penugasan; dan
c. Biaya kegiatan konsultansi (consulting) dikaitkan dengan potensi
manfaat.

Selain sikap kecermatan profesionalisme, bagian dari kompetensi yang


harus dimiliki oleh auditor adalah bersikap Skeptisme Profesional Auditor.
Skeptisme profesional adalah sikap yang mencakup pikiran yang selalu
mempertanyakan dan melakukan pengujian secara kritis bukti. Pengumpulan dan
pengujian bukti secara objektif menuntut Auditor mempertimbangkan relevansi,
kompetensi, dan kecukupan bukti tersebut. Oleh karena bukti dikumpulkan dan
diuji selama proses kegiatan audit intern, skeptisme profesional harus digunakan
Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

selama proses tersebut. Auditor tidak menganggap bahwa manajemen adalah tidak
jujur, namun juga tidak menganggap bahwa kejujuran manajemen tidak
dipertanyakan lagi. Dalam menggunakan skeptisme profesional, auditor tidak
harus puas dengan bukti yang kurang persuasif karena keyakinannya bahwa
manajemen adalah jujur.
Selanjutnya dalam pernyataan standar umum pertama dalam SPKN
menyatakan bahwa Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan
profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan. Dengan
Pernyataan Standar Pemeriksaan ini semua organisasi pemeriksa bertanggung
jawab untuk memastikan bahwa setiap pemeriksaan dilaksanakan oleh para
pemeriksa yang secara kolektif memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengalaman
yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Oleh karena itu, organisasi
pemeriksa harus memiliki prosedur rekrutmen, pengangkatan, pengembangan
berkelanjutan, dan evaluasi atas pemeriksa untuk membantu organisasi pemeriksa
dalam mempertahankan pemeriksa yang memiliki kompetensi yang memadai.
Dalam lampiran 2 SPKN disebutkan bahwa: Pemeriksa yang ditugasi
untuk melaksanakan pemeriksaan menurut Standar Pemeriksaan harus secara
kolektif memiliki: Pengetahuan tentang Standar Pemeriksaan yang dapat
diterapkan terhadap jenis pemeriksaan yang ditugaskan serta memiliki latar
belakang pendidikan, keahlian dan pengalaman untuk menerapkan pengetahuan
tersebut dalam pemeriksaan yang dilaksanakan; Pengetahuan umum tentang
lingkungan entitas, program, dan kegiatan yang diperiksa (obyek pemeriksaan)
(paragraf 10) dan Pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan keuangan harus
memiliki keahlian di bidang akuntansi dan auditing, serta memahami prinsip
akuntansi yang berlaku umum yang berkaitan dengan entitas yang diperiksa
(paragraf 11).
Kompetensi yang diperlukan dalam proses audit tidak hanya berupa
penguasaan terhadap standar akuntansi dan auditing, namun juga penguasaan
terhadap objek audit. Selain dua hal di atas, ada tidaknya program atau proses

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

peningkatan keahlian dapat dijadikan indikator untuk mengukur tingkat


kompetensi auditor.
2.2. Independensi Auditor Internal
2.2.1. Konsep Independensi
Pentingnya independensi bagi auditor seringkali dianalogkan sebagai
rohnya sebuah profesi yang sangat dibutuhkan keberadaannya dalam masyarakat.
Pada perspektif lain independensi diartikan sebagai kondisi yang tidak memihak,
terbebas dari interest conflict atau terhindar dari muatan kepentingan.
Dalam lampiran I SPKN tentang pendahuluan standar pemeriksaan
dijelaskan bahwa pemeriksa harus obyektif dan bebas dari benturan kepentingan
(conflict of interest) dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya.
Pemeriksa juga bertanggung jawab untuk mempertahankan independensi dalam
sikap mental (independent in fact) dan independensi dalam penampilan perilaku
(independent in appearance) pada saat melaksanakan pemeriksaan. Bersikap
obyektif merupakan cara berpikir yang tidak memihak, jujur secara intelektual,
dan bebas dari benturan kepentingan. Bersikap independen berarti menghindarkan
hubungan yang dapat mengganggu sikap mental dan penampilan obyektif
pemeriksa

dalam

melaksanakan

pemeriksaan.

Untuk

mempertahankan

obyektivitas dan independensi maka diperlukan penilaian secara terus-menerus


terhadap hubungan pemeriksa dengan entitas yang diperiksa.
Penjelasan ini juga didukung oleh pendapat Arens dkk. (2008:111) bahwa
independensi dapat diartikan mengambil sudut pandang yang tidak bias. Auditor
tidak hanya harus independen dalam fakta, tetapi juga harus independen dalam
penampilan. Independensi dalam fakta (independence in fact) ada bila auditor
benar-benar mampu mempertahankan sikap yang tidak bias sepanjang audit,
sedangkan independensi dalam penampilan (independent in appearance) adalah
hasil dari interpretasi lain atas independensi ini.
Oleh karena itu Internal auditor hanya dapat melaksanakan independent in
fact dalam menjalankan aktivitasnya, hal ini dikarenakan internal auditor

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

terpengaruh oleh fungsi manajemen (controlling) dan juga terpengaruh oleh


adanya struktur organisasi dimana bagian internal audit berada dalam struktur
tersebut. Dan sebaliknya public accountant sebagai eksternal auditor harus
menjalankan independensi baik in fact maupun in appearance mengingat
eksternal audit tidak mempunyai hubungan fungsi dalam organisasi client
(auditable unit) yang diperiksanya.
Selanjutnya, independensi menurut Mulyadi (2002:26-27) dapat diartikan
sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak
tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri
auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif
tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan
pendapatnya. Dalam kenyataannya auditor seringkali menemui kesulitan dalam
mempertahankan sikap mental independen. Keadaan yang seringkali mengganggu
sikap mental independen auditor adalah sebagai berikut (Mulyadi, 2002:27) :
1) Sebagai seorang yang melaksanakan audit secara independen, auditor
dibayar oleh kliennya atas jasanya tersebut.
2) Sebagai penjual jasa seringkali auditor mempunyai kecenderungan
untuk memuaskan keinginan kliennya.
3) Mempertahankan

sikap

mental

independen

seringkali

dapat

menyebabkan lepasnya klien.


Untuk menjelaskan konsep independensi juga bisa diambil dari teori sikap
dan perilaku (Theory of Attitude and Behaviour) yang dikembangkan oleh
Triandis (1971) dalam Janti Soegiastuti (2005), dipandang sebagai teori yang
dapat mendasari untuk menjelaskan independensi. Teori tersebut menyatakan,
bahwa perilaku ditentukan untuk apa orang orang ingin lakukan (sikap), apa
yang mereka pikirkan akan mereka lakukan (aturan aturan sosial), apa yang
mereka bisa lakukan ( kebiasaan) dan dengan konsekuensi perilaku yang mereka
pikirkan. Sehubungan dengan penjelasan diatas, teori ini berusaha menjelaskan
mengenai aspek perilaku manusia dalam suatu organisasi, khususnya akuntan
publik atau auditor yaitu meneliti bagaimana perilaku auditor dengan adanya

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

faktorfaktor yang mempengaruhi independensi auditor. Sikap yang dimaksud


disini adalah sikap auditor dalam penampilan, berperilaku independen dalam
penampilan ketika auditor tersebut memiliki sikap independensi yang tinggi saat
melaksanakan audit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa auditor diwajibkan
bersikap independensi yaitu sikap tidak memihak kepentingan siapapun.
Standar Professional Akuntan Publik (SPAP) seksi 220, menyatakan
bahwa independen berarti tidak mudah dipengaruhi. Auditor secara intelektual
harus jujur, bebas dari kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai
kepentingan dengan klien, baik terhadap manajemen maupun pemilik. Definisi
sejenis dikemukakan oleh Arens (1993) yang menyatakan bahwa independensi
sebagai cara pandang yang tidak memihak didalam penyelenggaraan pengujian
audit, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit.
Kode Etik Akuntan Publik menyebutkan bahwa independensi adalah sikap
yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan
pribadi dalam melaksanakan tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip
integritas dan objektivitas.
Independensi sangat penting dalam hal pemeriksaan internal bagi auditor
internal (Mutchler 2003). Di samping itu, independensi juga dinilai penting karena
berdampak pada kualitas audit (Lin dan Tepalagul 2012). International Standars
for the Professional Practice of Internal Auditing (ISPPIA IIA 2006) telah
mengidentifikasi independensi auditor internal sebagai kriteria yang paling
penting bagi efektivitas fungsi audit internal.

2.2.2. Independensi dan Objektivitas Internal Auditor


Dalam semua hal yang berkaitan dengan penugasan audit intern, APIP dan
kegiatan audit intern harus independen serta para auditornya harus objektif dalam
pelaksanaan tugasnya. Hal ini didasarkan pada asumsi berikut:

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

1) Independensi APIP dan kegiatan audit serta objektivitas auditor


diperlukan agar kredibilitas hasil audit meningkat.
2) Penilaian independensi dan objektivitas mencakup dua komponen berikut:
a. Status APIP dalam kementerian/lembaga/pemerintah daerah.
b. Kebijakan untuk menjaga objektivitas auditor terhadap auditi.
Independensi adalah kebebasan dari kondisi yang mengancam kemampuan
aktivitas audit intern untuk melaksanakan tanggung jawab audit intern secara
objektif. Untuk mencapai tingkat independensi yang diperlukan dalam
melaksanakan tanggung jawab aktivitas audit intern secara efektif, pimpinan APIP
memiliki akses langsung dan tak terbatas kepada atasan pimpinan APIP. Ancaman
terhadap independensi harus dikelola pada tingkat individu auditor, penugasan
audit intern, fungsional, dan organisasi.
Sementara itu objektivitas adalah sikap mental tidak memihak (tidak bias)
yang memungkinkan auditor untuk melakukan penugasan sedemikian rupa
sehingga auditor percaya pada hasil kerjanya dan bahwa tidak ada kompromi
kualitas yang dibuat. Objektivitas mengharuskan auditor tidak membedakan
judgment-nya terkait audit kepada orang lain. Ancaman terhadap objektivitas
harus dikelola pada tingkat individu auditor, penugasan, fungsional, dan
organisasi.
a) Independensi APIP
Pimpinan

APIP

bertanggung

jawab

kepada

pimpinan

kementerian/lembaga/pemerintah daerah agar tanggung jawab pelaksanaan


audit dapat terpenuhi. Posisi APIP ditempatkan secara tepat sehingga bebas
dari intervensi, dan memperoleh dukungan yang memadai dari Pimpinan
Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah sehingga dapat bekerja sama
dengan auditi dan melaksanakan pekerjaan dengan leluasa. Meskipun
demikian, APIP harus membina hubungan kerja yang baik dengan auditi
terutama dalam hal saling memahami di antara peranan masing-masing
lembaga.

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

Pimpinan

APIP

harus

melaporkan

Kementerian/Lembaga/Pemerintah

ke

Daerah

tingkat
yang

Pimpinan

memungkinkan

kegiatan audit intern dapat memenuhi tanggung jawabnya. Pimpinan


APIP harus mengkonfirmasikan independensi APIP dalam kegiatan
audit intern ke Pimpinan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah,
setidaknya setiap tahun.
Independensi APIP secara efektif dicapai ketika Pimpinan APIP secara
fungsional

melaporkan

Kementerian/Lembaga/Pemerintah

kepada
Daerah.

Contoh

Pimpinan
pelaporan

fungsional meliputi, namun tidak terbatas pada:


a. Menyetujui piagam audit (audit charter);
b. Menyetujui rencana audit berbasis risiko;
c. Menyetujui anggaran audit dan rencana sumber daya;
d. Menerima komunikasi dari pimpinan APIP atas kinerja
aktivitas audit intern;
e. Mewawancarai pimpinan APIP untuk menentukan apakah
terdapat pembatasan ruang lingkup atau sumber daya yang
tidak tepat.
Kegiatan Penjaminan Kualitas (Quality Assurance) harus bebas
dari campur tangan dalam menentukan ruang lingkup, pelaksanaan,
dan pengomunikasian hasil.
Pimpinan APIP harus berkomunikasi dan berinteraksi langsung
dengan Pimpinan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah.

b) Objektivitas Auditor
Auditor harus memiliki sikap yang netral dan tidak bias serta
menghindari konflik kepentingan dalam merencanakan, melaksanakan, dan
melaporkan penugasan yang dilakukannya.

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

1) Auditor harus objektif dalam melaksanakan audit intern. Prinsip


objektivitas mensyaratkan agar auditor melaksanakan penugasan
dengan jujur dan tidak mengompromikan kualitas. Pimpinan APIP
tidak diperkenankan menempatkan auditor dalam situasi yang
membuat auditor tidak mampu mengambil keputusan berdasarkan
pertimbangan profesionalnya.
2) Konflik kepentingan adalah situasi di mana auditor, berada dalam
posisi yang dipercaya, memiliki persaingan profesional atau
kepentingan

pribadi.

Persaingan

kepentingan

tersebut

dapat

menyulitkan dalam memenuhi tugas tanpa memihak. Konflik


kepentingan bahkan ada walaupun hasil tindakannya tidak terdapat
ketidaketisan

atau

ketidakpatutan.

Konflik

kepentingan

dapat

membuat ketidakpantasan muncul yang dapat merusak kepercayaan


auditor, aktivitas audit intern, dan profesi. Konflik kepentingan dapat
mengganggu kemampuan auditor untuk melakukan tugasnya dan
tanggung jawabnya secara obyektif.
2.2.3. Gangguan Terhadap Independensi dan Objektivitas
Jika independensi atau objektivitas terganggu, baik secara faktual
maupun penampilan, maka gangguan tersebut harus dilaporkan kepada
pimpinan APIP. Berikut penjabaran mengenai ganguan yang bisa terjadi
terhadap Independensi dan Objectivitas:
a) Gangguan independensi APIP dan objektivitas Auditor dapat meliputi,
tetapi tidak terbatas pada, konflik kepentingan pribadi, pembatasan ruang
lingkup, pembatasan akses ke catatan, personel, dan prasarana, serta
pembatasan sumber daya, seperti pendanaan.
b) Auditor harus melaporkan kepada pimpinan APIP mengenai situasi adanya
dan/atau interpretasi adanya konflik kepentingan, ketidakindependenan,
atau bias. Pimpinan APIP harus mengganti auditor yang menyampaikan
situasinya dengan auditor lainnya yang bebas dari situasi tersebut.
c) Auditor yang mempunyai hubungan yang dekat dengan auditi seperti
hubungan sosial, kekeluargaan, atau hubungan lainnya yang dapat

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

mengurangi objektivitasnya, harus tidak ditugaskan untuk melakukan audit


intern terhadap entitas tersebut.
d) Dalam hal auditor bertugas menetap untuk beberapa lama di kantor auditi
dalam rangka penugasan consulting atas program, kegiatan, atau aktivitas
auditi maka auditor tidak boleh terlibat dalam pengambilan keputusan atau
menyetujui hal-hal yang merupakan tanggung jawab auditi.
e) Auditor harus menahan diri dari penugasan assurance atas program,
kegiatan, atau aktivitas tertentu yang mereka sebelumnya bertanggung
jawab. Objektivitas dianggap terganggu jika auditor melakukan penugasan
assurance untuk suatu program, kegiatan, atau aktivitas dimana auditor
memiliki tanggung jawab dalam tahun sebelumnya.
f) Penugasan kegiatan assurance untuk fungsi di mana pimpinan APIP
berpotensi memiliki konflik kepentingan maka pelaksanaan kegiatan
assurance tersebut harus diawasi oleh pihak lain di luar APIP yang
bersangkutan.
g) Auditor dapat melakukan penugasan consulting yang berkaitan dengan
program, kegiatan, atau aktivitas yang mereka memiliki tanggung jawab
sebelumnya.
h) Jika auditor memiliki gangguan potensial terhadap independensi atau
objektivitas yang berkaitan dengan penugasan consulting yang akan
dilakukan, pengungkapan harus diinformasikan kepada auditi sebelum
menerima penugasan.
Hal ini juga dijelaskan dalam lampiran 2 SPKN disebutkan bahwa:
Gangguan pribadi yang disebabkan oleh suatu hubungan dan pandangan pribadi
mungkin

mengakibatkan

pemeriksa

membatasi

lingkup

pertanyaan

dan

pengungkapan atau melemahkan temuan dalam segala bentuknya. Pemeriksa


bertanggung jawab untuk memberitahukan kepada pejabat yang berwenang dalam
organisasi

pemeriksanya

apabila

memiliki

gangguan

pribadi

terhadap

independensi. Gangguan pribadi dari pemeriksa secara individu meliputi antara


lain:
a. Memiliki hubungan pertalian darah ke atas, ke bawah, atau semenda sampai
dengan derajat kedua dengan jajaran manajemen entitas atau program yang

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

diperiksa atau sebagai pegawai dari entitas yang diperiksa, dalam posisi
yang dapat memberikan pengaruh langsung dan signifikan terhadap entitas
atau program yang diperiksa.
b. Memiliki kepentingan keuangan baik secara langsung maupun tidak
langsung pada entitas atau program yang diperiksa.
c. Pernah bekerja atau memberikan jasa kepada entitas atau program yang
diperiksa dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
d. Mempunyai hubungan kerjasama dengan entitas atau program yang
diperiksa.
e. Terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan obyek
pemeriksaan, seperti memberikan asistensi, jasa konsultasi, pengembangan
sistem, menyusun dan/atau mereviu laporan keuangan entitas atau program
yang diperiksa.
f. Adanya prasangka terhadap perorangan, kelompok, organisasi atau tujuan
suatu program, yang dapat membuat pelaksanaan pemeriksaan menjadi
berat sebelah
2.2.4. Tantangan dalam menjaga Independensi
Selain gangguan Auditor internal juga menghadapi tantangan dalam
menjaga independensi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
a. Auditor internal memiliki konflik peran yang melekat (inherent conflict).
Konflik peran meliputi kontradiksi potensial antara peran audit dan peran
jasa konsultasi manajemen, perbedaan potensial antara arahan organisasi
profesional mereka, dan tuntutan manajemen organisasi. Konflik peran
dapat

terjadi

antara

auditor

yang

cenderung

mempertahankan

profesionalismenya dan pihak yang diaudit cenderung mempertahankan


lembaga atau keinginannya. Sikap dan keyakinan yang berkaitan dengan
lingkungan anggota seprofesi seringkali dibentuk oleh kondisi-kondisi
birokrasi. Sikap yang dimunculkan oleh satu atau beberapa auditor internal
profesional dalam mempertahankan nilai-nilai profesionalismenya akan
cenderung menjadi pemicu konflik. Konflik peran dapat menimbulkan rasa

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

tidak nyaman dalam bekerja dan bisa menurunkan motivasi kerja. Hal ini
berdampak negatif terhadap perilaku individu seperti timbulnya ketegangan
kerja, banyaknya terjadi perpindahan, penurunan kepuasan kerja sehingga
bisa menurunkan kinerja auditor secara keseluruhan (Fanani et al. 2008).
b. Peningkatan kemungkinan terjadinya ambiguitas (ketidakjelasan) peran.
Hal ini dipacu oleh adanya kondisi yang kompleks dan perubahan dalam
lingkungan operasional auditor internal, termasuk kompleksitas dan
perubahan peraturan dan teknologi. Ambiguitas peran tersebut dapat
menciptakan ketegangan kerja yang dapat melemahkan kemampuan auditor
internal untuk mempertahankan komitmen independensi profesionalnya
(Ahmad dan Taylor 2009). Ambiguitas peran mengurangi tingkat kepastian
apakah informasi yang diperoleh dalam pemeriksaan telah obyektif dan
relevan. Ketidakjelasan informasi terkait dengan peran dapat meyebabkan
ambiguitas peran (Yung-Tai dan Chen-Hua 2010). Rizzo et al. (1970)
menyatakan bahwa ambiguitas peran menunjukkan ambivalensi saat apa
yang diharapkan tidak jelas karena kekurangan informasi mengenai suatu
peran dan apa yang dibutuhkan dalam suatu tugas.
Pernyataan standar umum kedua dalam SPKN adalah: Dalam semua hal
yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan
pemeriksa harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi,
ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya. Dengan
pernyataan standar umum kedua ini, organisasi pemeriksa dan para pemeriksanya
bertanggung jawab untuk dapat mempertahankan independensinya sedemikian
rupa, sehingga pendapat, simpulan, pertimbangan atau rekomendasi dari hasil
pemeriksaan yang dilaksanakan tidak memihak dan dipandang tidak memihak
oleh pihak manapun.
2.3.

Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai independensi sudah cukup banyak dilakukan baik itu

dalam negeri maupun luar negeri dengan menggunakan berbagai ukuran. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Lauw Tjun Tjun, Elyzabet Indrawati Marpaung
Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

dan Santy Setiawan (2012), dengan judul penelitian nya Pengaruh Kompetensi
dan Independensi Auditor Terhadap Kualitas Audit, kompetensi dapat dilihat
melalui berbagai sudut pandang, namun dalam penelitian ini menggunakan
kompetensi dari sudut pandang auditor individual, hal ini dikarenakan auditor
adalah subyek yang melakukan audit secara langsung dan berhubungan langsung
dalam proses audit sehingga diperlukan kompetensi yang baik untuk
menghasilkan

audit

yang

berkualitas. Dan berdasarkan

konstruk yang

dikemukakan oleh De Angelo (1981), kompetensi diproksikan dalam dua hal yaitu
pengetahuan dan pengalaman, dan independensi diukur dengan cara menanyakan
lama hubungan dengan klien, tekanan dari klien, telaah dari rekan auditor dan
pemberian jasa non audit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa secara parsial
kompetensi auditor berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit
sedangkan Independensi Auditor tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
kualitas audit. Secara simultan Kompetensi dan Independensi Auditor
berpengaruh terhadap kualitas audit.
Penelitian empiris yang dilakukan oleh Sourour Hazami - Ammar, PhD
(2015) dengan judul Critical Analysis of Internal Audit Independence :
International Literature menjelaskan tentang konsep independensi auditor
internal dengan membandingkan antara independensi yang dibangun dari sudut
pandang sosial dengan independensi yang dianggap sebagai sebuah mitos dan
seberapa besar peran komite audit dalam membangun independensi auditor
internal. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa independensi auditor internal
dibangun berdasarkan konteks yang diberikan, ada ataupun tidak adanya komite
audit, auditor internal harus independen dan berkompeten. Auditor internal harus
mampu mengatasi masalah dalam berbagai situasi. Dalam hasil penelitian nya
disebutkan bahwa The independence of internal audit is a myth in the sense that
the internal auditor is in a dependent position toward management. Pernyataan
ini mendukung konsep independensi yang menyatakan bahwa internal auditor
hanya dapat melaksanakan independensi dalam menjalankan aktivitasnya yaitu
hanya independence in fact, hal ini dikarenakan internal auditor terpengaruh oleh

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

fungsi manajemen (controlling) dan juga terpengaruh oleh adanya struktur


organisasi dimana bagian internal audit berada dalam struktur tersebut.
Selanjutnya dalam international journal of scientific and technology
research volume 5 oleh Usman (2016), dengan judul Effect of Independence and
Competence The Quality of Internal Audit : proposing a research framework
dengan tujuan untuk melihat pengaruh kompetensi dan independensi internal
auditor dilingkungan inspektorat terhadap kualitas audit. Permasalahan dalam
penelitian ini ditemukan bahwa auditor internal tidak memberikan hasil yang baik
dibanding dengan auditor ekstenal dalam hal ini Badan Pemeriksaan Keuangan
(BPK). Oleh karena itu perlu adanya peningkatan terhadap kompetensi dan
independensi dari auditor internal. Dalam penelitian ini independensi dilihat dari 3
indikator meliputi independensi organisasi, objectivitas dan pelaporan, sementara
kompetensi dilihat dari aspek pengetahuan, keahlian, skill, pendidikan dan
pengalaman. Asumsi nya dengan peningkatan Independensi dan Kompetensi ini
akan turut serta meningkatkan kualitas audit.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1) Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) semakin lama
semakin strategis dan bergerak mengikuti kebutuhan zaman. APIP

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

diharapkan menjadi agen perubahan yang dapat menciptakan nilai tambah


pada produk atau layanan instansi pemerintah. APIP sebagai pengawas
intern pemerintah merupakan salah satu unsur manajemen pemerintah
yang penting dalam rangka mewujudkan kepemerintahan yang baik (good
governance) yang mengarah pada pemerintahan/birokrasi yang bersih
(clean government).
2) Kompetensi auditor adalah auditor yang dengan pengetahuan dan
pengalamannya yang cukup dan eksplisit dapat melakukan audit secara
objektif, cermat dan seksama. Auditor yang berpendidikan tinggi akan
mempunyai banyak pengetahuan mengenai bidang yang digelutinya,
sehingga dapat mengetahui berbagai masalah secara lebih mendalam.
Selain itu, dengan ilmu pengetahuan yang cukup luas, auditor akan lebih
mudah dalam mengikuti perkembangan yang semakin kompleks. Dengan
begitu auditor akan dapat menghasilkan audit yang berkualitas tinggi.
3) Independensi adalah kebebasan dari kondisi yang mengancam kemampuan
aktivitas audit intern untuk melaksanakan tanggung jawab audit intern
secara objektif. Untuk mencapai tingkat independensi yang diperlukan
dalam melaksanakan tanggung jawab aktivitas audit intern secara efektif,
pimpinan APIP memiliki akses langsung dan tak terbatas kepada atasan
pimpinan APIP. Ancaman terhadap independensi harus dikelola pada
tingkat individu auditor, penugasan audit intern, fungsional, dan
organisasi.

3.2. Saran

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

DAFTAR PUSTAKA
Arens, A.A. dan Loebbecke. 2008. Auditing Pendekatan Terpadu. Salemba Empat.
Jakarta.
Amin Widjaja Tunggal. 2008. Memahami Internal Auditing. Jakarta: Harvarindo.
Budi, Sasongko. Basuki dan Hendaryanto. 2004. Internal Auditor Da Dilema
Etika. SNA VII.

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor

Christiawan, Yulius Jogi. 2002. Kompetensi dan Independensi Akuntan Publik :


Refleksi Hasil Penelitian Empiris. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol.4
No. 2 (Nov) Hal. 79-92. JURNAL EKONOMI Volume 21, Nomor 3
September 2013
Lastanti, Hexana Sri. 2005. Tinjauan Terhadap Kompetensi dan Independensi
Akuntan Publik : Refleksi Atas Skandal Keuangan. Media Riset
Akuntansi, Auditing dan Informasi Vol.5 No.1 April 2005. Hal 85-97.
Hiro Tugiman. 1997. Standar Profesional Audit Internal. Yogyakarta: Kanisius.

Kompetensi dan Independensi Internal Auditor