LAPORAN KIMIA FISIKA I
PERCOBAAN 9
KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI ETIL ASETAT
Disusun oleh : Kelompok 01
Nimatus Sholihah
(140332603404)**
Qurrota Ayun
(140332600933)
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
April 2016
A. Tujuan Percobaan
Mahasiswa dapat menunjukkan bahwa reaksi penyabunan etil asetat
oleh ion hidroksida adalah reaksi orde 2 dan menentukan konstanta kecepatan
raksi pada reaksi tersebut.
B. Dasar Teori
Kinetika kimia merupakan bagian dari ilmu Kimia Fisika yang
mempelajari tentang kecepatan reaksi-reaksi kimia dan mekanisme reaksireaksi yang bersangkutan. Tidak semua reaksi kimia dapat dipelajari secara
kinetik. Reaksi-reaksi yang berjalan sangat cepat seperti reaksi-reaksi ion atau
pembakaran dan reaksi-reaksi yang sangat lambat seperti pengkaratan, tidak
dapat dipelajari secara kinetik. Diantara kedua jenis ini, banyak reaksi-reaksi
yang kecepatannya dapat diukur. Kecepatan reaksi adalah kecepatan
perubahan konsentrasi terhadap waktu, jadi
dc
dt
tanda negatif menunjukkan
bahwa konsentrasi berkurang bila waktu bertambah. Laju reaksi merupakan
laju berkurangnya konsentrasi pereaksi atau bertambahnya hasil reaksi
persatuan waktu. Bila laju reaksi dengan persamaan: aA + bB cC + dD.
Semakin besar konsentrasi zat-zat pereaksi cenderung akan mempercepat laju
reaksi, tetapi seberapa cepat menemukan orde reaksi merupakan salah satu
cara memperkirakan sejauh mana konsentrasi zat pereaksi mempengaruhi laju
reaksi tertentu.
Reaksi Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun
yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida
dengan alkali yang menghasilkan gliserol dan garam karboksilat (sejenis
sabun). Sabun merupakan garam (natrium) yang mempunyai rangkaian
karbon yang panjang. Reaksi dibawah ini merupakan reaksi aponifikasi etil
asetat dengan NaOH
t=0
t=t
CH3COOC2H5
A
X
(a-x)
OHB
X
(b-x)
CH3COOX
X
C2H5OH
X
X
Reaksi yang terjadi pada penyabunan etil asetat merupakan salah
satu reaksi berorde dua, meskipun reaksi yang terjadi pada penyabunan etil
asetat bukan reaksi sederhana. Sehingga hukum hukum laju reaksi untuk
penyabunan etil asetat dapat dinyatakan sebagai:
d Ester
k 1 Ester OH
dt
Atau,
dx
k 1 a x b x
dt
Dimana :
a = konsentrasi awal ester (mol/L)
b = konsentrasi awal ion OH- (mol/L)
x = jumlah mol/L ester atau basa yang telah bereaksi
k1 = tetapan laju reaksi ([Link]-1)
Intregasi :
Bila ab
k1
1
b a x
ln
t a b a b x
atau
ln
(a x)
a
k1( a b)t ln
(b x)
b
Bila a=b
1
1
k1
a x a
atau,
a (a x )
x
k1t
a(a x)
a (a x )
Untuk menentukan laju dari reaksi kimia yang diberikan, harus
ditentukan seberapa cepat perubahan konsentrasi yang terjadi pada reaktan
atau produknya. Secara umum, apabila terjadi reaksi A B, maka mulamula zat yang A dan zat B sama sekali belum ada. Setelah beberapa waktu,
konsentrasi B akan meningkat sementara konsentrasi zat A akan menurun.
Hukum laju dapat ditentukan dengan melakukan serangkain eksperimen
secara sistematik pada reaksi A + B C, untuk menentukan orde reaksi
terhadap A maka konsentrasi A dibuat tetap sementara konsentrasi B
divariasi kemudian ditentukan laju reaksinya pada variasi konsentrasi
tersebut. Sedangkan untuk menentukan orde reaksi B, maka konsentrasi B
dibuat tetap sementara itu konsentrasi A divariasi kemudian diukur laju
reaksinya pada variasi konsentrasi tersebut.
Orde dari suatu reaksi menggambarkan bentuk matematika dimana
hasil perubahan dapat ditunjukkan. Orde reaksi hanya dapat dihitung
secara eksperimen dan hanya dapat diramalkan jika suatu mekanisme
reaksi diketahui seluruh orde reaksi yang dapat ditentukan sebagai jumlah
dari eksponen untuk masing-masing reaktan, sedangkan hanya eksponen
untuk masing-masing reaktan dikenal sebagai orde reaksi untuk komponen
itu. Orde reaksi adalah jumlah pangkat faktor konsentrasi dalam hukum
laju bentuk diferensial. Pada umumnya orde reaksi terhadap suatu zat
tertentu tidak sama dengan koefisien dalam
persamaan stoikiometri reaksi
Dalam reaksi orde II, laju reaksi berbanding langsung dengan kuadrat
konsentrasi dari satu reaktan atau dengan hasil kali konsentrasi yang
meningkat sampai pangkat satu atau dua
1. 2A Produk
d A
2
k A
dt
yang pada integrasi memberikan
1
1
kt
A A 0
dimana [A]0 adalah konsentrasi reaktan pada t=0.
2. aA + bB Produk
dimana a b dan [A]0 [B]0, persamaan laju diferentsial adalah
1 d A
1 d B
k A B
a dt
b dt
dan persamaan laju yang diintegrasi adalah
B 0 A
1
kt
ln
b A 0 - a B 0
B A 0
Jika a = b = 1, persamaan diatas menjadi
B 0 A
1
kt
ln
A 0 - B 0 B A 0
Plot kiri dari persamaan diatas terhadap t akan merupakan garis lurus.
Konstanta laju dapat dihitung dari kemiripan dan konsentrasi awal
reaktan dari intersep tersebut.
C. Alat dan Bahan
Alat
Kaca arloji, labu ukur, Erlenmeyer, buret, statif dan klem, corong, beaker
glass, stopwatch, pipet gondok dan pipet tetes, botol semprot, thermometer.
Bahan
Etil asetat, NaOH, HCl, indicator fenolftalein, aquades, asam oksalat.
D. Prosedur Percobaan
1. Disediakan 250 mL larutan etil asetat dengan konsentrasi 0,02 N dan
disediakan kurang lebih 200 mL larutan NaOH 0,02 N.
2. Dilakukan standarisasi larutan NaOH dengan larutan baku primer H2C2O4
0,02 N.
3. Dilakukan standarisari larutan HCl dengan larutan baku sekunder (NaOH
yang sudah distandardisasi).
4. Larutan NaOH 0,02 N dimasukkan dalam beaker glass sebanyak 100 mL
dengan menggunakan gelas ukur.
5. Larutan etil asetat 0,02 N dimasukkan dalam beaker glass sebanyak 100
mL dengan menggunakan gelas ukur.
6. Dilakukan pemanasan dalam penangas air (thermostat) hingga suhu
kedua larutan sama.
7. Larutan HCl 0,02 N dimasukkan dalam 7 buah Erlenmeyer sebanyak 20
mL dengan menggunakan pipet ukur.
8. Ketika suhu larutan NaOH dan etil asetat sama, keduanya dicampurkan
bersamaan dengan dijalankannya stopwatch.
9. Campuran kedua larutan diambil sebanyak 10 mL dengan menggunakan
pipet volume pada menit ke-3 dan dicampurkan ke dalam Erlenmeyer
yang berisi HCl.
10. Ditambahkan indicator fenolftalein.
11. Dilakukan titrasi dengan larutan NaOH 0,02 N.
12. Dicatat volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi.
13. Diulang prosedur 9-12 dengan dilakukan pada menit ke-8, 15,25,40,65,
dan 65 dengan pemanasan (pemanasan 30 menit setara dengan dibiarkan
selama 1 hari agar reaksi berlangsung sempurna).
E. Data Pengamatan
t (menit)
VNaOH 1 (mL)
VNaOH II (mL)
VNaOH rata-rata (mL)
3
16,9
17,5
17,2
8
17,9
17,6
17,75
15
18,4
18,2
18,3
25
18,4
18,4
18,4
40
18,8
18,6
18,7
65
18,8
18,7
18,7
65 +
19,6
19,2
19,4
VH2C2O4 : 10 mL
VNaOH : 21,7 mL
[H2C2O4] : 0,02 N
[NaOH] : 0,02 N
VNaOH
: 21,7 mL
VHCl
: 10 mL
[NaOH] : 0,01843 N
[HCl] : 0,0204 N
F. Analisa Data
Melakukan Standarisasi terhadap NaOH dan HCl
Standarisasi NaOH dengan H2C2O4 berdasarkan persamaan reaksi.
2NaOH(aq) + H2C2O4(aq) Na2C2O4(aq) +H2O(l)
mol H 2 C 2 O 4=( 0,02 N ) ( 10 mL ) =0,2 mmol
mol NaOH=
2 mmol NaOH
0,2 mmol H 2 C2 O4=0,4 mmol NaOH
1 mmol H 2 C2 O4
M NaOH =
0.4 mmol NaOH
=0,01843 M
21,7 mL
0,02 N
Standarisasi NaOH dengan HCl berdasarkan persamaan reaksi.
NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) +H2O(l)
mol NaOH= ( 0,02 N ) ( 10,2 mL ) =0,204 mmol
mol HCl=
1 mmol HCl
0,204 mmol NaOH=0,204 mmol NaOH
1 mmol NaOH
M HCl=
0.204 mmol NaOH
=0,0204 M
10 mL
0,02 N
Menentukan Orde Reaksi Etil Asetat dengan NaOH
Menentukan orde reaksi etil asetat berdasarkan persamaan reaksi.
CH3COOC2H5(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + C2H5OH (aq)
m :
t :
s :
(a-x)
berdasarkan persamaan reaksi tersebut, untuk menentukan kelebihan basa OHditentukan dengan mereaksikan dengan HCl sehingga reaksinya menjadi.
HCl(aq)
OH-(aq)
Cl-(aq) + H2O(aq)
m :
t :
s :
(a-x)
untuk selanjutnya kelebihan HCl dapat ditentukan melalui titrasi dengan NaOH.
Volume NaOH yang diperlukan untuk titasi merupakan volume HCl yang
diperlukan untuk bereaksi dengan ion OH- sisa.(yang beraksi dengan etil asetat)
dengan konsentrasi yang sama. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui
konsentrasi sisa (a-x) ion hidroksida (OH-) dengan konsentrasi awal (a) untuk
menentukan orde reaksinya melalui pengurangan mol HCl akhir dan awal.
mmol NaOH sisa = mmol HCl yang bereaksi
mmol NaOH sisa = mmol HCl awal mmol HCl akhir/sisa
a) Pada saat t = 3 menit
mmol NaOH sisa = mmol HCl awal mmol HCl akhir/sisa
mmol NaOH sisa = (0,02 N x 20 mL) (0,02 N x 17,2 mL)
= 0,4 mmol- 0,344 mmol
= 0,056 mmol
0,056 mmol
[ NaOH ] =
=0,00056 M 0,00056 N
100 mL
b) Pada saat t = 8 menit
mmol NaOH sisa = (0,02 N x 20 mL) (0,02 N x 17,75 mL)
= 0,4 mmol- 0,355 mmol
= 0,045 mmol
0,045 mmol
[ NaOH ] =
=0,00045 M 0,00045 N
100 mL
c) Pada saat t = 15 menit
mmol NaOH sisa = (0,02 N x 20 mL) (0,02 N x 18,3 mL)
= 0,4 mmol- 0,371 mmol
= 0,034 mmol
0,034 mmol
[ NaOH ] =
=0,00034 M 0,00034 N
100 mL
d) Pada saat t = 25 menit
mmol NaOH sisa = (0,02 N x 20 mL) (0,02 N x 18,4 mL)
= 0,4 mmol- 0,368 mmol
= 0,032 mmol
[ NaOH ] =
0,032mmol
=0,00032 M 0,00032 N
100 mL
e) Pada saat t = 40 menit
mmol NaOH sisa = (0,02 N x 20 mL) (0,02 N x 18,7 mL)
= 0,4 mmol- 0,374 mmol
= 0,026 mmol
0,026 mmol
[ NaOH ] =
=0,00026 M 0,00026 N
100 mL
f) Pada saat t = 65 menit
mmol NaOH sisa = (0,02 N x 20 mL) (0,02 N x 18,7 mL)
= 0,4 mmol- 0,374 mmol
= 0,026 mmol
0,026 mmol
[ NaOH ] =
=0,00026 M 0,00026 N
100 mL
g) Pada saat t = 65 menit +
mmol NaOH sisa = (0,02 N x 20 mL) (0,02 N x 19,4 mL)
= 0,4 mmol- 0,388 mmol
= 0,012 mmol
0,012mmol
[ NaOH ] =
=0,00012 M 0,00012 N
100 mL
Sedangkan konsentrasi awal (a) NaOH = etil asetat = 0,02 M 0,02 N.
Penentuan orde reaksi dengan metode integrasi persamaan laju berorde dua adalah
sebagai berikut.
OH
d [ etil asetat ]
r=
=k [ etil asetat ]
dt
[etil asetat]=[OH-]= (a-x), sehingga
dx
=k ( ax )2
dt
Setelah diintegrasikan menjadi.
1
1
=kt +
a
( ax )
Di mana sumbu y adalah
1
( ax )
, sumbu x adalah t, slope adalah k dan
1
a
adalah intersep sehingga didapat data sebagai berikut.
t (s)
(a-x) (M)
1
(M 1)
(ax)
a (M)
180
0,00056
0,02
1785,71
480
0,00045
0,02
2222,22
900
0,00034
0,02
2941,18
1500
0,00032
0,02
3125,00
2400
0,00026
0,02
3846,15
3900
0,00026
0,02
3846,15
Dari data tersebut dapat dibuat grafik sebagai berikut.
1
( M 1 )
a
50
50
50
50
50
50
Grafik 1/[NaOH]sisa terhadap Waktu
5000.00
4000.00
3000.00
1/(a-x) M-1
f(x) = 0.88x + 1820.83
R = 0.94
Linear ()
2000.00
1000.00
0.00
0
1000
2000
3000
t (s)
Berdasarkan grafik tersebut memiliki persamaan garis y = 0,882x + 1820 dengan
regresi sebesar 0,96954. Adapun nilai k (tetepan laju reaksi dapat dihitung) dari
nilai slope.
slope=b=k =0,882
G. Pembahasan
percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa reaksi
saponifikasi antara etil asetat dengan ion OH- adalah reaksi orde dua. Dalam
membuktikan reaksi tersebut berorde dua dalam hal ini digunakan metode
integrasi sehingga untuk menyelesaikannya digunakan persamaan laju reaksi
berorde dua, yakni.
dx
2
=k ( ax )
dt
[etil asetat]=[OH-]
Dengan (a-x) merupakan konsentrasi OH- sisa yang dapat diketahui dengan
direaksikan terlebih dahulu dengan HCl. Kelebihan HCl dititrasi kemudian
dengan NaOH. Berdasarkan perhitungan dan grafik di atas dengan nilai
regresi sebesar 0,96954 1. Hal ini menunjukkan bahwa grafik tersebut linier
dan reaksi saponifikasi etil asetat dengan ion OH- memang berorde dua,
karena grafik tersebut dibuat berdasarkan persamaan laju reaksi berorde dua
dengan konsentrasi reaktan sama. Adapun nilai k dapat ditentukan sebesar
0,882 M-1s-1.
H. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan terkait tujuan dari
percobaan ini bahwa reaksi saponifikasi etil asetat dan ion OH- terbukti
berorde dua. Selain itu, didapat nilai k sebesar 0,882 M-1s-1.
I. Jawaban Pertanyaan
1) Kenyataan apakah yang membuktikan bahwa reaksi penyabunan etil asetat
ini adalah reaksi orde kedua?
Bukti bahwa reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida adalah
reaksi orde kedua yaitu hasil perhitungan dari grafik diperoleh nilai regresi
0,96954
1. Berdasarkan data percobaan diperoleh grafik sebagai
berikut.
Grafik 1/[NaOH]sisa terhadap Waktu
5000.00
4000.00
3000.00
1/(a-x) M-1
f(x) = 0.88x + 1820.83
R = 0.94
Linear ()
2000.00
1000.00
0.00
0
1000
t (s)
2000
3000
Dimana grafik tersebu menunjukkan bahwa nilai regresi dari persamaan
konsentrasi terhadap waktu adalah mendekati nilai satu sehingga reaksi
merupakan reaksi orde dua karena persamaan garisnya merupakan
persamaan garis lurus.
2) Apakah perbedaan antara orde reaksi dengan kemolekulan reaksi?
a. Orde reaksi adalah banyaknya faktor konsentrasi zat reaktan yang
mempengaruhi kecepatan reaksi.
b. Kemolekulan reaksi merupakan banyaknya molekul zat pereaksi
(reaktan) dalam sebuah persamaan stoikiometri reaksi yang
sederhana. Kemolekulan reaksi selalu berupa bilangan bulat positif.
Contoh:
Reaksi: mM + nNpP + qQ
Kemolekulan reaksinya = m + n
Reaksi: 2 M + N 3P + 2 Q
Kemolekulan reaksinya = 2 + 1 = 3
3) Apakah yang mempengaruhi kecepatan reaksi? Jelaskan
Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Luas permukaan sentuh
Luas permukaan sentuh memiliki peranan yang sangat penting dalam
jumlah yang besar, sehingga menyebabkan laju reaksi semakin
[Link] juga sebaliknya, apabila semakin kecil luas permukaan
bidang sentuh, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar
partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil.
b. Suhu
Suhu juga turut berperan dalam mempengaruhi laju [Link]
suhu pada suatu reaksi yang berlangsung dinaikkan, maka
menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga tumbukan
yang terjadi semakin sering, menyebabkan laju reaksi semakin
[Link], apabila suhu diturunkan, maka partikel semakin
tak aktif, sehingga laju reaksi semakin kecil.
c. Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada
suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi
itu [Link] katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai
pereaksi ataupun [Link] memungkinkan reaksi berlangsung
lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat
perubahan yang dipicunya terhadap [Link] menyediakan
suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih [Link]
mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.
d. Molaritas
Molaritas adalah banyaknya mol zat terlarut tiap satuan volum zat
[Link] dengan laju reaksi adalah bahwa semakin
besar molaritas suatu zat, maka semakin cepat suatu reaksi
berlangsung. Dengan demikian pada molaritas yang rendah suatu
reaksi akan berjalan lebih lambat daripada molaritas yang tinggi.
e. Konsentrasi
Karena persamaan laju reaksi didefinisikan dalam bentuk konsentrasi
reaktan maka dengan naiknya konsentrasi maka naik pula kecepatan
reaksinya. Artinya semakin tinggi konsentrasi maka semakin banyak
molekul reaktan yang tersedia dengan demikian kemungkinan
bertumbukan akan semakin banyak juga sehingga kecepatan reaksi
meningkat.
4) Apa yang dimaksud dengan konstanta kecepatan reaksi?
Konstanta kecepatan reaksi (k) adalah perbandingan antara laju reaksi
dengan konsentrasi reaktan. Nilai kakan semakin besar jika reaksi
berlangsung cepat, walaupun dengan konsentrasi reaktan dalam jumlah
kecil. Nilai k hanya dapat diperoleh melalui analisis data eksperimen,
tidak berdasarkan stoikiometri maupun koefisien reaksi.
Daftar Pustaka
Atkins, Peter dan Julio De [Link] Chemistry [Link] York:
W. H. Freeman and Company
Sumari,Yahmin, Ida Bagus [Link] Praktikum Kimia
[Link]:Kimia FMIPA UniversitasNegeri Malang
[Link] Fisika III - Kinetika Reaksi Saponifikasi Etil Asetat.
(online)[Link] diakses 17 April 2016