Anda di halaman 1dari 17

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kebutuhan komoditas pertanian khususnya beras terus bertambah seiring


dengan meningkatnya permintaan pasar dan konsumsi masyarakat. Upaya untuk
meningkatkan produksi komoditas padi dapat ditempuh melalui perluasan lahan
dan peningkatan produktivitas. Namun, upaya tersebut di berbagai daerah masih
dihadapi masalah cekaman abiotik seperti kekeringan, kelebihan air, salinitas,
keracunan aluminium (Al), besi (Fe), dan unsur mikro pada lahan masam.
Keracunan Al dan kahat hara merupakan cekaman abiotik yang sering dijumpai
pada lahan pertanian di Indonesia, terutama pada tanah masam. Tanaman yang
keracunan Al akan terhambat perkembangan akar sehingga mengganggu
pertumbuhan bagian atas tanaman. Terganggunya pertumbuhan bagian atas
tanaman disebabkan oleh kahat hara seperti Mg, Ca, dan P, dan tidak seimbangnya
hormon.
Lahan pasang surut merupakan salah satu lahan yang dapat dimanfaatkan
sekarang ini untuk dijadikan sebagai areal pengembangan pertanian, karena lahan
ini tersedia cukup luas di Indonesia (20.11 juta ha) tetapi pemanfaatannya belum
dilakukan secara maksimal, disamping itu hasil padi masih tergolong rendah.
Salah satu penyebab rendahnya hasil padi di lahan ini adalah senyawa pirit yang
terdapat di dalam tanah. Senyawa ini jika teroksidasi atau tereduksi dapat
menghambat pertumbuhan tanaman padi. Proses oksidasi pirit terjadi dalam
beberapa tahapan dan hasil akhir dari oksidasi pirit adalah menghasilkan ferri
hidroksida (Fe(OH)3), asam sulfat dan juga ion H+ sehingga nilai pH tanah

menjadi sangat rendah (<4). Pada kondisi reduktif, pirit dapat mengakibatkan
tingginya kelarutan zat-zat beracun seperti, Al3-, Fe2+, H2S, CO2 dan asam-asam
organik. Pengelolaan lahan pasang surut perlu memperhatikan kondisi pirit supaya
tidak teroksidasi atau tereduksi lebih lama. Salah satu kunci keberhasilan
budidaya padi di lahan pasang surut adalah kondisi air, selain itu genotipe yang
toleran dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil padi di lahan pasang surut.
Oleh karena itu sangat penting mengetahui dan mempelajari pengaruh cekaman
lingkungan terutama cekaman ion Al dn Fe pada pertumbuhan tanaman padi
untuk meminimal kerugian akibat pertumbuhan tanaman yang tidak optimal.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana masalah yang terjadi pada lahan cekaman ion terhadap
pertumbuhan tanaman padi?
2. Bagaimana respon dan ketahanan tanaman padi terhadap cekaman ion Fe
dan Al?
3. Bagaimana cara untuk mengatasi tanaman padi yang tercekam ion Fe dan
Al?

II.
PEMBAHASAN
A. Masalah Lahan Cekaman Ion dan Pengaruhnya terhadap Tanaman Padi

Konsentrasi ion hidrogen (pH) adalah sifat penting tanah karena


mempengaruhi

pertumbuhan

akar

tanaman

dan

mikroorganisme

tanah.

Pertumbuhan akar umumnya baik di tanah sedikit asam. pH tanah menentukan


ketersediaan hara tanah. Keasaman mempercepat pelapukan batuan yang
melepaskan K+, Mg2+, Ca2+, dan Mn2+ dan meningkatkan kelarutan karbonat,
sulfat, dan fosfat. Ketika ion mineral di tanah berlebih, disebut tanah
salin/garam, dan jika ion-ion mineral mencapai tingkat yang membatasi
ketersediaan air atau melebihi zona yang memadai untuk nutrisi tertentu
pertumbuhan tanaman menjadi terbatas. Natrium klorida dan natrium sulfat adalah
garam yang paling umum di tanah salin. Ion mineral berlebih di tanah merupakan
masalah besar di daerah kering dan semi kering karena curah hujan tidak cukup
untuk mencuci mereka dari lapisan tanah di dekat permukaan. Irigasi pertanian
mendorong salinisasi tanah jika jumlah air yang diberikan tidak cukup untuk
mencuci garam di bawah zona akar. Air irigasi dapat berisi 100 sampai 1000 g ion
mineral per meter kubik, dan selama beberapa musim tumbuh, ion mineral dapat
terakumulasi pada tingkat tinggi di dalam tanah. Masalah penting lain yang
berkaitan dengan ion mineral berlebih adalah akumulasi logam berat, misalnya,
seng, tembaga, kobalt, nikel, merkuri, timbal, kadmium, di dalam tanah, yang
dapat menyebabkan keracunan parah pada tanaman serta manusia (Makarim,
2010).
Tanah aluminium mengandung berbagai bentuk ion mineral, tergantung pada
pH tanah. Pada pH di bawah 5, ion Al+3 merupakan bentuk yang paling dominan
yang sangat beracun bagi tanaman. Pada kondisi netral, pH 6, aluminium menjadi

bentuk yang tidak larut Al(OH)3, dan pada kondisi alkalin, aluminium menjadi
bentuk Al(OH)4-. Al dapat berasosiasi dengan berbagai senyawa organik dan
inorganik seperti PO4-3, SO4-2, F-, asam organik, protein, dan lipid. Keracunan
Al pada tanaman merupakan faktor pembatas utama bagi pertumbuhan tanaman di
lahan asam. Kelarutan Al berhubungan erat dengan tingkat keasaman tanah, dan
keasaman tanah dapat disebabkan oleh pencucian ion logam-logam alkalin seperti
Na, K, Ca, dan Mg. Meningkatnya kelarutan Al di dalam tanah asam
menyebabkan terjadinya defisiensi nutrien seperti Mg, Ca, dan P dan unsur mikro
seperti Zn, Pb, dan Mo (Sunadi, 2010).
Keracunan Al pada tanaman padi gogo maupun palawija merupakan salah satu
faktor pembatas hasil yang sering terjadi di lapang, terutama pada lahan kering
masam Oksisol dan Ultisol yang memiliki kejenuhan Al >30%, pH tanah <5,0,
konsentrasi Al dalam larutan tanah >1-2 mg Al/l-1. Tanah biasanya juga memiliki
daya ikat kuat terhadap hara P dan ketersediaan P rendah. Cekaman abiotik ini
juga sering terjadi pada lahan sulfat masam, sebelum lahan tergenang untuk padi
sawah atau palawija dan sayuran lainnya pada kondisi lahan kering. Kejadiannya
sering bersamaan dengan keracunan Mn yang juga tersedia banyak pada lahan
masam (pH rendah) atau sebelum terjadinya keracunan Fe pada pH <4. Keracunan
Al ini terjadi apabila konsentrasi Al dalam tanaman pada fase vegetatif adalah
>100 ppm Al, sedangkan normalnya antara 15-18 ppm Al. Aluminum umumnya
terakumulasi di ujung akar pada lokasi terjadinya pembelahan dan pemanjangan
sel. Jumlah anakan per rumpun tanaman padi dapat dijadikan indikator awal
adanya keracunan Al. Varietas toleran atau peka terhadap keracunan Al tidak

dapat dibedakan berdasarkan produksi biomas atau konsentrasi K, Ca, Mg, P, Al


dalam tanaman maupun akar. Keracunan Al jarang terjadi pada padi sawah,
kecuali pada tanah-tanah masam yang proses reduksinya setelah penggenangan
berjalan lambat. Perbedaan toleransi varietas pada tanaman padi adalah
disebabkan oleh hal-hal berikut: (1) menghindarkan Al dari lokasi yang peka atau
mereduksi aktivitas Al3+ di daerah perakaran, sehingga influks Ca2+ dan Mg2+
tidak terhambat; (2) toleran terhadap Al karena tolerannya jaringan tanaman,
imobilisasi Al menjadi bentuk yang tidak meracun, atau tingginya efisiensi
penggunaan hara P internal (Nursyamsi et al. 2002).
Kelebihan konsentrasi besi (Fe) dalam daun tanaman padi yang tumbuh
normal pada fase vegetatif berkisar antara 100-150 ppm Fe. Tanaman padi yang
keracunan besi mengandung Fe tinggi (300-2000 ppm Fe), namun batas kritiknya
bergantung pada umur tanaman dan kondisi status haranya. Bila status haranya
tidak seimbang maka keracunan besi bisa terjadi pada konsentrasi Fe yang rendah.
Tanaman yang kekurangan besi dalam daunnya mengandung K rendah (<1% K),
nisbah K : Fe <18 : 1 dalam jerami atau <1,5 : 1 dalam akar. Tingkat keparahan
tanaman padi terhadap keracunan besi bergantung pada (1) ketahanan perakaran
tanaman padi; (2) fase tumbuh tanaman; (3) varietas tanaman, terutama
kemampuan akar dalam mengoksidasi (root oxidation power). Keracunan besi
dapat terjadi pada berbagai macam tanah, tetapi umumnya pada tanaman padi di
lahan sawah yang terus-menerus tergenang selama pertumbuhan tanaman atau
pada lahan yang sulit dikeringkan, yaitu (1) tanah berdrainase buruk seperti
Aquents, Aquepts, Aquults; (2) di lembah perbukitan tanah masam; (3) tanah-

tanah kaolinit dengan KTK rendah dan kandungan hara makro tersedia rendah; (4)
tanah-tanah liat masam; dan (5) tanah-tanah sulfat masam (sulfaquept). Dalam
tanah konsentrasi Fe >300 ppm dianggap sebagai batas kritik keracunan. Namun,
keracunan besi dapat terjadi pada kisaran kandungan Fe yang lebar, menandakan
bahwa keracunan besi tidak sepenuhnya bergantung pada konsentrasinya dalam
larutan tanah saja. Tanah ber-pH <5,0 atau kandungan K, P, Ca, dan Mg rendah
sering terjadi keracunan besi bagi tanaman padi. Prinsip terjadinya keracunan besi
adalah sebagai berikut: (1) pada tanah masam, kejenuhan basa rendah dan selalu
tergenang, ion fero banyak terakumulasi dalam larutan tanah; (2) pada kondisi
tanah tergenang terjadi akumulasi zat penghambat respirasi seperti H2S, FeS; dan
asam-asam

organik

yang

dapat

melemahkan

kemampuan

akar

dalam

mengoksidasi; dan (3) tanaman yang memiliki status hara rendah atau tidak
seimbang seperti kahat P, Ca, Mg atau K memiliki akar yang kurang mampu
mengoksidasi ion fero (Fe2+) sehingga ion Fe2+ masuk ke akar secara tidak
terkendali; (4) penyerapan Fe berlebihan menyebabkan meningkatnya aktivitas
polyphenol oxidase yang banyak menghasilkan polyphenol teroksidasi penyebab
daun berkarat. Banyaknya Fe dalam tanaman menyebabkan terbentuknya radikalradikal oksigen yang bersifat fitotoksik dan merusak membran sel sehingga
tanaman keracunan besi. Varietas padi berbeda kepekaannya terhadap keracunan
besi, karena adanya perbedaan dalam beberapa hal sebagai berikut: (1) sistem
perakarannya mampu mengoksidasi ion fero (Fe2+) di tanah menjadi endapan
Fe3+ hidroksida yang berupa lapisan berwarna coklat kemerahan di akarnya,
sehingga penyerapan ion fero terkendali. Namun bila ion fero terlalu banyak atau

kemampuan akar dalam mengoksidasinya kurang, maka akar berwarna hitam


akibat endapan Fe-sulfida. Kekuatan akar mengoksidasi merupakan eksresi O2
hasil transport dari bagian atas tanaman ke akar melalui aerenkhima. Varietas padi
berbeda kemampuannya dalam mengoksidasi tersebut, sehingga juga berbeda
kepekaannya terhadap keracunan Fe; (2) perbedaan toleran dalam akumulasi
toksin, yaitu oksidasi fero dan mengendapkan feri; (3) perbedaan dalam cekaman
hara ganda, sehingga berbeda dalam kemampuan akar mengoksidasi (Nursyamsi
et al, 2002).
B. Respon dan Ketahanan Tanaman Padi terhadap Cekaman ion Fe dan Al
1. Cekaman Fe
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi ditentukan oleh genetik dan
kondisi lingkungan baik biotik maupun abiotik. Salah satu faktor abiotik yang
sangat menentukan pertumbuhan padi adalah tanah sebagai media tumbuh
tanaman. Sebagian besar kondisi tanah di Indonesia merupakan tanah masam
dengan kandungan Fe yang tinggi. Ferrum atau besi (Fe) adalah unsur hara mikro
esensial yang dibutuhkan tanaman untuk mendukung transportasi elektron dalam
proses fotosintesis. Fe berfungsi sebagai akseptor elektron penting dalam reaksi
redoks dan aktivator untuk beberapa enzim penting dalam metabolisme tanaman
(Immanudin, 2007). Namun demikian, pada tanah-tanah masam, unsur mikro
seperti Fe dapat terlarut dan tersedia bagi tanaman dalam jumlah berlimpah dan
seringkali justru menyebabkan keracunan Fe. JutaanKeracunan besi dapat terjadi
pada berbagai macam tanah, tetapi umumnya pada tanaman padi di lahan sawah
yang terus-menerus tergenang selama pertumbuhan tanaman atau pada lahan yang

sulit dikeringkan, yaitu (1) tanah berdrainase buruk seperti Aquents, Aquepts,
Aquults; (2) di lembah perbukitan tanah masam; (3) tanah-tanah kaolinit dengan
KTK rendah dan kandungan hara makro tersedia rendah; (4) tanah-tanah liat
masam; dan (5) tanah-tanah sulfat masam (sulfaquept).
Menurut Karim (2005), Prinsip terjadinya keracunan besi adalah sebagai berikut:
1. Pada tanah masam, kejenuhan basa rendah dan selalu tergenang, ion fero
banyak terakumulasi dalam larutan tanah; (2)
2. Pada kondisi tanah tergenang terjadi akumulasi zat penghambat respirasi
seperti H2S, FeS; dan asam-asam organik yang dapat melemahkan
kemampuan akar dalam mengoksidasi.
3. Tanaman yang memiliki status hara rendah atau tidak seimbang seperti
kahat P, Ca, Mg atau K memiliki akar yang kurang mampu mengoksidasi
ion fero (Fe2+) sehingga ion Fe2+ masuk ke akar secara tidak terkendali.
4. Penyerapan Fe berlebihan menyebabkan meningkatnya aktivitas
polyphenol oxidase yang banyak menghasilkan polyphenol teroksidasi
penyebab daun berkarat. Banyaknya Fe dalam tanaman menyebabkan
terbentuknya radikal-radikal oksigen yang bersifat fitotoksik dan merusak
membran sel sehingga tanaman keracunan besi.
Varietas padi berbeda kepekaannya terhadap keracunan besi, karena adanya
perbedaan dalam beberapa hal sebagai berikut: (1) sistem perakarannya mampu
mengoksidasi ion fero (Fe2+) di tanah menjadi endapan Fe3+ hidroksida yang
berupa lapisan berwarna coklat kemerahan di akarnya, sehingga penyerapan ion
fero terkendali. Namun bila ion fero terlalu banyak atau kemampuan akar dalam
mengoksidasinya kurang, maka akar berwarna hitam akibat endapan Fe-sulfida.
Kekuatan akar mengoksidasi merupakan eksresi O2 hasil transport dari bagian

atas tanaman ke akar melalui aerenkhima. Varietas padi berbeda kemampuannya


dalam mengoksidasi tersebut, sehingga juga berbeda kepekaannya terhadap
keracunan Fe; (2) perbedaan toleran dalam akumulasi toksin, yaitu oksidasi fero
dan mengendapkan feri; (3) perbedaan dalam cekaman hara ganda, sehingga
berbeda dalam kemampuan akar mengoksidasi.
Terdapat beberapa hipotesis mengenai mekanisme sifat toleran keracunan Fe
(Fe2+) pada tanaman padi, yaitu (1) tanaman mampu mencegah terserapnya Fe
oleh akar (uptake mechanism), (2) tanaman mampu mendistribusikan Fe yang
bersifat racun ke dalam bagian tanaman yang berbeda sehingga mengurangi efek
racun dari ion ini (partitioning mechanism), dan (3) tanaman mempunyai
kemampuan untuk bertahan dari efek racun radikal O2 yang terbentuk setelah Fe
terserap oleh akar dan ditranslokasikan ke daun (tissue tolerant mechanism) (Asch
et al., 2005; Becker et al., 2005).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan telah teridentifikasinya beberapa gen
yang terlibat dalam mekanisme penyerapan Fe oleh tanaman. Pada sebagian besar
tanaman, baik dikotil maupun monokotil, penyerapan ion fero (Fe2+) dari tanah
ke dalam sel akar diperankan oleh suatu protein transporter. Penyerapan ini terjadi
setelah ion feri (Fe3+) direduksi menjadi ion fero (Fe2+) pada membran plasma
sel akar. Proses reduksi ini diperankan oleh gen Fe3+ chelate reductase (FRO2,
FRO1, dan FRO3). Akar tanaman tersebut mampu membebaskan proton untuk
mereduksi ion Fe3+ dalam tanah menjadi ion Fe2+ sehingga dapat terserap
tanaman. Selanjutnya, ion Fe2+ yang telah terserap akan ditransportasikan oleh
suatu gen transporter iron regulator transporter (IRT1) (Eide et al., 1996) dan

IRT2 (Vert et al., 2001) ke bagian sel-sel tanaman yang lain. Gen ini berperan
dalam mekanisme partitioning Fe2+ ke beberapa bagian tanaman yang berbeda
sehingga tanaman dapat lebih toleran pada kondisi Fe2+ yang berlebihan. Gen
IRT pada padi, telah teridentifikasi sebagai gen OsIRT, merupakan gen pengode
protein transporter Fe2+ (dan Zn), yang mempunyai delapan domain
transmembran dan sebuah variable intracelullar loop antara transmembran region
(TM) 3 dan 4 dengan struktur fully conserved histidine residue (Rogers, 2001).
Selain genetik, fase pertumbuhan tanaman padi juga menetukan respon toleran
terhadap kondisi cekaman Fe yang berbeda. Menurut penelitian Utami dan Ida
(2014), bahwa terdapat perbedaan respon toleransi pada umur tanaman yang
berbeda. Pada fase vegetatif (fase anakan maksimum), jumlah aksesi yang bersifat
toleran lebih banyak dibanding dengan jumlah yang toleran. Hal ini menunjukkan
bahwa tanaman padi fase vegetatif lebih toleran dibanding dengan fase generatif.
Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Zeng dan Shanon (2000) yang
menunjukkan bahwa tanaman fase seedling lebih toleran terhadap cekaman ion
tanah yang bersifat racun terhadap tanaman dibanding dengan fase reproduktif.
Disebutkan juga bahwa adanya cekaman toksik dari ion Fe akan berpengaruh
terhadap proses diferensiasi dalam siklus sel tanaman padi.
2. Cekaman Al
Hasil atau produktivitas tanaman merupakan hasil akhir dari interaksi antara
faktor genetik tanaman dan lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah (1)
lingkungan biotik (hama, penyakit, gulma), (2) lingkungan abiotik (iklim, tanah,
air),

dan

(3)

pengelolaan.

Tanaman

selama

pertumbuhannya

(sejak

perkecambahan hingga berproduksi), dengan sifat aslinya (genetik) memiliki


macam dan jumlah kebutuhan yang harus dipenuhinya seperti radiasi surya, CO2

untuk fotosintesis, O2 untuk respirasi, air, dan hara agar dapat tumbuh normal
mencapai potensi hasilnya. Namun jumlah kebutuhan tanaman tersebut,
kadangkala pada setiap lokasi atau tipologi tidak dapat mencukupinya atau bahkan
ada faktor lain (cekaman) yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman tersebut
secara fisik, kimia dan/ atau biologi. Oleh karena itu, hasil potensi genetik atau
hasil potensial pada suatu lingkungan sukar dicapai. Bergantung pada besarnya
tingkat cekaman (rendah, sedang atau tinggi) maka hasil akhir tanaman
ditentukan. Air merupakan faktor pembatas utama yang menentukan tercapai
tidaknya potensi hasil tanaman. Bila air kurang di dalam tanaman maka semua
proses kimia yang berlangsung di dalam tanaman akan terhambat, sehingga
pertumbuhan tanaman terhambat. Faktor selanjutnya adalah hara N yang
diperlukan untuk pembentukan dan pertumbuhan sel, jaringan tanaman, sehingga
menentukan pertumbuhan tanaman. Sebenarnya CO2 sangat penting perannya
terutama dalam fotosintesis dan penyusun kerangka tanaman. Namun di udara
CO2 jumlahnya berlimpah, sehingga jarang dipertimbangkan sebagai faktor
pencekam (Fajarwati, 2007).
Tanaman yang keracunan aluminium (Al) perkembangan akarnya
terhambat, lebih parah dibandingkan dengan bagian atas tanaman. Pada daun
tampak warna antar tulang daun kuning kemerahan sampai putih, ujung dan tepi
daun mengering. Terhambatnya pertumbuhan tanaman bagian atas juga
disebabkan oleh ikut kahatnya hara lain seperti Mg, Ca, dan P, pekanya tanaman
terhadap kekeringan, dan tidak seimbangnya fitohormon. Tanaman menjadi kerdil
atau terhambat pertumbuhannya, terutama untuk varietas-varietas yang lebih peka
terhadap keracunan Al tersebut.
Keracunan Al pada tanaman padi gogo maupun palawija merupakan salah
satu faktor pembatas hasil yang sering terjadi di lapang, terutama pada lahan
kering masam Oksisol dan Ultisol yang memiliki kejenuhan Al >30%, pH tanah
<5,0, konsentrasi Al dalam larutan tanah >1-2 mg Al/l-1. Tanah biasanya juga
memiliki daya ikat kuat terhadap hara P dan ketersediaan P rendah. Cekaman
abiotik ini juga sering terjadi pada lahan sulfat masam, sebelum lahan tergenang
untuk padi sawah atau palawija dan sayuran lainnya pada kondisi lahan kering.
Kejadiannya sering bersamaan dengan keracunan Mn yang juga tersedia banyak

pada lahan masam (pH rendah) atau sebelum terjadinya keracunan Fe pada pH <4.
Keracunan Al ini terjadi apabila konsentrasi Al dalam tanaman pada fase
vegetative adalah >100 ppm Al, sedangkan normalnya antara 15-18 ppm Al.
Aluminum umumnya terakumulasi di ujung akar pada lokasi terjadinya
pembelahan dan pemanjangan sel. Jumlah anakan per rumpun tanaman padi dapat
dijadikan indikator awal adanya keracunan Al. Varietas toleran atau peka terhadap
keracunan Al tidak dapat dibedakan berdasarkan produksi biomas atau konsentrasi
K, Ca, Mg, P, Al dalam tanaman maupun akar. Keracunan Al jarang terjadi pada
padi sawah, kecuali pada tanah-tanah masam yang proses reduksinya setelah
penggenangan berjalan lambat. Perbedaan toleransi varietas pada tanaman padi
adalah disebabkan oleh hal-hal berikut: (1) menghindarkan Al dari lokasi yang
peka atau mereduksi aktivitas Al3+ di daerah perakaran, sehingga influks Ca2+
dan Mg2+ tidak terhambat; (2) toleran terhadap Al karena tolerannya jaringan
tanaman, imobilisasi Al menjadi bentuk yang tidak meracun, atau tingginya
efisiensi penggunaan hara P internal (Makarim, 2013).
Selain menghambat pemanjangan akar, cekaman Al juga dapat
mengakibatkan penebalan akar danterhambatnya pertumbuhan akar samping.
Menurut Sanchez (1976), keracunan Al dapat mengakibatkan kerusakan langsung
pada system perakaran tanaman yakni akar menebal, memendek, kaku serta
memperlihatkan bagian-bagian yang mati. Delhaize dan Ryan (1995), juga
berpendaoat bahwa Al dapat menyebabkan kerusakan pada akar saat Al tersebut
masih berada di dinding sel tanpa harus masuk ke dalam sel. Al yang di serap akar
dapat menggantikan Ca pada ikatan Ca-pektat di dinding sel sehingga dinding sel
tidak

dapat

memperbesar

volumenya

dan

mengakibatkan

terhentinya

pemanjangan sel-sel akar. Selain respon perakaran, tumbuhan juga merespon


cekaman Al berupa proses metabolism dalam jaringan seperti sekresi asam
organic ke rhizofer dan akumulasi asam organic pada jaringan akar.
Delhaize dan Ryan (1995) mengungkapkan bahwa Al mampu menginduksi
pembukaan channel anion asam organic pada membrane plasma melalui aktivasi
transporter anion asam organic sehingga anion asam organic di lepaskan dari
sitoplasma (pH=7). Mekaniseme pembukaan channel membrane plasma oleh Al
melalui 3 cara :

1. Al3+ dariluar sel berinteraksi dengan channel anion asam organic secara
langsung sehingga terjadi pembukaan channel
2. Al3+ berinteraksi dengan reseptor spesifik pada membrane plasma
kemudian melalui ignal transduksi terkadi pembukaan channel
Al3+ masuk kedalam sel, kemudian melalui signal transduksi yang melibatkan
sitoplasma dan komponen memvran sel mengakibatkan pembukaan channel
C. Solusi Tanaman Padi Pada Cekaman Ion
Tanaman padi yang tumbuh pada kondisi tercekam Fe dan Al tentunya akan
mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Kondisi keracunan ion dapat
menurunkan produksi padi sehingga perlu adanya solusi dari kondisi tersebut.
Perbaikan kondisi tanah tentunya menjadi salah satu solusi dari kondisi tersebut,
yaitu dengan pengapuran untuk mengurangi kemasaman tanah sehingga kadar ion
Fe dan Al tidak berlebihan. Selain itu, dapat juga dikembangkan varietas unggul
yang memiliki gen toleran terhadap kondisi tercekam tersebut. Padi yang
varietasnya dinyatakan sangat toleran terhadap kondisi cekaman Fe menurut
Utami dan Ida (2014), di antaranya yaitu P Timai, Getik, P Ketan Alay, dan IR54 .
Penggunaan varietas padi yang tahan terhadap keracunan Fe dapat menekan
kerugian akibat banyaknya lahan dengan cekaman ion Fe.
Penggunaan kultivar padi toleran terhadap Al merupakan cara yang efektif dan
ramah lingkungan. Berbagai metode dapat digunakan untuk memperoleh genotipe
padi yang mempunyai sifat toleran terhadap Al, antara lain persilangan
konvensional, induksi mutasi, keragaman somaklonal, dan seleksi in vitro.
Tanaman hasil seleksi in vitro, selanjutnya harus diuji sifat toleransinya baik di
rumah kaca atau di lapang. Pada umumnya, metode seleksi terhadap Al
dikelompokkan atas seleksi di laboratorium dan lapang. Seleksi di laboratorium
dapat dilakukan dengan cara menyeleksi menggunakan agen seleksi tertentu,

menggunakan kultur hara, dan menggunakan tanah dalam dengan kadar Al yang
tinggi, sedangkan seleksi di lapang atau lahan masam merupakan metode lain
untuk menyaring genotipe-genotipe yang mempunyai sifat toleransi terhadap Al.
Metode pengujian di lahan masam merupakan cara yang paling efektif untuk
menyeleksi tanaman toleran terhadap Al, tetapi metode tersebut membutuhkan
biaya yang mahal dan kadangkadang sulit diaplikasikan karena konsentrasi Al
yang tidak seragam, serta adanya pengaruh lingkungan (Anas dan Yoshida 2000).
Pengujian menggunakan larutan hara merupakan salah satu metode alternatif yang
dapat digunakan untuk menguji kembali nomor-nomor baru sebelum dilakukan
pengujian di lapang. Pengujian di rumah kaca berguna untuk menyeleksi tanamantanaman dengan sifat toleransi yang tidak stabil serta untuk mengetahui korelasi
antara sifat toleransi di laboratorium dan di rumah kaca. Dalam penelitian ini
digunakan metode kultur hara untuk menyeleksi nomor-nomor tanaman padi yang
diperoleh melalui metode seleksi keragaman somaklonal dan in vitro
(Purnamaningsih, 2008).

III.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa kondisi lahan yang


tercekam ion seperti Fe dan Al dapat berdampak buruk bagi pertumbuhan tanaman
padi. Tanaman padi memiliki respon yang beragam pada kondisi cekaman Fe,
pada padi toleran karena adanya gen yang membawa sifat tanaman mampu
mncegah terserapnya Fe, memindahakn Fe ke bagian lain tanaman, dan bertahan
di efek racun. Sementara itu, kondisi keracunan Al akan mengganggu
pemanjanagan akar dan metaboisme tanaman. Selain dengan memperbaiki kondsi
tanah, menggunakan varietas yang toleran dapat menjadi solusi dari permasalahan
kondisi lahan yang tercekam ion.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Karim Makarim. 2010.Pemanfaatan Bioteknologi Untuk Mengatasi


Cekaman Abiotik Pada Tanaman. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
Asch, F., M. Becker, and D.S. Kpongor. 2005. A quick and efficient screen for
resistance to iron toxicity in lowland rice. J. Plant Nutr. Soil Sci. 168:764773.
Delhaize and Ryan RR. 1995. Alumunium Toxicity and Tolerance in Plant. Plant
Physiol. Vol 10(7): 315-321.
Eide, D., M. Broderius, J. Fett, and M.L. Guerinot. 1996. A novel iron-regulated
metal transporter from plants identified by functional express.
Fajarwati, Ina. 2007. Sekresi Asam Organik pada Tanaman Padi yang
mendapatkan Cekaman Aluminium. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, IPB, Bogor.
Makarim, Abdul Karim. 2013. Cekaman Abiotik Utama Dalam Peningkatan
Produksi Tanaman. Prosiding Seminar Nasional Pemanfaatan Bioteknologi
untuk Mengatasi Cekaman Abiotik pada Tanaman.
Nursyamsi, D., M. Osaki, And T. Tadano. 2002. Mechanism Of Aluminum And
Iron Toxicity Avoidance In Tropical Rice (Oryza Sativa), Maize (Zea Mays),
And Soybean (Glycine Max). Indonesian J. Of Agric. Sci. 3(1):12-24.
Purnamaningsih, Ragapadmi dan Ika Mariska. 2008. Pengujian Nomor-nomor
Harapan Padi Tahan Al dan pH Rendah Hasil Seleksi In Vitro dengan Kultur
Hara. Jurnal AgroBiogen. Vol 4(1):18-23
Rogers, E.E., D.J. Eide, and M.L. Guerinot. 2000. Altered selectivity in an
Arabidopsis metal ransporter. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 97:12356-12360.
Sanchez. 1976. Properties and Management of Soil in The Tropics. New York:
John Willey and Sons
Sunadi. dkk. 2010. Penapisan Varietas Padi Toleran Cekaman Fe2+ Pada Sawah
Bukaan Baru Dari Aspek Agronomi Dan Fisiologi. Akta Agrosia. 13(1):16
23.
Utami, Dwi dan Ida Harida. 2014. Evaluasi Lapang dan Identifikasi Molekuler
Plasma Nutfah Padi terhadap Keracunan Fe. Jurnal AgroBiogen 10(1):9-17.

TUGAS TERSTRUKTUR
PEMULIAAN TANAMAN TOLERAN BIOTIK DAN ABIOTIK
TANAMAN PADI TOLERAN CEKAMAN ION

Oleh :
Cicila Dina
Ahmad Zamzuri
Adnan Lasuarda Timor
Auliya Lukman
Nikmatul Qoriah
Berta Dwi Prastuty

(A1L014001)
(A1L0140)
(A1L014026)
(A1L014030)
(A1L014032)
(A1L014034)

KEMENTERIEN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016