Anda di halaman 1dari 13

SUKU TOLAKI

SULAWESI TENGGARA
Kondisi Geografis dan Iklim Sulawesi Tenggara

Gbr. peta Sulawesi Tenggara


Sumber : http://www.sulawesitenggaraprov.go.id/geografis.php
1. Letak Geografis dan Batas Wilayah.
Secara geografis terletak di bagian Selatan Garis Khatulistiwa, memanjang dari
Utara ke Selatan di antara 0245'-0615' Lintang Selatan dan membentang dari Barat
ke Timur di antara 12045'-12445' Bujur Timur. Provinsi Sulawesi Tenggara di
sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi
Tengah, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi NTT di Laut Flores, sebelah
Timur berbatasan dengan Provinsi Maluku di Laut Banda dan sebelah Barat
berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan di Teluk Bone.
2. Luas Wilayah.
Sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara (74,25 persen atau 110.000 km)
merupakan perairan (laut). Sedangkan wilayah daratan, mencakup jazirah tenggara
Pulau Sulawesi dan beberapa pulau kecil, adalah seluas 38.140 km (25,75 persen).
Secara administrasi, Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2012 terdiri atas sepuluh
wilayah Kabupaten (Kabupaten Buton, Muna, Konawe, Kolaka, Konawe Selatan,
Wakatobi, Bombana, Kolaka Utara, Buton Utara, Konawe Utara) dan dua wilayah
kota, (Kota Kendari serta Kota Bau-Bau). Bagian yang terluas dataran provinsi ini

adalah daerah jazirah Tenggara dari Pulau Sulawesi. Provinsi ini juga terdapat pulaupulau yang tersebar di masing-masing kabupaten.
3. Tanah.

Topografi
Peta topografi menunjukkan bahwa Sulawesi Tenggara umumnya memiliki
permukaan tanah yang bergunung, bergelombang berbukit-bukit. Diantara gunung dan
bukitbukit, terbentang dataran-dataran yang merupakan daerah potensial untuk
pengembangan sektor pertanian. Permukaan tanah pegunungan seluas 1.868.860 ha
telah digunakan untuk usaha. Tanah ini sebagian besar berada pada ketinggian 100500 meter di atas permukaan laut dan pada kemiringan tanah yang mencapai 40
derajat.
Geologis
Kondisi batuan di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara ditinjau dari sudut
geologis, terdiri atas batuan sedimen, batuan metamorfosis, dan batuan beku. Dari
ketiga jenis batuan tersebut, yang terluas adalah batuan sedimen seluas 2.579,79 ha
(67,64 persen). Dari jenis tanah, Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki sedikitnya
enam jenis tanah, yaitu tanah podsolik seluas 2.299.729 ha atau 60,30 persen dari luas
tanah Sulawesi Tenggara, tanah mediteran seluas 898.802 ha (23,57 persen), tanah
latosol seluas 349.784 ha (9,17 persen), tanah organosol seluas 116.099 ha (3,04
persen), jenis tanah alluvial seluas 129.569 ha (3,40 persen) dan tanah grumosol seluas
20.017 ha (0,52 persen).
4. Perairan (Sungai dan Laut).
Hidrologi
Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa sungai yang melintasi hampir
seluruh kabupaten/kota. Sungai-sungai tersebut pada umumnya potensial untuk
dijadikan sebagai sumber energi, untuk kebutuhan industri, rumah tangga dan irigasi.
Daerah aliran sungai, seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) Konaweha, melintasi
Kabupaten Kolaka, dan Konawe. DAS tersebut seluas 7.150,68 km dengan debit air
rata-rata 200 m/ detik. Bendungan Wawotobi yang menampung aliran sungai tersebut,

mampu mengairi persawahan di daerah Konawe seluas 18.000 ha. Selain itu, masih
dapat dijumpai banyak aliran sungai di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan debit air
yang besar sehingga berpotensi untuk pembangunan dan pengembangan irigasi
seperti: Sungai Lasolo di Kabupaten Konawe, Sungai Roraya di Kabupaten Bombana
(Kecamatan Rumbia, dan Poleang), Sungai Wandasa dan Sungai Kabangka Balano di
Kabupaten Muna, Sungai Laeya di Kabupaten Kolaka, dan Sungai Sampolawa di
Kabupaten Buton.
Oceanografi
Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki perairan (laut) yang sangat luas. Luas
perairan Sulawesi Tenggara diperkirakan mencapai 110.000 km. Perairan tersebut,
sangat potensial untuk pengembangan usaha perikanan dan pengembangan wisata
bahari, karena disamping memiliki bermacam-macam jenis ikan dan berbagai varietas
biota, juga memiliki panorama laut yang sangat indah. Berbagai spesies ikan yang
banyak ditangkap nelayan dari perairan laut Sulawesi Tenggara adalah: Cakalang,
Teri, Layang, Kembung, Udang dan masih banyak lagi jenis ikan yang lain. Di
samping ikan, juga terdapat hasil laut lainnya seperti: Teripang, Agar-agar,
JapingJaping (kerang mutiara), Kerang Lola (Trochus niloticus), Mutiara dan
sebagainya. Sulawesi Tenggara merupakan daerah wisata bahari. Di sebelah Tenggara
terdapat Taman Nasional Wakatobi yang memiliki potensi sumberdaya alam laut yang
bernilai tinggi baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang
menakjubkan. Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan
keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang
dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora
profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia
robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea
frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.
5. Iklim
Musim
Sulawesi Tenggara memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan.
Musim Kemarau terjadi antara Bulan Juni dan September, dimana angin Timur yang
bertiup dari Australia tidak banyak mengandung uap air, sehingga mengakibatkan
musim kemarau. Sebaliknya Musim Hujan terjadi antara Bulan Desember dan Maret,
dimana angin Barat yang bertiup dari Benua Asia dan Samudera Pasifik banyak
mengandung uap air sehingga terjadi musim hujan. Keadaan seperti itu berganti setiap
setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April - Mei dan Oktober November.
Curah Hujan
Curah hujan dipengaruhi oleh perbedaan iklim, orografi dan perputaran/
pertemuan arus udara. Hal ini menimbulkan adanya perbedaan curah hujan menurut
bulan dan letak stasiun pengamat.
Suhu Udara
Tinggi rendahnya suhu udara di pengaruhi oleh letak geografis wilayah dan
ketinggian dari permukaan laut. Sulawesi Tenggara yang terletak di daerah
khatulistiwa dengan ketinggian pada umumnya di bawah 1.000 meter, sehingga
beriklim tropis. Pada tahun 2012, suhu udara maksimum rata-rata berkisar antara 30C
- 36C, dan suhu minimum rata-rata berkisar antara 20C - 23C.
Sumber: http://www.sulawesitenggaraprov.go.id/geografis.php
SUKU TOLAKI
Tolaki adalah salah satu suku yang ada di Sulawesi Tenggara. Mendiami daerah yang
berada di sekitar kabupaten Kendari dan Konawe. Suku Tolaki berasal dari kerajaan Konawe.

Dahulu, masyarakat Tolaki umumnya merupakan masyarakat nomaden yang handal, hidup
dari hasil berburu dan meramu yang dilaksanakan secara gotong-royong.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tolaki
Suku Tolaki adalah suku pendatang yang datang ke Kendari. Rombongan pertama
suku Tolaki berasal dari Utara (sekitar Danau Matana dan Mahalona) melalui dua jalur, yaitu
melalui daerah Mori, Bungku selanjutnya memasuki bagian Timur Laut daratan Sulawesi
Tenggara dan melalui danau Towuti kearah Selatan dan bermukim beberapa lama di daerah
Rahambuu, dari sana terbagi dua rombongan, yang mengikuti lereng gunung Watukila lalu
membelok ke arah barat daya sampailah di tempat-tempat yang mereka namakan Lambo,
Lalolae, Silea yang kelak menjadi masyarakat Mekongga (Kolaka). Sedangkan yang turun
mengikuti kali besar (dalam bahasa Tolaki disebut Konawe Eha) disebut masyarakat Konawe.
Sumber: http://studentjournal.petra.ac.id/index.php/desaininterior/article/viewFile/2091/1883
Rumah adat laikas merupakan rumah adat dari suku tolaki, yaitu suku adat yang
tinggal sekitar kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka
dan Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Utara.
http://noldy90.blogspot.co.id/2015/06/rumah-adat-laikas-sulawesi-tenggara.html
Sumber : http://www.tradisikita.my.id/2015/11/laikas-rumah-adat-sulawesi-tenggara.html
Kondisi Geografis, Iklim Kendari dan Konawe
Kendari
Geografis
Luas wilayah daratan Kota Kendari 269,363 Km2 atau 0,70 persen dari luas daratan Provinsi
Sulawesi Tenggara.
Luas wilayah menurut Kecamatan sangat beragam. Kecamatan Baruga merupakan
wilayah kecamatan yang paling luas (18,09%), selanjutnya Kecamatan Abeli (16,28%),
Kecamatan Poasia (14,31%), Kecamatan Puuwatu (14,24%), Kecamatan Kambu (8,88%),
Kecamatan Mandonga (8,65%), Kecamatan Kendari Barat (7,09%), Kecamatan Kendari
(5,82%), Kecamatan Wua-Wua (4,14%), dan Kecamatan Kadia (2,50%)
Wilayah Kota Kendari dengan ibu kotanya kendari sekaligus juga sebagai ibu kota
provinsi Sulawesi Tenggara secara Astronomis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa
berada di antara 3 54` 30`` - 4 3` 11`` Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke
Timur diantara 122 23`` - 122 29` Bujur timur.
Topografi
Dilihat berdasarkan ketinggian wilayah kota Kendari di atas permukaan laut,
kecamatan Mandonga merupakan wilayah tertinggi berada pada ketinggian 30 meter di atas
permukaan air laut. Selanjutnya wilayah kecamatan Abeli dan Kendari Barat berada pada
ketinggian 3 meter diatas permukaan laut.
Iklim
Sebagaimana adaerah daerah lain di Indonesia, kota kendari hanya dikenal 2 musim
yaitu musim kemarau dan musim hujan. Keadaan musim dipengaruhi oleh arus angin yang
bertiup di atas wilayahnya.
Menurut data yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika
Stasiun Meteorologi maritim Kendari tahun 2011 terjadi 187 hari hujan dengan curah hujan
1.855, mm.
Suhu udara dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Perbedaan ketinggian dari
permukaan laut, daerah pegunungan dan daerah pesisir mengakibatkan keadaan suhu yang

edikit berbeda untuk masing masing wilayah. Secara keseluruhan, wilayah Kota Kendari
merupakan daerah beriklim tropis.
Menurut data yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun
Meteorologi maritim Kendari tahun 2011 suhu udara maksimum 32,7 C dan minimum 29,96
c. Tekanan udara rata-rata 1.011,7 millibar dengan kelembapan udara rata-rata 84,58%.
Kecepatan Angin di kota Kendari selama tahun 2011 pada umumnya berjalan normal,
mencapai 6,07m?detik.
Gbr
Figure

Suhu Udara Tertinggi dan Terendah Setiap


Bulan di
Kota Kendari, 2011
Maximum and Minimum Air Temperature by Month in
Kendari City, 2011

Sumber/ Source:
Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, BMKG
Station of Maritime Meteorology Kendari, BMKG

Gbr

Curah Hujan Setiap Bulan di Kota


Kendari, 2011
Rainfall by Month in Kendari City, 2011

Figure
Sumber/ Source:
Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, BMKG
Station of Maritime Meteorology Kendari, BMKG
Konawe
Gegrafis
Kabupaten Konawe beribukota di Unaaha yang berjarak 73 km dari Kota Kendari.
Secara geografis terletak di bagian selatan khatulistiwa, yang melintang dari 02 0451 dan
040151 lintang selatan, membujur dari 1210151 dan 1230301 Bujur Timur. Adapun batas
wilayah Kabupaten Konawe yakni sebagai berikut.
Topografi
Wilayah topografi Kabupaten Konawe memiliki permukaan tanah yang bergunung dan
berbukit yang diapit dataran rendah yang berpotensial untuk dikembangkan, terutama sektor
pertanian, sektor kelautan dan perikanan dan sektor lainnya untuk mendukung ekonomi
daerah. Berdasarkan garis ketinggian wilayah Kabupaten Konawe dapat dibedakan atas 5
kelas luas daratan menurut ketinggian di atas permukaan air laut antara lain:
Tinggi diatas permukaan Laut
Persentase (%)
0 25
8,11
25 100
31,62
100 500
39,38
500 1.000
13,66
1.000 keatas
7,23
Jumlah
100,00

Selain menurut ketinggianya dapat diklasifikasi menurut kemiringan tanah dan jenis tanah
sebagaimana telah dijelaskan dibawah ini:
Tingkat Kemiringan Tanah
Persentase (%)
Persen (%)
Derajad (00)
00 02
00 1,80
30,52
0
0
03 15
1,8 13,5
32,61
0
0
16 40
13,5 36,0
27,33
0
0
41 keatas
36,0 90,0
9,54
Jumlah
100
Iklim
Keadaan iklim seperti daerah daerah lain di Indonesia di Kabupaten Konawe dikenal
dengan dua musin yaitu Musim Kemarau dan Musim Hujan. Akan tetapi keadaan musim
tersebut dapat dipengaruhi oleh arus angin yang bertiup diatas wilayah permukaan.
Musim tersebut di Kabupaten Konawe pada biasanya pada bulan November sampai dengan
Maret, angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik,
setelah melewati beberapa lautan. Pada bulan tersebut terjadi musim hujan. Bulan April
penentuan curah hujan arus angin tidak mengarah pada satu arah kadang kurang, kadang
lebih. Musim tersebut dikenal sebagai musim pancaroba. Sedangkan pada bulan Mei dan
Agustus arah angin bertiup dari arah timur berasal dari Benua Australia dengan kurang
mengandung uap air. Hal ini diakibatkan minimnya curah hujan di daerah Kabupaten
Konawe. Akan tetapi pada Agustus sampai dengan Oktober terjadi perubahan cuacah menjadi
musim kemarau dengan ini sebagai akibat perubahan kondisi alam tidak menentu dan musin
tersebut sering menyimpan dari kebiasaan.
Hidrologi
Kabupaten Konawe mempunyai sungai besar yang sangat potensial dalam
pengembangan pertanian, dan irigasi serta pembudidayaan perikanan darat bahkan dengan
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) seperti: Sungai Konaweeha dan Sungai Lahumbuti.
Sedangkan sungai sungai besar yang lain seperti: Sungai Lapoa sekarang telah termasuk
wilayah Kabupaten Konawe Selatan. Sungai Lasolo, Kokapi, Toreo, Andumowu dan Sungai
Molawe menjadi bagian wilayah Konawe Utara.
Sungai Konaweeha merupakan sungai yang terbesar di daerah Kabupaten Konawe
mempunyai debit air yang sangat kuat 200 m3 per detik. Pada sungai tersebut telah dibangun
bendungan air wawotobi yang mampu mengairi beberapa persawahan yang ada di kabupaten
konawe dengan luas persawahan 18.000 hektar. Selain dari beberapa sungai tersebut di atas
masih terdapat Rawa Aopa yang berpotensial untuk pengembangan usaha perikanan darat.
Potensi Pertanian
Kabupaten Konawe mempunyai potensi lahan pertanian yang sangat luas seperti
pengunaan lahan menjadi lahan persawahan, lahan perkebunan/ladang/huma. Tahun 2003
sampai tahun 2011 potensi pertanian mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya
sebagai akibat meningkatnya produktivitas (produksi per hektar) seperti produksi padi sawah,
ubi kayu, jangung, kacang hijau, kacang kedelai, ubi jalar dan kacang tanah.

Selama ini potensi pertanian di Kabupaten Konawe sangat berproduksi untuk tanaman
bahan makanan yang diusahakan oleh penduduk masyarakat Kabupaten Konawe dan
digunakan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat akan bahan makanan.
Pengembangan potensi padi sawah diarahkan pada daerah yang dialiri oleh irigasi,
sentra produksi pada sawah tersebut adalah meliputi Kecamatan Amonggedo, Kecamatan
Wonggeduku, Kecamatan Wawotobi, Kecamatan Unaaha, Tongauna, Abuki, Lambuya, dan
Uepai serta wilayah yang mempunyai aliran sungai irigasi.

Potensi Perkebunan
Potensi perkebunan Kabupaten Konawe terdapat beberapa jenis tanaman perkebunan
rakyat yang diusahakan adalah kelapa, kopi, cengkeh, kakao, jambu mete, kapuk, kapas
kemiri, lada, pala, vanili, pinang, enau tembakau dan sagu. potensi perkebunan Kabupaten
Konawe yang terbesar adalah kakao, jambu mete dan kelapa.
Potensi Perikanan
Dalam pemanfaatan potensi pengembangan budidaya perikanan dapat dilakukan
melalui pembenihan, pembudidayaan, penyiapan prasarana, pengelolaan kesehatan ikan dan
lingkungan. Potensi tersebut diharapkan mampu dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas
dan produksi usaha perikanan budidaya. Kegiatan pembudidayaan perikanan laut maupun
darat dapat diklasifikasikan menjadi kegiatan marine kultur dan budidaya air payau.
Kegiatan budidaya perikanan ditentukan oleh beberapa factor antara lain sumber air
menyangkut kualitas dan kuantitas. Oleh karena itu pengembangan usaha budidaya adalah
mengupayakan peningkatan produktivitas suatu lahan atau perairan dengan input teknologi
yang ada. Pengembangan potensi pengembangan pembudidayaan perikanan ke depan harus
mampu mendayagunakan potensi yang ada, sehingga dapat mendorong kegiatan produksi
berbasis perekonomian rakyat dan meningkatkan pendapatan PAD Kabupaten Konawe serta
mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat wilayah pesisir Kabupaten Konawe.
Potensi Hasil Hutan
Hasil hutan kayu oleh masyarakat lokal hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
dan ketentuan dengan intensitas dan kapasitas produksi yang sangat kecil. Sedangkan hasil
hutan yang sering dijumpai adalah kayu bakar, bahan untuk rumah dan bahan untuk
pembuatan perahu, dalam pola pemanfaatan hasil hutan telah bergeser drastis, bagi dari segi
pelaku maupun intensitas produksi dan peruntukannya.
Dalam pemanfaatan hasil hutan tersebut sebagaimana dijelaskan diatas umumnya
adalah pengusaha, baik lokal maupun yang berasal dari luar daerah, melalui pemanfaatan hakhak ekslusif untuk memenuhi bahan baku industri dalam memenuhi kebutuhan pasar, baik di
dalam, maupun di luar negeri (ekspor).
Potensi Peternakan
Dalam pemanfaatan potensi peternakan yang ada di Kabupaten Konawe adalah
mencakup berbagai kegiatan pembibitan dan pembudidayaan terhadap ternak dan ungas
dengan tujuan untuk dikembangbiakkan dalam meningkatkan perekonomian terhadap
pendapatan daerah, baik yang dilakukan rakyat maupun oleh perusahaan peternakan.
Sedangkan jenis ternak yang dicakup adalah: sapi, kerbau, kambing, babi, kuda, ayam, itik,
telur ayam, telur itik serta peliharaan hewan lainnya.

Sumber : http://www.konawekab.go.id/wilayah
Suku Tolaki

Suku Tolaki, merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Provinsi Sulawesi
Tenggara di samping Suku Buton dan Suku Muna. Suku Tolaki mendiami beberapa wilayah
Kabupaten dan Kota yakni Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan,
Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Kolaka dimana kedua Kabupaten induk tersebut
berdiam dua ednis Suku Tolaki yang terbesar yakni Suku Tolaki Mekongga dan Suku Tolaki
Konawe.
Sumber:
interior/article/viewFile/2091/1883

http://studentjournal.petra.ac.id/index.php/desain-

Rumah adat laikas merupakan rumah adat dari suku tolaki, yaitu suku adat yang
tinggal sekitar kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka
dan Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Utara.
http://noldy90.blogspot.co.id/2015/06/rumah-adat-laikas-sulawesi-tenggara.html
Sumber : http://www.tradisikita.my.id/2015/11/laikas-rumah-adat-sulawesi-tenggara.html
Gambaran Umum Suku Tolaki membentuk Pola Pemukiman

Hidup berpinda
pindah

Pola pemukiman
tersebar tergantung
kondisi lingkungan

Pola metubu,
perkampungan
disekitar
perladangan/pertani
an

Dibangunnya
tempat ibadah

pola mekambo, pola


linear tersusun
berbanjar mengikuti
pola jaringan jalan

Hindia-Belanda
datang

Suku Tolaki, merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Provinsi Sulawesi
Tenggara di samping Suku Buton dan Suku Muna. Suku Tolaki mendiami beberapa wilayah
Kabupaten dan Kota yakni Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan,
Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Kolaka dimana kedua Kabupaten induk tersebut
berdiam dua ednis Suku Tolaki yang terbesar yakni Suku Tolaki Mekongga dan Suku Tolaki
Konawe.
Menurut Tarimana,R (1993) pada mulanya orang Tolaki merupakan migrasi dari Tanah
Cina, pada awal pelayaran mereka singgah di Kepulauan Filipina kemudian berlanjut singgah
pada pesisir Pulau Sulawesi yakni Manado selanjutnya mereka berpaling menuju pada
Kepulauan Halmahera, dari kepulauan inilah kemudian berlanjut memasuki pesisir tenggara
Pulau Sulawesi, ada juga beberapa pendapat yang mengatakan behwa Suku Tolaki berasal
dari masyarakat Pulau Jawa yang melakukan pelayaran singgah pada Pulau Buton kemudian
baru masuk pada pesisir tenggara daratan Pulau Sulawesi.

Kedatangan muasal Suku Tolaki mereka kemudian menyusuri sungai dari arah muara
sungai Lasolo dan muara sungai Konawe sampai bertemu pada kedua hulu sungai tersebut
yakni disekitar Pegunungan Tangkelaboke. Dari pertemuan tersebut kemudian mereka
membentuk suatu perkampungan yang daerahnya dinamai dengan Andolaki, dari Andolaki
inilah mereka menyebar pada beberapa daerah di Sulawesi Tenggara ini.
Pada mula kedatangan muasal masyarakat Tolaki mereka membentuk suatu koloni di
sekitar sungai yang berada pada lembah (angalo) yang diangap subur oleh mereka.
Sumber : https://www.scribd.com/doc/130937866/JENIS-RUMAH-ADAT-TOLAKI-docx
Pada awal abad ke-19 pola permukiman di wilayah ini masih mengikuti pola lama
yaitu metobu atau belum mengalami perubahan. Model permukiman metobu-tobu adalah
sistem pemukiman tradisional Orang Tolaki yang masih diatur secara adat, sedang pola
permukiman terpencar-pencar di daera-daerah pedalaman, tepatnya disekitar kompleks
perladangan, perburuan maupun peternakan. Jarak rumah yang satu dengan rumah yang lain
tidak begitu jauh supaya dengan mudah mereka dapat saling berhubungan saat mereka perlu.
Pemerintah Hindia Belanda merintis jalan ke wilayah pedalaman, hal ini untuk
menguasai wilayah pedalaman yang kaya degan hasil-hasil bumi. Setelah itu masyarakat
mulai disettelement untuk membuat perkampungan mengikuti jalan raya. Model
perkampungan ini kemudian dikenal dengan istilah mekambo (kampung), berangsurangsur sejumlah fasilitas vital pemerintah juga mulai dibangun. Orang Tolaki meninggalkan
permukiman lama, kemudian membuat perkampungan baru di sepanjang jalan yang dibangun
Hindia Belanda. Penataan permukiman kampung diatur mengikuti pola jaringan jalan,
sehingga rumah-rumah penduduk tersusun berbanjar mengikuti jalan raya (pola linear).
Rute jalan raya yang dibangun meliputi jalan-jalan desa sekarang, satu buah jembatan
(dambata lawu) membentang di atas Sungai Konawe untuk menyeberang ke daerah Tawaro
Tebota (Distrik Lambuya). Sarana tarsportasi ini pula menjadi akses utama untuk
menuju distrik Kolaka. Sementara jalan lintas kabupaten sekarang (Kolaka-Kendari) yang
melintasi wilayah Lalosabila tembus ke Tuoy (Kecamatan Unaaha) baru dibangun setelah
terbentuknya dearah tingkat II Kabupaten Kendari yang beribukota di Unaaha (wawancara
Djamaludin Bioni, tanggal 5 Oktober 2012).
Penduduk dianjurkan untuk membuat rumah lantai tanah yang pada umumnya proto
tipe rumah-rumah berbentuk segi empat menggunakan dinding papan (semi permanen),
namun sejak tahun 1990-an penduduk setempat mulai mendirikan (merenopasi) jenis rumah
permanen. Hal ini menunjukkan semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat di Wawotobi.
Kebijakan penataan wilayah oleh Hindia Belanda ini sangat berpengaruh terhadap
perkembangan permukiman selanjutnya.
Di tiap-tiap kampung dibangun rumah ibadah (langgar). Kampung-kampung yang
sudah terkonsentris dipilih kepala kampungnya dan digaji oleh Hindia Belanda untuk
mejalankan tugas-tugas pemerintah di tingkat bawah.
Dapat dikatakan, dahulu kampung-kampung tua di Wawotobi sebagian besar mengadopsi
nama-nama sungai yang melintasi perkampungan mereka. Kemungkinan karena terdapat dua
sungai besar yakni Sungai Konaweha dan Sungai Lahambuti, seperti perkampungan yang
dilalui Sungai Konaweha menamakan Kampung Konawe, sedang yang dilalui sungai
Lahambuti menamakan kampung Analambuti. Sementara perkampungan yang tepat berada di
hulu Sungai Lahambuti menamakan Kampung Meluhu dan perkampungan yang berada di
hilir Sungai Lahambuti menamakan Palarahi (dalam ejaan Tolaki, parano berarti hilir).
Pada awal-awal tahun pembentukan wilayah otonom pemerintah terus mengembangkan
permukiman yang sebelumnya telah diprakarsai Hindia Belanda. Tempat tinggal penduduk

tetap terkonsentrasi mengikuti ruas jalan baik jalan kabupaten maupun jalan-jalan desa. Setiap
rumah saling berhadapan antara tempat tinggal (rumah) yang satu dengan tempat tinggal lain.
Orang Tolaki di Kecamatan Wawotobi menghuni wilayah pedesaan mengikuti ruas
jalan-jalan desa. Hal itu karena jarak lokasi pertanian yang tidak begitu jauh dengan tempat
tinggal mereka. Daerah ini meliputi Bosebose, Pusinauwi, Bungguosu, Tudaone dan Konawe.
Selanjutnya di Hopahopa (Nilolu) tepatnya di belakang Lapangan Sepak Bola Lasandara
memutar sampai Hudoa dan Teteona. Adapula yang menyebar di sekitar Inolobu (poros
menuju Sekolah Polisi Negara Anggotoa), Kulahi, Anggotoa, Analahambuti terus sampai di
Meluhu (tapal batas Kabapaten Konawe dan Konawe Utara). Kemudian ada juga yang
bermukim mengikuti jalan poros lintas kabupaten (Kolaka-Kendari), namun hanya beberapa
desa/ kelurahan saja, misalnya di Lalosabila (Ranomenda), Wawotobi, Nohunohu, Kasupute
dan Ranoeya (perbatasan wilayah Kecamatan Wawotobi dan Kecamatan Wonggeduku).
Kemajuan niaga (perdagangan) di Kecamatan Wawotobi ternyata bukan hanya menarik kaum
pedagang, tetapi memicu terbentuknya permukiman-permukiman baru. Kaum pendatang yang
pada umunya adalah para pedagang, seperti etnis Buton, Muna, Bugis dan Makassar
menempati daerah-daerah permukiman baru di sekitar wilayah strategis sesuai dengan pola
kehidupan mereka sebagai pedagang. Untuk permukiman etnis Muna dan Buton lebih
terkonsentrasi di sekitar kompleks Pasar Sentral Wawotobi, sisanya menyebar di sekitar
wilayah Lalosabila (ranomenda). Sedangkan untuk etnis Selayar, Bugis dan Makassar tepat di
sekitar kompleks pertokoan sekarang (pusat kota Wawotobi). Sebagian juga tinggal di
Kelurahan Inalahi. Para kelompok pendatang membentuk pola perkampungan tersendiri
sebagai lingkungan (perkampungan) kekerabatan, supaya mereka dapat saling berhubungan
saat mereka perlu.
Sumber
:
http://irmanbanasuru.blogspot.co.id/2013/06/sejarah-singkat-orang-tolaki-diwawotobi.html
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Laika, sebutan rumah suku Tolaki, terdiri dari 12 macam. Antara lain :
Laika Mbuu (rumah induk atau rumah pokok)
Laika Landa (rumah di kebun sebagai tempat mengolah padi)
Patande (Rumah ditengah-tengah kebun sebagai tempat istirahat)
Laika kataba (Rumah Papan)
Laika sorongga atau laika nggoburu (rumah penguburan)
Laika Mborasa (Rumah Pengayauan)
Komali (Rumah Tinggal Raja)
Laika wuta (Rumah beratap jengki, lebih kecil dari laika landa)
Raha Bokeo (rumah Raja di daerah Mekongga Kolaka)
Oala (tempat penyimpanan padi)
Laika walanda (rumah panjang gaya arsitek Belanda)
Laika mbondapoa (rumah panggung tempat memanggang kopra)
Sumber : https://www.scribd.com/doc/130937866/JENIS-RUMAH-ADAT-TOLAKI-docx
Rumah Adat SukuTolaki

Gambar 16. Layout


Gambar
Gambar
10.
Layout
Raha
Bokeo
, Raja
Rumah
20.
Bokeo, kerajaan Mekongga di Kolaka
Rumah sebagai pembagi
Layout
suku
Tolaki
adat
Suku
Tolaki
ruang
Rumah

Rumah sebagai
struktur adat

Rumah sebagai pembagi


ruang

Hubungan antara Iklim, Geografis Daerah dengan Tapak Arsitektur