Anda di halaman 1dari 7

APLIKASI KONSEP COMMUNITY AS PARTNER (CAP)

PADA KELOMPOK RISIKO: ANAK JALANAN

LAPORAN PRAKTIKUM 3
disusun guna memenuhi tugas praktikum mata kuliah Kebutuhan Khusus
Dosen Pengampu: Ns. Latifa Aini S, M. Kep., Sp. Kom

oleh:

Kelompok 5

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Jl. Kalimantan No.37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331) 323450

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 latar belakang


Model Community as Partner merupakan pengembangan dari model Neuman
yang menggunakan pendekatan totalitas manusia untuk menggambarkan status
kesehatan klien. Model ini sebagai panduan proses keperawatan dalam
pengkajian, analisa dan diagnosa, perencanaan, implementasi yang terdiri dari tiga
tingkatan pencegahan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier, serta
program evaulasi diarea komunitas (Hitchcock dalam Prasetyo, 2009). Fokus
dalam model ini menggambarkan dua prinsip pendekatan utama keperawatan
komunitas, yaitu lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang
menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan
dan proses keperawatan (Efendi, 2009).
Menurut UNICEF pada tahun 2005 diperkirakan ada lebih dari 100juta anak
jalanan yang terlantar di seluruh dunia, jumlah ini akan terus bertambah seiring
globalisai dan urbanisasi. Sedangkan menurut CBS dan ILO memperkirakan ada
320.000 anak jalanan di tahun 2009. Kementrian Sosial mengungkapkan bahwa
ada sebanyak 230.000 anak jalanan yang telah diidentifikasi pada tahun 2007.
Penyandang Masalah Keejahteraan Sosial (PMKS) Departemen Sosial Republik
Indonesia (Depsos RI) mengungkapkan bahwa jumlah anak jalanan di Indonesia
mencapai 104.497 jiwa pada tahun 2007. Berdasarkan Dinas Sosial jumlah anak
jalanan Jawa Timur pada tahun 2010 sebanyak 5.394 jiwa, pada tahun 2011
sebanyak 4.901 jiwa dan tahun2012 sebanyak 4.226 jiwa. Jumlah anak jalanan
yang ditangani Dinas Sosial Jember sebanyak 62 orang tahun 2012, 53 orang
tahun 2013 dan 93 orang rahun 2014.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang, maka tujuan dari pembuatan makalah ini untuk
mengetahui penerapan aplikasi Community as partner pada kelompok risiko
(anak jalanan).

BAB 2. TINJAUAN KONSEP

2.1 Pendahualuan Tentang Konsep Community as Partner model


Model Community as Partner merupakan pengembangan dari model
Neuman yang menggunakan pendekatan totalitas manusia untuk menggambarkan
status kesehatan klien. Model ini sebagai panduan proses keperawatan dalam
pengkajian, analisa dan diagnosa, perencanaan, implementasi yang terdiri dari tiga
tingkatan pencegahan yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier, serta
program evaulasi diarea komunitas (Hitchcock dalam Prasetyo, 2009). Anderson
dan McFarlane dalam hal ini mengembangkan model kepeerawatan komunitas
yang memandang masyarakat sebagai mitra (Community as Partner). Fokus dalam
model tersebut menggambarkan dua prinsip pendekatan utama keperawatan
komunitas, yaitu (1) lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang
menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan,
dan (2) proses kesehatan (Efendi, 2009).
Model Commmunity as Partner merupakan model yang lebih berfokus
pada perawatan kesehatan masyarakat baik praktek, keilmuan, dan metodenya
melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi penuh dalam meningkatkan
kesehatannya. Model ini mempunyai dua faktor utama, yaitu fokus pada
komunitas sebagai mitra dan proses keperawatan. Proses keperawatan dalam CAP
sama dengan proses keperawatan lainnya, yaitu pengkajian, diagnosa,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pengkajian pada model CAP
mempunyai dua komponen utama yaitu core dan delapan subsistem. Core dalam
pengkajian model CAP terdiri dari riwayat atau sejarah terbentuknya agregat, data
demografi, vital statistik, serta nilai dan kepercayaan. Delapan subsistem dalam
pengkajian model CAP terdiri dari lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan
sosial, ekonomi, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan,
komunikasi, pendidikan, dan rekreasi (Anderson & Mc Farlan, 2004).

2.2 Kerangka Konsep Community as Partner

Dalam model CAP, komunitas dipandang sebagai partner dan sistem terbuka,
dimana klien dan lingkungannya berada dalam interaksi yang dinamis. Menurut
Neuman, untuk melindungi klien dari berbagai stresor yang dapat mengganggu
keseimbangan, klien memiliki tiga garis pertahanan, yaitu pertahanan fleksibel,
pertahanan normal dan pertahanan resisten. (Anderson & Mc Farlan, 2004). Garis
pertahanan fleksibel adalah garis paling luar yang digambarkan garis putus-putus,
sebagai
zona
penyangga
(respon
sementara)
terhadap
stresor.
Garispertahanannormal digambarkan dengan garis utuh yang menunjukkan
pencapaian tingkat kesehatan dari waktu ke waktu. Delapan subsistem berada
dalam garis pertahanan ini dan dipisahkan melalui garis putus-putus yang
menggambarkan bahwa delapan subsistem tersebutsaling mempengaruhi satu
sama lain. Garis pertahanan resisten adalah mekanisme internal terhadap
stresor.Stresor merupakan tekanan yang menghasilkan stimuli yang memiliki
potensi menyebabkan ketidakseimbangan didalam sistem (Anderson & Mc
Farlane, 2004). Implementasi dari keperawatan komunitasterdiri

BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Aplikasi Konsep Community as Partner Pada Kasus Anak Jalanan


1. Data Inti
a) Demografi
Menurut UNICEF pada tahun 2005 diperkirakan ada lebih dari 100juta
anak jalanan yang terlantar di seluruh dunia, jumlah ini akan terus
bertambah seiring globalisai dan urbanisasi. Sedangkan menurut CBS dan
ILO memperkirakan ada 320.000 anak jalanan di tahun 2009. Kementrian
Sosial mengungkapkan bahwa ada sebanyak 230.000 anak jalanan yang
telah diidentifikasi pada tahun 2007. Penyandang Masalah Keejahteraan
Sosial (PMKS) Departemen Sosial Republik Indonesia (Depsos RI)
mengungkapkan bahwa jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai
104.497 jiwa pada tahun 2007. Berdasarkan Dinas Sosial jumlah anak
jalanan Jawa Timur pada tahun 2010 sebanyak 5.394 jiwa, pada tahun
2011 sebanyak 4.901 jiwa dan tahun2012 sebanyak 4.226 jiwa. Jumlah
anak jalanan yang ditangani Dinas Sosial Jember sebanyak 62 orang tahun
2012, 53 orang tahun 2013 dan 93 orang rahun 2014.
b) Etnis
c) Nilai/keyakinan
d) Riwayat
Faktor penyebab anak turun ke jalanan karena tiga faktor yaitu ekonomi,
masalah keluarga dan pengaruh teman (Kalida, 2003). Faktor ekonomi
menjadi penyebab utama yang menjadikan anak turun ke jalanan, yaitu
karena kemisikinan, baik struktural maupun non struktural, sehingga anak
turun ke jalan bukan karena inisiatif sendiri. Banyak kasus anak turun ke
jalanan justru karena perintah orang tuanya. Kemudian, faktor keluarga
bisa jadi penyebab seorang anak turun ke jalanan, yaitu karena penanaman
disiplin dan pola asuh otoriter yang kaku dari orang tua, keluarganya
selalu ribut, perceraian, diusir dan dianiaya orang tua. Faktor teman juga
bisa menyebabkan anak turun kejalanan, yaitu adanya dukungan sosial
atau bujuk rayu dari teman. Latar belakang sosial ekonomi yang berbeda
dari anak lain pada umumnya, konsep diri anak jalanan jelas berbeda
dengan konsep diri pada anak lainnya. Kehidupan yang keras, keharusan
untuk hidup mandiri, perhatian yang kurang dari orang tua, lingkungan
tempat tinggal yang tidak kondusif, minimnya kesempatan untuk
bersekolah merupakan faktor yang mempengaruhi konsep diri pada anak
jalanan (Fitri dalam fawzie dan Kurniajati, 2012).

e) Karakteristik Penduduk
1) Fisik
Karakteristik lingkungan tempat tinggal sangat berpengaruh terhadap
perkembangan anak pada umumnya. Salah satu faktor anak turun ke
jalan adalah faktor ekonomi. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama
yang menjadikan anak turun ke jalanan, yaitu karena kemisikinan,
baik struktural maupun non struktural, sehingga anak turun ke jalan
bukan karena inisiatif sendiri (Fitri dalam fawzie dan Kurniajati,
2012).
2) Psikologis
Banyak kasus anak turun ke jalanan justru karena perintah orang
tuanya. Kemudian, faktor keluarga bisa jadi penyebab seorang anak
turun ke jalanan, yaitu karena penanaman disiplin dan pola asuh
otoriter yang kaku dari orang tua, keluarganya selalu ribut, perceraian,
diusir dan dianiaya orang tua (Fitri dalam fawzie dan Kurniajati,
2012).
3) Sosial
Faktor teman juga bisa menyebabkan anak turun kejalanan, yaitu
adanya dukungan sosial atau bujuk rayu dari teman. Latar belakang
sosial ekonomi yang berbeda dari anak lain pada umumnya, konsep
diri anak jalanan jelas berbeda dengan konsep diri pada anak lainnya.
Kehidupan yang keras, keharusan untuk hidup mandiri, perhatian yang
kurang dari orang tua, lingkungan tempat tinggal yang tidak kondusif,
minimnya kesempatan untuk bersekolah merupakan faktor yang
mempengaruhi konsep diri pada anak jalanan (Fitri dalam fawzie dan
Kurniajati, 2012). Kontribusi lingkungan yang memberikan stigma
sosial dan perlakuan yang tidak manusiawi (mengasingkan,
mengabaikan, melakukan kekerasan dan berbagai ketidakadilan
lainnya) berkorelasi dengan perilaku anak jalanan yang cenderung
memberontak, ingin bebas, dan sulit diatur (Haryono, 2012).
4) Perilaku
Kontribusi lingkungan yang memberikan stigma sosial dan perlakuan
yang tidak manusiawi (mengasingkan, mengabaikan, melakukan
kekerasan dan berbagai ketidakadilan lainnya) berkorelasi dengan
perilaku anak jalanan yang cenderung memberontak, ingin bebas, dan
sulit diatur. Perilaku anak-anak ini merupakan cerminan
daribagaimana masyarakat memperlakukan mereka juga harapan
masyarakat terhadap perilaku mereka. (Haryono, 2012).

2. Sub sistem
a) Lingkungan fisik
Karakteristik lingkungan tempat tinggal sangat berpengaruh terhadap
perkembangan anak pada umumnya. Salah satu faktor anak turun ke jalan
adalah faktor ekonomi. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama yang

b)
c)

d)
e)
f)

menjadikan anak turun ke jalanan, yaitu karena kemisikinan, baik


struktural maupun non struktural, sehingga anak turun ke jalan bukan
karena inisiatif sendiri (Fitri, fawzie dan Kurniajati, 2012).
Sistem kesehatan
Ekonomi
Faktor ekonomi menjadi penyebab utama yang menjadikan anak turun ke
jalanan, yaitu karena kemisikinan, baik struktural maupun non struktural,
sehingga anak turun ke jalan.
Pendidikan
Politik dan pemerintahan
Rekreasi

http://jatim.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/230
https://rehsos.kemsos.go.id/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=5
http://www.unicef.org/indonesia/id/PKSA2015.pdf
http://eprints.ums.ac.id/18612/3/BAB_I_PENDAHULUAN.pdf
http://m.beritajatim.com/politik_pemerintahan/236204/jumlah_anak_terlantar_dan
_gepeng_di_jember_meningkat.html
http://trijokoantro-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-64206-Antropologi
%20Perkotaan-PERILAKU%20ANAK%20JALANAN.html