Anda di halaman 1dari 21

TEORI ARSITEKTUR DUNIA

TIMUR

TEORI
SIMBIOSIS

Suatu teori dalam arsitektur digunakan untuk mencari apa yang


sebenarnya harus dicapai dalam arsitektur dan bagaimana cara yang baik untuk
merancang. Teori dalam arsitektur cendrung tidak seteliti dan secermat dalam
ilmu pengetahuan yang lain (obyektif), satu ciri penting dari teori ilmiah yang
tidak terdapat dalam arsitektur ialah pembuktian yang terperinci. Desain
arsitektur sebagian besar lebih merupakan kegiatan merumuskan dari pada
kegiatan

menguraikan.

Arsitektur

tidak

memilahkan

bagian-bagian,

ia

mencernakan dan memadukan bermacam ramuan unsur dalam cara-cara baru


dan keadaan baru, sehingga hasil seluruhnya tidak dapat diramalkan.
Teori-teori yang terdapat dalam arsitektur terbentuk atau tercipta dari
beberapa konsep yang dipadukan hingga terlahirlah sebuah teori baru. Pada
saat ini, teori arsitektur terbagi menjadi dua pandangan yaitu teori arsitektur barat
dan teori arsitektur timur.
Arsitektur yang terjadi di dunia timur sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai,
sikap hidup dan pandangan masyarakat timur itu sendiri. Pembahasan teori
arsitektur secara substansial tidak dibagi dalam urutan waktu melainkan lebih
pada beberapa aspek yang mempengaruhi arsitektur secara mendasar. Para
Pemikir Timur lebih menyukai intuisi daripada akal budi. Bagi pemikir Timur,
pusat kepribadian seseorang bukanlah kemampuan intelektualnya melainkan
lebih pada hatinya, yang mempersatukan akal budi dan intuisi, intelegensi dan
perasaan. Mereka menghayati hidup dalam keseluruhan adanya bukan sematamata dengan otak. Budaya Timur mengutamakan terciptanya keharmonisan,
yang diwujudkan dalam (Roemanto, 1999: 1):
1. Keseimbangan antara manusia dengan masyarakatnya

2. Keseimbangan antara manusia dengan alam


3. Keseimbangan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Berikut adalah tabel perbedaan antara arsitektur barat dan arsitektur timur
yang dapat dilihat pada tabel berikut.

Cita rasa kesederhanaan dan kepolosan pada estetika Jepang yang akan
diuraikan lebih lanjut pada bagian selanjutnya, lebih berdasarkan pada
pemahaman dan penghayatan orang Jepang yang berjiwa Shinto dan Budha
Zen. Pada hakekatnya, estetika di Timur dihayati lebih merupakan transformasi
diri dari hidup yang fana menuju nirwana. Di dalam masyarakat Jepang, meski
telah terjadi kemajuan teknologi tinggi, urbanisasi secara besar-besaran,
hubungan perdagangan international dan penyerapan sifat kebarat-baratan,
elemen kebudayaan asli yang khas masih tetap hidup di dalam semua lapisan
masyarakat. Dalam bidang arsitektur, konsep dan pemakaian ruang yang khas
masih terpelihara makna kebudayaannya meskipun banyak elemen fisik dan
tradisi itu nyatanya sudah tidak utuh lagi. Makna kebudayaan mudah
diterjemahkan kedalam bentuk yang baru. Bila dilihat sekilas, pengaruh nyata
dari arsitektur barat di Jepang sukar ditelusuri. Keturut-sertaannya tidak
diungkapkan dalam bentuk fisik. Namun hasil karya mereka (Barat) telah
mempengaruhi perkembangan konsep arsitektur Jepang. Sebuah idea akan
sama hasilnya apakah diungkapkan dalam bentuk fisik atau dalam bentuk
lainnya.
Salah satu teori yang ada di Jepang adalah Teori Simbiosis yang
dikenalkan oleh Kisho Kurokawa yang merupakan salah satu teori yang
diterapkan dalam karyanya selain arsitektur metabolisme.

TEORI SIMBIOSIS OLEH KISHO KUROKAWA


Kata simbiosis (symbiosis) berasal dari bahasa Yunani yang berarti "hidup
bersama (living together). Secara teoritis kata simbiosis biasa dipakai sebagai
istilah untuk menjelaskan suatu interaksi antar organisme yang hidup
berdampingan. Bisa saja saling merugikan, menguntungkan, atau netral. Makna
ini mengacu pada sebuah hubungan antara dua makhluk hidup atau lebih yang
tidak hanya saling menguntungkan tapi memang sangat diperlukan bagi
keduanya. Kurokawa menyatakan bahwa arsitektur menjelang dan awal abad ke
21 berada dalam periode Age of Life di mana proses kehidupan : metabolisme,
metamorfosis dan simbiosis dapat dicerminkan dalam perwujudan arsitektur. Kita
ketahui

Kurokawa

merupakan

salah

satu

pencetus

gerakan

Arsitektur Metabolisme di tahun 1960-an. Kisho Kurokawa, yang kita kenal


sebagai Japanese Architect dan Urban Planner, berpendapat bahwa simbiosis
adalah maksud dari semua kerjasama yang akhirnya banyak terjadi dewasa ini
(contoh kerjasama ekonomi antar negara dan lain-lain).
Dalam konteks arsitektur, ini diterjemahkan menjadi pemandangan seni
arsitektur sebagai sebuah ekspresi semangat era. Artinya, bangunan yang
dirancang hari ini harus menjadi bagian dari warisan budaya generasi
mendatang.
Simbiosis adalah kembangan mendasar dari konsep harmoni atau
perdamaian, karena didalamnya sudah mencakup oposisi maupun kompetisi.
Menurut Kurokawa, ia melihat bahwa bukti mengenai hal ini sudah terjadi
dimana-mana. Bahwasanya sikap saling ketergantungan semakin mengakar di
dunia ini, bukan saja pada ekonomi, paham politik berdemokrasi namun pada

perkembangan paham pluralisme, multikulturalisme dan khususnya ekologi "dalam ekologi, simbiosis mendifersifikasi spesies."

Istilah simbiosis mulai terangkat sebagai bahan diskusi dunia setelah ide
Kisho Kurokawa, yang kemudian menuangkannya dalam buku The Philosophy
of Simbiosis (1991). Simbiosis adalah istilah yang biasa digunakan dalam
biotechnology, kata ini dipakai untuk menjelaskan suatu keintiman interaksi antar
organisme yang bisa saja itu saling menguntungkan, saling merugikan maupun
berefek netral bagi kedua belah pihak. Dalam buku "The Philosophy of
Simbiosis",

Arsitektur

simbiosis

sebagai

analogi

biologis

dan

ekologis

memadukan beragam hal kontradiktif, atau keragaman lain, seperti bentuk plastis
dengan geometris, alam dengan teknologi, masa lalu dengan masa depan, dll.
Seperti dikatakan Jencks (sebagai pembuka tulisan), arsitektur simbiosis
merupakan konsep both-and, mix and match dan bersifat inklusif.
Kurokawa mengulas teori ini dalam ranah Buddhism dan biologi juga
dalam karakteristik orang Jepang yang berpresepsi bahwa teknologi adalah
sebuah hybrid dari alam. Bukunya cenderung mengacu dalam dualisme ini, disisi
lain juga mengandung tema oriental. Kurokawa membuat terawangan yang maju
dimulai dari sebuah era mesin menuju ke era kehidupan (mengganti pemikiran
age to machine menjadi age to life), yang hasil akhirnya adalah sebuah
simbiosis antara alam dan manusia, atau antara lingkungan dan arsitektur."

Arsitektur Simbiosis mencari suatu nilai intisari antara budaya yang


berbeda, faktor yang saling berlawanan, elemen yang berbeda dan dituntut
untuk mengolahnya dengan menciptakan suatu ruang penengah, menggunakan

permainan material dan usaha lain sebagainya agar konflik tersebut justru
menjadi hal yang positif bagi rancangan yang akan dibuat. Simbiosis dapat
dilakukan dalam segala dimensi seperti yang dikutip dari Kisho Kurosawa dalam
bukunya Intercultural Architecture The Philosophy of Symbiosis; simbiosis
antara manusia dengan alam, simbiosis antara ilmu pengetahuan dan seni,
simbiosis antara public dan private, simbiosis antara industri dan masyarakat,
simbiosis antara kuat dan lemah (mayoritas dan minoritas), simbiosis antara
suatu bagian (part/individu) dengan suatu kesatuan / keutuhan (whole) dan
banyak hubungan simbiosis lainnya yang dapat diterapkan pada objek
rancangan.
Prinsip Simbiosis Dalam Arsitektur
Simbiosis adalah sebuah teori zonasi yang mengakomodasi wilayah fungsi
campuran di mana orang-orang dari semua latar belakang etnis dapat hidup
bersama, di mana di dalam dan di luar saling saling. filosofi simbiosis:
1) Simbiosis Arsitektur dan Alam
Sifat yang disebutkan di sini adalah buatan manusia alam, teority ketiga
antara arsitektur buatan manusia dan alam yang asli.
dengan menciptakan buatan manusia green hill (bukit perkotaan),
roof garden, sambungan menciptakan ke situs diagonal
bangunan yang menggunakan energi terbarukan dan bahan daur
ulang energi atau rendah.
menggabungkan pemandangan sekitarnya

2) Simbiosis Manusia dan Teknologi


Teknologi dan manusia tidak dalam hubungan oposisi tetapi dalam
satu simbiosis, teknologi menjadi perpanjangan manusia peran mesin

tidak mengungkapkan identitas independen mereka sendiri tetapi dari


manusia.

3) Simbiosis dari satu budaya dengan budaya lain


Perbedaan lokal yang menggabungkan kemudian menekankan
pentingnya simbiosis dari budaya yang berbeda. Tabrakan yang berbeda.
dalam arsitektur manipulasi sadar unsur dari budaya yang berbeda
membangkitkan makna melalui perbedaan dan disjungsi dan ini
membedakannya fundamental dari hibridisasi yang sederhana.

4) Simbiosis Masa Lalu dan Masa Depan


Arsitektur metabolisdibangun di diachrony menjadi simbiosis masa
lalu, sekarang dan masa depan menekankan kebutuhan untuk tetap
berhubungan

dengan

budaya

dan

sejarah

dari

suatu

wilayah

tertentunyata sejarah, diwujudkan dalam bentuk arsitektur, motif hias dan


simbol warisan dari masalalu. Sejarah tak terlihat takhta negara pikiran
agama kepekaan estetika ide dan cara hidup.

5) Simbiosis dari Rakyat dan Murni dalam Seni


Membangun kembali jejak-jejak masa lalu dalam kemurnian
aslinya ada pasti modifikasi detail dan perabot sehingga tidak ada lagi
menerima bangunan yang ada sebagai salinan tepat dari aslinya.
menciptakan gaya masa lalu dengan memiliki unsur-unsur yang dipilih
dan dimurnikan mereka untuk mengintegrasikan mereka ke dalam
arsitektur modern

.
6) Simbiosis interior dan eksterior / intermediate zona
Jalan sekaligus daerah untuk lalu lintas, perpanjangan alam
semesta intim dan ruang komunal. sifatnya yang pluralistik memberikan
pluralitas makna. jalan adalah singkatnya zona transisi di mana jalan raya
umum. zona antara dan zona transisi adalah daerah yang kontak
ditingkatkan dengan luar membangkitkan rasa kontinuitas antara
bangunan dan lingkungan

Men-simbiosis-kan beberapa hal yang berbeda bukan berarti menyatukan


perbedaan-perbedaan tersebut, karena pada dasarnya perbedaan tidak dapat
disatukan, namun dapat diterima sehingga menghasilkan sesuatu baru karena
teori simbiosis bukanlah sebuah teori dominasi, di mana yang terkuat dari dua
elemen bertentangan memimpin yang lemah. Sebaliknya adalah sebuah
percobaan untuk menemukan elemen-elemen dasar atau aturan-aturan tanpa
menghapus

oposisi

antara

elemen-elemen

tersebut.

Filosofi

simbiosis

menghancurkan dualisme. Ada dua unsur yang paling penting dari simbiosis,
yaitu konsep sacred zone dan intermediary space. Kedua unsur inilah yang
merupakan hal yang diperhatikan dalam pembentukan simbiosis.
With the concepts of sacred zones and intermediate space as its
source, the philosophy of symbiosis is clearly distinct from all previous
philosophies. It opens our eyes to the horizon of a new world[1]

[1]

Dengan konsep zona suci dan ruang perantara sebagai sumber,


filosofi simbiosis jelas berbeda dari semua filsafat sebelumnya. Ini
membuka mata kita untuk cakrawala dunia baru.

Sacred Zone
In the age of life, the movement will be from dualism to the philosophy
of symbiosis. Symbiosis is essentially different from harmony, compromise,
amalgamation, or eclecticism. Symbiosis is made possible by recognizing
reverence for the sacred zone between different cultures, opposing factors,
different elements, between the extremes of dualistic opposition.[2]
Sepanjang hidup, pergerakan akan berasal dari dualisme ke filsafat
simbiosis. Simbiosis ini dasarnya berbeda dari harmoni, kompromi,
amalgamasi,

atau

ekletisme.

Simbiosis

ini

dimungkinkan

oleh

penghormatan untuk zona suci antara budaya yang berbeda, faktor


berlawanan, unsur yang berbeda, antara pertentangan dualistik yang
ekstrim.

Keberadaan sacred zone adalah konsep kunci dalam mendiskusikan arti yang
lebih dalam lagi dari simbiosis. Simbiosis sebisa mungkin dibuat dengan
menanamkan rasa hormat pada sacred zone (zona suci) antara faktor-faktor
oposisi, elemen-elemen yang berbeda dan kebudayaan yang berbeda.
The philosophy of symbiosis, on the other hand, seeks to recognize
the respective sacred zones of different cultures.[3]
[2]
[3]

Filosofi simbiosis, di sisi lain, berusaha untuk mengenali zona suci


masing-masing budaya yang berbeda.

Sacred zone dimiliki oleh suatu individu atau tradisi budaya sebuah
wilayah namun harus dihargai dalam kelangsungan proses simbiosis karena
setiap negara, wilayah, memiliki sacred zone dengan kebudayaannya masing
-masing. Intinya dalam simbiosis tidak ada peleburan antara dua nilai yang
berbeda ke dalam suatu nilai yang baru. Karena dalam simbiosis, nilai-nilai asli
suatu sacred zone tetap dipertahankan untuk melindungi keanekaragaman
budaya dan mendukung keberagaaman tersebut.
Protecting the diversity of life means protecting the diversity of culture,
and supporting that diversity. A symbiotic order is an order in which we
recognize others' differences and their sacred zones, and compete on that
basis.[4]
Melindungi

keanekaragaman

kehidupan

berarti

melindungi

keragaman budaya, dan mendukung keberagaman itu. Perintah simbiotik


adalah perintah dimana kita mengenali perbedaan orang lain dan zona suci
mereka, dan bersaing pada dasar.

Intermediary Space

The second condition necessary to achieve symbiosis is the presence


of intermediary space. Intermediary space is so important because it allows

[4]

10

the tow opposing elements of a dualism to abide by common rules, to


reach a common understanding.[5]
Kondisi kedua yang diperlukan untuk mencapai simbiosis adalah
kehadiran ruang perantara. Ruang perantara begitu penting karena
memungkinkan unsur-unsur yang berlawanan menarik dualisme untuk
mematuhi aturan umum, untuk mencapai pemahaman bersama.

Intermediary Space atau ruang penengah, memiliki pengertian tentative


dan bersifat dinamis, yaitu pembentukan zona sementara antara dua elemen
yang bertentangan. Dapat juga dikatakan sebagai zona ketiga yang dibuat untuk
memenuhi tujuan menengahi kedua elemen tersebut. Kurokawa memberi contoh
tentang penerapan intermediary space pada budaya jepang, dapat kita temui
pada rumah jepang yang bergaya sukiya.
Karakteristik rumah Jepang bergaya sukiya merupakan proporsi yang
halus, penggunaan banyak bahan alami, integrasi ruang interior dan eksterior,
dan rasa tenang dengan nuansa pedesaan. Di rumah tradisional Jepang,
moderasi adalah kunci penting, sehingga terlihat alami dengan menggunakan
unsur kayu yang melambangkan kesederhanaan.
Intermediary zone yang dimaksudkan dalam rumah sukiya ini adalah
engawa space yang selalu diterapkan dalam rumah jenis ini. Engawa Space
merupakan ruang seperti teras rumah yang walaupun posisinya berada di bawah
atap rumah tetapi konsepnya tetap menyatu dengan ruang luar rumah. Engawa
Space di sini dihadirkan mengitari seluruh bagian luar rumah sebagai area
penetral antara ruang dalam dan ruang luar dari rumah tersebut.
[5]

11

Sukiya House
Engawa space

12

Sumber: http://makemeymindmymine.blogspot.co.id/2011/07/my-firstposting.html

Contoh simbiosis dapat diandaikan pada suatu jabaran sbb:


Pertama melalui penghargaan pada tradisi sejarah. Contohnya metode
arsitektur jepang yang disebut Sukiya, yaitu memberikan makna baru untuk
bangunan tua dengan memberi material baru.
Kedua menempatkan kehidupan kontemporer mereka sebagai sebuah konteks
sejarah dan menydanangkannya sebuah makna baru.
Ketiga menempatkan kebudayaan atau bahkan hasil manipulasi hal-hal yang
aneh dan lucu dalam simbol sejarah mereka sebagai sebuah bentuk ekspresi.

Contoh bangunannya:

Bandara Hasanudin, Makassar

13

Sumber: http://gooddesignforgoodlife.blogspot.co.id/2009/11/arsitektur-simbiosis.html

Kurokawa

menolak

konsep

regionalisme

tertutup

juga

menolak

kepercayaan bahwa semua aspek dalam sebuah budaya tidak dapat diganggu
gugat. Jadi bahwa sebuah kehidupan baru dapat dicapai melalui hasil
pertentangan dalam perbedaan yang sangat besar. Sebuah ruang yang menjadi
media pertentangan tersebut memberikan kedua pemainnya sebuah aturan yang
harus dipatuhi, yang akhirnya menyediakan sebuah penyatuan.
"Jadi sebagaimana halnya penyerangan dan kesepahaman yang saling
menguntungkan yang selalu berproses diantara kedua pihak, maka batas
ruang intermediasi antar keduanya selalu bergerak..."

'The Philosophy of Symbiosis' dari Kurokawa merupakan teori yang kuat,


kekritisannya jauh melihat ke depan. Teori ini merupakan tema sentral sehingga
filosofinya tidak mengkontradiksi. Kurokawa sangat paham juga bahwa tak ada
bangunan yang bisa selamanya bertahan seperti apa yang ia janjikan dalam
teorinya, namun sebagai pedoman prinsipil, teori ini menyita perhatian para
arsitek. Sebagai salah satu anggota pendiri gerakan Metabolisme dan sebagai

14

bagian Team X, Kurokawa mengajukan fleksibilitas, sebuah evolusi arsitektur,


sesuatu yang langsung merespon tekanan lingkungan. Ia mengajukan ide yang
bersifat sekaligus yakni inovatif dan proaktif, khususnya untuk experimennya
dengan bangunan-bangunan modular.

Dalam karyanya pemukiman di Al-Sarir, Libya 1979-1984 (1991, 93 -94),


Kurokawa memadukan teknologi baru dengan alam padang pasir, antara lain
dengan memanfaatkan bahan dasar bangunan sand-bricks, dipadukan dengan
materi prefabrikasi untuk bahan atap, juga pengaturan sirkulasi udara, dll. Tiap
layout dan desain diupayakan memenuhi keinginan tiap penghuni sehingga tiap
rumah memiliki bentuk yang berbeda walau dengan bahan dan struktur yang
sama. Merupakan perpaduan struktur geometris hasil teknologi dengan bentuk
kubah sebagai simbol tradisi Islam (dalam bentuk hyperbolic paraboloid shell)
juga area hijau seperti penerapan taman dalamairport serta lansekap hutan
tropis. Kondisi alam yang semakin tidak pasti di zaman konseptual dan hightouch
seperti sekarang menjadikan pemikiran desain mengarah pada kebijakan dalam
mengolah alam, sustainable construction, eko-desain. Konsep simbiosis
Kurokawa,

uraian

Mangunwijaya

dalam

Wastu

Citra,

pemikiran

Green

Architecture Jencks dan Broadbent (pada perkembangan terakhir Broadbent pun


terlibat pada pemikiran Green Architecture) secara jelas dan komprehensif
menyoroti masalah tersebut. Benang merah dari ciri pemikiran Broadbent,
Jencks, Mangunwijaya dan Kurokawa (selain mampu memberi gambaran lebih
luas,menyeluruh dan multidimensi tentang estetika bentuk dan prosesdesain
pada umumnya) adalah kemampuan berpikir metaforis.

15

Karya terakhir Kurokawa yang bernuansa simbiosis misalnya adalah


Kuala Lumpur International Airport (KLIA). KLIA adalah sebuah kombinasi
fleksibilitas sistem modular sebagai persyaratan sentral dalam programnya.
Desain longspan perpaduan cangkang, kabel dan tenda yang mulus. Andaikan
sebuah kelambu raksasa yang ditusuk ratusan tiang yang berderet rapi karena
jarak modular. Selain itu ada juga konsep kota simbiosis. Eco Media City
merupakan gagasan besar. Kurokawa yang mengkolaborasi ekologi dan
teknologi dalam konteks simbiosis di zaman cyberspace. Eco-Media City
merupakan proses pemindahan ibukota pemerintahan pusat Malaysia ke
lingkungan baru dalam rancangan yang mutakhir. Sebagai calon ibukota negara
Putrajaya terhubung dengan Cyberjaya sebuah kota penelitian teknologi tinggi
(high-technology research city). Luasan yang dicakup wilayah ini meliputi jalur
15x50 km, jadi istilahnya 'Multimedia Super Corridor'. Kawasan ini merupakan
sebuah kota Linear, kota memanjang yang potensial, luasannya lebih besar dari
pulau Singapura.
Oleh karena proyek-proyek ini banyak dipengaruhi oleh masih adanya
teori sebelumnya, maka perkembangan citranya hanya berakhir begitu saja
hanya menjadi sebuah citra. Para Simbiosists menghilang terlalu cepat, mereka
membawa sendiri garis pemahaman mereka dan meninggalkan banyak ide-ide
menjanjikan yang belum terbangun.

16

Sumber: www.mifb.com.my%2Ftravel-information%

Sumber: http://www.kuala-lumpur.ws/airport/klia.htm#

KESIMPULAN
Arsitektur Timur menekankan keharmonisan antara : manusia dengan
masyarakatnya, manusia dengan alam (lingkungan-nya) dan manusia dengan
yang Maha Pencipta (Rusmanto, 1999). Kisho Kurokawa adalah arsitek praktisi

17

dan teoritikus yang mencoba memperkenalkan kembali arsitektur tradisional


Jepang dengan menggunakan teknologi modern. Terdapat dua teori utama
Kurokawa salah satunya adalah teori simbiosis. Teori simbiosis adalah suatu
hubungan antara dua makhluk hidup atau lebih yang tidak hanya saling
menguntungkan tetapi memangsangat diperlukan bagi keduanya.
Teori simbiosis ini merupakan teori yang mana kembangan mendasar dari
konsep harmoni atau perdamaian, karena didalamnya sudah mencakup oposisi
maupun kompetisi. Ada dua unsur yang paling penting dari simbiosis, yaitu
konsep sacred zone dan intermediary space.
Dalam penerapan teori ini tidak berarti menyatukan perbedaanperbedaan, karena pada dasarnya perbedaan tidak dapat disatukan, namun
dapat diterima sehingga menghasilkan sesuatu baru atau aturan-aturan tanpa
menghapus oposisi antara elemen-elemen dalam simbiosis tersebut. Filosofi dari
teori ini, yaitu interdependensi, cara baru menafsirkan budaya hari ini dan filsafat
dari keduanya dan bukan tidak keduanya atau.
Teori simbiosis ini juga cenderung menekankan pada arsitektur dunia
timur

salah

satunya

yaitu

terdapat

unsur

alam

didalamnya

walaupun

perkembangannya kearah arsitektur modern.

DAFTAR PUSTAKA
Hasbi,

Ahmad.

2016.

Teori

dan

Teori

Arsitektur.pdf.

Online.

(http://independet.academia.edu/AhmadHasbi diakses tanggal 10 April 2016)

18

Putri, Mahyndrana Cahyaning dan Baskoro W. Isworo. 2013. JURNAL SAINS


DAN

SENI

POMITS

Vol.

2,

No.2.

Online.

(http://ejurnal.its.ac.id/index.php/sains_seni/article/viewFile/3421/1442
diakses tanggal 20 Mei 2016)
Sandi,

Jefry

Wijaya.

2010.

Teori

Simbiosis.

(http://jefryarchitats.blogspot.co.id/2010/06/teori-simbiosis.html

Online.
diakses

tanggal 20 Mei 2016)


Season,

Cinema.

2009.

Teori

dan

Gerakan

Arsitektur.

Online.

(http://archmagazine.blogspot.co.id/2009/11/teori-dan-gerakan-arsitektur.html
diakses tanggal 20 Mei 2016)
Septiantori,

Imron.

10

Teori

Ttg

Arsitektur.

Online.

(https://www.academia.edu/4689797/10_teori_ttg_arsitektur diakses tanggal


20 Mei 2016)
Surasetja, R. Irawan. Bahan Ajar : ARS 546 - Teori Perencanaan dan
Perancangan II Teori-Teori Arsitektur Dunia Timur.pdf. Online.
(https://www.google.com/file.upi.edu%2FDirektori%2FFPTK
%2FJUR._PEND._TEKNIK_ARSITEKTUR
%2F196002051987031R._IRAWAN_SURASETJA%2FHand_Out
%2FTEORI_TEORI_ARSITEKTUR_DUNIA_TIMUR.pdf diakses tanggal 20
Mei 2016)
Telew,

Meynar.

2011.

Teori

Simbiosis

Dalam

Arsitektur.

Online.

(http://makemeymindmymine.blogspot.co.id/2011/07/my-first-posting.html
diakses tanggal 20 Mei 2016)

19

Teori dan Teori Arsitektur.pdf (diakses dan didownload tanggal 10 April 2016)
Wijaya,

Jefry

Sandi.

2010.

Teori

Simbiosis.

(http://jefryarchitats.blogspot.co.id/2010/06/teori-simbiosis.html
tanggal 20 Mei 2016)

20

Online.
diakses