Anda di halaman 1dari 22

ASKEP PADA ANAK AUTIS

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 6

Marisa Andarini Saragih


Dian Nur Pratiwi
Petrus Pardede
Alya Rahayu Rambe
DOSEN : Wiwik Dwi Arianti S.Kep., Ns., M.Kep

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MEDAN


JURUSAN KEPERAWATAN
T.A 2015/2016

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang ASKEP PADA ANAK AUTIS.
Makalah

ini juga berlancar dengan baik karena batuan dari dosen serta

teman-teman ,sehingga makalah ini dapat diselesaikan . Untuk itu kami


menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
solusi dan pendapat dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu,kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca supaya
kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Medan

22

oktober

2016

Kelompok 6

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ 2
DAFTAR ISI................................................................................................... 3
BAB I........................................................................................................... 4
PENDAHULUAN............................................................................................ 4
A.Latar Belakang.......................................................................................... 4
B. Rumusan masalah...................................................................................... 5
C. Tujuan.................................................................................................... 5
BAB II.......................................................................................................... 6
PEMBAHASAAN............................................................................................ 6
A.

Pengertian............................................................................................. 6

B.

faktor penyebab anak autism......................................................................8

C.

Klasifikasi dan jenis-jenis.......................................................................10

D.

Dampak Psikologi Anak Autisme.............................................................13

BAB III....................................................................................................... 15
Asuhan Keperawatan pada Anak Autism...............................................................15
A.

Pengkajian.......................................................................................... 15

B.

Diagnosa Keperawatan...........................................................................16

C.

Intervensi............................................................................................ 16

D.

Implementasi....................................................................................... 21

E.

Evaluasi............................................................................................. 21

BAB IV....................................................................................................... 22
PENUTUP................................................................................................... 22
A.

Kesimpulan......................................................................................... 22

B.

Saran................................................................................................ 22

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 23

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai
dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku,
komunikasi dan interaksi sosial.Dengan adanya metode diagnosis yang kian
berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autis akan
semakin meningkat pesat. Jumlah penyandang autis semakin mengkhawatirkan
mengingat sampai saat ini penyebab autis masih misterius dan menjadi bahan
perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia. Autis adalah gangguan yang
dipengaruhi oleh multifaktorial. Tetapi sejauh ini masih belum terdapat kejelasan
secara pasti mengenai penyebab dan faktor resikonya.
Dalam keadaan seperti ini, strategi pencegahan yang dilakukan masih belum
optimal. Sehingga saat ini tujuan pencegahan mungkin hanya sebatas untuk
mencegah agar gangguan yang terjadi tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari
kejadian autis. Autisme pada dasarnya adalah suatu kelainan biologis pada
penyandangnya. Pada saat ini autisme dikategorikan sebagai biological disorder,
dalam arti bahwa autisme bukan merupakan gangguan psikologis. Lebih spesifik
dapat dikatakan bahwa autisme adalah suatu gangguan perkembangan karena adanya
kelainan pada sistem saraf penyandangnya (neurological or brain based development
disorder).
Autisme dapat terjadi pada siapa pun, tanpa membedakan warna kulit, status
sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Sampai saat ini, penyebab GSA belum
dapat ditetapkan. Negara-negara maju yang sanggup melakukan penelitian

menyatakan bahwa penyebab autisme adalah interaksi antara faktor genetik dan
mungkin berbagai paparan negatif yang didapat dari lingkungan.
Kelainan ini menimbulkan gangguan, antara lain gangguan komunikasi,
interaksi sosial, serta keterbatasan aktivitas dan minat. Autisme pada saat ini sudah
dikategorikan sebagai suatu epidemik di beberapa negara. Penanganan yang sudah
tersedia di Indonesia antara lain terapi perilaku, terapi wicara, terapi komunikasi,
terapi okupasi, terapi sensori integrasi, dan pendidikan khusus.

B. Rumusan masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian autisme?


Apa factor penyebab anak autisme?
Apa saja klasifikasi dan jenis-jenis autisme ?
Bagaimana karakteristik autisme ?
Bagaimana dampak psikologi sosial anak autisme?

C. Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

Dapat menjelaskan tentang anak autisme


Mengetahui factor penyebab anak autisme
Mengetahui klasifikasi dan jenis-jenis autisme
Menjelaskan karakteristik autisme
Menjelaskan dampak psikologi sosial anak autisme

BAB II
PEMBAHASAAN

A. Pengertian
Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang
ditujukanpada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya
sendiri".

Pada

umumnya

penyandang

autisma

mengacuhkan

suara,

penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi


biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi
sama sekali.
Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial
(pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan
sebagainya).Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan
pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner,
Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan
pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan
berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa
dan cara berkomunikasi yang aneh.Autistik adalah suatu gangguan
perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan
aktivitas imajinasi.
Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada
autistik infantil gejalanya sudah ada sejak lahir. Autis adalah gangguan
perkembangan pervasif pada bayi atau anak yang ditandai dengan adanya
gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku,
komunikasi dan interaksi sosial. Gangguan autis adalah salah satu
perkembangan pervasif berawal sebelum usia 2,5 tahunIstilah Autisme berasal
dari autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti aliran.

Autisme berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya


sendiri. Ada pula yang menyebutkan bahwa autisme adalah gangguan
perkembagan yang mencakup bidang komunnikasi, interaksi, dan perilaku.
Gejalanya mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia tiga tahun.
Gangguan autistik ditandai dengan tiga gejala utama yaitu gangguan
interakasi sosial, gangguan komunikasi, dan perilaku yang stereotipik.
Di antara ketiga hal tersebut, yang paling penting diperbaiki lebih
dahulu adalah interaksi sosial. Apabila interaksi mebaik, sering kali gangguan
komunikasi dan perilaku akan membaik secara otomatis. Banyak orang tua
yang mengharapkan anaknya segera bicara. Tanpa interaksi yang baik, bicara
yang sering kali berupa ekolalia, mengulang sesuatu yang di dengarnya.
Komunikasi juga tidak selalu identik denngan bicara. Bisa berkomunikasi
nonverbal jauh lebih baik dibandingkan dengan bicara yang tidak dapat
dimengerti olehnya.
Semantara itu menurut Mudjito, autisme ialah anak yang mengalami
gangguan

berkomunikasi

dan

berinteraksi

sosial

serta

mengalami

berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguan sesori, pola


bermain, dan emosi. Penyebannya karena antar jaringan dan fungsi otak tidak
biasa-biasa saja. Survei menunjukan, anak-anak autisme lahir dari ibu-ibu
kalangan ekonomi menengah keatas.
Ketika di kandung, asupan gizi ke ibunya tak seimbang. Hakikatnya,
anak autis memerlukan perawatan atau intervensi terapi secara dini, terpadu,
dan instensif. Dengan intervensi terapi yang sesuai, penyandang autisme dapat
mengalami perbaikan dan dapat mengatasi perilaku autistiknya sehingga
mereka dapat bergaul secara normal, tumbuh sebagai orang dewasa yang sehat
dan dapat hidup mendiri di masyarakat. Berbagai macam terapi yang dapat
menolong.

B. faktor penyebab anak autism


Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli
menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti
mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa
autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat
bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau
lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan
kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku
dan fisik termasuk autis.
Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika memegang
peranan penting pada terjadinya autistik. Bayi kembar satu telur akan
mengalami,gangguan autistik yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga
ditemukan beberapa anak dalam satu keluarga atau dalam satu keluarga besar
mengalami gangguan yang sama.Selain itu pengaruh virus seperti rubella,
toxo, herpes, jamur, nutrisi yang buruk, perdarahan, keracunan makanan, dsb
pada kehamilan dapat menghambat pertumbuhan sel otak yang dapat
menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung tergaggu terutama fungsi
pemahaman, komunikasi dan interaksi. Penelitian terungkap juga hubungan
antara gangguanpencernaan dan gejala autistik.
Ternyata lebih dari 60 % penyandang autistic ini mempunyai sistem
pencernaan yang kurang sempurna. Makanan tersebut berupa susu sapi
(casein) dan tepung terigu (gluten) yang tidak tercerna dengan sempurna.
Protein dari kedua makanan ini tidak semua berubah menjadi asam amino tapi
juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai pendek asam amino yang
seharusnya dibuang lewat urine.Ternyata pada penyandang autistik,peptida ini
diserap kembali oleh tubuh, masuk kedalam aliran darah, masuk ke otak dan
dirubah oleh reseptor opioid menjadi morphin yaitu casomorphin dan
gliadorphin, yang mempunyai efek merusak sel-sel otak dan membuat fungsi
otak terganggu.

Fungsi otak yang terkena biasanya adalah fungsi kognitif, reseptif,


atensi dan perilaku. Para ahli telah melakukan riset dan menghasilakn hipotesa
mengenai kemungkinan pemicu autisme, dan digolongkan menjadi enam
faktor, yaitu :
1. Faktor genetis atau keturunan
Gen menjadi faktor kuat yang menyebabkan anak autis. Jika dalam satu
keluarga memiliki riwayat penderita autis, maka keturunan selanjutnya
memiliki peluang besar untuk menderita autis. Hal ini di sebabkan karena
terjadi gangguan gen yang memengaruhi perkembangan, pertumbuhan dan
pembentukan selsel otak kondisi genetis pemicu autis ini bisa di sebabkan
karena usia ibu saat mengandung sudah tua atau usia ayah yang usdah tua.
Diketahui bahwa sperma laki - laki berusia tua cenderung mudah bermutasi
dan memicu timbulnya autisme. Selain itu ibu yang mengidap diabetes juga di
tengarai sebagai peicu autisme pada bayi.
2. Faktor Kandungan atau Pranatal
Kondisi kandungan juga dapat menyebabkan gejala autisme. Ini di sebabkan
oleh virus yang menyerang pada trimester pertama, yaitu virus syndroma
rubellaselain itu kesehatan lingkungan juga mempengaruhi kesehatan otaka
janin dalam kandungan. Polusi udara bedampak negatif pada perkembangan
otak dan pisik janin sehingga meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan
resiko autis bahkan bayi lahir prematur dan berat bayi kurang juga merupakan
resiko terjadinya autis.
3. Faktor kelahiran
Bayi yang lahir dengan berat renddah, prematur, dan lama dalam kandungan
( lebih dari 9 bulan ) beresiko mengidap autisme. Selain itu , bayi yang
mengalami gagal nafas (hipoksa) saat lahir juga beresiko mengalami autis.

4. Faktor Lingkungan
Bayi yang lahir sehat belum tentu tidak mengalami autisme faktor lingkungan
(eksternal) juga dapat menyebabkan bayi menderita autisme , seperti

lingkungan yang penuh tekanan dan tidak bersih. Lingkungan yang tidak
bersih dapat menyebabkan bayi alergi melalui ibu. Karena itu hindari paparan
sumber alergi berupa asap rokok, debu, atau makanan yang menyebabkan
alergi.
5. Faktor Obat
Obat untuk mengatasi rasa mual, muntah ataupun menenang yang di konsumsi
ibu hamil beresiko menyebabkan anak autis, karena itu anda harus
berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat
jenis apapun saat hamil.
6. Faktor Makanan
Zat kimia yang terkandung dalam makanan sangat berbahaya untuk
kandungan. Salah satunya, perstisida yang terpapar pada sayuran, di ketahui
bahwa pestisida mengganggu fungsi gen pada syaraf pusat, menyebabkan
anak autis

C. Klasifikasi dan jenis-jenis


1. autisme persepsi
autisme persepsi dianggap autisme asli dan disebut juga autisme internal
(endogenous) karena kelainan sudah timbul sebelum lahir, gejala yang
diamati, antara lain:
a. rangsangan dari luar baik yang kecil maupun yang kuat, akan menimbulkan
kecemasan.
b. Banyaknya pengaruh rangsangan dari orang tua, tidak bisa ditentukan.
c. Pada kondisi begini, baru orang tua mulai peduli atas kelainan anaknya,
sambil

terus

menciptakan

rangsangan-rangsangan

yang

memperberat

kebingungan anaknya, mulai berusaha mencari pertolongan. Pada saat ini si


Bapak malah sering menyalahkan Si Ibu kurang memiliki kepekaan naluri
keibuan.
2. Autisme reaktif

Pada autisme reaktif, penderita membuat gerakan-gerakan tertentu berulangulang dan kadang-kadang disertai kejang-kejang. Gejala yang dapat diamati,
antara lain:
a. Autisme ini biasa mulai terlihat pada anak usia lebih besar (6-7 tahun)
sebelum anak memasuki tahap berpikir logis. Namun demikian, bisa saja
terjadi sejak usia minggu-minggu pertama.
b. Mempunyai sifat rapuh, mudah terkena pengaruh luar yang timbul setelah
lahir, baik karena trauma fisisk atau psikis. Tetapi bukan disebabkan karena
kehilangan ibu.
Setiap kondisi, bisa saja merupakan trauma pada anak yang berjiwa rapuh ini,
sehingga mempengaruhi perkembangan normal kemudian harinya.
3.

autisme yang timbul kemudian


Kalau kelainan dikenal setelah anak agak besar tentu akan sulit memberikan
pelatihan dan pendidikan untuk mengubah perilakunya yang sudah melekat,
ditambah beberapa pengalaman baru dan mungkin diperberat dengan kelainan
jaringan otak yang terjadi setelah lahir.
a. gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal
- Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
- Mengeluarkan kata kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang
sering disebut sebagai bahasa planet.
- Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang
sesuai
- Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
- Meniru atau membeo , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian ,
nada , maupun kata katanya tanpa mengerti artinya.
- Kadang bicara monoton seperti robot
- Mimik muka datar
- Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan
bereaksi dengan cepat
b. Gangguan pada bidang interaksi social
- Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
- Anak mengalami ketulian

- Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk


- Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang
- Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan
mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya
- Bila didekati untuk bermain justru menjauh
- Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
- Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di
pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun
- Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan
terhadap orang tuanya
c. Gangguan pada bidang perilaku dan bermain
- Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan
melakukan gerakan yang sama berulang ulang sampai berjam jam
- Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara
bermainnya juga aneh
- Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil mobilan terus
menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar
- Terdapat kelekatan dengan benda benda tertentu, seperti sepotong tali,
kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana- mana
- Sering memperhatikan jari jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air
yang bergerak
- Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana
sini, melompat - lompat, berputar -putar, memukul benda berulang - ulang
d. Gangguan pada bidang perasaan dan emosi
- Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak
merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang
menangis akan di datangi dan dipukulnya
- Tertawa tawa sendiri , menangis atau marah marah tanpa sebab yang
nyata
- Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak
mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan
dekstruktif
e. Gangguan dalam persepsi sensoris
- Mencium cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
- Bila mendengar suara keras langsung menutup mata

- Tidak menyukai rabaan dan pelukan . bila digendong cenderung merosot


untuk melepaskan diri dari pelukan
- Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu

D. Dampak Psikologi Anak Autisme


1. Dampak psikologis bagi orang tua
Tidak mudah bagi orang tua untuk menerima kenyataan bahwa anaknya
mengalami

kelainan. Hilangnya

impian,

harapan,

kebingungan-

kekhawatiran atas masa depan anak, biaya financial yang harus


dikeluarkan, dan kerepotan-kerepotan lainnya merupakan beban berat
yang harus dihadapi orang tua. Semua hal tersebut sangat berpotensi
menjadi stressor dalam kehidupan dan preses interaksi dengan anak.
2. Dampak psikologis bagi anggota keluarga
Pertama dampak psikologis terhadap sang kakak pada awal kelahirannya
hal ini belum menjadi masalah. Permasalahan muncul setelah sekian lama
sang kakak menyadari bahwa dengan hadir si adik perhatian ayah, ibu dan
anggota

keluarga

yang

lain

tercurah

kepada

si

adik.

Bahkan

kecenburuannya sitambah lagi dengan perasaan kesal, menyaksikan semua


perhatian orang tua tercurah kepada adiknya yang autisme.
3. Dampak psikologis bagi lingkungan masyarakat
Umumnya anggota masyarakat belum bisa menerima penyandang autisme
dalam kelompok sosialnya. Orang tua anak normal sering melarang
anaknya bergaul dengan anak autistic. Pernah juga kejadian orang tua
anak normal memindahkan anaknya sekolah karena disekolah yang lama
terdapat anak autistic.

BAB III
Asuhan Keperawatan pada Anak Autism
A. Pengkajian
a. Identitas Klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, No. MR
b. Riwayat Kesehatan
- Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)
Pada kehamilan ibu pertumbuhan dan perkembangan otak janin terganggu.
Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan
perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme Gangguan
pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku
anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme. Gangguan persalinan
yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah : pemotongan tali
pusat terlalu cepat, Asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6 ),
komplikasi selama persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat
lahir dan erat lahir rendah ( < 2500 gram)
- Riwayat Kesehatan Sekarang (RKK)
Anak dengan autis biasanya sulit bergabung dengan anak-anak yang lain,
tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya, menghindari kontak mata atau
hanya sedikit melakukan kontak mata, menunjukkan ketidakpekaan terhadap
nyeri, lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidak membentuk

hubungan pribadi yang terbuka, jarang memainkan permainan khayalan,


memutar benda, terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda
yang sudah dikenalnya dengan baik, secara fisik terlalu.
- Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)
Dilihat dari faktor keluarga apakah keluarga ada yang menderita autisme.
c. Psikososial
- Menarik diri dan tidak responsif terhadap orang tua
- Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem
- Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek
- Perilaku menstimulasi diri
- Pola tidur tidak teratur
- Permainan stereotip
- Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain
- Tantrum yang sering
- Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu pembicaraan
- Kemampuan bertutur kata menurun
- Menolak mengonsumsi makanan yang tidak halus
d. Neurologis
- Respons yang tidak sesuai dengan stimulus
- Refleks mengisap buruk
- Tidak mampu menangis ketika lapar
e. Gastrointestinal
- Penurunan nafsu makan
- Penurunan berat badan

B. Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan diagnosa yang muncul
1. Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus
2. Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan
rawat inap di rumah sakit
3. Resiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan

C. Intervensi
Diagnosa I
Hambatan komunikasi yang berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus
Hasil yang diharapkan :
Anak mengomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau
gerakan tubuh yang sederhana dan konkret.

Intervensi
Rasional
1.
Ketika berkomunikasi dengan anak,
1.
Kalimat yang sederhana dan diulangbicaralah dengan kalimat singkat ulang mungkin merupakan satu-satunya
yang terdiri atas satu hingga tiga kata, cara berkomunikasi karena anak yang
dan ulangi perintah sesuai yang autistik

mungkin

diperlukan. Minta anak untuk melihat mengembangkan

tidak
tahap

mampu
pikiran

kepada anda ketika anda berbicara operasional yang konkret. Kontak mata
dan pantau bahasa tubuhnya dengan langsung
cermat.

mendorong

anak

berkonsentrasi pada pembicaraan serta


menghubungkan pembicaraan dengan
bahasa

dan

komunikasi.

Karena

artikulasi anak yang tidak jelas, bahasa


tubuh dapat menjadi satu-satunya cara
baginya
pengenalan
2.

untuk
atau

mengomunikasikan
pemahamannya

terhadap isi pembicaraan


Gunakan irama, musik, dan gerakan
2.
Gerakan fisik dan suara membantu
tubuh

untuk

membantu anak mengenali integritas tubuh serta

perkembangan komunikasi sampai batasan-batasannya


anak dapat memahami bahasa
3.

mendoronnya terpisah dari objek dan

orang lain
Bantu anak mengenali hubungan
3.
Memahami konsep penyebab dan
antara sebab dan akibat dengan cara efek
menyebutkan
khusus

dan

perasaannya

membantu

anak

membangun

yang kemampuan untuk terpisah dari objek

mengidentifikasi serta orang lain dan mendorongnya

penyebab stimulus bagi mereka


4.

sehingga

mengekpresikan

kebutuhan

serta

perasaannya melalui kata-kata


Ketika berkomunikasi dengan anak,
4.
Biasanya anak austik tidak mampu
bedakan kenyataan dengan fantasi, membedakan antara realitas dan fantasi,
dalam pernyataan yang singkat dan dan gagal untuk mengenali nyeri atau

jelas

sensasi lain serta peristiwa hidup


dengan

cara

yang

bermakna.

Menekankan perbedaan antara realitas


dan

fantasi

mengekpresikan

membantu

anak

kebutuhan

serta

perasaannya.
Diagnosa II
Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan rawat
inap di RS.
Hasil yang diharapkan
Anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau perilaku
merusak diri sendiri, yang ditandai oleh frekuensi tantrum dan sikap agresi atau
destruktif bekurang, serta peningkatan kemampuan mengatasi frustasi
Intervensi
Rasional
1.
Sediakan lingkungan kondusif dan
1.
Anak yang austik dapat berkembang
sebanyak

mungkin

rutinitas melalui lingkungan yang kondusif dan

sepanjang periode perawatan di RS

rutinitas, dan biasanya tidak dapat


beradaptasi terhadap perubahan dalam
hidup

mereka.

Mempertahankan

program yang teratur dapat mencegah


perasaan frustasi, yang dapat menuntun
2.

Lakukan

intervensi

pada ledakan kekerasan


keperawatan
2.
Sesi yang singkat

dan

sering

dalam sesingkat dan sering. Dekati memungkinkan anak mudah mengenal


anak dengan sikap lembut, bersahabat perawat serta lingkungan rumah sakit.
dan jelaskan apa yang anda akan Mempertahankan sikap tenang, ramah
lakukan dengan kalimat yang jelas, dan mendemontrasikan prosedur pada

dan sederhana. Apabila dibutuhkan, orang

tua,

dapat

membantu

anak

demontrasikan prosedur kepada orang menerima intervensi sebagai tindakan


tua.
3.

yang

Gunakan

restrain

tidak

mengancam,

dapat

mencegah perilaku destruktif


selama
3.
Restrain fisik dapat mencegah anak

fisik

prosedur ketika membutuhkannya, dari tindakan mencederai diri sendiri.


untuk memastikan keamanan anak Biarkan anak terlibat dalam perilaku
dan untuk mengalihkan amarah dan yang
frustasinya,

misalnya

tidak

terlalu

membahayakan,

untuk misalnya membanding bantal, perilaku

mencagah anak dari membenturkan semacam

ini

memungkinkan

kepalanya ke dinding berulang-ulang, menyalurkan

amarahnya,

serta

restrain badan anak pada bagian mengekpresikan

frustasinya

dengan

atasnya, tetapi memperbolehkan anak cara yang aman


4.

untuk memukul bantal


Gunakan teknik modifikasi perilaku
4.

Pemberian imbalan dan hukuman

yang tepat untuk menghargai perilaku dapat membantu mengubah perilaku


positif dan menghukum perilaku yang anak dan mencegah episode kekerasan
negatif. Misalnya, hargai perilaku
yang positif dengan cara memberi
anak

makanan

atau

mainan

kesukaannya, beri hukuman untuk


perilaku yang negatif dengan cara
mencabut hak istimewanya
5.
Ketika anak berperilaku destruktif,
5.
tanyakan

apakah

menyampaikan
apakah

ia

ia

sesuatu,

ingin

mencoba menunjukkan perasaan stres meningkat,


misalnya kemungkinan muncul dari kebutuhan

sesuatu

untuk untuk mengomunikasikan sesuatu.

dimakan atau diminum atau apakah ia


perlu pergi ke kamar mandi

Setiap peningkatan perilaku agresif

Diagnosa III
Resiko perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan gangguan
Hasil yang diharapkan
Orang tua mendemontrasikan keterampilan peran menjadi orang tua yang tepat yang
ditandai oleh ungkapan kekhawatiran mereka tentang kondisi anak dan mencari
nasihat serta bantuan
Intervensi
1.
Anjurkan

orang

mengekpresikan

tua

Rasional
untuk
1.
Membiarkan

perasaan

dan mengekpresikan

kekhawatiran mereka

orang

tua

perasaan

dan

kekhawatiran mereka tentang kondisi


kronis

anak

membantu

mereka

beradaptasi terhadap frustasi dengan


lebih
2.

baik,

suatu

kondisi

yang

tampaknya cenderung meningkat


Rujuk orang tua ke kelompok
2.
Kelompok
pendukung
pendukung autisme setempat dan memperbolehkan orang tua menemui
kesekolah khusus jika diperlukan

orang tua dari anak yang menderita


autisme untuk berbagi informasi dan

3.

Anjurkan

orang

tua

mengikuti konseling (bila ada)

memberikan dukungan emosioanl


untuk
3.
Kontak dengan kelompok swabantu
membantu

orang

tua

memperoleh

informasi tentang masa terkini, dan


perkembangan

yang

berhubungan

dengan autism

D. Implementasi
Setelah rencana disusun , selanjutnya diterapkan dalam tindakan yang nyata
untuk mencapai hasil yang diharapkan. Tindakan harus bersifat khusus agar

semua perawat dapat menjalankan dengan baik, dalam waktu yang telah
ditentukan. Dalam implementasi keperawatan perawat langsung melaksanakan
atau dapat mendelegasikan kepada perawat lain yang dipercaya

E. Evaluasi
Merupakan tahap akhir dimana perawat mencari kepastian keberhasilan yang
dibuat dan menilai perencanaan yang telah dilakukan dan untuk mengetahui
sejauh mana masalah klien teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan
umpan balik atau pengkajian ulang jika yang ditetapkan belum tercapai dalam
proses keperawatan

BAB IV
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada bayi atau anak yang

ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa,
perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Gangguan autis adalah salah satu
perkembangan pervasif berawal sebelum usia 2,5 tahun (Devision, 2006).
Autisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di bawah ini adalah faktor
faktor yang menyebabkan terjadinya autis menurut Kurniasih (2002) diantaranya
yaitu : Faktor Genetik, Faktor Cacat (kelainan pada bayi), Faktor Kelahiran dan
Persalinan

B.

Saran
Besar harapan kelompok agar makalah ini dapat dijadikan salah satu panduan

memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan autisme

DAFTAR PUSTAKA

Azwandi, yosfan. 2005. Mengenal Dan Membantu Penyandang Autisme. Jakarta.


Direktorat jendral pendidikan tinggi.
Mansjoer, Aris, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius : Jakarta
Ngastiyah, 1997. Perawatan Anak Sakit. Buku Kedokteran EGC : Jakarta
Diposkan oleh Ns. Weddy Martin, S. Kep di 23.10
Yatim, Faisal. 2003. Austisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak- anak. Jakarta:
pustaka popular obor.