Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEBIDANAN PADA WANITA USIA SUBUR

DALAM MASA PRAKONSEPSI


DI PUSKESMAS MEDOKAN AYU SURABAYA

Oleh :
Hanifah Fitri

NIM. 011513243087

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIDAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Pengesahan Laporan Pendahuluan Asuhan Kebidanan Pada Wanita Subur Dalam
Masa Prakonsepsi di PKM Medokan Ayu
Nama : Hanifah Fitri
NIM

: 01513243087
Surabaya,

November 2016
Mahasiswa,

Hanifah Fitri
NIM. 015132087
Mengetahui,

Pembimbing Pendidikan PSPB


FK UNAIR Surabaya

Pembimbing Klinik
Poli KIA Puskesmas Medokan Ayu

Rize Budi Amalia, S.Keb.Bd, M.Kes


NIK. 139111397

Agustin Indriyanti S.ST


NIP. 19740811 200501 2 007

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Asuhan prakonsepsi merupakan asuhan yang diberikan pada
perempuan sebelum terjadi konsepsi. Asuhan ini diberikan sebelum kehamilan
dengan sasaran mempermudah wankita mencapai tingkat kesehatan optimal
sebelum ia hamil. wanita hamil yang sehat memiliki kemungkinan lebih besar
untuk memiliki bayi yang sehat. Idealnya, semua kehamilan adalah hal yang
terencana dan setiap bayi berada dalam lingkungan yang sehat. asuhan
prakonsepsi memiliki banyak

keuntungan dan variasi, antara lain:

memungkinkan identifikasi penyakit medis; pengkajian kesiapan psikologis,


keuangan, dan pencapaian tujuan hidup.
Dalam mewujudkan kehamilan yang ideal butuh serangkaian
persiapan. Salah satu persiapan yang harus disiapkan adalah pemeriksaan fisik
atau pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan pada masa prakonsepsi
atau hamil khususnya pada wanita akan mengurangi angka kesakitan dan
kematian ibu dan anak. Beberapa penyakit yang kemungkinan menganggu
proses kehamilan dapat dideteksi secara dini sehingga keadaan yang lebih
buruk dapat cepat dihindari ( Cunningham, 2012).
Selama ini, persiapan prakonsepsi berupa konseling dengan tenaga
kesehatan masih tabu dilakukan. Padahal untuk membentuk generasi dan
masyarakat yang berkualitas dimulai dari pernikahan yang sehat.
Bidan sebagai tenaga kesehatan tidak hanya berperan dalam
melakukan tindakan medis, tetapi memiliki peran sebagai konselor. Dengan
dilakukanya konseling khususnya pada wanita usia subur, diharapkan dapat
terwujudnya kehamilan yang ideal guna mewujudkan keluarga berkualitas

Berdasarkan alasan yang telah diuraikan datas, penulis tertarik


mengangkat asuhan kebidanan pranikah pada WUS sebagai topik laporan
komprehensif suhan kebidanan pada prakonsepsi

Tujuan
1.1.1 Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan yang tepat pada wanita usia subur
dalam persiapan prakomsepsi
1.1.2

Tujuan Khusus
1.
Mahasiswa mampu menjelaskan dasar teori prakonsepsi.
2.
Mahasiswa mampu menjelaskan konsep asuhan kebidanan pada wanita
3.

usia subur dalam perencanaan kehamilan.


Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada wanita usia subur

4.

dalam perencanaan kehamilan .


Mahasiswa mampu melakukan pendokumentasian hasil asuhan

5.

kebidanan pada wanita usia subur dalam perencanaan kehamilan.


Mahasiswa mampu melakukan pembahasan berdasarkan teori dan kasus.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1

Definisi Prakonsepsi
Prakonsepsi terdiri dari dua kata yaitu pra dan konsepsi. Pra berarti
sebelum dan konsepsi berarti pertemuan sel ovum dengan sperma sehingga
terjadi pembuahan. Jadi prakonsepsi berarti sebelum terjadi pertemuan sel
sperma dengan ovum atau pembuahan atau sebelum hamil. Periode prakonsepsi
adalah rentang waktu dari tiga bulan hingga satu tahun sebelum konsepsi, tetapi
idealnya harus mencakup waktu saat ovum dan sperma matur, yaitu sekitar 100

2.2
2.2.1

hari sebelum konsepsi.


Menstruasi
Pengertian Menstruasi
Menstruasi merupakan perdarahan secara periodik dan siklik dari
uterus yang disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Wiknjosastro,
2005).
Sementara menurut Prawirohardjo (2011:161) pendarahan haid
merupakan hasil interaksi kompleks yang melibatkan sistem hormon dengan
organ tubuh, yaitu hipotalamus, hipofise, ovarium, dan uterus serta faktor lain

di luar organ reproduksi


2.2.1 Siklus Menstruasi
Normal Panjang siklus menstruasi ialah jarak antara tanggal mulainya
menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya. Hari mulainya
perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Umumnya, jarak siklus menstruasi
berkisar dari 15-45 hari dengan rata-rata 28 hari. Lamanya berbeda-beda antara
2-8 hari, dengan rata-rata 4-6 hari (Price & Wilson, 2006:1281). Panjang daur
menstruasi dapat bervariasi pada satu wanita selama saat-saat yang berbeda
dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan tergantung pada berbagai hal,
termasuk kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita tersebut (Wiknjosastro,
2005). Darah menstruasi biasanya tidak membeku. Jumlah kehilangan darah tiap

siklus berkisar 60-80 ml. Kira-kira tiga per empat darah ini hilang dalam dua
hari pertama. Wanita berusia.35 tahun (Benson, 2009).
Price & Wilson (2006:1281) membagi siklus menstruasi menjadi dua
yaitu siklus ovarium dan endometrium dimana kedua siklus tersebut saling
mempengaruhi.
a. Siklus Ovarium
1) Fase Folikular
Siklus diawali hari pertama menstruasi, atau terlepasnya endometrium.
FSH merangsang pertumbuhan beberapa folikel primordial dalam ovarium.
Umumnya hanya satu terus berkembang dan menjadi folikel deGraaf dan yang
lainnya berdegenerasi. Folikel terdiri dari sebuah ovum dan dua lapisan sel yang
mengelilinginya. Lapisan dalam yaitu sel-sel granulosa mensintesis progesteron
yang disekresi ke dalam cairan folikular selama paruh pertama siklus menstruasi,
dan bekerja sebagai prekusor dalam sintesis estrogen oleh lapisan sel teka
interna yang mengelilinginya.
Estrogen disintesis dalam sel-sel lutein pada teka interna. Jalur
biosintesis estrogen berlangsung dari progesteron dan pregnenolon melalui 17hidroksilasi turunan dari androstenedion, testosteron dan estradiol. Kandungan
enzim aromatisasi yang tinggi pada sel-sel ini mempercepat perubahan androgen
menjadi estrogen. Folikel, oosit primer mulai menjalani proses pematangannya.
Pada waktu yang sama, folikel yang sedange strogen yang meningkat
menyebabkan pelepasan LHRH melalui mekanisme umpan balik positif.
2) Fase Luteal
LH merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Tepat sebelum ovulasi,
oosit primer selesai menjalani pembelahan meiosis pertamanya. Kadar estrogen
yang tinggi kini menghambat produksi FSH.
Kemudian kadar estrogen mulai menurun. Setelah oosit terlepas dari
folikel deGraaf, lapisan granulosa menjadi banyak mengandung pembuluh darah
dan sangat terluteinisasi, berubah menjadi korpus luteum yang berwarna kuning
pada ovarium. Korpus luteum terus mensekresi sejumlah kecil estrogen dan
progesteron yang semakin lama semakin meningkat.
b. Siklus Endometrium

1) Fase Proliferasi
Segera setelah menstruasi, endometrium dalam keadaan tipis dan dalam
stadium istirahat. Stadium ini berlangsung kira-kira selama 5 hari. Kadar
estrogen yang meningkat dari folikel yang berkembang akan merangsang stroma
endometrium untuk mulai tumbuh dan menebal, kelenjar-kelenjar menjadi
hipertropi dan berproliferasi, dan pembuluh darah menjadi banyak sekali.
Kelenjar-kelenjar dan stroma berkembang sama cepatnya. Kelenjar makin
bertambah panjang tetapi tetap lurus dan berbentuk tubulus. Epitel kelenjar
berbentuk toraks dengan sitoplasma eosinofilik yang seragam dengan inti di
tengah. Stroma cukup padat pada lapisan basal tetapi makin ke permukaan
semakin longgar. Pembuluh darah akan mulai berbentuk spiral dan lebih kecil.
Lamanya fase proliferasi sangat berbeda-beda pada setiap orang dan berakhir
2)

pada saat terjadinya ovulasi.


Fase Sekresi
Setelah ovulasi, dibawah pengaruh progesteron yang meningkat dan
terus diproduksinya estrogen oleh korpus luteum, endometrium menebal dan
menjadi seperti beludru. Kelenjar menjadi lebih besar dan berkelok-kelok, dan
epitel kelenjar menjadi berlipat-lipat, sehingga memberikan seperti gambaran
gigi gergaji. Inti sel bergerak ke bawah, dan permukaan epitel tampak kusut.
Stroma menjadi edematosa. Terjadi pula infiltrasi leukosit yang banyak dan
pembuluh darah menjadi makin berbentuk spiral dan melebar. Lamanya fase
sekresi pada setiap perempuan 142 hari. 3) Fase Menstruasi Korpus luteum
berfungsi sampai kira-kira hari ke-23 atau 24 pada siklus 28 hari dan kemudian
mulai beregresi. Akibatnya terjadi penurunan progesteron dan estrogen yang
tajam sehingga menghilangkan perangsangan pada endometrium. Perubahan
iskemik terjadi pada arteriola dan diikuti dengan menstruasi.

2.3

Pemeriksaan Kesehatan Prakonsepsi


Persiapan Medis merupakan salah satu dari rangkaian persiapan yang
perlu dilakukan, hal ini sangat disarankan oleh kalangan medis serta para
penganjur dan konsultan prakonsepsi. Karena Sebagian besar masyarakat
umumnya tidak sepenuhnya mengetahui status kesehatannya secara detail,
apalagi bagi yang tidak melaksanakan general check up rutin tahunan. Seseorang
yang terlihat sehat bisa saja sebenarnya adalah silent carrier/pembawa dari
beberapa penyakit infeksi dan hereditas dan saat hamil dapat mempengaruhi
janin atau bayi yang dilahirkannya nanti (Purba, 2014)

Pemeriksaan kesehatan prakonsepsi adalah sekumpulan pemeriksaan


untuk memastikan status kesehatan pasangan, terutama untuk mendeteksi adanya
penyakit menular, menahun, atau diturunkan yang dapat mempengaruhi
kesuburan pasangan maupun kesehatan janin. Dengan melakukan pemeriksaan
kesehatan prakonsepsi berarti kita dan pasangan dapat melakukan tindakan
pencegahan terhadap masalah kesehatan terkait kesuburan dan penyakit yang
2.3.2

diturunkan secara genetik (Prodia, 2014).


Jenis Pemeriksaan Kesehatan Prakonsepsi
Pemeriksaan kesehatan prakonsepsi

jenisnya

bermacam-macam.

Pemeriksaan disesuaikan dengan gejala tertentu yang dialami pasangan secara


1

jujur berani dan objektif. Pemeriksaan tersebut anatara lain:


Pemeriksaan hematologi rutin (darah) dan analisa hemoglobin
Pengecekan darah diperlukan khususnya untuk memastikan calon ibu
tidak mengalami talasemia, infeksi pada darah dan sebagainya. Dalam
pengalaman medis, kadangkala ditemukan gejala anti phospholipid syndrome
(APS), yaitu suatu kelainan pada darah yang bisa mengakibatkan sulitnya
menjaga kehamilan atau menyebabkan keguguran berulang. Jika ada kasus
seperti itu, biasanya para dokter akan melakukan tindakan tertentu sebagai
langkah,

sehingga

pada

saat

mempertahankan bayinya.
Pasangan juga diminta

pasangan
untuk

perempuan
melakukan

hamil

dia

dapat

pemeriksaan

darah

anticardiolipin antibody (ACA). Penyakit yang berkaitan dengan hal itu bisa
mengakibatkan aliran darah mengental sehingga darah si ibu sulit mengirimkan
makanan kepada janin yang berada di dalam rahimnya. Selain itu jika salah satu
pasangan memiliki catatan down syndrome karena kromosom dalam
keluarganya, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih intensif lagi.
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi
sebagai media transportasi oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan
membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paruparu. Kandungan zat besi
yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah. Dalam
menentukan normal atau tidaknya kadar hemoglobin seseorang, harus

memperhatikan faktor umur, walaupun hal ini berbedabeda di tiap laboratorium


klinik, yaitu: Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl, Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl,
Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl, Anak anak : 11-13 gram/dl, Lelaki dewasa : 1418 gram/dl, Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl, Lelaki tua : 12.4-14, gram/dl,
Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah
dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab anemia diantaranya yang
paling sering adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang,
pengobatan kemoterapi dan penyakit sistemik (kanker, lupus, dan lain-lain).
Sedangkan kadar hemoglobin yang tinggi dapat dijumpai pada orang yang
tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok. Beberapa penyakit seperti radang
2.

paru paru, tumor, preeklampsi, hemokonsentrasi, dan lain-lain.


Pemeriksaan Rhesus Rh
Rhesus berfungsi sama dengan sidik jari yaitu sebagai penentu. Setelah
mengetahui golongan darah seseorang seperti A, B, AB, atau O rhesusnya juga
ditentukan untuk mempermudah identifikasi (+ atau -). Rhesus adalah sebuah
penggolongan atas ada atau tiadanya substansi antigen-D pada darah. Rhesus
positif berarti ditemukan antigen-D dalam darah dan rhesus negatif berarti tidak
ada antigen-D.
Umumnya, masyarakat Asia memiliki rhesus positif, sedangkan
masyarakat Eropa ber-rhesus negatif. Terkadang, suami istri tidak tahu rhesus
darah pasangannya, padahal perbedaan rhesus bisa memengaruhi kualitas
keturunan. Jika seorang perempuan rhesus negatif menikah dengan laki-laki
rhesus positif, janin bayi pertama mereka memiliki kemungkinan ber-rhesus
negatif atau positif. Jika janin bayi memiliki rhesus negatif, tidak bermasalah.
Tetapi, bila ber-rhesus positif, masalah mungkin timbul pada kehamilan
berikutnya. Bila ternyata pada kehamilan kedua, janin yang dikandung berrhesus positif, hal ini bisa membahayakan. Antibodi anti-rhesus ibu dapat

3.

memasuki sel darah merah janin dan mengakibatkan kematian janin.


Pemeriksaan Gula Darah

Pemeriksaan ini bermanfaat untuk mengatahui adanya penyakit kencing


manis (Diabetes Melitus) dan juga penyakit penyakit metabolik tertentu. Ibu
hamil yang menderita diabetes tidak terkontrol dapat mengalami beberapa
masalah seperti: janin yang tidak sempurna/cacat, hipertensi, hydramnions
(meningkatnya cairan ketuban), meningkatkan resiko kelahiran prematur, serta
macrosomia (bayi menerima kadar glukosa yang tinggi dari Ibu saat kehamilan
4.

sehingga janin tumbuh sangat besar).


Pemeriksaan HBsAG (Hepatitis B Surface Antigen)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi virus
hepatitis B, diagnosis hepatitis B, screening pravaksinasi dan memantau
clearence virus. Selain itu pemeriksaan ini juga bermanfaat jika ditemukan salah
satu pasangan menderita hepatitis B maka dapat diambil langkah antisipasi dan

5.

pengobatan secepatnya.
Pemeriksaan VDLR (Venereal Disease Research Laboratory)
Pemeriksaan ini merupakan jenis pemeriksaan yang bertujuan untuk
mendeteksi kemungkinan ada atau tidaknya infeksi penyakit herpes, klamidia,
gonorea, hepatitis dan sifilis pada pasangan, sehingga bisa dengan segera
menentukan terapi yang lebih tepat jika dinyatakan terjangkit penyakit tersebut.
Selain itu pemeriksaan ini juga berguna untuk mengetahui ada atau tidaknya

6.

penyakit yang bisa mempengaruhi kesehatan ibu hamil maupun janinnya.


Pemeriksaan TORCH
Kasus yang paling banyak terjadi pada calon ibu khususnya di Indonesia
dari hasil analisa data medis adalah terjangkitnya virus toksoplasma. Virus ini
biasanya disebabkan seringnya mengkonsumsi daging yang kurang matang atau
tersebar melalui kotoran atau bulu binatang peliharaan. Oleh karena itu
diperlukan pemeriksaan toksoplasma, rubella, virus cytomegalo, dan herpes
yaitu yang biasa disingkat dengan istilah pemeriksaan TORCH. Kelompok
penyakit ini sering kali menyebabkan masalah pada ibu hamil (sering

7.

keguguran), bahkan infertilitas (ketidaksuburan), atau cacat bawaan pada anak.


Pemeriksaan Urin

Pemeriksaan ini bermanfaat untuk mendiagnosis dan memantau kelainan


ginjal atau saluran kemih selain itu bisa untuk mengetahui adanya penyakit
metabolik atau sistemik. Penyakit infeksi saluran kemih saat kehamilan beresiko
baik bagi Ibu dan bayi berupa kelahiran prematur, berat janin yang rendah dan
8.

resiko kematian saat persalinan.


Pemeriksaan Sperma
Pemeriksaan sperma dilakukan guna memastikan kesuburan pasangan
laki-laki. Pemeriksaan sperma dilakukan dalam tiga kategori yaitu jumlah
sperma, gerakan sperma, dan bentuk sperma. Sperma yang baik menurut para
ahli, jumlahnya harus lebih dari 20 juta setiap cc-nya dengan gerakan lebih dari

50% dan memiliki bentuk normal lebih dari 30%.29.


Pemeriksaan Infeksi Saluran Reproduksi atau Infeksi Menular Seksual
(ISR/IMS)
Pemeriksaan ini ditujukan untuk menghindari adanya penularan penyakit
yang ditimbulkan akibat hubungan seksual, seperti sifilis (penyakit raja singa),
gonore (gonorrhea, kencing nanah), Human Immunodeficiency Virus (HIV,

10.

penyebab AIDS).
Pemeriksaan Gambaran Tepi Darah
Pemeriksaan ini bermanfaat untuk menunjukkan adanya proses
penghancuran darah (hemolitik) dan termasuk salah satu pemeriksaan penyaring

11.

untuk penyakit kelainan darah.


Foto Thorax dan EKG
Pemeriksaan ini bermanfaat untuk melihat keadaan jantung dan paru paru
serta untuk mendeteksi adanya kelainan jantung.
(Rosiati, 2010)

2.3.3. Tujuan dan Manfaat Pemeiksaan Kesehatan Prakonsepsi


Pemeriksaan kesehatan prakonsepi tidak hanya bermanfaat bagi suami
dan istri yang menjalani pemeriksaan tersebut, tapi juga bermanfaat bagi
keturunan mereka guna mencegah penyakit atau kelainan yang mungkin timbul
pada keturunan mereka nantinya. Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada kedua
pasangan karena penyakit keturunan dapat diturunkan dari kedua belah pihak,
baik dari suami maupun istri. Meskipun secara fisik kelihatan baik dan bebas

dari penyakit, tetapi masih dimungkinkan salah satu pihak mempunyai gen
penyakit keturunan yang akan berpindah kepada anak-anaknya. Janin
bergantung pada kualitas sel sperma yang ada pada laki-laki dan kualitas ovum
(indung telur) yang ada pada perempuan tersebut. Kemudian lahirlah anak yang
mirip dengan kedua ibu bapaknya, baik tubuh (fisik) maupun akalnya.34
Tujuan utama melakukan pemeriksaan kesehatan konsepsi adalah untuk
membangun keluarga sehat sejahtera dengan mengetahui kemungkinan kondisi
kesehatan anak yang akan dilahirkan termasuk soal genetik, penyakit kronis,
penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan keturunan bukan

1.

karena kecurigaan dan juga bukan untuk mengetahui keperawanan.


Manfaat tes kesehatan sebelum prakonsepsi antara lain:
Sebagai tindakan pencegahan yang sangat efektif untuk mengatasi timbulnya

2.

penyakit keturunan dan penyakit berbahaya lain yang berpotensi menular.


Sebagai tindakan pencegahan yang efektif untuk membendung penyebaran
penyakit-penyakit menular yang berbahaya di tengah masyarakat. Hal ini juga

3.

akan berpengaruh positif bagi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.


Sebagai upaya untuk menjamin lahirnya keturunan yang sehat dan berkualitas
secara fisik dan mental. Sebab, dengan tes kesehatan ini akan diketahui secara

4.
5.

dini tentang berbagai penyakit keturunan yang diderita oleh kedua pasangan.
Mengetahui tingkat kesuburan masing-masing pasangan.
Memastikan tidak adanya berbagai kekurangan fisik maupun psikologis pada diri
masing-masing pasangan yang dapat menghambat tercapainya tujuan-tujuan

6.

mulia pernikahan.
Memastikan tidak adanya penyakit-penyakit berbahaya yang mengancam

7.

keharmonisan dan keberlangsungan hidup pernikahan terjadi.


Sebagai upaya untuk memberikan jaminan tidak adanya bahaya yang
mengancam kesehatan masing-masing pasangan yang akan ditimbulkan oleh

persentuhan atau hubungan seksual di antara mereka.


(Mia, 2008).
2.3.4 Kelainan Genetik Yang dapat dicegah dengan Pemeriksaan Kesehatan
Prakonsepsi

Selain itu juga sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit terutama


penyakit keturunan dan penyakit menular seksual (PMS), seperti HIV/AIDS.
1.

Sebagian jenis penyakit keturunan antara lain: (Fanjari, 2000)


Talasemia, yaitu sejenis anemia bersifat haemolyobik yang menurun dan
terdapat dalam satu lingkaran keluarga. Dalam penyakit ini, sang ayah dan ibu
bebas dari penyakit, tetapi semua anak-anak terkena pembiakan yang cepat pada
butir-butir darah merah. Hal ini menyebabkan mereka kekurangan darah. Mereka
membutuhkan donor secara teratur sepanjang hidupnya. Jenis penyakit ini

2.

termasuk berbahaya dan setiap saat membunuh penderita.


Hemofolia, yaitu penyakit darah dimana darah kurang mempunyai daya beku,
sehingga mudah terjadi pendarahan terus menerus. Luka sedikit saja mungkin
akan banyak menyebabkan pendarahan. Penyakit keturunan ini akan berpindah
melalui perempuan, akan tetapi penyakitnya diderita oleh anak laki-laki dan

3.

bukan anak perempuan. Satu bentuk penyakit yang sulit ditemukan obatnya.
RH Faktor, yaitu penyakit kekurangan darah. Penyakit keturunan ini akan terjadi
jika darah sang ibu yang negatif bertentangan dengan darah sang suami yang
positif. Jika anak lahir dengan selamat, maka bayi itu akan menderita keracunan
darah, dan sebagian dari anak-anak tersebut perlu pencucian darah secara total

2.4.
2.4.1

sekurang-kurang sebulan sekali.


Imunisasi Tetanus
Pengertian Tetanus
Definisi tetanus
Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin
yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang
periodik dan berat. Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik
yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang
diproduksi oleh Clostridium tetani.
Tetanus disebut juga dengan "Seven day Disease ". Dan pada tahun 1890,
diketemukan toksin seperti strichnine, kemudian dikenal dengan tetanospasmin,
yang diisolasi dari tanah anaerob yang mengandung bakteri. lmunisasi dengan
mengaktivasi derivat tersebut menghasilkan pencegahan dari tetanus. ( Nicalaier

1884, Behring dan Kitasato 1890 ). Spora Clostridium tetani biasanya masuk
kedalam tubuh melalui luka pada kulit oleh karena terpotong , tertusuk ataupun
2.4.2

luka bakar serta pada infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum ).


Jenis dan vaksinasi TT
Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan
sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus (Idanati, 2005). Vaksin
Tetanus yaitu vaksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian
dimurnikan (Setiawan, 2006). Vaksinasi yang digunakan untuk imunisasi aktif
kemasan tunggal vaksin tetanus texoid (TT) kombinasi defteri (DI) kombinasi
defteri tetanus pertusis (DPT) vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif ATS
(Anti Tetanus Serum) dapat digunakan untuk pencegahan maupun pengobatan

2.4.3

penyakit tetanus
Tujuan Imunisasi Tetanus Toksoid
Tujuan diberikan imunisasi tetanus toksoid antara lain : untuk
melindungi bayi baru lahir tetanus Neonaturum, melindung ibu terhadap
kemungkinan tetanus apabila terluka, pencegahan penyakit pada ibu hamil dan
bayi kebal terhadap kuman tetanus, serta untuk mengeliminasi penyakit Tetanus
pada bayi baru lahir.
Tetanus toxoid (T) akan merangsang pembentukan antibodi spesifik
yang mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu
hamil yang mendapatkan imunisasi TT dalam tubuhnya akan membentuk
antibodi tetanus. Seperti difteri, antibodi tetanus termasuk dalam golongan
imuno globulin G (IgG) yang mudah melewati plasenta, masuk dan menyebar
melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin, yang akan mencegah

2.4.4

terjadinya tetanus neonatorum (Saifuddin, 2006).


Jadwal pemberian imunisasi TT CPW
Dimasa mendatang diharapkan setiap perempuan telah menghadapi
imunisasi tetanus 5 kali, sehingga daya perlindungan terhadap tetanus seumur
hidup, dengan demikian bayi yang dikandung kelak akan terlindung dari
penyakit tetanus neonatorum. Bentuk vaksin TT cair agak putih keruh dalam vial
dosis 0,5 ml/ dalam di olutus maxi atau lengan.

Dosis

%
Perlindungan

Saat Pemberian

Lama
Perlindungan

TT I

Pada saat kunjungan pertama atau


sedini mungkin pada kehamilan

0%

1 tahun

TT II

Minimal 4 minggu setelah TT I

80 %

3 tahun

TT III

Minimal 6 bulan setelah TT II atau


selama kehamilan berikutnya

95 %

5 tahun

TT
IV

Minimal setahun setelah


kehamilan berikutnya

III

99 %

10 tahun

TT V

Minimal setahun setelah TT kehamilan


berikutnya

99%

TT

25 tahun/
selama seumur
hidup
Jarak waktu yang panjang antara pemberian imunisasi TT dengan saat

kelahiran bayi dapat mempertinggi respon imunologik dan diperoleh cukup


waktu agar antibodi di dalam tubuh ibu berpindah ke tubuh bayi ( Saifuddin,
2006 ). Dengan mengetahui status imunisasi TT bagi wanita usia subur
diharapkan dapat membantu program imunisasi dalam penurunan kasus penyakit
2.4.5

tetanus khususnya bagi bayi yang baru lahir.


Efek Samping Imunisasi TT
Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan
pembengkakan pada tempat suntikan. Hal inni akan berlangsung sekitar 1-2 hari
dan akan sembuh tanpa dilakukan pengobatan. TT adalah antigen yang sangat
aman dan juga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila
ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin ,2006).
Imunisasi TT memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus
ATS (Anti Tetanus Serum). vaksinasi TT juga salah satu syarat yang harus
dipenuhi saat mengurus surat-surat menikah di KUA (Kantor Urusan Agama).
Imunisasi TT diberikan kepada pasangan wanita dengan tujuan untuk
melindungi bayi yang akan dilahirkan dari penyakit Tetanus Neonetorum. Vaksin
ini disuntikkan pada otot paha atau lengan dengan dosis 0,5mL. Efek samping

pada imunisasi TT adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa
kemerahan, pembengkakan, dan rasa nyeri (Gunawan Rahman 2006)
Banyak anggapan bahwa imunisasi TT bisa membuat seseorang menjadi
mandul dan ada juga orang-orang yang beranggapan bahwa imunisasi TT
merupakan alat kontrasepsi atau KB, akan tetapi anggapan-anggapan itu adalah
tidak benar. Pemerintah bermaksud mencanangkan gerakan imunisasi TT untuk
melindungi bayi baru lahir dari risiko terkena Tetanus Neonatorum. Tetanus
neonatorum merupakan salah satu penyebab kematian neonatal di Indonesia,
sekitar 40 persen kematian bayi terjadi pada masa neonatal. Salah satu strategi
Kemenkes RI untuk mencapai eliminasi tetanus neonatorum adalah dengan
melakukan imunisasi tetanus toxoid (TT) pada ibu hamil.
2.5

Cara Mendapatkan anak dengan jenis kelamin tertentu


Berikut beberapa teori sekitar cara mendapatkan anak dengan jenis
kelami tertentu yang dipaparkan Nugroho yakni Teori Akihito. Seperti diketahui,
laki-laki dalam hal ini sel sperma ada yang memiliki kromosom seks jenis X dan
Y. sedangkan wanita punya 2 kromosom seks yang sama yaitu X dan X. Bila
dalam berhubungan intim, sperma X membuahi sel telur maka terjadilah
pertemuan kromosom X dengan X, sehingga yang didapat adalah bayi
perempuan (XX). Sebaliknya bila sperma Y yang membuahi sel telur, maka
kromosom Y akan bertemu kromosom X sehingga akan mendapat bayi laki-laki
(XY). Anak laki-laki bisa diperoleh jika sperma Y lebih dulu membuahi sel
telur. Sedangkan untuk mendapatkan anak perempuan maka sperma X yang
harus lebih dulu membuahi sel telur.
Hasil penelitian juga menunjukkan masing-masing kromosom memiliki
karakter sendiri-sendiri. Sperma Y berbentuk bundar, ukurannya lebih kecil atau
sekitar sepertiga kromosom X, bersinar terang, jalannya lebih cepat, dan usianya
lebih pendek serta kurang tahan dalam suasana asam. Sedangkan sperma X
ukurannya lebih besar, berjalan lamban, bentuknya lebih panjang, dan dapat
bertahan hidup lebih lama serta lebih tahan suasana asam.

Dari data itu bisa disimpulkan jika ingin memperoleh anak laki-laki
maka hubunganintim harus dilakukan bertepatan atau segera setelah terjadi
ovulasi (saat keluarnya sel telur dari indung telur atau masa subur). Dengan
begitu, sperma Y yang masuk kedalam rahim dapat langsung membuahi sel telur.
Sedangkan untuk mendapatkan anak perempuan, hubungan intim
sebaiknya dilakukan sebelum ovulasi terjadi. Misalnya, ovulasi diperkirakan
terjadi pada hari ke 10. Oleh karena itu, hubungan intim sebaiknya dilakukan 3
hari sebelumnya, sehingga pada saat ovulasi terjadi tinggal sperma X yang
masih hidup dan membuahi sel telur.
Metode ini memang kurang praktis karena pasangan harus tahu saat tepat
berlangsungnya ovulasi. Padahal untuk mengetahui hal itu seorang wanita harus
mengukur suhu basal tubuhnya selama 3 bulan berturut-turut.
Proses pengukurannya dengan meletakkan termometerkhusus di mulut
setiap pagi sebelum turun dari tempat tidur. Ada beberapa syarat lain, seperti
suhu ruang harus normal dan wanita tidak dalam keadaan sakit. Lalu, hasil
pengukuran itu dicatat dalam sebuah tabel. Bila suatu hari, suhu tubuh
menunjukkan peningkatan dibanding suhu basal, berarti saat itulah ovulasi
sedang terjadi. Sayangnya, bagi wanita yang siklus haidnya tidak teratur, hal ini
tentu sulit dilakukan. Keakuratan metode ini juga rendah karena biar bagaimana
pun kita tidak tahu apakah sperma X atau Y yang berhasil membuahi sel telur.
(Nina, 2008)
Inseminasi Buatan
Inseminasi buatan, menurut Nugroho (2008) dapat memberikan hasil yang lebih
akurat ketimbang metode Akihito. Proses inseminasi ini diawali dengan
menampung sperma di dalam gelas hasil dari masturbasi atau coitus interuptus.
Kemudian, sperma disaring dengan dua lapis media khusus yang kekentalannya
berbeda untuk memisahkan sperma dengan semennya, serta sperma X dari
sperma Y. Pemisahan dapat dilakukan karena berat molekul keduanya berbeda.
Sperma X akan lebih cepat mencapai lapisan bawah dibanding sperma Y.
Sedangkan dengan melihat teknik berenang keduanya, mana yang lebih dulu

bergerak ke atas, itulah sperma Y. Kemudian sperma yang sudah dipisahkan


akan disuntikkan ke dalam rahim saat istri sedang melalui masa subur. Jaminan
keberhasilan metode ini adalah 85% untuk bayi perempuan dan 80% untuk bayi
2.5.1

laki-laki.
Cara Mendapatkan Anak Laki-laki
Berikut tips cara mendapatkan anak laki-laki, akan tetapi kegagalan akan cara

1.

tersebut juga tinggi.diantaranya :


Membilas Vagina dengan Air + Soda
Larutan untuk membilas dibuat dari campuran 1 gelas air + 2 sendok
makan garam soda (natrium bikarbonat soda). Kenapa harus dibilas seperti itu?
Seperti sudah disebutkan, kromosom X bersifat lebih tahan asam sedangan
kromosom Y bersifat kurang tahan asam serta jalannya lebih cepat. Nah,
pembilasan vagina dengan larutan garam soda bertujuan menurunkan kadar
keasaman vagina, sehingga sperma Y lebih terjamin hidupnya dan bisa melewati

2.

liang vagina menuju rahim untuk membuahi sel telur.


Istri Orgasme Lebih Dulu
Biarkan istri mencapai orgasme lebih dahulu baru disusul suami. Cairan
yang dihasilkan saat wanita mengalami orgasme akan lebih mendukung
pergerakan sperma Y untuk lebih cepat sampai ke sel telur. Semakin cepat

3.

sampai akan semakin baik, karena usia sperma Y lebih pendek.


Posisi Knee-Chest
Ada posisi yang diduga bisa membuat sperma Y meluncur cepat melalui
liang vagina, rahim, dan sampai ke sel telur, yaitu posisi knee-chest (genu
pektoral). Posisi dimana suami bersetubuh dengan istri dari belakang ini disebut
juga doggie style. * Penetrasi Dalam Semakin dalam penetrasi, maka semakin
dekat jarak yang ditempuh sperma menuju sel telur. Bila suami bisa menekan
sedalam-dalamnya saat ejakulasi berlangsung, hal ini bisa meningkatkan

4.

kemungkinan mendapat anak laki-laki.


Puasa
Sementara untuk meningkatkan kuantitas volume spermanya, suami
dianjurkan menabung spermanya atau tidak melakukan ejakulasi sekitar 7-8 hari.
Dengan jumlah sperma yang lebih banyak per mililiternya, kemungkinan

mendapatkan anak laki-laki juga meningkat. Puasa seks juga bertujuan


menghindari kemungkinan tertinggalnya sperma X dari hubungan intim yang
dilakukan beberapa hari sebelum masa ovulasi. Bila ada sperma X tertinggal
dalam organ reproduksi wanita, begitu tiba masa ovulasi, ia dapat langsung
membuahi sel telur. Berarti anak perempuanlah yang akan didapat. Sedangkan
jika dalam seminggu sebelumnya puasa seks dijalankan, maka sperma Y
2.5.2
1.

memiliki kesempatan yang besar untuk membuahi sel telur.


Cara Mendapatkan Anak Perempuan
Salah satu cara mendapatkan anak perempuan antara lain:
Membasuh Vagina dengan Air + Cuka
Untuk meningkatkan kadar keasaman vagina, basuhlah daerah itu dengan
1 gelas air yang sudah dicampur 2 sendok makan asam cuka. Lingkungan vagina
bersuasana asam diharapkan dapat mematikan sperma Y sehingga sperma X
selamat sampai tujuan. Volume sperma X yang banyak dapat meningkatkan

2.

kemungkinan menghasilkan anak perempuan.


Hindari Orgasme
Saat melakukan hubungan intim, usahakan agar ejakulasi terjadi sebelum
istri mencapai orgasme. Tanpa orgasme, sekresi alkalis (pengeluaran substansi
yang membuat daerah vagina bersifat basa) tidak terjadi dan ini akan membuat
sperma Y mati sehingga menguntungkan sperma X yang punya daya tahan lebih
baik.

3.

Posisi Muka Bertemu Muka


Hubungan intim dengan posisi saling berhadapan, istri di bawah dan
suami di atas sebetulnya membuat sperma tidak bisa langsung menerobos ke
mulut serviks (leher rahim). Dengan begitu waktu yang dibutuhkan sperma pun

4.

akan lebih lama dan hal ini lebih menguntungkan sperma X.


Penetrasi Pendek
Penetrasi pendek dilakukan dengan cara mengangkat penis hingga ke
ujung vagina saat suami

mengalami

ejakulasi. Tindakan ini berarti

memperpanjang jarak sperma ke sel telur yang diduga akan menambah

persentase kesempatan sperma X mengingat daya tahannya yang lebih kuat


5.

ketimbang sperma Y.
Seks Teratur Dengan seks teratur
Volume sperma yang keluar otomatis lebih sedikit karena tidak ada
sperma yang ditabung. Hal ini diyakini akan meningkatkan kemungkinan
mendapatkan anak perempuan. Sebelum mencapai sel telur, sperma harus
melalui perjalanan berat. Sebagian sel sperma akan mati di perjalanan, terutama
sperma Y yang berumur pendek. Akhirnya semakin lama jumlahnya akan
semakin sedikit. Nah, untuk mendapatkan volume sperma yang sedikit,
hubungan intim sebaiknya dilakukan setelah haid, setiap 2 hari sekali hingga 2-3
hari menjelang ovulasi. Dengan begitu, sperma X yang tahan lebih lama
mungkin saja banyak yang masih tertinggal dan akan membuahi sel telur begitu

2.6

ovulasi terjadi.
(Nina, 2008)
Konsep Asuhan Remaja dengan Dismenoere

Pengumpulan Data Dasar


A.

SUBYEKTIF

1.

Identitas
Usia
Faktor usia sangat berpengaruh pada kesuburan seorang wanita. Selama
wanita tersebut masih dalam masa reproduksi yang berarti mengalami haid yang
teratur, kemungkinan masih bisa hamil. Akan tetapi seiring dengan
bertambahnya usia maka kemampuan indung telur untuk menghasilkan sel telur
akan mengalami penurunan. Penelitian menunjukkan bahwa potensi wanita
untuk hamil akan menurun setelah usia 25 tahun dan menurun drastis setelah
usia diatas 38 tahun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National
Center for Health Statistics menunjukkan bahwa wanita subur berusia dibawah
25 tahun memiliki kemungkinan hamil 96% dalam setahun, usia 25 34 tahun
menurun menjadi 86% dan 78% pada usia 35 44 tahun.

Pada pria dengan bertambahnya usia juga menyebabkan penurunan


kesuburan. Meskipun pria terus menerus memproduksi sperma sepanjang
hidupnya, akan tetapi morfologi sperma mereka mulai menurun. Penelitian
mengungkapkan hanya sepertiga pria yang berusia diatas 40 tahun mampu
menghamili isterinya dalam waktu 6 bulan dibanding pria yang berusia dibawah
25 tahun. Selain itu usia yang semakin tua juga mempengaruhi kualitas sperma
( Kasdu, 2001:63 )2. K
Keluhan utama :

2.

Pasangan usia subur (PUS) yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan


bertujuan untuk melakukan konseling dan memiliki keluhan maupun pertanyaan
3.

seputar persiapan kehamilan (prakonsepsi. (Purnawati,2010).


Riwayat Pernikahan
Untuk mengetahui pernikahan keberapa dari klien untuk mengkaji kesiapan

klien dalam menjalani persiapan pernikahan.


Perencanaan Kontrasepsi
Untuk mengetahui riwayat kontrasepsi yang digunakan klien dan untuk
mempersiapkan

rencana

penundaan

kehamilan

atau

tidak

menunda

kehamilan.
Riwayat Kesehatan Klien
Syarat kesehatan klien : tidak ada kelainan anatomis dan fisiologis, kondisi

5.

kesehatan jiwa yang baik, kehamilan yang aman. Pengkajian penyakit klien
berfungsi untuk mengatasi penyakit yang

mungkin diderita ibu seperti

Diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, lupus, rubella, pms, dll.


Riwayat Obtetri
Bertujuan untuk mengetahui bahwa pasangan tidak infertile, skrining kehamilan

6.

yang tidak normal, penyulit selama kehamilan atau persalinan. Sehingga dapat
dilakukan penanganan terlebih dahulu sebulum kehamilan atau perencanaan
7

penanganan yang tepat saat terjadinya kehamilan nanti.


Riwayat Kesehatan Keluarga
Pngkajian riwayat kesehatan keluarga untuk mendeteksi ada tidaknya
penyakit keturunan. Kondisi fisik bagi mereka yang hendak berkeluarga amat
dianjurkan untuk menjaga kesehatan, sehat jasmani dan sehat rohani. Kesehatan

fisik meliputi kesehatan dalam arti orang itu tidak menghidap penyakit (apalagi
8

penyakit menular) dan bebas dari penyakit keturunan.


Pola Fungsional Kesehatan
- Nutrisi
Konsumsi vitamin A tidak dianjurkan karena mempunyai efek teratogenik
terhadap manusia pada dosis 20.000 50.000 IU per hari, diantaranya
malformasi janin. Obesitas

berhubungan

dengan

penyulit

seperti

hipertensi, preeklampsia, DM gestasional,tromboflebitis, kelainan


persalinan, kehamilan post matur, seksio sesarea dan penyulit
operasi(Wolfe, 1998). Defisiensi gizi seperti anoreksia dan bullimia
meningkatkan resiko timbulnya masalah terkait misalnya gangguan
elektrolit, aritmia jantung, dan kelainan saluran cerna (Becker dkk, 1999).
Konsumsi vitamin A tidak dianjurkan karena mempunyai efek teratogenik
terhadap manusia pada dosis 20.000 50.000 IU per hari, diantaranya
malformasi janin.

Obesitas berhubungan dengan penyulit seperti

hipertensi, preeklampsia, DM gestasional,tromboflebitis, kelainan


persalinan, kehamilan post matur, seksio sesarea dan penyulit
operasi(Wolfe, 1998) Defisiensi gizi seperti anoreksia dan bullimia
meningkatkan resiko timbulnya masalah terkait misalnya gangguan
elektrolit, aritmia jantung, dan kelainan saluran cerna (Becker dkk, 1999)
- Pola Kebiasaan
Merokok, Minuman keras, Ketergantungan obat memiliki dampak pada
kesuburan dan kesehatan kehamilan.
9

Data Psikososial
Kepribadian Aspek kepribadian sangat penting karena hal ini akan
mempengaruhi pasangan dalam kemampuan beradaptasi antar pribadi. Pasangan
yang memiliki kematangan pribadi akan memiliki kemampuan yang baik dalam
memberikan kebutuhan afeksional sebagai unsur penting dalam berumah tangga.
Kenyataannya, tidak ada orang yang memiliki kepribadian ideal yang sempurna,
tapi paling tidak masing-masing pasangan bisa saling memahami dan

menghargai kelebihan dan kelemahan masing-masing, sehingga diharapkan akan


bisa saling mengisi dan melengkapi
DATA OBYEKTIF
1) Pemeriksaan Fisik
a. Antropometri
b. Berat badan, Tinggi badan (>145cm), LILA (>23.5cm) dalam keadaan ideal atau
normal. Berat badan dan tinggi badan ideal dapat dikaitkan dengan IMT ibuTandatanda vital
Tekanan Darah : sebagai penapsiran resiko hipertensi sebelum merencanakan
kehamilan karena penyakit hipertensi kronik didiagnosa terjadi sebelum kehamilan
hingga menjadi hipertensi gestasional dan cenderung meberikan hasil yang buruk
bagi ibu dan janin. Resiko eklamsi akan semakin tinggi, serta kematian janin pun
akan semakin tinggi (Varney,2007).
Pemeriksaan penunjang
Kadar Hb : kadar Hb normal untuk wanita yang mempersiapkan kehamilan

2)

adalah 12gr/dl agar tidak terjadi kekurangan asupan oksigen dan nutrisi ke
janinnya, serta menghindari terjadinya perdarahan saat persalinan (WHO,
2012).
2.

Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretassi Data Dasar)


Pada langkah ini Bidan menganalisa data dasar yang diperoleh pada langkah
pertama, menginterpretasikan secara logis sehingga dapat dirumuskan diagnosa dan
masalah.
Diagnosa : Wanita Usia Subur usia...... tahun masa prakonsepsi
Masalah : masalah yang menyertai seperti keluhan berupa ketidak teraturan siklus
menstruasi, maupun masalah psikologis pada periode prakonsepsi yang
telah dikaji ke klien

3.

Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial


Bidan mengantisipasi masalah potensial berdasarkan diagnosa masalah yang sudah
diidentifikasi.

4.

Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera

Mencangkup tentang tindakan segera untuk menangani diagnosa/masalah potensial


yang dapat berupa konsultasi, kolaborasi dan rujukan
5.

Perencanaan
a. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yang akan diberikan.
R/ dengan informasi ibu dan suami memiliki gambaran apa yang mereka
dapatkan di konseling ini
b. Menjelaskan kepada pentingnya pemeriksaan kesehatan prakonsepsi.
R/ ibu dan suami dapat menerima informasi
c. Memberikan dukungan mental spiritual dalam persiapan prakonsepsi
d. Memberikan KIE tentang :
- Persiapan Nutrisi
- Masa Subur
Kemungkinan terjadinya kehamilan pada hubungan seksual saat masa subur
sangan besar. Sehingga perhitungan masa subur di lihat dari siklus mentruasi
menjadi salah satu solusi untuk perencanaan kehamilan atau tidak hamil
(Sarwono,2012).
- Jenis metode kontrasepsi
- Keuntungan dan manfaat vaksin TT
- Menjaga Kebersihan alat reproduksi
- Kecemasan yang umum terjadi saat pertama melakukan senggama
e. Melakukan pendokumentasian

1. Pelaksanaan Rencana Asuhan / Implementasi


Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh pada langkah 5 dilaksanakan secara
efisien dan aman. Pelaksanaan bisa dilakukan seluruhnya oleh Bidan atau sebagian
dilakukan oleh Bidan atau sebagian dilakukan oleh lagi oleh klien atau anggota tim
kesehatan yang lainnya
2. Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan
meliputi pemenuhan kebutuhan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Dapat
dilakukan pengulangan kembali proses manajemen dengan benar terhadap aspek
asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan kembali
yang belum terlaksana

BAB III
TINJAUAN KASUS
Tanggal pengkajian : 16-November-2016
Pukul
: 14.15 WIB
Tempat
: Rumah Klien
A. SUBYEKTIF
1. Identitas
Nama Ibu
:
Umur
:
Suku /bangsa :
Agama
:
Pendidikan
:
Pekerjaan
:
Alamat
:
2.

3.

Ny. A
30 tahun.
Jawa/Indonesia
Islam
DIII
Karyawan Swasta
Medayu Utara

Nama Suami
Umur
Suku /bangsa
Agama
Pendidikan
Pekerjaan

Keluhan
Sudah 3 bulan menikah, ingin segera
menghilangkan ketergantungan minum kopi

: Tn. Z
: 33 tahun
: Jawa/Indonesia
: Islam
: STM
: Karyaawan Swasta

memiliki

Riwayat Menstruasi
HPHT 20-10-2016, haid teratur setiap bulan, siklus
menstruasi 5 hari, jumlah perdarahan normal.

keturunan,

sulit

28 hari, rata-rata lama

4.

Riwayat Obstetri
Belum pernah hamil sebelumnya.

5.

Riwayat Pernikahan
Pernikahan Pertama, lama menikah 3 bulan.

6.

Riwayat Kesehatan Klien


Memiliki riwayat penyakit magh, memiliki riwayat dismenore. Tidak sakit
Hipertensi, Asma, Jantung, Hepatitis, Ginjal, dan tidak ada keturunan gemelli.

7.

Status TT Klien
Klien sudah melakukan TT CPW tanggal 26 Oktober 2016.

8.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Ibu mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit jantung,
ginjal, asma, TBC, hepatitis, DM, hipertensi.

9. Pola Fungsional Kesehatan


a. Nutrisi
Minum susu persiapan hamil (esnsis). Makan tidak teratur, 1-2 kali sehari, porsi
sedang dengan lauk, buah, dan sayuran.
b. Eliminasi
BAB rutin setiap hari tidak ada keluhan, BAK 4-5 kali sehari tidak ada keluhan
c. Istirahat
Tidur pukul 12 malam, bangun jam 5 pagi, sering susah tidur. Tidak bisa tidur siang
d. Pola Kebiasaan
Ibu memiliki kucing peliharaan di rumah.
e. Pola Aktifitas
Ibu bekerja shift. Shift pagi jam 09.00-17.00 WIB, shift sore jam 14.00-22.00 WIB,
sehari-hari mengerjukan pekerjaan rumah sendiri.
f Psikososial
Merencanakan kehamilan, merasa tegang karena setelah 3 bulan menikah belum
Hamil.
g Sexual
Berhubungan sex hampir setiap hari.
B. DATA OBYEKTIF
Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
1. Pemeriksaan Fisik
a)Pemeriksaan Ibu
Pemeriksaan Bapak
BB saat ini
: 62 Kg
BB : 70 kg
TB
: 160 cm
TB : 168 cm
IMT
: 24,2 cm (Normal weight) IMT : 24.8 (Normal weight)
Lila
: 26 cm
b)Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Denyut Nadi
: 80 x/menit
Pernapasan
: 20 x/menit
Suhu
: 36,5 0C
c) Wajah
Pada wajah tidak ada chloasma gravidarum, tidak oedema, konjungtiva merah
muda sklera putih, bibir tidak pucat.
d) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis.
e) Ekstrimitas
Atas
: tidak ada oedema.
Bawah
: tidak ada oedema, tidak ada varises
2. Pemeriksaan Penunjang tanggal 29 Oktober 2016
Hb
: 12 g/dL
Gol Darah
: O Positif

HBsAg
HIV
Sifilis

: Non Reaktif
: Non reaktif
: Negatif

C. ASSESMENT
Wanita usia subur usia 30 tahun dalam masa prakonsepsi.
D. PLANNING
1. Menjelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan. Ibu mengetahui
2. Menejelaskan kepada ibu cara menghitung usia subur. Ibu dapat menghitung usia
subur berikutnya.
3. Menjelaskan kepada ibu proses fertilisasi. Ibu dapat mengulang kembali penjelasan.
4.

Menjelasan kepada ibu untuk mengurangi minum kopi. Ibu berjanji akan

menguranginya secara bertahap.


5. Menjelaskan kepada ibu pentingnya pengaruh istirahat cukup terhadap fertilitas. Ibu
mengangguk.
6. Menjelaskan kepada ibu untuk mengurangi frekuensi senggama yakni setiap 3 hari
sekali agar Proses spermatogenesis sempurna. Ibu berjanji akan melakukannya.
7. Menjelaskan kepada ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, makan makanan yang
mengandung zat besi dan asam folat yaitu, daging, susu, dsb. Klien berjanji akan
memperbaiki pola makan.
8. Menjelaskan klien bahwa apabila dalam jangka satu tahun ibu tidak hamil, maka
sebaiknya ibu melakukan suntik TT ulang pada saat hamil. Ibu berjanji akan
melakukannya.
9. Memberikan motivasi ibu agar rileks dan tidak stress dalam menunggu kehamilan.
Ibu tampak tenang.

BAB V
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengkajian data subjektif ibu memiliki usia 30 tahun. Artinya,
dari aspek usia ibu memenuhi kriteria usia reproduksi untuk hamil. Hal ini sesuai teori
yang dikemukakan Stickler (2014) bahwa usia reproduksi ideal wanita adalah 20 -35
tahun. Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang hamil di bawah usia 20 tahun
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami preeklamsia dan plasenta previa
(Stickler, 2014). Tidak ada kesenjangan teori dan fakta dalam kasus ini.
Meskipun usia klien masih dalam usia reproduksi, akan tetapi dilihat dari aspek
fertilitas, terdapat pengurangan kesuburan pada wanita diusia diatas 25 tahun. Penelitian
menunjukkan bahwa potensi wanita untuk hamil akan menurun setelah usia 25 tahun
dan menurun drastis setelah usia diatas 38 tahun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh National Center for Health Statistics menunjukkan bahwa wanita subur berusia
dibawah 25 tahun memiliki kemungkinan hamil 96% dalam setahun, usia 25 34 tahun
menurun menjadi 86% dan 78% pada usia 35 44 tahun.
Dalam kasus ini, Ny. A sudah mempersiapkan gizi selama prakonsepsi berupa
minum susu persiapan kehamilan (esensis) yakni salah satu produk susu yang tinggi zat
besi dan asam folat. Hal ini sesuai teori yang mengemukakan bahwa saam folat, penting
bagi calon ibu sejak masa prakonsepsi sampai sampai masa kehamilan trimester
pertama. Berperan dalam perkembangan system saraf pusat dan sistem peredaran darah
janin, cukup asam folat mengurangi risiko bayi lahir dengan cacat sistem saraf sebanyak
70%. (DP2M, 2014). Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan fakta yang
ditemukan.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengkajian data subjektif dan objektif Ny.A berada
dalam usia reproduksi. Dalam melakukan persiapan kehamilan prakonsepsi
perbaikan pola hidup kedua pasangan mutlak dibutuhkan. Baik dalam segi
kebutuhan nutrisi, istirahat cukup, menghindari rokok, olah raga, kebersihan,
dan perbaikan pola hidup lainnya.

6.2

Saran
Bidan atau tenaga kesehatan lainnya sebaiknya tidak hanya berfokus
pada pelayanan antenatal dan intranatal, tetapi berfokus pada kegiantan promotif
dan preventif dalam masa prakonsepsi gunan mewujudkan generasi yang sehat
cerdas, dan mandiri.
Bagi masyarakat, sebaiknya turut aktif dan mandiri dalam perbaikan
kesehatan diri guna mencapai kesehatan jasmani dan rohani.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Syauqi Al-Fanjari.2000. Nilai Kesehatan Dalam Syariat Islam. Jakarta: Bumi
Aksar.
Fatma, Lyna. 2013. Prasyarat Kesehatan Reproduksi. Dikutip [9 Nov 2016] dari:
http://lien-fea.blogspot.co.id/2013/08/prasyarat-kesehatan-reproduksi.html
H. Dadang Hawari. 1999. Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa Jakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa,
Kasdu, D dkk.(2001). Info Lengkap Kehamilan & Persalinan (edisi 1). Jakarta : 3G
Publisher.
Laboratorium Klinik Prodia, Premarital Check Up: 100% Siap Nikah!, dalam
http://prodia.co.id/promosi/premarital-check-up-100-siap-nikah.htm, diakses
pada 9 November 2016 .
Monica Purba, Cek Kesehatan Sebelum Menikah, dalam
http://pranikah.org/pranikah/cekkesehatan-sebelum-menikah/.htm, diakses
pada 9 November 2016 .
Nina. 2008. Bayi Cowok atau Cewek . Diakses [21 Nov 2016] dalam:
https://ninafkoe.files.wordpress.com/2008/12/bayi-cowok-atau-cewek.pdf
Rostiati Nonta Refina Napitupulu. 2010 Bioetika: Pemeriksaan Kesehatan Pranikah,
(Makalah-- ITB, 2009)
Varney, Helen, 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan edisi 4. Jakarta: EGC, Vol. 1
Widjanarko,Bambang, 2006, Tinjauan Terapi Pada Dismenore Primer, Mjalah
Kedokteran Damianus. Vol.5.
Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Ed. 3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka