Anda di halaman 1dari 58

TINJAUAN TEORI

PRA KONSEPSI

A. Tinjauan Teori Medis Asuhan Pra Konsepsi


1. Definisi Pra Konsepsi
Prakonsepsi berasal dari dua kata yakni pra dan konsepsi. Pra artinya
sebelum (Setiawan, 2017). Konsepsi atau pembuahan adalah bertemunya
sel telur (ovum) dengan sperma (spermatozoa) (Purwandari, 2011).
Prakonsepsi adalah masa sebelum kehamilan terjadi (Katherine, dkk,
2013). Sehingga prakonsepsi adalah sebelum terjadinya pertemuan antara
sel telur dengan sperma yang dapat menyebabkan kehamilan. Perawatan
prakonsepsi adalah perawatan yang diberikan sebelum kehamilan dengan
sasaran mempermudah seorang wanita mencapai tingkat kesehatan yang
optimal sebelum ia mengandung.
Perencanaan kehamilan merupakan hal yang penting untuk
dilakukan setiap pasangan suami istri. Baik itu secara psikolog/ mental,
fisik dan finansial adalah hal yang tidak boleh diabaikan (Kurniasih,
2010). Merencanakan kehamilan merupakan perencanaan kehamilan
untuk mempersiapkan kehamilan guna mendukung terciptanya
kehamilan yang sehat dan menghasilkan keturunan yang berkualitas yang
diinginkan oleh keluarga (Nurul, 2013).
Dari beberapa pengertian diatas, perencanaan kehamilan merupakan
perencanaan berkeluarga yang optimal melalui perencanaan kehamilan
yang aman, sehat dan diinginkan merupakan salah satu faktor penting
dalam upaya menurunkan angka kematian maternal. Menjaga jarak
kehamilan tidak hanya menyelamatkan ibu dan bayi dari sisi kesehatan,
namun juga memperbaiki kualitas hubungan psikologi keluarga.
2. Persiapan Kehamilan
Dalam mewujudkan kehamilan yang ideal butuh serangkaian
persiapan. Salah satu persiapan yang harus disiapkan adalah pemeriksaan
fisik atau pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan pada masa
prakonsepsi atau hamil khususnya pada wanita akan mengurangi angka
kesakitan dan kematian ibu dan anak. Beberapa penyakit yang
kemungkinan menganggu proses kehamilan dapat dideteksi secara dini

1
sehingga keadaan yang lebih buruk dapat cepat dihindari (Cunningham,
2012).
Menurut Nurul, (2013) ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan
dalam merencanakan kehamilan, antara lain:
a. Kesiapan aspek psikologis
Apabila memutuskan untuk hamil, sebaiknya mulai menjalani
konseling prahamil. Konseling ini merupakan berisi saran dan
anjuran, seperti dengan cara melakukan pemeriksaan fisik
(pemeriksaan umum dan kandungan) dan laboratorium. Sebab,
tujuan dari konseling prahamil ini akan mempersiapkan calon ibu
beserta calon ayah dan untuk menyiapkan kehamilan yang sehat
sehingga bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan
begitu, bisa segera dideteksi bila ada penyakit yang diturnkan secara
genetis, misalnya: diabetes militus, hipertensi, dan sebagainya.
Konseling prahamil dilakukan untuk mencegah cacat bawaan akibat
kekurangan zat gizi tertentu atau terpapar zat berbahaya.
b. Kesiapan fisik
Pengaruh fisik juga sangat mempengaruhi proses kehamilan.
Tanpa ada fisik yang bagus, kehamilan kemungkinan tidak akan
terwujud dan bahkan kalau kehamilan itu terwujud, kemungkinan
fisik yang tidak prima akan memengaruhi janin. Oleh karena itu ada
beberapa hal yang harus dilakukan, antara lain:
1) Mulai menata pola hidup
Selain kondisi tubuh, gaya hidup dan lingkungan juga
memengaruhi keprimaan fisik. Akan lebih baik lagi, bila
persiapan fisik ini dilakukan secara optimal kira-kira 6 bulan
menjelang konsepsi.
2) Mencapai berat badan ideal
Berat badan sangat besar pengaruhnya pada kesuburan.
Karena berat badan kurang atau berlebihan, keseimbangan
homon dalam tubuh akan ikut-ikutan terganggu. Akibatnya
siklus ovulasi terganggu. Berat badan yang jauh dari ideal juga
memicu terjadinya berbagai gangguan kesehatan.

2
3) Menjaga pola makan
Disiplin membenahi pola makan bukannya tanpa alasan.
Karena, zat-zat gizi akan mengoptimalkan fungsi organ
reproduksi, mempertahankan kondisi kesehatan selama hamil,
serta mempersiapkan cadangan energi bagi tumbuh kembang
janin. Caranya sebagai berikut:
a) Mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang.
Masukkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin,
mineral, dan air dalam menu makanan sehari-hari secara
bervariasi dan dalam jumlah yang pas, sesuai kebutuhan.
Hindari zat pengawet atau atau tambahan pada makanan,
karena dapat menyebabkan kecacatan pada janin dan alergi.
Perbanyak makan-makanan yang segar dan tidak terlalu
lama diolah, sehingga kandungan zat-zat gizinya tidak
hilang.
b) Olahraga secara teratur
Olahraga memang berkhasiat untuk melancarkan aliran
darah. Peredaran nutrisi dan pasokan oksigen ke seluruh
organ tubuhpun jadi efisien, sebab benar-benar bebas
hambatan. Jadi, kondisi seperti ini dibutuhkan untuk
pembentukan sperma dan sel telur yang baik.
Berolahraga secara rutin bisa pula memperbaiki mood
karena meningkatnya produksi hormon endoprin. Tubuh
juga jadi sehat dan bugar. Kalau ini yang terjadi, proses
kehamilan, persalinan, serta kembalinya bentuk tubuh ke
keadaan semula jadi lebih mudah. Yang cocok dilakukan
yaitu, olahraga joging, jalan kaki, berenang, bersepeda dan
senam.
c) Menghilangkan kebiasaan buruk
Kebiasaan buruk seperti merokok, minum-minuman
beralkohol, serta mengkonsumsi kafein (kopi, minuman
bersoda), sebaiknya dihentikan saja. Sebab, zat yang
terkandung didalamnya bisa memengaruhi kesuburan.
Akibatnya, peluang terjadinya pembuahan makin kecil.

3
Sering stress juga bukan kebiasaan yang baik. Apalagi,
kalau sibuk kerja dan lupa istirahat.
d) Bebas dari penyakit
Bila mengidap penyakit tertentu, seperti cacar, herpes,
campak jerman, atau penyakit berbahaya lain, sebaiknya
periksakan diri ke dokter. Sebab, penyakit tersebut bisa
membahayakan diri dan janin.
e) Stop pakai kontrasepsi
Apabila memutuskan untuk hamil, maka hentikan
penggunaan kotrasepsi. Apabila belum berkeinginan untuk
hamil maka harus memakai kontrasepsi.
f) Meminimalkan bahaya lingkungan
Lingkungan termasuk lingkungan kerja, bisa juga
berdampak buruk sebelum hamil. Misalnya, gangguan
hormonal atau gagguan pada pembentukan sel telur.
Lingkungan yang sarat mikroorganisme (jamur, bakteri, dan
virus), bahan kimia beracun (timah hitam dan pestisida),
radiasi (sinar X, sinar ultraviolet, monitor komputer, dan
lainnya), dan banyak lagi.
c. Kesiapan Finansial
Persiapan finansial bagi ibu yang akan merencanakan kehamilan
merupakan suatu kebutuhan yang mutlak yang harus disiapkan,
dimana kesiapan finansial atau yang berkaitan dengan penghasilan
atau keuangan yang dimiliki untuk mencukupi kebutuhan selama
kehamilan berlangsung sampai persalinan (Kurniasih, 2010). Ada
beberapa hal yang berkaitan dengan kesiapan finansial, diantaranya:
1) Sumber keuangan
Memiliki anak memang tidak murah. Makanya, perlu
merancang keuangan keluarga sejak jauh-jauh hari. Disadari
atau tidak, anak ternyata membutuhkan alokasi dana yang cukup
besar. Dana yang wajib ada Inilah beberapa dana yang wajib
disiapkan sebagai calon orang tua, yaitu:
a) Saat hamil yaitu biaya memeriksakan kehamilan,
pemeriksaan penunjang (laboratorium, USG, dan
sebagainya), serta mengatasi penyakit (bila ada).

4
b) Saat bersalin meliputi biaya melahirkan (secara normal atau
operasi caesar), “menginap” di rumah sakit pilihan, obat-
obatan, serta biaya penolong persalinan.
c) Setelah bayi lahir prioritas keuangan keluarga jadi berubah
dan perlu memperhitungkan masa depan anak.
d) Persiapan pengetahuan dalam merencanakan kehamilan
yang sehat dan aman, maka setiap pasangan suami istri
harus mengetahui hal-hal yang berpengaruh dalam
perencanaan kehamilan atau dalam kehamilan. Diantaranya:
(1) Masa subur
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur
yang siap untuk dibuahi. Masa subur berkaitan erat
dengan menstruasi dan siklus menstruasi. Adanya
hasrat antara suami dan istri adalah sesuatu yang wajar,
penyaluran hasrat tersebut akan memulai hasil yang
baik jika pertemuan antara suami dan istri diatur
waktunya.
Menurut Kemenkes RI (2017:107) tanda-tanda
masa subur pada WUS yaitu:
(a) Perubahan lendir serviks
Jika dalam masa subur cairan ini bertekstur
lengket dan kental. Perubahan terjadi menjelang
masa subur, yaitu dengan meningkatnya jumlah
cairan dan perubahan tekstur menjadi berwarna
bening dan bertekstur lebih cair.
(b) Dorongan seksual meningkat
Hormon kewanitaan akan meningkat dalam
masa subur sehingga berpengaruh terhadap hasrat
seksual.
(c) Temperatur tubuh meningkat dan payudara lebih
lunak
Meningkatnya hormon progesterone ketika
masa subur akan memicu kenaikan suhu tubuh,
namun kenaikan suhu tubuh tersebut hanya sedikit

5
(± 0,5°C), maka cukup sulit mengamati kenaikan
suhu tubuh pada wanita.
(2) Kecenderungan memilih jenis kelamin anak
Setiap pasangan yang menikah pastilah
mendambakan anak di tengah kehidupan keluarganya.
Bagi yang telah mempunyai anak berjenis kelamin
tertentu, pastilah menginginkan anak dengan jenis
kelamin yang belum mereka miliki, sehingga lengkap
yaitu laki-laki dan perempuan (Nurul, 2013).
(3) Kesiapan Aspek Usia
Pada usia dibawah 20 tahun merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi perencanaan kehamilan,
karena pada usia dibawah 20 tahun apabila terjadi
kehamilan maka akan beresiko mengalami tekanan
darah tinggi, kejang-kejang, perdarahan bahkan
kematian pada ibu atau bayinya, dan beresiko terkena
kanker serviks.
3. Perencanaan Kehamilan
Kehamilan adalah masa dimana seorang perempuan memiliki janin
yang sedang tumbuh didalam tubuhnya. Setiap kehamilan harus
direncanakan, diinginkan dan dijaga perkembangannya dengan baik.
(Kemenkes RI, 2017:104)
Catin perlu mengetahui tanda-tanda kehamilan agar mempunyai
pemahaman dan kepedulian bila hamil kelak, mempersiapkan diri untuk
hamil dan bersalin secara sehat dan aman. (Kemenkes RI, 2017:104)
Perencanaan kehamilan adalah pengaturan kapan usia ideal dan saat
yang tepat untuk hamil serta mengatur jarak kehamilan dan jumlah anak.
Menurut Kemenkes RI (2017:104) perencanaan kehamilan bertujuan
untuk mencegah:
a. Terlalu Muda (< 20 tahun)
b. Terlalu Tua (> 35 tahun)
c. Terlalu Dekat Jarak Kehamilan (< 2 tahun)
d. Terlalu Sering Hamil (> 3 anak)
Bila terjadi kehamilan dengan 4 terlalu akan berdampak tidak baik
bagi kesehatan ibu dan anak. Kehamilan perlu direncanakan karena tiap

6
catin diharapkan memiliki kesehatan yang baik dan terhindar dari
penyakit. (Kemenkes RI, 2017:104)
a. Dampak Usia Kehamilan Muda dan Kehamilan Tua
Menurut Kemenkes RI (2017:105) dampak usia kehamilan
terlalu muda dan tua yaitu sebagai berikut:
1) Kehamilan pada usia muda (<20 tahun)
a) Organ reproduksi belum berkembanga sempurna
b) Keracunan kehamilan (pre eklamsi)
c) Keguguran
d) Perdarahan
e) Resiko panggul sempit sehingga menyulitkan saat bersalin
f) Bayi lahir sebelum waktunya
g) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
h) Cacat bawaan
i) Masalah mental sosial (Ibu belum siap menerima
kehamilan)
2) Kehamilan pada usia tua (>35 tahun)
a) Dapat meningkatkan resiko hipertensi dalam kehamilan
b) Diabetes
c) Pre eklamsi
d) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
e) Cacat Bawaan
f) Lahir Sebelum waktunya
g) Keguguran
b. Mencegah Kehamilan Usia Muda
Menurut Kemenkes RI (2017:105) cara mencegah kehamilan di
usia muda, yaitu:
1) Mengupayakan pernikahan pada perempuan usia diatas 20
tahun.
2) Tunda kehamilan pertama sampai usia perempuan diatas 20
tahun.
3) Konsultasikan dengan petugas kesehatan mengenai metode
kontrasepsi yang tepat digunakan untuk menunda kehamilan
sesuai dengan kondisi pasangan suami istri.

7
c. Metode Kontrasepsi yang dapat digunakan untuk Penundaan dan
Penjarangan Kehamilan
Menurut Kemenkes RI (2017:105) berikut merupakan metode
kontrasepsi yang dapat digunakan untuk penundaan dan penjarangan
kehamilan, yaitu:
1) Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
a) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
b) Implant
c) Metode Operasi Wanita (MOW)
d) Metode Operasi Pria (MOP)
2) Non-Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non-MKJP)
a) Metode Amenore Laktasi (MAL)
b) Kondom
c) KB Suntik
d) KB Pil
4. Tanda Gejala Kehamilan
a. Tanda persumtif kehamilan
1) Amenore
Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil
tidak dapat haid lagi. Dengan diketahuinya tanggal hari pertama
haid terakhir supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran
tanggal 13 persalinan akan terjadi, dengan memakai rumus
Neagie: HT - 3 (bulan + 7) (Prawirohardjo, 2010).
2) Mual muntah
Keadaan ini biasa terjadi pada bulan-bulan pertama
kehamilan hingga akhir triwulan pertama. Sering terjadi pada
pagi hari disebut “morning sickness” (Prawiroharjo, 2010).
3) Ngidam (menginginkan makanan tertentu)
Sering terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan, akan
tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan
(Prawiroharjo, 2010).
4) Pingsan atau Sinkope
Bila berada tempat-tempat ramai yang sesak dan padat.
Biasanya hilang sesudah kehamilan 16 minggu (Prawirohardjo,
2010).

8
5) Payudara tegang
Disebabkan pengaruh estrogen dan progesteron yang
merangsang duktus dan alveoli payudara (Kuswanti, 2014).
6) Anoreksia Nervousa
Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia (tidak nafsu
makan), tetapi setelah itu nafsu makan muncul kembali (Marjadi
dkk, 2010).
7) Sering kencing (miksi)
Keadaan ini terjadi karena kandung kencing pada bulan-
bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai
membesar. Pada triwulan kedua, umumnya keluhan ini hilang
oleh karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul.
Pada akhir triwulan, gejala ini bisa timbul kembali karena janin
mulai masuk ke rongga panggul dan menekan kembali kandung
kencing. (Nugroho dkk, 2014).
8) Konstipasi/ Obstipasi
Ini terjadi karena tonus otot usus menurun yang disebabkan
oleh pengaruh hormon steroid yang dapat menyebabkan
kesulitan buang air besar (Prawirohardjo, 2010).
b. Tanda kemungkinan hamil
1) Perut membesar
Terjadi pembesaran abdomen secara progresif dari
kehamilan 7 bulan sampai 28 minggu. Pada minggu 16-22,
pertumbuhan terjadi secara cepat di mana uterus keluar panggul
dan mengisi rongga abdomen.
2) Uterus membesar
Terjadi perubahan dalam bentuk, besar dan konsistensi
dalam rahim.
3) Tanda Hegar
Konsistensi rahim yang menjadi lunak, terutama daerah
isthmus uteri sedemikian lunaknya, hingga kalau kita letakkan 2
jari dalam forniks posterior dan tangan satunya pada dinding
perut atas symphysis maka isthmus ini tidak teraba seolah-olah
corpus uteri sama sekali terpisah dari serviks.

9
4) Tanda Chadwick
Vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebirubiruan
(livide) yang disebabkan oleh adanya hipervaskularisasi. Warna
porsio juga akan tampak livide. Hal ini disebabkan oleh adanya
pengaruh hormone estrogen.
5) Tanda Piscaseck
Uterus membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol
jelas ke jurusan pembesaran uterus.
6) Kontraksi-kontraksi kecil uterus bila dirangsang (Braxton hicks)
Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Saat palpasi
atau pemeriksaan dalam, uterus yang awalnya lunak akan
menjadi keras karena berkontraksi.
7) Teraba ballotement
Pada kehamilan 16-20 minggu, dengan pemeriksaan
bimanual dapat terasa adanya benda yang melenting dalam
uterus (tubuh janin). (Kuswanti, 2014)
c. Tanda pasti kehamilan
1) Gerakan janin dalam rahim
2) Terlihat/teraba gerakan janin dan teraba bagianbagian janin.
3) Denyut jantung janin. Didengar dengan stetoskop Laenec, alat
kardiotokografi, alat dopler. Dilihat dengan ultrasonografi.
Pemeriksaan dengan alat canggih, yaitu rontgen untuk melihat
kerangka janin, ultrasonografi.
(Manuaba, 2012).
5. Proses Kehamilan
a. Ovum (sel telur)
Ovum merupakan sel terbesar pada badan manusia. Proses
pembentukan ovum disebut oogenesis, proses ini berlangsung di
dalam ovarium (indung telur). Pembentukan sel telur pada manusia
dimulai sejak di dalam kandungan, yaitu di dalam ovari fetus
perempuan. Saat ovulasi, ovum keluar dari folikel ovarium yang
pecah. Ovum tidak dapat berjalan sendiri. Kadar estrogen yang
tinggi meningkatkan gerakan tuba uterine, sehingga silia tuba dapat
menangkap ovum dan menggerakkannya sepanjang tuba menuju
rongga rahim. Pada waktu ovulasi sel telur yang telah masak

10
dilepaskan dari ovarium. Dengan gerakan menyapu oleh fimbria tuba
uterine, ia ditangkap oleh infundibulum. Selanjutnya masuk ke
dalam ampula sebagai hasil gerakan silia dan konsentrasi otot. Ovum
biasanya dibuahi dalam 12 jam setelah ovulasi dan akan mati dalam
12 jam bila tidak segera dibuahi. (Kuswanti, 2014).
Hormon-hormon yang berperan dalam oogenesis antara lain
pada wanita usia reproduksi terjadi siklus menstruasi oleh aktifnya
hipothalamus-hipofisis-ovarium. Hipothalamus menghasilkan
hormon GnRH (gonadotropin releasing hormone) yang
menstimulasi hipofisis mensekresi hormon FSH (follicle stimulating
hormone) dan LH (lutinuezing hormone). FSH dan LH menyebabkan
serangkaian proses di ovarium sehingga terjadi sekresi hormon
estrogen dan progesteron. LH merangsang korpus luteum untuk
menghasilkan hormon progesteron dan merangsang ovulasi.
Sedangkan peningkatan kadar estrogen dan progesteron dapat
menstimulasi (positif feedback, pada fase folikuler) maupun
menghambat (inhibitory/ negatif feedback pada saat fase luteal)
sekresi FSH dan LH di hipofisis atau GnRH di hipotalamus.
(Kuswanti, 2014).
b. Spermatozoa
Proses pembentukan spermatozoa merupakan proses yang
kompleks. Spermatoganium berasal dari sel primitive tubulus,
menjadi spermatosit pertama, menjadi spermatosit kedua, menjadi
spermatid, akhirnya spermatozoa. Pertumbuhan spermatozoa
dipengaruhi matarantai hormonal yang kompleks dari pancaindera,
hipotalamus, hipofisis dan sel interstitial leydig sehingga
spermatogonium dapat mengalami proses mitosis. Pada setiap
hubungan seksual dikeluarkan sekitar 3 cc sperma yang mengandung
40 sampai 60 juta spermatozoa setiap cc. bentuk spermatozoa seperti
cebong yang terdiri atas kepala (lonjong sedikit gepeng yang
mengandung inti), leher (penghubung antara kepala dan ekor), ekor
(penjang sekitar 10 kali kepala, mengandung energy bergerak).
Sebagian besar spermatozoa mengalami kematian dan hanya
beberapa ratus yang dapat mencapai tubafallopi. Spermatozoa yang
masuk kedalam alat genetalia wanita yang dapat hidup selama tiga

11
hari, sehingga cukup waktu untuk mengadakan konsepsi. (Manuaba,
2010)
c. Pembuahan (fertilisasi)
Pembuahan adalah suatu proses pertemuan atau penyatuan
antara sel mani dan sel telur. Fertilisasi terjadi di tuba fallopi,
umumnya terjadi di ampula tuba, pada hari ke-11 sampai ke-14
dalam siklus menstruasi. Saat terjadi ejakulasi, kurang lebih 3 cc
sperma dikeluarkan dari organ reproduksi pria yang kurang lebih
berisi 300 juta sperma. Ovum yang akan dikeluarkan dari ovarium
sebanyak satu setiap bulan, ditangkap oleh fimbriae dan berjalan
menuju tuba fallopi. Kadar estrogen yang tinggi mengakibatkan
meningkatnya gerakan silia tuba untuk dapat menangkap ovum dan
menggerakkannya sepanjang tuba. (Pantikawati dkk, 2010)
Setelah menyatunya oosit dan membran sel sperma akan
dihasilkan zigot yang mempunyai kromosom diploid (44 kromosom
dan 2 gonosom) dan terbentuk jenis kelamin baru (XX untuk wanita
dan XY untuk laki-laki) (Kuswanti, 2014). Dalam beberapa jam
setelah pembuahan, mulailah pembelahan zigot selama tiga hari
sampai stadium morula. Hasil konsepsi ini tetap digerakkan kearah
rongga rahim oleh arus dan getaran rambut getar (silia) serta
kontraksi tuba. Hasil konsepsi tuba dalam kavum uteri pada tingkat
Blastula (Pantikawati dkk, 2010).
d. Implantasi
Setelah lima sampai tujuh hari setelah terjadi ovulasi terjadi,
blastosit tiba di rahim dalam keadaan siap untuk implantasi.
Produksi progesterone sedang pada puncaknya. Progesterone
merangsang pembuluh darah yang saraf oksigen dan zat gizi untuk
memberi pasokan pada endometrium agar tumbuh dan siap
menerima blastosit. Blastosit mengambang bebas di dalam rahim
selama beberapa hari seraya terus berkembang dan tumbuh. Kira-
kira sembilan hari setelah pembuahan, blastosit yang kini terdiri atas
beratus-ratus sel, mulai meletakkan dirinya ke dinding rahim dengan
penjuluran serupa spons dari sel-sel trofoblast. Penjuluran-
penjuluran itu meliang ke dalam endometrium.sel-sel tersebut
tumbuh menjadi vilus korionik,yang belakangan akan berkembang

12
menjadi plasenta. Mereka melepaskan enzim-enzim yang menembus
lapisan rahim dan menyebabkan jaringan terurai. Hal ini
menyediakan sel darah kaya gizi yang memberi makan blastosit.
Blastosit perlu waktu kira-kira 13 hari agar tertanam dengan kuat.
(Pantikawati dkk, 2010).
e. Plasentasi
Plasentasi adalah proses pembentukan struktur dan jenis
plasenta. Setelah nidasi embrio ke dalam endometrium, plasentasi
dimulai. Pada manusia plasentasi berlangsung sampai 12-18 minggu
setelah fertilisasi. Dalam 2 minggu pertama perkembangan hasil
konsepsi, tofoblas invasif telah melakukan penetrasi ke pembuluh
darah endometrium. Terbentuklah sinus introfoblastik yaitu ruangan-
ruangan yang berisi darah maternal dari pembuluh-pembuluh darah
yang dihancurkan. Pertumbuhan ini berjalan terus, sehingga timbul
ruangan-ruangan interviler dimana vili korialis seolah-olah terapung-
apung diantara ruangan-ruangan tersebut sampai terbentuknya
plasenta. (Prawirohardjo, 2010)
Tiga minggu pascafertilisasi sirkulasi darah janin dini dapat
diidentifikasi dan mulai pembentukan vili korialis. Sirkulaksi darah
janin ini berakhir di lengkung kapilar (capillary loops) di dalam vili
korialis yang ruang intervilinya dipenuhi dengan darah maternal
yang dipasok oleh arteri spiralis dan dikeluarkan melalui vena
uterina. Vili korialis ini akan bertumbuh menjadi suatu masa
jaringan yaitu plasenta. Lapisan desidua yang meliputi hasil konsepsi
kearah kavum uteri disebut desidua kapsularis, yang terletak antara
hasil konsepsi dan dinding uterus disebut desidua basalis, disitu
plasenta akan dibentuk. Desidua yang meliputi dinding uterus yang
lain adalah desidua parietalis. Hasil konsepsi sendiri diselubungi
jonjot-jonjot yang dinamakan vili korialis dan berpangkal pada
korion. Selsel fibrolas mesodermal tumbuh disekitar embrio dan
melapisi pula sebelah trofoblas. Dengan demikian, terbentuk
chorionic membrane yang kelak menjadi korion. Selain itu, vili
korialis yang berhubungan dengan desidua basalis tumbuh dan
bercabang-cabang dengan baik, di sini korion disebut korion
frondosum. Yang berhubungan dengan desidua kapsularis kurang

13
mendapat makanan, karena hasil konsepsi bertumbuh kearah cavum
uteri sehingga lambat laun menghilang, korion yang gundul disebut
korion leave. Darah ibu dan darah janin dipisahkan oleh dinding
pembuluh darah janin dan lapisan korion. Plasenta yang demikian
dinamakan plasenta jenis hemokorial. Di sini jelas tidak ada
percampuran darah antara darah janin dan darah ibu. Ada juga sel-sel
desidua yang tidak dapat dihancurkan oleh trofoblas dan sel-sel ini
akhirnya membentuk lapisan fibronoid yang disebut lapisan
nitabuch. Ketika proses melahirkan plasenta terlepas dari
endometrium pada lapisan nitabuch ini. (Prawirohardjo, 2010)
6. Perubahan Anatomi dan Fisiologi Kehamilan
a. Uterus
1) Ukuran
Pada kehamilan cukup bulan, ukuran uterus dengan
kapasitas lebih dari 4000 cc. hal ini memungkinkan bagi
adekuatnya akomodasi pertumbuhan janin. Pada saat ini rahim
membesar akibat hioertropi dan hiperplasi otot rahim,
serabutserabut kolagennya menjadi higroskopik dan
endometrium menjadi desidua. (Sulistyawati, 2011)
Tabel 1. Penambahan Ukuran TFU per tiga jari
Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri (TFU)
(minggu)
12 3 jari di atas simfisis
16 Pertengahan pusat-simfisis
20 3 jari di bawah pusat
24 Setinggi pusat
28 3 jari di atas pusat
32 Pertengahan pusat-prosesus xipoideus (px)
36 3 jari di bawah prosesus xipoideus (px)
40 Pertengahan pusat-prosesus xipoideus (px)
Sumber : Sulistyawati (2011)
2) Berat
Berat uterus naik secara luar biasa, dari 30 gram menjadi
1000 gram pada akhir bulan (Sulistyawati, 2011).
3) Posisi rahim dalam kehamilan
a) Pada permulaan kehamilan, dalam posisi antefleksi atau
retrofleksi
b) Pada 4 bulan kehamilan, Rahim tetap berada dalam rongga
pelvis

14
c) Setelah itu, mulai memasuki rongga perut yang dalam
pembesarannya dapat mencapai batas hati
d) Pada ibu hamil, Rahim biasanya mobile, lebih mengisi
rongga abdomen kanan atau kiri
(Sulistyawati, 2011).
7. Kebutuhan Dasar Kehamilan
a. Oksigen Kebutuhan
Oksigen ibu meningkat 20%, sebagai respon dari kehamilan
(Sunarsih, 2011: 128).
b. Nutrisi
Menurut Saifuddin (2010: 286) nutrisi yang perlu ditambahkan
pada saat kehamilan:
1) Kalori
Jumlah kalori yang diperlukan bagi ibu hamil untuk setiap
harinya adalah 2500 kalori. Jumlah kalori yang berlebih dapat
menyebabkan obesitas dan hal ini merupakan faktor presdiposisi
untuk terjadinya preeclampsia. Jumlah pertambahan berat badan
sebaiknya tidak melebihi 10-12 kg selama hamil.
2) Protein
Jumlah protein yang diperlukan oleh ibu hamil adalah 85
gram per hari. Sumber protein tersebut dapat diperoleh dari
tumbuh-tumbuhan (kacang-kacangan) atau hewani (ikan, ayam,
keju,susu, telur). Defisiensi protein dapat menyebabkan
kelahiran premature, anemia dan oedema.
3) Kalsium
Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah 1,5 gram per hari.
Kalsium dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, terutama bagi
pengembangan otak dan rangka. Sumber kalsium yang mudah
diperoleh adalah susu, keju, yogurt, dan kalsium bikarbonat.
Defisiensi kalsium dapat menyebabkan riketsia pada bayi atau
osteomalsia pada ibu.
4) Zat besi
Pemberian zat besi dimulai dengan memberikan satu tablet
sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang.tiap tablet
mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat

15
500 µg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya
tidak diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu
penyerapan. Metabolisme yang tinggi pada ibu hamil
memerlukan kecukupan oksigenasi jaringan yang diperoleh dari
pengikatan dan pengantaran oksigen melalui hemoglobin di
dalam sel-sel darah merah. Untuk menjaga konsentrasi
hemoglobin normal, diperlukan asupan zat besi bagi ibu hamil
dengan jumlah 30 mg/hari terutama setelah trimester kedua.
Sumber zat besi terdapat dalam sayuran hijau, daging yang
berwarna merah dan kacang-kacangan. Kekurangan zat besi
pada ibu hamil dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi.
5) Asam folat
Selain zat besi, sel-sel darah merah juga memerlukan asam
folat bagi pematangan sel. Jumlah asam folat yang dibutuhkan
oleh ibu hamil adalah 400 mikrogram perhari. Sumber makanan
yang mengandung asam folat diantaranya produk sereal dan biji-
bijian misalnya, sereal, roti, nasi dan pasta. Kekurangan asam
folat dapat menyebabkan anemia megaloblastik pada ibu hamil.
c. Eliminasi
1) Buang Air Kecil (BAK)
Peningkatan frekuensi berkemih pada TM III paling sering
dialami oleh wanita primigravida setelah lightening. Lightening
menyebabkan bagian presentasi (terendah) janin akan menurun
masuk kedalam panggul dan menimbulkan tekanan langsung
pada kandung kemih (Marmi, 2014: 134).
2) Buang Air Besar (BAB)
Konstipasi diduga akibat penurunan peristaltic yang
disebabkan relaksasi otot polos pada usus besar ketika terjadi
peningkatan hormon progesteron. Kontipasi juga dapat terjadi
sebagai akibat dari efek samping penggunaan zat besi, hal ini
akan memperberat masalah pada wanita hamil (Marmi, 2014:
137).
d. Istirahat
Wanita hamil harus mengurangi semua kegiatan yang
melelahkan. Wanita hamil juga harus menghindari posisi duduk,

16
berdiri dalam waktu yang sangat lama. Ibu hamil tidur malam kurang
lebih sekitar 8 jam setiap istirahat dan tidur siang kurang lebih 1 jam
(Marmi, 2014: 124-125).
e. Aktivitas
Senam hamil bertujuan mempersiapkan dan melatih otot-otot
sehingga dapat dimanfaatkan untuk berfungsi secara optimal dalam
persalinan normal. Senam hamil dimulai pada usia kehamilan sekitar
24-28 minggu. Beberapa aktivitas yang dapat dianggap sebagai
senam hamil yaitu jalan-jalan saat hamil terutama pagi hari
(Manuaba, 2012: 132-135). Jangan melakukan pekerjaan rumah
tangga yang berat dan hindarkan kerja fisik yang dapat menimbulkan
kelelahan yang berlebihan (Saifuddin, 2010: 287).
f. Personal Hygiene
Personal hygiene sangat diperlukan selama kehamilan, karena
kebersihan badan mengurangkan kemungkinan infeksi. Kebersihan
yang perlu diperhatikan selama kehamilan meliputi:
1) Pakaian yang baik untuk wanita hamil ialah pakaian yang enak
dipakai tidak boleh menekan badan. Penggunaan bra yang dapat
menopang payudara agar mengurangi rasa tidak nyaman karena
pembesaran payudara. Sepatu atau sandal hak tinggi, akan
menambah lordosis sehingga sakit pinggang akan bertambah.
2) Perawatan gigi, ibu hamil sering terjadi karies yang berkaitan
dengan emesis, hiperemesis gravidarum, hipersalivasi dapat
menimbulkan timbunan kalsium di sekitar gigi. Pemeriksaan
gigi saat hamil diperlukan untuk mencari kerusakan gigi yang
dapat menjadi penyebab infeksi.
g. Perawatan payudara
Mempersiapkan payudara untuk proses laktasi dapat dilakukan
perawatan payudara dengan cara membersihkan 2 kali sehari selama
kehamilan. Apabila putting susu masih tenggelam dilakukan
pengurutan pada daerah areola mengarah menjauhi putting susu
untuk menonjolkan putting susu. (Marmi, 2014: 120-122).

17
h. Kebersihan genetalia
Kebersihan vulva harus dijaga betul-betul dengan lebih sering
membersihkannya, memakai celana yang selalu bersih, jangan
berendam dan lain-lain (Marmi, 2014: 120-122).
i. Hubungan seksual
Hubungan seksual disarankan untuk dihentikan bila terdapat
tanda infeksi dengan pengeluaran cairan disertai rasa nyeri atau ikan
hubungan seksual panas, terjadi perdarahan saat hubungan seksual,
terdapat pengeluaran cairan (air) yang mendadak, hentikan pada
mereka yang sering mengalami keguguran, persalinan sebelum
waktunya, mengalami kematian dalam kandungan, sekitar dua
minggu menjelang persalinan (Manuaba, 2010: 120).
Pada umumnya koitus diperbolehkan. Pada masa kehamilan jika
dilakukan dengan hati-hati. Pada akhir kehamilan jika kepala sudah
masuk rongga panggul, koitus sebaiknya dihentikan karena dapat
menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan (Saifuddin, 2009: 120).
j. Imunisasi
Imunisasi yang dibutuhkan oleh ibu hamil yang terpenting
adalah tetanus toksoid. Imunisasi lain diberikan sesuai indikasi.
Jadwal pemberian imunisasi tetanus toksoid.
Tabel. 1 Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
Jadwal Pemberian
Imunisasi TT Lama Perlindungan
Imunisasi TT
Langkah awal
pembentukan kekebalan
TT1 -
tubuh terhadap penyakit
tetanus
TT2 4 minggu setelah TT1 3 tahun
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun
TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun
Sumber: Kemenkes RI, 2014
8. Kondisi Dan Penyakit Yang Perlu Diwaspadai
a. Kondisi yang perlu diwaspadai bagi WUS yang akan merencanakan
kehamilan, diantaranya:
1) Anemia
Anemia atau sering disebut kurang darah adalah keadaan di
mana darah merah kurang dari normal, dan biasanya yang
digunakan sebagai dasar adalah kadar hemoglobin (Hb). WHO

18
menetapkan kejadian anemia ibu hamil berkisar antara 20%
sampai 89% dengan menentukan Hb 11 g/dl sebagai dasarnya
(Almatsier, 2009). Anemia pada kehamilan merupakan masalah
nasional mencerminkan nilai kesejahteraaan sosial ekonomi
masyarakat dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas
sumber daya manusia. Sebagian besar wanita hamil mengalami
anemia yang tidak membahayakan. Tetapi, anemia dapat
meningkatkan resiko 10 penyakit dan kematian bayi baru lahir
serta meningkatkan penyakit pada ibu (Melisa dkk, 2013).
Usia remaja merupakan usia pertumbuhan anak-anak
menuju proses kematangan manusia dewasa. Pada usia remaja,
terjadi perubahan pada fisik, biologis, dan psikologis seseorang
dan terjadi secara terus-menerus selama usia remaja.
Ketidakseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizi berakibat
pada terjadinya masalah gizi, baik gizi kurang maupun gizi lebih
(Briawan, 2013:35).
Masalah gizi yang terjadi pada usia remaja merupakan efek
kelanjutan dari masalah gizi yang terjadi saat masih anak-anak.
Masalah tersebut antara lain anemia defisiensi besi, kekurangan
dan kelebihan berat badan. Kebiasaan makan yang dilakukan
semasa remaja akan memberikan dampak terhadap kondisi
kesehatan pada fase kehidupan selanjutnya. Remaja putri
memerlukan banyak asupan zat besi untuk mengganti zat besi
yang hilang bersama darah selama menstruasi berlangsung
(Sya’bani & Sumarmi, 2016:13).
Anemia gizi pada remaja putri merupakan atribut penyebab
tingginya kematian ibu, tingginya insiden bayi berat lahir
rendah, kematian prenatal tinggi dan akibatnya tingkat
kesuburan yang tinggi. Hal penting dalam mengontrol anemia
pada ibu hamil adalah dengan memastikan kebutuhan zat besi
pada remaja terpenuhi. Gizi remaja adalah refleksi dari awal
kekurangan gizi anak usia dini (Mariana & Khafidhoh, 2013:35-
36).

19
Penelitian Mairita, Arifin, & Fadilah (2018:3-4)
menjelaskan bahwa penyebab utama anemia adalah
berkurangnya kadar hemoglobin dalam darah atau terjadinya
gangguan dalam pembentukan sel darah merah dalam tubuh.
Berkurangnya sel darah merah secara signifikan dapat
disebabkan oleh terjadinya perdarahan atau hancurnya sel darah
merah yang berlebihan. Dua kondisi yang dapat memengaruhi
pembentukan hemoglobin dalam darah, yaitu efek keganasan
yang tersebar seperti kanker, radiasi, obat-obatan dan zat toksik,
serta penyakit menahun yang melibatkan gangguan pada ginjal
dan hati, infeksi, dan defisiensi hormon endokrin.
Tiga faktor terpenting yang menyebabkan seseorang
menjadi anemia, yaitu kehilangan darah karena perdarahan
secara kronis, pengrusakan sel darah merah sehingga terjadi
peningkatan kebutuhan zat besi, dan produksi sel darah merah
yang tidak cukup akibat infeksi penyakit (Andriani dan
Wirjatmadi, 2012). Beberapa infeksi penyakit memperbesar
resiko anemia. Infeksi itu umumnya adalah cacingan, karena
menyebabkan terjadinya peningkatan penghancuran sel darah
merah dan terganggunya eritrosit. Cacingan jarang sekali
menyebabkan kematian secara langsung, namun sangat
mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Infeksi cacing akan
menyebabkan malnutrisi dan dapat mengakibatkan anemia
defisiensi besi (Andriani dan Wirjatmadi, 2012).
2) Obesitas
World Health Organization (WHO) (2015) mendefinisikan
obesitas sebagai keadaan tubuh dengan jumlah lemak berlebih
atau tidak normal yang dapat menyebabkan gangguan pada
kesehatan tubuh. Cara untuk mengetahui seseorang obesitas atau
tidak adalah dengan melakukan penghitungan IMT, yaitu berat
badan (kg) dibagi tinggi badan dikali dua (m2). Pada orang
dewasa, hasil penghitungan dengan IMT lebih besar dari 27
menunjukan keadaan obesitas. Sementara itu, anak hingga
remaja usia 5-18 tahun tergolong obesitas jika Z-Score IMT/U
menunjukkan angka lebih besar dari 2.

20
Berikut ini terdapat beberapa faktor resiko obesitas, yaitu:
1) Porsi makan yang berlebihan. Makanan yang dapat
meningkatkan risiko obesitas adalah makanan yang
mengandung gula terlalu banyak dan juga junk food.
Makanan dengan kandungan gula yang tinggi sebaiknya
dikurangi karena gula mampu merubah fungsi hormon dan
biokimia dalam tubuh yang memicu penambahan berat
badan. Asupan makanan yang berlebih diiringi kebiasaan
gerak yang kurang akan menyebabkan obesitas. (Rossen
dan Rossen, 2012)
2) Lingkungan dapat memicu obesitas bila fasilitas kesehatan
yang mendukung gaya hidup sehat tidak tersedia, seperti:
tidak terdapatnya trotoar untuk berjalan kaki dan taman
untuk belohraga ringan; jadwal kerja yang padat yang
menjadikan alasan untuk tidak dapat beraktivitas setelah
bekerja. (Gibbons, 2013)
3) Waktu tidur dan jumlah tidur juga dapat menyebabkan
obesitas karena tidur membantu menjaga keseimbangan
hormon ghrelin dan leptin yang mengatur mekanisme rasa
kenyang. Kurangnya waktu tidur dapat meningkatkan
ghrelin dan menurunkan kadar leptin sehingga seseorang
merasa lapar. Tidur juga mempengaruhi reaksi tubuh
terhadap insulin. Kurangnya waktu tidur dapat
mengakibatkan kadar gula darah yang lebih tinggi dari
kadar normal, yang dapat meningkatkan risiko untuk
diabetes. (Gibbons, 2013)
4) Merokok dapat menyebabkan obesitas, karena beberapa
orang mengalami penambahan berat badan ketika mereka
berhenti merokok. Hal ini terjadi dikarenakan nikotin
meningkatkan pembakaran kalori, sehingga ketika berhenti
merokok akan sedikit kalori yang dibakar. Namun, bukan
berarti orang yang tidak berhenti merokok tidak akan
terkena obesitas. Hal ini dikarenakan kandungan nikotin
pada rokok dapat menekan selera makan sehingga
menyebabkan perokok cenderung mengonsumsi lebih

21
banyak makanan ringan daripada makanan pokok. Apabila
kebiasaan ini tidak disertai dengan aktivitas fisik yang
seimbang, maka seorang perokok tetap akan berisiko
terhadap obesitas. (Gibbons, 2013)
Merubah gaya hidup dapat diawali dengan memperhatikan
keseimbangan jumlah kalori yang masuk dengan pengeluaran
energi setiap harinya. Umumnya, perempuan membutuhkan
1000-1200 kalori/hari untuk mengurangi berat badan dengan
aman. Sedangkan laki-laki membutuhkan 1200-1600 kalori/hari
untuk pengurangan berat badannya. Selanjutnya perbanyak
konsumsi makanan fat-free dan low-fat dairy products, makanan
tinggi protein, makanan olahan gandum, buah dan sayur.
Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh, lemak trans,
kolesterol, tinggi garam, dan tinggi gula (Gibbons, 2013).
Langkah berikutnya adalah dengan memaksimalkan
aktivitas fisik. Banyak orang dapat menjaga berat badannya
dengan melakukan aktivitas fisik secara intensif dalam 150-300
menit/ minggu (Gibbons, 2013). Orang yang ingin menurunkan
berat badannya lebih dari 5% mungkin harus melakukan
aktivitas fisik intensif lebih dari 300 menit/ minggu. Kegiatan
tersebut tidak harus dilakukan secara keseluruhan dalam satu
waktu, namun dapat dibuat dalam periode yang lebih pendek
setidaknya 10 menit/periode (Gibbons, 2013).
b. Penyakit-penyakit Yang Perlu Diwaspadai
1) HIV/AIDS
HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang
merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan
menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang
dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga
rentan diserang berbagai penyakit. Infeksi HIV yang tidak
segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang
disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS
adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini,
kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang
sepenuhnya. (Kemenkes RI, 2015:4-5)

22
2) Infeksi Menular Seksual (IMS)
Infeksi menular seksual adalah infeksi yang disebabkan
oleg bakteri, virus, parasit, atau jamur yang penularannya
terutama melalui hubungan seksual dari seseorang yang
terinfeksi kepada mitra seksualnya. Infeksi menular sekusual
merupakan salah satu penyebab Infeksi Saluran Reproduksi
(ISR). IMS seperti gonore, klamidiasis, sifilis, trikomoniasis,
herpes genitalis, kondiloma akuminata, bacterial vaginosis, dan
infeksi HIV. (Kemenkes RI, 2015:82)
Infeksi HIV ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh
manusia. Beberapa cara yang menularkan HIV diantaranya
berhubungan seksual, melalui transfusi darah yang mengandung
HIV atau alat tindakan medis lain yang tercemar HIV,
penggunaan narkoba suntik bergantian juga beresiko tertular
HIV, dan HIV dapat menular dari ibu ke bayi pada saat
kehamilan, kelahiran dan ketika menyusui bayi. (Kemenkes RI,
2015:60-61)
3) Hepatitis
Hepatitis dapat terjadi pada setiap wanita atau pasangan dan
mempunyai pengaruh buruk bagi janin dan ibu saat terjadi
kehamilan. Pengaruhnya dalam kehamilan dapat dalam bentuk
keguguran atau persalinan prematuritas dan kematian janin
dalam rahim. (Prawiroharjo, 2010)
4) Diabetes Melitus (DM)
Telah terbukti adanya suatu hubungan antara hiperglikemia
pada sekitar waktu konsepsi dengan kelainan pembentukan
organ, terutama tuba nueral, jantung, dan ginjal. Komplikasi
yang dapat timbul selama masa kehamilan meliputi preeklamsia,
polihidramnion, dan persalinan prematur. Oleh karena itu,
wanita yang menderita diabetes melitus perlu mendapat
konseling dan memantau disbetesnya dengan cermat, baik
sebelum masa prakonsepsi maupun sepanjang masa usia subur.
(Prawirhardjo, 2010).

23
5) Anemia dan thalassemia
Pada perempuan dengan riwayat penyakit anemia
atauthalassemia akan bertambah buruk saat kehamilan. Pada
kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu
peningkatan produksi eritropoetin. Akibatnya, volume plasma
bertambah dan sel darah merah (eritrosit) meningkat. Namun,
peningkatan volume plasma terjadi dalam proporsi yang lebih
besar jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit sehingga
terjadi penurunan konsentrasi haemoglobin (Hb) akibat
hemodilusi. Pada lak-laki terapi androgen pada anemia dapat
meningkatkan produksi eritropoetin namun dapat menimbulkan
gejala prostatisme atau pertumbuhan yang cepat dari ca prostat.
(Prawirohardjo, 2010)
6) Hemofilia
Hemofilia A (defisiensi faktor VIII) dan Hemofilia B
(defisiensi faktor IX) diwariskan secara X-linked recessive.
Perempuan dari keluarga penderita hemofilia umumnya adalah
pembawa (carrier) yang asimptomatik. Namun 10-20%
perempuan pembawa dapat beresiko terhadap komplikasi
perdarahan yang bermakna karena penurunan faktor VIII atau
IX di bawah jumlah minimal untuk mempertahankan
keseimbangan hemostatik. Hemofilia dapat menyebabkan
infertilitas, namun sejumlah kecil penderita mungkin
mempunyai cukup folikel-folikel untuk hamil. (Prawirohardjo,
2010)
Pada laki-laki dengan Hemofilia lebih sering terjadi, gejala
perdarahan dalam waktu terus menerus dan lebih cepat karena
darah tidak dapat menggumpal tanpa pengobatan. Hal tersebut
dapat mengganggu saat berhubungan seksual dan dapat
menurunkan penyakit hemofilia pada keturunannya (Darmono,
2012).
7) TORCH
Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes
Simpleks. Kelima jenis penyakit yang disebutkan di atas
merupakan penyakit yang dapat menjangkiti pria maupun wanita

24
dan dapat berpengaruh buruk pada janin yang dikandung.
Toksoplasmosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit
yang disebut Toxoplasma gondii. Penyakit ini sering diperoleh
dari tanah atau kotoran kucing yang terinfeksi toksoplasma, atau
memakan daging dari hewan terinfeksi yang belum matang
sempurna. Gejala yang sering muncul meliputi: demam, nyeri
otot, kelelahan, dan pembengkakan kelenjar limfe.
(Prawirohardjo, 2010).
Wanita yang dalam usia reproduksinya bila terkena
toxoplasmosis dapat menimbulkan aborsi dan gangguan
fertilitas. Janin bisa terinfeksi melalui saluran plasenta. Infeksi
parasit ini bisa menyebabkan keguguran atau cacat bawaan
seperti kerusakan pada otak dan fungsi mata (Prawirohardjo,
2010).
9. Faktor yang mempengaruhi kesuburan
Kesuburan (fertilitas) adalah kemampuan seorang wanita (istri)
untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup dari pasangan pria
(suami) yang mampu menghamilkannya (Handayani, dkk, 2010). Masa
subur adalah suatu masa dalam siklus menstruasi perempuan di mana
terdapat sel ovum yang siap dibuah, sehingga bila perempuan tersebut
melakukan hubungan seksual maka dimungkinkan terjadi kehamilan.
Masa subur merupakan rentang waktu pada wanita yang terjadi “sebulan
sekali” (Indriarti, dkk, 2013). Masa subur terjadi pada hari ke-14 sebelum
menstruasi selanjutnya terjadi (Purwandari, 2011). Menurut Saifuddin,
dkk (2010), untuk perhitungan masa subur dipakai rumus siklus
terpanjang dikurangi 11 dan siklus terpendek dikurangi 18.
Gambar 1. Siklus Masa Subur

Sumber: Purwandari, 2011.

25
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuburan pasangan usia subur
antara lain:
a. Umur
Pada perempuan, usia reproduksi sehat dan aman untuk
kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun (Prawirohardjo,
2010). Rentang usia risiko tinggi adalah <20 tahun dan ≥ 35 tahun.
Hal ini dikarenakan pada usia<20 tahun secara fisik dan mental ibu
belum kuat yang memungkinkan berisiko lebih besar mengalami
anemia, pertumbuhan janin terhambat, dan persalinan prematur.
Sedangkan pada usia ≥35 tahun kondisi fisik mulai melemah.
Meskipun pada umur 40 tahun keatas perempuan masih dapat hamil,
namun fertilitas menurun cepat sesudah usia tersebut. Usia
reprodukstif perempuan yang terbaik pada usia 20 tahunan,
selanjutnya kesuburan secara bertahap menurun pada usia 30 tahun,
terutama setelah usia 35 tahun (American Society for Reproductive
Medicine, 2012).
Pada laki-laki, tingkat kesuburan akan mulai menurun secara
perlahan-lahan. Kesuburan laki-laki diawali saat memasuki usia
pubertas ditandai dengan perkembangan organ reproduksi, rata-rata
umur 12 tahun. Perkembangan organ reproduksi laki-laki mencapai
keadaan stabil umur 20 tahun. Tingkat kesuburan akan bertambah
sesuai dengan pertambahan umur dan akan mencapai puncaknya
pada umur 25 tahun. Setelah usia 25 tahun kesuburan pria mulai
menurun secara perlahan-lahan, dimana keadaan ini disebabkan
karena perubahan bentuk dan faal organ reproduksi (Khaidir, 2006).
Disarankan pria untuk menikah pada usia kurang dari 40 tahun,
karena di atas usia tersebut motilitas, konsentrasi, volume seminal,
dan fragmentai DNA telah mengami penurunan kualitas sehingga
meningkatkan risiko kecacatan janin (RSUA, 2013).
b. Frekuensi sanggama
Fertilisasi (pembuahan) atau peristiwa terjadinya pertemuan
antara spermatozoa dan ovum,akan terjadi bila koitus (senggama)
berlangsung pada saat ovulasi. Dalam keadaan normal sel
spermatozoa masih hidup selama 1-3 hari dalam organ reproduksi
wanita, sehingga fertilisasi masih mungkin jika ovulasi terjadi sekitar

26
1-3 hari sesudah koitus berlangsung. Sedangkan ovum seorang
wanita umurnya lebih pendek lagi yaitu lx24 jam, sehingga bila
kiotus dilakukan-pada waktu tersebut kemungkinan besar bisa terjadi
pembuahan. Hal ini berarti walaupun suami istri mengadakan
hubungan seksual tapi tidak bertepatan dengan masa subur istri yang
hanya terjadi satu kali dalam sebulan, maka tidak akan terjadi
pembuahandan tidak akan terjadi kehamilan pada istri (Khaidir,
2006).
c. Lama berusaha
Penelitian mengenai lamanya waktu yang dibutuhkan untuk
menghasilkan kehamilan menunjukkan, bahwa 32,7% seorang istri
akan hamil dalam satu bulan pertama, 57,0% dalam tiga bulan
pertama, 72.1% dalam enam bulan pertama, 85,4% dalam 12 bulan
pertama, dan 93,4% dalam 24 bulan pertama. Waktu rata~rata yang
dibutuhkan untuk menghasilkan kehamilan adaleh. 2,3-2.8
bulan.Jadi lama suatu pasangan suami istri berusaha secara
teraturmerupakan faktor penentu untuk dapat terjadi kehamilan
(Khaidir, 2006).
10. Menstruasi
a. Pengertian Menstruasi
Menstruasi merupakan perdarahan secara periodik dan siklik
dari uterus yang disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium
(Wiknjosastro, 2010). Pendarahan haid merupakan hasil interaksi
kompleks yang melibatkan sistem hormon dengan organ tubuh, yaitu
hipotalamus, hipofise, ovarium, dan uterus serta faktor lain di luar
organ reproduksi. (Prawirohardjo, 2011:161)
b. Siklus Menstruasi
Normal Panjang siklus menstruasi ialah jarak antara tanggal
mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya.
Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus.
Umumnya, jarak siklus menstruasi berkisar dari 15-45 hari dengan
rata-rata 28 hari. Lamanya berbeda-beda antara 2-8 hari, dengan
rata-rata 4-6 hari. Panjang daur menstruasi dapat bervariasi pada satu
wanita selama saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan
dari bulan ke bulan tergantung pada berbagai hal, termasuk

27
kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita tersebut (Wiknjosastro,
2010). Darah menstruasi biasanya tidak membeku. Jumlah
kehilangan darah tiap siklus berkisar 60-80 ml. Kira-kira tiga per
empat darah ini hilang dalam dua hari pertama. Wanita berusia.35
tahun (Benson, 2009).
c. Dysminorrhea
Menurut Andira (2010: 39-40), dysminorrhea adalah gangguan
fisik yang berupa nyeri atau kram perut. Gangguan ini biasanya
terjadi pada 24 jam sebelum terjadinya perdarahan menstruasi dan
terasa selama 24- 36 jam. Menurut Proverawati dan Misaroh (2009:
82-83), dysmenorrhea adalah nyeri menstruasi yang memaksa
wanita untuk istirahat atau berakibat menurunnya kinerja dan
berkurangnya aktivitas sehari-hari. Istilah dysmenorrhea berasal dari
bahasa “Greek” yaitu dys (gangguan atau nyeri hebat/ abnormalitas),
meno (bulan) dan rrhea yang artinya flow atau aliran. Jadi
dysmenorrhea adalah gangguan aliran darah menstruasi atau nyeri
menstruasi
Dysmenorrhea adalah rasa nyeri yang 14 timbul menjelang dan
selama menstruasi yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari,
ditandai dengan gejala kram abdomen bagian bawah karena
tingginya produksi hormon prostaglandin.
Beberapa faktor di bawah ini dianggap sebagai faktor resiko
timbulnya nyeri menstruasi (Atikah & Proverawati, 2009:87-88),
yaitu :
1) Menstruasi pertama (menarche) di usia dini atau kurang dari 12
tahun.
2) Wanita yang belum pernah melahirkan anak hidup (nullipara)
3) Darah menstruasi berjumlah banyak atau masa menstruasi yang
panjang
4) Merokok atau smoking
5) Adanya riwayat nyeri menstruasi pada keluarga
6) Obesitas atau kegemukan/ kelebihan berat badan

28
d. Penanganan Dysminorrhea
1) Yoga
Yoga, sebuah teknik fisik, mental, dan holistik alami yang
telah teruji, dapat menekan keparahan kram perut akibat PMS
yang melemahkan banyak wanita. Pose yoga, atau “asana,”
berpotensi untuk meringankan rasa sakit tertentu dengan
merentangkan pinggul dan sendi dan mengurangi stres
emosional yang dapat membuat otot tegang dan mengencang.
Dibawah ini beberapa gerakan yoga yang membantu
meringankan gejala nyeri dysminorrhea. (Solehati dan Kosasih,
2015), yaitu:
a) Reclining Twist
Reclining twist merupakan cara yang santai untuk
meningkatkan fleksibilitas tulang belakang sisi ke sisi, yang
dapat meringankan nyeri perut dan punggung bawah.
Berikut adalah caranya:
Gambar 2. Gerakan Reclining twist

Sumber: Solehati dan Kosasih (2015)


(1) Berbaring telentang, silangkan lutut kiri di atas sisi
kanan tubuh Anda.
(2) Rentangkan tangan lebar-lebar, posisi wajah melihat ke
arah kiri
(3) Tahan lima napas, rasakan tulang belakang Anda
memanjang dan berputar. Anda mungkin juga dapat
mendengar beberapa gemeretakan
(4) Gunakan otot perut untuk membalikkan lutut ke posisi
awal dan ulangi untuk sisi lainnya

29
b) Wide Child’s Pose
Pose ini memanjangkan punggung bawah dan
membuka pinggul sementara kedua lutut terpisah lebar dan
perut rileks di antaranya. Peregangan ini akan mengurangi
nyeri pinggul apapun, serta membantu meningkatkan atau
mempertahankan kesehatan pinggul. Pose ini akan memicu
perasaan relaksasi dan ketenangan
Gambar 3. Gerakan Wide Child’s Pose

Sumber: Solehati dan Kosasih (2015)


Berikut teknik prosedur pelaksanaan Wide Child’s Pose:
(1) Tempatkan lutut di lantai, lebarkan keduanya hingga
jarak yang nyaman. Kemudian lipat tubuh ke depan,
rentangkan lengan Anda di depan Anda.
(2) Istirahatkan dahi di atas matras atau tolehkan kepala
Anda ke satu sisi, tahan lima napas. Putar kepala untuk
menghadap ke sisi sebaliknya dan tahan 5 napas lagi.
c) Arching Pigeon
Arching pigeon dijuluki sebagai “pembuka pinggul”
karena pose ini ampuh untuk mengurangi kram perut, dan
membantu Anda merasa lebih santai. Arching pigeon
merangsang organ-organ internal, membentang otot bokong
dalam, lipatan paha, dan psoas — otot panjang di sisi kolom
tulang belakang dan panggul. Melatih pose ini bisa
membuat pinggul lebih fleksibel, mengurangi sesak yang
disebabkan oleh stres dan ketegangan.

30
Gambar 4. Gerakan Arching pigeon

Sumber: Solehati dan Kosasih (2015)


Berikut teknik prosedur pelaksanaan Arching pigeon:
(1) Duduk di lantai dengan lutut kanan ditekuk dan kaki
kiri lurus memanjang di belakang Anda
(2) Letakkan tangan di pinggul dan perlahan lengkungkan
punggung sampai Anda merasakan rentangan optimal
di pinggul kiri depan. Jika variasi ini terasa terlalu
menyakitkan, bersandarlah ke depan dan tempatkan
tangan di depan Anda. Jika Anda ingin peregangan
yang lebih maksimum, angkat kedua tangan terentang
di udara
(3) Tahan selama lima napas atau lebih, ulangi pose untuk
sisi sebaliknya
d) Cat pose
Cat pose memungkinkan Anda untuk meregangkan
tubuh atas dan leher sambil memberikan pijatan lembut
pada tulang belakang dan organ-organ perut. Aliran ini akan
mengirimkan energi melalui tulang belakang untuk
melancarkan peredaran darah dan mengurangi kecemasan.
Posisi ini membantu jika kram menstruasi yang disebabkan
oleh sembelit.

31
Gambar 5. Gerakan Cat pose

Sumber: Solehati dan Kosasih (2015)


Berikut teknik prosedur pelaksanaan Cat Pose:
(1) Bertumpu pada kedua lutut dan telapak tangan.
Pastikan tangan lurus sejajar bahu dan lutut di bawah
pinggul.
(2) Ambil napas dalam-dalam, kemudian turunkan dagu
perlahan menunju dada, sejauh yang Anda bis
(3) Lengkungkan punggung (seperti kucing yang
meregangkan tubuhnya) dan buang napas saat Anda
bangkit dari posisi. Ulangi semua pose sebanyak 3-5
kali atau sesuai kebutuhan.
2) Kompres hangat
Penanganan dismenore sangat penting untuk dilakukan,
terutama pada usia remaja, karena bila tidak ditangani akan
berpengaruh pada aktifitas remaja itu sendiri.Banyak remaja
putri yang belum mengetahui cara penanganan dismenore.
Sehingga menimbulkan masalah bagi remaja tersebut setiap
datang haid. Salah satu cara untuk mengurangi rasa nyeri yang
dialami seperti istirahat yang cukup, olahraga yang teratur,
pemijatan pada daerah pinggang, kompres hangat pada daerah
perut dan atur posisi (Yadi, 2009). Kompres hangat merupakan
metode memberikan rasa hangat pada klien dengan
menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada
bagian tubuh yang memerlukan. (Wahyuningsih, 2012).
Efek hangat dari kompres dapat menyebabkan vasodilatasi
pada pembuluh darah yang nantinya akan meningkatkan aliran
darah ke jaringan. Dengan cara ini penyaluran zat asam dan

32
makanan ke sel-sel diperbesar dan pembuangan dari zat-zat
diperbaiki yang dapat mengurangi rasa nyeri haid primer yang
disebabkan suplai darah ke endometrium kurang (PPNI, 2016).
Kompres hangat efektif untuk menurunkan nyeri dismenore
yang dirasakan remaja putri baik dihari pertama menstruasi
maupun dihari kedua menstruasi. Pemberian aplikasi hangat
pada tubuh merupakan suatu upaya untuk mengurangi gejala
nyeri akut maupun kronis. Terapi ini efektif untuk mengurangi
nyeri yang berhubungan dengan ketegangan otot walaupun
dapat juga dipergunakan untuk mengurangi berbagai jenis nyeri
yang lain (Arovah, 2010). Prinsip kerja dari kompres hangat
yaitu dengan cara memindahkan panas dari buli-buli panas kain
yang melapisi kompres kedalam tubuh yang akan
mengakibatkan terjadinya vasodilatasi pembulu darah yang
berujung pada menurunnya ketegangan otot sehingga nyeri yang
dirasakan pada saat haid akan berkurang dan berangsur
menghilang (Yadi, 2009).
11. Informasi Tentang Kesehatan Reproduksi
a. Kesehatan Reproduksi
Kesehatan Reproduksi menurut WHO (World Health
Organizations) adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang
utuh, bukan hanya bebas dari penyakit kecacatan dalam segala aspek
yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta proses
reproduksinya secara sehat dan aman (Nugroho, 2010:4)
Masalah kesehatan reproduksi dapat terjadi sepanjang siklus
hidup manusia, misalnya masalah pergaulan bebas pada remaja,
kehamilan remaja, aborsi yang tidak aman, kurangnya informasi
tentang kesehatan reproduksi. Status/ posisi perempuan di
masyarakat merupakan penyebab utama masalah kesehatan
reproduksi yang dihadapi perempuan, karena menyebabkan
perempuan kehilangan kendali terhadap kesehatan, tubuh, dan
fertilitasnya. Menurut Kemenkes RI (2015:10-11) Perempuan lebih
rentan dalam menghadapi risiko kesehatan reproduksi, seperti
kehamilan, melahirkan, aborsi yang tidak aman, dan pemakaian alat
kontrasepsi. Karena struktur alat reproduksinya, perempuan lebih

33
rentan secara sosial maupun fisik terhadap penularan IMS, termasuk
HIV-AIDS.
Masalah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dari hubungan
laki-laki dan perempuan. Strategi untuk memperbaiki kesehatan
reproduksi harus diperhitungkan pula kebutuhan, kepedulian, dan
tanggung jawab laki-laki. Walaupun korban kekerasan adalah
perempuan dan laki-laki, perempuan pada dasarnya lebih rentan
terhadap kekerasan atau perlakuan kasar, yang pada dasarnya
bersumber pada subordinasi perempuan terhadap laki-laki atau
hubungan gender yang tidak setara. Dalam melakukan peran mereka
sebagai pasangan, seorang suami dan istri haruslah memiliki
kesehatan lahir dan batin yang baik. Salah satu indikasi bahwa calon
pengantin yang sehat adalah bahwa kesehatan reproduksinya berada
pada kondisi yang baik. Kesehatan reproduksi adalah keadaan yang
menunjukkan kondisi kesehatan fisik, mental, dan sosial seseorang
dihubungkan dengan fungsi dan proses reproduksinya termasuk di
dalamnya tidak memiliki penyakit atau kelainan yang mempengaruhi
kegiatan reproduksi tersebut. Kemenkes RI (2015:12)
b. Hak Reproduksi dan Seksual
Hak Rerpoduksi dan seksual menjamin keselamatan dan
keamanan calon pengantin, termasuk didalamnya mereka harus
mendapatkan informasi yang lengkap tentang kesehatan reproduksi
dan seksual, serta efek samping obatobatan, alat dan tindakan medis
yang digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi.
(Kemenkes RI, 2015:12-13)
Informasi yang diterima harus bisa membuat calon pengantin
mengerti tentang informasi yang diberikan sehingga dapat membuat
keputusan tanpa terpaksa. Calon pengantin juga berhak untuk
memperoleh pelayanan KB yang aman, efektif, terjangkau, dapat
diterima, sesuai dengan pilihan tanpa paksaan. (Kemenkes RI,
2015:14)
Hak reproduksi juga mencakup informasi yang mudah, lengkap,
dan akurat tentang penyakit menular seksual, agar perempuan dan
laki-laki terlindungi dari infeksi menular seksual (IMS) serta dan
memahami upaya pencegahan dan penularannya yang dapat

34
berakibat buruk terhadap kesehatan reproduksi laki-laki, perempuan
dan keturunannya. (Kemenkes RI, 2015:14)
c. Organ Reproduksi
1) Organ Reproduksi Perempuan
a) Vulva
Vulva merupakan alat reproduksi paling luar yang
berupa celah. Celah ini dibatasi oleh sepasang labium
(bibir), yaitu labium kiri dan labium kanan. Di sebelah
dalam vulva terdapat tonjolan kecil yang disebut klitoris. Ke
dalam vulva bermuara dua saluran, yaitu uretra (saluran
urin) dan vagina (saluran vagina). (Nurhayati, 2014: 314)
b) Ovarium
Ovarium terdapat dalam rongga badan di daerah
pinggang, yaitu di sebelah kanan dan kiri. Dalam ovarium
terdapat kelenjar endokrin dan jaringan tubuh yang
membuat sel telur (ovum) yang disebut folikel. Sel folikel
akan memproduksi sel telur pada ovarium wanita. Peristiwa
pelepasan sel telur (ovum) dari ovarium setelah folikel
masak disebut ovulasi. Pada saat folikel telur tumbuh,
ovarium menghasilkan hormon estrogen, dan setelah
ovulasi menghasilkan hormon progesteron. (Nurhayati,
2014:314)
c) Tuba Fallopi (Saluran Telur)
Saluran telur berjumlah sepasang, yaitu saluran telur
kanan dan saluran telur kiri. Bagian pangkal saluran telur
berbentuk corong, disebut infundibulum tuba. Pada
infundibulum tuba terdapat jumbai-jumbai yang berperan
penting untuk menangkap sel-sel telur yang dilepaskan oleh
folikel didalam ovarium. (Nurhayati, 2014:315)
d) Uterus (Rahim)
Rahim merupakan rongga tempat pertumbuhan embrio
dimana kedua tuba fallopi bertemu. Rahim manusia
merupakan tipe simpleks, yaitu mempunyai sebuah
ruangan, berbentuk seperti buah pir dengan bagian bawah

35
yang mengecil. Fungsinya sebagai tempat tumbuh dan
berkembangnya janin. (Nurhayati, 2014:315)
e) Serviks (Leher Rahim)
Bagian rahim yang berbatasan dengan vagina. Pada saat
persalinan tiba, leher rahim membuka sehingga bayi dapat
keluar. (Kemenkes RI, 2015:16)
f) Vagina (Liang Senggama)
Vagina merupakan saluran akhir dari saluran kelamin
wanita yang terdapat di dalam vulva. Vagina berfungsi
sebagai jalan lahir, sebagai sarana dalam hubungan seksual
dan sebagai saluran untuk mengalirkan darah dan lendir saat
menstruasi. (Nurhayati, 2014: 316)
g) Labia (Bibir Kemaluan)
Labium (bibir) merupakan pembatas vulva. Labium
berjumlah sepasang. Di sebelah luarnya terdapat sepasang
labium mayor (bibir besar) dan di sebelah dalamnya
terdapat sepasang labium minor (bibir kecil). (Nurhayati,
2014: 314)
2) Organ Reproduski Laki-laki
a) Testis (Buah Zakar)
Testis disebut juga gonad pada pria. Wujudnya
berbentuk oval, berjumlah sepasang, diameter sekitar 5 cm,
ditutupi oleh skrotum, dan tersusun atas pembuluh-
pembuluh halus yang disebut tubulus seminiferus. Didalam
testis terdapat tubulus seminiferus (pembuluh-pembuluh
halus) dan sel-sel leydig. Tubulus seminiferus berfungsi
pada proses pembentukan sel sperma (Spermatogenesis),
sedangkan sel-sel leydig berfungsi untuk menghasilkan
hormon testosteron. Jadi, testis berfungsi sebagai alat untuk
memproduksi selsel sperma dan juga memproduksi hormon
testosteron. (Nurhayati, 2014:312)
b) Skrotum
Skrotum merupakan kantung kulit yang mengandung
lebih banyak pigmen, ditumbuhi rambut-rambut kasar, dan
banyak mengandung kelenjar. Di dalam skrotum terdapat

36
testis. Skrotum menggantung di bagian luar tubuh antara
kaki. Posisi ini membantu melindungi testis dari kerusakan
secara fisik dan sangat berperan penting untuk menjaganya
pada suhu 2-3ºC lebih rendah dari suhu tubuh yang cocok
untuk perkembangan sperma. (Nurhayati, 2014:312).
c) Vas deferens
Merupakan saluran lurus yang keluar dari epididimis.
Berfungsi untuk mengangkut sperma dari epididimis
menuju ke vesikula seminalis (Nurhayati, 2014:313)
d) Saluran Ejakulasi
Merupakan saluran pendek yang menghubungkan
vesikula seminalis (kantung semen) dengan uretra. Saluran
ini mampu menyemprotkan sperma sehingga masuk ke
dalam ureter dan mengalirkannya keluar (Nurhayati,
2014:313).
e) Uretra
Merupakan saluran akhir dari saluran kelamin yang
terdapat di dalam penis. Uretra sebagai alat pengeluaran
karena berfungsi untuk membuang urin keluar dari tubuh.
Sedangkan uretra sebagai saluran kelamin karena berfungsi
sebagai saluran semen dari kantung semen (Nurhayati,
2014:313).
f) Penis
Penis merupakan alat kopulasi (persetubuhan) pada
pria. Kopulasi adalah hubungan kelamin antara pria dan
wanita yang bertujuan untuk memindahkan semen ke
saluran kelamin wanita. Didalam penis terdapat uretra, yaitu
saluran akhir dari saluran kelamin yang dikelilingi oleh
jaringan erektil berongga. Jaringan erektil tersebut memiliki
banyak rongga dan mengandung banyak pembuluh darah.
Apabila ada emosi seksual, rongga ini akan terisi penuh
oleh darah. Hal ini akan menyebabkan penis tegang dan
membesar yang disebut ereksi. Hanya dalam keadaan
ereksilah penis seorang pria dapat berfungsi untuk kopulasi.
(Nurhayati, 2014:311).

37
d. Menjaga Kebersihan Organ Reproduksi
1) Sebaiknya pakaian dalam diganti minimal 2 kali sehari.
2) Tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat dan berbahan
non sintetik.
3) Pakailah handuk yang bersih, kering, tidak lembab/bau.
4) Membersihkan organ reproduksi luar dari depan ke belakang
dengan menggunakan air bersih dan dikeringkan menggunakan
handuk atau tisu.
5) Khusus untuk perempuan:
a) tidak boleh terlalu sering menggunakan cairan pembilas
vagina.
b) Jangan memakai pembalut tipis dalam waktu lama.
c) Pergunakan pembalut ketika mentruasi dan diganti paling
lama setiap 4 jam sekali atau setelah buang air.
d) Bagi perempuan yang sering keputihan, berbau dan
berwarna harap memeriksakan diri ke petugas kesehatan.
6) Bagi laki-laki dianjurkan disunat untuk kesehatan
(Kemenkes RI, 2015:12-13)
12. Informasi Tentang Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Dan Kanker
Payudara
a. Kanker Leher Rahim
Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus
merupakan kanker pembunuh perempuan nomor dua di dunia setelah
kanker payudara. Di Indonesia, kanker leher rahim bahkan
menduduki peringkat pertama. Kanker leher rahim yang sudah
masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam
jangka waktu relatif cepat. (Kemenkes RI, 2017:64)
Serviks atau leher rahim/mulut rahim merupakan bagian ujung
bawah rahim yang menonjol ke liang sanggama (vagina). Kanker
serviks berkembang secara bertahap. Proses terjadinya kanker ini
diperlukan waktu 1-20 tahun. (Kemenkes RI, 2017:65)
Menurut Kemenkes RI (2017:65) ada beberapa sebab yang
dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker leher rahim, antara
lain adalah :

38
1) Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia
muda.
Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan
seks, semakin besar risikonyo untuk terkena kanker leher rahim.
2) Berganti-ganti pasangan seksual.
Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan
meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang
ditularkan seperti infeksi Human Papilloma Virus (HPV) telah
terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker leher rahim.
3) Merokok.
Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena
kanker leher rahim dibandingkan dengan wanita yang tidak
merokok. Penelitian menunjukkan, lendir leher rahim pada
wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang
ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya
tahan leher rahim di samping merupakan faktor pencetus (ko-
karsinogen) infeksi virus.
4) Persalinan, infeksi, dan iritasi menahun pada leher rahim dapat
menjadi pemicu kanker leher rahim.
Menurut Kemenkes RI (2017:65-66) Pada fase prakanker, sering
tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun, kadang bisa
ditemukan gejala-gejala sebagai berikut:
1) Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina.
2) Perdarahan setelah sanggama yang kemudian berlanjut menjadi
perdarahan yang abnormal.
3) Timbulnya perdarahan setelah masa menopause
4) Keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat
bercampur dengan darah.
5) Timbul gejala-gejala kurang darah bila terjadi perdarahan
kronis.
6) Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila
ada radang panggul.
7) Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang
gizi.

39
Kematian pada kasus kanker leher rahim terjadi karena
sebagian besar penderita yang berobat sudah berada dalam stadium
lanjut. Padahal, dengan ditemukannya kanker ini pada stadium dini,
kemungkinan penyakit ini dapat disembuhkan sampai hampir 100%.
kuncinya adalah deteksi dini kanker leher rahim dapat dilakukan
dengan Papsmear atau Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam
Cuka). (Kemenkes RI, 2017:66)
b. Kanker Payudara
Kanker payudara adalah kanker terbesar kedua yang berisiko
diderita oleh perempuan setelah kanker leher rahim. Sampai saat ini,
penyebab pasti kanker payudara belum dapat diketahui. Tetapi dapat
dipastikan beberapa penyebab terjadinya kanker payudara.
(Kemenkes RI, 2017:68)
Menurut Kemenkes RI (2017:68) faktor resiko terkena kanker
payudara yaitu:
1) Perempuan yang merokok atau sering terkena/ menghisap asap
rokok (perokok pasif).
2) Pola makan tinggi lemak, mengandung banyak zat pengawet
atau pewarna.
3) Mendapat haid pertama kurang dari 12 tahun
4) Menopause (mati haid) setelah umur 50 tahun
5) Melahirkan anak pertama sesudah umur 35 tahun
6) Tidak pernah menyusui anak
7) Pernah mengalami operasi pada payudara yang disebabkan oleh
kelainan tumor jinak atau tumor ganas
8) Di antara anggota keluarga ada yang menderita kanker payudara
Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan SADARI.
SADARI merupakan cara deteksi dini akan adanya benjolan atau
perubahan pada payudara dibandingkan dengan keadaan sebelumnya
oleh karena itu SADARI dianjurkan dilakukan sebulan sekali setelah
selesai haid. (Kemenkes RI, 2017:68)

40
B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan Pra Konsepsi
1. Manajemen Kebidanan
a. Manajemen 7 Langkah Varney
Menurut Muslihatun (2009:122-125) berikut merupakan tujuh
langkah manajemen kebidana menurut varney, yaitu:
1) Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Melakukan pengkajian dengan pengumpulan semua data
yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien meliputi,
riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, meninjau catatan terbaru
atau catatan sebelumnya, meninjau data laboratorium dan
membandingkan dengan hasil studi. Pada langkah ini,
dikumpulkan semua data yang akurat dari semua sumber yang
berkaitan dengan kondisi klien.
2) Langkah II : Interpretasi Data
Menetapkan diagnosis atau masalah berdasarkan penafsiran
data dasar yang telah dikumpulkan.
3) Langkah III : Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain
berdasarkan rangkaian diagnosis dan masalah yang sudah
teridentifikasi.
4) Langkah IV : Tindakan Segera dan Kolaborasi
Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi perlunya
tindakan yang dilakukan oleh bidan atau dokter untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama anggota tim kesehatan
yang lain sesuai dengan kondisi klien.
5) Langkah V : Perencanaan Asuhan yang Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang dilakukan
secara menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-
langkah sebelumnya, tidak hanya meliputi hal yang sudah
teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang
berkaitan, tetapi dilihat juga dari apa yang akan diperkirakan
terjadi sebelumnya.
6) Langkah VI : Pelaksanaan
Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan adalah rencana
asuhan yang sudah dibuat pada langkah 5 secara aman dan

41
efisien. Dalam situasi ini, bidan harus berkolaborasi dengan tim
kesehatan lain atau dokter, dengan demikian bidan hanya
bertanggung jawab atas tatalaksananya rencana asuhan yang
menyeluruh yang telah dibuat bersama tersebut.
7) Langkah VII : Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan keefektifan dari asuhan yang
sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan
apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan
sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa.
Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar
efektif dalam pelaksanaannya.
b. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan dengan SOAP
Menurut Yusari, dkk (2016:58-59) pendokumentasian asuhan
kebidanan dengan SOAP, yaitu:
1) Subyektif
Pengkajian yang diperoleh dengan anamnesis, berhubungan
dengan masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien
mengenai kekhawatiran dan keluhannya yang dicatat sebagai
kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan
langsung dengan diagnosis.
2) Obyektif
Data berasal dari observasi yang jujur dari pemeriksaan
fisik pasien, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan
diagnostik lainnya.
3) Assesment
Pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi
(kesimpulan) dari data subyektif dan obyektif.
4) Planning
Perencanaan dibuat saat ini dan yang akan datang. Rencana
asuhan akan disusun berdasarkan hasil analisis dan interpretasi
data yang bertujuan untuk mengusahakan tercapainya kondisi
pasien seoptimal mungkin dan mempertahankan kesejahteraan
pasien.

42
2. Asuhan Kebidanan Pra Nikah
a. Data Subyektif
1) Biodata/ Identitas
a) Nama
Digunakan untuk membedakan antar klien yang satu
dengan yang lain. Sastrawinata, 1983:154 (dalam Marmi,
2017:179).
b) Umur
Menurut Muadz (2013:145) pernikahan yang ideal
adalah wanita dengan usia 20 tahun keatas dan laki-laki
dengan usia 25 tahun keatas.
c) Suku Bangsa
Untuk menentukan adat istiadat atau budayanya
(Marmi, 2017:179).
d) Agama
Untuk menentukan bagaimana kita memberikan
dukungan kepada ibu selama memberikan asuhan (Marmi,
2017:179).
e) Pendidikan
Selain sebagai tambahan identitas, informasi tentang
pendidikan dan pekerjaan orang tua, baik ayah maupun ibu,
dapat menggambarkan keakuratan data diperoleh serta dapat
ditentukan pola pendekatan dalam anamnesis. (Wahidiyat,
2014:6)
f) Pekerjaan
Pekerjaan ibu yang berat bisa mengakibatkan ibu
kelelahan secara tidak langsung dapat menyebabkan
involusi dan laktasi terganggu sehingga masa nifas pun jadi
terganggu pada ibu nifas normal (Marmi, 2017:179).
g) Alamat
Untuk mengetahui keadaan lingkungan dan tempat
tinggal (Marmi, 2017:179).

43
2) Keluhan Utama
Keluhan atau sesuatu yang dirasakan oleh pasien yang
mendorong pasien mencari layanan kesehatan. (Kemenkes RI,
2017:63)
3) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Penyakit Sekarang
Penjelasan dari keluhan utama, mendeskripsikan
perkembangan gejala dari keluhan utama tersebut dimulai
saat pertama kali pasien merasakan keluhan. Menemukan
adanya gejala penyerta dan mendeskripsikannya (lokasi,
durasi, frekuensi, tingkat keparahan, faktor yang
memperburuk dan mengurangi keluhan. (Kemenkes RI,
2017:63)
b) Riwayat Penyakit Dahulu
Keterangan terperinci dari semua penyakit yang pernah
dialami dan sedapat mungkin menuliskan dengan urutan
waktu, baik riwayat penyakit yang diderita sewaktu kecil,
penyakit yang diderita sesudah dewasa beserta waktu
kejadiannya serta riwayat alergi dan riwayat operasi,
riwayat pemeliharaan kesehatan atau riwayat trauma fisik
baik riwayat penyakit menular atau keturunan. (Kemenkes
RI, 2017:63-64)
c) Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat mengenai ayah, ibu, saudara laki-laki, saudara
perempuan pasien, dituliskan tentang umur, keadaan
kesehatan masing-masing bila masih hidup, atau umur
waktu meninggal dan sebabnya. Tuliskan hal-hal yang
berhubungan dengan peranan keturunan atau kontak
diantara keluarga. Ada atau tidaknya penyakit spesifik
dalam keluarga, misalnya jantung, hipertensi, diabetes dan
sebagainya. (Kemenkes RI, 2017:64)
4) Riwayat Obstetri
a) Riwayat Menstruasi
Beberapa yang harus dikaji meliputi menarche, yaitu
usia pertama kali mengalami mengalami menstruasi, siklus

44
menstruasi yaitu jarak antara menstruasi yang dialami
dengan menstruasi sebelumnya, volume dan lamanya
menstruasi serta keluhan yang dirasakan selama menstruasi.
(Marmi, 2015:112)
b) Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu
Meliputi pengkajian riwayat kehamilan, persalinan,
jumlah anak, bayi yang dilahirkan, dan proses nifas.
(Kemenkes RI, 2017:65)
c) Riwayat KB
Riwayat penggunaan alat kontasepsi meliputi jenis
kontrasepsi, keluhan atau efek samping penggunaan alat
kontrasepsi dan jangka waktu penggunaan alat kontrasepsi
serta rencana penggunaan alat kontrasepsi selanjutnya.
(Kemenkes RI, 2017:68)
5) Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
a) Kebutuhan Nutrisi
Menggambarkan tentang pola makan dan minum,
frekuensi, banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010:133).
(1) Makan
Widyakarya Nasional Pangan Gizi VI (WKNPG
VI) menganjurkan Angka Kecukupan Gizi (AKG)
energi untuk remaja dan dewasa muda perempuan
2000-2200 kkal, sedangkan untuk laki-laki antara 2400-
2800 kkal setiap hari. Kekurangan nutrisi akan
berdampak pada penurunan fungsi reproduksi (Felicia,
dkk, 2015).
Hasil kajian menunjukkan kisaran distribusi energi
gizi makro dari pola konsumsi penduduk Indonesia
berdasarkan analisis data Riskesdas (2010) adalah 9-
14% energi protein, 24-36% energi lemak, dan 54-63%
energi karbohidrat yang belum sebaik yang diharapkan,
yaitu 5-15% energi protein, 25-55% energi lemak, dan
40-60% energi karbohidrat tergantung usia atau tahap
tumbuh kembang.

45
Dengan menggunakan hasil perhitungan AKE dan
AKP pada setiap kelompok umur dan jenis kelamin,
serta kompoissi penduduk hasil Sensus Penduduk
tahun 2010 (dalam Hardinsyah, Riyadi dan Napitupulu,
2013:1-2), diperoleh rata-rata AKE dan AKP nasional
pada tingkat konsumsi masing-masing adalah 2150 kkal
dan 57 gram perkapita perhari denganproporsi anjuran
protein hewani 25 %.
(2) Minum
Air merupakan zat gizi yang paling mendasar.
Tubuh manusia terdiri kira-kira 50-70%. Semakin tua
usia seseorang, maka proporsi air tubuhnya semakin
berkurang. Pada orang dewasa, asupan cairan berkisar
antara 1200-1500 cc perhari, walaupun sering
dianjurkan 1900 cc sebagai batas optimum. (Uliyah dan
Hidayat, 2009:32)
b) Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan
buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan
bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi,
warna jumlah. (Ambarwati dan Wulandari, 2010:136)
c) Personal hygiene
Personal hygiene yang buruk dapat menimbulkan
infeksi pada organ reproduksi (Kemenkes, 2015:26).
Mengganti pakaian dalam 2 kali sehari, tidak menggunakan
pakaian dalam yang ketat dan berbahan non sintetik. Saat
menstruasi normalnya ganti pembalut maksimal 4 jam
sekali atau sesering mungkin (Kemenkes RI, 2015:28).
Menggunakan air bersih saat mencuci vagina dari arah
depan ke belakang dan tidak perlu sering menggunakan
sabun khusus pembersih vagina ataupun obat semprot
pewangi vagina (Fitriyah, 2014).
d) Hubungan Seksual
Kebutuhan seksual merupakan salah satu kebutuhan
yang harus dipenuhi dan sangat penting untuk diperhatikan

46
oleh pasangan suami-istri baik ketika sakit maupun sehat.
Manusia memiliki 14 kebutuhan dasar hidup yang wajib
dipenuhi untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Seksualitas adalah salah satu komponen penting kebutuhan
dasar manusia dari 14 kebutuhan dasar manusia tersebut.
Gangguan-gangguan seksualitas bisa dirasakan oleh satu
pihak saja ataupun kedua pihak. Pola hubungan seksual
yang normal biasanya 1-3 kali dalam 1 minggu. (Nuryadi
dan Supriadi, 2012).
e) Istirahat/ tidur
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadarkan diri
yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa
kegiatan, tetapi lebih kepada suatu urutan siklus yang
berulang. Kebutuhan tidur atau istirahat pada masa dewasa
dengan rentan usia 18-40 tahun biasanya mencapai 7-8 jam/
hari. (Uliyah dan Hidayat, 2009:111)
f) Aktivitas
Apa saja aktivitas yang dilakukan klien, kelelahan
dapat mempengaruhi sistem hormonal. Aktivitas fisik dapat
memicu penurunan sirkulasi hormone seksual (Idriss, dkk,
2015).
g) Kebisasaan Yang Merugikan Kesehatan
(1) Merokok
Seorang perokok pasif akan memiliki risiko yang
sama dengan perokok aktif. Hampir semua komplikasi
pada plasenta dapat ditimbulkan oleh rokok, seperti
abortus, solusio plasenta, infusiensi plasenta, plasenta
previa dan BBLR. Selain itu dapat menyebabkan
dampak buruk bagi janin antara lain SIDS (sindroma
kematian bayi mendadak), penyakit paru kronis, asma,
otitis media (Prawirohardjo, 2010).
(2) Minuman Beralkohol
Konsumsi minuman beralkohol dikaitkan dengan
peningkatan kejadian banyak penyakit, termasuk
sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskular

47
(Wakabayashi 2010:501). Sudah lama diketahui bahwa
konsumsi alkohol (etanol) mengganggu metabolisme
lipid yang menyebabkan disfungsi jaringan adiposa.
Konsumsi alkohol kronis mengganggu metabolisme
lipid karena meningkatkan lipolisis di jaringan adiposa
dan menyebabkan deposisi lemak ektopik di dalam hati
dan perkembangan penyakit perlemakan hati (Steiner
dan Lang, 2017). Selain itu, konsumsi etanol sering
dikaitkan dengan peningkatan dalam konsentrasi
trigliserida plasma dan memiliki relevansi dengan
risiko penyakit kardiovaskular dan pankreatitis (Van De
Wiel, 2012).
(3) Obat-Obatan
Obat telah menurunkan angka kematian dan angka
kesakitan dan meningkatkan kesehatan, tetapi hanya
jika obat tersebut aman, berkhasiat, bermutu dan
digunakan dengan benar. Obat yang tidak aman, tidak
berkhasiat, tidak bermutu dan tidak digunakan dengan
benar dapat menimbulkan berbagai masalah bagi
kesehatan, kegagalan pengobatan bahkan kematian dan
dalam jangka panjang akan meningkatkan biaya
kesehatan yang sebenarnya terbatas. (WHO, 2010)
(4) Jamu-Jamuan
Konsumsi jamu-jamuan yang belum jelas
komposisinya dapat membahayakan janin dan ibu.
Satu hal yang menjadi perhatian medis adalah
kemungkinan mengendapnya material jamu pada air
ketuban.Air ketuban yang tercampur dengan residu
jamu membuat air ketuban menjadi keruh dan
menyebabkan bayi hipoksia sehingga mengganggu
saluran napas janin (Purnawati, dkk, 2012).
(5) Seks Bebas
Dampak adanya perilaku seks bebas pada remaja
adalah dapat menimbulkan rasa bersalah, takut, cemas,
apabila terjadi kehamilan dapat dikucilkan di

48
masyarakat, timbul perasaan malu dan depresi. Selain
itu, mempengaruhi fisiologis perilaku seks bebas yiatu
dapat mengakibatkan terjadinya kehamilan yang tidak
diinginkan sehingga melakukan tindakan aborsi, dan
tertular penyakit seksual seperti HIV AIDS, sifilis,
(Sarwono, 2011).
6) Riwayat Psikososial Spiritual
a) Riwayat Pernikahan
Meliputi status perkawinan, usia pertama kali menikah,
pernikahan yang keberapa dan lama pernikahan
sebelumnya, jumlah anak pada pernikahan sebelumnya,
status kesehatan pasangan sebelumnya, riwayat penyakit
pasangan sebelumnya, ada atau tidak perilaku seksual
beresiko serta hubungan dengan suami sekarang.
(Kemenkes RI, 2017:54)
b) Riwayat Psikososial dan Spiritual
Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut
adat istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan
pasien khususnya terkait persiapan dan kesiapan dalam
mempersiapkan pernikahan. (Ambarwati dan Wulandari,
2010:134)
Kondisi psikologis individu yang perlu di kaji saat
premarital psychological screening antara lain: kepercayaan
diri kedua pihak sebelum membangun sebuah keluarga,
kemandirian masing-masing calon dalam memenuhi
kebutuhan hidup sahari-hari misal bekerja atau kendaraan
dan tempat tinggal pribadi, tidak lagi selalu bergantung
pada orang tua, kemampuan komunikasi antara kedua belah
pihak yang dapat membantu menyelesaikan persoalan
dalam rumah tangga serta penentuan pengambil keputusan
dalam keluarga, efek masa lalu yang belum terselesaikan
harus dapat dikomunikasikan secara terbuka antara kedua
pihak. Selain itu hubungan antara kedua pihak keluarga,
seberapa jauh keluarga besar dapat menerima atas
pernikahan tersebut (Kemenkes, 2013:23).

49
Keadaan budaya dan spiritual kedua pihak,
perkawainan antar budaya atau ras akan menimbulkan
masalah-masalah dan isu-isu yang spesifik, misalnya
tentang perbedaan dalam mengekspresikan cinta dan
keintiman, cara berkomunikasi, keyakinan beragama,
komitmen dan sikap yang mengarah pada perkawinan itu
sendiri, nilai-nilai kultural yang disampaikan oleh orangtua
sejak kecil dan pola pengasuhan anak (Imanda, 2016).
b. Data Obyektif
1) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum
Dengan penilaian keadaan umum ini akan dapat
diperoleh kesan apakah pasien dalam keadaan distres akut
yang memerlukan pertolongan segera, ataukah pasien dalam
keadaan yang relatif stabil sehingga pertolongan dapat
diberikan setelah dilakukan pemeriksaan fisis yang lengkap
(Wahidiyat, 2014:23).
b) Kesadaran
Kesadaran composmentis yaitu pasien sadar
sepenuhnya respons yang adekuat terhadap semua stimulus
yang diberikan. Apatik yaitu pasien dalam keadaan sadar
namun tampak acuh tak acuh terhadap keadaan sekitar, ia
memberi respons yang adekuat bila diberikan stimulus. Dan
somnolen yaitu pasien tampak mengantuk, selalu ingin
tidur, ia tidak responsif terhadap stimulus ringan tetapi
masih memberikan respons terhadap stimulus yang agak
keras kemudian tertidur lagi (Wahidiyat, 2014:25-26).
c) Tekanan Darah
Pemeriksaan tekanan darah dilakukan ketika istirahat
sekitar 15 menit setalah melakukan suatu aktivitas fisik.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai adanya kelainan
pada gangguan sistem kardiovaskuler. (Kemenkes RI,
2017:69)
Tekanan darah normal untuk orang dewasa yaitu
120/80 mmHg. Pada Ukuran tekanan darah ini dibagi

50
menjadi dua bagian yaitu tekanan sistolik menunjukkan
tekanan darah di dalam arteri pada saat jantung berkontraksi
untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh, sedangkan
tekanan diastolik menunjukkan tekanan darah di dalam
arteri pada saat jantung bersitirahat untuk mengisi darah
dari seluruh bagian tubuh. (Kemenkes RI, 2017:69)
d) Suhu
Demam dapat terjadi pada trauma otak, tumor otak,
keganasan, penyakit jaringan ikat, reaksi obat lain-lainnya.
Hipertermia (suhu tubuh >410C) adalah keadaan yang
berbahaya sehingga perlu penurunan suhu tubuh dengan
segera. Suhu Normal biasanya berkisar antara 36.50C –
37.50C. (Wahidiyat, 2014:32).
e) Nadi
Denyut nadi merupakan frekuensi pemompaan jantung
pada arteri. Pengukuran denyut nadi dilakukan dengan
menggunakan stetoskop atau menggunakan jari yang
ditekankan pada nadi penderita selama 60 detik. Denyut
nadi normal untuk orang dewasa adalah 60 - 100 kali per
menit. Pada bayi dan anak - anak denyut nadi normal lebih
tinggi daripada orang dewasa. (Wahidiyat, 2014:32)
f) Pernafasan
Respirasi normal atau pernafasan normal untuk orang
dewasa adalah 12 - 20 kali per menit. Pada bayi dan anak -
anak laju perapasan normal lebih tinggi daripada orang
dewasa. Laju pernapasan dapat mengalami peningkatan
dengan olahraga, demam atau karena penyakit paru, atau
kondisi medis lainnya. (Wahidiyat, 2014:32)
g) Berat Badan (BB)
Berat badan (BB) adalah parameter antropometri yang
sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan
kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan
kebutuhan zat gizi terjamin, BB berkembang mengikuti
pertambahan umur. Berat badan harus selalu dimonitor agar
memberikan informasi yang memungkinkan intervensi gizi

51
yang preventif sedini mungkin guna mengatasi penurunan
atau penambahan berat badan yang tidak dikehendaki.
(Marmi, 2015:121-122)
Berat Badan Sehat adalah nilai rata-rata berat badan
dari sekelompok orang yang memiliki status gizi yang
bormal. Pada anak balita status gizi dengan z-skor BB/U
antara +1 sampai -1. Pada kelompok usia lainnya bila nilai
IMT atau IMT/U berada diantara 20.25 sampai 23.25.
(Hardinsyah, Riyadi dan Napitupulu, 2013:4)
h) Tinggi Badan (TB)
Tinggi badan merupakan salah satu parameter yang
dapat melihat status gizi sekarang dan keadaan yang telah
lalu. Pertumbuhan tinggi/ panjang badan tidak seperti berat
badan yang relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan
gizi pada waktu singkat. (Marmi, 2015:122)
i) Indeks Masa Tubuh
Status gizi dapat ditentukan dengan pengukuran IMT.
Indeks Masa Tubuh (IMT) merupakan proporsi standar
berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB). IMT perlu
diketahui untuk menilai status gizi catin dalam kaitannya
dengan persiapan kehamilan. (Kemenkes RI, 2017:21)
j) LILA
Penapisan status gizi dilakukan dengan pengukuran
menggunakan pita LILA pada WUS untuk mengetahui
adanya risiko KEK. Ambang batas LILA pada WUS dengan
risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila hasil
pengukuran kurang dari 23,5 cm atau dibagian pita merah
LILA artinya perempuan tersebut mempunyai resiko KEK,
diperkiraka akan melahirkan bayi BBLR. (Kemenkes RI,
2017:22)
k) Indeks Masa Tubuh (IMT)
Status gizi dapat ditentukan dengan pengukuran IMT.
Indeks Masa Tubuh (IMT) merupakan proporsi standar
berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB). IMT perlu

52
diketahui untuk menilai status gizi catin dalam kaitannya
dengan persiapan kehamilan. (Kemenkes RI, 2017:21)
2) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Mengkaji adanya kelainan bawaan atau genetik,
keadaan rambut, kulit kepala, warna dan kebersihan atau
keluhan dan masalah yang dimiliki klien. (Marmi,
2015:122)
b) Wajah
Keadaan muka pucat merupakan salah satu tanda
anemia. Sedangkan oedem pada muka bisa menunjukkan
adanya masalah serius jika muncul dan tidak hilang setelah
beristirahat dan diikuti dengan keluhan fisik yang lain.
(Marmi, 2015: 122)
c) Mata
Mata ada edema atau tidak, Konjungtiva: merah muda
atau pucat Skelra: putih atau tidak. (Marmi, 2017)
d) Hidung
Bersih, tidak ada polip, tidak ada secret. (Marmi, 2017)
e) Mulut
Mulut dan gigi: Lidah bersih, gigi: tidak ada karies.
(Marmi, 2017)
f) Telinga
Bersih, tidak ada serumen. (Marmi, 2015: 123)
g) Leher
Pembengkakan kelenjar getah bening merupakan tanda
adanya infeksi pada klien. Pembengkakan vena jugularis
untuk mengetahui adanya kelainan jantung, dan kelenjar
tiroid untuk menyingkirkan penyakit Graves dan mencegah
tirotoksikosis. (Marmi, 2015: 122)
h) Ketiak
Tidak ada benjolan dan pembesaran kelenjar limfe.
(Marmi, 2017)

53
i) Dada
Jantung: irama jantung teratur, paru-paru; ada ronchi
dan wheezing atau tidak. (Marmi, 2017)
j) Payudara
Tidak terdapat benjolan/masa yang abnormal. (Marmi,
2015: 123)
k) Abdomen
Menilai ada tidaknya massa abnormal dan ada tidaknya
nyeri tekan. (Marmi, 2015: 123)
l) Genitalia
Tidak terdapat tanda-tanda IMS seperti bintil-bintil
berisi cairan, lecet, kutil seperti jengger ayam pada daerah
vulva dan vagina. Tidak terdapat tanda-tanda keputihan
patologis. (Marmi, 2015: 123)
m) Ekstremitas
Tidak ada odema, CRT < 2 detik, akral hangat,
pergerakan bebas, tidak ada varises. (Marmi, 2015: 123)
n) Reflek patella
Hiperrefleksia (3+ dan 4+) merupakan salah satu tanda
preeklamsi berat. Klonus biasanya terlihat menjelang
eklamsia atau pada eklamsia aktual.
3) Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Darah Rutin
(1) Hemoglobin
Pemeriksaan haemoglobin dilakukan untuk
mendeteksi adanya anemia dan penyakit ginjal.
Peningkatan haemoglobin dapat menunjukkan indikasi
adanya dehidrasi, penyakit paru obstruksi menahun,
gagal jantung kongesif, dan lain-lain. (Uliyah dan
Hidayat, 2009:194)
(2) HbsAg
Peradangan hati atau hepatitis disebabkan oleh
virus hepatitis, perlemakan, parasite (malaria, ameba),
alkohol, obat-obatan, dan virus lain (dengue, herpes).
Cara penularannya untuk hepatitis A dan hepatitis E

54
melalui kotoran atau mulut, sementara hepatitis B, C,
dan D melalui kontak cairan tubuh (ibu ke anak, anak
ke anak atau dari dewasa ke anak, transfusi darah dan
organ yang tidak diskrining, penggunaan jarum yang
tidak aman, hubungan seksual, serta kontak dengan
darah). (Kemenkes RI, 2017:2)
Penularan Hepatitis dari ibu ke anak atau secara
vertikal memiliki kemungkinan sekitar 90% hingga
95%. Hal tersebut yang mendasari Kemenkes
memprioritaskan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil
terutama pada remaja dengan persiapan kehamilan
setelah menikah. (Kemenkes RI, 2017:2)
(3) Sifilis
Sifilis merupakan salah satu IMS (infeksi menular
seksual) yang menimbulkan kondisi cukup parah
misalnya infeksi otak (neurosifilis), kecacatan tubuh
(guma). Pada populasi ibu hamil yang terinfeksi sifilis,
bila tidak diobati dengan adekuat, akan menyebabkan
67% kehamilan berakhir dengan abortus, lahir mati,
atau infeksi neonatus (sifilis kongenital). Pada asuhan
pra nikah dianjurkan untuk pemeriksaan sifilis
mengingat akan persiapan kehamilan nantinya.
(Kemenkes RI, 2013:1)
(4) HIV/AIDS
Langkah dini yang paling efektif untuk mencegah
terjadinya penularan HIV pada bayi adalah dengan
mencegah perempuan usia reproduksi tertular HIV.
Komponen ini dapat juga dinamakan pencegahan
primer. Pendekatan pencegahan primer bertujuan untuk
mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi secara dini,
bahkan sebelum terjadinya hubungan seksual. Hal ini
berarti mencegah perempuan muda pada usia
reproduksi, ibu hamil dan pasangannya untuk tidak
terinfeksi HIV. Dengan demikian, penularan HIV dari

55
ibu ke bayi dijamin bisa dicegah. (Kemenkes RI,
2015:9)
(5) Golongan Darah dan Rhesus
Pemeriksaan Golongan darah dan rhesus bertujuan
menghindari komplikasi fatal saat transfusi darah, yaitu
penghancuran sel darah (hemolisis). Sistem imun yang
dimiliki seseorang akan melihat antigen yang tidak
cocok dengan dirinya sebagai benda asing, sehingga
antibodi dalam tubuh akan menyerang serta
menghancurkan sel darah. Penghancuran sel darah ini
dapat menyebabkan anemia, gagal ginjal, gangguan
paru-paru, hingga syok anafilaktik. (Kemenkes RI,
2017:77)
b) Pemeriksaan Darah yang Dianjurkan
(1) Gula Darah Sewaktu
Pemeriksaan gula darah perlu dilakukan oleh
pasangan apalagi jika ada riwayat diabetes dalam
keluarga. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk
mencegah dan komplikasi yang disebabkan oleh
diabetes. Terutama ketika nanti hamil, wanita dengan
risiko diabetes otomatis kan turut membahayakan janin
yang dikandung. (Kemenkes RI, 2017:80-81)
(2) TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, Citomegalovirus,
dan Herpes)
TORCH adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh infeksi virus Toksoplasma Gondii, Rubella,
Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes Simplex Virus II
(HSV-II). TORCH dapa menimbulka masalah
kesuburan (fertilitas) baik pada perempuan maupun
laki-laki sehingga menyebabkan sulit terjadinya
kehamilan, kecacatan janin, dan resiko keguguran.
(Kemenkes RI, 2017:82)

56
c. Analisa
1) Diagnosa Kebidanan
Asuhan Kebidanan Pra Konsepsi Fisiologis
2) Diagnosa Potensial
Mengidentifikasi diagnosa potensial atau masalah potensial
yang mungkin akan terjadi. Pada langkah ini diidentifikasi
masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah
dan diagnosa, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila
memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap bila hal
tersebut benar-benar terjadi. Melakukan asuhan yang aman
penting sekali dalam hal ini.
3) Antisipasi tindakan segera
Pada langkah ini dilakukan tindakan segera oleh bidan atau
dokter atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama
dengan anggota tim yang lain sesuai dengan kondisi klien.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010:141-142)
d. Penatalaksanaan
Rencana asuhan dibuat sesuai dengan masalah yang ditemukan
dalam pengkajian, (Kemenkes RI, 2017:101-110) meliputi:
1) Menjelaskan hasil pemeriksaan dengan bahasa yang mudah
dimengerti sangat penting agar calon ayah dan ibu memahami
kondisinya dan dapat mengambil keputusan terkait dengan
masalah yang dihadapi.
2) Berikan KIE tentang kesehatan reproduksi, persiapan
kehamilan, persalian, nifas dan menyusui serta meningkatkan
pengetahuan pasangan tentang kesehatan reproduksi dan
prakonsepsi.
3) Anjuran untuk banyak mengkonsumsi makanan atau suplemen
asam folat untuk prakonsepsi. Disarankan mengkonsumsi asam
folat minimal 1 bulan sebelum hamil agar indung telur yang
dihasilkan berkualitas. Selain itu asam folat mampu menurunkan
resiko gangguan metabolisme DNA yang bisa saja terjadi.
4) Anjuran konsumsi tablet penambah darah guna mencegah
terjadinya anemia serta konsumsi vitamin C sebagai suplemen

57
penambah imunitas dan membantu penyerapan zat besi dalam
tubuh.
5) Penanganan terhadap nyeri haid dengan menggunakan terapi
non-farmakologis yaitu menggunakan yoga dan kompres hangat.
6) Anjuran untuk deteksi dini kanker leher rahim dengan IVA Test/
PAP SMEAR dan deteksi dini kanker payudara dengan
SADARI.
7) Anjuran Laboratorium lengkap untuk pemeriksaan terkait darah,
urin, infertilitas baik WUS dan pasangannya serta sebagai
deteksi dini penyakit menular/ keturunan.

58