Anda di halaman 1dari 8

Lembar Diskusi Kelompok Kecil

(DIKERJAKAN OLEH SELURUH KELOMPOK DAN DIBAWA DAN DIKUMPULKAN


PADA SAAT DISKUSI KASUS)
Program Studi

: Program Pendidikan Profesi Apoteker,


Jurusan Farmasi FMIPA UNUD
Mata Kuliah
: Farmakoterapi Terapan
Kode MK.SKS
: FAPT1112/2SKS
Diskusi Kelompok : I
Judul Makalah
: INFEKSI SALURAN NAPAS PNEUMONIA
Anggota Kelompok : I PUTU RISKA WINATHA
(1608611006)
TAKZIM
(1608611007)
HERLINA DEDO
(1608611008)
I GEDE PASEK PADMANABA
(1608611009)
ANAK AGUNG RIAS PARAMITA DEWI (1608611010)
Hari/Tgl/Waktu

: Selasa/20 september/100 menit

Nama Anggota Kelompok Kecil Diskusi Kelas (Case Study):


No
Nama Mahasiswa
1
Maria E B B Horang
2
Alfinnada Rafika
3
Praditya Widya Pariwara
4
Nur Ramadhana Dewi S
5
I Wayan Feby Andika
Koordinator Kelompok Kecil: Praditya Widya Pariwara

PEMBAHASAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien
Ruang

:
:

Anak

Umur
Jenis Kelamin
Diagnosa

:
:
:

5 tahun
Perempuan
Pneumonia

II. SUBYEKTIF

NIM
1608611001
1608611002
1608611003
1608611004
1608611005

Keluhan Utama
Keluhan Tambahan
III. OBYEKTIF

:
: -

Demam hilang timbul

Riwayat penyakit terdahulu : Batuk berdahak (+), lendir berwarna putih encer (+), pilek
(+), hidung tersumbat (+), wheezing (+), ronkhi (+),sesak
napas (+), demam (+), nafsu makan menurun, rewel (+),
wajah pucat (+), lemas (+)
Riwayat pengobatan : Ibuprofen 100mg/5mL syrup 3 dd 1, ambroxol 5 mg 3 dd 1, CTM 2
mg 1 dd 1, salbutamol 2 mg 3 dd 1, defenhiramin HCL 5
mg 3 dd 1 yang dibuat dalam bentuk puyer dan terapi
antibiotik amoxicilin 250 mg 3 dd 1.
Hasil foto thorax PA

: Patchy infiltrate pada bronchus dengan ciri khas


pneumonia

IV. ASSESMENT
4.1 Terapi Pasien
*diisi dengan terapi pasien untuk keluhan saat ini, tidak termasuk riwayat terapi atau terapi pada
kunjungan dokter/fasilitas kesehatan sebelumnya
4.2 Problem medik dan DRP pasien
PROBLEM

SUBYEKTIF dan

MEDIK

OBYEKTIF

TERAPI

1. Pneumonia

Subyektif

2. Penurunan

Demam hilang timbul

mg/5 mL syr 3

M 1.1 Obat tidak

kadar

Obyektif

dd 1

efektif atau gagal

kalium dan

1. Hasil foto thorax 2. Ambroxol 5 mg

natrium
3. Pasien
mengalami
resistensi
amoxicillin

1. Ibuprofen

DRP

100 1. Masalah

PA yaitu adanya

3 dd 1

103/mm3

HCl 5 mg 3 dd 1

a. Antibiotika

Hasil
kultur
menunjukkan
patchy
infiltrate 3. CTM 2 mg 1 dd
pasien mengalami
pada
bronkus
1
resitensi antibiotika
amoxicillin,
dengan ciri khas 4. Salbutamol
2
sehingga
terapi
pneumonia
mg 3 dd 1
antibiotik dengan
menggunakan
2. WBC = 15,8 x 5. Difenhidramin
3. Neutros = 67%

Amoxicillin 250 mg

amoxicillin tidak
efektif

atau

4. Na = 130 mEq/L

3 dd 1

gagal.

5. K = 3,0 mEq/L

b. Antipiretik

6. Hasil kultur dahak

Efek

samping

menunjukkan

yang

dapat

pasien

ditimbulkan oleh

resistensi

amoxicillin.
Riwayat

ibuprofen adalah

penyakit

induksi gangguan

terdahulu :

pada

saluran

Batuk berdahak (+),

cerna.

lendir berwarna putih

2. Masalah

encer (+), pilek (+),

M 3.2 Obat tidak

hidung tersumbat (+),

diperlukan CTM

wheezing (+), ronkhi

dan

(+), mengi (-), sesak

difenhidramine

napas (+), demam (+),

HCl

nafsu makan menurun,

obat yang sama-

rewel (+), wajah pucat

sama

(+),

sebagai

lemas

(+),

BAK/BAB lancar
Riwayat pengobatan:

merupakan
bertindak

antihistamin
3. Masalah

Ibuprofen 100 mg/5mL

syr 3 dd 1, ambroxol 5

indikasi

mg 3 dd 1, CTM 2 mg

tidak diterapi

1 dd 1, salbutamol 2 mg

Hasil

3 dd 1, difenhidramine

pemeriksaan

HCl 5 mg 3 dd 1 yang

laboratorium

dibuat

menunjukkan

dalam

bentuk

1.4

ada
yang

puyer dan amoxicillin

adanya

250 mg 3 dd 1

penurunan kadar
Na dan K dalam
darah,

yang

belum diberikan
terapi tambahan.
4. Masalah
Masalah lainnya
terkait
penyiapan
bentuk
sediaan
puyer.

4.3 Pertimbangan pengatasan DRP

a. Permasalahan 1
1. Antibiotika
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya adanya
peningkatan jumlah leukosit yaitu 15,8 x 103/mm3 dan jumlah neutrofil yang
predominan yaitu sebesar 67%. Peningkatan jumlah leukosit pada rentang 15 x 10 3
40 x 103 dan adanya dominasi neutrofil menunjukkan bahawa adanya infeksi
bakteri (Dipiro et al., 2005; Bradley et al., 2011). Pemberian amoksisilin sebagai
terapi empiris sudah tepat karena merupakan lini pertama, namun apabila hasil
kultur telah diketahui maka antibiotika yang digunakan harus diganti menjadi
antibiotika yang memiliki spektrum sempit dan sesuai patogen yang menginfeksi
(DirBinFar Komunitas dan Klinik, 2005). Hasil kultur dahak pasien menunjukkan
bahwa ditemukannya bakteri yang termasuk dalam golongan Streptococcus.
Streptococcus merupakan salah satu contoh bakteri gram positif yang peka terhadap
antibiotik golongan penisilin (Pelczar and Chan, 2010; DirBinFar Komunitas dan
Klinik, 2005). Namun hasil kultur dahak juga menunjukkan bahwa adanya tanda
resistensi bakteri terhadap beberapa jenis antibiotik khususnya golongan penisilin
salah satu diantaranya adalah amoxicillin.
Intervensi yang dapat dilakukan pada tataran penulis resep yaitu dengan
mengajukan penggantian jenis antibiotika dalam terapi pneumonia. Antibiotika
yang dapat diajukan antara lain azitromisin, klaritromisin atau eritromisin.
Pengajuan beberapa antibiotika tersebut didasarkan atas pertimbangan penggunaan
antibiotika lini kedua dalam terapi pneumonia anak yang berusia 5 tahun sesuai
dengan Alberta Guidline dan Cincinnati Guidline (Shrock et al., 2012). Selain itu

hasil pemeriksaan terhadap sensitivitas bakteri menunjukkan bahwa bakteri


Streptococcus yang ditemukan di specimen dahak sensitif terhadap azitromisin,
klaritromisin atau eritromisin.
Pada pengatasan DRP kasus ini, penulis menganjurkan untuk mengganti
amoxicillin dengan antibiotika azitromisin, karena eritromisin dan klaritromisin
dapat mempengaruhi obat yang dimetabolisme oleh sitokrom P450 (Katzung et al.,
2010). Paracetamol merupakan salah satu obat yang dimetabolisme di hati melalui
sitokrom P450, sehingga penggunaan eritromisin atau klaritromisin bersama
paracetamol dapat mempengaruhi metabolisme dan kadar paracetamol dalam
plasma. Penggunaan azitromisin untuk terapi pasien dalam dosis 10 mg/kg/hari
pada hari pertama dan diikuti 5 mg/kg/hari selama 4 hari berikutnya (DirBinFar
Komunitas dan Klinik, 2005) atau 20 mg/kg/hari selama 3 hari dengan dosis
maksimum harian azitromisin untuk anak-anak adalah 500 mg (Electronic
Medicines Compendium, 2016). Pemakaian obat yang satu kali sehari diharapkan
dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam terapi. Dosis pemakaian azitromisin
adalah 15 mL atau 1 sendok makan untuk suspensi oral 100mg/5mL satu kali sehari
selama 3 hari sesudah makan.
2. Pemilihan Antipiretik
Pemilihan ibuprofen sebagai antipiretik pada kasus ini kurang tepat dan
dikhawatirkan dapat menimbulkan reaksi efek samping pada saluran pencernaan
meliputi pendarahan pada lambung atau menginduksi terjadinya ulcer sehingga
menyebabkan menurunnya kenyamanan pasien dalam terapi. Ibuprofen dapat
diganti dengan agen antipiretik lainnya, khususnya paracetamol. Paracetamol
dianjurkan karena merupakan obat lini pertama dalam mengatasi demam pada anak.
Dosis yang diberikan pada anak umur 5 tahun adalah 1,5 sendok takar untuk
sediaan paracetamol syr 120 mg/5mL.
b. Permasalahan 2
CTM atau dan difenhidramine HCl merupakan obat yang sama-sama bertindak
sebagai antihistamin, penggunaan obat yang memiliki efek farmakologi sama dapat
menurunkan efektivitas terapi dan terkait pula dengan farmakoekonomi. Pada kasus

ini penggunaan CTM sebaiknya dihentikan, dan penggunaan difenhidramine HCl


dilanjutkan sebagai agen antihistamin dengan aturan pemakaian 5 mg 3 dd 1.
c. Permasalahan 3
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya penurunan kadar Na atau
hiponatremia dan K atau hipokalemia jika dibandingkan dengan nilai normal.
Hiponatremia didefinisikan sebagai penurunan kadar natrium plasma yang kurang
dari 135 mEq/L (Spasovski et al., 2014), keadaan ini terjadi pada pasien dengan
kadar Na sebesar 130 mEq/L. Jenis hiponatremia yang dialami pasien termasuk
dalam golongan hiponatremia ringan karena masih berada pada rentang 130-135
mEq/L (Spasovski et al., 2014). Selain mengalami hiponatremia, pasien juga
mengalami hipokalemia dengan kadar K plasma sebesar 3,0 mEq/L. Adanya
indikasi penurunan kadar Na dan K dalam tubuh pasien belum memperoleh terapi
tambahan, hal ini menunjukkan adanya permasalahan pada domain indikasi yang
tidak diterapi dengan kode M 1.4. Intervensi yang dapat dilakukan oleh seorang
apoteker dapat pada tataran pasien melalui penyediaan informasi tertulis. Kadar Na
yang kurang dari 130 mEq/L membutuhkan tambahan terapi cairan infus,
sedangkan Na pasien masih berada pada kadar 130 mEq/L sehingga tidak
membutuhkan terapi cairan infus salin. Namun untuk dapat mengembalikan kadar
Na pasien dalam keadaan normal, maka dibutuhkan intervensi berupa pemberian
informasi dan anjuran kepada pasien untuk mengkonsumsi sumber nutrisi elektrolit
yang adekuat. Pasien yang mengalami gejala asimptomatik umumnya mengalami
hipokalemia ringan (3,5 hingga 3,0 mEq/L) dan tidak memerlukan koreksi yang
mendesak. Untuk membantu mengembalikan kondisi kadar K normal pada pasien
maka dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan kaya kalium diantaranya pisang,
tomat, kentang, kacang, bayam, daging sapi dan daging domba (Cohn et al., 2000).
d. Permasalahan 4
Dalam paparan kasus terdapat kerancuan yang menyatakan bahwa pasien
diberikan obat penurun panas (ibuprofen 100 mg/5 ml syrup 3 dd 1), ambroxol 5
mg 3 dd 1, CTM 2 mg 1 dd 1, salbutamol 2 mg 3 dd 1, difenhidramine HCl 5 mg 3
dd 1 yang dibuat dalam bentuk puyer. Masing-masing obat memiliki aturan
pemakaian yang berbeda-beda, sehingga tidak dapat dibuat dalam satu sedian puyer

campuran dari semua obat tersebut. Berdasarkan pertimbangan DRP diatas maka
obat yang tetap diberikan antara lain ambroxol 5 mg 3 dd 1, salbutamol 2 mg 3 dd
1, difenhidramine HCl 5 mg 3 dd 1 yang dibuat dalam bentuk puyer terpisah.
Apabila disetujui oleh penulis resep maka diberikan azitromisin suspensi oral
100mg/5mL 1 dd 1 selama 3 hari dengan takaran sendok makan dan paracetamol
syr 120 mg/5mL sebanyak 1,5 sendok takar.
V. PLAN
5.1 Care plan
A. DRP 1 diatasi dengan intervensi pada

1. Penulis resep : Sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep mengenai


penggantian obat amoksisilin dan ibuprofen. Hasil kultur dahak menunjukkan bahwa
adanya tanda resistensi bakteri terhadap beberapa jenis antibiotik khususnya golongan
penisilin salah satu diantaranya adalah amoxicillin sedangkan untuk mengatasi
demam pada anak pneumonia penggunaan ibuprofen memiliki efek samping pada
saluran pencernaan yaitu menginduksi terjadinya ulcer sehingga menyebabkan
menurunnya kenyamanan pasien.
2. Care giver : Memberikan informasi pada orangtua pasien bahwa terdapat penggantian
obat yaitu amoksisilin diganti dengan azitromisin dan ibuprofen diganti dengan
parasetamol , setelah dikonsultasikan dengan dokter.
a. DRP 2 diatasi dengan intervensi pada :
1. Penulis resep : Sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep mengenai
penggunaan obat CTM dan difenhidramin HCL karena kedua obat ini memiliki
indikasi sama yaitu sebagai antihistamin. Sehingga disarankan untuk menghentikan
pemberian salah satu obat ini yaitu CTM .
2. Care giver : Memberikan informasi pada orangtua pasien mengenai penghentian
penggunaan obat yaitu CTM.
b. DRP 3 diatasi dengan intervensi pada :
1. Care giver : Memberikan informasi pada orangtua pasien untuk mengkonsumsi
sumber nutrisi elektrolit yang adekuat dan untuk mengkonsumsi makanan kaya kalium
diantaranya pisang, tomat, kentang, kacang, bayam, daging sapi dan daging domba.
c. DRP 4 diatasi dengan intervensi pada :

d. Penulis resep : Sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep mengenai


mengenai penggunaan obat puyer yang dipisahkan.
e. Care giver : Memberikan informasi pada orangtua pasien mengenai mengenai
penggunaan obat puyer yang dipisahkan.
1.5.3

Monitoring

a. Efektivitas Terapi
Pemantauan respon terapi awal dengan antibiotik setelah 48-72 jam ditandai dengan
perbaikan kondisi klinis yang nyata seperti penurunan suhu tubuh ke kondisi normal (Harris,
et al. 2011). Jika penyakit tidak menunjukan perbaikan yang nyata dalam 48-72 jam obat
diganti dengan antibiotik lain yang lebih tepat. Pemantauan terapi untuk obat antipiretik
adalah suhu tubuh normal antara 36,5 -37,5, jika suhu tubuh suhu normal selama 24 jam
maka terapi obat antipiretik dapat dihentikan, terapi antipiretik dengan obat parasetamol
tidak boleh lebih dari 7 hari dikarenakan menyebabkan efek samping hepatotoksik (Bradley,
et al., 2011; PDPI, 2003).
b. Efek Samping
Untuk menghindari efek samping obat Azitromisin, obat diminum setelah makanan untuk
mengatasi efek samping terhadap saluran cerna, dan menyarankan orang tua pasien untuk
tidak meminum obat antasida bersama dengan obat ini. Terapi antipiretik dengan obat
parasetamol tidak boleh lebih dari 7 hari dikarenakan menyebabkan efek samping
hepatotoksik. Efek samping penggunaan Difenhidramin HCl dapat menyebabkan kantuk,
disarankan kepada orang tua pasien sebaiknya pasien tidak melakukan aktifitas.