Anda di halaman 1dari 3

Saat mengetahui bahwa suatu penggabungan badan usaha telah menjadi kegiatan

positif untuk menjaga eksistensi perusahaan, maka penulis pun berpikir mengenai salah satu
isu yang sering banyak dipertanyakan oleh banyak kalangan adalah Mengapa perusahaan
bergabung dengan perusahaan lain, atau membeli perusahaan lain (akuisisi). Pasti
jawabannya pun akan bervariasi sesuai dengan tingkat kebutuhan setiap kalangan. Ada pihak
yang menyetujui tindakan tersebut dan ada juga yang tidak.
Lalu bagaimana jika salah satu penggabungan badan usaha tersebut adalah
merger? Akankah dengan merger maka sektor perusahaan, perbankan atau bidang lainnya
menjadi lebih baik seperti peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai merger,
akuisisi dan konsolidasi bank?. Dari artikel yang penulis baca bahwa sepanjang tahun 2011,
nilai transaksi penggabungan usaha (merger) asing lebih dominan dibandingkan dengan
merger lokal atau domestik. Namun, dari jumlah merger, maka penggabungan usaha antar
perusahaan domestik tercatat paling banyak sepanjang periode 2011 hingga kini.
Dalam ruang lingkup ekonomi, merger adalah penggabungan perusahaan dengan jalan
pemilikan langsung oleh suatu perusahaan lain yang digabungkan. Pada cara ini, perusahaan
yang mengambil alih perusahaan lain merupakan satu satunya diantara perusahaan lain
yang mempertahankan identitas serta melanjutkan usahanya, sedangkan perusahan lain yang
menyerahkan hartanya dibubarkan dengan demikian perusahaan tersebut harus kehilangan
statusnya sebagai unit usaha yang terpisah. Biasanya penggabungan ini dilakukan dengan
jalan memiliki seluruh harta kekayaan dan mengakui semua kewajiban atau hutang hutang
dari perusahaan yang dibubarkan tersebut. Pembayaran terhadap kekayaan tersebut dapat
berupa uang tunai maupun surat surat berharga. Dalam pembayaran jika pembayaran
melebihi jumlah nilai pasar dari kekayaan bersih yang diserahkan, maka selisih lebih tersebut
dapat diakui dan dicatat sebagai pembayaran goodwill.
Menurut penulis merger adalah strategi bagi perusahaan untuk mengekspansi atau
restrukturisasi dengan cara menggabungkan dua perusahaan atau lebih. Dalam merger hanya
ada satu perusahaan yang dibiarkan hidup, sementara perusahaan lainnya dibubarkan tanpa
likuidasi. Bagi penulis alasan utama yang harus dipertimbangkan adalah bahwa dalam
kegiatan penggabungan atau pembelian ( akuisisi ) perusahaan ini adalah kedua belah pihak
merasa diuntungkan. Artinya menguntungkan bagi pemilik perusahaan yang dijual, dan juga
pemilik perusahaan yang membelinya.
Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa perusahaan maupun bank ternama telah
berhasil melakukan merger dan tetap bertahan hingga sekarang. Beberapa diantaranya adalah
penggabungan tiga perusahaan farmasi pada tahun 2005 yaitu PT Kalbe Farma Tbk, PT

Dankos Laboratories Tbk, dan PT Enseval. Dalam penggabungan ini, badan hukum yang
dipertahankan adalah PT Kalbe Farma Tbk, sedangkan kedua perusahaan lainnya dibubarkan.
Semua aset dan kewajiban perusahaan yang menggabungkan diri (PT Dankos dan PT
Enseval) selanjutnya akan beralih ke dalam PT Kalbe Farma. Karena PT Kalbe Farma dan PT
Dankos sudah menjadi perusahaan terbuka yang menjual sahamnya di Pasar Modal
Indonesia, proses mergernya juga wajib dilakukan menurut aturan Badan Pengawasan Pasar
Modal (Bapepam).
Didirikan pada tanggal 10 September 1966, oleh dr. Boenjamin Setiawan, Ph.D
dan teman-teman. Sebelum merger, Kalbe Farma memiliki 4 anak perusahaan di
bidang farmasi yang sukses, yaitu PT. Finusol Prima, PT. Bifarma Adiluhung,
Innogene Kalbiotech Pte. Ltd, dan PT. Dankos Laboratories (Mixagrip, Fatigon).
Bahkan nama yang disebutkan terakhir memiliki tiga anak perusahaan yang sukses,
yaitu PT. Bintang Toejoe (Extra Joss, Komix, Irex) dan PT. SakaFarma (Sakatonic
ABC, Sakatonic Liver) dan PT Hexphram Laboratories (Obat-obat generik) .
Dari semua perusahaan farmasi, nama PT Kalbe Farma Tbk. boleh jadi disegani
oleh para pesaingnya. Pasalnya, Kalbe Farma menjadi satu-satunya perusahaan
farmasi yang memiliki kekuatan yang seimbang, baik untuk produk over-the-counter
maupun produk ethical. Apalagi pasca merger Kalbe dengan anak perusahaan dan
perusahaan distribusinya, PT Dankos Laboratories dan PT Enseval Putra Megatrading
pada tanggal 16 Desember 2005. Kalbe diperkirakan memiliki nilai kapitalisasi
mendekati 1 Milliar US Dollar. Itulah kiranya gambaran mengenai industri farmasi
sekarang ini. Industri farmasi memiliki nilai pasar sebesar Rp 22,5 triliun dan tingkat
pertumbuhan yang tinggi, yaitu rata-rata 20% setiap tahunnya sejak tahun 2000.
Sehingga tidaklah mengherankan jika pemain di industri Kalbe sekarang jumlahnya
mencapai lebih dari 200 perusahaan.
Terhitung sejak berlaku efektifnya penggabungan, maka seluruh hak, kekayaan,
piutang, kewajiban, hutang, izin operasi dan kegiatan usaha akan beralih kepada perusahaan
hasil penggabungan. Setelah adanya persetujuan dari para pemegang saham maka
pelaksanaan merger akan dilakukan setelah disetujuinya perubahan anggaran dasar
perusahaan dari Menteri Hukum dan HAM, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
dan Direktorat Jenderal Pajak.
Secara garis besar, merger merupakan suatu cara pengembangan dan pertumbuhan
perusahaan. Contoh yang paling kuat saat ini adalah dorongan dari Bank Indonesia melalui
kebijakan single presence agar bank-bank nasional melakukan merger guna menjadi lebih

efisien, lebih kokoh dalam permodalan sehingga memiliki daya saing yang kuat secara
internasional. Dorongan yang sama pun berlaku di perusahaan-perusahaan sekuritas, asuransi
dan lainnya dengan sasaran akhir yang sama pula. Merger di Indonesia secara umum diatur
dalam Undang-undang No.1/1995 mengenai Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah No.
27/1998 mengenai Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas,
Peraturan Pemerintah No. 28/1999 mengenai Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Bank dan
peraturan-peraturan lain yang terkait. Untuk perusahaan Terbuka, merger diatur dalam
Peraturan Bapepam No. IX.G.1 mengenai Penggabungan dan Peleburan Usaha Perusahaan
Public atau Emiten.
Dampak positif yang penulis ketahui bagi perusahaan merger yaitu dimungkinkannya
pertukaran cadangan cash flow secara internal antar perusahaan yang melakukan merger,
sehingga bank hasil merger dapat memanage risiko likuiditas dengan lebih fleksibel.
Diperolehnya peningkatan modal dan adanya keunggulan dalam memanage biaya akibat
bertambahnya skala usaha. Dicapainya keunggulan market power dalam persaingan, yang
kemudian dapat memperbesar margin bunga pinjaman.
Lalu mengenai dampak negatif perusahaan merger yakni, proses merger biasanya
dilakukan atas dorongan untuk cepat terselesaikannya kemelut keuangan di salah satu
perusahaan peserta, maka harga penjualan sahamnya cenderung akan dinilai dibawah harga
pasar yang wajar. Proses merger biasanya diikuti dengan peningkatan ketidakpastian pada
pihak direksi, manajer dan karyawan. Proses merger perbankan nasional di Indonesia
biasanya diikuti dengan pengurangan jumlah pegawai dan staf kurang profesional di
perusahaan perbankan hasil merger. Terjadinya benturan kepentingan, kondisi saling curiga
dan bahkan konflik diantara para anggota komisaris dan direksi. Kegiatan merger dalam dua
tahun pertama cenderung diikuti dengan strategi efisiensi sehingga hal ini akan mengurangi
semangat dan kreativitas dari sebagian pihak direksi dan staf profesional. Benturan budaya
perusahaan tidak dapat dielakkan sehingga perusahaan hasil merger akan mengalami
penurunan dalam jangka pendek.