Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

MANAJEMEN DEHIDRASI PREOPERATIF DAN PEMILIHAN CAIRAN


PENGGANTI PADA DEHIDRASI

Oleh :
Nurul Cholifah Lutfiana

115070100111038

Nian Nikmah

115070100111060

PPDS Pembimbing:
dr. Muhammad Rodli

Supervisor
dr. Wiwi Jaya, Sp.An-KIC

LABORATORIUM/SMF ILMU ANESTESI


RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................. 2
1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................... 3
2.1 Definisi Dehidrasi............................................................................................. 3
2.2 Epidemiologi Dehidrasi .................................................................................... 3
2.3 Penyebab Dehidrasi ........................................................................................ 4
2.4 Respon Fisiologis Tubuh Terhadap Dehidrasi ................................................ 6
2.5 Patofisiologi Dehidrasi ..................................................................................... 7
2.6 Klasifikasi ......................................................................................................... 8
2.7 Penegakan Diagnosis ..................................................................................... 9
2.8 Tatalaksana...................................................................................................... 11
2.9 Pilihan Cairan pada Dehidrasi ......................................................................... 16
BAB III KESIMPULAN ....................................................................................................... 16
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 17

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam keadaan normal, jumlah cairan dan elektrolit selalu seimbang, artinya
intake (asupan) air dan elektrolit akan dikeluarkan dalam jumlah yang sama. Asupan
air dan elektrolit berasal dari minuman dan makanan yang dikonsumsi sehari-hari
serta dari hasil oksidasi dalam tubuh. Air dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk urin,
tinja, dan insensible water loss atau pengeluaran yang tidak dirasa, seperti keringat
dan pernapasan.
Apabila keseimbangan negatif cairan tubuh akibat penurunan asupan cairan dan
meningkatnya jumlah air yang keluar (lewat ginjal, saluran cerna atau insensible
water loss/IWL), atau karena adanya perpindahan cairan dalam tubuh maka akan
terjadi dehidrasi. Dehidrasi adalah suatu keadaan penurunan total air di dalam tubuh
karena hilangnya cairan secara patologis, asupan air tidak adekuat, atau kombinasi
keduanya. Dehidrasi terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada jumlah
yang masuk, dan kehilangan cairan ini juga disertai dengan hilangnya elektrolit
(Leksana, 2015).
Manifestasi terberat dari dehidrasi adalah syok hipovolemik, yang membutuhkan
perawatan medis darurat. Tanda-tanda syok hipovolemik dapat mencakup akral
dingin, produksi urine menurun, pelebaran pembuluh darah di leher, perubahan status
mental, tekanan pada paru rendah, indeks jantung rendah dan indeks resistensi
vaskuler sistemik yang tinggi. (Wiley, 2015). Proses dehidrasi yang berkelanjutan dan

menimbulkan syok hipovolemik yang akan menyebabkan gagal organ dan kematian.
Untuk itu diperlukan penanganan yang cepat dan tepat dalam rehidrasi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah definisi dari dehidrasi?


2. Apakah penyebab terjadinya dehidrasi?
3. Bagaimana respon fisiologis dehidrasi dan patofisiologi dehidrasi?
4. Bagaimana diagnosis klinis dehidrasi?
5. Bagaimana penatalaksanaan dehidrasi?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui definisi dehidrasi


2. Mengetahui penyebab dehidrasi
3. Mengetahui respon fisiologis dehidrasi dan patofisiologi dehidrasi
4. Mengetahui diagnosis klinis dehidrasi
5. Mengetahui penatalaksanaan dehidrasi

1.4 Manfaat Penulisan


Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dokter muda mengenai dehidrasi
dalam

hal

pelaksanaan

anamnesis,

pemeriksaan

fisik,

penegakan

diagnosis,

penatalaksanaan, serta pemilihan cairan pengganti pada kasus dehidrasi untuk


tatalaksana awal dan mencegah dehidrasi jatuh pada syok hipovolemik.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Secara definisi, dehidrasi adalah suatu keadaan penurunan total air di dalam
tubuh karena hilangnya cairan secara patologis, asupan air tidak adekuat, atau
kombinasi keduanya (Mentes et al., 2013). Dehidrasi terjadi karena pengeluaran air
lebih banyak daripada jumlah yang masuk, dan kehilangan cairan ini juga disertai
dengan hilangnya elektrolit. Pada dehidrasi terjadi keseimbangan negatif cairan tubuh
akibat penurunan asupancairan dan meningkatnya jumlah air yang keluar (lewat
ginjal, saluran cerna atau insensible water loss/IWL), atau karena adanya
perpindahan cairan dalam tubuh. Berkurangnya volume total cairan tubuh
menyebabkan penurunan volume cairan intrasel dan ekstrasel. Manifestasi klinis
dehidrasi erat kaitannya dengan deplesi volume cairan intravaskuler. (Leksana,
2015).
2.2 Epidemiologi
Diare pada anak merupakan penyebab 3 juta kunjungan dokter, 220.000
rawar inap, dan 400 kematian anak setiap tahunnya. Anak kurang dari 5 tahun
merupakan kelompok risiko tertinggi terserang diare. Rata-rata anak bawah lima tahun
di Amerika Utara terkena 2 episode serangan gastroenteritis setiap tahunnya. Diare ini
akan menyebabkan dehidrasi yang berkontribusi pada sekitar 4 juta kematian per
tahun pada bayi dan anak-anak (Brandt et al, 2015).
Prognosis akan baik jika anak-anak tersebut ditangani dengan cepat dan tepat.
Akan tetapi, anak dengan dehidrasi berat dan syok hipovolemik bisa terkena
moebiditas dan mortalitas yang signifikan bila tatalaksana ini tertunda. Mortalitas dan
morbiditas yang terjadi bergantung pada derajat keparahan dehidrasi dan ketepatan
pemberian rehidrasi oral dan intrevena. Jika tatalaksana bisa diberikan dengan cepat
dan tepat, maka morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh dehidrasi menjadi
rendah.

Penggunaan rutin cairan parenteral hipotonik pada anak-anak di rumah sakit


dikaitkan dengan hiponatremia dan komplikasi neurologis serta kematian. Monitoring
efek dan komplikasi rehidrasi parenteral dengan balans cairan akurat dan
pemeriksaan serum elektrolit merupakan hal yang krusial (Guarner et al, 2011).
2.3 Etiologi
Dehidrasi dapat disebabkan karena kehilangan cairan akibat faktor patologis,
seperti diare dan perdarahan. Dehidrasi juga dapat terjadi karena peningkatan
kebutuhan cairan tubuh, seperti demam, suhu lingkungan yang tinggi, dan aktivitas
ekstrim (Leksana, 2015).
Mencari penyebab dehidrasi merupakan hal penting. Asupan cairan yang buruk,
cairan keluar berlebihan, peningkatan insensible water loss (IWL), atau kombinasi hal
tersebut dapat menjadi penyebab deplesi volume intravaskuler. Keberhasilan terapi
membutuhkan identifikasi penyakit yang mendasari kondisi dehidrasi.
Beberapa faktor patologis penyebab dehidrasi yang sering yaitu:

Gastroenteritis.
Diare adalah etiologi paling sering. Pada diare yang disertai muntah,
dehidrasi akan semakin progresif. Dehidrasi karena diare menjadi penyebab
utama kematian bayi dan anak di dunia. Rotavirus merupakan penyebab
tersering dehidrasi dan penyakit diare berat pada bayi dan anak-anak. (Koster
et al, 2016)

Stomatitis dan faringitis.


Rasa nyeri mulut dan tenggorokan dapat membatasi asupan makanan dan
minuman lewat mulut.

Ketoasidosis diabetes (KAD).


Dehidrasi pada KAD disebabkan karena adanya diuresis osmotik. Berat
badan turun akibat kehilangan cairan dan katabolisme jaringan.

Demam.
Demam dapat meningkatkan IWL dan menurunkan nafsu makan (Huang,
2015)

Penyebab dehidrasi yang mengancam kehidupan antara lain:

Gastroenteritis

Diabetic Ketoasidosis

Luka Bakar: Kehilangan cairan pada kondisi luka bakar sangat ekstrem
sehingga perlu tatalaksana cairan yang sangat agresif

Congenital Adrenal Hiperplasia: kelainan kongenital ini berkaitan dengan


hipoglikemia, hipotensi, hiperkalemi, dan hiponatremia.

Obstruksi Saluran Cerna. Obstruksi saluran cerna sering dikaitkan dengan


intake yang jelek dan emesis. Iskemia saluran pencernaan juga menyebabkan
peningkatan permeabilitas yang luas dan syok.

Heat Stroke: pada heat stroke bisa terjadi hiperpireksia, kulit kering, dan
perubahan status mental (Cheuvron et al, 2010).

Fibrosis Kistik menyebabkan kehilangan natrium dan klor yang sangat banyak
melalui keringan yang menempatkan pasien pada kondisi yang rentan terjadi
dehidrasi hiponatremia dan hipokloremia berat.

Diabetes Insipidus: output urin yang berlebihan menyebabkan kehilangan air


yang sangat banyak dan dehidrasi hipernatremia berat.

Tirotoksikosis: terdapat penurunan berat badan disamping peningkatan pola


makan.

2.4 Respon Fisiologis Tubuh terhadap Dehidrasi


Dehidrasi diartikan sebagai defisit total air dalam tubuh atau Total Body Water
(TBW). Cairan tubuh mengandung substansi terlarut, dimana hilangnya salah satu
substansi tersebut akan mempengaruhi redistribusi air melewati membran sel. Saat
konsentrasi hilangnya cairan tubuh hipoosmotik terhadap plasma, gradien osmotik
tercipta antara cairan intraselular dan ekstraselular (Robert et al, 2015).
Hilangnya sebagian besar cairan intraselular dan karakter hiperosmotik dari
cairan ekstraselular merupakan ciri dari dehidrasi intraseular, atau disebut juga
hiperosmotik-hipovolemia, hipohidrasi, atau dehidrasi dengan hilangnya natrium
minimal. Saat konsentrasi hilangnya cairan tubuh iso-osmotic terhadap plasma
menyebabkan dehidrasi ekstraselular, atau disebut juga iso-osmotic hipovolemia,

deplesi volume, atau dehidrasai dengan hilangnya natrium. Perbedaan fisiologis


penting antara dua tipe dehidrasi tersebut mendasari perbedaan treatment pada dua
tipe dehidrasi tersebut (Robert et al, 2015).
Respon fisiologis dari dehidrasi intraselular muncul terutama dari stimulasi
kemoreseptor dan diikuti stimulasi baroreseptor. Kontrol endokrin terhadap balans
cairan meliputi hormon yang memediasi kompensasi hilangnya cairan melalui renal
dan rasa haus. Respons terhadap dehidrasi ekstraselular merupakan respon
nonsomolar. Respon yang terjadi merupakan respon simpatis akur yang dimediasi
simpatis dengan efek vasokonstriksi dan memperlambat defens neuro-humoral
volume darah. Osmolalitas (mmol/kg) dan volume treshold untuk mencetuskan respon
ini bergantung pada tipe dehidrasi yang terjadi dan magnitude dehidrasi yang
dibutuhkan untuk mencetuskan kompensasi (Robert et al, 2015).

Gambar 1. Regulasi osmotik keseimbangan cairan tubuh dalam merespon dehidrasi


intraselular (Sumber: Robert et al, 2015).

Gambar 2. Regulasi volume keseimbangan cairan tubuh dalam merespon dehidrasi


intraselular (Sumber: Robert et al, 2015)

2.5 Patofisiologi Dehidrasi


Keseimbangan cairan negatif yang menyebabkan dehidrasi berasal dari
penurunan intake, peningkatan output (renal, gastrointestinal, insensible water loss),
atau berpindahnya cairan (asites, efusi, dan peningkatan permeabilitas kapiler pada
konsisi luka bakar dan sepsis). Penurunan Total Body Water (TBW) menyebabkan
penurunan volume cairan intraselular dan ekstraselular. Manifestasi klinis dari
dehidrasi seringkali berkaitan dengan deplesi volume intravaskular. Dengan seiring
progres dehidrasi, akan terjadi syok hipovolemik yang menyebabkan kegagalan organ
akhir dan kematian. Anak-anak merupakan kelompok yang rentan terhadap dehidrasi
karena besarnya TBW anak-anak, imaturitas renal, dan ketidakmampuannya
memenuhi kebutuhan cairan secara mandiri. Anak-anak yang lebih tua menunjukkan
tanda-tanda dehidrasi lebih cepat daripada bayi karena rendahnya kadar cairan

ekstraselular.
Komplikasi neurologis dapat terjadi pada kondidi hiponatremia dan
hipernatremia. Hiponatremia berat menyebabkan kejang, dimana koreksi secara
cepat koreksi hiponatremia kronik dihubunbgkan dengan central pontine myelinolysis.
Selama dehidrasi hipernatremia, air secara osmotik ditarik dari sel ke ruang
ekstraselular. Untuk mengkompensasi hal ini, sel akan menciptakan partikel aktif
secara osmotik yang menarik air kembali ke sel dan mempertahankan volume cairan
sel. Selama rehidrasi cepat hipernatremia, peningkatan aktivitas osmotik dari sel
menyebakan influks air yang besar, menyebabkan sel menjadi bengkak dan pecah;
dan menyebabkan edema serebri. Rehidrasi lambat sekitar 48 jam secara umum
meminimalisir terjadinya risiko tersebut (Guarner et al, 2011).
2.6 Klasifikasi Dehidrasi
Dehidari bisa diklasifikasikan berdasarkan osmolaritas dan keparahan. Kadar
sodium serium merupakan penanda yang baik untuk mewakili osmolaritas serum
apabila glukosa pasien dianggap normal. Berdasarkan osmolaritas, dehidrasi
dibedakan menjadi:
1. Dehidrasi isotonik (isonatremik)
Tipe ini merupakan yang paling sering (80%). Pada dehidrasi isotonik
kehilangan air sebanding dengan jumlah natrium yang hilang, dan biasanya tidak
mengakibatkan cairan ekstrasel berpindah ke dalam ruang intraseluler. Kadar.
natrium dalam darah pada dehidrasi tipe ini 135-145 mmol/L dan osmolaritas efektif
serum 275-295 mOsm/L.
2. Dehidrasi hipotonik (hiponatremik)
Natrium yang hilang lebih banyak daripada air. Penderita dehidrasi hipotonik
ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum (kurang dari 135 mmol/L) dan
osmolalitas efektif serum (kurang dari 270 mOsml/L). Karena kadar natrium rendah,
cairan intravaskuler berpindah ke ruang ekstravaskuler, sehingga terjadi deplesi
cairan intravaskuler. Hiponatremia berat dapat memicu kejang hebat; sedangkan
koreksi cepat hiponatremia kronik (2 mEq/L/jam) terkait dengan kejadian
mielinolisis pontin sentral (Bettari et al, 2012).

3. Dehidrasi hipertonik (hipernatremik)


Hilangnya air lebih banyak daripada natrium. Dehidrasi hipertonik ditandai
dengan tingginya kadar natrium serum (lebih dari 145 mmol/L) dan peningkatan
osmolalitas efektif serum (lebih dari 295 mOsm/L). Karena kadar natrium serum
tinggi, terjadi pergeseran air dari ruang ekstravaskuler ke ruang intravaskuler.
Untuk mengkompensasi, sel akan merangsang partikel aktif (idiogenik osmol) yang
akan menarik air kembali ke sel dan mempertahankan volume cairan dalam sel
(Arora et al, 2011). Saat terjadi rehidrasi cepat untuk mengoreksi kondisi
hipernatremia, peningkatan aktivitas osmotik sel tersebut akan menyebabkan
influks cairan berlebihan yang dapat menyebabkan pembengkakan dan ruptur sel;
edema serebral adalah konsekuensi yang paling fatal. Rehidrasi secara perlahan
dalam lebih dari 48 jam dapat meminimalkan risiko ini (Leksana, 2015).
2.7 Penegakan Diagnosis
2.7.1 Anamnesis
Pada anamnesis, hal-hal yang perlu diperhatikan pada pasien dengan
dehidrasi antara lain:

Intake cairan, termasuk volume, tipe (hipertonik atau hipotonik), dan frekuensi

Urin output termasuk frekuensi berkemih (terakhir berkemih, terakhir popok


bayi basah), adanya urin yang terkonsentrasi, hematuria

Feses, frekuensi buang air besar, konsistensi feses, adanya darah atau mukus
di feses

Emesis, termasuk frekuensi dan volume, apakah warnanya billous atau


non-billous

Kontak dengan orang sakit, khususnya dengan pasien gastroenteritis lainnya

Penyakit yang mendasari khususnya fibrosis kistik, diabetes mellitus,


hipertiroid

Demam

Pola makan

Penurunan berat badan

Riwayat perjalanan

Penggunaan antibiotik terbaru

Kemungkinan keracunan makanan

2.7.2 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik yang lengkap membantu menentukan penyebab yang
mendasari dehidrasi pada pasien dan menentukan derajat keparahan dari dehidrasi.
Penilaian klinis keparahan dehidrasi akan menentukan tatalaksana yang selanjutnya.
Secara umum, presisi dan akurasi derajat dehidrasi melalui pemeriksaan fisik kurang
baik dibandingkan dengan perhitungan tepat persentasi dari dehidrasi.
Derajat dehidrasi berbeda antara usia bayi dan anak jika dibandingkan usia
dewasa. Bayi dan anak (terutama balita) lebih rentan mengalami dehidrasi karena
komposisi air tubuh lebih banyak, fungsi ginjal belum sempurna dan masih
bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya, selain itu
penurunan berat badan juga relatif lebih besar. Pada anak yang lebih tua, tanda
dehidrasi lebih cepat terlihat dibandingkan bayi karena kadar cairan ekstrasel lebih
rendah.

Tabel 1 Derajat dehidrasi berdasarkan persentase kehilangan air dari berat badan
Derajat Dehidrasi

Bayi (<10kg)

Anak (>10kg)

Dewasa

Dehidrasi Ringan

5% atau 50 mL/kg

3% atau 30 mL/kg

4% dari Berat Badan

Dehidrasi Sedang

10% atau 100 mL/kg

6% atau 60 mL/kg

6% dari Berat Badan

Dehidrasi Berat

15% atau 150 mL/kg

9% atau 90 mL/kg

8% dari Berat Badan

Sumber: Goldman et al, 2008

Menentukan derajat dehidrasi pada anak juga dapat menggunakan skor


WHO, dengan penilaian keadaan umum, kondisi mata, mulut dan turgor.
Tabel 2 Manifestasi Klinis Dehidrasi
Tanda/Gejala

Dehidrasi Ringan

Dehidrasi Sedang

Dehidrasi Berat

Kesadaran

Sadar

Letargi

Apati

CRT

<2s

2-4s

>4s, akral dingin

Membran Mukosa

Normal

Kering

Keriput

Air Mata

Normal

Menurun

Tidak ada

Respiratory Rate

Normal

Meningkat

Meningkat

Tekanan Darah

Normal

Normal, hipotensi

Menurun

Nadi

Normal

Meningkat

Tidak teraba

Turgor Kulit

Normal

Melambat

Sangat Lambat

Fontanella

Normal

Cekung

Sangat Cekung

Mata

Normal

Cekung

Sangat Cekung

Urin

Menurun

Oliguria

Oliguria/Anuria

Sumber: Goldman et al, 2008

2.7.3 Pemeriksaan Penunjang


Tidak ada uji laboratorium definitif untuk penegakan diagnosis dehidrasi.
Apabila terdapat dehidrasi berat, makan pemeriksaan penunjang berikut disarankan:
Kadar sodium serum harus ditentukan karena hiponatremia (<130 mEq/L)
dan hipernatremia (>150mEq/L) membutuhkan tatalaksana spesifik
Kadar kalium bisa meningkat
Rendahnya kadar klor pada stenosis pilorus
Buruknya perfusi jaringanpada dehidrasi menyebabkan produksi asam laktat
Glukosa bisa rendah karena buruknya intake
BUN creatinin bisa meningkat karena hipoperfusi renal
Urinalisis pada DKA
Analisis Elektrolit

2.8 Tatalaksana Dehidrasi


Secara sederhana prinsip penatalaksanaan dehidrasi adalah mengganti
cairan yang hilang dan mengembalikan keseimbangan elektrolit, sehingga
keseimbangan hemodinamik kembali tercapai. Selain pertimbangan derajat dehidrasi,
penanganan juga ditujukan untuk mengoreksi status osmolaritas pasien.
Terapi farmakologis dengan loperamide, antikolinergik, bismuth subsalicylate,
dan adsorben, tidak direkomendasikan terutama pada anak, karena selain
dipertanyakan efektivitasnya, juga berpotensi menimbulkan berbagai efek samping.

Pada dehidrasi karena muntah hebat, ondansetron efektif membantu asupan cairan
melalui oral dan mengatasi kedaruratan.
Pemberian makan segera saat asupan oral memungkinkan pada anak-anak
yang dehidrasi karena diare, dapat mempersingkat durasi diare. Susu tidak perlu
diencerkan, pemberian ASI jangan dihentikan. Disarankan memberikan makanan
tergolong karbohidrat kompleks, buah, sayur dan daging rendah lemak. Makanan
berlemak dan jenis karbohidrat simpel sebaiknya dihindari (Leksana, 2015). WHO
sejak tahun 2004 juga telah menambahkan zinc dalam panduan terapi diare pada
anak (WHO, 2014)
2.8.1 Tatalaksana Dehidrasi Derajat Ringan-Sedang
Dehidrasi derajat ringan-sedang dapat diatasi dengan efektif melalui
pemberian cairan ORS (oral rehydration solution) untuk mengembalikan volume
intravaskuler dan mengoreksi asidosis. Selama terjadi gastroenteritis, mukosa usus
tetap mempertahankan kemampuan absorbsinya. Kandungan natrium dan sodium
dalam proporsi tepat dapat secara pasif dihantarkan melalui cairan dari lumen usus
ke dalam sirkulasi. Jenis ORS yang diterima sebagai cairan rehidrasi adalah dengan
kandungan glukosa 2-3 g/dL, natrium 45-90 mEq/L, basa 30mEq/L, kalium 20-25
mEq/L, dan osmolalitas 200-310 mOsm/L.
Banyak cairan tidak cocok digunakan sebagai cairan pengganti, misalnya jus
apel, susu, air jahe, dan air kaldu ayam karena mengandung glukosa terlalu tinggi
dan atau rendah natrium. Cairan pengganti yang tidak tepat akan menciptakan diare
osmotik, sehingga akan makin memperburuk kondisi dehidrasinya. Cairan ORS yang
bisa diberikan di rumah, dibuat dari 8 sendok teh gula, sendok teh garam, dan 1
liter air dalam 1 liter air. ORS efektif dalam terapi dehidrasi ringan-sedang karena
mengandung gula dan garam yang mempercepat penyerapan usus. Penting
menghindari pemberian air murni dalam jumlah yang besar karena aur tidak secara
aktif diabsorpsi oleh usus, sehingga dibutuhkan glukosa dan garam sebagai
kombinasi untuk meningkatkan proses absorbsi.
Adanya muntah bukan merupakan kontraindikasi pemberian ORS, kecuali jika
ada obstruksi usus, ileus, atau kondisi abdomen akut, maka rehidrasi secara

intravena menjadi alternatif pilihan. Defi sit cairan harus segera dikoreksi dalam 4 jam
dan ORS harus diberikan dalam jumlah sedikit tetapi sering, untuk meminimalkan
distensi lambung dan refl eks muntah. Secara umum, pemberian ORS sejumlah 5 mL
setiap menit dapat ditoleransi dengan baik. Jika muntah tetap terjadi, ORS dengan
NGT (nasogastric tube) atau NaCl 0,9% 20-30 mL/kgBB selama 1-2 jam dapat
diberikan untuk mencapai kondisi rehidrasi. Saat pasien telah dapat minum atau
makan, asupan oral dapat segera diberikan.
2.8.2 Tatalaksana Dehidrasi Derajat Berat
Pada dehidrasi berat dibutuhkan evaluasi laboratorium dan terapi rehidrasi
intravena, Penyebab dehidrasi harus digali dan ditangani dengan baik. Penanganan
kondisi ini dibagi menjadi 2 tahap:
Tahap Pertama berfokus untuk mengatasi kedaruratan dehidrasi, yaitu syok
hipovolemia yang membutuhkan penanganan cepat. Pada tahap ini dapat
diberikan cairan kristaloid isotonik, seperti ringer lactate (RL) atau NaCl 0,9%
sebesar 20 mL/kgBB. Perbaikan cairan intravaskuler dapat dilihat dari
perbaikan takikardi, denyut nadi, produksi urin, dan status mental pasien.
Apabila perbaikan belum terjadi setelah cairan diberikan dengan kecepatan
hingga 60 mL/kgBB, maka etiologi lain syok harus dipikirkan (misalnya anafi
laksis, sepsis, syok kardiogenik). Pengawasan hemodinamik dan golongan
inotropik dapat diindikasikan.
Tahap

Kedua

berfokus

pada

mengatasi

defisit,

pemberian

cairan

pemeliharaan dan penggantian kehilangan yang masih berlangsung.


Kebutuhan cairan pemeliharaan diukur dari jumlah kehilangan cairan (urin,
tinja) ditambah IWL. Jumlah IWL adalah antara 400-500 mL/m2 luas
permukaan tubuh dan dapat meningkat pada kondisi demam dan takipnea.
Secara kasar kebutuhan cairan berdasarkan berat badan adalah:

Berat badan < 10 kg = 100 mL/kgBB

Berat badan 10-20 kg = 1000 + 50 mL/ kgBB untuk setiap kilogram berat
badan di atas 10 kg

Berat badan > 20 kg = 1500 + 20 mL/ kgBB untuk setiap kilogram berat

badan di atas 20 kg
Cairan untuk rehidrasi direkomendasikan diberikan 50% selama 8 jam
pertrama dan sisanya diberikan pada 16 jam berikutnya. Selain itu, kehilangan cairan
yang masih berlangsung (misalnya karena muntah atau diare) harus diganti sesuai
jumlah cairan yang hilang.
2.8.3 Tatalaksana Dehidrasi berdasarkan Osmolaritas
Dehidrasi Isotonik
Pada kondisi isonatremia, defisit natrium secara umum dapat dikoreksi
dengan mengganti defi sit cairan ditambah dengan cairan pemeliharaan dextrose 5%
dalam NaCl 0,45-0,9%. Kalium (20 mEq/L kalium klorida) dapat ditambahkan ke
dalam cairan pemeliharaan saat produksi urin membaik dan kadar kalium serum
berada dalam rentang aman.
Dehidrasi Hipotonik
Pada tahap awal diberikan cairan pengganti intravaskuler NaCl 0,9% atau RL
20 mL/ kgBB sampai perfusi jaringan tercapai. Pada hiponatremia derajat berat (<130
mEq/L) harus dipertimbangkan penambahan natrium dalam cairan rehidrasi. Koreksi
defisit natrium melalui perhitungan = (Target natrium - jumlah natrium saat tersebut) x
volume distribusi x berat badan (kg).
Cara yang cukup mudah adalah memberikan dextrose 5% dalam NaCl 0,9%
sebagai cairan pengganti. Kadar natrium harus dipantau dan jumlahnya dalam cairan
disesuaikan untuk mempertahankan proses koreksi perlahan (<0,5 mEq/L/jam).
Koreksi kondisi hiponatremia secara cepat sebaiknya dihindari untuk mencegah
mielinolisis pontin (kerusakan selubung mielin), sebaliknya koreksi cepat secara
parsial menggunakan larutan NaCl hipertonik (3%; 0,5 mEq/L) direkomendasikan
untuk menghindari risiko ini.
Dehidrasi Hipertonik
Pada tahap awal diberikan cairan pengganti intravaskuler NaCl 0,9% 20 mL/
kgBB atau RL sampai perfusi jaringan tercapai. Pada tahap kedua, tujuan utama
adalah memulihkan volume intravaskuler dan mengembalikan kadar natrium serum
sesuai rekomendasi, akan tetapi jangan melebihi 10 mEg/L/24 jam. Koreksi dehidrasi

hipernatremia terlalu cepat dapat memiliki konsekuensi neurologis, termasuk edema


serebral dan kematian. Pemberian cairan harus secara perlahan dalam lebih dari 48
jam menggunakan dextrose 5% dalam NaCl 0,9%. Apabila pemberian telah
diturunkan hingga kurang dari 0,5 mEq/L/jam, jumlah natrium dalam cairan rehidrasi
juga dikurangi, sehingga koreksi hipernatremia dapat berlangsung secara perlahan.
2.9 Pilihan Cairan Replacement
Manajemen cairan perioperatif merupakan pertimbangan penting sepanjang
jalur bedah, dan manajemen cairan yang optimal harus dipandang sebagai sebuah
hal yang berkelanjutan dari seluruh proses pasien selama di rumah sakit. Manajemen
yang suboptimal pada suatu titik tidak hanya akan menyebabkan perpanjangan waktu
selama di rumah sakit, tetapi juga berrisiko menurunkan manfaat dari tatalaksana
yang diberikan (Miller et al, 2014). Dalam konteks cairan, manajemen ini dapat
diartikan sebagai manajemen untuk menghindari dehidrasi dan hipovolemia atau
kelebihan cairan serta komplikasi terkait. Administrasi cairan yang tidak adekuat
menyebabkan kurangnya perfusi, yang menurunkan transport oksigen ke jaringan,
peningkatan etabolisme anaerob, yang selanjutnya akan menimbulkan kematian sel
dan kegagalan organ. Salah satu manifestasi komplikasi periporatif ini adalah Gagal
Ginjal Akut. Sebaliknya, pemberian cairan berlebih dapat memiliki konsekuensi yang
membahayakan, meningkatkan tekanan hidrostatik dan meningkatkan kadar peptida
atrial-natriuretic, yang merusak lapisan glycocalyx endotel pembuluh darah. Hal ini
membuat pembuluh darah "bocor" dan menyebabkan edema yang merusak jaringan,
lagi-lagi mengganggu oksigenasi jaringan dan organ (Edwards et al, 2014). Edema
interstitial ini, bersama-sama dengan banyaknya garam dari kelebihan infus kristaloid,
dapat menyebabkan ileus pasca operasi dan memperpanjang masa rawat inap
pasien di rumah sakit (Miller et al, 2014).
Total Cairan Tubuh atau Total Body Water (TBW) sebagai persentase dari
berat badan, bervariasi antara individu (laki-laki 60%, perempuan 50% dari TBW).
TBW terdistribusi antara kompartemen intraseluler dan ekstraseluler. Cairan
Intraseluar (ICF) terdiri dari 2/3 TBW, dimana kation utama adalah kalium dan

magnesium dan anion fosfat, baik adenosin trifosfat (ATP), adenosin difosfat (ADP),
atau adenosin monofosfat (AMP). Cairan Ekstraseluler (ECF) terdiri dari 1/3 TBW
dimana kation utama adalah natrium dan anion berupa bikarbonat (HCO3-) dan
klorida (Cl-). Plasma terhitung sekitar dari ECF, sedangkan cairan intersisial
terhitung dari ECF.
Elektrolit muda dipertukarkan antara intraseluler dan cairan ekstraseluler
dalam rangka mendukung metabolisme sel. Sebuah pompa bergantung ATP yang
melekat pada membran sel menukar natrium dengan kalium dalam rasio 3: 2.
Tekanan intravaskular terus memaksa cairan menuju ruang interstitial, tetapi
mekanisme homeostasis dipertahankan oleh tekanan onkotik yang diciptakan oleh
molekul besar, seperti protein dan koloid. Molekul-molekul besar tidak dapat
menyeberangi penghalang antar kompartemen, sehingga dengan demikian molekul
besar

mempertahankan

volume

intravaskular,

sehingga

secara

efektif

mempertahankan sirkulasi.
Hipovolemia bisa berasal dari puasa pra operasi yang berkepanjangan,
vasodilatasi akibat obat anestesi atau blokade neuroaksial, atau perdarahan akut.
Untuk memahami kapan dan bagaimana mengelola terapi cairan, penting untuk
membedakan dehidrasi dari hipovolemia intravaskular. Dehidrasi mempengaruhi
ruang ekstravaskular melalui produksi urin dan pengeluaran keringat. Hal ini
menyebabkan hilangnya cairan tanpa koloid dari ruang ekstraselular dan
ditatalaksana dengan pemberian cairan kristaloid. Di sisi lain, hipovolemia akut
berasal dari hilangnya cairan kaya koloid-(plasma) dari ruang intravaskular yang
menurunkan tekanan onkotik dan mengarah ke edema interstitial. Penggunaan
kristaloid untuk mengganti kerugian ini dapat memperburuk tekanan onkotik yang
sudah rendah dan memperburuk edema. Oleh karena itu, menggunakan larutan
koloid mungkin lebih disarankan ketika melakukan tatalaksana hypovolemia (Parel et
al, 2013).
Cairan kristaloid terdiri dari berbagai konsentrasi saline normal (natrium dan
klorida), ringer laktat (natrium klorida, kalium, kalsium, laktat), dan dekstrosa. Normal
Saline biasanya menjadi pilihan fluida awal untuk resusitasi. Namun, pemberian

normal saline yang berlebihan (> 3-4 liter) dapat menyebabkan asidosis metabolik
hiperkloremia. Ringer laktat (RL) merupakan cairan yang sedikit hipotonik dan solusi
yang paling fisiologis ketika sejumlah besar cairan diperlukan. Namun, RL bukan
merupakan cairan ideal untuk digunakan sebagai Dilutent untuk transfusi sel darah
merah karena mengandung kalsium (antagonis sitrat). Selain itu, RL mengandung
kalium, yang kuranb baik jika diberikan untuk pasien dengan penyakit ginjal, dan juga
laktat, yang dimetabolisme menjadi bikarbonat menyebabkan alkalosis metabolik.
Dextrose terutama digunakan untuk penggantian defisit air murni dan hypernatremia,
tetapi juga berguna dalam mencegah ketosis dan hipoglikemia selama puasa.
Dekstrosa tidak digunakan dalam neuroanesthesia, karena hiperglikemia telah
ditemukan merugikan jaringan saraf yang cedera. Solusi kristaloid, karena berat
molekul yang rendah, tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan tekanan
onkotik dari ruang intravaskular dan sebagian besar (80%) mendistribusikan cairan ke
seluruh ruang ekstraseluler.

Goal-directed fluid therapy merupakan target yang berkaitan dengan


administrasi cairan untuk mempertahankan tujuan tertentu. Terutama menjaga
volume stroke. Perubahan volume stroke terus dipantau, dan bolus cairan diberikan
ketika stroke volume turun sebesar 10-15%. Bentuk terapi cairan ini sangat berguna
untuk pasien yang menjalani operasi besar atau dengan penyakit jantung yang
signifikan. Penelitian telah menunjukkan bahwa dengan Goal-directed fluid therapy
terjadinya risiko komplikasi paru dan ginjal lebih rendah, penurunan masa rawat inap
di rumah saikit, kembalinya fungsi usus yang lebih awal, dan penurunan insidensi

mual dan muntah pasca operasi. Untuk Goal-directed fluid therapy, selain stroke
volume dan cardiac output, parameter lain juga harus dijaga, termasuk denyut
jantung <100 kali / menit, tekanan darah normal (dalam waktu 20% dari baseline),
output urin 0,5-1 ml / kg / jam, CVP antara 8 dan 12 mmHg, hemoglobin minimal 7 g /
dl ( 10 g / dl pada lansia dan pasien dengan penyakit jantung), pH normal, PaO2, dan
serum laktat (Rocca, 2013).

BAB III
KESIMPULAN

Dehidrasi adalah suatu keadaan penurunan total air di dalam tubuh karena
hilangnya cairan secara patologis, asupan air tidak adekuat, atau kombinasi
keduanya. Mortalitas dan morbiditas pada kasus dehidrasi yang terjadi bergantung
pada derajat keparahan dehidrasi dan ketepatan pemberian rehidrasi oral dan
intrevena. Penegakan diagnosis dehidrasi dapat dilakukan dengan melakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang kemudian akan didapatkan derajat dehidrasi.
Penilaian klinis keparahan dehidrasi akan menentukan tatalaksana yang selanjutnya.
Secara sederhana prinsip penatalaksanaan dehidrasi adalah mengganti cairan yang
hilang dan mengembalikan keseimbangan elektrolit, sehingga keseimbangan
hemodinamik kembali tercapai. Kristaloid merupakan cairan pilihan untuk terapi
dehidrasi karena dehidrasi mempengaruhi ruang ekstravaskular melalui produksi urin
dan pengeluaran keringat yang menyebabkan hilangnya cairan tanpa koloid dari
ruang ekstraselular. Pilihan kristaloid perlu diperhatikan dan perlu dilakukan
monitoring terhadap efek terkait kristaloid yang digunakan. Perlu juga diperhatikan
Goal-directed fluid therapy untuk mencapai tujuan rehidrasi tanpa menimbulkan
komplikasi overload cairan.

DAFTAR PUSTAKA

Arora SK. Hypernatremic Disorders in the Intensive Care Unit. J Intensive Care Med.
2011 May 16
Bettari L, Fiuzat M, Shaw LK, Wojdyla DM, Metra M, Felker GM, et al. Hyponatremia
and long-term outcomes in chronic heart failure--an observational study from
the Duke Databank for Cardiovascular Diseases. J Card Fail. 2012 Jan.
18(1):74-81
Brandt KG, de Castro Antunes MM, da Silva GA. Acute diarrhea: evidence-based
management. J Pediatr (Rio J). 2015 Nov-Dec. 91 (6 Suppl 1):S36-43
Cheuvront SN, Kenefick RW, Montain SJ, Sawka MN. Mechanisms of aerobic
performance impairment with heat stress and dehydration. J Appl Physiol.
2010 Dec. 109(6):1989-95
Clinical management of acute diarrhea. WHO/UNICEF Joint Statement 2004.
Mentes JC, Kang S. Hydration management. J Gerontol Nurs. 2013;39(2):11-9.
Disease and condition: Dehydration. 2014 [cited 2014 Aug 15]. Available from:
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dehydration/basics/symptoms/
con-20030056.
Edwards MR, Mythen MG. Fluid therapy in critical illness. Extrem Physiol Med.
2014;3:16.
Guarner J, Hochman J, Kurbatova E, Mullins R. Study of outcomes associated with
hyponatremia and hypernatremia in children. Pediatr Dev Pathol. 2011
Mar-Apr. 14(2):117-23.
Hackett P. & Mangione MP. 2015. Basic Clinical Anesthesia Chapter 7: Fluid and
Electrolyte Balance. New York: Springer.
Huang LH, Anchala KR, Ellsbury DL, George CS. Dehydration. 2015. Diakses tanggal
16 Novemver 2016. http://emedicine.medscape.com/article/906999
Koster C, Klingelhfer D, Groneberg DA, Schwarzer M. Rotavirus - Global research
density equalizing mapping and gender analysis. Vaccine. 2016 Jan 2. 34
(1):90-100.

Leksana Erie, Strategi Terapi Cairan pada Dehidrasi. 2015. SMF Anestesi dan Terapi
Intensif RSUP dr Kariadi/ Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,
Semarang, Indonesia
Leksana Erie, Dehidrasi dan Syok. 2015. SMF Anestesi dan Terapi Intensif RSUP dr
Kariadi/ Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Miller TE, Roche AM, Mythen M. Fluid management and goal-directed therapy as an
adjunct to enhanced recovery after surgery (ERAS). Can J Anesth Can
Anesth. 2014;62(2):15868.
Miller TE, Raghunathan K, Gan TJ. State-of-the-art fl uid management in the
operating room. Best Pract Res Clin Anaesthesiol. 2014;28(3):26173.
Parel PR, Roberts I, Ker K. Colloids versus crystalloids for fluid resuscitation in
critically ill patients. Cochrane Database Syst Rev. 2013;2:CD000567.
Rocca GD. Goal-directed therapy in anesthesia: any clinical impact or just a fashion.
Minerva Anesthesiol. 2013;77:54553.
Samuel N. Cheuvront and Robert W. 2014. Dehydration: Physiology, Assessment,
and Performance Effects. ComprPhysiol 4:257-285, 2014
Wiley John and sons. 2015. Clinical symptoms, signs and tests for identication of
impending and current water-loss dehydration in older people